Cegukan dalam Islam dan Kecemasan Pasien
Cegukan dalam Islam dan Kecemasan Pasien
Proposal Penelitian
Oleh:
SRI HARTUTI
NIM. 1912142010230
SRI HARTUTI
NIM. 1912142010230
i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
ii
PERSETUJUAN BIMBINGAN PROPOSAL
Pembimbing I Pembimbing II
Mengetahui,
Ka. Prodi S1 Keperawatan
iii
HALAMAN PENGESAHAN
NIM : 1912142010230
Bukittinggi.
DEWAN PENGUJI
Ditetapkan di : Bukittinggi
Tanggal : Juni 2021
iv
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur peneliti ucapkan kepada pemilik alam semesta Allah
SAW yang telah menyampaikan petunjuk Allah SWT untuk keselamatan umat
Penelitian proposal ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat
Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari
masa perkuliahan sampai pada penyusunan proposal ini, sangatlah sulit bagi saya
untuk menyelesaikan proposal ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terimakasih
kepada:
1. Bapak Ns. Junaidi [Link], MNS selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
2. Ibu Ns. Sri Hayulita, [Link], [Link] selaku Kepala Program Studi Ilmu
Bukittinggi
3. Ibu Ns. Yossi Fitrina, [Link], [Link] selaku Pembimbing I yang telah
proposal ini.
4. Ibu Ns. Aulia Putri, [Link], [Link]. selaku Pembimbing II yang telah
v
penyusunan proposal ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen beserta staf pengajar di program Studi Ilmu
Bukittinggi yang telah memberikan masukan, kritik dan saran yang sangat
semua, khususnya dibidang kesehatan. Atas segala bantuan yang telah diberikan
peneliti mendo’akan budi baik Bapak/Ibu akan dibalas oleh Allah SWT.
Sri Hartuti
vi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
PERNYATAAN ORISINALITAS................................................................ ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING PROPOSAL.......................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iv
KATA PENGANTAR.................................................................................... v
DAFTAR ISI................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL........................................................................................... ix
DAFTAR SKEMA.......................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A. Latar Belakang................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................ 6
C. Tujuan Penelitian............................................................................. 6
D. Manfaat Penelitian........................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 8
A. Gagal Ginjal..................................................................................... 8
B. Haemodialisa.................................................................................... 16
C. Kecemasan............................................................................................... 19
D. Relaksasi zikir.......................................................................................... 22
E. Kerangka Teori................................................................................... 25
BAB III KERANGKA KONSEP.................................................................. 26
A. Kerangka Konsep............................................................................. 26
B. Hipotesis Penelitian.......................................................................... 26
BAB IV METODE PENELITIAN................................................................ 27
A. Desain Penelitian.............................................................................. 27
B. Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................... 27
C. Populasi dan Sampel ....................................................................... 28
D. Kriteria Inklusi dan Eklusi............................................................... 29
E. Definisi Operasional......................................................................... 29
F. Instrumen Penelitian......................................................................... 30
vii
G. Etika Penelitian................................................................................ 32
H. Metode Pengumpulan Data.............................................................. 32
I. Analisa Data..................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
viii
DAFTAR TABEL
ix
DAFTAR SKEMA
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 6 : Leaflet
xi
DAFTAR GAMBAR
xii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
tubuh yang terjadi setiap waktu, oleh karena itu untuk mencegah komplikasi yang
lebih banyak lagi mereka yang mengalami gangguan pada sistem ginjal akan
dan cairan dialisat dan dilakukan dalam jangka waktu yang cukup panjang karena
karakteristik gagal ginjal yang bersifat menetap dan tidak dapat disembuhkan
(Widyastuti, 2014).
Disease Control and Preventation prevalensi GGK di Amerika Serikat pada tahun
2012 lebih dari 10% atau lebih dari 20 juta orang (Alfiannur, Nauli & Dewi,
2015). Angka kejadian gagal ginjal di dunia secara global lebih dari 500 juta
orang dan yang harus menjalani haemodialis sekitar 1,5 juta orang (Yuliana,
2015). Diperkirakan jumlah penderita PGK di Indonesia sekitar 70.000 orang dan
yang menjalani haemodialisis 10.000 orang (Tandi, Mongan, & Manoppo, 2014).
