A.
Landasan Historis konsep Behavioristik
Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari
luar. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan
interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.
Konseling behavioristik membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan
dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu kepedulian dari para konselor
sebagai kriteria pengukuran keberhasilan konseling.
Menurut pandangan ini manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar seperti yang
dikemukakan oleh freud. Sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi
kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Karakteristik konseling behavioral adalah :
a. Berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik.
Pendekatan ini tidak didasari oleh teori tertentu yang khusus, hal utama yang harus
diperhatikan dan dilakukan dalam konseling ini adalah menyaring dan memisahkan tingkah laku
yang bermasalah itu dan membatasi secara khusus perubahan apa yang dikehendaki.
[Link] kecermatan dalam perumusan tujuan konseling.
Dalam hal ini, tugas konselor adalah membantu merinci dan memilih tujuan umum menjadi
tujuan khusus, konkrit, dan dapat diukur.
c. Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien.
Teknik-teknik tingkah laku berorientasi pada tindakan, oleh karena itu klien diharapkan
melakukan sesuatu bukan hanya memperhatikan secara pasif dan terlena dalam instropeksi saja.
Klien harus diajar untuk melakukan tindakan khusus apabila perubahan tingkah laku klien
diharapkan.
d. Penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling.
Sasaran tingkah laku yang akan diubah sudah diidentifikasi secara jelas, tujuan perlakuan
telah dirumuskan secara khusus, dan prosedur terapeutikpun telah dirinci secara sistematik.
Keputusan untuk menggunakan suatu teknik didasarkan atas keberhasilan teknik itu dalam
mendatangkan hasil, yaitu tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.
B. Hakekat Manusia Menurut Pendekatan Behavioristik
Pendekatan behavioral tidak mengesampingkan pentingnya hubungan klien/terapis atau
potensi klien untuk membuat pilihan-pilihan. Dari dasar pendekatan tersebut, dapat dikemukakan
beberapa konsep kunci tentang hakikat manusia sebagai berikut :
a. Tingkah laku manusia diperoleh dari belajar, dan proses terbentuknya kepribadian adalah melalui
proses kematangan dan belajar. Terbentuknya tingkah laku, baik positif maupun negatif
diperoleh dari belajar.
b. Kepribadian manusia berkembang bersama-sama dengan interaksinya dengan lingkungannya.
Interaksi yang dapat diamati antara individu dengan lingkungan, interaksi ini ditentukan
bentuknya oleh tujuan, baik yang berasal dari diri pribadi maupun yang dipaksakan oleh
lingkungan.
c. Setiap orang lahir dengan membawa kebutuhan bawaan, tetapi sebagian besar kebutuhan
dipelajari dari interaksi dengan lingkungan. Mula-mula individu banyak tergantung pada sumber
kepuasan eksternal, namun semakin matang kekuatan penguat internal semakin penting.
d. Manusia bukanlah hasil dari conditioning sosial/kultural mereka, namun sebaliknya manusia
adalah produser (penghasil) dan hasil dari lingkungannya. Kecenderungan saat ini adalah
mengarah pada prosedur perkembangan yang nyata memberikan pengontrolan pada diri para
klien.
e. Manusia tidak lahir baik atau jahat tetapi netral, bagaimana kepribadian seseorang dikembangkan
tergantung pada interaksinya dengan lingkungan. Dengan kata lain, dapat saja manusia menjadi
baik atau sebaliknya tergantung dari bagaimana ia belajar dalam interaksi dengan lingkungan.
f. Manusia mempunyai tugas untuk berkembang, dan semua tugas perkembang yang harus
diselesaikan dengan belajar. Hidup adalah serangkaian tugas yang dipelajari. Keberhasilan
belajar akan menimbulkan suatu kepuasan, sedangkan kegagalan berakibat ketidakpuasan dan
penolakan sosial.
C. Hakekat Konseling Behavioristik
Hakekat konseling menurut Behavioral adalah proses membantu orang dalam situasi
kelompok belajar bagaimana menyelesaikan masalah-masalah interpersonal, emosional, dan
pengambilan keputusan dalam mengontrol kehidupan mereka sendiri untuk mempelajari tingkah
laku baru yang sesuai.
Konseling dilakukan dengan menggunakan prosedur tertentu dan sistematis yang disengaja
secara khusus untuk mengubah perilaku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-
sama konselor dan konseli. Prosedur konseling dalam pendekatan behavior adalah ; penyusunan
kontrak, asesmen, penyusunan tujuan, implementasi strategi, dan eveluasi perilaku. Dengan
prosedur tersebut konseling/terapi behavior berorientasi pada pengubahan tingkah laku yang
maladaptif menjadi adaptif.
