i
FORMULASI DAN UJI STABILITAS KRIM ANTIOKSIDAN
SARI BUAH DENGEN (Dillenia serrata )
Oleh :
RUSLAN SAFRI
PO.[Link].1.084
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN FARMASI
PROGRAM STUDI D-3 FARMASI
2019
i
FORMULASI DAN UJI STABILITAS KRIM ANTIOKSIDAN
SARI BUAH DENGEN (Dillenia serrata L )
Karya Tulis Ilmiah Diajukan Untuk Memenuhi Syarat
Dalam menyelesaikan Tugas Akhir Program
Pendidikan Ahli Madya Farmasi
Oleh :
RUSLAN SAFRI
PO.[Link].1.084
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN FARMASI
PROGRAM STUDI D-3 FARMASI
2019
ii
LEMBAR PENGESAHAN
KARYA TULIS ILMIAH
FORMULASI DAN UJI STABILITAS KRIM ANTIOKSIDAN
SARI BUAH DENGEN (Dillenia serrata L )
Oleh :
RUSLAN SAFRI
PO.[Link].1.086
Menyetujui,
Pembimbing Pertama, Pembimbing Kedua,
Santi Sinala,[Link].,[Link].,Apt Ida Adhayanti,[Link].,[Link].,Apt
NIP. 19830928 200812 1 001 NIP. 19840829 200801 2 005
Mengetahui,
Ketua Jurusan Farmasi Poltekkes Makassar,
Drs. H. Ismail Ibrahim,[Link].,Apt
NIP. 19650224 199203 1 002
iii
LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI
Karya Tulis Ilmiah Ini Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah
Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Makassar
Pada Tanggal 25 Juli 2019
Tim Penguji Tanda Tangan
1. Drs. Jumain, [Link].,Apt (Ketua) (_____________)
2. Ida Adhayanti,[Link].,[Link].,Apt (Anggota) (_____________)
3. Linda Yoshina,[Link] (Anggota) (_____________)
Mengetahui,
Ketua Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar
Drs. H. Ismail Ibrahim,[Link].,Apt
NIP. 19650224 199203 1 002
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhana
wata’ala karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Formulasi dan Uji Stabilitas
Krim Antioksidan Sari Buah Dengen (Dillenia serrata )”sebagai salah satu syarat
dalam menyelesaikan studi di Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar.
Tak lupa pula penulis kirimkan shalawat serta salam kepada baginda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah membimbing kita keluar dari masa
jahiliyah menuju alam yang terang benderang.
Melalui karya tulis ilmiah ini perkenankan sya menyampaikan rasa hormat
dan terima kasih saya yang sebesar besarnya untuk kedua orang tua tercinta
Ayahanda [Link] Rahman dan Ibunda [Link] Risal atas segala kasih
sayang, dukungan, pengorbanan serta doa yang tiada henti-hentinya diberikan
selama penulis menempuh masa pendidikan, juga kepada adik-adikku tersayang
Mutmainna Safri,Abida Faizah dan Safwan Khaerullah yang selalu menjadi
penyemangat bagi penulis, serta untuk keluarga besar penulis ucapkan banyak
terima kasih atas segala dukungan dan perhatiannya.
Dalam proses ini tidak sedikit mendapat hambatan namun berkat usaha
maksimal saya serta penyertaan-Nya dan dorongan pembimbing,maka penelitian
ini dapat di [Link] itu saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada Ibu Santi Sinala,[Link].,[Link].,Apt selaku pembimbing pertama
v
dan Ibu Ida Adhayanti,[Link].,[Link].,Apt selaku pembimbing kedua,atas segala
pengorbanan waktu, tenaga, dan pikirannya selama proses penyelesaian tugas
akhir ini.
Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari
masa perkuliahan sampai pada penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, sangatlah sulit
bagi saya untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Oleh karena itu, saya
mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Ir. H. Agustian Ipa,SKM.,[Link] selaku direktur Poltekkes
Kemenkes Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk mengikuti pendidikan di Poltekkes Kemenkes Makassar
2. Bapak Drs. H. Ismail Ibrahim,[Link].,Apt selaku Ketua Jurusan Farmasi
Poltekkes Kemenkes Makassar ata kesempatan yang diberikan kepada penulis
menjadi mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar
3. Bapak Raimundus Chaliks, [Link]., [Link]., Apt selaku Ketua Program Studi
D3 Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar.
4. Bapak [Link],[Link].,Apt selaku pembimbing akademik yang
senantiasa memberikan bimbingan dan arahan selama penulis menuntut ilmu
di Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar
5. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf tata usaha dan laboran Jurusan Farmasi
Poltekkes Kemenkes Makassar yang telah membantu, memberikan motivasi,
dan arahan selama mengikuti pendidikan.
vi
6. Sahabat tercinta saya, Iyut prastiwi, Riska Astuti Sahran, Asri Fajriana,
[Link] Hadi, Andi Sudirman dan Hardianti yang selalu beraa di
samping saya saat senang dan susah,selalu memberikan semangat,Motivasi
dan dukungan sejak menjadi mahasiswa baru hingga pada titik ini.
7. Teman-teman HMJ FARMASI PKM, Wisma Annisa dan Pondok Wanca
yang menjadi keluarga dan penyemangat saya selama berada di tanah rantau.
8. Teman-teman seperjuangan Elixir16 serta adik-adik Refluks17 Jurusan
Farmasi Poltekkes Kemenkes Makassar angkatan 2016 dan 2017.
Akhir kata, saya berharap Allah Subhana wata’ala berkenan membalas
segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Penulis menyadari masih
banyak kekurangan dan kesalahan dalam Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak lepas
dari keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki penulis dalam menuangkan ide-
ide. Oleh karena itu, saran dan masukan dari pembaca senantiasa penulis harapkan
untuk memperbaiki Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini
membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.
Makassar, 10 Juli 2018
Penulis
vii
PERNYATAAN KEASLIAN
KARYA TULIS ILMIAH
Yang bertandatangan di bawah ini :
Nama : RUSLAN SAFRI
Nim : PO.[Link].1.084
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya tulis ilmiah yang saya tulis ini
benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan hasil karya
sendiri, bukan merupakan pemngambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain.
Apabila dikemudian hari terbukti bahwa sebagian keseluruhan karya tulisi lmiah
ini merupakan hasil karya orang lain, maka saya bersedia
mempertanggungjawabkan sekaligus bersedia menerima sanksi yang seberat-
beratnya atas perbuatan tidak terpuji tersebut.
Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tanpa ada paksaan
samasekali.