Gagal Ginjal Kronis menjadi masalah besar dunia karena sulit untuk
end-stage renal disease ) pada tahun 2011 sebanyak 2.786.000 orang, tahun 2012
sebanyak 3.018.860 orang dan pada tahun 2013 sebanyak 3.200.000 orang. Dari
1
data tersebut disimpulkan adanya peningkatan angka kejadian pasien GGK tiap
pada tahun 2013 (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Tahun 2018, proporsi
penderita penyakit ginjal kronis yang pernah atau sedang menjalani haemodialisis
Sumatera Barat prevalensi GGK yaitu (0,2 %) dari pasien gagal ginjal kronik di
tidur dan mesin untuk haemodialisa. Saat ini ruangan Haemodialisa sudah
haemodialisa.
terapi dialisis yang digunakan untuk mengeluarkan cairan atau limbah dari dalam
tubuh saat ginjal sudah tidak mampu melaksanakan fungsinya (Muttaqin, & Sari,
2011). Haemodialisis dapat memperpanjang usia, namun tindakan ini tidak akan
2
digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien dengan
penyakit akut yang membutuhkan dialisis waktu singkat. Pasien gagal ginjal
kronik harus menjalani terapi dialysis sepanjang hidupnya, biasanya tiga kali
seminggu selama paling sedikit 3 atau 4 jam per 1 kali terapi, atau sampai
mendapat ginjal baru melalui transplantasi ginjal (Muttaqin, & Sari, 2011).
depresi akibat penyakit kronis serta ketakutan terhadap kematian (Brunner, &
Suddarth, 2014).
Menurut Kusumawati & Hartono (2011) menyebutkan cemas adalah emosi dan
Cemas merupakan suatu sikap alamiah yang dialami oleh setiap manusia
cemas itu menjadi berkepanjangan maka perasaan itu berubah menjadi gangguan
hasil bahwa dari 34 pasien, 16 orang (47,1%) tidak cemas, 11 orang (32,4%)
mengalami cemas ringan, 6 orang (17,6%) cemas sedang, dan 1 orang (2,95%)
3
mengalami cemas berat. Hasil penelitian yang dilakukan Luana, et al (2012)
Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Tanvir (2013) dengan hasil 42,69%
Stressor yang dialami PGK cenderung menetap, oleh karena itu diperlukan
suatu strategi yang efektif, efisien dan mudah dilakukan untuk mampu
yang ada. Salah satu strategi efektif untuk mengatasi kecemasan yaitu dengan
kepada agama serta kepada Tuhan dapat meningkatkan respon relaksasi lebih kuat
agama Islam yaitu dengan teknik mengingat Allah atau berdzikir. Beberapa
dzikir asmaul husna terhadap tingkat stres pasien yang menjalani haemodialisa.
didapatkan nilai 19,06 dan nilai sesudah diberikan intervensi 14,19. Didapatkan
nilai p value=0,001. Ada pengaruh relaksasi dzikir asmaul husna terhadap tingkat
stres pada pasien yang menjalani hemodialisa dan diharapkan menjadi salah satu
4
pilihan intervensi non farmakologi untuk mengurangi tingkat stres serta
Relaksasi Dzikir terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang
cemas masih ada dan kadang membuat merasa tidak nyaman ketika melakukan
5
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
D. Manfaat Penelitian
6
2. Bagi STIKES Yarsi Sumbar
Diharapkan hasil penelitian ini akan menjadi tolak ukur untuk penelitian
yang lain, yang berhubungan dengan kecemasan yang dialami oleh pasien
haemodialisa.
