Pemahaman Dasar tentang SEM
Pemahaman Dasar tentang SEM
1. Pengertian SEM
Wijanto, S. H. (2008: 6) dari segi metodologi berpendapat bahwa “Structural Equation
Modeling (SEM) memainkan berbagai peran diantaranya, sebagai sistem persamaan simultan,
analisis kausal linier, analisis lintasan (path analysis), analysis of covariance structure, dan
model persamaan struktural. Menurut Riadi, E. (2018: 3) SEM adalah kumpulan prosedur
statistik yang menjelaskan mengenai fondasi yang mendasari hubungan yang mengatur
matriks covariances antara variabel yang diamati. Ghozali & Fuad (2008: 3) menyatakan
bahwa “Model persamaan struktural (Structural Equation Modeling) adalah generasi kedua
dari teknik analisis multivariat yang memungkinkan peneliti untuk menguji hubungan antara
variabel yang kompleks baik recursive maupun nonrecursive untuk memperoleh gambaran
menyeluruh mengenai keseluruhan model. Latan, H. (2013: 5) mendefinisikan bahwa model
persamaan struktural (Structural Equation Modeling) merupakan suatu teknik analisis
multivariate generasi kedua yang menggabungkan antara analisis faktor dan analisis jalur
sehingga memungkinkan peneliti untuk menguji dan mengestimasi secara simultan hubungan
antara multiple exogenous dan endogenous variable dengan banyak indikator ”.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Structural Equation Modeling
(SEM) adalah suatu metode analisis multivariat yang menggabungkan antara analisis faktor
dan analisis jalur (path analysis) sehingga dapat digunakan untuk menggambarkan hubungan
keterkaitan secara simultan antara variabel teramati (observed variable) atau variable terukur
(measured variable) dengan variabel laten (latent variable) atau variabel tidak teramati
(unobservated variable).
2. Kelebihan SEM
Terdapat beberapa kelebihan SEM dalam penelitian menurut Latan, H. (2013: 7)
diantaranya:
a. Dapat membangun model penelitian dengan banyak variabel;
b. Mampu meneliti variabel atau konstruk yang tidak dapat diamati atau tidak dapat diukur
secara langsung (unobserved variables);
c. Mengonfirmasi teori sesuai data penelitian;
d. Menguji kesalahan pengukuran (meansurement error) untuk variabel yang teramati
(observed variables).
Menurut Teo, Tsai, & Yang (2013: 4) SEM memiliki berberapa kelebihan jika
dibandingkan teknik multivariat lainnya yaitu:
a. SEM mengambil pendekatan confirmatory (CFA) dalam menentukan hubungan antar
variabel sedangkan teknik multivariat lainnya bersifat deskriptif misalnya analisis faktor
eksplorasi (EFA) sehingga pengujian hipotesis sulit dilakukan.
b. SEM mampu mengestimasi secara eksplisit kesalahan varians parameter, sedangkan
teknik multivariat lain tidak mampu mengukur kesalahan pengukuran.
c. Prosedur SEM menggabungkan variabel yang tidak teramati (variabel laten) dan yang
diamati (indikator). Teknik multivariat lainnya hanya didasarkan pada pengukuran yang
diamati.
d. SEM mampu memodelkan hubungan multivariat, dan memperkirakan efek langsung
dan tidak langsung dari variabel yang diteliti.
3. Kelemahan SEM
Terdapat juga beberapa kelemahan SEM menurut Hidayati (2018) diantaranya:
a. SEM tidak digunakan untuk menghasilkan model tetapi digunakan untuk mengkonfirmasi
suatu bentuk model.
b. Hubungan kausalitas diantara variabel tidak ditentukan oleh SEM, tetapi dibangun oleh
teori yang mendukungnya.
c. SEM tidak digunakan untuk menyatakan suatu hubungan kausalitas, tetapi untuk
menerima atau menolak hubungan sebab akibat secara teoritis melalui uji data empiris.
