0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
504 tayangan124 halaman

Asuhan Keperawatan Remaja NAPZA

Karya tulis ilmiah ini membahas tentang penerapan asuhan keperawatan keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA di wilayah kerja Puskesmas Kuranji Kota Padang. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan diarahkan untuk mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan pada kasus remaja bernama An. I. Hasilnya didapatkan 3 diagnosis utama yaitu ansietas, harga diri rendah

Diunggah oleh

Zero Three
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
504 tayangan124 halaman

Asuhan Keperawatan Remaja NAPZA

Karya tulis ilmiah ini membahas tentang penerapan asuhan keperawatan keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA di wilayah kerja Puskesmas Kuranji Kota Padang. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan diarahkan untuk mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan pada kasus remaja bernama An. I. Hasilnya didapatkan 3 diagnosis utama yaitu ansietas, harga diri rendah

Diunggah oleh

Zero Three
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA REMAJA


DENGAN PERILAKU NAPZA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KURANJI KOTA PADANG

KARYA TULIS ILMIAH

PUTRI INDAH KAMELIA


NIM : 163110217

JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII KEPERAWATAN PADANG
TAHUN 2019

Poltekkes Kemenkes Padang


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA REMAJA


DENGAN PERILAKU NAPZA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KURANJI KOTA PADANG

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


Ahli Madya Keperawatan

PUTRI INDAH KAMELIA


NIM : 163110217

JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII KEPERAWATAN PADANG
TAHUN 2019
Poltekkes Kemenkes Padang
ii
Poltekkes Kemenkes Padang
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya
sehingga peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Asuhan
Keperawatan pada Remaja dengan Perilaku NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas
Kuranji Kota Padang Tahun 2019”. Peneliti menyadari bahwa, peneliti tidak akan bisa
menyelesaikan karya tulis ilmiah ini tanpa bantuan dan bimbingan Bapak Tasman, [Link],
[Link], [Link] selaku pembimbing I dan ibu Hj. Murniati Mucthtar, [Link], SKM,
M. Biomed selaku pembimbing II yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran
untuk mengarahkan peneliti dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Tidak lupa juga
peneliti mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Burhan Muslim, SKM, [Link] selaku Direktur Poltekkes Kemenkes RI
Padang.
2. Ibu Ns. Hj. Sila Dewi Anggraini, [Link],[Link] selaku Ketua Jurusan
Keperawatan Poltekkes Kemenkes RI Padang
3. Ibu Heppi Sasmita, [Link], [Link] selaku Ketua Program Studi Prodi D III
Keperawatan Poltekkes Kemenkes RI Padang.
4. Bapak Ibu Dosen dan Staf yang telah membantu dan memberikan ilmu dalam
pendidikan untuk bekal bagi peneliti selama perkuliahan di Jurusan Keperawatan
Poltekkes Kemenkes RI Padang
5. Pimpinan Puskesmas Kuranji yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan
penelitian.
6. Teristimewa orang tua dan keluarga yang telah memberikan bantuan dukungan
material dan moral.
7. Rekan – rekan seperjuangan angkatan 2016 Keperawatan, serta sahabat dan
penyemangat yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak
membantu peneliti dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Peneliti menyadari Karya Tulis Ilmiah ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu
peneliti mengharapkan tanggapan, kritikan dan saran yang membangun dari semua pihak
untuk kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Akhir kata, peneliti berharap Tuhan Yang
Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu.
Semoga nantinya dapat membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan,
khususnya ilmu keperawatan.

Padang, 19 April 2019


Peneliti
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Putri Indah Kamelia


NIM 163110217
Tempat / Tanggal Lahir : Padang Panjang, 27 Maret 1997
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum Kawin
Orang Tua : Ayah : Candra Davix
Ibu : Erlina
Alamat : Jl. Rohana Kudus no. 324 RT 09 Kecamatan Padang
Panjang Barat Kelurahan Kampung Manggis Kota Padang
Panjang Provinsi Sumatera Barat

Riwayat Pendidikan

No Pendidikan Tahun Ajuran

1 SDN 16 Kampung Manggis 2003 - 2009

2 SMP Negeri 4 Padang Panjang 2009 - 2012

3 SMA Negeri 3 Padang Panjang 2012 - 2015

Prodi D III Keperawatan 2016 - 2019


4 Padang, Jurusan Keperawtan,
Poltekkes Kemenkes RI Padang
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN PADANG
Karya Tulis Ilmiah, Mei 2019
Putri Indah Kamelia

Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Remaja dengan Perilaku NAPZA di Wilayah Kerja
Puskesmas Kuranji Kota Padang Tahun 2019
Isi : x + 85 halaman + 2 tabel + 11 lampiran

ABSTRAK
Prevalensi penyalahgunaan narkoba didunia sejak tahun 2014 hingga 2016 mengalami
peningkatan. pengguna di tahun 2014 kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2015
dan 2016 menjadi 5,3% dan 5,8%. Prevalensi penyalahguna narkoba sebesar 1,77% dari
total penduduk Indonesia yaitu sebesar 3.376.115 orang. Tujuan penelitian ini adalah
untuk menerapkan asuhan keperawatan keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA di
wilayah kerja puskesmas kuranji Kota Padang tahun 2019.

Desain penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus dimana penelitian
diarahkan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana penerapan asuhan
keperawatan dengan masalah remaja dengan perilaku NAPZA pada An. I. Waktu
penelitian yang dilakukan pada tanggal 4 - 17 Februari 2019.

Hasil penelitian dari kasus An. I pada masalah keperawatan didapatkan 3 diagnosis utama
yaitu ansietas, harga diri rendah kronik, disfungsi proses keluarga rencana tindakan yang
disusun berdasarkan prinsip tindakan keperawatan keluarga yaitu : mengenal masalah,
mengambil keputusan, merawat anggota keluarga, memodifikasi lingkungan dan
memanfaatkan fasilitas kesehatan. Implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana
tindakan yang telah disusun.
Diharapkan kepada tenaga kesehatan Puskesmas Kuranji khususnya perawat hasil
penelitian ini dapat memberikan sumbangan pikiran dalam meningkatkan kemampuan
tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada remaja dengan perilaku
NAPZA.
Kata Kunci (Key Word) : NAPZA, keluarga, asuhan keperawatan
Daftar Pustaka : (21) 2008 - 2018
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................................ii
KATA PENGANTAR..............................................................................................iii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS.......................................................iv
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................................v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP................................................................................vi
ABSTRAK................................................................................................................vii
DAFTAR ISI.............................................................................................................viii
DAFTAR TABEL....................................................................................................ix
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................x

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................1
B. Rumusan masalah....................................................................................5
C. Tujuan......................................................................................................5
D. Manfaat....................................................................................................6

BAB II TINJAUN PUSTAKA


A. Konsep Keluarga......................................................................................8
1. Pengertian Keluarga...........................................................................8
2. Struktur Keluarga...............................................................................8
3. Tipe Keluarga.....................................................................................9
4. Tahap Perkembangan Keluarga.........................................................12
5. Fungsi Keluarga.................................................................................15
6. Tugas Keluarga..................................................................................19
7. Peran Perawat Keluarga.....................................................................19

B. Konsep Remaja........................................................................................21
1. Pengertian Remaja.............................................................................21
2. Ciri – Ciri Remaja..............................................................................22
3. Tahap Perkembangan Remaja............................................................23
4. Perkembangan Remaja.......................................................................24
5. Karakteristik Perkembangan Remaja.................................................26
6. Bentuk – Bentuk Kenakalan Remaja.................................................27

C. Konsep NAPZA.......................................................................................29
1. Pengertian NAPZA............................................................................29
2. Faktor Penyebab Penyalahgunaan NAPZA.......................................32
3. Ciri – Ciri Pengguna NAPZA............................................................33
4. Dampak Penyalahgunaan NAPZA....................................................34
5. Cara Penanggulangan NAPZA..........................................................36

D. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga Teoritis.....................................37


1. Pengkajian Keperawatan....................................................................37
2. Diagnosa Keperawatan......................................................................44
3. Intervensi Keperawatan.....................................................................46
4. Implementasi Keperawatan................................................................51
5. evaluasi Keperawatan........................................................................52

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Desain Penelitian..................................................................................53
B. Tempat dan Waktu Penelitian...............................................................53
C. Populasi dan Sampel.............................................................................53
D. Alat dan Instrumen Pengumpulan Data................................................55
E. Cara Pengumpulan Data.......................................................................55
F. Jenis-Jenis Data.....................................................................................51
G. Hasil Analisis........................................................................................52

BAB IV DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN


A. Deskrpsii...............................................................................................60
1. Pengkajian Keperawatan.................................................................60
2. Diagnosis Keperawatan..................................................................63
3. Intervensi Keperawatan..................................................................64
4. Implementasi Keperawatan.............................................................68
5. Evaluasi Keperawatan.....................................................................69
B. Pembahasan Kasus................................................................................71
1. Pengkajian Keperawatan.................................................................71
2. Diagnosis Keperawatan..................................................................72
3. Intervensi Keperawtan....................................................................74
4. Implementasi Keperawatan.............................................................76
5. Evaluasi Keperawatan.....................................................................78

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan............................................................................................82
B. Saran......................................................................................................84
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Prioritas Masalah.......................................................................................45
Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan.............................................................................47
DAFTAR LAMPIRAN

1. Jadwal Kegiatan Karya Tulis Ilmiah


2. Lembar Konsultasi Pembimbing I
3. Lembar Konsultasi Pembimbing II
4. Informed Consent
5. Jadwal kunjungan Tim Pelayanan Keperawatan Keluarga
6. Surat Izin Pengambilan Data dari Poltekkes Kemenkes Padang
7. Surat Izin Pengambilan Data dari Dinas Kesehatan Kota Padang
8. Surat Izin Penelitian dari Poltekkes Kemenkes Padang
9. Surat Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan Kota Padang
10. Surat Telah Selesai Penelitian dari Puskesmas Kuranji
11. Format Asuhan Keperawatan Keluarga
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO tahun 2015, remaja merupakan penduduk yang rentang usia 10 hingga 19
tahun. Menurut Peratutan Menteri Kesehatan RI nomor 25 tahun 2014, remaja
merupakan penduduk dalam rentang usia 10 hingga 18 tahun. Sementara itu menurut
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencara Nasional (BKKBN), rentang usia remaja
dari 10 hingga 24 tahun dan belum menikah. Perbedaan defenisi tersebut menunjukkan
bahwa tidak ada kesepakatan universal mengenai batasan kelompok usia remaja. Masa
ini merupakan periode persiapan menuju dewasa yang akan melewati beberapa tahapan
perkembangan penting dalam hidup. Selain kematangan fisik dan seksual, remaja juga
mengalami tahapan menuju kemandirian sosial dan ekonomi , membangun identitas ,
akuisisi kemampuan untuk kehidupan masa dewasa serta kemampuan bernegosiasi

Masa pertumbuhan atau masa remaja diwarnai dengan munculnya karakteristik remaja
yang disebut “krisis identitas” yaitu masa dimana individu harus memutuskan siapa dia,
apa yang dia lakukan dan apa yang dilakukan dalam hidupnya. Akibatnya, remaja sangat
peka terhadap stres, frustasi, dan konflik, Karena remaja sedang mengalami pergolakan
dalam jiwanya untuk mencari jati diri. Oleh karena itu remaja sangat rentan sekali
mengalami masalah psikososial. Salah satu masalah yang merupakan bentuk kenakalan
remaja adalah penyalahgunaan NAPZA (Kartono, 2013).

NAPZA merupakan singkatan dari Narkotika, Psiokotropika dan Zat adiktif. Jenis
narkotikanya heroin, opium, ganja (marijuana), morfin, kokain. Jenis psikotropika
diantaranya ekstasi, sabu, amfetamin, pil koplo. Sedangkan jenis zat adiktif lainnya
alkohol, inhalas (lem, tinner, bensin, penghapus cat kuku), tembakau dan kafein (UU 35
Tahun 2009 Tentang Narkoba).

Penyalahgunaan NAPZA adala1h pemakaian obat secara terus-menerus atau sekali-kali


secara berlebihan, serta tidak menurut petunjuk dokter. Letak Indonesia yang strategis
serta geografis dengan ribuan kepulauan menyebabkan Indonesia sebagai jalur
perdagangan NAPZA. Walaupun demikian , penyalahgunaan NAPZA bukan hanya

1
Poltekkes Kemenkes Padang
13

masalah di Indonesia saja, tetapi merupakan masalah global yang perlu dihadapai
bersama (BNN, 2017).
2

Saat ini NAPZA menjadi masalah global, yang mewabah hampir di semua Negara
didunia. Saat ini tidak ada satu Negara pun di dunia yang luput dari penyalahgunaan
NAPZA. Berdasarkan data dari United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC)
pada tahun 2017 Prevalensi penyalahgunaan narkoba didunia sejak tahun 2014 hingga
2016 mengalami peningkatan. Besaran prevalensi penyalahgunaan narkoba di dunia
diestimasi sebesar 4,9% atau 208 juta pengguna di tahun 2014 kemudian mengalami
peningkatan pada tahun 2015 dan 2016 menjadi 5,3% dan 5,8%. Secara absolut,
diperkirakan ada sekitar 167 hingga 315 juta orang penyalahguna dari popoulasi
penduduk dunia yang berumur 15-64 tahun yang menggunakan narkoba

Sementara pengguna NAPZA di Indonesia cenderung mengalami peningkatan dari tahun


ke tahun. Prevalensi penyalahgunaan NAPZA menurut Badan Narkotika Nasional
(BNN) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPKUI) tahun 2014-2016
terjadi peningkatan yaitu 1,99% dari jumlah penduduk, 2,21% dari jumlah penduduk,
dan 2,25% dari jumlah penduduk. Prevalensi penyalahguna narkoba sebesar 1,77% dari
total penduduk Indonesia yaitu sebesar 3.376.115 orang pada kelompok usia 10-59 tahun
.
Hasil survey BNN RI dengan Puslitkes UI pada tahun 2014 -2017, menunjukkan
penyalahgunaan narkoba di 34 provinsi tahun 2017. Provinsi Sumatera Barat berada
pada posisi 13 dengan angka prevalensi penyalahguna narkoba sebesar 1,78 % atau
sekitar 63.352 orang. Jika dibandingkan dengan survey tahun 2014 dengan tahun 2017,
terjadi kenaikan 0,06 %. Penyalahgunaan narkoba ditingkat pelajar dan mahasiswa
berdasarkan hasil penelitian tahun 2017 Sumatera Barat menduduki rangking ke -3
terbesar se- Indonesia (BNN,2017).

Saat ini di kota Padang tidak ada data yang mencatat tentang remaja dengan
penyalahgunaan narkoba baik itu di dinas kesehatan kota Padang maupun di Puskesmas
se-Kota Padang. Sehingga peneliti mengambil keputusan untuk mengambil data dari
salah satu yayasan rehabilitasi NAPZA di kota Padang.

Berdasarkan data dari yayasan rehabilitasi NAPZA ( Pelita Jiwa Insani) dikota Padang
menunjukkan penyalahgunaan narkoba terbanyak terjadi pada anak remaja berumur (12-
24 tahun) dengan prevalensi sebesar 42 % dibandingkan dengan yang berumur (25-45
tahun) sebesar 27 %. Data yang diperoleh yayasan pelita jiwa insani tercatat jumlah

Poltekkes Kemenkes Padang


pasien remaja dengan penyalahgunaan NAPZA sebanyak 38 orang yang dirawat inap
dan 45 orang rawat jalan selama bulan Januari sampai Oktober 2018. Dari sekian
banyak remaja dengan penyalahgunaan narkoba 40 orang diantaranya berada diluar kota
Padang dan ada 43 orang yang berada di kota Padang. Di Kota padang remaja dengan
penyalahguna narkoba bertempat tinggal 5 orang di kecamatan Padang Utara, 6 orang
dikecamatan Nanggalo, 7 orang dikecamatan Koto Tangah,10 orang di kecamatan
Padang Selatan, dan 15 orang berada di kecamatan Kuranji yang merupakan remaja
dengan penyalahgunaan narkoba tertinggi di Kota Padang.

Adapun faktor penyebab remaja menggunakan NAPZA adalah kurang menghayati nilai-
nilai agama, kurang percaya diri, pribadi yang mudah kecewa, keinginan untuk diterima
dalam kelompok pergaulan, individu mempunyai keinginan untuk mencoba-coba,
pengaruh teman sebaya, kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua, keluarga
disharmonis, komunikasi yang kurang terbuka dengan anak, orang tua tidak bisa menjadi
contoh atau teladan bagi anak. Penyebab utama remaja menggunakan NAPZA adalah
faktor keluarga (Lestari, 2013).

Keluarga merupakan sumber daya penting dalam pemberian layanan kesehatan, baik
bagi individu maupun keluarga. Fungsi keluarga salah satunya yaitu fungsi afektif yang
merupakan pemberian perlindungan psikologis, penciptaan rasa aman, pengadaan
interaksi dan pengenalan identitas individu. Keberlangsungan interaksi dalam keluarga
akan membentuk suatu kepribadian setiap anggota keluarga untuk mengungkapkan
permasalahan dan sesuatu yang dialaminya. Adanya optimalisasi fungsi afektif dalam
keluarga diharapkan menjadi dasar keluarga untuk menjamin anak yang telah remaja
dalam keluarga terbebas dari segala
masalah, khususnya pada remaja yang mengkomsumsi NAPZA (Friedman,2010)

Keluarga merupakan kunci untuk mencegah anak mereka dari kecanduan NAPZA,
karena orang tua merupakan tempat menerima dan menumpahkan segala persoalan,
memberikan bimbingan, pengajaran dan pelatihan etika, dan moral secara berjenjang
sesuai dengan perkembangan dirinya. Partisipasi dari orang tua seperti memperhatikan,
mengawasi, menyalurkan bakat dan minat anak kearah yang positif, menumbuh
kembangkan diri anak melalui pendidikan agama sejak dini, memberikan kepercayaan
pada anak dalam batas toleransi, serta membangun komunikasi positif dalam bentuk
anak sebagai sahabat, dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan NAPZA di kalangan
remaja (Friedman,2010).

Salah satu peran perawat dalam keluarga adalah peran sebagai fasilitator dan edukator
dimana perawat menjadi tempat bertanya keluarga untuk memecahkan masalah dan
memberikan jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi anggota keluarga. Dari
masalah tersebut peneliti berkeinginan dapat memberikan terapi kepada pasien berupa
terapi asertif dimana terapi tersebut merupakan terapi yang diberikan kepada individu
terutama pada remaja yang mengalami kecemasan. Terapi ini melatih kemampuan
seseorang untuk mengungkapkan pendapat, perasaan, sikap dan hak tanpa disertai
adanya perasaan cemas (Friedman,2010).

Berdasarkan survey awal pada tanggal 13 Desember 2018 diwilayah kerja Puskesmas
Kuranji pada 1 orang anak remaja berumur 18 tahun berjenis kelamin laki – laki
berdasarkan hasil wawancara didapatkan remaja tersebut pada saat berumur 12 tahun
sudah mengkonsumsi lem disebabkan oleh ajakan teman, setelah itu mencoba – coba
untuk mengkonsumsi narkoba yang berjenis ganja saat mengkonsumsi narkoba remaja
tersebut merasa senang dan ada kepuasaan tersendiri. Keluarga yang terlalu sibuk
membuatnya untuk mengkonsumsi narkoba dampak yang remaja tersebut rasakan saat
mengkonsumsi narkoba adalah sulit untuk tidur, malas berlajar, dan sering begadang.

Berdasarkan latar belakang dan fenomena diatas peneliti telah melakukan penelitian
remaja dengan perilaku NAPZA pada keluarga dengan judul “ Asuhan keperawatan
Keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji
Kecamatan Kuranji Kota Padang Tahun 2019”.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti uraikan diatas, maka perumusan masalah
penelitian ini adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan Keluarga pada Remaja dengan
Perilaku NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang
pada Tahun 2019?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mampu menerapkan asuhan keperawatan keluarga pada remaja dengan perilaku
NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang Tahun
2019.
2. Tujuan khusus
a) Mampu mendeskripsikan pengkajian keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA
di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
b) Mampu mendeskripsikan diagnosa keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA di
Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
c) Mampu mendeskripsikan intervensi keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA di
Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
d) Mampu mendeskripsikan tindakan keperawatan keluarga pada remaja dengan
perilaku NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota
Padang.
e) Mampu mendeskripsikan hasil evaluasi keluarga pada remaja dengan perilaku
NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
f) Mampu mendeskripsikan pendokumentasian keluarga pada remaja dengan perilaku
NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengalaman nyata dalam memberikan Asuhan
Keperawatan Keluarga pada Remaja dengan Perilaku NAPZA di Wilayah Kerja
Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.

2. Bagi Puskesmas
Disarankan petugas kesehatan di Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang
dapat meningkatkan asuhan keperawatan yang diberikan pada remaja dengan perilaku
NAPZA.

3. Bagi institusi Poltekkes Kemenkes Padang


Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan oleh mahasiswa prodi D III
Keperawatan Padang untuk peneliti selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Keluarga
1. Pengertian Keluarga
Friedman (2010) mendefinisikan bahwa keluarga sebagai suatu sistem sosial.
Keluarga merupakan sebuah kelompok kecil yang terdiri dari individu-individu
yang memiliki hubungan erat satu sama lain, saling tergantung yang diorganisir
dalam satu unit tunggal dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Menurut
(Johnson, 1992) dalam Padila (2012) keluarga adalah kumpulan dua orang atau
lebih yang mempunyai hubungan darah yang sama atau tidak, yang terlibat dalam
kehidupan terus menerus, yang tinggal dalam satu atap, mempunyai ikatan
emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang dengan lainnya.

Harmoko (2012), keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh


ikatan perkawian, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya yang umum: meningkatkan perkembangan fisik, mental,
emosional, dan sosial dari tiap anggota.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah dua
atau lebih individu yang tergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau
hasil adopsi tinggal bersama dalam suatu rumah dalam keadaan saling
ketergantugan, beinteraksi satu sama lain dan menjalankan perannya masing-
masing serta mempertahankan kebudayaan.

2. Struktur Keluarga
Padila (2012) menjelaskan bahwa struktur keluarga menggambarkan bagaimana
keluarga melaksanakan fungsi keluarga di masyarakat. Ada beberapa struktur
keluarga yang ada di Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam, diantaranya
adalah :

a) Patrilineal adalah : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah.