Konseling identik dengan pemberian bantuan, penyuluhan dan hubungan timbal balik
antara konselor (yang memberikan konseling) dan konseli (yang membutuhkan bantuan/klien).
Menurut Patterson, konseling memiliki ciri khas yang merupakan hakekat konseling. Ciri-ciri itu
adalah:
1. Konseling berurusan dengan upaya mempengaruhi perubahan tingkah laku secara sadar pada
pihak klien (klien mau mengubahnya dan mencari bantuan konselor bagi perubahan ini).
2. Tujuan konseling adalah mendapatkan kondisi-kondisi yang memudahkan perubahan secara
sadar (kondisi-kondisi dimaksud berupa hak-hak individual untuk membuat pilihan, untuk
mandiri dan “berswatantra”, autonomous).
3. Sebagaimana dalam sebuah hubungan, terdapat pembatasan-pembatasan tertentu bagi konseli
(pembatasan-pembatasan ditentukan oleh tujuan-tujuan konseling yang dipengaruhi oleh nilai-
nilai dan falsafah konselor).
4. Kondisi-kondisi yang memudahkan perubahan tingkah laku diperoleh melalui wawancara-
wawancara (tidak seluruh konseling adalah wawancara, tetapi konseling selalu melibatkan
wawancara).
5. Mendengarkan (dengan penuh perhatian) berlangsung dalam konseling tapi tidak seluruh
konseling melulu mendengarkan.
6. Konselor memahami kliennya (perbedaan antara cara orang-orang lain dengan cara konselor
dalam melakukan pemahaman lebih bersifat kualitatif ketimbang kuantitatif dan pemahaman
belaka tidak menjadi pembeda antara situasi konseling dengan situasi lain).
7. Keberadaan konseling bersifat pribadi (privacy) dan diskusi atau pembicaraan bersifat rahasia,
dasarnya bersifat rahasia (confidential).
D. Tujuan Konseling Behavioristik
Tujuan konseling behavior adalah mencapai kehidupan tanpa mengalami perilaku
simtomatik, yaitu kehidupan tanpa mengalami kesulitan atau hambatan perilaku, yang dapat
membuat ke tidak puasan dalam jangka panjang atau mengalami konflik dengan kehidupan
sosial.
Tujuan konseling behavior adalah untuk membantu konseli membuang respon-respon yang
lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat.
Jadi tujuan konseling behaviour adalah untuk memperoleh perilaku baru, mengeliminasi
perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan
dalam jangka waktu lama. Adapun tujuan umumnya yaitu menciptakan kondisi baru untuk
belajar. Dengan asumsi bahwa pembelajaran dapat memperbaiki masalah perilaku.
Tujuan umum dari suatu terapi perilaku ialah membentuk kondisi baru untuk belajar, karena
melalui proses belajar dapat mengatasi masalah yang ada. Mengenai tujuan terapi perilaku,
Corey (1991) mengingatkan ada 2 konsepsi yang salah:
a) Bahwa tujuan tarapi adalah memindahkan gejala yang menjadi masalah dan karena itu akan
muncul gejala yang baru,karena akar dari persoalannya tidak [Link] ini dinilai tidak
benar,karena terapi memusatkan perhatian pada usaha menghilangkan perilaku yang tidak sesuai
denag perilaku yang [Link] tertuju pada perilaku yang terjadi pada saat sekarang dan
apa yang bisa untuk mengubahnya.
b) Konsepsi lain yang salah ialah bahwa tujuan pasien atau klien ditentukan atau dipaksakan oleh
terapisnya. Padahal tujuan atau konsepsi yang baru melibatkan pasien atau klien (aspek
kognitifnya) untuk ikut menentukan pilihan apa sasaran atau tujuan yang diinginkan.
Jika tujuan terapi dirumuskan dengan jelas, pasien atau klien akan bisa memperlihatkan kerja
samanya dalam ikut mengarahkan tujuan dari terapi. Kecuali itu dengan perumusan tujuan yang
jelas, memungkinkan dilakukan evaluasi terhadap hasilnya.
Teknik-teknik behavioristik tidak mengancam untuk menghapuskan atau mengurangi
kebebasan memilih. Tujuan-tujuan dari konseling behavioristik adalah :
Upaya menolong diri sendiri (self-help).
