Fraktur Radius dan Ulna: Definisi & Klasifikasi
Fraktur Radius dan Ulna: Definisi & Klasifikasi
A. DEFINISI FRAKTUR
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2010). Fraktur adalah
terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur dapat
disebabkan pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan
kontraksi otot ekstrem (Bruner & Sudarth, 2010).
Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan
pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong,
2010).
B. KLASIFIKASI
Klasifikasi fraktur secara umum :
1. Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, ulna, radius dan cruris dst).
2. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur:
Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua
korteks tulang).
Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang).
3. Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah
Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan
Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang
yang sama.
4. Berdasarkan posisi fragmen
Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak
bergeser dan periosteum masih utuh.
Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut
lokasi fragmen
5. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
Fraktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan
lunak sekitar trauma, yaitu:
- Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
- Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
- Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
- Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak dan ancaman sindroma
kompartement.
Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. Fraktur terbuka
dibedakan menjadi beberapa grade yaitu :
Grade I : luka bersih, panjangnya kurang dari 1 cm.
Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
Grade III : sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.
6. Berdasar bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma
Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan
akibat trauma angulasi atau langsung.
Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu
tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan
trauma rotasi.
Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong
tulang ke arah permukaan lain.
Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada
insersinya pada tulang..
7. Berdasarkan kedudukan tulangnya :
Tidak adanya dislokasi.
Adanya dislokasi
o At axim : membentuk sudut.
o At lotus : fragmen tulang berjauhan.
o At longitudinal : berjauhan memanjang.
o At lotus cum contractiosnum : berjauhan dan memendek.
8. Berdasarkan posisi frakur
Tulang terbagi menjadi tiga bagian antara lain : 1/3 proksimal, 1/3 medial, dan 1/3 distal
9. Fraktur Kelelahan : Fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
10. Fraktur Patologis : Fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
Lengan atas tersusun dari tulang lengan atas, tulang lengan bawah, dan tulang tangan
(Sloane 2012). Fungsi tulang adalah sebagai kerangka tubuh, yang menyokong dan memberi
bentuk tubuh,untuk memberikan suatu sistem pengungkit, yang digerakan oleh kerja otot-otot
yang melekat pada tulang tersebut, sebagai reservoir kalsium, fosfor, natrium dan elemen-
elemen lain, untuk menghasilkan sel-sel darah merah dan putih dan trombosit dalam sumsum
merah tulang tertentu. (Watson, 2012).
1. Tulang - tulang lengan bawah
Gambar 2 Tulang
Radius-Ulna
a. Ulna
Ulna atau tulang hasta adalah tulang panjang berbentuk prisma yang terletak
sebelah medial lengan bawah, sejajar dengan jari kelingking arah ke siku
mempunyai taju yang disebut prosesus olekrani, gunanya ialah tempat
melekatnya otot dan menjaga agar siku tidak membengkok kebelakang. Terdapat
dua ekstremitas.
Ekstremitas proksima ulnaris, mempunyai insisura semilunaris, persendian
dengan trokhlea humeri, dibelakang ujung terdapat benjolan yang disebut
[Link] tepi distal dari insisura semilunaris ulna terdapat prosesus
koroideus ulna, bagian distal terdapat tuberositas ulna tempat melekatnya M.
brakialis, bagian lateral terdapat insisura radialis ulna yang berhubungan dengan
karpi ulnaris.
Ekstremitas distalis ulna, yaitu kapitulum ulna yang mempunyai prosessus
stiloideus [Link] permukaan dorsalis tempat melekatnya tendo M. ekstensor
karpi ulnaris yaitu sulkus M. ekstensor karpi ulnaris.
b. Radius
Radius atau tulang pengumpil, letaknya bagian lateral, sejajar dengan ibu
jari. Di bagian yang berhubungan humerus dataran sendinya berbentuk bundar
yang memungkinkan lengan bawah dapat berputar atau [Link] dua
ujung (ekstremitas).
Ekstremitas proksilis, yang lebih kecil, terdapat pada kaput radii yang
terletak melintang sebelah atas dan mempunyai persendian dengan
[Link] artikularis yang merupakan lingkaran yang menjadi tepi
kapitulum radii dipisahkan dengan insisura radialis [Link] radii
dipisahkan oleh kolumna radii dari korpus radii, bagian medial kolumna radii
terdapat tuberositas radii tempat melekatnya M. biseps [Link] radii
berbentuk prisma mempunyai tiga permukaan (fasies).
Ekstremitas distalis radii, yang lebih besar dan agak rata daripada bagian
dorsalis, terdapat alur (sulkus) M. ekstensor karpi [Link] sebelah lateral sulkus
M. ekstensor kommunis dan diatara kedua sulkus ini terdapat sulkus M. ekstensor
polisis [Link] lateralis ekstremitas lateralis radii terdapat tonjolan yang
disebut prosesus stiloideus radii, bagian medial ditemukan insisura ulnaris radii
untuk persendian dengan kapitulum.
Fraktur Radius adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius akibat jatuh dan
tangan menyangga dengan siku ekstensi. (Brunner & Suddarth, Buku Ajar Medikal
Bedah, 2010).
Fraktur antebrachii adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, pada anak
biasanya tampak angulasi anterior dan kedua ujung tulang yang patah masih
berhubungan satu sama lain. Gambaran klinis fraktur antebrachii pada orang dewasa
biasanya tampak jelas karena fraktur radius ulna sering berupa fraktur yang disertai
dislokasi fragmen tulang (Manjoer 2010).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa ( Sjamsuhidajat& Dee Jong,
2011).