66
7

b) Matrilineal adalah : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ibu.
c) Matrilokal adalah : sepasang suami suami istri yang tinggal bersama
keluarga sedarah ibu.
d) Patrilokal adalah : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah ayah.
e) Keluarga kawin adalah : hubungan suami istri sebagai dasar bagi
pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri (Padila, 2012).

3. Tipe Keluarga
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam
pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga
berkembang mengikutinya agar dapat mengupayakan peran serta keluarga
dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perlu mengetahui
berbagai tipe keluarga (Padila, 2012).

Dalam sosiologi keluarga berbagai bentuk keluarga digolongkan sebagai tipe


keluarga tradisional dan nontradisional atau bentuk normative atau non
normative.
a. Keluarga tradisional
Menurut L Johnson & Leny R (2010) keluarga tradisional meliputi :
1) The nuclear family (keluarga inti)
Terdiri dari suami, istri, dan anak. Biasanya keluarga yang melakukan
perkawinan pertama atau keluarga dengan orang tua campuran atau
orangtua tiri.
2) The dyad family Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak)
yang hidup bersama dalam satu rumah.
3) Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah
memisahkan diri .
4) The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan
anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena mengejar
karir/pendidikan yang terjadi pada wanita.

Poltekkes Kemenkes Padang


5) The extended family (keluarga luas/besar)
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu
rumah seperti nuclear family disertai paman, tante, orang tua (kakek-
nenek), keponakan, dan lain-lain).
6) The single-parent family (keluarga duda/janda)
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak,
hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan
ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan).
7) Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal
bersama dalam satu rumah.
8) Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling
berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang
sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dan lain-lain).
9) Blended family
Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali
dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya.
10) The single adult living alone / single-adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena
pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti perceraian atau ditinggal
mati.
b. Keluarga non tradisional
1) The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari
hubungan tanpa nikah.
2) The stepparent family
Keluarga dengan orang tua tiri.
3) Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada
hubungan saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah,
4) Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara
dalam waktu bersama, pada saat orangtua anak tersebut perlu
mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang
aslinya.
5) Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang
permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan
ekonomi dan atau problem kesehatan mental.

4. Tahap Perkembangan Keluarga


Menurut (Duvall & Miller,1985) dalam Friedman (2010) terdapat delapan
tahapan perkembangan keluarga :
a. Tahap I : keluarga dengan pasangan baru (Beginning Family) Pembentukan
pasangan menandakan permulaan suatu keluarga baru dengan pergerakan
dari membentuk keluarga asli sampai ke hubungan intim yang baru. Tahap
ini juga disebut tahap pernikahan. Pasangan yang baru menikah, saat ini
membuat porsi rumah tangga menjadi lebih kecil daripada dekade
sebelumnya. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini yaitu
membentuk pernikahan yang memuaskan bagi satu sama lain, berhubungan
secara harmonis dengan jaringan kekerabatan dan merencanakan sebuah
keluarga.
b. Tahap II : keluarga dengan kelahiran anak pertama (Childbearing Family)
Pada tahap ini dimulai dengan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai
bayi berusia 30 bulan. Transisi ke masa menjadi orang tua adalah salah satu
kunci dalam siklus kehidupan keluarga. Dengan kelahiran anak pertama,
keluarga menjadi kelompok trio, membuat sistem yang permanen pada
keluarga untuk pertama kalinya.

Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini yaitu membentuk keluarga


muda sebagai suatu unit yang stabil (menggabungkan bayi yang baru lahir
ke dalam keluarga), memperbaiki hubungan setelah terjadinya konflik
mengenai tugas perkembangan dan kebutuhan berbagai anggota keluarga,
mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan, memperluas
hubungan menjadi keluarga besar dengan menambah peran menjadi orang
tua dan menjadi kakek/nenek.

c. Tahap III : keluarga dengan anak prasekolah (Families with Preschool)


Tahap ini dimulai ketika anak berusia 2,5 tahun dan diakhiri ketika anak
berusia 5 tahun. Keluarga saat ini dapat terdiri dari tiga samapai lima orang,
dengan posisi pasangan suami-ayah, istri-ibu, putra-saudara laki-laki, dan
putri saudara perempuan. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini
yaitu memenuhi kebutuhan
anggota keluarga akan rumah, ruang, privasi dan keamanan yangmemad
ai, mensosialisasikan anak, mengintegrasikan anak kecilsebagai
anggota keluarga yang baru sementara tetap memenuhi kebutuhan anak
yang lain, mempertahankan hubungan yang sehat di dalam keluarga
(hubungan pernikahan dan hubungan orang tua- anak) dan diluar keluarga
(hubungan dengan keluarga besar dan komunitas).
d. Tahap IV : keluarga dengan anak usia sekolah (families with children)
Tahap ini mulai ketika anak pertama memasuki sekolah dalam waktu
penuh, biasanya pada usia 5 tahun, dan diakhiri ketika ia mencapai jumlah
anggota keluarga maksimal dan hubungan keluarga pada akhir tahap ini
juga maksimal (Duvall & Miller,(1985) dalam Friedman, 2010).
e. Tahap V : keluarga dengan anak remaja (families with teenagers)
Tahap ini berlangsung selama enam atau tujuh tahun, walaupun dapat lebih
singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih awal atau lebih lama jika
anak tetap tinggal di rumah pada usia lebih dari 19 atau 20 tahun. Tugas
perkembangan keluarga tahap ini yaitu menyeimbangkan kebebasan dengan
tanggung jawab pada saat anak remaja telah dewasa dan semakin otonomi,
memfokuskan kembali hubungan pernikahan, berkomunikasi secara terbuka
antara orang tua dan anak.

Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi tanggung
jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi
lebih dewasa :
Menurut Jhonson & Leny, 2010 ada beberapa tujuan keluarga pada tahap
keluarga dengan anak remaja yaitu :
a) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab,
mengingat remaja sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya.
b) Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga.
c) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.
Hindari perdebatan ,kecurigaan dan permusuhan.
d) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.
f. Tahap VI : Keluarga Melepaskan Anak Dewasa Muda (launching center
families)
Permulaan fase kehidupan keluarga ini ditandai dengan perginya anak
pertama dari rumah orang tua dan dan berakhir denga “kosongnya rumah”,
ketika anak terakhir juga telah meninggalkan rumah. Tahap ini dapat cukup
singkat atau cukup lama, bergantung pada jumlah anak dalam keluarga atau
jika anak yang belum menikah tetap tinggal di rumah setelah mereka
menyelesaikan SMU atau kuliahnya. Tugas perkembangan keluarga pada
tahap ini adalah keluarga membantu anak tertua untuk terjun ke dunia luar,
orang tua juga terlibat dengan anak terkecilnya, yaitu membantu mereka
menjadi mandiri (Friedman, 2010).
g. Tahap VII : Orang Tua Paruh Baya ( middle age families)
Tahap ini merupakan tahap masa pertengahan bagi orang tua, dimulai
ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir dengan pensiun atau
kematian salah satu pasangan. Tahap ini dimulai ketika orang tua berusia
sekitar 45 tahun sampai 55 tahun dan berakhir dengan pensiunannya
pasangan, biasanya 16 sampai 18 tahun kemudian. Tugas keperawatan
keluarga pada tahap ini adalah wanita memprogramkan kembali energi
mereka dan bersiap-siap untuk hidup dalam kesepian dan sebagai
pendorong anak mereka yang sedang berkembang untuk lebih mandiri serta
menciptakan lingkungan yang sehat (Friedman, 2010).
h. Tahap VIII : Keluarga Lansia dan Pensiunan
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini adalah dimulai pada saat
pensiunan salah satu atau kedua pasangan, berlanjut sampai kehilangan
salah satu pasangan, dan berakhir dengan kematian pasangan yang lain.
Tugas perkembangan keluarga pada tahap terakhir ini adalah
mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan dan kembali ke
rumah setelah individu pensiun/berhenti bekerja dapat menjadi problematik
(Friedman, 2010).

5. Fungsi Keluarga
Berkaitan dengan peran keluarga yang bersifat ganda, yakni satu sisi keluarga
berperan sebagai matriks bagi anggotanya, disisi lain keluarga harus memenuhi
tuntutan dan harapan masyarakat. Menurut (Friedman, 1998) dalam Padila
(2012) ada lima fungsi dasar keluarga, yaitu
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang
merupakan basis kekuatan dari keluarga. Fungsi afektif berguna untuk
pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan fungsi afektif tampak
melalui keluarga yang bahagia. Anggota keluarga mengembangkan konsep
diri yang positif, rasa dimiliki dan memiliki, rasa berarti serta merupakan
sumber kasih sayang. Reinforcement dan support dipelajari dan
dikembangkan melalui interaksi dalam keluarga.
Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga untuk memenuhi fungsi
afektif adalah :
1) Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima dan
mendukung. Setiap anggota keluarga yang mendapat kasih sayang dan
dukungan, maka kemampuannya untuk memberi akan meningkat
sehingga tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung.
Hubungan yang baik dalam keluarga tersebut akan menjadi dasar dalam
membina hubungan dengan orang lain di luar keluarga.
2) Saling menghargai, dengan mempertahankan iklim yang positif dimana
setiap anggota keluarga baik orang tua maupun anak diakui dan
dihargai keberadaan dan haknya.
3) Ikatan dan identifikasi, ikatan ini mulai sejak pasangan sepakat hidup
baru. Kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan berbagai aspek
kehidupan dan keinginan yang tidak dapat dicapai sendiri, misalnya
mempunyai anak. Hubungan selanjutnya akan dikembangkan menjadi
hubungan orang tua anak dan antar anak melalui proses identifikasi.
Proses identifikasi merupakan inti ikatan kasih sayang, oleh karena itu
perlu diciptakan proses identifikasi yang positif dimana anak meniru
prilaku orangtua melalui hubungan interaksi mereka.

Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan kebahagiaan


keluarga. Sering perceraian, kenalan anak atau masalah keluarga
lainnya timbul akibat fungsi afektif keluarga yang tidak terpenuhi.
Fungsi afektif yang berjalan baik dalam keluarga dapat mencegah
terjadinya penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja
(Friedman,2010).

b. Fungsi sosialisasi
Menurut Friedman (1998) sosialisasi adalah proses perkembangan dan
perubahan yang dialami individu yang menghasilkan interaksi sosial dan
belajar berperan dalam lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak individu
dilahirkan dan berakhir setelah meninggal. Keluarga merupakan tempat
dimana individu melakukan sosialisasi. Tahap perkembangan individu dan
keluarga akan dicapai melalui interaksi atau hubungan yang diwujudkan
dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, memiliki nilai/norma,
budaya dan perilaku melalui interaksi dalam keluarga sehingga individu
mampu berperan di masyarakat. Jika fungsi sosialisasi ini tidak berjalan
kearah yang positif akan membuat terjadinya pergaulan bebas dan
kenakalan remaja lainnya khususnya penyalahgunaan NAPZA pada
kalangan remaja.
c. Fungsi reproduksi
Keluarga berrfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan
meningkatkan sumber daya manusia. Dengan adanya program keluarga
berencana, maka fungsi ini sedikit dapat terkontrol. Namun disisi lain
banyak kelahiran yang tidak diharapkan atau di luar ikatan perkawinan
sehingga lahirnya keluarga baru dengan satu orangtua (single parent).
Dalam fungsi ini jika dalam keluarga ada anggota keluarga yang
mengkonsumsi NAPZA tinggi kemungkinan aggota lain dalam keluarga
juga akan meniru hal tersebut khususnya dalam penyalahgunaan NAPZA.
d. Fungsi ekonomi
Untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti makanan, pakaian
dan rumah, maka keluarga memerlukan sumber keuangan. Fungsi ini sulit
dipengaruhi oleh keluarga di bawah garis kemiskinan ( Gakin atau pra
keluarga sejahtera). Perawat berkontribusi untuk mencari sumber-sumber di
masyarakat yang dapat digunakan keluarga meningkatkan status kesehatan
mereka.
Faktor ekonomi dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap remaja yang
menyalahgunaan NAPZA.
e. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi lain keluarga adalah fungsi perawatan kesehatan. Selain keluarga
menyediakan makanan, pakaian dan rumah, keluarga juga berfungsi
melakukan asuhan kesehatan terhadap anggotanya baik untuk mencegah
terjadinya gangguan maupun merawat anggota yang sakit. Keluarga juga
menentukan kapan anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
memerlukan bantuan atau pertolongan tenaga profesional. Kemampuan ini
sangat mempengaruhi status kesehatan individu dan keluarga.
Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan terhadap
anggotanya dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan.
Menurut (Friedman, 1998 dalam Padila : 2012) Tugas kesehatan keluarga
tersebut adalah :
1) Mampu mengenal masalah
2) Mampu mengambil keputusan
3) Mampu merawat anggota keluarga yang sakit
4) Mampu memodifikasi lingkungan
5) Mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan
Kelima tugas kesehatan tersebut saling terkait dan perlu dilakukan oleh
keluarga. Perawat perlu melakukan pengkajian untuk mengetahui sejauh
mana keluarga dapat melaksanakan kelima tugas
tersebut dengan baik, selanjutnya memberikan bantuan ataupembin
aan terhadap keluarga untuk memenuhi tugas kesehatan
keluarga tersebut.

6. Tugas keluarga
Jhonson & Leny, 2010 mengatakan, pada dasarnya tugas keluarga ada delapan
tugas pokok sebagai berikut :
a) Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
b) Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
c) Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya
masing-masing.
d) Sosialisasi antar anggota keluarga.
e) Pengaturan jumlah anggota keluarga.
f) Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
g) Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.
7. Peran Perawat Keluarga
Sebuah peran didefinisikan sebagai kumpulan dari perilaku yang secara relatif
homogen dibatasi secara normatif dan diharapkan dari seorang yang menempati
posisi sosial yang diberikan (Friedman, 2010). Dalam melakukan asuhan
keperawatan keluarga, perawat keluarga perlu memperhatikan prinsip-prinsip
berikut : (a) melakukan kerja bersama keluarga secara kolektif, (b) memulai
pekerjaan dari hal yang sesuai dengan kemampuan keluarga, (c) menyesuaikan
rencana asuhan keperawatan dengan tahap perkembangan keluarga, (d)
menerima dan mengakui struktur keluarga, dan (e) menekankan pada
kemampuan keluarga (Jhonson&Leny, 2010).
Adapun peran perawat keluarga menurut Jhonson&Leny (2010) adalah sebagai
berikut :
a. Sebagai pendidik
Perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan kepada
keluarga, terutama untuk memandirikan keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang memiliki masalah kesehatan. Terutama pada keluarga
dengan remaja yang mengkonsumsi NAPZA, perawat memberikan
pendidikan kesehatan tentang pengertian, tanda dan gejala ,dan dampak
yang ditimbulkan saat mengkonsumsi NAPZA.
b. Sebagai Koordinator Pelaksana Pelayanan Keperawatan
Perawat bertanggung jawab memberikan keperawatan yang kompr
ehensif. Pelayanan keperawatan yang berkesinambungan diberikan untuk
menghindari kesenjangan antara keluarga dan unit pelayanan kesehatan.
Dalam hal ini, perawat dapat membimbing keluarga dan menyusun rencana
keperawatan apa yang akan diberikan kepada keluarga dengan remaja yang
mengkonsumsi NAPZA, seperti perawat memberikan pendidikan kesehatan
mengenai pola asuh keluarga yang baik terhadap remaja yang
menyalahgunakan NAPZA.
c. Sebagai supervisor pelayanan keperawatan
Perawat melakukan superivisi ataupun pembinaan terhadap keluarga
berisiko tinggi maupun yang tidak. Kunjungan rumah tersebut dapat
direncanakan terlebih dahulu atau secara mendadak, sehingga perawat
mengetahui apakah keluarga menerapkan asuhan yang diberikan oleh
perawat terutama pada keluarga yang remajanya mengkonsumsi NAPZA.
d. Sebagai pembela (advokat)
Perawat berperan sebagai advokat keluarga untuk melindungi hak-hak
keluarga klien. Perawat diharapkan mampu mengetahui harapan serta
memodifikasi sistem pada perawatan yang diberikan untuk memenuhi hak
dan kebutuhan. Pemahaman yang baik oleh keluarga terhadap hak dan
kewajiban mereka sebagai klien mempermudah tugas perawat untuk
memandirikan keluarga. Hal ini juga diterapkan pada keluarga yang
mempunyai remaja yang mengkonsumsi NAPZA yang harus dijaga
privasinya, karena keluarga akan malu jika tetangga atau orang lain tahu
kalau anaknya mengkonsumsi NAPZA.
e. Sebagai fasilitator
Perawat dapat menjadi tempat bertanya individu, keluarga dan masyarakat
untuk memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka
hadapi sehari-hari serta dapat membantu mencari jalan keluar dalam
mengatasi masalah remaja yang mengkonsumsi NAPZA.
f. Sebagai peneliti
Perawat keluarga melatih keluarga untuk dapat memahami masalah-
masalah kesehatan yang dialami oleh anggota keluarga. Masalah kesehatan
yang muncul di dalam keluarga biasanya terjadi menurut siklus atau budaya
yang dipraktikkan keluarga. Peran perawat sebagai peneliti difokuskan pada
kemampuan keluarga untuk mengetahui penyebab, faktor, dan cara
penanggulangan pada remaja yang mengkonsumsi NAPZA.
Peran perawat keluarga dalam asuhan keperawatan berpusat pada keluarga
sebagai unit fungsional terkecil dan bertujuan memenuhi kebutuhan dasar
manusia pada tingkat keluarga sehingga tercapai kesehatan yang optimal
untuk setiap anggota keluarga. Melalui asuhan keperawatan keluarga,
fungsi keluarga menjadi optimal, setiap individu di dalam keluarga tersebut
memiliki karakter yang kuat, tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang
sifatnya negatif sehingga memiliki kemampuan berpikir yang cerdas.

B. Konsep Remaja
1. Pengertian Remaja
Remaja adalah suatu masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali
ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai
kematangan seksual (Sarwono, 2011). Masa remaja disebut juga sebagai masa
perubahan, meliputi perubahan dalam sikap, dan perubahan fisik (Pratiwi,
2012). Remaja pada tahap tersebut mengalami perubahan banyak perubahan
baik secara emosi, tubuh, minat, pola perilaku dan juga penuh dengan masalah-
masalah pada masa remaja (Hurlock, 2011).

Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya daerah


setempat. WHO membagi kurun usia dalam 2 bagian, yaitu remaja awal 10-14
tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Batasan usia remaja Indonesia usia 11-24
tahun dan belum menikah (Sarwono, 2011). Menurut Hurlock (2011), masa
remaja dimulai dengan masa remaja awal (12-24 tahun), kemudian dilanjutkan
dengan masa remaja tengah (15-17 tahun), dan masa remaja akhir (18-21
tahun).

2. Ciri - Ciri Remaja


Menurut Potter & Perry (2010) ciri – ciri remaja sebagai berikut :
a. Kecanggungan dalam pergaulan dan ketakuan dalam gerakan, sebagai
akibat dari perkembangan fisik, ,menyebabkan perasaan rendah diri.
b. Ketidakseimbangan secara keseluruhan terutama keadaan emosi yang labil.
Berubahnya emosiolitas, berubahnya suasana hati yang tidak dapat
diramalkan sebelumnya, labilitas remaja yang menyebabkan kurang
tercapainya pengertian orang lain akan diri pribadi remaja.
c. Perombakkan pandangan dan petunjuk hidup yang telah diperoleh pada
masa sebelumnya, meninggalkan perasaan kosong pada diri remaja.
d. Sikap menentang dan menantang orang tua maupun orang dewasa lainnya,
merupakan ciri yang mewujudkan keinginan remaja untuk meregangkan
ikatannya dengan orang tua dan menunjukkan ketidaktergantungannya
kepada orang tua dan orang deawasa lainnya.
e. Pertentangan didalam dirinya sering menjadi pangkal sebab pertentangan-
pertentangan dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya.
f. Kegelisahan, keadaan tidak tenang menguasai diri remaja. Banyak hal yang
diinginkan tetapi remaja tidak sanggupmemenuhi semuanya.
3. Tahap Perkembangan Remaja
Menurut Sarwono (2011) dan Hurlock (2011) ada tiga tahap perkembangan
remaja ,yaitu :
1. Remaja awal (early adolescence) usia 11-13 tahun
Seorang remaja pada tahap ini masih heran akan perubahan-perubahan yang
terjadi pada tubuhnya. Remaja mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat
tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Pada tahap
ini remaja awal sulit untuk mengerti dan dimengerti oleh orang dewasa.
Remaja ingin bebas dan mulai berfikir abstrak.
2. Remaja Madya (middle adolescence) 14-16 tahun
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman-teman. Remaja merasa
senang jika banyak teman yang menyukainya. Ada kecendrungan
“narcistic”, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman
yang mempunyai sifat yang sama pada dirinya. Remaja cendrung berada
dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih yang mana.
Pada fase remaja madya ini mulai timbul keinginan untuk berkencan
dengan lawan jenis dan berkhayal tentang aktivitas seksual sehingga remaja
mulai mencoba aktivitas-aktivitas seksual yang mereka inginkan.

3. Remaja akhir (late adolesence) 17-20 tahun


Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa yang ditandai
dengan pencapaian 5 hal, yaitu :
a. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
b. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang dan
dalam pengalaman-pengalaman yang baru.
c. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
d. Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri).
e. Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan
publik.

4. Perkembangan Remaja
Menurut potter & perry (2010) perkembangan remaja sebagai berikut :
1. Perkembangan Fisik
Perubahan fisik terjadi dengan cepat pada remaja. Kematangan seksual
sering terjadi seiring dengan perkembangan seksual secara primer dan
sekunder. Perubahan secara primer berupa perubahan fisik dan hormon
penting untuk reproduksi, perubahan sekunder antara laki-laki dan
perempuan berbeda (Potter & Perry, 2010).

Pada anak laki-laki tumbuhnya kumis dan jenggot, jakun dan suara
membesar. Puncak kematangan seksual anak laki-laki adalah dalam
kemampuan ejakulasi, pada masa ini remaja sudah dapat menghasilkan
sperma. Ejakulasi ini biasanya terjadi pada saat tidur dan diawali
dengan mimpi basah (Sarwono, 2011).

