0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan58 halaman

Cegukan dalam Islam dan Kecemasan Pasien

Proposal ini membahas pengaruh relaksasi dzikir terhadap tingkat kecemasan pasien haemodialisa. Relaksasi dzikir diharapkan dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien yang menjalani perawatan haemodialisa.

Diunggah oleh

Deric
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan58 halaman

Cegukan dalam Islam dan Kecemasan Pasien

Proposal ini membahas pengaruh relaksasi dzikir terhadap tingkat kecemasan pasien haemodialisa. Relaksasi dzikir diharapkan dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien yang menjalani perawatan haemodialisa.

Diunggah oleh

Deric
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH RELAKSASI DZIKIR TERHADAP TINGKAT

KECEMASAN PASIEN YANG MENJALANI


HAEMODIALISA DI RSUD SAWAHLUNTO
TAHUN 2021

Proposal Penelitian

Oleh:
SRI HARTUTI
NIM. 1912142010230

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES YARSI SUMBAR
2021
PROPOSAL

PENGARUH RELAKSASI DZIKIR TERHADAP TINGKAT


KECEMASAN PASIEN YANG MENJALANI
HAEMODIALISA DI RSUD SAWAHLUNTO
TAHUN 2021

Bidang Ilmu Keperawatan Medikal Bedah

Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan ([Link])


Pada Program Studi S1 Keperawatan
STIKes Yarsi Sumbar Bukittinggi

SRI HARTUTI
NIM. 1912142010230

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKes YARSI SUMBAR
BUKITTINGGI
2021

i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Proposal ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya
nyatakan benar.

Nama : SRI HARTUTI


Nim : 1912142010230
Tanda Tangan :
Tanggal :

ii
PERSETUJUAN BIMBINGAN PROPOSAL

Proposal ini telah disetujui


Tanggal : Juni 2021

Pembimbing I Pembimbing II

(Ns. Yossi Fitrina ,[Link],[Link]) (Ns. Aulia Putri, [Link],[Link].)

Mengetahui,
Ka. Prodi S1 Keperawatan

(Ns. Sri Hayulita, [Link], [Link])

iii
HALAMAN PENGESAHAN

Proposal ini diajukan oleh:

Nama : Sri Hartuti

NIM : 1912142010230

Program Studi : S1 Keperawatan

Judul : Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan

Pasien Yang Menjalani Haemodialisa Di RSUD

Sawahlunto Tahun 2021

Telah berhasil dipertahankan dihadapan dewan penguji dan diterima

sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar sarjana

keperawatan pada program studi ilmu keperawatan, STIKes Yarsi Sumbar

Bukittinggi.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing I : Ns. Yossi Fitrina, [Link], [Link] ( )

Pembimbing II : Ns. Aulia Putri, [Link], [Link]. ( )

Penguji I : Ns. Junaidi S. Rustam, S. Kep. MNS ( )

Penguji II : Ns. Liza Merianti, [Link], [Link] ( )

Ditetapkan di : Bukittinggi
Tanggal : Juni 2021

iv
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur peneliti ucapkan kepada pemilik alam semesta Allah

SWT atas berkat dan karunia-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan

proposal penelitian yang berjudul “Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat

Kecemasan Pasien Yang Menjalani Haemodialisa Di RSUD Sawahlunto

Tahun 2021”. Shalawat beriringan salam diberikan kepada Nabi Muhammad

SAW yang telah menyampaikan petunjuk Allah SWT untuk keselamatan umat

didunia dan diakhirat.

Penelitian proposal ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat

untuk mencapai Gelar Sarjana Keperawatan STIKes Yarsi Sumbar Bukittinggi.

Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari

masa perkuliahan sampai pada penyusunan proposal ini, sangatlah sulit bagi saya

untuk menyelesaikan proposal ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terimakasih

kepada:

1. Bapak Ns. Junaidi [Link], MNS selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Yarsi Sumbar Bukittinggi

2. Ibu Ns. Sri Hayulita, [Link], [Link] selaku Kepala Program Studi Ilmu

Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Sumbar

Bukittinggi

3. Ibu Ns. Yossi Fitrina, [Link], [Link] selaku Pembimbing I yang telah

menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk dalam penyusunan

proposal ini.

4. Ibu Ns. Aulia Putri, [Link], [Link]. selaku Pembimbing II yang telah

menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam

v
penyusunan proposal ini.

5. Bapak dan Ibu Dosen beserta staf pengajar di program Studi Ilmu

Kesehatan Yarsi Sumbar Bukittinggi yang telah memberikan ilmu

pengetahuan dan bimbingan serta nasehat selama menjalani pendidikan

6. Teman-teman Mahasiswa prodi S1 Keperawatan STIKes Yarsi Sumbar

Bukittinggi yang telah memberikan masukan, kritik dan saran yang sangat

berguna dalam menyelesaikan proposal ini.

Akhirnya peneliti mengharapkan agar proposal ini bermanfaat bagi kita

semua, khususnya dibidang kesehatan. Atas segala bantuan yang telah diberikan

peneliti mendo’akan budi baik Bapak/Ibu akan dibalas oleh Allah SWT.

Amin Ya Rabbal Alamin

Bukittinggi, Juni 2021

Sri Hartuti

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
PERNYATAAN ORISINALITAS................................................................ ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING PROPOSAL.......................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iv
KATA PENGANTAR.................................................................................... v
DAFTAR ISI................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL........................................................................................... ix
DAFTAR SKEMA.......................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A. Latar Belakang................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................ 6
C. Tujuan Penelitian............................................................................. 6
D. Manfaat Penelitian........................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 8
A. Gagal Ginjal..................................................................................... 8
B. Haemodialisa.................................................................................... 16
C. Kecemasan............................................................................................... 19
D. Relaksasi zikir.......................................................................................... 22
E. Kerangka Teori................................................................................... 25
BAB III KERANGKA KONSEP.................................................................. 26
A. Kerangka Konsep............................................................................. 26
B. Hipotesis Penelitian.......................................................................... 26
BAB IV METODE PENELITIAN................................................................ 27
A. Desain Penelitian.............................................................................. 27
B. Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................... 27
C. Populasi dan Sampel ....................................................................... 28
D. Kriteria Inklusi dan Eklusi............................................................... 29
E. Definisi Operasional......................................................................... 29
F. Instrumen Penelitian......................................................................... 30

vii
G. Etika Penelitian................................................................................ 32
H. Metode Pengumpulan Data.............................................................. 32
I. Analisa Data..................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Standar Operasional Prosedur Relaksasi Dzikir

ix
DAFTAR SKEMA

Gambar [Link] Teori..................................................................................26


Gambar [Link] Konsep..............................................................................27

x
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Curiculum vitae

Lampiran 2 : Lembar Konsul Proposal

Lampiran 3 : Surat permohonan menjadi responden

Lampiran 4 : Lembar persetujuan menjadi responden

Lampiran 5 : Lembar Observasi

Lampiran 6 : Leaflet

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar [Link] Haemodialisa

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ginjal memiliki fungsi utama sebagai pembuangan sisa zat metabolisme

tubuh yang terjadi setiap waktu, oleh karena itu untuk mencegah komplikasi yang

lebih banyak lagi mereka yang mengalami gangguan pada sistem ginjal akan

melakukan terapi pengganti untuk dapat mempertahankan hidup dengan

haemodialisa (HD). Terapi haemodialisa adalah suatu terapi pengganti fungsi

ginjal dalam mengeluarkan sisa – sisa metabolisme dari peredaran darah

menggunakan teknologi melalui membran semi permeabel sebagai pemisah darah

dan cairan dialisat dan dilakukan dalam jangka waktu yang cukup panjang karena

karakteristik gagal ginjal yang bersifat menetap dan tidak dapat disembuhkan

(Widyastuti, 2014).