Eksogen Endogen
(𝜉) (𝜂)
2) Variabel Teramati
Variabel teramati (observed variable) atau variabel terukur (measured variabel,
disingkat MV) merupakan variabel yang dapat diamati atau dapat dapat diukur secara empiris
dan sering juga disebut sebagai indikator. Variabel ini merupakan efek atau ukuran dari
variabel laten. Variabel ini merupakan efek atau ukuran dari variabel laten eksogen yang
diberi simbol X sedangkan yang terkait dengan variabel laten endogen diberi simbol Y.
Simbol diagram lintasan dari variabel teramati adalah berupa bujursangkar/ kotak atau
persegi panjang.
X Y
BETA31 (𝛽31 )
𝜙21 (𝜂2 )
GAMMA12
2) Model Pengukuran
Model pengukuran merupakan bagian dari suatu model SEM yang biasanya
mempunyai beberapa ukuran dengan variabel-variabel laten dan indikator-indikatornya.
Hubungan dalam model ini dilakukan lewat model analisis faktor konfirmatori atau
confirmatory factor analysis (CFA) dimana terdapat kovarian yang tidak terukur antara
masing-masing pasangan variabel-variabel yang memungkinkan. Model pengukuran ini
dievaluasi sebagaimana model SEM lainnya dengan menggunakan pengukuran uji
keselarasan. Proses analisis ini hanya dapat dilanjutkan jika model pengukuran valid. Pada
model ini menghasilkan validitas konvergen (convergent validity).
𝑋1
LAMBDA 𝑋11 (𝜆𝑋11 )
ZETA 3(𝜁3 )
Gambar 6 Kesalahan Struktural
Notasi matematik yang dapat dituliskan dari gambar 6 adalah sebagai berikut:
η1 = γ11 ξ1 + γ12 ξ2 + 𝜁1
η2 = β21 η1 + 𝜁2
η3 = β31 η1 + γ32 ξ2 + 𝜁3 (3)
2) Kesalahan Pengukuran
Kesalahan pengukuran disebabkan oleh variabel-variabel manifest yang tidak dapat
secara sempurna memprediksi variabel laten. Komponen kesalahan pengukuran yang terkait
dengan variabel manifest X (variabel manifest yang terkait dengan variabel laten eksogen)
diberi label 𝛿 (delta), sementara komponen kesalahan pengukuran yang terkait dengan
variabel Y (variabel manifest yang terkait dengan variabel laten endogen) diberi label 𝜀
(epsilon). Contoh diagram lintasan untuk kesalahan pengukuran ditampilkan pada gambar 7
sebagai berikut:
DELTA1
𝑋1
(𝛿1 ) LAMBDA 𝑋11 (𝜆𝑋11 )
𝑋1 𝑋2 𝑋3 𝑌1 𝑌2 𝑌3 𝑌4 𝑌5 𝑌6 𝑌7
BETA31
𝜙21 (𝜂2 ) ZETA1 ZETA2
(𝛽31 )
GAMMA12 (𝜁1 ) (𝜁2 )
(𝛾12 )
ZETA3
KSI 2(𝜉2 ) ETA 3(𝜂3 )
GAMMA32 (𝜁3 )
(𝛾32 )
𝜆𝑋42 𝜆𝑋52 𝜆𝑦83 𝜆𝑦102
𝑋4 𝑋5 𝑌8 𝑌9 𝑌10
𝛿4 𝛿5 𝜀8 𝜀9 𝜀10
Pada tabel diatas terdapat 4 variabel laten (variabel buatan) dan 14 indikator (variabel
observasi), artinya di dalam angket yang akan disebarkan terdapat 14 butir pertanyaan,
dimana setiap pertanyaannya akan mewakili indikator-indikator tersebut. Dalam penelitian
ini, peneliti menggunakan angket dengan skala likert dengan skor 1 sampai 5.
ANALISIS CB-SEM
1. Spesifikasi model
Pada tahap ini, peneliti harus mendefinisikan konstruk yang diteliti dan
dimensionalitasnya. Kemudian menentukan arah kausalitas antar konstruk yang
menunjukkan hubungan yang telah dihipotesiskan, dan dalam pendefinisian hipotesis
haruslah dilandasi teori yang kuat (Latan, 2013). Dalam kasus ini, desain model
pengembangan yang digunakan oleh peneliti tersebut adalah hybrid model yang
merupakan kombinasi dari model pengukuran dan model structural. Diagram jalur
tersebut dapat di gambarkan pada gambar 9 sebagai berikut.