7
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
1. Anatomi Ginjal
Saluran kemih terdiri dari ginjal yang terus menerus menghasilkan urin,
dan berbagai saluran reservoir yang dibutuhkan untuk membawa urin keluar
kedua sisi columna vertebralis (Price dan Wilson, 2006). Kedua ginjal terletak
retroperitoneal pada dinding abdomen, masing– masing di sisi kanan dan sisi
kiri columna vertebralis setinggi vertebra T12 sampai vertebra L3. Ginjal
kanan terletak sedikit lebih rendah daripada ginjal kiri karena besarnya lobus
hepatis dekstra. Masing– masing ginjal memiliki facies anterior dan facies
ekstremitas inferior (Moore dan Agur, 2002). Pada orang dewasa, panjang
ginjal adalah sekitar 12 cm sampai 13 cm, lebarnya 6 cm, tebalnya 2,5 cm dan
beratnya sekitar 150 g. Ukurannya tidak berbeda menurut bentuk dan ukuran
tubuh. Perbedaan panjang dari kutub ke kutub kedua ginjal yang lebih dari 1,5
besar manifestasi penyakit ginjal adalah perubahan struktur dari ginjal tersebut
(Price dan Wilson, 2006). Ginjal dibungkus oleh jaringan fibrosa tipis dan
mengkilat yang disebut kapsula fibrosa ginjal dan di luar kapsul ini terdapat
jaringan lemak perineal. Di sebelah kranial ginjal terdapat kelenjar anak ginjal
8
atau glandula adrenal/suprarenal yang berwarna kuning. Kelenjar adrenal
bersama ginjal dan jaringan lemak perineal dibungkus oleh fascia gerota. Di
luar fascia gerota terdapat jaringan lemak retroperitoneal atau disebut jaringan
punggung yang tebal serta costae ke XI dan XII, sedangkan di bagian anterior
Secara anatomis ginjal terbagi menjadi 2 bagian korteks dan medula ginjal
sedangkan di dalam medula banyak terdapat duktuli ginjal. Nefron adalah unit
fungsional terkecil dari ginjal yang terdiri atas tubulus kontortus proksimal,
tubulus kontortus distal, dan tubulus koligentes (Purnomo, 2003). Setiap ginjal
memiliki sisi medial cekung, yaitu hilus tempat masuknya syaraf, masuk dan
keluarnya pembuluh darah dan pembuluh limfe, serta keluarnya ureter dan
mendapatkan aliran darah dari arteri renalis yang merupakan cabang langsung
dari aorta abdominalis, sedangkan darah vena dialirkan melalui vena renalis
yang bermuara ke dalam vena kava inferior. Sistem arteri ginjal adalah end
cabang dari arteri lain, sehingga jika terdapat kerusakan salah satu cabang
(Purnomo, 2003). Arteri renalis memasuki ginjal melalui hilum dan kemudian
9
arkuarta, arteri interlobularis, dan arteriol aferen yang menuju ke kapiler
glomerulus tempat sejumlah besar cairan dan zat terlarut difiltrasi untuk
untuk membentuk arteriol eferen, yang menuju jaringan kapiler kedua, yaitu
meninggalkan ginjal di samping arteri renalis dan ureter (Guyton dan Hall,
2008).
2. Patofisiologi
Reaksi ginjal terhadap rangsangan dari luar serupa dengan organ tubuh
ginjal yang berfungsi sebagai alat penyaring adalah glomerulus yang bekerja
keadaan normal glomerulus tidak dapat dilalui oleh protein yang bermolekul
besar, tetapi pada keadaan patologis protein tersebut dapat lolos (Junquiera
menambahkan zat-zat kimiawi seperti yodium, amonia dan hippuric acid. Pada
abnormal melalui ruang Bowman. Hal ini menyebabkan sel epitel tubulus
memiliki fungsi utama yaitu menyerap kembali natrium, albumin, glukosa dan
10
air, dan juga bermanfaat dalam penggunaan kembali bikarbonat. Epitelium
atau rusak akibat toksin, karena kerusakan yang terjadi akibat laju
dan ploriferasi dari sel membran serta infiltrasi leukosit. Rusaknya glomerulus
protein dan makromolekul lain dalam jumlah yang besar pada filtrat
glomerulus. Kerusakan pada glomerulus juga dapat berupa atrofi dan fibrosis
Kerusakan yang terjadi pada tubulus, disebabkan karena dua pertiga dari
11
bahan berbahaya tersebut. Bahan-bahan asing yang masuk ke dalam tubuh,
Gagal ginjal adalah suatu keadaan dimana ginjal tidak mampu mengangkut
endokrin, cairan, elektroit serta asam basa. Gagal ginjal merupakan jalur akhir
yang umum dari berbagai penyakit traktus urinarius dan ginjal (Brunner &
Suddarth 2001)
Gagal ginjal kronik merupakan tahap yang paling berat dari gagal ginjal
karena faal ginjal yang masih tersisa sudah sangat sedikit. Pada keadaan ini
terjadi kerusakan yang tidak dapat pulih pada sebagian besar nefron, sehingga
laju filtrasi glomerolus (LFG) menurun sampai < 5 ml/menit. Jika tidak di
beri pertolongan dan penatalaksanaan aktif, maka akan sangat dekat dengan
12
4. Etiologi
toksik. Selain itu lingkungan dan agen yang berbahaya sangat mempengaruhi
a. Gaya hidup santai dan kurang bergerak. gaya hidup tidak banyak
bergerak ditambah dengan pola makan buruk yang tinggi lemak dan
akan menurun.
b. Infeksi dan peradangan, aliran darah yang buruk akibat dehidrasi dapat
c. Batu pada saluran kemih dan ginjal, selain itu dehidrasi akibat kurang
13
dan juga ginjal. Batu ginjal dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal
kronis.