Makassar, 10 Juli 2019
Yang membuat pernyataan,
Ruslan Safri
viii
ABSTRAK
Tanaman Dengen hidupnya tumbuh liar di hutan dan diketahui memiliki banyak
manfaat, dibuktikan dari penelitian sebelumnya bahwa daya aktifitas antioksidan
buah ini sangat kuat. Berdasarkan metode DPPH menunjukkan aktivitas
antioksidan fraksi air lebih kuat dibandingkan fraksi etil asetat, fraksi heksan dan
ekstrak etanol buah Dengen. Melihat potensi aktifitas antioksidan yang dimiliki
buah Dengen sehingga diformulasikan dalam sediaan krim. Penelitian ini
bertujuan untuk membuat sediaan krim antioksidan sari buah Dengen serta
menguji stabilitas mutu fisik sediaan. Metode pengerjaan sari buahnya dibuat
dengan cara dijuicer yang selanjutnya di freeze dry untuk menghasilkan serbuk
yang bebas dari kandungan air. Formulasi sediaan krim antioksidan sari Dengen
dibuat dengan membedakan jumlah emulgator dari tiga formula yang akan dibuat.
Pengujian stabilitas dilakukan sebelum dan sesudah uji kestabilan mutu fisik yang
meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH dan uji viskositas. Berdasarkan hasil
penelitian, krim antioksidan sari buah Dengen dengan tiga formula yang
dihasilkan stabil dan memenuhi syarat mutu fisik.
Kata kunci: Krim Antioksidan, Mutu Fisik, Sari Buah Dengen, dan Stabilitas.
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL............................................................................... i
HALAMAN PRASYARAT....................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI............................................ iv
KATA PENGANTAR................................................................................ v
PERNYATAAN KEASLIAN.................................................................... viii
ABSTRAK.................................................................................................. ix
DAFTAR ISI............................................................................................... x
DAFTAR TABEL...................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................. xiii
BAB I. PENDAHULUAN..................................................................... 1
A. Latar belakang................................................................ 1
B. Rumusan Masalah.......................................................... 3
C. Tujuan penelitian............................................................ 3
D. Manfaat Penelitian......................................................... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................... 4
A. Uraian Tanaman................................................................... 4
B. Kulit ..................................................................................... 7
C. Sediaan Krim ....................................................................... 13
D. Antioksidan ........................................................................ 15
x
BAB III. METODE PENELITIAN........................................................ 20
A. Jenis Penelitian 20
B. Tempat dan Waktu
Penelitian 20
C. Teknik Pengumpulan
14
D. Pengolahan Sampel
14
E. Alat dan Bahan 15
F. Prosedur Kerja 15
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN................................................ 25
A. Hasil Penelitian.................................................................... 25
B. Pembahasan.......................................................................... 26
BAB V. PENUTUP................................................................................. 30
A. Kesimpulan.......................................................................... 30
B. Saran..................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 31
LAMPIRAN................................................................................................ 33
xi
DAFTAR TABEL
Tabel. 1 Hasil Uji Organoleptis Sediaan Krim Antioksidan Sari Buah
Dengen (Dillenia serrata L) ......................................................25
Tabel 2 Hasil Pengamatan Homogenits Sediaan Krim Antioksidan Sari
Buah Dengen (Dillenia serrata L)..............................................25
Tabel 3 Hasil Pemeriksaan pH Sediaan Krim Antioksidan Sari Buah
Dengen (Dillenia serrata L).......................................................26
Tabel. 4 Hasil Pengukuran Viskositas Sediaan Krim Antioksidan Sari
Buah Dengen (Dillenia serrata L).............................................26
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I. Skema Kerja....................................................................................33
Lampiran II. Dokumentasi Penelitian..................................................................34
xiii
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sulawesi merupakan pulau yang memiliki banyak keanekaragaman
flora dan fauna terlebih jenis-jenis tumbuhannya salah satunya buah Dengen
(Dillenia serrata L) yang banyak ditemukan di Sulawesi selatan dan Sulawesi
tengah yang tersebar luas dikedua provinsi tersebut. Tanaman Dengen ini
hidupnya tumbuh dengan liar di hutan dan di halaman rumah masyarakat.
Buah ini memiliki ciri khas yang terletak pada rasanya yang asam, dari
rasanya yang asam dan warnanya yang kuning seperti jeruk buah ini
mengandung vitamin C lebih dari 84% yang artinya baik dikonsumsi oleh
tubuh. Dengen ini adalah buah yang cepat busuk apabila di biarkan lama di
udara bebas. (Ilma,N 2012).
Tanaman Dengen ini bermanfaat sebagai pengawet bahan makanan
alami, buah Dengen juga dapat dimakan langsung biasa juga diolah menjadi
jus, acar, asinan, manisan dan sirup (Hasniarti., 2012). Elsiana Kala 2013
sudah melakukan penelitian dan pengujian aktitas ekstak etanol dari beberapa
fraksi ekstrak, etanol buah Dengen di peroleh nilai IC50 berkisar antara
36,14 ppm - 78,34 dari hasil ini dapat disimpulkan daya aktifitas
antioksidannya sangat kuat. Aktivitas antioksidan yang ditentukan
berdasarkan metode DPPH menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah dengen,
fraksi air, fraksi etil asetat dan fraksi heksan memiliki aktivitas sebagai
1
2
antioksidan dengan nilai IC50 berturut-turut 200,9 ppm, 103 ppm, 108,4 ppm
dan 135,2 µg/ml Aktivitas antioksidan fraksi air lebih kuat dibandingkan
fraksi etil asetat, fraksi heksan dan ekstrak etanol buah dengen namun masih
lebih rendah dibandingkan vitamin C yang memiliki nilai IC50 sebesar 2,76
µg/ml (Reni S.,2015). Antioksidan sangat penting untuk kesehatan dan
kecantikan kulit. Pada bidang kesehatan dan kecantikan, antioksidan
berfungsi untuk mencegah penyakit kanker dan tumor, penyempitan
pembuluh darah, penuaan dini, dan lain-lain (Tamat., et al. 2007) Antioksidan
juga mampu menghambat reaksi oksidasi dengan cara mengikat radikal bebas
dan molekul yang sangat reaktif sehingga kerusakan sel dapat dicegah. Reaksi
oksidasi dengan radikal bebas sering terjadi pada molekul protein, asam
nukleat, lipid dan polisakarida (Winarsi, 2007).
