0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan91 halaman

Kreativitas Guru PAI di SMK Baso

Skripsi ini membahas kreativitas guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menggunakan media pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 di SMK Negeri 1 Baso Kabupaten Agam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kreativitas guru PAI dalam penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi informasi untuk mendukung pembelajaran daring.

Diunggah oleh

Hikki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan91 halaman

Kreativitas Guru PAI di SMK Baso

Skripsi ini membahas kreativitas guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menggunakan media pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 di SMK Negeri 1 Baso Kabupaten Agam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kreativitas guru PAI dalam penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi informasi untuk mendukung pembelajaran daring.

Diunggah oleh

Hikki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KREATIVITAS GURU PAI DALAM MENGGUNAKAN MEDIA

PEMBELAJARAN PADA MASA PANDEMI COVID 19 DI SMK NEGERI


1 BASO KABUPATEN AGAM

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Program
Strata Satu (S-1) Pada Prodi Pendidikan Agama Islam

Oleh:
YULIA FATMA
NIM 2116.125

Dosen Pembimbing:

Dr. Wedra Aprison, M. Ag


NIP: 197205242000031001

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BUKITTINGGI


1441 H / 2020 M
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang

telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis dalam menyelesaikan

sebuah karya ilmiah berupa skripsi ini yang berjudul “KREATIVITAS GURU

PAI DALAM MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN PADA MASA

PANDEMI COVID 19 DI SMK NEGERI 1 BASO KABUPATEN AGAM.”

Shalawat beserta salam penulis mohonkan kepada Allah SWT untuk

disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, yang mana beliau telah membawa

umatnya dari alam kebodohan kepada alam yang berilmu pengetahuan seperti

yang dirasakan saat sekarang ini.

Penulis menyadari bahwa dalam menulis skripsi ini banyak sekali terdapat

kekurangan, kesulitan dan kendala lainnya, tetapi berkat Hidayah dari Allah SWT

dan semangat dari semua pihak sehingga penulis dapat juga menyelesaikan skripsi

ini dengan lancar. Dengan rasa hormat penulis mengucapkan terimakasih banyak

kepada ayahanda Muslim, dan ibunda Yusni selaku orang tua yang selalu

memberi dukungan serta semangat untuk ananda dalam penyelesaian skripsi ini,

dan juga kepada saudara-saudaraku tercinta yang tidak pernah bosan-bosannya

mengingatkan adindamu untuk menyelesaikan skripsi ini.

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu rektor IAIN Bukittinggi ibu Ridha Ahida, M. Hum, wakil rektor 1

bapak Dr. Asyari, [Link] dan wakil 2 bapak Dr. Novi Hendri, [Link] dan wakil
rektor 3 bapak Misrawardi, [Link]. Yang telah memeberikan fasilitas untuk

penulis dalam menambah wawasan ilmu pengetahuan di IAIN Bukittinggi.

2. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan ibu Dr. Zulfani

Sesmiarni, [Link], wakil dekan 1 bapak Dr. Iswantir, [Link], wakil dekan 2

bapak Charles [Link], [Link].I dan wakil dekan 3 bapak Dr. Supratman Zakir,

[Link], [Link] yang juga telah memfasilitasi penulis untuk menambah wawasan

ilmu pengetahuan di IAIN Bukittinggi.

3. Ketua program studi Pendidikan Agama Islam ibu Salmi Wati [Link]

yang telah memfasilitasi penulis dalam menuntut ilmu di IAIN Bukittinggi.

4. Bapak Dr. Wedra Aprison, [Link] selaku Penasehat Akademik

sekaligus Pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan serta

motivasi untuk penulis dalam menyelesaiakan skripsi ini.

5. Seluruh dosen yang telah memberikan wawasan ilmu pengetahuan

kepada penulis selama menuntut ilmu di IAIN Bukittinggi.

6. Pimpinan serta karyawan dan karyawati perpustakaan Bukittinggi yang

telah memfasilitasi penulis dalam melakukan studi kepustakaan.

7. Kepala sekolah SMK Negeri 1 Baso beserta pihak yang bersangkutan

yang telah memberi izin kepada penulis untuk melakukan penelitian dan bantuan

kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Terakhir penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang

telah memberikan kerendahan hati dalam memberikan bantun serta dukungan

kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa di dalam
skripsi ini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritikan

dan saran untuk kebaikan kedepannya. Dan semoga skripsi ini dapat bermanafaat

bagi pembaca terkhusunya bagi penulis sendiri.

Baso,

Penulis

YULIA FATMA

NIM. 2116125
ABSTRAK

Skripsi yang berjudul “KREATIVITAS GURU PAI DALAM

MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN PADA MASA PANDEMI

COVID 19 DI SMK NEGERI 1 BASO KABUPATEN AGAM” oleh Yulia Fatma,

NIM 2116125. Maksud dari skripsi ini adalah untuk menjabarkan kreativitas yang

dimiliki guru PAI dalam menggunakan media pembelajaran di SMK Negeri 1

Baso. Kreativitas guru PAI sangatlah dibutuhkan dalam proses belajar mengajar.

Kreativitas adalah kemampuan seseorang dalam menciptakan hal-hal baru.

Apalagi pada masa pandemi Covid 19 ini kreativitas guru sangatlah dibutuhkan

demi terciptanya pembelajaran yang efektif, terutama kreativitas dalam

penggunaan media pembelajaran berbasis IT. Seorang guru PAI juga harus bisa

menggunakan media berbasis IT dalam proses pembelajran walaupun sebelumnya

jarang menggunakan media tersebut, sehingga dengan situasi yang terjadi pada

saat sekarang, akan menambah wawasan guru PAI di bidang teknologi.

Latar belakang masalah penelitian di sini adalah tentang kreativitas guru

PAI dalam menggunakan media pembelajaran pada masa pandemi Covid 19 di

SMK N 1 Baso Kabupaten Agam. Dari persepsi guru PAI itu sendiri menyatakan

bahwa mereka masih dianggap gaptek dalam menggunakan media berbasis IT,

tetapi dengan usaha yang maksimal, dengan cara belajar dan terus

mempelajarinya, itu semua bisa teratasi dengan baik. Dengan kreativitas

diharapkan pelaksanaan suatu aktivitas lebih bersifat aktif, dinamis,

menggairahkan dan pada akhirnya mengarah pada pencapaian kualitas hasil yang

diharapkan. Guru PAI di SMK Negeri 1 Baso dalam menggunaan media sudah
kreatif namun masih terdapat kendala-kendala dalam mengembangkan kreativitas

tersebut, kendalanya di sini yaitu pada siswa yang tidak bisa mengikuti

pembelajaran secara daring, dikarenakan terkendala pada kouta internet, jaringan

yang susah, hp masih satu bersama dengan keluarga, kurangnya pengawasan dari

orang tua. Dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kreativitas guru PAI

dalam menggunakan media pembelajaran pada masa pandemi covid 19 di SMK

Negeri 1 Baso Kabupaten Agam.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research)

dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif (qualitatife descriptive) yaitu

penelitian yang di tujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena

peristiwa, aktifits sosial, sikap, kepercayaan, pemikiran orang secara individual

maupun kelompok. Penelitian ini menggunakan dua informan yaitu yang menjadi

informan kunci adalah guru PAI SMK Negeri 1 Baso, dan informan pendukung

dalam penelitian ini yang menjadi informan pendukung adalah siswa SMK Negeri

1 Baso. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara, yaitu

salah satu bentuk instrument penelitian kualitatif di mana peneliti meminta

jawaban dengan cara melakukan tanya jawab secara lisan dengan informan

penelitian. Pada penelitian ini penulis melakukan wawancara terstruktur karena

penulis sudah terlebih dahulu menentukan pertanyaan yang akan diajukan kepada

informan penelitiannya. Tujuan penulis melakukan wawancara adalah untuk

mendapatkan informasi mengenai kreativitas guru PAI dalam menggunakan

media pembelajaran pada masa pandemi Covid 19 di SMK Negeri 1 Baso.

Selanjutnya teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan

dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,

menjabarkan ke dalam unit unit, melakukan sintesa, menusun ke dalam pola,

memilih mana yang lebih penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan

sehingga mudah di pahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Pada teknik

pengumpulan data di sini penulis menlakukan langkah langkah seperti reduksi

Data , display (penyajian data), penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis menemukan

bahwasanya guru PAI di SMK Negeri 1 Baso sudah kreatif dalam menggunakan

media pembelajaran, karena menggunakan media pembelajaran sudah lebih dari

satu. Selanjutnya guru PAI kreatif dalam pemilihan media yang sesuai, kreatif

dalam mendesain media, serta kreatif dalam menggunakan media pembelajaran

pada masa pandemi covid 19.


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR.................................................................................. i

ABSTRAK………………………………………………………………….iv

DAFTAR ISI................................................................................................. vi

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang...............................................................................1

B. Pertanyaan Penelitian.....................................................................8

C. Tujuan Penelitian........................................................................... 8

D. Kegunaan Penelitian......................................................................9

E. Penjelasan Judul.............................................................................9

F. Sistematika Penulisan.....................................................................11

BAB II LANDASAN TEORI

A. Konsep Kreavitas.................................................................................13

1. Pengertian Kreativitas.................................................................... 13

2. Prinsip Kreatif................................................................................ 16

3. Strategi Pendukung Kreativitas Pembelajaran Guru...................... 18

4. Teknik pengembangan kreativitas..................................................18

B. Konsep Guru PAI................................................................................ 19

1. Pengertian Guru PAI...................................................................... 19

2. Persyaratan Guru............................................................................ 21

3. Kompetensi Guru........................................................................... 23

vi
vii

4. Tanggung Jawab dan Tugas Guru.................................................. 25

5. Ciri-ciri Guru Kreatif......................................................................26

6. Meningkatkan Kreativitas Guru Agama.........................................27

C. Media Pembelajaran

1. Pengertian Media Pembelajaran.....................................................29

2. Macam-macam Media Pembelajaran............................................. 30

3. Penggunaan Media Pembelajaran.................................................. 37

4. Nilai dan Manfaat Media Pengajaran.............................................38

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian.................................................................................... 41

B. Loksi penelitian................................................................................... 42

C. Waktu Penelitian..................................................................................42

D. Informan Penelitian............................................................................. 42

E. Teknik Pengumpuln Data.................................................................... 43

F. Teknik Analisis Data............................................................................45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Wilayah Penelitian……………………………………………49

B. Kreativitas Guru PAI dalam Menggunakan Media Pembelajaran Pada

Masa Pandemi Covid 19 di SMK Negeri 1 Baso Kabupaten AGAM….56


viii

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan………………………………………………………..75

B. Saran……………………………………………………………….75

DAFTAR KEPUSTAKAAN
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional menyebutkan, “ Pendidikan merupakan usaha sadar

dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran

agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara.”1 Pendidikan adalah usaha sadar yang

dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan

bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan

di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar

dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat

di masa yang akan datang.

Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram

dalam bentuk pendidikan formal, non formal, dan informal di sekolah dan

luar sekolah, yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan optimalisasi

Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru (Jakarta: Bestari


1

Buana Murni, 2010), cet. 1. hlm. 7

1
2

pertimbangan kamampuan-kemampuan individu, agar dikemudian

hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat.2

Menurut Iskandar Agung, kreativitas merupakan satu istilah yang

terkait dengan upaya meningkatkan daya pikir atau gagasan seseorang

dalam menjalankan aktivitasnya.3 Kreativitas pembelajaran guru seringkali

menjadi topik perbincangan berbagai pihak, karena dinilai menentukan

pencapaian hasil pendidikan. Guru merupakan ujung tombak

berlangsungnya kegiatan pembelajaran, sehingga memiliki peran dan

fungsi penting sebagai sumber belajar dan bahkan kerapkali mendominasi

proses transformasi nilai ilmu pengetahuan dan lain-lainnya kepada

peserta didik.4

Dengan kreativitas diharapkan pelaksanaan suatu aktivitas lebih

bersifat aktif, dinamis, menggairahkan dan pada akhirnya mengarah pada

pencapaian kualitas hasil yang diharapkan. Bahkan dengan mewujudkan

kreativitas yang berkesinambungan, diharapkan akan mencapai hasil dan

tujuan yang terus meningkat dari waktu ke waktu.5

Krativitas pada intinya merupakan kemampuan seseorang

melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata,

karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang

2
Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan Sebuah Studi Awal tentang Dasar-dasar
Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), cet. 9,
hlm. 11

3
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru...., hlm. 1
4
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru...., hlm. 1
5
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru...., hlm. iii
3

semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada

sebelumnya. Seorang guru yang kreatif itu tidaklah terbentuk secara tiba-

tiba, melainkan lahir dari proses belajar dan dari pengalaman yang telah

dilalui. Guru yang kreatif adalah guru yang memiliki daya cipta dalam

menyiapkan strategi, metode, perangkat, media dan materi pembelajaran.