Pada anak perempuan tampak perubahan pada bentuk tubuh seperti


tumbuhnya payudara dan panggul yang membesar. Puncak kematangan
pada remaja wanita adalah ketika mendapatkan menstruasi pertama
(menarche). Menstruasi pertama menunjukkan bahwa remaja
perempuan telah memproduksi sel telur yang tidak dibuahi, sehingga
akan keluar bersama darah menstruasi melalui vagina atau alat kelamin
wanita (Sarwono, 2011).
1) Perkembangan emosi
Perkembangan emosi sangat berhubungan dengan perkembangan
hormon, dapat ditandai dengan emosi yang sangat labil. Remaja
belum bisa mengendalikan emosi yang dirasakannya dengan
sepenuhnya (Sarwono, 2011).
2) Perkembangan kognitif
Remaja mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan
masalah dengan tindakan yang logis. Remaja dapat berfikir abstrak
dan menghadapi masalah yang sulit secara efektif. Jika terlibat
dalam masalah, remaja dapat mempertimbangkan beragam
penyebab dan solusi yang sangat banyak (Potter & Perry, 2010).
3) Perkembangan psikososial
Perkembangan psikososial ditandai dengan terikatnya remaja
pada kelompok sebaya. Pada masa ini, remaja mulai tertarik
dengan lawan jenis. Minat sosialnya bertambah dan
penampilannya menjadi lebih penting dibandingkan
sebelumnya. Perubahan fisik yang terjadi seperti berat badan
dan proporsi tubuh dapat menimbulkan perasaan yang tidak
menyenangkan seperti, malu dan tidak percaya diri (Potter&
Perry, 2010).

5. Karakteristik Perkembangan Remaja


Menurut Ali (2011), karakteristik perkembangan sifat remaja yaitu :
1) Kegelisahan
Sesuai dengan masa perkembangannya, remaja mempunyai banyak
angan-angan, dan keinginan yang ingin diwujudkan di masa depan. Hal
ini menyebabkan remaja mempunyai angan-angan yang sangat maja
belum memadai sehingga remaja diliputi oleh perasaan gelisah.
2) Pertentangan
Pada umumnya, remaja sering mengalami kebingungan karena sering
mengalami pertentangan antara diri sendiri dan orang tua. Pertentangan
yang sering terjadi ini akan menimbulkan kebingungan dalam diri
remaja tersebut.
3) Mengkhayal
Keinginan dan alalui dunia fantasi. Tidak semua khayalan remaja
bersifat negatif. Terkadang khayalan remaja bisa bersifat positif,
misalnya menimbulkan ide-ide tertentu yang dapat direalisasikan.
4) Akitivitas berkelompok
Adanya bermacam-macam larangan dari orangtua akan mengakibatkan
kekecewaan pada remaja bahkan mematahkan semangat para remaja.
Kebanyakan remaja mencari jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi
dengan berkumpul bersama teman sebaya. Mereka akan melakukan
suatu kegiatan secara berkelompok sehingga berbagai kendala dapat
mereka atasi bersama.
5) Keinginan mencoba segala sesuatu
Pada umumnya, remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (high
curiosity). Karena memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, remaja
cenderung ingin berpetualang, menjelajahi segala sesuatu, dan ingin
mencoba semua hal yang belum pernah dialami sebelumnya.

6. Bentuk – Bentuk Kenakalan Remaja


Bentuk-bentuk perilaku kenakalan menurut Gunarsa 1998 dalam (Pieter,
2013), yaitu :
1) Kenakalan Remaja Terisolir (Delinkuensi Terisolir)
Kelompok ini merupakan jumlah terbesar dari kenakalan remaja. Pada
umumnya mereka tidak menderita kerusakan psikologis. Perbuatan
nakal mereka didorong oleh faktor-faktor berikut:
a. Keinginan meniru dan ingin konform dengan gangnya, jadi tidak
ada motivasi, kecemasan atau konflik batin yang tidak dapat
diselesaikan.
b. Kebanyakan berasal dari daerah kota yang transisional sifat yang
memiliki subkultur kriminal.
c. Pada umumnya remaja berasal dari keluarga berantakan, tidak
harmonis, dan mengalami banyak frustasi.
d. sedikit sekali mendapatkan supervisi dan latihan kedisiplinan yang
teratur, sebagai akibatnya dia tidak sanggup menginternalisasikan
norma hidup normal. Kenakalan remaja ini disebabkan karena faktor
lingkungan terutama tidak adanya pendidikan kepada anak, sehingga
anak cenderung bebas untuk melakukan sesuatu sesuai kehendaknya.
2) Kenakalan Remaja Neurotik (Delinkuensi Neurotik)
Pada umumnya, kenakalan remaja tipe ini menderita gangguan kejiwaan
yang cukup serius, antara lain berupa kecemasan, merasa selalu tidak
aman, merasa bersalah dan berdosa dan lain sebagainya.

Ciri-ciri perilakunya adalah:


a. Perilaku nakalnya bersumber dari sebab-sebab psikologis yang sangat
dalam, dan bukan hanya berupa adaptasi pasif menerima norma, dan
nilai subkultur gang yang kriminal itu saja.
b. Perilaku kriminal mereka merupakan ekspresi dari konflik batin yang
belum terselesaikan.
c. Biasanya remaja ini melakukan kejahatan seorang diri, dan
mempraktekkan jenis kejahatan tertentu.
3) Kenakalan Remaja Psikotik (Delinkuensi Psikopatik)
Delinkuensi psikopatik ini sedikit jumlahnya, akan tetapi dilihat dari
kepentingan umum, dan segi keamanan, kenakalan remaja ini merupakan
oknum kriminal yang paling berbahaya. Ciri tingkah laku mereka adalah:
1) Hampir seluruh remaja delinkuen psikopatik ini berasal dan dibesarkan
dalam lingkungan keluarga yang ekstrim, brutal, diliputi banyak pertikaian
keluarga. 2) Mereka tidak mampu menyadari arti bersalah, berdosa, atau
melakukan pelanggaran 3) Bentuk kejahatannya majemuk, tergantung
pada suasana hatinya yang kacau, dan tidak dapat diduga. 4) Mereka selalu
gagal dalam menyadari dan menginternalisasikan norma-norma sosial
yang umum berlaku, juga tidak peduli terhadap norma subkultur gangnya
sendiri. 5) Kebanyakan dari mereka juga menderita gangguan neurologis,
sehingga mengurangi kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri.
Psikopat merupakan bentuk kekalutan mental dengan karakteristik sebagai
berikut: tidakmemiliki pengorganisasian dan integrasi diri, orangnya tidak
pernah bertanggung jawab secara moral, selalu mempunyai konflik dengan
norma sosial dan hukum. Mereka sangat egoistis, anti sosial, dan selalu
menentang apa, dan siapapun tanpa sebab. Kenakalan remaja ini pada
tahap yang serius karena mengarah ke kriminal, dan sadisme. Kenakalan
ini dipicu adanya perilaku turunan atau tingkah laku dari keluarga (orang
tua) yang berbuat sadis, sehingga anaknya cenderung untuk meniru.
4) Kenakalan Remaja Defek Moral (Delinkuensi Defek Moral)
Defek (defect, defectus) artinya rusak, tidak lengkap, salah, cedera, cacat,
kurang. Kenakalan remaja defek moral mempunyai ciri-ciri: selalu
melakukan tindakan anti sosial, walaupun pada dirinya tidak terdapat
penyimpangan, namun ada disfungsi pada inteligensinya Kelemahan
remaja delinkuen tipe ini adalah mereka tidak mampu mengenal dan
memahami tingkah lakunya yang jahat, juga tidak mampu mengendalikan
dan mengaturnya, mereka selalu ingin melakukan perbuatan kekerasan,
penyerangan dan kejahatan rasa
kemanusiaannya sangat terganggu, sikapnya sangat dingin tanpa afeksi ja
di ada kemiskinan afektif, dan sterilitas emosional.

C. Konsep NAPZA
1. Pengertian NAPZA
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah obat bahan atau zat
bukan makanan yang jika diminum, diisap, dihirup, ditelan, atau disuntikan,
berpengaruh pada kerja otak yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan
mempengaruhi tubuh terutama otak (susunan saraf pusat), sehingga menyebabkan
gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan,
ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA tersebut.
(UU 35 tahun 2009 tentang narkoba)
a. Narkotika
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal
dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun
semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadar
an, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan.
Narkotika terdiri dari 3 golongan :
1) Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh :
Heroin, Kokain, Ganja.
2) Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai
pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi
mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
3) Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh :
Codein.
b. Psikotropika
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah
maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada
aktifitas mental dan perilaku.
Psikotropika terdiri dari 4 golongan :
1) Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu
pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi
kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi.
2) Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat
digunakan dalan terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh
: Amphetamine.
3) Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Phenobarbital.
4) Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas
digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Diazepam, Nitrazepam.
c. Zat Adiktif
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh
psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
1) Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh
menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan
manusia sehari – hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan
bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat
pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman
beralkohol :
a. Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % ( Bir ).
b. Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % ( Berbagai minuman anggur )
c. Golongan C : kadar etanol 20 – 45 % ( Whisky, Vodca, Manson
House, Johny Walker ).
2) Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap
berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan
rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering
disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.
3) Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin
sangat luas di [Link] upaya penanggulangan NAPZA di
masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus
menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering
menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.
4) Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA
dapat digolongkan menjadi 3 golongan :
a. Golongan Depresan ( Downer ) adalah jenis NAPZA yang berfungsi
mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya
menjadi tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri.
Contohnya: Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ), sedative ( penenang ),
Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer (anti cemas ).
b. Golongan Stimulan ( Upper ) adalah jenis NAPZA yang merangsang
fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat
pemakainnya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh:
Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.
c. Golongan Halusinogen adalah jenis NAPZA yang dapat
menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran
dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga
seluruh persaan dapat terganggu. Contoh: Kanabis ( ganja ).

2. Faktor Penyebab Penyalahgunaan NAPZA


Menurut Pieter 2013 penyalahgunaan narkoba ada beberapa faktor yaitu :
a. Lingkungan social
Motif ingin tahu : di masa remaja seseorang lazim mempunyai rasa ingin tahu
lalu setelah itu ingin mencobanya. Misalnya dengan narkotika
1) mencobanya, psikotropika maupun minuman keras atau bahan bahaya
lainnya.
2) Adanya kesempatan : karena orang tua sibuk dengan kegiatannya
masing –masing, mungkin juga karena kurangnya rasa kasih sayang
dari keluarga ataupun karena akibat dari perceraian.
3) Sarana dan prasarana : karena orang tua berlebihan memberikan
fasilitas dan uang yang berlebihan, merupakan sebuah pemicu untuk
menyalahgunakan uang tersebut untuk memmbeli narkotika untuk
memuaskan rasa keingintahuan mereka.
b. Kepribadian
1) Rendah diri : perasaan rendah diri di dalam pergaulan di masyarakat
ataupun di lingkungan sekolah , kerja dan sebagainya. Mereka mengatasi
masalah tersebut dengan cara menyalahgunakan narkotika, psikotropika
maupun minuman keras yang dilakukan untuk menutupi kekurangan
mereka tersebut sehingga mereka memperoleh apa yang diinginkan seperti
lebih aktif dan berani.
1) Emosional dan mental : pada masa – masa ini biasanya remaja
ingin lepas dari segala aturan – aturan dari orang tua mereka. Dan
akhirnya sebagai tempat pelarian yaitu dengan menggunakan
narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya. Lemahnya mental
remaja akan lebih mudah dipengaruhi oleh perbuatan – perbuatan
negatif yang akhirnya menjurus kearah pengguna narkotika,
psikotropika dan zat adiktif lainnya.

3. Ciri – Ciri Pengguna Narkoba


Efek narkoba tergantung kepada dosis pemakaian, cara pemakaian, pemakaian
sebelumnya dan harapan pengguna.

Tanda – tanda fisik , dapat dilihat dari tanda – tanda fisik si pengguna, seperti :
(Pieter, 2013)
a) Mata merah
b) Mulut kering
c) Bibir bewarna kecoklatan
d) Perilakunya tidak wajar
e) Bicara kacau
f) Daya ingatannya menurun

Adapun tanda – tanda dini yang telah menggunakan narkoba dapat dilihat dari
beberapa hal antara lain :
a) Pemurung dan penyendiri
b) Wajah pucat
c) Terdapat bau aneh yang tidak biasa pada kamar
d) Matanya berair dan tangannya gemetar
e) Nafasnya tersengal (sesak) dan susah tidur
f) Badannya lesu dan selalu gelisah
g) Anak menjadi mudah tetsinggung, marah, suka menantang orang tua.

4. Dampak Penyalahgunaan NAPZA


Menurut Pieter, 2013 ada 3 dampak penyalahgunaan NAPZA yaitu :
1) Dampak penyalahgunaan NAPZA pada Fisik :
a) Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang,
halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi.
b) Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi,
eksim.
c) Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi
pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru.
d) Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh
meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur.
e) Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan reproduksi adalah
gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi
(estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
f) Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan reproduksi pada
remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi,
ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).
g) Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian
jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit
seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya.
h) Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi over dosis
yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk
menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian.
2) Dampak penyalahgunaan NAPZA pada Psikis
a) Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
b) Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
c) Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal
d) Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
e) Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri
3) Dampak penyalahgunaan NAPZA dibidang Sosial
a) Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan.
b) Merepotkan dan menjadi beban keluarga.
c) Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram.

5. Cara penanggulangan NAPZA


Upaya penanggulangan penyalahgunaan narkoba dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
a) Preventif
Pendidikan agama sejak dini, pembinaan kehidupan rumah tangga yang
harmonis dengan penuh perhatian dan kasih saying. Menjalin komunikasi
yang kontruksif antar orang tua dan anak. Orang tua memberikan yeladan
yang baik kepada anak – anak . anak –anak diberikan pengetahuan sedini
mungkin tentang narkoba, jenis dan dampak negatifnya.
b) Tindakan hokum
Dukungan semua pihak dalam pemberlakuan Undang – Undang dan peraturan
disertai tindakan nyata demi keselamatan generasi muda penerus dan pewaris
bangsa.
c) Rehabilitasi
Didirikan pusat – pusat rehabilitasi berupa rumah sakit atau yayasan untuk
mereka yang telah menderita ketergantungan.
d) Khususnya untuk penanggulangan narkoba disekolah agar kerjasama yang
baik antar orang tua dan guru diaktifkan. Artinya guru bertugas mengawasi
para siswa selama jam belajar disekolah dan orang tua bertugas mengawasi
anak – anak mereka dirumah dan diluar rumah, disamping itu melakukan
penyuluhan ke sekolah – sekolah, perguruan tinggi dan berbagai instansi
tentang bahaya dan dampak negatif narkoba.
e) Kerja sama dengan tokoh- tokoh agama perlu diefektifkan kembali untuk
membina iman dan rohani guna meningkatkantentang bahaya narkoba.
f) Dukungan keluaraga merupakan kunci utama yang sangat menentukan terlibat
atau tidaknya anak – anak pada narkoba. Oleh sebab itu komunikasi antara
orang tua dan anak- anak harus diefektifkan dan dibudayakan.

D. Asuhan Keperawatan Teoritis Keperawatan dengan perilaku NAPZA


1. Pengkajian Keperawatan
Menurut Friedman (2010) membagi proses keperawatan keluarga ke dalam tahap-
tahap meliputi identifikasi data, tahap, dan riwayat perkembangan, data
lingkungan, struktur keluarga, fungsi keluarga dan koping keluarga. Hal-hal yang
perlu dikumpulkan datanya dalam pengkajian keluarga adalah :
a. Data Umum
1) Nama kepala keluarga
2) Alamat dan nomor telepon
3) Komposisi keluarga
Meliputi daftar anggota, termasuk : nama, umur, pendidikan, dan status
imunisasi anggota keluarga. Komposisi keluarga terdiri dari Genogram 3
generasi.
4) Tipe Keluarga
Menjelaskan mengenai tipe/jenis keluarga beserta kendala atau masalah
yang terjadi pada keluarga tersebut. Biasanya pada tipe extended family
terjadinya masalah pada keluarga yang ikut mempengaruhi anggota
keluarga lainnya, jika didalam keluarga ada yang mengkonsumsi NAPZA
besar kemungkinan anggota keluarga yang lain akan meniru untuk
mengkonsumsi narkoba (Padila, 2012).
5) Suku
Mengkaji asal usul suku bangsa keluarga serta mengidentifikasi budaya
suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan. Budaya barat
mengkonsumsi alcohol adalah hal yang lumrah sementara itu bagi budaya
timur itu sudah menyalahi aturan (Padila, 2012).
6) Agama
Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat
mempengaruhi kesehatan. Agama yang tidak dipercaya dan diyakini
sepenuh hati akan mempengaruhi remaja untuk melakukan hal- hal negatif
seperti pergaulan bebas terutama penyalahgunaan NAPZA (Padila, 2012).
7) Status sosial ekonomi keluarga
Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari
kepala keluarga maupun anggota keluarga [Link] itu sosial
ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan – kebutuhan yang
dikeluarkan oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.
Keluarga dengan ekonomi yang berlebih akan dengan mudah untuk
mengkonsumsi NAPZA (Padila, 2012).
8) Aktivitas rekreasi keluarga
Aktivitas yang dilakukan bersama-sama dengan keluarga, frekuensi
aktivitas anggota keluarga, dan penggunaan waktu senggang secara
bersama-sama seperti menonton televisi dan mendengarkan radio juga
merupakan aktivitas rekreasi. Keluarga yangb monoton akan membuat
remaja merasa jenuh sehingga untuk menghibur dirinya bergabung dengan
teman – teman hal ini akan mudah bagi remaja untuk melakukan hal yang
menyimpang terutama penyalahgunaan NAPZA (Padila, 2012).

b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarg


1) Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga ditentukan oleh anak tertua dari keluarga
ini (Padila, 2012).
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menjelaskan perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, mengenai
tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi oleh keluarga serta
kendala-kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi
(Padila, 2012).
3) Riwayat keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat keluarga inti meliputi riwayat penyakit
keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga, perhatian
keluarga terhadap pencegahan penyakit status imunisasi, sumber
pelayanan kesehatan yang bisa digunakan keluarga dan pengalaman
terhadap pelayanan [Link] yang mempunyai riwayat HIV
pada anggota keluarganya, dapat memungkinkan anak melakukan
penyalahgunaan NAPZA (Padila, 2012).
4) Riwayat keluarga sebelumnya
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan keluarga dari pihak suami dan
istri (Padila, 2012).

c. Lingkungan
1) Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe rumah,
jumlah ruangan, jumah jendela, pemanfaatan ruangan, peletakan perabotan
rumah tangga, jenis septic tank, jarak septic tank dengan sumber air
minum yang digunakan serta denah rumah. Rumah yang kecil, padat, dan
sempit cenderung membuat remaja merasa tidak nyaman dan sering
keluar rumah sehingga remaja terpengaruhi oleh hal negative seperti
penyalahgunaan NAPZA(Padila, 2012).
2) Karakteristik lingkungan dan komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat,
yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan/kesepakatan penduduk
setempat, budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan. Rumah yang
berpenduduk padat dan rumah yang berdempet cenderung akan terjadi
perilaku menyimpang salah satunya penyalahgunaan NAPZA (Padila,
2012).
3) Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan melihat kebiasaan
keluarga berpindah [Link] rumah yang dihuni oleh keluarga apakah
rumah sendiri atau menyewa, sudah berapa lama tinggal di daerah tersebut
dan pindah dari daerah mana (Padila, 2012)
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat Menjelaskan
mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta
perkumpulan keluarga yang ada dan sejauhmana interkaasi keluarga
dengan masyarakat. Interaksi yang baik akan mempengaruhi perilaku
seseorang terutama remaja yang beeperilaku NAPZA(Padila, 2012).
5) Fasilitas sosial dan kesehatan
Fasilitas kesehatan yang tidak memadai dan tidak terjangkau menjadi
kendala dalam kelangsungan pengobatan pada remaja dengan perilaku
NAPZA(Padila, 2012).
d. Fungsi keluarga
a) FungsiAfektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota [Link]
memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap
anggota keluarga lainnya dan bagaimana keluarga mengembangkan
sikap saling [Link] mampu merawat anggota
keluarganya yang sakit dengan membawa ke fasilitas kesehatan untuk
mendapatkan pengobatan dan selalun mengingatkan anggota keluarga
yang sakit untuk rutin meminum [Link] dengan semakin tingginya
dukungan keluarga terhadap anggota keluarga, semakin mempercepat
kesembuhan dari [Link] fungsi ini berkaitan dengan
persepsi keluarga terhadap kebutuhan emosional para anggota
keluarga. Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi akan mengakibatkan
ketidakseimbangan keluarga dalam mengenal tanda-tanda gangguan
kesehatan selanjutnya (Harmoko,2012). Fungsi afektif yang berjalan
baik dalam keluarga dapat mencegah terjadinya NAPZA dikalangan
remaja (Friedman,2010).
b) Fungsi sosialisasi
Pada kasus penyalahgunaan NAPZA pada remaja maka dapat
mengalami gangguan fungsi sosial bagi pengguna tersebut baik
didalam keluarga maupun didalam masyarakat. Pengguna NAPZA
akan sulit melakukan aktifitas sehari-hari seperti bersosialisasi karena
membuat diriny merasa malu dan tidak mau bergaul dengan orang lain.
Klien perlu menyesuaikan kondisinya dengan hubungan dan peran
klien, baik dilingkungan rumah tangga, masyarakat, ataupun
lingkungan kerja serta perubahan peran yang terjadi setelah klien
mengalami penyakit lainnya.
c) Fungsi reproduksi
Adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga
kelangsungan keluarga. Penderita dengan riwayat pengguna NAPZA
akan beresiko mengalami penyakit menular lainnya yang akan
berdampak pada keturunannya.
d) Fungsi ekonomi
Status ekonomi sangat mempengaruhi remaja dalam penyalahgunaan
NAPZA. Status ekonomi keluarga sangat mendukung terhadap
kesembuhan penyakit. Biasanya karena faktor ekonomi orang segan
mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan terutama pada remja yang
mengkonsumsi NAPZA (Padila, 2012).
e) Fungsi perawatan kesehatan
Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan akan
mempengaruhi tingkat keluarga dan individu. Tingkat pengetahuan
keluarga terkait konsep sehat sakit akan mempengaruhi perilaku
keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan perawatan atau
pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga
yang dilaksanakan dan keluarga yang dapat melaksanakan
[Link] harus secepat mungkin mebawa remaja yang
menyalahgunakan NAPZA kefasilitas kesehatan sperti panti
rehabilitasi NAPZA (Padila,2012).
f. Stress dan koping keluarga
a) Stressor jangka pendek dan jangka panjang
1) Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu ± 6 bulan (Padila, 2012).
2) Stressor jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu ≥ 6 bulan (Padila, 2012).
b) Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah Dikaji sejauhmana
keluarga berespons terhadap stressor
1) Strategi koping yang digunakan
Dikaji strategi koping yang digunakan keluarga bila menghadapi
permasalahan/stress terutama pada remaja dengan perilaku NAPZA
(Padila,2012).
2) Stategi adaptasi disfungsional
Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional
yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan/stress
terutama pada remaja dengan perilaku NAPZA (Padila, 2012).
g. Harapan Keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap
petugas kesehatan terutama pada remaja denga penyalahgunaan NAPZA
(Padila, 2012).
h. Pemeriksaan fisik anggota keluarga
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang
digunakan sama dengan pemeriksaan fisik klinis yaitu head totoe yaitu :
(Padila, 2012).
a) Kepala
Biasanya akan dijumpai sakit kepala.
b) Mata
Biasanya akan dijumpai mata memerah, pupil mengecil atau lebih besar
dari nomal.
c) Hidung
Biasanya pilek tampa sebab dan sering mimisan terkait dengan obat
yang dihisap melalui hidung seperti : methamphetamine atau kokain).
d) Mulut
Biasanya timbul bintik- bintik disekitar mulut, sering membasahi bibir.
e) Leher
Tidak ada pembesaran kelenjer tiroid.
f) Paru paru
Inspeksi : Pernafasan meningkat
Palpasi : fremitus kiri kanan sama
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler
g) Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di RIC V mid clavicula
sinistra
Perkusi : batas jantung di RIC III kanan – kiri dan RIC
V mid clavikula
Auskultasi : suara jantung normal, tidak ada suara
tambahan
h) Abdomen
Imspeksi : bentuk datar,simetris, berat badan menurun
Palpasi : hepar tidak teraba
Perkusi : suara timpani
Auskultasi : bising usus normal
I ) ekstermitas atas dan bawah
Biasanya tremor, adanya bekas suntikan, dan adanya bekas sayatan
tangan dan kaki.