Krim adalah suatu sediaan yang digunakan secara topical,krim juga
merupakan emulsi semipadat kental untuk pemakaian luar. Krim juga terbagi
atas dua tipe yaitu tipe air dalam minyak (A/M) dan minyak dalam air
(M/A).Tipe A/M memiliki basis-basis yang bersifat emolien yang baik
sedangkan tipe M/Ayang basisnya paling baik di gunakan untuk mempercepat
penetrasi dan absorbsi obat. Krim adalah sediaan farmasi yang biasa di
gunakan secara topikal dan krim juga berfungsi sebagai pembawa zat aktif
obat utnuk pengobatan kulit dan juga sebagai pelumas untuk merangsang
kulit. Krim juga lebih mudah di bersihkan dari pada sediaan salep. Krim
apabila dioleskan ke kulit memberikan perasaan sejuk karena krim
3
merupakan sediaan yang banyak mengandung air, sediaan ini juga lebih
mudah dibersihkan. (Virginia,P.2014).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah bagaimana kestabilan formulasi sediaan krim yang dibuat dari sari
Dengen (Dillenia serrata L).
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui cara pembuatan formulasi sediaan krim yang dibuat
dari sari Dengen (Dillenia serrata L).
2. Untuk mengetahui stabilitas dari sediaan krim yang dibuat dari sari
Dengen (Dillenia serrata L).
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berperan dalam memberikan
kontribusi di bidang farmasi khususnya bagi mahasiswa farmasi dan peneliti
dalam ruang lingkup formulasi sediaan krim serta memberikan sumbangsih
kepada masyarakat dalam menyediakan sediaan krim murah dan sehat. Selain
itu penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan referensi untuk masyarakat
dan penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Uraian Tanaman
1. Deskripsi Tanaman Dengen (Dillenia serrata L)
Dengen merupakan tanaman yang banyak tumbuh di daerah tropis
dan sekitarnya. Tingginya mencapai 20 m, sedangkan diameter batang
mencapai 40 cm. Tingkat pertumbuhan rata–rata per tahun dapat
mencapai 1 m. Memiliki cabang yang menyebar dengan ketinggian
sedikit di atas permukaan tanah. Daun yang sudah tua berukuran agak
lebar dan memanjang. Lebar daun dapat mencapai 30 cm dengan panjang
mencapai 35 cm. Memiliki urat daun yang cukup banyak. Daun berkilat
berwarna hijau tua di bagian atasnya dan berwarna hijau yang lebih muda
di bagian bawahnya. Daun memiliki gerigi di tepinya dan runcing pada
bagian ujung. Daun yang masih muda berwarna merah karena adanya
pigmen anthocyanin dan flavonoid (Hasniarti.,2012).
Gambar buah Dengen (Dillenia serrata L.)
4
5
2. Nama Daerah Tanaman Dengen (Dillenia serrate L.)
1. Bugis : Dengen
2. Sunda : Dengen , simpur
3. Jawa : Junti
4. Mori : Songi
5. Inggris : Chulta, Hondapara Tree, Elephant-Apple, Matad
6. India : Chalta, Karambe
7. Portugis : Árvore-DaPataca, Árvore-Do-Dinheiro
Dengen termasuk tumbuhan endemik yang berasal dari Sulawesi
Selatan. Ciri khas dari buah tersebut berbentuk mahkota berwarna
kuning, setengah mirip telinga bila di belah dengan helaian buahnya
(Ilma,N.2012).
3. Kandungan Dengen (Dillenia serrata L.)
Kandungan utama dalam buah Dengen mengandung vitamin C
lebih dari 84% yang baik dikonsumsi oleh tubuh. Dengen ini adalah
tumbuhan dengan masa simpannya relatif pendek.
Buah Dengen ini mengandung asam sitrat yang sangat tinggi,
sehingga rasanya masam sekali. Secara kimia, apabila buah ini
dihancurkan dan dicampur dengan air, maka asam tersebut akan
terionisasi menjadi ion hidrogen dan ion sisa asamnya bermuatan negatif
(Hasrianti, 2012).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ilmiati Illing 2017,
menyatakan bahwa uji fitokimia sari Buah Dengen mengandung
6
senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, polifenol dan triterpenoid.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Reny syahruni 2015,
skrining komponen kimia sari buah Dengen mengandung tanin, saponin
dan flavonoid. Kadar flavonoid total berdasarkan nilai kesetaraan rutin
15,25 µg/ml. diperoleh sebesar 3,05 %. Aktivitas antioksidan ditunjukkan
oleh sari buah Dengen , fraksi air, fraksi etil asetat dan fraksi heksan.
Aktivitas antioksidan fraksi air lebih kuat dibandingkan fraksi etil asetat,
fraksi heksan dan sari buah Dengen . Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Irnawati et al., menyatakan bahwa vitamin C dalam buah
Dengen memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat yang ditunjukkan
dengan nilai IC50 24,63 mg/L.
4. Klasifikasi Tanaman Dengen (Dillenia serrata L)
Sistematika penamaan tanaman Dengen (Dillenia serrate
L.)adalah sebagai berikut:
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Subkelas : Dialypetalae
Ordo : Guttiferales
Famili : Dilleniaceae
Genus : Dillenia
Spesies : Dillenia serrata Linn
(Citrosupomo., 2010)
7
B. Kulit
Kulit merupakan “selimut” yang menutupi permukaan tubuh dan
memiliki fungsi utama sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan
dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah
mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus
menerus (keratinisasi dan pelepasan selsel yang sudah mati), respirasi
dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum dan keringat, dan
pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar
ultraviolet matahari, sebagai peraba dan perasa, serta pertahanan terhadap
tekanan dan infeksi dari luar (Tranggono dan Latifah, 2007).
Kulit adalah organ tubuh yang pertama kali terkena polusi oleh zat
yang terdapat di lingkungan hidup kita, termasuk jasad renik (mikroba)
yang tumbuh dan hidup di lingkungan kita. Kulit adalah organ tubuh
yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup
manusia. Luas kulit orang dewasa sekitar 1,5 m2 dengan berat kira-kira
15% berat badan.
1. Fungsi kulit
Kulit melindungi bagian dalam tubuh manusia terhadap gangguan
fisik maupun mekanik, misalnya tekanan, gesekan, tarikan, gangguan
kimiawi, seperti zat-zat kimia iritan (lisol, karbol, asam atau basa kuat
lainnya), gangguan panas atau dingin, gangguan sinar radiasi atau sinar
8
ultraviolet, gangguan kuman, jamur, bakteri atau virus (Wasiaatmaja,
1997).
