EKUITAS
MAY 28, 2015 | ZEHANWID
1. Pengertian Ekuitas
PSAK No. 21 (Ikatan Akuntan Indonesia, 2002) menyatakan bahwa ekuitas sebagai bagian hak
pemilik dalam perusahaan harus dilaporkan sedemikian rupa sehingga memberikan informasi
mengenai sumbernya secara jelas dan disajikan sesuai dengan peraturan perundangan dan akta
pendirian yang berlaku.
Akuntansi untuk ekuitas dibedakan menjadi dua yaitu akuntansi untuk ekuitas badan usaha bukan PT
dan Akuntansi ekuitas untuk badan usaha berbentuk PT. Akuntansi untuk ekuitas badan usaha bukan
PT harus dilaporkan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku untuk badan usaha tersebut
dan standar akuntansi keuangan yang berlaku khusus untuk industri yang bersangkutan, misalnya
koperasi.
Akuntansi ekuitas untuk badan usaha berbentuk PT meliputi modal saham yang meliputi saham
preferen, saham biasa, dan akun tambahan modal disetor. Pos modal lainnya seperti modal yang
berasal dari sumbangan dapat disajikan sebagai bagian dari tambahan modal disetor. Akun tambahan
modal disetor terdiri dari berbagai macam unsur penambahan modal, seperti : agio saham, tambahan
modal dari perolehan kembali saham dengan harga yang lebih rendah dari pada jumlah yang diterima
pada saat pengeluaran, tambahan modal dari penjualan saham yang diperoleh kembali dengan harga
di atas jumlah yang dibayarkan pada saat perolehaannya, tambahan modal dari perbedaan kurs modal
disetor dan lain sebagainya. Akun tambahan modal disetor tidak boleh didebit atau dikredit dengan
pos laba/rugi usaha maupun laba/rugi luar biasa.
1. Akuntansi Ekuitas Untuk Badan Usaha Bukan PT
Akuntansi untuk ekuitas badan usaha bukan PT harus dilaporkan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku untuk badan usaha tersebut dan standar akuntansi keuangan yang berlaku
khusus untuk industri yang bersangkutan, misalnya koperasi.
Ekuitas perusahaan perseorangan adalah kepemilikan usaha pemilik yang pada umumnya disajikan
dalam satu jumlah tertentu, dimana tidak diperlukan penyajian subklasifikasi ekuitas karena pemilik
tidak membatasi mengenai berapa banyak yang harus diinvestasikan atau ditarik dari bisnis. Dalam
hal likuidasi atau insolvensi, kreditor dapat mengambil aktiva pribadi si pemilik, dan laba yang
timbul dihitung secara berkala dan ditambahkan pada akun modal pada setiap akhir periode.
Transaksi modal (penarikan dan investasi tambahan) dicatat langsung dalam akun modal, dan semua
perubahan diikhtisarkan dalam laporan perusahaan yang terpisah.
2. Akuntansi Ekuitas Untuk Badan Usaha Berbentuk PT
Modal saham berbentuk PT meliputi saham preferen, saham biasa dan akun tambahan modal disetor.
Pos modal lainnya seperti modal yang berasal dari sumbangan dapat disajikan sebagai bagian dari
tambahan modal disetor.
Pada umumnya, tujuan pelaporan informasi ekuitas pemegang saham adalah menyediakan informasi
kepada yang berkepentingan tentang efisiensi dan kepengurusan manajemen. Tujuan yang lain
adalah menyediakan informasi tentang riwayat serta prospek investasi pemilik dan pemegang ekuitas
lainnya, serta merupakan tanggung jawab yuridis pemilik. Untuk memenuhi tujuan tersebut,
informasi yang harus disampaikan berkaitan tentang ekuitas pemegang saham tersebut minimal
adalah sumber ekuitas, pembatasan pembagian dividen dan likuidasi, batas perlindungan dan urutan
penyerapan rugi.
Komponen Ekutitas Pemegang Saham
Ekuitas pemilik tercermin dalam neraca terdiri dari :
1. Modal Saham
2. Tambahan modal saham
3. Saldo laba
Modal Saham
Modal Saham merupakan bagian dari ekuitas suatu PT yang dikontribusikan pemilik. Jenis saham
dapat meliputi saham biasa dan saham preferen.
