Nama : Nugroho Kukuh Wibowo
NIM :1910221048
Tugas Resume Mata Kuliah Budaya Pandhalungan
Cerita Rakyat
Cerita rakyat adalah gambaran otentitas masyarakat yang mencerminkan
perilaku dan budaya masyarakat setempat. Cerita rakyat yang merupakan bagian dari
budaya Indonesia yang harus tetap dilestarikan, tentunya dengan penyesuaian budaya
terkini terutama dalam cara penyampaian agar bisa tetap diminati oleh anak-anak
Indonesia sebagai sarana pembelajaran budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. Cerita
rakyat merupakan tradisi lisan. Tradisi lisan mengungkapkan kejadian atau peristiwa
yang mengandung nilai moral, keagamaan, adat istiadat, fantasi, peribahasa, nyanyian
dan mantra. Berikut beberapa cerita rakyat Jawa Pandhalungan.
1. Sogol Pendekar Sumur Gemuling
Kisah Sogol Pendekar Sumur Gemuling diangkat dari cerita lokal Desa Sumberrejo,
Kecamatan Ambulu, Jember. Sogol Pendekar Sumur Gemuling adalah kisah tentang
pendekar sakti yang hanya bisa mati apabila ayam jago miliknya dibunuh. Ayam jago
Sogol dirawat dengan kasih sayang oleh Simbok Sogol. Ayam jago kesaktian Sogol
adalah perlambang betapa kasih sayang seorang ibu sangat menentukan kehebatan
seorang anak. Sogol sebagai pihak yang melawan Kompeni (penjajah) terlibat konflik
dengan Kyai Mukti dan murid-muridnya yang berpihak pada kompeni. Untuk
membunuh Sogol Kyai Mukti mengirim santet (teluh) Cakra Dahana. Ternyata Teluh
Kyai Mukti tidak mempan pada tubuh Sogol, bahkan berhasil dikembalikan. Dengan
mengikuti arah kembalinya teluh, sogol dapat menemukan bahwa pengirim teluh adalah
Kyai Mukti. Terjadilah perkelahian yang menyebabkan terbunuhnya Kyai Mukti. Kisah
Sogol juga diwarnai dengan pengorbanan seorang kekasih dalam mendukung
perjuangan melawan penjajah. Berkat kasih sayang dan restu Simboknya Sogol dapat
selamat dari maut, dan akhirnya berhasil menumpas penjajah di wilayahnya.
2. Pohon Sempu
Desa Sempu menurut cerita rakyat berasal dari nama sebuah pohon yang dulu
banyak terdapat di hutan dekat gunung raung, dimana di hutan tersebut banyak
ditumbuhi berbagai macam pohon besar maupun kecil. salah satu spesies tumbuhan
yang banyak tumbuh dihutan dekat Gunung Raung ini adalah pohon yang terkenal
dengan nama Pohon Sempu, dari nama pohon inilah yang kemudian menjadi cikal bakal
nama Desa Sempu. Orang-orang yang berada dekat hutan tersebut tidak membuka lahan
dan area baru untuk ditempati sebagai tempat tinggal, karena takut pada mistik dan
tahayul dari pengaruh pohon sempu tersebut. Pada saat itu masyarakat pendatang
maupun masyarakat sekitar hutan dekat Gunung Raung ini berusaha mencari lahan yang
akan digunakan sebagai tempat tinggal yang posisinya tidak di sekitar hutan yang
ditumbuhi pohon sempu tersebut. Akhirnya masyarakat pendatang berhasil menemukan
lahan untuk tempat tinggal dan tempat bercocok tanam yang masih berada dikawasan
hutan tersebut, kemudian lahan tersebut dibabat oleh masyarakat untuk tempat tinggal
dan lahan bercocok tanam atau yang sering dikenal dengan nama " babat alas ". Seiring
dengan bertambahnya waktu lama kelamaan masyarakat yang tinggal di daerah hutan
Gunung Raung tersebut bertambah banyak, dan sebagian besar dari mereka juga
mendirikan pemukiman ditempat yang agak jauh dari kaki Gunung Raung, dan
komunitas masyarakat ini kemudian menjadi sebuah desa yang dinamakan desa Sempu.
Nama Sempu sendiri diambil dari nama pohon besar yang banyak terdapat di Hutan
Gunung Raung yang terkenal mempunyai aura mistis itu, dimana pohon sempu ini juga
banyak terdapat di sepanjang jalan Desa Sempu yang baru dibentuk.
