Chapter 4
An Auditor’s Services
4.2 INTERNATIONAL FRAMEWORK FOR AUDITOR SERVICES
Auditor harus mengikuti standar perikatan yang ditetapkan oleh International Auditing and
Assurance Standards Board (IAASB).
Pernyataan Teknis IAASB
Code of Ethic dan ISQC
Semua standar jasa auditor berdasarkan Code of Ethics for Professional Accountants (the
IESBA Code) yang dikeluarkan oleh International Ethics Standard Boards of Accountants
(IESBA) dan International Standards on Quality Control 1 (ISQC # 1).
Assurance Engagements and Related Services
Cakupan jasa auditor yang dijelaskan IAASB
Assurance engagements Non-assurance engagements
Audit dan review
informasi keuangan
Other Agreed-upon Other
historis
assurance procedures engagements
Laporan Laporan engagements
Keuangan Keuangan
Lain
ISA 200-2999 ISAE 3000-3999 ISRS 4400
Dua Framework Jasa Audit – ‘Assurance’ dan ‘Related Services’
Beberapa standar perikatan didasarkan pada ‘International Framework for Assurance
Engagements’ (assurance engagements) dan yang lainnya berasal dari ‘Related Services
Framework’ (related services engagements). Tiga kumpulan standar (ISA, ISRE, dan
ISAE) berdasarkan Assurance engagement framework dan satu kumpulan standar (ISRS)
berdasarkan Related services framework. ISA, ISRE, ISAE, dan ISRS sebagai satu
kesatuan disebut IAASB’s Engagement Standards.
IAASB’s Engagement Standards
IAASB Engagement Standards meliputi:
International Standards on Auditing (ISA) yang diterapkan dalam audit informasi
keuangan historis.
International Standards on Review Engagements (ISRE) yang diterapkan dalam
review informasi keuangan historis.
International Standards on Assurance Engagements (ISAE) yang diterapkan
dalam assurance engagement selain audit atau review informasi keuangan historis.
International Standards on Related Services (ISRS) yang diterapkan untuk
compilation engagements, engagement untuk menerapkan prosedur yang disepakati
atas informasi, dan related services engagements lainnya sebagaimana ditentukan
oleh IAASB.
Assurance Engagements untuk Audit dan Review Informasi Keuangan Historis
(ISA dan ISRE)
ISA 200 ‘Overall Objectives of the Independent Auditor and the Conduct of an Audit in
Accordance Witsh ISA' menjelaskan konsep utama yang dapat dipakai untuk audit,
review atau framework tujuan khusus. Financial statement audit standards diuraikan
dalam ISA 200-799. Framework tujuan khusus dan pemeriksaan informasi keuangan
historis lainnya terdapat dalam ISA 800-899. Standar review adalah ISRE 2000-2699.
Assurance Engagement Selain Audit atau Review Informasi Keuangan Historis
(ISAE)
International Standards on Assurance Engagements (ISAE) 3000 menjelaskan konsep
yang dapat dipakai untuk assurance service di mana subject matter (pokok persoalannya)
tidak berkaitan dengan informasi keuangan historis.
Standar ISAE dibagi menjadi dua bagian:
1. ISAE 3000-3999 topik yang berlaku untuk semua assurance engagements.
2. ISAE 3400-3699 standar dengan subjek spesifik, contohnya standar yang berkaitan
dengan pemeriksaan informasi keuangan prospektif.
Pokok persoalan ISAE 3400-3699 saat ini mencakup pemeriksaan informasi keuangan
prospektif (ISAE 3400) dan laporan jaminan kontrol pada organisasi jasa (ISAE 3402).
Namun, di masa mendatang ISAE 3400-3699 mungkin akan mencakup informasi non-
keuangan
Perikatan Lainnya yang Dilakukan oleh Auditor
Tidak semua perikatan yang dilakukan auditor merupakan assurance engagement.