Penderita GGK terus meningkat setiap tahunnya, berdasarkan Center For

Disease Control and Preventation prevalensi GGK di Amerika Serikat pada tahun

2012 lebih dari 10% atau lebih dari 20 juta orang (Alfiannur, Nauli & Dewi,

2015). Angka kejadian gagal ginjal di dunia secara global lebih dari 500 juta

orang dan yang harus menjalani haemodialis sekitar 1,5 juta orang (Yuliana,

2015). Diperkirakan jumlah penderita PGK di Indonesia sekitar 70.000 orang dan

yang menjalani haemodialisis 10.000 orang (Tandi, Mongan, & Manoppo, 2014).

Gagal Ginjal Kronis menjadi masalah besar dunia karena sulit untuk

disembuhkan. Didunia prevalensi Gagal Ginjal Kronis menurut ESRD patiens (

end-stage renal disease ) pada tahun 2011 sebanyak 2.786.000 orang, tahun 2012

sebanyak 3.018.860 orang dan pada tahun 2013 sebanyak 3.200.000 orang. Dari

1
data tersebut disimpulkan adanya peningkatan angka kejadian pasien GGK tiap

tahunnya sebesar 6% (Fresenius Medical Care AG&Co, 2013).

Situasi penyakit ginjal kronis di Indonesia mencapai 0,2% (499.800) orang

pada tahun 2013 (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Tahun 2018, proporsi

penderita penyakit ginjal kronis yang pernah atau sedang menjalani haemodialisis

meningkat mencapai 19,3% (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Di provinsi

Sumatera Barat prevalensi GGK yaitu (0,2 %) dari pasien gagal ginjal kronik di

Indonesia (Infodatin, 2017). Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa

perkembangan penyakit GGK terus meningkat seiring perkembangan waktu. Pada

tahun 2020 berdasarkan data kunjungan dan tindakan Haemodialisa di RSUD

Sawahlunto bulan Desember 2020 tercatat jumlah pasien 38 orang. Ruangan

Haemodialisa RSUD Sawahlunto dibangun sejak 2010 untuk mengatasi

kebutuhan masyarakat Sawahlunto dalam tindakan haemodialisa. Saat pertama

diresmikan ruangan haemodialisa RSUD Sawahlunto hanya memiliki 6 tempat

tidur dan mesin untuk haemodialisa. Saat ini ruangan Haemodialisa sudah

memiliki 12 tempat tidur dan 12 mesin untuk haemodialisa. Serta memiliki 4

orang perawat yang sudah memiliki keterampilan sertifikat pelatihan

haemodialisa.

Haemodialisis (HD) merupakan terapi pengganti ginjal yang paling

banyak dilakukan dan jumlahnya terus meningkat. Haemodialisis adalah metode

terapi dialisis yang digunakan untuk mengeluarkan cairan atau limbah dari dalam

tubuh saat ginjal sudah tidak mampu melaksanakan fungsinya (Muttaqin, & Sari,

2011). Haemodialisis dapat memperpanjang usia, namun tindakan ini tidak akan

bisa mengembalikan fungsi ginjal (Wahyuni, et al, 2014). Haemodialisis

2
digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien dengan

penyakit akut yang membutuhkan dialisis waktu singkat. Pasien gagal ginjal

kronik harus menjalani terapi dialysis sepanjang hidupnya, biasanya tiga kali

seminggu selama paling sedikit 3 atau 4 jam per 1 kali terapi, atau sampai

mendapat ginjal baru melalui transplantasi ginjal (Muttaqin, & Sari, 2011).

Pasien gagal ginjal kronik yang menjalani haemodialisis akan mengalami

kecemasan yang disebabkan oleh berbagai stressor, diantaranya pengalaman nyeri

pada daerah penusukan saat memulai haemodialisis, masalah finansial, kesulitan

dalam mempertahankan masalah pekerjaan, dorongan seksual yang menghilang,

depresi akibat penyakit kronis serta ketakutan terhadap kematian (Brunner, &

Suddarth, 2014).

Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan, memperingatkan

adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil

tindakan mengatasi ancaman (Kaplan, et al., dalam Tokala, et al., 2015).

Menurut Kusumawati & Hartono (2011) menyebutkan cemas adalah emosi dan

pengalaman subyektif dari seseorang yang membuat dirinya tidak nyaman.

Cemas merupakan suatu sikap alamiah yang dialami oleh setiap manusia

sebagai bentuk respon dalam menghadapi ancaman. Namun ketika perasaan

cemas itu menjadi berkepanjangan maka perasaan itu berubah menjadi gangguan

cemas atau anxiety disorders (Luana et al, 2012).

Penelitian yang dilakukan oleh Tokala, Kandou, & Dundu (2015)

mengenai tingkat kecemasan pasien yang menjalani haemodialisis menunjukkan

hasil bahwa dari 34 pasien, 16 orang (47,1%) tidak cemas, 11 orang (32,4%)

mengalami cemas ringan, 6 orang (17,6%) cemas sedang, dan 1 orang (2,95%)

3
mengalami cemas berat. Hasil penelitian yang dilakukan Luana, et al (2012)

sebagian besar penderita gagal ginjal kronik yang menjalani haemodialisa

diketahui 47,5% mengalami kecemasan ringan sedangkan 3,75% tidak mengalami

kecemasan dan sisanya mengalami kecemasan sedang hingga sangat berat.

Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Tanvir (2013) dengan hasil 42,69%

yang mengalami gangguan kecemasan dari 47,36% pasien yang mengalami

kecemasan ringan, 28,94% mengalami kecemasan sedang dan 23,68% mengalami

kecemasan yang parah.

Stressor yang dialami PGK cenderung menetap, oleh karena itu diperlukan

suatu strategi yang efektif, efisien dan mudah dilakukan untuk mampu

mengurangi kecemasan sehingga pasien mampu beradaptasi terhadap stressor

yang ada. Salah satu strategi efektif untuk mengatasi kecemasan yaitu dengan

teknik relaksasi. Teknik relaksasi yang digabungkan dengan unsur keyakinan

kepada agama serta kepada Tuhan dapat meningkatkan respon relaksasi lebih kuat

dibandingkan hanya teknik relakasasi saja, pendekatan keyakinan spiritual dalam

agama Islam yaitu dengan teknik mengingat Allah atau berdzikir. Beberapa

penelitian menunjukkan efektivitas dzikir terhadap penurunan intensitas halusinasi

dengar pada pasien dengan gangguan mental kronis.

Penelitian yang dilakukan Siti (2017) yang berjudul Pengaruh relaksasi

dzikir asmaul husna terhadap tingkat stres pasien yang menjalani haemodialisa.

Didapatkan hasil nilai rata-rata tingkat stres sebelum diberikan intervensi

didapatkan nilai 19,06 dan nilai sesudah diberikan intervensi 14,19. Didapatkan

nilai p value=0,001. Ada pengaruh relaksasi dzikir asmaul husna terhadap tingkat

stres pada pasien yang menjalani hemodialisa dan diharapkan menjadi salah satu

4
pilihan intervensi non farmakologi untuk mengurangi tingkat stres serta

memfasilitasi pasien yang menjalani haemodialisa untuk melakukan relaksasi

dzikir asmaul husna.

Penelitian yang dilakukan Patimah (2015) yanag berjudul Pengaruh

Relaksasi Dzikir terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang

Menjalani Haemodialisa. Penelitian ini mengukur skor kecemasan menggunakan

instrument HAM-A (Hamilton Anxiety) sebelum dan sesudah intervensi relaksasi

dzikir. Berdasarkan penelitian sebelumnya, peneliti melakukan pembaharuan

tentang efek dzikir dengan mengucapkan “Subhanallah, Walhamdulillah,

Allahuakbar, La hawla wa la quawwata illa billah” dalam riwayat sahih

disebutkan jika kalimat dzikir tersebut mampu menyembuhkan segala jenis

penyakit. Relaksasi dzikir dilakukankan minimal 10 menit selama haemodialisa

dilaksanakan Selanjutnya data dianalisa menggunakan uji t. Hasil penelitian

menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan

sebelum dan sesudah intervensi (p<0.005).