2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan


Diagnosis keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan data yang didapatkan
pada pengkajian, yang terdiri dari masalah keperawatan yang akan berhubungan
dengan etiologi yang berasal dari pengkajian fungsi keperawatan keluarga.
Diagnosa keperawatan mengacu pada rumusan PES (problem, etiologi, dan
symptom) (Padila,2012).

Diagnosis yang dapat muncul pada keluarga terkait fungsi


keperawatanKeluarga seperti ketidakefektifan manajemen kesehatan, ketidakefekti
fan pemeliharaan kesehatan, ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik,
dll (NANDA, 2015). Diagnosis keperawatan keluarga mengacu pada PES, dimana
untuk problem (P) dapat digunakan tipologi dari NANDA maupun diagnose
sebagai masalah individu yang sakit dan etiologi (E) berkenaan dengan 5 tugas
keluarga dalam hal masalah kesehatan.
Diagnosa keperawatan keluarga yang sering muncul pada remaja dengan NAPZA
menurut problem : SDKI (2017)
a. Resiko perilaku kekerasan
b. Gangguan identitas diri
c. Gangguan interaksi sosial
d. Ketidakmampuan koping keluarga
e. Manajemen keluarga cenderung beresiko .
Tabel 2.1
Skala untuk menentukan prioritas masalah
(Bailon dan Maglaya, 2009)

Kriteria Skor Bobot


No
1. Sifat masalah
Skla : wellness 3
S Actual 3
umbe Resiko 2 1
r: potensial 1
IPKK
I,
2017 2. Kemungkinan masalah dapat diubah
Skala :
Mudah 2 2
Sebagian 1
Tidak dapat 0
C3 Potensi masalah untuk dicegah
a Skala :
r Tinggi 3 1
a Cukup 2
Rendah 1
S4 Menonjolnya masalah
k Skala :
o Segera 2 1
r Tidak perlu 1
i Tidak dirasakan 0
n
g:
a. Tentukan skor untuk setiap kriteria
b. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan dengan bobot.
Skor/angka tertinggi x Bobot
c. Jumlahkan skor untuk semua kriteria.
Faktor – faktor yang dapat memepengaruhi penentuan prioritas:
Penentuan prioritas masalah didasarkan dari empat kriteria yaitu sifat
masalah, kemungkinan masalah dapat diubah, potensi masalah untuk
dicegah dan menonjolnya masalah.
1) Kriteria yang pertama, yaitu sifat masalah , bobot yang lebih berat
diberikan pada maslah actual karena yang pertama memerlukan
tindakan segera dan biasanya disadari dan dirasakan oleh keluarga.
2) Kriteria kedua yaitu untuk kemungkinan masalah dapat diubah
perawat.
3) Kriteria ketiga yaitu potensi masalah dapat dicegah
4) Kriteria keempat yaitu menonjolnya masalah perawat perku menilai
persepsi atau bagaimana keluarga melihat masalah kesehatan tersebut.

3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan keluarga dibuat berdasarkan pengkajian keluarga, dengan
merumuskan tujuan, mengidentifikasi strategi intervensi alternative dan sumber
serta menentukan prioritas, intervensi tidak bersifat rutin, acak, atau standar, tetapi
dirancang begi keluarga tertentu dengan siapa perawat keluarga sedang bekerja
(Friedman, 2010).
Table 2.2
Intervensi keperawatan keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA

NO Diagnosa NOC NIC


keperawatan

1. Resiko perilaku Setelah dilakukan intervensi b. Kaji kemampuan keluarga


kekerasan keperawatan keluarga selama 1x30 tentang NAPZA
terhadap diri menit keluarga mampu : c. Diskusikan dengan
sendiri keluarga tentang
berhubungan 1. Mengenal masalah tentang pengertian NAPZA
dengan penyalahgunaan NAPZA : d. Beri kesempatan keluarga
ketidaktahuan untuk bertanya
keluarga tentang a. Keluarga mampu menyebutkan e. Beri pujian kepada
penyalahgunaan pegertian,penyebab,tanda dan keluarga yang dapat
NAPZA gejala penyaahgunaan NAPZA menjawab dengan tepat

2. Mengambil keputusan untuk a. Gali pengetahuan


merawat anggota yang keluarga tentang perawtan
mengalami NAPZA : pasien penyalahguna
NAPZA
a. Keluarga mampu b. Motivasi keluarga untuk
menyebutkan cara perawatan merawat anggota keluarga
penyalahgunaan NAPZA c. Demontrasikan kepada
keluarga cara perawtan pada
pasien penyalahgunaan
NAPZA

3. Mampu merawat anggota a. Gali pengetahuan


keluarga dengan keluarga tentang pencegahan
penyalahgunaan NAPZA : penyalahgunaan NAPZA
b. Diskusikan bersama
a. Keluarga mampu keluarga cara pencegahan
menyebutkan cara penyalahgunaan NAPZA
pencegahan [Link] pujian atas jawaban
penyalahgunaan NAPZA yang tepat
4. Mampu memodifikasi [Link] pengetahuan keluarga
lingkungan yang sehat tentang memodifikasi
: lingkungan yang tepat untuk
penyalahgunaan NAPZA
a. Keluarga mampu [Link] keluarga
memodifikasi lingkungan [Link] pujian atas jawaban
untuk pasien dengan yang benar
penyalahgunaan NAPZA
5. Mampu memanfaatkan [Link] keluarga untuk
fasilitas kesehatan : membawa anggota keluarga
yang sakit kefasilitas
a. Keluarga mampu kesehatan
memanfaatkan fasilitas [Link] dukungan kepada
kesehatan keluarga
2 Resiko Setelah dilakukan asuhan [Link] kemampuan keluarga
peningkatan keperawatan keluaraga selama 1x30 tentang peran orang tua
penyalahgunaan menit keluarga mampu : [Link] dengan keluarga
NAPZA tentang pengertian peranorang
berhubungan 1. Mengenal masalah tentang tua
dengan peran anggota keluarga: [Link] kesempatan keluarga
ketidakmampuan untuk bertanya
keluarga dalam a. Keluarga mampu [Link] pujian kepada keluarga
mengatasi menyebutkan pengertian yang dapat menjawab dengan
konfilk peran peran keluarga tepat
orang tua
2. Mengambil keputusan : [Link] keluarga untuk
melakukan peran mereka
a. Keluarga maumelakukan dengan baik
peran masing - masing [Link] pujian kepada keluarga
karena telah memutuskan
akan melakukan peran masing
- masing
3. Memodifikasi lingkungan : [Link] pengetahuan keluarga
tentang memodifikasi
a. Keluarga mampu lingkungan yang menunjang
menyebutkan lingkungan peran
yang menunjang peran [Link] keluarga
menyelesaikan masalah
dengan musyawarah
[Link] kepada keluarga
untuk bebas mengemukakan
pendapat
d. Beri pujian kepada keluarga
e. Evaluasi kembali
3. Disfungsi proses Setelah dilakukan asuhan a. Kaji kemampuan
keluarga keperawatan keluarga selama 1x30 keluarga tentang merawat
berhubungan menit keluarga mampu : anggota keluarga
dengan [Link] dengan keluarga
ketidakmampuan [Link] masalah tentang tentang pengertian merawt
keluarga untuk merawat anggota keluarga keluarga
merawat anggota dengan riwayat penyalahgunaan c. Beri kesempatan
keluarga dengan zat : keluarga untuk bertanya
riwayat a. Keluarga mampu [Link] pujian kepada keluarga
penyalahgunaan menyebutkan pengertian yang dapat menjawab dengan
zat merawat anggota tepat
keluarga dengan riwayat
penyalahgunaan zat
[Link] keputusan untuk [Link] pengetahuan keluarga
merawat anggota keluarga dengan tentang dampak anggota
penyalahgunaan zat keluarga dengan riwayat
penyalahgunaan zat
a. keluarga mampu [Link] bersama keluarga
menyebutkan dampak c. Beri pujian kepada keluarga
penyalahgunaan NAPZA d. Evaluasi kembali

[Link] anggota keluarga dengan [Link] pengetahuan keluarga


riwayat penyalahgunaan zat tentang cara merawat anggota
keluarga dengan riwayat
penyalahgunaan zat
[Link] bersama keluarga
c. Beri pujian kepada keluarga
d. Evaluasi kembali cara
perawatan anggota keluarga
dengan riwayat
penyalahgunaan zat
4. Memodifikasi lingkungan yang [Link] pengetahuan keluarga
baik untuk pengguna NAPZA tentang cara memodifikasi
lingkungan anggota keluarga
dengan riwayat
penyalahgunaan zat
[Link] bersama keluarga
c. Beri pujian kepada keluarga
[Link] kembali
5. Mampu memanfaatkan fasilitas [Link] keluarga untuk
kesehatan : membawa anggota keluarga
yang sakit kefasilitas
a. Keluarga mampu kesehatan
memanfaatkan fasilitas [Link] dukungan kepada
kesehatan keluarga
[Link] keluarga untuk
membawa anggota keluarga
yang sakit kefasilitas
kesehatan

4. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah suatu proses pelaksanaan terapi keperawatan keluarga berbentuk
intervensi mandiri atau kolaborasi melalui pemanfaatan sumber-sumber yang dimiliki
keluarga. Implementasi diprioritaskan sesuai dengan kemampuan keluarga dan
sumber yang dimiliki oleh keluarga (Jhon&leny, 2010).
Implementasi keperawatan keluarga adalah suatu proses aktulisasi rencana
intervensi yang memanfaatkan berbagai sumber didalam keluarga dan memandirikan
keluarga dalam bidang kesehatan. Keluarga dididik untuk dapat menilai potensi yang
dimiliki mereka dan mengembangkannya melalui implementasi melalui implementasi
yang bersifat memampukan keluarga untuk mengenal masalah kesehatnnya,
mengambil keputusan berkaitan persoalan kesehatan yang dihadapi, merawat dan
membina anggota keluarga sesuai kondisi kesehatnnya, memodifikasi lingkungan
yang sehat bagi anggota kelurga , serta memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan
terdekat (Jhon&Leny,2010). Sedangkan menurut Padila (2012) tindakan perawatan
terhadap keluarga meliputi :
a. Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenal masalah dan
kebutuhan kesehatan dengan cara :
1) Memberikan informasi : penyuluhan atau konseling
2) Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan
3) Mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah
b. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat dengan cara
:
1) Mengidentifikasi konsekuensi tidak melakuka tindakan
2) Mengidentifikasi sumber sumber yang dimilki keluarga
3) Mendiskusikan tentang konsekuensi setiap tindakan
c. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota kelurga yang sakit, dengan
cara :
1) Mendemonstrasikan cara perawatan
2) Menggunakan alat dan fasilitas kesehatan yang ada dirumah
3) Mengawasi keluarga melakukan tindakan perawatan

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan keluarga adalah proses untuk menilai keberhasilan keluarga
dalam melaksanakan tugas kesehatannya, sehingga memiliki produktivitas yang tinggi
dalam mengembangkan setiap anggota keluarga. Sebagai komponen kelima dalam
proses keperawatan, evaluasi adalah tahap yang menentukan apakah tujuan yang telah
ditetapkan akan menentukan mudah atau sulitnya dalam melaksanakan evaluasi
(Padila,2012).
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Kualitatif. Desain penelitian adalah Deskriptif
dengan pendekatan studi kasus. Penelitian deskriptif adalah memaparkan penerapan
asuhan keperawatan pada suatu ksus kelolaan dengan rancangan penelitian studi
kasus. Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencangkup pengkajian
satu unit penelitian secara intensif miasalnya satu klien, keluarga, kelompok, atau
komunitas (Nursalam, 2015). Hasil yang diharapkan oleh peneliti adalah
mendeskripsikan asuhan keperawatan keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA
di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kota Padang.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini telah dilakukan pada keluarga anak I di Wilayah Kerja Puskesmas
Kuranji Kota Padang. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Oktober 2018 sampai
dengan Juni 2019, sedangkan untuk asuhan keperawatan dilakukan selama dua
minggu dimulai tanggal 4 Februari 2019 sampai dengan 17 Februari 2019 sebanyak
14 kali kunjungan dengan 1 kali kunjungan dalam sehari. .

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau subjek yang
mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk
diteliti dan kemudian di tarik kesimpulannya (Sujarweni, 2014). Populasi dari
penelitian ini adalah seluruh remaja yang mengkonsumsi NAPZA yang
mengunjungi Puskesmas kuranji . Populasi yang didapatkan ada 3 orang anak
remaja dengan perilaku NAPZA di wilayah kerja puskesmas kuranji pada bulan
Januari 2019.

2. Sampel
Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki populasi yang
digunakan untuk penelitian. Pemilihan sampel mengacu pada teknik sampling
purposive yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan atau kriteria –

66
44

kriteria tertentu (Sujarweni, 2014). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan


teknik purposive sampling. Sampel dari penelitian ini ada 2 orang remaja dengan
perilaku NAPZA yang memiliki alamat lengkap di wilayah kerja Puskesmas
Kuranji Kota Padang.
Adapun cara pemilihan sampel yang dilakukan peneliti sebagai berikut:
a. Peneliti menentukan kriteria dalam pemilihan sampel yaitu :
1) Kriteria inklusi
a) Remaja pengguna NAPZA yang mampu berkomunikasi dengan baik dan
lancar, serta kooperatif
b) Remaja pengguna NAPZA yang bersedia diteliti sebagai responden.
c) Remaja pengguna NAPZA yang berada ditempat saat penelitian.
d) Klien yang memiliki alamat lengkap.
e) Klien dengan keluarga KM I
- Menerima petugas perawatan kesehatan keluarga
- Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan
rencana keperawatan
2) Kriteria eksklusi
1. Remaja pengguna NAPZA yang pindah tempat tinggal.
2. Remaja pengguna NAPZA yang tidak bersedia diteliti sebagai responden.
dari
Adapun dari 2 sampel tersebut digunakan teknik random sampling dengan metode
pengundian dan terpilih satu responden.

D. Alat atau Instrumen pengumpulan data


Menurut Sujarweni (2014) Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang
dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar
kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Pengumpulan data
pada responden dimulai dengan melakukan pengkajian sampai evaluasi. Instrument
yang digunakan adalah format pengkajian asuhan keperawatan keluarga. Data yang
didapatkan melalui wawancara dan anamnesa antara lain data umum, riwayat dan
tahap perkembanagan keluarga, struktur keluarga, fungsi keluarga, stressor dan
koping keluarga serta harapan keluarga. Data yang didapatkan melalui observasi
antara lain pemeriksaan fisik dan perilaku remaja dengan NAPZA. Data yang
didapatkan melalui pengukuran anatar lain tekanan darah,nadi, pernafasan, suhu,
berat badan, dan tinggi badan. Data lainnya diperoleh melalui dokumen – dekumen

Poltekkes Kemenkes Padang


yang tertulis yang didapatkan di puskesmas. Untuk melengkapi data pengkajian awal
pada responden, alat bantu yang digunakan peneliti stetoskop, tensimeter, alat ukur
BB dan TB.

E. Cara pengumpulan data


Teknik pengumpulan data menggunakan multi sumber bukti (triangulasi) artinya
teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik
pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Triangulasi teknik berarti
peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk
mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti akan menggunakan observasi
partisipatif, wawancara mendalam, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi untuk
sumber data yang sama secara serempak (Sugiyono, 2014).
1. Observasi
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang
sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Hasil
penelitian observasi berupa aktivitas, kejadian peristiwa, objek, kondisi atau
suasana tertentu (Sujarweni, 2014).
Observasi yang dilakukan peneliti yaitu mengamati keadaan umum,
mendengarkan keluhan saat dilakukan tindakan,dan mengamati tingkah laku
responden.
2. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk
mengumpulkan data dalam penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa
wawancara adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi atara pewawancara
dan sumber informasi atau orang yang diwawancarai melalui komunikasi
langsung. Dapat dijelaskan bahwa wawancara merupakan percakapan tatap muka
( face to face) antara pewawancara bertanya langsung tentang sesuatu objek yang
diteliti dan telah dirancang sebelumnya ( Yusuf, 2017).
Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman
wawancara
3. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik merupakan cara pengumpulan data dengan melakukan
pemeriksaan secara lansung kepada partisipan penelitian untuk mencari perubahan
atau hal-hal yang tidak sesuai dengan keadaan normal. Dalam metode
pemeriksaan fisik ini, peneliti melakukan pemeriksaan meliputi : keadaan umum
partisipan dan pemeriksaan head to toe. Pemeriksaaan dimulai dari mengecek
tanda – tanda vital dan melakukan pemeriksaan seperti mata merah, bibir kering,
wajah pucat, tangan tremor, ada bekas luka ditangan atau bagian tubuh lainnya.

F. Jenis – jenis data


1. Data Primer
Data primer merupakan data yang dieperoleh langsung dari responden. Data
dari penelitian ii diperoleh dari hasil wawancara reamaja dengan perilaku
NAPZA menggunakan format pengkajian asuhan keperawatan keluarga. Data –
data pengkajian responden yang terpilih akan dimasukkan ke format
dokumentasi asuhan keperawatan. Data yang diperoleh dikelompokkan
menjadi 2 macam seperti berikut ini :
1) Data objektif yang ditemukan secara nyata, data ini didapatkan melalui
observasi atau pemerikasaan langsung perawat keluarga.
2) Data subjektif adalah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan
keluarga. Data diperoleh melalui wawancara perawat kepada klien dan
keluarga.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari medical record Puskesmas
Kuranji Kota Padang, data dari kepustakaan, dokumentasi dari dinas kesehatan
terkait, rekam medis, dan catatan atau laporan historis yang telah tersusun
dalam arsip yang tidak dipublikasikan.

G. Prosedur Penelitian
Adapun langkah – langkah pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah :
1. Peneliti meminta surat rekomendasi pengambilan datadan surat izin penelitian
dari institusi pendidikan Poltekkes Kemenkes RI Padang ke Dinas Kesehatan
Kota Padang.
2. Peneliti mendatangi Dinas Kesehatan Kota padang dan menyerahkan surat izin
peneliti dari institusi untuk mendapat surat rekomendasi ke Puskesmas Kuranji
Kota Padang.
3. Peneliti mendatangi Puskesmas Kuranji Kota Padang dan menyerahkan surat
rekomendasi dan surat izin penelitian dari Dinas Kesehatan kota Padang.
4. Peneliti meminta izin ke Kepala Puskesmas Kuranji Kota Padang.
5. Peneliti mendatangi puskesmas untuk mengetahui remaja dengan perilaku
NAPZA yang sedang berobat ke Puskesmas Kuranji Kota Padang.
6. Peneliti memilih responden. Peneliti memilih berdasarkan yang memilik alamat
lengkap didapatkan 2 orang. Setelah dilakukan pengundian maka didapatkan
satu orang responden.
7. Peneliti mengunjungi rumah responden.
8. Responden merupakan keluarga mandiri I.
9. Responden diberi penjelasan menegenai tujuan penelitian.
10. Informed consent diberikan kepada responden.
11. Responden diberi kesempatan untuk bertanya jika ada yang diragukan.
12. Responden setuju untuk diberikan asuhan keperawatan keluarga dan
menandatangani informed consent.
13. Peneliti meminta waktu untuk responden untuk melakukan pengkajian
menggunakan format pengkajian asuhan keperawatan keluarga dengan teknik
wawancara dan anamnesa. Peneliti juga melakukan observasi dan pengukuran
dengan melakukan pemerikasaan fisik secara head to toe pada responden.
14. Peneliti melakukan implementasi dan evaluasi selama dua minggu dengan
empat belas kali kunjungan pada responden dan setelah itu melakukan
dokumentasi keperawatan dan terminasi terhadap responden.