Kreativitas yang dimaksud dalam skripsi ini adalah kreativitas guru

PAI dalam menggunakan media pembelajaran. Media pembelajaran

merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan

dari pengirim ke penerima sehingga merangsang pikiran, perasaan,

perhatian dan minat serta kemauan peserta didik sedimikian rupa sehingga

proses belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara

efektif.6 Media pembelajaran terdiri dari media audio, visual, serta audio-

visual. Di dalam Al-qur’an telah di jelaskan mengenai media pembelajaran,

yaitu Q.S Al-baqarah ayat 31:

耀꣘ 耀 꾸 ꂸ
耀 耀

Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama

(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para

Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu

jika kamu memanag benar orang-orang yang benar!”

6
Husniyatus Salamah Zainiyati, Pengembangan Media Pembelajaran Agama
Islam Berbasis ICT, hlm. 63
4

Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwasanya media

pembelajaran yang dimaksud di sini adalah media pembelajaran visual,

yaitu pembelajaran dapat ditangkap melalui indera penglihatan.

Ada sejumlah langkah yang perlu diperhatikan guru dalam

mengembangkan kreativitas melaksanakan proses pembelajaran,

diantaranya guru perlu menentukan topik yang dapat di pelajari oleh anak

didik, guru perlu memilih atau mengembangkan aktifitas kelas selaras

dengan topik tersebut, guru harus mengetahui adanya kesempatan untuk

mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah

dan guru perlu menilai pelaksanaan tiap kegiatan dan memperhatikan

keberhasilan serta melakukan revisi. Terlihat jelas bahwasanya kreativitas

pembelajaran guru jangan hanya dipandang dari sudut guru mengajar,

melainkan juga melibatkan perhatiannya pada siswa.

Keberhasilan siswa untuk belajar secara efektif tidak terlepas dari

peranan guru dalam melakukan pendekatan dan pengontrolan terhadap

siswa di dalam kelas, melakukan interaksi yang baik dan harus kreatif

dalam menciptakan suasana pengajaran yang menyenangkan sehingga

anak lebih efektif dalam belajar dan lebih maksimal. Hasil belajar memang

dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain adalah kemampuan guru,

keadaan peserta didik, sarana dan prasarana dan lain-lain. Namun terlepas

dari itu semua, bahwa hasil belajar merupakan tanggung jawab guru.
5

Kegagalan peserta didik dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan

adalah kegagalan guru.7

Saat sekarang ini, dunia terkhususnya Indonesia dilanda oleh virus

yang mematikan yaitu dinamakan dengan virus Corona atau Covid 19.

Menurut WHO Coronaviruses (CoV) merupakan bagian dari keluarga

virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu hingga penyakit yang

lebih berat seperti Middle East Respiratory Syndrome ( MERS-CoV) and

Savere Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Dimana penyakit yang

disebabkan virus corona atau Covid 19 merupakan jenis baru yang

ditemukan pada tahun 2019 dan belum pernah diidentifikasi menyerang

manusia sebelumnya. Sebelum menjadi pandemik, virus ini mulanya

terjadi di kota Wuhan Profinsi Hubei, China pada bulan Desember 2019.8

Wabah yang melanda saat ini, semua ini terjadi tentu saja atas

kehendak Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan di dalam Al-qur’an surah

Al-Anbiya’ ayat 83-84:

ꔘ 耀 ꔘ䀀 ꣘ 耀

̋ꨘ 끘
끘 䀦 끘 㜵ꖸ
p
̋ 耀 쀪

7
Mujahid...., hlm 35
8
La Ode Anhusadar. 2020. Persepsi Mahasiswa PIAUD terhadap Kuliah Online di Masa
Pandemi Covid 19. Journal of Islamic Early Childhood Education. Vol 3 No 1, p- ISSN 261-0339
e-ISSN 2621-0770, hlm 44-58.
6

Artinya: “Dan (ingatlah) kisah Ayyub, ketika dia berdo’a kepada

Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal

engkau Tuhan yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka

Kami kabulkan (doa)nya. Lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada

padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami

lipatgandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami, dan

untuk itu menjadi peringatan bagi semua yang menyembah.”

Berdasarkan ayat Al-quran di atas dapat kita ketahui bahwasegala

sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah SWT, seperti wabah yang melanda

dunia saat ini, itu semua adalah atas izin dan kehendak Allah, maka dari

itu kita harus bersabar dalam menghadapinya, dan selalu mendekatkan diri

kepada Allah SWT.

Timbulnya permasalahan tersebut, sehingga dikeluarkannya surat

edaran kebijakan lockdown atau karantina oleh pemerintah dan pihak-

pihak pendidikan. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi interaksi

dengan banyak orang yang memberi akses pada penyebaran virus corona.

Dalam kasus ini sangat berdampak buruk terhadap dunia kerja dan juga

dunia pendidikan. Banyak pekerja yang di PHK dan dirumahkan. Aktivitas

belajar mengajar di sekolahpun dialihkan menjadi pembelajan di rumah

dengan menggunakan media berbasis IT atau sering disebut dengan istilah

daring(melalui jaringan). Hal ini tentu kurang efektif bagi peserta didik

dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan demikian, kreativitas guru

sangatlah dibutuhkan karena sekarang guru mengajar tidak secara


7

langsung dihadapan peserta didik tetapi harus mampu menggunakan

berbagai media yang berbasis IT agar proses belajar mengajar tetap

berlangsung dan peserta didik memperoleh haknya sebagai

siswa/mahasiswa. Diantara media yang dapat dimanfaatkan oleh guru di

masa pandemi covid 19 untuk menunjang proses pembelajaran seperti

WhatsApp, Youtobe, Google Clasroom, Zoom Meeting, Google meet,

Bandicam, dan lain-lain.

Persepsi dari guru PAI sendiri menyatakan bahwa secara umum

guru PAI masih dianggap gaptek atau kurang mampu menggunakan media

berbasis IT, padahal kreativitas guru sangatlah dibutuhkan pada masa

pandemi, jadi untuk mengatasi permasalahan tersebut guru PAI di SMK N

1 Baso banyak belajar dengan guru guru lain yang menguasai IT, belajar

pelatihan secara virtual dan tutorial supaya bisa mengikuti perkembangan

teknologi yang ada. Terlebih pada kondisi pandemi Covid 19 saat ini, guru

PAI memang dituntut harus bisa menggunakan mendia berbasis IT, karena

pemebelajaran dilakukan secara daring, di sinilah kraeativitas guru PAI

sangat dibutuhkan.

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan guru PAI yaitu ibu

Darmiwanti pada tanggal 19 September 2020, terdapat beberapa

permasalahan dalam pembelajaran di masa pandemi Covid 19. Pertama,

adanya masalah pada penyampaian materi pembelajaran, penggunaan

media pembelajaran, hal ini membuat kurang efektifnya dalam proses

penyampaian materi pembelajaran. Kedua, masalah dalam aplikasi yang


8

digunakan dalam pembelajaran, seperti WhatsApp, Google Clasroom.

Dalam penggunaan WhatsApp proses belajar mengajar berjalan lancar,

namun terdapat juga kendala pada guru, yaitu terkendala pada memori hp

guru tersebut karena dipenuhi oleh tugas-tugas yang dikirimkan siswa.

Selanjutnya yaitu google clasroom, pada aplikasi ini ditemukan

permasalahan seperti siswa tidak mengikuti pembelajaran secara maksimal

walaupun kehadiran lengkap. Dapat disimpulkan bahwa dalam

pembelajaran menggunakan goole clasroom bahwa 30% siswa mengikuti

tepat waktu, 40% siswa menanggapi tugas tiga hari setelah itu, dan 30%

nya lagi siswa memenuhi tugas mendekati UTS yaitu hampir 2 bulan.

Ketiga, jaringan internet yang belum memadai di setiap sekolah bagi guru.

Keempat, terdapatnya masalah dalam keterampilan, sosial dan sikap dari

siswa, di sinilah guru terkendala dalam memberikan penilaian terhadap

siswanya, karena sasaran dari daring itu hanyalah pengetahuan saja.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka peneliti merumuskan

masalah-masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini, sebagai berikut:

Bagaimana kreativitas guru PAI dalam menggunakan media

pembelajaran pada masa pandemi Covid 19 di SMK N 1 Baso

Kabupaten Agam?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dalam pembahasan skripsi ini adalah:


9

Untuk mengetahui kreativitas guru PAI dalam menggunakan media

pembelajaran pada masa pandemi Covid 19 di SMK Negeri 1 Baso

Kabupaten Agam.

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai:

1. Bagi kepala sekolah diharapkan sebagai masukan yang akan

diimplementasikan kepada guru-guru lainnya.

2. Bagi penulis sebagai tambahan wawasan mengenai seputar kreativitas

guru.

3. Bagi peserta didik agar dapat mengembangkan kreativitas sesuai

kemampuan.

E. Penjelasan Judul

Untuk mempermudah dalam pemahaman masalah ini, maka penulis

merasa perlu untuk memberikan penjelasan mengenai kata-kata kunci dari

judul proposal skripsi ini, yaitu:

1. Kreativitas

Kreativitas merupakan satu istilah yang terkait dengan upaya

meningkatkan daya pikir atau gagasan seseorang dalam menjalankan

aktivitasnya. Dengan kreativitas diharapkan pelaksanaan suatu

aktivitas lebih bersifat aktif, dinamis, menggairahkan dan pada

akhirnya mengarah pada pencapaian kualitas hasil yang diharapkan.

Bahkan dengan mewujudkan kreativitas yang berkesinambungan,


10

diharapkan akan mencapai hasil dan tujuan yang terus meningkat dari

waktu ke waktu.9

2. Guru PAI

Guru PAI adalah seorang pendidik yang mengajarkan ajaran islam

untuk mencapai keseimbangan jasmani maupun rohani untuk

mengubah tingkah laku individu sesuai dengan dengan ajaran Islam

dan membimbing anak didik kearah pencapaian kedewasaan serta

membentuk kepribadian muslim yang berakhlak, sehingga terjadi

keseimbangan kebahagiaan di dunia dan akhirat.10

3. Media Pembelajaran

Menurut Depdiknas istilah media berasal dari bahasa Latin yang

merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti

perantara atau pengantar. Jadi media adalah segala sesuatu yang dapat

menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima

informasi.11Pembelajaran adalah proses komunikasi dua arah,

mengajar dilalukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan

belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.12Jadi media

pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang

pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta kemauan peserta didik

9
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru...., hlm. iii
10
[Link]
11
Ali Muhson. 2010. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi.
Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia. Vol. VIII Nomor 2, Hlm 1-10.
12
Syaiful Sugala, Konsep dan Makna Pembelajaran, Untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 61
11

sedimikian rupa sehingga proses belajar terjadi dalam rangka mencapai

tujuan pembelajaran secara efektif.13

4. Pandemi Covid 19

Menurut WHO Coronaviruses (CoV) merupakan bagian dari

keluarga virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu hingga

penyakit yang lebih berat seperti Middle East Respiratory Syndrome

( MERS-CoV) and Savere Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV).

Dimana penyakit yang disebabkan virus corona atau Covid 19

merupakan jenis baru yang ditemukan pada tahun 2019 dan belum

pernah diidentifikasi menyerang manusia sebelumnya. Sebelum

menjadi pandemik, virus ini mulanya terjadi di kota Wuhan Profinsi

Hubei, China pada bulan Desember 2019.14

5. SMK Negeri 1

SMK Negeri 1 merupakan salah satu SMK Negeri di Jorong Titih,

Kanagarian Padang Tarok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam.

F. Sistematika Penulisan

A. BAB 1 : terdiri dari latar belakang masalah, pertanyaan penelitian,

tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penjelasan judul dan

sistematika penulisan.

Husniyatus Salamah Zainiyati, Pengembangan Media Pembelajaran Agama


13

Islam Berbasis ICT, hlm. 63


14
La Ode Anhusadar. 2020. Persepsi Mahasiswa PIAUD terhadap Kuliah Online di Masa
Pandemi Covid 19. Journal of Islamic Early Childhood Education. Vol 3 No 1, p- ISSN 261-0339 e-
ISSN 2621-0770, hlm 44-58.
12

B. Bab 2 : terdiri dari landasan filosofis, teoritis yang didalamnya terdapat

pengertian kreativitas, guru PAI, Media pembelajaran, dan landasan

empiris.

C. BAB 3 : terdiri dari metodologi penelitian yang terdiri dari jenis

penelitian deskriptif kualitatif, lokasi penelitian, waktu penelitian,

informen penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Kreativitas

1. Pengetian Kreativitas

Kreativitas berasal dari kata kreatif yang menurut Fuad Abu Hathab dan Abdulah

Sulaiman seperti dikutip oleh Ibrahim Muhammad al- Maghazi, adalah sebuah proses

akal yang menyempurnakan dan beredar dalam tahapan-tahapan tertentu.15 Kreativitas

merupakan hasil dari berpikir kreatif yang dilakukan oleh seseorang. Kreatif sering

digambarkan dengan kemampuan berpikir kritis dan banyak ide, serta banyak gagasan.