Saham Biasa (Common Stock)
Dgn nilai nominal
Tanpa nilai nominal, ttp tercatat pada saat dikeluarkan
Tanpa nilai nominal dan tdk tercatat pada saat dikeluarkan
Saham Prioritas/Preferen (Preferred Stock):
Jenis: l Callable : Saham dapat ditebus kembali atas opsi perusahaan penerbit
l Convertible : Pemodal dapat menukarkan porto folio investasinyayang
saham prioritas ke bentuk saham biasa
l Redeemable : Harus dilunasi atau dibayar kembali pada tanggal tertentu
sesuai dg kontraknya
Penjualan saham pada umumnya berdasarkan harga pasar. Selisih antara nilai nominal dan haga
pasar merupakan agio ataupun disagio atas saham. Contoh :
PT Darma menempatkan 1000 lembar saham biasa dengan nilai nominal Rp. 10.000 denganharga
Rp. 15.000 per lembar
Pencatatan:
Kas 15.000.000
Modal saham 10.000.000
Agio saham 5.000.000
Tambahan Modal Saham
Akun Tambahan Modal Saham terdiri dari berbagai macam unsur penambah modal, seperti; agio
saham, tambahan modal dari perolehan kembali saham dengan harga yang lebih rendah dari pada
jumlah yang diterima pada saat pengeluaran, tambahan modal dari penjualan saham yang diperoleh
kembali dengan harga di atas jumlah yang dibayarkan pada saat perolehannya, tambahan modal dari
perbedaan kurs modal disetor dan lain sebagainya. Akun Tambahan Modal Saham tidak boleh
didebit atau dikredit dengan pos laba/rugi usaha maupun laba/rugi luar biasa .
Saham preferen memiliki kemungkinan untuk dikonversi menjadi saham biasa. Apabila terjadi
pertukaran, maka selisih nilai buku saham preferen (nominal dan agio), dengan nominal saham biasa
dapat merupakan agio saham biasa (apabila lebih besar) atau dibebankan kepada saldo laba (apabila
lebih rendah), tetapi apabila sebelumnya pernah dilakukan transaksi pembelian treasury stock yang
sudah dijual kembali dan memperoleh agio atas saham perbendaharaan tersebut makan dapat
dibebankan terlebih dahulu pada agio saham perbendaharaanan apabila tidak cukup baru dibebankan
ke saldo laba.
Pencatatan Penambahan Modal Disetor PT
Penambahan modal disetor dicatat berdasarkan:
(a) Jumlah uang yang diterima.
(b) Setoran saham dalam bentuk uang, sesuai transaksi nyata.
Untuk jenis saham yang diatur dalam bentuk Rupiah dalam akta pendirian, setoran saham
tunai dalam bentuk mata uang asing dinilai dengan kurs berlaku tanggal [Link] jenis saham
yang diatur dalam mata uang asing dalam akta pendiriannya, setoran tunai baik Rupiah atau mata
uang asing lain harus dikonversi ke mata uang asing dalam akta pendirian sesuai kurs resmi yang
berlaku pada tanggal setoran, kecuali akta pendirian atau keputusan Pemerintah menentukan kurs
tetap. Selisih kurs mata uang asing yang timbul sehubungan dengan transaksi modal, harus
dibukukan sebagai bagian dari modal dalam akun Selisih Kurs atas Modal Disetor dan bukan
merupakan unsur laba rugi.
(c) Besarnya tagihan yang timbul atau hutang yang dikonversi menjadi modal.
(d) Setoran saham dalam dividen saham dilakukan dengan harga wajar saham, yaitu harga pasar
tanggal transaksi untuk PT yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek, atau nilai wajar yang disepakati
Rapat Umum Pemegang Saham untuk saham yang tidak ada harga pasarnya.
(e) Nilai wajar aktiva bukan kas yang diterima.
(f) Setoran saham dalam bentuk barang (inbreng), menggunakan nilai wajar aktiva bukan kas
yang diserahkan, yaitu nilai appraisal tanggal transaksi yang disetujui Dewan Komisaris
untuk PT yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek, atau nilai kesepakatan Dewan Komisaris dan
penyetor bentuk barang.
Pencatatan Pengurangan Modal Disetor PT
Pengurangan modal disetor lazimnya dicatat berdasarkan:
1. jumlah uang yang dibayarkan; atau
2. besarnya hutang yang timbul; atau
3. nilai wajar aktiva bukan kas yang diserahkan.
Pengeluaran saham dicatat sebesar nilai nominal yang bersangkutan. Bila jumlah yang diterima dari
pengeluaran saham tersebut lebih besar dari pada nilai nominalnya, selisih yang terjadi dibukukan
pada akun Agio Saham. Bila ketentuan hukum yang ada memungkinkan penarikan kembali saham
yang telah dikeluarkan, maka pencatatan transaksi ini dilakukan dengan mendebit akun Modal
Saham dan mengkredit Modal Saham Yang Diperoleh Kembali sebesar jumlah yang dibukukan pada
saat perolehan kembali saham yang bersangkutan . Saham yang dikeluarkan sehubungan dengan
penyertaan modal dalam bentuk penyerahan aktiva bukan kas atau pemberian jasa umumnya dinilai
sebesar nilai wajar aktiva/jasa tersebut atau nilai wajar saham yang bersangkutan, tergantung mana
yang lebih jelas.