Perikatan lainnya yang dilakukan oleh auditor yang tidak memenuhi definisi dari
assurance engagement dan tidak tercakup oleh framework untuk assurance engagement
meliputi:
perikatan yang merupakan cakupan International Standards for Related Services
(ISRS).
perikatan untuk persiapan pembuatan SPT atau formulir pajak penghasilan di mana
tidak ada pernyataan jaminan.
consulting engagement seperti konsultasi pajak, atau perikatan di mana praktisi
terlibat untuk bersaksi sebagai saksi ahli dalam masalah akuntansi, audit, perpajakan
atau masalah-masalah lainnya, berdasarkan fakta yang ditetapkan
Related Services Framework (ISRS)
ISRS berdasarkan pada ‘Related Services Framework' – framework yang masih dalam
tahap pengembangan pada IAASB. Standar yg diatur dalam framework ini diterapkan
untuk dua jasa audit: perikatan untuk melakukan prosedur yang disepakati mengenai
informasi keuangan (ISRS 4400) dan compilation engagements (ISRS 4410). Baik
compilation engagement maupun prosedur yang disepakati tidak memberikan jaminan
apapun. Malah, pengguna laporan menilai sendiri prosedur dan laporan yg dilaporkan
auditor serta menarik kesimpulan mereka sendiri.
Pedoman dan Bantuan Praktis yang Disediakan oleh Practice Statement (IAPS,
IAEP, IRSPS)
Standar IAASB memuat prinsip dasar dan prosedur penting serta pedoman yang terkait
dalam bentuk keterangan dan bahan lainnya, termasuk appendix. International Auditing
Practice Notes (IAPN) 1000-1100, dikeluarkan untuk memberikan pedoman interpretatif
dan bantuan praktis bagi auditor dalam mengimplementasikan ISA untuk audit, review,
dan perikatan dengan tujuan khusus. Walaupun saat ini tidak ada catatan praktis untuk
assurance engagement atau related services, dalam tahap perencanaan International
Assurance Engagement Practice Notes (IAEPN) menyediakan pedoman interpretatif
untuk ISAE, dan International Related Services Practice Notes (IRSPN) memberikan
bantuan praktis bagi auditor untuk melaksanakan ISRS.
4.3 ELEMEN-ELEMEN ASSURANCE ENGAGEMENT
Assurance engagement berarti perikatan di mana praktisi menyampaikan kesimpulan
yang dirancang untuk meningkatkan tingkat keyakinan pengguna yang dimaksudkan tentang
hasil evaluasi atau pengukuran subject matter terhadap kriteria.
Hasil dari evaluasi atau pengukuran subject matter adalah ‘subject matter
information’. Subject matter dari assurance engagement adalah topik yang membuat
assurance engagement dilakukan. Subject matter dapat berupa laporan keuangan, informasi
statistika, indikator kinerja non-keuangan, kapasitas fasilitas, sistem dan proses (internal
control, IT System) atau behavior (corporate governance, kepatuhan terhadap peraturan,
praktik sumber daya manusia)
Defini Assurance Engagement
Menurut International Framework for Assurance Engagements, ada 2 jenis assurance
engagement: reasonable assurance engagement dan limited assurance engagement.
Tujuan reasonable assurance engagement adalah pengurangan risiko assurance
engagement ke tingkat yang dapat diterima berdasarkan keadaan engagement sebagai
dasar untuk bentuk penyampaian positif dari kesimpulan praktisi.
Tujuan dari limited assurance engagement adalah pengurangan risiko assurance
engagement ke tingkat yang dapat diterima dalam keadaan perikatan, di mana risiko
tersebut lebih besar dari risiko reasonable assurance engagement, sebagai dasar untk
bentuk penyampaian negatif kesimpulan praktisi
Lima Elemen Assurance Engagement
International Framework for Assurance Engagement menjelaskan lima elemen yang
semua assurance engagement tunjukkan:
1) hubungan tiga pihak meliputi praktisi, pihak yang bertanggung jawab (responsible
party), dan pengguna yang dimaksudkan (intended users);
2) subject matter yang sesuai;
3) kriteria yang sesuai;
4) bukti yang cukup dan sesuai;
5) assurance report tertulis dalam bentuk yang sesuai dengan reasonable assurance
engagement atau limited assurance engagement.
1) Hubungan Tiga Pihak - Praktisi, Pihak yang Bertanggung Jawab,
dan Pengguna
Assurance engagement selalu melibatkan 3 pihak: praktisi, pihak yang bertanggung
jawab, dan pengguna yang dimaksudkan.
Praktisi (auditor, akuntan, para ahli) mengumpulkan bukti untuk memberikan
kesimpulan apakah subject matter (misal laporan keuangan) sesuai, dalam semua
hal yang material, dengan kriteria yang diidentifikasi kepada pengguna.
