0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
624 tayangan20 halaman

Pencegahan Pencemaran Udara MARPOL VI

Tulisan ini membahas pencegahan pencemaran udara oleh aktivitas kapal berdasarkan MARPOL Annex VI. Annex VI adalah konvensi internasional yang mengatur tentang pencegahan polusi udara dari kapal, termasuk zat-zat perusak ozon dan sertifikat yang harus dimiliki kapal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
624 tayangan20 halaman

Pencegahan Pencemaran Udara MARPOL VI

Tulisan ini membahas pencegahan pencemaran udara oleh aktivitas kapal berdasarkan MARPOL Annex VI. Annex VI adalah konvensi internasional yang mengatur tentang pencegahan polusi udara dari kapal, termasuk zat-zat perusak ozon dan sertifikat yang harus dimiliki kapal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENCEGAHAN PENCEMARAN UDARA OLEH AKTIVITAS

KAPAL BERDASARKAN MARPOL ANNEX VI

Oleh

kelompok III :

Intan Puspita Destarie (462190165)

Joan Bonifasius Sihite (462190175)

Mega Kurnia Putri (462190187)

Muhammad Alvyan Prabowo (462190193)

Muhammad Alwan Assidiq (462190194)

Nahya Khalisha Zaekah (462190219)

JURUSAN KETATALAKSANAAN ANGKUTAN LAUT

DAN KEPELABUHANAN

SEKOLAH TINGGI ILMU PELAYARAN

JAKARTA
2020

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..................................................................................................................... 2

KATA PENGANTAR ...................................................................................................... 3

I. PENDAHULUAN ........................................................................................................ 4

1.1 Latar Belakang ................................................................................................................... 4


1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................................... 5
1.3. Tujuan ................................................................................................................................ 6
1.4. Manfaat ............................................................................................................................... 6
III. PENUTUP .......................................................................................................... 17

3.1 Kesimpulan ...................................................................................................................... 17


3.2 Saran ................................................................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 18

LAMPIRAN .................................................................................................................. 19

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,

karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga

kami dapat menulis tugas mata kuliah Pancegahan Pencemaran Lingkungan Maritim

dengan tepat waktu.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Ayudhia Pangestu Gusti

S.T. selaku dosen mata kuliah Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim

memberikan tugas ini sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan

khususnya dalam hal - hal yang berkaitan dengan Pencegahan Pencemaran Lingkungan

Maritim.

Kami menyadari bahwa Makalah ini masih memiliki banyak sekali kekurangan

dan kesalahan, sehingga dalam kesempatan kali ini saya bermaksud untuk meminta saran

dan masukan dari semua pihak demi terciptanya tugas yang lebih baik [Link] juga

berharap agar tugas ini bisa bermanfaat bagi rekan-rekan taruna/i dan para pembaca.

Jakarta, 7 Juli 2020

3
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Laut adalah kumpulan air asin yang banyak atau luas yang di dalamnya terdapat

berbagai kehidupan laut seperti ikan, anjing laut, plankton, dan tumbuhan laut. Laut

penting bagi seluruh kehidupan di atas daratan, karena laut mengandung lebih dari 90%

air yang dikandung bumi, dan laut penuh akan sumber daya seperti protein, sumber daya

alam, sebagai pengatur suhu atau thermostat yang menyerap panas matahari, serta

merupakan sarana perhubungan. Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukannya

makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam laut hingga merubah

tatanan (komposisi) air karena kegiatan manusia atau karena proses alam, dan kualitas air

turun sampai ketingkat tertentu dan menyebabkan fungsi dari laut tidak sesuai dengan

peruntukannya (Henita,2006).

Sumber pencemaran laut tersebut terdiri dari :

a. Air sungai yang membawa kotoran dari daratan.

b. Air buangan dari kota-kota dan daerah industri lewat saluran-saluran

pembuangan yang bermuara ke laut.

c. Buangan limbah berasal dari tempat penggalian bahan-bahan mentah di

dasar laut (pengeboran minyak).

d. Kotoran-kotaran yang terbawa oleh udara.

e. Zat-zat kimia yang dipakai untuk persawahan seperti pestisida yang terbawa

oleh air sungai (Henita,2006).

