Hasil Percobaan Distilasi Batch
Hasil Percobaan Distilasi Batch
PERCOBAAN
BATCH PACKED DISTILLATION COLUMN
(DIST2)
Hari : Selasa
Kelompok : IV
Praktikan : 1. Ghea Gargarina Gardina (5008201097)
2. Bagas Hardiatmoko (5008201100)
3. Akhda Choirun Nisa (5008201110)
Asisten
Asisten :: -Triven Huygens Simaremare
Tanggal
Tanggal Percobaan
Percobaan :: 1611 Maret
Maret 2020
2021
INTISARI
Tujuan dari percobaan Batch Packed Column Distillation adalah mengetahui apakah
peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium dapat melakukan operasi sesuai
dengan kapasitas yang diinginkan dan kondisi operasi yang diinginkan; mengetahui kapasitas
maksimum dari peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium serta menghitung
dan menentukan biaya maksimum operasi distilasi per kg produk.
Langkat pertama yang dilakukan adalah menyaring larutan hasil fermentasi agar tidak
tercampur dengan kotoran. Setelah itu menyiapkan seperangkat alat distilasi. Selanjutnya adalah
mengisi labu leher tiga dengan larutan fermentasi yang akan di saring. Kemudian
mengumpankan air pendingin ke kondensor dan mengukur rate aliran air pendingin. Langkah
selanjutnya menyalakan pemanas pada peralatan distilasi dan memulai distilasi dan mengatur
suhu pemanas dengan suhu 78,3 oC. Membiarkan sistem berjalan sampai proses distilasi selesai.
Dari percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa peralatan
Batch Packed Distillation Column di laboratorium dapat melakukan operasi sesuai dengan
kapasitas yang diinginkan dan kondisi operasi yang diinginkan dengan hasil etanol yang
memiliki kadar 86,8%. Kapasitas maksimum dari peralatan Batch Packed Distillation Column di
laboratorium adalah 500 liter dengan asumsi 24 jam kerja. Biaya maksimum operasi distilasi
(meliputi penggunaan air pendingin dan listrik) per kg produk ialah Rp 19.556,6799/kg etanol.
Sedangkan energi total yang dibutuhkan yaitu 986.649,2699 Kcal atau setara dengan 1.147,47
kWh.
DAFTAR ISI
INTISARI ............................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR…........................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Tujuan Percobaan……………………………………………….................I-1
I.2 Dasar Teori …………………………………………..................................I-1
BAB II METODOLOGI PERCOBAAN
II.1 Variabel Percobaan…………………...………….....................................II-1
II.2 Alat dan Bahan Percobaan......…...…………….....…………...................II-1
II.3 Prosedur Percobaan .........…………………….........................................II-1
II.4 Gambar Alat Percobaan ............................................................................II-2
BAB III HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
III.1 Hasil Perhitungan.................……………...............................................III-1
III.2 Pembahasan…….....……………………....………................................III-2
BAB IV KESIMPULAN…….....……………………....………..................................IV-1
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ v
DAFTAR NOTASI ...............................................................................................................vi
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
Gambar I.1 Grafik Komposisi Uap dan Cair Terhadap Suhu ............................................ I-2
Gambar I.2 Distilasi Metode McCabe-Thiele .................................................................... I-4
Gambar I.3 Packed Kolom ................................................................................................. I-5
Gambar I.4 Peralatan Distilasi ........................................................................................... I-6
Gambar I.5 Distilasi Batch .................................................................................................. I-7
BAB I
PENDAHULUAN
𝐶𝑝𝐿 (𝑇𝑏 − 𝑇𝑓 )
𝑞 = 1+ ………………….(5)
𝜆
Gambar I.2 menunjukkan penentuan jumlah plate ideal pada kolom distilasi
menggunakan metode McCabe-Thiele.
➢ Packed Kolom
Packed kolom merupakan kolom distilasi yang didalamnya terdapat packing sebagai
kontaktor gas-cair. Tinggi packing yang digunakan dapat ditentukan dengan
menggunakan metode Height Equivalent to a Theoretical Plate (HETP) yang
didasarkan pada plate teoritis. Secara umum persamaan HETP adalah:
𝑃𝑎𝑐𝑘𝑒𝑑 ℎ𝑒𝑖𝑔ℎ𝑡
𝐻𝐸𝑇𝑃 = 𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑙𝑖𝑏𝑟𝑖𝑢𝑚 𝑠𝑡𝑎𝑔𝑒𝑠…………(9)
Berikut ini pada Gambar I.3 menunjukkan Packed Kolom dan struktur-
strukturnya.
Overhead vapor akan meninggalkan bagian atas kolom dan masuk ke condenser, vapor
yang menjadi liquid akan dikumpulkan di accumulator. Sebagian liquid dari accumulator
dikembalikan ke kolom sebagai reflux, sedangkan sebagian lainnya sebagai overhead product
atau distillate.