Meningkatkan ketrampilan-ketrampilan sosial klien.
Memperbaiki tingkah laku yang menyimpang dari klien.
Membantu setiap klien dalam mengembangkan suatu sistem pengaturan diri (self-management).
Klien dapat mengontrol nasibnya sendiri (self-control) baik didalam konseling maupun diluar
situasi konseling.
Tujuan menurut krumboltz hendaknya memperhatikan kriteria berikut :
Tujuan harus diinginkan klien.
Konselor harus beringinan untuk membantu klien mencapai tujuan.
Tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dinilai pencapainya oleh klien.
Ada tiga fungsi tujuan konseling behavior, yaitu :
[Link] refleksi masalah klien dan dengan demikian sebagai arah bagi proses konseling.
[Link] dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling,
[Link] kerangka untuk menilai konseling.
Tujuan konseling behavior berorientasi pada pengubahan atau modifikasi perilaku konseli,
yang di antaranya :
[Link] kondisi-kondisi baru bagi proses belajar
[Link] hasil belajar yang tidak adaptif
[Link] pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari
[Link] konseli membuang respon-respon yang lama yang merusak diri atau maladaptif dan
mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat dan sesuai (adjustive).
[Link] belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptive, memperkuat serta
mempertahankan perilaku yang diinginkan.
[Link] tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan bersama antara
konseli dan konselor.
Konselor perlu meyakinkan konseli bahwa kebahagiaannya bukan terletak pada proses
konseling tetapi pada perilaku dan keputusannya dan konseli adalah pihak bertanggung jawab
terhadap dirinya sendiri.
E. Karakteristik Behavioristik
1. Karakteristik konseling
Karakteristik konseling behavioral adalah sebagai berikut :
Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat pula dirubah.
Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat membantu dalam merubah
perilaku-perilaku yang releven, prosedur-prosedur konseling berusaha membawa perubahan-
perubahan yang releven dalam perilaku klien dengan merubah lingkungan.
Prinsip-prinsip belajar sosial, seperti misalnya “reinforcement” dan “social Modeling” dapat
digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan-perubahan dalam perilaku-
perilaku khusus diluar dari layanan konseling yang diberikan.
Prosedur-prosedur konseling tidak statik, tetap atau ditentukan sebelumnya, tetapi dapat secara
khusus di desain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah khusus.
2. Karakteristik konselor
Didalam konseling behavioral ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki konselor untuk
mencapai tujuan dalam proses konseling yaitu :
Konselor harus mengutamakan keseluruhan individual yang bertanggung jawab, yang dapa
memenuhi kebutuhannya.
Konselor harus kuat, yakin, dia harus dapat menahan tekanan dari permintaan klien untuk
simpati atau membenarkan perilakunya tidak pernah menerima alasan-alasan dari perilaku
irasional konseli.
Konselor harus sensitif terhadap kemampuan untuk memahami perilak orang lain.
Konselor harus dapat bertukar pikiran dengan konseli tentang perjuangannya dapat melihat
bahwa seluruh individu dapat melakukan secara bertanggung jawab termasuk ada saat yang sulit.
3. Karekteristik Konseli
Didalam konseling behavioral terdapat adanya peran konseli yang ditentukan dengan baik
dan menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi konseli dalam proses konseling.
Keterlibatan konseli dalam proses konseling dalam kenyataannya menjadi lebih aktif dan tidak
hanya sebagai penerima teknik-teknik yang pasif. Konseli didorong untuk berekspresimen
dengan tingkah laku yang baru sebagai pengganti tingkah laku yang salah suai.
F. Peran dan Fungsi Konselor Behavioristik
Hakikatnya fungsi dan peranan konselor terhadap konseli dalam teori behavioral ini
adalah :
1) Mengaplikasikan prinsip dari mempelajari manusia untuk memberi fasilitas pada
penggantian perilaku maladaptif dengan perilaku yang lebih adaptif.
2) Menyediakan sarana untuk mencapai sasaran konseli, dengan membebaskan seseorang dari
perilaku yang mengganggu kehidupan yang efektif sesuai dengan nilai demokrasi tentang hak
individu untuk bebas mengejar sasaran yang dikehendaki sepanjang sasaran itu sesuai dengan
kebaikan masyarakat secara umum.
G. Hubungan Konselor dengan Konseli dalam Pendekatan Behavioristik
Dalam kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini
bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan istilah-istilah
klien sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru. Sistem dan prosedur konseling
behavioral amat terdefinisikan, demikian pula peranan yang jelas dari konselor dan klien.