Fraktur radius dan ulna dapat terjadi pada 1/3 proksimal, 1/3 tengah, atau 1/3
[Link] dapat terjadi pada salah satu tulang ulna atau radius saja dengan atau
tanpa dislokasi [Link] radius ulna biasanya terjadi pada anak-anak (Muttaqin,
2008).
Fraktur os radius dan fraktus os ulna adalah trauma yang terjadi pada bagian
tungkai depan. Kadang kala sering terjadi fraktur yang terbuka, hal ini sering terjadi
karena trauma terjadi pada lapisan jaringan yang tipis dan lembut (Alex, 2011).
Fraktur radius ulna biasanya terjadi karena trauma langsung sewaktu jatuh dengan
posisi tangan hiperekstensi. Hal ini dikarenakan adanya mekanisme refleks jatuh di
mana lengan akan menahan badan dengan posisi siku agak menekuk (Busiasmita,
Heryati & Attamimi,2012).
Kekhasan dari fraktur radius ulna dapat dipengaruhi oleh otot antar tulang, yaitu
otot supinator, pronator teres, pronator kuadratus yang memuat gerakan pronasi-
supinasi yang berinsersi pada radius dan ulna.
B. Etiologi
Penyebab yang paling sering adalah trauma misalnya jatuh, cidera, penganiayaan;
terdapat riwayat fraktur sebelumnya atau memiliki riwayat fraktur saat yang tidak
meyakinkan; atau diakibatkan oleh beberapa fraktur ringan karena kelemahan tulang,
osteoporosis, individu yang mengalami tumor tulang bagian antebrachii, infeksi atau
penyakit lainnya, hal ini dinamakan fraktur patologis; atau bisa juga diakibatkan oleh
fraktur stress yaitu terjadi pada tulang yang normal akibat stress tingkat rendah yang
berkepanjangan atau berulang misalnya pada atlet-atlet olahraga, karena kekuatan otot
meningkat lebih cepat daripada kekuatan tulang, individu mampu melakukan aktifitas
melebihi tingkat sebelumnya walaupun mungkin tulang tidak mampu menunjang
peningkatan tekanan (Corwin, 2009).
Dari faktor penyebab diatas, berpengaruh ketika terjadi tekanan dari luar ke
tulang. Tulang itu bersifat rapuh hanya memiliki sedikit kekuatan dan gaya pegas untuk
menahan. Suatu keadaan ketika apabila ada tekanan eksternal yang datang lebih besar
dari kemampuan tahanan tulang dan resistensi tulang untuk melawan tekanan berpindah
mengikuti gaya tekanan tersebut (Muscari, 2010). Disaat demikian itu, terjadilah trauma
yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas [Link] fraktur
terjadi, peritoneum, pembuluh darah, saraf dalam korteks marrow dan jaringan lunak
yang membungkus tulang [Link] timbul pendarahan pada sekitar patahan dan
dalam jaringan lunak yang ada di dalamnya sehingga terbentuk hematoma pada rongga
medulla tulang, edema, dan nekrokrik sehingga terjadi gangguan hantaran ke bagian
distal tubuh (Suratun, 2012).
Etiologi patah tulang menurut (Suratun, 2012) adalah :
1. Fraktur akibat peristiwa trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada tempat
yang terkena, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya.
Jika kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka dapat terjadi fraktur pada tempat
yang jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan jaringan lunak ditempat fraktur
mungkin tidak ada.
Fraktur dapat disebabkan oleh trauma, antara lain :
a. Trauma langsung
Bila fraktur terjadi ditempat dimana bagian tersebut terdapat ruda paksa, misalnya
: benturan atau pukulan pada tulang yang mengakibatkan fraktur.
b. Trauma tidak langsung
Misalnya pasien jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi, dapat terjadi
fraktur pada pergelangan tangan, suprakondiskuler, klavikula.
c. Trauma ringan
Dapat menyebabkan fraktur bila tulang itu sendiri sudah [Link] itu fraktur
juga disebabkan olehkarena metastase dari tumor, infeksi, osteoporosis, atau karena
tarikan spontan otot yang kuat.
2. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan
Tulang jika bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut tidak
mampu mengabsobsi energi atau kekuatan yang menimapnya.
3. Fraktur Patologis
Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses pelemahan
tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase atau ostepororsis.
C. Klasifikasi
Klasifikasi fraktur antebrachii :
1. Fraktur antebrachii, yaitu fraktur pada kedua tulang radius dan ulna
2. Fraktur ulna (nightstick fractur), yaitu fraktur hanya pada tulang ulna
Gambar 6 fraktur
Ulna
3. Fraktur Montegia, yaitu fraktur ulna proksimal yang disertai dengan dislokasi
sendi
Radioulna proksimal.
Gambar 7 Fraktur
Montega
Gambar 8
Fraktur Rius
5. Fraktur Galeazzi, yaitu fraktur radius distal disertai dengan dislokasi sendi
radioulna distal
Mekanisme terjadinya fraktur radius dan ulna adalah tangan dalam keadaan
outstretched, sendi siku dalam posisi ektensi, dan lengan bawah dalam posisi supinasi.
Fraktur dapat terjadi akibat trauma langsung atau karena hiperpronasi (pemutaran
lengan bawah kea rah dalam) dengan tangan dalam keadaan outstretched.
