0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan45 halaman

Fraktur Radius dan Ulna: Definisi & Klasifikasi

Fraktur radius dan ulna adalah terputusnya kontinuitas tulang radius dan ulna yang umumnya disebabkan trauma seperti jatuh. Fraktur ini dapat terjadi pada bagian proksimal, tengah, atau distal dari kedua tulang tersebut dan dapat disertai dengan dislokasi fragmen tulang. Penyebabnya antara lain trauma langsung, kelemahan tulang, atau aktivitas berlebihan.

Diunggah oleh

putri pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan45 halaman

Fraktur Radius dan Ulna: Definisi & Klasifikasi

Fraktur radius dan ulna adalah terputusnya kontinuitas tulang radius dan ulna yang umumnya disebabkan trauma seperti jatuh. Fraktur ini dapat terjadi pada bagian proksimal, tengah, atau distal dari kedua tulang tersebut dan dapat disertai dengan dislokasi fragmen tulang. Penyebabnya antara lain trauma langsung, kelemahan tulang, atau aktivitas berlebihan.

Diunggah oleh

putri pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR RADIUS ULNA

A. DEFINISI FRAKTUR
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2010). Fraktur adalah
terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur dapat
disebabkan pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan
kontraksi otot ekstrem (Bruner & Sudarth, 2010).
Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan
pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong,
2010).

B. KLASIFIKASI
Klasifikasi fraktur secara umum :
1. Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, ulna, radius dan cruris dst).
2. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur:
 Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua
korteks tulang).
 Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang).
3. Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah
 Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan
 Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
 Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang
yang sama.
4. Berdasarkan posisi fragmen
 Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak
bergeser dan periosteum masih utuh.
 Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut
lokasi fragmen
5. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
 Fraktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan
lunak sekitar trauma, yaitu:
- Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
- Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
- Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
- Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak dan ancaman sindroma
kompartement.
 Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. Fraktur terbuka
dibedakan menjadi beberapa grade yaitu :
Grade I : luka bersih, panjangnya kurang dari 1 cm.
Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
Grade III : sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.
6. Berdasar bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma
 Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan
akibat trauma angulasi atau langsung.
 Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu
tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
 Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan
trauma rotasi.
 Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong
tulang ke arah permukaan lain.
 Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada
insersinya pada tulang..
7. Berdasarkan kedudukan tulangnya :
 Tidak adanya dislokasi.
 Adanya dislokasi
o At axim : membentuk sudut.
o At lotus : fragmen tulang berjauhan.
o At longitudinal : berjauhan memanjang.
o At lotus cum contractiosnum : berjauhan dan memendek.
8. Berdasarkan posisi frakur
Tulang terbagi menjadi tiga bagian antara lain : 1/3 proksimal, 1/3 medial, dan 1/3 distal
9. Fraktur Kelelahan : Fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
10. Fraktur Patologis : Fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.

C. ANATOMI FISIOLOGI TULANG LENGAN

Lengan atas tersusun dari tulang lengan atas, tulang lengan bawah, dan tulang tangan
(Sloane 2012). Fungsi tulang adalah sebagai kerangka tubuh, yang menyokong dan memberi
bentuk tubuh,untuk memberikan suatu sistem pengungkit, yang digerakan oleh kerja otot-otot
yang melekat pada tulang tersebut, sebagai reservoir kalsium, fosfor, natrium dan elemen-
elemen lain, untuk menghasilkan sel-sel darah merah dan putih dan trombosit dalam sumsum
merah tulang tertentu. (Watson, 2012).
1. Tulang - tulang lengan bawah

Gambar 1 Tulang Humerus

Gambar 2 Tulang
Radius-Ulna

a. Ulna
Ulna atau tulang hasta adalah tulang panjang berbentuk prisma yang terletak
sebelah medial lengan bawah, sejajar dengan jari kelingking arah ke siku
mempunyai taju yang disebut prosesus olekrani, gunanya ialah tempat
melekatnya otot dan menjaga agar siku tidak membengkok kebelakang. Terdapat
dua ekstremitas.
Ekstremitas proksima ulnaris, mempunyai insisura semilunaris, persendian
dengan trokhlea humeri, dibelakang ujung terdapat benjolan yang disebut
[Link] tepi distal dari insisura semilunaris ulna terdapat prosesus
koroideus ulna, bagian distal terdapat tuberositas ulna tempat melekatnya M.
brakialis, bagian lateral terdapat insisura radialis ulna yang berhubungan dengan
karpi ulnaris.
Ekstremitas distalis ulna, yaitu kapitulum ulna yang mempunyai prosessus
stiloideus [Link] permukaan dorsalis tempat melekatnya tendo M. ekstensor
karpi ulnaris yaitu sulkus M. ekstensor karpi ulnaris.
b. Radius
Radius atau tulang pengumpil, letaknya bagian lateral, sejajar dengan ibu
jari. Di bagian yang berhubungan humerus dataran sendinya berbentuk bundar
yang memungkinkan lengan bawah dapat berputar atau [Link] dua
ujung (ekstremitas).
Ekstremitas proksilis, yang lebih kecil, terdapat pada kaput radii yang
terletak melintang sebelah atas dan mempunyai persendian dengan
[Link] artikularis yang merupakan lingkaran yang menjadi tepi
kapitulum radii dipisahkan dengan insisura radialis [Link] radii
dipisahkan oleh kolumna radii dari korpus radii, bagian medial kolumna radii
terdapat tuberositas radii tempat melekatnya M. biseps [Link] radii
berbentuk prisma mempunyai tiga permukaan (fasies).
Ekstremitas distalis radii, yang lebih besar dan agak rata daripada bagian
dorsalis, terdapat alur (sulkus) M. ekstensor karpi [Link] sebelah lateral sulkus
M. ekstensor kommunis dan diatara kedua sulkus ini terdapat sulkus M. ekstensor
polisis [Link] lateralis ekstremitas lateralis radii terdapat tonjolan yang
disebut prosesus stiloideus radii, bagian medial ditemukan insisura ulnaris radii
untuk persendian dengan kapitulum.

A. Definisi Fraktur Radius Dan Fraktur Ulna

Fraktur Radius adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius akibat jatuh dan
tangan menyangga dengan siku ekstensi. (Brunner & Suddarth, Buku Ajar Medikal
Bedah, 2010).
Fraktur antebrachii adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, pada anak
biasanya tampak angulasi anterior dan kedua ujung tulang yang patah masih
berhubungan satu sama lain. Gambaran klinis fraktur antebrachii pada orang dewasa
biasanya tampak jelas karena fraktur radius ulna sering berupa fraktur yang disertai
dislokasi fragmen tulang (Manjoer 2010).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa ( Sjamsuhidajat& Dee Jong,
2011).
Fraktur radius dan ulna dapat terjadi pada 1/3 proksimal, 1/3 tengah, atau 1/3
[Link] dapat terjadi pada salah satu tulang ulna atau radius saja dengan atau
tanpa dislokasi [Link] radius ulna biasanya terjadi pada anak-anak (Muttaqin,
2008).
Fraktur os radius dan fraktus os ulna adalah trauma yang terjadi pada bagian
tungkai depan. Kadang kala sering terjadi fraktur yang terbuka, hal ini sering terjadi
karena trauma terjadi pada lapisan jaringan yang tipis dan lembut (Alex, 2011).
Fraktur radius ulna biasanya terjadi karena trauma langsung sewaktu jatuh dengan
posisi tangan hiperekstensi. Hal ini dikarenakan adanya mekanisme refleks jatuh di
mana lengan akan menahan badan dengan posisi siku agak menekuk (Busiasmita,
Heryati & Attamimi,2012).
Kekhasan dari fraktur radius ulna dapat dipengaruhi oleh otot antar tulang, yaitu
otot supinator, pronator teres, pronator kuadratus yang memuat gerakan pronasi-
supinasi yang berinsersi pada radius dan ulna.

