Asuhan Keperawatan Remaja NAPZA
Asuhan Keperawatan Remaja NAPZA
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII KEPERAWATAN PADANG
TAHUN 2019
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII KEPERAWATAN PADANG
TAHUN 2019
Poltekkes Kemenkes Padang
ii
Poltekkes Kemenkes Padang
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya
sehingga peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Asuhan
Keperawatan pada Remaja dengan Perilaku NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas
Kuranji Kota Padang Tahun 2019”. Peneliti menyadari bahwa, peneliti tidak akan bisa
menyelesaikan karya tulis ilmiah ini tanpa bantuan dan bimbingan Bapak Tasman, [Link],
[Link], [Link] selaku pembimbing I dan ibu Hj. Murniati Mucthtar, [Link], SKM,
M. Biomed selaku pembimbing II yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran
untuk mengarahkan peneliti dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Tidak lupa juga
peneliti mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Burhan Muslim, SKM, [Link] selaku Direktur Poltekkes Kemenkes RI
Padang.
2. Ibu Ns. Hj. Sila Dewi Anggraini, [Link],[Link] selaku Ketua Jurusan
Keperawatan Poltekkes Kemenkes RI Padang
3. Ibu Heppi Sasmita, [Link], [Link] selaku Ketua Program Studi Prodi D III
Keperawatan Poltekkes Kemenkes RI Padang.
4. Bapak Ibu Dosen dan Staf yang telah membantu dan memberikan ilmu dalam
pendidikan untuk bekal bagi peneliti selama perkuliahan di Jurusan Keperawatan
Poltekkes Kemenkes RI Padang
5. Pimpinan Puskesmas Kuranji yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan
penelitian.
6. Teristimewa orang tua dan keluarga yang telah memberikan bantuan dukungan
material dan moral.
7. Rekan – rekan seperjuangan angkatan 2016 Keperawatan, serta sahabat dan
penyemangat yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak
membantu peneliti dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Peneliti menyadari Karya Tulis Ilmiah ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu
peneliti mengharapkan tanggapan, kritikan dan saran yang membangun dari semua pihak
untuk kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Akhir kata, peneliti berharap Tuhan Yang
Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu.
Semoga nantinya dapat membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan,
khususnya ilmu keperawatan.
Riwayat Pendidikan
Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Remaja dengan Perilaku NAPZA di Wilayah Kerja
Puskesmas Kuranji Kota Padang Tahun 2019
Isi : x + 85 halaman + 2 tabel + 11 lampiran
ABSTRAK
Prevalensi penyalahgunaan narkoba didunia sejak tahun 2014 hingga 2016 mengalami
peningkatan. pengguna di tahun 2014 kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2015
dan 2016 menjadi 5,3% dan 5,8%. Prevalensi penyalahguna narkoba sebesar 1,77% dari
total penduduk Indonesia yaitu sebesar 3.376.115 orang. Tujuan penelitian ini adalah
untuk menerapkan asuhan keperawatan keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA di
wilayah kerja puskesmas kuranji Kota Padang tahun 2019.
Desain penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus dimana penelitian
diarahkan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana penerapan asuhan
keperawatan dengan masalah remaja dengan perilaku NAPZA pada An. I. Waktu
penelitian yang dilakukan pada tanggal 4 - 17 Februari 2019.
Hasil penelitian dari kasus An. I pada masalah keperawatan didapatkan 3 diagnosis utama
yaitu ansietas, harga diri rendah kronik, disfungsi proses keluarga rencana tindakan yang
disusun berdasarkan prinsip tindakan keperawatan keluarga yaitu : mengenal masalah,
mengambil keputusan, merawat anggota keluarga, memodifikasi lingkungan dan
memanfaatkan fasilitas kesehatan. Implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana
tindakan yang telah disusun.
Diharapkan kepada tenaga kesehatan Puskesmas Kuranji khususnya perawat hasil
penelitian ini dapat memberikan sumbangan pikiran dalam meningkatkan kemampuan
tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada remaja dengan perilaku
NAPZA.
Kata Kunci (Key Word) : NAPZA, keluarga, asuhan keperawatan
Daftar Pustaka : (21) 2008 - 2018
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................................ii
KATA PENGANTAR..............................................................................................iii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS.......................................................iv
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................................v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP................................................................................vi
ABSTRAK................................................................................................................vii
DAFTAR ISI.............................................................................................................viii
DAFTAR TABEL....................................................................................................ix
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................1
B. Rumusan masalah....................................................................................5
C. Tujuan......................................................................................................5
D. Manfaat....................................................................................................6
B. Konsep Remaja........................................................................................21
1. Pengertian Remaja.............................................................................21
2. Ciri – Ciri Remaja..............................................................................22
3. Tahap Perkembangan Remaja............................................................23
4. Perkembangan Remaja.......................................................................24
5. Karakteristik Perkembangan Remaja.................................................26
6. Bentuk – Bentuk Kenakalan Remaja.................................................27
C. Konsep NAPZA.......................................................................................29
1. Pengertian NAPZA............................................................................29
2. Faktor Penyebab Penyalahgunaan NAPZA.......................................32
3. Ciri – Ciri Pengguna NAPZA............................................................33
4. Dampak Penyalahgunaan NAPZA....................................................34
5. Cara Penanggulangan NAPZA..........................................................36
A. Latar Belakang
Menurut WHO tahun 2015, remaja merupakan penduduk yang rentang usia 10 hingga 19
tahun. Menurut Peratutan Menteri Kesehatan RI nomor 25 tahun 2014, remaja
merupakan penduduk dalam rentang usia 10 hingga 18 tahun. Sementara itu menurut
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencara Nasional (BKKBN), rentang usia remaja
dari 10 hingga 24 tahun dan belum menikah. Perbedaan defenisi tersebut menunjukkan
bahwa tidak ada kesepakatan universal mengenai batasan kelompok usia remaja. Masa
ini merupakan periode persiapan menuju dewasa yang akan melewati beberapa tahapan
perkembangan penting dalam hidup. Selain kematangan fisik dan seksual, remaja juga
mengalami tahapan menuju kemandirian sosial dan ekonomi , membangun identitas ,
akuisisi kemampuan untuk kehidupan masa dewasa serta kemampuan bernegosiasi
Masa pertumbuhan atau masa remaja diwarnai dengan munculnya karakteristik remaja
yang disebut “krisis identitas” yaitu masa dimana individu harus memutuskan siapa dia,
apa yang dia lakukan dan apa yang dilakukan dalam hidupnya. Akibatnya, remaja sangat
peka terhadap stres, frustasi, dan konflik, Karena remaja sedang mengalami pergolakan
dalam jiwanya untuk mencari jati diri. Oleh karena itu remaja sangat rentan sekali
mengalami masalah psikososial. Salah satu masalah yang merupakan bentuk kenakalan
remaja adalah penyalahgunaan NAPZA (Kartono, 2013).
NAPZA merupakan singkatan dari Narkotika, Psiokotropika dan Zat adiktif. Jenis
narkotikanya heroin, opium, ganja (marijuana), morfin, kokain. Jenis psikotropika
diantaranya ekstasi, sabu, amfetamin, pil koplo. Sedangkan jenis zat adiktif lainnya
alkohol, inhalas (lem, tinner, bensin, penghapus cat kuku), tembakau dan kafein (UU 35
Tahun 2009 Tentang Narkoba).
1
Poltekkes Kemenkes Padang
13
masalah di Indonesia saja, tetapi merupakan masalah global yang perlu dihadapai
bersama (BNN, 2017).
2
Saat ini NAPZA menjadi masalah global, yang mewabah hampir di semua Negara
didunia. Saat ini tidak ada satu Negara pun di dunia yang luput dari penyalahgunaan
NAPZA. Berdasarkan data dari United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC)
pada tahun 2017 Prevalensi penyalahgunaan narkoba didunia sejak tahun 2014 hingga
2016 mengalami peningkatan. Besaran prevalensi penyalahgunaan narkoba di dunia
diestimasi sebesar 4,9% atau 208 juta pengguna di tahun 2014 kemudian mengalami
peningkatan pada tahun 2015 dan 2016 menjadi 5,3% dan 5,8%. Secara absolut,
diperkirakan ada sekitar 167 hingga 315 juta orang penyalahguna dari popoulasi
penduduk dunia yang berumur 15-64 tahun yang menggunakan narkoba
Saat ini di kota Padang tidak ada data yang mencatat tentang remaja dengan
penyalahgunaan narkoba baik itu di dinas kesehatan kota Padang maupun di Puskesmas
se-Kota Padang. Sehingga peneliti mengambil keputusan untuk mengambil data dari
salah satu yayasan rehabilitasi NAPZA di kota Padang.
Berdasarkan data dari yayasan rehabilitasi NAPZA ( Pelita Jiwa Insani) dikota Padang
menunjukkan penyalahgunaan narkoba terbanyak terjadi pada anak remaja berumur (12-
24 tahun) dengan prevalensi sebesar 42 % dibandingkan dengan yang berumur (25-45
tahun) sebesar 27 %. Data yang diperoleh yayasan pelita jiwa insani tercatat jumlah
Adapun faktor penyebab remaja menggunakan NAPZA adalah kurang menghayati nilai-
nilai agama, kurang percaya diri, pribadi yang mudah kecewa, keinginan untuk diterima
dalam kelompok pergaulan, individu mempunyai keinginan untuk mencoba-coba,
pengaruh teman sebaya, kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua, keluarga
disharmonis, komunikasi yang kurang terbuka dengan anak, orang tua tidak bisa menjadi
contoh atau teladan bagi anak. Penyebab utama remaja menggunakan NAPZA adalah
faktor keluarga (Lestari, 2013).
Keluarga merupakan sumber daya penting dalam pemberian layanan kesehatan, baik
bagi individu maupun keluarga. Fungsi keluarga salah satunya yaitu fungsi afektif yang
merupakan pemberian perlindungan psikologis, penciptaan rasa aman, pengadaan
interaksi dan pengenalan identitas individu. Keberlangsungan interaksi dalam keluarga
akan membentuk suatu kepribadian setiap anggota keluarga untuk mengungkapkan
permasalahan dan sesuatu yang dialaminya. Adanya optimalisasi fungsi afektif dalam
keluarga diharapkan menjadi dasar keluarga untuk menjamin anak yang telah remaja
dalam keluarga terbebas dari segala
masalah, khususnya pada remaja yang mengkomsumsi NAPZA (Friedman,2010)
Keluarga merupakan kunci untuk mencegah anak mereka dari kecanduan NAPZA,
karena orang tua merupakan tempat menerima dan menumpahkan segala persoalan,
memberikan bimbingan, pengajaran dan pelatihan etika, dan moral secara berjenjang
sesuai dengan perkembangan dirinya. Partisipasi dari orang tua seperti memperhatikan,
mengawasi, menyalurkan bakat dan minat anak kearah yang positif, menumbuh
kembangkan diri anak melalui pendidikan agama sejak dini, memberikan kepercayaan
pada anak dalam batas toleransi, serta membangun komunikasi positif dalam bentuk
anak sebagai sahabat, dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan NAPZA di kalangan
remaja (Friedman,2010).
