0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
155 tayangan15 halaman

Sistem Monarki Arab Saudi dan Dinamika Politik

Arab Saudi adalah negara monarki absolut yang dipimpin oleh raja sebagai kepala negara dan pemerintahan. Raja memegang kekuasaan politik, agama, dan militer yang sangat tersentralisasi. Sistem ini memberikan prioritas tinggi pada nilai-nilai Islam dalam pemerintahan.

Diunggah oleh

dhea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
155 tayangan15 halaman

Sistem Monarki Arab Saudi dan Dinamika Politik

Arab Saudi adalah negara monarki absolut yang dipimpin oleh raja sebagai kepala negara dan pemerintahan. Raja memegang kekuasaan politik, agama, dan militer yang sangat tersentralisasi. Sistem ini memberikan prioritas tinggi pada nilai-nilai Islam dalam pemerintahan.

Diunggah oleh

dhea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

DINAMIKA POLITIK DALAM NEGERI DAN HALUAN


POLITIK LUAR NEGERI ARAB SAUDI
Kerajaan Arab Saudi merupakan negara dengan menganut
sistem pemerintahan monarki yang memiliki peran besar dalam
panggung Internasional. Selain berperan sebagai negara yang
memiliki pengaruh besar di Dunia Arab, Kerajaan Arab Saudi juga
turut berperan aktif dalam perpolitikian Internasional, baik di dalam
kawasan Teluk, Kawasan Timur Tengah, maupun ditataran
Internasional secara lebih luas. Bab ini berusaha memaparkan serta
menjelaskan tentang pergerakan atau dinamika politik dalam negeri
Arab Saudi dan bagaimana haluan politik luar negerinya.
A. Kondisi Geografis dan Demografis Arab Saudi
Kerajaan Arab Saudi adalah sebuah negara yang terletak
di Asia Barat Daya, berada di antara Laut Merah di sebelah barat
(1.760 km) dan Teluk Arab di sebelah timur (560 km) serta
merupakan negara terbesar di Jazirah Arab. Kerajaan ini menempati
80% dari Jazirah Arab. Arab Saudi merupakan negara terbesar ke-
lima di Asia dan negara terbesar ke-dua di Dunia Arab setelah
Aljazair. Arab Saudi juga terletak diantara 15°LU – 32°LU dan
antara 34°BT – 57°BT. Sebagian besar batas negara Arab Saudi
berbatasan dengan Uni Emirat Arab (UAE), Kesultanan Oman,
dan Republik Yaman. Arab Saudi berbatasan langsung dengan
beberapa negara lainnya, yaitu Yordania dan Irak ke utara, Kuwait ke
timur laut, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab ke tenggara, dan
Yaman ke selatan. Arab Saudi juga merupakan salah satu negara
yang terletak dikawasan Teluk Persia, garis pantai yang luas di Teluk
Persia dan Laut Merah memberikan pengaruh besar pada ekspor
negara terutama minyak mentah melalui Teluk Persia dan Terusan
Suez([Link], 2017).

1
Gambar 2.1

Peta Arab Saudi

Sumber : [Link]
Pada tanggal 23 September 1932, Abdul Aziz bin
Abdurrahman Al-Sa'ud memproklamasikan berdirinya Kerajaan
Arab Saudi atau Saudi Arabia (Al-Mamlakah Al-'Arabiyah Al-
Su'udiyah) dengan menyatukan wilayah Riyadh, Najd (Nejed), Ha-a,
Asir, dan Hijaz. Abdul Aziz kemudian menjadi raja pertama pada
kerajaan tersebut. Dengan demikian dapat dipahami, nama Saudi
berasal dari kata nama keluarga Raja Abdul Aziz Al-Sa'ud. Luas
negara Arab Saudi adalah 2.240.350 km2 atau sama dengan 4/5
Semenanjung Arab. Dengan jumlah penduduk sebanyak 28.160.273
jiwa([Link], 2017).
Penduduk Arab Saudi adalah mayoritas berasal dari
kalangan bangsa Arab dengan presentase 90%, Afro-Asia 9%, lain-
lain 1%. Penduduk Arab Saudi mayoritas beragama Islam Sunni,
adapun penganut syiah hanya sekitar 5% dan kebanyakan beada di
daerah timur Arab Saudi. Di daerah daerah industri dijumpai

