0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan6 halaman

Kemampuan Adaptasi Positif Melalui Resiliensi: Innovative Counseling

Diunggah oleh

Hans Sss
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan6 halaman

Kemampuan Adaptasi Positif Melalui Resiliensi: Innovative Counseling

Diunggah oleh

Hans Sss
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Journal of Innovative Counseling : Theory, Practice & Research (2019), 3(2), pp.

70–75
Program Studi Bimbingan dan Konseling | Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan | INNOVATIVE
Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) COUNSELING
ISSN (Print): 2548-3226

Kemampuan Adaptasi Positif Melalui Resiliensi

Intan Mutiara Mir’atannisa1), Nandang Rusmana2), Nandang Budiman3)


*)
Universitas Pendidikan Indonesia
 (e-mail) intanmiratannisa@[Link], nandangrusmana@[Link], [Link]@[Link]

Abstract. The purpose of this study is to understand how important resilience as positif
adaptation. This paper focuses on describing resilience, especially about definition, dimention,
factor, and instrument resilience. There are four dimentions that can help people to build
resilience. These four dimention are determination, endurance, adaptability, and recuperability.
Resilience is influenced by individual, family, and social environmental factors. The results of
this study can use to become a reference for the future researchers.

Keywords : Multicultural Sensitivity, Counselor, Counseling Service

Rekomendasi Citasi: Mir’atannisa, Rusmana & Budiman. (2019). Kemampuan Adaptasi Positif Melalui Resiliensi.
Journal of Innovative Counseling : Theory, Practice & Research, 3 (2): pp. 70-76

Article History: Received on 04/25/2019; Revised on 05/30/2019; Accepted on 06/03/2019; Published Online:
08/28/2019. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which
permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.
© 2019 Journal of Innovative Counseling : Theory, Practice & Research

Pendahuluan individu bangkit kembali dari kesulitan


dan berhasil beradaptasi dengan tuntutan
Setiap individu mempunyai kesulitan
situasi yang penuh tekanan. Fuster
masing-masing dalam hidupnya.
(2014) mengungkapkan bahwa individu
Kesulitan yang dialami oleh individu
yang memiliki resiliensi menganggap
beragam, misalnya orang tua yang tidak
kesulitan sebagai tantangan, bukan
lengkap, kemiskinan, tunawisma,
sebagai ancaman.
peristiwa traumatis, bencana alam,
kekerasan, perang, penyakit fisik, dan Sejalan dengan yang diungkapkan
lain-lain (Herrman, 2011). Berbagai Fuster, Hersberger (2012) menyatakan
kesulitan yang dialami akan direspon bahwa sebesar apapun tingkat kesulitan
secara berbeda oleh masing-masing yang dialami individu yang tangguh
individu. Individu yang tidak dapat tidak akan berpengaruh besar pada
merima kesulitan yang dialami dapat kehidupan yang dijalani. Berbeda
memperoleh kekecewaan serta dengan individu yang memiliki resiliensi
pengalaman yang tidak menyenangkan rendah, berdasarkan penelitian yang
dalam hidupnya. dilakukan oleh Suwarjo (2008) bahwa
individu dengan tingkat resiliensi rendah
Fuster (2014) mengungkapkan
tidak dapat menilai, mengatasi, dan
bahwa kekecewaan yang dialami dapat
melumpuhkan apabila individu meningkatkan diri ataupun mengubah
dirinya dari keterpurukan atau
membiarkan dirinya secara emosional
kesengsaraan dalam hidup. Selain itu,
ditaklukan oleh kekalahan. Perlu adanya
Desmita (2013, hlm. 227)
bantuan resiliensi untuk membantu
mengungkapkan bahwa tanpa adanya