Salah satu peran perawat dalam keluarga adalah peran sebagai fasilitator dan edukator
dimana perawat menjadi tempat bertanya keluarga untuk memecahkan masalah dan
memberikan jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi anggota keluarga. Dari
masalah tersebut peneliti berkeinginan dapat memberikan terapi kepada pasien berupa
terapi asertif dimana terapi tersebut merupakan terapi yang diberikan kepada individu
terutama pada remaja yang mengalami kecemasan. Terapi ini melatih kemampuan
seseorang untuk mengungkapkan pendapat, perasaan, sikap dan hak tanpa disertai
adanya perasaan cemas (Friedman,2010).
Berdasarkan survey awal pada tanggal 13 Desember 2018 diwilayah kerja Puskesmas
Kuranji pada 1 orang anak remaja berumur 18 tahun berjenis kelamin laki – laki
berdasarkan hasil wawancara didapatkan remaja tersebut pada saat berumur 12 tahun
sudah mengkonsumsi lem disebabkan oleh ajakan teman, setelah itu mencoba – coba
untuk mengkonsumsi narkoba yang berjenis ganja saat mengkonsumsi narkoba remaja
tersebut merasa senang dan ada kepuasaan tersendiri. Keluarga yang terlalu sibuk
membuatnya untuk mengkonsumsi narkoba dampak yang remaja tersebut rasakan saat
mengkonsumsi narkoba adalah sulit untuk tidur, malas berlajar, dan sering begadang.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena diatas peneliti telah melakukan penelitian
remaja dengan perilaku NAPZA pada keluarga dengan judul “ Asuhan keperawatan
Keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji
Kecamatan Kuranji Kota Padang Tahun 2019”.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti uraikan diatas, maka perumusan masalah
penelitian ini adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan Keluarga pada Remaja dengan
Perilaku NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang
pada Tahun 2019?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mampu menerapkan asuhan keperawatan keluarga pada remaja dengan perilaku
NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang Tahun
2019.
2. Tujuan khusus
a) Mampu mendeskripsikan pengkajian keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA
di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
b) Mampu mendeskripsikan diagnosa keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA di
Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
c) Mampu mendeskripsikan intervensi keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA di
Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
d) Mampu mendeskripsikan tindakan keperawatan keluarga pada remaja dengan
perilaku NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota
Padang.
e) Mampu mendeskripsikan hasil evaluasi keluarga pada remaja dengan perilaku
NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
f) Mampu mendeskripsikan pendokumentasian keluarga pada remaja dengan perilaku
NAPZA di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengalaman nyata dalam memberikan Asuhan
Keperawatan Keluarga pada Remaja dengan Perilaku NAPZA di Wilayah Kerja
Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang.
2. Bagi Puskesmas
Disarankan petugas kesehatan di Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kota Padang
dapat meningkatkan asuhan keperawatan yang diberikan pada remaja dengan perilaku
NAPZA.
A. Konsep Keluarga
1. Pengertian Keluarga
Friedman (2010) mendefinisikan bahwa keluarga sebagai suatu sistem sosial.
Keluarga merupakan sebuah kelompok kecil yang terdiri dari individu-individu
yang memiliki hubungan erat satu sama lain, saling tergantung yang diorganisir
dalam satu unit tunggal dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Menurut
(Johnson, 1992) dalam Padila (2012) keluarga adalah kumpulan dua orang atau
lebih yang mempunyai hubungan darah yang sama atau tidak, yang terlibat dalam
kehidupan terus menerus, yang tinggal dalam satu atap, mempunyai ikatan
emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang dengan lainnya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah dua
atau lebih individu yang tergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau
hasil adopsi tinggal bersama dalam suatu rumah dalam keadaan saling
ketergantugan, beinteraksi satu sama lain dan menjalankan perannya masing-
masing serta mempertahankan kebudayaan.
2. Struktur Keluarga
Padila (2012) menjelaskan bahwa struktur keluarga menggambarkan bagaimana
keluarga melaksanakan fungsi keluarga di masyarakat. Ada beberapa struktur
keluarga yang ada di Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam, diantaranya
adalah :
a) Patrilineal adalah : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah.
66
7
b) Matrilineal adalah : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ibu.
c) Matrilokal adalah : sepasang suami suami istri yang tinggal bersama
keluarga sedarah ibu.
d) Patrilokal adalah : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah ayah.
e) Keluarga kawin adalah : hubungan suami istri sebagai dasar bagi
pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri (Padila, 2012).
3. Tipe Keluarga
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam
pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga
berkembang mengikutinya agar dapat mengupayakan peran serta keluarga
dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perlu mengetahui
berbagai tipe keluarga (Padila, 2012).
Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi tanggung
jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi
lebih dewasa :
Menurut Jhonson & Leny, 2010 ada beberapa tujuan keluarga pada tahap
keluarga dengan anak remaja yaitu :
a) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab,
mengingat remaja sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya.
b) Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga.
c) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.
Hindari perdebatan ,kecurigaan dan permusuhan.
d) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.
f. Tahap VI : Keluarga Melepaskan Anak Dewasa Muda (launching center
families)
Permulaan fase kehidupan keluarga ini ditandai dengan perginya anak
pertama dari rumah orang tua dan dan berakhir denga “kosongnya rumah”,
ketika anak terakhir juga telah meninggalkan rumah. Tahap ini dapat cukup
singkat atau cukup lama, bergantung pada jumlah anak dalam keluarga atau
jika anak yang belum menikah tetap tinggal di rumah setelah mereka
menyelesaikan SMU atau kuliahnya. Tugas perkembangan keluarga pada
tahap ini adalah keluarga membantu anak tertua untuk terjun ke dunia luar,
orang tua juga terlibat dengan anak terkecilnya, yaitu membantu mereka
menjadi mandiri (Friedman, 2010).
g. Tahap VII : Orang Tua Paruh Baya ( middle age families)
Tahap ini merupakan tahap masa pertengahan bagi orang tua, dimulai
ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir dengan pensiun atau
kematian salah satu pasangan. Tahap ini dimulai ketika orang tua berusia
sekitar 45 tahun sampai 55 tahun dan berakhir dengan pensiunannya
pasangan, biasanya 16 sampai 18 tahun kemudian. Tugas keperawatan
keluarga pada tahap ini adalah wanita memprogramkan kembali energi
mereka dan bersiap-siap untuk hidup dalam kesepian dan sebagai
pendorong anak mereka yang sedang berkembang untuk lebih mandiri serta
menciptakan lingkungan yang sehat (Friedman, 2010).
h. Tahap VIII : Keluarga Lansia dan Pensiunan
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini adalah dimulai pada saat
pensiunan salah satu atau kedua pasangan, berlanjut sampai kehilangan
salah satu pasangan, dan berakhir dengan kematian pasangan yang lain.
Tugas perkembangan keluarga pada tahap terakhir ini adalah
mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan dan kembali ke
rumah setelah individu pensiun/berhenti bekerja dapat menjadi problematik
(Friedman, 2010).
5. Fungsi Keluarga
Berkaitan dengan peran keluarga yang bersifat ganda, yakni satu sisi keluarga
berperan sebagai matriks bagi anggotanya, disisi lain keluarga harus memenuhi
tuntutan dan harapan masyarakat. Menurut (Friedman, 1998) dalam Padila
(2012) ada lima fungsi dasar keluarga, yaitu
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang
merupakan basis kekuatan dari keluarga. Fungsi afektif berguna untuk
pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan fungsi afektif tampak
melalui keluarga yang bahagia. Anggota keluarga mengembangkan konsep
diri yang positif, rasa dimiliki dan memiliki, rasa berarti serta merupakan
sumber kasih sayang. Reinforcement dan support dipelajari dan
dikembangkan melalui interaksi dalam keluarga.
Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga untuk memenuhi fungsi
afektif adalah :
1) Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima dan
mendukung. Setiap anggota keluarga yang mendapat kasih sayang dan
dukungan, maka kemampuannya untuk memberi akan meningkat
sehingga tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung.
Hubungan yang baik dalam keluarga tersebut akan menjadi dasar dalam
membina hubungan dengan orang lain di luar keluarga.
2) Saling menghargai, dengan mempertahankan iklim yang positif dimana
setiap anggota keluarga baik orang tua maupun anak diakui dan
dihargai keberadaan dan haknya.
3) Ikatan dan identifikasi, ikatan ini mulai sejak pasangan sepakat hidup
baru. Kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan berbagai aspek
kehidupan dan keinginan yang tidak dapat dicapai sendiri, misalnya
mempunyai anak. Hubungan selanjutnya akan dikembangkan menjadi
hubungan orang tua anak dan antar anak melalui proses identifikasi.
Proses identifikasi merupakan inti ikatan kasih sayang, oleh karena itu
perlu diciptakan proses identifikasi yang positif dimana anak meniru
prilaku orangtua melalui hubungan interaksi mereka.
b. Fungsi sosialisasi
Menurut Friedman (1998) sosialisasi adalah proses perkembangan dan
perubahan yang dialami individu yang menghasilkan interaksi sosial dan
belajar berperan dalam lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak individu
dilahirkan dan berakhir setelah meninggal. Keluarga merupakan tempat
dimana individu melakukan sosialisasi. Tahap perkembangan individu dan
keluarga akan dicapai melalui interaksi atau hubungan yang diwujudkan
dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, memiliki nilai/norma,
budaya dan perilaku melalui interaksi dalam keluarga sehingga individu
mampu berperan di masyarakat. Jika fungsi sosialisasi ini tidak berjalan
kearah yang positif akan membuat terjadinya pergaulan bebas dan
kenakalan remaja lainnya khususnya penyalahgunaan NAPZA pada
kalangan remaja.
c. Fungsi reproduksi
Keluarga berrfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan
meningkatkan sumber daya manusia. Dengan adanya program keluarga
berencana, maka fungsi ini sedikit dapat terkontrol. Namun disisi lain
banyak kelahiran yang tidak diharapkan atau di luar ikatan perkawinan
sehingga lahirnya keluarga baru dengan satu orangtua (single parent).