2
penduduk dari negara-negara lain sebagai kontraktor dan pekerja
asing atau ekspatriat. Bahasa yang digunakan oleh penduduk Arab
Saudi adalah bahasa Arab sebagai bahasa nasional. Secara umum
bahasa Arab yang digunakan oleh masyarakat Arab Saudi ada dua
macam, yaitu bahasa Arab fushah (bahasa arab standar/baku) dan
bahasa Arab amiyyah (bahasa arab pasaran). Adapun bahasa inggis
banyak digunakan di daerah perkotaan oleh para
imigran([Link], 2017).
B. Sistem Monarki Arab Saudi
Sistem adalah sebuah konsep ekologis yang memperlihatkan
adanya organisasi yang berinteraksi dengan lingkungan yang dapat
mempengaruhi maupun yang dipengaruhi olehnya. Dengan demikian
sistem dapat didefinisikan pula sebagai sebuah pengorganisasuan
masyarakat yang berupaya merumuskan serta berusaha mencapai
tujuan bersama. Adapun sistem politik juga dapat didefinisikan
sebagai sistem interaksi yang ditemukan didalam sebuah masyarakat
merdeka yang sedang menjalankan fungsi integrasi dan adaptasi
(baik dalam masyarakatnya sendri maupun dalam menghadapi
masyarakat yang berasal dari luar) dilakukan melalui penerapan atau
berupa ancaman penerapan bersifat paksa yang kurang lebih
dianggap sah (Mas'oed, 2006).
Arab Saudi secara resmi dikenal sebagai Kerajaan Arab
Saudi atau Kingdom of Saudi Arabia yang dikenal dengan sistem
monarki absolut di kawasan Timur Tengah. Kerajaan Arab Saudi
berasal dari Dinasti Saud yang telah ada sejak abad ke- 18 di daerah
Najd yang terletak di bagian tengah semenanjung Arab. Dinasti Saud
didirikan oleh tokoh yang bernama Amir Muhammad bin Sa’ud
(1703-1792). Kerajaan Arab Saudi dikuasai oleh keluarga Al-Saud
yang berpijak pada ideologi mahzab Wahabi yang kemudian menjadi
dasar legitimasi kekuasaan dan pengembangan pengaruh pemerintah
Keluarga Al-Saud di semenanjung jazirah Arab.
Arab Saudi mengadopsi sistem monarki absolut dengan Raja
sebagai Kepala Pemerintahan dan Negara. Sistem Monarki
3
(Kerajaan) berasal dari kata Mono yang artinya satu dan Archein
yang artinya kekuasaan, sehingga Monarki dapat didefinisikan
sebagai sebuah sistem pemerintahan yang dipimpin oleh Raja atau
Kaisar sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, sehingga Raja
berperan sebagai aktor pengambil keputusan tunggal. Kerajaan Arab
Saudi adalah Negara yang murni menggunakan hukum Islam sebagai
landasan utama untuk membuat peraturan-peraturan dalam
negerinya. Dilihat berdasarkan Undang-Undang Dasar yang dirilis
pada tahun 1993 yakni berisi 83 prinsip-prinsip atau ayat yang
menegaskan kembali dasar kerajaan yang telah berjalan sejak masa
awal berdirinya kerajaan tersebut. Diantaranya tertuang pada Pasal
pertama yang menyatakan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah Nabi
merupakan konstitusi Kerajaan Arab Saudi. Kemudian, pada Pasal 5,
sistem politik digambarkan sebagai sebuah kerajaan. Undang-
Undang Dasar juga menekankan betapa pentingnya nilai-nilai Islam
untuk terus diterapkan. Pada Pasal 44 juga dipaparkan tiga kekuasaan
negara, yaitu pengadilan atau lembaga hukum, eksekutif dan
kekuasaan organisasional serta menyatakan bahwa Raja merupakan
sumber utama pusat kekuasaan. Meskipun demikian, pada Pasal 46,
pengadilan atau lembaga hukum dijelaskan sebagai kekuatan
independen yang anggota-anggotanya diangkat dan diberhentikan
oleh surat keputusan dari Kerajaan. Hal yang sama juga berlaku pada
wakil perdana menteri, menteri, deputi menteri dan pejabat senior.
Tidak hanya itu, Undang-Undang Dasar juga menetapkan hak-hak
yang dimiliki oleh Raja (Ministry of Foreign Affairs Saudi Arabia,
2011).
Raja Arab Saudi menduduki hampir semua posisi strategis
dan penting dalam tampuk pemerintahan, mendominasi keluarga
besar Al-Saud, menguasai tahta politik serta ekonomi Arab Saudi.
Penguasa Arab Saudi (Raja) memiliki kecendrungan yang sangat
kuat untuk membatasi dan mempersempit berlakunya nilai-nilai
liberal dan demokratis, serta membatasi keterlibatan rakyatnya untuk
masuk ke dalam arena politik. Kekuasaan politik amat terpusat pada
Raja yang memegang berbagai jabatan sebagai berikut :