Orang kreatif melihat hal yang sama, tetapi melalui cara berpikir yang berbeda16

Kreativitas merupakan satu istilah yang terkait dengan upaya meningkatkan daya

pikir atau gagasan seseorang dalam menjalankan aktivitasnya. Dengan kreativitas

diharapkan pelaksanaan suatu aktivitas lebih bersifat aktif, dinamis, menggairahkan

dan pada akhirnya mengarah pada pencapaian kualitas hasil yang diharapkan.17

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat diketahui bahwa kreativitas

merupakan suatu kemampuan untuk meningkatkan daya pikir dalam menciptakan

atau menghasilkan hal-hal baru, dan pelaksanaan suatu aktivitas lebih bersifat aktif,

dinamis, serta menggairahkan sehingga pencapaian kualitas hasil sesuai dengan yang

15
Syahraini Tambak, Pendidikan Agama IslamKonsep Metode Pembelajaran PAI, (Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2014 ), cet. 1, hlm. 82
16
Aisyah Damayanti, Kreativitas Guru PAI dalam Membangun Sikap kesalehan Sosial peserta Didik
di SMP Muhammadiyah Boarding (MBS) Prambanan, Sleman Yogyakarta, 2016
17
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru (Jakarta: Bestari Buana Murni,
2010), cet. 1. hlm. iii

13
diharapkan. Kreativitas atau daya cipta memungkinkan penemuan-penemuan

baru dalam bidang ilmu dan teknologi, serta dalam semua bidang usaha manusia

lainnya.18

Kreativitas bagi sebagian orang terkadang dianggap hal mudah untuk

menumbuhkannya akan tetapi ternyata realitas yang ada menunjukkan tak sedikit guru

bermasalah dalam memunculkan kreativitas belajar peserta didik tersebut. Oleh

karena itu metode yang dipergunakan oleh guru PAI dalam setiap pembelajaran harus

dapat membangkitkan kreativitas belajar peserta didik. Individu-individu yang kreatif

memiliki kekuatan kreativitas yang kompleks, yang memungkinkan mereka untuk

menghasilkan karya.19

Kreativitas bukan merupakan sikap dan perilaku yang bersifat bawaan atau

bakat lahiriah seseorang, melainkan sesuatu hal yang dapat dipelajari. Oleh karenanya

sikap pesimistis dalam upaya meningkatkan kreativitas pembelajaran guru bukan

merupakan hal yang mustahil, sebaliknya optimistis bahwa sikap dan perilaku

sedemikisn rupa dapat dibina dan dikembangkan terhadap guru.20Dalam

mengembangkan kreativitas, terdapat sejumlah hal yang perlu diperhatikan:

a. Kreativitas guru bukan merupakan sifat atau bakat bawaan melainkan

dapat dipelajari dan diolah oleh setiap orang.

b. Kreativitas merupakan hasil kemampuan nalar yang mendorong seseorang

untuk berupaya dan mencari sesuatu yang baru.

Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Cet. 3,
18

hlm. 6
19
Syahraini Tambak, Pendidikan Agama IslamKonsep Metode Pembelajaran PAI...., hlm. 83
20
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru...., hlm. 4

14
15

c. Kegagalan merupakan jalan keberhasilan, sehingga dalam mewujudkan

kreativitasnya seseorang tidak boleh takut terhadap kesalahan maupun

kegagalan.

d. Kehidupan menyimpan berbagai misteri yang pelik dan tersembunyi,

sehingga orang harus memberdayakan pemecahan problematika hidup dari

berbagai sudut pandang dan terbuka terhadap gagasan/ ide, pendapat dan

hal lain yang muncul berkaitan dengan pemecahan problematika tersebut.

Ketertutupan diri dari berbagai pendapat, gagasan/ ide atau hal lainnya

hanya akan mematikan atau meniadakan pengembangan kemampuan

untuk berkreasi.

e. Karya yang kreatif menuntut sikap penerimaan terhadap subjektivitas,

toleransi terhadap perbedaan, pemanfaatan pendapat orang lain dan

penghormatan terhadap pengalaman serta pendapat orang lain.

f. Pemikiran kreatif merupakan pencerahan harapan untuk meraih hasil dan

tujuan yang lebih baik, sehingga keberhasilan sekolah amat ditentukan

oleh kreativitas orang-orang yang ada di dalamnya, termasuk guru.

g. Pengembangan kreativitas membutuhkan kemampuan untuk

mendayagunakan potensi-potensi yang ada, baik dari dalam maupun di

luar diri seorang kreator.

h. Dalam diri setiap orang telah tercipta kekuatan yang akan mendorong

pengembangan krativitasnya.21

21
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru...., hlm. 4-5
16

2. Prinsip Kreatif

Ada sejumlah prinsip dari pemikiran Nabawi tentang prinsip berpikir

kreatif :

a. Jauhkan dari Kejumudan Berpikir

Kreativitas baru dapat terwujud apabila orang menjauhkan

diri dari kejumudan berpikir, sebaliknya mendorong keterbukaan dan

mengembangkan berpendapat.

b. Perubahan Ijtihad / Ikhtiar

Seorang intelektual yang kreatif dan inovatif memiliki

fleksibelitas dalam menyikapi dan bertindak terhadap berbagai

peristiwa dan situasi, sebaliknya tidak jumud dengan pendapat

tertentu dan terjebak dalam kemiskinan berpikir. Setiap orang

hendaknya selalu berijtihad dan menyesuaikan pandangan sesuai

dengan perubahan situasi yang dihadapi, dan bahkan mampu

memunculkan sikap kreatif dan inovatif untuk melakukan perubahan

tersebut.

c. Pemecahan Masalah Secara Kreatif

Pada prinsipnya pemikiran kreatif yang mendatangkan solusi

cerdas itulah yang perlu dipanuti oleh setiap Muslimin berkenaan

dengan masalah yang dihadapi. Tak terkecuali dalam dunia

pendidikan, pemikiran kreatif itu amat diperlukan datang dari pada

pendidik/ guru dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi

berkenaan dengan proses pembelajaran kepada anak didiknya.


17

d. Menstimulir Pemikiran Kreatif

Islam pasa dasarnya amat mendorong munculnya pemikiran

kreatif. Berbagai kisah dalam perjalanan hidup Rasulullah Saw

diperlihatkan, betapa beliau tidak menolak munculnya pendapat

kreatif tersebut. Sebagai contoh terdaoat pada kisah yang dituturkan

Ibnu Ishaq, ketika sampai di Madinah, Rasulullah mengumpulkan

kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat pada waktunya tanpa

menggunakan sarana apapun. Lalu beliau berkeinginan membuat

terompet untuk menyerukan shalat, seperti yangb biasa digunakan

oleh orang Yahudi. Ternyata beliau tidak menyukainya. Rasulullah

memerintahkan membuat lonceng sebagai alat penyeru shalat untuk

kaum Muslimin, tetapi tidak disukainya juga. Dalam situasi seperti

itu datanglah Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah yang memimpikan

adzan, dan disampaikan kepada Rasulullah Saw. Beliau pun

menyetujuinya dan bersabda, “Sungguh mimpi yang hak, insyaallah.

Temuilah Bilal dan ajarkan kepadanya adzan serta perintahkan ia

untuk beradzan, karena suaranya lebih merdu dari engkau.”

Melalui kisah di atas tampaklah betapa Rasulullah Saw telah

menstimulir dan mendorong munculnya pemikiran kreatif, membuka

lebar untuk merealisasikannya, dan mengadopsinya tanpa

memandang siapa yang mengajukannya. Berbagai peristiwa

menunjukkan betapa penghormatan dan pengakuan terhadap

pemikiran kreatif telah mengantarkan pelakunya untuk bisa


18

menguasai berbagai situasi dan menjalin interaksi dengannyasecara

baik.22

3. Strategi Pendukung Kreativitas Pembelajaran Guru

Pengembangan strategi kreativitas guru paling sedikit meliputi cara-

cara, yaitu:

a. Memperluas wawasan dan pengetahuan

b. Mengembangkan komunitas kelas

c. Mengembangkan lingkungan fisik pembelajaran

d. Mengembangkan sikap keterbukaan

e. Optimalisasi pemanfaatan teknologi pembelajaran

f. Memunculkan tantangan

g. Mengembangkan alat evaluasi

4. Teknik Penegembangan Kreativitas

a. Kreatif dalam pemilihan media pembelajaran

Dalam memilih media pembelajaran, seorang guru harus

memperhatikan berbagai hal, seperti:

1. Memilih media sesuai dengan materi, karena tidak semua

materi yang bisa digunakan dengan media yang sama.

2. Memahami tipe belajar peserta didik, karena setiap peserta

didik memiliki gaya atau tipe belajar yang berbeda juga, ada

yang cenderung kepada media audio, visual, maupun audio-

visual.

Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru...., hlm. 93-103


22
19

b. Kreatif dalam mendesain media pembelajaran

Supaya pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan

tidak monoton, maka seorang guru harus kreatif dalam mendesain

media pembelajaran.

c. Kreatif dalam menggunakan/ menerapkan media pembelajaran

Seoarang guru haruslah mempunyai kreativitas dalam

menggunakan suatu media pembelajaran, baik itu media yang

dibuat sendiri ataupun dari sumber media yang telah ada

sebelumnya. Guru juga harus kreatif dalam memperoleh ragam

jenis media pembelajaran, serta guru juga harus kreatif dalam

memperoleh sumber media pembelajaran.

B. Konsep Guru PAI

1. Pengertian Guru PAI

Menurut Drs. H. A. Ametembun, guru adalah semua orang yang

berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid, baik

secara individual ataupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar

sekolah.23Dalam UU NO. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bab

1 pasal 1, dijelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan

tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,

menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur

pendidikan formal,pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

23
Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Rajawali Pers,
2013). Cet. 1. hlm. 9
20

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, defenisi guru adalah

“orang yang pekerjaan, mata pencaharian atau profesinya

mengajar.”24Dalam khazanah pemikiran Islam, istilah guru memiliki

beberapa istilah, seperti “ustad”, muallim”, “muaddib”, dan murabbi”.

Beberapa istilah untuk sebutan “guru” itu terkait dengan beberapa

istilah untuk pendidikan, yaitu “ta’lim”, ta’dib”, dan “tarbiyah”.

Istilah muallim lebih menekankan guru sebagai pengajar dan

penyampai pengetahuan ( knowledge) dan ilmu (science), istilah

muaddib lebih menekankan guru sebagai pembina moralitas dan

akhlak peserta didik dengan keteladanan, sedangkan istilah murabbi

lebih menekankan pengembangan dan pemeliharaan baik aspek

jasmaniah maupun ruhaniah. sedangkan istilah yang umum dipakai

dan memiliki cakupan makna yang luas dan netral adalah ustad yang

dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “guru”.25

Guru merupakan sosok yang mengemban tugas mengajar,

mendidik dan membimbing. Jika ketiga sifat tersebut tidak melekat

pada seorang guru, maka ia tidak dapat dipandang sebagai guru.26

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dikatakan

sebagai guru agama adalah orang yang mendidik dan mengajarkan

ilmu agama kepada peserta didiknya berdasarkan syarat-syarat yang

telah [Link] luasnya defenisi di atas, dalam hal ini

24
Mujtahid, Pengembangan Profesi Guru, (UIN-Maliki Press, 2011), hlm. 33
25
Marno. M, Idris, Strategi, Metode, dan Teknik Mengajar Menciptakan Keterampilan
Mengajar yang Efektif dan Edukatif, ( Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2014). Cet. 1. hlm. 15
26
Mujtahid, Pengembangan Profesi Guru...., hlm. 33
21

saya hanya membahas mengenai guru agama yang ada di lembaga

pendidikan formal yang memiliki syarat dan fungsi serta perannya

sebagai [Link] menjadi seorang guru yang profesional

terdapat dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru

dan Dosen Bab 3 pasal 7 dinyatakan bahwa prinsip pofesionalitas guru

sebagai berikut:

a. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealism.

b. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan,

keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia.

c. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan

sesuai dengan bidang tugas.

d. Memiliki kompetesi yang diperlukan sesuai dengan bidang

tugas.

e. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas

keprofesionalan.

f. Memiliki penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi

kerja.

g. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan.

h. Memiliki jaminan perlindungan hukum dan melaksanakan

tugas keprofesionalan.
22

i. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan

mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas

keprofesionalan.27

2. Persyaratan Guru

Menjadi seorang guru tidaklah semua orang dapat

melaksanakannya,karena menjadi seorang guru berdasarkan tuntutan

nurani pribadi. Guru dituntut mempunyai suatu pengabdian yang

dedikasi dan loyalitas, ikhlas, sehingga menciptakan anak didik yang

dewasa, berakhlakdan berketerampilan.

Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, menjadi guru harus memenuhi

beberapa persyaratan,yaitu:

a. Taqwa kepada Allah SWT.

b. Berilmu

c. Sehat Jasmani

d. Berkelakuan baik.28

Persyaratan yang lain adalah:

a. Harus memiliki sifat rabbani.

b. Menyempurnakan sifat rabbani dengan keikhlasan.

c. Memiliki rasa sabar.

d. Memiliki kejujuran dengan menerangkan apa yang diajarkan dalam

kehidupan pribadi.