Fraktur pada batang radius dan ulna (pada batang lengan bawah) biasanya terjadi
pada anak-anak usia 10 tahun (5-13 tahun) .Baik radius maupun ulna keduanya dapat
mengalami patah. Pada setiap ketinggian, biasanya akan mengalami pergeseran bila
kedua tulang [Link] fraktur dapat menyebabkan atau menimbulkan kerusakan
pada beberapa [Link] pada periosteum dan sumsum tulang dapat
mengakibatkan keluarnya sumsum tulang terutama pada tulang panjang. Sumsum
kuning yang keluar akibat fraktur terbuka masuk ke dalam pembuluh darah dan
mengikuti aliran darah sehingga mengakibatkan emboli lemak. Apabila emboli lemak
ini sampai padpat terjadia pembuluh darah yang sempit dimana diameter emboli lebih
besar daripada diameter pembuluh darah maka akan terjadi hambatan aliran darah yang
mengakibatkan perubahan perfusi jaringan.
Kerusakan pada otot atau jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat
karena adanya spasme otot di [Link] kerusakan pada tulang itu sendiri
mengakibatkan perubahan sumsum tulang (fragmentasi tulang) dan dapat menekan
persyaratan di daerah tulang yang fraktur sehingga menimbulkan gangguan syaraf
ditandai dengan kesemutan, rasa baal dan kelemahan.
Pada tulang radius ulna juga dipersyarafi oleh nervus Medianus. Jika kerusakan terjadi
pada otot sbb:
1. M. Pronator Teres : mengakibatkan ketidakmampuanpronasi lengan bawah.
2. M. fleksus kapi radialis : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi dan abduksi
pergelangan tangan.
3. M. Palmaris longus : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi pergelangan tangan.
4. M. fleksor digitorum superfisialis: mengakibatkan ketidakmampuan fleksi dua falang
proksimal dan pergelangan tangan.
5. M. fleksor polisis longus : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi semua sendi
jempol.
6. M. pronator kuadratus : mengakibatkan ketidakmampuan pronator lengan bawah.
7. M. abductor polisisi brevis: mengakibatkan ketidakmampuan abduksi jempol.
8. M. oponens polisis : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi falang proksimal
jempol.
Pada tulang radius ulna juga dipersyarafi oleh nervus Ulnaris. Jika kerusakan
terjadi pada otot
1. [Link] karpi ulnaris: mengakibatkan ketidakmampuan fleksi dan adfuksi
pergelangan tangan.
2. M. abductor polisis : mengakibatkan ketidakmampuan adduksi jempol.
3. M. abductor digiti minimi : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi falang proksimal
jempol.
4. [Link] digiti minimi: mengakibatkan ketidakmampuan oposisi terhadap
kelingking.
E. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala dari fraktur antara lain (Smeltzer & Bare, 2010):
A. Nyeri hebat di tempat fraktur
Nyeri akan timbul selama fragmen tulang belum diimobilisasi. Nyeri ini timbul
karena ketika tulang tersebut patah, otot akan mengalami spasme.
B. Adanya pemendekan tulang
Hal ini diakibatkan oleh kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah fraktur.
C. Pembengkakan dan Perubahan Warna
Hal ini terjadi karena adanya respon inflamasi. Saat terjadi fraktur, fragmen tulang
yang patah akan turut melukai jaringan sekitarnya sehingga terjadi respon inflamasi
yang diawali dengan vasodilatasi pembuluh darah dan pelepasan mediator-mediator.
D. Hilangnya fungsi radius-ulna
E. Deformitas
F. Krepitasi
Pada anamnesis selalu ditemukannya deformitas pada daerah sekitar radius- ulna
pada tangan klien(helmi,2013).
a. Look: pada fase awal trauma, klien akan meringis kesakitan. Terlihat adanya
deformitas pada lengan bawah klien. Apabila didapatkan nyeri dan deformitas pada
lengan bawah maka perlu dikaji adanya perubahan nadi, perfusi yang tidak baik(akral
dingin pada lesi), dan CRT >3 detik dimana hal ini merupakan tanda-tanda peringatan
tentang terjadinya kompartemen sindrom. Sering didapatkan kasus fraktur radius-ulna
dengan komplikasi lebih lanjut.
b. Feel: adanya keluhan nyeri misal skala 6, nyeri tekan dan krepitasi, sensasi masih
terasa di area distal.
[Link]:gerak fleksi ekstensi elbow terbatas, pronasi supinasi terbatas .
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi menggunakan sinar rongen (x-ray) digunakan untuk
mendapatkan gambaran spesifik terkait keadaan dan kedudukan tulang, maka
digunakan kedudukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan [Link] keadaan tertentu
diperlukan proyeksi tambahan karena adanya patologi yang dicari berupa superposisi.
Permintaan x-ray harus didasari pada adanya permintaan pemeriksaan penunjang. Pada
pemeriksan ini didapatkan adanya garis patah pada tulang batang humerus pada foto
polos.
Hal yang harus dibaca pada x-ray harus meliputi 6 A yaitu:
1. Anatomi
2. Articular
3. Alignment
4. Angulation
5. Apeks
6. Apposition
Selain foto polos x-ray ada kemungkinan perlu teknik kusus seperti Computed
tomografi-scanning (CT-scan) : menggambarkan potongan secara transfersal dari tulang
dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.
Hasil X-Ray Fraktur Antebranchii
G. Penatalaksanaan
Fraktur dari distal radius adalah jenis fraktur yang paling sering [Link]
radius dan ulna biasanya selalu berupa perubahan posisi dan tidak stabil sehingga
umumnya membutuhkan terapi [Link] yang tidak disertai perubahan posisi
ekstra artikular dari distal radius dan fraktur tertutup dari ulnadapat diatasi secara
efektif dengan primary care [Link] distal radius umumnya terjadi pada anak-
anak dan remaja, serta mudah sembuh pada kebanyakan kasus.
Terapi fraktur diperlukan konsep ”empat R” yaitu : rekognisi, reduksi/reposisi,
terensi/fiksasi, dan rehabilitasi.