4
a. Kepala Dinasti Saud;
b. Perdana Menteri;
c. Kepala Eksekutif;
d. Imam Keagamaan Tertinggi;
e. Komandan Angkatan Bersenjata;
f. Kepala Pengadilan (Jatmika, 2001).
Dengan mengamati kekuasaan yang ada pada raja di Arab Saudi,
maka dapat dikatakan bahwa kerajaan Arab Saudi menekankan
kembali pandangan Islam, yang mana antara Agama dan Negara
tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan. Rakyat Arab Saudi
menunjukan rasa solidaritas yang sangat besar dan mendukung
penuh para pemimpin politik yaitu Raja yang membuat tuntutan serta
melaksanakan kontrol penuh atas rakyat (Jatmika, 2001, hal. 158).
Dalam perkembangannya sistem politik dan struktur politik
kerajaan Arab Saudi mengalami perubahan yang signifikan, yaitu di
mana sebelumnya kerajaan ini menganut bentuk kekuasaan yang
didalamnya dihiasi dan didominasi unsur keagamaan yang lebih
bercorak pada tradisional primitif dan masih erat kaitannya dengan
adat istiadat menjadi monarki absolut. Ditengah perubahan iklim
sosial, ekonomi dan pendidikan yang sangat pesat ini, Arab Saudi
tetap mempertahankan dan menjunjung tinggi otoritas keagamaan
dan politik tradisionalnya. Hubungan keluarga tetap menjadi faktor
utama dalam pemerintahan Arab Saudi. Kerajaan Arab Saudi masih
menganut pola keterkaitan antara hubungan negara dan agama yang
masih sangat kental untuk diterapkan. Namun di dalam
perkembangan aktifitas politik baik di dalam negeri maupun di luar
negeri, Raja telah membentuk sebuah dewan untuk membantu
tugasnya. Pemerintah dijalankan langsung oleh dewan keluarga yang
bekerja secara konsesus. Jabatan di dalam dewan yang dibentuk Raja
hanya dapat dimiliki oleh anggota keluarga kerajaan dan kepala suku
yang nantinya akan menduduki kursi jabatan sebagai menteri dan
administratif (Lapidus, 1999).