Klien harus mampu berpartisipasi dalam kegiatan konseling, ia harus memiliki motivasi
untuk berubah, harus bersedia bekerjasama dalam melakukan aktifitas konseling, baik ketika
berlangsung konseling maupun di luar [Link] hubungan konselor dengan klien
beberapa hal di bawah ini harus dilakukan:
a. konselor memahami dan menerima klien;
b. keduanya bekerjasama;
c. konselor memberikan bantuan dalam arah yang diinginkan klien.
H. Tahap Konseling Behavioristik
Berbicara tentang langkah-langkah dasar/tahap-tahap dalam proses konseling ditemukan
sejumlah bagian yang berbeda-beda. Mengapa identifikasi ini dilakukan adalah untuk
mengajarkan ketrampilan-ketrampilan konseling. Walaupun pembagiannya berbeda-beda dapat
ditemukan lima tahap pokok yakni :
a) Assesment
Langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk
mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya, kekuatan dan kelemahannya, pola hubungan
interpersonal, tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya).
Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya
pada waktu itu. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang
akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.
b) Goal setting
Yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Berdasarkan informasi yang diperoleh
dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin
dicapai dalam konseling. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai
berikut :
(a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien
(b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling
(c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien :
1. apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien
2. apakah tujuan itu realistik
3. kemungkinan manfaatnya
4. kemungkinan kerugiannya
5. Konselor dan klien membuat keputusan apakah melanjutkan konseling dengan menetapkan
teknik yang akan dilaksanakan, mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai atau
melakukan referal.
c) Technique implementation
yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai
tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling.
d) Evaluation termination
yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan
mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.
e) Feedback
yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan
proses konseling.
I. Teknik-teknik Konseling Behavioristik
Seorang konselor harus memberikan rambu-rambu terhadap nilai atau keyakinan yang
konseli anut, membangkitkannya, mengingatkannya, kemudian bersama-sama menemukan
penjelasan dan bukti, resiko, data dan informasi kehidupan yang ia hadapi. Barulah konseli
diajarkan membuat keputusan, pilihan dan ketegasan sikap terhadap masalah yang ia hadapi.
Dengan kata lain konseli memahami dengan sendirinya perbedaan-perbedaan dan
keputusan yang ia ambil dengan sendirinya. Dan diharapkan konseli mempunyai keterampilan
ketegasan diri dalam menghadapi sebuah pilihan atau masalah hidup. Teknik yang digunakan :
1. Desensitisasi Sistematis
Mc. Kay (1981) menjelaskan bahwa desensitisasi merupakan alat yang dikembangkan
untuk menurunkan kecemasan dengan menggantikan kecemasan tersebut melalui respon
alternative yang berlawanan seperti relaksasi. Teknik ini bekerja atas dasar prinsip reciprocal
inhabitation (hambatan hubungan timbal balik) yaitu proses dimana suatu tingkat kecemasan
yang berlebihan dihambat dengan kecemasan.
Menurut Corsini dan Wedding (1989). Desensitisasi merupakan teknik relaksasi yang
berdasarkan pada imagery atau yang sering disebut dengan imagery Based Techniques.
Desensitisasi merupakan perlakuan yang tepat bagi reaksi cemas yang tidak realistis serta reaksi
cemas yang tidak terjadi karena seseorang tidak mengetahui bagaimana berperilaku dalam situasi
yang menimbulkan indikator dari aktivitas para simpatis. Proses ini digambarkan oleh Wolpe
sebagai counter conditioning.
Proses Desensitisasi:
a. Klien Individual.
b. Klien Kelompok.
2. Terapi Impulsif.
Dalam kamus Psikologi (J.P. Chaplin) terapi implusif adalah salah satu terapi tingkah laku
dimana disajikan perangsang-perangsang yang dapat menimbulkan kecemasan dalam imajinasi,
sedang pasien didorong dan diberanikan untuk mengalami kecemasan itu sehebat-hebatnya atau
sedalam mungkin. Karena situasinya tidak mengandung bahaya yang objektif, maka reaksi
kecemasannya tidak diperkuat, dan secara berangsur-angsur dapat dimusnahkan atau
dipadamkan.
Terapi ini dikembangkan berdasarkan atas asumsi bahwa seseorang yang secara berulang-
ulang dihadapkan pada suatu situasi pemicu kecemasan dan hal-hal yang menakutkan ternyata
konsekuensi yang diharapkan tidak muncul, akhirnya stimulus yang mengancam tidak memiliki
kekuatan dan neurotiknya menjadi hilang.
