Perkiraan Waktu Kematian Korban Pembunuhan
Perkiraan Waktu Kematian Korban Pembunuhan
MODUL 5
Modul Berdasar Laju Pertumbuhan II
Prof. Dr. Djati Kerami
PENDAHULUAN
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa model matematis masalah biasanya
digunakan untuk melakukan perkiraan (prediksi) kejadian yang akan berlangsung sesudahnya (waktu
yang akan dating). Akan tetapi model matematis tersebut dapat juga digunakan untuk melakukan
perkiraan kejadian yang telah berlangsung sebelumnya (waktu yang telah berlalu).
Untuk keperluan tersebut digunakan model pluruhan atau pertumbuhan dengan
pertumbuhannya bernilai negative. Model peluruhan eksponensial ini dikatakan pula sebagai model
eksponensial terbatas. Dalam hal ini nilai entitasnya menurun terus dengan batas nilai tertentu
(biasanya nol).
Setelah mempelajari modul ini diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk
memahami :
1. Makna peluruhan berikut waktu terjaadinya kejadian yang telah berlalu, dan
2. Model matematis masalah peluruhan eksponensial.
Secara lebih terinci, setelah selesai mempelajari modul ini diharapkan mahasiswa dapat :
1. Mengidentifikasi adanya peluruhan dan laju pertumbuhan dalam masalah yang dihadapi.
2. Memahami anggapan dasar dalam masalah peluruhan eksponensial sesuai dengan masalah
peluruhan yang dihadapi.
3. Melakukan pemodelan matematis masalah peluruhan eksponensial khususnya dalam masalah
perkiraan waktu kejadian yang lalu.
4. Memperkirakan waktu kejadian meningkgalnya korban pembunuhan
5. Memperkirakan umur kandungan karbon C – 14 unsur radioaktif
6. Memperkirakan umur fosil, dan
7. Memahami makna waktu-paruh dari suatu substansi dan menggunakannya dalam
memperkirakan umur benda mati yang mengandung karbon
KEGIATAN BELAJAR 1
Model Matematis Peluruhan Eksponensial
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa model matematis masalah biasanya
digunakan untuk melakukan perkiraan kejadian yang akan berlangsung sesudahnya (waktu yang akan
dating, prediksi).
Jadi dalam hal ini apabila digunakan untuk
i. Waktu yang akan dating adalah untuk menjawab pertanyaan :
Bagaimana perkiraan kejadian yang akan terjadi?
Akan tetapi model matematis dapat juga digunakan untuk melakukan perkiraan kejadian yang
telah berlangsung sebelumnya (waktu yang telah berlalu).
Coba anda lihat kembali model pertumbuhan eksponensial pada pertumbuhan populasi
penduduk pada Model 4. Dalam model tersebut untuk k < 0 populasi penduduk menurun, lama
kelamaan populasinya habis. Dalam hal ini dikatakan populasinya meluruh sehingga model
matematisnya disebut model peluruhan.
Contoh 5.1
Dalam contoh ini anggaplah petugas polisis pada jam 22.40 telah menemukan jasad korban
pembunuhan. Begitu dia menemukan langsung petugas tersebut mengukur suhu jasad tersebut,
ternyata suhunya 34 ° C . Untuk pemeriksaan forensic selanjutnya petugas membawa jasad tersebut ke
kantor polisi. Petugas sampai di kantor polisi pada jam 23.20 dan saat tiba suhu jasad adalah 31° C .
Pada waktu awal ditemukannya jasad sampai waktu jasad di kantor polisi, suhu udara sekitar adalah
dianggap tetap yaitu 28° C . Selanjutnya jasad disimpan di ruang jenazah. Petugas forensic akan
memperkirakan kapan waktu kematian dari korban pembunuhan tersebut.
Agar lebih mudah dalam menurunkan model matematis masalahnya, di bawah ini diberikan
kronologis waktu, kejadian, dan suhu jasad.
.
Gambar 5.1
Kronologis Kejadian dan Suhu Jasad
Model Matematis
Kita nyatakan
t : waktu atau saat (dalam menit)
S(t ) : suhu jasad pada saat t
Dalam hal ini, kita tetapkan saat ditemukannya jasad sebagai t=0 , sehingga saat tibanya di
kantor polisi adalah t=40.
Dari uraian di atas mengenai penurunan suhu jasad , anggapan dasar yang digunakan adalah
mengikuti suatu hukum (dikenal kemudian dengan hukum pendinginan Newton) yaitu
dS
(S−S L )
dt
dS
=k ( S−S L ) (5.1)
dt
Sedangkan sebagai syarat awalnya adalah suhu jasad pada saat ditemukan jasad yaitu
Untuk t=0 , S ( 0 )=34 ° C . Sedangkan sebagai syarat tambahannya adalah suhu jasad saat
Tibanya di kantor polisi, yaitu untu t=40 , S ( 40 )=31(℃ ).
Penyelesaian dari (5.1) dilakukan seperti sebelumnya, yaitu kita ubah (5.1) menjadi
dS
=kdt , yang selanjutnya kita integralkan , dan memberikan
( S−28 )
ln ( S−28 )=kt+C 1
Sehingga St ¿=28+Cekt
31=28+ 6 e k(40)
Sehingga 6 e 40 k =3
40 k=ln1/ 2
1
ln ( )
Persamaan terakhir di atas memberikan 2
k= =−0,0173287
40
Dengan demikian maka model matematis penurunan suhu jasad adalah
S ( t ) =28+6 e−0,0173287 t (5.2)
Kita ketahui bahwa pada saat meninggalnya korban, suhu badannya adalah suhu normal
badan yaitu 37 ℃ . Jadi untuk mengetahui saat meninggalnya, kita gantikan S(t ) pada (5.2) dengan
37, dan selanjutnya kita tentukan t .