5
Unsur nepotisme tak bisa dihindarkan dan masih sangat
kental disetiap urusan pemerintahan Arab Saudi. Hampir sebagian
besar yang menduduki kursi-kursi penting di dalam pemerintahan
adalah keluarga kerajaan atau golongan yang memiliki pengaruh,
misalnya para pengusaha ataupun bangsawan. Nilai-nilai demokratis
sama sekali tidak ditunjukan didalamnya. Namun satu hal yang
sangat penting dalam sistem politik Arab Saudi yaitu komitmennya
terhadap Islam. Masyarakat Saudi hampir tidak terpengaruh oleh
nasionalisme dan sekulerisme dan penguasa Arab Saudi
mengembangkan keabsahan domestik mereka dengan banyak
memberikan perhatian kepada urusan agama dan memberlakukan
moral Islam dengan sebaik-baiknya (Lapidus, 1999, hal. 187).
Sejak berdirinya kerajaan Arab Saudi pada tahun 1932
sampai sekarang, Arab Saudi telah dipimpin oleh tujuh orang Raja,
yang mana dalam aturan pergantian Raja di Arab Saudi, Raja bisa
dan akan digantikan apabila Raja pemegang tahta wafat. Jika dilihat
dari sejarah kerajaan, baru satu kali terjadi penggulingan kekuasaan.
Biasanya, Putra Mahkota yang telah dipersiapkan sebelumnya akan
menggantikan Raja yang telah wafat. Namun, ada juga Raja yang
menunjuk langsung wakil Putra Mahkota sebagai pengganti dirinya.
Berikut struktur pemerintahan Arab Saudi diantaranya :
1. Raja (Kepala Pemerintahan)
Raja Arab Saudi saat ini adalah Raja Salman bin Abdul Azis
Al-Saud. Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di Arab
Saudi, tapi kekuasaannya dibatasi oleh hukum Islam. Sistem kerajaan
Arab Saudi bersifat turun temurun, jika Raja wafat maka akan
digantikan oleh keturunannya. Raja Arab Saudi tidak membuat
Undang-Undang, ia hanya mengeluarkan dekrit kerajaan yang harus
sesuai dengan syariah. Tugas paling sulitnya adalah mempertahankan
konsensus di antara keluarga kerajaan, para ulama dan suku-suku
yang berpengaruh dalam masyarakat. Berikut adalah daftar Raja-
Raja Kerajaan Arab Saudi dari masa ke masa :

6
a. Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud
Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud, lahir di
Riyadh pada tahun 1880 dan wafat pada 1953. Beliau memerintah
Kerajaan Arab Saudi dimulai pada 22 September 1932 sampai
dengan 9 November 1953. Raja yang akrab dikenal sebagai Ibn Saud
ini membangun Kerajaannya berlandaskan Syariah Islam. Raja Ibn
Saud berhasil mengubah Arab Saudi menjadi Negara Islam modern
serta kaya akan tradisi dan budaya. Beliau juga dikenang baik
sebagai negarawan besar yang pintar berpolitik serta tahu bagaimana
cara memanfaatkan sumber daya alam dan ditujukan untuk
kepentingan rakyat.

b. Raja Saud bin Abdul Aziz


Raja kedua Kerajaan Arab Saudi ini lahir pada tahun 1902
dan wafat pada tahun 1969. Saud ditahbiskan sebagai Putra Mahkota
pada tahun 1933 dan mulai memimpin kerajaan pada tahun 1953
hingga 1964. Selama menduduki posisi sebagai Raja kedua, Raja
Saud telah mendirikan berbagai kementrian seperti Kementrian
Perdagangan Kementrian Pendidikan dan Kementrian Kesehatan.
Saud juga tak segan memberikan anak-anaknya jabatan tinggi dalam
pemerintahannya. Kebiasaan ini membuat sang Raja digulingkan
oleh keluarganya sendiri yaitu oleh sang adik, Faisal bin Abdul Aziz.
c. Raja Faisal bin Abdul Aziz
Raja Faisal lahir di Riyadh pada tahun 1906 dan wafat pada
tahun 1975. Masa pemerintahannya dimulai pada tahun 1964 dan
berakhir ketika ia wafat. Sebelum menggantikan Saud, Faisal sempat
diangkat menjadi Menteri Luar Negeri oleh ayahnya, Abdul Aziz.
Pemimpin inovator ini dikenal sebagai Raja yang Saleh dan sangat
amat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Raja Faisal juga
menjunjung tinggi program penghapusan perbudakan, bahkan beliau
membeli seluruh budak di Arab dengan uang pribadinya hingga tak
ada satu pun budak di negara itu.