Pihak yang bertanggung jawab (Responsible Party) adalah orang (umumnya
manajemen atau dewan direksi) yang bertanggung jawab atas subject matter.
Mereka adalah pihak yang mempekerjakan praktisi
Pengguna yang dimaksudkan adalah orang-orang yang ditujukan oleh praktisi
ketika menyiapkan assurance report.
Responsible party memilih kriteria (misal kode pajak), menentukan subject matter
(laporan keuangan), dan mempekerjakan praktisi (akuntan publik).
Praktisi menentukan apakah kriteria sesuai, mengumpulkan bukti tentang subject
matter information dan mengeluarkan assurance report. Contohnya, auditor
menentukan apakah digunakan kode pajak penghasilan yang sesuai, mengevaluasi
informasi pajak penghasilan yang disediakan perusahaan dengan mencari bukti bahwa
informasi sudah lengkap dan semua data transaksi benar. Dengan kata lain, pihak
yang bertanggung jawab menilai (measure), auditor menilai ulang (re-measures).
2) Subject Matter
Subject matter, dan subject matter information, dari assurance engagement bisa
berbentuk seperti:
Financial performance or condition (contohnya, posisi keuangan historis atau
prospektif, kinerja keuangan dan arus kas)
subject matter information bisa berupa pengakuan, pengukuran, penyajian dan
pengungkapan dalam laporan keuangan.
Non-Financial performance or condition (contohnya, kinerja sebuah perusahaan)
subject matter information bisa berupa indikator utama efisiensi dan
efektifitas.
Physical charateristic (contohnya, kapasitas fasilitas)
subject matter information bisa berupa dokumen spesifikasi.
Sistem dan proses (contohnya, sistem internal control atau IT perusahaan)
subject matter information bisa berupa laporan efektivitas.
Behaviour (contohnya, corporate governance, kepatuhan terhadap peraturan,
praktik sumber daya manusia)
subject matter information bisa berupa laporan kepatuhan atau laporan
efektivitas.
Subject matter harus dapat diidentifikasi dan dievaluasi atau dinilai secara konsisten
terhadap kriteria yang teridentifikasi dan sesuai (misalnya IFRS). Subject matter juga
harus mendukung evaluasi atau penilaian.
3) Suitable Criteria
Kriteria yang sesuai merupakan benchmark (standar, tujuan, atau kumpulan
peraturan) yang digunakan untuk mengevaluasi bukti atau mengukur subject matter
dari assurance engagement. Contohnya, dalam persiapan laporan keuangan, kriteria
yang sesuai bisa berupa IFRS, US GAAP, atau standar nasional. Intinya kalo gak ada
acuan takutnya bisa rancu / salah paham.
Karakteristik untuk Menilai Suitable Criteria
Seorang auditor tidak dapat mengevaluasi atau menilai subject matter berdasarkan
harapan, penilaian, dan pengalaman pribadinya. Karakteristik untuk menilai apakah
sebuah kriteria merupakan kriteria yang sesuai adalah:
Relevance
kriteria yang relevan menghasilkan kesimpulan yang memenuhi tujuan dari
engagement, dan membantu pengambilan keputusan oleh pengguna yang
dimaksudkan.
Completeness
kriteria termasuk lengkap ketika faktor-faktor relevan yang dapat mempengaruhi
kesimpulan tidak ada yang dihilangkan.
Reliability
kriteria yang dapat diandalkan menghasilkan evaluasi atau penilaian yang
konsisten ketika digunakan dalam keadaan yang mirip oleh praktisi yang
berkualifikasi sama.
Neutrality
kriteria yang netral menghasilkan kesimpulan yang bebas dari bias.
Understandability
kriteria yang dapat dimengerti adalah yang lengkap dan menyeluruh serta tidak
menyebabkan interpretasi yang berbeda.
Kriteria yang Ditetapkan atau Dikembangkan Secara Khusus
Kriteria yang ditetapkan adalah kriteria yang diwujudkan dalam undang-undang
atau peraturan, atau dikeluarkan oleh badan yang diakui yang mengikuti proses
yang semestinya. Contohnya dalah GAAP, IFRS, dan kode pajak nasional.
