100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
6K tayangan55 halaman

Asuhan Keperawatan Acute Abdomen Anak

Laporan kasus ini membahas asuhan keperawatan pada pasien anak bernama AN.K yang dirawat di ruang D2 RSPAL Dr. Ramelan Surabaya dengan diagnosis medis acute abdomen. Laporan ini menjelaskan tentang konsep acute abdomen, tinjauan teori asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa dan intervensi keperawatan yang diberikan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
6K tayangan55 halaman

Asuhan Keperawatan Acute Abdomen Anak

Laporan kasus ini membahas asuhan keperawatan pada pasien anak bernama AN.K yang dirawat di ruang D2 RSPAL Dr. Ramelan Surabaya dengan diagnosis medis acute abdomen. Laporan ini menjelaskan tentang konsep acute abdomen, tinjauan teori asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa dan intervensi keperawatan yang diberikan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS SEMINAR

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA AN.K


DENGAN DIAGNOSA MEDIS ACUTE ABDOMEN DI RUANG D2
RSPAL [Link] SURABAYA

Disusun Oleh:

GERBONG 1 – KELOMPOK C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
TA. 2020 / 2021
LAPORAN KASUS SEMINAR
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA AN.K
DENGAN DIAGNOSA MEDIS ACUTE ABDOMEN DI RUANG D2
RSPAL [Link] SURABAYA

Disusun Oleh:
1. Ade Saputri 2030003
2. Alya Fatimatus 2030010
3. Ika Tantia 2030051
4. Intan Maulidia 2030054
5. Ivonnerose Nur A. 2030056
6. Narita Memory M. 2030075
7. Nofia Irawati 2030081

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
TA. 2020 / 2021

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini ketua kelompok C dari Gerbong 1 :


Nama : Alya Fatimatus 2030010
Anggota Kelompok :
1. Ade Saputri 2030003
2. Ika Tantia 2030051
3. Intan Maulidia 2030054
4. Ivonnerose Nur A. 2030056
5. Narita Memory M. 2030075
6. Nofia Irawati 2030081
Program Studi : Pendidikan Profesi Ners
Judul Seminar : Asuhan Keperawatan Pada An. K dengan diagnosa medis Acute Abdomen
di Ruang D2 RSPAL Dr. Ramelan Surabaya

Menyatakan bahwa makalah seminar ini yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada An. K
dengan diagnosa medis Acute Abdomen di Ruang D2 RSPAL Dr. Ramelan Surabaya” telah
disusun sesuai dengan buku panduan evaluasi praktik klinik keperawatan anak yang berlaku di
STIKes Hang Tuah Surabaya.

Mengetahui,
Pembimbing Institusi

(Dwi Ernawati, [Link].,Ns.,[Link])


NIP. 03023

iii
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmatnya dan karunianya. Penulis dapat menyelesaikan makalah seminar kasus dengan tepat
waktu. Penulisan makalah seminar kasus ini dibuat sebagai salah satu tugas dari Prodi Profesi di
Stikes Hang Tuah Surabaya. Makalah seminar kasus ini berjudul “Asuhan Keperawatan Pada
An. K Dengan Diagnosa Medis Acute Abdomen Di Ruang D2 RSPAL Dr. Ramelan Surabaya”.
Makalah seminar ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan praktek
klinik keperawatan anak. Makalah seminar ini disusun dengan memanfaatkan berbagai literatur
serta mendapatkan banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak, penulis menyadari
tentang segala keterbatasan kemampuan dan pemanfaatan literatur, sehingga makalah seminar ini
dibuat dengan sangat sederhana baik dari segi sistematika maupun isinya jauh dari sempurna.
Dalam kesempatan ini, perkenankanlah kelompok menyampaikan rasa terima kasih, rasa
hormat dan penghargaan kepada:
1. Ibu Dr. AV Sri Suhardiningsih, S, Kp., M. Kes selaku Ketua STIKES Hang Tuah Surabaya
yang telah memberikan kesempatan untuk praktek dengan memberikan kesempatan bagi
mahasiswa untuk belajar dan memperoleh ilmu.
2. Nuh Huda, [Link].,Ns.,[Link] selaku Kepala Program Pendidikan Profesi Ners
Keperawatan Stikes Hang Tuah Surabaya.
3. Ibu Dwi Ernawati [Link].,Ns.,[Link] selaku pembimbing institusi yang penuh kesabaran dan
perhatian memberikan saran, masukan, dan bimbingan demi penyusunan makalah seminar
kasus ini.
4. Ibu Dwi Kurniawati selaku pembimbing lahan praktik yang memberikan saran, masukan,
dan bimbingan kepada kami
5. Ibu Tri Susanawati selaku pembimbing lahan praktik yang memberikan saran, masukan, dan
bimbingan kepada kami
6. Teman teman Kelompok praktek Ruangan D2 yang telah membantu Support untuk
menyusun makalah seminar ini.

