0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
93 tayangan33 halaman

Hasil Percobaan Distilasi Batch

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Laporan percobaan Batch Packed Distillation Column untuk mengetahui kapasitas maksimum peralatan dan biaya operasi distilasi. 2. Hasilnya menunjukkan peralatan dapat beroperasi dengan hasil etanol 86.8% dan kapasitas maksimum 500 liter dengan biaya Rp 19,556.6799/kg. 3. Tujuan percobaan adalah untuk menguji kinerja peralatan dan menghitung biaya operasi distilasi.

Diunggah oleh

ragilia maulidia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
93 tayangan33 halaman

Hasil Percobaan Distilasi Batch

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Laporan percobaan Batch Packed Distillation Column untuk mengetahui kapasitas maksimum peralatan dan biaya operasi distilasi. 2. Hasilnya menunjukkan peralatan dapat beroperasi dengan hasil etanol 86.8% dan kapasitas maksimum 500 liter dengan biaya Rp 19,556.6799/kg. 3. Tujuan percobaan adalah untuk menguji kinerja peralatan dan menghitung biaya operasi distilasi.

Diunggah oleh

ragilia maulidia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM TEKNIK KIMIA II

PERCOBAAN
BATCH PACKED DISTILLATION COLUMN
(DIST2)
Hari : Selasa
Kelompok : IV
Praktikan : 1. Ghea Gargarina Gardina (5008201097)
2. Bagas Hardiatmoko (5008201100)
3. Akhda Choirun Nisa (5008201110)
Asisten
Asisten :: -Triven Huygens Simaremare
Tanggal
Tanggal Percobaan
Percobaan :: 1611 Maret
Maret 2020
2021

Cuaca Suhu Udara Suhu Air Tekanan Udara


Cerah 30oC 29oC 760 mmHg

Departemen Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
2021
INTISARI i

INTISARI

Tujuan dari percobaan Batch Packed Column Distillation adalah mengetahui apakah
peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium dapat melakukan operasi sesuai
dengan kapasitas yang diinginkan dan kondisi operasi yang diinginkan; mengetahui kapasitas
maksimum dari peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium serta menghitung
dan menentukan biaya maksimum operasi distilasi per kg produk.
Langkat pertama yang dilakukan adalah menyaring larutan hasil fermentasi agar tidak
tercampur dengan kotoran. Setelah itu menyiapkan seperangkat alat distilasi. Selanjutnya adalah
mengisi labu leher tiga dengan larutan fermentasi yang akan di saring. Kemudian
mengumpankan air pendingin ke kondensor dan mengukur rate aliran air pendingin. Langkah
selanjutnya menyalakan pemanas pada peralatan distilasi dan memulai distilasi dan mengatur
suhu pemanas dengan suhu 78,3 oC. Membiarkan sistem berjalan sampai proses distilasi selesai.
Dari percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa peralatan
Batch Packed Distillation Column di laboratorium dapat melakukan operasi sesuai dengan
kapasitas yang diinginkan dan kondisi operasi yang diinginkan dengan hasil etanol yang
memiliki kadar 86,8%. Kapasitas maksimum dari peralatan Batch Packed Distillation Column di
laboratorium adalah 500 liter dengan asumsi 24 jam kerja. Biaya maksimum operasi distilasi
(meliputi penggunaan air pendingin dan listrik) per kg produk ialah Rp 19.556,6799/kg etanol.
Sedangkan energi total yang dibutuhkan yaitu 986.649,2699 Kcal atau setara dengan 1.147,47
kWh.

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


DAFTAR ISI ii

DAFTAR ISI

INTISARI ............................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR…........................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Tujuan Percobaan……………………………………………….................I-1
I.2 Dasar Teori …………………………………………..................................I-1
BAB II METODOLOGI PERCOBAAN
II.1 Variabel Percobaan…………………...………….....................................II-1
II.2 Alat dan Bahan Percobaan......…...…………….....…………...................II-1
II.3 Prosedur Percobaan .........…………………….........................................II-1
II.4 Gambar Alat Percobaan ............................................................................II-2
BAB III HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
III.1 Hasil Perhitungan.................……………...............................................III-1
III.2 Pembahasan…….....……………………....………................................III-2
BAB IV KESIMPULAN…….....……………………....………..................................IV-1
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ v
DAFTAR NOTASI ...............................................................................................................vi

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


DAFTAR TABEL iii

DAFTAR TABEL

Tabel III.1 Hasil Analisa ..................................................................................................... I-3


Tabel III.2 Hasil Kadar Ethanol setelah Fermentasi ........................................................... I-3

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


DAFTAR GAMBAR iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar I.1 Grafik Komposisi Uap dan Cair Terhadap Suhu ............................................ I-2
Gambar I.2 Distilasi Metode McCabe-Thiele .................................................................... I-4
Gambar I.3 Packed Kolom ................................................................................................. I-5
Gambar I.4 Peralatan Distilasi ........................................................................................... I-6
Gambar I.5 Distilasi Batch .................................................................................................. I-7

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan Batch Packed Distillation Column ini adalah untuk:
1. Mengetahui apakah peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium dapat
melakukan operasi sesuai dengan kapasitas yang diinginkan dan kondisi operasi yang
diinginkan.
2. Mengetahui kapasitas maksimum dari peralatan Batch Packed Distillation Column di
laboratorium.
3. Menghitung dan menentukan biaya maksimum operasi distilasi per kg produk.

I.2 Dasar Teori


Distilasi paling umum digunakan untuk pemisahan campuran cairan homogen.
Pemisahan dilaksanakan dengan memanfaatkan perbedaan titik didih atau volatilitas antara
komponen-komponen dalam campuran dengan mendidihkan atau menguapkan lebih banyak
komponen yang lebih volatile (Permatasari, 2015).
Metode ini termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini
didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada
titik didihnya. Proses pemisahan campuran cairan biner A dan B menggunakan distilasi dapat
dijelaskan dengan Hukum Dalton dan Raoult. Menurut hukum Dalton, tekanan gas total suatu
campuran biner, atau tekanan uap suatu cairan (P), adalah jumlah tekanan parsial dari masing-
masing komponen A dan B (PA dan PB)
P = PA + PB…………………………. (1)
Hukum Raoult menyatakan bahwa pada suhu dan tekanan tertentu, tekanan parsial uap
komponen A (PA) dalam campuran sama dengan hasil kali antara tekanan uap komponen murni
A (PA murni) dan fraksi molnya XA
PA = PA murni. XA………………………(2)
Sedang tekanan uap totalnya adalah:
Ptot = PA murni. XA + PB murni . XB…………(3)
Dari persamaan tersebut di atas diketahui bahwa tekanan uap total suatu campuran
cairan biner tergantung pada tekanan uap komponen murni dan fraksi molnya dalam campuran
(Coulson,1983).

