MODUL TRAINING of Leadership
Berawal dati temuan data mengenai sikap para pemimpin (mandor, kepala shift,
dan kepala regu) dilapangan, kami menemukan bahwa para mandor, Kepala shift, dan
kepala regu masih kebingungan dalam menyikapi suatu permsalahan dan ragu-ragu
dalam mendelegasikan tugas atau info dari atasan ke bawahan. Mereka lebih memilih
untuk mengerjakan sendiri. Sehingga berdampak pada munculnya resiko kelupaan
akan tugasnya, proses pekerjaan operasional tidak memnuhi standar, dan anak buah
tidak terperhatikan. Maka dari itu, CHRM membuat sebuah training bagi Leader
masing-masing unit kerja. Dengan tujuan utama adalah selesai dari mengikuti training
ini mereka dapat mengaplikasikan gaya kepemimpinan sesuai kepribadian mereka dan
memanajemen resiko dengan tepat
Agar dapat memenuhi tujuan yang telah ditetapkan ada 3 (tiga) materi yang akan
diajarkan dalam training kali ini, yaitu :
1. Prakon (Pra-kondisi) : Siapa saya?
2. Kepemimpinan :
a. Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan
b. Peran Pemimpin
c. Teknik dalam memimpin
d. Gaya kepemimpinan
3. Manajemen Resiko
a. Pengertian tentang manajemen Resiko
b. Tahap dalam manajemen Resiko
Manfaat yang didapatkan setelah mengikuti training ini sebagai berikut :
1. Bagi peserta :
a) Peserta mampu untuk mengenali gaya kepemimpinannya dan cara untuk
memimpin sesuai dengan gaya kepemimpinannya sendiri.
b) Peserta mampu dapat mengetahui metode yang tepat untuk mengurangi
kerugian yang terjadi akibat adanya ketidakpastian yang terjadi.
2. Bagi Perusahaan :
a) Bagi perusahaan dapat memperoleh karyawan yang dapat meningkatkan
skill dan kompetensi dalam hal kepemimpinan.
b) Bagi perusahaan dapat mengurangi keragu-raguan, dan dapat
memingkatkan kemampuan untuk menganalisis dan menyimpulkan hal-
hal yang tidak dapat dihindari.
Berikut adalah rincian dari modul training yang akan dilaksanakan oleh pihak CHRM
kepada para mandor, kepala shift, dan kepala regu :
Modul 1 (Pra Kondisi)
Sesi : Siapa saya?
Tujuan : Mengkondisikan peserta agar siap secarafisik dan
pikiran untuk mengikuti pelatihan.
Design Pelatihan : Self assassment
Waktu yang dibutuhkan : 30 menit
Peralatan :
1. Bolpoint @1 per peserta
2. Kertas Kososng HVS
3. Pertanyaan Reflektif
a) Saya adalah Karyawan PT. United Waru Biscuit Manufactory yang menjabat
sebagai?
b) Saya memandang diri saya adalah seorang yang seperti?
c) Menurut teman saya, saya adalah orang yang seperti?
d) Karena pemikiran yang seperti itu akbibatnya saya?
e) Maka dari itu, saya harus?
4. Deskripsi Pelatihan:
a) Dibagikan satu buah bolpoint dan satu kertas HVS kosong untuk masing-
masing peserta.
b) Pertanyaan akan diberikan satu per satu dan memberikan waktu sekitar 2
menit untuk para peserta menjawab. Seperti itu diulang hingga pertanyaan
selesai.
c) Kertas yang telah diisi diberikan ke fasilitator untuk difoto sebagai bukti
bahwa mereka menulis jawabannya dan sebagai petunjuk perilaku awal
mereka.
Modul 2 : Kepemimpinan
Sesi : Kemampuan kepemimpinan
Tujuan : Agar peserta memahami pengertian kepemimpinan
dan mempraktekkan gaya kepemimpinan sesuai
dengan dirinya.
Design Pelatihan : Ceramah dan Role play
Waktu yang dibutuhkan : 60 Menit
Peralatan :
A. Sedotan
B. Materi
1. Pengertian dari Pemimpin dan kepemimpinan
a) Kartini Kartono (2011:181) Mengungkapkan bahwa pemimpin adalah
seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya
kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi
orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu
demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi
yang memiliki kecakapan dan kelebihan - khususnya kecakapan-kelebihan di
satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-
sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa
tujuan. (Kartini Kartono, ).
b) Siagian (2002:62) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi orang lain (para bawahannya) sedemikian
rupa sehingga orang lain itu mau melakukan kehendak pemimpin meskipun
secara pribadi hal itu mungkin tidak disenanginya.