Dalam fungsi ini jika dalam keluarga ada anggota keluarga yang
mengkonsumsi NAPZA tinggi kemungkinan aggota lain dalam keluarga
juga akan meniru hal tersebut khususnya dalam penyalahgunaan NAPZA.
d. Fungsi ekonomi
Untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti makanan, pakaian
dan rumah, maka keluarga memerlukan sumber keuangan. Fungsi ini sulit
dipengaruhi oleh keluarga di bawah garis kemiskinan ( Gakin atau pra
keluarga sejahtera). Perawat berkontribusi untuk mencari sumber-sumber di
masyarakat yang dapat digunakan keluarga meningkatkan status kesehatan
mereka.
Faktor ekonomi dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap remaja yang
menyalahgunaan NAPZA.
e. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi lain keluarga adalah fungsi perawatan kesehatan. Selain keluarga
menyediakan makanan, pakaian dan rumah, keluarga juga berfungsi
melakukan asuhan kesehatan terhadap anggotanya baik untuk mencegah
terjadinya gangguan maupun merawat anggota yang sakit. Keluarga juga
menentukan kapan anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
memerlukan bantuan atau pertolongan tenaga profesional. Kemampuan ini
sangat mempengaruhi status kesehatan individu dan keluarga.
Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan terhadap
anggotanya dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan.
Menurut (Friedman, 1998 dalam Padila : 2012) Tugas kesehatan keluarga
tersebut adalah :
1) Mampu mengenal masalah
2) Mampu mengambil keputusan
3) Mampu merawat anggota keluarga yang sakit
4) Mampu memodifikasi lingkungan
5) Mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan
Kelima tugas kesehatan tersebut saling terkait dan perlu dilakukan oleh
keluarga. Perawat perlu melakukan pengkajian untuk mengetahui sejauh
mana keluarga dapat melaksanakan kelima tugas
tersebut dengan baik, selanjutnya memberikan bantuan ataupembin
aan terhadap keluarga untuk memenuhi tugas kesehatan
keluarga tersebut.
6. Tugas keluarga
Jhonson & Leny, 2010 mengatakan, pada dasarnya tugas keluarga ada delapan
tugas pokok sebagai berikut :
a) Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
b) Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
c) Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya
masing-masing.
d) Sosialisasi antar anggota keluarga.
e) Pengaturan jumlah anggota keluarga.
f) Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
g) Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.
7. Peran Perawat Keluarga
Sebuah peran didefinisikan sebagai kumpulan dari perilaku yang secara relatif
homogen dibatasi secara normatif dan diharapkan dari seorang yang menempati
posisi sosial yang diberikan (Friedman, 2010). Dalam melakukan asuhan
keperawatan keluarga, perawat keluarga perlu memperhatikan prinsip-prinsip
berikut : (a) melakukan kerja bersama keluarga secara kolektif, (b) memulai
pekerjaan dari hal yang sesuai dengan kemampuan keluarga, (c) menyesuaikan
rencana asuhan keperawatan dengan tahap perkembangan keluarga, (d)
menerima dan mengakui struktur keluarga, dan (e) menekankan pada
kemampuan keluarga (Jhonson&Leny, 2010).
Adapun peran perawat keluarga menurut Jhonson&Leny (2010) adalah sebagai
berikut :
a. Sebagai pendidik
Perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan kepada
keluarga, terutama untuk memandirikan keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang memiliki masalah kesehatan. Terutama pada keluarga
dengan remaja yang mengkonsumsi NAPZA, perawat memberikan
pendidikan kesehatan tentang pengertian, tanda dan gejala ,dan dampak
yang ditimbulkan saat mengkonsumsi NAPZA.
b. Sebagai Koordinator Pelaksana Pelayanan Keperawatan
Perawat bertanggung jawab memberikan keperawatan yang kompr
ehensif. Pelayanan keperawatan yang berkesinambungan diberikan untuk
menghindari kesenjangan antara keluarga dan unit pelayanan kesehatan.
Dalam hal ini, perawat dapat membimbing keluarga dan menyusun rencana
keperawatan apa yang akan diberikan kepada keluarga dengan remaja yang
mengkonsumsi NAPZA, seperti perawat memberikan pendidikan kesehatan
mengenai pola asuh keluarga yang baik terhadap remaja yang
menyalahgunakan NAPZA.
c. Sebagai supervisor pelayanan keperawatan
Perawat melakukan superivisi ataupun pembinaan terhadap keluarga
berisiko tinggi maupun yang tidak. Kunjungan rumah tersebut dapat
direncanakan terlebih dahulu atau secara mendadak, sehingga perawat
mengetahui apakah keluarga menerapkan asuhan yang diberikan oleh
perawat terutama pada keluarga yang remajanya mengkonsumsi NAPZA.
d. Sebagai pembela (advokat)
Perawat berperan sebagai advokat keluarga untuk melindungi hak-hak
keluarga klien. Perawat diharapkan mampu mengetahui harapan serta
memodifikasi sistem pada perawatan yang diberikan untuk memenuhi hak
dan kebutuhan. Pemahaman yang baik oleh keluarga terhadap hak dan
kewajiban mereka sebagai klien mempermudah tugas perawat untuk
memandirikan keluarga. Hal ini juga diterapkan pada keluarga yang
mempunyai remaja yang mengkonsumsi NAPZA yang harus dijaga
privasinya, karena keluarga akan malu jika tetangga atau orang lain tahu
kalau anaknya mengkonsumsi NAPZA.
e. Sebagai fasilitator
Perawat dapat menjadi tempat bertanya individu, keluarga dan masyarakat
untuk memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka
hadapi sehari-hari serta dapat membantu mencari jalan keluar dalam
mengatasi masalah remaja yang mengkonsumsi NAPZA.
f. Sebagai peneliti
Perawat keluarga melatih keluarga untuk dapat memahami masalah-
masalah kesehatan yang dialami oleh anggota keluarga. Masalah kesehatan
yang muncul di dalam keluarga biasanya terjadi menurut siklus atau budaya
yang dipraktikkan keluarga. Peran perawat sebagai peneliti difokuskan pada
kemampuan keluarga untuk mengetahui penyebab, faktor, dan cara
penanggulangan pada remaja yang mengkonsumsi NAPZA.
Peran perawat keluarga dalam asuhan keperawatan berpusat pada keluarga
sebagai unit fungsional terkecil dan bertujuan memenuhi kebutuhan dasar
manusia pada tingkat keluarga sehingga tercapai kesehatan yang optimal
untuk setiap anggota keluarga. Melalui asuhan keperawatan keluarga,
fungsi keluarga menjadi optimal, setiap individu di dalam keluarga tersebut
memiliki karakter yang kuat, tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang
sifatnya negatif sehingga memiliki kemampuan berpikir yang cerdas.
B. Konsep Remaja
1. Pengertian Remaja
Remaja adalah suatu masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali
ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai
kematangan seksual (Sarwono, 2011). Masa remaja disebut juga sebagai masa
perubahan, meliputi perubahan dalam sikap, dan perubahan fisik (Pratiwi,
2012). Remaja pada tahap tersebut mengalami perubahan banyak perubahan
baik secara emosi, tubuh, minat, pola perilaku dan juga penuh dengan masalah-
masalah pada masa remaja (Hurlock, 2011).
4. Perkembangan Remaja
Menurut potter & perry (2010) perkembangan remaja sebagai berikut :
1. Perkembangan Fisik
Perubahan fisik terjadi dengan cepat pada remaja. Kematangan seksual
sering terjadi seiring dengan perkembangan seksual secara primer dan
sekunder. Perubahan secara primer berupa perubahan fisik dan hormon
penting untuk reproduksi, perubahan sekunder antara laki-laki dan
perempuan berbeda (Potter & Perry, 2010).
Pada anak laki-laki tumbuhnya kumis dan jenggot, jakun dan suara
membesar. Puncak kematangan seksual anak laki-laki adalah dalam
kemampuan ejakulasi, pada masa ini remaja sudah dapat menghasilkan
sperma. Ejakulasi ini biasanya terjadi pada saat tidur dan diawali
dengan mimpi basah (Sarwono, 2011).
C. Konsep NAPZA
1. Pengertian NAPZA
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah obat bahan atau zat
bukan makanan yang jika diminum, diisap, dihirup, ditelan, atau disuntikan,
berpengaruh pada kerja otak yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan
mempengaruhi tubuh terutama otak (susunan saraf pusat), sehingga menyebabkan
gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan,
ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA tersebut.
(UU 35 tahun 2009 tentang narkoba)
a. Narkotika
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal
dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun
semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadar
an, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan.
Narkotika terdiri dari 3 golongan :
1) Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh :
Heroin, Kokain, Ganja.
2) Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai
pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi
mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
3) Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh :
Codein.
b. Psikotropika
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah
maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada
aktifitas mental dan perilaku.
Psikotropika terdiri dari 4 golongan :
1) Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu
pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi
kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi.
2) Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat
digunakan dalan terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh
: Amphetamine.
3) Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Phenobarbital.
4) Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas
digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Diazepam, Nitrazepam.
c. Zat Adiktif
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh
psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
1) Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh
menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan
manusia sehari – hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan
bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat
pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman
beralkohol :
a. Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % ( Bir ).
b. Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % ( Berbagai minuman anggur )
c. Golongan C : kadar etanol 20 – 45 % ( Whisky, Vodca, Manson
House, Johny Walker ).
2) Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap
berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan
rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering
disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.
3) Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin
sangat luas di [Link] upaya penanggulangan NAPZA di
masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus
menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering
menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.
4) Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA
dapat digolongkan menjadi 3 golongan :
a. Golongan Depresan ( Downer ) adalah jenis NAPZA yang berfungsi
mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya
menjadi tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri.
Contohnya: Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ), sedative ( penenang ),
Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer (anti cemas ).
b. Golongan Stimulan ( Upper ) adalah jenis NAPZA yang merangsang
fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat
pemakainnya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh:
Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.
c. Golongan Halusinogen adalah jenis NAPZA yang dapat
menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran
dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga
seluruh persaan dapat terganggu. Contoh: Kanabis ( ganja ).
Tanda – tanda fisik , dapat dilihat dari tanda – tanda fisik si pengguna, seperti :
(Pieter, 2013)
a) Mata merah
b) Mulut kering
c) Bibir bewarna kecoklatan
d) Perilakunya tidak wajar
e) Bicara kacau
f) Daya ingatannya menurun
Adapun tanda – tanda dini yang telah menggunakan narkoba dapat dilihat dari
beberapa hal antara lain :
a) Pemurung dan penyendiri
b) Wajah pucat
c) Terdapat bau aneh yang tidak biasa pada kamar
d) Matanya berair dan tangannya gemetar
e) Nafasnya tersengal (sesak) dan susah tidur
f) Badannya lesu dan selalu gelisah
g) Anak menjadi mudah tetsinggung, marah, suka menantang orang tua.
c. Lingkungan
1) Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe rumah,
jumlah ruangan, jumah jendela, pemanfaatan ruangan, peletakan perabotan
rumah tangga, jenis septic tank, jarak septic tank dengan sumber air
minum yang digunakan serta denah rumah. Rumah yang kecil, padat, dan
sempit cenderung membuat remaja merasa tidak nyaman dan sering
keluar rumah sehingga remaja terpengaruhi oleh hal negative seperti
penyalahgunaan NAPZA(Padila, 2012).
