PENCEGAHAN PENCEMARAN UDARA OLEH AKTIVITAS
KAPAL BERDASARKAN MARPOL ANNEX VI
Oleh
kelompok III :
Intan Puspita Destarie (462190165)
Joan Bonifasius Sihite (462190175)
Mega Kurnia Putri (462190187)
Muhammad Alvyan Prabowo (462190193)
Muhammad Alwan Assidiq (462190194)
Nahya Khalisha Zaekah (462190219)
JURUSAN KETATALAKSANAAN ANGKUTAN LAUT
DAN KEPELABUHANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU PELAYARAN
JAKARTA
2020
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..................................................................................................................... 2
KATA PENGANTAR ...................................................................................................... 3
I. PENDAHULUAN ........................................................................................................ 4
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................... 4
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................................... 5
1.3. Tujuan ................................................................................................................................ 6
1.4. Manfaat ............................................................................................................................... 6
III. PENUTUP .......................................................................................................... 17
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................................... 17
3.2 Saran ................................................................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 18
LAMPIRAN .................................................................................................................. 19
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga
kami dapat menulis tugas mata kuliah Pancegahan Pencemaran Lingkungan Maritim
dengan tepat waktu.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Ayudhia Pangestu Gusti
S.T. selaku dosen mata kuliah Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim
memberikan tugas ini sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan
khususnya dalam hal - hal yang berkaitan dengan Pencegahan Pencemaran Lingkungan
Maritim.
Kami menyadari bahwa Makalah ini masih memiliki banyak sekali kekurangan
dan kesalahan, sehingga dalam kesempatan kali ini saya bermaksud untuk meminta saran
dan masukan dari semua pihak demi terciptanya tugas yang lebih baik [Link] juga
berharap agar tugas ini bisa bermanfaat bagi rekan-rekan taruna/i dan para pembaca.
Jakarta, 7 Juli 2020
3
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laut adalah kumpulan air asin yang banyak atau luas yang di dalamnya terdapat
berbagai kehidupan laut seperti ikan, anjing laut, plankton, dan tumbuhan laut. Laut
penting bagi seluruh kehidupan di atas daratan, karena laut mengandung lebih dari 90%
air yang dikandung bumi, dan laut penuh akan sumber daya seperti protein, sumber daya
alam, sebagai pengatur suhu atau thermostat yang menyerap panas matahari, serta
merupakan sarana perhubungan. Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukannya
makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam laut hingga merubah
tatanan (komposisi) air karena kegiatan manusia atau karena proses alam, dan kualitas air
turun sampai ketingkat tertentu dan menyebabkan fungsi dari laut tidak sesuai dengan
peruntukannya (Henita,2006).
Sumber pencemaran laut tersebut terdiri dari :
a. Air sungai yang membawa kotoran dari daratan.
b. Air buangan dari kota-kota dan daerah industri lewat saluran-saluran
pembuangan yang bermuara ke laut.
c. Buangan limbah berasal dari tempat penggalian bahan-bahan mentah di
dasar laut (pengeboran minyak).
d. Kotoran-kotaran yang terbawa oleh udara.
e. Zat-zat kimia yang dipakai untuk persawahan seperti pestisida yang terbawa
oleh air sungai (Henita,2006).
LingkunganHidup merupakan Anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang wajib
dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar tetap dapat menjadi sumber
penunjang hidup bagi manusia dan mahluk hidup lainnya demi kelangsungan dan
peningkatan kualitas hidup itu sendiri (Kementerian Lingkungan Hidup 2004: 29).
4
Ketentuan lingkungan hidup dirumuskan dalam Pasal 28H ayat (1) dan pasal 33 ayat (4)
UUD 1945 Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 jelas menentukan. “setiap orang berhak hidup
sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik
dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”Hak untuk memperoleh
lingkungan hidup yang baik dan sehat serta pelayanan kesehatan yang baik, merupakan
hak asasi manusia”. Karena itu UUD 1945 jelas sangat pro-lingkungan hidup (Jimly
Asshiddiqie 2009: 90).