Saldo Laba
Pos saldo biasanya disajikan terpisah dari pos modal saham. Biasanya saldo laba disediakan untuk
dibagikan sebagai deviden. Namaun apabila dianggap perlu maka saldo laba dapat dicadangkan
untuk keperluan lain, seperti untuk ekspansi perusahaan sehingga tidak seluruh saldo laba
didistribusikan. Saldo laba adalah laba yang dikumpulkan setelah dipotong PPh sehingga menurut
akuntansi komersial laba ini tidak boleh dibebani atau dikredit dengan pos-pos yang seharusnya
diperhitungkan pada perhitungan laba rugi tahun berjalan. Permbayaran yang bersumber dari saldo
laba tidak diperkenankan sebagai biaya untuk tahun buku berikutnya. Contoh : pembayaran bonus,
gratifikasi, jasa produksi dan tantiem kepada pegawai serta pengurus yang diambil dari saldo laba
tidak boleh diperhitungkan sebagai biaya. Perlakuan ini sama dengan ketentuan fiskal yang
menyatakan bahwa pernyataan tersebut bukan merupakan biaya.
Distribusi dividen menyebabkan berkurangnya jumlah saldo laba
Pengecualian :
1. dividen saham dalam bentuk pemecahan saham
2. Dividen likuidasi
3. Pembagian lainnya yang bukan merupakan dividen dalam pengertian akuntansi
komersial,tetapi diperlakukan seperti itu dalam perpajakan
Pengertian deviden dalam perpajakan:
1. Pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran
2. Penerimaan atau perolehan dari pembelian kembali sebagian atau seluruh saham yang disetor
3. Pembayaran kembali sebagian atau seluruh penyetoran modal, sepanjang terdapat laba
daritahun-tahun lampau, kecuali dalam pengecilan modal statuter
4. Pembayaran kepada atau penerbitan tanda-tanda laba
5. Laba yang dibagikan kepada pemegang obligasi yang berpartisipasi dalam laba
6. Pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi persero yang dibebankan sebagai
biayaperusahaan
deviden secara resmi terhutang saat dilakukan pengumuan pembagian deviden
Contoh:
Tanggal 20 Desember 2000 PT Darma mengumumkan akan membagi deviden
sejumlah Rp.10.000.000. Pada tanggal 5 Januari 2001 dividen dibayar tunai
Pencatatan:
20 Desember
Saldo laba 10.000.000
Hutang deviden 8.500.000
Hutang PPh pasal 23 1.500.000
5 Januari
Hutang dividen 8.500.000
Hutang PPh pasal 1.500.000
Kas 10.000.000
Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Ekuitas adalah laporan yang menunjukan perubahan yang menggambarkan
peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode pelaporan. Laporan ini harus
menyajikan :
Laba (Rugi) bersih periode pelaporan;
Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung
dalam ekuitas;
Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi atas kesalahan
mendasar;
Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik, antara lain berupa penyetoran
modal saham dan pembagian dividen;
Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahannya;
Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis modal ditempatkan dan disetor penuh,
tambahan modal disetor dan pos-pos ekuitas lainnya pada awal dan akhir periode yang
mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.
Perpajakan
Dalam perpajakan, penjualan saham kepada pihak ketiga yang dilakukan di bursa efek akan
dikenakan PPh yang bersifat final. Berdasarkan PP 14 tahun 1997 jo. KMK-282/KMK.04/1997 jo.
[Link].24/1997 maka untuk saham pendiri, pemilik saham pendiri dikenakan tambahan PPh
sebesar 0,5% dari nilai saham perusahaan pada saat penutupan bursa diakhir tahun 1996. Jadi, total
PPh yang dikenakan adalah 0,6% dari nilai saham perusahaan. Dalam hal saham perusahaan
diperdagangkan di bursa efek setelah 01 Januari 1997, makan nilai saham ditetapkan sebesar harga
saham pada saat penawaran umum perdana.
Kesimpulan
Konsep kesatuan usaha memisahkan secara fisik dan konseptual antara manajemen dan pemilik.
Ekuitas pemegang saham menggambarkan hubungan yuridis antara perseroan dengan para pemegang
saham. Ekuitas pemegang saham terdiri atas dua komponen yaitu modal setoran dan laba ditahan.
Modal setoran dipecahkan menjadi modal yuridis dan modal setoran lain. Ekuitas didefinisikan
secara sintatik sebagai hak residual atas aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Ekuitas
terpaksa didefinisi secara sintatik bukan semantik karena keperluan untuk memprtahankan artikulasi
statemen keuangan. Ekuitas mengandung makna pemilikan. Oleh karena itu, untuk organisasi
nonbisnis ekuitas sering disebut sebagai aset bersih.
Ekuitas berbeda dengan kewajiban dalam tiga hal, yaitu hak atas penyelesaian klaim, hak
penggunaan aset, dan substansi perjanjian (yuridis). Walaupun demikian, atas dasar konsep kesatuan
usaha kreditor dan investor dipandang sebagai pihak luar perusahaan yang terpisah dari manajemen.
Modal setoran perlu dibedakan dengan laba ditahan karena modal setoran merupakan suatu bentuk
kontrak yuridis yang harus dipertahankan keutuhannya sedangkan laba ditahan merupakan modal
yang tercipta atau terhimpun karena pemanfaatan aset. Modal setoran merupakan perubahaan aset
dalam rangka pendanaan (transaksi modal) sedangkan laba ditahan merupakan perubahan aset dalam
rangka produksi (transaksi operasi).