B. Etiologi

Penyebab yang paling sering adalah trauma misalnya jatuh, cidera, penganiayaan;
terdapat riwayat fraktur sebelumnya atau memiliki riwayat fraktur saat yang tidak
meyakinkan; atau diakibatkan oleh beberapa fraktur ringan karena kelemahan tulang,
osteoporosis, individu yang mengalami tumor tulang bagian antebrachii, infeksi atau
penyakit lainnya, hal ini dinamakan fraktur patologis; atau bisa juga diakibatkan oleh
fraktur stress yaitu terjadi pada tulang yang normal akibat stress tingkat rendah yang
berkepanjangan atau berulang misalnya pada atlet-atlet olahraga, karena kekuatan otot
meningkat lebih cepat daripada kekuatan tulang, individu mampu melakukan aktifitas
melebihi tingkat sebelumnya walaupun mungkin tulang tidak mampu menunjang
peningkatan tekanan (Corwin, 2009).
Dari faktor penyebab diatas, berpengaruh ketika terjadi tekanan dari luar ke
tulang. Tulang itu bersifat rapuh hanya memiliki sedikit kekuatan dan gaya pegas untuk
menahan. Suatu keadaan ketika apabila ada tekanan eksternal yang datang lebih besar
dari kemampuan tahanan tulang dan resistensi tulang untuk melawan tekanan berpindah
mengikuti gaya tekanan tersebut (Muscari, 2010). Disaat demikian itu, terjadilah trauma
yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas [Link] fraktur
terjadi, peritoneum, pembuluh darah, saraf dalam korteks marrow dan jaringan lunak
yang membungkus tulang [Link] timbul pendarahan pada sekitar patahan dan
dalam jaringan lunak yang ada di dalamnya sehingga terbentuk hematoma pada rongga
medulla tulang, edema, dan nekrokrik sehingga terjadi gangguan hantaran ke bagian
distal tubuh (Suratun, 2012).
Etiologi patah tulang menurut (Suratun, 2012) adalah :
1. Fraktur akibat peristiwa trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada tempat
yang terkena, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya.
Jika kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka dapat terjadi fraktur pada tempat
yang jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan jaringan lunak ditempat fraktur
mungkin tidak ada.
Fraktur dapat disebabkan oleh trauma, antara lain :
a. Trauma langsung
Bila fraktur terjadi ditempat dimana bagian tersebut terdapat ruda paksa, misalnya
: benturan atau pukulan pada tulang yang mengakibatkan fraktur.
b. Trauma tidak langsung
Misalnya pasien jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi, dapat terjadi
fraktur pada pergelangan tangan, suprakondiskuler, klavikula.
c. Trauma ringan
Dapat menyebabkan fraktur bila tulang itu sendiri sudah [Link] itu fraktur
juga disebabkan olehkarena metastase dari tumor, infeksi, osteoporosis, atau karena
tarikan spontan otot yang kuat.
2. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan
Tulang jika bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut tidak
mampu mengabsobsi energi atau kekuatan yang menimapnya.
3. Fraktur Patologis
Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses pelemahan
tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase atau ostepororsis.

C. Klasifikasi
Klasifikasi fraktur antebrachii :

1. Fraktur antebrachii, yaitu fraktur pada kedua tulang radius dan ulna

Gambar 5 Fraktur Radius- Ulna

2. Fraktur ulna (nightstick fractur), yaitu fraktur hanya pada tulang ulna

Gambar 6 fraktur
Ulna

3. Fraktur Montegia, yaitu fraktur ulna proksimal yang disertai dengan dislokasi
sendi
Radioulna proksimal.
Gambar 7 Fraktur
Montega

4. Fraktur radius, yaitu fraktur hanya pada tulang radius

Gambar 8
Fraktur Rius

5. Fraktur Galeazzi, yaitu fraktur radius distal disertai dengan dislokasi sendi
radioulna distal

D. Patofisiologi Fraktur Radius Ulna

Mekanisme terjadinya fraktur radius dan ulna adalah tangan dalam keadaan
outstretched, sendi siku dalam posisi ektensi, dan lengan bawah dalam posisi supinasi.
Fraktur dapat terjadi akibat trauma langsung atau karena hiperpronasi (pemutaran
lengan bawah kea rah dalam) dengan tangan dalam keadaan outstretched.
Fraktur pada batang radius dan ulna (pada batang lengan bawah) biasanya terjadi
pada anak-anak usia 10 tahun (5-13 tahun) .Baik radius maupun ulna keduanya dapat
mengalami patah. Pada setiap ketinggian, biasanya akan mengalami pergeseran bila
kedua tulang [Link] fraktur dapat menyebabkan atau menimbulkan kerusakan
pada beberapa [Link] pada periosteum dan sumsum tulang dapat
mengakibatkan keluarnya sumsum tulang terutama pada tulang panjang. Sumsum
kuning yang keluar akibat fraktur terbuka masuk ke dalam pembuluh darah dan
mengikuti aliran darah sehingga mengakibatkan emboli lemak. Apabila emboli lemak
ini sampai padpat terjadia pembuluh darah yang sempit dimana diameter emboli lebih
besar daripada diameter pembuluh darah maka akan terjadi hambatan aliran darah yang
mengakibatkan perubahan perfusi jaringan.
Kerusakan pada otot atau jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat
karena adanya spasme otot di [Link] kerusakan pada tulang itu sendiri
mengakibatkan perubahan sumsum tulang (fragmentasi tulang) dan dapat menekan
persyaratan di daerah tulang yang fraktur sehingga menimbulkan gangguan syaraf
ditandai dengan kesemutan, rasa baal dan kelemahan.
Pada tulang radius ulna juga dipersyarafi oleh nervus Medianus. Jika kerusakan terjadi
pada otot sbb:
1. M. Pronator Teres : mengakibatkan ketidakmampuanpronasi lengan bawah.
2. M. fleksus kapi radialis : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi dan abduksi
pergelangan tangan.
3. M. Palmaris longus : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi pergelangan tangan.
4. M. fleksor digitorum superfisialis: mengakibatkan ketidakmampuan fleksi dua falang
proksimal dan pergelangan tangan.
5. M. fleksor polisis longus : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi semua sendi
jempol.
6. M. pronator kuadratus : mengakibatkan ketidakmampuan pronator lengan bawah.
7. M. abductor polisisi brevis: mengakibatkan ketidakmampuan abduksi jempol.
8. M. oponens polisis : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi falang proksimal
jempol.
Pada tulang radius ulna juga dipersyarafi oleh nervus Ulnaris. Jika kerusakan
terjadi pada otot
1. [Link] karpi ulnaris: mengakibatkan ketidakmampuan fleksi dan adfuksi
pergelangan tangan.
2. M. abductor polisis : mengakibatkan ketidakmampuan adduksi jempol.
3. M. abductor digiti minimi : mengakibatkan ketidakmampuan fleksi falang proksimal
jempol.
4. [Link] digiti minimi: mengakibatkan ketidakmampuan oposisi terhadap
kelingking.

E. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala dari fraktur antara lain (Smeltzer & Bare, 2010):
A. Nyeri hebat di tempat fraktur
Nyeri akan timbul selama fragmen tulang belum diimobilisasi. Nyeri ini timbul
karena ketika tulang tersebut patah, otot akan mengalami spasme.
B. Adanya pemendekan tulang
Hal ini diakibatkan oleh kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah fraktur.
C. Pembengkakan dan Perubahan Warna
Hal ini terjadi karena adanya respon inflamasi. Saat terjadi fraktur, fragmen tulang
yang patah akan turut melukai jaringan sekitarnya sehingga terjadi respon inflamasi
yang diawali dengan vasodilatasi pembuluh darah dan pelepasan mediator-mediator.
D. Hilangnya fungsi radius-ulna
E. Deformitas
F. Krepitasi
Pada anamnesis selalu ditemukannya deformitas pada daerah sekitar radius- ulna
pada tangan klien(helmi,2013).
a. Look: pada fase awal trauma, klien akan meringis kesakitan. Terlihat adanya
deformitas pada lengan bawah klien. Apabila didapatkan nyeri dan deformitas pada
lengan bawah maka perlu dikaji adanya perubahan nadi, perfusi yang tidak baik(akral
dingin pada lesi), dan CRT >3 detik dimana hal ini merupakan tanda-tanda peringatan
tentang terjadinya kompartemen sindrom. Sering didapatkan kasus fraktur radius-ulna
dengan komplikasi lebih lanjut.
b. Feel: adanya keluhan nyeri misal skala 6, nyeri tekan dan krepitasi, sensasi masih
terasa di area distal.
[Link]:gerak fleksi ekstensi elbow terbatas, pronasi supinasi terbatas .
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi menggunakan sinar rongen (x-ray) digunakan untuk
mendapatkan gambaran spesifik terkait keadaan dan kedudukan tulang, maka
digunakan kedudukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan [Link] keadaan tertentu
diperlukan proyeksi tambahan karena adanya patologi yang dicari berupa superposisi.
Permintaan x-ray harus didasari pada adanya permintaan pemeriksaan penunjang. Pada
pemeriksan ini didapatkan adanya garis patah pada tulang batang humerus pada foto
polos.
Hal yang harus dibaca pada x-ray harus meliputi 6 A yaitu:
1. Anatomi
2. Articular
3. Alignment
4. Angulation
5. Apeks
6. Apposition
Selain foto polos x-ray ada kemungkinan perlu teknik kusus seperti Computed
tomografi-scanning (CT-scan) : menggambarkan potongan secara transfersal dari tulang
dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.
Hasil X-Ray Fraktur Antebranchii

Hasil CT-scan Radius Ulnaris


2. Pemeriksaan laboraturium
a. Kalsium serum dan fosfor serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
b. Alkalin fosfat meningkat pada kerusakan tulang karena menunjukan bahwa
kegiatan osteoblast dalam membentuk tulang.
c. Enzyme otot seperti keratin kinase, laktat dehydrogenase (LDH-5) aspartate
amino transferase (AST), aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan
tualang.
3. Pemeriksaan lain yang mungkin dilakukan
a. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitifitas yang mungkin
mengindikasikan terjadinya infeksi oleh mikroorganisme.
b. Biopsy tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan
diatas tapi lebih diindikasikan oleh dugaan terjadinya infeksi.
c. Arthroscopy: didapatkan trauma jaringan ikat yang rusak atau sobel karena
trauma yang berlebihan.
d. Indium imaging: pada pemeriksaan ini akan diadapatkan infeksi pada tulang.
e. MRI: menggambarkan kerusakan pada semua jaringan akibat oleh fraktur,
termasuk jaringan lunak, dan tulang.