Selanjutnya
37=28+6 e−0,0173287 t
6 e−0.0173287 t =9
e−0.0173287 t =9/6
Sehingga diperoleh
−0,0173287 t=ln 3 /2
ln 3/ 2
Yang memberikan t= −23,3984724 −23(menit )
−0,0173287
Dengan demikian maka perkiraan saat meninggalnya korban adalah sekitar 23 menit sebelum
jam 22.40 yaitu sekitar jam 22.17.
Gambar 5.2 di bawah ini menunjukkan grafik penurunan suhu korban, yaitu S(t ).
Gambar 5.2
Grafik Penurumam Suhu Jasad, S(t )
Perhatikan grafik penurunan suhu jasad pada Gambar 5.2 di atas ! Hubungkan dengan
kronologis kejadian pada Gambar 5.1 sebelumnya. Suhu menurun dari suhu normal 37 ° ke suhu saat
jasad ditemukan pada jam 22.40 (34 ° C), menurun terus mendekati suhu udara luar (28 ° C ).
Karbon atau zat arang merupakan substansi kimia yang terdapat pada semua obyek (benda)
di dunia terutama yang berasal dari bagian dari bagian makhluk hidup. Substansi ini adalah substansi
yang lain, sehingga dijadikan patokan dalam mengukur satuan massa atom substansi tersebut (yang
menjadi obyek observasi). Pengukuran ini berhubungan dengan radioaktivitas atom penyusun obyek.
Oleh karena proses oksidasi dengan alam sekitar, kandungan karbon (yaitu Carbon-14)
pada obyek yang mati, lama kelamaan kandungan karbonnya berkurang.
Hal ini menjadi dasar dalam menentukan umur obyek yang telah lama mati (biasanya
menjadi obyek penelitian bidang arkeologi). Metode untuk memperkirakan umur obyek arkeologi
(misal fosil) dengan mempertimbangkan kandungan substansi Carbon-14 yang terkandung dalam
obyek tersebut disebut dengan penentuan umur karbon (carbon dating).
Laju penurunan banyaknya atom pada suatu waktu adalah sebanding dengan
banyaknya atom pada saat yang sama.
Inilah akan yang menjadi anggapan dasar dalam pemodelan matematis berikut ini.
N0
substansi yang diobservasi) semula. Atau secara singkat waktu yang diperlukan dari N 0hingga .
2
Kita nyatakan (5.6) sebagai
N (t)
=N 0 e−k(t −t ) 0
(5.7)
N0
Dengan menggunakan logaritma natural pada kedua ruas (5.7), di[eroleh
N (t)
−k (t−t 0 )=ln
N0
(5.8)
N (t) 1
Untuk = , persamaan (5.8) memberikan
N0 2
1
−k (t−t 0 )=ln sehingga
2
1
ln
2 0,6931
( t−t 0 )= −k = k
Jadi untuk t 0=0 waktu-paruh adalah ln(2) dibagi dengan tetapan peluruhan k .
Dari observasi yang telah dilakukan, waktu-paruh untuk berbagai substansi telah dikenal.
Misalnya untuk Carbon-14 adalah 5.568 tahun, untuk uranium 238 adalah 4,5 mimilyar tahun.
Contoh 5.2
Laju peluruhan inti radioaktif sebanding dengan banyaknya ini pada sampel yang
diobservasi. Waktu-paruh inti radioaktif tersebut (mulai dari saatnya terdisintegrasi) adalah
1500 tahun.
i. Berapa persen dari inti radioaktif semula yang tertinggal sesudah 4500 tahun?
ii. Berapa tahun diperlukan agar yang tertinggal adalah sepersepuluhnya?
Penyelesaian:
i. Kita mulai dengan menurunkan model matematis masalah dan akhirnya memberikan model
matematis banyaknya inti radioaktif yang tertinggal sesudah t tahun.
x (t ): banyaknya inti radioaktif yang tertinggal sesudah t tahun (pada saat tahun ke-t).
Dari anggapan bahwa laju peluruhan inti radioaktif sebanding dengan banyaknya inti pada sampel
yang diobservasi, diperoleh
dx
=−ks ,(dengan k >0)
dt
(5.9)
Syarat awal yang diberikan, x ( 0 )=x 0 (5.10)
Yaitu menyatakan banyaknya inti radioaktif semula.
Dari (5.9) dan (5.10) diperoleh bahwa:
x ( t )=x 0 e−kt
(5.11)
Diberikan bahwa waktu-paruhnya adalah 1500 tahun, dengan demikian maka
1
x ( 1500 )= x0 (5.12)
2
Dari (5.11) dan (5.12) akan memberikan
1
x =x e−1500 k
2 0 0
1
e−1500 k =
2
−k 1 1500
e =
2
(5.13)
Dari persamaan terakhir di atas diperoleh k , Akan tetapi kita dapat juga langsung menggunakan (5.13)
ke (5.11) yang memberikan
t
1
x ( t )=x 0 1500 (5.14)
2
Banyaknya inti radioaktif yang tertinggal sesudah 4500 tahun
1 4500
1500 1
x ( 4500 )=x 0 = x0
2 8
Jadi, terdapat 12,5% dari banyaknya inti radioaktif semula yang tertinggal sesudah 4500 tahun.
1
ii. Agar yang tertinggal sepersepuluhnya atau x ( t )= x , maka berapakah t ?
10 0
1 1 t
Dalam hal ini kita gunakan (5.14) x 0=x 0 1500
10 2
Dengan logaritma natural diperoleh t 4985tahun .
Oleh karena proses oksidadi dengan alam sekitar, kandungan karbon (yaitu Carbon-14) pada
obyek yang mati, laoma kelamaan kandungan karbonnya berkurang.