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-2

Hukum Dalton dan Raoult merupakan pernyataan matematis yang dapat


menggambarkan apa yang terjadi selama distilasi, yaitu menggambarkan perubahan komposisi
dan tekanan pada cairan yang mendidih selama proses distilasi. Uap yang dihasilkan selama
mendidih akan memiliki komposisi yang berbeda dari komposisi cairan itu sendiri. Komposisi
uap komponen yang memiliki titik didih lebih rendah akan lebih banyak (fraksi mol dan
tekanan uapnya lebih besar). Komposisi uap dan cairan terhadap suhu tersebut dapat
digambarkan dalam suatu grafik diagram fasa berikut ini.

Gambar I.1 Grafik Komposisi Uap dan Cairan terhadap Suhu

• Operasi Kolom Destilasi


Pemisahan komponen-komponen dari campuran liquid melalui destilasi bergantung pada
perbedaan titik didih masing-masing komponen. Juga bergantung pada konsentrasi komponen
yang ada. Campuran liquid`akan memiliki karakteristik titik didih yang berbeda. Oleh karena
itu, proses destilasi bergantung pada tekanan uap campuran liquid. Tekanan uap suatu liquid
pada temperatur tertentu adalah tekanan keseimbangan yang dikeluarkan oleh molekul-
molekul yang keluar dan masuk pada permukaan liquid.
Ketika campuran cairan dari dua komponen dipanaskan, maka uap yang keluar akan
mengandung komponen lebih volatile yang lebih besar dibanding cairan didalam ketel.
Sebaliknya, ketika uap didinginkan, bahan yang mempunyai titik didih lebih tinggi mempunyai
kecendrungan lebih mudah mengembun dari pada komponen dengan titik didih lebih rendah.
(Kreul dkk, 1999).

• Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Operasi Kolom Distilasi


Kinerja kolom distilasi ditentukan oleh banyak faktor, sebagai berikut (Marco
Mazzott,2013):

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-3

a. Aliran umpan (feed) yaitu aliran yang masuk kolom destilasi


b. Aliran Produk yaitu aliran yang keluar dari kolom destilasi paling sedikit ada dua
macam produk yaitu produk atas (destilate) dan produk bawah (bottom product).
c. Aliran internal (internal stream) yaitu aliran fluida yang terjadi di dalam kolom
destilasi ada dua macam aliran internal yaitu aliran uap (vapor stream) dan aliran
cairan (liquid stream).
d. Aliran Refluks yaitu sebagian produk atas atau destilate dikembalikan ke kolom
destilasi melalui puncak kolom.

• Tipe Kolom Destilasi


Tipe kolom distilasi dapat diklasifikasikan sebagai:
➢ Tray Kolom
Tray kolom merupakan kolom distilasi yang didalamnya berisi plate yang dapat berupa
sieve tray, valve tray, bubble tray, dll. Untuk menentukan jumlah tray pada tray kolom
dapat digunakan metode Mc Cabe-Thiele. Untuk menggunakan metode ini perlu diketahui
pengertian dari reflux ratio, feed plate dan feed line (qline).
Reflux Ratio
Reflux ratio adalah perbandingan antara reflux dengan produk overhead. Tanpa
adanya reflux maka dibagian rectifying tidak akan terjadi proses rektifikasi (absorbsi)
dan produk yang dihasilkan konsentrasinya tidak dapat melebihi konsentrasi uap di
bagian rectifying. Persamaan garis operasi adalah sebagai berikut:
𝑅𝐷 𝑥𝐷
𝑦𝑛+1 = 𝑥 +𝑅 ………………(4)
𝑅𝐷 +1 𝑛 𝐷 +1

Feed Plate dan Feed Line


Pada plate dimana feed dimasukkan, rate liquid atau vapor maupun keduanya
kemungkinan berubah, tergantung dari kondisi thermal dari feed. Hal ini dapat
dikarakteristikkan kedalam lima tipe yang disimbolkan dengan q:
1. Cold feed, q > 1
2. Saturated liquid feed, q = 1
3. Feed partially vapor, 0 < q < 1
4. Saturated vapor feed, q = 0
5. Superheated vapor feed, q < 0
Untuk menghitung nilai q, digunakan persamaan sebagai berikut:

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-4

𝐶𝑝𝐿 (𝑇𝑏 − 𝑇𝑓 )
𝑞 = 1+ ………………….(5)
𝜆

sedangkan khusus untuk superheated vapor feed menggunakan persamaan:


𝐶𝑝𝑉 (𝑇𝐹 − 𝑇𝑑 )
𝑞=− ……………………(6)
𝜆

Feed line digambarkan pada kurva kesetimbangan menggunakan persamaan:


𝑞 𝐹 𝑥
𝑦 = − 1−𝑞 𝑥 + 1−𝑞 ………………………(7)

Gambar I.2 menunjukkan penentuan jumlah plate ideal pada kolom distilasi
menggunakan metode McCabe-Thiele.

Gambar I.2 Distilasi Metode McCabe-Thiele


(McCabe, hal 539)
Jumlah plate teoritik diperlukan saat sebelum melangkah ke tray dari distilat menuju
bottom. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan jumlah plate minimum yang mungkin
digunakan dalam pemisahan. Pada praktek sebenarnya, kondisi ini biasa dilakukan dengan
mengembalikan semua uap yang telah terkondensasi dari tower yang paling atas kembali
ke tower sebagai total reflux. Hanya apabila semua cairan dari bottom dan terdidihkan,
sehingga semua aliran hasil dari distilat dan bottom menurun menjadi nol, sebagai umpan
dari tower (Geankoplis,1983).
Kondisi dari total reflux ini bisa diartikan sebagai kebutuhan ukuran dari kondensor,
reboiler dan diameter tower untuk memberikan umpan. Apabila penguapan relative (α)
dari campuran biner dianggap konstan. Persamaan analitis dari Fenske bisa digunakan
untuk menghitung jumlah minimum langkah teoritik Nm apabila digunakan total
kondensor.
𝑙𝑜𝑔 𝑋𝑃(1−𝑋𝑊)
𝑁𝑚 = 𝛼𝑣𝑔 [log [𝑋𝑊(1−𝑋𝐷)]]………………………(8)

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-5

➢ Packed Kolom
Packed kolom merupakan kolom distilasi yang didalamnya terdapat packing sebagai
kontaktor gas-cair. Tinggi packing yang digunakan dapat ditentukan dengan
menggunakan metode Height Equivalent to a Theoretical Plate (HETP) yang
didasarkan pada plate teoritis. Secara umum persamaan HETP adalah:
𝑃𝑎𝑐𝑘𝑒𝑑 ℎ𝑒𝑖𝑔ℎ𝑡
𝐻𝐸𝑇𝑃 = 𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑙𝑖𝑏𝑟𝑖𝑢𝑚 𝑠𝑡𝑎𝑔𝑒𝑠…………(9)

Berikut ini pada Gambar I.3 menunjukkan Packed Kolom dan struktur-
strukturnya.