2. Peran seorang pemimpin
Siagian (2002:66) mengemukakan bahwa peranan pemimpin atau kepemimpinan
dalam organisasi atau perusahaan ada tiga bentuk yaitu
a) Interpersonal dalam organisasi adalah bahwa seorang pemimpin dalam
perusahaan atau organisasi merupakan simbol akan keberadaan organisasi,
seorang pemimpin bertanggung jawab untuk memotivasi dan memberikan
arahan kepada bawahan, dan seorang pemimpin mempunyai peran sebagai
penghubung
b) Informasional mengandung arti bahwa seorang pemimpin dalam organisasi
mempunyai peran sebagai pemberi, penerima dan penganalisa informasi.
c) Pengambilan keputusan mempunyai arti bahwa pemimpin mempunyai peran
sebagai penentu kebijakan yang akan diambil berupa strategi-strategi bisnis
yang mampu untuk mengembangkan inovasi, mengambil peluang atau
kesempatan dan bernegosiasi dan menjalankan usaha dengan konsisten.
3. Teknik memimpin
Menurut Phil Harkins dalam artikel tentang 10 leadership technique for building
high performance team (2014:3) dijelaskan beberapa teknik dalam memimpin antara
lain :
a. Mengetahui tujuan yang ingin dicapai.
Team yang dibentuk pasti membutuhkan tujuan yang jelas. Ini dimaksudkan
agar jalannya sebuah team dapat lebih terarah. Karena apabila seorang
pemimpin tidak tahu tujuan akhir dari team ini dan cara untuk mencapainya,
kemungkinan besar team akan tersesat. Maka dari itu pemimpin tidak bisa
hanya diam dan berada di tempatnya bekerja, melainkan harus turun
kelapangan membuat baru/membuat ulang tujuan team, agar mereka tidak
kehilangkan semangat bekerja.
b. Yakin kepada team
Sebagai seorang pemimpin pastilah sama seperti manusia kebanyakan yang
memiliki kelebihan dan kekurangan. Memiliki kekurangan bukan sesuatu
yang memalukan, apalagi mengenai memimpin sebuah team. Team juga pasti
menyadari bahwa pemimpin pasti tidak sempurna, maka dari itu perlunya
percaya terhadap team perlu agar kita bisa lebih fokus untuk mencapai tujuan
team.
c. Evaluasi
Dalam perjalanan mencapai tujuan, seringkali menemui team yang meminta
nasihat, terkendala untuk menyelesaikan tugasnya atau melakukan kesalahan.
Komunikasi sangat diperlukan untuk mebantu team. Cara sederhana yang
dipakai adalah 70-20-10. 70% mendengarkan, 20% menanyakan jalan keluar
menurut mereka, 10% melakukan membuat kesimpulan dan mempersiapkan
tindakan.
d. Komunikasi
Seorang pemimpin tidak takut membicarakan hal-hal sulit kepada team. Ada
waktunya pemimpin menceritakan permasalahan kepada team. Bahkan tidak
membiarkan masalah itu berlarut-larut dan harus segera terungkap cara
menyelesaikannya.
e. Komitmen
Seorang pemimpin pasti bisa membangun dan mempertahankan komitmen
yang telah dibuat, dan menemukan cara bagaimana team tersebut dapat tetap
menjalankan dan menjaga pandangan team terhadap komitmen dan tujuan
yang jelas.
f. Mendegarkan
Menempatkan pandangan mereka itu sama dalam hal mengungkapkan atau
mengekspresikan sesuatu. Para pemimpin seharusnya dapat mendorong itu
agar anggota dapat berperan aktif dalam mengembangkan sebuah team.
g. Mengajak team berkembang
Seorang pemimpin yang memiliki team dengan kinerja yang tinggi adalah
pemimpin yang mau mendegarkan dan menghargai ekspresi ide, kreatifitas
dan inovasi dari anggota. Pemimpin yang dapat menumbuhkan hal budaya
tersebut dapat menciptakan team yang berprestasi. Karena sebagai seorang
pemimpin tahu bahwa untuk menciptakan sebuah trobosan dan inovasi yang
tinggi itu menuntut anggota team untuk tidak takut untuk mengekpresikan ide
dan melakukan eksperimen. Tidak lupa untuk berterimakasih kepada mereka
yang berani mengambil resiko dan memastikan mereaka menjadi aset yang
berharga.