7
d. Raja Khalid bin Abdul Aziz
Raja Khalid memerintah pada 1975 sampai tahun 1982, ia
naik tahta ketika Raja Faisal wafat. Raja Khalid sebelumnya sempat
menjabat sebagai Gubernur Hijaz pada 1932 dan ditunjuk menjadi
Menteri Dalam Negeri pada tahun 1934. Beliau banyak membuat
kebijakan dalam pemerintahannya baik itu kebijakan dalam ataupun
luar negeri. Pada tahun 1982, Khalid berhasil memperbaharui
persenjataan kerajaan dengan mendatangkan 16 pesawat tempur dari
Amerika Serikat. Raja Khalid wafat pada 1982 akibat serangan
jantung.
e. Raja Fahd bin Abdul Aziz
Raja kelima Arab Saudi ini sempat dilantik menjadi Menteri
Pendidikan pada 1953. Kemudian dia menduduki kursi Menteri
Dalam Negeri pada 1962. Raja Fahd naik tahta setelah Raja Khalid
wafat pada Juni 1982. Raja kelima ini juga sangat berkontribusi
dalam bidang diplomasi internasional Kerajaan Arab Saudi. Kerja
kerasnya mampu mengangkat derajat perekonomian Arab Saudi. Pria
yang lahir di Riyadh pada 1921 ini wafat pada 1995 karena serangan
stroke.
f. Raja Abdullah bin Abdul Aziz
Raja keenam Arab Saudi ini lahir di Riyadh pada tahun
1924. Raja Abdullah naik menjadi Raja pada 2005 setelah
sebelumnya sempat menjabat sebagai Perdana Menteri. Raja
Abdullah dikenal dengan pemimpin yang murah hati, dia juga
memiliki banyak pengalaman dan memberikan pengaruh besar pada
Kerajaan ketika masih menjadi Putera Mahkota di masa Raja Fahd.
Sejak tahun 1995, abdullah sudah mewakili peran Raja Fahd yang
terserang stroke. Pada masa pemerintahannya Raja Abdullah banyak
membuat kebijakan yang mampu menjadikan Arab Saudi disegani di
panggung Internasional hingga saat ini. Raja Abdullah pun wafat
pada jumat 23 Januari 2015.

8
g. Raja Salman bin Abdul Aziz
Raja Salman adalah Raja yang sampai saat ini memegang
tampuk kepemimpinan Kerajaan Arab Saudi. Raja yang lahir pada
tahun 1935 ini sebelumnya berhasil mengubah wajah Riyadh, kota
yang awalnya hanya memiliki 200 ribu penduduk kini menjelma
menjadi kota bergaya kosmopolitan dengan lebih dari 7 juta
penduduk dan menjadi rumah bagi puluhan perguruan yang
berkualitas tinggi. Raja ketujuh Arab Saudi ini dikenal akrab sebagai
sosok yang memiliki semangat besar dalam reformasi dan perubahan
sosial untuk negaranya. Raja Salman pertama kali diangkat menjadi
Gubernur ketika usianya baru menginjak 19 tahun. Raja Salman
sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan
banyak berkontribusi untuk negaranya di masa kepemimpinan Raja
Abdullah(Ministry of Foreign Affairs Saudi Arabia, 2011).
Seiring dengan terjadinya beberapa perubahan sebagai akibat
dari meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan sosial yang sangat
cepat sehingga mengharuskan pemerintah Arab Saudi untuk mampu
mengatur dinamika masyarakatnya. Konvensi lokal tradisional yang
semula menjadi acuan berjalannya roda pemerintahan, dinilai sudah
tidak ideal lagi untuk diterapkan di negara tersebut. Kepemilikan
industri minyak dan bertambahnya wilayah-wilayah menjadi faktor
utama terjadinya perubahan yang sangat signifikan. Jika kondisi
seperti ini tidak segera dibendung, maka pemerintah akan mengalami
banyak kesulitan, dirasa perlu adanya bantuan dari badan-badan
administrasi yang fleksibel. Oleh karena itu, Raja membentuk dewan
menteri guna bertanggung jawab atas anggaran dan urusan
pemerintah lokal maupun regional (Jatmika, 2001, hal. 158).