LingkunganHidup merupakan Anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang wajib

dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar tetap dapat menjadi sumber

penunjang hidup bagi manusia dan mahluk hidup lainnya demi kelangsungan dan

peningkatan kualitas hidup itu sendiri (Kementerian Lingkungan Hidup 2004: 29).

4
Ketentuan lingkungan hidup dirumuskan dalam Pasal 28H ayat (1) dan pasal 33 ayat (4)

UUD 1945 Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 jelas menentukan. “setiap orang berhak hidup

sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik

dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”Hak untuk memperoleh

lingkungan hidup yang baik dan sehat serta pelayanan kesehatan yang baik, merupakan

hak asasi manusia”. Karena itu UUD 1945 jelas sangat pro-lingkungan hidup (Jimly

Asshiddiqie 2009: 90).

Pencemaran laut dibatasi sebagai dampak negatif (pengaruh yang

membahayakan) bagi kehidupan biota, sumber daya, kenyamanan ekosistem laut serta

kesehatan manusia yang disebabkan oleh pembuangan bahan-bahan atau limbah secara

langsung atau tidak langsung yang berasal dari kegiatan manusia (Yennie, 2005).

Pencemaran laut secara langsung maupun tidak langsung dapat disebabkan oleh

pembuangan limbah ke dalam laut, dimana salah satu bahan pencemar utama yang

terkandung dalam buangan limbah adalah logam berat yang beracun (Hala, 2005).

Penurunan kualitas air diakibatkan oleh adanya zat pencemar, baik berupa komponen-

komponen organik maupun anorganik. Komponen-komponen anorganik, diantaranya

adalah logam berat yang berbahaya (Siaka, 2008).

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Marine polution ?

2. Bagaimana konsep dalam Annex VI?

3. Apa saja jenis-jenis zat perusak lapisan ozon?

4. Apa saja setifikat yang harus ada di dalam kapal ?

5
1.3. Tujuan

1 Untuk mengetahui apa itu Marine Polution.

2. Untuk mengatahui konsep Annex VI

3. Untuk mengetahui jenis-jenis zat perusak lapisan ozon

4. Untuk mengetahui setifikat yang harus ada di dalam kapal

1.4. Manfaat

Manfaat dari tulisan ini adalah untuk mengetahu bagaimana dasar hokum yang

digunakan untuk mengurangi pencemran polusi laut oleh aktifitas kapal.

6
II. PEMBAHASAN

MARPOL (Marine Polution) adalah sebuah peraturan internasional yang di buat

oleh lembaga internasional yang bernama Internasional Maritime Organization (IMO)

yang bertujuan untuk mencegah terjadinya pencemaran di lingkungan laut. Salah satu

konvensi lingkungan laut yang sangat penting yang di kembangkan oleh International

Maritime Organization (IMO) dalam upaya meminimalisir pencemaran laut, termasuk

pembuangan, pencemaran minyak, dan udara.

MARPOL dapat dikatakan sebagai peraturan dalam skala internasional yang

paling ambisius dalam rangka pencegahan pencemaran laut akibat aktivitas rutin ataupun

kecelakaan kapal laut. Tidak hanya mencakup pencegahan pencemaran laut akibat

tumpahan minyak dari kapal tetapi mengatur pula soal bahan-bahan beracun, bahan-

bahan berhaya didalam kemasan, termasuk sampah dan limbah dari kapal yang dihasilkan

dari operasional rutin melalui lima annex nya, bahkan pada amandemen tahun 2007,

ditambahkan pula satu annex yang mengatur soal polusi udara yang berasal dari kapal,

sehingga hari ini susunan annex dalam MARPOL adalah sebagai berikut :

1. Annex I tentang pencemaran yang disebabkan oleh minyak

2. Annex II tentang pencemaran yang disebabkan oleh bahan-bahan beracun

(Noxious Liquid Substances)

3. Annex III tentang pencemaran yang disebabkan oleh bahan-bahanberbahaya

didalam kemasan

4. Annex IV tentang pencemaran yang disebabkan oleh sampalh (garbage)

darikapal

5. Annex V tentang pencemaran yang disebabkan oleh limba cair (sewage)

6. Annex VI tentang pencemaran udara yang disebabkan oleh aktifitas kapal.

7
Polusi udara adalah masuknya suatu zat, energi atau komponen lain dalam ruang

udara bebas di atmosfir dari kegiatan luar, sehingga mutu atau kualitas dari udara turun

pada tingkat tertentu, sehingga udara tidak dapat memenuhi fungsinya yang berdampak

buruk pada ekosistem, mengganggu kenyamanan, dan kesehatan. Secara alami,

komposisi udara di atmosfir bumi gabungan dari beberapa kandungan gas, komposisi

komponen gas penyusun atmosfer ini bisa mengalami perubahanakibatpolusiudara.