27
Mujtahid, Pengembangan Profesi Guru, (Malang, UIN-Maliki Press, 2011), hlm. 40-41
28
Akmal Hawi, Kompetensi Guru Agama Islam...., hlm. 11
23

e. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan dan kajian.

f. Menguasai variasi serta metode mengajar.

g. Mampu bersikap tegas dan meletakkan sesuatu sesuai dengan

tempatnya (proposisi) sehingga ia akan mampu mengintrol diri dan

siswanya.

h. Memahami dan menguasai psikologis anak.

i. Mampu menguasai fenomena kehidupan sehingga memahami

berbagai kecenderungan dunia beserta dampak yang akan

ditimbulkan bagi peserta didik.

j. Dituntut memiliki sifat adil (objektif) terhadap peserta didik.29

3. Kompetensi Guru PAI

Dalam UU No. 14 tahun 2005, pengertian kompetensi guru adalah

seperangka pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,

dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas

profesionalisme. Kompetensi guru meliputi:30

a. Kompetensi Pedagogik

1. Pemahaman wawasan atau landasan kepribadian

2. Pemahaman terhadap peserta didik

3. Pengembangan kukrikulum/ silabus

4. Perencangan pembelajaran

5. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis

6. Pemanfaatan teknologi pembelajaran


29
Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam....,hlm. 11-12
30
Didi Pianda. 2018. Kinerja guru, kompetensi guru, motivasi kerja dan kepemimpinan kepala
sekolah, Jawa Barat: CV Jejak. Hlm 88
24

7. Evaluasi hasil belajar

8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan

berbagai potensi yang dimiliki

b. Kompetensi Kepribadian/ Personal

1. Mantap

2. Berakhlak mulia

3. Arif dan bijaksana

4. Berwibawa

5. Stabil

6. Dewasa

7. Jujur

8. Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat

9. Secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri

10. Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan

c. Kompetensi Sosial

1. Berkomunikasilisan, tulisan, isyarat

2. Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara

fungsional

3. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama

pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan,

orang tua/ wali peserta didik

4. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan

mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku


25

5. Menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan sejati dan

semangat kebersamaan.

d. Kompetensi Profesional

Adalah kemampuan guru dalam pengetahuan isi ( content

knowledge), penguasaan:

1. Materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar

isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, atau kelompok

mata pelajaran yang diampu.

2. Konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi,

atau seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau

koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran,

atau kelompok mata pelajaran yang diampu.

4. Tanggung jawab dan Tugas Guru

Guru dengan penuh dedikasi dan loyalitas berusaha membimbing

dan membina anak didik agar dimasa mendatang menjadi orang yang

berguna bagu nusa dan bangsa. Dengan demikian,menjaditanggung

jawab guru untuk memberikan sejumlah norma kepada anak didik agar

tahu mana perbuatan yang bermoral dan amoral.

Sedangkan tugas seorang guru bukan hanya memindahkan muatan

materi kepada peserta didik, tetapi dalam kurun waktu 24 jam harus

siap sedia. Adapun bidang-bidang garapan profesi atau tugas

kemanusiaan, dan kemasyarakatan sebagai berikut:


26

a. Guru sebagai profesi atau jabatan atau pekerjaan yang memerlukan

keahlian khusus sebagai guru tugasnya meliputi mendidik,

mengajar, melatih.

b. Guru sebagai bidang kemanusian, di sekolah ia harus menjadikan

dirinya sebagai orang tua kedua.31

5. Ciri-ciri guru kreatif

Untuk mengetahui kreatif dan tidaknya seorang guru. Dibawah ini

akan dijelaskan ciri-ciri guru kreatif yaitu:

a. Mampu menciptakan ide baru

Kreatif identik dengan penemuan ide baru, jadi guru kreatif

adalah guru yang bisa menemukan sebuah ide baru yang

bermanfaat.

b. Tampil beda

Guru yang kreatif akan kelihatan tampil beda dibandingkan

dengan guru lain, mereka cenderung memiliki ciri khas

tersendiri, yang bisa membuat mereka lebih disukai oleh siswa.

c. Fleksibel

Guru yang kreatif itu adalah fleksibel artinya tidak kaku

tapi tetap punya prinsip. Mereka memiliki kemampuan

memahami para siswa dengan lebih baik, memahami karakter

siswa,memahami gaya siswa dan tentunya memahami apa yang

diharapkan siswa.

31
Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam....,hlm 12-13
27

d. Mudah bergaul

Guru yng kreatif adalah guru yang mudah bergaul dengan

siswa, hal ini harus ditunjukkan dengan sikap profesional guru

saat berada di kelas atau saat di luar kelas. Guru tidak boleh

terlalu jaga gengsi, karena hal ini akan membuat siswa enggan

mendekati kita.

e. Menyenangkan

Siapapun orang pasti suka dengan orang yang

mnyenangkan, termasuk siswa pasif akan lebih suka dengan

guru yang menyenangkan daripada guru yang menyeramkan.

f. Suka melakukan eksperimen

Guru kreatif pasti suka melakukan eksperimen atau uji coba,

seperti uji coba metode pembelajaran atau uji coba hal yang

lain. Uji coba ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan

yang menjadi seorang guru.

g. Cekatan

Guru kreatif bekerja dengan cekatan agar dapat menangani

masalah dengan cepat dan baik. Ia tidak suka menunda-nunda

suatu pekerjaan, dan mereka biasanya ringan tangan, ia akan

membantu siapa saja yang membutuhkan pekerjaan.32

6. Meningkatkan Kreativitas Guru Agama

32
Asep, Kreativitas Guru Agama Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama
Islam. UIN Syarif Hidayatullah.
28

Kreativitas guru merupakan hal penting dalam pembelajaran dan

bahkan dapat menjadi pintu masuk dalam upaya meningkatkan pencapaian

hasil belajar siswa. Perilaku pembelajaran yang dicerminkan oleh guru

cenderung kurang bermakna apabila tidak diimbangi dengan gagasan atau

ide dan perilaku pembelajaran yang kreatif. Kreativitas baru akan muncul

apabila dalam pembelajaran oleh guru didukung dengan pemahaman

tentang makna mengajar dan belajar. Mengajar bukan sekedar

memberikan materi ataupun melaksanakan hal-hal tertentu, apalagi jika

dikaitkan dengan pencapaian target program pengajaran. Belajar juga tidak

melulu hanya mengingat apa yang di jejalkan guru atau bukupelajaran

kepada siswa selama program kegiatan belajar mengajar. Mengajar harus

dikaitkan dengan makna belajar, yang memerlukan pula perwujudan multi

peran dari guru; guru bukan sekedar menitikberatkan sebagai penyampai

pengetahuan dan pengalih keterampilan serta merupakan satu-satunya

sumber belajar, tetapi perlu dirubah menjadi pembimbing, pembina,

pengajar dan pelatih yang berarti membelajarkan anak didik.33

Seorang guru haruslah meninggalkan pola rutinitas dalam proses

pembelajaran, sebaliknya lebih mengarah pada perilaku profesional

yang kreatif. Skinner menitikberatkan perlunya pengembangan

kreativitas guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya melalui

pemilihan stimulus yang diskriminatif dan penggunaan

33
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru (Jakarta: Bestari
Buana Murni, 2010), cet. 1. hlm. 23-24.
29

penguatan.34Menurut Rogers bahwa dalam mengembangkan

kreativitasnya seorang guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip

pendidikan, yakni:

a. Guru perlu memberi kepercayaan kepada kelas agar kelas

memilih belajar secara terstruktur

b. Guru dan siswa membuat kontrak kerja

c. Guru perlu menggunakan metode inkuiri atau belajar

menemukan (discovery learning)

d. Guru perlu menggunakan metode simulasi

e. Guru perlu mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu

menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan kelompok lain

f. Guru harus bertindak sebagai fasilitator belajar

g. Guru perlu menggunakan pengajaran berprogram agar tercipta

peluang bagi siswa untuk timbulnya kreativitas.35

C. Media Pembelajaran

1. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin, dan merupakan bentuk jamak

dari kata “medium”. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar.

Jadi secara bahasa media berarti pengantar pesan dari pengirim kepada

penerima pesan. Media pembelajaran adalah media yang

34
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru...., hlm. 24
35
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru...., hlm. 25
30

memungkinkan terwujudnya hubungan langsung antara karya

seseorang pengembang mata pelajaran dengan para siswa.36

Media dalam proses pembelajaran diartikan sebagai segala bentuk

peralatan fisik komunikasi berupa software dan hardware yang

merupakan bagian kecil dari teknologi pembelajaran yang harus

diciptakan atau dikembangkan, digunakan dan dikelola untuk

kebutuhan pembelajaran dalam mencapai aktivitas dan efesiensi proses

pembelajaran.37

Jadi media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat

digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima

sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta

kemauan peserta didik sedimikian rupa sehingga proses belajar terjadi

dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif.38

2. Macam-macam Media Pembelajaran

Berdasarkan perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat

dikelompokkan menjadi ke dalam empat kelompok, yaitu media hasil

teknologi cetak, media hasil teknologi audio-visual, media hasil teknologi

yang berdasarkan komputer, dan media hasil gabungan teknologi cetak

dan komputer.

Husniyatus Salamah Zainiyati, Pengembangan Media Pembelajaran Agama


36

Islam Berbasis ICT, hlm. 7


37
Riri Okta. Pengembangan Media Pembelajaran Digital IPA di SMP N 3 Kecamatan Pangkalan.
Jurnal Educative: Journal of Educational Studies. Vol. 4, No. 2. Juli-Desember 2019 (IAIN
Bukittinggi). hlm 2
Husniyatus Salamah Zainiyati, Pengembangan Media Pembelajaran Agama
38

Islam Berbasis ICT, hlm. 63


31

Teknologi cetak adalah cara untuk menghasilkan atau

menyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama

melalui proses percetakan mekanis atau fotografis. Kelompok media hasil

teknologi cetak meliputi teks, grafik, foto atau representasi fotografik dan

reproduksi. Materi cetak dan visual merupakan dasar pengembangan dan

penggunaan kebanyakan materi pengajaran lainnya. Teknologi ini

menghasilkan materi dalam bentuk salinan tercetak. Dua komponen pokok

teknologi ini adalah materi teks verbal dan materi visual yang

dikembangkan berdasarkan teori yang berkaitan dengan persepsi visual,

membaca, memproses informasi, dan teori belajar.

Teknologi cetak memiliki ciri-ciri berikut:

a. Teks dibaca secara linear, sedangkan visual diamati berdasarkan

ruang

b. Baik teks maupun visual menampilkan komunikasi satu arah dan

reseptis

c. Teks dan visual ditampilkan statis (diam)

d. Pengembangannya sangat tergantung kepada prinsip-prinsip

kebahasaan dan persepsi visual

e. Baik teks maupun visual berorientasi pada siswa

f. Informasi dapat diatur kembali atau di tata ulang oleh pemakai

Teknologi cetak mempunyai kekurangan dan kelebihan:

Kelebihan:

1. Murah
32

2. Dapat diakses oleh kalangan luas

3. Tidak memerlukan peralatan

4. Bersifat fleksibel, mudah dibawa ke mana-mana

5. Dapat digunakan untuk menyampaiakan semua materi

pembelajaran

6. Bisa dibaca di mana saja dan kapan saja, terkait tempat dan

waktu

Kelemahan:

1. Membutuhkan reading habis

2. Membtuhkan pengetahuan awal ( prior knowledge)

3. Kurang bisa membantu daya ingat

4. Apabila penyajian (font, warna, ilustrasi) tidak menarik, akan

cepat membosankan.

Teknologi audiovisual cara menghasilkan maupun

menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis, dan

elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual. Dengan ini,

media yang dipakai berupa perangkat keras selama proses belajar, seperti

mesin proyektor film, tape, recorder, dan proyektor visual yang lebar.

Jadi, pengajaran melalui audiovisual adalah produksi dan

penggunaan materi yang penyerapannya melalui pandangan dan

pendengaran serta tidak seluruhnya tergantung kepada pemahaman kata

atau simbol-simbol yang serupa. Ciri-ciri utama teknologi media

audiovisual sebagai berikut:


33

1. Bersifat linier

2. Menyajiakn visual yang dinamis

3. Digunakan dengan cara yang telah ditetapakan sebelumnya

oleh perancang/pembuatnya

4. Representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak

5. Dikembangakan menurut prinsip psikologis behaviorisme dan

kognitif

6. Umumnya berorientasi kepada guru dengan tingkat pelibatan

pembelajaran aktif murid yang rendah.39

Pembelajaran berbasis komputer mempunyai beberapa kelebiahan

atau keuntungan yang diperoleh yaitu:

a. Memeberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahakan

masalah secara individu.

b. Menyediakan presentasi yang menarik dengan animasi.

c. Menyediakan pilihan isi pembelajaran yang banyak dan

beragam.

d. Mampu membangkitakan motivasi siswa dalam belajar.

e. Mamapu mengaktifkan dan menstimulasi metode mengajar

dengan baik.

f. Meningkatkan pengembangan pemahaman siswa terhadap

materi yang disajikan.