Studi pendahuluan di ruangan haemodialisa dengan wawancara 4 orang

pasien. 3 diantaranya sudah menjalani 2 tahun terapi haemodialisa, namun rasa

cemas masih ada dan kadang membuat merasa tidak nyaman ketika melakukan

haemodialisa. 2 orang pasien mengatakan belum siap untuk menghadapi kematian

dan meninggalkan keluarga mereka namun, saat melakukan terapi haemodialisa

masih ada rasa cemas terhadap komplikasi yang akan terjadi.

Berdasarkan latar belakang diatas dan penelitian sebelumnya, peneliti tertarik

untuk meneliti “Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan

Pasien Yang Menjalani Haemodialisa RSUD Sawahlunto Tahun 2021”.

5
B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat Pengaruh

Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Yang Menjalani

Haemodialisa RSUD Sawahlunto Tahun 2021?.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui apakah ada Pengaruh Relaksasi Dzikir

Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Yang Menjalani Haemodialisa

RSUD Sawahlunto Tahun 2021.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui tingkat kecemasan sebelum dilakukan terapi relaksasi

dzikir pada pasien haemodialisa RSUD Sawahlunto tahun 2021.

b. Mengetahui tingkat kecemasan sesudah dilakukan terapi relaksasi

dzikir pada pasien haemodialisa RSUD Sawahlunto tahun 2021.

c. Mengetahui pengaruh terapi relaksasi dzikir terhadap tingkat

kecemasan pada pasien haemodialisa RSUD Sawahlunto tahun 2021.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi RSUD Sawahlunto

Diharapkan hasil penelitian ini bisa membantu pasien haemodialisa

untuk mengatasi kecemasan dan bisa miningkatkan pelayanan

keperawatan khususnya di ruangan haemodialisa RSUD Sawahlunto.

6
2. Bagi STIKES Yarsi Sumbar

Diharapkan hasil penelitian ini bisa menambah referensi bagi civitas

akademis di STIKES Yarsi Sumbar.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Diharapkan hasil penelitian ini akan menjadi tolak ukur untuk penelitian

yang lain, yang berhubungan dengan kecemasan yang dialami oleh pasien

haemodialisa.

7
BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Gagal Ginjal Kronik

1. Anatomi Ginjal

Saluran kemih terdiri dari ginjal yang terus menerus menghasilkan urin,

dan berbagai saluran reservoir yang dibutuhkan untuk membawa urin keluar

tubuh. Ginjal merupakan organ berbentuk seperti kacang yang terletak di

kedua sisi columna vertebralis (Price dan Wilson, 2006). Kedua ginjal terletak

retroperitoneal pada dinding abdomen, masing– masing di sisi kanan dan sisi

kiri columna vertebralis setinggi vertebra T12 sampai vertebra L3. Ginjal

kanan terletak sedikit lebih rendah daripada ginjal kiri karena besarnya lobus

hepatis dekstra. Masing– masing ginjal memiliki facies anterior dan facies

posterior, margo medialis dan margo lateralis, ekstremitas superior dan

ekstremitas inferior (Moore dan Agur, 2002). Pada orang dewasa, panjang

ginjal adalah sekitar 12 cm sampai 13 cm, lebarnya 6 cm, tebalnya 2,5 cm dan

beratnya sekitar 150 g. Ukurannya tidak berbeda menurut bentuk dan ukuran

tubuh. Perbedaan panjang dari kutub ke kutub kedua ginjal yang lebih dari 1,5

cm atau perubahan bentuk merupakan tanda yang penting, karena sebagian

besar manifestasi penyakit ginjal adalah perubahan struktur dari ginjal tersebut

(Price dan Wilson, 2006). Ginjal dibungkus oleh jaringan fibrosa tipis dan

mengkilat yang disebut kapsula fibrosa ginjal dan di luar kapsul ini terdapat

jaringan lemak perineal. Di sebelah kranial ginjal terdapat kelenjar anak ginjal

8
atau glandula adrenal/suprarenal yang berwarna kuning. Kelenjar adrenal

bersama ginjal dan jaringan lemak perineal dibungkus oleh fascia gerota. Di

luar fascia gerota terdapat jaringan lemak retroperitoneal atau disebut jaringan

lemak pararenal. Di bagian posterior, ginjal dilindungi oleh otot–otot

punggung yang tebal serta costae ke XI dan XII, sedangkan di bagian anterior

dilindungi oleh organ–organ intraperitoneal (Purnomo, 2003).

Secara anatomis ginjal terbagi menjadi 2 bagian korteks dan medula ginjal

(Junquiera dan Carneiro, 2002). Di dalam korteks terdapat berjuta–juta nefron

sedangkan di dalam medula banyak terdapat duktuli ginjal. Nefron adalah unit

fungsional terkecil dari ginjal yang terdiri atas tubulus kontortus proksimal,

tubulus kontortus distal, dan tubulus koligentes (Purnomo, 2003). Setiap ginjal

memiliki sisi medial cekung, yaitu hilus tempat masuknya syaraf, masuk dan

keluarnya pembuluh darah dan pembuluh limfe, serta keluarnya ureter dan

memiliki permukaan lateral yang cembung (Junquiera dan Carneiro, 2002).

Sistem pelvikalises ginjal terdiri atas kaliks minor, infundibulum, kaliks

major, dan pielum/pelvis renalis (Junquiera dan Carneiro, 2002). Ginjal

mendapatkan aliran darah dari arteri renalis yang merupakan cabang langsung

dari aorta abdominalis, sedangkan darah vena dialirkan melalui vena renalis

yang bermuara ke dalam vena kava inferior. Sistem arteri ginjal adalah end

arteries yaitu arteri yang tidak mempunyai anastomosis dengan cabang–

cabang dari arteri lain, sehingga jika terdapat kerusakan salah satu cabang

arteri ini, berakibat timbulnya iskemia/nekrosis pada daerah yang dilayaninya

(Purnomo, 2003). Arteri renalis memasuki ginjal melalui hilum dan kemudian

bercabang- cabang secara progresif membentuk arteri interlobaris, arteri

9
arkuarta, arteri interlobularis, dan arteriol aferen yang menuju ke kapiler

glomerulus tempat sejumlah besar cairan dan zat terlarut difiltrasi untuk

pembentukan urin. Ujung distal kapiler pada setiap glomerulus bergabung

untuk membentuk arteriol eferen, yang menuju jaringan kapiler kedua, yaitu

kapiler peritubulus yang mengelilingi tubulus ginjal. Kapiler peritubulus

mengosongkan isinya ke dalam pembuluh sistem vena, yang berjalan secara

paralel dengan pembuluh arteriol secara prorgesif untuk membentuk vena

interlobularis, vena arkuarta, vena interlobaris, dan vena renalis, yang

meninggalkan ginjal di samping arteri renalis dan ureter (Guyton dan Hall,

2008).

2. Patofisiologi

Reaksi ginjal terhadap rangsangan dari luar serupa dengan organ tubuh

lainnya, yaitu sesuai dengan mekanisme patologi pada umumnya. Bagian

ginjal yang berfungsi sebagai alat penyaring adalah glomerulus yang bekerja

berdasarkan faktor-faktor hemodinamika dan osmotik (Ganong, 2003). Pada

keadaan normal glomerulus tidak dapat dilalui oleh protein yang bermolekul

besar, tetapi pada keadaan patologis protein tersebut dapat lolos (Junquiera

dan Carneiro, 2002). Sel tubulus selain berfungsi mereabsorbsi, juga

menambahkan zat-zat kimiawi seperti yodium, amonia dan hippuric acid. Pada

disfungsi glomerulus, bahan-bahan asing tiba di tubulus dalam kadar yang

abnormal melalui ruang Bowman. Hal ini menyebabkan sel epitel tubulus

mengalami degenerasi bahkan kematian jika terlalu banyak bahan-bahan yang

harus diserap kembali (Junquiera dan Carneiro, 2002). Tubulus proksimal

memiliki fungsi utama yaitu menyerap kembali natrium, albumin, glukosa dan

10
air, dan juga bermanfaat dalam penggunaan kembali bikarbonat. Epitelium

tubulus proksimalis merupakan bagian yang paling sering terserang iskemia

atau rusak akibat toksin, karena kerusakan yang terjadi akibat laju

metabolisme yang tinggi (Suyanti, 2008).