3. Latihan Perilaku Asertif
Latihan asertif dalam terapi tingkah laku merupakan teknik yang dipakai terapis dengan
menggunakan model-model pola tingkah laku yang tegas bagi kliennya. Latihan ini berguna
untuk membantu orang yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan
menyatakan “tidak”, atau mengungkapkan afeksi dan respon positif lainnya.
Cara yang digunakan adalah permainan peran dengan bimbingan konselor dan diskusi
kelompok.
4. Pengkondisian Aversi
Teknik pengkondisian aversi digunakan untuk meredakan perilaku yang tidak diinginkan
dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan sehingga perilaku yang tidak
diinginkan tidak muncul. Stimulus yang tidak menyenangkan diberikan secara bersamaan
dengan munculnya perilaku yang tidak diinginkan.
Stimulus-stimulus aversi biasanya berupa hukuman dengan sengatan listrik atau pemberian
ramuan yang membuat [Link] yang dapat dimodifikasi dengan teknik pengkondisian
aversi adalah perilaku maladaptif, seperti merokok, obsesi kompulsi, penggunaan zat adiktif,
penyimpangan seksual.
5. Pembentukan Perilaku Model.
Modeling dapat digunakan sebagai pembentukan perilaku baru dan mempertahankan atau
memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam teknik ini peran konselor difungsikan sebagai
penunjuk perilaku model yang harus ditiru. Sarana yang bisa dipakai sebagai model dapat
dilakukan dengan model audio, model fisik, model hidup atau model lainnya yang dapat
dicontoh. Setelah itu klien diberi reinforcement jika dia dapat meniru perilaku model tersebut.
6. Kontrak Perilaku.
Kontrak Perilaku didasarkan pandangan bahwa membantu klien untuk membentuk perilaku
tertentu yang diinginkan dan memperoleh ganjaran tertentu sesuai dengan kontrak yang
disepakati. Dalam hal ini individu mengantisipasi perubahan perilaku mereka atas dasar
persetujuan bahwa beberapa konsekuensi akan muncul.
Kontrak Perilaku adalah persetujuan antara dua orang atau lebih (konselor dan klien) untuk
mengubah perilaku tertentu pada klien. Konselor dapat memilih perilaku yang realistik dan dapat
diterima oleh kedua belah pihak. Setelah perilaku dimunculkan sesuai dengan kesepakatan,
ganjaran dapat diberikan kepada klien. Dalam terapi ini ganjaran positif terhadap perilaku yang
dibentuk lebih dipentingkan daripada pemberian hukuman jika kontrak perilaku tidak berhasil.
J. Kelebihan dan Keterbatasan Konseling Behavioristik
Setiap teori yang ada pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, kelebihan dan
kekurangan teori behavioristik dintaranya :
Kelebihan :
Telah mengembangkan konseling sebagai ilmu karena mengundang penelitian dan menerapkan
IPTEK kepada proses konseling
Pengembangan prilaku yang spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur
Memberikan ilustrasi bagaimana keterbatasan lingkungan
Penekanan bahwa konseling hendaknya memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan
prilaku yang ada dimasa lalu.
Kelemahan :
Bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi sifat manipulatif dan mengabaikan hubungan
pribadi
Lebih konsentrasi pada teknik
Pemilihan tujuan sering ditentukan oleh konselor
Meskipun konselor behaviour menegaskan klien unik dan menuntut perlakuan yang spesifik tapi
masalah klien sering sama dengan klien yang lain dan karena itu tidak menuntut strategi
konseling.
Konstruk belajar dikembangkan dan digunakan konselor behavioral tidak cukup komprehensif
untuk menjelaskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai hipotesis harus dites.
K. Asumsi Perilaku Bermasalah Behavioristik
Dilihat dari sudut pandang behavioris, perilaku bermasalah dapat dimaknai sebagai
perilaku atau kebiasaan yang negatif atau dapat dikatakan sebagai perilaku yang tidak tepat dan
tidak sesuai dengan yang diharapkan. Munculnya perilaku bermasalah disebabkan oleh beberapa
hal, antara lain: adanya salah penyesuaian melalui proses interaksi dengan lingkungan, adanya
pembelajaran yang salah dalam rumah tangga, lingkungan sekolah, tempat bermain dan lain-lain.