Pencemaran laut dibatasi sebagai dampak negatif (pengaruh yang
membahayakan) bagi kehidupan biota, sumber daya, kenyamanan ekosistem laut serta
kesehatan manusia yang disebabkan oleh pembuangan bahan-bahan atau limbah secara
langsung atau tidak langsung yang berasal dari kegiatan manusia (Yennie, 2005).
Pencemaran laut secara langsung maupun tidak langsung dapat disebabkan oleh
pembuangan limbah ke dalam laut, dimana salah satu bahan pencemar utama yang
terkandung dalam buangan limbah adalah logam berat yang beracun (Hala, 2005).
Penurunan kualitas air diakibatkan oleh adanya zat pencemar, baik berupa komponen-
komponen organik maupun anorganik. Komponen-komponen anorganik, diantaranya
adalah logam berat yang berbahaya (Siaka, 2008).
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Marine polution ?
2. Bagaimana konsep dalam Annex VI?
3. Apa saja jenis-jenis zat perusak lapisan ozon?
4. Apa saja setifikat yang harus ada di dalam kapal ?
5
1.3. Tujuan
1 Untuk mengetahui apa itu Marine Polution.
2. Untuk mengatahui konsep Annex VI
3. Untuk mengetahui jenis-jenis zat perusak lapisan ozon
4. Untuk mengetahui setifikat yang harus ada di dalam kapal
1.4. Manfaat
Manfaat dari tulisan ini adalah untuk mengetahu bagaimana dasar hokum yang
digunakan untuk mengurangi pencemran polusi laut oleh aktifitas kapal.
6
II. PEMBAHASAN
MARPOL (Marine Polution) adalah sebuah peraturan internasional yang di buat
oleh lembaga internasional yang bernama Internasional Maritime Organization (IMO)
yang bertujuan untuk mencegah terjadinya pencemaran di lingkungan laut. Salah satu
konvensi lingkungan laut yang sangat penting yang di kembangkan oleh International
Maritime Organization (IMO) dalam upaya meminimalisir pencemaran laut, termasuk
pembuangan, pencemaran minyak, dan udara.
MARPOL dapat dikatakan sebagai peraturan dalam skala internasional yang
paling ambisius dalam rangka pencegahan pencemaran laut akibat aktivitas rutin ataupun
kecelakaan kapal laut. Tidak hanya mencakup pencegahan pencemaran laut akibat
tumpahan minyak dari kapal tetapi mengatur pula soal bahan-bahan beracun, bahan-
bahan berhaya didalam kemasan, termasuk sampah dan limbah dari kapal yang dihasilkan
dari operasional rutin melalui lima annex nya, bahkan pada amandemen tahun 2007,
ditambahkan pula satu annex yang mengatur soal polusi udara yang berasal dari kapal,
sehingga hari ini susunan annex dalam MARPOL adalah sebagai berikut :
1. Annex I tentang pencemaran yang disebabkan oleh minyak
2. Annex II tentang pencemaran yang disebabkan oleh bahan-bahan beracun
(Noxious Liquid Substances)
3. Annex III tentang pencemaran yang disebabkan oleh bahan-bahanberbahaya
didalam kemasan
4. Annex IV tentang pencemaran yang disebabkan oleh sampalh (garbage)
darikapal
5. Annex V tentang pencemaran yang disebabkan oleh limba cair (sewage)
6. Annex VI tentang pencemaran udara yang disebabkan oleh aktifitas kapal.
7
Polusi udara adalah masuknya suatu zat, energi atau komponen lain dalam ruang
udara bebas di atmosfir dari kegiatan luar, sehingga mutu atau kualitas dari udara turun
pada tingkat tertentu, sehingga udara tidak dapat memenuhi fungsinya yang berdampak
buruk pada ekosistem, mengganggu kenyamanan, dan kesehatan. Secara alami,
komposisi udara di atmosfir bumi gabungan dari beberapa kandungan gas, komposisi
komponen gas penyusun atmosfer ini bisa mengalami perubahanakibatpolusiudara.