2) Karakteristik lingkungan dan komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat,
yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan/kesepakatan penduduk
setempat, budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan. Rumah yang
berpenduduk padat dan rumah yang berdempet cenderung akan terjadi
perilaku menyimpang salah satunya penyalahgunaan NAPZA (Padila,
2012).
3) Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan melihat kebiasaan
keluarga berpindah [Link] rumah yang dihuni oleh keluarga apakah
rumah sendiri atau menyewa, sudah berapa lama tinggal di daerah tersebut
dan pindah dari daerah mana (Padila, 2012)
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat Menjelaskan
mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta
perkumpulan keluarga yang ada dan sejauhmana interkaasi keluarga
dengan masyarakat. Interaksi yang baik akan mempengaruhi perilaku
seseorang terutama remaja yang beeperilaku NAPZA(Padila, 2012).
5) Fasilitas sosial dan kesehatan
Fasilitas kesehatan yang tidak memadai dan tidak terjangkau menjadi
kendala dalam kelangsungan pengobatan pada remaja dengan perilaku
NAPZA(Padila, 2012).
d. Fungsi keluarga
a) FungsiAfektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota [Link]
memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap
anggota keluarga lainnya dan bagaimana keluarga mengembangkan
sikap saling [Link] mampu merawat anggota
keluarganya yang sakit dengan membawa ke fasilitas kesehatan untuk
mendapatkan pengobatan dan selalun mengingatkan anggota keluarga
yang sakit untuk rutin meminum [Link] dengan semakin tingginya
dukungan keluarga terhadap anggota keluarga, semakin mempercepat
kesembuhan dari [Link] fungsi ini berkaitan dengan
persepsi keluarga terhadap kebutuhan emosional para anggota
keluarga. Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi akan mengakibatkan
ketidakseimbangan keluarga dalam mengenal tanda-tanda gangguan
kesehatan selanjutnya (Harmoko,2012). Fungsi afektif yang berjalan
baik dalam keluarga dapat mencegah terjadinya NAPZA dikalangan
remaja (Friedman,2010).
b) Fungsi sosialisasi
Pada kasus penyalahgunaan NAPZA pada remaja maka dapat
mengalami gangguan fungsi sosial bagi pengguna tersebut baik
didalam keluarga maupun didalam masyarakat. Pengguna NAPZA
akan sulit melakukan aktifitas sehari-hari seperti bersosialisasi karena
membuat diriny merasa malu dan tidak mau bergaul dengan orang lain.
Klien perlu menyesuaikan kondisinya dengan hubungan dan peran
klien, baik dilingkungan rumah tangga, masyarakat, ataupun
lingkungan kerja serta perubahan peran yang terjadi setelah klien
mengalami penyakit lainnya.
c) Fungsi reproduksi
Adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga
kelangsungan keluarga. Penderita dengan riwayat pengguna NAPZA
akan beresiko mengalami penyakit menular lainnya yang akan
berdampak pada keturunannya.
d) Fungsi ekonomi
Status ekonomi sangat mempengaruhi remaja dalam penyalahgunaan
NAPZA. Status ekonomi keluarga sangat mendukung terhadap
kesembuhan penyakit. Biasanya karena faktor ekonomi orang segan
mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan terutama pada remja yang
mengkonsumsi NAPZA (Padila, 2012).
e) Fungsi perawatan kesehatan
Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan akan
mempengaruhi tingkat keluarga dan individu. Tingkat pengetahuan
keluarga terkait konsep sehat sakit akan mempengaruhi perilaku
keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan perawatan atau
pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga
yang dilaksanakan dan keluarga yang dapat melaksanakan
[Link] harus secepat mungkin mebawa remaja yang
menyalahgunakan NAPZA kefasilitas kesehatan sperti panti
rehabilitasi NAPZA (Padila,2012).
f. Stress dan koping keluarga
a) Stressor jangka pendek dan jangka panjang
1) Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu ± 6 bulan (Padila, 2012).
2) Stressor jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu ≥ 6 bulan (Padila, 2012).
b) Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah Dikaji sejauhmana
keluarga berespons terhadap stressor
1) Strategi koping yang digunakan
Dikaji strategi koping yang digunakan keluarga bila menghadapi
permasalahan/stress terutama pada remaja dengan perilaku NAPZA
(Padila,2012).
2) Stategi adaptasi disfungsional
Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional
yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan/stress
terutama pada remaja dengan perilaku NAPZA (Padila, 2012).
g. Harapan Keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap
petugas kesehatan terutama pada remaja denga penyalahgunaan NAPZA
(Padila, 2012).
h. Pemeriksaan fisik anggota keluarga
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang
digunakan sama dengan pemeriksaan fisik klinis yaitu head totoe yaitu :
(Padila, 2012).
a) Kepala
Biasanya akan dijumpai sakit kepala.
b) Mata
Biasanya akan dijumpai mata memerah, pupil mengecil atau lebih besar
dari nomal.
c) Hidung
Biasanya pilek tampa sebab dan sering mimisan terkait dengan obat
yang dihisap melalui hidung seperti : methamphetamine atau kokain).
d) Mulut
Biasanya timbul bintik- bintik disekitar mulut, sering membasahi bibir.
e) Leher
Tidak ada pembesaran kelenjer tiroid.
f) Paru paru
Inspeksi : Pernafasan meningkat
Palpasi : fremitus kiri kanan sama
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler
g) Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di RIC V mid clavicula
sinistra
Perkusi : batas jantung di RIC III kanan – kiri dan RIC
V mid clavikula
Auskultasi : suara jantung normal, tidak ada suara
tambahan
h) Abdomen
Imspeksi : bentuk datar,simetris, berat badan menurun
Palpasi : hepar tidak teraba
Perkusi : suara timpani
Auskultasi : bising usus normal
I ) ekstermitas atas dan bawah
Biasanya tremor, adanya bekas suntikan, dan adanya bekas sayatan
tangan dan kaki.
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan keluarga dibuat berdasarkan pengkajian keluarga, dengan
merumuskan tujuan, mengidentifikasi strategi intervensi alternative dan sumber
serta menentukan prioritas, intervensi tidak bersifat rutin, acak, atau standar, tetapi
dirancang begi keluarga tertentu dengan siapa perawat keluarga sedang bekerja
(Friedman, 2010).
Table 2.2
Intervensi keperawatan keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah suatu proses pelaksanaan terapi keperawatan keluarga berbentuk
intervensi mandiri atau kolaborasi melalui pemanfaatan sumber-sumber yang dimiliki
keluarga. Implementasi diprioritaskan sesuai dengan kemampuan keluarga dan
sumber yang dimiliki oleh keluarga (Jhon&leny, 2010).
Implementasi keperawatan keluarga adalah suatu proses aktulisasi rencana
intervensi yang memanfaatkan berbagai sumber didalam keluarga dan memandirikan
keluarga dalam bidang kesehatan. Keluarga dididik untuk dapat menilai potensi yang
dimiliki mereka dan mengembangkannya melalui implementasi melalui implementasi
yang bersifat memampukan keluarga untuk mengenal masalah kesehatnnya,
mengambil keputusan berkaitan persoalan kesehatan yang dihadapi, merawat dan
membina anggota keluarga sesuai kondisi kesehatnnya, memodifikasi lingkungan
yang sehat bagi anggota kelurga , serta memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan
terdekat (Jhon&Leny,2010). Sedangkan menurut Padila (2012) tindakan perawatan
terhadap keluarga meliputi :
a. Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenal masalah dan
kebutuhan kesehatan dengan cara :
1) Memberikan informasi : penyuluhan atau konseling
2) Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan
3) Mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah
b. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat dengan cara
:
1) Mengidentifikasi konsekuensi tidak melakuka tindakan
2) Mengidentifikasi sumber sumber yang dimilki keluarga
3) Mendiskusikan tentang konsekuensi setiap tindakan
c. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota kelurga yang sakit, dengan
cara :
1) Mendemonstrasikan cara perawatan
2) Menggunakan alat dan fasilitas kesehatan yang ada dirumah
3) Mengawasi keluarga melakukan tindakan perawatan
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan keluarga adalah proses untuk menilai keberhasilan keluarga
dalam melaksanakan tugas kesehatannya, sehingga memiliki produktivitas yang tinggi
dalam mengembangkan setiap anggota keluarga. Sebagai komponen kelima dalam
proses keperawatan, evaluasi adalah tahap yang menentukan apakah tujuan yang telah
ditetapkan akan menentukan mudah atau sulitnya dalam melaksanakan evaluasi
(Padila,2012).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Kualitatif. Desain penelitian adalah Deskriptif
dengan pendekatan studi kasus. Penelitian deskriptif adalah memaparkan penerapan
asuhan keperawatan pada suatu ksus kelolaan dengan rancangan penelitian studi
kasus. Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencangkup pengkajian
satu unit penelitian secara intensif miasalnya satu klien, keluarga, kelompok, atau
komunitas (Nursalam, 2015). Hasil yang diharapkan oleh peneliti adalah
mendeskripsikan asuhan keperawatan keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA
di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Kota Padang.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki populasi yang
digunakan untuk penelitian. Pemilihan sampel mengacu pada teknik sampling
purposive yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan atau kriteria –
66
44
G. Prosedur Penelitian
Adapun langkah – langkah pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah :
1. Peneliti meminta surat rekomendasi pengambilan datadan surat izin penelitian
dari institusi pendidikan Poltekkes Kemenkes RI Padang ke Dinas Kesehatan
Kota Padang.
2. Peneliti mendatangi Dinas Kesehatan Kota padang dan menyerahkan surat izin
peneliti dari institusi untuk mendapat surat rekomendasi ke Puskesmas Kuranji
Kota Padang.
3. Peneliti mendatangi Puskesmas Kuranji Kota Padang dan menyerahkan surat
rekomendasi dan surat izin penelitian dari Dinas Kesehatan kota Padang.
4. Peneliti meminta izin ke Kepala Puskesmas Kuranji Kota Padang.
5. Peneliti mendatangi puskesmas untuk mengetahui remaja dengan perilaku
NAPZA yang sedang berobat ke Puskesmas Kuranji Kota Padang.