Salah satu bagian ginjal yang sering mengalami kelainan adalah

glomerulus (Soeksmanto, 2006). Menurut Soeksmanto (2006), kerusakan yang

terjadi sering disebabkan oleh adanya deposisi imun kompleks, trombosis,

emboli, dan infeksi virus pada komponen glomerulus. Kerusakan dapat

menyebabkan berbagai dampak baik secara morfologi maupun fungsional.

Secara morfologis kerusakan glomerulus ditandai dengan terjadinya nekrosis

dan ploriferasi dari sel membran serta infiltrasi leukosit. Rusaknya glomerulus

secara fungsional ditandai dengan berkurangnya perfusi aliran darah, lolosnya

protein dan makromolekul lain dalam jumlah yang besar pada filtrat

glomerulus. Kerusakan pada glomerulus juga dapat berupa atrofi dan fibrosis

sehingga menyebabkan atrofi sekunder pada tubulus renalis (Soekmanto,

2006). Nefrosis merupakan istilah morfologik untuk kelainan ginjal

degeneratif terutama yang mengenai tubulus. Kelainan tubulus dapat

menyebabkan albuminuria dan sedimen abnormal di urin. Secara mikroskopis

kelainan dijumpai pada tubulus kontortus proksimal berupa degenerasi

hidropis, degenerasi lemak, nekrosis dan kalsifikasi (Suyanti, 2008).

Kerusakan yang terjadi pada tubulus, disebabkan karena dua pertiga dari

ultrafiltrat glomerulus, secara terus-menerus direabsorpsi pada tubulus. Proses

transpor yang terjadi pada tubuli juga memungkinkan terjadinya akumulasi

toksin-toksin intrarenal, sehingga mempertinggi konsentrasi lokal dari bahan-

11
bahan berbahaya tersebut. Bahan-bahan asing yang masuk ke dalam tubuh,

pada umumnya dapat dimetabolisme melalui proses enzimatik sebagai

pertahanan untuk melindungi tubuh dari bahan-bahan kimia berbahaya. Secara

simultan, bahan-bahan berbahaya hasil buangan metabolisme tersebut diproses

dan diekskresikan dalam bentuk urin yang dikeluarkan setiap hari.

Kemampuan untuk memproteksi kerusakan akibat bahan kimia di atas,

umumnya dimiliki oleh semua jenis mamalia, meskipun kemampuan melawan

partikel-partikel bahan tersebut bervariasi diantara species, terutama dalam

memindahkan 1 group etil melalui oksidasi mikrosomal (Soeksmanto, 2006).

3. Definisi Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal adalah suatu keadaan dimana ginjal tidak mampu mengangkut

sampah metabolik tubuh atau melakukan fungsi regulasinya. Suatu bahan

yang biasa di eliminasi di urin menumpuk dalam cairan tubuh akibat

gangguan eksresi renal, menyebabkan gangguan fungsi metabolik dan

endokrin, cairan, elektroit serta asam basa. Gagal ginjal merupakan jalur akhir

yang umum dari berbagai penyakit traktus urinarius dan ginjal (Brunner &

Suddarth 2001)

Gagal ginjal kronik merupakan tahap yang paling berat dari gagal ginjal

karena faal ginjal yang masih tersisa sudah sangat sedikit. Pada keadaan ini

terjadi kerusakan yang tidak dapat pulih pada sebagian besar nefron, sehingga

laju filtrasi glomerolus (LFG) menurun sampai < 5 ml/menit. Jika tidak di

beri pertolongan dan penatalaksanaan aktif, maka akan sangat dekat dengan

kematian (Brunner & Suddarth 2001)

12
4. Etiologi

Berbagai penyakit sistemik juga dapat menyebabkan terjadinya gagal

ginjal kronik, diantaranya penyakit diabetes mellitus, glomerulonefritis

kronik, pielonefritis, hipertensi yang tidak terkontrol, lesi herediter, seperti

penyakit ginjal polikistik, gangguan vaskuler, infeksi medikasi atau agen

toksik. Selain itu lingkungan dan agen yang berbahaya sangat mempengaruhi

terjadinya gagal ginjal terminal seperti timah, cadmium, merkuri, dan

kromium (Brunner & Suddart 2001)

Menurut Alam (2008), ada 4 penyebab GGK antara lain:

a. Gaya hidup santai dan kurang bergerak. gaya hidup tidak banyak

bergerak ditambah dengan pola makan buruk yang tinggi lemak dan

karbohidrat yang tidak diimbangi serat dalam jumlah cukup membuat

lemak menumpuk semakin banyak dan membuat darah semakin sulit

mengalir, sehingga menyebabkan tekanan tinggi pada pembuluh darah

jantung maka mengakibatkan kerusakan pada ginjal dan fungsinya

akan menurun.

b. Infeksi dan peradangan, aliran darah yang buruk akibat dehidrasi dapat

membuat saluran kemih mudah terinfeksi. Yang akhirnya lama-

kelamaan bisa menimbulkan infeksi ginjal yang serius.

c. Batu pada saluran kemih dan ginjal, selain itu dehidrasi akibat kurang

minum dan lingkungan yang panas menyebabkan urin mengental dan

mengendapkan batu yang akan menempel sepanjang saluran kemih

13
dan juga ginjal. Batu ginjal dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal

kronis.

d. Kanker pada ginjal. Obesitas, hipertensi, merokok, cuci darah yang

berkelanjutan menyebabkan sel pada tubulus ginjal tiba-tiba saja

mengembang secara liar menjadi sel kanker, yang akhirnya

menyebabkan gagal ginjal.

5. Manifestasi klinik

Karena pada GGK setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia, maka

pasien akan memperlihatkan sejumlah tanda dan gejala (Brunner & Suddarth

2001)

a. Manifestasi kardiovaskuler, mencakup hipertensi, gagal ginjal kongestif,

edema pulmonal, dan perikarditis.

b. Gejala dermatologi, dimana gejala yang sering terjadi adalah rasa gatal

yang parah (pruritus) dan butiran uremik.

c. Gejala gastrointestinal, mencakup anoreksia, mual muntah dan cegukan.

d. Perubahan neoromuskuler, mencakup perubahan tingkat kesadaran,

tidak mampu berkonsentrasi, kedutan otot dan kejang.

Sedangkan menurut Alam (2008), gejala yang muncul pada gagal ginjal

kronik adalah :

a. Perubahan frekuensi kencing, sering ingin berkemih pada malam hari.

b. Pembengkakan pada bagian pergelangan kaki.

c. Kram otot pada malam hari.

d. Lemah, lesu, kurang berenergi.

14
e. Nafsu makan turun, mual, muntah.

f. Sulit tidur.

g. Bengkak seputar mata pada waktu bangun pagi hari, atau mata merah

dan berair karena deposit garam kalsium fosfat yang dapat

menyebabkan iritasi hebat pada selaput lender mata.

h. Kulit gatal dan kering.