Pencemaran udara timbul akibat adanya sumber-sumber pencemaran, baik yang
bersifat alami ataupun karena kegiatan manusia. Termasuk bersumber dari operasional
permesinan kapal, diantaranya gas buang dari mesin induk kapal, adapun karena sifat
alami udara yang bisa menyebar tanpa batasan ruang yang berakibat pencemaran udara
bisa bersifat lokal, regional, maupun global yang berdampak buruk, oleh karena itu
disusun aturan mengenai pencegahan polusi udara secara ketat baik mengenai sistem,
teknis dan materi pendukung lainnya yang berpotensi menimbulkan pencemaran udara.
MARPOL Annex VI mulai berlaku pada tanggal 19 Mei 2005. Merupakan
persyaratan untuk mengatur polusi udara yang dipancarkan oleh kapal, termasuk emisi
zat perusak ozon, Nitrogen Oksida (NOx), Sulfur Oxide (SOx), Senyawa Organik
Volatile (VOCs) dan insinerasi kapal. Ini juga menetapkan persyaratan untuk fasilitas
penerimaan limbah dari sistem pembersihan gas buang, insinerator, kualitas bahan bakar
minyak, untuk platform off-shore dan rig pengeboran dan untuk pembentukan Area
Kontrol Emisi SOx (SECA). Peraturan ini berlaku terhadap kapal yang memilki mesin
diesel dengan tenaga output lebih dari 130 kW.
Aturan dalam Annex VI ini diberlakukan untuk semua kapal – kapal kecuali
aturan 3, 5, 6, 13, 15, 18 dan 19 pada aturan ini.
1. Peraturan 3 Pengecualian dan Pembebasan Umum
2. Peraturan 5 Survei
8
3. Peraturan 6 Penerbitan atau Pengesahan Sertifikat
4. Peraturan 13 Nitrogen Oksida (Nox)
5. Peraturan 15 Senyawa Organik yang Mudah Menguap (VOC)
6. Peraturan 18 Ketersediaan dan Kualitas Bahan Bakar Minyak
Jenis – jenis zat perusak ozon adalah
a) NOx Technical Code adalah Technical Code pada Control pada emisi dar
Nitroge Oxides dan Mesin Diesel kapal yang diterima oleh Conferencc Resolution 2 yang
mungkin kemudian diamandemen.
b) Ozone depleting substances (Zat penipis ozone) berarti zat zat yang dikonto
seperti yang ditulis dalam paragraf 4 dan Artikel I dan Montreal Protocol on Substances
that Deplete the ozone layer 1987 yang tercantum dalani Lampiran A,B.C atau E dan
Protocol tersebut
c) SOx emission control area adalah suatu daerah dimana pemberlakuan tindakan
mandatory yang khusus untuk emisi SOx dan kapal kapal diperlukan untuk
mencegah,mengurangi dan mengontrol [Link] dan SOx Benlaku untuk semua
kapal,Floating drilling rigs dan Platform akan tetapi yang diharuskan memiliki sertifikat
hanya kapal GT 400 atau Iebihdan anjungan lepas [Link] into force 19 Mei 2005.
Apabila dan hasil survei memenuhi sarat dibeni sertifikat INTERNATIONAL AIR
POLLUTION PREVENTION CERTIFICATE.
Pengawasan emisi dilakukan terhadap:
1. Emisi dan zat penipis lapisan ozone
2. EmisiNitrogen Oxide (Nox) dan motor diesel
3. Emisi bel;erang oxid (Suiphunoxid)
9
4. Emisi dan bahan campuran organik yg mudah menguap (Volatile Organic
Compound
5. Pembakaran limbah kapal (the Incineration of shipboard wastes
6. Kualitas bahan bakar minyak
Substansi penipisan lapisan ozone (Ozone Depleting Substances) yaitu
1. Tidak diizinkan emisi substansi penipisan ozone yang dilakukan dengan sengaja.
2. Hanya kerugian-kerugian operasional minimal yang diizinkan seperti
purging/venting [Link] disyaratkan untuk membuang dan kapal,ODS harus dibuang ke
penampungan didarat.