Kriteria yang dikembangkan secara khusus adalah kriteria yang diidentifikasi
untuk tujuan engagement dan konsisten dengan tujuan engagement. Contohnya
adalah kriteria yang secara umum dipahami oleh pengguna yang (misalnya kayak
absen)
4) Evidence
Praktisi mempertimbangkan bukti secara material, resiko assurance engagement, serta
kuantitas dan kualitas ketersediaan bukti ketika merencanakan dan melakukan
keterlibatan, ketika menentukan nature, waktu, dan luasnya prosedur pengumpulan
bukti.
Sufficiency, Appropriateness, Reliability, and Materiality of Evidence
Sufficiency merupakan ukuran kuantitas bukti.
Appropriateness merupakan ukuran kualitas bukti (kerelevanan dan
keandalannya). Kuantitas bukti yang dibutuhkan dipengaruhi oleh resiko subject
matter information materially misstated (semakin besar resiko, semakin banyak
juga bukti yang dibutuhkan) dan juga kualitas bukti (semakin tinggi kualitasnya,
semakin sedikit bukti yang diperlukan).
Reliability of evidence dipengaruhi oleh sumber dan sifatnya, dan tergantung pada
keadaan masing-masing ketika bukti diperoleh.
Materiality yaitu relevan ketika auditor menentukan nature, waktu, dan luasnya
prosedur pengumpulan bukti, dan ketika menilai apakah informasi pokok bebas
dari kesalahan. Materiality mempertimbangkan konteks faktor kuantitatif dan
kualitatif.
Kuantitas dan kualitas evidence yang tersedia dipengaruhi oleh:
Karakteristik subject matter. Contoh: bukti-bukti untuk subject matter
memungkinkan di masa depan kurang objektif daripada untuk subject matter
historis.
Keadaan perikatan selain karakteristik subject matter, ketika evidence yang
diharapkan ada tidak tersedia. Contoh: waktu pengangkatan praktisi, kebijakan
dokumen retensi entitas, atau pembatasan yang diberlakukan oleh pihak yang
bertanggung jawab.
5) Assurance Report
Ada 2 macam kesimpulan praktisi:
Dalam hal penegasan pihak yang bertanggung jawab, atau
Langsung dalam hal subject matter dan kriteria.
Reasonable and Limited Assurance Engagements
REASONABLE ASSURANCE ENGAGEMENT
Dalam reasonable assurance engagement, praktisi mengekspresikan kesimpulan
dalam bentuk positif. Contoh: ‘Menurut kami internal control efektif, dalam semua
respek material, berdasarkan pada kriteria XYZ.’ Bentuk ekspresi ini
menyampaikan ‘reasonable assurance’. Setelah dilakukan prosedur pengumpulan
bukti dan mengingat karakteristik pokok, auditor memperoleh cukup bukti yang
tepat untuk mengurangi assurance engagement risk ke tingkat yang rendah.
LIMITED ASSURANCE ENGAGEMENT
Pada limited assurance engagement, praktisi mengekspresikan kesimpulan dalam
bentuk negatif. Contoh: ‘Berdasarkan pekerjaan kita yang dideskripsikan dalam
laporan ini, tidak ada yang menjadi perhatian kita karena kami percaya bahwa
internal control tidak efektif, dalam semua respek material berdasarkan kriteria
XYZ.’Bentuk ekspresi ini menyampaikan tingkat ‘limited assurance’ yang
proporsional terhadap tingkat prosedur pengumpulan bukti praktisi yang diberikan
karakteristik pokok dan keadaan keterlibatan lain. Bentuk ekspresi ini
menyampaikan ‘limited assurance’ yang mengindikasikan auditor memperoleh
cukup bukti yang tepat untuk mengurangi resiko keterlibatan jaminan ke tingkat
yang higher.
COMPARISON OF REASONABLE AND LIMITED ASSURANCE ENGAGEMENT (ISAE
3000)
Type of engagement Evidence-gathering procedures The assurance report
Cukup bukti yang tepat Deskripsi keadaan keterlibatan,
Reasonable assurance
ditentukan sebagai bagian dari dan bentuk ekspresi kesimpulan
engagement
proses perikatan sistematis yang positif.
Cukup bukti yang tepat Deskripsi keadaan keterlibatanm
ditentukan sebagai bagian dan bentuk ekspresi kesimpulan
sistematis proses keterlibatan, yang negatif.