Gambar I.3 Packed Kolom

• Peralatan Proses Distilasi


Kolom distilasi merupakan serangkaian peralatan proses yang terdiri dari preheater,
column, condenser, accumulator, reboiler serta peralatan pendukung lainnya, dengan
konfigurasi seperti pada Gambar I.4 berikut.
Kolom atau sering disebut tower memiliki dua kegunaan; yang pertama untuk memisahkan
feed (material yang masuk) menjadi dua porsi, yaitu vapor yang naik ke bagian atas
(top/overhead) kolom dan porsi liquid yang turun ke bagian bawah (bottom) kolom; yang kedua
adalah untuk menjaga campuran kedua fasa vapor dan liquid (yang mengalir secara
countercurrent) agar seimbang, sehingga pemisahannya menjadi lebih sempurna.

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-6

Gambar I.4 Peralatan Distilasi

Overhead vapor akan meninggalkan bagian atas kolom dan masuk ke condenser, vapor
yang menjadi liquid akan dikumpulkan di accumulator. Sebagian liquid dari accumulator
dikembalikan ke kolom sebagai reflux, sedangkan sebagian lainnya sebagai overhead product
atau distillate.
Bottom liquid keluar dari bagian bawah kolom dan dipanaskan ke reboiler. Sebagian liquid
menjadi vapor dan dikembalikan ke kolom, dan sebagian lainnya akan dikeluarkan sebagai
bottom product atau residue. Ini adalah konfigurasi kolom yang relative sederhana, pada
aplikasi yang lebih kompleks, sebagian vapor atau liquid ditarik dari beberapa titik di bagian
samping kolom (side stream) sebagai intermediate product dan/atau sebagai reflux (APV.,2014).

• Distilasi Batch
Distilasi batch adalah suatu proses yang pada umumnya terjadi di dalam alat produksi
skala kecil untuk memisahkan produk mudah menguap dari larutan cair. Campuran dimasukan
ke dalam tempat/bejana dan panas diberikan melalui pemanas (heater) atau melalui dinding
bejana agar liquid mencapai titik didihnya dan dapat mengevaporasi bagian dari batch tersebut.
Dalam metode operasi paling sederhana, uap diambil secara langsung dari bejana ke
kondensor, seperti tertera pada Gambar I.5. Uap meninggalkan bejana pada suatu waktu dalam
keadaan berkesetimbangan dengan cairan yang masih tertinggal di bejana, tetapi karena
kandungan komponen yang mudah menguap pada fase uap lebih besar, sehingga komposisi
cairan dan gas adalah tidak konstan.

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-7

Gambar I.5 Distilasi Batch


Metode alternatif dalam menjalankan distilasi tumpak ialah dengan menetapkan rasio
refluks dan membiarkan kemurnian hasil atas berubah menurut waktu, dan menghentikan
distilasi apabila kuantitas hasil atau konsentrasi rata-rata di dalam hasil total lebih mencapai
suatu nilai tertentu (Mc Cabe, dkk, 1999).
Untuk proses batch, komponen dengan titik didih lebih tinggi makin lama makin
meningkat. Keuntungan proses batch dibanding kontinyu, proses batch lebih flexible daripada
proses kontinu. Proses batch lebih disukai daripada proses kontinu bila konsentrasi umpan
berubah-ubah. Pada proses batch, pemisahan campuran yang terdiri dari n komponen dapat
dilaksanakan pada satu kolom dengan menggunakan banyak tangki-tangki produk, sedang
untuk distilasi kontinyu diperlukan (n-1) kolom. Disamping keuntungan, ada kekurangan dari
distilasi batch yaitu perubahan yang terus menerus dari bahan umpan dan dinamika kolom yang
kompleks. Sangat sulit untuk menentukan perubahan komposisi dengan waktu diseluruh
bagian dari kolom distilasi batch pada refluks rasio optimum dengan cara eksperimen karena
kerumitan dinamika kolom (Kreul dkk, 1999).

• Relative Volatility
Pada suatu diagram kesetimbangan untuk suatu campuran biner A dan B, jarak terjauh
antara garis kesetimbangan dan garis 45° merupakan perbedaan yang lebih besar antara
komposisi uap yA dan komposisi cairan xA. Oleh sebab itu pemisahan mudah dilakukan. Suatu
bilangan ukuran pemisahan ini disebut relative volatility αAB. Hal ini didefinisikan sebagai
rasio antara konsentrasi pada A di dalam uap berlebih dan konsentrasi A dalam cairan yang
terbagi dari rasio konsentrasi pada B dalam uap berlebih dari konsentrasi B dalam cairan.
𝑌𝐴 ⁄𝑋𝐴 𝑌 ⁄𝑋
𝛼𝐴𝐵 = = (1−𝑌 𝐴)/(1−𝑋
𝐴
……………………(10)
𝑌𝐵 ⁄𝑋𝐴 𝐴 𝐴 )

Di mana αAB adalah relative volatility pada A terhadap B dalam sistem biner. Jika pada
sistem Hukum Roult’s, misalnya pada sistem Benzene-Toluene

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB I PENDAHULUAN I-8

𝑃𝐴 .𝑋𝐴 𝑃𝐵 .𝑋𝐵
𝑌𝐴 = 𝑌𝐵 = …………………………(11)
𝑃 𝑃

Disubtitusikan persamaan tersebut pada sistem ideal:


𝑃𝐴
𝛼𝐴𝐵 = ………………………………………(12)
𝑃𝐵

Persamaan berubah menjadi:


𝛼.𝑋𝐴
𝑌𝐴 = …………………………………(13)
1+(𝛼−1)𝑋𝛼

Di mana α = αAB. Karena nilai αB di atas 1,0 memungkinkan terjadinya pemisahan. Nilai
α boleh diganti sebagai perubahan konsentrasi, karena sistem biner mengikuti hukum Roult’s.,
relative volatility sering berubah terhadap konsentrasi yang besar dan tekanan total yang tetap.