iv
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada laporan kasus ini.
Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat
membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan
makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah seminar ini dapat memberikan manfaat bagi
kita sekalian.

Surabaya , April 2021

Kelompok C Gerbong 1

v
DAFTAR ISI

COVER ........................................................................................................................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................................................................ iv
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... vi
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................................................... 7
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................................. 7
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 8
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 8
1.3.1 Tujuan Umum ........................................................................................................................... 8
1.3.2 Tujuan Khusus .......................................................................................................................... 9
1.4 Manfaat ......................................................................................................................................... 9
BAB 2 TINJAUAN TEORI ...................................................................................................................... 10
2.1 Konsep Acute Abdomen ............................................................................................................. 10
2.1.1 Definisi Acute Abdomen ........................................................................................................ 10
2.1.2 Etiologi .................................................................................................................................... 10
2.1.3 Klasifikasi ............................................................................................................................... 12
2.1.4 Manifestasi Klinis ................................................................................................................... 13
2.1.5 Patofisiologi ............................................................................................................................ 13
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang .......................................................................................................... 14
2.1.7 Komplikasi .............................................................................................................................. 14
2.1.8 Penatalaksanaan ...................................................................................................................... 15
2.1.9 Pathway ................................................................................................................................... 16
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan ..................................................................................................... 17
2.2.1 Pengkajian ............................................................................................................................... 17
2.2.2 Diagnosa Keperawatan ........................................................................................................... 24
2.2.3 Intervensi Keperawatan........................................................................................................... 26
ASUHAN KEPERAWATAN ................................................................................................................... 30

vi
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendix vermicularis, dan merupakan

penyebab abdomen akut yang paling sering pada anak-anak maupun dewasa. Appendicitis akut

merupakan kasus bedah emergensi yang paling sering ditemukan pada anak-anak dan remaja.

Terdapat sekitar 250.000 kasus appendicitis yang terjadi di Amerika Serikat setiap tahunnya dan

terutama terjadi pada anak usia 6-10 tahun.

Appendicitis dapat mengenai semua kelompok usia, meskipun tidak umum pada anak

sebelum usia sekolah. Hampir 1/3 anak dengan appendicitis akut mengalami perforasi setelah

dilakukan operasi. Meskipun telah dilakukan peningkatan pemberian resusitasi cairan dan

antibiotik yang lebih baik, appendicitis pada anak-anak, terutama pada anak usia prasekolah

masih tetap memiliki angka morbiditas yang signifikan. Diagnosis appendicitis akut pada anak

kadang-kadang sulit. Diagnosis yang tepat dibuat hanya pada 50-70% pasien-pasien pada saat

penilaian awal. Angka appendectomy negatif pada pediatrik berkisar 10-50%. Riwayat

perjalanan penyakit pasien dan pemeriksaan fisik merupakan hal yang paling penting dalam

mendiagnosis appendicitis.

Semua kasus appendicitis memerlukan tindakan pengangkatan dari appendix yang

terinflamasi, baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy. Apabila tidak dilakukan

tindakan pengobatan, maka angka kematian akan tinggi, terutama disebabkan karena peritonitis

7
8

dan shock. Reginald Fitz pada tahun 1886 adalah orang pertama yang menjelaskan bahwa

Appendicitis acuta merupakan salah satu penyebab utama terjadinya akut abdomen .