Gambar 2.2

Silsilah Keluarga Kerajaan Arab Saudi

9
Sumber : [Link]
2. Dewan Menteri
Hampir semua keputusan kebijakan utama memerlukan
masukan dan pertimbangan dari pangeran dan para ulama senior di
Arab. Ulama senior dan pemimpin bisnis memiliki pengaruh yang
cukup besar, baik sebagai penasihat utama Raja maupun sebagai
pengambil keputusan operasional. Pengambilan keputusan tidak
dianggap hanya sebagai masalah politik biasa, melainkan dalam hal
tradisi dan agama, hal ini merupakan salah satu sumber kekuatan
politik yang kuat di Arab Saudi dan di dalam Keluarga Kerajaan itu
sendiri. Kabinet Arab Saudi ini merupakan sesuatu yang cukup
praktis dan mencerminkan komposisi distribusi kekuasaan dalam
jajaran keluarga kerajaan Arab Saudi di kalangan senior dan para
ulama. Kabinet adalah sebuah lembaga besar yang dipimpin oleh
Raja, dengan lebih dari dua puluh anggota, termasuk di dalamnya
enam menteri negara. Kabinet juga mencangkup dan didukung penuh
oleh berbagai ulama.
3. Dapertemen dan Key Personal
Diantara dua pulu dua departemen yang terpisah,
departemen-departemen penting dan strategis dikendalikan oleh
anggota-anggota senior keluarga Kerajaan. Departemen tersebut
10
mencakup Wakil Perdana Menteri, Kepala Garda Nasional, Wakil II
Perdana Menteri, Menteri Pertahanan dan Penerbangan, Menteri
Luar negeri, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pekerjaan Umum
dan Perumahan. Penunjukan ini memberikan legitimasi bagi anggota
senior dari Keluarga Kerajaan untuk memegang kendali atas
pemerintah, pertahanan, keamanan internal, anggaran pendapatan
minyak serta melindungi area penting lainnya. Untuk melawan
perkembangan resistensi kelembagaan di beberapa departemen, pada
tahun 1992 Raja mengeluarkan keputusan yang mendeklarasikan
bahwa seseorang tidak dapat menempati posisi menteri atau kabinet
selama lebih dari lima tahun tanpa surat keputusan khusus dari Raja.
4. Majlis Al-Shura (Majelis Permusyawaratan)
Pada awalnya Majelis Al-Shura terdiri dari 61 anggota,
termasuk didalamnya pembicara dari dewankonsulatif. Semua
anggota yang telah ditunjuk oleh kerajaan untuk menjalankan masa
kerja selama empat tahun lamanya. Dilihat secara teori tugasnya
adalah untuk memeriksarencana pembangunan ekonomi dan sosial,
menanyakan anggota kabinet dan memeriksa rencana tahunan yang
diajukan oleh masing-masing kementrian lalu mengusulkan atau
mengamandemen Undang-Undang baru. Namun, awalnya tugas dan
fungsi Majlis AL-Shura ialah sebagai penasihat.
Pada tahun 1997 delapan komite ad hoc didirikan sebagai hasil dari
kegiatan peningkatan dewan (saat ini ada dua belas dari mereka).
Komite menjalankan tugasnya di sepanjang jalur demokratis dengan
masing-masing anggota memiliki hak satu suara, seperti yang
dilakukan dewan secara keseluruhan. Empat tahun kemudian, pada
tahun 2001, jumlah anggota meningkat menjadi 150 dan peran
komite diperluas, meliputi masalah-masalah keuangan, rencana lima
tahunan, Islam, urusan sosial dan pendidikan. Para anggota dewan
sekarang telah dinominasikan oleh gubernur provinsi, masing-
masing nominasi diperiksa oleh lembaga pengadilan kerajaan. Sejak
tahun 2002, Majelis juga memiliki hak untuk meminta setiap anggota