• Persamaan FENSKE
Untuk operasi relative volatility yang relative konstan, maka jumlah tahap minimum (pada
refluks total) dapat dihitung dengan persamaan FENSKE sebagai berikut:
1 𝑋𝐴𝐷(1−𝑋𝐴𝑊)
𝑁 + 1 = log 𝛼𝛼𝑣𝑔 [log [𝑋𝐴𝑊(1−𝑋𝐴𝐷)]]………………(14)

Dimana α av = √𝛼𝑑 ∗ 𝛼𝑏
Ada tiga cara untuk menentukan komposisi distilasi batch rata-rata yang dipakai yaitu:
1. Cara Indeks Bias
Yaitu mencari harga komposisi distilat rata-rata yang dicari.
2. Cara Reyleigh
Dengan metode ini kita menggunakan persamaan:
𝐹 𝑋𝑓 𝑋𝐵
ln 𝐵 ∫𝑋𝑏 ………………………………(15)
𝑋𝐷−𝑋𝐵

Persamaan ini dapat diubah menjadi:


𝑋𝐹.𝐹−𝑋𝐵.𝐵
𝑋𝐷 = ……………………………(16)
𝐹−𝐵

3. Neraca Massa
Dengan membuat neraca massa total distilasi batch dan salah satu neraca komponen.
Neraca massa total:
𝐹 = 𝐷 + 𝐵………………………………….(17)
Neraca massa komponen:
𝑥𝐹 . 𝐹 = 𝑥𝐷 . 𝐷 + 𝑥𝐵 . 𝐵………………………(18)

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB II PERCOBAAN II-1

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

II.1 Variabel Percobaan


Variabel yang dipilih pada proses distilasi ini adalah larutan fermentasi pisang kepok
dengan konsentrasi pelarut HCl 0 N; 0,75 N; 1 N; 1,5 N.

II.2 Alat dan Bahan Percobaan


Alat Percobaan:
1. Beaker glass
2. Corong
3. Erlenmeyer
4. Gelas ukur
5. Labu leher tiga
6. pH meter
7. Seperangkat alat distilasi
8. Statif dan klem holder
9. Termometer
10. Timbangan

Bahan Percobaan:
1. Larutan hasil fermentasi pisang kepok

II.3 Prosedur Percobaan


a. Distilasi Larutan Hasil Fermentasi
1. Menyaring larutan hasil fermentasi agar tidak tercampur dengan kotoran;
2. Menyiapkan seperangkat alat distilasi;
3. Mengisi labu leher tiga dengan larutan fermentasi yang akan di saring;
4. Mengumpankan air pendingin ke kondensor dan mengukur rate aliran air pendingin;
5. Menyalakan pemanas pada peralatan distilasi dan memulai distilasi.
6. Mengatur suhu pemanas dengan suhu 78,3 oC;
7. Membiarkan sistem berjalan sampai proses distilasi selesai.

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB II PERCOBAAN II-2

b. Menghitung %Ethanol dengan Metode Piknometri


1. Menimbang piknometer kosong 25 ml dengan tutupnya dan mencatat angka pembacaan
pada timbangan;
2. Mengisi piknometer dengan ethanol hasil distilasi sampai tanda batas kemudian
menutupnya;
3. Menimbang piknometer yang berisi ethanol dan mencatat angka pembacaan pada
timbangan;
4. Mengisi piknometer dengan air sampai tanda batas kemudian menutupnya;
5. Menimbang piknometer yang berisi air dan mencatat angka pembacaan pada
timbangan.
6. Menghitung nilai densitas ethanol dan air menggunakan rumus:
(𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 + 𝑖𝑠𝑖) − (𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)
𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

7. Membagi data densitas ethanol dengan air sehingga didapatkan hasil spesifik gravity
ethanol;
8. Membaca nilai %ethanol pada tabel astm.

II.5 Gambar Alat Percobaan

Gambar II.1 Skema Alat Percobaan

Keterangan:
1. Pemanas listrik
2. Labu leher tiga

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB II PERCOBAAN II-3
3. fractional distillation coloumn
4. Kondernsor
5. Erlenmeyer
6. Slang air pendingin

Dimensi Alat :
1. Kolom Distilasi
Tinggi kolom distilasi : 1,23 m
Diameter kolom distilasi : 0,029 m
Volume labu leher tiga : 2000 mL dengan D = 0,166 m
Jumlah plate :2
Tipe packing : Raschig Ring

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB III HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN III-1

BAB III
HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

III.1 Hasil Perhitungan


Bahan baku yang digunakan adalah kulit Pisang Kepok yang diperoleh dari limbah ukm
pisang goreng dan keripik pisang. Kulit pisang kepok memiliki kandungan pati yang cukup
tinggi yaitu 11.48% sehingga berpotensi untuk menghasilkan bioethanol. Berikut adalah hasil
analisa yang didapat menurut BPKI:
Tabel III.1 Hasil Analisa
No Hasil Tes Kimiawi Kadar (%)
Laboratorium
1 Pati 11,48
2 Selulosa 21,80
3 Hemiselulosa 4,05
4 Lignin 4,01
Dari hasil analisa diatas kulit Pisang Kepok dapat digunakan sebagai sumber bioethanol
karena kandungan pati yang terkandung cukup tinggi. Pati merupakan polimer yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioethanol.
Tabel III.2 Hasil Kadar Ethanol setelah Fermentasi
Massa Kadar Gula (g/l) Kadar Ethanol
125 55,55555556 8,05
Tanpa HCl 150 90,90909091 9,06
200 153,8461538 9,05
125 71,42857143 9,51
HCl 0,75 N 150 125 9,88
200 200 9,82
125 102,0408163 9,8
HCl 1 N 150 142,8571429 10,5
200 208,3333333 10,6
125 62,5 9,16
HCl 1,5 N 150 117,6470588 9,88
200 204,0816327 9,86

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB III HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN III-2

