ANNEX VI
PENCEGAHAN POLUSI UDARA AKIBAT GAS BUANG MESIN KAPAL
DISUSUN OLEH :
19. Nofitasari (462190219)
20. Nurmaya cindyta (462190223)
21. Qusay Al Rasyidi Hidayatullah (462190228)
22. Rahadian Ramadhoni (462190230)
23. Raka Praditya Swandaru (462190231)
24. Rannia Eka Kartika (462190232)
KETATALAKSANAAN ANGKUTAN LAUT DAN KEPELABUHANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU PELAYARAN
JAKARTA
2020
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan karunia-
Nya, kami dapat menyelesaikan tugas penulisan makalah mata kuliah bahasa Indonesia tepat waktu.
Tidak lupa shalawat serta salam tercurah kepada Rasulullah SAW yang syafa’atnya kita nantikan
kelak.
Penulisan tugas kami berjudul “ANNEX VI: PENCEGAHAN POLUSI UDARA AKIBAT
GAS BUANG MESIN KAPAL” dapat diselesaikan karena bantuan banyak pihak.
Kami menyadari tugas kami masih memerlukan penyempurnaan, terutama pada bagian isi.
Kami menerima segala bentuk kritik dan saran pembaca demi penyempurnaan tugas ini. Apabila
terdapat banyak kesalahan pada tugas ini, kami memohon maaf.
Demikia yang dapat kami sampaikan. Akhir kata, semoga tugas mata kuliah pencegahan
pencemaran lingkungan maritim ini dapat bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Jakarta , 5 Juli 2020
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................ii
DAFTAR ISI..............................................................................................................................................iii
BAB I..........................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.......................................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................................................1
1.3 Tujuan Pembahasan...........................................................................................................................1
BAB II.........................................................................................................................................................2
PEMBAHASAN.........................................................................................................................................2
2.1 ANNEX VI........................................................................................................................................2
A. Pengertian....................................................................................................................................2
B. Pemberlakuan aturan...................................................................................................................2
C. Persyaratan-Persyaratan Sox........................................................................................................4
D. Persyaratan Sulphur Oxides (Sox)...............................................................................................4
E. Persyaratan incinerator diatas kapal.............................................................................................4
BAB III.......................................................................................................................................................5
PENUTUP...................................................................................................................................................5
3.1 Kesimpulan........................................................................................................................................5
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................................6
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
MARPOL dapat dikatakan sebagai peraturan dalam skala internasional yang paling ambisius dalam
rangka pencegahan pencemaran laut akibat aktivitas rutin ataupun kecelakaan kapal laut. Tidak hanya
mencakup pencegahan pencemaran laut akibat tumpahan minyak dari kapal tetapi mengatur pula soal
bahan-bahan beracun, bahan-bahan berhaya didalam kemasan, termasuk sampah dan limbah dari kapal
yang dihasilkan dari operasional rutin melalui lima annex nya, bahkan pada amandemen tahun 2007,
ditambahkan pula satu annex yang mengatur soal polusi udara yang berasal dari kapal
Polusi udara adalah masuknya suatu zat, energi atau komponen lain dalam ruang udara bebas di
atmosfir dari kegiatan luar, sehingga mutu atau kualitas dari udara turun pada tingkat tertentu, sehingga
udara tidak dapat memenuhi fungsinya yang berdampak buruk pada ekosistem, mengganggu
kenyamanan, dan kesehatan. Secara alami, komposisi udara di atmosfir bumi gabungan dari beberapa
kandungan gas, komposisi komponen gas penyusun atmosfer ini bisa mengalami perubahan akibat
polusi udara.
Pencemaran udara timbul akibat adanya sumber-sumber pencemaran, baik yang bersifat alami
ataupun karena kegiatan manusia. Termasuk bersumber dari operasional permesinan kapal, diantaranya
gas buang dari mesin induk kapal, adapun karena sifat alami udara yang bisa menyebar tanpa batasan
ruang yang berakibat pencemaran udara bisa bersifat lokal, regional, maupun global yang berdampak
buruk, oleh karena itu disusun aturan mengenai pencegahan polusi udara secara ketat baik mengenai
sistem, teknis dan materi pendukung lainnya yang berpotensi menimbulkan pencemaran udara.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Annex VI ?
1.3 Tujuan Pembahasan
a. Mengetahui apa itu Annex VI
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ANNEX VI
A. Pengertian
Menetapkan batas emisi sulfur oksida dan nitrogen oksida dari knalpot kapal dan melarang emisi
yang disengaja dari bahan perusak ozon. Area kontrol emisi yang ditetapkan menetapkan standar yang
lebih ketat untuk SOx,NOx,dan partikel. Bab yang diadaptasi pada tahun 2011 mecakup langkah-langkah
efisiensi energi teknis dan operasional wajib yang bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca dari kapal.