X1
X2 Y5
MO SB
X3 Y6
X4 Y7
Y1
Y8
Y2
KP KBK Y9
Y3
Y10
Y4
Besarnya degree of freedom (𝑑𝑓) pada SEM merupakan besarnya jumlah data yang
diketahui dikurangi jumlah parameter yang diestimasi (df = (jumlah data yang diketahui –
jumlah parameter yang diestimasi). Dalam SEM, peneliti berusaha memperoleh model
Just-identified model atau over-identified model sehingga nilai 𝑑𝑓 haruslah positif.
Dalam kasus ini, model tersebut dapat dilakukan identifikasi seperti berikut.
𝑛 × (𝑛 + 1) 14 × (14 + 1)
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖 = = = 105
2 2
Sehingga diperoleh
𝑑𝑓 = 105 − 37 = 68
Kemudian klik icon Run . Perhatikan pada Syntax Simplis, jika option belum
tertulis pada syntax, setelah baris Path Diagram tekan Enter tuliskan Options: SS
EF. Kemudian klik Run kembali. SS artinya request untuk mencetak standardized
solution dan EF artinya request untuk mencetak Total effect dan Indirrect effect.
Dengan menggunakan Simplis Project
Untuk mengaktifkan lembar kerja Simplis Project dapat dilakukan dengan cara
File New Simplis Project Ok. Maka akan memiliki tampilan sebagai
berikut.
Degrees of Freedom = 72
Minimum Fit Function Chi-Square = 77.06 (P = 0.32)
Normal Theory Weighted Least Squares Chi-Square = 77.59 (P = 0.31)
Estimated Non-centrality Parameter (NCP) = 5.59
90 Percent Confidence Interval for NCP = (0.0 ; 31.06)
Minimum Fit Function Value = 0.48
Population Discrepancy Function Value (F0) = 0.035
90 Percent Confidence Interval for F0 = (0.0 ; 0.20)
Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) = 0.022
90 Percent Confidence Interval for RMSEA = (0.0 ; 0.052)
P-Value for Test of Close Fit (RMSEA < 0.05) = 0.93
Dari output GOF dapat dilakukan analisis kecocokan model sebagai berikut.
RMR (Root Mean Nilai RMR harus ≤ RMR = 0.11 > Untuk RMR kurang fit
Square Residual) dan 0.05 dan SRMR 0.05 dan SRMR = sedangkan SRMR
SRMR (Standardized harus < 0.10 0.063 < 0.10 Good Fit
RMR)
Nilai 0.80 < GFI
GFI (Goodness of Fit dan AGFI < 0.9
GFI = 0.93 > 0.90
Index) dan AGFI adalah marginal fit
dan AGFI = 0.90 Good Fit
(Adjusted Goodness of dan GFI dan AGFI
> 0.80
Fit Index) yang > 0.9 adalah
good fit
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa model tersebut sudah banyak memenuhi
syarat kecocokan model, namun tetap ada syarat yang tidak dipenuhi. Maka dari itu dapat
disimpulkan bahwa model tersebut Marginal Fit.
2) Kecocokan Model Pengukuran
Menurut Wijanto (2008: 175) analisis validitas model pengukuran dapat dilakukan
dengan memeriksa nilai standardized loading factor (𝜆) dari variabel-variabel teramati
dalam model ≥ 0,50, sedangkan analisis reliabilitas dapat diperoleh dengan menghitung
construct reliability (CR) dan variance extracted (VE) dari nilai-nilai standardized
loading factor dan error variances. Reliabiltas model pengukuran dikatakan baik jika
𝐶𝑅 ≥ 0,70 dan 𝑉𝐸 ≥ 0,50.
Reliabilitas komposit suatu konstruk dihitung dengan
(Σ[Link])2
𝐶𝑜𝑛𝑠𝑡𝑟𝑢𝑐𝑡 𝑅𝑒𝑙𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = (Σ[Link])2 +Σ𝑒
𝑗
dimana nilai std. loading (standardized loadings) diperoleh secara langsung dari output
program LISREL8.8 dan 𝑒𝑗 adalah measurement error untuk setiap variabel teramati atau
indikator.