Hal ini menjadi dasar alam menentukan umur obyek yang telah lama mati (biasanya mmenjadi
obyek penelitian bidang arkeologi). Jadi, metode memperkirakan umur karbon dapat digunakan
sebagai metode untuk memperkirakan umur obyek arkeologi (misal fosil). Di sini dilakukan dengan
mempertimbangkan kandungan substansi Carbon-14 yang masih terkandung dalam obyek tersebut.
Dapat Anda lihat suku e−kt pada (5.11), tetapan peluruhan k dianggap positif. Ini menandakann
adanya proses peluruhan. Tanpa adanya anggapan tersebut, suku tersebut dinyatakan lebih umum
sebagai e kt . Proses yang dilakukan apakah peluruhan ataukah pertumbuhan tergantung dari data
observasi yang diberikan, seperti pada contoh dibawah ini.
Contoh 5.3
Dari observasi terhadap suatu sampel temuan arkeologi (sebbutlah fosil kayu), hasil
pengukuran pada temuan tersebut menunjukkan bahwa kandungan C-14 dalam 1 gram sampel
tersebut adalah37% dari kandungan awal. Kira anggap bahwa waktu matinya kayu sebagai t=0 . Kita
ingin memperkirakan berapa lama wkatu yang diperlukan untuk mencapau sejumlah kandungan
tersebut.
Penyelesaian:
Nyatakan,
m(t) : Massa C-14 dalam fosil pada saat t
dm
Model matematisnya adalah =km (5.15)
dt
dengan syarat awal m ( 0 )=M .
dm
Nyatakan kembali (5.15) dalam bentuk =kdt
m
Integralakan : ln ( m )=kt+C 1
Memberikan m ( t )=e kt +c =C e kt ,
1
(5.16)
dengan C=e c (tetapan positif).
1
Pada waktu sesudahnya, yaitu t=T diperoleh bahwa massanya M T (gram massa).
m ( t )=M e kTt =M T
kTt MT
e =
M
sehingga
ln ( MM )=kT
T
memberikan
k =ln ( MM ) T
M T =Me T
ln
M ( ) (5.18)
−ln 2
Pada (5.19) dapat dilihat bahwa nilai k negative yaitu , jadi ini mennadakan terjadinya
λ
proses peluruhan.
Apabila diberikan bahwa waktu-paruh C-14 adalah sekitar 5600 tahin, maka dalam hal ini
λ=5600,
−1
ln 2
m (t) ¿ Me 5600
ln2
¿ −0,00012378. t ( 5600 ≈−0,00012378 )
Me
Jadi,
mT
¿ Me−0,00012378. t
M
Dari sampel fosil kayu yang diobservasi, kandungan C-14 dalam 1 gram sampel adalah 37%
dari kandungan awal.
Anda perhatikan bahwa saat observasi terhadap fosil sampel dilakukan pada saat
t=8,031(× 10¿¿ 3 tahun)¿ dengan massa C-14 sebanyak 0,37 (gram). Ini menandakan bahwa fosil
yang diperiksa pada saat dilakukan observasi berumur 8031 tahun.
L A T I H A N______________________________________________________________
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi diatas, kerjakanlah latihan berikut!
1) Pada Contoh 5.1 diatas, jasad korban begitu sampai di kantor polisi langsung jasad korban
dimasukkan ke runag penyimpanan yang suhunya 20 ℃ . Setelah 10 menit doruang
penyimpanan suhu, jasad adalah 24 ℃ .
(i) Gambarkan kronologis kejadian dan suhu jasad diruang menyimpanan.
(ii) Tentukan model matematis suhu jasad.
(iii) Berapakah suhu jasad 20 menit setelah berada di ruang penyimpanan?
(iv) Jelaskan model matematisnya apakah berupa perumbuhan atau peluruhan
(v) Jelaskan apakahmodel ini digunakan untuk memperkirakan kejadian yang akan
gterjadi atau jkejadiann yang telah terjadi.
2) Suatu isotop tertentu mempunyai waktu-parug 16 tahun. Jika observasi dimulai dengan
dengan 15 gram isotop, maka:
(i) Nerapa tetapan peluruhan isotop tersebut?
(ii) Berapa gram tersisa setelah 4 tahun?
N t=N 0 ekt .
Jadi diperoleh
S ( t ) =10+11 e−0,101160091.t
(iii) Untuk t=20 , S (t)≈ 21,5 ℃
(iv) Model peluruhan, karena suhunya menurun kearah suhu ruang penyimpan
(v) Digunakan untuk memperkirakan kejadian yang akan terjadi
−kt
2) Gunakan P ( t ) =P 0 e (k > 0).
15 1
(i) Waktu parug 16 tahun, memberikan =15 e−16 k, atau =e−16 k
2 2
−16 (ln 2)
Gunakan ln : −ln 2= , k=
k 16
−4 ln 2
(ii) P ( 4 )=15 e−4 k =15 e 16
≈ 12,61 gram
85,5 % dari kandungan C_14 telah meluruh, sehingga kandungan saat t adalah
N ( t ) =0,145 N 0
Dengan demikian maka
N 0 e−0,00012378t =0,145 N 0dan t ≈ 15600 (tahun)
Anda dapat mencoba sendiri modelmatematis dengan batasan k positif,
dm
=−km , k >0
dt
R A N G K U M A N__________________________________________________________
Pada Kegiatan Belajar 1, telah Anda pelajari penurunan model matematis masalah perkiraan
waktu terjadinya pembunuhan. Model matematis ini diturunkan berdasarkan anggapan dasar bahwa
laju penurunan suhu jasad sebanding dengan selisih suhu jasad dan suhu sekitarnya.