H. Hasil Analisis
Data yang peneliti temukan saaat pengkajian dikelompokkan dan dianalisis
berdasarkan data subjektif dan objektif yang ditemukan dengan membuat analisa
data. Setelah membuat analisa data penulis langsung merumuskan diagnosis
keperawatan, setelah itu melakukan prioritas masalah untuk menyusun dan
menentukan diagnosis yang diutamakan. Setelah itu peneliti melakukan
implementasi selama 2 minggu sesuai dengan intervensi yang telah direncanakan
dan dilanjutkan dengan melakukan evaluasi keperawatan. Setelah itu peneliti
melakukan dokumentasi keperawatan. Analisis selanjutnya peneliti
membandingkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada anak I sesuai
dengan teori dan penelitian terdahulu.
BAB IV
DESKRIPSIKAN KASUS DAN PEMBAHASAN

Asuhan keperawatan keluarga dilakukan pada keluarga bapak A khususnya pada anak I
dengan masalah perilaku NAPZA pada remaja. Kunjungan dimulai pada tanggal 4 Februari
2019 sampai dengan 17 Februari 2019 dengan kunjungan 1 kali dalam sehari selama 14 hari.
Berikut peneliti akan mendeskripsikan hasil penelitian secara narasi.

1. Pengkajian Keperawatan
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 4 Februari 2019 di rumah bapak A
didapatkan data, anak I usia 17 tahun seorang pelajar bersekolah di salah satu SMK
Negeri di Kota Padang, sekarang anak I duduk dibangku kelas 3 SMK. Anak I anak
kedua dari dua orang bersaudara. Kedua orang tua masih hidup ayah anak I berusia 47
tahun bekerja sebagai sales harian dan menjual barang – barang bekas kebutuhan
rumah tangga yang masih bisa terpakai seperti meja makan bekas, kasur bekas,
tempat tidur bekas dan barang – barang lainnya, sementara itu Ibu anak I berusia 49
tahun bekerja sebagai guru mengaji di mesjid didekat rumah. Dan mempuyai seorang
kakak yang telah luus kuliah dan bekerja dirumah membuat kue dan dijual melalui
online.

Peran anak I dalam keluarga sampai saat ini masih ia jalani dengan baik. Klien
memiliki hubungan yang baik dengan anggota keluarga , tetangga , dan teman sebaya
dilingkungan tempat tinggal. Dalam kesehariannya ia berpenampilan rapi dan sesuai
dengan cara berpakaian dan saat berbicara klien berespon baik tetapi klien lebih
sering menunduk dan memegang kepalanya saat berbicara.

Anak I mulai mengkonsumsi NAPZA pada usia 13 tahun saat ia masih kelas 2 SMP,
pertama yang ia konsumsi zat adiktif yaitu lem untuk lem sepatu ia menggunakannya
itu atas dasar keinginan tahuan yang tinggi. Anak I mengatakan tidak ada di ajak oleh
temannya ia mengkonsumsi itu karna ingin mencoba – coba dan rasa ingin tahu akan
lem tersebut. Anak I mengatakan sa at ia mengkonsumsi lem tersebut ia merasa ada
60
kesenangan dan ketenangan sendiri pada diri nya, ia bisa mengkhayalkan apapun
yang ia inginkan. Anak I mengkonsumsi tidak beraraturan kalau ia sedang ada
masalah ia akan menggunakannya. Tapi satu tahun terakhir ini ia tidak lagi
mengkonsumsi lem tersebut. Pada saat klien kelas satu SMK ia juga pernah mencoba

66
49

ganja ia mencoba karna paksaan dari temannya untuk mencobanya sampai akhirnya ia
kecanduan. Dalam sebulan tiga sampai lima kali ia memakai ganja tersebut. Klien
mendapatkkan uang dari uang jajan yang dikasih orang tua.

Saat kelas 3 SMK klien merasakan perubahan dalam dirinya ia merasakan diri nya
mengalami kecemasan yang sangat luar biasa ia takut untuk keluar rumah, takut untuk
kesekolah bertemu teman – teman, tidak mempunyai kepercayaan diri, malas untuk
kesekolah, merasa dirinya tidak berguna, dan mendengarkan suara – suara yang
merendahkan dirinya. Saat ini anak I lebih senang mengurung diri dikamar, ia merasa
nyaman dan senang berada didalam kamar, apabila ada orang yang mengganggunya
maka ia akan marah. Klien juga mengatakan mempunyai emosi yang labil dan
gampang untuk marah. Jika ia marah terkadang ia suka melempar barang – barang.

Keluarga anak I merupakan tipe keluarga nuclear family yang terdiri dari ayah, ibu,
dan anak – anak. Keluarga anak I keturunan suku minang dimana keluarga bapak A
dan ibu A mempunyai sifat yang keras dalam mendidik anak – anak nya karena kedua
orang tuanya mendidik nya juga dengan cara yang keras, seperti jika tidak mau sholat
dan mengaji maka akan dipukul pakai kayu, jika tidak mau menurut perkataan orang
tua maka ia akan dipukul juga. Keluarga bapak A beragama islam keluarganya selalu
menjalankan sholat lima waktu ia mengajarkan anaknya sedini mungkin untuk
menjalankan sholat dan kewajiban – kewajiban lainnya sebagai umat muslim.
Keluarga anak I berpenghasilan Rp 3.000.000/ bulan, ia gunakan untuk kebutuhan
keseharian dalam rumah tangga, dan biaya sekolah anak – anaknya. Keluarga bapak
A juga memiliki kartu jaminan kesehatan (BPJS).

Keluarga anak I berada dalam tahap perkembangan kelima yaitu keluarga dengan
anak remaja. Tugas tahap perkembangan ini yaitu memberi kebebasan yang seimbang
dengan tanggung jawab mengingat remaja sudah bertambah dewasa dan meningkat
otonomi dan berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak. Pada saat ini
tahap perkembangan pada keluarga anak I belum terjalin begitu baik karena orang tua
yang telalu sibuk membuat anak I tidak merasakan kehangatan dalam keluarga
sehingga ia mau menceritakan masalahnya ia tidak tau menceritakannya pada siapa,
sehingga ia memilih untuk mengkosumsi NAPZA. Riwayat kesehatan keluarga bapak
A diantaranya kedua anaknya pernah di rawat dengan penyakit DBD 5 tahun yang
lalu. Pada saat ini keluarga bapak A khususnya anak I dalam perawatan dokter

Poltekkes Kemenkes Padang


psikologis yang sedang di alami anaknya. Saat ini anak I mengeluh mengalami
kecemasan luar biasa, takut kesekolah dan bertemu orang lain, tidak percaya diri dan
sering mendengar suara – suara yang merendahkan dirinya.

Keluarga anak I tinggal dirumah sendiri dengna usaha yang ia beli sendiri. bapak A
tinggal bersama istri dan anak- anaknya. Tipe rumah permanen dengan luas 8×12 m²,
denga 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang makan dan 1 kamar mandi. Lantai rumah
masih semen licin belum di keramik. Rumah mempunyai ventilasi yang cukup dan
sirkulasi udara yang bagus serta pencahayaan yang cukup baik. Sumber air berasal
dari PAM jernih dan tidak berbau. Keluarga bapak A hidup dilingkungan tempat
tinggal yang merupakan penduduk komplek. Sebagian besar tetangga anak I bekerja
sebagai PNS, pedagang, dan wiraswasta. Interaksi dengan tetangga jarang dilakukan
karena kesibukan masing – masing, tetangga yang pergi kerja pagi dan pulang ada
yang sore ada yang malam. Untuk interaksi biasanya dilakukan di hari libur saperti
adanya gotong royong atau kegiatan komplek lainnya.

Keluarga anak I berkomunikasi dengan baik dengan anak – anaknya. Dalam


berkomunikasi mereka saling menghargai walau sesekali orang tua lebih sering
mendahulukan pendapatnya nya dari pada mendengarkan perkataan dari anak –
anaknya. Jika ada masalah yang dialami keluarga anak I maka akan
menyelesaikannya dengan cara musyawarah. Keluarga anak I memiliki peran disetiap
anggota keluarganya diantaranya bapak A sebagai ayah kepala keluarga yang
bertanggung jawab menafkahi istri dan anak – anaknya dan bertanggung jawab dalam
mengambil keputusan serta mengatur semua keperluan keluarga. Ibu A sebagai ibu
memiliki peran sebagai mengurus rumah tangga dan mengurus anak – anaknya. Anak
I sebagai anak memiliki peran untuk rajin belajar dan membanggakan kedua orang
tua.

2. Diagnosis keperawatan
Setelah dilakukan pengkajian pada keluarga bapak A khususnya anak I perawat
mendapatkan diagnosis keperawatan pada anak I diantaranya :
a. Ansietas b/d kurang infomsasi keluarga dalam masalah remaja dengan
perilaku NAPZA.
b. Harga diri rendah kronik b/d ketidakmampuan keluarga dalam merawat
anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA.
c. Disfungsi proses keluarga b/d ketidakmampuan keluarga untuk merawat
anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA.

Setelah didapatkan diagnosis keperawatan keluarga lalu perawat memprioritaskan masalah


berdasarkan sifat masalah, kemungkinan masalah dapat diubah, pontensial untuk dicegah,
dan menonjolnya masalah dan didapatkan masalah utama adalah Ansietas b/d kurang
infomasi keluarga dalam masalah remaja dengan perilaku NAPZA. Data yang
mendukung diagnosa ini adalah data objektif diantaranya klien terlihat suka menyendiri
dikamar, klien terlihat gugup, klien sering menunduk dan memegang kepala saat berbicara,
suara klien lemah, klien terlihat tegang, tangan klien tremor dan data subjektif klien
mengatakan cemas untuk keluar rumah bertemu orang lain, takut kesekolah bertemu teman –
temannya, klien mengatakan merasakan kecemasan yang luar biasa, klien cemas jika ada
orang yang datang kerumahnya. Harga diri rendah kronik b/d ketidakmampuan keluarga
merawat anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA, data yang mendukung
diagnosa ini adalah data objektif diantaranya klien kurang percaya diri, ekspresi wajah malu,
klien sering menunduk, saat berbicara kontak mata klien kurang dan data subjektif klien
mengatakan dirinya tidak berguna, klien mengatakan dirinya tidak bermanfaat, klien
mengatakan dirinya bodoh, klien mengatakan teman – temannya tidak mau berteman
dengannya karena dibilang aneh, dank lien mengatakan orangtuanya sibuk bekerja. Disfungsi
proses keluarga b/d ketidakmampuan keluarga untuk merawat anggota keluarga pada
remaja dengan perilaku NAPZA, data yang mendukung diagnosa ini adalah data objektif
keluarga bapak A terlihat sibuk bekerja, keluarga anak I memiliki sifat yang keras dalam
bersikap, keluarga bapak A masih belum mengetahui semua peran untuk menjadi orang tua
dan data subjektif keluarga anak I mengatakan sibuk bekerja sehingga tidak memperhatikan
anak – anaknya, keluarga anak I mengatakan terlalu keras dalam mendidik anak – anaknya,
keluarga anak I mengatakan harus mendahulukan pendapat orang tua daripada mendengarkan
pendapat anak – anaknya, dank lien mengatakan belum cukup tahu menjadi peran sebagai
orang tua dalam menyikapi sikap anak – anaknya.

3. Intevensi keperawatan
Intervensi keperawaran dibuat perawat berdasarkan diagnosa yang telah didapatkan,
lalu dibuat intervensi untuk memecahkan masalah yang telah didapatkan, berdasarkan
tujuan umum dan tujuan khusus yang dilengkapi dengan kriteria.
Intervensi keperawatan yang akan dilakukan sesuai dengan diagnosis yang pertama
yaitu Ansietas b/d kurang infomasi keluarga dalam masalah remaja dengan
perilaku NAPZA. Tujuan dari diagnosis ini yaitu setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 1×30 menit keluarga mampu mengenal masalah kesehatan
keluarga tentang penyalahgunaan NAPZA paada An.I sesuai dengan tugas
keperawatan keluarga yang pertama mengenal masalah tentang NAPZA yaitu dengan
cara diskusikan bersama keluarga tentang pengertian NAPZA dan dengan rencana
kegiatan dintaranya mengkaji pengetahuan keluarga tentang NAPZA, diskusikan
dengan keluarga tentang pengertian NAPZA, beri pujian atas jawaban yang benar,
evaluasi ulang pengertian dari NAPZA. Selanjutnya penyebab penyalahgunaan
NAPZA dengan rencana kegiatan diantaranya mengkaji pengetahuan keluarga tentang
penyebab penyalahgunaan NAPZA, motivasi keluarga menyebutkan kembali tentang
penyebab penyalahgunaan NAPZA, identifikasi dengan keluarga faktor – faktor yang
mungkin menjadi penyebab tenytang penyalahgunaan NAPZA, beri pujian atas
jawaban yang benar, selanjutnya tanda – tanda penyalahgunaan NAPZA dengan
rencanakan kegiatan diskusikan dengan keluarga terutama tanda dari penyalahgunaan
NAPZA, motivasi keluarga untuk meyebutkan tanda dan gejala, beri pujian atas
jawaban yang benar. Disini juga digali pergaulan anak I dengan teman- temannya
dengan rencana kegiatan dengan siapa ia bergaul, apakah mereka berkumpul
melakukan hal – hal positif.

Tujuan yang kedua yaitu mengambil keputusan dengan rencana kegiatan kaji
pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien penyalahgunaan NAPZA, motivasi
keluarga untuk melakukan atau menyebutkan perawatan penyalahgunaan NAPZA,
evaluasi kemampuan keluarga dalam memberikan perawatan penyalahgunaan
NAPZA.

Tujuan ketiga merawat anggota keluarga dengan rencana kegiatan ajarkan keluarga
bagaimana cara merawat panggota keluarga dengan penyalahgunaaan NAPZA,
motivasi keluarga untuk melakukan atau menyebutkan perawatan memberikan
perawatan penyalahgunaan NAPZA, beri reinforcement positif atas tindakan yang
benar.

Rencana yang keempat memodifikasi lingkungan dengan rencana kegiatan kaji


penegetahuan keluarga, diskusiakn dengan keluarga tentang lingkunagn yang baik,
bderi pujian dan evalusi kembali. Rencana yang terakhir memanfaatkan fasilitas
kesehatan dengan rencana kegiatan kaji pengetahuan keluarga , diskusikan dengan
keluarga tentang fasilitas kesehatan, beri pujin dan evaluasi kembali tentang
memanfaatkan fasilitas kesehatan.

Diagnosis kedua yaitu harga diri rendah kronik b/d ketidakmampua keluarga
dalam merawat anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA, dengan
tujuan setelah dilakukan intervesi keperawatan selama 1×30 menit keluarga mampu
mengatasi harga diri rendah. Sebagaimana tugas keperawtan keluarga yaitu mampu
mengenal masalah tentang harga diri rendah dengan rencana kegiatan kaji
pengetahuan keluarga tentang harga diri rendah , diskusikan dengan keluarga tentang
pengertian harga diri rendah, penyebab dari harga diri rendah, dan faktor penyebab
dari harga diri rendah, beri pujian atas jawaban yang benar, evaluasi pengerian harga
diri rendah, tanda dan gejala harga diri rendah, dan faktor penyebab harga diri rendah.
Tugas selanjutnya yaitu mengambil keputusan untuk anggota keluarga yang
mengalami harga diri rendah dengan membimbing keluarga untuk mengambil
keputusan dalam masalah yang dihadapinya, motivasi keluarga untuk melakukan
keputusan yang tepa, beri pujian kepada keluarga yang telah memutuskan akan
mengambil keputusan yang tepat terhadap harga diri rendah yang dihadapi anaknya.
Tugas selanjutnya memodifikasi lingkungan yang aman dan nyaman dengan kaji
pengetahuan keluarga tentang lingkungan yang aman dan nyaman bagi anggota
keluarga yang mengalami harga diri rendah, beri pujian atas jawaban yang benar dan
evaluasi kembali. Tugas yang terakhir adalah memanfaatkan fasilitas kesehatan
dengan cara mengkaji pengetahuan keluarga tentang memanfaatkan fasilitas
kesehatan terhadap anggota keluarga yang mengalami harga diri rendah, diskusikan
kembali dengan keluarga tentang memanfaatkan fasilitas kesehatan dan mengevaluasi
kembali bagaimana keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan bagi anggota keluarga
yang mengalami harga diri rendah.
Diagnoasis ketiga yaitu disfungsi proses keluarga b/d ketidakmampuan keluarga
untuk merawat anggota keluarga merawat pada remaja dengan perilaku
NAPZA, dengan tujuan setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1×30 menit
keluarga mampu melakukan perwtan sederhana kepada keluarga dengan riwayat
penyalahgunaan zat. Sebagaimana tugas perawat keluarga yaitu mengenal masalah
tentang cara merawat anggota keluarga dengan riwayat penyalahgunaan zat dengan
rencana kegiatan mengkaji pengetahuan keluarga tentang merawt anggota keluarga,
diskusikan dengan keluarga tentang kemampuan dalam merawat nggota keluarga, beri
pujian atas jawaban yan benar, evaluasi ulang pengertian dari merawat anggota
keluarga . Tugas selanjutnya mengambil keputusa untuk merawat anggota keluarga
dengan rencan kegiatan bombing keluarga untuk mengambil keputusan tentang
maslah yang dihadapi keluarga seperti merawat anggota keluarga dengan riwayat
penyalahguaaan zat dengan mengetahui emosi, psikologis, dan hubungan social,
diskusikan dengan keluarga tentang cara merawat anggota keluarga dengan riwayat
penyalahgunaan zat, beri pujian atas jawaban yang benar, evaluasi cara merawat
anggota keluarga dengan maslah penyalahgunaaan zat. Tugas selanjutnya
memodifikasi lingkungan dengan rencana kegiatan diskusikan dengan keluarga
tentang memodifikai lingkungan., beri pujian kepada keluarga dan evaluasi kembali
kegiatan tersebut. Tugas yang terakhir adalah memanfaatkan fasilitas kesehatan
dengan rncana kegiatan adalah mengkaji pengetahuan keluarga tentang
memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk anggota keluarga dengan riwayat
penyalahgunaan zat , beri pujian kepada keluarga dan evaluasi kembali masala yang
dibahas dengan keluarga.

4. Implementasi keperawatan
Implementasi yang dilakukan pada keluarga bapak A khususnya anak I yaitu
berdasarkan intervensi yang telah dibuat berdasarkan diagnosis yang ditetapkan.
Diagnosis yang pertama yaitu Ansietas berhubungan dengan kurang infomasi
keluarga dalam masalah remaja dengan perilaku NAPZA, implementasi yang
dilakukan pada tanggal 7 Februari 2019 yaitu menanyakan kepada keluarga
pengertian NAPZA, membimbing keluarga bagaimana cara mengambil keputusan
untuk merawat anggota keluarga yaitu dengan menjelaskan kepada keluarga
mengenai perawatan penyalahguaan NAPZA, selanjutnya menjelaskan cara
pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Pada tanggal 8 Februari 2019 menjelaskan
tentang cara mengambil keputusan pada anggota keluarga yang melakukan
penyalahgunaan NAPZA. Media yang digunakan adalah leaflet dan lembar balik.
Selanjutnya tanggal 9 Februari 2019 dilakukan merawat anggota keluarga dengan
masalah penyalahgunaan NAPZA yaitu dengan cara menjelaskan kepada keluarga
tentang pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Pada tanggal 10 Februari 2019
dilakukan memodifikasi lingkungan dengan menjelaskan kepada keluarga lingkungan
yang baik untuk pengguna NAPZA. Dilanjutkan pada tanggal 11 Februari 2019
dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan cara menjleaskankan cara
memanfaatkan fasilitas kesehatan.

Diagnosis kedua harga diri rendah kronik berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga pada remaja
dengan perilaku NAPZA, yang implementasi dilakukan pada tanggal 12 Februari
2019 yaitu menanyakan kepada keluarga tentang pengertian harga diri rendah, tanda
dan gejala harga diri rendah dan faktor penyebab dari harga diri rendah. Melakukan
pendidikan kesehatan tentang harga diri rendah. Selanjutnya membimbing keluarga
dalam pengambilan keputusan untuk melakukan perhatian yang lebih bagi anggota
keluarga yang mengalami harga diri rendah. Pada tanggal 13 Februari 2019 dilakukan
cara merawat anggota keluarga yang sakit terutama bagi anggota keluarga yang
mengalami harga diri rendah. Pada tanggal 14 Februari 2019 mengajarkan cara
memodifikasi lingkungan dengan cara menjelaskan lingkungan yang baik untuk
anggota keluarga yang mengalami harga diri rendah. Dan dilanjutkan dengan
memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan cara menganjurkan keluarga untuk
membawa anggota keluarga yang mengalami harga diri rendah ke fasilitas kesehatan.

Diagnosis ketiga disfungsi proses keluarga b/d ketidakmampdiuan keluarga


untuk merawat anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA,
implementasi yang dilakukan pada 15 Februari 2019 yaitu menanyakan bagaimana
carakeluarga merawat anggota keluarga yangsakit, selanjutnya dilakukan bagaimana
tindakan yang dilakukan oleh penyalahgunaan zat, selanjutnya pada tanggal 16
Februari 2019 dilakukan memberikan pendidikan kesehatan tentang cara merawat
anggota keluarga yang mengalami masalah riwayat penyalahgunaan zat. Pada tanggal
17 Februari dilakukan menjelaskan kepada keluarga tentang lingkungan yang baik
untuk pengguna NAPZA dan dilanjutkan dengan menganjurkan kepada keluarga
untuk membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan.

5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi dilakukan setiap kali implementasi dilakukan, didapatkan evaluasi terakhir
pada keluarga anak I pada saat diagnosis pertama dilakukan adalah hasil subjektif
keluarga anak I mengatakan keluarga mengerti tentang penegetian NAPZA, penyebab
penyalahgunaan NAPZA, tanda – tanda penyalahgunaan NAPZA, keluarga juga
mengatakan sudah bisa mengambil keputusan untuk keluarga yang mengalami
penyalahgunan NAPZA dan keluarga mengerti tentang perawatan keluarga dengan
riwayat penyalahgunaan NAPZA. Selanjutnya keluarga mengatakan mengerti dan
paham cara memodifikasi lingkungan serta memanfaatkan fasilitas kesehatan. Hasil
objektif yang di dapatkan keluarga mengerti tentang pengertian NAPZA, keluarga
mengerti untuk mengambil keputusan dan cara merawat keluarga , keluarga dapat
menyebutkan cara memodifikasi lingkungan dan mmanfaatkan fasilitas kesehatan.
Hasil analisa yang didapatkan maslah teratasi, planning selanjutnya lanjut diagnosa
kedua.