III.2 Pembahasan
Tujuan dari percobaan Batch Packed Column Distillation adalah mengetahui apakah
peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium dapat melakukan operasi sesuai
dengan kapasitas yang diinginkan dan kondisi operasi yang diinginkan, mengetahui kapasitas
maksimum dari peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium dan faktor
penghambat percobaan, serta menghitung dan menentukan biaya maksimum operasi distilasi
per kg produk.
Langkah pertama yang dilakukan pada tahap fermentasi yaitu menyaring hasil
fermentasi agar tidak tercampur dengan kotoran dan menyiapkan alat distilasi. Kemudian
mengisi labu leher tiga dengan larutan fermentasi yang telah disaring. Selanjutnya
mengumpankan air pendingin ke kondensor dan mengukur rate aliran air pendingin. Kemudian
menyalakan pemanas pada peralatan distilasi dan memulai distilasi. Suhu pemanas diatur
dengan sebesar 78,3oC. Membiarkan proses distilasi berjalan sampai proses distilasi selesai.
Kemudian langkah kedua yang dilakukan yaitu menghitung % ethanol dengan metode
piknometri dengan cara menimbang piknometer kosong 25 ml dengan tutupnya dan mencatat
angka pembacaan pada timbangan. Lalu mengisi piknometer dengan ethanol hasil distilasi
sampai tanda batas kemudian menutupnya dan menimbang piknometer yang berisi ethanol
serta mencatat angka pembacaan pada timbangan. Kemudian dilanjutkan dengan menimbang
piknometer yang berisi air dan mencatat angka pembacaan pada timbangan. Lalu menghitung
nilai densitas ethanol dan air. Lalu membagi data densitas ethanol dengan air sehingga
didapatkan hasil spesifik gravity ethanol. Kemudian membaca nilai %ethanol pada tabel astm.

III.2.1 Produksi Ethanol pada Proses Fermentasi


Proses fermentasi dengan bantuan bakteri yeast Saccharomyses Cerivisiae bertujuan
untuk mengkonversi gula reduksi yang terbentuk pada proses hidrolisis menjadi ethanol
dengan lama waktu fermentasi selama 3 hari.
Dari proses fermentasi selama 3 hari didapatkan hasil kadar ethanol dari kadar gula
reduksi awal seperti pada Tabel III.2 Hasil Kadar Ethanol Setelah Fermentasi paling tinggi
yaitu pada variabel 200 g/l dengan konsentrasi HCl 1N didapat kadar alkohol sebesar 10,6%.
Hidrolisis asam dan hidrolisis tanpa asam bertujuan untuk mengkonversi selulosa yang
terdapat pada kulit pisang menjadi glukosa yang merupakan bahan baku pembuatan bioethanol.
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar ethanol yang tinggi didapatkan dari
konsentrasi asam (HCl) yang optimal terdapat pada konsentrasi 1 N. Hal ini disebabkan oleh
konsentrasi asam yang tinggi menyebabkan tumbukan antar reaktan dan produk akan semakin

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB III HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN III-3

besar sehingga kadar glukosa yang dihasilkan juga semakin besar. Namun apabila konsentrasi
asam terlalu besar dapat menyebabkan hasil hidrolisa akan tetap berjalan dan hasil dari glukosa
akan rusak akibat dari konsentrasi asam yang tinggi.
Kadar optimum dari asam (HCl) yang digunakan pada hidrolisis ini yaitu sebesar 1 N
untuk menghasilkan kadar glukosa tertinggi pada hidrolisis kulit pisang kepok didapat kadar
alkohol maksimal 10,6 %.
Proses hidrolisis ini yang akan menghasilkan kadar glukosa akan mempengaruhi kadar
alkohol nanti setelah proses fermentasi. Nantinya kadar tersebut akan menentukan % dari kadar
alkohol yang dihasilkan (Artiati, 2012).

III.2.2 Hasil Ethanol setelah Distilasi


Ethanol hasil fermentasi pada variable 200 g/l dengan konsentrasi HCl 1N yang
memiliki kadar alcohol 10,6%, kemudian akan di distilasi selama 3 jam kadar ethanol yang
dihasilkan sebesar 86,8%. Pada proses distilasi ethanol yang dihasilkan sebanyak 50ml dari 2
liter larutan setelah fermentasi pada variabel 200 g/l dengan konsentrasi tanpa HCl.
Hasil dari distilasi ethanol menunjukan kadar ethanol sebesar 86,8%. Kadar ethanol
destilat yang diperoleh dalam penelitian ini masih belum maksimal jika akan digunakan
sebagai bahan baku pembuat bahan bakar. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah air
yang ikut menguap dengan jumlah tidak sebanding dengan jumlah ethanol yang diuapkan
(Marjoni, 2016).
Selanjutnya dihitung pula nilai dari massa air pendingin yang digunakan. Diperlukan
air pendingin sebanyak 3000 kg. Dari kebutuhan air pendingin maka dapat dicari berapa energi
yang dibutuhkan selama proses berlangsung. Dimana Q= 19.865,537 Kcal. Kemudian jumlah
energi yang dibutuhkan pada proses distilasi sendiri yaitu 966.783,7331 Kcal. Maka, jumlah
energi total yang dibutuhkan yaitu 986.649,2699 Kcal atau setara dengan 1.147,47 kWh. Bila
asumsi pemanas bekerja dengan efisiensi maksimal. Dan biaya / kwh sekitar Rp. 996,74/kWh.
Maka biaya yang dibutuhkan adalah Rp1.143.732,339/ 58,48296 kg ethanol atau
Rp19.556,67999 / kg ethanol.
Distilasi yang berlangsung memenuhi problem statement dimana kadar ethanol yang
dihasilkan yaitu 86,8%. Dimana dalam proses saat ini volume larutan yang digunakan yaitu
500 L dengan diharapkan 12% dari larutan tersebut membentuk ethanol. Adapun desain yang
digunakan dalam proses distilasi untuk volume 500 liter yaitu tinggi packing adalah 1,38 meter.
Lalu diameter kolom percobaan adalah 0,029 meter, diameter tangkinya adalah 0,166 meter,
dan diameter tangki scale upnya yaitu 0,846519 meter. Maka secara teoritis diameter kolom

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB III HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN III-4

scale upnya yaitu 0,147885 meter dan tinggi kolom distilasi yang dibutuhkan adalah 6,2724
meter dengan penggunaan dari jenis packed adalah random packing dengan ukuran 1 inch dan
terdapat 3 plate.