G. Penatalaksanaan

Fraktur dari distal radius adalah jenis fraktur yang paling sering [Link]
radius dan ulna biasanya selalu berupa perubahan posisi dan tidak stabil sehingga
umumnya membutuhkan terapi [Link] yang tidak disertai perubahan posisi
ekstra artikular dari distal radius dan fraktur tertutup dari ulnadapat diatasi secara
efektif dengan primary care [Link] distal radius umumnya terjadi pada anak-
anak dan remaja, serta mudah sembuh pada kebanyakan kasus.
Terapi fraktur diperlukan konsep ”empat R” yaitu : rekognisi, reduksi/reposisi,
terensi/fiksasi, dan rehabilitasi.
1. Rekognisis atau pengenalan adalah dengan melakukan berbagai diagnosa yang benar
sehingga akan membantu dalam penanganan fraktur karena perencanaan terapinya
dapat dipersiapkan lebih sempurna.
2. Reduksi atau reposisi adalah tindakan mengembalikan fragmen-fragmen fraktur
semirip mungkin dengan keadaan atau kedudukan semula atau keadaan letak normal.
3. Retensi atau fiksasi atau imobilisasi adalah tindakan mempertahankan atau menahan
fragmen fraktur tersebut selama penyembuhan.
4. Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang menderita fraktur
tersebut dapat kembali normal.
Gambar 10
Proses Penyembuhan Fraktur

Penatalaksanaan
Keperawatan
1. Mitra : Membangun hubungan dengan klien, serupa dengan [Link]
kebutuhan klien untuk memperoleh informasi tentang kondisi, pembedahan, dan
penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga pasien dapat berbagi rasa takut dan
memberi kepercayaan pada perawat
2. Pembimbing : Perawat berperan sebagai instruktur selama fase awal remobilisasi dan
rehabilitasi klien
3. Peningkat rasa nyaman dengan cara pemeliharaan asupan cairan dan diet yang sesuai,
pemeliharaan standar hygiene personal dan berpakaian.
4. Manajer Resiko : perawat mencegah terjadinya komplikasi tersering pada fraktur
radius ulna yaitu emboli lemak ataupun sindrom kompartemen
5. Teknisi : Perawat melakukan strategi yang digunakan untuk menstabilkan fraktur
radius ulna yang meliputi pemasangan dan asuhan gips dan alat bantu, pemasangan
dan penatalaksanaan traksi.
Secara rinci proses penyembuhan fraktur dapat dibagi dalam beberapa tahap sebagai
berikut:
1. Fase hematoma
Pada mulanya terjadi hematoma dan disertai pembengkakan jaringan lunak,
kemudian terjadi organisasi (proliferasi jaringan penyambung muda dalam daerah
radang) dan hematoma akan mengempis. Tiap fraktur biasanya disertai putusnya
pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah di sekitar [Link] ujung
tulang yang patah terjadi ischemia sampai beberapa milimeter dari garis patahan
yang mengakibatkan matinya osteocyt pada daerah fraktur tersebut.
2. Fase proliferatif
Proliferasi sel-sel periosteal dan endoosteal, yang menonjol adalah
proliferasi sel-sel lapisan dalam periosteal dekat daerah [Link]
terdesak oleh proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh. Bersamaan dengan
aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis
dari lapisan endosteum dan dari bone marrow masing-masing fragmen. Prosesdari
periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen bertemu dalam
satu proses yang sama, proses terus berlangsung kedalam dan keluar daritulang
tersebut sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain. Pada saat ini
mungkin tampak di beberapa tempat pulau-pulau kartilago, yang mungkinbanyak
sekali, walaupun adanya kartilago ini tidak mutlak dalam penyembuhan
[Link] fase ini sudah terjadi pengendapan kalsium.
3. Fase pembentukan callus
Pada fase ini terbentuk fibrous callus dan disini tulang menjadi osteoporotik
akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel-sel osteoblas mengeluarkan
matriks intra selluler yang terdiri dari kolagen dan polisakarida,yang segera
bersatu dengan garam-garam kalsium, membentuk tulang immature atau young
callus, karena proses pembauran tersebut, maka pada akhir stadium terdapat dua
macam callus yaitu didalam disebut internal callus dan diluar disebut external
callus.
4. Fase konsolidasi
Pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturisasi lebih lanjut oleh
aktivitas osteoblas, callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan
pembentukan lamela-lamela). Pada stadium ini sebenarnya proses penyembuhan
sedah lengkap. Pada fase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary
[Link] saat ini sudah mulai diletakkan sehingga sudah tampak jaringan yang
[Link] ini terjadi sesudah 4 (empat) minggu, namun pada umur-umur
lebih mudah lebih [Link] berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi
dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang
yang normal.
5. Fase remodeling
Pada fase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang
banyak dan tulang sedah terbentuk dengan baik, serta terjadi pembentukan
kembali dari medula [Link] union sudah lengkap, tulang baru yang
terbentuk pada umumnya berlebihan, mengelilingi daerah fraktur di luar maupun
didalam kanal, sehingga dapat membentuk kanal medularis. Dengan mengikuti
stress/tekanan dan tarik mekanis, misalnya gerakan, kontraksi otot dan
sebagainya, maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali
dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan
aslinya.
Ilizarov, Bone lengthening, Bone distraction osteogenesis atau Callotaxis
adalah suatu istilah yang sama dalam program pemanjangan tulang. Ilizarov
dikembangkan pertama kali oleh seorang dari Siberia Rusia yang bernama Gabriel
Abramovich Ilizarov. Ilizarov adalah suatu alat eksternal fiksasi yang berfungsi
untuk menjaga agar tidak terjadi pergeseran tulang dan untuk membantu dalam
proses pemanjangan tulang.

Gambar 11
Callotaxis

Indikasi pemasangan I lizarov :


1. Menyamakan panjang lengan atau tungkai yang tidak sama.
2. Menyamakan dan menumbuhkan daerah tulang yang hilang akibat patah
tulang terbuka yang hilang.
3. Membuang tulang yang infeksi dan diisi dengan cara menumbuhkan tulang
yang sehat.
4. Menambah tinggi badan.
Kontra indikasi pemasangan Ilizarov :
1. Open fraktur dengan soft tissue yang perlu penanganan lanjut yang lebih
baik bila dipasang single planar fiksator.
2. Fraktur intra artikuler yang perlu ORIF.
3. Simple fraktur (bisa dengan pemasangan plate and screw nail wire).

H. Komplikasi

Komplikasi fraktur radius ulna diklasifikasikan sebagai komplikasi cepat (saat cedera),
awal (dalam beberapa jam atau hari), dan lambat (dalam beberapa minggu atau bulan).
1. Komplikasi Cepat Fraktur Radius Ulna, meliputi:

a) Perdarahan, kehilangan darah dari tulang yang mengalami fraktur,


termasuk juga kehilangan darah dari kerusakan pada jaringan sekitar tulang
yang mengalami fraktur.
b) Kerusakan arteri saraf brachialis yang terletak di dekat radius ulna

2. Komplikasi Awal Radius Ulna, meliputi:

a) Emboli lemak yang terjadi terutama pada bagian yang mengalami fraktur radius
ulna

b) Masalah imobilisasi lokal (misalnya ulkus dekubitus, trombosis vena profunda,


infeksi dada).

c) Sindrom kompartemen.

3. Komplikasi Lambat, meliputi:

a) Deformitas.

b) Osteoarthritis sekunder (sendi).

c) Nekrosis asepsis dan atau avaskular dapat terjadi terutama setela fraktur pada
tulang seperti radius ulna Terjadi akibat gangguan suplai darah ke tulang
tersebut setelah fraktur (Brooker, 2011).