6. Pemeriksaan Penunjang

Gejala penyakit gagal ginjal baik akut, kronik sukar untuk dideteksi, karena

fungsi ginjal berhubungan dengan organ dalam tubuh lainnya, sehingga penyakit

ginjal bermacam-macam penyebabnya dan berbeda-beda perjalanan penyakit yang

dialami pasien. Menurut Alam (2008) 4 macam pemeriksaan untuk gagal ginjal :

a. Pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan keluarga. Pemeriksaan fisik

seperti biasa dan untuk keluarga perlu ditanyakan tentang adanya

riwayat hipertensi.

b. Pemeriksaan urin. Untuk mengetahui adanya protein dalam urin untuk

indikasi kuat gagal ginjal.

c. Pemeriksaan darah, serum elektrolit dan ureum kreatinin. Seperti Hb

yang menurun pada pasien gagal ginjal, dan kadar ureum kreatinin yang

meningkat pada gagal ginjal.

d. USG ginjal.

7. Penatalaksanaan

15
Penatalaksanaan ditujukan untuk mempertahankan fungsi ginjal dan

homeostasis selama mungkin. Strategi penatalaksanaan yang dilakukan berupa

usaha-usaha untuk memperlambat laju penurunan fungsi ginjal, mencegah

kerusakan ginjal lebih lanjut dan pengelolaan berbagai masalah yang terdapat

pada pasien dengan gagal ginjal dan komplikasinya. Sedangkan bentuk

penatalaksanaan itu sendiri dapat berupa pemberian obat-obatan, dialisa

(hemodialisa dan peritoneal dialisa), intervensi diet, atau tranplantasi ginjal

(Brunner & Suddarth 2001).

B. Haemodialisa

1. Definisi

Menurut Brunner & Suddarth,(2001) haemodialisa adalah proses

yang digunakan pada pasien dengan penyakit gagal ginjal kronik yang

membutuhkan terapi jangka panjang atau terapi permanen menggunakan

mesin haemodialisa

Haemodialisa adalah pengalihan darah pasien dari tubuhnya melalui

dyalizer yang terjadi secara difusi dan ultrafiltrasi, kemudian darah

kembali lagi kedalam tubuh pasien (Baradero dkk 2009).

Haemodialisa adalah tindakan mengeluarkan air yang berlebih ; zat

sisa nitrogen yang terdiri atas ureum, kreatinin, serta asam urat ; dan

elektrolit seperti kalium, fosfor, dan lain-lain yang berlebihan pada klien

gagal ginjal kronik, khususnya pada GGT (Hartono 2008).

Corwin (2006) menjelaskan haemodialisa adalah dialisis yang

dilakukan diluar tubuh. Pada prosedur ini darah dikeluarkan dari tubuh,

16
melalui sebuah kateter dan masuk ke dalam sebuah alat besar (mesin)

yamng memiliki membran semipermeabel. Haemodialisa adalah tindakan

untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah dan

mengeluarkan air yang berlebih (Smeltzer 2002).

Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa

haemodialisa merupakan tindakan mengeluarkan zat sisa metabolisme dan

cairan berlebih melalui membran semi permiabel dengan prinsip dialisis

dan menggunakan mesin yang terprogram untuk melakukan pemisahan

antara darah dan zat- zat sisa

2. Tujuan

Menurut Brunner & Suddarth (2001), tujuan dilakukannya haemodialisa

adalah :

a. Membuang produk metabolisme protein seperti urea, kreatinin dan

asam urat. Ini berguna untuk mencegah manifestasi klinik yang

berhubungan dengan retensi dan akumulasi toksik uremia seperti

ensefalopati, perikarditis, uremic lung dan sebagainya.

b. Membuang kelebihan air.

c. Mempertahankan dan mengembalikan system buffer tubuh.

d. Mempertahankan atau mengembalikan kadar elektrolit tubuh.

3. Prinsip-prinsip Haemodialisa

Menurut Brunner & Suddarth (2001), tiga prinsip yang mendasari

kerja haemodialisa yaitu :

17
a. Difusi, toksin dan zat limbah didalam darah dikeluarkan dengan

cara bergerak dari darah ke cairan dialisat.

b. Osmosis, air yang berlebihan dikeluarkan dari dalam tubuh dengan

menciptakan gradien tekanan.

c. Ultrafiltrasi, gradien yang ditingkatkan dengan menambahkan

tekanan negatif pada mesin dialisa.

4. Prosedur Haemodialisa

Biasanya penanganan pasien gagal ginjal di Indonesia adalah

menggunakan mesin cuci darah yang berfungsi sebagai ginjal buatan.

Darah dipompa keluar dari tubuh, masuk ke dalam mesin, kemudian

melewati dialiser untuk dibersihkan melalui proses difusi dan ultrafiltrasi

dengan dialisat (cairan kusus untuk dialysis), kemudian kembali dialirkan

ke dalam [Link] cuci darah dilakukan 1-3 kali seminggu di rumah

sakit, dan setiap kalinya memerlukan waktu sekitar 4- 5 jam.

Agar prosedur haemodialisa dapat berlangsung, perlu dibuatkan

akses untuk keluar masuknya darah dari tubuh. Akses tersebut dapat

bersifat sementara berupa kateter yang dipasang pada pembuluh darah

balik di leher maupun menetap biasanya di buat dengan akses fistula yaitu

menghubungkan salah satu pembuluh darah balik dengan pembuluh darah

nadi pada lengan bawah yang dikenal dengan cimino (Alam, 2008).

18
Gambar [Link] Haemodialisa

C. Kecemasan

1. Definisi Kecemasan

Kecemasan adalah rasa takut yang tidak jelas disertai dengan

perasaan ketidakpastian, ketidakberdayaan, isolasi, dan ketidakamanan.

Kecemasan adalah keadaan emosi tanpa objek tertentu. Hal ini dipicu

oleh hal yang tidak diketahui dan menyertai semua pengalaman baru

(Stuart, 2016).

19
2. Tingkat Kecemasan

Tingkat kecemasan menurut Peplau dalam Stuart (2016)

diidentifikasi menjadi empat tingkat, sebagai berikut:

a. Kecemasan ringan, terjadi saat ketegangan hidup sehari-hari.

b. Kecemasan sedang, dimana seseorang hanya berfokus pada hal

yang penting saja.

c. Kecemasan berat, ditandai dengan penurunan yang signifikan di

lapang persepsi.

d. Panik, dikaitkan dengan rasa takut dan teror.

3. Rentang Respon Kecemasan

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik

Gambar 1. Rentang respon


kecemasan Sumber:
Stuart (2016)

a. Respon Adaptif

Hasil yang positif akan didapatkan jika individu dapat menerima

dan mengatur kecemasan. Kecemasan dapat menjadi suatu tantangan,

motivasi yang kuat untuk menyelesaikan masalah, dan merupakan sarana

untuk mendapatkan penghargaan yang tinggi. Strategi adaptif biasanya

20
digunakan seseorang untuk mengatur kecemasan antara lain dengan

berbicara kepada orang lain, menangis, tidur, latihan, dan menggunakan

teknik relaksasi.

b. Respon Maladaptif

Ketika kecemasan tidak dapat diatur, individu menggunakan

mekanisme koping yang disfungsi dan tidak berkesinambungan dengan

yang lainnya. Koping maladaptif mempunyai banyak jenis termasuk

perilaku agresif, bicara tidak jelas, isolasi diri, banyak makan,

konsumsi alkohol, berjudi, dan penyalahgunaan obat terlarang.

4. Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan

Menurut Kaplan dan Saddock (2010), faktor-faktor yang

memengaruhi kecemasan operasi ialah sebagai berikut:

a. Faktor intrinsik meliputi usia pasien, pengalaman, dan konsep diri

serta peran.

b. Faktor ekstrinsik meliputi kondisi medis, tingkat pendidikan, akses

informasi, adaptasi, tingkat sosial ekonomi, tindakan operasi.

5. Alat Ukur Kecemasan

Alat ukur yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana derajat

kecemasan seseorang apakah ringan, sedang, berat, dan sangat berat yaitu

Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Skala ini dibuat oleh Max

Hamilton tujuannya ialah untuk menilai kecemasan sebagai gangguan

klinikal dan mengukur gejala kecemasan. Kuesioner HARS berisi empat

21
belas pertanyaan yang terdiri dari tiga belas kategori pertanyaan tentang

gejala kecemasan dan satu kategori perilaku saat wawancara.