Gangguan fisik dan mekanik ditanggulangi dengan adanya
bantalan lemak subkutis, tebalnya lapisan kulit dan serabut penunjang
yang berfungsi sebagai pelindung bagian luar tubuh. Gangguan sinar
ultraviolet diatasi oleh sel melanin yang menyerap sebagian sinar
tersebut. Gangguan kimiawi ditanggulangi dengan adanya lemak
permukaan kulit yang berasal dari kelenjar palit kulit (Wasiaatmaja,
1997). Permukaan kulit mempunyai keasaman (pH) tertentu yang
berkisar antara 4,5-6,0 yang dibentuk oleh asam lemak permukaan kulit
yang berasal dari sebum,
keringat, sel tanduk yang lepas, dan kotoran yang melekat pada
kulit. Tingkat keasaman itu dapat mengurangi atau mengendalikan
berkembang biaknya berbagai jasad renik. Kulit sebagai organ tubuh
yang paling penting mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Pelindung / proteksi
Serat elastis dari dermis dan jaringan lemak subkutan berfungsi
untuk mencegah gangguan mekanis eksternal diteruskan secara
langsung ke bagian dalam tubuh. Kulit memiliki kapasitas
penetralisir alkali dan permukaan kulit dijaga tetap pada pH asam
lemah untuk perlindungan dari racun kimia. Pigmen melanin
mengabsorpsi dan melindungi tubuh dari bahaya radiasi UV
(Mitsui, 1997).
9
b. Pengaturan suhu tubuh / termoregulasi
Kulit mengatur suhu tubuh dengan mengubah jumlah aliran darah
melalui kulit dengan dilatasi dan kontriksi kapiler darah kulit dan
dengan penguapan uap air (Mitsui, 1997).
c. Persepsi panca indera
Kulit merasakan perubahan pada lingkungan eksternal dan
bertanggungjawab untuk sensasi kulit. Kulit memiliki berbagai
reseptor sehingga dapat merasakan tekanan, sentuhan, suhu, dan
nyeri (Mitsui, 1997).
d. Penyerapan /absorpsi
Berbagai senyawa diabsorpsi melalui kulit ke dalam tubuh. Ada
dua jalur absorpsi, satu melalui epidermis, dan yang lainnya
melalui kelenjar sebaseus pada folikel rambut. Senyawa larut air
tidak mudah diabsorpsi melalui kulit karena adanya sawar
(barrier) terhadap senyawa larut air yang dibentuk oleh lapisan
tanduk (Mitsui, 1997).
e. Fungsi Lain
Kulit menunjukkan keadaan emosional, seperti memerah dan
ketakutan (pucat dan bulu kuduk berdiri tegak), dan digambarkan
sebagai organ yang menunjukkan emosi. Kulit juga mensintesis
vitamin D dengan bantuan sinar UV terhadap prekursor vitamin D
dalam kulit (Mitsui, 1997).
10
2. Struktur kulit
Kulit terdiri dari tiga lapisan jaringan yang mempunyai fungsi berbeda.
Ketiga lapisan tersebut yaitu: lapisan epidermis, lapisan dermis dan
lapisan hipodermis (subkutan).
a. Lapisan epidermis (kutikel)
Lapisan ini terletak paling atas, tahan akan air, tipis dan sebagian
besar terdiri dari sel-sel mati. Lapisan ini terdiri dari lima lapisan sel
yaitu:
1) Lapisan tanduk (stratum korneum)
Adalah lapisan yang paling luar dan terdiri dari beberapa sel-
sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah
berubah menjadi keratin (zat tanduk).
2) Lapisan rintangan (stratum lusidum)
Terdapat dibawah lapisan tanduk, merupakan lapisan sel-sel
gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi
protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak jelas di
telapak tangan dan kaki.
3) Lapisan butir (stratum granulosum)
Merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma
berbutir kasar dan terdapat inti diantaranya.
4) Lapisan tajuk (stratum spinosum)
Terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang
besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis.
11
5) Lapisan tunas (stratum basale)
Terdiri atas sel-sel berbentuk kubus yang tersusun vertikal
pada pembatasan dermo-epidermal berbasis seperti pagar
(palisade). Lapisan tuna juga termasuk sel-sel yang disebut
melanocytes, yaitu sel-sel yang memproduksi pigmen
melanin.
b. Lapisan dermis
Merupakan lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal dari
pada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastis dan fibrosa
dengan elemenelemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar
dibagi menjadi 2 bagian:
- Pars papilare, yaitu bagian yang menonjol ke dalam
epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
- Pars retikulare, yaitu bagian bawahnya yang menonjol ke
arah subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut
penunjang misalnya serabut kolagen elastis dan retikulin.
c. Lapisan subkutan
Lapisan subkutan adalah kelanjutan dermis atas jaringan ikat
longgar, berisi sel-sel lemak didalamnya. Fungsi dari lapisan
hipodermis yaitu membantu melindungi tubuh dari benturan-
benturan fisik dan mengatur panas tubuh. Jumlah lemak pada lapisan
ini akan meningkat apabila makan berlebihan. Jika tubuh
12
memerlukan energi ekstra maka lapisan ini akan memberikan energi
dengan cara memecah simpanan lemaknya (Wasiaatmaja, 1997).
3. Jenis kulit
1. Kulit Kering
Ada berbagai faktor penyabab kulit menjadi kering, antara lain
cuaca, penggunaan sabun, efek samping penggunaan obat-obatan
tertentu, faktor genetik, usia, kekurangan nutrisi, dan terlalu sering
berada diruangan berAC.
2. Kulit Berminyak
Kulit berminyak cenderung lebih bermasalah dibandingkan
dengan jenis kulit lainnya. Masalah-masalah yang biasanya terjadi
pada kulit berminyak yaitu mudah timbul jerawat dan rasa gatal
diwajah saat berkeringat. Penyabab kulit berminyak antara lain faktor
genetik, pola makan (gula yang berlebihan, gorengan, makanan pedas,
makanan berkadar lemak tinggi dan santan adalah beberapa jenis
makanan yang dapat membuat kulit berminyak), ketidakseimbangan
hormon (misalnya pada masa pubertas dan saat menstruasi,
ketidakseimbangan hormon ini menyebabkan produksi minyak
menjadi berlebih), dan pemakaian kosmetik yang tidak cocok.
3. Kulit Kombinasi
Kulit kombinasi merupakan jenis kulit paling umum dimiliki
oleh kebanyakan orang. Kulit kombinasi merupakan gabungan dari
dua jenis kulit yang berbeda yaitu kulit kering dan kulit berminyak.
13
Ciri kulit wajah kombinasi adalah pada bagian T-zone (hidung, dahi,
dagu, dan bagian atas mata) berminyak, terlihat mengilat, dan pori-
porinya besar. Sementara itu, kulit didaerah lain cenderung kering
atau normal.