1. Rekognisis atau pengenalan adalah dengan melakukan berbagai diagnosa yang benar
sehingga akan membantu dalam penanganan fraktur karena perencanaan terapinya
dapat dipersiapkan lebih sempurna.
2. Reduksi atau reposisi adalah tindakan mengembalikan fragmen-fragmen fraktur
semirip mungkin dengan keadaan atau kedudukan semula atau keadaan letak normal.
3. Retensi atau fiksasi atau imobilisasi adalah tindakan mempertahankan atau menahan
fragmen fraktur tersebut selama penyembuhan.
4. Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang menderita fraktur
tersebut dapat kembali normal.
Gambar 10
Proses Penyembuhan Fraktur
Penatalaksanaan
Keperawatan
1. Mitra : Membangun hubungan dengan klien, serupa dengan [Link]
kebutuhan klien untuk memperoleh informasi tentang kondisi, pembedahan, dan
penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga pasien dapat berbagi rasa takut dan
memberi kepercayaan pada perawat
2. Pembimbing : Perawat berperan sebagai instruktur selama fase awal remobilisasi dan
rehabilitasi klien
3. Peningkat rasa nyaman dengan cara pemeliharaan asupan cairan dan diet yang sesuai,
pemeliharaan standar hygiene personal dan berpakaian.
4. Manajer Resiko : perawat mencegah terjadinya komplikasi tersering pada fraktur
radius ulna yaitu emboli lemak ataupun sindrom kompartemen
5. Teknisi : Perawat melakukan strategi yang digunakan untuk menstabilkan fraktur
radius ulna yang meliputi pemasangan dan asuhan gips dan alat bantu, pemasangan
dan penatalaksanaan traksi.
Secara rinci proses penyembuhan fraktur dapat dibagi dalam beberapa tahap sebagai
berikut:
1. Fase hematoma
Pada mulanya terjadi hematoma dan disertai pembengkakan jaringan lunak,
kemudian terjadi organisasi (proliferasi jaringan penyambung muda dalam daerah
radang) dan hematoma akan mengempis. Tiap fraktur biasanya disertai putusnya
pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah di sekitar [Link] ujung
tulang yang patah terjadi ischemia sampai beberapa milimeter dari garis patahan
yang mengakibatkan matinya osteocyt pada daerah fraktur tersebut.
2. Fase proliferatif
Proliferasi sel-sel periosteal dan endoosteal, yang menonjol adalah
proliferasi sel-sel lapisan dalam periosteal dekat daerah [Link]
terdesak oleh proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh. Bersamaan dengan
aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis
dari lapisan endosteum dan dari bone marrow masing-masing fragmen. Prosesdari
periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen bertemu dalam
satu proses yang sama, proses terus berlangsung kedalam dan keluar daritulang
tersebut sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain. Pada saat ini
mungkin tampak di beberapa tempat pulau-pulau kartilago, yang mungkinbanyak
sekali, walaupun adanya kartilago ini tidak mutlak dalam penyembuhan
[Link] fase ini sudah terjadi pengendapan kalsium.
3. Fase pembentukan callus
Pada fase ini terbentuk fibrous callus dan disini tulang menjadi osteoporotik
akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel-sel osteoblas mengeluarkan
matriks intra selluler yang terdiri dari kolagen dan polisakarida,yang segera
bersatu dengan garam-garam kalsium, membentuk tulang immature atau young
callus, karena proses pembauran tersebut, maka pada akhir stadium terdapat dua
macam callus yaitu didalam disebut internal callus dan diluar disebut external
callus.
4. Fase konsolidasi
Pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturisasi lebih lanjut oleh
aktivitas osteoblas, callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan
pembentukan lamela-lamela). Pada stadium ini sebenarnya proses penyembuhan
sedah lengkap. Pada fase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary
[Link] saat ini sudah mulai diletakkan sehingga sudah tampak jaringan yang
[Link] ini terjadi sesudah 4 (empat) minggu, namun pada umur-umur
lebih mudah lebih [Link] berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi
dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang
yang normal.
5. Fase remodeling
Pada fase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang
banyak dan tulang sedah terbentuk dengan baik, serta terjadi pembentukan
kembali dari medula [Link] union sudah lengkap, tulang baru yang
terbentuk pada umumnya berlebihan, mengelilingi daerah fraktur di luar maupun
didalam kanal, sehingga dapat membentuk kanal medularis. Dengan mengikuti
stress/tekanan dan tarik mekanis, misalnya gerakan, kontraksi otot dan
sebagainya, maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali
dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan
aslinya.
Ilizarov, Bone lengthening, Bone distraction osteogenesis atau Callotaxis
adalah suatu istilah yang sama dalam program pemanjangan tulang. Ilizarov
dikembangkan pertama kali oleh seorang dari Siberia Rusia yang bernama Gabriel
Abramovich Ilizarov. Ilizarov adalah suatu alat eksternal fiksasi yang berfungsi
untuk menjaga agar tidak terjadi pergeseran tulang dan untuk membantu dalam
proses pemanjangan tulang.
Gambar 11
Callotaxis
H. Komplikasi
Komplikasi fraktur radius ulna diklasifikasikan sebagai komplikasi cepat (saat cedera),
awal (dalam beberapa jam atau hari), dan lambat (dalam beberapa minggu atau bulan).