D. Relaksasi Dzikir

1. Definisi Teknik Relaksasi

Relaksasi adalah suatu teknik yang dapat membuat pikiran dan

tubuh menjadi rileks melalui sebuah proses yang secara progresif akan

melepaskan ketegangan otot di setiap tubuh (Potter & Perry, 2010).

Teknik relaksasi berguna dalam berbagai situasi, misalnya nyeri, cemas,

kurangnya kebutuhan tidur, stres, serta emosi yang ditunjukkan.

Relaksasi memelihara reaksi tubuh terhadap respon fight or flight,

penurunan respirasi, nadi, dan jumlah metabolik, tekanan darah dan

energi yang digunakan (Potter & Perry, 2012).

2. Efek Relaksasi

Adapun efek relaksasi menurut Potter & Perry (2010), relaksasi

memiliki beberapa manfaat, yaitu: menurunkan nadi, tekanan darah, dan

pernapasan; penurunan konsumsi oksigen; penurunan ketegangan otot;

penurunan kecepatan metabolisme, peningkatan kesadaran; kurang

perhatian terhadap stimulus lingkungan; tidak ada perubahan posisi yang

volunteer; perasaan damai dan sejahtera; periode kewaspadaan yang

santai, terjaga, dan dalam

22
3. Relaksasi Dzikir

Jenis relaksasi ini merupakan pengembangan dari respon relaksasi

dengan ritme yang teratur disertai sikap pasrah kepada objek transendensi

yaitu Tuhan. Frase yang digunakan dapat berupa kalimat Allah, atau kata

yang memiliki makna menenangkan. Sangkan (2002) menyebutkan

pengulangan kata atau frase secara ritmis dapat menimbulkan tubuh

menjadi rileks. Pengulangan tersebut harus disertai dengan sikap pasif

terhadap rangsang baik dari luar maupun dari dalam. Sikap pasif dalam

konsep religius dapat diidentikan dengan sikap pasrah kepada Tuhan.

Sikap pasrah inilah yang dapat melipatgandakan respon relaksasi yang

muncul. Keuntungan dari relaksasi religious ini selain mendapatkan

manfaat dari relaksasi juga mendapatkan kemanfaatan dari penggunaan

keyakinan seperti menambah keimanan, dan kemungkinan akan

mendapatkan pengalaman-pengalaman transendensi.

23
4. Standar Operasional Prosedur Relaksasi Dzikir

24
PENERAPAN TERAPI MODALITAS BERUPA

TERAPI SPIRITUAL DZIKIR (MENDENGARKAN

ATAU MEMBACA KALIMAT ALLAH)


STANDAR Tanggal Terbit

PROSEDUR 09/06/2021

OPERASIONAL
PENGERTIAN Terapi yang menggunakan media dzikir mengingat Allah

yang bertujuan untuk memfokuskan pikiran. Dengan

bacaan do’a dan dzikir orang akan menyerahkan segala

permasalahan kepada Allah, sehingga beban stress yang

dihimpitnya mengalami penurunan. (Fanada, 2012 dalam

Indri W, 2014)
TUJUAN 1. Klien mampu mengenali terapi dzikir yang dilakukan.
2. Klien mampu memberi respon terhadap terapi yang
diberikan.
3. Klien mampu menceritakan perasaannya
setelah mendengarkan dzikir
4. Pada fase awal atau perkenalan pasien mau untuk
berkomunikasi dengan peneliti
5. Pada fase kerja pasien merasa nyaman saat
melakukan dzikir
6. Pada fase terminasi pasien menemukan ketenangan
setelah berdzikir
INDIKASI Pasien yang membutuhkan terapi spiritual (ex : pasien

Haemodalisa)
PERSIAPAN 1. Menyiapkan informed consent

2. Materi terapi spiritual dzikir (power point dan video)

3. Terapis dan klien duduk berhadapan atau berdekatan

4. Ruangan nyaman dan tenang

5. Alat tulis dan catatan


PELAKSANAAN 1. Pilih kalimat spiritual yang akan digunakan

2. Duduk dengan santai

3. Tutup mata

4. Kendurkan otot – otot


25
5. Bernapaslah secara alami dan mulai mengucapkan

kalimat spiritual yang dibaca secara berulang – ulang


E. Kerangka Teori

Penderita Gagal Ginjal

Kehilangan Nafsu Makan


Gelisah
Psikomotor Aktif
Cenderung Agresif
Tampak Kebingungan
Dampak Psikologis
Stress

Penurunan Kadar Hemoglobin


Gangguan Kariovaskuler
Gangguan Kulit
Gangguan Sistem Syaraf
Dampak Fisik• Mual
Muntah

Tingkat Kecemasan
Merasakan tekanan akibat penyakit yang dialami, tidak tenang, gelisah dan kurangnyakesejahteraan psikologis

Relaksasi Dzikir
1. Agama dan nilai spritualitas memberikan peran penting dalam strategi yang signifikan
dalam menurunkan stres individu yang mengalami gagal ginjal (Yodchai, Dunning, Savage
dan Hutchinson, 2016).
2. Individu yang dapat melakukan koping agama dengan baik tingkat kesehatan psikologis
dan kualitas hidup lebih baik pada penderita gagal ginjal tahap akhir. Koping agama yang
baik akan menjadikan individu lebih dapat mengontrol tingkat stresnya sehingga dapat
menjalani kehidupannya sehari-hari dengan lebih baik (Ramirez dkk, 2012).
3. Melakukan dzikir dengan bacaan “Subhanallah, Walhamdulillah, Allahuakbar, La hawla
wala quata Ila billah”

26
Kecemasan berkurang

Gambar 2.1
Kerangka Teori
Sumber: (Yodchai, Dunning, Savage dan Hutchinson, 2016),
(Ramirez, dkk. 2012), (Potter &Perry, 2012)
BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Kerangka konseptual adalah model konseptual yang berkaitan dengan

bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis

beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (Hidayat, 2011). Menurut

Sugiyono (2012) Variabel bebas (independen variable) adalah variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab terjadinya perubahan/timbulnya variabel

dependen (terikat), Variabel dependen (dependen variable) adalah variabel yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Terdapat 2

variabel dalam penelitian ini yaitu variabel dependen kecemasan pasien

haemodialisa dan variabel indepebden intervensi zikir.

Variabel Independen Variabel Dependen

Kecemasan pasien
Relaksasi dzikir
Haemodialisa

B. Hipotesa Penelitian

Ha : Ada Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien

Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Haemodialisa RSUD Sawahlunto

27
H0 : Tidak Ada Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan

Pasien Gagal Ginjal Kronis Yasng Menjalani Haemodialisa RSUD

Sawahlunto

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah desain quasi-eksperimen

dengan rancangan pretest posttest design one group, yaitu penelitian semu

dimana intervensi dilakukan pada satu kelompok intervensi dengan

membandingkan nilai sebelum dan sesudah dilakukan intervensi (Notoatmodjo,

2012). Bentuk rancangan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Kelompok Pre test Perlakuan (X) Post test


K O1 Diberikan terapi O2
relaksasi dzikir

Keterangan :

O1 : Pre-test (kecemasan sebelum dilakukan intervensi)

O2 : Post-test (kecemasan setelah dilakukan intervensi)

X : Perlakuan Intervensi

K : Kelompok atau respondendalam penelitian

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

28
Penelitian akan dilakukan di ruangan Haemodialisa RSUD Sawahlunto

pada bulan Juli – Agustus 2021.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan responden penelitian (Notoatmojo,

2015). Populasi pada penelitian ini semua pasien yang melakukan

haemodialisa di ruangan haemodialisa RSUD Sawahlunto yang berjumlah

40 orang.