3. Jaka Budug Dan Putri Kemuning
Ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Ringin Anom Rajanya bernama Prabu
Aryo Seto. Prabu Aryo Seto mempunyai putri bernama Putri Kemuning. Prabu Aryo
Seto memerintah dengan bijaksana dan adil. Maka Kerajaan Ringin Anom terkenal
tenteram, makmur dan tidak pernah terjadi kekacauan. Namun Prabu Aryo Seto sangat
sedih ketika putrinya Putri Kemuning terserang penyakit langka yaitu keringat berbau
tidak sedap. Sang Prabu berusaha sekuat tenaga mencari obat, mencari tabib agar sakit
Putri Kemuning dapat tersembuhkan. Upaya dilakukan hingga diadakan sayembara,
datanglah seorang pemuda buruk rupa yang menderita budug. Setelah melihat keadaan
Putri Kemuning, Jaka Budug mohon diri untuk melanjutkan tugas mengambil daun
Sirna Ganda. Jaka Budug kemudian menceritakan pengalamannya sewaktu melawan
ular naga sakti. Mendengar cerita tersebut, Prabu Aryo Seto merasa senang sekali. Putri
Kemuning makan daun Sirna Ganda, setelah memakan daun tersebut keajaiban pun
terjadi. Putri Kemuning menjadi sehat kembali. Kini bau keringat Putri Kemuning
kembali harum. Sesuai janji Prabu Aryo Seto, maka Jaka Budug dinikahkan dengan
Putri Kemuning. Jaka Budug dan Putri Kemuning hidup bahagia sebagai pewaris tahta.
4. Babat Tanah Bangsalsari
Sekilas Tentang Bangsalsari, di suatu masa tepatnya pada masa sebelum Indonesia
merdeka ada sebuah kampung yang terletak di antara sebelah utara ada laut Jawa,
sebelah barat desa Ngemboh, sebelah selatan desa Cangaan, dan sebelah timur dusun
Mulyosari desa Banyu urip. Di situlah terdapat sebuah tempat yang asri dan nyaman
untuk istirahat, karena di tempat tersebut terdapat banyak pohon kelapa yang sangat
indah disepanjang bibir pantai utara pulau Jawa, selain pemandangan pohon kelapa juga
terdapat pasir putih yang membentang sangat panjang. Tak lama kemudian panorama
tersebut berangsur menghilang, sebagian karena terserang hama kuwangwung, dan
juga penambangan pasir oleh warga 6 setempat secara besar-besaran
yang dipicu oleh keadaan ekonomi yang sangat buruk pada waktu itu. Akhirnya warga
terpancing untuk menjualnya (pasir) kepada proyek-proyek yang ingin membelinya.
Sebelum suasana yang telah penulis gambarkan di atas, mula-mula wilayah tersebut
merupakan hutan belantara atau rumbuk (Jawa). Setelah itu ada seorang datang dari jauh
tepatnya dari arah timur wilayah tersebut yaitu orang dari Pangkah namanya Mbah
Ngatibin dan dua orang putranya yang bernama Tawar dan Sarwo. Setelah sampai di
tempat yang penulis gambarkan tadi, Si Mbah dan kedua anaknya tersebut besik
(membersihkan rumbuk/atau hutan tadi) dengan alat ala kadarnya seperti arit, bendo,
dan lain-lain, kemudian mulailah besik yang memakan waktu berbulan-bulan hingga
resik (bersih). Pada waktu itu belum ada satupun orang yang bertempat tinggal di situ
baru Si Mbah Ngatibin dan kedua orang putranya tersebut. Si Mbah dalam
melaksanakan tugasnya bersih-bersih (babat hutan) selalu menceritakan sesuatu
terhadap kedua putranya, di antaranya menceritakan tentang “di tempat ini (dengan
menunjukkan ke arah tempat yang agak tinggi) ada sebuah masjid yang datang dengan
sendirinya itu namanya Masjid Tiban, yang merupakan tempat suci untuk melaksanakan
ibadah shalat (sembahyang) bagi orang Islam, dan juga sebagai tempat pertemuan para
wali dan raja jawa dalam bermusyawarah (dibuktikan dengan adanya makam di
belakang masjid tersebut). Anak-anakku perlu kalian ketahui bahwa tempat ini
merupakan tempat yang perlu untuk dijaga dan dipelihara kesuciannya. (kata Si Mbah
kepada kedua putranya) Namanya anak-anak masih kecil ya … senang apa yang
diceritakan oleh Si Mbah. Si Mbah meneruskan ceritanya, di dalam masjid tersebut
sering ada kejadian, di antaranya; ada orang tidur di dalam masjid tersebut paginya
meninggal dunia sampai tiga kali kejadian dihisap oleh seekor hewan yaitu “TINGGI
RAKSASA” akhirnya si anak tadi bertambah serius mendengarkan cerita Si Mbah.
Masih dalam cerita Si Mbah, sewaktu ketika ada orang yang berani (menirakati,
ngelei bahasa jawanya), orang tersebut naik ke loteng masjid akhirnya orang tadi tahu
bahwa di masjid tersebut ada seekor hewan Tinggi 7 namanya, akhirnya keluarlah
Tinggi Raksasa itu, lalu orang itu langsung mengincar dan menancapkannya tombak ke
arah Tinggi Raksasa tersebut akhirnya terjadilah pertumpahan darah di dalam masjid
tersebut sehingga seluruh lantai masjid dipenuhi oleh darah. Dengan kejadian tersebut
akhirnya Masjid Tiban ini kotor dan najis, akhirnya menghilang entah ke mana tidak ada
satu orang pun yang tahu perginya masjid tersebut. Konon kabarnya masjid tersebut
telah pindah ke desa Gumuno (sekarang Desa Gumeno, Kecamatan Manyar). Kok bisa
tahu bahwa masjid tersebut adalah Masjid Tiban dari kawasan Si Mbah tadi? Diketahui
bahwa ada salah satu peralatan yaitu alat ikat atau tali yang berupa Lontar/baba’an (daun
siwalan/ental) yang harus didapatkan dari daerah asal, konon kalau tidak dapat ikat
lontar dari daerah Si Mbah tadi, tidak bisa rekat alias pudar.