Husniyatus Salamah Zainiyati, Pengembangan Media Pembelajaran Agama Islam


39

Berbasis ICT. ( Jakarta: Kencana, 2017), hlm. 7


34

g. Merangsang siswa belajar dengan penuh semangat, sehingga

materi yang disajikan mudah dipahami oleh siswa.

h. Siswa mendapatkan pengalaman yang bersifat konret, resensi

siswa meningkat.

i. Memberi umpan balik secara langsung.

j. Siswa dapat menentukan sendiri laju pembelajaran.

k. Siswa dapat melakukan evaluasi diri

Selain yang di atas , Wankat & Oreonavicz dalam Wena (2011,

205) mengatakan diantaranya:

1. Dapat mengakomodasi siswa yang lamban karena dapat

menciptakan iklim belajar yang efektif dengan cara yang lebih

individual.

2. Dapat meransang siswa untuk mengerjakan latihan karena

tersedianya animasi grafis,warna dan musik.

3. Kendali berada pada siswa sehingga kecepatan belajar dapat

disesuaikan dengan tingkat kemampuan.

Sehingga pengembangan pembelajaran berbasis komputer dalam

pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat penting dan harus

dilakukan oleh guru atau tenaga pengajar. Selain memiliki keuntungan,

namun pembeljaran berbasis komputer juga memiliki kelemahan sebagai

berikut:

a. Hanya efektif digunakan oleh satu orang atau kelompok kecil,

namun masih bisa diatasi.


35

b. Tampilan fisik isi pembelajaran tidak dirancang dengan baik.

c. Guru atau tenaga pendidik yang tidak memahami aplikasi

program komputer, tidak dapat merancang pembelajaran lewat

media komputer sehingga ia juga harus bekerja sama dengan

ahli komputer grafis, juru kamera dan teknisi komputer.

Teknologi gabungan adalah cara untuk menghasilkan dan

menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa bentuk

media yang dikendalikan oleh komputer. Perpaduan beberpa jenis

teknologi ini dianggap teknik yang paling canggih apabila dikendalikan

oleh komputer yang memiliki kemampuan yang hebat seperti jumlah

rando access memory yang besar, hardisk yang besar, dan monitor yang

beresolusi tinggi ditambah dengan periperal (alat-alat tambahan seperti

vidiodisc, player perangkat keras untuk bergabung dalam satu jaringan,

dan sistem audio.

Pengelompokan berbagai jenis media teknologi ada 2 kategori

yaitu:

a. Pilihan Media Tradisional

1. Visual diam yang diproyeksikan

a) Proyeksi opaque (tak tembus pandang)

b) Proyeksi overhead

c) Slides

d) Filmstips

2. Visual yang tak diproyeksikan


36

a) Gambar, poster

b) Foto

c) Charts, grafik, diagram

d) Pameran, papan info, papan bulu

3. Audio

a) Rekaman piringan

b) Pita kaset, reel, catridge

4. Penyajian Multimedia

a) Slide plus suara (tape)

b) Multi image

5. Visual Dinamis yang diproyeksikan

a) Film

b) Televisi

c) Vidio

6. Cetak

a) Buku teks

b) Modul, teks terprogram

c) Workbook

d) Majalah ilmih, berkala

e) Lemparan lepas (hand out)

7. Permainan

a) Teka-teki

b) Simulasi
37

c) Permainan papan

8. Realia

a) Model

b) Specimen (contoh)

c) Manipulasi (peta, boneka)

b. Pilihan Media Teknologi Mutakhir

1. Media berbasis telekomunikasi

a) Teleconverence

b) Kuliah jarak jauh

2. Media berbasis mikroprosesor

a) Computer assisted instruction

b) Permainan computer

c) Sistem tutor intelejen

d) Pembelajaran aktif

e) Hypermedia

f) Compact (vidio) disc40

3. Penggunaan Media Pembelajaran

Dalam pebelajaran pendidik perlu mengetahui, apakah suatu bahan

ajar/ materi pelajaran membutuhkan atau tidak bantuan media untuk

memoermudah dan memperlancar penyerapan dalam pembelajaran,

40
Husniyatus Salamah Zainiyati, Pengembangan Media Pembelajaran Agama
Islam Berbasis ICT. ( Jakarta: Kencana, 2017), hlm. 7
38

untuk keperluan apa dan bagaimana memanfaatkan media

pembelajaran itu.

Di bawah ini dijelaskan sejumlah langkah/tindakan yang dapat

dilakdsankan oleh guru terkait dengan penggunaan media

pembelajaran, antara lain:

a. Mengkaji bentuk media pembelajaran yang ada.

b. Mengkaji segenap hal yang terkait dengan penggunaan media

pembelajaran, upaya membangkitkan perhatian dan motivasi

peserta didik, melibatkan keaktifan peserta didik, memberikan

balikan dan penguatan, sampai dengan perhatian perbedaan

karakteristik peserta didik.

c. Merancang media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan

tujuan penggunaannya ( ceramah, diskusi, eksperimen, simulasi,

dan lainnya).

d. Membahas rancangan penggunaan bentuk media pembelajaran

dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mendapat

tanggapan, bimbingan, bantuan dan arahan.

e. Apabila diperlukan, terhadap penerapan media pembelajaran

tertentuyang kurang dikuasai, mencari bantuan ahli yang

berasal dari dalammaupun luar sekolah.

f. Menyusun rencana kerja penggunaan media pembelajaran.41

4. Nilai dan manfaat media pengajaran

41
Iskandar Agung, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru...., hlm. 62
39

Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam

pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil

belajar yang dicapainya. Ada beberapa alasan, mengapa media

pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa. Alasan pertama

berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar

siswa antara lain:

a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat

menumbuhkan motivasi belajar.

b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat

lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa

menguasai tujuan pengajaran lebih baik.

c. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata

komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru,

sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga,

apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.

d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak

hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain

seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-

lain.42

Alasan kedua mengapa penggunaan media pengajaran

dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran adalah

berkenaan dengan taraf berpikir siswa. Taraf berpikir manusia

Nana Sudjana, Ahmad Rivai, 2009, Media Pengajaran (Penggunaan dan


42

Pembuatannya), hlm. 2
40

mengikuti tahap perkembangan dimulai dari berpikir sederhana

menuju ke berpikir kompleks. Penggunaan media pengajaran

erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut sebab melalui

media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat dikongkritkan,

dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.43

Nana Sudjana, Ahmad Rivai, 2009, Media Pengajaran (Penggunaan dan


43

Pembuatannya), hlm. 3
BAB III

METODOLOGIPENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research)

dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif (qualitatife descriptive) yaitu

penelitian yang di tujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis

fenomena peristiwa, aktifits sosial, sikap, kepercayaan, pemikiran orang

secara individual maupun kelompok. Penelitian lapangan yang menggunakan

metode deskriptif, menggambarkan keadaan objek yang diteliti sebagaimana

adanya sesuai data yang di peroleh di lapangan.44

Metode deskriptif kualitatif ini memaparkan situasi atau peristiwa

tanpa mencari atau menjelaskan antara hubungan variabel dan tidak untuk

melakukan pengujian hipotesa atau membuat prediksi, akan tetapi hanya

sebatas penghimpun data, penyusunan secara sistematis, faktual dan cermat

serta berusaha melakukan pestasi data seperlunya. Dalam penelitian ini

menjelaskan tentang Kreativitas Guru PAI dalam Menggunakan Media

Pembelajaran pada Masa Pandemi Covid 19 di SMK Negeri 1 Baso

Kabupaten Agam.

44
Nana Syaodih Sukmadinata, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 60
42

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Baso

yang beralamat di Jalan Raya Bukittinggi- Payakumbuh KM 20 Jorong Titih,

Nagari Padang Tarok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam. Sekolah ini

merupakan salah satu sekolah menengah kejuruan yang memiliki beberapa

jurusan seperti Keuangan (Perbankan, Akuntansi), Administrasi Perkantoran,

Teknik Komputer Jaringan, dan Teknik Bisnis Sepeda Motor. Di sekolah ini

mempunyai sarana dan prasarana yang lengkap, seperti Mushalla,

perpustakaan, labor perbankan, labor akuntansi, labor komputer, labor tsm,

dan wifi. Oleh karena itu seorang pendidik harus kreatif dalam memanfaatkan

berbagai macam metode untuk menarik simpatik peserta didik agar peserta

didik dapat menyenangi pelajaran Agama Islam.

C. Waktu Penelitian

Waktu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dari Oktober2020

sampai dengan selesai.

D. Informan

Informen adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberi informasi

tentang kondisi dan situasi latar penelitian. Informan ini mempunyai banyak
43

pengalaman tentang latar belakang penelitian. Informan berkewajiban secara

sukarela sebagai tim peneliti, walau hanya bersifat informal sebagai anggota

tim dengan kebaikannya dan kesukarelaannya, informan dapat memberi

pandangan tentang nilai-nilai, sikap, bangunan, proses dan kebudayaan

menjadi latar belakang penelitian setempat.45 Informan dalam penelitian ini

terbagi menjadi dua macam, yaitu:

1. Informan kunci

Informan kunci adalah orang yang dijadikan kunci dalam

penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi informan kunci adalah

guru PAI SMK Negeri 1 Baso.

2. Informan pendukung

Dalam penelitian ini yang menjadi informan pendukung adalah

siswa SMK Negeri 1 Baso.

E. Teknik Pengumpulan Data

1. Wawancara

45
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta,
2011), Cet ke-2, hlm. 85
44

Wawancara adalah salah satu bentuk instrument penelotian kualitatif

di mana peneliti meminta dara dengan cara melakukan tanya jawab secara

lisan dengan informan penelitian.46

Wawancara ada tiga jenis, yaitu:

1. Wawancara terstruktur

Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan peneliti

dimana peneliti sudah menentukan terlebih dahulu pertanyaan yang akan

diajukan kepada informan penelitiannya.

2. Wawancara tidak terstruktur

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang

dilakukan peneliti dan peneliti belum menentukan pertanyaan yang

akan diberikan kepada informan penelitian. Akan tetapi peneliti sudah

menentukan garis besar dari pertanyaan yang akan diajukan kepada

informan penelitian.

3. Wawancara semi terstruktur

Rahmahidayati Sari, Metodologi Penelitian, (Bukittinggi: Suci Fotocopy, 2018), hlm. 31


46
45

Wawancara semi terstruktur ini sudah termasuk kepada

Indepth Interview. Dimana peneliti melakukan wawncara lebih bebas.

Pada penelitian ini penulis melakukan wawancara terstruktur

karena penulis sudah terlebih dahulu menentukan pertanyaan yang akan

diajukan kepada informan penelitiannya. Tujuan penulis melakukan

wawancara adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kreativitas

guru PAI dalam menggunakan media pembelajaran pada masa pandemi

Covid 19 di SMK Negeri 1 Baso.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan

dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,

menjabarkan ke dalam unitunit, melakukan sintesa, menusun ke dalam

pola, memilih mana yang lebih penting dan akan dipelajari, dan membuat

kesimpulan sehingga mudah di pahami oleh diri sendiri maupun orang

lain.47Berdasarkan penelitian kualitatif, maka analisis data berlangsung

47
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta,
2011), Cet ke-18, hlm. 244
46

selama dan pasca pengumpulan data. Proses analisis mengalir dari tahap

awal hingga tahap penarikan hasil [Link]-proses kualitatif tersebut

dapat dijelaskan ke dalam 3 langkah berikut:

1. Reduksi Data

Reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok,

memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.

Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan

gmbaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk

melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila

diperlukan.

Pada proses redaksi ini peneliti akan menyeleksi data dari hasil

wawancara, observasi dan studi dokumentasi, dengan cara

memfokuskan pada data yang lebih menarik, penting, berguna, dan

baru. Data yang tidk penting disingkirkan. Berdasarkan pertimbangan

berikut, maka data-data tersebut selanjutnya dikelompokkan menjadi

berbagai kategori yang ditetapkan sebagai fokus penelitian.

2. Display (penyajian data)


47

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah

mendisplay data. Display data merupakan proses mendeskripsikan

kumpulan informasi secara sistematis dalam bentuk susunan yang

jelas untuk membantu peneliti menganalisa hasil penelitian.

Penyajian data kualitatif dapat dilakukan dalam bentuk uraian

singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sebagainya. Tetapi yang

paling sering digunakan dalam penyajian data penelitian kualitatif

adalah dengan teks yang bersifat naratif.48 Untuk memudahkan

penyajian data ini peneliti membuat catatan lapangan dalam bentuk

teks naratif untuk memudahkan penguasaan informasi atau data yang

dimaksud.