Appendiktomi adalah pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat appendik untuk

sesegera mungkin dilakukan guna menurunkan resiko perforasi. Appendiktomi dapat dilakukan

dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau laparoskopi (Muttaqin,

2009). Pada klien dengan post operasi appendiktomi mengalami masalah body image nyeri

akut, resiko infeksi, gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, intoleransi aktivitas dan

hipertermi (Rudi Haryono, 2012).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka rumusan masalah ini
adalah bagaimana pencegahan perawatan dan penanganan terjadinya Acute Abdomen.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menyusun Pencegahan Perawatan dan Penanganan pada pasien Acute Abdomen
berdasarkan faktor risiko yang diperoleh yang mempengaruhi terjadinya Acute Abdomen
9

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Melakukan pengkajian pada klien Acute Abdomen.
2. Menegakan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien Acute Abdomen.
3. Menyusun intervensi keperawatan pada klien Acute Abdomen

1.4 Manfaat

1. Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat mengenai Pencegahan Perawatan dan
Penanganan pada pasien Acute Abdomen

2. Penulis
Memahami tentang penatalaksanaan pencegahan perawatan dan penanganan klien
Acute Abdomen
BAB 2
TINJAUAN TEORI

Pada laporan ini akan dibahas mengenai konsep teori yang memuat: Konsep

Acute Abdomen Pain dan Konsep Asuhan Keperawatan.

2.1 Konsep Acute Abdomen

2.1.1 Definisi Acute Abdomen

Akut Abdomen merupakan istilah yang digunakan untuk gejala-gejala dan tanda- tanda

dari nyeri perut dan nyeri tekan yang tidak spesifik tetapi sering terdapat pada penderita dengan

keadaan intraabdominal akut yang berbahaya. Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan

terhadap struktur yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul

atau luka tusuk 2 Terdapat dua mekanisme trauma pada abdomen yaitu trauma tajam (penetrans)

dan trauma tumpul (non penetrans) sehingga terdapat pendekatan diagnostik dari tatalaksana

yang berbeda (Taufik et al., 2020).

Akut abdomen atau nyeri akut abdomen adalah suatu kasus kegawatdaruratan abdo-men

yang dapat terjadi karena masalah bedah dan non bedah, ditandai dengan keluhan nyeri abdomen

yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 24 jam (Mananna et al., 2021)

2.1.2 Etiologi

Penyebab akut abdomen dapat dibagi menjadi penyebab non bedah dan bedah. Penyebab

non bedah dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :

1. Gangguan metabolik dan endokrin : uremia, krisis diabetic, krisis penyakit Addison.

2. Gangguan hematologi : krisis anemia sel sabit, leukemia akut, dan penyakit darah lainnya.

3. Gangguan hematologi : krisis anemia sel sabit, leukemia akut, dan penyakit darah lainnya.

10
11

Sedangkan penyebab bedah dapat dibagi menjadi 5, yaitu :

1. Perdarahan : Trauma organ viscera, ruptur aneurisma arteri, kehamilan ektopik

terganggu, ulkus intestinal, perdarahan pankreas.

2. Infeksi : appendicitis, kolesistitis, abses hati, abses diverticular.

3. Perforasi : perforasi ulkus gastrointestinal, perforasi kanker gastrointestinal,

perforasi diverticulum.

4. Obstruksi : adhesi yang berhubungan dengan obstruksi usus besar, hernia

incarserata, kanker gastrointestinal

5. Iskemia : thrombosis atau emboli arteri mesenterika, colitis iskemik, torsi

ovarium, hernia strangulata.

Keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan akut abdomen dapat dibagi menjadi 6 bagian besar

kategori, yaitu:

1. Inflamasi

Kategori inflamasi ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu yang disebabkan

bakteri dan kimiawi. Inflamasi akibat bakterial seperti appendisitis akut divertikulitis, dan

beberapa kasus Pelvic Inflammatory Disease. Inflamasi akibat kimiawi antara lain

perforasi dan ulkus peptikum.

2. Mekanik

Penyebab mekanis misalnya keadaan obstruksi, seperti hernia inkarserata,

perlengkapan, intussusepsi, malrotasi usus dengan volvulus, atresia kongenital atau

stenosis usus. Penyebab tersering obstruksi mekanik usus besar adalah Ca kolon.
12

3. Vaskular

Kelainan vaskular seperti trombosis atau embolisme a. mesenterika yang

menyebabkan aliran darah terhenti sehingga timbul nekrosis jaringan, dengan ganggren

usus.