Jadi Si Mbah berkesimpulan bahwa masjid tersebut adalah masjid yang berasal
dari Bangsal sini, mengapa Si Mbah menyebut Bangsal, karena di Bangsal ini adalah
tempat pertemuannya para wali dan raja ketika bermusyawarah. Akhirnya Si Mbah
Ngatibin memberi nama kampung ini dengan nama Bangsalsari, artinya Bang (bebaya,
marabahaya), sal (kesingsal bahasa jawanya, terhindar), sari (bunga, penerus
perjuangan) dengan harapan dan tujuan besok pada suatu zaman Bangsalsari ini terhidar
dari marabahaya dan terlahir sosok pemimpin dan penerus perjuangan demi tegaknya
agama Allah.
5. Legenda Joko Samudra dan Indahnya Watu Ulo
Watu Ulo, dalam bahasa Jawa berarti batu ular. Syahdan, di tempat itu dulu tinggal
pasangan suami istri yang bernama Aki dan Nini Sambi. Kedua pasangan suami istri ini
memiliki seorang anak bernama Joko Samudera. Untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka, pasangan suami istri yang harmonis ini mencari kayu bakar di bukit-bukit
sekitar pantai. Sedangkan, anak mereka, Joko Samudera mencari ikan di laut. Suatu
ketika, Aki dan Nini Sambi yang sedang mencari kayu bakar di hutan, dikejutkan oleh
suara tangis bayi. Mereka mencari sumber suara tersebut dan menemukan seorang bayi
lelaki yang montok dan tampan. Melihatnya, Nini Sambi langsung jatuh hati. Dia
memohon pada sang suami, agar si anak bisa mereka rawat. Melihat sang istri begitu
ingin mengasuh bayi tersebut, Aki Sambi mengijinkan. Dan mereka memberi nama bayi
tersebut Marsudo. Waktu berjalan membuat kedua bocah lelaki ini tumbuh dewasa.
Mereka selalu bergantian mencari ikan di laut untuk kebutuhan hidup keluarga. Di suatu
hari yang cerah, Marsudo yang sedang memancing, tersentak karena pancingnya
bergoyang. Diangkatnya, pancing itu dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seekor
ikan yang besar nyangkut di mata pancingnya. Lebih terkejut lagi, ikan itu bisa bicara.
Dia ingin Marsudo melepaskan dirinya dan sebagai gantinya, setiap keinginan Marsudo
akan dikabulkan. Kasihan dan merasa tidak tega, Marsudo melepaskan ikan yang
ternyata bernama Raja Mina itu. Dengan penuh rasa terima kasih, Raja Mina berenang
dengan bebas. Perbuatan Marsudo yang melepaskan ikan sangat besar ini ternyata
membuat Aki Sambi marah, hingga dia membuat berantakan nasi yang akan
dimakannya. Nantinya, nasi tersebut akan berubah menjadi pasir putih di Pantai Pasir
Putih Jember. Pemandangan Watu Ulo yang indah, dipenuhi kapal nelayan. Sementara
itu, untuk menghilangkan kejengkelan sang ayah, Joko Samudera memancing ikan di
laut menggantikan adiknya. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.
Bukannya mendapat ikan, dia malah mendapat seekor ular besar. Ular ini mengamuk
karena kait pancing Joko Samudera melukai tubuhnya. Tak mau menyerah, Joko
Samudera melakukan perlawanan. Duel sengit tak dapat dihindarkan. Melihat sang
kakak pontang-panting melawan ular raksasa, Marsudo memanggil Raja Mina. Dia
meminta janji Raja Mina ditepati. Yakni, semua keinginanya dikabulkan. Dia ingin
kakaknya menang melawan sang ular raksasa. Mendengar permintaan Marsudo, Raja
Mino memberinya sebatang cemeti.
"Pukul dua kali, maka tubuhnya akan terbelah jadi tiga. Pisahkan ketiga bagian
tubuhnya ke tiga tempat, hingga dia tidak bisa bersatu. Kalau bersatu dia akan hidup
kembali. Begitu kata Raja Mino pada Marsudo," terang Kalsum, seorang penduduk
Watu Ulo, yang sudah sejak tahun 1989 bermukim di kawasan itu. Begitulah legenda
yang membuat pantai tersebut bernama Watu Ulo. Di pinggir pantai, memang ada
gugusan batu, yang jika diamati mirip dengan anatomi tubuh seekor ular. Panjang dan
berlekuk-lekuk. Model batuannya pun seperti sisik. Bahkan, masih menurut Kalsum,
pernah ada seseorang yang mencungkil batu itu. Tapi, akhirnya dikembalikan, karena
batu itu mengeluarkan darah
6