kabinet atau Dewan Menteri untuk hadir dan menjawab segala
pertanyaan. Meskipun tidak memainkan peran secara langsung dalam
11
permasalahan keamanan dan kebijakan pertahanan serta meninjau
rancangan anggaran, tetapi mereka memiliki peran penting dalam
meninjau rencana pembangunan.
C. Haluan Politik Luar negeri Arab Saudi
Arab Saudi adalah negara yang berbatasan langsung dengan
beberapa negara lain disekitarnya membuat hubungan diplomatik
antar negara merupakan suatu fenomena yang wajar dan sangat perlu
dibangun dalam hubungan [Link] menganut sistem
politik monarki absolut, Arab Saudi tidak menutup diri dari
linkungan internasional. Sejumlah kerjasama baik yang bersifat
bilateral maupun multilateral terjalin antara Kerajaan Arab Saudi
dengan sejumlah negara lain, baik didalam maupun diluar kawasan
Timur Tengah. Yang mana Arab Saudi tercatat aktif dalam sejumlah
organisasi internasional seperti PBB, G-20, OKI serta sejumlah
organisasi internasional lainnya. Konstitusi Arab Saudi yang
berlandaskan pada ajaran Islam juga tidak menjadi penghalang bagi
Arab Saudi untuk menjalin kerjasama dengan negara – negara liberal
seperti Amerika dan Inggis ataupun negara komunis seperti China
sekalipun.
Politik luar negeri Arab Saudi dijalankan berlandaskan pada
prinsip-prinsip dan fakta geografi, sejarah, agama, ekonomi,
keamanan dan politik. Prinsip ini digunakan untuk membentuk
framework dalam kebijakan luar negeri Arab Saudi seperti good -
neighbor policy, kebijakan non intervensi terhadap urusan dalam
negeri negara lain, dan penguatan hubungan dengan negara teluk,
negara arab serta negara islam. Kebijakan luar negeri Arab Saudi
berjalan dengan beberapa sasaran lingkaran, yaitu; Lingkaran Negara
Teluk, Lingkaran Negara Arab, Lingkaran Negara Islam, dan
Lingkaran Internasional(Ministry of Foreign Affairs Saudi Arabia,
2016).
Lingkaran pertama, dalam kebijakan luar negeri Arab Saudi
adalah negara-negara yang berada di Kawasan Teluk yaitu, Kuwait,
Bahrain, Irak, Oman, Qatar dan Uni Emitrat Arab. Semenjak Raja
Abdulaziz bin Abdulrahman Al-Saud mendirikan Kerajaan Arab
12
Saudi, daerah teluk merupakan lingkaran paling penting dan
diperhatikan dalam kebijakan luar negeri Arab Saudi. Hal ini
dikarenakan pertimbangan beberapa faktor seperti; keterkaitan
hubungan darah, sejarah hubungan kedua negara, lingkungan
geografis yang unik, serta kesamaan sistem politik dan ekonomi.
Adapun alasan kuat lain yang membuat Arab Saudi memprioritaskan
hubungannya dengan negara-negara Teluk adalah karena letaknya
yang berada dalam satu kawasan, hal ini akan mempengaruhi secara
langsung terhadap stabilitas dalam negeri Arab Saudi(Ministry of
Foreign Affairs Saudi Arabia, 2016).
Kebijakan luar negeri Arab Saudi di lingkaran negera teluk
berdasarkan prinsip-prinsip utamanya yaitu:
1) Keamanan dan stabilitas kawasan adalah tanggung
jawab negara-negara di wilayah ini,
2) Negara - negara Teluk memiliki hak untuk
mempertahankan keamanan mereka dan
mempertahankan kemerdekaan mereka sesuai
dengan kebijaksanaan mereka sendiri dan
sebagaimana dijamin oleh hukum internasional
untuk menghadapi setiap tantangan internal maupun
internasional,
3) Menolak campur tangan dalam urusan internal