I. PROGNOSIS

Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan terjadi
pada setiap patah tulang, tidak peduli apa yang telah dikerjakan dokter pada patahan
tulang tersebut. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang, yang
disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost yang disebut
dengan fase hematoma, kemudian berubah menjadi fase jaringan fibrosis, lalu
penyatuan klinis, dan pada akhirnya fase konsolidasi.
Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung
pada lokasi fraktur dan umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4
minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia (> 8 minggu).
2. ASUHAN KEPERAWATAN
1) Pengkajian
 Pre Operasi
[Link] persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
- Kegiatan yang beresiko cidera.
- Riwayat penyakit yang menyebabkan jatuh.
- Kebiasaan beraktivitas tanpa pengamanan.
b. Pola nutrisi metabolik
- Adanya gangguan pola nafsu makan karena nyeri.
- Observasi terjadinya perdarahan pada luka dan perubahan warna kulit di sekitar luka,
edema.
c. Pola eliminasi
- Konstipasi karena imobilisasi
d. Pola aktivitas dan latihan
- Kesemutan, baal
- Ada riwayat jatuh atau terbentur ketika sedang beraktivitas
- Tidak kuat menahan beban berat
- Keterbatasan mobilisasi
- Berkurangnya atau tidak terabanya denyut nadi pada daerah distal injury, lambatnya kapiler
refill tim
e. Pola tidur dan istirahat
- Tidak bisa tidur karena kesakitan
- Sering terbangun karena kesakitan
f. Pola persepsi kognitif
- Nyeri pada daerah fraktur
- Kesemutan dan baal pada bagian distal fraktur
- Paresis, penurunan atau kehilangan sensasi
g. Pola persepsi dan konsep diri
- Rasa khawatir akan dirinya karena tidak dapat beraktivitas seperti keadaan sebelumnya
h. Pola peran dan hubungan dengan sesama
- Merasa tidak ditolong
- Kecemasan akan tidak melakukan peran seperti biasanya
 Post Operasi
a. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
- Kegiatan yang beresiko cidera.
- Pengetahuan pasien tentang perawatan luka di rumah
b. Pola nutrisi metabolik
- Adanya gangguan pola nafsu makan karena nyeri.
c. Pola eliminasi
- Konstipasi karena imobilisasi
d. Pola aktivitas dan latihan
- Keterbatasan beraktivitas
- Hilangnya gerakan atau sensasi spasme otot
- Baal atau kesemutan
- Pembengkakan jaringan atau masa hematoma pada sisi cedera
- Perdarahan, perubahan warna
e. Pola tidur dan istirahat
- Tidak bisa tidur karena kesakitan luka operasi
- Sering terbangun karena kesakitan
f. Pola persepsi kognitif
- Keluhan lokasi, intensitas dan karakteristik nyeri
- Nyeri pada luka operasi
- Tidak adanya nyeri akibat kerusakan saraf
- Pembengkakan, perdarahan, perubahan warna
g. Pola persepsi dan konsep diri
- Rasa khawatir akan dirinya Karena tidak dapat beraktivitas seperti keadaan sebelumnya
h. Pola peran dan hubungan dengan sesama
- Merasa tidak tertolong
- Kecemasan akan tidak melakukan peran seperti

2) Diagnosa Keperawatan
 Pre Operasi
[Link] akut berhubungan dengan agen cidera fisik (fraktur)
b. Cemas berhubungan dengan proses operasi
 Post Operasi
a. Nyeri berhubungan dengan post pembedahan.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan post pembedahan.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi.
3) Rencana Keperawatan
 Pre Operasi
No Dignosa NOC NIC

1 Nyeri akut b.d Setelah dilakukan tindakan


 Kaji nyeri klien (P,Q,R,S,T)
agencidera
keperawatan selama 3 x 24 jam,  Ajarkan tehnik
fisik diharapkan nyeri pasien dapat nonfarmakologi /tehnik
berkurang dengan kriteria hasil : relaksasi (tarik nafas dalam)
 Kolaborasi dengan dokter
 Skala nyeri berkurang menjadi 4

 Klien mampu mengontrol nyeri pemberian analgetik


 Tingkatkan istirahat
dengan tehnik nonfarmakologi
 TTV dalam batas normal

2 Cems
Setelah dilakukan tindakan  Kaji faktor penyebab kecemasan
berhubungan keperawatan selama 1 x 30 pasien.
dengan menit, diharapkan cemas pasien  Berikan dukungan kepada
kurangnya dapat teratasi dengan kriteria pasien.
informasi hasil :  Jelaskan prosedur operasi
(prosedur
 Kontak mata baik  Observasi reaksi
operasi)
 Pasien terlihat tenang nonverbal pasien.

 Pasien tidak gelisah  Temani pasien dan dengarkan

 TD normal  keluhan pasien

Pasien dapat mengungkapkan  Tunjukkan sikap empati


keluhannya kepada pasien
 Post Operasi
No Dignosa NOC NIC
1 Nyeri akut b.d Setelah dilakukan tindakan  Kaji nyeri klien (P,Q,R,S,T)
post keperawatan selama 3 x 24 jam,  Tingkatkan istirahat Kaji lokasi
pembedahan diharapkan nyeri pasien dapat dan intensitas nyeri.
berkurang dengan kriteria hasil : Pertahankan imobilisasi bagian
 yang sakit.

Tinggikan ekstremitas yang
 Intensitas nyeri 0-2. Ekspresi
fraktur.
wajah rileks. Anjurkan teknik relaksasi nafas
 dalam.
Kolaborasi dalam memberikan
terapi analgetik.


2 Kerusakan Setelah dilakukan Kaji kulit pada luka terbuka,
integritas kulit tindakan  keperawatan benda asing, kemerahan,
perdarahan, perubahan warna,
berhubungan selama 3 x 24 jam, di harapkan
kelabu, memutih.
penyembuhan luka sesuai Observasi tanda-tanda vital.
dengan trauma
waktu/penyembuhan lesi terjadi. Masase kulit dan
post penonjolan tulang.

pembedahan Pertahankan
 tempat tidur kering dan
bebas kerutan. Letakkan bantalan
pelindung di bawah kaki dan
di atas
tonjolan tulang.
 Ubah posisi tidur secara periodik
tiap 2 jam.


3 Resiko tinggi Setelah dilakukan tindakan  Observasi TTV terutama suhu
infeksi keperawatan selama 3 x 24 jam, Jaga daerah luka tetap bersih dan
kering.
berhubungan  diharapkan nyeri pasien dapat
Tutup daerah yang luka dengan
berkurang dengan kriteria hasil : kasa steril/balutan bersih.
dengan luka
 Rawat luka dengan
operasi. teknik aseptik.
Tidak ada tanda-tanda infeksi
Kolaborasi dengan medik untuk
ditandai dengan: 
pemberian antibiotik.
- Suhu normal 36 - 37oC
- Tidak ada kemerahan, tidak
ada edema, luka bersih. 
PATHWAY FRAKTUR
A. Pengkajian
1. PengumpulanData
a. Identitas
1) IdentitasPasien
Nama : Tn, A
Umur : 34 thn
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : Kristen
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Suku Bangsa : Pamona
Status perkawinan : Menikah
Golongan darah :B
Alamat : Tentena
[Link] : 153337
Diagnosa medis : Fraktur Radius 1/3 Tengah
Tanggal masuk : 10 – 04 - 2021
Tanggal pengkajian :12 – 04 - 2021

2) Identitas Penanggung Jawab


Nama : [Link]
Umur : 60 thn
Jeniskelamin : perempuan
Agama : kristen
Pendidikan : D3 Keperawatan
Pekerjaan : PNS
Suku Bangsa : Pamona
Hubungan dg Klien : Ayah Kandung
Alamat : Tagolu

b. RiwayatKesehatan
1) KeluhanUtama
Nyeri pada lengan kanan
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke rumah sakit pada tanggal 10 April 2020 diantar oleh
polisi, pasien mengeluh nyeri pada lengan sebelah kanan, nyeri mulai
dirasakan setelah pasien jatuh dari sepeda motor karena menghindari
kendaraan didepannya yang berhenti secara tiba-tiba. Nyeri yang
dirasakan seperti diremas remas, nyeri statis, skala nyeri VAS 6 setelah
dikaji didapatkan TTV pasien TD 160/100 mmHg, suhu 36,4 0c, nadi
104/mnt, RR 20x/mnt. Pasien mengatakan belum pernah dirawat dirumah
sakit sebelumnya dan takut dioperasi, pasien sering bertanya tentang
kndisi penyakitnya.
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan pernah berobat di puskesmas dan diberi obat malaria
4) Riwayat PenyakitKeluarga
Pasien mengatakan ayahnya pernah dirawat karna sakit diabetes
5) Riwayat Kesehatan
 Adakah penyakit keturunan?
Ada diabetes
 Sebelumnya pernah masuk Rumah Sakit?
Pasien mengatakan pernah berobat di puskesmas dan diberi obat
malaria
 Bagaimana pengobatannya, tuntas atau tidak?
Obat malaria diminum sampai habis dan sembuh
 Obat apa saja yang pernah digunakan?
Dharplex, primaquin, paracetamol
 Riwayat anestesi dan operasi sebelumnya.
Pasien belum pernah dioperasi sebelumnya
 Kebiasaan-kebiasaan pasien (perokok berat, pemakai alkohol atau
obat-obatan)
Disangkal
 Riwayat alergi
Tidak ada

c. Pola Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)