6. Peneliti memilih responden. Peneliti memilih berdasarkan yang memilik alamat
lengkap didapatkan 2 orang. Setelah dilakukan pengundian maka didapatkan
satu orang responden.
7. Peneliti mengunjungi rumah responden.
8. Responden merupakan keluarga mandiri I.
9. Responden diberi penjelasan menegenai tujuan penelitian.
10. Informed consent diberikan kepada responden.
11. Responden diberi kesempatan untuk bertanya jika ada yang diragukan.
12. Responden setuju untuk diberikan asuhan keperawatan keluarga dan
menandatangani informed consent.
13. Peneliti meminta waktu untuk responden untuk melakukan pengkajian
menggunakan format pengkajian asuhan keperawatan keluarga dengan teknik
wawancara dan anamnesa. Peneliti juga melakukan observasi dan pengukuran
dengan melakukan pemerikasaan fisik secara head to toe pada responden.
14. Peneliti melakukan implementasi dan evaluasi selama dua minggu dengan
empat belas kali kunjungan pada responden dan setelah itu melakukan
dokumentasi keperawatan dan terminasi terhadap responden.
H. Hasil Analisis
Data yang peneliti temukan saaat pengkajian dikelompokkan dan dianalisis
berdasarkan data subjektif dan objektif yang ditemukan dengan membuat analisa
data. Setelah membuat analisa data penulis langsung merumuskan diagnosis
keperawatan, setelah itu melakukan prioritas masalah untuk menyusun dan
menentukan diagnosis yang diutamakan. Setelah itu peneliti melakukan
implementasi selama 2 minggu sesuai dengan intervensi yang telah direncanakan
dan dilanjutkan dengan melakukan evaluasi keperawatan. Setelah itu peneliti
melakukan dokumentasi keperawatan. Analisis selanjutnya peneliti
membandingkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada anak I sesuai
dengan teori dan penelitian terdahulu.
BAB IV
DESKRIPSIKAN KASUS DAN PEMBAHASAN
Asuhan keperawatan keluarga dilakukan pada keluarga bapak A khususnya pada anak I
dengan masalah perilaku NAPZA pada remaja. Kunjungan dimulai pada tanggal 4 Februari
2019 sampai dengan 17 Februari 2019 dengan kunjungan 1 kali dalam sehari selama 14 hari.
Berikut peneliti akan mendeskripsikan hasil penelitian secara narasi.
1. Pengkajian Keperawatan
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 4 Februari 2019 di rumah bapak A
didapatkan data, anak I usia 17 tahun seorang pelajar bersekolah di salah satu SMK
Negeri di Kota Padang, sekarang anak I duduk dibangku kelas 3 SMK. Anak I anak
kedua dari dua orang bersaudara. Kedua orang tua masih hidup ayah anak I berusia 47
tahun bekerja sebagai sales harian dan menjual barang – barang bekas kebutuhan
rumah tangga yang masih bisa terpakai seperti meja makan bekas, kasur bekas,
tempat tidur bekas dan barang – barang lainnya, sementara itu Ibu anak I berusia 49
tahun bekerja sebagai guru mengaji di mesjid didekat rumah. Dan mempuyai seorang
kakak yang telah luus kuliah dan bekerja dirumah membuat kue dan dijual melalui
online.
Peran anak I dalam keluarga sampai saat ini masih ia jalani dengan baik. Klien
memiliki hubungan yang baik dengan anggota keluarga , tetangga , dan teman sebaya
dilingkungan tempat tinggal. Dalam kesehariannya ia berpenampilan rapi dan sesuai
dengan cara berpakaian dan saat berbicara klien berespon baik tetapi klien lebih
sering menunduk dan memegang kepalanya saat berbicara.
Anak I mulai mengkonsumsi NAPZA pada usia 13 tahun saat ia masih kelas 2 SMP,
pertama yang ia konsumsi zat adiktif yaitu lem untuk lem sepatu ia menggunakannya
itu atas dasar keinginan tahuan yang tinggi. Anak I mengatakan tidak ada di ajak oleh
temannya ia mengkonsumsi itu karna ingin mencoba – coba dan rasa ingin tahu akan
lem tersebut. Anak I mengatakan sa at ia mengkonsumsi lem tersebut ia merasa ada
60
kesenangan dan ketenangan sendiri pada diri nya, ia bisa mengkhayalkan apapun
yang ia inginkan. Anak I mengkonsumsi tidak beraraturan kalau ia sedang ada
masalah ia akan menggunakannya. Tapi satu tahun terakhir ini ia tidak lagi
mengkonsumsi lem tersebut. Pada saat klien kelas satu SMK ia juga pernah mencoba
66
49
ganja ia mencoba karna paksaan dari temannya untuk mencobanya sampai akhirnya ia
kecanduan. Dalam sebulan tiga sampai lima kali ia memakai ganja tersebut. Klien
mendapatkkan uang dari uang jajan yang dikasih orang tua.
Saat kelas 3 SMK klien merasakan perubahan dalam dirinya ia merasakan diri nya
mengalami kecemasan yang sangat luar biasa ia takut untuk keluar rumah, takut untuk
kesekolah bertemu teman – teman, tidak mempunyai kepercayaan diri, malas untuk
kesekolah, merasa dirinya tidak berguna, dan mendengarkan suara – suara yang
merendahkan dirinya. Saat ini anak I lebih senang mengurung diri dikamar, ia merasa
nyaman dan senang berada didalam kamar, apabila ada orang yang mengganggunya
maka ia akan marah. Klien juga mengatakan mempunyai emosi yang labil dan
gampang untuk marah. Jika ia marah terkadang ia suka melempar barang – barang.
Keluarga anak I merupakan tipe keluarga nuclear family yang terdiri dari ayah, ibu,
dan anak – anak. Keluarga anak I keturunan suku minang dimana keluarga bapak A
dan ibu A mempunyai sifat yang keras dalam mendidik anak – anak nya karena kedua
orang tuanya mendidik nya juga dengan cara yang keras, seperti jika tidak mau sholat
dan mengaji maka akan dipukul pakai kayu, jika tidak mau menurut perkataan orang
tua maka ia akan dipukul juga. Keluarga bapak A beragama islam keluarganya selalu
menjalankan sholat lima waktu ia mengajarkan anaknya sedini mungkin untuk
menjalankan sholat dan kewajiban – kewajiban lainnya sebagai umat muslim.
Keluarga anak I berpenghasilan Rp 3.000.000/ bulan, ia gunakan untuk kebutuhan
keseharian dalam rumah tangga, dan biaya sekolah anak – anaknya. Keluarga bapak
A juga memiliki kartu jaminan kesehatan (BPJS).
Keluarga anak I berada dalam tahap perkembangan kelima yaitu keluarga dengan
anak remaja. Tugas tahap perkembangan ini yaitu memberi kebebasan yang seimbang
dengan tanggung jawab mengingat remaja sudah bertambah dewasa dan meningkat
otonomi dan berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak. Pada saat ini
tahap perkembangan pada keluarga anak I belum terjalin begitu baik karena orang tua
yang telalu sibuk membuat anak I tidak merasakan kehangatan dalam keluarga
sehingga ia mau menceritakan masalahnya ia tidak tau menceritakannya pada siapa,
sehingga ia memilih untuk mengkosumsi NAPZA. Riwayat kesehatan keluarga bapak
A diantaranya kedua anaknya pernah di rawat dengan penyakit DBD 5 tahun yang
lalu. Pada saat ini keluarga bapak A khususnya anak I dalam perawatan dokter
Keluarga anak I tinggal dirumah sendiri dengna usaha yang ia beli sendiri. bapak A
tinggal bersama istri dan anak- anaknya. Tipe rumah permanen dengan luas 8×12 m²,
denga 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang makan dan 1 kamar mandi. Lantai rumah
masih semen licin belum di keramik. Rumah mempunyai ventilasi yang cukup dan
sirkulasi udara yang bagus serta pencahayaan yang cukup baik. Sumber air berasal
dari PAM jernih dan tidak berbau. Keluarga bapak A hidup dilingkungan tempat
tinggal yang merupakan penduduk komplek. Sebagian besar tetangga anak I bekerja
sebagai PNS, pedagang, dan wiraswasta. Interaksi dengan tetangga jarang dilakukan
karena kesibukan masing – masing, tetangga yang pergi kerja pagi dan pulang ada
yang sore ada yang malam. Untuk interaksi biasanya dilakukan di hari libur saperti
adanya gotong royong atau kegiatan komplek lainnya.
2. Diagnosis keperawatan
Setelah dilakukan pengkajian pada keluarga bapak A khususnya anak I perawat
mendapatkan diagnosis keperawatan pada anak I diantaranya :
a. Ansietas b/d kurang infomsasi keluarga dalam masalah remaja dengan
perilaku NAPZA.
b. Harga diri rendah kronik b/d ketidakmampuan keluarga dalam merawat
anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA.
c. Disfungsi proses keluarga b/d ketidakmampuan keluarga untuk merawat
anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA.
3. Intevensi keperawatan
Intervensi keperawaran dibuat perawat berdasarkan diagnosa yang telah didapatkan,
lalu dibuat intervensi untuk memecahkan masalah yang telah didapatkan, berdasarkan
tujuan umum dan tujuan khusus yang dilengkapi dengan kriteria.
Intervensi keperawatan yang akan dilakukan sesuai dengan diagnosis yang pertama
yaitu Ansietas b/d kurang infomasi keluarga dalam masalah remaja dengan
perilaku NAPZA. Tujuan dari diagnosis ini yaitu setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 1×30 menit keluarga mampu mengenal masalah kesehatan
keluarga tentang penyalahgunaan NAPZA paada An.I sesuai dengan tugas
keperawatan keluarga yang pertama mengenal masalah tentang NAPZA yaitu dengan
cara diskusikan bersama keluarga tentang pengertian NAPZA dan dengan rencana
kegiatan dintaranya mengkaji pengetahuan keluarga tentang NAPZA, diskusikan
dengan keluarga tentang pengertian NAPZA, beri pujian atas jawaban yang benar,
evaluasi ulang pengertian dari NAPZA. Selanjutnya penyebab penyalahgunaan
NAPZA dengan rencana kegiatan diantaranya mengkaji pengetahuan keluarga tentang
penyebab penyalahgunaan NAPZA, motivasi keluarga menyebutkan kembali tentang
penyebab penyalahgunaan NAPZA, identifikasi dengan keluarga faktor – faktor yang
mungkin menjadi penyebab tenytang penyalahgunaan NAPZA, beri pujian atas
jawaban yang benar, selanjutnya tanda – tanda penyalahgunaan NAPZA dengan
rencanakan kegiatan diskusikan dengan keluarga terutama tanda dari penyalahgunaan
NAPZA, motivasi keluarga untuk meyebutkan tanda dan gejala, beri pujian atas
jawaban yang benar. Disini juga digali pergaulan anak I dengan teman- temannya
dengan rencana kegiatan dengan siapa ia bergaul, apakah mereka berkumpul
melakukan hal – hal positif.