4. Defek Kongenital

Defek congenital yang dapat menyebabkan akut abdomen seperti atresia

duondenum, omphalocele atau hernia diaphragmatica.

5. Trauma

Penyebab traumatik dari akut abdomen bervariasi dari luka tusuk dan tembak

sampai luka tumpul abdominal yang menyebabkan keadaan rusaknya organ visera

seperti ruptur lien.

Penyebab nyeri perut terkadang dapat diprediksi berdasarkan lokasi dan jenis rasa sakit

sehingga membantu dalam menegakkan diagnosis. Perkiraan penyebab berdasarkan fakta bahwa

patologi struktur yang mendasari di setiap regio cenderung memberikan nyeri perut maksimal di

regio tersebut.

2.1.3 Klasifikasi

Klasifikasi dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

1. Nyeri Viseral

Nyeri viseral terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga

perut misalnya karena cedera atau radang. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut

dipersarafi oleh sistem saraf otonom dan tidak peka terhadap perabaan atau pemotongan.

dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa terasa oleh pasien.

Akan tetapi bila dilakukan tarikan regangan atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot
13

yang menyebabkan iskemia seperti pada kolik atau radang akan timbul nyeri. Pasien yang

mengalami nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjukkan secara tepat letak nyeri sehingga

biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menunjuk daerah yang nyeri.

2. Nyeri Somatik

Nyeri somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi saraf tepi misalnya

regangan pada peritoneum parietalis dan luka pada dinding perut. Nyeri dirasakan seperti

ditusuk atau disayat dan pasien dapat menunjuk letak nyeri dengan jarinya secara tepat.

&angsang yang menimbulkan nyeri ini dapat berupa rabaan? Tekanan rangsang kimiawi atau

proses radang

2.1.4 Manifestasi Klinis

Nyeri tekan diatas daerah abdomen, demam, anorexia, mual dan muntah, takikardi,

peningkatan suhu tubuh, nyeri spontan. Pada trauma non penetrasi (tumpul) pada trauma non

penetrasi biasanya terdapat adanya jejas atau ruptur di bagian dalam abdomen: terjadi perdarahan

intra abdominal. Apabila trauma terkena usus, mortilisasi usus terganggu sehingga fungsi usus

tidak normal dan biasanya akan mengakibatkan peritonitis dengan gejala mual, muntah, dan

BAB hitam (melena).

2.1.5 Patofisiologi

Bila suatu organ visceral mengalami perforasi, maka tanda-tanda perforasi, tanda-tanda

iritasi peritoneum cepat tampak. Tanda-tanda dalam nyeri abdomen tersebut meliputi nyeri

tekan, nyeri spontan, nyeri lepas dan distensi abdomen tanpa bising usus bila telah terjadi

peritonitis umum. Bila syok telah lanjut pasien akan mengalami takikardi dan peningkatan suhu

tubuh, juga terdapat leukositosis. Biasanya tanda- tanda peritonitis mungkin belum tampak. Pada
14

fase awal perforasi kecil hanya tanda- tanda tidak khas yang muncul. Bila terdapat kecurigaan

bahwa masuk rongga abdomen, maka operasi harus di lakukan.

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang

1. Uji laboratorium

Pemeriksaan laboratorium dilakukan antara lain pemeriksaan hemoglobin dan

hematokrit untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan atau dehidrasi. Hitung

leukosit dapat menunjukkan adanya proses peradangan. Hitung trombosit dan faktor

koagulasi selain diperlukan untuk persiapan bedah juga dapat membantu menegakkan

kemungkinan demam berdarah yang memberikan gejala mirip gawat perut.

2. Pemeriksaan ultrasonografi

Untuk menegakkan diagnosis kelainan hati saluran empedu dan

[Link] akut pun dapat dipastikan dengan ultrasonografi sehingga dapat

dihindari pembedahan yang tidak perlu.