1. Komplikasi Cepat Fraktur Radius Ulna, meliputi:
a) Emboli lemak yang terjadi terutama pada bagian yang mengalami fraktur radius
ulna
c) Sindrom kompartemen.
a) Deformitas.
c) Nekrosis asepsis dan atau avaskular dapat terjadi terutama setela fraktur pada
tulang seperti radius ulna Terjadi akibat gangguan suplai darah ke tulang
tersebut setelah fraktur (Brooker, 2011).
I. PROGNOSIS
Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan terjadi
pada setiap patah tulang, tidak peduli apa yang telah dikerjakan dokter pada patahan
tulang tersebut. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang, yang
disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost yang disebut
dengan fase hematoma, kemudian berubah menjadi fase jaringan fibrosis, lalu
penyatuan klinis, dan pada akhirnya fase konsolidasi.
Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung
pada lokasi fraktur dan umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4
minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia (> 8 minggu).
2. ASUHAN KEPERAWATAN
1) Pengkajian
Pre Operasi
[Link] persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
- Kegiatan yang beresiko cidera.
- Riwayat penyakit yang menyebabkan jatuh.
- Kebiasaan beraktivitas tanpa pengamanan.
b. Pola nutrisi metabolik
- Adanya gangguan pola nafsu makan karena nyeri.
- Observasi terjadinya perdarahan pada luka dan perubahan warna kulit di sekitar luka,
edema.
c. Pola eliminasi
- Konstipasi karena imobilisasi
d. Pola aktivitas dan latihan
- Kesemutan, baal
- Ada riwayat jatuh atau terbentur ketika sedang beraktivitas
- Tidak kuat menahan beban berat
- Keterbatasan mobilisasi
- Berkurangnya atau tidak terabanya denyut nadi pada daerah distal injury, lambatnya kapiler
refill tim
e. Pola tidur dan istirahat
- Tidak bisa tidur karena kesakitan
- Sering terbangun karena kesakitan
f. Pola persepsi kognitif
- Nyeri pada daerah fraktur
- Kesemutan dan baal pada bagian distal fraktur
- Paresis, penurunan atau kehilangan sensasi
g. Pola persepsi dan konsep diri
- Rasa khawatir akan dirinya karena tidak dapat beraktivitas seperti keadaan sebelumnya
h. Pola peran dan hubungan dengan sesama
- Merasa tidak ditolong
- Kecemasan akan tidak melakukan peran seperti biasanya
Post Operasi
a. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
- Kegiatan yang beresiko cidera.
- Pengetahuan pasien tentang perawatan luka di rumah
b. Pola nutrisi metabolik
- Adanya gangguan pola nafsu makan karena nyeri.
c. Pola eliminasi
- Konstipasi karena imobilisasi
d. Pola aktivitas dan latihan
- Keterbatasan beraktivitas
- Hilangnya gerakan atau sensasi spasme otot
- Baal atau kesemutan
- Pembengkakan jaringan atau masa hematoma pada sisi cedera
- Perdarahan, perubahan warna
e. Pola tidur dan istirahat
- Tidak bisa tidur karena kesakitan luka operasi
- Sering terbangun karena kesakitan
f. Pola persepsi kognitif
- Keluhan lokasi, intensitas dan karakteristik nyeri
- Nyeri pada luka operasi
- Tidak adanya nyeri akibat kerusakan saraf
- Pembengkakan, perdarahan, perubahan warna
g. Pola persepsi dan konsep diri
- Rasa khawatir akan dirinya Karena tidak dapat beraktivitas seperti keadaan sebelumnya
h. Pola peran dan hubungan dengan sesama
- Merasa tidak tertolong
- Kecemasan akan tidak melakukan peran seperti
2) Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi
[Link] akut berhubungan dengan agen cidera fisik (fraktur)
b. Cemas berhubungan dengan proses operasi
Post Operasi
a. Nyeri berhubungan dengan post pembedahan.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan post pembedahan.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi.
3) Rencana Keperawatan
Pre Operasi
No Dignosa NOC NIC
2 Cems
Setelah dilakukan tindakan Kaji faktor penyebab kecemasan
berhubungan keperawatan selama 1 x 30 pasien.
dengan menit, diharapkan cemas pasien Berikan dukungan kepada
kurangnya dapat teratasi dengan kriteria pasien.
informasi hasil : Jelaskan prosedur operasi
(prosedur
Kontak mata baik Observasi reaksi
operasi)
Pasien terlihat tenang nonverbal pasien.
2 Kerusakan Setelah dilakukan Kaji kulit pada luka terbuka,
integritas kulit tindakan keperawatan benda asing, kemerahan,
perdarahan, perubahan warna,
berhubungan selama 3 x 24 jam, di harapkan
kelabu, memutih.
penyembuhan luka sesuai Observasi tanda-tanda vital.
dengan trauma
waktu/penyembuhan lesi terjadi. Masase kulit dan
post penonjolan tulang.
pembedahan Pertahankan
tempat tidur kering dan
bebas kerutan. Letakkan bantalan
pelindung di bawah kaki dan
di atas
tonjolan tulang.
Ubah posisi tidur secara periodik
tiap 2 jam.
3 Resiko tinggi Setelah dilakukan tindakan Observasi TTV terutama suhu
infeksi keperawatan selama 3 x 24 jam, Jaga daerah luka tetap bersih dan
kering.
berhubungan diharapkan nyeri pasien dapat
Tutup daerah yang luka dengan
berkurang dengan kriteria hasil : kasa steril/balutan bersih.
dengan luka
Rawat luka dengan
operasi. teknik aseptik.
Tidak ada tanda-tanda infeksi
Kolaborasi dengan medik untuk
ditandai dengan:
pemberian antibiotik.
- Suhu normal 36 - 37oC
- Tidak ada kemerahan, tidak
ada edema, luka bersih.