Pencemaran udara timbul akibat adanya sumber-sumber pencemaran, baik yang

bersifat alami ataupun karena kegiatan manusia. Termasuk bersumber dari operasional

permesinan kapal, diantaranya gas buang dari mesin induk kapal, adapun karena sifat

alami udara yang bisa menyebar tanpa batasan ruang yang berakibat pencemaran udara

bisa bersifat lokal, regional, maupun global yang berdampak buruk, oleh karena itu

disusun aturan mengenai pencegahan polusi udara secara ketat baik mengenai sistem,

teknis dan materi pendukung lainnya yang berpotensi menimbulkan pencemaran udara.

MARPOL Annex VI mulai berlaku pada tanggal 19 Mei 2005. Merupakan

persyaratan untuk mengatur polusi udara yang dipancarkan oleh kapal, termasuk emisi

zat perusak ozon, Nitrogen Oksida (NOx), Sulfur Oxide (SOx), Senyawa Organik

Volatile (VOCs) dan insinerasi kapal. Ini juga menetapkan persyaratan untuk fasilitas

penerimaan limbah dari sistem pembersihan gas buang, insinerator, kualitas bahan bakar

minyak, untuk platform off-shore dan rig pengeboran dan untuk pembentukan Area

Kontrol Emisi SOx (SECA). Peraturan ini berlaku terhadap kapal yang memilki mesin

diesel dengan tenaga output lebih dari 130 kW.

Aturan dalam Annex VI ini diberlakukan untuk semua kapal – kapal kecuali

aturan 3, 5, 6, 13, 15, 18 dan 19 pada aturan ini.

1. Peraturan 3 Pengecualian dan Pembebasan Umum

2. Peraturan 5 Survei

8
3. Peraturan 6 Penerbitan atau Pengesahan Sertifikat

4. Peraturan 13 Nitrogen Oksida (Nox)

5. Peraturan 15 Senyawa Organik yang Mudah Menguap (VOC)

6. Peraturan 18 Ketersediaan dan Kualitas Bahan Bakar Minyak

Jenis – jenis zat perusak ozon adalah

a) NOx Technical Code adalah Technical Code pada Control pada emisi dar

Nitroge Oxides dan Mesin Diesel kapal yang diterima oleh Conferencc Resolution 2 yang

mungkin kemudian diamandemen.

b) Ozone depleting substances (Zat penipis ozone) berarti zat zat yang dikonto

seperti yang ditulis dalam paragraf 4 dan Artikel I dan Montreal Protocol on Substances

that Deplete the ozone layer 1987 yang tercantum dalani Lampiran A,B.C atau E dan

Protocol tersebut

c) SOx emission control area adalah suatu daerah dimana pemberlakuan tindakan

mandatory yang khusus untuk emisi SOx dan kapal kapal diperlukan untuk

mencegah,mengurangi dan mengontrol [Link] dan SOx Benlaku untuk semua

kapal,Floating drilling rigs dan Platform akan tetapi yang diharuskan memiliki sertifikat

hanya kapal GT 400 atau Iebihdan anjungan lepas [Link] into force 19 Mei 2005.

Apabila dan hasil survei memenuhi sarat dibeni sertifikat INTERNATIONAL AIR

POLLUTION PREVENTION CERTIFICATE.