h. Dikelilingi para juara
pemimpin mereka tidak mentolerir anggota yang tidak berprestasi. Pemimpin
yang berpengalaman sering memelihara anggota dan sangat disiplin kepada
orang yang disebut sebagai "juara yang bergairah." Seorang pemimpin hebat
itu dikelilingi dengan beberapa juara yang bersemangat, yang telah
membangun pemahaman dan hubungan kerja sama yang erat satu sama lain,
dan siapa yang benar-benar fokus dan berkomitmen pada tujuan tim.
Pemimpin tidak segan mempertahankan anggota yang mampu menyelesaikan
pekerjaan dan tidak takut untuk menyingkirkan orang yang gagal membantu
mereka.
i. Bercanda, namun ada batasnya
Pemimpin seharusnya menghindari bercanda yang menyinggung rasa tidak
puas dengan organisasi yang dipimpin. Pemimpin tahu bahwa humor yang
sembrono bisa menjadi dapat disalahartikan dan menjadi boomerang terhadap
organisasi yang dipimpin.
j. Percaya diri dan bisa diandalkan
Pemimpin adalah mereka yang mempersiapkan segala sesuatu dengan benar
dan tertata. Apabila mengahadapi sebuah masalah mereka mau menghadapi
dan tidak mundur ataupun meremehkannya. Mereka adalah orang yang tahu
apakah cara yang dilakukan berhasil atau tidak, hingga pada akhirnya mereka
dijuluki sebagai orang penembak jitu yang bermain keras berjuang mati-
matian dan pantang menyerah. Pada akhirnya, sebagai anggota team mereka
menyadari bahwa pemimpin mereka memberikan mereka kepercayaan yang
tinggi dan mereka tahu seburuk apapun hal yang terjadi seorang pemimpin
tidak akan pernah meninggalkan anggota tim, melemparkan kesalahan kepada
tim, melainkan mencoba untuk melindungi tim bahkan jika itu berarti harus
menghadapi hal yang terburuk sekalipun.
4. Gaya Kepemimpinan
Dikemukakan oleh Douglas Mc Gregor dalam bukunya The Human Side
Enterprise (1960), dia menyebutkan bahwa perilaku seseorang dalam suatu organisasi
dapat dikelompokkan dalam dua kutub utama, yaitu sebagai Teori X dan Teori Y.
Teori X mengasumsikan bahwa bawahan itu tidak menyukai pekarjaan, kurang
ambisi, tidak mempunyai tanggung jawab, cenderung menolak perubahan, dan lebih
suka dipimpin daripada memimpin. Sebaliknya Teori Y mengasumsikan bahwa,
bawahan itu senang bekerja, bisa menerima tanggung jawab, mampu mandiri, mampu
mengawasi diri, mampu berimajinasi, dan kreatif. Dari teori ini, gaya kepemimpinan
dibedakan menjadi empat macam yaitu:
1) Gaya Kepemimpinan Diktator
Gaya kepemimpinan yang dilakukan dengan menimbulkan ketakutan serta
menggunakan ancaman dan hukuman merupakan bentuk dari pelaksanaan Teori X.
2) Gaya Kepemimpinan Autokratis
Pada dasarnya kepemimpinan ini hampir sama dengan gaya kepemimpinan diktator
namun bobotnya agak kurang. Segala keputusan berada di tangan pemimpin, pendapat
dari bawahan tidak pernah dibenarkan. Gaya ini juga merupakan pelaksanaan dari
Teori X.
3) Gaya Kepemimpinan Demokratis
Ditemukan adanya peran serta dari bawahan dalam pengambilan keputusan yang
dilakukan dengan musyawarah. Gaya ini pada dasarnya sesuai dengan Teori Y.
4) Gaya Kepemimpinan Santai
Peranan dari pemimpin hampir tidak terlihat karena segala keputusan diserahkan pada
bawahannya (Kreitner, R. and Kinicki dalam , 2008: 64)
Deskripsi kegiatan :
Ceramah
1. Menjelaskan mengenai materi kepemimpinan
2. Setelah selesai fasilitaor menjelaskan dibuka kesempatan untuk peserta bertanya.
Role Play
1. Peserta akan dibentuk menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok harus memilih
ketuanya.