2. Sampel

Peneliti ingin menggunakan teknik non probability sampling,

Sugiyono (2014) mengatakan bahwa teknik non probability sampling

adalah teknik penarikan sampel yang tidak memberikan peluang bagi

setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih untuk menjadi sampel.

Dan peneliti akan menggunakan teknik Purposive sampling. Menurut

Sugiyono (2014) mengatakan bahwa Purposive sampling adalah teknik

penentuan sampel yang dipilih oleh peneliti sesuai dengan keinginan atau

yang sesuai dengan penelitian. Rumus pengambilan sampel yang

digunakan adalah rumus Lemesshow, yaitu:

29
n= 1,96. 0,5 (1-0,5) 40
0,052 (40-1) + 1,96 (1-0,5)
n= 0,98. 0.5. 40
0,0025.39 + 0,98
n= 19,6
1,0775
n=18,19

Keterangan :

n = jumlah sampel minimal yang diperlukan

derajat kepercayaan 95% = 0,05, maka Z1- /2 = 1,96 atau Z21- /2 = 1,962

P = Proporsi, karena tidak diketahui maka digunakan 50% = 0,5

d = limit dari error atau presisi absolut 5% = 0,05

N= Jumlah populasi pasien haemodialisa RSUD Sawahlunto sebanyak 40

orang

Dari rumus diatas didapatkan sampel 18 orang dan peneliti menambahkan

10% sampel cadangan. Sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 20

orang

D. Kriteria Inklusi dan Eklusi

1. Kriteria inklusi :

a. Pasien bersedia menjadi responden penelitian

b. Pasien bisa berkomunikasi dengan baik

c. Beragama Islam

2. Kriteria eksklusi

30
a. Pasien mengalami komplikasi yang menyebabkan tidak bisa melakukan

proses dalam penelitian ini.

E. Defenisi Operasional

Definisi Alat Cara


Variabel Hasil ukur Skala
Operasional ukur ukur
Relaksasi Relaksasi yang SOP Intervensi
Dzikir dilakukan dengan pelaksanaan dan
mengerjakan terapi dzikir observasi
dzikir

Kecemasa Tingkat Hamilton Pengisian < 14 = tidak ada Ratio


n sebelum kecemasan anxiety Rating lembar kecemasan
intervensi sebelum Scale (HARS) observasi 14-20 = ringan
dilakukan 21-27= ringan
relaksasi dzikir 28-41 = berat
42-56 berat
sekali
Kecemasa Tingkat Hamilton Pengisian 14 = tidak ada Ratio
n setelah kecemasan setelah Anxiety lembar kecemasan
intervensi dilakukan Rating Scale observasi 14-20 = ringan
relaksasi dzikir (HARS). 21-27= ringan
28-41 = berat
42-56 berat
sekali

F. Instrumen Penelitian

Menurut Nursalam (2014) instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi

peneliti dalam mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian

ini adalah berupa lembar observasi untuk mengetahui pengaruh relaksasi dzikir

terhadap tingkat kecemasan pasien yang menjalani haemodialisa di RSUD

Sawahlunto.

1. Hamilton anxiety Rating Scale (HARS)

31
Dalam penelitian ini, untuk menentukan tingkat kecemasan pasien,

menggunakan skala HARS (hamilton rating scale for anxiety). Skala HARS

merupakan salah satu alat ukur untuk menilai tingkat kecemasan, yang

didasarkan pada munculnya symptoms pada individu yang mengalami

kecemasan. Menurut skala HARS yang dikutip Nursalam (2013), penilaian

kecemasan terdiri dari 14 item pertanyaan. Adapun cara penilaiannya adalah

setiap item yang diobservasi diberi 4 tingkat skor, yaitu antara 1 sampai

dengan 4, dengan kategori sebagai berikut: 1 : Satu dari gejala yang ada 2 :

Sedang/ separuh dari gejala yang ada 3 : Berat lebih dari separuh gejala yang

ada 4 : Sangat berat semua gejala ada Penentuan derajat kecemasan dilakukan

dengan cara menunjukkan nilai skor dan 14 item sebagai berikut Nursalam

(2013):

No Skor Penilaian
1 14 Tidak ada kecemasan
2 14 – 20 Kecemasan ringan
3 21 – 27 Kecemasan sedang
4 28 – 41 Kecemasan berat
5 42 - 56 Kecemasan berat sekali

G. Etika Penelitian

1. Lembar persetujuan ( Informed Consent)

Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan

responden. Tujuannya adalah agar subjek penelitian mengerti maksud atau

tujuan peneliti, mengetahui dampaknya. Jika subjek bersedia maka mereka

harus menandatangani lembar persetujuan, jika tidak bersedia, maka peneliti

harus menghormati hak dari subjek penelitian.

2. Tanpa nama (Anonimity)

32
Anonimity merupakan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian

dengan cara tidak perlu mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data.

Peneliti hanya memberikan kode pada lembar pengumpulan data tersebut.

3. Kerahasiaan (Confidentiality)

Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh

peneliti, hanya sekelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil

penelitian.

4. Menghormati keadilan dan Inklusivitas (Respect for justice

inclusiveness)

Penelitian ini dilakukan secara jujur, tepat dan hati-hati. Peneliti juga

memberikan keuntungan dan beban merata sesuai dengan kemampuan dan

kebutuhan subjek.

5. Balancing Harms and benefits

Peneliti memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan dalam

melakukan penelitian.

H. Metode Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data primer yang di ambil adalah data mengenai rata – rata tingkat

kecemasan pasien haemodialisa. Alat yang digunakan adalah lembar

observasi pengukuran tingkat kecemasan Hamilton.

2. Data sekunder

Data dari rekam medik RSUD Sawahlunto mengenai jumlah pasien

Haemodialisa di RSUD Sawahlunto.

33
I. Teknik Analisa Data

a. Analisa Univariat

Analisa ini dilakukan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik setiap variabel penelitian, yang disajikan dalam bentuk

statistik deskriptif meliputi mean, minimal-maksimal dan standar

deviasi (Notoatmodjo, 2015).

b. Analisa Bivariat

Analisis data dilakukan untuk mengetahui pengaruh relaksasi

dzikir pada kecemasan pasien yang menjalani haemodialisa.

Sebelumnya dilakukan uji normalitas menggunakan uji shapiro wilk,

karena < 50. Jika hasil uji normalitas diperoleh p < 0,05 artinya data

tidak terdistribusi normal, maka analisis bivariat menggunakan uji

wilcoxon. Sebaliknya jika hasil uji normalitas diperoleh p > 0,05 artinya

data terdistribusi normal, sehingga analisis bivariat menggunakan t-test

dependent. Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan penurunan nyeri

antara pretest dan postest, jika data terdistribusi normal digunakan uji t-

independen dan jika data tidak terdistribusi normal digunakan uji mann

withney. Untuk mengetahui diterima dan ditolaknya hipotesa sesuai

dengan signifikasi yang ditetapkan yaitu menggunakan interval

kepercayaan 0.05. Hipotesa alternatif diterima jika probabilitas < 0,05

dan Hipotesa alternatif ditolak jika nilai probabilitas > 0,05 (Steen,

2015).

34
35
Lampiran 1

CURICULUM VITAE

Nama Mahasiswa : Sri Hartuti

Tempat / Tanggal Lahir : Sikalang / 20 Juli 1984

Alamat : Desa Sikalang Kecamatan Talawi Kota


Sawahlunto

Agama : Islam

Nama Orang Tua

Ayah : Sutoto

Ibu : Yatimah

Anak Ke : 2 (dua)

Jumlah Saudara : 4 (empat)

Riwayat Pendidikan

SD : SDN 16 Sikalang (1990-1996)

SMP : SMP N 02 Sapan ( 1996-1999)

SMA : SMA N 02 Sawahlunto (1999-2002)

AKPER : AKPER Ranah Minang (2002-2005)

Perguruan Tinggi : STIKes Yarsi Sumbar Bukittinggi Jurusan Ilmu


Keperawatan (2020 – sekarang)
Lampiran 2

LEMBAR KONSULTASI SKRIPSI

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN STIKES YARSI SUMBAR


BUKITTINGGI TAHUN AJARAN 2020/2021

Nama Mahasiswa : SRI HARTUTI

NIM : 1912142010230

Pembimbing 1 : Ns. Yossi Fitrina, [Link], [Link]

Judul Penelitian : Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan


Pasien Yang Menjalani Haemodialisa Di RSUD
Sawahlunto Tahun 2021

No Hari/Tanggal Materi Bimbingan Tanda Tangan


.