Tujuan yang kedua yaitu mengambil keputusan dengan rencana kegiatan kaji
pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien penyalahgunaan NAPZA, motivasi
keluarga untuk melakukan atau menyebutkan perawatan penyalahgunaan NAPZA,
evaluasi kemampuan keluarga dalam memberikan perawatan penyalahgunaan
NAPZA.
Tujuan ketiga merawat anggota keluarga dengan rencana kegiatan ajarkan keluarga
bagaimana cara merawat panggota keluarga dengan penyalahgunaaan NAPZA,
motivasi keluarga untuk melakukan atau menyebutkan perawatan memberikan
perawatan penyalahgunaan NAPZA, beri reinforcement positif atas tindakan yang
benar.
Diagnosis kedua yaitu harga diri rendah kronik b/d ketidakmampua keluarga
dalam merawat anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA, dengan
tujuan setelah dilakukan intervesi keperawatan selama 1×30 menit keluarga mampu
mengatasi harga diri rendah. Sebagaimana tugas keperawtan keluarga yaitu mampu
mengenal masalah tentang harga diri rendah dengan rencana kegiatan kaji
pengetahuan keluarga tentang harga diri rendah , diskusikan dengan keluarga tentang
pengertian harga diri rendah, penyebab dari harga diri rendah, dan faktor penyebab
dari harga diri rendah, beri pujian atas jawaban yang benar, evaluasi pengerian harga
diri rendah, tanda dan gejala harga diri rendah, dan faktor penyebab harga diri rendah.
Tugas selanjutnya yaitu mengambil keputusan untuk anggota keluarga yang
mengalami harga diri rendah dengan membimbing keluarga untuk mengambil
keputusan dalam masalah yang dihadapinya, motivasi keluarga untuk melakukan
keputusan yang tepa, beri pujian kepada keluarga yang telah memutuskan akan
mengambil keputusan yang tepat terhadap harga diri rendah yang dihadapi anaknya.
Tugas selanjutnya memodifikasi lingkungan yang aman dan nyaman dengan kaji
pengetahuan keluarga tentang lingkungan yang aman dan nyaman bagi anggota
keluarga yang mengalami harga diri rendah, beri pujian atas jawaban yang benar dan
evaluasi kembali. Tugas yang terakhir adalah memanfaatkan fasilitas kesehatan
dengan cara mengkaji pengetahuan keluarga tentang memanfaatkan fasilitas
kesehatan terhadap anggota keluarga yang mengalami harga diri rendah, diskusikan
kembali dengan keluarga tentang memanfaatkan fasilitas kesehatan dan mengevaluasi
kembali bagaimana keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan bagi anggota keluarga
yang mengalami harga diri rendah.
Diagnoasis ketiga yaitu disfungsi proses keluarga b/d ketidakmampuan keluarga
untuk merawat anggota keluarga merawat pada remaja dengan perilaku
NAPZA, dengan tujuan setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1×30 menit
keluarga mampu melakukan perwtan sederhana kepada keluarga dengan riwayat
penyalahgunaan zat. Sebagaimana tugas perawat keluarga yaitu mengenal masalah
tentang cara merawat anggota keluarga dengan riwayat penyalahgunaan zat dengan
rencana kegiatan mengkaji pengetahuan keluarga tentang merawt anggota keluarga,
diskusikan dengan keluarga tentang kemampuan dalam merawat nggota keluarga, beri
pujian atas jawaban yan benar, evaluasi ulang pengertian dari merawat anggota
keluarga . Tugas selanjutnya mengambil keputusa untuk merawat anggota keluarga
dengan rencan kegiatan bombing keluarga untuk mengambil keputusan tentang
maslah yang dihadapi keluarga seperti merawat anggota keluarga dengan riwayat
penyalahguaaan zat dengan mengetahui emosi, psikologis, dan hubungan social,
diskusikan dengan keluarga tentang cara merawat anggota keluarga dengan riwayat
penyalahgunaan zat, beri pujian atas jawaban yang benar, evaluasi cara merawat
anggota keluarga dengan maslah penyalahgunaaan zat. Tugas selanjutnya
memodifikasi lingkungan dengan rencana kegiatan diskusikan dengan keluarga
tentang memodifikai lingkungan., beri pujian kepada keluarga dan evaluasi kembali
kegiatan tersebut. Tugas yang terakhir adalah memanfaatkan fasilitas kesehatan
dengan rncana kegiatan adalah mengkaji pengetahuan keluarga tentang
memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk anggota keluarga dengan riwayat
penyalahgunaan zat , beri pujian kepada keluarga dan evaluasi kembali masala yang
dibahas dengan keluarga.
4. Implementasi keperawatan
Implementasi yang dilakukan pada keluarga bapak A khususnya anak I yaitu
berdasarkan intervensi yang telah dibuat berdasarkan diagnosis yang ditetapkan.
Diagnosis yang pertama yaitu Ansietas berhubungan dengan kurang infomasi
keluarga dalam masalah remaja dengan perilaku NAPZA, implementasi yang
dilakukan pada tanggal 7 Februari 2019 yaitu menanyakan kepada keluarga
pengertian NAPZA, membimbing keluarga bagaimana cara mengambil keputusan
untuk merawat anggota keluarga yaitu dengan menjelaskan kepada keluarga
mengenai perawatan penyalahguaan NAPZA, selanjutnya menjelaskan cara
pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Pada tanggal 8 Februari 2019 menjelaskan
tentang cara mengambil keputusan pada anggota keluarga yang melakukan
penyalahgunaan NAPZA. Media yang digunakan adalah leaflet dan lembar balik.
Selanjutnya tanggal 9 Februari 2019 dilakukan merawat anggota keluarga dengan
masalah penyalahgunaan NAPZA yaitu dengan cara menjelaskan kepada keluarga
tentang pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Pada tanggal 10 Februari 2019
dilakukan memodifikasi lingkungan dengan menjelaskan kepada keluarga lingkungan
yang baik untuk pengguna NAPZA. Dilanjutkan pada tanggal 11 Februari 2019
dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan cara menjleaskankan cara
memanfaatkan fasilitas kesehatan.
5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi dilakukan setiap kali implementasi dilakukan, didapatkan evaluasi terakhir
pada keluarga anak I pada saat diagnosis pertama dilakukan adalah hasil subjektif
keluarga anak I mengatakan keluarga mengerti tentang penegetian NAPZA, penyebab
penyalahgunaan NAPZA, tanda – tanda penyalahgunaan NAPZA, keluarga juga
mengatakan sudah bisa mengambil keputusan untuk keluarga yang mengalami
penyalahgunan NAPZA dan keluarga mengerti tentang perawatan keluarga dengan
riwayat penyalahgunaan NAPZA. Selanjutnya keluarga mengatakan mengerti dan
paham cara memodifikasi lingkungan serta memanfaatkan fasilitas kesehatan. Hasil
objektif yang di dapatkan keluarga mengerti tentang pengertian NAPZA, keluarga
mengerti untuk mengambil keputusan dan cara merawat keluarga , keluarga dapat
menyebutkan cara memodifikasi lingkungan dan mmanfaatkan fasilitas kesehatan.
Hasil analisa yang didapatkan maslah teratasi, planning selanjutnya lanjut diagnosa
kedua.
Diagnosis ketiga didapatkan hasil subjektif keluarga mengatakan sudah mengerti dan
paham cara merawat anggota keluarga yang sakit, keluarga mengatakan sudah bisa
mengambil keputusan jika ada anggota keluarga mengalami masalah kesehatan dan
keluarga mengatakan sudah bisa bagaimana cara merawat keluarga yang mengalami
masalah kesehatan, keluarga mengatakan mengerti dan paham tentang lingkungan
yang baik dan cara memanfaatkan fasilitas kesehatan. Hasil objektif yang didapatkan
adalah keluarga tampak paham dengan pendidikan kesehatan yang diberikan,
keluarga tampak paham dengan penjelasan yang [Link] annalisa data yang
didapatkan masalah teratasi. Dan planning selanjutnya intervensi dilanjutkan.
B. Pembahasan Kasus
Setelah dilakukan penerapan asuhan keperawatan keluarga anak I dengan masalah
remaja dengan perilaku NAPZA di wilayah kerja puskesmas kuranji kota Padang,
maka pada bab pembahasan ini penulis akan menjabarkan adanya kesesuaian maupun
kesenjangan yang terdapt pada pasien antar teori dengan kasus. Tahapan pembahasan
sesuai dengan tahapan asuhan keperawatan yang dimulai dari pengkajian,
merumuskan diagnosa, merumuskan rencana keperawatan,pelaksanaan tindakan dan
evaluasi keperawatan.
1. Pengkajian
Pada pengkajian tanggal 4 Februari 2019 didapatkan hasil pada keluarga bapak A
khususnya anak I (17 tahun), ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Anak
I sekarang duduk dibangku kelas 3 SMK. Saat ini An. I mengalami masalah
penyalahgunaan NAPZA. Anak I mulai mengkonsumsi semenjak 5 tahun yang
lalu karena keluarga yang sibuk, keingin tahuan yang tinggi, dan pergaualan yang
bebas.
Menurut alifia (2008), kondisi lingkungan masyarakat yang tidak sehat atau
rawan, dapat menjadi faktor terganggunya perkembangan jiwa kearah perilaku
yang menyimpang pada akhirnya terlibat penyalahgunaan atau ketergantungan
NAPZA. Lingkungan masyarakat yang rawan tersebut antara lain semakin
banyaknya pengangguran, anak putus sekolah dan anak jalanan, tempat – tempat
hiburan yang buka hingga larut malam hingga dini hari dimana sering digunakan
sebagai tempat transaksi narkoba, kebut – kebutan, coret – coretan, pengrusakan
tempat – tempat umum, tempat – tempat transaksi narkoba baik secara terang –
terangan maupun sembunyi – sembunyi.
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan keluarga mengacu pada P-E-S dimana untuk problem (P)
dapat digunakan tipologi dari (SDKI, 2017) dan etiologi
(E) berkenaan dengan 5 tugas keluarga dalam hal kesehatan atau keperawatan
menurut (Friedman, 2010). Pada perumusan diagnosis yang didapatkan dari
analisa data berdasarkan data subjektif dan objektif.