Limited assurance
tapi dimana prosedur yang
engagement
sengaja dibatasi relatif terhadap
reasonable assurance
engagement.
Expression of Other than Unqualified (Unmodified) Assurance Opinion
Praktisi tidak mengekspresikan kesimpulan yang tidak memenuhi syarat untuk kedua
tipe assurance engagement ketika ada keadaan material sebagai berikut.
1. Ada batasan pada lingkup kerja praktisi.
2. Dalam kasus dimana:
Ketika kesimpulan praktisi is worded in terms od the responsibhle party’s
assertion , dan pernyataan yang tidak wajar dinyatakan, (kaga ngerti gw mksdnya
ape) atau
Kesimpulan praktisi dikatakan secara langsung dalam hal subject matter dan
kriteria, dan informasi subject matter yang salah secara material.
3. Ketika ditemukan setelah engagement diterima, kriteria yang tidak cocok atau subject
matter yang tidak tepat untuk assurance engagement
4.4 GENERAL CONSIDERATIONS IN AN ASSURANCE ENGAGEMENT
Assurance engagement adalah gabungan dari perencanaan, pengumpulan bukti dan
pelaporan. Tingkat dari perencanaan, kecukupan dari bukti yang ada, pendekatan resiko yang
bisa diterima, dan tingkat dari kepastian opini akan tergantung pada jenis dari AE. Auditor
harus mengurangi resiko dari AE pada tingkat yang rendah yang bisa diterima dalam
pembuatan income statement (IS). Hal ini juga memungkinan untuk melakukan AE yang
menyediakan tingkat kepastian yang masuk akal pada materi selain dari informasi yg
disediakan oleh IS.
Assurance Report Basic Elements
Dalam mempersiapkan laporan audit, praktisi harus menyertakan bukti yang cukup dan
sesuai untuk mendukung kesimpulan yang akan disampaikan dalam laporan kepastian
(assurance report). Laporan ini harus dalam bentuk tertulis dan harus memuat pernyataan
yang jelas dari kesimpulan praktisi mengenai materi informasi.
Judul – mengindikasi bahwa laporan tersebut adalah laporan kepastian yang bersifat
independen
Penerima – buat siapa laporan tersebut ditujukan
Pernyataan untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab dan untuk
mendeskripsikan tanggung jawab pihak tersebut dan praktisi, secara jelas menyatakan
bahwa materi dalam laporan tersebut telah mengikuti ISAE.
Nama perusahaan atau nama praktisi, dan lokasi spesifik
Subject matter
sebuah identifikasi dan deskripsi dari isi dan informasi materi termasuk , misalnya :
The point in time or period dimana evaluasi atau pengukuran dari subject matter
yang berhubungan
Nama dari entitas atau komponen dari entitias dimana subject matter berhubungan
Penjelasan karakteristik dari subject matter atau informasi subject matter
Identifikasi dari kriteria – kriteria pada suatu bukti yang diukur atau dievaluasi bisa
dibentuk atau secara spesifik dikembangkan. Laporan ini mengidentifikasi kriteria
supaya pengguna yang dituju bisa memahami dasar dari kesimpulan auditor.
Rangkuman dari pekerjaan yang dilakukan – bagian ini akan membantu pengguna
memahami keadaan dari kepastian yang ada didalam laporan ini. Karena adanya
keterbatasan dari keterlibatan kepastian dalam suatu keadaan tertentu , waktu dan
tingkat prosedur pengumpulan bukti yang dilakukan.
Pernyataan khusus dalam sebuah Assurance Report – laporan ini berisi tentang
batasan yang ada karena suatu materi subjek memiliki batasan..
Kesimpulan praktisi – kesimpulan praktisi dinyatakan/diekspresikan dalam bentuk
yang positive,negative, atau sebagai reservasi/penolakan dari kesimpulan. Kesimpulan
ini harus secara jelas mengekspresikan sebuah reservasi dalam suatu keadaan
Kesimpulan yang terkualifikasi, berlawanan, dan ditolak – pratisi harus tidak
mengekpresikan kesimpulan yang tidak terkualifikasi ketika keadaan ini terjadi dan
dampak dari hal tersebut adalah atau mungkin :
Batasan pada pandangan dari pekerjaan praktisi , entah keadaan atau pihak yang
bertanggung jawab memaksakan batasan yang mencegah praktisi dari
mendapatkan bukti yang cukup
Dalam kasus dimana kesimpulan praktisi dibuat dalam bentuk kalimat dalam hal
penegasan responsible party yang kurang dinyatakan dengan jelas , praktisi harus
mengekspresikan kesimpulan yang berlawanan
Komunikasi dengan komite audit – auditor berkomunikasi dengan yang
berwewenang dengan pemerintah mengenai masalah yang berhubungan (termasuk
informasi yang menjadi perhatian dari auditor sebagai hasil dari melakukan assurance
engagement.
4.5 AUDIT INFORMASI KEUANGAN HISTORIS
Audit, review, dan examination (special purpose engagements) informasi keuangan historis
adalah assurance engagement yang memiliki subject matter informasi keuangan historis.
Perikatan Untuk Audit Laporan Keuangan
Tujuan keseluruhan dari audit laporan keuangan adalah untuk memperoleh reasonable
assurance mengenai apakah keseluruhan laporan keuangan bebas dari material
misstatement, baik karena fraud maupun error, sehingga memungkinkan auditor untuk
menyatakan opininya apakah laporan keuangan telah disiapkan, dalam semua hal yang
material, sesuai dengan financial reporting framework yang teridentifikasi.
Penyampaian kesimpulan oleh auditor dirancang untuk meningkatkan tingkat keyakinan
pnegguna mengenai laporan keuangan histroies
4.6 PROFESSIONAL JUDGEMENT, PROFESSIONAL SCEPTICISM
Professional Judgement
Penerapan dari pelatihan, pengetahuan, dan pengalaman yang relevan sesuai standar
audit, akuntansi, dan etika dalam membuat keputusan mengenai hal-hal sehubungan
dengan audit engagement.
Professional judgement yang dibutuhkan dari audit mencakup kriteria, independence of
mind, bukti audit yang cukup dan sesuai, menentukan dan mengkomunikasikan
kekurangan signifikan pada intenal control, dan penentuan apakah tujuan audit telah
tercapai.
Untuk merencanakan audit dan mengevaluasi bukti, auditor melakukan professional
judgement, contohnya ketika:
Menilai resiko material misstatement dari laporan keuangan
Menentukan materialitas
Mempertimbangkan kelayakan dari pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi,
dan kecukupan dari pengungkapan laporan keuangan
Identifikasi area di mana pertimbangan audit secara khusus mungkin diperlukan,
contohnya transaksi pihak terkait, kesesuaan penggunaan manajemen atas asumsi
going concern atau mempertimbangkan tujuan bisnis dari transaksi.
Mengembangkan ekspektasi yang digunakan ketika melaukan prosedur analitikal.
Merespon resiko yang dinilai dari material misstatement, termasuk mendesain dan
melakukan prosedur audit lebih lanjut untuk mendapat cukup bukti audit yang
layak.
Evaluasi kecukupan dan kelayakan dari bukti audit yang didapat, seperti
kelayakan dari asumsi dan dari perwakilan oral dan tertulis manajemen.
Professional judgement itu penting, karena keputusan yang dibuat selama audit tidak
bisa diputuskan secara objektif tanpa penerapan dari pengetahuan dan pengalaman
yang relevan terhadap fakta dan keadaan.
Penilaian Profesional dibutuhkan terkait pembuatan keputusan tentang:
Materialitas dan resiko audit
Sifat, waktu, dan luasnya prosedur audit yang digunakan untuk memenuhi
persyaratan ISA dan mengumpulkan bukti audit.
Mengevaluasi apakah bukti audit yang cukup dan sesuai telah diperoleh atau perlu
lebih banyak untuk mencapai tujuan dari ISA.
Evaluasi dari penilaian manajemen dalam menerapkan financial reporting
framework
Menarik kesimpulan berdasarkan dari bukti audit yang diperoleh, contohnya
menilai kewajaran dari perkiraan yang dibuat oleh manajemen.
Penentuan masalah lain yang muncul dari audit yang penting terhadap proses
pelaporan keuangan.
