0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan13 halaman

Praktikum Pengukuran Nozzle Rig

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara tekanan dan kecepatan pada nozzle. Mahasiswa akan menguji beberapa jenis nozzle dan membandingkan hasil aktual dengan teori. Alat uji terdiri dari chest masukan uap dan probe untuk mengukur tekanan sepanjang nozzle.

Diunggah oleh

Latifa Sijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan13 halaman

Praktikum Pengukuran Nozzle Rig

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara tekanan dan kecepatan pada nozzle. Mahasiswa akan menguji beberapa jenis nozzle dan membandingkan hasil aktual dengan teori. Alat uji terdiri dari chest masukan uap dan probe untuk mengukur tekanan sepanjang nozzle.

Diunggah oleh

Latifa Sijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Praktikum Pengukuran 342 12 047

Thermal

PERCOBAAN 1

NOZZLE RIG

1.1 TUJUAN PERCOBAAN

Setelah mempelajari dan melakukan pengujian nozzle rig, mahasiswa diharapkan

dapat :

- Menggambarkan hubungan antara tekanan terhadap jarak.

- Membandingkan tekanan dan kecepatan throat secara aktual dan teoritis.

1.2 TEORI DASAR

Kegunaan nozzle adalah untuk mengubah energi internal uap menjadi energi

kinetik dan ini dilakukan dengan mengekspansinya dari tekanan tinggi ke tekanan

rendah. Karena perjalanan uap melalui nozzle yang cepat terdapat sedikit waktu

untuk setiap aliran panas kesekeliling terjadi dan karena itu ekspansi dianggap

adiabatik. Bentuk nozzle harus sedemikian hingga perubahan dari energi internal ke

energi kinetik dilakukan pada efisiensi terbesar. Terdapat dua jenis nozzle yang

diperhatikan yaitu konvergen atau konvergen/divergen dan pemilihan salah satu atau

yang lainnya bergantung pada tekanan buang akhir yang diperlukan. Konvergensi

cenderung menstabilkan aliran sehingga perubahan yang cepat dari luas penampang

dapat diterima sedangkan divergensi mempunyai pengaruh kebalikannya, sehingga

mengharuskan pertambahan luas penampang yang berangsur-angsur.

Nozzle Rig | 1
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

Alat ini terdiri dari sebuah peti (chest) masukan, berisi nozzle yang diteliti,

yang dihubungkan ke sebuah kondensor permukaan. Jumlah uap yang digunakan

ditentukan dengan menggunakan unit pencekik (throttling) yang tergabung di dalam

sistem. Nozzle yang tersedia untuk meneliti :

i. Konvergen

ii. 2-konvergen/divergen (1o dan 3o sudut cakupan)

iii. Konvergen/sejajar (paralel)

dan nozzle-nozzle yang tersedia ini bisa disekrup ke bagian tengah dari masukan peti

(lihat Gambar 1). Nozzle yang diuji membuang ke sebuah ruang terbuka yang pipa

buangannya duhubungkan ke sebuah kondensor permukaan yang dilengkapi dengan

sebuah katup kontrol tekanan balik. Kondensor mampu menangani aliran uap

maksimum sebesar 31 kg/h. Kondensat dikumpulkan untuk tujuan pengukuran.

Distrubusi tekanan sepanjang nozzle diperoleh dengan menggunakan pipa pencari

baja stainless yang dipasang pada alat. Pipa ini bisa digeser dalam langkah 1 mm

sepanjang sumbu nozzle, dan pipa pembawa dipasangkan bersama sebuah jarum

(poniter) yang berpindah di atas sebuah replika (tiruan) profil nozzle dalam

percobaan, sehingga menunjukka posisi percobaan.

Nozzle Rig | 2
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

Gambar 1. Detail Peti (chest) Uap dan Probe

Nozzle untuk alat sangat halus dan tidak boleh rusak atau tergores sama sekali

karena itu sebaiknya dibiarkan berada di dalam kotak pelindung yang tersedia jika

tidak digunakan. Penggantian nozzle di dalam alat harus dilakukan dengan sangat

hati-hati. Pertama-tama kendurkan semua baut pada ruang uap dan flens (sebelah kiri

jika berhadapan dengan unit) dan lepaskan sil, lepaskan kedelapan baut dan flens

penutup dari ruang masukan uap. Putarlah rodatangan (handwheel) roda gigi

penggeser hingga probe berada pada batas pergerakannya pada sisi buang nozzle

yaitu jarum pada posisi 85.

Dengan menggunakan alat khusus yang disediakan, nozzle bisa disisipkan atau

dilepas. Penting jika menyekrup nozzle baru untuk memastikan bahwa cincin

Nozzle Rig | 3
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

penutupnya (ring sealing) dipasang agar membuat sil tahan kebocoran di antara

kedua ruang. Jangan biarkan nozzle bersandar pada probe karena ini bisa

menyebabkan ketidaksejajaran probe. Pasang kembali flens penutup, ganti cincin

engsel (joint ring) jika perlu. Kencangkan semua baut dan pasang profil nozzle yang

tepat ke pembawa.