Diagnosis kedua didapatkan hasil subjektif keluarga mengatakan mengerti tentang


pengertian harga diri rendah, tanda dan gejala harga diri rendah dan faktor penyebab
harga diri rendah, keluarga mengatakan memutuskan akan memberikan perhatian
yang lebih kepada anggota keluarga yang mengalami harga diri rendah,keluarga
mengatakan akan merawat dengan sebaik mungkin anggota keluarga yang mengalami
harga diri rendah, keluarga mengatakan akan memberikan lingkungan yang aman dan
nyaman kepada anggota keluarganya yang mengalami harga diri rendah, dan akan
membawa kefasilitas kesehatan untuk kontrol anggota keluarga yang mengalami
harga diri rendah. Hasil objektif yang didapatkan adalah keluarga mampu
menyebutkan kembali pengertian harga diri rendah, tanda dan gejala serta faktor
penyebab harga diri rendah, keluarga tampak mengerti cara mengambil keputusan dan
merawat anggota keluarga yang mengalami harga diri rendah, keluarga juga dapat
menyebutkan bagaimana cara memodifikasi lingkungan amandan nyaman bagi
anggota keluarga yang mengalami harga diri rendah, dan keluarga mampu untuk
membawa kefasilits kesehatan. Hasil analisa yang didapatkan masalah teratasi dan
palnning selanjutnya lanjutkan diagnosa tiga.

Diagnosis ketiga didapatkan hasil subjektif keluarga mengatakan sudah mengerti dan
paham cara merawat anggota keluarga yang sakit, keluarga mengatakan sudah bisa
mengambil keputusan jika ada anggota keluarga mengalami masalah kesehatan dan
keluarga mengatakan sudah bisa bagaimana cara merawat keluarga yang mengalami
masalah kesehatan, keluarga mengatakan mengerti dan paham tentang lingkungan
yang baik dan cara memanfaatkan fasilitas kesehatan. Hasil objektif yang didapatkan
adalah keluarga tampak paham dengan pendidikan kesehatan yang diberikan,
keluarga tampak paham dengan penjelasan yang [Link] annalisa data yang
didapatkan masalah teratasi. Dan planning selanjutnya intervensi dilanjutkan.
B. Pembahasan Kasus
Setelah dilakukan penerapan asuhan keperawatan keluarga anak I dengan masalah
remaja dengan perilaku NAPZA di wilayah kerja puskesmas kuranji kota Padang,
maka pada bab pembahasan ini penulis akan menjabarkan adanya kesesuaian maupun
kesenjangan yang terdapt pada pasien antar teori dengan kasus. Tahapan pembahasan
sesuai dengan tahapan asuhan keperawatan yang dimulai dari pengkajian,
merumuskan diagnosa, merumuskan rencana keperawatan,pelaksanaan tindakan dan
evaluasi keperawatan.

1. Pengkajian
Pada pengkajian tanggal 4 Februari 2019 didapatkan hasil pada keluarga bapak A
khususnya anak I (17 tahun), ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Anak
I sekarang duduk dibangku kelas 3 SMK. Saat ini An. I mengalami masalah
penyalahgunaan NAPZA. Anak I mulai mengkonsumsi semenjak 5 tahun yang
lalu karena keluarga yang sibuk, keingin tahuan yang tinggi, dan pergaualan yang
bebas.

Menurut alifia (2008), kondisi lingkungan masyarakat yang tidak sehat atau
rawan, dapat menjadi faktor terganggunya perkembangan jiwa kearah perilaku
yang menyimpang pada akhirnya terlibat penyalahgunaan atau ketergantungan
NAPZA. Lingkungan masyarakat yang rawan tersebut antara lain semakin
banyaknya pengangguran, anak putus sekolah dan anak jalanan, tempat – tempat
hiburan yang buka hingga larut malam hingga dini hari dimana sering digunakan
sebagai tempat transaksi narkoba, kebut – kebutan, coret – coretan, pengrusakan
tempat – tempat umum, tempat – tempat transaksi narkoba baik secara terang –
terangan maupun sembunyi – sembunyi.

Saat dilakukan pengkajian pada anak A mengatakan lebih suka menyendiri


didalam kamar, ia cemas keluar rumah bertemu orang lain, dan merasakan cemas
yang sangat luar biasa. Saat dilakukan pemeriksaan fisik mata klien terlihat
merah, wajah pucat, mulut kering, tangan klien gemetar, dan badan kurus. Saat
dilakukan observasi klien lebih sering dikamar jika diganggu maka klien akan
marah, saat berbicara anak tampak menunduk sambil memegang kepala, dan tidak
ada kepercayaan diri.
Menurut Pieter (2013) tanda – tanda dari pengguna penyalahgunaan NAPZA
adalah sebagai berikut mata merah, mata terkesan sayu, mulut kering, wajah
pucat, jantung berdebar, suka menyendiri, pemurung, badan lemah dan gelisah,
dan anak lebih mudah tersinggung dan menjadi marah, dan suka menantang orang
tua.

2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan keluarga mengacu pada P-E-S dimana untuk problem (P)
dapat digunakan tipologi dari (SDKI, 2017) dan etiologi
(E) berkenaan dengan 5 tugas keluarga dalam hal kesehatan atau keperawatan
menurut (Friedman, 2010). Pada perumusan diagnosis yang didapatkan dari
analisa data berdasarkan data subjektif dan objektif.
Diagnosa yang dijumpai pada kasus ini yaitu :
a. Ansietas berhubungan dengan kurang informasi keluarga dalam masalah
remaja dengan perilaku NAPZA.
b. Harga diri rendah kronik berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
merawat anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA.
c. Disfungsi proses keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
dalam merawat anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA.
Dari beberapa masalah yang didapatkan dalam kasus ditentukan 3 diagnosis yang
dipilih berdasarkan prioritas masalah. Diagnosis yang muncul dan ditemukan pada
tinjauan teori dengan kasus mengenai masalah remaja dengan perilaku NAPZA
terdapat sedikit perbedaan. Dalam teori terdapat 4 diagnosis keperawatan, tetapi di
kasus terdapat 3 diagnosa keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang muncul dalam tinjauan teori, yaitu :
a. Resiko perilaku kekerasan
b. Gangguan interaksi sosial
c. Disfungsi proses keluarga
d. Ketidakmampuan koping keluarga

Diagnosis pertama yaitu ansietas berhubungan dengan kurang informasi keluarga


dalam masalah remaja dengan perilaku NAPZA, didapatkan data dari partisipan
yaitu cemas untuk keluar rumah bertemu orang lain, cemas untuk kesekolah bertemu
teman – teman,cemast jika ada orang yang data kerumah, cemas yang berlebihan
yang klien rasakan, dan klien lebih senag menyendiri dikamar.

Diagnosis kedua yaitu harga diri rendah kronik berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga pada remaja dengan
perilaku NAPZA, didapatkan data dari partisipan yaitu dirinya tidak berguna, dirinya
rendah dari orang lain, dirinya bodoh, tidak mempunyai kepercayaan diri bertemu
orang lain, dan lebih senang menyendiri dikamar.

Diagnosis ketiga yaitu disfungsi proses keluarga berhubungan ketidakmampuan


keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah remaja dengan perilaku
NAPZA, didapatkan data dari partisipan orang tua sibuk bekerja, tidak ada tempat
untuk curhat, pergaulan bebas, dan mengkonsumsi NAPZA yaitu lem dan ganja
sebagai pelarian.

Faktor pendukung tegaknya diagnosis yaitu terdapat kaitan antara problem, etiologi,
dan symptom sehingga memudahkan penulis menegakkan diagnosa. Faktor
penghambat yaitu penulis masih belum dapat menegakkan diagnosa tanpa melihat
buku sumber, untuk mengatasi masalah ini peneliti menggunakan beberapa buku
panduan saat menegakkan diagnosa keperawatan.

3. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan keluarga dibuat berdasarkan pengkajian, diagnosa
keperawatan, pernyataan keluarga dan perencanaan keluarga, dengan merumuskan
tujuan, mengidentifikasi strategi intervensi alternative dan sumber, serta menentukan
prioritas, intervensi tidak bersifat rutin, acak, atau standar, tetapi dirancang bagi
keluarga tertentu dengan siapa perawat keluarga sedang bekerja (Friedman, 2010).
Pembahasan intervensi dalam keperawatan keluarga meliputi tujuan umum, tujuan
khusus, kriteria hasil dan kriteria standar. Dalam mengatasi masalah ini peran perawat
adalah memberikan asuhan keperawatan keluarga untuk mencegah komplikasi lebih
lanjut ( Friedman, 2010).

Intervensi dari diagnosis pertama ansietas berhubungan dengan kurang informasi


keluarga dalam masalah remaja dengan perilaku NAPZA yaitu sesuai dengan
tugas keperawatan keluarga yang pertama yaitu mengenal masalah , dengan cara
melakukan penyuluhan dan pendidikan kesehatan bersama anggota keluarga agar
keluarga paham mengenai maslah remaja dengan perilaku NAPZA yang dialami
keluarga bapak A khususnya anak I. selanjutnya mengambil keputusan untuk
mengatasi masalah remaja dengan perilaku NAPZA dengan mendiskusikan tindakan
yang harus dilakukan jika terjadi masalah dalam keluarga. Selanjutnya merawat
anggota keluarga dengan melakukan penyuluhan mengenai remaja dengan perilaku
NAPZA dan mendiskusikan cara memantau dan mengontrol dalam pengobatan teratur
dirumah. Lalu memodifikasi lingkungan rumah yang aman dan nyaman untuk
mengatasi masalah remaj dengan perilaku NAPZA. Selanjutnya memanfaatkan
pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah ansietas yang terjadi pada remaja
dengan perilaku NAPZA pada keluarga bapak A khususnya anak I.
Intervensi dari diagnosis kedua harga diri rendah kronik berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah remaja
dengan perilaku NAPZA yaitu sesuai dengan tugas keperawatan keluarga pertama
yaitu mengenal masalah kesehatan pada keluarga yaitu keluarga mampu mengenal
masalah dengan melakukan penyuluhan kesehatan bersama anggota keluarga
mengenai pengertian harga diri rendah, tanda dan gejala serta faktor penyebab harga
diri rendah. Selanjutnya mengambil keputusan untuk mengatasi masalah remaja
dengan perilaku NAPZA dan keluarga mengetahui bagaimana cara merawat anggota
keluarga yang mengalami harga diri rendah di akibatkan oleh remaja dengan peilaku
NAPZA. Tugas keluarga selanjutnya yaitu keluarga mampu melakukan modifikasi
lingkungan dengan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anggota
keluarga yang mengalami harga diri rendah karena remaja dengan perilaku NAPZA
pada keluarga bapak A khususnya anak I. Selanjutnya melakukan diskusi dan
memotivasi agar keluarga mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan terdekat untuk
mengatasi remaja dengan perilaku NAPZA.

Intervensi pada diagnosis ketiga disfungsi proses keluarga berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dalam masalah remaja
dengan perilaku NAPZA sesuai dengan tugas keperawatan keluarga yang pertama
yaitu mampu mengenal masalah, intervensinya yaitu dengan melakukan TUK 1
penyuluhan dan pendidikan kesehatan mengenai perawatan bagi anggota keluarga
dengan masalah remaja dengan perilaku NAPZA dengan media booklet dan leaflet.
Dengan dilaksanakannya penyuluhan tersebut diharapkan keluarga dapat memahami
bagaimana perawatan bagi anggota keluarga dengan masalah remaja dengan perilaku
NAPZA. Selanjutnta TUK 2 mengambil keputusan untuk mengatasi masalah remaja
dengan perilaku NAPZA dengan cara meningkatkan pengawasan dan pengontrolan
bagi remaja dengan perilaku NAPZA, keluarga menyatakan keputusannya untuk
melaksanakan cara tersebut. Selanjutnya TUK 3 merawat anggota keluarga dengan
NAPZA dengan intervensi melakukan konseling kepada keluarga mengenai
perawatan pada remaja dengan perilaku NAPZA dan memberikan perhatian yang
lebih bagi anggota keluarga dengan perilaku NAPZA. TUK 4 keluarga mampu
memodifikasi dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk menunjang
perkembangan yang lebih baik bagi remaja dengan perilaku NAPZA. TUK 5 keluarga
mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah remaja dengan
perilaku NAPZA pada keluarga bapak A khususnya anak I.

4. Implementasi keperawatan
Implementasi dari diagnosis pertama yaitu ansietas berhubungan dengan kurang
informasi keluarga dalam masalah remaja dengan perilaku NAPZA pada
partisipan yaitu sesuai dengan TUK 1 mengenal masalah kesehatan, Pada tanggal 7
Februari 2019 dilakukan kunjungan kerumah keluarga Tn. A pukul 16.00 WIB yaitu
melakukan penyuluhan dan pendidikan tentang remaja dengan perilaku NAPZA
dengan menggunakan booklet dan leaflet. Selanjutnya pada tanggal 8 Februari 2019
sesuai TUK 2 yaitu diskusi pengambilan keputusan untuk mengatasi remaja dengan
perilaku NAPZA dengan mendiskusikan tindakan yang harus dilakukan jiaka terjadi
masalah dalam keluarga. Pada tanggal 8 Februari 2019 pukul 16.00 WIB dialkuakn
kunjungan ke rumah keluarga Tn. A untuk melanjutkan TUK 3 yaitu melakukan
diskusi cara merawat anggota keluarga dengan remaja dengan perilaku NAPZA.
Selanjutnya pada tanggal 10 Februari 2019 TUK 4 mendemontrasikan modifikasi
lingkungan yang aman dan nyaman bagi anggota keluarga dengan masalah remaj
dengan perilaku NAPZA. Selanjutnya pada tanggal 11 Februari 2019 TUK 5
mendiskusikan dan memotivasi keluarga untuk membawa kepelayanan kesehatan
bagi anggota keluarga Tn. A khususnya An. I yang mengalami masalah remaja
dengan perilaku NAPZA.

Implementasi dari diagnosis ini sesuai menurut teori yaitu memberikan penyuluhan,
mengajarkan keluarga, dan mendemontrasi cara perawatan anggota anggota keluarga
dengan remaja dengan perilaku NAPZA dengan cara memberikan pengawasan
pergaulan, memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih, serta memberikan
kebebesan untuk mengungkapkan pendapat sehingga terjalin komunikasi yang
terbuka antara orang tua dan anaknya.

Implementasi dari diagnosis yang kedua yaitu harga diri rendah kronik
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggoat
keluarga dengan masalah remaja dengan perilaku NAPZA pada partisipan
melakukan penyuluhan bersama keluarga mengenai pengertian harga diri rendah,
tanda dan gejala harga diri rendah, serta faktor penyebab dari harga diri rendah yang
di akibatkan oleh penyalahgunaan NAPZA, menganjurkan keluarga untuk
memberiakn perhatian dan pengawasan bagi anggota keluarga dengan masalah harga
diri rendah disebabkan oleh remaja dengan perilaku NAPZA.

Implementasi dari diagnosis ini sesuai menurut teori yaitu memberikan penyuluhan
atau konseling tentang cara merawat anggota keluarga yang mengalami harga diri
rendah disebabkan oleh remaja dengan perikau NAPZA. Pemberian penyuluahn atau
konseling serta pemahaman keluarga akan konseling yang telah diberikan juga sangat
berpengaruh untuk konseling yang diberikan pada anggota keluarga yang mengalami
harga diri rendah disebabkan oleh penyalahgiunaan NAPZA diantaranya memberikan
konseling tentang ciri – ciri remaja dengan perilaku NAPZA salah satunya
kepribadian yang rendah diri yaitu perasaan rendah diri didalam pergaulan di
masyarakat ataupun lingkungan sekolah, dan sebagainya. Mereka mengatasi masalah
tersebut dengan cara menyalahgunakan NAPZA untuk menutupi kekurangan mereka
tersebut.

Implementasi dari diagnosis ketiga difungsi proses keluarga berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga dalam masalah remaja dengan perilaku NAPZA,
pada partisipan yaitu tugas keperawatan keluarga mengenal masalah dengan cara
melakukan penyuluhan mengenai dan pendidikan kesehatan dalam merawat anggota
keluarga dengan masalah remaja dengan perilaku NAPZA (Pieter, 2013).

Implementasi dari diagnosis ini sesuai yaitu melakukan penyuluhan tentang


perawatan remaja dengan perilaku NAPZA yaitu dengan cara memberikan perhatian
dan pengawasan kepada remaja dengan perilaku NAPZA. Upaya yang dilakukan
dalam remaja dengan perilaku NAPZA salah satunya rehabilitasi bagi pecandu
NAPZA serta control kedokter spesialis psikologi untuk memulihkan mental remaja
dengan perilaku NAPZA.

5. Evaluasi keperawatan
Pada diagnosis pertama ansietas berhubungan dengan kurang informasi keluarga
dalam masalah remaja dengan perilaku NAPZA saat dilakukan evaluasi partisipan
dan keluarga mengatakan sudah mengetahui pengertian, tanda dan gejala serta faktor
penyebab dari penyalahgunaan NAPZA. Terlihat partisipan dan keluarga dapat
menjawab pertanyaan yang diberikan setelah diberikan penyuluhan. Partisipan dan
keluarga juga telah membuat keptusan apa yang dilakukan jika anggota keluarga ada
yang sakit dan bagaimana acara perawatannya. Partisipan mengatakan sudah mampu
untuk merawat anggota keluarga yang mengalami masalah remaja dengan perilaku
NAPZA tapi terkadang masih mengalami kesulitan dalam menjalankannya karena
anak yang masih belum bisa diarahkan. Anak masih belum biasa meneriam secara
cepat perubahan tersebut. Klien dan keluarga juga dapat menyebutkan bagaimana
memodifikasi lingkungan yang aman dan nyaman bagi anggota keluarga dengan
remaja perilaku NAPZA. Klien dan keluarga dapat membawa kefasilitas kesehatan
yang ada untuk menunjang kesehatan anggota keluarga. Hasil analisa bahwa masalah
teratasi sebagian dan untuk menindak lanjuti tersebut telah diambil keputusan untuk
melanjutkan intervensi.

Pada diagnosis kedua harga diri rendah kronik berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah remaja
dengan perilaku NAPZA. Saat dilakukan evaluasi klien dan keluarga mengatakan
sudah mengetahui pengertian, tanda dan gejala, serta faktor penyebab dari harga diri
rendah disebabkan oleh penyalahgunaan NAPZA. Terlihat klien dan keluarga dapat
menjawab pertanyaan yang diberikan setelah penyuluhan. Klien dan keluarga juga
telah mampu membuat keputusan mengenai cara perawatan anggota keluarga yang
mengalami harga diri rendah yang disebabkan oleh penyalahgunaan NAPZA. Klien
dan keluarga juga dapat menyebutkan bagaiman memodifikasi lingkungan yang aman
dan nyamn bagi anggoat keluarga yang mengalami harga diri rendah. Dan keluarga
mampu memanfaatkan pelayan kesehatan untuk meunjang kesehatan keluarga. Hasil
analisa bahwa masalah teratasi sebagian dan untuk menindak lanjuti hal tersebut telah
diambil keputusan untuk melanjutkan intervensi.
Pada diagnosis ketiga disfungsi proses keluarga berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah remaja
dengan perilaku NAPZA. Saat dilakukan evaluasi klien dan keluarga mengatakan
sudah memahami dan mengetahui cara merawat anggota keluarga remaja dengan
perilaku NAPZA. Terlihat klien dan keluarga dapat menjawab pertanyaan yang
dibetiakn setelah diberikan penyuluhan. Klien dan keluarga juga telah mampu
membuat keputusan mengenai tindakan untuk merawat anggota keluarga dengan
maslah remaja dengan perilaku NAPZA. Klien dan keluarga dapat menyebutkan
bagaimana memodifikasi lingkungan yang aman dan nyaman bagi anggota keluarga
dengan masalah remaja dengan perilaku NAPZA. Klien dan keluarga dapat
menyebutkan manfaat dari fasilitas kesehatn yang ada untuk menunjang kesehatan
anggota keluarga. Hasil analisa bahwa masalah teratasi sebagian dan untuk menindak
lanjuti hal tersebut telah diambil keputusan untuk melanjutkan intervensi.

Evaluasi keperawatan keluarga adalah proses untuk menilai keberhasilan keluarga


dalam melaksanakn tugas kesehatannya, sehingga memiliki produktivitas yang tinggi
dalam mengembangkan setiap anggota keluarga. Sebagai komponen kelima dalam
proses keperawatan, evaluasi adalah tahap yang menentukan apakah tujuan yang
telah ditetapkan akan menetukan mudah atau sulitnya dalam melaksanakn evaluasi
(Padila, 2012).

Berdasarkan hasil evaluasi dapat disimpulkan partisipan sudah mampu mengenal


masalah yang ada pada keluarga, mampu mengambil keputusan, merawat anggota
keluarga yang sakit, memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan pelayanan fasilitas
kesehatan. Klien dan keluarga sudah mampu menerapkan demontrasi yang telah
diajarkan selama kunjungan.

Setelah dilakukan evaluasi didapatkan hasil tingkat kemandirian pada partisipan dari
tingkat kemandirian pertama yaitu menerima petugas perawatan kesehatan
masyarakat dan menerima pelayanan keperawatan yang sesuai dengan rencana
keperawatan, mengetahui dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara
benar, memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan sesuai anjuran dan melakuakn
tindakan keperawatan sederhana sesuai anjuran.
Rencana tindak lanjut dari evaluasi yang dilakukan adalah klien dan keluarag dapat
memanfaatkan pelayanan kesehatan sesuai anjuran, keluarga dapat melanjutkan
perawatan remaj dengan perilaku NAPZA, memberikan perhatian dan pengawasan
bagi remaja dengan perilaku NAPZA.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian penerapan asuhan keperawatan keluarga pada
keluarga bapak A khususnya anak I dengan masalah perilaku NAPZA pada
remaja di wilayah kerja Puskesmas Kuranji tahun 2019, penulis dapat mengambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil pengkajian yang telah peneliti lakukan pada tanggal 4 Februari 2019
pada keluarga bapak A khususnya anak I adalah keluarga bapak A merupakan
tipe keluarga nuclear family, salah satu anggota keluarga anak I mengalami
masalah penyalahgunaan NAPZA karena pergaulan yang bebas tanpa
pengawasan orang tua. Hasil pengkajian terdapat kesamaan data kasus yang di
angkat dengan teori yang sudah ada. Dimana keluarga mengeluhkan anaknya
sering mengurung diri dikamar, tidak mau keluar rumah, tidak mau bergaul
dengan lingkungan, malas belajar, sering memantah perkataan orang tua, dan
sering marah tak menentu.