III.3 Sistem Perpindahan Panas


Distilasi merupakan proses memanaskan bahan fermentor dalam bejana hingga ethanol
/ bioethanol menguap dan terpisah dari fasa lain pada temperatur referensnya. Pada dasarnya,
proses ini merupakan proses perpindahan panas secara konveksi yaitu perpindahan panas dari
satu tempat ke tempat lain karena adanya perpindahan fluida, proses perpindahan panas melalui
perpindahan massa. Dalam hal ini perpindahan panas terjadi pada elemen pemanas atau elemen
lainnya seperti kondensor yang menyentuh fluida fermentor, sebagaimana prinsip kerja boiler
untuk menghasilkan uap. Uap yang terpisah akibat pemanasan selanjutnya disebut volatile.
Volatile ini akan mengalami proses-proses seperti proses kondensasi yang terjadi pada
kondensor. Fenomena yang terjadi di kondensor ini merupakan proses perpindahan panas
dengan metode konveksi paksa antara fluida air yang menyentuh dinding pipa kondensor
dengan uap bioethanol.
Perpindahan kalor konveksi paksa secara teoritis pada dinding tabung kondensor sama
dengan kalor yang dibuang oleh kondensor, dapat dihitung dengan menggunakan persaan
hukum Newton:
𝑞 = ℎ𝐴 (𝑇𝑤 − 𝑇∞ )
Dan perpindahan kalor per satuan panjang dihitung dihitung berdasarkan persamaan :
𝑞/𝐿 = ℎ𝐴 (𝑇𝑤 − 𝑇∞ )
Dimana jumlah perpindahan kalor q (W), koefisien perpindahan kalor konveksi paksa untuk
permukaan tabung vertical (h).

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


BAB IV KESIMPULAN IV-1

BAB IV
KESIMPULAN

Dari percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium dapat melakukan operasi
sesuai dengan kapasitas yang diinginkan dan kondisi operasi yang diinginkan dengan
hasil etanol yang memiliki kadar 86,8%.
2. Kapasitas maksimum dari peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium
adalah 500 liter dengan asumsi 24 jam kerja
3. Biaya maksimum operasi distilasi (meliputi penggunaan air pendingin dan listrik) per
kg produk ialah Rp 19.556,6799/kg etanol. Sedangkan energi total yang dibutuhkan
yaitu 986.649,2699 Kcal atau setara dengan 1.147,47 kWh.

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


DAFTAR PUSTAKA v

DAFTAR PUSTAKA

[Link] [Link] edition. Americas, Engineered Systems 395 Fillmore


AvenueTonawanda, N.Y. .2014
Coulson, J.M. Richardson, Sinnot, R.K. [Link] Engineering Volume 6 (SI Units) Design.
Oxford: Pergamon Press.
Geankoplis, C. (2003). Transport Processes and Separation Process Principles (Includes Unit
Operations). 4th edition. New Jersey: Prentice Hall.
Kreul, L. U., Górak, A., Barton, P.I.,“Dynamic Rate – Based Model for Multicomponent Batch
Distillation”, AIChE Journal, Volume 45, No.9, pp. 1953 – 1962, September (1999).
Marco Mazzotti. Distillation –side streams. [Link]
[Link] februar 2013
Mc. Cabe, W.L., Smith. J.C., Harri.1985. Unit Operation of Chemical Engineering, edisi ke-5.
Mc. Graw Hill International Edition. Co. Ltd. Singapore.
Permatasari, Ratih. Atlway, Ali. Susianto. Pemodelan Dan Simulasi Distilasi Batch Broth
Fermentasi Pada Tray Column Dengan Serabut Wool. Jurnal Teknik Kimia Vol.9, No.2,
April 2015.
[Link] in Process Engineering II. Zurich, February 6, 2014.

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


DAFTAR NOTASI vi
DAFTAR NOTASI

Notasi Keterangan Satuan


∆H Enthalpy cal
Cp Kapasitas Panas Cal/goC
M Massa kg
n mol mol
V Volume liter
Ls Tinggi tangki m
D Diameter m
VL Volume Liquid L
VT Volume Tangki L

Laboratorium Teknik Kimia FTIRS-ITS


APPENDIKS

NERACA MASSA
1. FERMENTASI
Konversi glukosa menjadi etanol
kadar etanol = 12% berat
kapasitas larutan = 500 liter 0,5 m3
densitas = 974,716 kg/m3
berat larutan = 487,358 kg
berat etanol = 58,48296 kg

Aliran <2> NPK


Aliran <3> Urea

Aliran <4> S. Cerivisiae

Aliran <1> Aliran <5> C2H5OH


FERMENTASI
C6H12O6 Aliran <6> CO2

C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2


M 0,755453249 - -
R 0,634580729 1,269161458 1,269161458
P 0,12087252 1,269161458 1,269161458

Konversi reaksi : 84%


Etanol yang terbentuk : 9,05%
Neraca massa komponen
a. C6H12O6
C6H12O6 = 136,1024573 kg
mol mula-mula = massa C6H12O6 kg
BM C6H12O6 kg/kmol
= 136,1024573 kg
180,16 kg/kmol
= 0,755453249 kmol

C6H12O6 bereaksi = 84% X 0,755453249 kmol


= 0,634580729 kmol

C6H12O6 produk = mol mula mula - mol bereaksi


= 0,755453249 - 0,634580729
= 0,12087252 kmol
= 21,77639317 kg

b. C2H5OH
C2H5OH yang terbentuk
= 2 X C6H12O6 bereaksi
= 2 X 0,634580729
= 1,269161458 kmol X 46,08
= 58,48296 kg kg/kmol
APPENDIKS

c. CO2
CO2 yang terbentuk = 2X C6H12O6 bereaksi
= 2X 0,634580729
= 1,269161458 kmol
= mol X BM
= 1,269161458 X 44,0095 kg/kmol
= 55,8551612 kg

Menghitung yeast Saccharomyses Cerivisiae sebanyak 0,2% dari kadar glukosa


(Soeprijanto, 2013)
yeast yang ditambahkan
0,20% x kadar glukosa = 0,20% X 136,1025
= 0,272204915 kg

Menghitung jumlah NPK dan urea yang ditambahkan yaitu sebanyak 0,5%
(Soeprijanto, 2013)
NPK yang ditambahkan
0,50% x kadar glukosa = 0,50% X 136,1025
= 0,680512287 kg

Urea yang ditambahkan


0,50% x kadar glukosa = 0,50% X 136,1025
= 0,680512287 kg

TABEL A.1 NERACA MASSA FERMENTASI


BAHAN MASUK MASSA (Kg) BAHAN KELUAR MASSA (Kg)
ALIRAN 1 Aliran 5
C6H12O6 136,1024573 C2H5OH 58,48296
AIR 12752,04585 C6H12O6 21,77639317
PATI SISA 499,2 AIR 12752,04585
PATI SISA 499,2
HEMISELULOSA 202,5
LIGNIN 200,5 HEMISELULOSA 202,5
ABU 51,5 LIGNIN 200,5
13841,84831 ABU 51,5
NPK 0,680512287
ALIRAN 2 Urea 0,680512287
NPK 0,680512287 S. Cerivisiae 0,272204915
13787,63843
ALIRAN 3
Urea 0,680512287 ALIRAN 6
CO2 55,8551612
ALIRAN 4
S. Cerivisiae 0,272204915