Adapun model matematis masalahnya berupa persamaan diferensial orde satu linear
dS
=k ( S−S L ) , k : tetapan kesebandingan, S L : suhu sekitar.
dt
Syarat awalnya, yaitu jasad pertama kali dilakukan pengukuran suhunya.
Sedangkan model matematis penyelesaiannya berupa fungsi penurunan suhu pada t yaitu
S ( t ) =S L +C e kt , dengan C diperoleh dari syarat awal, dan k diperoleh dengan syarat tambahannya.
Selanjutnya telah dipelajari pula penurunan model matematis dari masalah ini adalah sama
yaitu dengan anggapan dasar bahwa laju penurunan banyak atom suatu substansi kimiawi sebanding
dengan banyaknya atom dari substansi tersebut. Dengan demikianmodel matem,atis masalahnya pun
juga sama, yaitu persamaan diferensial linear orge satu.
dN
=−kN , dengan k > 0: tetapan peluruhan.
dt
Model matematisnya berupa fungsi peluruhan banyaknya atom untuk setiap t , yaitu
N ( t ) =C e kt . C diperoleh dari syarat awal yaitu banyaknya atom semula. Sedangkan k diperoleh dari
syarat tambahan misalnya berupa waktu-paruh dari atom dari substansinya.
Ketiga fungsi yang dipelajari pada Kegiatan Belajar 1 ini semuanya merupakan fungsi suatu
proses peluruhan eksponensial.
T E S F O R M A T I F 1_______________________________________________________
Jawablah pertanyaan ini dengan tepat!
4. Model matematis penurunan suhu badan pasien adalah T ( t )=T R +C e kt , dalam hal ini ….
10. Kandungan C-14 dari suatu batuan hasil temuan arkeologi ternyata adalah 2 gram. Telah
dikenal bahwa waktu paruh C-14 adalah 6000 tahun. Diketahui dari pengalaman sebelumnya
bahwa untuk jenis batuan tersebut kandungan awal C-14 biasanya adalah 10 gram. Ingin
diketahui perkiraan umur batuan tersebut.
Apabila M (t )=M 0 e kt adalah massa C-14 pada saat t, maka ....
1. untuk menentukan k diperlukan informasi massa awal C-14
2. nilai k adalah negatif
3. untuk menentukan umur batuan diperlukan informasi massa awal C-14
Untuk soal nomor 11 sampai dengan 20, pilihlah jawaban yang benar.
Untuk soal nomor 11 sampai dengan 13, lihat kembali masalah yang diberikan pada soal nomor 1
sampai dengan 3.
11. Apabila T(t) : suhu badan pasien pada saat t, suhu ruang UGD adalah 25C, maka T(t)
adalah ....
A. 36+25e kt
B. 25+11e kt
C. 25+36e kt
D. 11+25e kt
12. Nilai tetapan k dalam T(t) pada soal nomor 11 adalah ....
A. 0.09040
B. 0,08677
C. 0.07533
D. 0.03234
Untuk soal nomor 14 sampai dengan 16, lihat kembali masalah yang diberikan soal nomor 9.
16. Waktu yang diperlukan untuk meluruh menjadi 64 gram adalah ....
A. 18,12 tahun
B. 23.82 tahun
C. 26.37 tahun
D. 31.83 tahun
Untuk soal nomor 17 sampai dengan 19, lihat kembali masalah yang diberikan pada soal nomor 9.
19. Kandungan C-14 pada saat batuan berumur 1000 tahun adalah ....
A. 9,32 gram
B. 8,91 gram
C. 6,67 gram
D. 5,06 gram
20. Proses peluruhan yang Anda pelajari pada Kegiatan Belajar 1, yang meluruh mendekati nilai
N(> O), adalah ....
A. peluruhan kandungan karbon C-14 dalam suatu benda
B. peluruhan isotop dari suatu substansi kimiawi
C. peluruhan suhu jasad di alam sekitar dalam daerah tropis
D. peluruhan suhu jasad di alam sekitar dalam daerah bermusim dingin
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian
akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui
tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Apabila pada Kegiatan Belajar 1 telah dipelajari pertumbuhan eksponensial, yaitu yang
bersifat pertumbuhannya tidak terbatas, pada Kegiatan Belajar 2 ini Anda akan mempelajari
pertumbuhan eksponensial juga tetapi sifat pertumbuhannya terbatas.
Masalah yang dibahas meliputi masalah pendinginan dan pemanasan Newton, masalah
pertumbuhan tinggi, dan masalah pencampuran larutan.
1. Masalah Pendinginan
Marilah kita perhatikan dalam masalah pendinginan apa yang terjadi pada perubahan suhu air
di dalam gelas. Dalam hal ini suhu berubah menurut perjalanan waktu. Dengan perkataan lain
dapat dikatakan bahwa suhu air tersebut merupakan fungsi terhadap waktu. Dalam hal ini fungsi
suhu air tersebut menurun pelan-pelan lama kelamaan (waktu bertambah) akan mendekati suhu
luar (suhu udara sekitar) yang dianggap tetap.
Bertolak dari kenyataan tersebut kita bayangkan bagaimana dengan laju perubahan suhunya,
agar suhunya menurun mendekati suhu tertentu?
Laju perubahan suhu dari suatu obyek adalah scbanding dengan selisih antara suhu
obyek dan suhu sekitarnya.
Dalam melakukan pemodelan matematis akan kita gunakan hukum tersebut sebagai anggapan
dasar.
Dalam hal ini, pada waktu awal (t = )berdasarkan observasi, suhu obyek adalah S( t 0) = S0.
dS
persamaan memberikan =k ( S−S L ) , dengan k = tetapan
dt
Dengan menambahkan suhu awal observasi, diperoleh model matematis masalahnya:
dS (5.20)
{ dt
=k ( S−S L )
S (t 0 )=S0
Model matematis (5.20) berupa persamaan diferensial (biasa) orde satu linear dengan syarat
awal.