Pengawasan emisi dilakukan terhadap:

1. Emisi dan zat penipis lapisan ozone

2. EmisiNitrogen Oxide (Nox) dan motor diesel

3. Emisi bel;erang oxid (Suiphunoxid)

9
4. Emisi dan bahan campuran organik yg mudah menguap (Volatile Organic

Compound

5. Pembakaran limbah kapal (the Incineration of shipboard wastes

6. Kualitas bahan bakar minyak

Substansi penipisan lapisan ozone (Ozone Depleting Substances) yaitu

1. Tidak diizinkan emisi substansi penipisan ozone yang dilakukan dengan sengaja.

2. Hanya kerugian-kerugian operasional minimal yang diizinkan seperti

purging/venting [Link] disyaratkan untuk membuang dan kapal,ODS harus dibuang ke

penampungan didarat.

3. Instalasi baru yang berisi substansi penipis ozone akan dilarang diatas kapal

kecuali instalasi baru tersebut berisi Hydrochiorofluorocarbons (HCFCs) dapat diizinkan

hingga I Januari 2020.

4. Pemadam kebakaran atau perlengkapan Iainnya seperti unit pendingin yang

menggunakan Halons tidak diizinkan

5. Untuk sistem lain yang menggunakan media pendingin seperti sistim pendingin

udara,pengendalian (pengering)udara mesin pembuat es dan [Link] dan tipe yang

memenuhi [Link] inii zat-zat yang digunakan di kapal adalah: Halon

l2ll(Bromko chioro difluoro methane),Hajon 1301 (Bromo trifluoro methane),Hajon

2402 (Dibromo tetraflouro ethane),CFC 11 (Trichioroflouromethafle) CFC 12

(Dichoforodiflouromethafle)CFC 113,114 dan 115 Kapal kapal harus punya daftar zat

penipis ozon yang dipakai di kapal.

Dalam hal ada peralatan dengan sistim pengisian ulang maka harus ada Ozone

depleting Record Book NOx TECHNICAL CODE Semua motor diesel yang dipasang

sesudah 1 Januari 2000,dengan suatu output tenaga Iebih dan 130 kW harus dites dan

diterbitkan suatu Sertifikat Pencegahan Pencemaran Udara Internasional untuk

10
MotorDiesel(Engine International Air Pollution Prevention Certificate) atau disingkat

EIAPP dan suatu pengesahan NOx Technical File. Dokumen mi memberikan rincian dan

penerapan komponen komponen mesin yang diizinkan,kafupkatup yang bekerja dan alat-

alat penyetelan yang diizinkariyang memastjkan motor akan terus beroperasi dalam batas-

batas emisi NOx yang dapat ditenimaSertifikat EAIPP mi da NOx Technical File yang

diakui harus berada pada motor diesel [Link] periodik dilaksanakan oleh Badan

Klasifikasi untuk memastikan motor diesel beroperasi terus dalam batas atas emisi NOx

di kapal.

Jika ada suatu penyetelan,pergantian bagianbagian mesin dan modifikasi yang

mempengaruhp karasteristik emsi NOx,harus dcatat kronologis dalan, suatu buku catatan

mesin dan parameter [Link] numbers dan semua yang dipakai harus [Link] number

tersebut harus dicap pada bagian-bagjan ini dan harus dicatat sebelum dipasang motor

diesel.

• Motor-motor diesel untuk keadaan darurat (Emergency diesel

Engines),motor diesel untuk sekoci penolong tidak harus memenuhi peraturan

tentang engawasan NOx.

• Administration juga boleh mengizinkan motor diesel yang dipasang

sebelum 19 Mei 2005 yang hanya semata-mata melayani pelayaran domestik dengan

catatan ada cara lain pengontrolan emisi.

• Dalam penerapan pengawsan NOx ada 3 pendekatan

• Tier 1 yaitu kapal yang dibangun antara 1 jan 2000 sampai 1 Jan 2011

• Tier 2 yaitu kapal yang dibangun sesudah 1 Jan 2011

• Tier 3 yaitu kapal yang dibangun sesudah 1 Jan 2016

• Maximum NOx yang diizinkan pada motor-motor diesel adalah sebagai

berikut:

11
a) 17,0 g/kWh bilamana n < 130 rpm (-0,2)

b) 45,0 x n g/kWh nilamana n adalah 130 rpm atau lebih tetapi kurang dari 2000 rpm

c) 9,8 g/kWh bilamana n adalah 2000 rpm atau lebih besar. Dirnana n adalah kecepatan

motor rata-rata (putaran poros engkol per menit)