3. Pemeriksaan colon in loop, endoskopi saluran cerna dan CT scan abdomen

Dilakukan sesuai dengan indikasi

2.1.7 Komplikasi

Komplikasi yang akan terjadi pada Acute Abdomen, antara lain :

1. Syok hemoragik dan cidera

2. Terjadi infeksi, thrombosis vena,emboli pulmonar, stress ulserasi dan perdarahan

3. Pneumonia

4. Tekanan ulserasi

5. Atelektasis

6. Sepsis.
15

2.1.8 Penatalaksanaan

1. Tindakan penanggulangan darurat

a. Berupa tindakan resusitasi untuk memperbaiki sistem pernafasan dan

kardiovaskuler yang merupakan tindakan penyelamatan jiwa penderita.

b. Restorasi keseimbangan cairan dan elektrolit.

c. Pencegahan infeksi dengan pemberian antibiotika.

d. Pemberian analgetik harus dipertimbangkan karena dapat menghilangkan gejala

akut abdomen

2. Tindakan penanggulangan

a. Penyelamatan jiwa penderita dengan menghentikan sumber perdarahan.

b. Meminimalisasi cacat yang mungkin terjadi dengan cara :

- Menghilangkan sumber kontaminasi.

- Meminimalisasi kontaminasi yang telah terjadi dengan membersihkan rongga

peritoneum.

- Mengembalikan kontinuitas passage usus dan menyelamatkan sebanyak

mungkin usus yang sehat untuk meminimalisasi cacat fisiologis.

Tindakan untuk mencapai tujuan ini berupa laparotomi yaitu operasi dengan membuka

rongga abdomen, sehingga harus segera dirujuk ke pelayanan kesehatan yang memiliki

spesialis bedah agar akut abdomen dapat ditanggulangi dengan segera.


16

2.1.9 Pathway

Idiopatik Makan tidak Kerja fisik


teratur yang berat

Massa keras feses

Obstruksi Lumen

Supplai aliran darah menurun

Mukosa terkikis

 Perforasi
 Abses
Peradangan Pada Appendiks Distensi Abdomen
 Peritonitis

Nyeri Akut

Appendiktomy Pembatasan intake Menekan Gaster


cairan

Insisi bedah Peningkatan Produksi HCL

Mual, muntah
Nyeri Akut

Resiko
Resiko Infeksi
Hipovolemia

Gangguan Defisit nutrisi


Pola Tidur
17

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan

2.2.1 Pengkajian
Menurut (Tugas Mandiri Stase Praktek Keperawatan Anak, 2019) dan (HIDAYAT,

2020), (Sidiq et al., 2016) Pengkajian yang dilakukan pada anak dengan nyeri abdomen adalah

sebagai berikut:

1. Identitas klien

Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan,

pekerjaan, alamat, nomor register.

2. Keluhan Utama

Apakah pasien mengalami mual-muntah , keadaan umum lemah

3. Riwayat Kehamilan dan Persalinan

Kaji riwayat prenatal, natal, neonatal, postnatal

4. Riwayat Kesehatan Keluarga

Apakah keluarga pernah mengalami penyakit yang sama atau penyakit lainnya.

5. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan

Pada proses tumbuh kembang anak setiap individu akan mengalami siklus yang berbeda-

berbeda. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

pada anak menurut (Hidayat, 2012) dalam (Egziabher & Edwards, 2013) diantaranya :

a. Faktor Herediter

Faktor herediter adalah faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar untuk

mencapai tumbuh kembang anak jika dibandingkan dengan faktor lain. Faktor ini

terdiri dari bawaan atau kelainan genetik dan kromosom dari ayah dan ibu, jenis

kelamin, ras, dan suku bangsa. Kelainan genetik dan kromosom pada ayah dan ibu

akan menjadi pengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan bayi. Faktor herediter

ditentukan dengan intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel telur, tingkat
18

sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas, dan berhentinya

pertumbuhan tulang.

b. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan juga memegang peran penting dalam menentukan tercapainya

potensi yang sudah dimilki anak. Adapun yang termasuk faktor lingkungan yaitu

lingkungan pranatal dan lingkungan postnatal

1) Lingkungan pranatal

Lingkungan pada saat dalam kandungan, mulai dari konsepsi hingga lahir

yang meliputi gizi sewaktu ibu hamil, lingkungan mekanis seperti posisi janin

dalam uterus, zat-zat kimia atau toxin seperti pengguna obat-obatan atau

alkohol, kebiasaan ibu yang mungkin merokok saat hamil, hormonal seperti

adanya hormone somatrotopin, plasenta, tiroid, insulin dan lain-lain yang

mempengaruhi pertumbuhan janin. Selain itu adanya tekanan mekanik pada

beberapa organ tubuh janin dan pemberian radiasi juga dapat menyebabkan

kelainan bawaan.