4. Kulit Normal
Kulit normal merupakan jenis kulit yang dapat dikatakan
sebagai kulitMideal atau kulit dambaan. Hal ini karena kulit normal
umumnya tidak memiliki masalah yang serius dan perawatannya pun
relatif lebih mudah dibandingkan jenis kulit lainnya.
5. Kulit Sensitif
Kulit sensitif adalah kulit yang memberikan respon yang
berlebihan terhadap benda-benda atau kondisi tertentu, misalnya
perubahan suhu, cuaca bahan kosmetik atau bahan kimia lainnya yang
menyebabkan timbulnya gangguankesehatan kulit
.
C. Sediaan Krim
1. Krim
a. Pengertian krim
Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi yang
mengandung air tidak kurang dari 60% dimaksudkan untuk
pemakaian luar. Bahan yang digunakan mencakup zat emolien, zat
sawar (barier), zat pengental dan pembentuk lapisan tipis, zat
penutup kulit yang berpori lebar, zat pengemulsi, zat pengawet,
parfumdan zat warna (Ditjen POM, 1979).
14
Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental
mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk
pemakaian luar. Tipe krim ada dua yaitu krim tipe air minyak (A/M)
dan krim minyak air (M/A). untuk membuat krim digunakan zat
pengemulsi. Umumnya berupa surfaktan-surfaktan anionik, kationik,
dan nonionik (Anief, 2000).
b. Fungsi krim
Krim berfungsi sebagai bahan pembawa substansi obat untuk
pengobatan kulit, sebagai bahan pelumas untuk kulit,dan sebagai
pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit
dengan larutan berair dan rangsangan kulit(Anief, 2000).
Menurut British Pharmacopeia krim diformulasikan untuk
sediaan yang dapat bercampur dengan sekresi [Link] krim
dapat diaplikasikan pada kulit atau membrane mukosa untuk
pelindung, efek terapeutik, atau profilaksis yang tidak
membutuhkan efek oklusif.
c. Tipe krim
Tipe krim ada dua yaitu krim tipe air minyak (A/M) dan krim
minyak air (M/A). Untuk membuat krim digunakan zat
pengemulsi. Umumnya berupa surfaktan-surfaktan anionik,
kationik, dan nonionik (Anief, 2000).
15
D. Antioksidan
Antioksidan adalah senyawa yang dapat menangkal atau meredam
dampak negatif oksidan. Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan
satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga
aktivitas senyawa oksidan tersebut dapat di hambat (Winarti, 2010).
Antioksidan dibutuhkan tubuh untuk melindungi tubuh dari
serangan radikal bebas. Antioksidan adalah suatu senyawa atau
komponen kimia yang dalam kadar atau jumlah tertentu mampu
menghambat atau memperlambat kerusakan akibat proses oksidasi.
Selain untuk menjaga kesehatan kulit antioksidan yang terdapat dalam
vitamin C dan E juga dapat membantu menjaga kekuatan otot. Sebuah
penelitian pada orang dewasa membuktikan bahwa asupan vitamin C dan
E yang cukup dapat meningkatkan kekuatan otot. Asupan makanan yang
tinggi antioksidan mempunyai peranan penting dalam menjaga fungsi
otot pada orang dewasa. Resiko utama yang terjadi apabila kekuatan otot
menurun adalah dapat mengakibatkan cacat atau kerapuhan. Konsumsi
vitamin C yang baik adalah sebesar 144 miligram dan vitamin E sebesar
11 miligram per hari. (Sayuti.,dkk,.,2015)
2. Formula Umum
1. Zat Aktif
Zat aktif yang digunakan pada penelitian ini adalah daging buah
yang telah dijuicer kemudian dikeringkan.
16
2. Zat tambahan
a. Asam Stearat
Asam stearat dalam sediaan topikal digunakan sebagai
bahan pengemulsi. Dalam pembuatan basis krim netral (anionik),
asam stearat dinetralisasi dengan penambahan alkali. Bahan ini
mudah larut dalam benzen, karbon tetraklorida, kloroform, dan
eter; larut dalam etanol, heksan, dan propilen glikol; dan praktis
tidak larut dalam air. Umumnya, bahan ini tidak toksik dan tidak
menyebabkan iritasi. Titik lelehnya di atas 540C. Konsentrasi
yang umumnya digunakan dalam sediaan krim adalah sebesar 1-
20% (Ninin.,2011).
b. Cetil Alkohol
Cetil alkohol dalam krim digunakan sebagai bahan
pengemulsi dan bahan pengeras dalam sediaan topikal (krim).
Setil alkohol dapat meningkatkan viskositas krim dan
meningkatkan kestabilan sediaan. Sebagai bahan pengeras,
konsentrasi umum yang digunakan adalah 2-10% dan sebagai
bahan pengemulsi digunakan konsentrasi 2-5%. Bahan ini sangat
mudah larut dalam etanol 95% dan eter. Kelarutannya akan
meningkat jika suhunya dinaikkan. Titik lelehnya adalah 45-520
(Ninin.,2011).
17
c. Metil Paraben dan Propil Paraben
Metil Paraben digunakan sebagai pengawet pada sediaan
untuk mencegah kontaminasi, kemunduran dan kerusakan oleh
bakteri serta jamur karena sebagian besar komponen dalam
sediaan dapat bertindak sebagai substrat bagi bakteri maupun
jamur. Kelompok paraben digunakan secara luas sebagai
pengawet antimikroba dalam makanan, kosmetik dan sediaan
farmasi lainnya serta mempunyai range pH yang luas yaitu 4 – 8.
(Ninin.,2011).
d. Propilenglikol
Propilenglikol berbentuk cairan jernih, kental, tidak
berwarna, dan tidak berbau. Mempunyai berat molekol 76,09
dengan titik didih sebesar 188̊C dan titik lebur -59̊C.
propilenglikol dapat bercampur dengan aseton, kloroform, etanol
(95%), gliserin, dan air; larut dalam eter (1:6). Propilenglikol
digunakan sebagai humektan, pelarut, dan pengawet. Konsentrasi
propilenglikol yang digunakan sebagai humektan pada sediaan
topical adalah 15% (Ninin.,2011).
e. Tween 60 & span 60
Tween 60& span 60 digunakan sebagai emulgator nonionic
dan digunakan untuk sediaan krim (Faradiba, 2013). Krim dengan
zat pengemulsi nonionik lebih baik dibandingkan dengan zat
pengemulsi anionic. Zat pengemulsi nonionic yang dimaksud
18
adalah tween 60 dan span 60. Krim dengan zat pengemulsi
nonionic lebih baik dibandingkan pengemulsi anionik, hal ini
karena zat pengemulsi anionik ialah surfaktan yang bermuatan
negative dan memiliki kekurangan dapat mengiritasi dan
menimbulkan rasa yang tidak menyenangkan. Surfaktan nonionic
merupakan surfaktan yang tidak bermuatan dimana tersebar luas
digunakan sebagai zat pengemulsi karena dapat menyeimbangkan
kerja molekul hidrofil dan [Link] surfaktan yang
dianjurkan yaitu 1-4%, jika digunakn lebih dari 5% maka telah
menjadi bahan utama dalam formula.(Martin, 1971)
f. Paraffin liquid
Parafin cair sering digunakan dalam formulasi sediaan
topical sebagai komponen dalam krim (Excipient 6th, 2009 ;474).