1) Udara atau oksigenasi :
 Gangguan pernafasan : tidak ada
 Alat bantu pernafasan : tidak ada
 Sirkulasi udara : cukup
 Letak tempat tinggal : Pedesaan

2) Air
a) Sebelum sakit :
 Sumber air yang digunakan : PDAM,
 Konsumsi air : 2 L/hari
 Kondisi air : bersih (air putih)
 Skala mandi :2x/hari
b) Saat sakit :
Minum air
 Frekuensi : 7-8 x/hari
 Jenis : air putih
 Cara : enteral
 Keluhan : tidakada

3) Nutrisi/ makanan
a) Sebelum sakit :
 Frekuensi : 3x/hari
 Jenis : makan padat
 Porsi : 1 piring habis
 Diet khusus :tidak ada
 Makanan yang disukai :makanan pedas, bersantan, berminyak.
 Pantangan :tidakada
 Napsumakan : baik
b) Saat sakit
 Frekuensi : 3x/hari
 Jenis : semi padat
 Porsi :1/2piring
 Diet khusus :bubur sayur, buah
 Makanan yang disukai :tidak ada
 Pantangan : tidak ada
 Napsumakan : baik
4) Eliminasi
a) BAB
Sebelum sakit
 Frekuensi : 1x/hari
 Konsistensi : padat
 Warna : kuning
 Bau : khas feses
 Cara : mandiri
 Keluhan : tidak ada
Saat Sakit
 Frekuensi :1x/hari
 Konsistensi : padat
 Warna : kuning
 Bau : khas
 Cara : mandiri
 Keluhan : tidak ada

b) BAK
Sebelum sakit :
- Frekuensi : 3-5x/hari
- Konsistensi : cair
- Warna : jernih
- Bau : khas urine
- Cara : mandiri
- Keluhan : tidakada
Saat sakit :
- Frekuensi : 3-5x/hari
- Konsistensi : cair
- Warna : jernih
- Bau : khas urine
- Cara : mandiri
- Keluhan :tidakada

5) Pola aktivitas dan istirahat


a) Aktivitas
Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4
Makan dan minum 
Mandi 
Toileting 
Berpakaian 
Berpindah 

0: mandiri, 1: Alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain


dan alat, 4: tergantung total

b) Istirahat Dan Tidur


Sebelum sakit
- Apakah frekuensi waktu anda beraktivitas lebih banyak dari pada
waktu anda beristirahat?iya
- Apakah anda pernah mengalami insomnia?Tidakada
- Berapa jam anda tidur: malam7jam/hari, siang –
Saat sakit
- Apakah anda pernah mengalami insomnia?iya
- Berapa jam anda tidur: malam4 jam, siang 2 jam
6) Interaksi sosial
- Kegiatan Lingkungan :gotongroyong
- Interaksi Sosial :baik
- Keterlibatan Kegiatan Sosial :baik

7) Pemeliharaan kesehatan
- Kebersihan kamar mandi :bersih
- Konsumsi vitamin :tidakada
- Imunisasi :disangkal
- Olahraga :jarang
- Upaya keharmonisan keluarga :baik
- Sters dan adaptasi : baik

8) Kesejahteraan dan peningkatan fungsi manusia


- Hubungan dengan lingkungan masyarakat, keluarga, kelompok,
teman:baik
- Pemanfaatan pelayanan kesehatan :berobat kerumah sakit jika sakit

B. PemeriksaanFisik
1. Keadaan Umum
Kesadaran : komposmetis
GCS : 15 (eye : 4, motorik :6, verbal :5 )
Penampilan : tampak sakit sedang
BB : 80 Kg
TB : 165 cm
Tanda-tanda Vital :
Tekanan Darah : 160/100mmHg, Suhu :36,40 C,HR : 104x/m, RR =20x/menit
2. Pemeriksaan Kepala
 Inspeksi :
Bentuk kepala : Mesosepal, simetris (+),tampak luka lecet di bagian dagu
 Palpasi
Edema (-), nyeri tekan pada daerah luka lecet (+)
3. Pemeriksaan Wajah :
 Inspeksi :
ekspresi wajah gelisah(+), meringis (+) Warna dan kondisi wajah: normal
Struktur wajah : simetris, Kelumpuhan otot-otot fasialis (tidak ada)

4. Pemeriksaan Mata
a. Inspeksi
Kelengkapan dan kesimetrisan mata (+),Eksoftalmus(-),Endofthalmus(-),
Kelopak mata/palpebra : oedem (-),ptosis (-), peradangan (-) luka (-),benjolan(
- )Bulu mata : tidak rontok, konjunctiva dan sclera : perubahan warna tidak
ada, Warna iris hitam, Reaksipupilterhadapcahaya : (miosis) isokor (+), kornea
: warnahitam, nigtasmus ( - ), strabismus ( - )
1) Pemeriksaan Visus
Dengan Snelen Card : OD baik OS baik
Tanpa Snelen Card : Ketajaman Penglihatan ( Baik)
2) Pemeriksaan lapang pandang : normal
b. Palpasi
Pemeriksaan tekanan bola mata Dengan tonometri normal, dengan palpasi
teraba normal

5. Pemeriksaan Telinga
a. Inspeksi dan palpasi
1) Amati bagian telinga luar : bentuk normal Ukuran normal Warna normal
lesi ( - ), nyeri tekan (-), peradangan ( - ), penumpukan serumen ( - ).
2) Dengan otoskop periksa membran tympany amati, warna normal,
transparansi normal, perdarahan ( - ), perforasi ( - ).
3) Uji kemampuan kepekaan telinga :
a) Tes bisik sama kiri dan kanan
b) Dengan arloji sama kiri dan kanan
c) Uji weber : seimbang
d) Uji rinne : sama dibanding dengan hantaran udara
e) Uji swabach : sama

6. Pemeriksaan Hidung
 Inspeksi dan palpasi
- bentuk tulang hidung dan posisi septum nasi: simetris/tidak defisiasi
- meatus : perdarahan (tidak) Kotoran (ada) Pembengkakan (tidak),
pembesaran / polip (tidak)

7. Pemeriksaan Mulut dan Faring


a. Inspeksi dan Palpasi
1) Amati bibir : Kelainan konginetal (labioseisis, palatoseisis, atau
labiopalatoseisis tidakada), warna bibir merah muda, lesi (-), Bibir pecah
(-),
2) Amati gigi ,gusi, dan lidah : Caries (-), Kotoran (-), Gigi palsu (+),
Gingivitis (-) Bentuk gigi seri menonjol (-)
3) Lidah : Warna lidah: merah muda, Perdarahan (-), Abses (-).
4) Orofaring atau rongga mulut : Bau mulut: ya, uvula (simetris), Benda
asing : (tidak)
5) Tonsil: Adakah pembesaran: T0
6) Perhatikan suara klien: tidak
7) Malampati score, 1
8) Buka mulut 3 jari (+)

8. Pemeriksaan Leher
a. Inspeksi dan palpasi amati dan rasakan :
1) Bentuk leher (simetris), peradangan (-), jaringan parut (-), perubahan
warna (-), massa (-)
2) Kelenjar tiroid, pembesaran (-)
3) Vena jugularis : pembesaran (-), tekanan : tidak teraba
4) Pembesaran kelenjar limfe (-), kelenjar tiroid (-), posisi trakea (simetris)
5) Pemeriksaan leher pendek 3 jari dari pangkal leher ke angulus mandibula
(+)
6) Tiromentalis 3-3-2

9. Pemeriksaan Payudara dan Ketiak


a. Inspeksi
1) Ukuran payudara normal, bentuk (simetris), pembengkakan (- ).
2) Kulit payudara : warna normal lesi ( - ), Areola : perubahan warna ( - )
3) Putting : cairan yang keluar ( - ), ulkus ( - ), pembengkakan ( - )
b. Palpasi
Nyeri tekan ( - ), dan kekenyalan (kenyal), benjolan massa ( - )