Ekstrak varian menunjukkan jumlah varian keseluruhan dalam indikator-indikator
yang dijelaskan variabel laten. Ukuran ekstrak varian dapat dihitung sebagai berikut
(Fornel & Larker, 1981):
Σstd.loading2
𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑐𝑒 𝐸𝑥𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡𝑒𝑑 = Σstd.loading2 +Σ𝑒
𝑗
Dimana 𝑁 adalah variabel teramati dari model pengukuran yang dikutip dari Hair,
[Link]. (1998), menyatakan bahwa sebuah konstruk mempunyai reliabilitas yang baik
adalah jika nilai 𝐶𝑜𝑛𝑠𝑡𝑟𝑢𝑐𝑡 𝑅𝑒𝑙𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 (𝐶𝑅) ≥ 0,70 dan nilai
𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑐𝑒 𝐸𝑥𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡𝑒𝑑 (𝑉𝐸) ≥ 0,50.
Analisis validitas dan reliabilitas diperoleh dari model pengukuran yang ditunjukkan
pada gambar 2. Analisis validitas dan reliabilitas dilakukan pada model pengukuran dapat
dilihat pada tabel 3 sebagai berikut
Dari tabel 3 di atas menunjukkan bahwa terdapat satu indikator yang tidak memenuhi
asumsi validitas yaitu 𝑌1 mengakibatkan KP tidak memenuhi asumsi reliabilitas, sehingga
𝑌1 harus di drop dan tidak boleh digunakan kembali sebagai indikator variabel laten KP.
5. Respesifikasi model
Pada uji kecocokan seluruh model, diketahui bahwa model dikatakan kurang fit oleh
sebab itu diperlukan respesifikasi supaya memperoleh model yang lebih baik. Karena dalam
uji kecocokan pengukuran ternyata variabel 𝑌1 tidak valid, maka dalam respesifikasi variabel
𝑌1 harus didrop dan tidak boleh digunakan sebagai indikator pada variabel laten KP.
Selanjutnya untuk meningkatkan kecocokan seluruh model dapat menggunakan saran dari
modification indices. Indeks modifikasi dapat digunakan dengan penambahan lintasan atau
penambahan error covariances. Dalam hal ini, peneliti memilih untuk menambahkan error
covariances. Meskipun model tersebut dikatakan marginal fit, model tersebut masih bisa
diperbaiki menjadi model yang lebih baik. Lisrel dapat memberikan memberikan beberapa
saran untuk memperbaiki kecocokan model terhadap data penelitian yang diuji. Langkah-
langkah untuk menampilkan solusi tersebut, antara lain sebagai berikut.
1. Buka kembali pada menu simplis.
2. Menampilkan perbaikan model dapat dilakukan dengan cara menuliskan “Print residual”
pada baris setelah Options, seperti berikut.
Kemudian klik icon Run , maka akan tampil tambahan output, yang dijelaskan
berikut ini.
Lisrel menyajikan output covariance matrix yang telah di-fit-kan, tujuannya adalah untuk
mengestimasi covariance matrix model penelitian yang diajukan.