Persyaratan -Persyaratan Sox

• Kandungan belerang dan setiap bahan bakar yang dipakal dikapal tidak

boleh lebih dan 4,5% rn/rn dan harus ada dolumun dikapal sebagai pembuktian

• Catatab Penyerahan [Link] (Bunker Delivery Note =BDN)

• KKM harus memeriksa bahwa BDN (dahulu disebut Bunker Delivery

Receipt) yang sekurang-kurangnya berisi informasi yaitu:

1. Nama dan Nomor IMO kapal penerima

2. Pelabuhan

3. Tanggal penyerahan

4. Narna,alamat dan no telepon dan pemasok bahan bakar (marine diesel oil

supplier)

5. Narna produk

6. Kuantitas (metric tons)

7. Berat jenis pada suhu 1 5derajat C (kglm3)

8. Kandungan belerang (% rn/rn)

9. Pernyataan dengan membubuhkan tanda tangan dan pemasiok bahwa BBM yang

dipasok sesuai dengan Peraturan 14 Annex Vl. Yaitu kapal harus rnenyirnpan BDN

dengan item tsb diatas untuk pemeriksaan dan harus disirnpan dikapal 3 tahun semenjak

tanggal pengisian.

12
Persyaratan Daerah Khusus (Special Area Requirements)

Dalam daerah-daerah pengawasan emisi Sox(Sox Emission Control Area

=SECA) kandungan belerang dalam bahan bakar yang dipakai di kapal tidak boleh

melebihi 1,5 %rn/m kecuali sistim pernbersih gas buang atau yang sejenisnya

[Link] waktu rnendekati Daerah Pengawasan Ernisi SOX bahan bakar yang

dpakai harus diganti dengan bahan bakar yang kandungan belerang 1,5 %

m/[Link] harus tuntas sebelurn rnernasuki daerah [Link] kapal pada

awal dan akhir suatu penggantian harus dicatat dalam logbook bersama rincian dan tanki

tanki bahan bakar yang [Link] Baltic kan menjadi yang petarna melaksanakan

hal mi yang mernberlakukannya sejak bulan Mel 2006 yang diikuti oleh Laut Utara dan

kemungkinan akan dilkuti oleh banyak alur laut [Link]: Operasi penggantian

bahan bakar. diselesaikan ke bahan bakar dengan kandungan belerang rendah,kurang atau

setara dengan 1,5 % rn/rn

• Tanggal:19 Mei [Link] 1600 [Link] kapal 57-00 N/002-00 E ROB:

No.2 (P) tank 200 MT and No.3(S) tank 300 MT

 Kecuali untuk pembakaran sludge sewage dan sludge oil pembakaran

hanya boleh dilakukan pada incinerator yang telah mendapatkan approved dan

Pemerintah sesuai standar yang ditentukan oleh IMO Pembakaran dan zat zat

berikut dilarang: [Link] residu dan muatan Annex 1, II dan lii dan packing material

yang terkontaminasi b. Polychiorinated biphenyls (PCBs)

c. Sampah yang berisi logam berat yang lebih dan yang diijinkan.

d. Minyak olahan yang berisi halogen compound Untuk pembakaran

sludge sewage dan sludge oil yang dihasilkan selama penoperasian kapal dapat

13
juga dilakukan di peralatan mesin utama .mesin bantu atau boiler tetapi tidak

boleh di lakukan dalam pelabuhan,harbour atau estuaries.

Volatile Organic Compounds (VOC) Semua tanker yang terkena aturan

pengawasan Vapour Emission harus dilengkapi dengan Vapour Collection System yang

diapproved oleh Pemerintahnya sesuai dengan standar keselamatan yang dibuat oleh IMO

dan harus mengikuti standar tersebut selama proses [Link] terminal yang

telah memasang vapour emission control dapat menerima tanker yang belum dilengkapi

dengan vapour collecting system selama 3 tahun sejak diterapkannya aturan mi

.Sertifikasi dan Survey Kapal kapal ukuran GT 400 atau Iebih harus dilengkapi dengan

Air Pollution Prevention Certificate yang masa berlakunya sesuai ketentuan

Pemenintahnya tetapi tidak boleh lebih dan 5 tahun.