Gambar 2. Skematis susunan sistem pengujian nozzle

Misalkan aliran uap awalnya pada tekanan p1, kecepatan v1 dan entalpi H1,

berekspansi melalui nosel ke tekanan akhir p2, kecepatan v2 dan entalpi H2.

Karena ini adalah proses aliran, maka bisa digunakan persamaan umum energi

yang semua sukunya diatur ke dalam satuan energi sebagai berikut:


2 2
mz1 mV 1 P1 V 1 mZ 2 mV 2 P2 V 2
+ + U1 + +Q= + + U2 + +W
J 2 gJ J J 2 gJ J (1)

Nozzle Rig | 4
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

Perubahan energi potensial dapat diabaikan, tidak ada pertukaran panas

dengan sekeliling dan tidak ada kerja luar dilakukan, sehingga dapat dituliskan:

mv12 p1 V 1 mv 22 p2 V 2
+U 1+ = +U 2 +
2 gJ J J J

p1 V 1 p2 V 2 mv22 mv12
( U1+
J )(− U 2+
J
= ) −
2 gJ 2 gJ

m
( v 22 −v 12 )=H 1 −H 2
2 gJ

pV
dengan, H=U +
J

Nozzle Rig | 5
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

Gambar 3 Profil Nozzle

Jika kecepatan uap masuk (v1) dapat diabaikan jika dibandingkan dengan

kecepatan keluarnya (v2) untuk satuan jumlah uap dapat dituliskan :

1
( v 22 ) =h1−h2
2 gJ

v 22=2 gJ ( h 1−h2 )

v 2=√ 2 gJ ( h 1−h2 )

Dalam praktek, gesekan menyebabkan energi mengalir ke dalam uap,

akibatnya meningkatkan entalpi uap dan membuatnya lebih kering. Jatuh entalpi

aktual karena itu lebih kecil daripada jatuh entalpi teoritis, dan efisiensi nozzle

ditentukan melalui rasio :

Jatuh entalpi aktual


Efisiensi Nozzle=
Jatuh entalpi teoritis

Bagian Nozzle minimum disebut leher (throat), dan tekanan pada leher untuk

kerja maksimum yang dilakukan dikenal sebagai tekanan kritis. Jika tekanan

buang lebih besar daripada tekanan kritis, maka hanya Nozzle konvergen yang

Nozzle Rig | 6
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

diperlukan, jika lebih kecil daripada tekanan kritis Nozzle konvergen-divergen

dibutuhkan. Tekanan kritis dapat ditentukan sebagai berikut.

Kecepatan uap pada setiap bagian diberikan oleh persamaan [lihat Pers. (3)] :

v 2=√ 2 gJ ( h 1−h2 )

p1 V 1 p V

v 2= 2 gJ U 1+ ( J
−U 2− 2 2
J )
Ekspansi di dalam Nozzle terjadi secara adiabatik dengan hukum pVn = C dan

perubahan energi internal diberikan oleh :

( p 1 V 1− p2 V 2 )
U 1−U 2=
J ( n−1 )

Oleh karena itu, yang dihitung dari Pers. (4),

p1V 1 p2V 2
√ (
v 2= 2 gJ U 1−U 2 +
J

J )


v 2= 2 gJ
[( p1 V 1− p1 V 1 p1 V 1 p2 V 2
J ( n−1 )
+
)J

J ]
yang berkurang ke,

pV

v 2= 2 g
n
n−1 (
p1 V 1 1− 2 2
p1 V 1 )
dan karena p1 V 1n =p 2 V 2n

n−1


v 2= 2 g
n
n−1
p
p1 V 1 1− 2
p1 [ () ] n

Nozzle Rig | 7
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

Av
Selanjutnya aliran massa F= , yaitu ;
V

luas penampang× kecepatan uap


F=
volume spesifik uap pada bagian yang ditinjau

Jadi, aliran per satuan luas pada bagian yang tekanannya adalah p2 dan

volume spesifik V2, diberikan oleh :

F v
=
A V2

n−1
F 1
=
A V2
2g
n

n−1 ( ) p
p1 V 1 1− 2
V2 [ ( ) ] n

n−1
F
A √
= 2g
n p1 V 1
( )
n−1 V 22
1−
p2
V2 [ ( )] n

Kemudian,

V 1 n p2 V 1 p 2 1
p1 V 1n =p 2 V 2n ( )
V2
= =
p1 V 2 p 1 ( ) n

Jadi,

V 12 p 2 2

V2
2
=( )
p1
n

p 1 V 12 2
p1V 1 p p1
V 2
2
=
( )( )
V 1 V2 2
= 2
p1
n
V1

Dengan mensubtitusikan diperoleh

2 n−1
F
A √
= 2g
n p1 p2
n−1 V 1 p1 ( )[ ( )
n p
1− 2
p1
n
]
Nozzle Rig | 8
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

p 2 2n p2 n +1


¿ 2g
n p1
n−1 V 1 [( ) ( ) ]
p1

p1
n

2 n+1
F p2 p2
Aliran per satuan luas maksimum jika
A p1 ( )( ) n
p1
n
maksimum.