3. Instalasi baru yang berisi substansi penipis ozone akan dilarang diatas kapal
kecuali instalasi baru tersebut berisi Hydrochiorofluorocarbons (HCFCs) dapat diizinkan
hingga I Januari 2020.
4. Pemadam kebakaran atau perlengkapan Iainnya seperti unit pendingin yang
menggunakan Halons tidak diizinkan
5. Untuk sistem lain yang menggunakan media pendingin seperti sistim pendingin
udara,pengendalian (pengering)udara mesin pembuat es dan [Link] dan tipe yang
memenuhi [Link] inii zat-zat yang digunakan di kapal adalah: Halon
l2ll(Bromko chioro difluoro methane),Hajon 1301 (Bromo trifluoro methane),Hajon
2402 (Dibromo tetraflouro ethane),CFC 11 (Trichioroflouromethafle) CFC 12
(Dichoforodiflouromethafle)CFC 113,114 dan 115 Kapal kapal harus punya daftar zat
penipis ozon yang dipakai di kapal.
Dalam hal ada peralatan dengan sistim pengisian ulang maka harus ada Ozone
depleting Record Book NOx TECHNICAL CODE Semua motor diesel yang dipasang
sesudah 1 Januari 2000,dengan suatu output tenaga Iebih dan 130 kW harus dites dan
diterbitkan suatu Sertifikat Pencegahan Pencemaran Udara Internasional untuk
10
MotorDiesel(Engine International Air Pollution Prevention Certificate) atau disingkat
EIAPP dan suatu pengesahan NOx Technical File. Dokumen mi memberikan rincian dan
penerapan komponen komponen mesin yang diizinkan,kafupkatup yang bekerja dan alat-
alat penyetelan yang diizinkariyang memastjkan motor akan terus beroperasi dalam batas-
batas emisi NOx yang dapat ditenimaSertifikat EAIPP mi da NOx Technical File yang
diakui harus berada pada motor diesel [Link] periodik dilaksanakan oleh Badan
Klasifikasi untuk memastikan motor diesel beroperasi terus dalam batas atas emisi NOx
di kapal.
Jika ada suatu penyetelan,pergantian bagianbagian mesin dan modifikasi yang
mempengaruhp karasteristik emsi NOx,harus dcatat kronologis dalan, suatu buku catatan
mesin dan parameter [Link] numbers dan semua yang dipakai harus [Link] number
tersebut harus dicap pada bagian-bagjan ini dan harus dicatat sebelum dipasang motor
diesel.
• Motor-motor diesel untuk keadaan darurat (Emergency diesel
Engines),motor diesel untuk sekoci penolong tidak harus memenuhi peraturan
tentang engawasan NOx.
• Administration juga boleh mengizinkan motor diesel yang dipasang
sebelum 19 Mei 2005 yang hanya semata-mata melayani pelayaran domestik dengan
catatan ada cara lain pengontrolan emisi.
• Dalam penerapan pengawsan NOx ada 3 pendekatan
• Tier 1 yaitu kapal yang dibangun antara 1 jan 2000 sampai 1 Jan 2011
• Tier 2 yaitu kapal yang dibangun sesudah 1 Jan 2011
• Tier 3 yaitu kapal yang dibangun sesudah 1 Jan 2016
• Maximum NOx yang diizinkan pada motor-motor diesel adalah sebagai
berikut:
11
a) 17,0 g/kWh bilamana n < 130 rpm (-0,2)
b) 45,0 x n g/kWh nilamana n adalah 130 rpm atau lebih tetapi kurang dari 2000 rpm
c) 9,8 g/kWh bilamana n adalah 2000 rpm atau lebih besar. Dirnana n adalah kecepatan
motor rata-rata (putaran poros engkol per menit)
Persyaratan -Persyaratan Sox
• Kandungan belerang dan setiap bahan bakar yang dipakal dikapal tidak
boleh lebih dan 4,5% rn/rn dan harus ada dolumun dikapal sebagai pembuktian
• Catatab Penyerahan [Link] (Bunker Delivery Note =BDN)
• KKM harus memeriksa bahwa BDN (dahulu disebut Bunker Delivery
Receipt) yang sekurang-kurangnya berisi informasi yaitu:
1. Nama dan Nomor IMO kapal penerima
2. Pelabuhan
3. Tanggal penyerahan
4. Narna,alamat dan no telepon dan pemasok bahan bakar (marine diesel oil
supplier)
5. Narna produk
6. Kuantitas (metric tons)
7. Berat jenis pada suhu 1 5derajat C (kglm3)
8. Kandungan belerang (% rn/rn)
9. Pernyataan dengan membubuhkan tanda tangan dan pemasiok bahwa BBM yang
dipasok sesuai dengan Peraturan 14 Annex Vl. Yaitu kapal harus rnenyirnpan BDN
dengan item tsb diatas untuk pemeriksaan dan harus disirnpan dikapal 3 tahun semenjak
tanggal pengisian.