Peraturan Annex VI berlaku terhadap kapal yang memilki mesin diesel dengan tenaga output lebih
dari 130 kW. Kadar emisi NOX yang diijinkan untuk mesin yang memenuhi peraturan pada MARPOL
73/78 Annex VI adalah:
1.17,0 g/kWh jika putaran mesin kurang 130 rpm
2.45,0 X putaran mesin (-0,2) g/kWh jika putaran mesin antara 130-2000 rpm
3.9,8 g/kWh jika putaran mesin lebih dari 2000 rpm
B. Pemberlakuan aturan
Aturan ini diberlakukan untuk semua kapal – kapal kecuali aturan 3, 5, 6, 13, 15, 18 dan 19 pada
aturan ini.
1. Similiar stage contruction
Tempat yang diketahui pada waktu kontruksi kapal secara spesific dari awal. Dan
peletakan kapal yang telah dilakukan diperkirakan tidak boleh kurang dari 50 atau 1 %
dari berat seluruh struktur material kapal.
2. Continous feeding
Proses yang menghasilkan sampah ke dalam ruang pembakaran tanpa bantuan manusia
ketika alat pembakaran dalam kondisi berjalan dengan lancar dengan suhu pada ruang
pembakaran 8500 C dan 12000 C
3. Instalasi baru
Semua sistem instalasi, peralatan, termasuk unit pembakaran, penyekatan atau bahan –
bahan lain diatas kapal setelah tanggal pemberlakuan peraturan ini. Tetapi tidak termasuk
perbaikan atau pengisian sistem instalasi, peralatan penyekatan, atau pengisian unit
pemadam kebakaran.
4. NOX Technical code
Kode teknis untuk control emisi dari Nitrogen oksida dari mesin diesel.
2
5. Penipisan zat ozon
Kontrol zat yang didifinisikan paragraph 4 artikel 1 dari protocol montreal mengenal
penipisan lapisan zat ozon 1987.
6. Sludge Oil
Lumpur dari bahan bakar, minyak pelumas dari separator, sampah dari minyak pelumas
dari mesin induk atau mesin bantu, sisa minyak dari got separator, penyaringan minyak
atau penampang tetesan / rembesan.
7. Shipboard incineration
Pembakaran sampah – sampah atau bahan – bahan dikapal selama pengoperasian kapal
berjalan normal.
8. Shipboard incinerator
Fasilitas dikapal yang didesain untuk pembakaran yang paling utama.
Pengecualian Umum ( Reg. 3 )
Peraturan ini tidak diberlakukan untuk emisi penting untuk keamanan dan keselamatan jiwa dilaut atau
emisi yang dihasilkan.
Sertifikat dan Dokumen yang Harus Ada di Kapal Setelah Annex VI diberlakukan
1. Catatan penerimaan bahan bakar untuk 3 tahun
2. Setifikat IEE Certificate, IAPP Certificate dan EIAPP Certificate
3. Record Book of Engine parameters
4. Operation Manual for inboard masurement and monitoring methods
5. Operation Manual for Vapour collecting system
6. Operation Manual for Shipboard Incinerator
7. Buku Harian (log book)
Untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari aktivitas pelayaran internasional, pada tahun 2013
IMO melalui MARPOL Annex VI Regulasi 22 menetapkan dua mekanisme wajib sebagai standar
penghematan bahan bakar kapal; yaitu pada tahap desain, dan tahap operasional kapal, melalui: (1) Indeks
desain penghematan bahan bakar atau Energy Efficiency Design Index (EEDI); (2) Manajemen
penghematan bahan bakar kapal atau Ship Energy Efficiency Management Plan (SEEMP).
EEDI menunjukkan penghematan bahan bakar kapal dalam CO2/ton-mile; yang dihitung pada kondisi
operasional kapal tertentu. Dengan menerapkan batasan pada indeks tersebut, desain dan teknologi yang
lebih menghemat bahan bakar dapat dipilih dan dikembangkan. Singkatnya, EEDI menjadi standar teknis
3
untuk desain kapal baru. Adapun SEEMP diterapkan saat tahap operasional dan untuk kapal yang sudah
beroperasi pada saat Marpol Annex VI di atas diberlakukan.
C. Persyaratan-Persyaratan Sox
1. Kandungan belerang dari setiap bahan bakar yang dipakai tidak boleh lebih dari 4,5%m/m dan
harus ada dolumun dikapal sebagai pembuktian.