Keuntungan parafin digunakan sebagai pelembab dalam sediaan
topical yaitu tidak mengiritasi dan tidak toksik. Konsentrasi
paraffin sebagai pelembab yang efektif adalah 25% (Excipient
6th, 2009;475).
g. α-tokoferol
Dalam formulasi ini digunakan antioksidan, dimana
antioksidan merupakan senyawa yang dapat menunda atau
memperkecil laju reaksi oksidasi pada bahan yang mudah
teroksidasi terutama pada sediaan yang mengandung lemak atau
minyak dengan asam lemak tak jenuh. Contohnya sediaan emulsi
19
yang mengandung sebagian besar lemak minyak Antioksidan
yang digunakan adalah α-tokoferol yang merupakan preparat
antioksidan untuk perlindungan kulit yang dapat memanjakan
kulit dengan memperpanjang sel-sel kulit dalam pemberian secara
topikal dapat langsung diserap oleh kulit dan dapat menggakat
radikal bebas pada kulit juga melindungi kulit dari zat beracun.
g. Air Suling
Air digunakan sebagai pelarut pembawa dalam pembuatan
obat dan sediaan farmasi lainnya(Excipient 6 th, 2009: 338).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi
Laboratorium.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Mei 2019
bertempat di Laboratorium Teknologi Sediaan Farmasi Jurusan Farmasi
kampus Poltekkes Kemenkes Makassar.
C. Teknik Pengumpulan
Sampel buah Dengen (Dillenia serrata L) diperoleh dari kabupaten
Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
D. Pengolahan Sampel
Sampel yang telah diperoleh dicuci bersih dengan air mengalir lalu
dipisahkan dari kulitnya. Kemudian dibuat jus dengan menggunakan alat
juicer. Setelah itu disaring dengan menggunakan kasa dan sarinya diambil
kemudian di freeze dryer.
E. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah juicer,
freeze dryer, mixer, timbangan analitik viskometer brookfield, sendok
tanduk, cawan porselen, gelas kimia, gelas ukur, batang pengaduk, kaca
gelas arloji, corong, pipet tetes, oven, refrigerator, pH universal dan
climatic chamber.
20
21
2. Bahan yang digunakan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain; sari Dengen ,
lanolin anhidrat, parafin cair, asam stearat, setil alkohol, tween 60, span 60,
propilenglikol, metil paraben, propil paraben, α-tokoferol, dan aqua
destillata.
F. Prosedur kerja
Tabel 1. Formulasi Krim Antioksidan Sari Dengen (Dillenia serrata L)
No Bahan Konsentrasi (%)
F1 F2 F3
1. Lanolin anhidrat 3 3 3
2. Paraffin Cair 5 5 5
3. Asam Stearat 4 4 4
4. Setil Alkohol 3 3 3
5. Tween 60 2,32 3,10 3,87
6. Span 60 0,68 0,90 1,13
7. Propilenglikol 10 10 10
8. Metil Paraben 0,18 0,18 0,18
9. Popil Paraben 0,02 0,02 0,02
10 Sari Dengen 15 15 15
11. α-tokoferol 0,5 0,5 0,5
12. Air suling 71,05 71,05 71,05
3. Pembuatan Krim Antioksidan (Dillenia serrata L)
a. Pembuatan sari buah Dengen
Daging buah dibersihkan dari kulit dan biji, kemudian ditimbang.
Daging buah selanjutnya dibuat jus dengan juicer dan menghasilkan
sari buah Dengen , kemudian sari buah ditimbang lalu dikeringkan
menggunakan freeze Drying hingga kering
22
b. Pembuatan sediaan krim
Semua bahan ditimbang sesuai dengan perhitungan. Komponen
fase minyak dibuat dengan melebur setil alkohol, asam stearate, propil
paraben, paraffin, lanolin dan span 60 pada suhu 70˚C di atas
penangas air sambil diaduk. Fase air dibuat dengan melarutkan metil
paraben, propilenglikol, dan tween 60 di atas penangas air pada suhu
70˚C sambil terus diaduk. Kemudian fase minyak dimasukan ke dalam
fase air sedikit demi sedikit di dalam lumpang panas sambil digerus
secara terus menerus hingga terbentuk dasar krim. Sari buah Dengen
digerus lalu tambahkan sedikit demi sedikit ke dasar krim dan digerus
sampai homogen. α-tokoferol didispersikan merata ke dalam krim
yang telah terbentuk hingga homogen.
4. Sediaan ditempatkan pada climatic chamber selama 5 siklus sebelum dan
sesudah pengujian dilakukan sebelum dan sesudah sediaan diberi kondisi
dipercepat.
5. Penentuan Mutu Fisik Sediaan
a. Uji organoleptis
Pemeriksaan organoleptik dilakukan untuk sediaan krim sebelum
dan sesudah diberi kondisi dipercepat dengan melihat secara visual dan
mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada sediaan, yakni
penampilan warna, bau, dan keadaan emulsi.
23
b. Pemeriksaan homogenitas
Pemeriksaan homogenitas dilakukan dengan menggunakan objek
gelas. Sejumlah sediaan dioleskan pada objek gelas secara merata.
Homogenitas diamati dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM,
1979).
c. Pengamatan stabilitas
1) Penentuan pH sediaan
Penentuan pH sediaan dapat dilakukan dengan menggunakan pH universal
dengan cara mencelupkan kertas pH universal pada masing-masing sediaan
krim sebelum dan sesudah diberi kondisi dipercepat. Pengujian pH dilakukan
untuk mengetahui kesesuaian pH sediaan dengan pH kulit. pH sediaan
topikal yang baik berada pada rentang pH 4,5-6,5 (Aulton, 2005).
2) Pengujian Viskositas
Pemeriksaan viskositas dilakukan menggunakan Viscometer
Brookfield dan menggunakan spindel No 4. Krim dimasukkan kedalam
beker gelas kemudian spindel yang telah terpasang diturunkan sehingga
batas spindel tercelup kedalam krim. Kecepatan alat dipasang pada 10 rpm
dan 20 rpm kemudian dibaca dan dicatat nilai viskositas (n) dalam
centipoise (cps). Pengukuran viskositas dilakukan untuk sediaan krim
sebelum dan sesudah diberi kondisi dipercepat.