Istilah – istilah penting :

1. Similiar stage contruction

Tempat yang diketahui pada waktu kontruksi kapal secara spesific dari awal. Dan

peletakan kapal yang telah dilakukan diperkirakan tidak boleh kurang dari 50 atau 1 %

dari berat seluruh struktur material kapal.

2. Continous feeding

Proses yang menghasilkan sampah ke dalam ruang pembakaran tanpa bantuan

manusia ketika alat pembakaran dalam kondisi berjalan dengan lancar dengan suhu pada

ruang pembakaran 8500 C dan 12000 C

3. Instalasi baru

Berhubungan dengan aturan 12 pada Bab ini, adalah semua system instalasi,

peralatan, termasuk unit pembakaran jinjing, penyekatan atau bahan – bahan lain diatas

kapal setelah tanggal pemberlakuan peraturan ini. Tetapi tidak termasuk perbaikan atau

14
pengisian system instalasi, peralatan penyekatan, atau pengisian unit pemadam kebakaran

jinjing

4. Nox Technical code

Adalah kode teknis untuk control emisi dari Nitrogen oksida dari mesin diesel.

5. Penipisan zat ozon

Adalah kontrol zat yang didifinisikan paragraph 4 artikel 1 dari protocol montreal

mengenal penipisan lapisan zat ozon 1987.

6. Sludge Oil

Lumpur dari bahan bakar, minyak pelumas dari separator, sampah dari minyak

pelumas dari mesin induk atau mesin bantu, sisa minyak dari got separator, penyaringan

minyak atau penampang tetesan / rembesan.

7. Shipboard incineration

Adalah pembakaran sampah – sampah atau bahan – bahan dikapal selama

pengoperasian kapal berjalan normal.

8. Shipboard incinerator

Adalah fasilitas dikapal yang didesain untuk pembakaran yang paling utama.

Sertifikat dan dokumen yang harus ada dikapal setelah Annex VI

diberlakukan

1. Catatan penerimaan bahan bakar utk 3 tahun

2. Setifikat EIAPP, Technical fle dan Sertifikat IAPP

3. Record Book of Engine parameters

4. Operation Manual for inboard masurement and monitoring

methods

5. Operation Manual forVapour collecting system

15
6. Operation Manual for Shipboard Incinerator

7. Buku Harian (log book)

16
III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

MARPOL Annex VI merupakan persyaratan untuk mengatur polusi udara yang

dipancarkan oleh kapal, termasuk emisi zat perusak ozon, Nitrogen Oksida (NOx), Sulfur

Oxide (SOx), Senyawa Organik Volatile (VOCs) dan insinerasi kapal. Ini juga menetapkan

persyaratan untuk fasilitas penerimaan limbah dari sistem pembersihan gas buang,

insinerator, kualitas bahan bakar minyak, untuk platform off-shore dan rig pengeboran

dan untuk pembentukan Area Kontrol Emisi SOx (SECA). Pencemaran laut adalah

masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke

dalam laut hingga merubah tatanan (komposisi) air karena kegiatan manusia atau karena

proses alam. Logam merupakan salah satu bahan kimia yang berbahaya untuk air laut jika

digunakan dalam umlah yang banyak.

3.2 Saran

Saran saya dalam mengerjakan tugas ini harus lebih banyak referensi agar dapat

menyampaikan materi dengan baik.

17
DAFTAR PUSTAKA

Asshidiqie, Jimly. 2009. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Raja Grafindo

Persada.

Bp3ipjakarta. 2011. Kepedulian Lingkungan. Retervied Juli 07,2020, from


[Link]
BAB%[Link]
Henita. 2006. Diktat Perkuliahan Marine Pollution. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta
Imo. International Convention for the Prevention of Pollution from Ships. Retervied Juli
07,2020,from
[Link]
l-Convention-for-the-Prevention-of-Pollution-from-Ships-
%28MARPOL%[Link]
Setkab. 2012. Perpres No 29 2012 Lampiran. Retervied Juli 07,2020,from
[Link]
[Link]
Siaka, M. L. 2008. Korelasi antara kedalaman sedimen di pelabuhan Benoa dan
konsentrasi logam berat Pb dan [Link] Kimia, 2(2): 61-70.

18
LAMPIRAN

19
20

Anda mungkin juga menyukai