2. Catatan penyerahan bahan bakar (Bunker Delivery Note = BDN). KKM harus memeriksa
bahwa [Link] (dahulu disebut Bunker Delivery Receipt) yang sekurang-kurangnya berisi
informasi sbb:
1. Nama dan Nomor IMO kapal penerima
2. Pelabuhan
3. Tanggal penyerahan
4. Nama, alamt dan no telepon dari pemasok bahan bakar (marine diesel oil supplier)
5. Nama produk
6. Kuantitas (metric tons)
7. Berat jenis pada suhu 15 derajat celcius (kg/m3)
8. Kandungan belerang (% m/m)
3. Sample bahan bakar untuk menunjukkan kandungan belerang harus disimpan di kapal hingga
bahan bakar secara substansial dikonsumsi, tetapi dalam segala hal tidak kurang dari 12 bulan
dari waktu penyerahan yang akan dipakai sebagai pemenuhan dari peraturan 18(6) dari Annex
VI (volume sample adalah 750 ml). Suatu tabel diikat pada botol sampel dengan catatan
khusus sbb:
1. Tempat dimana sample diambil dan prosedur sampling
2. Tanggal pengisian BBM
3. Nama pemasok dan tongkang
4. Nama dan IMO Numer kapal penerima
5. Tanda tangan dan nama pemasok dan wakil dari kapal
6. Keterangan dari identification number dan wakil dari kapal
7. Derajat / tingkat dari bahan bakar yang masuk (Grade of Bunker Fuel)
D. Persyaratan Sulphur Oxides (Sox)
Berdasarkan ANNEX VI Pencegahan Pencemaran Udara Oleh Gas Buang Cerobong Kapal
Marpol 73/78 persyaratan tentang Sulphur Oxides (Sox) agar dapat mengurangi dampak pencemaran
udara dari kapal-kapal kadar SOX yang setiap bahan bakar diatas kapal tidak boleh melebihi 4,5%mm.
E. Persyaratan incinerator diatas kapal
Berdasarkan ANNEX VI Pencegahan Pencemaran Udara Oleh Gas Buang Cerobong Kapal
Marpol 73/78 mempunyai persyaratan untuk incinerator diatas kapal agar tidak terjadi pencemaran udara.
Temperatur minimum setiap pengoperasian incinerator paling kurang 850 oc dan mampu
menghasilkan temperatur minimum 600 oc dalam waktu 5 menit saat pertama kali dinyalakan, dilarang
membakar bahan yang mengandung :
Polychlonates bipehenyls (PCBS)
Logam berat
Campuran halogen
Polyvinil chlorides (PVCS) kecuali incinerator yang telah disetujui oleh IMO yang dibuktikan
dengan sertifikat pengesahan dilarang mengoperasikan incenerator selama dipelabuhan atau kawasan /
pantai.
4
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari aktivitas pelayaran internasional, pada
tahun 2013 IMO melalui MARPOL Annex VI Regulasi 22 menetapkan dua mekanisme wajib sebagai
standar penghematan bahan bakar kapal; yaitu pada tahap desain, dan tahap operasional kapal,
melalui: (1) Indeks desain penghematan bahan bakar atau Energy Efficiency Design Index (EEDI);
(2) Manajemen penghematan bahan bakar kapal atau Ship Energy Efficiency Management Plan
(SEEMP).
EEDI menunjukkan penghematan bahan bakar kapal dalam CO2/ton-mile; yang dihitung
pada kondisi operasional kapal tertentu. Dengan menerapkan batasan pada indeks tersebut, desain dan
teknologi yang lebih menghemat bahan bakar dapat dipilih dan dikembangkan. Singkatnya, EEDI
menjadi standar teknis untuk desain kapal baru. Adapun SEEMP diterapkan saat tahap operasional
dan untuk kapal yang sudah beroperasi pada saat Marpol Annex VI di atas diberlakukan.
Nahkoda dan perwira kapal harus mengetahui persyaratan yang berkaitan dengan SEEMP
tersebut. SEEMP yang dimiliki kapal harus spesifik atau custom untuk kapal tersebut dan harus
dikaitkan dengan kebijakan manajemen penghematan bahan bakar dari perusahaan dan pemilik kapal.
SEEMP tersebut harus ada di atas kapal pada saat setiap dilakukan survei IAPP oleh pemerintah atau
RO/badan klasifikasi.
Di dalam SEEMP dijelaskan cara dan mekanisme bagi operator kapal untuk meningkatkan
penghematan bahan bakar selama operasional kapal. Pemilik kapal dan operator kapal harus
menerapkan siklus manajemen berkelanjutan, yaitu perencanaan, implementasi, pemantauan, dan
peninjauan kembali terhadap langkah-langkah penghematan bahan bakar yang sudah dilakukan
Setelah memenuhi EEDI (untuk kapal bangunan baru) dan kemudian memiliki SEEMP yang
updated, maka sebuah kapal berhak memperoleh sertifikat IEE dari otoritas maritim, pemerintah atau
RO yang diberi wewenang oleh pemerintah.
5
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]
darat-dan-udara/