TOTAL FEED TOTAL FEED


13843,48154 13843,48154
MASUK KELUAR
APPENDIKS

2. PENYARINGAN
Fungsi : Untuk menyaring padatan dalam cairan yang terkandung dalam larutan

Aliran <6> Aliran <7> C2H5OH


FILTRASI
Larutan Aliran <8> Solid Waste
Hasil Fermentasi

Efesiensi penyaringan = 100%

TABEL A.2 NERACA MASSA FILTRASI


BAHAN MASUK MASSA (Kg) BAHAN KELUAR MASSA (Kg)
ALIRAN 6 Aliran 7
C2H5OH 58,48296 C2H5OH 58,48296
C6H12O6 21,77639317 AIR 12752,04585
AIR 12752,04585 12810,52881
PATI SISA 499,2
Aliran 8
HEMISELULOSA 202,5 C6H12O6 21,77639317
LIGNIN 200,5 PATI 499,2
ABU 51,5
NPK 0,680512287 HEMISELULOSA 202,5
Urea 0,680512287 LIGNIN 200,5
S. Cerivisiae 0,272204915 ABU 51,5
13787,63843 YEAST + NUTRISI 1,633229488
977,1096227
TOTAL FEED TOTAL FEED
13787,63843 13787,63843
MASUK KELUAR

3. DISTILASI
Fungsi : Proses pemisahan etanol dengan air berdasar titik didihnya

Aliran <8> Aliran <9> C2H5OH


C2H5OH DISTILASI
Aliran <10> H2O

Perhitungan neraca massa distilasi


Kadar ethanol yang didapatkan = 86,8%
kadar air = 13,20%
massa produk = 67,37668203 kg
massa air = 7,71975072 kg
massa ethanol = 58,48296 kg

a. C2H5OH
C2H5OH yang = 86,8% X Massa Produk
terbentuk = 86,8% X 67,37668203
= 58,48296 kg
APPENDIKS

b. H2O
H2O yang teruapkan = 13,20% X 67,37668
= 8,893722028 kg

H2O sisa = mula-mula - yang


teruapka
= 12752,04585 - 8,893722
= 12743,15213 kg

TABEL A.3 NERACA MASSA DISTILASI


BAHAN MASUK MASSA (Kg) BAHAN KELUAR MASSA (Kg)
ALIRAN 8 Aliran 9
C2H5OH 58,48296 C2H5OH 58,48296
AIR 12752,04585 AIR 8,893722028
12810,52881 67,37668203

Aliran 10
AIR SISA 12743,15213
TOTAL FEED TOTAL FEED
MASUK 12810,52881 KELUAR 12810,52881

4. KONDENSOR
Fungsi : Untuk kondensasi Ethanol

Air pendingin
Aliran <12>

Aliran <10>
C2H5OH KONDENSER Aliran <11> C2H5OH

Air pendingin
Aliran <13>

TABEL A.4 NERACA MASSA DISTILASI


BAHAN MASUK MASSA (Kg) BAHAN KELUAR MASSA (Kg)
ALIRAN 10 Aliran 11
C2H5OH 58,48296 C2H5OH 58,48296
AIR 8,893722028 AIR 8,893722028
67,37668203 67,37668203

ALIRAN 12 Aliran 13
H2O 3000 H2O 3000
TOTAL FEED TOTAL FEED
3067,376682 3067,376682
MASUK KELUAR
APPENDIKS

NERACA ENERGI

KAPASITAS : 500 L/Day


SATUAN PANAS : kkal
BASIS WAKTU : 1 HARI

Komposisi % Berat Fraksi


AIR 69,11 0,6911
SELULOSA 21,8 0,218
HEMISELULOSA 4,05 0,0405
LIGNIN 4,01 0,0401
ABU 1,03 0,0103
TOTAL 100 1
DATA PERHITUNGAN Cp (kcal/kgºC) (Coulson)
Elemen Solid Liquid satuan komponen Cp (kcal/kgºC)
C 7,5 11,7 J/molºC C6H10O5 0,30692
H 9,6 18 J/molºC C6H12O6 0,3141
O 16,7 25,1 J/molºC Lignin 0,0591
Cp Air Selulosa 0,3069
Komponen Cp (kcal/kgºC)Suhu Hemiselulosa 0,3053
Air 0,9987 30 C2H5OH 0,4185
0,992 50 Saccharomyces cerevisiae
0,3342
1,0001 60 (NH4)2HPO4 0,34
1,005 90 Urea 22,45
1,0076 100 CO2 0,2049
Abu 0,63

Komponen Rumus Molekul


C H O
Pati (C6H10O5)1000100200 96000 83500
Glukosa C6H12O6 70,2 216 150,6
Serat C6H10O5 45 96 83,5

Destilasi
Fungsi Proses pemisahan etanol dengan air berdasarkan titik didih

Aliran <13> Aliran <14> C2H5OH


C2H5OH DESTILASI
Aliran <15> H2O

Neraca Panas Bahan Masuk


ΔH in (Cal) = m x Cp X ΔT
= (T-25)
= (30-25)
= 5

KOMPONEN MASSA (kG) Cp (kcal/kgºC)


T (C) ΔH (kCal)
C6H10O5 58,48296 0,4185 5 122,3756
H2O 12752,0458 0,9987 5 63677,34
12810,5288 ΔH = 63799,72
APPENDIKS

Neraca Panas Bahan Keluar


ΔH in (Cal) = m x Cp X ΔT
= (T-25)
= (100-25)
= 75

KOMPONEN MASSA (kG) Cp (kcal/kgºC)


T (C) ΔH (kCal)
C6H10O5 58,48296 0,4185 75 1835,634
H2O 8,89372203 1,0076 75 672,0986
H2O SISA 12743,1521 1,0076 75 963000
12810,5288 ΔH = 965507,7
Menghitung Kalor (Q)
Asumsi Qloss = 2% dari H in
= 2% x 63799,72
= 1275,994
Hin + Qin = Hout + Qloss
63799,71654 + Qin = 965507,7 + 1275,994331
63799,71654 + Qin = 966783,7
Qin = 966783,7 - 63799,71654
Qin = 902984 kcal
Qin = 9,03E+08 cal
Tabel Neraca Panas Destilasi
Masuk Keluar
Komponen Enthalpy KomponenEnthalpy
C6H10O5 122,375594 C6H10O5 1835,633907
H2O 63677,3409 H2O 672,0985736
H2O SISA 963000,0063
63799,7165 965507,739
Qin 902984,017 Qloss 1275,994
Total 966783,733 Total 966783,733