Fitted Covariance Matrix
Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7
-------- -------- -------- -------- -------- --------
Y2 1.73
Y3 0.86 1.92
Y4 0.80 0.70 1.66
Y5 0.00 0.00 0.00 1.60
Y6 0.00 0.00 0.00 1.05 2.12
Y7 0.00 0.00 0.00 0.81 1.37 1.68
Y8 -0.06 -0.05 -0.05 -0.04 -0.07 -0.05
Y9 -0.04 -0.04 -0.03 -0.03 -0.05 -0.04
Y10 -0.05 -0.05 -0.04 -0.04 -0.07 -0.05
X1 0.05 0.04 0.04 -0.04 -0.06 -0.05
X2 0.07 0.06 0.06 -0.05 -0.09 -0.07
X3 0.06 0.05 0.05 -0.05 -0.08 -0.06
X4 0.07 0.06 0.06 -0.05 -0.09 -0.07
Y8 Y9 Y10 X1 X2 X3
-------- -------- -------- -------- -------- --------
Y8 1.48
Y9 0.62 1.76
Y10 0.78 0.60 1.48
X1 0.01 0.01 0.01 1.92
X2 0.01 0.01 0.01 1.07 2.03
X3 0.01 0.01 0.01 0.94 1.34 2.06
X4 0.01 0.01 0.01 1.08 1.54 1.35
X4
--------
X4 2.01
Jika covariance matrix dikurangi dengan fitter covariance matrix, maka selisihnya
menghasilkan output residual dalam dua bentuk, yaitu fitted residuals dan standardized
residuals. Jika fiited residuals mendekati atau sama dengan nol, maka semodel memiliki fit
yang baik, sedangkan model yang memiliki fit yang buruk apabila matriks residualnya sangat
besar. Jika standardized residuals mendekati atau sama dengan nol, maka model memiliki fit
yang baik
Fitted Residuals
Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7
-------- -------- -------- -------- -------- --------
Y2 0.00
Y3 0.00 0.00
Y4 0.00 0.00 0.00
Y5 -0.17 -0.38 -0.26 0.00
Y6 -0.14 -0.18 -0.16 0.00 0.00
Y7 -0.24 -0.25 -0.14 0.01 0.00 0.00
Y8 0.09 -0.02 0.07 0.10 -0.05 0.14
Y9 -0.02 -0.06 -0.07 0.04 -0.07 0.07
Y10 0.03 -0.04 -0.11 0.16 -0.03 -0.01
X1 0.15 -0.04 0.07 -0.06 -0.13 -0.14
X2 0.16 0.05 -0.11 0.23 0.04 -0.01
X3 -0.08 -0.17 -0.13 0.09 -0.06 -0.01
X4 0.02 0.01 -0.11 0.12 -0.03 0.02
Fitted Residuals
Y8 Y9 Y10 X1 X2 X3
-------- -------- -------- -------- -------- --------
Y8 0.00
Y9 0.00 0.00
Y10 0.00 -0.01 0.00
X1 0.10 -0.16 0.13 0.00
X2 -0.12 -0.20 0.18 0.03 0.00
X3 0.10 -0.18 0.12 -0.03 -0.01 0.00
X4 -0.08 -0.15 0.10 -0.01 0.00 0.02
Fitted Residuals
X4
--------
X4 0.00
Stemleaf Plot
- 3|8
- 2|6540
- 1|8877665444332111
- 0|887766654433322111111000000000000000000000
0|112223344577799
1|000022345668
2|3
Standardized Residuals
Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7
-------- -------- -------- -------- -------- --------
Y2 --
Y3 -0.51 --
Y4 0.32 0.17 --
Y5 -1.28 -2.71 -2.02 --
Y6 -0.90 -1.10 -1.04 -0.65 --
Y7 -1.78 -1.78 -1.08 1.77 -1.95 --
Y8 1.07 -0.21 0.76 1.00 -0.61 1.68
Y9 -0.13 -0.44 -0.61 0.29 -0.53 0.59
Y10 0.39 -0.39 -1.14 1.59 -0.38 -0.12
X1 1.25 -0.29 0.53 -0.49 -1.09 -1.16
X2 1.88 0.42 -1.07 2.02 0.56 -0.09
X3 -0.75 -1.35 -1.13 0.72 -0.57 -0.08
X4 0.21 0.09 -1.04 1.06 -0.50 0.24
Standardized Residuals
Y8 Y9 Y10 X1 X2 X3
-------- -------- -------- -------- -------- --------
Y8 -1.72
Y9 0.70 -1.72
Y10 0.02 -1.04 -1.72
X1 0.90 -1.18 1.15 --
X2 -1.52 -1.58 2.00 0.69 --
X3 0.96 -1.39 1.16 -0.45 -0.35 --
X4 -1.03 -1.20 1.18 -0.40 -0.41 0.79
Standardized Residuals
X4
--------
X4 --
Stemleaf Plot
- 2|7
- 2|0
- 1|98877765
- 1|4432221111110000
- 0|9866665555
- 0|444444332111100000000000
0|12223344
0|566777889
1|00111222
1|6789
2|00
Largest Negative Standardized Residuals
Residual for Y5 and Y3 -2.71
Pada output GOF, terlihat nilai chi-square terlalu besar yaitu 77,59 yang
menyebabkan model tidak fit. Untuk memperbaiki model, dapat dilakukan penambahan,
pengurangan, penggantian jalur (path), ataupun menambahkan error covariance untuk
mengurangi nilai chi-square agar lebih signifikan. Karena 𝑌1 tidak memenuhi asumsi validitas
maka 𝑌1 harus di drop dari model penelitian.