10. Pemeriksaan Torak


a. PemeriksaanThorak dan Paru
1) Inspeksi
a) Bentuk torak (Normal chest), susunan ruas tulang belakang (normal),
bentuk dada (simetris), keadaan kulit normal
b) Retrasksi otot bantu pernafasan: Retraksi intercosta ( -), retraksi
suprasternal ( - ), Sternomastoid ( - ), pernafasan cuping hidung ( - ).
c) Pola nafas (eupnea)
d) Amati : cianosis ( - ), batuk (- )
2) Palpasi
Pemeriksaan taktil / vocal fremitus : getaran antara kanan dan kiri teraba
(sama).
a) Perkusi
Area paru : ( sonor )
b) Auskultasi
 Suara nafas
Area Vesikuler : ( bersih) , Area Bronchial : ( bersih), Area
Bronkovesikuler ( bersih)
 Suara Ucapan
Terdengar : normal
- Suara tambahan
Terdengar : Rales ( - ), Ronchi ( - ), Wheezing ( - ), Pleural
fricion rub ( - )

b. Pemeriksaan Jantung

1) Inspeksi
Ictus cordis( - ),
2) Palpasi
Pulsasi pada dinding torak teraba : ( Kuat )
3) Perkusi
Batas atas : ICS II
Batas bawah : ICS V
Batas Kiri : ICS V Mid Clavikula Sinistra
Batas Kanan : ICS IV Mid Sternalis Dextra
4) Auskultasi
BJ I terdengar (tunggal, ( keras), ( reguler )
BJ II terdengar (tunggal), (keras), ( reguler )
Bunyi jantung tambahan : BJ III (-), Gallop Rhythm (-), Murmur (-)

11. Pemeriksaan Abdomen


a. Inspeksi
- Bentuk abdomen : datar tampak kembung
- Massa/Benjolan(ada),
- Kesimetrisan: bentuk simetris,
- Bayangan pembuluh darah vena: tidak
b. Auskultasi
Frekuensi peristaltic usus 4x/menit ( N = 5 – 35 x/menit, Borborygmi (+)
c. Perkusi
Hipertimpani (+)
d. [Link]
Distensi abdomen (+)
Turgor kulit elastis (+)
Pirosis/nyeri ulu hati (-)
Palpasi Appendik :
 Titik Mc. Burney: nyeri tekan (-), nyeri lepas(-), nyeri menjalar
kontralateral:
 Acites atau tidak : Shiffing Dullnes (tidak), Undulasi (tidak)

12. Pemeriksaan Genetalia


a. Genetalia Pria
1) Inspeksi
Rambut pubis (bersih), lesi (-), benjolan (-), Lubang uretra :penyumbatan
(- ), Hipospadia ( - ), Epispadia ( - )
2) Palpasi
Penis : nyeri tekan ( - ), benjolan ( - ), cairan : normal
Scrotum dan testis : benjolan ( - ), nyeri tekan ( - ),
Kelainan-kelainan yang tampak pada scrotum :Hidrochele ( - ), Scrotal
Hernia ( - ), Spermatochele ( - ) Epididimal Mass/Nodularyti ( - )
Epididimitis ( - ), Torsi pada saluran sperma ( - ), Tumor testiscular ( - )
3) Inspeksi dan palpasi Hernia :
Inguinal hernia (-), femoral hernia (-), pembengkakan (-)

13. Pemeriksaan Anus


a. Inspeksi
Atresia ani (-), tumor (-), haemorroid (-), perdarahan (-), Perineum : jahitan
(-), benjolan (-)
b. Palpasi
Nyeri tekan pada daerah anus (-) pemeriksaan Rectal Toucher (-)

14. Pemeriksaan Ekstremitas


a. Ekstremitas Atas
1) Inspeksi
Otot antar sisi kanan dan kiri (simetris), deformitas pada lengan kanan(+),
krepitasi(+),terpasang bidai 3 posisi (+) Traksi ( - ), terpasang infus (+) di
tangan kiri
2) Palpasi
Edema : ( -/+), nyeri tekan ( -/+ )
Lakukan uji kekuatan otot : 33 555
3
b. Ekstremitas Bawah :
1) Inspeksi
Otot antar sisi kanan dan kiri (simetris), deformitas(-), fraktur(-) terpasang
Gib (-), Traksi (-) tampak lecet pada daerah metatarsal kanan
2) Palpasi
Edema : (-), nyeri tekan ( -)
Lakukan uji kekuatan otot : 55 555
5
Kesimpulan palpasi ekstermitas :
Edema pada lengan kiri
333 555
Kekuatan otot:
555 555

15. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS


a. Menguji tingkat kesadaran secara kuantitaif dengan
GCS ( Glasgow Coma Scale )
1) Menilai respon membuka mata ( 4 )
2) Menilai respon Verbal ( 5 )
3) Menilai respon motorik ( 6 )
4) Pemeriksaan tingkat kesadaran secara kualitatif : (Composmentis)
b. Memeriksa tanda-tanda rangsangan otak
Peningkatan suhu tubuh (-), nyeri kepala (-), kaku kuduk (-), mual muntah (-)
kejang (-) penurunan tingkat kesadaran (-)
c. Memeriksa nervus cranialis
1) Nervus I , Olfaktorius (pembau ) bisa membedakan bau alkohol dan
minyak kayuputih
2) Nervus II, Opticus ( penglihatan ) dapat melihat dengan jelas
3) Nervus III, Ocumulatorius bola mata dapat digerakkan kekiri dan kanan
4) Nervus IV, Throclearis bola mata dapat digerakkan ketas dan kebawah
5) Nervus V, Thrigeminus :
6) Cabang optalmicus : reflek terhadap ransangan halus pada kornea
7) Cabang maxilaris : dapat mengatupkan gigi
8) Cabang Mandibularis : dapat mengunyah
9) Nervus VI, Abdusen lapang pandang kiri dan kanan
10) Nervus VII, Facialis dapat mengerutkan dahi dan mengangkat alis
11) Nervus VIII, Auditorius pendengaran baik
12) Nervus IX, Glosopharingeal dapat membedakan rasa
13) Nervus X, Vagus kemempuan menelan baik
14) Nervus XI, Accessorius melawan tahan dengan mengangkat bahu
15) Nervus XII, Hypoglosal dapat membuka mulut dan menjulurkan lidah

d. Memeriksa fungsi motorik


Ukuran otot (simetris), atropi ( -)
kekuatan otot : 333 555
555 555

1) Memeriksa fungsi sensorik


Kepekaan saraf perifer : dapat membedakan benda tumpul dan benda
tajam, Menguji sensasi panas / dingin dapat membedakan panas dan
dingin.
2) Memeriksa reflek kedalaman tendon
a) Reflek Fisiologis
Reflek bisep ( + )
Reflek trisep ( + )
Reflek brachiradialis ( + )
Reflek patella ( + )
Reflek achiles ( + )
b) Reflek Pathologis
Reflek babinski ( - )
Reflek chaddok ( - )
Reflek schaeffer ( - )
Reflek Oppenheim ( - )
Reflek Gordon ( - )

16. Data Penunjang


a. PemeriksaanLaboratorium
NO NAMA PEMERIKSAAN HASIL NILAI UNIT
NORMAL
1 Haemoglobin (HGB) 15,7 12-16 g/dl
2 Leukosit (WBC) 17,9 4,0-11,0 Ribu/uL
3 Trombosit (PLT) 259 150-450 Ribu/uL
4 Haematokrit (HCT) 45 36-47 %
5 Erytrosit (RBC) 4,76 4,1-5,1 Juta/uL
6 BT 2 1-5 Menit
7 CT 5 1-15 Menit
8 Golongan darah O - -
9 Ureum 6,0 10-50 Mg/dl
10 Creatinin 1,60 0,9-1,3 Mg/dl
11 SGOT 23 0-50 U/L
12 SGPT 32 0-50 U/L
13 Rhesus + - -
14 GDS 110 70-140 Mg/dL
15 Hbs Ag NON REAKTIF NON REAKTIF
16 ANTI HIV/Reagen 1 NON REAKTIF NON REAKTIF
17 Antigen NON REAKTIF NON REAKTIF