Kita gunakan ilustrasi di atas, yaitu air panas bersuhu 100C dituangkan ke dalam gelas.
Ternyata 5 menit kemudian, suhu air menjadi 60C. Suhu udara sekitar adalah 30C. Kita ingin
mengetahui berapakah suhu air dalam gelas 30 menit kemudian.
{ dt
=k ( S−30 )
S (0)=100
Dilakukan pengintegralan
dS
∫ S−30 =∫ kdt
Diperoleh ln (S−30)=kt+ c1
S−30=e kt +c 1
S ( t ) =30+70 e kt
Dengan demikian model matematis penyelesaian masalah yang dalam ini berupa fungsi perubahan
suhu air dalam gelas adalah
S ( t ) =30+70e-0,1695 t
Untuk t = 30, S(30) = 30 + 70e−1695.(30) 30,4
Jadi, 30 menit setelah air dituangkan ke dalam gelas, suhunya sekitar 30,4C.
Agar lebih mudah dalam membayangkan bagaimana perubahan suhu air dalam gelas tersebut,
di bawah ini diberikan grafik S(t).
Dapat Anda lihat melalui grafik S(t) pada Gambar 5.6 di atas, suhu air dalam gelas, menurun
terus menerus mendekati suhu udara luar, yaitu 30C. Terlihat bahwa setelah sekitar 30 menit suhu air
dalam gelas sudah hampir-hampir sama dengan suhu udara luar.
Apabila dalam contoh di atas yang digunakan sebagai anggapan dasar
adalah hukum pendinginan Newton, maka pada contoh di bawah ini
digunakan hukum pemanasan Newton.
Contoh 5.5
Suatu ruang kelas menggunakan peralatan pendingin ruangan (sebutlah AC). Apabila ruang kelas
sedang digunakan untuk kuliah maka AC dihidupkan. Pada saat ruang kelas digunakan kuliah suhu
ruangan adalah 20C. Untuk menghemat penggunaan energi, 5 menit sebelum kuliah selesai maka AC
dimatikan. Pada saat selesainya kuliah, suhu ruangan adalah 25C. Diketahui pula bahwa suhu di luar
ruang kuliah adalah 30C (dianggap tetap). Kita ingin mengetahui suhu ruangan 10 menit setelah
kuliah selesai.
Untuk memudahkan dalam membayangkan perjalanan waktu dan kronologis kejadian-kejadian, kita
gambarkan dahulu sebagai berikut:
Nyatakan : t = waktu (dalam menit)
S(t) = suhu ruangan (dalam C)
Kita tetapkan t 0=0
Selanjutnya (lihat Gambar 5.7), saat AC dimatikan ditetapkan sebagai t = 0 saat kuliah selesai
sebagai t = 5, dan 10 menit setelah kuliah selesai sebagai t = 15.
Kita ketahui bahwa suhu dalam ruangan berpendingin (AC) adalah lebih rendah dari suhu di
luar ruangan. Apabila AC dimatikan maka suhunya akan naik mendekati suhu luar.
Jadi anggapan dasar yang digunakan adalah hukum pemanasan Newton, yaitu
Laju kenaikan temperatur dalam ruang sebanding dengan selisih suhu luar dan suhu
dalam ruangan
{ dt
=k ( 30−S )
S (0)=20
−d (30−S )
=kdt
30−S
dS
−∫ =¿ kdt ¿
30−S ∫
−ln ( 30−S )=kt+c 1
30−S=e−kt + c 1
Dengan syarat awal S(0) = 20, diperoleh C = 10. Jadi, S(t) = 30 - 10e−kt
e−5 k =−0,5
-5k = ln(-0,5) = -0,69315
k = -0,13863
Di bawah ini diberikan grafik S(t) yang menggambarkan kenaikan suhu ruang kelas.
Contoh 5.6 (Pertumbuhan tinggi pohon)
Dilakukan observasi tinggi pohon pinus jenis tertentu yang tumbuh pada daerah tertentu pula.
Pohon pinus yang diobservasi tersebut pada saat berumur 1 tahun tingginya 1,2 meter. Setahun
kemudian tingginya 2,8 meter (Gambar 5.9). Diperoleh observasi dinas pertanian setempat bahwa
maksimum tinggi pohon pinus sejenis yang tumbuh pada daerah tersebut adalah sekitar 8,8 meter.
Kita ingin mengetahui perkiraan:
(i) Tinggi pohon pada saat berumur 5 tahun
(ii) Setelah berapa tahun tinggi pohon mencapai tinggi maksimum
Gambar 5.9
Pertumbuhan Tinggi Pohon
Tetapkan dulu t=0 menyatakan tahun pertama, t=1, menyatakan tahun kedua.
Kita nyatakan:
T (t ) : Tinggi pohon pada saat t (dalam meter)
T ( 0 )=T 0 : Tinggi pohon saat t=0 (awal observasi, yaitu saat pohon berumur 1 tahun)
Di sini T 0=1 ( m ) , T ( 1 )=2,8 ( m ) ,T M :Tinggi maksimum=506(m).
Telah Anda pelajari pada Kegiatan Belajar 1 Modul 4 tentang sifat pertumbuhan tinggi pohon
(juga tinggi orang). Dari kenyataan sebenarnya nampak bahwa tinggi pohon tumbuh secara cepat
mendekati tinggi maksimumnya. Dari sifat pertumbuhan tinggi tersebut anggapan dasar yang
digunakan adalah sama dengan hukum pemanasan Newton.