3. Penarikan kesimpulan dan Verifikasi

Penarikan kesimpulan dan verifikasi merupakan kegiatan

interpretasi, dengan maksut untuk menemukan makna dari data yang

telah disajikan, misalnya dengan menghubung-hubungkan antara data

satu dengan yang [Link] dalam penelitian kualitatif yang

diharapkan adalah sebuah temuan yang belum pernah ada. Temuan

48
Rahmahidayati Sari, Metodologi Penelitian...., hlm. 38
48

dapat berupa gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-

remang sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan

interaktif, hipotesis atau teori.49

Kesimpulan awal yang ditemukan masih bersifat sementara,

kemudian diverifikasi dengan cara mencari data yang lebih mendalam

dengan mempelajari lagi hasil data yang telah terkumpul. Pengecekan

informasi atau data dapat dilakukan oleh setiap peneliti selesai

wawancara dengan responden.

49
Rahmahidayati Sari, Metodologi Penelitian...., hlm. 39
BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Profil Wilayah Penelitian

SMK Negeri 1 Baso merupakan sebuah sekolah Negeri yang beralamat di

Jalan Raya Bukittinggi- Payakumbuh Km 20, Kelurahan Titih, Nagari Padang

Tarok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Sekolah ini

berakreditasi A. Kepala sekolah saat ini adalah bapak [Link] Fuadi. Kompetensi

Keahlian di sekolah ini, yaitu Administrasi Perkantoran, Akuntansi dan Keuangan

Lembaga, Perbankan dan Keuangan Mikro, Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik dan

Bisnis Sepeda Motor.

VISI MISI SMK NEGERI 1 BASO

VISI

Pusat Pendidikan /dan Latihan Profesional yang Dilandasi Iman,


Taqwa,Berbudaya dan mandiri serta mampu bersaing secara global.

MISI

1. Mewujudkan PBM yang berkualitas sesuai dengan perkembangan yang ada


di DU/DI.
2. Mengembangkan Organisasi dan manajemen yang mengacu pada ISO.
3. Mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan ( adiwiyata ).
4. Mengembangkan Unit Produksi / Bisnis Centre sehingga dapat digunakan
sebagai media pembelajaran berbasis kompetensi.
50

5. Membentuk Pribadi yang beriman, Bertakwa dan berbudaya.


6. Menghasilkan lulusan yang mempunyai keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program keahliannya.

PAKET KEAHLIAN, DATA SISWA, GURU DAN PEGAWAI

A. Bidang dan Kompetensi Keahlian Yang Dibuka

Bidang dan Kompetensi keahlian yang telah dibuka di SMK Negeri 1 Baso
adalah :

1. Program Keahlian Akuntansi dan keuangan

- Kompetensi Keahlian Akuntansi dan keuangan lembaga


- Kompetensi Keahlian Perbankan dan keuangan mikro

2. Program Keahlian Manajemen Perkantoran

- Kompetensi Keahlian Otomanisasi dan Tata Kelola Perkantoran

3. Program Keahlian Teknik Komputer dan Informatika

- Kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan

4. Program Keahlian Otomotif

- Kompetensi Keahlian Teknik dan Bisnis Sepeda Motor


B. Data Siswa dan Data Penerimaan Siswa
a. Jumlah siswa Tahun Pelajaran 2019/2020

Jml. X XI XII
JURUS JM TO
Romb JML JML
AN L T.
el L P L P L P

OTP 1 3 9 20 29 5 15 20 5 20 25 74

OTP 2 3 7 23 30 3 17 20 5 18 23 73
51

KU 1 3 10 19 29 12 19 31 7 18 25 85

KU2 3 9 22 31 10 17 27 7 23 30 88

TKJ 3 22 9 31 21 11 32 22 9 31 94

TBSM 1 3 25 2 27 23 1 24 18 3 21 72

TBSM 2 1 21 1 22 0 0 0 0 0 0 22

JUMLA 10
19 96 199 74 80 154 64 91 155 508
H 3

TOTAL 199 154 155

Sumber: TU SMK N 1 Baso

C. Data Guru dan Pegawai

N Nama/NIP Pangkat Status Guru Mata Keterangan


o /Gol. Pelajaran
1 Pembina PNS - Kepala
Drs. Yevri Fuadi Sekolah
IV/a

2 Pembina PNS Bimbingan


Tk.I Konseling
Dra. Martalena
IV/b

3 Azhar Syahid, [Link], Pembina PNS Bahasa


[Link] Tk.I Indonesia
VI/b
4 Pembina PNS Produktif Ketua
Tk.I Akuntansi dan Program
Yefri Harta, [Link], VI/b Keuangan Keahlian
ME Akuntansi
dan
Keuangan
5 Pembina PNS Matematika
Martha, S. Pd Tk.I
VI/b
6 Dra. Wasteti Pembina PNS Fisika
52

VI/a
7 Pembina PNS Pendidikan
Drs. Rinaldi M. VI/a Jasmani, Olah
Raga dan
Kesehatan
8 Pembina PNS Produktif
Anirozita, [Link] VI/a Administrasi
Perkantoran
9 Alexzeven, [Link] Pembina PNS Bahasa Inggris
VI/a
10 Pembina PNS Matematika Waka
Salim Ahmad [Link] VI/a Kurikulum
dan Sarana
Prasarana
11 Penata PNS Pendidikan Kepala
Ismaneli [Link] Tk.I Pancasila dan Pustaka
III/d Kewarganegar
aan
12 Penata PNS Produktif Waka
Nini Loma, [Link] Tk.I Administrasi Kesiswaan
III/d Perkantoran dan Humas
13 Darmiwanti, [Link], Penata PNS Pendidikan
[Link] Tk.I Agama dan
III/d Budi Pekerti
14 Penata PNS Sejarah
Irwan Setiawan,[Link] Tk.I
III/d
15 Penata PNS Pendidikan
Wahirza, [Link] Tk.I Pancasil dan
III/d Kewarganegar
aan
16 Nengsih Mulia, [Link] Penata PNS Matematika
III/c
17 Penata PNS Produktif. Ketua
III/c [Link]. Program
Rahimah Rahmita, Jaringan Keahlian
[Link], [Link] Teknik
Komputer
dan
Informasi
53

18 Wetria, [Link], Gr, Penata PNS Produktif


MM III/c Akuntansi dan
Keuangan
19 Penata PNS Produktif Ketua
Muda Administrasi ProgramKe
Desnawati, [Link] Tk.I Perkantoran ahlian
III/b Manajemen
Perkantora
n
20 Penata PNS Bahasa
Lindawati, [Link] Muda Indonesia
Tk.I
III/b
21 Penata PNS Produktif
Entita, [Link] Muda Akuntansi dan
Tk.I Keuangan
III/b
22 Penata PNS Produktif
Siti Ulfah, [Link] Muda Adm.
Tk.I Perkantoran
III/b
23 Penata PNS Ketua
Muda Prod. Teknik Program
Nicko Sidharta, [Link] Tk.I Keahlian
Sepeda Motor
III/b Teknik
Otomotif
24 Penata PNS Bahasa inggris
Rivo Septian, [Link] Muda
Tk.I
III/b
25 Feri Rahmandhani, Penata CPNS Prod. Teknik
[Link] Muda Sepeda Motor
III/a
26 - Honor Bahasa Jepang Guru
Chika Falda Pasaribu Produktif Honorer
S.S Kreatif dan
Kewirausahaa
n
27 Mardi Yenti,[Link], Gr - Honor Produktif Guru
Akuntansi Honorer
54

Keuangan
28 Rezy Afriani,[Link], - Honor Produktif Guru
Gr Adm. Honorer
Perkantoran
29 Mefri Mayta, [Link] - Honor Matematika Guru
Honorer
30 - Honor Produktif Guru
Akuntansi dan Honorer
Keuangan
Norrahmah, [Link], Gr Produktif
Kreatif dan
Kewirausahaa
n
31 Lastri Oktalia, [Link] - Honor Bahasa Guru
Indonesia Honorer
32 Saiful Yeri, [Link], - Honor Pendidikan Guru
[Link] Agama dan Honorer
Budi Pekerti
33 - Honor Produktif Guru
Akuntansi dan Honorer
Ica Indrayani, [Link], Keungan
Gr Produktif
Kreatif dan
Kewirausahaa
n
34 M. Fajri Kurnia. AR, - Honor Prod. Teknik Guru
[Link] Komputer dan Honorer
Jaringan
35 Mutia Syahri, [Link], - Honor Produktif Guru
Gr Adm. Honorer
Perkantor
36 M. Fajri, [Link] - Honor Bimbingan Guru
Konseling Honorer
37 - Honor Prod. Teknik Guru
Elya Saputri, [Link] Komputer dan Honorer
Jaringan
38 Afriana. M, [Link] - Honor Bahasa Inggris Guru
Honorer
39 Andrianto, [Link] - Honor Produktif Guru
Teknik dan Honorer
55

Bisnis Sepeda
Motor
40 - Honor Produktif Guru
Alim Saputra, [Link] Teknik dan Honorer
Bisnis Sepeda
Motor
41 Ilham Oktaviani, - Honor Bahasa Guru
[Link] Indonesia Honorer

42 Fatmalisa, [Link] - Honor Seni Budaya Guru


Honorer
43 Elwis Susanti, [Link] - Honor Bimbingan Guru
Konseling Honorer
44 - Honor Pendidikan Guru
Riri Afrilla Sandi, [Link] Jasmani, Olah Honorer
Raga dan
Kesehatan
45 Wilma Agustin, [Link] - Honor Kimia Guru
Honorer
46 - Honor Prod. Teknik Guru
Muhammad Hanafi, [Link]
Komputer dan Honorer
Jaringan
47 - Honor Pendidikan Guru
Afrikardo, [Link]
Agama dan Honorer
Budi Pekerti
48 - Honor Produktif Guru
Roky Tri Satria, [Link] Teknik dan Honorer
Bisnis Sepeda
Motor
49 - Honor Kepala Tenaga Pegawai
Reni Erawati Administrasi Honor
Sekolah
50 - Honor Tenaga Urusan Pegawai
Dewi Putri Darmi, Administrasi Honor
S.E Persuratan dan
Pengarsipan
51 Hastarita Manurung, - Honor Tenaga Urusan Pegawai
[Link] IT Honor

52 Neri Daffika - Honor Tenaga Urusan Pegawai


56

Administrasi Honor
Kepegawaian
53 - Honor Tenaga Urusan Pegawai
Agustin Rahmi, [Link] Administrasi Honor
Sarana dan
Prasarana
54 Yon Hendra Dt. - Honor Penjaga Pegawai
Bandaro diaua Sekolah Honor

55 - Honor Tenaga Urusan Pegawai


Itmawati Admistrasi Honor
Kesiswaan
56 Muhammad Rizal - Honor Keamanan Pegawai
Honor
57 Angga Apriono Eka - Honor Teknisi Pegawai
Putra Honor

58 Arisman - Honor Caraka Pegawai


Honor
59 - Honor Petugas Pegawai
Febrimadona Bissines Honor
Centre
60 - Honor Tenaga Urusan Pegawai
Asnum, S.H. Administrasi Honor
Keungan
61 Muhammad Alviqi - Honor Tenaga Pegawai
Perpustakaan Honor

Sumber: TU SMK N 1 Baso

B. Kreativitas Guru PAI dalam Menggunakan Media Pembelajaran pada Masa

Pandemi Covid 19 di SMK Negeri 1 Baso Kabupaten Agam

a. Strategi pendukung kreativitas pembelajaran guru

Kreativitas merupakan suatu kemampuan untuk meningkatkan daya pikir

dalam menciptakan atau menghasilkan hal-hal baru, dan pelaksanaan suatu


57

aktivitas lebih bersifat aktif, dinamis, serta menggairahkan sehingga pencapaian

kualitas hasil sesuai dengan yang diharapkan. Kreativitas guru merupakan hal

penting dalam pembelajaran dan bahkan dapat menjadi pintu masuk dalam upaya

meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa.

Saat sekarang ini Covid 19 masih merajalela di mana-mana. Untuk

memutus mata rantai Covid ini maka pelaksanaan belajar mengajar masih di

lakukan secara daring. Di SMK Negeri 1 Baso proses belajar mengajar juga

dilakukan secara daring, pembelajaran dilakukan melalui WatsApp, Google

Clasroom, Zoom Meeting dan lainnya. Melihat kondisi seperti ini maka guru PAI

harus kreatif dalam menggunakan media pembelajaran yang akan digunakan

dalam proses pembelajaran, karena pembelajaran sekarang tentunya akan berbeda

dengan yang sebelumnya. Yang semula pembelajaran dilakukan secara tatap

muka langsung, tetapi sekarang dilakukan secara daring/ online dengan ketentuan

harus bisa menggunakan IT. Maka di sinilah kreativitas guru sangat dibutuhkan.

Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan guru PAI yaitu

ibu Darmiwanti, pada hari Selasa, tanggal 27 Oktober 2020, beliau mengatakan

bahwa:
58

“ Proses belajar mengajar di SMK Negeri 1 Baso dilakukan secara

daring, karena masih berada pada masa pandemi Covid 19. Proses belajar

mengajar dilakukan melalui WhatsApp, Google Classroom. Selama proses

belajar daring ini ibuk menemukan berbagai permasalahan seperti peserta

didik yang tidak memiliki paket/ kouta internet mereka tidak aktif dalam

clasroom. Tentunya mereka tidak efektif dalam mengikuti pembelajaran

yang ibuk berikan.”50

Sejalan dengan itu penulis juga melakukan wawancara dengan

bapak Afrikardo, beliau mengatakan bahwa:

“ Proses belajar mengajar di SMK Negeri 1 Baso saat ini

dilaksanakan secara daring yaitu proses pembelajaran dilakukan

melalui WatsApp, Google Clasroom, Zoom Meeting, E-mail,

bahkan lewat telpon, karena masih dalam masa pandemi Covid 19.

Selama belajar daring ini, bapak menemukan berbagai bentuk

kesulitan, seperti terjadinya masalah pada jaringan, kurangnya

simpati siswa dalam melaksanakan tugas yang diberikan,

50
Darmiwanti, guru mata pelajaran PAI di SMK Negeri 1 Baso, pada tanggal 27 Oktober 2020
59

kurangnya pengawasan dari orang tua, dan terutama pada kouta

internet.”51

Begitu juga dengan bapak Saiful Yeri, beliau menyatakan

bahwa:

“selama pandemi ini peroses belajar mengajar dilakukan

secara daring, yaitu melalui WhatsApp, Google Clasroom, Aplikasi

pandicam. Selama pembelajaran daring bapak menemukan

beberapa kendala seperti siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran

secara during karena terkendala kuota internet, terhalang masalah

jaringan yang susah, dan keterbatasan waktu untuk penyampaian

pelajaran.”52

Berdasarkan keterangan dari guru guru PAI di atas dapat penulis pahami

bahwasanya pembelajaran secara daring banyak memberikan kesulitan, baik itu

bagi guru PAI itu sendiri maupun peserta didik. Karena kita ketahui bahwa tidak

semua dari peserta didik itu mempunyai kemampuan dalam hal ekonomi.

Contohnya saja di dalam keluarga itu masih ada yang menggunakan hp satu

51
Afrikardo, guru mata pelajaran PAI di SMK Negeri 1 Baso, pada tanggal 27 Oktober 2020
52
Saiful Yeri, guru mata pelajaran PAI di SMK Negeri 1 Baso, pada tanggal 27 Oktober 2020
60

bersama, masalah keuangan untuk membeli paket, belum lagi daerah yang masih

jauh tertinggal, dalam arti kata susah sinyal/ jaringan internet.

Mengenai berbagai permasalahan yang terjadi, narasumber memberikan

solusi supaya proses pembelajaran tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Narasumber menyatakan bahwa “ Bagi peserta didik yang tidak memiliki hp/

laptop, tidak memiliki kouta internet, boleh melakukan pembelajaran secara luring

yaitu menjemput tugas ke sekolah dengan syarat harus mematuhi protokol

kesehatan yaitu harus memakai masker dan ibuk memberikan batas waktu

pengumpulan.”53

Senada juga dengan bapak Afrikardo, beliau juga memberikan penjelasan

mengenai solusi dari permasalahan yang ada kepada penulis, bahwa “ bagi peserta

didik yang yang tidak memiliki kouta internet, boleh melalui telpon, atau

menjemput tugas ke sekolah, dengan syarat harus mematuhi protokol kesehatan

yaitu dengan menggunakan masker dan bapak memberi batas waktu pengumpulan

tugas.”54

Bapak Saiful Yeri juga menyatakan bahwa, “bagi siswa yang susah untuk

belajar daring, maka diberikan solusi agar belajar bersama dengan temannya atau

53
Darmiwanti, guru mata pelajaran PAI di SMK Negeri 1 Baso, pada tanggal 27 Oktober 2020
54
Afrikardo, guru mata pelajaran PAI di SMK Negeri 1 Baso, pada tanggal 27 Oktober 2020
61

siswa tersebut pergi ke sekolah untuk menjemput tugas dan mengantarkannya

kembalin ke sekolah sesuai waktu yang bapak tentukan.”55

Dapat diketahui dari penjelasan guru PAI di SMK 1 Baso bahwasanya

bagi peserta didik yang terkendala dalam masalah hp ataupun paket internet,

boleh melakukan pembelajaran secara luring, yaitu dengan menjemput tugas ke

sekolah dengan ketentuan harus mematuhi protokol kesehatan yaitu dengan

memakai masker dan tugas dikumpulkan pada waktu yang telah di tentukan guru.

Hal ini tentu sangat memberikan kemudahan bagi peserta didik yang tidak

memiliki kuota internet ataupun hp dan laptop.

Untuk menambah dan memperluas wawasan serta pengetahuan dalam

melaksanakan proses pembelajaran daring, upaya apakah yang ibuk lakukan? Ibu

Darmiwanti menjawab bahwa: “yaitu dengan webinar pembelajaran daring,

mengikuti pelatihan guru pembelajaran Sumatera Barat, media pembelajaran

Kementrian RI, serta melalui pelatihan di youtube.”

Demikian juga dengan bapak Afrikardo, beliau menyatakan bahwa: “untuk

menambah dan memperluas wawasan serta pengetahuan selama pembelajaran

daring bapak mempelajari terlebih dahulu aplikasi yang akan digunakan untuk

55
Saiful Yeri, guru mata pelajaran PAI di SMK Negeri 1 Baso, pada tanggal 27 Oktober 2020
62

proses pembelajaran, mendatangkan tim pemateri dari pengawas padang, yaitu

bapak Gamal, serta menambah wawasan dari media internet.”

Sejalan dengan itu, penulis juga mendapat penjelasan dari bapak Saiful

Yeri, yang menyatakan bahwa, “untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan

mengenai pembelajaran daring, bapak memperbanyak membaca, mencatat hal-hal

penting.”

Dapat penulis pahami bahwa dalam melakukan proses pembelajaran

daring, tentunya guru PAI harus kreatif dalam menggunakan media pembelajaran

yang berbasis IT, dengan melakukan berbagai cara dan usaha untuk

memahaminya, baik itu belajar secara mandiri melalui internet seperti di youtobe,

belajar bersama rekan kerja, maupun dari ide kreatif dari diri sendiri, serta

memperbanyak membaca dan mencatat hal-hal penting.

Selanjutnya cara yang dilakukan dalam mengembangkan komunitas kelas

untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif. Menurut ibuk

Darmiwanti, beliau menyatakan bahwa “sampai saat sekarang ini, dalam

pembelajaran PAI belum bisa membuat komunitas kelas yang kondusif, karena

terkendala oleh paket siswa, usaha yang dilakukan baru sampai materi biasa

dipelajari siswa dan adanya cek sholat ketika ujian MID daring.”
63

Sedangkan penjelasan dari bapak Afrikardo, beliau menyatakan bahwa,

“untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, bapak terlebih dahulu

mengambil absen siswa, share materi yang akan dipelajari, memberi batasan

pengumpulan tugas serta memberikan kesimpulan setelah pembelajaran

berlangsung.”

Selanjutnya penulis mendapat jawaban dari bapak Saiful Yeri, “walaupun

dalam keadaan terbatas bapak tetap melaksanakan pembelajaran yang kondusif

selama pandemi covid 19.”

Berdasarkan penjelasan di atas dapat penulis pahami bahwasanya dalam

mengembangkan komunitas kelas untuk menciptakan suasana pembelajaran yang

kondusif, guru PAI tetap berusaha agar pembelajaran tetap berjalan kondusif

walaupun masih terdapat kendala pada paket/ kouta dari siswa itu sendiri.

Untuk mengembangkan kreativitas yang dimiliki guru PAI di SMK Negeri

1 Baso dalam pelaksanaan proses belajar daring, ibuk Darmiwanti menjelaskan

bahwa: “ usaha yang ibuk lakukan untuk mengembangakn kreativitas yang ibuk

miliki yaitu dengan cara membuat modul sendiri, lalu ibuk bagikan kepada siswa,

serta membuat video-video yang sesuai dengan materi pembelajaran yang akan
64

diajarkan kepada siswa, suapaya pembelajaran lebih menarik dan tidak

membosankan peserta didik.”

Sejalan dengan itu, bapak Afrikardo juga memberikan pernyataan, bahwa”

saya mengembangkan kreativitas yang dimiliki supaya pembelajaran lebih

kondusif yaitu dengan cara memberikan video yang berkaitan dengan materi yang

akan diajarkan kepada peserta didik.”

Dapat penulis pahami bahwasanya dalam mengembangkan kreativitas

yang dimiliki guru PAI di SMK N 1 Baso dilakukan dengan cara yang menarik,

seperti membuat video yang sesuai dengan materi pembelajaran, membuat modul

untuk mempermudah peserta didik memahami materi yang akan dipelajari.

Selanjutnya untuk mengetahui pemahaman peserta didik selama belajar

daring, evaluasi apa saja yang ibuk berikan? Ibuk Darmiwanti menjawab: “untuk

mengetahui pemahaman peserta didik terhadap materi yang ibuk berikaan adalah

memberikan tugas kepada peserta didik yaitu dengan cara menganalisa video

pembelajaran yang ibuk berikan serta memberi quiz yang berkaitan dengan materi

yang telah dipelajari.”

Pertanyaan serupa penulis lontarkan kepada bapak Afrikardo, beliau

menjawab: “untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang bapak


65

ajarkan yaitu dengan cara menugaskan siswa untuk membuat ringkasan dan dari

hasil ringkasan itulah bapak mengetahui apakah siswa itu paham dengan materi

yang telah bapak ajarkan serta memberikan quiz.”

Kemudian jawaban dari bapak Saiful Yeri yang menyatakan bahwa,

“ untuk mengetahui pemahaman siswa, bapak memberikan tugas secara lisan dan

tulisan kepada mereka.”

Jadi, berdasarkan penjelasan dari guru PAI di atas dapat penulis pahami

bahwa untuk mengetahui pemahaman dari siswa mengenai pembelajaran yang

diberikan adalah dengan cara memberi penugasan berupa menganalisa video,

ringkasan materi, serta quiz.

b. Penggunaan media pembelajaran

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan

untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang

pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta kemauan peserta didik

sedimikian rupa sehingga proses belajar terjadi dalam rangka mencapai

tujuan pembelajaran secara efektif.

Media pembelajaran sangatlah diperlukan dalam proses belajar

mengajar, supaya pembelajaran lebih berjalan kondusif dan


66

menyenangkan. Terlebih pada masa pandemi ini, media sangatlah

dibutuhkan untuk mendukung proses pembelajaran, karena proses belajar

mengajar dilakukan secara daring. Jadi guru PAI harus kreatif dalam

menggunakan media yang sesuai dengan materi pelajaran yang akan

disampaikan kepada siswa, dengan memperhatikan tipe belajar siswa.

Hasil wawancara penulis dengan ibuk Darmiwanti mengenai

penggunaan media pembelajaran selama masa pandemi, beliau

menerangkan bahwa: “dalam proses belajar mengajar secara daring ibuk

menggunakan media berbasis IT, seperti WhatsApp, Google Clasroom.

Dalam menggunakan media ini, tentunya terlebih dahulu mencocokkan

dan memilih media yang sesuai dengan materi yang akan di sampaiakan.

Maka sinilah ibuk akan menggunakan ide kreatif yang ibuk miliki

semaksimal mungkin.“

Bapak Afrikardo juga menyatakan, bahwa “selama proses belajar

daring, bapak menggunakan berbagai media berbasis IT untuk mendukung

proses pembelajaran, seperti WhatsApp, Email, Google Clasroom, bahkan

juga boleh melalui telpon.”


67

Sejalan dengan itu, bapak Saiful Yeri juga menyatakan bahwa,

“proses belajar mengajar selama pandemi ini dilakukan dengan daring,

dengan menggunakan media berbasis IT seperti WhatsApp, Email, Google

Clasroom.”

Jadi, berdasarkan pernyataan guru di atas, dapat penulis pahami

bahwasanya guru PAI sudah kreatif dalam menggunakan media

pembelajaran, karena media yang digunakan tidak hanya satu media saja

dalam proses penyampaian materi ajar. Dalam penggunaan media ini, guru

terlebih dahulu harus memperhatikan materi yang akan diberikan dan

mencari/ membuat media yang sesuai dengan materi tersebut. Dalam

pembelajaran selama daring, guru PAI di SMK N 1 Baso memanfaatkan

media berbasis IT seperti WhatsApp, Google Clasroom, Email.

c. Teknik pengembangan kreativitas

Dalam mengembangkan kreativitas, tentu kita butuh yang namanya

teknik atau cara supaya kreativitas yang kita miliki dapat dikembangkan

secara efektif dan efisien. Dalam hal ini, teknik pengembangan kreativitas

yang dimaksud adalah dalam penggunaan media pembelajaran pada masa

pandemi Covid 19 di SMK N 1 Baso Kabupaten Agam.