Condensor
Fungsi Untuk Kondensasi Etanol

Air pendingin
Aliran <16>

Aliran <14>
C2H5OH KONDENSOR Aliran <15> C2H5OH

Air pendingin
Aliran <17>
Neraca Panas Bahan Masuk
ΔH in (Cal) = m x Cp X ΔT
= (T-25)
= (100-25)
= 75
APPENDIKS

KOMPONEN MASSA (kG) Cp (kcal/kgºC)


T (C) ΔH (kCal)
C6H10O5 58,48296 0,4185 75 1835,634
H2O 8,89372203 1,0076 75 672,0986
H2O PENDINGIN 3000 1,0076 75 226710
ΔH = 229217,7

Neraca Panas Bahan Keluar


ΔH in (Cal) = m x Cp X ΔT
= (T-25)
= (30-25)
= 5

KOMPONEN MASSA (kG) Cp (kcal/kgºC)


T (C) ΔH (kCal)
C6H10O5 58,48296 0,4185 5 122,3756
H2O SISA 8,89372203 1,0076 5 44,80657
H2O PENDINGIN 3000 1,0076 5 15114
ΔH = 15281,18

Menghitung Kalor (Q)


Asumsi Qloss = 2% dari Hin
= 2% x 229217,7
= 4584,355 kcal

Hin + Qin = Hout + Qloss


229217,7325 + Qin = 15281,18 + 4584,35465
229217,7325 + Qin = 19865,54
Qin = 19865,54 - 229217,7325
Qin = -209352 kcal

Tabel Neraca Panas Kondensor


Masuk Keluar
Komponen Enthalpy KomponenEnthalpy
C6H10O5 1835,63391 C6H10O5 122,3755938
H2O 672,098574 H2O SISA 44,80657158
H2O PENDINGIN 226710 H2O PENDINGIN 15114
229217,732 15281,182
Qsupply -209352,2 Qloss 4584,355
19865,537 19865,537

total Q destilasi = 966783,7331 kcal


kondensor = 19865,53681 kcal
Total Q = 986649,2699 kcal
konversi ke kwh = 986649,2699 x 1,16E-03
= 1147,473101 kwh
biaya per kwh >2000 kVA = Rp. 996,74 /kWh
= 1147,473101 x 996,74
= Rp. 1143732,339 / 58,48296 kg ethanol
= Rp. 19556,67666 / kg ethanol
APPENDIKS

Problem statement
Fermentasi yang dihasilkan = 500 L dalam 24 jam kerja
1 jam = 20,83333 L
Untuk Vessel dengan coil diisi 70% dari volume totalnya
VL = 0,7 VT
VT = 500
0,7
VT = 714,2857 L
Diasumsikan: Ls = 1,5 D
VT = phi/4 D^2 Ls
714,2857 = 0,785 D^2 1,5 D
714,2857 = 1,1775 D^3
D = 8,465196 dm
= 0,84652 m
Ls = 1,269779 m
Jika mengacu pada praktikum yang telah dilakukan:
Dari 500 L larutan yang di distilasi didapatkan produk distilat = 12% dari VT
V= 60 L
Distilat sudah memenuhi soal yaitu 86,8 %
L1 = 500 L X1 = 12% L2 = 440
Distilat = 60 L XD = 88%
Bila ρ campuran untuk feed = 12% 0,7893 + 88% 1
= 0,974716
Maka massa feed = 500 x 0,974716
= 487,358 kg
massa distilat = 60 x ρ campuran
= 58,48296 kg
Massa di bottom (L2) = 487,358 - 58,48296
= 428,875 kg
BM ethanol = 46,07 kg/kgmol
BM air = 18 kg/kgmol

Untuk L1
Massa = 487,358 kg
Xa = 12%
Xb = 88%
BM campuran = 12% 46,07 + 88% 18
= 21,3684 kg/kgmol
Mol L1 = Massa/BM campuran
= 487,358 kg / 21,3684 kg/kgmol
= 22,80742 kgmol

Untuk D
Massa = 58,48296 kg
XD = 88%
XDb = 12%
BM campuran = 88% 46,07 + 12% 18
= 42,7016 kg/kgmol
Mol D = 58,48296 kg / 42,7016 kg/kgmol
= 1,369573 kgmol
APPENDIKS

Mencari X2 dengan neraca massa:


X1 L1 = X2 L2 + XD D
12% 487,358 = X2 428,875 + 88% 58,48296
58,48296 = 428,875 X2 + 51,465
X2 = 0,016364 fraksi massa

Massa L2
Massa = 428,875 kg
X2 = 0,016364
X2-b = 1 - 0,016364
= 0,983636
BM campuran = 0,016364 46,07 + 0,983636 18
= 18,45933 kg/kgmol
Mol L2 = 428,875 kg / 18,45933 kg/kgmol
= 23,23351 kgmol

Pada distilat
α = yA/xA
yB/xB
Dari data = XD = 0,88
XDb = 0,12
Dari data kesetimbangan = yD = 0,822
yDb = 0,178
αd = yD/xD
yDb/xDb
= 0,822 / 0,88
0,178 / 0,12
= 0,934091
1,483333
= 0,629724

Pada Bottom
X2 = 0,016364
X2b = 0,983636
Dari data keseimbangan = y2 = 0,527
y2b = 0,473
αb = 0,527 / 0,016364
0,473 / 0,983636
= 32,20556
0,480869
= 66,97369
α av = 𝑎𝑑 . 𝑎𝑏
= 0,6929724 . 36,37542
= 6,494225
N = log (xD/xDb) (x2b/x2)
log α av
= log 7,333333 60,11111 -1
0,812527
= 2,25436
= 3 plate
APPENDIKS

Menggunakan 1 in packing size, maka:


Packing size (in) HETP (m)
1 0,46
1,5 0,67
2 0,91

Sehingga ditinggi packing:


Z = HETP x N (jumlah plate)
= 0,46 x 3
= 1,38 m
Perbandingan diameter kolom dan diameter tangki percobaan:
diameter kolom percobaan = diameter kolom scale up
diameter tangki percobaan diameter tangki scale up
0,029 m = X m
0,166 m 0,84652 m
X = 0,147886 m
maka diameter kolom scale up = 0,147886 m

Untuk tinggi kolom distilasi:


diameter kolom percobaan = diameter kolom scale up
tinggi kolom percobaan tinggi tangki scale up
0,029 m = 0,147886 m
1,23 m X m
X = 6,272404 m
jadi tinggi kolom distilasi scale up = 6,272404 m

Anda mungkin juga menyukai