70
Kemampuan Adaptasi Positif Melalui Resiliensi Mir’atannisa, dkk

resiliensi tidak akan ada keberanian, kecacatan, mobilisasi sumber daya,


ketekunan, tidak ada rasionalitas, serta bersatu, serta lebih dekat sebagai
tidak ada insight. Resiliensi sangatlah keluarga, menemukan apresiasi yang
dibutuhkan agar individu dapat lebih besar terhadap kehidupan secara
merespon masalah yang dialaminya umum dan orang lain secara spesifik,
secara lebih positif sehingga individu serta memperoleh kekuatan rohani.
dapat bertahan dengan kondisi sulit yang Resiliensi juga dapat digunakan
diaminya, bangkit kembali, dan sebagai intervensi dalam menangani
memiliki sikap yang positif. kasus bullying. Penelitian yang
Resiliensi merupakan suatu hal yang dilakukan oleh Narayanan dan Betts
penting serta memiliki berbagai manfaat (2014) dengan judul Bullying Behaviors
dalam kehidupan, ditandai dengan and Victimization Experiences Among
berbagai pengembangan penelitian Adolescent Students: The Role of
terkait resiliensi. Penelitian yang Resilience meneliti tentang peran
berhubungan dengan kesehatan mental resiliensi dalam hubungan antara
di antaranya meningkatkan resiliensi perilaku bullying, pengalaman
pada mahasiswa gangguan kejiwaan viktimisasi, dan self-efficacy. Temuan
(Hartley, 2010) dan berhubungan dengan penelitian ini memiliki implikasi guna
stres pada remaja (Romeo, 2015). merancang program intervensi untuk
Penelitian lain memfokuskan pada meningkatkan resiliensi di kalangan
bidang akademik di antaranya resiliensi remaja dan dewasa muda untuk
pada dunia kesehatan (Zimmerman, memungkinkan mereka mengelola
2005), meliputi juga resiliensi pada perilaku bullying.
remaja yang mengalami kanker Resiliensi juga mempunyai peran
(Woodgate, 1999), resiliensi pada yang penting dalam bidang akademik.
keluarga yang memiliki anak autis Penelitian yang dilakukan oleh Martin
(Bayat, 2007), serta faktor resiliensi pada (2002) tentang Motivation and academic
remaja (Jiamei, 2011). Selain itu juga resilience: Developing a model for
terdapat penelitian terkait resiliensi student enhancement yang mana
sebagai intervensi pada remaja dengan mengeksplorasi model motivasi serta
tingkat kecanduan internet yang tinggi memperkenalkan model resiliensi
(Wisniewski, dkk, 2015). akademik. Motivasi merupakan hal yang
Pentingnya resiliensi juga dapat sangat penting bagi keberhasilan
terlihat berdasarkan penelitian terdahulu akademik, akan tetapi hal tersebut dapat
yang dilakukan oleh Bayat (2007) yang hilang apabila siswa tidak tahan terhadap
berjudul “Evidence of resilience in tantangan, tekanan belajar, dan tekanan
families of children with autism” bahwa yang ada di sekolah. Oleh karena itu
resiliensi dalam keluarga merupakan penting sekali siswa memiliki motivasi
salah satu faktor yang berkontribusi agar dan ketahanan terhadap tekanan
dapat menjadi lebih kuat meskipun akademis. Siswa yang tidak memiliki
sedang menghadapi sebuah kesulitan. resiliensi akademik dapat beresiko ada
Keluarga yang memiliki anak autisme pada kemunduran, stres, atau tekanan di
memiliki berbagai tantangan, akan tetapi sekolah. Penelitian ini digunakan untuk
dapat diatasi melalui resiliensi. Proses membantu para siswa yang
resiliensi yang dilakukan keluarga dalam membutuhkan bantuan dalam
penelitian ini yaitu melalui cara mempertahankan kekuatan motivasi dan
membuat makna yang positif dari suatu resiliensi dalam bidang akademik.

71
JOURNAL OF INNOVATIVE COUNSELING : THEORY, PRACTICE & RESEARCH
Vol.3, No.2, Agustus 2019
Available online: [Link] Mir’atannisa, dkk