Bottom liquid keluar dari bagian bawah kolom dan dipanaskan ke reboiler. Sebagian liquid
menjadi vapor dan dikembalikan ke kolom, dan sebagian lainnya akan dikeluarkan sebagai
bottom product atau residue. Ini adalah konfigurasi kolom yang relative sederhana, pada
aplikasi yang lebih kompleks, sebagian vapor atau liquid ditarik dari beberapa titik di bagian
samping kolom (side stream) sebagai intermediate product dan/atau sebagai reflux (APV.,2014).
• Distilasi Batch
Distilasi batch adalah suatu proses yang pada umumnya terjadi di dalam alat produksi
skala kecil untuk memisahkan produk mudah menguap dari larutan cair. Campuran dimasukan
ke dalam tempat/bejana dan panas diberikan melalui pemanas (heater) atau melalui dinding
bejana agar liquid mencapai titik didihnya dan dapat mengevaporasi bagian dari batch tersebut.
Dalam metode operasi paling sederhana, uap diambil secara langsung dari bejana ke
kondensor, seperti tertera pada Gambar I.5. Uap meninggalkan bejana pada suatu waktu dalam
keadaan berkesetimbangan dengan cairan yang masih tertinggal di bejana, tetapi karena
kandungan komponen yang mudah menguap pada fase uap lebih besar, sehingga komposisi
cairan dan gas adalah tidak konstan.
• Relative Volatility
Pada suatu diagram kesetimbangan untuk suatu campuran biner A dan B, jarak terjauh
antara garis kesetimbangan dan garis 45° merupakan perbedaan yang lebih besar antara
komposisi uap yA dan komposisi cairan xA. Oleh sebab itu pemisahan mudah dilakukan. Suatu
bilangan ukuran pemisahan ini disebut relative volatility αAB. Hal ini didefinisikan sebagai
rasio antara konsentrasi pada A di dalam uap berlebih dan konsentrasi A dalam cairan yang
terbagi dari rasio konsentrasi pada B dalam uap berlebih dari konsentrasi B dalam cairan.
𝑌𝐴 ⁄𝑋𝐴 𝑌 ⁄𝑋
𝛼𝐴𝐵 = = (1−𝑌 𝐴)/(1−𝑋
𝐴
……………………(10)
𝑌𝐵 ⁄𝑋𝐴 𝐴 𝐴 )
Di mana αAB adalah relative volatility pada A terhadap B dalam sistem biner. Jika pada
sistem Hukum Roult’s, misalnya pada sistem Benzene-Toluene
𝑃𝐴 .𝑋𝐴 𝑃𝐵 .𝑋𝐵
𝑌𝐴 = 𝑌𝐵 = …………………………(11)
𝑃 𝑃
Di mana α = αAB. Karena nilai αB di atas 1,0 memungkinkan terjadinya pemisahan. Nilai
α boleh diganti sebagai perubahan konsentrasi, karena sistem biner mengikuti hukum Roult’s.,
relative volatility sering berubah terhadap konsentrasi yang besar dan tekanan total yang tetap.
• Persamaan FENSKE
Untuk operasi relative volatility yang relative konstan, maka jumlah tahap minimum (pada
refluks total) dapat dihitung dengan persamaan FENSKE sebagai berikut:
1 𝑋𝐴𝐷(1−𝑋𝐴𝑊)
𝑁 + 1 = log 𝛼𝛼𝑣𝑔 [log [𝑋𝐴𝑊(1−𝑋𝐴𝐷)]]………………(14)
Dimana α av = √𝛼𝑑 ∗ 𝛼𝑏
Ada tiga cara untuk menentukan komposisi distilasi batch rata-rata yang dipakai yaitu:
1. Cara Indeks Bias
Yaitu mencari harga komposisi distilat rata-rata yang dicari.
2. Cara Reyleigh
Dengan metode ini kita menggunakan persamaan:
𝐹 𝑋𝑓 𝑋𝐵
ln 𝐵 ∫𝑋𝑏 ………………………………(15)
𝑋𝐷−𝑋𝐵
3. Neraca Massa
Dengan membuat neraca massa total distilasi batch dan salah satu neraca komponen.