24
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian
1. Pengujian mutu fisik sediaan
Tabel 1 . Hasil uji organoleptis sediaan Krim Antioksidan Sari Buah Dengen
(Dillenia serrata L )
Jenis pemeriksaan
Formula Kondisi Keadaan
Warna Bau
Emulsi
Sebelum Putih Kekuning-
Bau khas Tidak pecah
penyimpanan kuningan
Formula I
Sesudah Putih Kekuning-
Bau khas Tidak pecah
penyimpanan kuningan
Sebelum Putih Kekuning-
Bau khas Tidak pecah
penyimpanan kuningan
Formula II
Sesudah Putih Kekuning-
Bau khas Tidak pecah
penyimpanan kuningan
Sebelum Putih Kekuning-
Bau khas Tidak pecah
penyimpanan kuningan
Formula III
Sesudah Putih Kekuning-
Bau khas Tidak pecah
penyimpanan kuningan
Tabel 2. Hasil pengamatan homogenitas sediaan Krim Antioksidan Sari Buah
Dengen (Dillenia serrata L)
Homogenitas
Formula Sebelum Sesudah Persyaratan
Penyimpanan Penyimpanan
Formula I Homogen Homogen Sediaan menunjukkan
susunan yang
Formula II Homogen Homogen homogen dan tidak
terlihat adanya butiran
Formula III Homogen Homogen kasar
25
26
Tabel 3 . Hasil pemeriksaan pH sediaan Krim Antioksidan Sari Buah Dengen
(Dillenia serrata L)
Nilai pH
Formula Sebelum Sesudah Persyaratan
Penyimpanan Penyimpanan
Formula I
4 4
Formula II 4,0-6,5
5 4
(Aulton, 2005).
Formula III
5 4
Tabel 4 . Hasil pengukuran Viskositas Krim Antioksidan Sari Buah Dengen
(Dillenia serrata )
Viskositas (Poise)
Formula Sebelum Sesudah Persyaratan
Penyimpanan Penyimpanan
Formula I
4.949 5.999
Formula II
4.349 4.022 4.000–40.000 poise
Formula III
13.077 17.816
B. Pembahasan
Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kestabilan sediaan dengan
pengaruh perbedaan konsentrasi emulgator dalam formulasi krim antioksidan
yang mengandung sari buah Dengen sebagai zat aktif antioksidan untuk
perawatan pada kulit.
Hasil juicer daging buah Dengen diperoleh sari buah berwarna kuning, berbau
asam dan berasa sangat asam. Kemudian sari buah tersebut di freeze dry untuk
mendapatkan serbuk yang benar benar kering yang selanjutnya diformulasikan
dengan bahan-bahan lain menjadi sediaan krim.
27
Formulasi krim dengan surfaktan nonionik, dalam hal ini kombinasi tween 60
dan span 60 digunakan dengan tiga variasi konsentrasi jumlah yang digunakan
dalam tiap formula. Emulgator kombinasi dipilih dengan alasan emulgator
gabungan lebih efektif dari pada emulgator tunggal. Kemampuan emulgator
gabungan untuk mengemas lebih kuat molekul-molekul minyak/air dan zat aktif
permukaan menambah kekuatan lapisan antarmuka, sehingga meningkatkan
kestabilan emulsi. Kestabilan dari suatu emulsi farmasi memiliki ciri tidak adanya
penggabungan fase terdispersi, tidak adanya kriming, dan memberikan
penampilan, bau, warna dan sifat-sifat fisika lainnya yang baik. (Juliani.,2015)
Evaluasi mutu fisik sediaan krim antioksidan sebelum dan sesudah
penyimpanan dipercepat dilakukan untuk menentukan kestabilan secara fisik
karena evaluasi tersebut merupakan salah satu parameter untuk mendeteksi
ketidakstabilan dari sediaan krim antioksidan. Pengujian mutu fisik meliputi
pemeriksaan organoleptis, homogenitas dan kestabilan yang meliputi pengukuran
pH , dan pengujian viskositas.
Pengamatan stabilitas sediaan dilakukan dengan mengamati sediaan krim
berdasarkan warna, bau dan keadaan emulsi. Warna yang dihasilkan dari ketiga
formula sebelum penyimpanan yaitu putih kekuningan dan sesudah penyimpanan
yaitu putih kekuningan namun sedikit lebih kuning dari kondisi sebelum
penyimpanan, dan berbau khas yang dihasilkan lebih dominan ke bau lanolin.
Warna kekuningan pada sediaan disebabkan oleh pigmen warna pada sari buah
Dengen yang berwarna kekuningan . Pigmen warna yang berubah dapat
28
dipengaruhi oleh faktor lingkungan misalnya cahaya yang dapat menyebabkan
proses oksidasi. (Juliani.,2015)
Uji homogenitas merupakan salah satu uji yang penting dalam melakukan
formulasi sediaan farmasetik, tujuannya untuk mengetahui apakah bahan-bahan
dalam formulasi tersebut tercampur merata atau tidak. Pengujian ini penting
dilakukan agar dapat mengetahui bahwa zat aktif terdistribusi merata dalam
sediaan dan tidak ada partikel yang menggumpal sehingga menghasilkan efek
yang maksimal. Pada pengamatan uji homogenitas yang dilakukan sebelum dan
sesudah penyimpanan mendapatkan hasil yang homogen untuk tiap sediaan, dapat
dilihat pada tabel 2 bahwa ketiga formula (F1, F2 dan F3) tidak terdapat gumpalan
maupun butiran kasar pada sediaan krim antioksidan sari buah Dengen (Dillenia
serrata L).
Uji pH bertujuan untuk mengetahui keamanan suatu sediaan, terutama
sediaan topikal. Idealnya sediaan topikal mempunyai nilai pH yang sama dengan
pH kulit agar tidak terjadi iritasi pada permukaan kulit. Data hasil uji pH pada
tabel 3 yang dilakukan pada tiap sediaan krim sebelum dan sesudah penyimpanan
dipercepat diperoleh nilai pH yang mendekati sama untuk tiap sediaan. Nilai pH
semua sediaan sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat masih dalam
rentang normal sediaan untuk kulit yakni antara 4,0 – 6,5. Tidak terjadi perubahan
pH yang signifikan pada ketiga formula sehingga dapat dikatakan sediaan krim
memiliki pH yang relatif stabil.
29
Hasil analisis viskositas krim antioksidan sebelum dan setelah diberi kondisi
penyimpanan dipercepat menunjukkan bahwa kekentalan dan konsistensi krim
cukup baik dan telah memenuhi syarat angka viskositas krim yang seharusnya.