68

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan guru PAI yaitu ibuk

Darmiwanti, beliau menyatakan bahwa: “dalam menggunakan media

pembelajaran, tentunya terlebih dahulu kita merancang media apa yang

akan digunakan, dalam pemilihan dan merancang sebuah media, ibuk

selalu menggunakan ide kreatif yang ibuk miliki supaya hasilnya nanti

akan maksimal, terlebih dahulu ibuk melihat dan memahami materi yang

akan diberikan, dengan memperhatikan KD, indikator, mengambil

referensi dari google, buku paket dan youtube. Ibuk mendesain media

pembelajaran yaitu melalui power point, video pembelajaran, dan e

modul. ”56

Sejalan dengan itu, penulis juga mendapatkan hasil wawancara dari

bapak Afrikardo, bahwa: “ dalam merancang/ mendesain media

pembelajaran, tentu harus kreatif. Bapak terlebih dahulu melihat materi

yang akan diajarkan, kemudian materi tersebut disesuaikan dengan media

yang akan digunakan, menyiapkan point point yang akan disampaiakan

kepada siswa, dan dalam merancang media harus sesuai dengan materi,

dalam arti kata media yang dibuat tergantung kepada materi. Bapak

56
Darmiwanti, guru mata pelajaran PAI di SMK Negeri 1 Baso, pada tanggal 27 Oktober 2020
69

mendesain media pembelajaran lewat aplikasi video pembelajaran, power

point.”57

Bapak Saiful Yeri juga menyatakan bahwa: “dalam mendesain

media pembelajaran, bapak beruhasa untuk kreatif yaitu bapak

menggunakan aplikasi pandicame untuk membuat video pembelajaran,

power point, sebelum di desain terlebih dahulu bapak memperhatikan

indikator, KD materi yang akan di diajarkan.”58

Jelas bagi penulis dari pernyataan guru PAI di atas, bahwasanya

dalam merancang dan mendesain suatu media pembelajaran haruslah

kreatif, dengan mengikuti aturan aturan yang telah ada seperti

memperhatikan indikator, kd, dari materi yang akan disampaikan, supaya

media yang digunakan juga sesuai dengan materi yang disampaikan. Guru

PAI di SMK N 1 Baso mendesain media pembelajaran dengan

menggunakan powerpoint, e modul, dan video pembelajaran. Di sini

tampaklah kreativitas dari gru PAI, karena sudah mampu mendesain

beragam media pembelajaran.

57
Afrikardo, guru mata pelajaran PAI di SMK Negeri 1 Baso, pada tanggal 27 Oktober 2002
58
Saiful Yeri, guru mata pelajaran PAI di SMK Negeri 1 Baso, pada tanggal 27 Oktober 2020
70

Selanjutnya dalam penggunaan / penerapan media pembelajaran

yang telah di desain/ dibuat, penulis juga menanyakan kepada ibuk

Darmiwanti tentang bagaimana menggunakan media yang telah di desain

dalam proses pembelajaran, ibuk Darwiwanti memberi penjelasan:

“ bahwa dalam menggunakan media yang telah ibuk desain, ibuk lakukan

melalui google clasroom pada tugas siswa yang akan diberikan, dan juga

melalui WhatsApp.”

Seiring dengan itu, bapak Afrikardo juga memberikan penjelasan

tentang penggunaan media pembelajaran, beliau menyatakan bahwa

“ dalam menggunakan media pembelajaran yang telah bapak desain,

bapak juga mengaplikasikannya dalam google clasroom, dan WhatsApp

pada materi pelajaran yang akan bapak berikan kepada siswa.”

Selanjutnya penjelasan dari bapak Saiful Yeri, yang menyatakan

bahwa, “ setelah bapak mendesain media pembelajaran untuk suatu materi

ajar, kemudian bapak mengirim video yang telah dibuat ke grup kelas

yaitu WhatsApp untuk dipelajari siswa.”

Jadi, dapat penulis pahami bahwa dalam menggunakan media

pembelajaran yang telah di desain, guru PAI mengaplikasikannnya melalui


71

google clasroom serta WhatsApp pada materi ajar yang akan diberikan

kepada siswa. Menurut persepsi dari penulis, guru PAI sudah

mengembangkan kreativitas yang dimilikinya denga baik, jadi sudah bisa

dikatakan bahwa guru-guru PAI di sini kreatif dalam menggunakan media

pembelajaran pada masa pandemi covid 19.

Dari hasil wawancara penulis dengan guru guru PAI di SMK

Negeri 1 Baso dapat dipahami bahwasanya selama pembelajaran pada

masa pandemi Covid 19 ini tidaklah berjalan secara mulus seperti

pembelajaran sebelumnya, masih banyak ditemukan kendala kendala yang

dapat menghalangi pembelajaran secara kondusif dan efektif. Karena

pembelajaran pada masa pandemi ini dilakukan secara daring yaitu

pembelajaran dilakukan secara online, tentunya di sini guru PAI haruslah

bisa dan kreatif dalam menggunakan media pembelajaran yang berbasis IT.

Supaya hasil yang diperoleh nantinya bisa maksimal. Meskipun

sebenarnya guru PAI masih kurang mengusai IT, tetapi guru PAI di

sekolah itu selalu berusaha untuk mempelajari semaksimal mungkin, baik

itu belajar secara mandiri, dengan rekan-rekan kerja, ataupun


72

mendatangkan pemateri untuk menambah wawasan mengenai

pembelajaran secara daring dan IT.

Di SMK Negeri 1 Baso selain melakukan proses pembelajaran

secara daring, juga ada proses belajar mengajar secara luring yaitu dengan

cara siswa menjemput tugas ke sekolah dengan syarat harus mematuhi

protokol kesehatan yaitu dengan menggunakan masker, dan guru

memberikan batas waktu pengumpulan tugas yang diberikan.

Pembelajaran secara luring ini dilakukan bagi siswa yang tidak memiliki

fasilitas yang cukup untuk melakukan belajar secara daring, seperti tidak

memiliki hp/ laptop masih satu bersama di dalam keluarga tersebut, tidak

memiliki kouta internet karena faktor ekonomi, daerah tempat tinggal

yang tidak terjangkau oleh jaringan internet atau telpon. Tentunya ini

sangatlah memberikan kemudahan bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas

yang cukup tersebut.

Adapun kendala yang ditemukan guru PAI selama pembelajaran

daring adalah pada jaringan internet, kouta dari siswa, masih ada siswa

yang tidak mengumpulkan tugas tepat waktu. Tetapi untuk mengetahui

apakah kendala itu memang benar benar terjadi, usaha yang dilakukan
73

pihak sekolah adalah melakukan pengecekan dengan cara menurunkan tim

BK ke rumah rumah siswa yang bermasalah, serta memanggil orang tua ke

sekolah. Selanjutnya dengan memberikan reward dan punishment

terhadap siswa.

Selanjutnya hasil wawancara penulis dengan beberapa

orang siswa di SMK Negeri 1 Baso, secara umum dapat disimpulkan

bahwasanya guru PAI di SMK kreatif dalam menggunakan media

pembelajaran, karena menggunakan media sudah lebih dari satu. Dalam

proses pembelajaran daring mereka menemukan beberapa kendala seperti,

jaringan yang bermasalah, kouta internet yang tidak mencukupi, kurang

paham dengan penggunaan google clasroom, karena itu mereka tidak bisa

mengikuti pembelajaran daring. Walaupun demikian, guru SMK Negeri 1

Baso memberikan kemudahan kepada siswa yg susah mengikuti

pembelajaran daring yaitu dengan pembelajaran luring atau melakukan

proses pembelajaran dengan menjemput dan mengantarkan tugas ke

sekolah. Dalam pembelajaran mereka mengakui bahwasanya guru PAI

selalu bersifat terbuka dalam penilaian yang diberikan, serta guru PAI
74

selalu memberi mereka motivasi untuk selalu semangat dalam belajar

walaupun pembelajaran dilakukan secara daring.


75

BAB V

PENUTUP

Pada bab ini penulis akan menyimpulkan hasil pembahsan dan

penelitian yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, dan juga sedikit

saran yang akan menjadi bahan perbaikan pada masa yang akan datang

yang berkaitan dengan skripsi ini.

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini didapati bahwa kreativitas guru PAI

di SMK Negeri 1 Baso Kabupaten Agam, tergolong baik dikarenakan guru

mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK N egeri 1 Baso

Kabupaten Agam telah menggunakan media pembelajaran dengan kreatif

dan baik sesuai dengan ketentuan dan langkah langkah strategi pendukung

kreativitas guru serta teknik pengembangan kreativitas dalam

menggunakan media, seperti dalam hal pemilihan media yang tepat,

mendesain media, serta dalam penggunaan media itu sendiri.

Sejalan dengan itu, masih terdapat sedikit kekurangan dalam hal

penggunaan media pembelajaran, karena tidak semua siswa bisa

mengikutinya, hal ini disebabkan karena kurangnya fasilitas oleh siswa


76

seperti kouta internet, hp. Walaupun demikian, guru PAI memberikan

kemudahan kepada siswa yaitu dengan melakukan proses pembelajaran

secara luring, yaitu dengan menjemput dan mengantar tugas ke sekolah

sesuai dengan waktu yang ditentukan dengan mengikuti protokol

kesehatan, yaitu dengan memakai masker.

B. Saran

Sebelum penulis mengakhiri penulisan skripsi ini, penulis ingin

memberikan sedikit saran-saran sebagai berikut:

1. Kreativitas Guru PAI di SMK Negeri 1 Baso Kabupaten Agam

sudah baik, tetapi penulis berharap supaya guru PAI terus

mengembangkan kreativitas yang dimiliki dengan cara belajar lebih

banyak lagi mengeai IT untuk proses pembelajaran baik ketika masih

belajar daring maupun untuk nantinya belajar secara normal kembali.

2. Saran untuk orang tua supaya selalu mengingatkan dan

mendukung proses pembelajaran anak di rumah, dan sebaiknya dalam

proses pembelajaran tidak hanya diserahkan kepada guru di sekolah saja.

Karena pembelajaran siswa akan lebih efektif jika didalam nya ada

kerjasama antara guru dan orang tua.


77

3. Saran bagi peserta didik, agar selalu mengikuti semua arahan

yang diberikan oleh guru dan fokus pada pembelajaran. Karena ilmu yang

diberikan oleh guru saat ini sangatlah berguna dan bermanfaat di masa

sekarang dan masa yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA

Agung, Iskandar. 2010. Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bagi Guru. Jakarta:


Bestari Buana Murni.
Alfiyanti, Dina, Tim Esensi. 2016. Cara Kreatifku Mengajar. Erlangga.

Asep. 2013. Kreativitas Guru Agama Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan


Agama Islam. UIN Syarif Hidayatullah.
Damayanti, Aisyah. 2006. Kreativitas Guru PAI dalam Membangun Sikap
Kesalehan Sosial Peserta Didik di SMP Muhammadiyah Boarding (MBS)
Prambanan, Sleman.
Gunawan, Imam. 2015. Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Jakarta:
Bumi Aksara.
Hawi, Akmal. 2013. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam. Jakarta:
Rajawali Pers.
Http://REPO/.[Link]/4459/3/BAB%[Link].jm15.33
Marno, M, Idris. 2014. Strategi, Metode, dan Teknik Mengajar Menciptakan
Keterampilan Mengajar yang Efektif dan Edukatif. Jakarta: Ar-Ruzz
Media.
Mudyahardjo, Redja. 2014. Pengantar Pendidikan Sebuah Studi Awal tentang
Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia .
Jakarta: Rajawali Pers.
Mujtahid. 2011. Pengembangan Profesi Guru, UIN-Maliki Press.
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta:
Rineka Cipta.
Okta Riri. Pengembangan Media Pembelajaran Digital IPA di SMP N 3
Kecamatan Pangkalan. Vol 4, No. 2. Juli-Desember 2019. (Institut Agama Islam
Negeri Bukittinggi).

Pianda, Didi. 2018. Kinerja guru: kompetensi guru, motivasi kerja dan kepempinan
kepala sekolah. Jawa Barat: CV Jejak

Rohidin, Ryan Zeini, dkk. 2015. Model Pembelajaran PAI Berbasis E-Learning.
Universitas Negeri Jakarta, vol.11, No. 2.
Sadirman Arief(dkk). 1996. Media Pendidikan, Jakarta: Rajawali Press.
79

Sari, Rahmahidayati. 2018. Metodologi Penelitian. Bukittinggi: Suci Percetakan


dan Photocopy.
80

Sudjana, Nana, Rivai Ahmad. 2009. Media Pengajaran ( Penggunaan dan Pembuatannya). Bandung:
Sinar Baru Algensindo.

Sugala, Syaiful. 2008. Konsep dan Makna Pembelajaran, Untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Suyadi. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 1 Lais
Kecamatan LaisKabupaten Musi Banyuasin, Jurnal, 2014
Tambak, Syahraini. 2014. PendidikanAgama Islam Konsep Metode Pembelajaran PAI.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Zainiyati, Husniyatus Salamah. 2017. Pengembangan Media Pembelajaran Agama Islam

Anda mungkin juga menyukai