Neraca massa total:
𝐹 = 𝐷 + 𝐵………………………………….(17)
Neraca massa komponen:
𝑥𝐹 . 𝐹 = 𝑥𝐷 . 𝐷 + 𝑥𝐵 . 𝐵………………………(18)
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN
Bahan Percobaan:
1. Larutan hasil fermentasi pisang kepok
7. Membagi data densitas ethanol dengan air sehingga didapatkan hasil spesifik gravity
ethanol;
8. Membaca nilai %ethanol pada tabel astm.
Keterangan:
1. Pemanas listrik
2. Labu leher tiga
Dimensi Alat :
1. Kolom Distilasi
Tinggi kolom distilasi : 1,23 m
Diameter kolom distilasi : 0,029 m
Volume labu leher tiga : 2000 mL dengan D = 0,166 m
Jumlah plate :2
Tipe packing : Raschig Ring
BAB III
HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
III.2 Pembahasan
Tujuan dari percobaan Batch Packed Column Distillation adalah mengetahui apakah
peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium dapat melakukan operasi sesuai
dengan kapasitas yang diinginkan dan kondisi operasi yang diinginkan, mengetahui kapasitas
maksimum dari peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium dan faktor
penghambat percobaan, serta menghitung dan menentukan biaya maksimum operasi distilasi
per kg produk.
Langkah pertama yang dilakukan pada tahap fermentasi yaitu menyaring hasil
fermentasi agar tidak tercampur dengan kotoran dan menyiapkan alat distilasi. Kemudian
mengisi labu leher tiga dengan larutan fermentasi yang telah disaring. Selanjutnya
mengumpankan air pendingin ke kondensor dan mengukur rate aliran air pendingin. Kemudian
menyalakan pemanas pada peralatan distilasi dan memulai distilasi. Suhu pemanas diatur
dengan sebesar 78,3oC. Membiarkan proses distilasi berjalan sampai proses distilasi selesai.
Kemudian langkah kedua yang dilakukan yaitu menghitung % ethanol dengan metode
piknometri dengan cara menimbang piknometer kosong 25 ml dengan tutupnya dan mencatat
angka pembacaan pada timbangan. Lalu mengisi piknometer dengan ethanol hasil distilasi
sampai tanda batas kemudian menutupnya dan menimbang piknometer yang berisi ethanol
serta mencatat angka pembacaan pada timbangan. Kemudian dilanjutkan dengan menimbang
piknometer yang berisi air dan mencatat angka pembacaan pada timbangan. Lalu menghitung
nilai densitas ethanol dan air. Lalu membagi data densitas ethanol dengan air sehingga
didapatkan hasil spesifik gravity ethanol. Kemudian membaca nilai %ethanol pada tabel astm.
besar sehingga kadar glukosa yang dihasilkan juga semakin besar. Namun apabila konsentrasi
asam terlalu besar dapat menyebabkan hasil hidrolisa akan tetap berjalan dan hasil dari glukosa
akan rusak akibat dari konsentrasi asam yang tinggi.
Kadar optimum dari asam (HCl) yang digunakan pada hidrolisis ini yaitu sebesar 1 N
untuk menghasilkan kadar glukosa tertinggi pada hidrolisis kulit pisang kepok didapat kadar
alkohol maksimal 10,6 %.
Proses hidrolisis ini yang akan menghasilkan kadar glukosa akan mempengaruhi kadar
alkohol nanti setelah proses fermentasi. Nantinya kadar tersebut akan menentukan % dari kadar
alkohol yang dihasilkan (Artiati, 2012).
scale upnya yaitu 0,147885 meter dan tinggi kolom distilasi yang dibutuhkan adalah 6,2724
meter dengan penggunaan dari jenis packed adalah random packing dengan ukuran 1 inch dan
terdapat 3 plate.
BAB IV
KESIMPULAN
Dari percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium dapat melakukan operasi
sesuai dengan kapasitas yang diinginkan dan kondisi operasi yang diinginkan dengan
hasil etanol yang memiliki kadar 86,8%.
2. Kapasitas maksimum dari peralatan Batch Packed Distillation Column di laboratorium
adalah 500 liter dengan asumsi 24 jam kerja
3. Biaya maksimum operasi distilasi (meliputi penggunaan air pendingin dan listrik) per
kg produk ialah Rp 19.556,6799/kg etanol. Sedangkan energi total yang dibutuhkan
yaitu 986.649,2699 Kcal atau setara dengan 1.147,47 kWh.