PATHWAY FRAKTUR
A. Pengkajian
1. PengumpulanData
a. Identitas
1) IdentitasPasien
Nama : Tn, A
Umur : 34 thn
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : Kristen
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Suku Bangsa : Pamona
Status perkawinan : Menikah
Golongan darah :B
Alamat : Tentena
[Link] : 153337
Diagnosa medis : Fraktur Radius 1/3 Tengah
Tanggal masuk : 10 – 04 - 2021
Tanggal pengkajian :12 – 04 - 2021
b. RiwayatKesehatan
1) KeluhanUtama
Nyeri pada lengan kanan
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke rumah sakit pada tanggal 10 April 2020 diantar oleh
polisi, pasien mengeluh nyeri pada lengan sebelah kanan, nyeri mulai
dirasakan setelah pasien jatuh dari sepeda motor karena menghindari
kendaraan didepannya yang berhenti secara tiba-tiba. Nyeri yang
dirasakan seperti diremas remas, nyeri statis, skala nyeri VAS 6 setelah
dikaji didapatkan TTV pasien TD 160/100 mmHg, suhu 36,4 0c, nadi
104/mnt, RR 20x/mnt. Pasien mengatakan belum pernah dirawat dirumah
sakit sebelumnya dan takut dioperasi, pasien sering bertanya tentang
kndisi penyakitnya.
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan pernah berobat di puskesmas dan diberi obat malaria
4) Riwayat PenyakitKeluarga
Pasien mengatakan ayahnya pernah dirawat karna sakit diabetes
5) Riwayat Kesehatan
Adakah penyakit keturunan?
Ada diabetes
Sebelumnya pernah masuk Rumah Sakit?
Pasien mengatakan pernah berobat di puskesmas dan diberi obat
malaria
Bagaimana pengobatannya, tuntas atau tidak?
Obat malaria diminum sampai habis dan sembuh
Obat apa saja yang pernah digunakan?
Dharplex, primaquin, paracetamol
Riwayat anestesi dan operasi sebelumnya.
Pasien belum pernah dioperasi sebelumnya
Kebiasaan-kebiasaan pasien (perokok berat, pemakai alkohol atau
obat-obatan)
Disangkal
Riwayat alergi
Tidak ada
2) Air
a) Sebelum sakit :
Sumber air yang digunakan : PDAM,
Konsumsi air : 2 L/hari
Kondisi air : bersih (air putih)
Skala mandi :2x/hari
b) Saat sakit :
Minum air
Frekuensi : 7-8 x/hari
Jenis : air putih
Cara : enteral
Keluhan : tidakada
3) Nutrisi/ makanan
a) Sebelum sakit :
Frekuensi : 3x/hari
Jenis : makan padat
Porsi : 1 piring habis
Diet khusus :tidak ada
Makanan yang disukai :makanan pedas, bersantan, berminyak.
Pantangan :tidakada
Napsumakan : baik
b) Saat sakit
Frekuensi : 3x/hari
Jenis : semi padat
Porsi :1/2piring
Diet khusus :bubur sayur, buah
Makanan yang disukai :tidak ada
Pantangan : tidak ada
Napsumakan : baik
4) Eliminasi
a) BAB
Sebelum sakit
Frekuensi : 1x/hari
Konsistensi : padat
Warna : kuning
Bau : khas feses
Cara : mandiri
Keluhan : tidak ada
Saat Sakit
Frekuensi :1x/hari
Konsistensi : padat
Warna : kuning
Bau : khas
Cara : mandiri
Keluhan : tidak ada
b) BAK
Sebelum sakit :
- Frekuensi : 3-5x/hari
- Konsistensi : cair
- Warna : jernih
- Bau : khas urine
- Cara : mandiri
- Keluhan : tidakada
Saat sakit :
- Frekuensi : 3-5x/hari
- Konsistensi : cair
- Warna : jernih
- Bau : khas urine
- Cara : mandiri
- Keluhan :tidakada
7) Pemeliharaan kesehatan
- Kebersihan kamar mandi :bersih
- Konsumsi vitamin :tidakada
- Imunisasi :disangkal
- Olahraga :jarang
- Upaya keharmonisan keluarga :baik
- Sters dan adaptasi : baik
B. PemeriksaanFisik
1. Keadaan Umum
Kesadaran : komposmetis
GCS : 15 (eye : 4, motorik :6, verbal :5 )
Penampilan : tampak sakit sedang
BB : 80 Kg
TB : 165 cm
Tanda-tanda Vital :
Tekanan Darah : 160/100mmHg, Suhu :36,40 C,HR : 104x/m, RR =20x/menit
2. Pemeriksaan Kepala
Inspeksi :
Bentuk kepala : Mesosepal, simetris (+),tampak luka lecet di bagian dagu
Palpasi
Edema (-), nyeri tekan pada daerah luka lecet (+)
3. Pemeriksaan Wajah :
Inspeksi :
ekspresi wajah gelisah(+), meringis (+) Warna dan kondisi wajah: normal
Struktur wajah : simetris, Kelumpuhan otot-otot fasialis (tidak ada)
4. Pemeriksaan Mata
a. Inspeksi
Kelengkapan dan kesimetrisan mata (+),Eksoftalmus(-),Endofthalmus(-),
Kelopak mata/palpebra : oedem (-),ptosis (-), peradangan (-) luka (-),benjolan(
- )Bulu mata : tidak rontok, konjunctiva dan sclera : perubahan warna tidak
ada, Warna iris hitam, Reaksipupilterhadapcahaya : (miosis) isokor (+), kornea
: warnahitam, nigtasmus ( - ), strabismus ( - )
1) Pemeriksaan Visus
Dengan Snelen Card : OD baik OS baik
Tanpa Snelen Card : Ketajaman Penglihatan ( Baik)
2) Pemeriksaan lapang pandang : normal
b. Palpasi
Pemeriksaan tekanan bola mata Dengan tonometri normal, dengan palpasi
teraba normal
5. Pemeriksaan Telinga
a. Inspeksi dan palpasi
1) Amati bagian telinga luar : bentuk normal Ukuran normal Warna normal
lesi ( - ), nyeri tekan (-), peradangan ( - ), penumpukan serumen ( - ).