Buka kembali menu simplis. Pada menu simplis, modifikasi model sesuai dengan saran
dari lisrel, maka akan terjadi perubahan syntax seperti dibawah ini.
Raw Data from file 'G:\SEM\Kasus [Link]'' Raw Data from file 'G:\SEM\Kasus [Link]'
Relationships Relationships
X1 - X4 = MO X1 - X4 = MO
Y1 – Y4 = KP Y2 – Y4 = KP
Y5 – Y7= SB Y5 – Y7= SB
KBK = KP SB KBK = KP SB
KP = MO KP = MO
SB = MO SB = MO
KBK = MO KBK = MO
Options: SS EF Options: SS EF
Kemudian klik icon Run , maka akan menghasilkan output GOF sebagai berikut.
Goodness of Fit Statistics
Degrees of Freedom = 60
Minimum Fit Function Chi-Square = 60.39 (P = 0.46)
Normal Theory Weighted Least Squares Chi-Square = 59.73 (P = 0.49)
Estimated Non-centrality Parameter (NCP) = 0.0
90 Percent Confidence Interval for NCP = (0.0 ; 21.99)
Dari output GOF dapat dilakukan analisis kecocokan model pada table 5 sebagai berikut.
Ukuran Goodness of
Kriteria Pengujian Hasil Pengujian Keterangan
Fit
ECVI (Expected Cross- Nilai ECVI harus < ECVI = 0.77 > KurangFit
Validation Index) 0.05 0.05
Nilai AIC yang
Nilai AIC =
kecil dan mendekati
AIC (Akaike 121.73, terlalu Kurang Fit
nol yang
Information Criterion) lebar dan menjauhi
menunjukkan model
nol
fit
Model CAIC =
Nilai model CAIC
248.06 dan
yang mendekati
Saturated CAIC =
CAIC nilai saturated CAIC Kurang Fit
552.84, nilai
menunjukkan
model jauh dari
goodness of fit
nilai saturated
RMR (Root Mean Nilai RMR harus ≤ RMR = 0.11 > Untuk nilai RMR
Square Residual) dan 0.05 dan SRMR 0.05 dan SRMR = Kurang Fit, sedangkan
SRMR (Standardized harus < 0.10 0.061 < 0.10 nilai SRMR Good Fit
RMR)
Nilai 0.80 < GFI
GFI (Goodness of Fit dan AGFI < 0.9
GFI = 0.95 > 0.90
Index) dan AGFI adalah marginal fit
dan AGFI = 0.92 > Good Fit
(Adjusted Goodness of dan GFI dan AGFI
0.80
Fit Index) yang > 0.9 adalah
good fit
Pada output GOF diatas dapat dilihat bahwa model menjadi lebih baik dibandingkan model
sebelum di perbaiki. Sehingga model dapat disimpulkan Good Fit.
Setelah melalui tahapan-tahapan analisis CB-SEM, model yang sudah Good Fit dapat di
analisis hubungan kausalnya melaui output dan path diagram pada LISREL. Berikut disajikan
intepretasi output dari model diatas yang sudah diperbaiki.
Gambar 27. Estimasi Respesifikasi Model
Dari path diagram diatas dapat dilihat bahwa nilai yang terdapat pada anak panah satu
arah yang menghubungkan variabel eksogen ke variabel endogen merupakan nilai dari direct
effect, dan anak panah kecil menuju indikator merupakan nilai error varians nya.
Kemudian akan diuji persamaan struktural nya apakah koefisien persamaan struktural
bernilai signifikan atau tidak. Berikut hasil analisisnya