b. Pemeriksaan Radiologi : X-Ray


17. Data psikologis
Klien merasa cemas dengan penyakit yang di deritanya.
18. Data Sosial
Pasien mengatakan tidak ada mengikuti organisassi di lingkungan tempat
tinggal, hanyak mengikuti acara-acara yang ada dimsyarakat.
19. Data kultural
Budaya pamona, menggunakan bahasa pamona indonesia.
20. Data spritual
Pasien bergama kristen, pasien rajin ibadah, dan sering membaca alkitab.
21. Pola pengkajian fungsional
1). Pola persepsi kesehatan
Pasien tidak menegetahui tentang proses penyakit yang ada pada dirinya ,
pasien tidak merokok selama di rawat dirumah sakit, jika pasien demam biasa
dibawa ke puskesmas setempat.
2). Pola nutrisi metabolic
Pola makan px biasa sarapan pagi makan bubur nasi 1 mangkok, siang pasien
baru makan nasi 1 piring dan BB 80 Kg tidak ada diit makanan.
3). Pola eliminasi
Kebiasaan BAK, pada malam hari sering BAK dan bias tersendat-sendat (tidak
lancar) , BAK kuning.
4). Pola aktivitas/latihan
Runitas pekerjaan sehari-hari bekerja swasta , kebersihan pasien baik, rutinitas
mandi 3x sehari.
5). Pola istrhat/tidur
Istrahat tidur malam pasien pada jam 22.00 / 23.00 WITA dan bangun pagi
jam 07.00 biasa tebangun hanya untuk BAK.
6). Pola kognitif/persepsional
Nyeri saat BAK, bila BAK biasa kurang lancar. Tidak berdarah, warna urin
kuning. Pendengaran baik,dbn. Bicara dan membaca baik, dbn.
7). Pola persepsi diri/konsep diri
Klien bertubuh besar tinggi dan menyukai poster tubuh yang dimiliki nya, dan
klien kooperatif saat berada dirumah sakit terutama pada ruangan kamar bedah
dan ruang bedah kelas I.
8). Pola peran/ hubungan
Klien kepala keluarga dirumah, klien banyak mempunyai banyak teman di
sekeliling rumah dan masyarakat. Bila ada masalah kesulitan keluarga yang
membantu, klien aktif di masyarakat.
9). Pola seksualitas/reproduksi
Tidak ada masalah dalam seksualitas.
10). Pola koping/tolerasisstres
Cuman merasa takut akan mengahadapi operasi,dbn.
11). Pola nilai/kepercayaan
Pasien beragama kristen,dan melaksanakan ibadah di greja
22. Laporan Penata Anestesi
1). Alat dan Mesin Anestesi
a). Gas terdiri dari oksigen dan Nitro Oxide
b). Gas Volotile terdiri dari Sevoflurance dan Isofluren
c). Monitor TTV dan EKG
d). STATICS :
S : Laringoskop no blade 3 dan stetoskop
T : Tube ( Selang endotrakeal tube) ETT kin kin no 7.5 Cup +
A : Air way ( Gudel / Mayo ) ukuran medium no 4
T : Tape ( Plester )
I : Introducer ( mandrein, stilet )
C : Conector
S : Suction
2). Persiapan Obat Anestesi
a). Premedikasi
Fentanyl 1-2 mcg/Kg BB (25mcg)
Midazolam 0,06 – 0,1 mg/Kg BB (3mg)
b).Induksi
Profopol 1-2 mg/Kg BB
Atracurium 0,3-0,5 mg/Kg BB
c). Obat Tambahan
Ondancentron 4 mg
Atropin Sulfat 0,25 mg
3). Penatalaksanaan Anestesi
a). Ruang Persiapan
Pasien masuk ke kamar persiapan pada pukul 10.15 WITA, pasien
langsung diganti baju operasi, infus terpasang pada tangan kiri dengan iv
line ukuran 18 dan lancar. Selama di ruang persiapan pasien kooperatif
dengan tingkat kesadaran compos mentis GCS 15. Sebelum tindakan
anestesi diperlukan pengecekan inform concernt.
TTV :
TD : 130/77 mmHg
N : 84x/menit
RR : 20x/menit
BB : 80 kg
b). Ruang Operasi
Pasien masuk ke kamar operasi pada pukul 10.30 wita, Pasien di
baringkan dengan posisi supine di meja operasi dan atur kecepatan infus.
Menyalakan mesin anestesi, monitor tanda-tanda vital dan melakukan
pengecekan mesin, gas dan kebocoran kuregatet dan balon. Pasien
dilakukan pemasangan monitor tanda-tanda vital, saturasi oksigen.
Menunggu intruksi dan lapor kepada konsulen dan operator bila sudah siap.
Menganjurkan pasien untuk berdoa Pasien dilakukan pemberian
premedikasi : Ondansentron 4 Kemudian melakukan tindakan anestesi GA
intubasi, di mulai pada jam 10.45 WITA
c). Pelaksanaan intubasi dilakukan pada jam 10.45 wita dengan prosedur :
- Posisikan kepala pasien dengan ektensi
- Buka mulut pasien dengan cross finger pegang laringoskop dengan
tangan kiri kemudian masukan kedalam mulut kemudian
menyingkirkan lidah ke kiri pasien dengan posisi laringoskop
membuka rongga mulut
- Cari epiglottis, tempatkan ujung bilah laringoskop di valekula.
- Angkat epiglottis denga elevasi laringoskop ke atas ( jangan
menekan gigi) untuk melihat plica vocalis.
- Bila sudah terlihat ambil selang ETT yang sudah terpasang stilet
dengan tangan kanan.
- Masukan ETT dari sisi mulut kanan, sampai masuk ke saluran
trakea dengan ukuran batas mulut minimal 20 cm.
- lepaskan stilet dari ETT, isi balon sebanyak 10 cc udara kemudian
hubungkan dengan konektor kuregatet mesin anestesi.
- Tes kedalam ETT dengan stetoskope pada daerah apex kanan dan
kiri untu memastikan ETT benar-benar masuk kedalam trakea dan
mengecek keseimbangan pengembangan antara paru-paru kanan
dan [Link] ETT sudah dipastikan dalam keadaan seimbang
maka dilakukan fiksasi dengan menggukan plester agar tidak
terjadi perubahan letak posisi ETT. Jam 11.00 wita pernapasan
pasien terhubung ke ventilator
d) Jam 11.15 di mulai tindakan operasi
Perhitungan rencana pemberian ventilasi :
1) Tidal
Volume
Tidal
Volume
2) Minute Volume
1. Minute Volume = Tidal volume x Respirasi rate ( 12-16
x/menit)

496 x 12/menit
5952 ml = 5,9 L/menit
3) Menggunkan teknik ventilator VCP ( Volume Control Presure )
TV RR I:E
PEEP
496 12 Ratio
4
Ml X/menit 1:2

e) Intra Operasi
Pasein sudah terintubasi dengan ETT non kin kin no 7.5 cup +, mayo
ukuran medium no 4 pada jam 11.00 wita dan terhubung ke ventilator
mesin anestesi.
Monitoring Intake dan output cairan
1. Perhitungan cairan pasien selama operasi :
BB : 80 kg
Jenis Operasi : Sedang
Puasa : 8 jam
2. Kebutuhan cairan mentenaince untuk pasien BB
80 Kg
Kebutuhana cairan maintenance :
4 x 10 = 40
2 x 10 = 20
1 x 85 = 85
Jumah = 145 cc/jam
3. Kebutuhan cairan selama
puasa Maintenace x lama
puasa
100 ml/jam x 8 jam = 800 cc
4. Insensible Water Lose (IWL)
Stres Operasi : Ringan = 2 – 4 ml, sedang = 4 -6 ml, berat = 6 – 8
ml
IWL = Stress operasi x BB (Kg) pasien
= 6 x 80 kg
= 480 ml
5. Estimated blood lose
Estimated Blood
Volume
EBV laki-laki dewasa 70 cc/kgbb
EBV perempuan dewasa 65 cc/kgbb
EBV = ( 70 x 105 kg )
EBV = 7350 cc
EBL (10 %, 15 %, 20 % )
Ringan = 10 % x 7350 cc = 735 cc
Sedng =15% x 7350 cc = 1102 cc
Berat =20% x 7350 cc = 1470 cc
6. Jumlah pendarahan 1 jam pertama :
Suction = 50 cc
Kasa (1 kasa = 10 cc) = 40 cc
Perdarahan di ganti dengan cairan kristaloid dengan perbandingan
1:3 = 90 cc darah : 270 cc Cairan kristaloid
7. Kebutuhan cairan selama operasi
Rumus : Puasa + Maintenance + IWL + Perdarahan = ml
Jam 1 = ½ Puasa + Maintenance + IWL + Perdarahan = ml
½ 800 + 102 + 372 + 270 = 1445 cc
8. Total cairan yang keluar
Darah = 90 cc
Urine = 70 cc
9. Cairan yang sudah diberikan (Kristaloid)
Pre operasi = 500 cc
Intra operasi = 1144 cc
Total = 1644 cc
10. Jumlah tetesan / menit 1 jam pertama = 1144 x 20 tetes/
menit 60 menit
= 381,33 tetes/menit

f) Pengakhiran Anestesi
Operasi selesai pada pukul 12.45 wita pasien dilakukan
spontanisasi pada pernapasan dengan bagging ( assist ) tanpa
menggunakan ventilator dan di berikan terapi injeksi neostigmine 0,5
mg + sulfat atropine 0.25 mg untuk menghilangkan efek dari obat
relaksan (atrakurium). Pasien bernapas spontan dengan adekuat dengan
tanda pasien sadar penuh, mampu menelan ludah, kekuatan otot sudah
pulih, tensi normal, saturasi normal dan tidak ada distensi
[Link] dilakukan ekstubasi pada jam 13.00 wita. pasien
terpasang infus di tangan kanan, DC
g) Ruang Pemulihan
Pasien keluar dari kamar oparasi menuju ruang pemulihan pada jam 13.10
wita. Pada saat masuk ke ruang pemulihan pasien masih terpantau. Tanda
tanda vital pasien TD 130/90 mmHg, Nadi 78 x/menit. Cairan infus RL,
injeksi intravea ketorolac 30 mg, ondansentron 4 mg dan oksigen nasal kanul
diberikan 3 liter/menit.