Penelitian yang dilakukan oleh mengarah pada masalah psikososial


Reivich & Shatte (2002, hlm. 11) selama kepada identifikasi kekuatan individu
kurang lebih 15 tahun pada Universitas (Richardson, 2002). Dorongan penelitian
Pennsylvania mengungkapkan bahwa awal yang menguji resiliensi adalah
resiliensi memegang peranan penting mencari faktor-faktor yang melindungi
dalam hidup individu, yang mana individu dari stres yang dihadapi. Selain
resiliensi merupakan hal yang esensial itu, juga digunakan untuk membedakan
bagi kesuksesan dan kebahagiaan. individu yang dapat beradaptasi dengan
Secara lebih spesifik, Reivich & Shatte keadaan dan yang menyerah pada
(2002, hlm. 1) juga mengungkapkan tuntutan. Sejak awal 1990-an, fokus
bahwa lebih dari lima puluh tahun penelitian resiliensi telah bergeser dari
penelitian ilmiah telah dengan kuat mengidentifikasi faktor protektif untuk
menunjukkan bahwa resiliensi adalah memahami proses sejauh mana individu
kunci keberhasilan di tempat kerja dan dapat mengatasi kesulitan yang dialami
kepuasan dalam hidup. (Fletcher & Sarkar, 2013).
Istilah resiliensi pertama kali
Berdasarkan penjelasan di atas, maka
dirumuskan oleh Jack and Jeanne Block
resiliensi sangatlah dibutuhkan dalam
yang disebut sebagai ego resiliensi
kehidupan setiap individu. Oleh karena
(Klohnen, 1996). Block (dalam Klohnen,
itu, perlu pembahasan secara lebih lanjut
1996) mengungkapan bahwa ego
terkait konsep dan sumber resiliensi.
resilensi merupakan kemampuan
Pembahasan adaptasi yang tinggi dan fleksibel ketika
1. Definisi Resiliensi dihadapkan pada tekanan internal
Resiliensi merupakan sebuah ataupun eksternal. Sejalan dengan yang
konsep yang relatif baru dalam ranah disampaikan Block, Masten (2006)
psikologi. Paradigma resiliensi didasari mengungkapkan bahwa resiliensi
adanya pandangan kontemporer dari merupakan payung konseptual yang
lapangan psikiatri, psikologi dan mencakup banyak konsep terkait dengan
sosiologi, mengenai anak, remaja dan pola adaptasi positif dalam hal
individu dewasa yang dapat bangkit kemampuan individu dalam mengatasi
kembali serta bertahan dari kondisi kesulitan hidup.
stress, trauma, dan resiko dalam Resiliensi mengacu pada
kehidupannya. Beberapa studi dalam kemampuan mengatasi dan adaptasi
bidang resiliensi menolak pandangan yang efektif meskipun dihadapkan pada
yang menganggap bahwa stress dan kehilangan, kesulitan ataupun
resiko (termasuk penyimpangan, kesengsaraan (Tugade & Fredikson,
kerugian, kesalahan atau tekanan- 2004). Winder (2006, hlm. 8)
tekanan hidup lainnya) merupakan mengungkapkan bahwa resiliensi dapat
musibah yang tidak dapat dihindari didefinisikan sebagai kemampuan
sehingga menyebabkan berkembangnya individu untuk bangkit kembali dari
penderitaan dalam lingkaran keterpurukan dan menghadapi tantangan
kemiskinan, penyimpangan, kekerasan baru. Sejalan dengan Winder, Davydov
atau kegagalan dalam pendidikan dkk (2010) mengemukakan bahwa
(Desmita, 2006, hlm. 198). resiliensi dapat dilihat sebagai
Penelitian awal yang menguji mekanisme pertahanan, yang
resiliensi dalam bidang psikologi memungkinkan individu untuk
mencerminkan pergeseran paradigma berkembang dalam menghadapi
dari mencari faktor-faktor risiko yang kesulitan. Menurut Herrman (2011)