Diagnosa yang dijumpai pada kasus ini yaitu :
a. Ansietas berhubungan dengan kurang informasi keluarga dalam masalah
remaja dengan perilaku NAPZA.
b. Harga diri rendah kronik berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
merawat anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA.
c. Disfungsi proses keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
dalam merawat anggota keluarga pada remaja dengan perilaku NAPZA.
Dari beberapa masalah yang didapatkan dalam kasus ditentukan 3 diagnosis yang
dipilih berdasarkan prioritas masalah. Diagnosis yang muncul dan ditemukan pada
tinjauan teori dengan kasus mengenai masalah remaja dengan perilaku NAPZA
terdapat sedikit perbedaan. Dalam teori terdapat 4 diagnosis keperawatan, tetapi di
kasus terdapat 3 diagnosa keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang muncul dalam tinjauan teori, yaitu :
a. Resiko perilaku kekerasan
b. Gangguan interaksi sosial
c. Disfungsi proses keluarga
d. Ketidakmampuan koping keluarga
Faktor pendukung tegaknya diagnosis yaitu terdapat kaitan antara problem, etiologi,
dan symptom sehingga memudahkan penulis menegakkan diagnosa. Faktor
penghambat yaitu penulis masih belum dapat menegakkan diagnosa tanpa melihat
buku sumber, untuk mengatasi masalah ini peneliti menggunakan beberapa buku
panduan saat menegakkan diagnosa keperawatan.
3. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan keluarga dibuat berdasarkan pengkajian, diagnosa
keperawatan, pernyataan keluarga dan perencanaan keluarga, dengan merumuskan
tujuan, mengidentifikasi strategi intervensi alternative dan sumber, serta menentukan
prioritas, intervensi tidak bersifat rutin, acak, atau standar, tetapi dirancang bagi
keluarga tertentu dengan siapa perawat keluarga sedang bekerja (Friedman, 2010).
Pembahasan intervensi dalam keperawatan keluarga meliputi tujuan umum, tujuan
khusus, kriteria hasil dan kriteria standar. Dalam mengatasi masalah ini peran perawat
adalah memberikan asuhan keperawatan keluarga untuk mencegah komplikasi lebih
lanjut ( Friedman, 2010).
4. Implementasi keperawatan
Implementasi dari diagnosis pertama yaitu ansietas berhubungan dengan kurang
informasi keluarga dalam masalah remaja dengan perilaku NAPZA pada
partisipan yaitu sesuai dengan TUK 1 mengenal masalah kesehatan, Pada tanggal 7
Februari 2019 dilakukan kunjungan kerumah keluarga Tn. A pukul 16.00 WIB yaitu
melakukan penyuluhan dan pendidikan tentang remaja dengan perilaku NAPZA
dengan menggunakan booklet dan leaflet. Selanjutnya pada tanggal 8 Februari 2019
sesuai TUK 2 yaitu diskusi pengambilan keputusan untuk mengatasi remaja dengan
perilaku NAPZA dengan mendiskusikan tindakan yang harus dilakukan jiaka terjadi
masalah dalam keluarga. Pada tanggal 8 Februari 2019 pukul 16.00 WIB dialkuakn
kunjungan ke rumah keluarga Tn. A untuk melanjutkan TUK 3 yaitu melakukan
diskusi cara merawat anggota keluarga dengan remaja dengan perilaku NAPZA.
Selanjutnya pada tanggal 10 Februari 2019 TUK 4 mendemontrasikan modifikasi
lingkungan yang aman dan nyaman bagi anggota keluarga dengan masalah remaj
dengan perilaku NAPZA. Selanjutnya pada tanggal 11 Februari 2019 TUK 5
mendiskusikan dan memotivasi keluarga untuk membawa kepelayanan kesehatan
bagi anggota keluarga Tn. A khususnya An. I yang mengalami masalah remaja
dengan perilaku NAPZA.
Implementasi dari diagnosis ini sesuai menurut teori yaitu memberikan penyuluhan,
mengajarkan keluarga, dan mendemontrasi cara perawatan anggota anggota keluarga
dengan remaja dengan perilaku NAPZA dengan cara memberikan pengawasan
pergaulan, memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih, serta memberikan
kebebesan untuk mengungkapkan pendapat sehingga terjalin komunikasi yang
terbuka antara orang tua dan anaknya.
Implementasi dari diagnosis yang kedua yaitu harga diri rendah kronik
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggoat
keluarga dengan masalah remaja dengan perilaku NAPZA pada partisipan
melakukan penyuluhan bersama keluarga mengenai pengertian harga diri rendah,
tanda dan gejala harga diri rendah, serta faktor penyebab dari harga diri rendah yang
di akibatkan oleh penyalahgunaan NAPZA, menganjurkan keluarga untuk
memberiakn perhatian dan pengawasan bagi anggota keluarga dengan masalah harga
diri rendah disebabkan oleh remaja dengan perilaku NAPZA.
Implementasi dari diagnosis ini sesuai menurut teori yaitu memberikan penyuluhan
atau konseling tentang cara merawat anggota keluarga yang mengalami harga diri
rendah disebabkan oleh remaja dengan perikau NAPZA. Pemberian penyuluahn atau
konseling serta pemahaman keluarga akan konseling yang telah diberikan juga sangat
berpengaruh untuk konseling yang diberikan pada anggota keluarga yang mengalami
harga diri rendah disebabkan oleh penyalahgiunaan NAPZA diantaranya memberikan
konseling tentang ciri – ciri remaja dengan perilaku NAPZA salah satunya
kepribadian yang rendah diri yaitu perasaan rendah diri didalam pergaulan di
masyarakat ataupun lingkungan sekolah, dan sebagainya. Mereka mengatasi masalah
tersebut dengan cara menyalahgunakan NAPZA untuk menutupi kekurangan mereka
tersebut.
5. Evaluasi keperawatan
Pada diagnosis pertama ansietas berhubungan dengan kurang informasi keluarga
dalam masalah remaja dengan perilaku NAPZA saat dilakukan evaluasi partisipan
dan keluarga mengatakan sudah mengetahui pengertian, tanda dan gejala serta faktor
penyebab dari penyalahgunaan NAPZA. Terlihat partisipan dan keluarga dapat
menjawab pertanyaan yang diberikan setelah diberikan penyuluhan. Partisipan dan
keluarga juga telah membuat keptusan apa yang dilakukan jika anggota keluarga ada
yang sakit dan bagaimana acara perawatannya. Partisipan mengatakan sudah mampu
untuk merawat anggota keluarga yang mengalami masalah remaja dengan perilaku
NAPZA tapi terkadang masih mengalami kesulitan dalam menjalankannya karena
anak yang masih belum bisa diarahkan. Anak masih belum biasa meneriam secara
cepat perubahan tersebut. Klien dan keluarga juga dapat menyebutkan bagaimana
memodifikasi lingkungan yang aman dan nyaman bagi anggota keluarga dengan
remaja perilaku NAPZA. Klien dan keluarga dapat membawa kefasilitas kesehatan
yang ada untuk menunjang kesehatan anggota keluarga. Hasil analisa bahwa masalah
teratasi sebagian dan untuk menindak lanjuti tersebut telah diambil keputusan untuk
melanjutkan intervensi.
Setelah dilakukan evaluasi didapatkan hasil tingkat kemandirian pada partisipan dari
tingkat kemandirian pertama yaitu menerima petugas perawatan kesehatan
masyarakat dan menerima pelayanan keperawatan yang sesuai dengan rencana
keperawatan, mengetahui dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara
benar, memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan sesuai anjuran dan melakuakn
tindakan keperawatan sederhana sesuai anjuran.
Rencana tindak lanjut dari evaluasi yang dilakukan adalah klien dan keluarag dapat
memanfaatkan pelayanan kesehatan sesuai anjuran, keluarga dapat melanjutkan
perawatan remaj dengan perilaku NAPZA, memberikan perhatian dan pengawasan
bagi remaja dengan perilaku NAPZA.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian penerapan asuhan keperawatan keluarga pada
keluarga bapak A khususnya anak I dengan masalah perilaku NAPZA pada
remaja di wilayah kerja Puskesmas Kuranji tahun 2019, penulis dapat mengambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil pengkajian yang telah peneliti lakukan pada tanggal 4 Februari 2019
pada keluarga bapak A khususnya anak I adalah keluarga bapak A merupakan
tipe keluarga nuclear family, salah satu anggota keluarga anak I mengalami
masalah penyalahgunaan NAPZA karena pergaulan yang bebas tanpa
pengawasan orang tua. Hasil pengkajian terdapat kesamaan data kasus yang di
angkat dengan teori yang sudah ada. Dimana keluarga mengeluhkan anaknya
sering mengurung diri dikamar, tidak mau keluar rumah, tidak mau bergaul
dengan lingkungan, malas belajar, sering memantah perkataan orang tua, dan
sering marah tak menentu.
66
67
5. Pada tahap akhir peneliti mengevaluasi kepada pasien dan keluarg mulai
tanggal 16 Februari 2019, mengenai tindakan keperawatan yang telah
dilakukan berdasarkan catatan perkembangan. Evaluasi yang didapatkan
tingkat kemandirian keluarga pertama berubah menjadi tingkat kemandirian
keluarga kedua. Keluarga anak I memahami tentang perilaku NAPZA pada
remaja dan cara merawat anggota keluarga khususnya anak I dengan
penyalahgunaan NAPZA. Keluarga termotivasi untuk memodifikasi
lingkungan yang aman dan nyaman bagi anggota keluarga dengan
penyalahguaan NAPZA serta akan memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk
mengobati anaknya dengan maslah penyalahgunaanNAPZA.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan saran sebagai berikut :
1. Bagi Institusi Puskesmas Kuranji Kota Padang
Melalui institusi pelayanan kesehatan Puskesmas Kuranji diharapkan dapat
memberikan pelayanan kesehatan semaksimal mungkin dan hasil studi kasus
Agsya, F. 2010. Undang-Undang RI Nomor 35Tahun 2009 Tentang Narkotika dan Undang-
Undang RI Nomor 5 Tahun1997 Tentang Psikotropika, Jakarta :Asa Mandiri.
Bungin,[Link] penelitian kualitatif: aktualisasi metedologis kearah ragam
varian [Link]: rajawali pers
Friedman, Marilyn. 2010 Buku Ajar Keperawatan Keluarga: Riset, Teori&Praktik.
Jakarta : EGC
Hurlock,eizabeth [Link] perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang
[Link]: Erlangga
Janiwarti, [Link] psikologi bidan: suatu teori dan terapannya.
Jogyakarta: naha medika
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 2.