2. Diagnosis keperawatan yang muncul pada teori terdapat 4 diagnosis


keperawatan, pada kasus ini diagnosa keperawatan yang muncul hanya 3.
Diagnosa utama yang muncul berdasarkan prioritas masalah yaitu ansietas
berhubungan dengan penyalahgunaan zat khususnya NAPZA.

3. Intervensi keperawatan yang direncanakan tergantung kepada masalah


keperawtan yang ditemukan. Intervensi yang dilakukan dirumuskan
berdasarkan diagnosa yang telah didapatkan dan berdasarkan 5 tugas khusus
keluarga yaitu mengenal masalah, memutuskan tindakan, merawat anggota
keluarga yang sakit, memodifikasi lingkungan, dan memanfaatkan fasilitas
kesehatan.

4. Implementasi mulai di lakukan tanggal 7 Februari 2019, implementasi yang


telah dilakukan pada diagnosis pertama yaitu melakukan penyuluhan atau
pendidikan kesehatan tentang perilaku NAPZA pada remaja, membimbing
dan memotivasi keluarga dalam mengambil keputusan untuk mengatasi
remaja dengan penyalahgunaan NAPZA, melakukan diskusi dan demontrasi
cara merawat anggota keluarga yang mengalami masalah penyalahgunaan

66
67

NAPZA pada remaja, mendiskusikan dan mendemontrasikan memodifikasi


lingkungan aman dan nyaman serta memanfaatkan pelayanan kesehatan bagi
anngota keluarga yang mengalami penyalahgunaan NAPZA. Implementasi
diagnosa kedua yaitu melakukan pendidikan kesehatan tentang pengertian ,
tanda dan gejala serta faktor penyebab dari harga diri rendah. Membimbing
keluarga dalam pengambilan keputusan bagi anggota keluarga yang
mengalami harga diri rendah. Mendemontrasikan cara merawat anggota
keluarga yang mengalami harga diri rendah. Memotivasi keluarga untuk
memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan fasilitas kesehatan bagi anggota
keluarga yang mengalami harga diri rendah. Implementasi diagnosa ketiga
yaitu melakukan penyuluhan tentang mengenal masalah cara merawat anggota
keluarga dengan penyalahgunaan NAPZA, melakukan diskusi dan
membimbing keluarga dalam penga,bilan keputusan. Mengajarkan dan
mendemontrasikan cara merawat anggota keluarga yang sakit. Memotivasi
keluarga untuk memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan fasilitas
kesehatan. Implementasi yang tidak dilakukan pada semua diagnosa yaitu
tugas khusus keluarga ke empat dan kelima seperti demontarsi modifikasi
lingkungan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan karena implementasi
tersebut digabung pelaksanaannya pada diagnosis pertama.

5. Pada tahap akhir peneliti mengevaluasi kepada pasien dan keluarg mulai
tanggal 16 Februari 2019, mengenai tindakan keperawatan yang telah
dilakukan berdasarkan catatan perkembangan. Evaluasi yang didapatkan
tingkat kemandirian keluarga pertama berubah menjadi tingkat kemandirian
keluarga kedua. Keluarga anak I memahami tentang perilaku NAPZA pada
remaja dan cara merawat anggota keluarga khususnya anak I dengan
penyalahgunaan NAPZA. Keluarga termotivasi untuk memodifikasi
lingkungan yang aman dan nyaman bagi anggota keluarga dengan
penyalahguaan NAPZA serta akan memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk
mengobati anaknya dengan maslah penyalahgunaanNAPZA.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan saran sebagai berikut :
1. Bagi Institusi Puskesmas Kuranji Kota Padang
Melalui institusi pelayanan kesehatan Puskesmas Kuranji diharapkan dapat
memberikan pelayanan kesehatan semaksimal mungkin dan hasil studi kasus

Poltekkes Kemenkes Padang


ini diharapkan juga dapat digunakan sebagai tambahan informasi dalam
mengembangkan program puskesmas di keluarga dengan remaja
penyalahgunaan NAPZA seperti pelayanan kesehatan sesuai rencana,
misalnya pergi kesekolah – sekolah memberikan penyuluhan tentang bahaya
NAPZA, serta dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal kepada
keluarga remaja yang dengan perilaku NAPZA dan meningkatkan mutu
pelayanan komunitas atau lapangan.

2. Bagi Institusi Pendidikan


Sebagai tambahan informai dan bahan kepustakaan dalam pemberian asuhan
keperawatan keluarga remaja dengan perilaku NAPZA.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


Diharapkan peneliti selanjutnya lebih aktif dalam memberiakn asuhan
keperawtan keluarga khususnya pada remaja dengan perilaku NAPZA dan
sebagi bahan tambahan bagi mahasiswa keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA

Agsya, F. 2010. Undang-Undang RI Nomor 35Tahun 2009 Tentang Narkotika dan Undang-
Undang RI Nomor 5 Tahun1997 Tentang Psikotropika, Jakarta :Asa Mandiri.
Bungin,[Link] penelitian kualitatif: aktualisasi metedologis kearah ragam
varian [Link]: rajawali pers
Friedman, Marilyn. 2010 Buku Ajar Keperawatan Keluarga: Riset, Teori&Praktik.
Jakarta : EGC
Hurlock,eizabeth [Link] perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang
[Link]: Erlangga
Janiwarti, [Link] psikologi bidan: suatu teori dan terapannya.
Jogyakarta: naha medika
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 2.
Jakarta : Salemba Medika
Notoatmodjo. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka cipta
Padila, 2012. Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Nuhamedika
Pieter herri zan& latas namora lumangga.2017. pengantar psikologi dalam
[Link] : kencana
Potter & perry. 2010. Fundamental of Nursing Fundamental Keperawatan, Edisi 7 Volume 3.
Indonesia : Salemba Medika.
Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. (2015). Stop Kanker. Jakarta:
Departemen Kesehatan
Pusat Penelitian Data dan Informasi BNN. (2017). Survei Prevalensi Penyalahgunaan
Narkoba pada Rumah Tangga di 34 Provinsi Tahun [Link]: Puslitdatin-BNN
Muwarni, A. (2008). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Yogyakarta: Fitramaya
Sarwono. (2011). Psikologi Remaja Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
Setyowati & Murwani, A. (2007). Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dan Aplikasi
[Link]: Mitra Cendikia Press
[Link] Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Keperawatan
Transkltural. Jakarta: EGC
Sunarso,Siswanto. 2010. Penegakan Hukum Psikotropika: Dalam Kajian Sosiologi Hukum,
Jakarta: PT. Rajagrafindo Perkasa
Widyanti faisalado [Link] komunitas deengan pendekatan praktik.
Yogyakarta : Naha Medika
Poltekkes Kemenkes Padang
Poltekkes Kemenkes Padang
FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A. Pengkajian
1. Data umum
1. Nama Kepala keluarga : Bapak A
2. Usia : 47 tahun
3. Agama : Islam
4. Pekerjaan : Wiraswasta
5. Alamat : Komplek Karya Rei Blok G No 6 Kel.
Korong Gadang, Kec. Kuranji Kota Padang
6. Pendidikan : SMA
7. Komposisi Keluarga :
Hubungan Pendidikan
No Nama TTL / umur
dengan KK

1 Ny. A Istri Garabak data, 3 Maret 1970 (49 tahun) SMK

2 An. A Anak Solok, 25 Oktober 1996 (22 tahun) D3

3 An. I Anak Padang, 14 Juni 2001 (17 tahun) PELAJAR

8. Riwayat Keluarga

Poltekkes Kemenkes Padang


Keterangan:
: Laki-laki meninggal
: Perempuan meninggal
: perempuan
: laki-laki
: tinggal serumah
: klien

9. Tipe keluarga
Tipe keluarga anak I adalah tipe keluarga nuclear family yaitu dimana
yang tinggal dirumah adah ayah, ibu, dan anak-anaknya.

10. Suku
Keluarga anak I Memiliki suku yang sama yaitu bersuku minang.
Keluarga mengatakan masih memegang atau menganut kebiasaan
dalam adat mereka. Begitu juga dengan cara mendidik anak – anaknya.
Seperti jika tidak sholat maka akan dipukul.

[Link]
Keluarga anak I Menganut agama Islam, mereka mengerjakan shalat 5
waktu sehari semalam. Keluarga bapak A mengajarkan sejak dini
pendidikan agama. Keluarga bapak A khususnya ibu A merupakan
guru mengaji di salah satu masjid didekat rumah.

12. Status sosial ekonomi keluarga


Bapak A bekerja sebagai sales harian dan menjual barang –
barang bekas sperti meja makan bekas, tempat kasur bekas, kasur
bekas dan barang – barang lainnya. Penghasilan Tn. A Rp
3.000.000/bulan dan ibu A bekerja sebgai guru ngaji yang
berpenghasilan Rp 500.000/ bulan

Poltekkes Kemenkes Padang


13. Aktivitas rekreasi keluarga
Keluarga anak I mengatakan untuk aktivitas rekreasi keluarga
mereka tidak terjadwal. Keluarga biasanya berkumpul sambil
menonton televisi. Karena keluarga anak I sibuk bekerja jadi untuk
waktu libur digunakan untuk membersihkan rumah dan
beristirahat. Keluarga anak I mengatakan tidak ada jadwal rekreasi
yang terjadwal. Namun sekali-kali ada pergi rekreasi bersama
keluarga pada waktu tertentu seperti libur lebaran. Anak I
mengatakan orang tua terlalu sibuk sehingga waktu untuk
bercengkrama tidak ada. Anggota keluarga sibuk dengan urusan
masing - masing sehingga waktu untuk menyampaikan masalah
tidak ada.

2. Riwayat perkembangan keluarga


a. Tahap perkembangan keluarga
Tahap perkembangan keluarga anak I berada pada tahap
perkembangan kelima yaitu tahap keluarga dengan anak remaja.
Tugas tahap perkembangan ini yaitu memberi kebebasan seimbang
dengan tanggung jawab mengingat remaja sudah bertambah
dewasa dan meningkatkan otonomi dan berkomunikasi secara
terbuka antara orang tua dan anak. Pada saaat ini tahap
perkembangan pada keluarga bapak A belum terjalin begitu baik
karena orang tua yang terlalu sibuk membuat anak I tidak
merasakan kehangatan dalam keluarga sehingga ia mau
menceritakan masalahnya ia tidak tau menceritanya pada siapa,
sehingga ia memilih untuk mengkonsumsi narkoba.

b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi


Bapak A mengatakan bahwa ada tahap perkembangan keluarga
yang belum terpenuhi yaitu memberikan kasih sayang yang penuh
pada anak – anaknya. Bapak A menyadari bahwa ia dan istri

Poltekkes Kemenkes Padang


terlalu sibuk untuk bekerja sehingga anak- anak nya tidak
terperhatikan khususnya anak I dengan perilaku NAPZA.
c. Riwayat keluarga inti
Pada saat pengkajian pada tanggal Senin, 4 Februari 2019. Bapak
A mengatakan bahwa saat ini anak I setahun belakangan
mengalami tingkah laku yang berbeda dari pada biasanya. Setelah
ditanya ia mengkonsumsi lem dan ganja. Anak I mengatakan pada
saat ini ia merasakan sangat cemas untuk keluar rumah bertemu
orang lain, cemas untuk datang kesekolah bertemu teman –
temannya, cemas jika ada orang datang kerumah, dan mengatakan
sangat merasakan cemas yang luar biasa. Anak I saat dilakukan
pengkajian pada tanggal Selasa, 5 Februari 2019 mengatakan
dirinya tidak berguna, dirinya tidak bermanfaat, dirinya bodoh,
teman – temannya tidak mau berteman dengannya karena ia aneh,
dan orang tua sibuk bekerja.

d. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya


Pada saat dilakukan pengkajian bapak A mengakatakan bahwa 5
tahun yang lalu kedua anaknya pernah dirawat dirumah sakit
dengan demam berdarah. Anak I mengatakan sebelumnya tidak
pernah dirawat dengan penyalahgunaan NAPZA.

3. Pengkajian lingkungan
a. Karakteristik rumah
Rumah yang dimiliki keluarg anak I adalah permanen dan milik
sendiri dengan luas tanah 8 × 12 m² yang terdiri dari satu ruang
tamu, ruang keluarga, satu dapur, tiga kamar tidur, satu kamar
mandi. Ventilasi rumah cukup banyak dan memiliki pencahayaan
yang cukup baik karena rumah memiliki banyak jendela.
Sedangkan pada malam hari menggunakan lampu [Link]
air yang digunakan keluarga adalah PAM. Air ini dipakai untuk
memasak, dan mandi, sedangkan air minum menggunakan air isi

Poltekkes Kemenkes Padang


ulang. Jarak antara septik tank dengan Wc ± 15 meter. Fasilitas
yang ada didalam rumah keluarga berupa seperangkat kursi dan
meja tamu, lemari baju dan tempat tidur tiap-tiap kamar, peralatan
dapur, mesin cuci, kulkas, televisi dan peralatan lainnya.
Pembuangan limbah rumah tangga keluarga mengalir dengan baik
kedalam got dibelakang rumah yang kondisinya cukup bersih,
mengalir dan tertutup.

Septic Tank

R6
R8 R4

R7

R3
R5

R2

R1

Keterangan:
R1 : kamar 1
R2 : Kamar 2
R3 : Kamar 3
R4 : ruang makan
R5 : ruang tamu
R6 : kamar mandi

Poltekkes Kemenkes Padang


R7 : dapur
R8 : kamar 4
Septic tank
b. Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Tipe lingkungan anak I adalah lingkungan sedikit nyaman dan
lumayan tenang karena rumahnya berada jauh dari jalan raya. Jarak
rumah dengan tetangga rapat dan padat, tetangga dengan mayoritas
warganya bersuku minang dan beragama islam. Tipe pekerjaan
komunitas tetangga bermacam-macam, yaitu pegawai negeri,
pegawai swasta, buruh, pedagang serta wiraswasta. Lingkungan
rumah dengan anak remaja yang masih banyak bersekolah, tetapi
saat di lakukan observasi terdapat dilingkungan tersebut banyak
anak – anak remaja yang merokok di warung – warung didekat
lingkungan rumah klien.

c. Mobilisasi Geografi keluarga


Keluarga anak I mengatakan mereka menempati rumah ini sudah
lama awal mereka menikah dan sampai sekarang. Keluarga tidak
ada pindah ke lingkungan yang baru karena disini menurutnya
sudah cukup nyaman dan tenang.

d. Perkumpulan keluarga dan interaksi masyarakat


Keluarga mengatakan sudah menjalin hubungan dengan baik antar
sesama tetangga sejak tinggal di lingkungan tersebut keluarga anak
I mengatakan mengikuti semua aturan yang berlaku dilingkungan
seperti jika ada himbauan dari ketua RT untuk gotong royong
bersama keluarga. Keluarga Anak I mengatakan sejak kecil anak I
tidak mau untuk mengikuti kegiatan yang diadakan dilingkungan
rumah. Anak I mengatakan dia malu untuk bergabung dengan
orang lain . lebih senang dirumah. Bahasa yang digunakan oleh
keluarga dalam berkomunikasi yaitu bahasa minang dan bahasa
Indonesia.

Poltekkes Kemenkes Padang


e. Sistem pendukung keluarga
Keluarga anak I mengatakan memiliki sistem keluarga yang cukup
erat, apabila ada anggota keluarga yang sakit maka anggota
keluarga yang lain memberikan dorongan atau mengingatkan serta
mengantar berobat ke pelayanan kesehatan. Keluarga juga
mempunyai kartu jaminan kesehatan yang bisa digunakan sebagai
pendukung keluarga dalam berobat.

4. Struktur keluarga
1. Pola komunikasi keluarga
Keluarga anak I mempunyai pola komunikasi yang terbuka
dimana dilakukan secara efektif, dan proses komunikasi keluarga
berlangsung dua arah, keluarga mengatakan jika ada masalah
yang sangat penting mereka selalu membicarakan dengan anggota
keluarga untuk menyelesaikannya secara bersama-sama. Tetapi
sering masalah yang terjadi selalu diselesaikan dengan emosi,
sehingga tidak ada kesepakatan yang tepat untuk menyelesaikan
masalah tersebut. Seperti masalah yang di alami anak I orang tua
selalu bertengkar untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
anak I. Anak I mengatakan orang tua khususnya ibu selalu tidak
sabaran dalam menghapi maslah yang terjadi.
2. Struktur kekuatan keluarga
Pengambilan keputusan dilakukan dengan musyawarah oleh
keluarga. Keluarga mengatakan berusaha saling menghargai
pendapat setiap anggota keluarga. Namun setiap keputusan yang
diambil diputuskan oleh bapak dari anak I.
3. Struktur peran
Bapak A adalah kepala keluarga, bapak A berperan sebagai
suami, ayah yang bertugas untuk menjaga keluarga, mendidik
anaknya, dan memenuhi kebutuhan [Link] A berperan
sebagai istri dan ibu untuk anak-anaknya. Ibu A juga berperan

Poltekkes Kemenkes Padang


sebagai pengatur dan pengontrol pemasukan dan pengeluaran
keluarga serta mengurus pekerjaan rumah. Anak I berperan
sebagai anak yang harus mematuhi setiap peraturan yang berlaku
dirumah dan menjalankan tugas sebagai anak. Keluargaanak I
belum mengetahui peran sebagai orang tua denggan remaja
perilaku NAPZA.

4. Nilai atau norma keluarga


Keluarga anak I menganggap nilai dan norma dalam keluarga
sesuai dengan apa yang ada pada masyarakat seperti sopan santun
dengan sesama manusia, saling menghargai dan menghormati,
menjaga perasaan orang lain saat berucap.

5. Fungsi keluarga
a. Fungsi afektif
Keluarga anak I mengatakan mereka saling menghargai satu sama
lain dimana mereka sama-sama merasakan perasaan memiliki dan
dimiliki serta mereka saling mendukung dan menjaga satu sama
lain.
b. Fungsi sosialisasi
Keluarga anak I mengatakan hubungan keluarga dengan
tetangga berjalan dengan baik dan lancar jika ada kegiatan
dilingkungannya keluarga anak I juga aktif ikut serta dalam
kegiatan tersebut. Anak I mengatakan jarang untuk mengikuti
kegiatan tersebut karena sangat cemas untuk keluar rumah dan
megatakan dirinya tidak bermanfaat.
c. Fungsi perawat kesehatan
Keluarga anak I mengatakan sehat adalah apabila keluarga masih
dapat melakukan aktivitas dengan normal dan tanpa gangguan
kesehatan, dan sedangkan sakit adalah dimana jika anggota
keluarga tidak dapat melakukan aktivitas secara normal karena

Poltekkes Kemenkes Padang


sakit. Keluarga anak I mengatakan tidak mengetahui cara
merawat anggota keluarga dengan remaja perilaku NAPZA.
d. Mengenal masalah kesehatan
Keluarga anak I mengatakan tidak mengetahu remja dengan
perilaku NAPZA. Keluarga anak I mengatakan baru mengetahui
anak I mengkonsumsi NAPZA awalnya diberitahu oleh
tetengganya tetapi bapak A dan ibu A tidak mempercayainya.
Anak I megatakan mengkonsumsi lem pada saat kelas 2 SMP
berusia 13 tahun, dan mengkonsumsi ganja pada kelas satu SMK
berusia 15 tahun.
e. Mengambil keputusan
Keluarga mengatakan tidak mengetahui akibat lanjut dari
penyalahgunaan NAPZA. Keluarga mengatakan ingin
mengetahui tentang cara perawatan remaja dengan perilaku
NAPZA agar dapat merawat anggota keluarga khususnya anak I
yang mengalami penyalahgunaan NAPZA.
f. Merawat anggota keluarga
Keluarga anak I mengatakan masih bingung dengan cara
perawatan masalah remaja dengan perilaku NAPZA.
g. Memodifikasi lingkungan
Keluarga mengatakan belum mengetahui cara memodifikasi
lingkungan yang baik untuk anak I dengan perilaku NAPZA.
h. Menggunakan fasilitas kesehatan
Keluarga mengatakan selalu menggunakan pelayanan yang ada
seperti praktek bidan, puskesmas maupun langsung ke rumah
sakit terdekat.
i. Fungsi reproduksi
Bapak menikah dengan ibu A dan dikaruniai 2 orang anak. Ke
dua anaknya belum menikah. Sebelumnya tidak ada anggota
keluarga yang mengalami masalah penyalahgunaan NAPZA.
j. Fungsi ekonomi

Poltekkes Kemenkes Padang


Keluarga mengatakan mampu memenuhi kehidupan sehari-hari.
Tetapi tidak memenuhi setiap keinginan yang diminta naaknya.
Seperti anak I yang meminta motor tidak dipenuhi oleh bapak A.