2. Ketua tiap kelompok dipanggil untuk diberi intruksi memerankan gaya
kepemimpinan yang telah ditentukan oleh fasilitator. Dan mereka akan diberi sebuah
tugas.
3. Tugas yang diberikan adalah mereka diminta untuk membuat bangunan sekokoh
mungkin dengan bermodalkan sebuah sedotan. Ketua yang ditunjuk harus
memerankan gaya kepemimpinan sesuai perintah fasilitator.
Modul 2 : Manajemen Resiko
Sesi : Manajemen Resiko
Tujuan : Agar peserta memahami mengenai Manajemen Resiko
dan mampu mengaplikasikan manajemen resiko
Design Pelatihan : Ceramah dan Studi kasus
Waktu yang dibutuhkan: 60 Menit
Peralatan :
1. Materi :
A. Pengertian Manajemen Resiko
Suatu proses mengidentifikasi, mengukur risiko serta membentuk strategi
untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia. Manajemen risiko
mencakup kegiatan merencanakan, mengorganisir, menyusun, memimpin dan
mengawasi/mengevaluasi program penanggulangan risiko.
B. Tahapan manajemen resiko
Identifikasi risiko
Proses ini meliputi identifikasi resiko yang mungkin terjadi dalam suatu
aktivitas usaha. Identifikasi resiko secara akurat dan komplet sangatlah vital
dalam manajemen resiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi resiko
adalah mendaftar resiko yang mungkin terjadi sebanyak mungkin. Teknik
teknik yang dapat digunakan dalam identifikasi resiko antara lain
Brainstorming, Survei, Wawancara, Informasi historis, Kelompok kerja dll
Analisis risiko
Setelah melakukan identifikasi resiko tahap berikutnya adalah pengukuran
resiko dgn cara melihat potensial terjadinya seberapa besar kemungkinan
kerusakan & terjdnya risiko. Penentuan kemungkinan terjadinya suatu
masalah sangatlah subyektif & berdasarkan nalar/ pengalaman. Beberapa
risiko memang mudah untuk diukur namun sangatlah sulit untuk memastikan
kemungkinan suatu kejadian yang sama terjadi. Sehingga pada tahap ini
sangatlah penting untuk menentukan dugaan yang terbaik agar nantinya kita
dapat memprioritaskan dengan baik dalam perencanaan manajemen resiko
Pengelolaan risiko
Beberapa jenis cara mengelola resiko
A. Risk avoidance
Yaitu memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas yang mengandung resiko
sama sekali. Dalam memutuskan untuk melakukannya maka harus
dipertimbangkan potensial keuntungan dan potensial kerugian yang
dihasilkan oleh suatu aktivitas
B. Risk reduction
Disebut juga risk mitigation yaitu mrpk metode yg mengurangi kemungkinan
terjadinya suatu risiko/pun mengurangi dampak kerusakan yang dihasilkan
oleh suatu risiko
C. Risk transfer
Yaitu memindahkan resiko kepada pihak lain, umumnya melalui suatu
kontrak asuransi maupun hedging
D. Risk deferral
Dampak suatu resiko tidak selalu konstan. Risk deferral meliputi menunda
aspek suatu proyek hingga saat dimana probabilitas terjadinya resiko tersebut
kecil
E. Risk retention
Walaupun risiko tertentu dapat dihilangkan dengan cara mengurangi maupun
mentransfernya namun beberapa resiko harus tetap diterima sebagai bagian
penting dari aktivitas
Implementasi manajemen risiko dan Monitoring
Setelah menemukan cara pengelolaan resiko tahapan selanjutnya adalah
untuk mengaplikasikan ke seluruh anggota team dan mengawasi terus
jalannya manajemen resiko yang ada.
Deskripsi kegiatan :
Ceramah
1. Fasilitator menjelaskan mengenai materi Manajemen Resiko
2. Sesi tanya jawab
Studi kasus
1. Mepraktekkan indentifikasi resiko dan pengelolaan resiko sesuai dengan
permasalahan umum yang relevan atau real terjadi di lapangan.
Daftar Pustaka
Kartono, Kartini., 2011 Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,
Kreitner, R. and Kinicki, A. (2004). Organizational Behavior. Fifth Edition. New
York : McGrow Hill
Siagian Sondang P., 2002. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja, Cetakan Pertama,
PT. Rineka Cipta, Jakarta.