Dengan mendiferensiasikan persamaan ini dengan melihat variabel p2, dan

menyamakan dengan nol, diperoleh

2 n +1
d ( F / A) 2 p 2 n+1 p2
dP2 [( ) ][ ( )
=
n p1
n
−1
1
p1

n p1
n
−1
1
p1 ]
=0 untuk maksimum

2−n n +1−n 2−n 1


2 p2 n+1 p2 p1 p2
0=
[ ( ) ] [ ( ) ] {( )
np1 p1
n

np1 p1
n
=2
p2
n
−(n+ 1)
( )}
p1
n 1
np1

2−n 1
p p
( )
2 2
p1
n
=(n+1) 2
p1 ( ) n

2−n 1
2 p2 p2
n+1 p1( ) ( ) n
=
p1
n

n −1
2 p2
n+1 p1( ) n

Karena itu,

p2 2 n
=
p 1 n+1 ( ) n−1

Aliran per satuan luas maksimum pada bagian ketika p2 bernilai


Nozzle Rig | 9
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

n
2
p2= p1 ( )
n+1
n −1

Berikut ini aalah nilai pendekatan untuk n :

 Uap panas lanjut : n = 1,3 sehingga p2 = 0,548 p1

 Uap jenuh yang awalnya kering : n = 1,13 sehingga p2 = 0,578 p1

 Uap yang awalnya basah : n = 1,113 sehingga p2 = 0,582 p1

Jadi untuk uap panas-lanjut jika p2 lebih besar daripada 0,548 p1, maka hanya

Nozzle konvergen yang diperlukan, jika kurang dari 0,548 p1, maka yang

dibutuhkan Nozzle konvergen-divergen dengan leher pada bagian di mana

tekanan kritis terjadi.

Daftar Simbol

m = massa uap, kg

z = tinggi di atas level datum, m

v = kecepatan uap, m/s

g = percepatan karena gravitasi (9,807), m/s2

p = tekanan, bar

h = satuan jumlah panas (H/m), J/kg

n = indeks dalam persamaan (pVn = C)

J = ekuivalen panas joule, J/kal

U = energi internal, J

V = volume, m3
Nozzle Rig | 10
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

Q = panas yang ditambahkan, J

W = kerja yang dilakukan, J

pV
H = total panas = U + ,J
J

F = aliran massa uap, kg

1.3 LANGKAH PERCOBAAN

Prosedur Pengujian Nozzle Rig

1. Pipa pengujian berada pada posisi batasan pembuangan untuk mengukur

tekanan pembuangan (exhaust).

2. Memilih dan menetapkan satu buah nozzle, memeriksa tidak ada

kerusakan pada nozzle atau pada permukaan nozzle tersebut.

3. Membuka aliran masuk aliran pendingin dan katup aliran keluar

kondensor dan mengatur katup keluaran agar mendapatkan kuantitas aliran

yang baik.

4. Membuka katup tekanan balik ( back Pressure ).

5. Membuka katup aliran masuk uap pada peralatan dan membiarkan

aliran uap selama 10 menit untuk pemanasan peralatan.

6. Kondensat akan secara otomatis membuang dari separator dan masuk

keruang uap melalui perangkap uap.

7. Memilih tekjanan masuk ke peralatan nozzle untuk nilai yang

diinginkan oleh katup masuk uap ke throttling.

Nozzle Rig | 11
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

8. Menyetel tekanan pembuangan pada nilai yang diinginkan dan

mengatur katup regulating tekanan balik.

9. Memutar lengan profil nozzle sesuai panjangnya untuk dapat membaca

tekanannya pada titik yang bertingkat. Tekanan masuk akan nampak konstan

pada nilai awal. Setelah melangkapinya memutar ulang search tube pada

posisi teratas dan memeriksa tekanan masuknya.

10. Menentukan kekeringan uap, membuka katup pada throtling orifice dan

membiarkan uap lepas ke udara (merupakan suatu wadah yang tepat untuk

mencegah buangan jatuh ke tanah). Uap dibiarkan mengalir kurang lebih 5

menit. Untuk memastikan terjadinya pemanasan, kemudian mencatat tekanan

dan temperatur uap bersama-sama dengan temperatur setelah melalui

throttling orifice. Gambaran ini dinyatakan dalam entalpi yang konstan.

Nozzle Rig | 12
Praktikum Pengukuran 342 12 047
Thermal

1.4 DATA PENGAMATAN

Uap
Throttling Uap keluar Tekanan Volume
Posisi masuk Waktu
Nozzle kondensat
Probe [Menit]
P T P1 T1 P T [bar] [ml]
2 2
o o o
[bar] [ C] [bar] [ C] [bar] [ C]

Nozzle Rig | 13

Anda mungkin juga menyukai