negara-negara ini, dan bekerja sama melawan setiap
agresi pada salah satu anggota negara, sehubungan
dengan agresi apapun, pada saat yang sama negara-
negara anggota pertimbangkan agresi pada satu
negara sebagai agresi pada semua anggota negara,
4) Memperkuat kerjasama antara Inggris dan
negaranegara anggota Gulf Cooperation Council di
berbagai politik, ekonomi, keamanan, sosial, bidang
budaya dan lain-lain, melalui pendalaman hubungan
antara negara-negara anggota,
13
5) Mengambil tindakan serius dan gigih untuk
menyelesaikan semua sengketa (terutama sengketa
perbatasan) antara negara-negara kawasan
neigbourhood policy(Ministry of Foreign Affairs
Saudi Arabia, 2016).
Lingkaran kedua dari kebijakan luar negeri Arab Saudi
adalah Lingkaran Negara – negara Arab. Arab Saudi menyadari
pentingnya mengembangkan dan mengkoordinasikan hubungan
antara negara arab untuk menjaga kepentingan negara arab secara
keseluruhan. Salah satu bentuk dari kebijakan ini adalah pendirian
Liga Arab pada tahun 1945. Kebijakan Arab Saudi dalam lingkaran
arab didasarkan pada prinsip persaudaraan dan solidaritas yang
menawarkan semua jenis dukungan dan bantuan(Ministry of Foreign
Affairs Saudi Arabia, 2016).
Lingkaran ketiga kebijakan luar negeri Arab Saudi adalah
Lingkaran Dunia Islam. Islam selalu menjadi faktor penting dalam
penentuan prioritas kebijakan luar negeri Arab Saudi. Kebijakan luar
negeri Arab Saudi kepada negara-negara islam ditujukan untuk
menyatukan negara islam sehingga terbentukanya ikatan solidaritas
yang kuat anatar negara-negara islam di dunia. Kebijakn ini
tercermin dalam pembentukan Organisasi Konferensi Islam pada
tahun 1969 yang kemudian berubah menjadi Organisasi Kerjasam
Islam(Ministry of Foreign Affairs Saudi Arabia, 2016).
Lingkaran lebijakan luar negeri Arab Saudi yang terakhir
adalah Lingkaran Internasional. Dalam Lingkaran Internasional,
Arab Saudi sangat tertarik untuk membangun hubungan yang setara
dengan negara-negara kuat dikarenakan kepentingan-kepentingan
yang dimiliki Arab Saudi. Kepentingan ini muncul akibat peran
penting arab saudi dalam Dunia Arab dan Islam. Dimana Arab Saudi
berusaha untuk melebarkan kebijakannya mencapai level masyarakat
internasional. Kebijakan ini tercermin dengan ikut sertanya Arab
Saudi sebagai negara anggota pendiri Perserikatan Bangsa Bangsa
(PBB) pada tahun 1945, yang mana Arab Saudi percaya bahwa
14
keamanan internasional merupakan bagian dari kebijakan luar
negerinya(Ministry of Foreign Affairs Saudi Arabia, 2016).
Berdasarkan haluan politik luar negeri Arab Saudi yang
terbagi dalam empat lingkaran sasaran tersebut, dapat dikatakan
bahwa Kanada merupakan negara yang termasuk didalam lingkaran
terakhir politik luar negeri Arab Saudi dalam menjalin suatu
hubungan bilateral. Arab Saudi sangat jelas tertarik untuk
membangun hubungan yang hampir setara dengan negara-negara
kuat termasuk Kanada dikarenakan kepentingan-kepentingan yang
dimiliki Arab Saudi. Kepentingan ini muncul akibat peran penting
arab saudi dalam Dunia Arab dan Islam. Dimana Arab Saudi
berusaha untuk melebarkan kebijakannya mencapai level masyarakat
internasional.

15

Anda mungkin juga menyukai