72
Kemampuan Adaptasi Positif Melalui Resiliensi Mir’atannisa, dkk

resiliensi mengacu pada adaptasi positif, komponen ini mencerminkan dimensi


atau kemampuan untuk sadar atau kognitif dari resiliensi
mempertahankan atau mendapatkan individu. Endurance didefinisikan
kembali kesehatan mental, meskipun sebagai kekuatan dan ketabahan pribadi
mengalami kesulitan. yang dimiliki individu untuk menahan
situasi yang tidak menyenangkan atau
Definisi lain mengenai resiliensi sulit tanpa menyerah. Adaptability
yaitu proses dinamis dimana individu didefinisikan sebagai kapasitas untuk
menampilkan kemampuan adaptif yang menjadi fleksibel serta memiliki banyak
positif meskipun mengalami trauma akal, untuk mengatasi lingkungan yang
ataupun kesulitan yang signifikan. buruk dan menyesuaikan diri dengan
Resiliensi dapat digunakan sebagai kondisi yang berubah. Recuperability
ukuran kemampuan untuk mengatasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk
stres. Resiliensi berguna dan bersumber memulihkan secara fisik dan kognitif,
dari dalam diri individu, kehidupan dari berbagai jenis bahaya, kemunduran,
mereka, dan lingkungan sekitar yang atau kesulitan untuk kembali dan
memfasilitasi kapasitas ini untuk membangun kembali kondisi seperti
beradaptasi dan "memantul kembali" semula. Apabila empat dimensi tersebut
pada saat menghadapi kesulitan (Windle, dimiliki oleh setiap individu, maka
Bennert, & Noyes, 2011). resiliensi dapat ditingkatkan dengan
Berdasarkan pengertian menurut memperkuat salah satu atau semua
beberapa ahli di atas dapat disimpulkan karakteristik resiliensi tersebut.
bahwa resiliensi merupakan kemampuan
adaptasi positif untuk membantu
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
individu mengatasi kesulitan,
Resiliensi
kehilangan, atau kesengsaraan dalam Faktor-faktor yang mempengaruhi
hidup, serta mampu bangkit kembali, resiliensi menurut Barankin & Khanlou
berkembang, dan dapat menghadapi (dalam Khanlou & Wray, 2014) di
tantangan yang baru. antaranya yaitu faktor individual, faktor
keluarga, dan faktor lingkungan sosial.
2. Dimensi Resiliensi a. Faktor individual
Resiliensi individu pada masa Faktor individu memerlukan suatu
dewasa dapat dikembangkan karakter, kekuatan belajar, konsep
berdasarkan dimensi-diemsi resiliensi diri, emosi, cara berpikir,
yang ada. Taormina (2015) mengatakan keterampilan adaptif, dan
bahwa terdapat empat dimensi resiliensi keterampilan sosial. Kombinasi dari
pada individu yang berada pada masa setiap sifat individu dan pengalaman
dewasa yaitu Determination, Endurance, belajar yang diperoleh melalui
Adaptability, dan Recuperability. Untuk interaksi dan peluang yang diberikan
membangun sebuah resiliensi pada oleh keluarga, sekolah, dan
pribadi orang dewasa, perlu juga untuk masyarakat membantu membentuk
menentukan empat komponen dan resiliensi individu. Selain itu,
menguraikan pada sifat mereka resiliensi individu juga dapat
khususnya karakteristik pribadi masing- terbentuk melalui keberhasilan
masing individu. transisi dari setiap fase
Determination didefinisikan sebagai perkembangan.
kekuatan dan keteguhan tujuan yang b. Faktor keluarga
dimiliki individu dan keputusan untuk
bertahan atau berhasil, yang mana

73
JOURNAL OF INNOVATIVE COUNSELING : THEORY, PRACTICE & RESEARCH
Vol.3, No.2, Agustus 2019
Available online: [Link] Mir’atannisa, dkk

Kekuatan yang dimiliki oleh setiap Resilience Scale, Ego Resilience, The
keluarga dan tantangan yang Dispositional Resilience Scale (1), Youth
dihadapinya akan selalu berubah Resiliency: Assessing Developmental
seiring waktu. Faktor keluarga Strengths, The Dispositional Resilience
memiliki keterkaitan dengan faktor Scale (2), The Child and Youth
individu dan dipengaruhi oleh faktor- Resilience Measure (CYRM), California
faktor lingkungan, yang mana akan healthy Kids Survey - The Resilience
berdampak pada resiliensi masing- Scale of the Student Survey, dan Ego
masing anggota keluarga dan Resilience (Bromley).
keluarga secara keseluruhan. Faktor Berdasarkan lima belas instrumen
keluarga mencakup kasih sayang, yang telah di review dalam penelitian
komunikasi, hubungan orangtua, pola Windle, dkk (2011) tersebut didapatkan
asuh, dan dukungan di luar keluarga. empat instrumen psikometrik terbaik. Ke
c. Faktor lingkungan sosial empat instrumen psikometrik
Faktor lingkungan sosial berdasarkan peringkat terbaik yaitu
mempengaruhi faktor resiliensi Connor-Davidson Resilience Scale, the
individu dan keluarga. Faktor Resilience Scale for Adults, dan the Brief
lingkungan sosial di antaranya Resilience Scale. Hal tersebut dilihat
terdapat gagasan keadilan terkait berdasarkan kecukupan konseptual dan
kesempatan, keadilan sosial, dan teoritis dari sejumlah sekala yang
saling menghormati untuk semua dipertanyakan (Windle, dkk, 2011).
melalui praktik, kebijakan, dan
hukum (Barankin dan Khanlou 2007).
Faktor lingkungan sosial memerlukan Simpulan
kondisi sosial serta keterlibatan Resiliensi merupakan suatu hal yang
individu dalam lingkungan sosialnya. penting untuk dimiliki setiap individu.
Resiliensi digunakan sebagai
4. Instrumen Resiliensi kemampuan adaptasi positif untuk
Resiliensi dapat diukur membantu individu bertahan, mengatasi,
menggunakan berbagai macam menjadi kuat, bahkan berubah dan dapat
instrumen. Windle, dkk. (2011) dalam berkembang walau dalam keadaan sulit.
penelitiannya yang berjudul A Resiliensi terdiri dari empat dimensi di
methodological review of resilience antaranya terdapat determination,
measurement scales mereview lima endurance, adaptability, dan
belas instrumen mengenai resiliensi. recuperability. Berbagai faktor yang
Lima belas instrumen yang direview dapat mempengaruhi resiliensi di
di antaranya The Resilience Scale for antaranya faktor individual, faktor
Adults (RSA 37 item), The Connor- keluarga, dan faktor lingkungan sosial.
Davidson Resilience Scale (CD-RISC 25 Untuk mengetahui resiliensi individu
item), The Brief Resilience Scale, The dapat diukur menggunakan berbagai
Resilience Scale for Adults (RSA 33 instrument resiliensi di antaranya CD-
item), Psychological Resilience, The RISC, the Resilience Scale for Adults,
Resilience Scale (RS), The ER 89, The dan the Brief Resilience Scale.
Connor-Davidson Resilience Scale (CD-
RISC 10 item), Resilience Scale for
Adolescents (READ), The Dispositional Referensi
Resilience Scale (3), The Resiliency
Attitudes and Skills Profile, Adolescent Davydov, dkk. (2010). Resilience and
mental health. Clinical