5. Manifestasi klinik
Karena pada GGK setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia, maka
pasien akan memperlihatkan sejumlah tanda dan gejala (Brunner & Suddarth
2001)
b. Gejala dermatologi, dimana gejala yang sering terjadi adalah rasa gatal
Sedangkan menurut Alam (2008), gejala yang muncul pada gagal ginjal
kronik adalah :
14
e. Nafsu makan turun, mual, muntah.
f. Sulit tidur.
g. Bengkak seputar mata pada waktu bangun pagi hari, atau mata merah
6. Pemeriksaan Penunjang
Gejala penyakit gagal ginjal baik akut, kronik sukar untuk dideteksi, karena
fungsi ginjal berhubungan dengan organ dalam tubuh lainnya, sehingga penyakit
dialami pasien. Menurut Alam (2008) 4 macam pemeriksaan untuk gagal ginjal :
riwayat hipertensi.
yang menurun pada pasien gagal ginjal, dan kadar ureum kreatinin yang
d. USG ginjal.
7. Penatalaksanaan
15
Penatalaksanaan ditujukan untuk mempertahankan fungsi ginjal dan
kerusakan ginjal lebih lanjut dan pengelolaan berbagai masalah yang terdapat
B. Haemodialisa
1. Definisi
yang digunakan pada pasien dengan penyakit gagal ginjal kronik yang
mesin haemodialisa
sisa nitrogen yang terdiri atas ureum, kreatinin, serta asam urat ; dan
elektrolit seperti kalium, fosfor, dan lain-lain yang berlebihan pada klien
dilakukan diluar tubuh. Pada prosedur ini darah dikeluarkan dari tubuh,
16
melalui sebuah kateter dan masuk ke dalam sebuah alat besar (mesin)
untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah dan
2. Tujuan
adalah :
3. Prinsip-prinsip Haemodialisa
17
a. Difusi, toksin dan zat limbah didalam darah dikeluarkan dengan
4. Prosedur Haemodialisa
akses untuk keluar masuknya darah dari tubuh. Akses tersebut dapat
balik di leher maupun menetap biasanya di buat dengan akses fistula yaitu
nadi pada lengan bawah yang dikenal dengan cimino (Alam, 2008).
18
Gambar [Link] Haemodialisa
C. Kecemasan
1. Definisi Kecemasan
Kecemasan adalah keadaan emosi tanpa objek tertentu. Hal ini dipicu
oleh hal yang tidak diketahui dan menyertai semua pengalaman baru
(Stuart, 2016).
19
2. Tingkat Kecemasan
lapang persepsi.
a. Respon Adaptif
20
digunakan seseorang untuk mengatur kecemasan antara lain dengan
teknik relaksasi.
b. Respon Maladaptif
serta peran.
kecemasan seseorang apakah ringan, sedang, berat, dan sangat berat yaitu
Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Skala ini dibuat oleh Max
21
belas pertanyaan yang terdiri dari tiga belas kategori pertanyaan tentang
D. Relaksasi Dzikir
tubuh menjadi rileks melalui sebuah proses yang secara progresif akan
2. Efek Relaksasi
22
3. Relaksasi Dzikir
dengan ritme yang teratur disertai sikap pasrah kepada objek transendensi
yaitu Tuhan. Frase yang digunakan dapat berupa kalimat Allah, atau kata
terhadap rangsang baik dari luar maupun dari dalam. Sikap pasif dalam
23
4. Standar Operasional Prosedur Relaksasi Dzikir
24
PENERAPAN TERAPI MODALITAS BERUPA
PROSEDUR 09/06/2021
OPERASIONAL
PENGERTIAN Terapi yang menggunakan media dzikir mengingat Allah
Indri W, 2014)
TUJUAN 1. Klien mampu mengenali terapi dzikir yang dilakukan.
2. Klien mampu memberi respon terhadap terapi yang
diberikan.