Laju pertumbuhan tinggi pohon pada suatu saat adalah sebanding dengan selisih
antara tinggi maksimum dan tinggi pohon pada saat yang sama
{ dt
=k (T M −T )
T ( 0 )=T 0
2,8=8,8−7,6 e−k
7,6 e−k =6
6
e−k =
7,6
Gambar 5.10
Larutan Campuran Air dan Sirup
Setelah sekian waktu lamanya, apa yang terjadi pada larutan campuran dalam T?
Tentunya kita dapat menduga bahwa lama kelamaan konsentrasi gula dalam T mendekati
konsentrasi gula dalam larutan sirup. Dapat juga dibayangkan, apabila sirup yang dialirkan warnanya
merah tua, maka warna larutan campuran dalam T yang pada awalnya putih (Gambar 5.10 (a)),
selanjutnya warna merah mudaa (Gambar 5.10 (b)) dan lama kelamaan bewarna merah tua mendekati
warna sirup (Gambar 5.10 (c)).
Yang menjadi masalah yang kita hadapi adalah:
Bagaimana model matematis perubahan kuantitas gula dalam T untuk setiap saat?
Kita nyatakan,
x (t ) : Kuantitas gula pada saat t dalam T
dx
: Laju perubahan kuantitas gula dalam T
dt
Selanjutnya kita nyatakan,
MAS : Laju aliran kuantitas gula yang masuk ke T
KEL : Laju aliran kuantitas gula yang keluar dari T
Kita ketahui bahwa aliran larutan yang masuk ke T dan yang keluar dari T berlangsung terus
menerus dengan debit yang tetap. Di samping itu, juga debit aliran masuk ke T sama dengan debit
aliran keluar dari T.
Dari apa yang telah kita bayangkan sebelumnya, bahwa lama kelamaan kuantitas gula yang
berada dalam T semakin lama mendekati kuantitas gula dalam larutan sirup. Atau dapat dikatakan
bahwa selisih MASKEL semakin kecil. Hal ini berhubungan dengan semakin lambatnya laju
dx
perubahan kuantitas gula dalam T (yaitu ).
dt
Jadi, kita dapat menyatakan hubungan tersebut dalam persamaan dasar sebagai berikut:
dx
=MAS− KEL (5.21)
dt
Dengan menggunakan (5.21) kita akan dapat menjawab masalah yang kita hadapi, yaitu
menentukan perubahan kuantitas gula dalam T untuk setiap waktu, x (t ).
( 10x ) gram
liter
. 0,1
liter
=
x
menit 100
gram/ menit
x
Ini memberikan, KEL=(
100 )
gram/liter.
Dengan menggunakan syarat awal (5.23), yaitu untuk t=0 , x (0)=0 , diperoleh C=−200 .
Jadi, x (t)=200−200 e−0,01 t
Atau dapat ditulis juga sebagai
x ( t )=200 1−e−0,01t
Persamaan (5.24) merupakan model matematis penyelesaian masalah, yaitu menyatakan kuantitas
gula dalam T pada setiap saat t.
(ii) Untuk t=100, x ( 100 )=200 1−e−0,01 (100 ) ≈ 126,42 (gram)
(iii) Evaluasi model matematis
Kita lihat kembali persamaan (5.24), x (t)=2001−e−0,01 t
Untuk t=0 , x ( t )=200 1−e0 =200 1−1=0 . Ini sesuai dengan kenyataan bahwa pada awalnya
belum ada gula dalam T.
Hal ini seperti yang telah kita bayangkan semula bahwa lama kelamaan konsentrasi gula dalam T
akan sama dengan konsentrasi gula dalam sirup.
Agar lebih jelas bagaimana perilaku dari x (t ), kita dapat melihatnya melalui grafik dalam x (t ) pada
Gambar 5.11 di bawah ini.
Gambar 5.11
Grafik x ( t )=200 1−e−0,1t
Dapat kita lihat grafik x (t ) pada Gambar 5.11 di atas bahwa kuantitas gula dalam T mendekati
200 gram. Sedangkan volume larutan dalam T adalah 10 liter, sehingga kuantitas gula dalam 1 liter
adalah 20 gram. Ini sama dengan kuantitas gula dalam sirup, yaitu apa yang semula kita duga.
Dari grafik di atas terlihat bahwa dalam waktu sekitar 600 menit, kuantitas gula dalam T sudah
hampir sama dengan kuantitas gula dalam sirup.
LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
1) Suatu panci berisi sayuran ditaruh di atas kommpor untuk dipanasi. Setelah panasnya mencapai
1200C, panci tersebut diangkat dan diletakkan di atas meja dapur. Setelah 10 menit, ternyata
suhu panci tersebut adalah 800C. Kita ketahui bahwa suhu udara di dapur adalah 300C.
1. Hukum apakah yang digunakan sebagai anggapan dasar pemodelan matematis?
2. Nyatakan model matematis masalah dan model matematis penyelesaian masalah.
3. Berapakah suhu panci pada menit ke tiga puluh?
2) Pada saat umur 5 tahun tinggi seseorang adalah 134 cm, selanjutnya pada saat 10 tahun
tingginya 166 cm. Apabila diperkirakan tinggi maksimum orang tersebut adalah 185 cm, maka:
1. Nyatakan model matematis tinggi orang tersebut
2. Model matematis pertumbuhan tinggi orang tersebut.
Berapakah perkiraan tingginya pada saat berumur 20 tahun?
Berapakah perkiraan tingginya pada saat berumur 18 tahun?
3. Berapakah perkiraan umur berapa tingginya sudah mencapai tinggi maksimum?
3) Suatu tangki berisi 300 liter air yang sudah mengandung 20 gram garam. Selanjutnya ke dalam
tangki tersebut dialirkan air asin dengan debit 4 liter/menit. Dalam hal ini dalam setiap liter air
asin yang dialirkan tersebut mengandung 1 gram/liter. Pada saat bersamaan air yang ada berada
dalam T dipompa keluar dengan debit yang sama dengan debit masuknya.