74
Kemampuan Adaptasi Positif Melalui Resiliensi Mir’atannisa, dkk

Psychology Review. 30 (5), 479- Inevitable Obstacles. New York :


95. doi: Broadway Books.
10.1016/[Link].2010.03.003 Suwarjo. (2008). Konseling Teman
Sebaya untuk Peningkatan
Desmita. (2013). Psikologi Resiliensi Remaja (Pemanfaatan
Perkembangan Peserta Didik. Interaksi Remaja dalam Layanan
Bandung: PT Remaja Bimbingan dan Konseling di SLTP
Rosdakarya. dan SLTA). [Link]:
Fletcher, D., & Sarkar, M. (2013). Universitas Negeri Yogyakarta.
Psychological resilience: A Taormina, Robert J. (2015). Adult
review and critique of definitions, Personal Resilience: A New
concepts, and theory. European Theory , New Measure, and
Psychologist, 18(1), 12-23. doi : Practical Implications.
10.1027/1016-9040/a000124. Psychological Thought, 8 (1), 35–
46. doi: 10.1111/nin.12067.
Fuster, Valentin. (2014). The Power of Tugade, M. M., & Fredrickson, B. L.
Resilience. Journal of the (2004). Resilient individuals use
american College Of Cardiology, positive emotions to bounce back
64 (8), 840-842. doi: from negative emotional
10.1016/[Link].2014.07.013. experiences. Journal of
Herrman, Helen,. dkk. (2011). What Is Personality and Social
Resilience?. La Revue canadienne Psychology. 86, 320-333. doi:
de psychiatrie, 56 (5), 258-265. 10.1037/0022-3514.86.2.320.
doi: Windle, G., Bennert, K.M., & Noyes, J.
10.1177/070674371105600504 (2011). A methodological review
of resilience measurement scales.
Hersberger, J. (2012). Resilience theory,
Health and Quality of Life
information behaviour and social
Outcomes, 9:8. doi: 10.1186/1477-
support in everyday life. Advances
7525-9-8
in Experimental Psychology, 31
Woodgate, RL. (1999). Conceptual
(2), 1-77.
Understanding of Resilience in the
Klohnen, E.C. (1996). Conseptual Adolescent With Cancer: Part I.
Analysis and Measurement of The Journal of Pedriatic Oncology
Construct of Ego Resilience. Nursing, 16 (1), 35-43. doi:
Journal of Personality and Social 10.1177/104345429901600105.
Psychology, 70 (5), 1067-1079.
doi: 10.1037/0022-
3514.70.5.1067.
Masten. (2001). Ordinary Magic:
Resilience Processes in
Development. America
Psichologist, 56 (3), 227-238. doi:
10.1037/0003-066X.56.3.227.
Reivich, K. & Shatte, A. (2002). The
Resilience Factor: 7 Essential
Skills for Overcoming Life’s

75

Anda mungkin juga menyukai