Seperti halnya kehidupan di kota-kota besar pada saat ini begitu kompleks dan [Link]
hidup menjadi individualistis, egois, apatis dan hubungan sosial menjadi renggang.
Dalam suasana hidup seperti di atas, banyak orang menggunakan mekanisme pelarian
dan mekanisme pertahanan diri yang negatif. Untuk dapat bertahan dan menghindari kesulitan
hidup tidak sedikit terjadi tindakan kriminal. Bentuk mekanisme yang negatif menyebabkan
timbulnya tingkah laku yang tidak normal (patologis).
Terbentuknya suatu perilaku dikarenakan adanya pembelajaran, perilaku itu akan
dipertahankan atau dihilangkan tergantung pada konsekuensi yang menyertainya. Misalnya
perilaku merusak (destructif) di kelas dapat bertahan karena adanya ganjaran (reinforcement)
berupa pujian dan dukungan dari sebagian teman-temannya dan merasa puas dengan ganjaran
itu, sedangkan hukuman (punishment) yang diberikan oleh guru tidak cukup kuat untuk melawan
kekuatan ganjaran yang diperolehnya.
Perubahan perilaku yang diharapkan dapat terjadi jika pemberian ganjaran atau hukuman
dapat diberikan secara tepat. Terbentuknya perilaku yang dicontohkan di atas disebabkan karena
adanya peran lingkungan dalam bentuk konsekuensi - konsekuensi yang mengikuti dari suatu
perilaku dan hal itu termasuk dalam teori belajar perilaku operan dari Skinner.
Selain teori belajar Skinner, Bandura juga mencontohkan perilaku agresif di kalangan
[Link] perilaku bermasalah yang ditandai dengan tindakan melukai atau
menyerang baik secara fisik maupun verbal, dikarenakan adanya proses mencontoh atau
modeling baik secara langsung yang disebut imitasi atau melalui pengamatan tidak langsung
(vicarious).
Misalnya anak bersikap agresif karena sering dipukuli atau anak sering melihat orang
tuanya bertengkar bahkan lewat media televisi anak dapat mencontoh adegan-adegan yang
bersifat [Link] yang salah dalam penyesuaian berbeda dengan perilaku normal.
Perbedaan ini tidak terletak pada cara mempelajarinya, tetapi pada tingkatannya, yaitu tidak
wajar dipandang, dengan kata lain perilaku dikatakan mengalami salah penyesuaian jika tidak
selamanya membawa kepuasan bagi individu atau akhirnya membawa individu pada konflik
dengan lingkunganya.
Rasa puas yang dirasakan bukanlah ukuran bahwa perilaku itu harus dipertahankan,
karena boleh jadi perilaku itu akan menimbulkan kesulitan di kemudian hari. Perilaku yang perlu
dipertahankan atau dibentuk pada individu adalah perilaku yang tidak menimbulkan kesulitan-
kesulitan yang lebih luas dan dalam jangka yang lebih panjang.
Konseling behavioral digunakan untuk membantu masalah konseli yang terkait dengan
perilaku-perilaku maladaptif. perilaku yang bermasalah dalam pandangan behaviorist dapat
dimaknai sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau perilaku yang tidak tepat, yaitu
perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan menurut Feist & Feist (2008:
398) menyatakan bahwa perilaku yang tidak tepat meliputi:
1. Perilaku terlalu bersemangat yang tidak sesuai denga situasi yang dihadapi, tetapi mungkin cocok
jika dilihat berdasarkan sejarah masa lalunya.
2. Perilaku yang terlalu kaku, digunakan untuk menghindari stimuli yang tidak diinginkan terkait
dengan hukuman.
3. Perilaku yang memblokir realitas, yaitu mengabaikan begitu saja stimuli yang tidak diinginkan.
4. Pengetahuan akan kelemahan diri yang termanifestasikan dalam respon-respon-respon menipu
diri.
Ciri Khusus Konseling Behavioristik
Pendekatan Behavioralistik dalam konseling memiliki beberapa keunikan dianataranya
adalah :
- Fokus pada masalah yang terjadi pada saat ini.
- Secara langsung berhubungan dengan simtom-simtom (gejala-gejala).
- Memiliki beberapa teknik yang dapat digunakan oleh konselor.
- Berdasarkan pada teori belajar.
- Didukung dengan riset yang bagus tentang bagaimana teknik behavioral mempengaruhi proses
konseling.
- Pendekatan ini bersifat objektif dalam mendefinisikan dan memahami suatu masalah.