12
Persyaratan Daerah Khusus (Special Area Requirements)
Dalam daerah-daerah pengawasan emisi Sox(Sox Emission Control Area
=SECA) kandungan belerang dalam bahan bakar yang dipakai di kapal tidak boleh
melebihi 1,5 %rn/m kecuali sistim pernbersih gas buang atau yang sejenisnya
[Link] waktu rnendekati Daerah Pengawasan Ernisi SOX bahan bakar yang
dpakai harus diganti dengan bahan bakar yang kandungan belerang 1,5 %
m/[Link] harus tuntas sebelurn rnernasuki daerah [Link] kapal pada
awal dan akhir suatu penggantian harus dicatat dalam logbook bersama rincian dan tanki
tanki bahan bakar yang [Link] Baltic kan menjadi yang petarna melaksanakan
hal mi yang mernberlakukannya sejak bulan Mel 2006 yang diikuti oleh Laut Utara dan
kemungkinan akan dilkuti oleh banyak alur laut [Link]: Operasi penggantian
bahan bakar. diselesaikan ke bahan bakar dengan kandungan belerang rendah,kurang atau
setara dengan 1,5 % rn/rn
• Tanggal:19 Mei [Link] 1600 [Link] kapal 57-00 N/002-00 E ROB:
No.2 (P) tank 200 MT and No.3(S) tank 300 MT
Kecuali untuk pembakaran sludge sewage dan sludge oil pembakaran
hanya boleh dilakukan pada incinerator yang telah mendapatkan approved dan
Pemerintah sesuai standar yang ditentukan oleh IMO Pembakaran dan zat zat
berikut dilarang: [Link] residu dan muatan Annex 1, II dan lii dan packing material
yang terkontaminasi b. Polychiorinated biphenyls (PCBs)
c. Sampah yang berisi logam berat yang lebih dan yang diijinkan.
d. Minyak olahan yang berisi halogen compound Untuk pembakaran
sludge sewage dan sludge oil yang dihasilkan selama penoperasian kapal dapat
13
juga dilakukan di peralatan mesin utama .mesin bantu atau boiler tetapi tidak
boleh di lakukan dalam pelabuhan,harbour atau estuaries.
Volatile Organic Compounds (VOC) Semua tanker yang terkena aturan
pengawasan Vapour Emission harus dilengkapi dengan Vapour Collection System yang
diapproved oleh Pemerintahnya sesuai dengan standar keselamatan yang dibuat oleh IMO
dan harus mengikuti standar tersebut selama proses [Link] terminal yang
telah memasang vapour emission control dapat menerima tanker yang belum dilengkapi
dengan vapour collecting system selama 3 tahun sejak diterapkannya aturan mi
.Sertifikasi dan Survey Kapal kapal ukuran GT 400 atau Iebih harus dilengkapi dengan
Air Pollution Prevention Certificate yang masa berlakunya sesuai ketentuan
Pemenintahnya tetapi tidak boleh lebih dan 5 tahun.
Istilah – istilah penting :
1. Similiar stage contruction
Tempat yang diketahui pada waktu kontruksi kapal secara spesific dari awal. Dan
peletakan kapal yang telah dilakukan diperkirakan tidak boleh kurang dari 50 atau 1 %
dari berat seluruh struktur material kapal.