1. Turunkan model matematis masalahnya.
2. Turunkan model matematis kuantitas garam dalam tangki pada setiap saat.
3. Tunjukkan bahwa dalam waktu yang cukup lama konsentrasi garam dalam tangki sama
dengan konsentrasi garam air asin yang dialirkan ke tangki.
{ dt
=k (S−30)
S ( 0 )=120
dS
Dilakukan pengintegralan terhadap =kdt
S−30
Diperoleh ln ( S−30 )=kt +c 1, S−30=e kt +c , yang memberikan S ( t ) =30+90 e kt
1
80=30+90 e k
e 10 k =5/9
5
ln ( )
9
k= =−0,058779
10
Jadi, S(t )=30+90 e−0,058779 t
x
KEL 4
300 gram/menit
Jadi, model matematis masalahnya adalah
x 300 Ce t /75 C eC
1
x 0 20
Dengan syarat awal yang diberikan, , diperoleh C 280 .
280
t , x t 300 300 0 300
(iii) Untuk et /75 .
Hal ini menyatakan bahwa kuantitas garam dalam tangki adalah 300 gram. Volume air asin
dalam tangki adalah 300 liter. Jadi, Kuantitas garam dalam tangki per liter (konsentrasi)
adalah 1 gram per liter. Ini sama dengan kuantitas garam dalam air asin yang dialirkan ke
dalam tangki.
RANGKUMAN
Telah kita pelajari model matematis masalah yang pendekatan penyelesaian berdasarkan
hukum pendinginan (atau pemanasan) Newton. Hal ini melatarbelakangi pendekatan ini adalah
suatu kenyataan bahwa suatu obyek panas (atau lebih dingin) dari udara sekitar, apabila didiamkan,
maka lama kelamaan suhunya akan turun (atau naik) mendekati suhu udara sekitarnya. Kenyataan
ini menjadi dasar hukum pendinginan (atau pemanasan) Newton, yaitu:
Laju perubahan suhu obyek sebanding dengan selisih suhu obyek dan suhu udara sekitar.
Apabila S (t ) : suhu obyek pada saat t , maka model matematis masalahnya adalah:
(i) pendinginan
dS
k (SL S ) S (0) S0 .
dt , dengan syarat awal :
(ii) Pemanasan
dS
k (S SL ) S (0) S0 .
dt , dengan syarat awal:
dengan
S0 : suhu awal observasi, S L : suhu luar obyek yaitu suhu sekitar, dan k 0
Model matematis penyelesaian masalah adalah merupakan suhu obyek pada setiap saat t
Pendinginan : S (t ) 30 Ce
kt
(i)
kt
(ii) Pemanasan : S (t ) 30 Ce
Dalam hal ini, tetapan k diperoleh dari syarat tambahan ataupun dari sifat objek yang
diobservasi.
Pada akhir kegiatan belajar Anda pelajari juga pertumbuhan konsentrasi gula (atau garam)
dalam suatu larutan dalam tangki T . Dengan volume larutan didalam tangki yang selalu tetap (debit
aliran masuk = debit aliran keluar), konsentrasi gula (garam) dalam T lama kelamaan mendekati
konsentrasi gula (garam) dalam T lama kelamaan mendekati konsentrasi gula dalam aliran masuk ke
T.
Apabila x(t ) : konsentrasi gula (atau garam) pada saat t dalam T . Maka model matematis
masalah pencampuran larutan adalah
dx
MAS KEL
dt
x(0) X 0 , yaitu konsentrasi awal gula dalam T .
Dengan syarat awal
Dalam persamaan tersebut,
MAS : laju aliran larutan gula yang masuk ke T
KEL : laju aliran larutan gula yang keluar dari T
Adapun model matematis penyelesaiannya berupa pertumbuhan konsentrasi garam dalam T .
x(t ) K M Ce kt
Dalam hal ini, tetapan C diperoleh dari syarat awal dan k diperoleh dari informasi
TES FORMATIF2
Suatu objek dengan suhu tertentu diletakkan ditempat terbuka. Diberikan S (t ) : suhu obyek
pada saat
t , S0: : suhu awal obyek, S L : suhu luar (sekitar)
1. Apabila
S0 S L , maka S (t ) akan turun mendekati S L
2. Apabila
S0 S L , maka S (t ) akan naik mendekati S L
1. Apabila
S0 S L , maka dS / dT turun 0 , untuk t
2. Apabila
S0 S L , maka dS / dT naik 0 , untuk t
3. Apabila
S0 S L , maka dS / dT 0 untuk t
t , H (0) H 0 : HM
tinggi pada saat tinggi pada observasi awal, : tinggi maksimum.
5) Periksalah pernyataan berikut ini:
H0 HM
1.
2. Untuk
t , H (t ) H M H 0
t , H (t ) H M
3. untuk
2.
C H M H0
Suatu tangki T (gambar dibawah) berisi air murni. Dari atas T dialiri larutan sirop, dan dari
bawah T dikeluarkan larutan sirup (debit masuk dan keluar adalah sama). Dalam hal ini, MAS : laju
MAS
T
KEL
10) Apabila volume larutan dalam T adalah v liter, maka sifat fungsi penyelesaian masalahnya
adalah ....
Petunjuk: Untuk soal nomor 11 sampai dengan 20, pilihlah jawaban yang benar
Untuk soal nomor 11 sampai 14, lihat kembali soal nomor 1 sampai dengan 4 diatas.
S0 400 C , S L 200 C .