Berdasarkan hasil uji yang didapatkan dari ketiga formula masih memenuhi syarat
pengujian viskositas sediaan krim yaitu diangka 4.000–40.000 poise.
Berdasarkan hasil yang didapatkan formulasi krim antioksidan sari buah
Dengen dengan variasi jumlah emulgator yang berbeda dapat dikatakan stabil dan
telah memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan krim. Adapun dari ketiga formula
yang telah dibuat dan diuji, formula ke 3 memiliki kestabilan yang lebih baik
dibandingkan 2 formula lainnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Sari buah Dengen (Dillenia serrata L) dapat diformulasikan kedalam bentuk
sediaan krim antioksidan dengan variasi jumlah emulgator yang berbeda.
2. Formula krim antioksidan sari buah Dengen (Dillenia serrata L) dengan
variasi jumlah emulgator yang berbeda berdasarkan hasil yang diperoleh
dapat dikatakan stabil dan telah memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan
krim.
B. Saran
1. Disarankan kepada peneliti selanjutnya sebaiknya dilakukan pengujian yang
lebih kompleks lagi.
2. Dijadikan bahan pertimbangan sebagai salah satu alternatif sediaan krim
antioksidan dari sari buah Dengen (Dillenia serrata L).
30
DAFTAR PUSTAKA
Anief., 2000. Ilmu Meracik Obat. Cetakan ke Sembilan. Gadja Mada University
Press. Yogyakarta: Hal 210-211
Aulton, Michael, E., 2005 . Pharmaceutics The Science Of Dosage From Design.
Elsevier, United Kingdom.
Ditjen POM., 1979. Farmakope Indonesia. Edisi Ke-tiga. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Hasrianti., 2012. . Studi Pembuatan Permen Buah Dengen . Program Studi Ilmu
Dan Teknologi Pangan, Jutusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian.
Universitas Hasanuddi Makasar : Hal.5
Ilma,N., [Link] Pembuatan Dodol Buah Dengen (Dillenia Serrata
Thunb).Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian. Universitas Hasanuddin
Makassar
Juliani., 2015. Formulasi Dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Krim Tabir Surya
Ekstrak Etanol Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.). Fakultas
Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar. Makassar: Hal.54
Mitsui., T. 1997. New Cosmetic Science. Edisi Kesatu. Amsterdam: Elsevier B.V:
Hal.13, 19-21.
Ninin kartika., 2011. Uji Penghambatan Tirosinase Dan Stabilitas Fisik Sediaan
Krim Pemutih Yang Mengandung Ekstrak Kulit Batang Nangka
(Artocarpus heterophyllus). Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Universitas Indonesia. Depok: Hal.12-16
Rowe, R.C. et Al., 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed, The
Pharmaceutical Press, London: Hal. 338, 474-475
Syahruni S, Syamsu. 2015. Identifikasi Komponen Kimia Dan Uji Daya
Antioksidan Ekstrak Buah Sempur (Dillenia Serrata Thunbr). Akademi
[Link].
31
32
Sayuti kesuma., Yenrina Rina. 2015. Antioksidan Alami dan [Link]
University Press. Padang
Tamat, S. R., T. Wikanta dan L. S. Maulina. 2007. Aktivitas Antioksidan dan
Toksisitas Senyawa Bioaktif dari Ekstrak Rumput Laut Hijau Ulva
reticulata Forsskal. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia: Hal.31-36.
Tranggono, Retno I dan Fatma Latifah. 2007. Buku Pegangan Ilmu
Pengetahuan Kosmetik .PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta : Hal. 3
Virginia patricia., 2014. Modul Teknologi Kosmetik Krim Pemutih. Sekolah
Tinggi Ilmu Farmasi. Makassar
Wasiaatmaja., Syarif M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta. UI Press:
Hal.11-15
Winarsi., H, 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Kanisius, Yogyakarta:
Hal. 33
32
Lampiran 1
SKEMA KERJA
Pengolahan Sari Buah Dengen (Dillenia serrata L.)
Buah Dengen
Dibersihkan dan disortasi basah
Di buat jus
Di keringkan dengan freeze dryer
Sari Buah Dengen
Pembuatan Krim Antioksidan Sari Buah Dengen (Dillenia serrata L)
Cetil alkohol + Asam stearate +
Propil paraben + Span 60 +
Lanolin anhidrat + Parafin Fase Minyak
Dicampurkan hingga
terbentuk dasar krim
yang homogen
Metil paraben + Propilenglikol +
Fase Air
Tween 60
Gerus sari buah Dengen
Tambahkan sedikit demi sedikit
+ α tokoferol
Evaluasi mutu fisik dan uji 1. Pengujian organoleptis
stabilitas sediaan krim ekstrak
2. Pemeriksaan
etanol Sempur
homogenitas
3. Pengujian pH
Pengolahan data dan penarikan 4. Pengujian viskositas
kesimpulan
33
Lampiran 2
1. Ekstrak Kulit Buah Naga
Daging buah Dengen (Dillenia serrata L)
Hasil sari buah Dengen (Dillenia serrata L)
Penimbangan sari buah Dengen (Dillenia serrata L)
35
2. Pengujian Stabilitas
Proses pengujian sediaan dalam climatic chamber
Hasil sediaan krim setelah penyimpanan dipercepat
36
3. Pengujian PH
Formula 1 sebelum dipercepat
Formula 2 sebelum dipercepat
Formula 3 sebelum dipercepat
37
Formula 1 sesudah dipercepat
Formula 2 sesudah dipercepat
Formula 3 sesudah dipercepat
38
4. Pengujian Viskositas
Sebelum dipercepat
Sesudah dipercepat
BIOGRAFI
A. Identitas Diri
Nama Lengkap : Ruslan Safri
Nim : PO. [Link].6.1.084
Tempat Tanggal Lahir : Pinrang, 25 Februari 1997
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Program Studi : D III
Alamat : Jln Banta-bantaeng Lr.9c
E-mail : ratihmutmainna@[Link]
Nomor Telepon/Hp : 081244096000/085252088010
Nama Orang Tua : - Ayah : [Link] Rahman
- Ibu : [Link] Risal
B. Riwayat Pendidikan
SD : SDN 2 Petasia (2003 – 2009)
SMP : SMPN 1 Petasia (2009 – 2012)
SMA : SMAN 1 Petasia (2012 – 2015)
Perguruan Tinggi : Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar (2016–
sekarang)
Demikian biodata saya buat dengan sebenar-benarnya sebagai bahan
pertimbangan Bapak/Ibu, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.