Jakarta : Salemba Medika
Notoatmodjo. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka cipta
Padila, 2012. Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Nuhamedika
Pieter herri zan& latas namora lumangga.2017. pengantar psikologi dalam
[Link] : kencana
Potter & perry. 2010. Fundamental of Nursing Fundamental Keperawatan, Edisi 7 Volume 3.
Indonesia : Salemba Medika.
Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. (2015). Stop Kanker. Jakarta:
Departemen Kesehatan
Pusat Penelitian Data dan Informasi BNN. (2017). Survei Prevalensi Penyalahgunaan
Narkoba pada Rumah Tangga di 34 Provinsi Tahun [Link]: Puslitdatin-BNN
Muwarni, A. (2008). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Yogyakarta: Fitramaya
Sarwono. (2011). Psikologi Remaja Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
Setyowati & Murwani, A. (2007). Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dan Aplikasi
[Link]: Mitra Cendikia Press
[Link] Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Keperawatan
Transkltural. Jakarta: EGC
Sunarso,Siswanto. 2010. Penegakan Hukum Psikotropika: Dalam Kajian Sosiologi Hukum,
Jakarta: PT. Rajagrafindo Perkasa
Widyanti faisalado [Link] komunitas deengan pendekatan praktik.
Yogyakarta : Naha Medika
Poltekkes Kemenkes Padang
Poltekkes Kemenkes Padang
FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
A. Pengkajian
1. Data umum
1. Nama Kepala keluarga : Bapak A
2. Usia : 47 tahun
3. Agama : Islam
4. Pekerjaan : Wiraswasta
5. Alamat : Komplek Karya Rei Blok G No 6 Kel.
Korong Gadang, Kec. Kuranji Kota Padang
6. Pendidikan : SMA
7. Komposisi Keluarga :
Hubungan Pendidikan
No Nama TTL / umur
dengan KK
8. Riwayat Keluarga
9. Tipe keluarga
Tipe keluarga anak I adalah tipe keluarga nuclear family yaitu dimana
yang tinggal dirumah adah ayah, ibu, dan anak-anaknya.
10. Suku
Keluarga anak I Memiliki suku yang sama yaitu bersuku minang.
Keluarga mengatakan masih memegang atau menganut kebiasaan
dalam adat mereka. Begitu juga dengan cara mendidik anak – anaknya.
Seperti jika tidak sholat maka akan dipukul.
[Link]
Keluarga anak I Menganut agama Islam, mereka mengerjakan shalat 5
waktu sehari semalam. Keluarga bapak A mengajarkan sejak dini
pendidikan agama. Keluarga bapak A khususnya ibu A merupakan
guru mengaji di salah satu masjid didekat rumah.
3. Pengkajian lingkungan
a. Karakteristik rumah
Rumah yang dimiliki keluarg anak I adalah permanen dan milik
sendiri dengan luas tanah 8 × 12 m² yang terdiri dari satu ruang
tamu, ruang keluarga, satu dapur, tiga kamar tidur, satu kamar
mandi. Ventilasi rumah cukup banyak dan memiliki pencahayaan
yang cukup baik karena rumah memiliki banyak jendela.
Sedangkan pada malam hari menggunakan lampu [Link]
air yang digunakan keluarga adalah PAM. Air ini dipakai untuk
memasak, dan mandi, sedangkan air minum menggunakan air isi
Septic Tank
R6
R8 R4
R7
R3
R5
R2
R1
Keterangan:
R1 : kamar 1
R2 : Kamar 2
R3 : Kamar 3
R4 : ruang makan
R5 : ruang tamu
R6 : kamar mandi
4. Struktur keluarga
1. Pola komunikasi keluarga
Keluarga anak I mempunyai pola komunikasi yang terbuka
dimana dilakukan secara efektif, dan proses komunikasi keluarga
berlangsung dua arah, keluarga mengatakan jika ada masalah
yang sangat penting mereka selalu membicarakan dengan anggota
keluarga untuk menyelesaikannya secara bersama-sama. Tetapi
sering masalah yang terjadi selalu diselesaikan dengan emosi,
sehingga tidak ada kesepakatan yang tepat untuk menyelesaikan
masalah tersebut. Seperti masalah yang di alami anak I orang tua
selalu bertengkar untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
anak I. Anak I mengatakan orang tua khususnya ibu selalu tidak
sabaran dalam menghapi maslah yang terjadi.
2. Struktur kekuatan keluarga
Pengambilan keputusan dilakukan dengan musyawarah oleh
keluarga. Keluarga mengatakan berusaha saling menghargai
pendapat setiap anggota keluarga. Namun setiap keputusan yang
diambil diputuskan oleh bapak dari anak I.
3. Struktur peran
Bapak A adalah kepala keluarga, bapak A berperan sebagai
suami, ayah yang bertugas untuk menjaga keluarga, mendidik
anaknya, dan memenuhi kebutuhan [Link] A berperan
sebagai istri dan ibu untuk anak-anaknya. Ibu A juga berperan
5. Fungsi keluarga
a. Fungsi afektif
Keluarga anak I mengatakan mereka saling menghargai satu sama
lain dimana mereka sama-sama merasakan perasaan memiliki dan
dimiliki serta mereka saling mendukung dan menjaga satu sama
lain.
b. Fungsi sosialisasi
Keluarga anak I mengatakan hubungan keluarga dengan
tetangga berjalan dengan baik dan lancar jika ada kegiatan
dilingkungannya keluarga anak I juga aktif ikut serta dalam
kegiatan tersebut. Anak I mengatakan jarang untuk mengikuti
kegiatan tersebut karena sangat cemas untuk keluar rumah dan
megatakan dirinya tidak bermanfaat.
c. Fungsi perawat kesehatan
Keluarga anak I mengatakan sehat adalah apabila keluarga masih
dapat melakukan aktivitas dengan normal dan tanpa gangguan
kesehatan, dan sedangkan sakit adalah dimana jika anggota
keluarga tidak dapat melakukan aktivitas secara normal karena
6. Status
mental
a. Penampilan
Dalam keseharian anak I berpenampilan rapi, bersih dan
sesuai dengan cara berpakaian.
b. Pembicaraan
Awalnya klien agak tertutup saat ditanya, setelah dilakukan
pendekatan kepada anak I,ia sudah mulai mau bercerita
tentang dirinya dan apa yang ia rasakan saat ini. Saat
berbicara anak I sering menunduk, sering memegangang
kepala saat berbicara, kontang mata kurang, gugup, tangan
tremor,terlihat tegang, terlihat malu, dan kurang percaya diri.
c. Aktivitas motorik
Saat ini anak I berusaha tidak akan menggunakan NAPZA
lagi. Tapi klien mendapatkan efek dari obat tersebut yaitu
pasien merasa cemas yang luar biasa, cemas untuk keluar
rumah bertemu orang lain, cemas untuk kesekolah bertemu
teman – temannya, cemas jika ada orang data kerumah, lebih
suka menyendiri dikamar, dan tidak suka berinteraksi dengan
orang lain. Saat dilakukan observasi anak I sering menyendiri
dikamar, jarang untuk keluar rumah, tidak ada berinteraksi
dengan tetangga, dan jika dia jak teman untuk bermain ia
menolaknya.
d. Alam perasaan
e. Afek
Saat perawat melakukan percakapan kepada anak I respon
diberikan oleh anak I cukup baik, hal ini dibuktikan ia dapat
mejawab pertanyaan – pertanyaan dengan baik walau klien
sering tersenyum sendri saat menjawab pertanyaan yag di
ajukan perawat.
f. Isi piker
Saat ditanyakan apa yang sering dipikirkan, klien menjawab
ia seing memikirkan masa depannya kedepan. Klien ingin
sekali untuk kuliah tetapi saat ini ia sangat malas belajar,
tidak ada semangat untuk belajar.
g. Tingkat kesadaran
Kesadaran klien baik, ditunjukkan dengan klien tahu sedang
sama siapa, berada dimana dan sedang melakukan apa.
h. Tingkat kosentrasi
Saat dilakukan pengkajian konsentrasi klien cukup baik, hal
ini dibuktikan klien dapat menjawab semua pertanyaan yang
diajukan kepada klien tanpa ada jawaban yang tidak
sesuaidengan pertanyaan yang di ajukan kepada dirinya.
i. Kemampuan penilaian
Kemampuan menilai klien baik, hal ini dibuktikan dari
jawaban klien tentang apalkah mengkonsumsi NAPZA itu
B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Anak I
No Bapak A Ibu A Anak A
fisik
1 Keadaan umum TB : 169cm TB : 156cm TB : 157cm TB : 160cm
BB : 65kg BB : 54kg BB : 50kg BB : 49kg
TD :120/80mmHg
TD:130/80mm TD:130/80mmHg TD:130/80mmHg
N :78 x/i
Hg N:96 x/i N:96 x/i
P:19 x/i
N:96 x/i P:20 x/i P:20 x/i
S:36,4c
P:20 x/i S:36,6c S:36,6c
S:36,6c
2 Kepala Bersih, benjolan Bersih, Bersih, benjolan Bersih, benjolan
tidak ada, kulit benjolan tidak tidak ada, kulit tidak ada, kulit
kepala bersih ada, kulit kepala bersih kepala bersih
kepala bersih
3 Rambut Bersih, pendek, Bersih, Bersih, panjang Bersih, pendek,
hitam pendek, hitam hitam
12 Abdomen I:perut tidak buncit I:perut tidak I:perut tidak buncit I:perut tidak
P:tidak ada nyeri buncit P: tidak ada nyeri buncit
tekan P: tidak ada tekan pada kuadran P: tidak ada nyeri
P:tympani nyeri tekan kiri atas tekan pada
A:BU 7x/i pada kuadran P:tympani kuadran kiri atas
kiri atas A:BU 21x/i P:tympani
P:tympani A:BU 21x/i
A:BU 21x/i
13 Ektremitas Tidak ada masalah Tidak ada Tidak ada masalah Tidak ada
masalah masalah
14 Genitalia - - - -
C. Harapan Keluarga
Harapan keluarga anak I semoga anaknya bisa kembali berperilaku
normal seperti biasanya. Semoga anak I tidak terjerumus lagi dengan
penyalahgunaan NAPZA. Anak I berharap semoga ia tidak kembali lagi
D. Analisa data
Data objektif:
Anak I terlihat suka
menyendiri dikamar
Anak I terlihat gugup
Anak I sering menunduk
Anak I sering memegang
kepala saat berbicara
Anak I terlihat tegang
Tangan klien tremor
Data objektif :
Anak I terlihat kurang
percaya diri
Anak I terlihat malu
Anak I sering menunduk
Anak I saat berbicara
kontak mata kurang
Anak I sering
memegang kepala saat
berbicara
JUMLAH 3
JUMLAH 2