Mendokumentasikan Penilaian Profesional
Faktor penting dalam menentukan waktu, isi, dan tingkat dokumentasi audit atas
significant matter adalah tingkat professional judgement yang dilakukan dalam
melakukan pekerjaan dan mengevaluasi hasil. Auditor diwajibkan untuk membuat
dokumentasi audit yang cukup untuk memungkinkan seorang auditor berpengalaman,
yang tidak memiliki hubungan apapun dengan audit sebelumnya, untuk memahami
professional judgement yang dibuat dalam mencapai kesimpulan pada masalah signifikan
yang muncul selama audit. intinya dibuat untuk menjelaskan kesimpulan auditor dan
meningkatkan kualitas penilaian.
Professional scepticism
Professional scepticism adalah sebuah sikap yang mencakup questioning mind,
waspada dengan keadaan yang mengindikasikan kemungkinan misstatement (salah saji)
karena error atau fraud, dan penilaian kritis terhadap bukti audit Mempertahankan
professional scepticism selama audit itu perlu untuk mengurangi resiko.
4.7 QUALITY CONTROL (ISQC #1 AND ISA 220)
International Standard on Quality Control berlaku untuk semua perusahaan akuntan
profesional sehubungan dengan audit dan review, jaminan lain, dan related services
engagements.
ISQC #1 memberikan persyaratan yang dirancang untuk memungkinkan perusahaan
akuntansi memenuhi tujuan kontrol kualitas
ISA 220 membahas mengenai prosedur quality control untuk audit laporan keuangan.
Tujuan utama dari perusahaan audit adalah membangun dan memelihara sistem quality
control untuk menyediakan reasonable assurance bahwa kantor akuntan dan
karyawannya mematuhi standar profesional dan persyaratan hukum dan bahwa laporan
yang dikeluarkan sesuai dengan keadaan sebenarnya
ELEMEN DALAM KEBIJAKAN DAN PROSEDUR QUALITY CONTROL
1) Tanggung jawab kepemimpinan untuk kualitas dalam perusahaan audit
Hal ini dapat dilakukan melalui seminar pelatihan, pertemuan, dialog formal atau
informal, pernyataan misi, newsletter, dan briefing memoranda. Juga dapat
dinyatakan dalam dokumen internal perusahaan.
2) Peryaratan etis yang relevan
Perusahaan audit harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk
memberikan reasonable assurance bahwa perusahaan dan karyawannya
mematuhi peryaratan etis yang relevan
3) Penerimaan dan kelanjutan hubungan klien dan perikatan spesifik
Perusahan audit harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk:
- memberikan klien reasonable assurance bahwa perusahaan kompeten dan
memiliki kemampuan (waktu dan sumber daya) untuk melakukan perikatan
- memastikan auditor telah mempertimbangkan integritas klien jangan sampai
ada informasi bahwa klien tidak memiliki integritas
4) Sumber daya manusia
Perusahaan audit harus menetapkan kebijakan untuk memastikan bahwa perusahaan
memiliki cukup karyawan yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk
melakukan periskatan sesuai dengan standar profesional dan persyaratan hukum
5) Engagement Performance
Perusahaan harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa
perikatan dilakukan sesuai dengan standar profesional dan persyaratan hukum serta
kebijakan quality control untuk memastikan konsistensi kualitas engagemen
performace, tanggung jawab pengawasan , dan tanggung jawab review.
6) Monitoring
Perusahaan audit menetapkan proses monitoring untuk memberikan reasonable
assurance bahwa kebijakan dan prosedur quality control adalah relevan, cukup
jumlahnya, dan dijalankan secara efektif. Proses monitoring ini meliputi evaluasi
sistem quality control perusahaan.
#Tambahan aja
Beda audit dan review
1. Tujuan
Audit memberikan opini kepada pengguna laporan keuangan apakah laporan keuangan
telah dibuat sesuai dengan financial reporting framework dan bebas dari material
misstatement.
Review memberikan jaminan bahwa tidak ada perubahan yang harus dibuat pada
laporan keuangan supaya bisa sesuai dengan financial reporting framework
2. Jenis assurance yang dikeluarkan
Audit karena prosedur yang dilakukan lebih banyak, maka hasil audit berupa
reasonable assurance
Review prosedur yang dilakukan lebih sedit, maka hasil audit berupa limited assurance,
Reasonable assurance tingkatanyya leibh tinggi daripada limited assurance.