2) Dengan otoskop periksa membran tympany amati, warna normal,
transparansi normal, perdarahan ( - ), perforasi ( - ).
3) Uji kemampuan kepekaan telinga :
a) Tes bisik sama kiri dan kanan
b) Dengan arloji sama kiri dan kanan
c) Uji weber : seimbang
d) Uji rinne : sama dibanding dengan hantaran udara
e) Uji swabach : sama
6. Pemeriksaan Hidung
Inspeksi dan palpasi
- bentuk tulang hidung dan posisi septum nasi: simetris/tidak defisiasi
- meatus : perdarahan (tidak) Kotoran (ada) Pembengkakan (tidak),
pembesaran / polip (tidak)
8. Pemeriksaan Leher
a. Inspeksi dan palpasi amati dan rasakan :
1) Bentuk leher (simetris), peradangan (-), jaringan parut (-), perubahan
warna (-), massa (-)
2) Kelenjar tiroid, pembesaran (-)
3) Vena jugularis : pembesaran (-), tekanan : tidak teraba
4) Pembesaran kelenjar limfe (-), kelenjar tiroid (-), posisi trakea (simetris)
5) Pemeriksaan leher pendek 3 jari dari pangkal leher ke angulus mandibula
(+)
6) Tiromentalis 3-3-2
b. Pemeriksaan Jantung
1) Inspeksi
Ictus cordis( - ),
2) Palpasi
Pulsasi pada dinding torak teraba : ( Kuat )
3) Perkusi
Batas atas : ICS II
Batas bawah : ICS V
Batas Kiri : ICS V Mid Clavikula Sinistra
Batas Kanan : ICS IV Mid Sternalis Dextra
4) Auskultasi
BJ I terdengar (tunggal, ( keras), ( reguler )
BJ II terdengar (tunggal), (keras), ( reguler )
Bunyi jantung tambahan : BJ III (-), Gallop Rhythm (-), Murmur (-)
496 x 12/menit
5952 ml = 5,9 L/menit
3) Menggunkan teknik ventilator VCP ( Volume Control Presure )
TV RR I:E
PEEP
496 12 Ratio
4
Ml X/menit 1:2
e) Intra Operasi
Pasein sudah terintubasi dengan ETT non kin kin no 7.5 cup +, mayo
ukuran medium no 4 pada jam 11.00 wita dan terhubung ke ventilator
mesin anestesi.
Monitoring Intake dan output cairan
1. Perhitungan cairan pasien selama operasi :
BB : 80 kg
Jenis Operasi : Sedang
Puasa : 8 jam
2. Kebutuhan cairan mentenaince untuk pasien BB
80 Kg
Kebutuhana cairan maintenance :
4 x 10 = 40
2 x 10 = 20
1 x 85 = 85
Jumah = 145 cc/jam
3. Kebutuhan cairan selama
puasa Maintenace x lama
puasa
100 ml/jam x 8 jam = 800 cc
4. Insensible Water Lose (IWL)
Stres Operasi : Ringan = 2 – 4 ml, sedang = 4 -6 ml, berat = 6 – 8
ml
IWL = Stress operasi x BB (Kg) pasien
= 6 x 80 kg
= 480 ml
5. Estimated blood lose
Estimated Blood
Volume
EBV laki-laki dewasa 70 cc/kgbb
EBV perempuan dewasa 65 cc/kgbb
EBV = ( 70 x 105 kg )
EBV = 7350 cc
EBL (10 %, 15 %, 20 % )
Ringan = 10 % x 7350 cc = 735 cc
Sedng =15% x 7350 cc = 1102 cc
Berat =20% x 7350 cc = 1470 cc
6. Jumlah pendarahan 1 jam pertama :
Suction = 50 cc
Kasa (1 kasa = 10 cc) = 40 cc
Perdarahan di ganti dengan cairan kristaloid dengan perbandingan
1:3 = 90 cc darah : 270 cc Cairan kristaloid
7. Kebutuhan cairan selama operasi
Rumus : Puasa + Maintenance + IWL + Perdarahan = ml
Jam 1 = ½ Puasa + Maintenance + IWL + Perdarahan = ml
½ 800 + 102 + 372 + 270 = 1445 cc
8. Total cairan yang keluar
Darah = 90 cc
Urine = 70 cc
9. Cairan yang sudah diberikan (Kristaloid)
Pre operasi = 500 cc
Intra operasi = 1144 cc
Total = 1644 cc
10. Jumlah tetesan / menit 1 jam pertama = 1144 x 20 tetes/
menit 60 menit
= 381,33 tetes/menit
f) Pengakhiran Anestesi
Operasi selesai pada pukul 12.45 wita pasien dilakukan
spontanisasi pada pernapasan dengan bagging ( assist ) tanpa
menggunakan ventilator dan di berikan terapi injeksi neostigmine 0,5
mg + sulfat atropine 0.25 mg untuk menghilangkan efek dari obat
relaksan (atrakurium). Pasien bernapas spontan dengan adekuat dengan
tanda pasien sadar penuh, mampu menelan ludah, kekuatan otot sudah
pulih, tensi normal, saturasi normal dan tidak ada distensi
[Link] dilakukan ekstubasi pada jam 13.00 wita. pasien
terpasang infus di tangan kanan, DC
g) Ruang Pemulihan
Pasien keluar dari kamar oparasi menuju ruang pemulihan pada jam 13.10
wita. Pada saat masuk ke ruang pemulihan pasien masih terpantau. Tanda
tanda vital pasien TD 130/90 mmHg, Nadi 78 x/menit. Cairan infus RL,
injeksi intravea ketorolac 30 mg, ondansentron 4 mg dan oksigen nasal kanul
diberikan 3 liter/menit.