6. Status
mental
a. Penampilan
Dalam keseharian anak I berpenampilan rapi, bersih dan
sesuai dengan cara berpakaian.
b. Pembicaraan
Awalnya klien agak tertutup saat ditanya, setelah dilakukan
pendekatan kepada anak I,ia sudah mulai mau bercerita
tentang dirinya dan apa yang ia rasakan saat ini. Saat
berbicara anak I sering menunduk, sering memegangang
kepala saat berbicara, kontang mata kurang, gugup, tangan
tremor,terlihat tegang, terlihat malu, dan kurang percaya diri.
c. Aktivitas motorik
Saat ini anak I berusaha tidak akan menggunakan NAPZA
lagi. Tapi klien mendapatkan efek dari obat tersebut yaitu
pasien merasa cemas yang luar biasa, cemas untuk keluar
rumah bertemu orang lain, cemas untuk kesekolah bertemu
teman – temannya, cemas jika ada orang data kerumah, lebih
suka menyendiri dikamar, dan tidak suka berinteraksi dengan
orang lain. Saat dilakukan observasi anak I sering menyendiri
dikamar, jarang untuk keluar rumah, tidak ada berinteraksi
dengan tetangga, dan jika dia jak teman untuk bermain ia
menolaknya.
d. Alam perasaan

Poltekkes Kemenkes Padang


Saat ditanya bagaimana perasaaan klien saat ini, anak I
menjawab bahwa dirinya bodoh, diri tidak bermanfaat, diri
tidak berguna, teman – teman tidak mau berteman dengannya
karena aneh,orang tua terlalu sibuk bekerja, dan ia juga
mendengarkan suara – suara yang meremehkan dirinya
sehingga yang tidak percaya diri. Suara – suara itu ia
dengarkan saat ia sendiri didalam kamar. Saat ia sendiri
didalam kamar jika ada yang mengganggu maka ia akan
marah.

e. Afek
Saat perawat melakukan percakapan kepada anak I respon
diberikan oleh anak I cukup baik, hal ini dibuktikan ia dapat
mejawab pertanyaan – pertanyaan dengan baik walau klien
sering tersenyum sendri saat menjawab pertanyaan yag di
ajukan perawat.
f. Isi piker
Saat ditanyakan apa yang sering dipikirkan, klien menjawab
ia seing memikirkan masa depannya kedepan. Klien ingin
sekali untuk kuliah tetapi saat ini ia sangat malas belajar,
tidak ada semangat untuk belajar.
g. Tingkat kesadaran
Kesadaran klien baik, ditunjukkan dengan klien tahu sedang
sama siapa, berada dimana dan sedang melakukan apa.
h. Tingkat kosentrasi
Saat dilakukan pengkajian konsentrasi klien cukup baik, hal
ini dibuktikan klien dapat menjawab semua pertanyaan yang
diajukan kepada klien tanpa ada jawaban yang tidak
sesuaidengan pertanyaan yang di ajukan kepada dirinya.
i. Kemampuan penilaian
Kemampuan menilai klien baik, hal ini dibuktikan dari
jawaban klien tentang apalkah mengkonsumsi NAPZA itu

Poltekkes Kemenkes Padang


salah, dan apa dampa kepada keluarga tentang
penyalahgunaan NAPZA tersebut dank lien menjawab dengan
benar.

7. Stress dan koping keluarga


a. Stressor
1) Stressor jangka panjang
Keluarga anak I mengatakan takut jika anaknya akan
mengalami gangguan jiwa atas efek dari penyalahgunaan
NAPZA.

2) Stressor jangka pendek


Keluarga anak I mengatakan selalu mencemaskan anak I
terjerumus kembali kedalam masalah penyalahgunaan NAPZA
dan mengalami ketergantungan obat – obatan terlarang tersebut.

b. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor


Keluarga anak I mengatakan tindakan untuk stressor jangka pendek
adalah keluarga berusahan selalu untuk mengingatkan dan merawat
anak I dengan masalah penyalahgunaan NAPZA, sedangkan untuk
stressor jangka panjang keluarga mengatakan akan selalu
memecahkan dengan musyawarah dan mencari solusinyadenga
anggota keluarga yang lain dengan cara mengemukakan pendapat
masing - masing.

c. Strategi koping yang digunakan


Keluarga anak I selalu memberikan dukungan dan perhatian
kepada anggota keluarga yang sedang mengalami masalah
khususnya pada anak I dengan riwayat penyalahgunaan NAPZA,
jika ada anggota keluarga yang bermasalah dengan kesehatan

Poltekkes Kemenkes Padang


keluarga akan memanfaatkan pelayanan kesehatan seperti
puskesmas, praktek dokter, dan rumah sakit.

d. Strategi adaptasi disfungsional


Keluarga mempunyai adaptasi disfungsional karena keluarga
menggunakan kekerasan dalam menghadapi masalah seperti akan
memukul anaknya jika tidak mendengarkan perkataan orang tua
dan marah apabila anak tidak menurut dengan perkataan orang tua.

B. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Anak I
No Bapak A Ibu A Anak A
fisik
1 Keadaan umum TB : 169cm TB : 156cm TB : 157cm TB : 160cm
BB : 65kg BB : 54kg BB : 50kg BB : 49kg
TD :120/80mmHg
TD:130/80mm TD:130/80mmHg TD:130/80mmHg
N :78 x/i
Hg N:96 x/i N:96 x/i
P:19 x/i
N:96 x/i P:20 x/i P:20 x/i
S:36,4c
P:20 x/i S:36,6c S:36,6c
S:36,6c
2 Kepala Bersih, benjolan Bersih, Bersih, benjolan Bersih, benjolan
tidak ada, kulit benjolan tidak tidak ada, kulit tidak ada, kulit
kepala bersih ada, kulit kepala bersih kepala bersih
kepala bersih
3 Rambut Bersih, pendek, Bersih, Bersih, panjang Bersih, pendek,
hitam pendek, hitam hitam

4 Mata Konjungtiva tidak Konjungtiva Konjungtiva tidak Konjungtiva tidak

Poltekkes Kemenkes Padang


anemis, sklera tidak anemis, anemis, sklera tidak anemis, sklera
tidak ikterik, sklera tidak ikterik, tidak ikterik,
pengliahatan baik ikterik, pengliahatan baik pengliahatan
pengliahatan terganggu
baik
5 Hidung Bersih, penciuman Bersih,penciu Bersih,penciuman Bersih,penciuman
baik, tidak ada man baik, tidak baik, tidak ada baik, tidak ada
sekret ada sekret sekret sekret

6 Telinga Simetris kiri dan Pendengaran Pendengaran baik, Pendengaran


kanan, ada sedikit baik, serumen serumen tidak ada, baik, serumen
serumen, tidak ada, simetris kiri-kanan tidak ada, simetris
pendengaran baik simetris kiri- kiri-kanan
kanan
7 Mulut Lidah bersih, Lidah Lidah Lidah bersih,
mulkosa bibir bersih,mulkosa bersih,mulkosa mulkosa bibir
baik, gigi lengkap bibir lembb bibir kering, gigi lembab, gigi
gigi lengkap lengkap lengkap

8 Leher Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada


pembesaran pembesaran pembesaran pembesaran
kelenjer tiroid dan kelenjer tiroid kelenjer tiroid dan kelenjer tiroid dan
kelenjer limfe dan kelenjer kelenjer limfe kelenjer limfe
limfe
9 Dada Simetris kiri dan Simetris kiri Simetris kiri dan Simetris kiri dan
kanan, tidak ada dan kanan, kanan, tidak ada kanan, tidak ada
tanpak luka lecet tidak ada tampak luka lecet tampak luka lecet
tanpak luka
lecet
10 Paru I: pergerakan dada I: pergerakan I: pergerakan dada I: pergerakan
simetris kiri-kanan dada simetris simetris kiri-kanan dada simetris kiri-
P:fremitus kiri- kiri-kanan P:fremitus kiri- kanan
kanan P:fremitus kiri- kanan P:fremitus kiri-

Poltekkes Kemenkes Padang


P: sonor kanan P: sonor kanan
A:tidak ada bunyi P: sonor A:tidak ada bunyi P: sonor
nafas tambahan A:tidak ada nafas tambahan A:tidak ada bunyi
bunyi nafas nafas tambahan
tambahan
11 Jantung I: iktus kordis I: iktus kordis I: iktus kordis tidak I: iktus kordis
tidak terlihat tidak terlihat terlihat tidak terlihat
P:iktus kordis P:iktus kordis P:iktus kordis P:iktus kordis
teraba teraba teraba teraba
P:redup P:redup P:redup P:redup
A:irama jantung A:irama A:irama jantung A:irama jantung
teratur jantung teratur teratur teratur

12 Abdomen I:perut tidak buncit I:perut tidak I:perut tidak buncit I:perut tidak
P:tidak ada nyeri buncit P: tidak ada nyeri buncit
tekan P: tidak ada tekan pada kuadran P: tidak ada nyeri
P:tympani nyeri tekan kiri atas tekan pada
A:BU 7x/i pada kuadran P:tympani kuadran kiri atas
kiri atas A:BU 21x/i P:tympani
P:tympani A:BU 21x/i
A:BU 21x/i
13 Ektremitas Tidak ada masalah Tidak ada Tidak ada masalah Tidak ada
masalah masalah

14 Genitalia - - - -

C. Harapan Keluarga
Harapan keluarga anak I semoga anaknya bisa kembali berperilaku
normal seperti biasanya. Semoga anak I tidak terjerumus lagi dengan
penyalahgunaan NAPZA. Anak I berharap semoga ia tidak kembali lagi

Poltekkes Kemenkes Padang


mengkonsumsi NAPZA. Anak I ingin sembuh dan menjalankan
kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

D. Analisa data

No Data Masalah Penyebab

1 Data Subjektif : Ansietas Kurang informasi


 Anak I mengatakan keluarga dalam
sangat cemas untuk masalah remaja
keluar rumah bertemu dengan perilaku
orang lain NAPZA
 Anak I mengatakan
cemas untuk datang ke
sekolah bertemu teman –
teman
 Anak I mengatakan
cemas jika ada orang
yang datang kerumah
 Anak I mengatakan

Poltekkes Kemenkes Padang


mengalami kecemasan
yang luar biasa
 Keluarga mengatakan
kurang mengetahui
remaja dengan perilaku
NAPZA

Data objektif:
 Anak I terlihat suka
menyendiri dikamar
 Anak I terlihat gugup
 Anak I sering menunduk
 Anak I sering memegang
kepala saat berbicara
 Anak I terlihat tegang
 Tangan klien tremor

2 Data subjektif : Harga diri rendah Ketidakmampuan


 Anak I mengatakan kronik keluarga merawat
dirinya tidak berguna anggota keluarga
 Anak I mengatakan dengan masalah
dirinya tidak bermanfaat remaja dengan
 Anak I mengatakan perilaku NAPZA
dirinya bodoh
 Anak I mengatakan
teman – temanya tidak
mau berteman
dengannya karena
dibilang aneh
 Anak I mengatakan

Poltekkes Kemenkes Padang


orang tua nya sibuk
bekerja

Data objektif :
 Anak I terlihat kurang
percaya diri
 Anak I terlihat malu
 Anak I sering menunduk
 Anak I saat berbicara
kontak mata kurang
 Anak I sering
memegang kepala saat
berbicara

Data subjektif : Disfungsi proses Ketidakmampuan


 Keluarga mengatakan keluarga keluarga untuk
terlalu sibuk bekerja merawat anggota
 Keluarga mengatakan keluarga pada
memiliki sifat yang keras remaj dengan
dalam mendidik anak – perilaku NAPZA
anaknya
 Keluarga mengatakan
belum mengetahui peran
sebagai orang tua
menyikapi perilaku anak
– anaknya
 Keluarga mengatakan
tidak mengetahui cara
merawat anggota
keluarga pada remaja
dengan perilaku NAPZA

Poltekkes Kemenkes Padang


Data objektif :
 Keluarga bapak A
khususnya bapak A dan
ibu A terlalu sibuk
bekerja
 Keluarga terlihat keras
dalam mendidik anak –
anaknya
 Keluarga terlihat tidak
memahami cara merawat
anggota keluarga pada
remaja dengan perilaku
NAPZA.

E. Skala Penentuan Prioritas Asuhan Keperawatan


DX 1 : Ansietas berhubungan dengan kurang informasi keluarga dalam
masalah remaj dengan perilaku NAPZA
No Kriteria Nilai Bobot Skor Pembenahan

1. Sifat masalah: 3 1 x 1 = 1 Masalah ini di katakana aktual


Aktual dibuktikan dengan data anak I
 Aktual 3 selalu mengatakan dirinya sangat
 Resiko 2 cemas untuk keluar rumah dan
 Potensial 1 bertemu orang lain dan anak I
mengatakan meraskan cemas yang
sangat luar biasa

Poltekkes Kemenkes Padang


2 Kemungkinan 1 2 x2=1 Kemungkinan masalah ini diubah
masalah untuk sebagian jika anak I mendapatkan
diubah: motivasi dan semangat dari
 mudah 2 keluarga
 sebagian 1
Potensial 0
3 Potensial 3 1 x1=1 Potensial masalah ini dapat
masalah dicegah tinggi jika anak I
 tinggi 3 mengikuti dengan benar cara
 cukup 2 mengurangi mengatasi kecemasan
 rendah 1
4 Menonjolnya 2 1 x 1 = 1 Keluarga melihat adanya
masalah: permasalahan pada anak I jika
 segera tidak segera ditangani maka dapat
ditangani : 2 menyebabkan gangguan
 tidak psikologis pada anak I
segera 1
 tidak
dirasakan : 0
JUMLAH 4

DX 2 : Harga diri rendah kronik berhubungan dengan ketidakmampuan


keluarga merawat anggota keluarga pda remaja dengan perilaku NAPZA
No Kriteria Nilai Bobot Skor Pembenahan

1. Sifat masalah: 3 1 x 1 = 1 Masalah ini bersifat aktual dimana


Aktual tanda dan gejala dari harga diri
 Aktual 3 rendah sudah mulai muncul pada
 Resiko 2 anak I
 Potensial 1
2 Kemungkinan 1 2 x2=1 Kemungkinan masalah ini diubah

Poltekkes Kemenkes Padang


masalah untuk sebagian jika keluarga bapak A
diubah: memberikan perhatikan dan
 mudah 2 semangat kepada anak I
 sebagian 1
Potensial 0
3 Potensial 2 1 x1= Potensial masalah anak I cukup
masalah dapat dicegah karena informasi
 tinggi 3 yang telah diterima oleh keluarga
 cukup 2
 rendah 1
4 Menonjolnya 1 1 x1= Keluarga merasakan adanya
masalah: masalah pada anak I dan
 segera menyadari bila ini tidak segera
ditangani : 2 ditangani akan berakibat fatal
 tidak
segera 1
 tidak
dirasakan : 0

JUMLAH 3

DX 3 : Disfungsi proses keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan


keluarga untuk merawat anggota keluarga pada remaja dengan perilaku
NAPZA
No Kriteria Nilai Bobot Skor Pembenahan

1. Sifat masalah: 3 1 x1= Masalah ini bersifat resiko dimana


Aktual jika keluarga terlalu sibuk akan
 Aktual 3 mengalami disfungsi proses
 Resiko 2 keluarga

Poltekkes Kemenkes Padang


 Potensial : 1
2 Kemungkinan 1 2 x2=1 Kemungkinan masalah ini diubah
masalah untuk sebagian jika keluarga bapak A
diubah: memberikan perhatikan dan
 mudah 2 semangat kepada anak I
 sebagian 1
Potensial 0
3 Potensial 2 1 x1= Potensial masalah anak I cukup
masalah dapat dicegah karena informasi
 tinggi 3 yang telah diterima oleh keluarga
 cukup 2
 rendah 1
4 Menonjolnya 1 1 x1= Keluarga merasakan adanya
masalah: masalah pada anak I dan
 segera menyadari bila ini tidak segera
ditangani : 2 ditangani akan berakibat fatal
 tidak
segera 1
 tidak
dirasakan : 0

JUMLAH 2

F. Prioritas Diagnosa Keperawatan


1. Ansietas berhubungan dengan kurang informasi keluarga dalam
masalah remaja dengan perilaku NAPZA.
2. Harga diri rendah kronik berhubungan dengan ketidakmampuan
anggota keluarga merawat anggota keluarga pada remaj dengan perilaku
NAPZA.

Poltekkes Kemenkes Padang


3. Disfungsi proses keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga untuk merawat anggota keluarga pada remaj dengan
perilaku NAPZA.

Poltekkes Kemenkes Padang


C. Rencana Keperawatan Keluarga pada Remaja dengan Perilaku NAPZA

NO Diagnosa NOC NIC


keperawatan

1. Ansietas b/d Setelah dilakukan intervensi a. Kaji kemampuan keluarga


kurang informasi keperawatan keluarga selama 1x30 tentang NAPZA
keluarga pada menit keluarga mampu : b. Diskusikan dengan
remaja dengan keluarga tentang pengertian
perilaku NAPZA 1. Mengenal masalah tentang NAPZA
penyalahgunaan NAPZA : c. Beri kesempatan keluarga
untuk bertanya
[Link] mampu d. Beri pujian kepada
menyebutkan keluarga yang dapat
pegertian,penyebab,tanda menjawab dengan tepat
dan gejala penyaahgunaan
NAPZA

2. Mengambil keputusan untuk a. Gali pengetahuan keluarga


merawat anggota yang tentang perawatan pasien
mengalami NAPZA : penyalahguna NAPZA
b. Motivasi keluarga untuk
a. Keluarga mampu merawat anggota keluarga
menyebutkan cara perawatan c. Demontrasikan kepada
penyalahgunaan NAPZA keluarga cara perawtan pada
pasien penyalahgunaan
NAPZA

3. Mampu merawat anggota [Link] pengetahuan keluarga


keluarga dengan tentang pencegahan
penyalahgunaan NAPZA : penyalahgunaan NAPZA
b. Diskusikan bersama
a. Keluarga mampu keluarga cara pencegahan

Poltekkes Kemenkes Padang


menyebutkan cara penyalahgunaan NAPZA
pencegahan [Link] pujian atas jawaban
penyalahgunaan NAPZA yang tepat
4. Mampu memodifikasi [Link] pengetahuan keluarga
lingkungan yang sehat tentang memodifikasi
: lingkungan yang tepat untuk
penyalahgunaan NAPZA
a. Keluarga mampu [Link] keluarga
memodifikasi lingkungan [Link] pujian atas jawaban
untuk pasien dengan yang benar
penyalahgunaan NAPZA
5. Mampu memanfaatkan [Link] keluarga untuk
fasilitas kesehatan : membawa anggota keluarga
yang sakit kefasilitas kesehatan
a. Keluarga mampu [Link] dukungan kepada
memanfaatkan fasilitas keluarga
kesehatan
2 Harga diri Setelah dilakukan asuhan [Link] kemampuan keluarga
rendah kronik keperawatan keluaraga selama 1x30 tentang harga diri rendah
b/d menit keluarga mampu : [Link] dengan keluarga
ketidakmampuan tentang pengertian harga diri
keluarga 1. Mengenal masalah tentang rendah
merawat anggota harga diri rendah: [Link] kesempatan keluarga
keluarga dengan untuk bertanya
masalah remaja a. Keluarga mampu [Link] pujian kepada keluarga
dengan perilaku menyebutkan pengertian yang dapat menjawab dengan
NAPZA harga diri rendah tepat
2. Mengambil keputusan : [Link] keluarga untuk
melakukan peran mereka
a. Keluarga mampu
dengan baik
mengambil keputusan
[Link] pujian kepada keluarga
yangtepat untuk anggota
karena telah memutuskan akan
keluarga yang
melakukan peran masing –

Poltekkes Kemenkes Padang


mengalami harga diri masing
rendah c. motivasi keluarga untuk
mengambil keputusan yang
tepat bagi anggota keluarga
yang mengalami harga diri
rendah
3. Mampu merawat anggota [Link] pengetahuan keluarga
keluarga
tentang pencegahan harga diri
a. Keluarga mampu
rendah
merawat anggota
b. Diskusikan bersama
keluarga dengan
keluarga cara pencegahan tidak
harga diri rendah
terjadinya harga diri rendah
c. Motivasi keluarga untuk
merawat anggota dengan harga
diri rendah
[Link] pujian atas jawaban
yang tepat
4. Memodifikasi lingkungan : [Link] pengetahuan keluarga
tentang memodifikasi
a. Keluarga mampu
lingkungan yang menunjang
menyebutkan lingkungan
anggota keluarga yang
yang menunjang anggota
mengalami harga diri rendah
keluarga yang mengalami
[Link] keluarga
harga diri rendah
menyelesaikan masalah dengan
musyawarah
[Link] kepada keluarga
untuk bebas mengemukakan
pendapat
d. Beri pujian kepada keluarga
e. Evaluasi kembali

Poltekkes Kemenkes Padang


3. Disfungsi proses Setelah dilakukan asuhan [Link] kemampuan keluarga
keluarga keperawatan keluarga selama 1x30 tentang merawat anggota
berhubungan menit keluarga mampu : keluarga dengan remaja
dengan perilaku NAPZA
ketidakmampuan [Link] masalah tentang [Link] dengan keluarga
keluarga untuk merawat anggota keluarga tentang pengertian merawat
merawat anggota dengan remaj dengan perilaku anggota keluarga keluarga
keluarga pada NAPZA : [Link] kesempatan keluarga
remaja dengan a. Keluarga mampu untuk bertanya
perilaku NAPZA menyebutkan pengertian [Link] pujian kepada keluarga
merawat anggota yang dapat menjawab dengan
keluarga dengan masalah tepat
remaja dengan perilaku
NAPZA
[Link] keputusan untuk [Link] pengetahuan keluarga
merawat anggota keluarga dengan tentang dampak anggota
penyalahgunaan zat keluarga dengan remaja
perilaku NAPZA
a. keluarga mampu [Link] bersama keluarga
menyebutkan dampak c. Beri pujian kepada keluarga
penyalahgunaan NAPZA d. Evaluasi kembali

[Link] anggota keluarga dengan [Link] pengetahuan keluarga


remaj perilaku NAPZA
tentang cara merawat anggota
keluarga dengan remaja
perilaku NAPZA
[Link] bersama keluarga
c. Beri pujian kepada keluarga
d. Evaluasi kembali cara
perawatan anggota keluarga
dengan remaj dengan perilaku
NAPZA

Poltekkes Kemenkes Padang


[Link] lingkungan yang [Link] pengetahuan keluarga
baik untuk pengguna NAPZA
tentang cara memodifikasi
lingkungan anggota keluarga
dengan riwayat
penyalahgunaan zat
[Link] bersama keluarga
c. Beri pujian kepada keluarga
[Link] kembali
5. Mampu memanfaatkan fasilitas [Link] keluarga untuk
kesehatan :
membawa anggota keluarga
yang sakit kefasilitas kesehatan
a. Keluarga mampu
[Link] dukungan kepada
memanfaatkan fasilitas
keluarga
kesehatan
[Link] keluarga untuk
membawa anggota keluarga
yang sakit kefasilitas kesehatan

Poltekkes Kemenkes Padang

Anda mungkin juga menyukai