2. Continous feeding
Proses yang menghasilkan sampah ke dalam ruang pembakaran tanpa bantuan
manusia ketika alat pembakaran dalam kondisi berjalan dengan lancar dengan suhu pada
ruang pembakaran 8500 C dan 12000 C
3. Instalasi baru
Berhubungan dengan aturan 12 pada Bab ini, adalah semua system instalasi,
peralatan, termasuk unit pembakaran jinjing, penyekatan atau bahan – bahan lain diatas
kapal setelah tanggal pemberlakuan peraturan ini. Tetapi tidak termasuk perbaikan atau
14
pengisian system instalasi, peralatan penyekatan, atau pengisian unit pemadam kebakaran
jinjing
4. Nox Technical code
Adalah kode teknis untuk control emisi dari Nitrogen oksida dari mesin diesel.
5. Penipisan zat ozon
Adalah kontrol zat yang didifinisikan paragraph 4 artikel 1 dari protocol montreal
mengenal penipisan lapisan zat ozon 1987.
6. Sludge Oil
Lumpur dari bahan bakar, minyak pelumas dari separator, sampah dari minyak
pelumas dari mesin induk atau mesin bantu, sisa minyak dari got separator, penyaringan
minyak atau penampang tetesan / rembesan.
7. Shipboard incineration
Adalah pembakaran sampah – sampah atau bahan – bahan dikapal selama
pengoperasian kapal berjalan normal.
8. Shipboard incinerator
Adalah fasilitas dikapal yang didesain untuk pembakaran yang paling utama.
Sertifikat dan dokumen yang harus ada dikapal setelah Annex VI
diberlakukan
1. Catatan penerimaan bahan bakar utk 3 tahun
2. Setifikat EIAPP, Technical fle dan Sertifikat IAPP
3. Record Book of Engine parameters
4. Operation Manual for inboard masurement and monitoring
methods
5. Operation Manual forVapour collecting system
15
6. Operation Manual for Shipboard Incinerator
7. Buku Harian (log book)
16
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
MARPOL Annex VI merupakan persyaratan untuk mengatur polusi udara yang
dipancarkan oleh kapal, termasuk emisi zat perusak ozon, Nitrogen Oksida (NOx), Sulfur
Oxide (SOx), Senyawa Organik Volatile (VOCs) dan insinerasi kapal. Ini juga menetapkan
persyaratan untuk fasilitas penerimaan limbah dari sistem pembersihan gas buang,
insinerator, kualitas bahan bakar minyak, untuk platform off-shore dan rig pengeboran
dan untuk pembentukan Area Kontrol Emisi SOx (SECA). Pencemaran laut adalah
masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke
dalam laut hingga merubah tatanan (komposisi) air karena kegiatan manusia atau karena
proses alam. Logam merupakan salah satu bahan kimia yang berbahaya untuk air laut jika
digunakan dalam umlah yang banyak.
3.2 Saran
Saran saya dalam mengerjakan tugas ini harus lebih banyak referensi agar dapat
menyampaikan materi dengan baik.
17
DAFTAR PUSTAKA
Asshidiqie, Jimly. 2009. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Bp3ipjakarta. 2011. Kepedulian Lingkungan. Retervied Juli 07,2020, from
[Link]
BAB%[Link]
Henita. 2006. Diktat Perkuliahan Marine Pollution. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta
Imo. International Convention for the Prevention of Pollution from Ships. Retervied Juli
07,2020,from
[Link]
l-Convention-for-the-Prevention-of-Pollution-from-Ships-
%28MARPOL%[Link]
Setkab. 2012. Perpres No 29 2012 Lampiran. Retervied Juli 07,2020,from
[Link]
[Link]
Siaka, M. L. 2008. Korelasi antara kedalaman sedimen di pelabuhan Benoa dan
konsentrasi logam berat Pb dan [Link] Kimia, 2(2): 61-70.
18
LAMPIRAN
19
20