Dalam hal ini,
11) Apabila dalam permodelan matematis digunakan pendekatan hukum pendinginan Newton, maka
model matematis masalahnya adalah ....
dS
k ( S 40), S (0) 20
A. dt
dS
k ( S 20), S (0) 40
B. dt
dS
kS , S (0) 40
C. dt
dS
k ( S 10), S (0) 40
D. dt
12) Penyelesaian umum diferensial pada soal nomor 11 diatas adalah ....
A. S (t ) 40 Ce
kt
B. S (t ) 30 Ce
kt
C. S (t ) 20 Ce
kt
D. S (t ) 10 Ce
kt
A. S (t ) 40 20e
kt
B. S (t ) 40 10e
kt
C. S (t ) 20 1 2e
kt
D. S (t ) 20 1 e
kt
0
14) Apabila 5 menit kemudian suhu obyek adalah 25 C , maka model matematis perubahan suhu
A. S (t ) 20 1 e , dengan k ln(4) / 5
kt
B. S (t ) 40 1 e , dengan k ln(4) / 5
kt
C. S (t ) 40 1 e , dengan k ln(4) / 5
kt
D. S (t ) 20 1 e , dengan k ln(4) / 5
kt
Untuk soal nomor 15 sampai dengan 18, lihat kembali soal untuk nomor 5 sampai 8 diatas.
17) Apabila untuk jenis pohon yang diobservasi tersebut tetapan pertumbuhannya adalah 0,6 , maka
tinggi pohon setahun kemudian adalah ....
A. 102,77 cm
B. 134,14 cm
C. 144,53 cm
D. 161,42 cm
18) Minimum setelah berapa lama (dari awal observasi) tinggi pohon tersebut adalah dua kali tinggi
pohon saat awal observasi?
A. 2 tahun
B. 3 tahun
C. 4 tahun
D. 5 tahun
Untuk soal nomor 19 dan 20, lihat kembali soal untuk 9 dan 10.
Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir
modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui
tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegatan Belajar 2.
Boyce, WE. DiPrima, RC. (1997). Elementary Differential Equations and Boundary Value Problems.
John Wiley &Sons, Inc.
Burghes, D.N., Borrie, M.S. (1981). Modelling with Differential Equations. John Wiley & Sons.
Edward, C.H., Penney.D.E. (200). Elementarry Differential Equations. Prentice Hall Inc.
Giordani, F.R Weir, M.D. (1994). Diffrential Equations – Modelling Approach. Addison Wesly Publ
Co.
Ross, Shepley L. (1989). Introduction to Ordinary Equations. John Wiley & Sons, 4th editon
The approach involves formulating the equation N(t) = N0e^(-kt), where N0 is the initial amount, and k is the decay constant. By knowing the half-life, you determine k using k = ln(2)/half-life. Then, solve for t when N(t) equals the final amount, using algebraic manipulation and logarithms to isolate t, giving t = (ln(N0/N(t)))/k .
Both temperature decay and radioactive decay models use exponential equations to describe the rate of change over time. Similarities include their reliance on differential equations and constants to predict changes, such as k for rate control. However, temperature decay involves external factors like ambient conditions, whereas radioactive decay is an intrinsic process dependent only on isotopic properties and independent of external influences .
Assumptions about initial conditions and constants critically affect the accuracy of mathematical models. Initial conditions define the state from which the model begins, influencing all subsequent behavior, while constants such as the decay rate in radioactive models or the environmental temperature in cooling models determine the dynamics of change. Incorrect assumptions lead to deviations, as in error in decay rates affecting age calculations, or wrong starting conditions altering growth predictions .
In C-14 dating, the concept of half-life, approximately 5600 years for C-14, is crucial for estimating sample ages. By measuring the remaining C-14 and comparing it to the initial expected concentration based on historical data, one can apply the formula N(t) = N0e^(-kt). The half-life provides a decay constant k, which when used in the context of measured C-14 presence, enables calculation of elapsed time since the death of the organism .
To determine the remaining quantity of an isotope after a certain period, use the formula P(t) = P0e^(-kt), where P0 is the initial quantity, and k is the decay constant. The decay constant k can be calculated using k = (ln 2)/half-life. You then substitute the known quantities and solve for P(t) at your desired time .
Exponential decay models assume a constant decay rate and fail to account for environmental changes or human interferences, which can lead to inaccuracy. In carbon dating, variations in atmospheric C-14 levels due to industrial activities can affect assumptions of initial concentrations. Similarly, cooling models assume constant ambient conditions, potentially oversimplifying real-world variations like environmental temperature fluctuations .
The mathematical model for the cooling of a body is expressed as dS/dt = k(S - SL), where S(t) is the temperature of the body at time t, SL is the ambient temperature, and k is the proportionality constant. This represents a first-order linear differential equation, where the rate of temperature change of the body is proportional to the difference between the body's temperature and the ambient temperature .
The negative constant k is significant as it represents the rate at which the body’s temperature approaches ambient temperature, signifying a cooling process. Its value is determined by initial conditions such as the initial temperature and subsequent temperature measurements over known time intervals, allowing the calculation of k using data fitting techniques on the equation S(t) = SL + Ce^(kt).
The model of sugar concentration change in a mixing tank is represented by the equation dx/dt = MAS - KEL, leading to x(t) = 200 - 200e^(-0.01t). The model helps us understand that as t approaches infinity, x(t) approaches 200, indicating that the sugar concentration in the tank reaches an equilibrium equal to the concentration of the incoming solution. This illustrates how continuous mixing leads to stable equilibrium conditions in which the tank's content uniformly matches the inflow characteristics .
Mathematical modeling in forensic investigations, as expressed by dS/dt = k(S - SL), allows for the estimation of the time of death by analyzing how the temperature of a body approaches the ambient temperature. By measuring the rate of temperature change at known times and using a known ambient temperature, forensic scientists can back-calculate to approximate the time when the person's temperature was normal (i.e., time of death).