DAFTAR PUSTAKA
NERACA MASSA
1. FERMENTASI
Konversi glukosa menjadi etanol
kadar etanol = 12% berat
kapasitas larutan = 500 liter 0,5 m3
densitas = 974,716 kg/m3
berat larutan = 487,358 kg
berat etanol = 58,48296 kg
b. C2H5OH
C2H5OH yang terbentuk
= 2 X C6H12O6 bereaksi
= 2 X 0,634580729
= 1,269161458 kmol X 46,08
= 58,48296 kg kg/kmol
APPENDIKS
c. CO2
CO2 yang terbentuk = 2X C6H12O6 bereaksi
= 2X 0,634580729
= 1,269161458 kmol
= mol X BM
= 1,269161458 X 44,0095 kg/kmol
= 55,8551612 kg
Menghitung jumlah NPK dan urea yang ditambahkan yaitu sebanyak 0,5%
(Soeprijanto, 2013)
NPK yang ditambahkan
0,50% x kadar glukosa = 0,50% X 136,1025
= 0,680512287 kg
2. PENYARINGAN
Fungsi : Untuk menyaring padatan dalam cairan yang terkandung dalam larutan
3. DISTILASI
Fungsi : Proses pemisahan etanol dengan air berdasar titik didihnya
a. C2H5OH
C2H5OH yang = 86,8% X Massa Produk
terbentuk = 86,8% X 67,37668203
= 58,48296 kg
APPENDIKS
b. H2O
H2O yang teruapkan = 13,20% X 67,37668
= 8,893722028 kg
Aliran 10
AIR SISA 12743,15213
TOTAL FEED TOTAL FEED
MASUK 12810,52881 KELUAR 12810,52881
4. KONDENSOR
Fungsi : Untuk kondensasi Ethanol
Air pendingin
Aliran <12>
Aliran <10>
C2H5OH KONDENSER Aliran <11> C2H5OH
Air pendingin
Aliran <13>
ALIRAN 12 Aliran 13
H2O 3000 H2O 3000
TOTAL FEED TOTAL FEED
3067,376682 3067,376682
MASUK KELUAR
APPENDIKS
NERACA ENERGI
Destilasi
Fungsi Proses pemisahan etanol dengan air berdasarkan titik didih
Condensor
Fungsi Untuk Kondensasi Etanol
Air pendingin
Aliran <16>
Aliran <14>
C2H5OH KONDENSOR Aliran <15> C2H5OH
Air pendingin
Aliran <17>
Neraca Panas Bahan Masuk
ΔH in (Cal) = m x Cp X ΔT
= (T-25)
= (100-25)
= 75
APPENDIKS
Problem statement
Fermentasi yang dihasilkan = 500 L dalam 24 jam kerja
1 jam = 20,83333 L
Untuk Vessel dengan coil diisi 70% dari volume totalnya
VL = 0,7 VT
VT = 500
0,7
VT = 714,2857 L
Diasumsikan: Ls = 1,5 D
VT = phi/4 D^2 Ls
714,2857 = 0,785 D^2 1,5 D
714,2857 = 1,1775 D^3
D = 8,465196 dm
= 0,84652 m
Ls = 1,269779 m
Jika mengacu pada praktikum yang telah dilakukan:
Dari 500 L larutan yang di distilasi didapatkan produk distilat = 12% dari VT
V= 60 L
Distilat sudah memenuhi soal yaitu 86,8 %
L1 = 500 L X1 = 12% L2 = 440
Distilat = 60 L XD = 88%
Bila ρ campuran untuk feed = 12% 0,7893 + 88% 1
= 0,974716
Maka massa feed = 500 x 0,974716
= 487,358 kg
massa distilat = 60 x ρ campuran
= 58,48296 kg
Massa di bottom (L2) = 487,358 - 58,48296
= 428,875 kg
BM ethanol = 46,07 kg/kgmol
BM air = 18 kg/kgmol
Untuk L1
Massa = 487,358 kg
Xa = 12%
Xb = 88%
BM campuran = 12% 46,07 + 88% 18
= 21,3684 kg/kgmol
Mol L1 = Massa/BM campuran
= 487,358 kg / 21,3684 kg/kgmol
= 22,80742 kgmol
Untuk D
Massa = 58,48296 kg
XD = 88%
XDb = 12%
BM campuran = 88% 46,07 + 12% 18
= 42,7016 kg/kgmol
Mol D = 58,48296 kg / 42,7016 kg/kgmol
= 1,369573 kgmol
APPENDIKS
Massa L2
Massa = 428,875 kg
X2 = 0,016364
X2-b = 1 - 0,016364
= 0,983636
BM campuran = 0,016364 46,07 + 0,983636 18
= 18,45933 kg/kgmol
Mol L2 = 428,875 kg / 18,45933 kg/kgmol
= 23,23351 kgmol
Pada distilat
α = yA/xA
yB/xB
Dari data = XD = 0,88
XDb = 0,12
Dari data kesetimbangan = yD = 0,822
yDb = 0,178
αd = yD/xD
yDb/xDb
= 0,822 / 0,88
0,178 / 0,12
= 0,934091
1,483333
= 0,629724
Pada Bottom
X2 = 0,016364
X2b = 0,983636
Dari data keseimbangan = y2 = 0,527
y2b = 0,473
αb = 0,527 / 0,016364
0,473 / 0,983636
= 32,20556
0,480869
= 66,97369
α av = 𝑎𝑑 . 𝑎𝑏
= 0,6929724 . 36,37542
= 6,494225
N = log (xD/xDb) (x2b/x2)
log α av
= log 7,333333 60,11111 -1
0,812527
= 2,25436
= 3 plate
APPENDIKS