3. Klien mampu menceritakan perasaannya
setelah mendengarkan dzikir
4. Pada fase awal atau perkenalan pasien mau untuk
berkomunikasi dengan peneliti
5. Pada fase kerja pasien merasa nyaman saat
melakukan dzikir
6. Pada fase terminasi pasien menemukan ketenangan
setelah berdzikir
INDIKASI Pasien yang membutuhkan terapi spiritual (ex : pasien
Haemodalisa)
PERSIAPAN 1. Menyiapkan informed consent
3. Tutup mata
Tingkat Kecemasan
Merasakan tekanan akibat penyakit yang dialami, tidak tenang, gelisah dan kurangnyakesejahteraan psikologis
Relaksasi Dzikir
1. Agama dan nilai spritualitas memberikan peran penting dalam strategi yang signifikan
dalam menurunkan stres individu yang mengalami gagal ginjal (Yodchai, Dunning, Savage
dan Hutchinson, 2016).
2. Individu yang dapat melakukan koping agama dengan baik tingkat kesehatan psikologis
dan kualitas hidup lebih baik pada penderita gagal ginjal tahap akhir. Koping agama yang
baik akan menjadikan individu lebih dapat mengontrol tingkat stresnya sehingga dapat
menjalani kehidupannya sehari-hari dengan lebih baik (Ramirez dkk, 2012).
3. Melakukan dzikir dengan bacaan “Subhanallah, Walhamdulillah, Allahuakbar, La hawla
wala quata Ila billah”
26
Kecemasan berkurang
Gambar 2.1
Kerangka Teori
Sumber: (Yodchai, Dunning, Savage dan Hutchinson, 2016),
(Ramirez, dkk. 2012), (Potter &Perry, 2012)
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (Hidayat, 2011). Menurut
dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Terdapat 2
Kecemasan pasien
Relaksasi dzikir
Haemodialisa
B. Hipotesa Penelitian
27
H0 : Tidak Ada Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan
Sawahlunto
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
dengan rancangan pretest posttest design one group, yaitu penelitian semu
Keterangan :
X : Perlakuan Intervensi
28
Penelitian akan dilakukan di ruangan Haemodialisa RSUD Sawahlunto
1. Populasi
40 orang.
2. Sampel
setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih untuk menjadi sampel.
penentuan sampel yang dipilih oleh peneliti sesuai dengan keinginan atau
29
n= 1,96. 0,5 (1-0,5) 40
0,052 (40-1) + 1,96 (1-0,5)
n= 0,98. 0.5. 40
0,0025.39 + 0,98
n= 19,6
1,0775
n=18,19
Keterangan :
derajat kepercayaan 95% = 0,05, maka Z1- /2 = 1,96 atau Z21- /2 = 1,962
orang
10% sampel cadangan. Sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 20
orang
1. Kriteria inklusi :
c. Beragama Islam
2. Kriteria eksklusi
30
a. Pasien mengalami komplikasi yang menyebabkan tidak bisa melakukan
E. Defenisi Operasional
F. Instrumen Penelitian
ini adalah berupa lembar observasi untuk mengetahui pengaruh relaksasi dzikir
Sawahlunto.
31
Dalam penelitian ini, untuk menentukan tingkat kecemasan pasien,
menggunakan skala HARS (hamilton rating scale for anxiety). Skala HARS
merupakan salah satu alat ukur untuk menilai tingkat kecemasan, yang
setiap item yang diobservasi diberi 4 tingkat skor, yaitu antara 1 sampai
dengan 4, dengan kategori sebagai berikut: 1 : Satu dari gejala yang ada 2 :
Sedang/ separuh dari gejala yang ada 3 : Berat lebih dari separuh gejala yang
ada 4 : Sangat berat semua gejala ada Penentuan derajat kecemasan dilakukan
dengan cara menunjukkan nilai skor dan 14 item sebagai berikut Nursalam
(2013):
No Skor Penilaian
1 14 Tidak ada kecemasan
2 14 – 20 Kecemasan ringan
3 21 – 27 Kecemasan sedang
4 28 – 41 Kecemasan berat
5 42 - 56 Kecemasan berat sekali
G. Etika Penelitian
32
Anonimity merupakan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian
dengan cara tidak perlu mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data.
3. Kerahasiaan (Confidentiality)
peneliti, hanya sekelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil
penelitian.
inclusiveness)
Penelitian ini dilakukan secara jujur, tepat dan hati-hati. Peneliti juga
kebutuhan subjek.
melakukan penelitian.