23. Pertimbangan Anastesi


a. Teknik anastesi : General Anestesi Intubasi
b. Obat-obatan
Premedikasi :
ondansetron 4 mg (iv)
midazolam 2,5 mg (iv)
fentanyl 60-100 mcg (iv)
Induksi :
Propofol 60-100 mg (iv)
Muscle relaxan
Atracurium 30-50 mg(iv)
Maintenance
Isofluran 2 %vol
Fentanil 60 mcg/jam (iv)

24. ASA
ASA (pasien tanpa penyakit sistemik)

C. AnalisaData
No Sympton Etiologi Problem
PRE ANESTESI
1 DS : Kerusakan jaringan Nyeri
- Pasien mengatakan
nyeri pada daerah Pelepasan mediator
lengan kiri nyeri
DO :
- Pasien tampak meringis Ditangkap reseptor
- Skala nyeri 6 (VAS) nyeri

Impuls ke otak

Persepsi nyeri
Nyeri akut
2 DS : Tindakan pembedahan Ansietas
- Pasien mengatakan
belum pernah menjalani Kurang terpapar
operasi informasi
- Pasien mengatakan
takut menjalani operasi Ansietas
DO :
- Pasien sering bertanya
tentang kondisi
penyakitnya
- Pasien tampak tegang
INTRA ANESTESI
1 DS Prosedur general Disfungsi respirasi
- Pasien tidak sadar anestesi
DO
- Pasien tidak sadar Kesadaran menurun
- Tidak ada napas
spontan Apnoe

Disfungsi respirasi

POST ANESTESI
2 DS : Prosedur anestesi Hipotermi
- Pasien mengatakan
menggigil Aktifitas fisik menurun
DO :
- Pasien tampak Suhu rendah kamar
menggigil operasi
- SB :35,5
- Akral pasien dingin hipotermi

D. Problem ( Masalah Kesehatan Anestesi )


1. Pre Anestesi
a. Nyeri akut
b. Ansietas
2. Intra Anestesi
a. PK Disfungsi Respirasi
3. Post Anestesi
a. Hipotermi
E. Prioritas Masalah Kesehatan Anestesi
1. Pre Anestesi
a. Nyeri akut
b. Ansietas
2. Intra Anestesi
a. PK Disfungsi Respirasi
3. Post Anestesi
a. Hipotermi

F. Rencana Intervensi
No Problem(masalah Perencanaan
kesehatan anestesi) Tujuan Intervensi
PRE ANESTESI
1 Nyeri Setelah dilakukan tindakan 1. Ukur skala nyeri
keperawatan anestesi 2. Observasi TTV
diharapkan nyeri dapat 3. Ajarkan teknik distraksi
berkurang dengan kriteria dan relaksasi
hasil: 4. Kolaborasi pemberian
DS : analgetik
- Pasien mengatakan nyeri
berkurang
DO :
- Pasien tampak rileks
- Skor VAS 1-3
- TTV dalam batas
normal

2 Ansietas Setelah dilakuakan tindakan 1. Observasi TTV


keperawatan anestesi 2. Ajarkan teknik distraksi
diharapkan kecemasan dan relaksasi
pasien berkurang dengan 3. Beri edukasi tentang
kriteria hasil: prosedur yang akan dijalani
DS : 4. Kolaborasi pemberian
- Pasien mengatakan siap midazolam
untuk dioperasi
- Pasien mengatakan
sudah tau tentang
prosedur yang akan
dijalani
DO :
- Pasien tampak rileks
- TTV dalam batas
normal

INTRA ANESTESI
1 PK Disfungsi Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi TTV
respirasi keperawatan diharapkan 2. Periksa kelengkapan dan
tidak terjadi komplikasi kesiapan mesin dan alat-
disfungsi respirasi dengan alat anestesi
kriteria hasil : 3. Pantau tanda-tanda sianosis
DO : 4. Kolaborasi pemasangan
- TTV dalam batas ventilator mekanik
normal
- Tidak terjadi sianosis
POST ANESTESI
Hipotermi Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi TTV
1 keperawatan anestesi 2. Atur suhu ruangan yang
diharapkan hipotermi dapat optimal
3. Beri selimut hangat
diatasi dengan kriteria :
4. Kolaborasi pemberian
DS : antishivering
- Pasien mengatakan
sudah tidak menggigil
DO :
- Pasien tidak tampak
menggigil
- Akral pasien hangat
- TTV dalam batas normal

G. Implementasi
No Hari/tanggal Masalah kesehatan Tindakan
anestesi
Jam Pelaksanaan
PRE ANESTESI
1 Senin 12 April Nyeri 10.15 1. Mengukur TTV
2021 10`20 2. Mengukur skala nyeri
10.25 3. Mengajarkan teknik
distraksi dan relakasi
10.30 4. Memberikan ketorolac 30mg
(Iv)

2 Senin 12 April Ansietas 10.15 1. Mengukur TTV


2021 10`20 2. Mengajarkan teknik ditraksi
10.25 dan relaksasi
3. Memberikan edukasi tentang
prosedur yang akan dijalani
10.30 4. Membverikan midazolam
2,5 mg (iv)
INTRA ANESTESI
Senin 12 PK Disfungsi 10.30 1. Memeriksa kelengkapan dan
1 April 2021 Respirasi kesiapan alat dan mesin
anestesi
10.50 2. Mengobservasi TTV
10.55 3. Memantau tanda-tanda
sianosis
11.00 4. Memasang ventilator
mekanik

POST ANESTESI
1 Senin 12 Hipotermi 10.10 1. Mengukur TTV
April 2021 10.15 2. Mengatur suhu ruangan
yang optimal
10.17 3. Memberikan selimut hangat
10.20 4. Memberikan pethidine 25
mg (iv)

H. Evaluasi
No Hari/tanggal Problem Catatan perkembangan
1 Senin, 12 Nyeri akut S : pasien mengatakan nyeri berkurang
April 2021 O:
- Pasien tampak rileks
Pkl. 10.15 - Skor VAS 3
- TD : 130/90 mmHg, N:78 x/m, RR :
16 x/m
A : masalah kesehatan anestesi nyeri akut
teratasi
P : intervensi dihentikan
2 Senin, 12 Ansietas S : pasien sudah mengerti prosedur yang
April 2021 akan dijalani dan siap menjalani
O:
Pkl. 10.25 - Pasien tampak rileks
- TD :130/90mmhg, HR:78x/m,
RR:16 x/m
- Tidak ada tanda sianosis
A : masalah kesehatan anestesi ansietas
teratasi
P : intervensi dihentikan

3 Senin, 12 PK Disfungsi S : pasien tidak sadar


April 2021 Respirasi O:
- TD:140/90 mmHg,HR: 72 x/m,
Pkl. 10.50 SPO2 :99%, RR :16 x/m
A : masalah kesehatan anestesi disfungsi
respirasi teratasi
P : Intervensi dipertahankan
4 Senin, 12 Hipotermi S : pasien mengatakan sudah tidak
April 2021 menggigil
O:
Pkl. 10.20 - Pasien tampak tidak menggigil
- SB:36,3C
- Akral pasien teraba hangat
A : masalah kesehatan anestesi hipotermi
teratasi
P : pertahankan intervensi 2 dan 3

DAFTAR PUSTAKA
Brokker, 2011 Medical Surgical Nursing Clinical Management for Positive Outcomes.2004

Brunner and Suddarth , 2010. Buku Ajar Bedah, Ed. 6, EGC, Jakarta.

Carwin, 2009. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.


Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Mansjoer, A. dkk . 2010 . Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 3. Edisi 4. Jakarta: Media
Aesculopius
North American Nursing Diagnosis Association. 2012. Nursing Diagnosis : Definition and
Classification 2011-2012. NANDA International. Philadelphia.

Smeltze. 2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah. EGC: Jakarta.

Suratun. 2012. Anatomi Muskuloskeletal, Program Studi Anatomi Fakultas Kedokteran


Universitas Airlangga / RSUD. dr. Soetomo

Watson. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 4. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai