0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
232 tayangan4 halaman

Faktor Sosial Budaya dan TBC di Sleman

Dokumen ini membahas tentang analisis faktor-faktor sosial budaya yang berhubungan dengan kejadian penyakit tuberkulosis di Kabupaten Sleman. Faktor-faktor yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, kebiasaan merokok, dan status ekonomi. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara ketiga faktor tersebut dengan kejadian tuberkulosis.

Diunggah oleh

siska andini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
232 tayangan4 halaman

Faktor Sosial Budaya dan TBC di Sleman

Dokumen ini membahas tentang analisis faktor-faktor sosial budaya yang berhubungan dengan kejadian penyakit tuberkulosis di Kabupaten Sleman. Faktor-faktor yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, kebiasaan merokok, dan status ekonomi. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara ketiga faktor tersebut dengan kejadian tuberkulosis.

Diunggah oleh

siska andini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS FAKTOR DETERMINAN SOSIAL BUDAYA TERHADAP BEBERAPA

PERMASALAHAN KESEHATAN TENTANG PENYAKIT TBC

OLEH:

NAMA: SISKA ANDINI PUTRI


NIM: 2013201062

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ALIFAH PADANG


2021/2022
ABSRAK
Kualitas pengobatan tuberkulosis di DIY berdasarkan laporan P2M, meskipun dari
tahun ke tahun terus meningkat namun, tetap masih rendah, yaitu angka kesembuhan baru
mencapai 84,07% (target 85%). Cakupan penemuan tuberkulosis di Puskesmas Depok 3
dirasa masih rendah pada tahun 2011 terdapat 23 kasus, tahun 2012 19 kasus, sedangkan
pada tahun 2013 terdapat 25 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor
apa saja yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis di Puskesmas Depok 3 Kabupaten
Sleman. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan sampel case
control yang dilakukan pada tahun 2014. Sampel penelitian ini adalah 60 responden, dengan
kasus sebanyak 20 responden, dan kontrol sebanyak 40 responden (perbandingan 1:2).
Analisis data dengan menggunakan uji chi-square dan Fisher’s exact test. Hasil menunjukkan
tidak ada hubungan kepadatan hunian rumah (p value 0,422, OR 2,250), kebiasaan merokok
(p value 1,000, OR 1,000) dan status ekonomi (p value 1,000, OR 1,123) dengan tuberkulosis
di Puskesmas Depok 3 Kabupaten Sleman. Kesimpulannya tidak ada hubungan kepadatan
hunian, kebiasaan merokok, dan status ekonomi dengan tuberkulosis.

PENDAHULUAN
Perhatian aktivis sedunia dikejutkan oleh deklarasi “kedaruratan global” (the global
emergency) tuberculosis pada tahun 1993 dari WHO, karena sebagian besar negara-negara
di dunia tidak berhasil mengendalikan penyakit tuberkulosis. Hal ini disebabkan oleh angka
kesembuhan penderita yang berdampak pada tingginya penularan. Penyakit tuberkulosis
sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Menurut hasil penelitian, penyakit
tuberkulosis sudah ada sejak zaman Mesir kuno yang dibuktikan dengan penemuan pada
mumi. Pada tahun 1882, ilmuwan Robert Koch berhasil menemukan kuman tuberkulosis,
yang merupakan penyebab penyakit ini. Kuman ini berbentuk batang (basil) yang dikenal
dengan nama “Mycobacterium tuberculosis”. Tuberkulosis merupakan penyakit kronik,
menular, yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang ditandai dengan jaringan
granulasi nekrotik (perkijauan) sebagai respons terhadap kuman tersebut. Penyakit ini
menular dengan cepat pada orang yang rentan dan daya tahan tubuh lemah. Diperkirakan
seorang penderita tuberkulosis kepada 1 dari 10 orang di sekitarnya. Tuberkulosis adalah
penyakit yang mengganggu sumberdaya manusia dan umumnya menyerang kelompok
masyarakat dengan golongan sosial ekonomi rendah. Indonesia memiliki beban penyakit
tuberkulosis yang tinggi. Indonesia merupakan negara pertama diantara High Burden
Country (HBC) di wilayah WHO South-East Asian yang mampu mencapai target global
tuberkulosis untuk deteksi kasus dan keberhasilan pengobatan pada tahun 2006. Pada
tahun 2009, tercatat sejumlah 294.732 kasus tuberkulosis telah ditemukan dan diobati (data
awal Mei 2010) dan lebih dari 169.213 diantaranya terdeteksi BTA (+). Dengan demikian,
case notification rate untuk TB BTA (+) adalah 73 per 100.000 (case detection date 73%).
Rerata pencapaian angka keberhasilan pengobatan selama 4 tahun terakhir adalah sekitar
90% dan pada kohort tahun 2008 mencapai 91%. Pencapaian target global tersebut
merupakan tonggak pencapaian program pengendalian TB nasional yang utama. Kejadian
tuberkulosis dipengaruhi olehbeberapa faktor. Faktor pertama tuberkulosis adalah faktor
umur karena insiden tertinggi penyakit tuberkulosis adalah pada usia dewasa muda di
Indonesia diperkirakan 75% penderita tuberkulosis adalah pada kelompok usia produktif.
Faktor yang kedua adalah jenis kelamin yang lebih banyak menyerang laki-laki daripada
wanita, karena sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok. Faktor ketiga adalah
kebiasaan merokok yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga mudah untuk
terserang penyakit terutama pada laki-laki yang mempunyai kebiasaan merokok (Alsagaf,
2005). Faktor keempat adalah kepadatan hunian yang merupakan faktor lingkungan
terutama pada penderita tuberkulosis yaitu kuman M. tuberculosis dapat masuk pada
rumah yang memiliki bangunan yang gelap dan tidak ada sinar matahari yang masuk. Faktor
kelima adalah pekerjaan yang merupakan faktor risiko kontak langsung dengan penderita.
Risiko penularan tuberkulosis pada suatu pekerjaan adalah seorang tenaga kesehatan yang
secara kontak langsung dengan pasien walaupun masih ada beberapa pekerjaan yang dapat
menjadi faktor risiko yaitu seorang tenaga pabrik (Luthfi, 2012). Faktor keenam adalah
status ekonomi yang merupakan faktor utama dalam keluarga masih banyak rendahnya
suatu pendapatan yang rendah dapat menularkan pada penderita tuberkulosis karena
pendapatan yang kecil membuat orang tidak dapat layak memenuhi syarat-syarat kesehatan