1. Data Primer
Data primer yang di ambil adalah data mengenai rata – rata tingkat
2. Data sekunder
33
I. Teknik Analisa Data
a. Analisa Univariat
b. Analisa Bivariat
karena < 50. Jika hasil uji normalitas diperoleh p < 0,05 artinya data
wilcoxon. Sebaliknya jika hasil uji normalitas diperoleh p > 0,05 artinya
antara pretest dan postest, jika data terdistribusi normal digunakan uji t-
independen dan jika data tidak terdistribusi normal digunakan uji mann
dan Hipotesa alternatif ditolak jika nilai probabilitas > 0,05 (Steen,
2015).
34
35
Lampiran 1
CURICULUM VITAE
Agama : Islam
Ayah : Sutoto
Ibu : Yatimah
Anak Ke : 2 (dua)
Riwayat Pendidikan
NIM : 1912142010230
NIM : 1912142010230
Lampiran 3
SRI HARTUTI
Nim. 1912142010230
Lampiran 4
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Sawahlunto
.............................
Lampiran 5
LEMBAR OBSERVASI
A. HASIL OBSERVASI
Nama Responden :
Tanggal Pemeriksaan :
No Pertanyaan 0 1 2 3 4
1 Perasaan Cemas
- Cemas
- Firasat Buruk
- Takut Akan Pikiran Sendiri
- Mudah Tersinggung
2 Ketegangan
- Merasa Tegang
- Lesu
- Tak Bisa Istirahat Tenang
- Mudah Terkejut
- Mudah Menangis
- Gemetar
- Gelisah
3 Ketakutan
- Pada Gelap
- Pada Orang Asing
- Ditinggal Sendiri
- Pada Binatang Besar
- Pada Keramaian Lalu Lintas
- Pada Kerumunan Orang Banyak
4 Gangguan Tidur
- Sukar Masuk Tidur
- Terbangun Malam Hari
- Tidak Nyenyak
- Bangun dengan Lesu
- Banyak Mimpi-Mimpi
- Mimpi Buruk
- Mimpi Menakutkan
5 Gangguan Kecerdasan
- Sukar Konsentrasi
- Daya Ingat Buruk
6 Perasaan Depresi
- Hilangnya Minat
- Berkurangnya Kesenangan Pada Hobi
- Sedih
- Bangun Dini Hari
- Perasaan Berubah-Ubah Sepanjang Hari
7 Gejala Otot
- Sakit dan Nyeri di Otot-Otot
- Kaku
- Kedutan Otot
- Gigi Gemerutuk
- Suara Tidak Stabil
8 Gejala Syaraf
- Tinitus (Telinga berdenging)
- Penglihatan Kabur
- Muka Merah atau Pucat
- Merasa Lemah
- Perasaan ditusuk-Tusuk
9 Gejala Jantung dan Pembuluh Darah
- Nadi cepat
- Berdebar
- Nyeri di Dada
- Denyut Nadi Mengeras
- Perasaan Lesu/Lemas Seperti Mau Pingsan
- Detak Jantung Menghilang
(Berhenti Sekejap)
10 Gejala Pernafasan
- Rasa Tertekan atau Sempit Di Dada
- Perasaan Tercekik
- Sering Menarik Napas
- Napas Pendek/Sesak
11 Gejala Pencernaan
- Sulit Menelan
- Perut Melilit
- Gangguan Pencernaan
- Nyeri Sebelum dan Sesudah Makan
- Perasaan Terbakar di Perut
- Rasa Penuh atau Kembung
- Mual
- Muntah
- Buang Air Besar Lembek
- Kehilangan Berat Badan
- Sukar Buang Air Besar (Konstipasi)
12 Gejala Perkemihan
- Sering Buang Air Kecil
- Tidak Dapat Menahan Air Seni
- Tidak ada menstruasi
- HAID
- Menjadi Dingin (Frigid)
- Ejakulasi Dini
- Ereksi Hilang
- Impotensi
13 Gejala Otonom
- Mulut Kering
- Muka Merah
- Mudah Berkeringat
- Pusing, Sakit Kepala
- Bulu-Bulu Berdiri
14 Tingkah Laku Pada Wawancara
- Gelisah
- Tidak Tenang
- Jari Gemetar
- Kerut Kening
- Muka Tegang
- Tonus Otot Meningkat
- Napas Pendek dan Cepat
- Muka Merah
Total skor :