24. ASA
ASA (pasien tanpa penyakit sistemik)
C. AnalisaData
No Sympton Etiologi Problem
PRE ANESTESI
1 DS : Kerusakan jaringan Nyeri
- Pasien mengatakan
nyeri pada daerah Pelepasan mediator
lengan kiri nyeri
DO :
- Pasien tampak meringis Ditangkap reseptor
- Skala nyeri 6 (VAS) nyeri
Impuls ke otak
Persepsi nyeri
Nyeri akut
2 DS : Tindakan pembedahan Ansietas
- Pasien mengatakan
belum pernah menjalani Kurang terpapar
operasi informasi
- Pasien mengatakan
takut menjalani operasi Ansietas
DO :
- Pasien sering bertanya
tentang kondisi
penyakitnya
- Pasien tampak tegang
INTRA ANESTESI
1 DS Prosedur general Disfungsi respirasi
- Pasien tidak sadar anestesi
DO
- Pasien tidak sadar Kesadaran menurun
- Tidak ada napas
spontan Apnoe
Disfungsi respirasi
POST ANESTESI
2 DS : Prosedur anestesi Hipotermi
- Pasien mengatakan
menggigil Aktifitas fisik menurun
DO :
- Pasien tampak Suhu rendah kamar
menggigil operasi
- SB :35,5
- Akral pasien dingin hipotermi
F. Rencana Intervensi
No Problem(masalah Perencanaan
kesehatan anestesi) Tujuan Intervensi
PRE ANESTESI
1 Nyeri Setelah dilakukan tindakan 1. Ukur skala nyeri
keperawatan anestesi 2. Observasi TTV
diharapkan nyeri dapat 3. Ajarkan teknik distraksi
berkurang dengan kriteria dan relaksasi
hasil: 4. Kolaborasi pemberian
DS : analgetik
- Pasien mengatakan nyeri
berkurang
DO :
- Pasien tampak rileks
- Skor VAS 1-3
- TTV dalam batas
normal
INTRA ANESTESI
1 PK Disfungsi Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi TTV
respirasi keperawatan diharapkan 2. Periksa kelengkapan dan
tidak terjadi komplikasi kesiapan mesin dan alat-
disfungsi respirasi dengan alat anestesi
kriteria hasil : 3. Pantau tanda-tanda sianosis
DO : 4. Kolaborasi pemasangan
- TTV dalam batas ventilator mekanik
normal
- Tidak terjadi sianosis
POST ANESTESI
Hipotermi Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi TTV
1 keperawatan anestesi 2. Atur suhu ruangan yang
diharapkan hipotermi dapat optimal
3. Beri selimut hangat
diatasi dengan kriteria :
4. Kolaborasi pemberian
DS : antishivering
- Pasien mengatakan
sudah tidak menggigil
DO :
- Pasien tidak tampak
menggigil
- Akral pasien hangat
- TTV dalam batas normal
G. Implementasi
No Hari/tanggal Masalah kesehatan Tindakan
anestesi
Jam Pelaksanaan
PRE ANESTESI
1 Senin 12 April Nyeri 10.15 1. Mengukur TTV
2021 10`20 2. Mengukur skala nyeri
10.25 3. Mengajarkan teknik
distraksi dan relakasi
10.30 4. Memberikan ketorolac 30mg
(Iv)
POST ANESTESI
1 Senin 12 Hipotermi 10.10 1. Mengukur TTV
April 2021 10.15 2. Mengatur suhu ruangan
yang optimal
10.17 3. Memberikan selimut hangat
10.20 4. Memberikan pethidine 25
mg (iv)
H. Evaluasi
No Hari/tanggal Problem Catatan perkembangan
1 Senin, 12 Nyeri akut S : pasien mengatakan nyeri berkurang
April 2021 O:
- Pasien tampak rileks
Pkl. 10.15 - Skor VAS 3
- TD : 130/90 mmHg, N:78 x/m, RR :
16 x/m
A : masalah kesehatan anestesi nyeri akut
teratasi
P : intervensi dihentikan
2 Senin, 12 Ansietas S : pasien sudah mengerti prosedur yang
April 2021 akan dijalani dan siap menjalani
O:
Pkl. 10.25 - Pasien tampak rileks
- TD :130/90mmhg, HR:78x/m,
RR:16 x/m
- Tidak ada tanda sianosis
A : masalah kesehatan anestesi ansietas
teratasi
P : intervensi dihentikan
DAFTAR PUSTAKA
Brokker, 2011 Medical Surgical Nursing Clinical Management for Positive Outcomes.2004
Brunner and Suddarth , 2010. Buku Ajar Bedah, Ed. 6, EGC, Jakarta.
Mansjoer, A. dkk . 2010 . Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 3. Edisi 4. Jakarta: Media
Aesculopius
North American Nursing Diagnosis Association. 2012. Nursing Diagnosis : Definition and
Classification 2011-2012. NANDA International. Philadelphia.
Watson. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 4. Jakarta : EGC