ISI
Tuberkolosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
Mycobakterium Tuberculosis. Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya. TBC merupakan penyakit menular yang menyebar melalui
droplet orang yang telah terinfeksi basil tuberkulosis (Dinkes, 2016). Kuman TBC masuk ke
dalam tubuh melalui udara pernafasan. Ketika seorang menderita TBC paru batuk, bersin,
atau berbicara, maka secara tidak langsung keluarlah droplet nuklei dan jatuh ke tanah, lantai
atau tempat lainnya. Akibat terkena sinar matahari atau suhu udara yang panas, droplet nuklei
tadi menguap. Menguapnya droplet bakteri ke udara dibantu dengan pergerakan angin akan
membuat bakteri TBC yang terkandung dalam droplet nuklei terbang ke udara. Apabila
bakteri ini terhirup oleh orang sehat, maka orang itu berpotensi terkena infeksi bakteri TBC.
Dalam waktu 3-6 minggu, inang yang baru terkena infeksi akan menjadi sensitif terhadap
protein yang dibuat bakteri TBC dan bereaksi positif terhadap tes tuberkulin atau tes
Mantoux (Manurung, 2008). Secara global pada tahun 2017 diperkirakan 10,0 juta orang
menderita penyakit TBC. Tuberkulosis menjadi 10 penyebab kematian tertinggi di dunia pada
tahun 2017 dan merupakan penyebab utama dari penyakit menular di atas HIV/AIDS.
Sebesar 60% kasus baruditemukan di delapan negara yaitu India, 2 Cina, Indonesia, Filipina,
Pakistan, Nigeria, Bangladesh dan Afrika Selatan (WHO, 2018). Di Indonesia TBC
merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi
saluran pernafasan pada semua kelompok usia, dan nom Pengidap tuberkulosis laten atau
tidak aktif umumnya tidak akan mengalami gejala apapun. Meskipun demikian,
bakteri sudah berada dalam tubuh. Akan tetapi, bakteri dalam tubuh belum
menyebabkan kerusakan apapun. Saat bakteri mulai aktif, kondisi inilah yang
memicu gejala pada pengidap tuberkulosis. Tuberkulosis umumnya menyerang
paru-paru dengan gejala utama batuk berdahak yang berlangsung lebih dari 2
minggu. Batuk yang terjadi juga kadang mengeluarkan dahak berwarna, seperti
karat atau batuk darah. Pengidap TB juga biasanya akan kehilangan nafsu makan
dan mengalami penurunan berat badan yang disertai dengan demam, keringat
malam hari, dan kelelahan. Jika infeksi tuberkulosis pada paru telah menyebabkan
kerusakan pada paru, akan timbul gejala sesak [Link] pengidap
tuberkulosis juga mengalami kondisi nyeri tulang. Kondisi ini menandakan bahwa
bakteri telah menyerang bagian tulang. Untuk itu, perlu segera dilakukan
pemeriksaan pada rumah sakit terdekat agar kondisi ini dapat segera ditangani
dengan tepat. Dan Langkah utama yang bisa dilakukan untuk mencegah TB adalah
dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini
termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia tiga
bulan. Vaksin BCG juga dianjurkan bagi anak-anak, remaja, ataupun orang dewasa
yang belum pernah menerimanya pada waktu bayi. Namun, harap diingat bahwa
efektivitas vaksin ini akan berkurang pada orang dewasa.

KELEBIHAN

Kebiasaan masyarakat yang gemar dan percaya serta yakin akan penyebuhan
altrnatif dan tebukti berhasil

KEKURANGAN

Kebisaan masyaakat serta Kebiasaan budaya dan prilaku banyak mendorong


myarakat untk tidak mengatasi penykit tbc dengan penangaan yagg tepat masyarakat
cenderung mengatasi dengan cara mereka sndiri yg belum tentu yang dilakukan masyarakat
itu terbuktik dapat menyebuhkan serta tidak memberikan efek samping.

GAGASAN

Diharapkan adanya cara penangann yan tepat serta tidak menimbukan efek samping yang
dapat merugikan pnderita dan pemberian edukasi dan pengetahuan kepda masyarakat.

SARAN

Diharapkan dapat mengetahui serta memastikan tidak bahayanya efeksamping dari


semua obat serta alternatif yang digunakan seperti Efek samping yang paling sering terjadi
saat terapi OAT adalah hepatitis oleh karena obat, ruam pada kulit, serta keluhan
gastrointestinal dan [Link] sebaiknya pemerintah menigkatkan penyuluhan
kepada masyarakat agar masyarakat lebih mengerti tentang seputar cara mencegah dan
menaangani penyakit ini.

Anda mungkin juga menyukai