1. Selasa, 06 April 2021 Pengajuan Judul

2. Selasa, 13 April 2021 ACC Judul

3. Jum’at, 07 Mei 2021 Konsul BAB I dan BAB II

4. Jum’at, 17 Juni 2021 Konsul BAB I sampai BAB IV

5. Kamis, 24 Juni 2021 ACC Ujian Proposal

LEMBAR KONSULTASI SKRIPSI


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN STIKES YARSI SUMBAR
BUKITTINGGI TAHUN AJARAN 2020/2021

Nama Mahasiswa : SRI HARTUTI

NIM : 1912142010230

Pembimbing 2 : Ns. Aulia Putri, [Link], [Link]

Judul Penelitian : Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan


Pasien Yang Menjalani Haemodialisa Di RSUD
Sawahlunto Tahun 2021

No Hari/Tanggal Materi Bimbingan Tanda Tangan


.

1. Selasa, 06 April 2021 Pengajuan Judul

2. Selasa, 13 April 2021 ACC Judul

3. Jum’at, 07 Mei 2021 Konsul BAB I dan BAB II

4. Jum’at, 17 Juni 2021 Konsul BAB I sampai BAB IV

5. Kamis, 24 Juni 2021 ACC Ujian Proposal

Lampiran 3

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN


Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Sri Hartuti


Nim : 1912142010230
Pekerjaan : Mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKes Yarsi
Sumatera Barat
Alamat : Desa Sikalang Kecamatan Talawi Kota
Sawahlunto

Yth. Calon Responden Penelitian


Di Tempat
Dengan Hormat,
Saya Mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan Program Studi Ilmu
Keperawatan STIKes Yarsi Bukittinggi, bahwa saya mengadakan penelitian ini
untuk menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan Program Studi Ilmu
Keperawatan STIKes Yarsi Bukittinggi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui “Pengaruh Relaksasi
Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Yang Menjalani
Haemodialisa Di RSUD Sawahlunto Tahun 2021”. Sehubungan dengan hal di
atas saya mengharapkan kesediaan Anda sebagai responden dalam penelitian ini.
Identitas dan informasi yang Anda berikan digunakan untuk mengembangkan
ilmu keperawatan dan tidak digunakan untuk maksud tertentu. Selanjutnya atas
kesediaannya, Anda dapat menandatangani lembar persetujuan.
Demikian permohonan, atas perhatian dan kesediaannya saya ucapkan
terima kasih
Hormat Saya,

SRI HARTUTI
Nim. 1912142010230

Lampiran 4
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Judul penelitian : Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat


Kecemasan Pasien Yang Menjalani Haemodialisa
Di RSUD Sawahlunto Tahun 2021
Peneliti : Sri Hartuti
NIM : 1912142010230
Saya bersedia menjadi responden pada penelitian. Saya mengerti bahwa
saya menjadi bagian dari penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui
Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Yang
Menjalani Haemodialisa Di RSUD Sawahlunto Tahun 2021. Saya telah
diberitahukan bahwa partisipasi ini tidak merugikan dan saya mengerti bahwa
tujuan dari penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi saya maupun bagi
masyarakat khususnya bidang kesehatan.
Demikian secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari siapapun saya
bersedia berperan serta dalam penelitian ini.

Sawahlunto

.............................

Lampiran 5
LEMBAR OBSERVASI

PENGARUH RELAKSASI DZIKIR TERHADAP TINGKAT


KECEMASAN PASIEN YANG MENJALANI
HAEMODIALISA DI RSUD SAWAHLUNTO
TAHUN 2021

A. HASIL OBSERVASI

No Nama Pasien Kecemasan Kecemasan Keterangan


Pretest Postest

B. HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS)


Nomor Responden :

Nama Responden :

Tanggal Pemeriksaan :

Skor : 0 = tidak ada


1 = ringan
2 = sedang
3 = berat
4 = berat sekali

Total Skor : kurang dari 14 = tidak ada kecemasan


14 – 20 = kecemasan ringan
21 – 27 = kecemasan sedang
28 – 41 = kecemasan berat
42 – 56 = kecemasan berat sekali

No Pertanyaan 0 1 2 3 4
1 Perasaan Cemas
- Cemas
- Firasat Buruk
- Takut Akan Pikiran Sendiri
- Mudah Tersinggung
2 Ketegangan
- Merasa Tegang
- Lesu
- Tak Bisa Istirahat Tenang
- Mudah Terkejut
- Mudah Menangis
- Gemetar
- Gelisah
3 Ketakutan
- Pada Gelap
- Pada Orang Asing
- Ditinggal Sendiri
- Pada Binatang Besar
- Pada Keramaian Lalu Lintas
- Pada Kerumunan Orang Banyak
4 Gangguan Tidur
- Sukar Masuk Tidur
- Terbangun Malam Hari
- Tidak Nyenyak
- Bangun dengan Lesu
- Banyak Mimpi-Mimpi
- Mimpi Buruk
- Mimpi Menakutkan
5 Gangguan Kecerdasan
- Sukar Konsentrasi
- Daya Ingat Buruk
6 Perasaan Depresi
- Hilangnya Minat
- Berkurangnya Kesenangan Pada Hobi
- Sedih
- Bangun Dini Hari
- Perasaan Berubah-Ubah Sepanjang Hari
7 Gejala Otot
- Sakit dan Nyeri di Otot-Otot
- Kaku
- Kedutan Otot
- Gigi Gemerutuk
- Suara Tidak Stabil

8 Gejala Syaraf
- Tinitus (Telinga berdenging)
- Penglihatan Kabur
- Muka Merah atau Pucat
- Merasa Lemah
- Perasaan ditusuk-Tusuk
9 Gejala Jantung dan Pembuluh Darah
- Nadi cepat
- Berdebar
- Nyeri di Dada
- Denyut Nadi Mengeras
- Perasaan Lesu/Lemas Seperti Mau Pingsan
- Detak Jantung Menghilang
(Berhenti Sekejap)
10 Gejala Pernafasan
- Rasa Tertekan atau Sempit Di Dada
- Perasaan Tercekik
- Sering Menarik Napas
- Napas Pendek/Sesak
11 Gejala Pencernaan
- Sulit Menelan
- Perut Melilit
- Gangguan Pencernaan
- Nyeri Sebelum dan Sesudah Makan
- Perasaan Terbakar di Perut
- Rasa Penuh atau Kembung
- Mual
- Muntah
- Buang Air Besar Lembek
- Kehilangan Berat Badan
- Sukar Buang Air Besar (Konstipasi)
12 Gejala Perkemihan
- Sering Buang Air Kecil
- Tidak Dapat Menahan Air Seni
- Tidak ada menstruasi
- HAID
- Menjadi Dingin (Frigid)
- Ejakulasi Dini
- Ereksi Hilang
- Impotensi
13 Gejala Otonom
- Mulut Kering
- Muka Merah
- Mudah Berkeringat
- Pusing, Sakit Kepala
- Bulu-Bulu Berdiri
14 Tingkah Laku Pada Wawancara
- Gelisah
- Tidak Tenang
- Jari Gemetar
- Kerut Kening
- Muka Tegang
- Tonus Otot Meningkat
- Napas Pendek dan Cepat
- Muka Merah

Total skor :

Anda mungkin juga menyukai