2) Lingkungan postnatal

Lingkungan setelah lahir yang mempengaruhi tumbuh kembang anak

seperti misalnya, budaya lingkungan, status sosial ekonomi, nutirisi,

iklim/cuaca, olahraga/latihan fisik, posisi anak dalam keluarga, dan status

kesehatan.

c. Faktor Hormonal

Faktor hormonal yang berperan penting dalam tumbuh kembang anak antara

lain: hormon somatrotopin yang memiliki peran dalam mempengaruhi pertumbuhan

tinggi badan, hormon tiroid yang menstimulasi metabolisme tubuh, sedangkan


19

glukokortikoid mempunyai fungsi menstimulasi pertumbuhan sel interstisal dari

testis untuk memproduksi testosteron dan ovarium untuk memproduksi esterogen,

selanjutnya hormon tersebut akan menstimulsi seks pada laki-laki maupun

perempuan.

d. Faktor Pendidikan orang tua

Pendidikan orang tua juga merupakan salah satu faktor yang pening dalam
tumbuhbkembang anak. Karena dengan pendidikan yang baik, maka orang tua dapat
menerima segalabinformasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang
baik dan bagaimana menjaga kesehatan anaknya
6. Riwayat Imunisasi
Kaji riwayat imunisasi apakah lengkap atau tidak

Pemberian Selang Umur


Vaksin Dosis Waktu Cara Pemberian
Imunisasi Pemberiaan Pemberiaan

0,05 Intrakutan tepat di


BCG 1 kali cc 0-11 bulan insersio muskulus
deltoideus kanan.

0,5 Intramuskular.
DPT 3 kali 4 minggu 2-11 bulan
cc

2tetes Di teteskan ke
Polio 4 kali 4 minggu 0-11 bulan
mulut.

0,5 Subkutan,
Campak 1 kali cc 4 minggu 9-11 bulan biasanya di lengan
kiri atas.

Hepatitis 0,5 Intrmuskular pada


3 kali 4 minggu 0-11 bulan
B cc paha bagian luar.

0,5 Intramuskulus
TT 3 kali
cc
20

7. Kebutuhan Dasar:
a. Pola nutrisi: Pola nutrisi klien mengalami anorexia ditandai dengan porsi makantidak

dihabiskan. Kaji frekwensi pola jenis diit dan gangguan pola eliminasi dihabiskan

b. Pola eliminasi: Mengalami gangguan BAB karena massa keras feses dan rasa nyeri

c. Kebersihan diri: Perawat dan keluarga bayi harus menjaga kebersihan terutama saat

BAB dan BAK.

d. Pola tidur: Biasanya terganggu karena bayi mengalami nyeri akut

8. Pemeriksaan Fisik:
1. Pada pemeriksaan fisik perlu diperhatikan keadaan umum wajah, denyut nadi,

pernapasan, dan suhu badan.

2. Kaji Nyeri

Menurut (Günthardt et al., 2018) pada masalah nyeri (gangguan rasa nyaman)

yang dapat dilakukan adalah adanya riwayat nyeri; keluhan nyeri seperti lokasi nyeri,

intensitas nyeri, kualitas dan waktu serangan. Pengkajian dapat dilakukan dengan

cara PQRST :

a. P (pemacu), yaitu faktor yang mempengaruhi gawat atau ringannya nyeri.

b. Q (quality) dari nyeri, seperti apakah rasa tajam, tumpul, atau tersayat.

c. R (region), yaitu daerah perjalanan nyeri.

d. S (severity) adalah keparahan atau intensitas nyeri.

e. T (time) adalah lama / waktu serangan atau frekuensi nyeri.

Untuk pengkajian nyeri pada anak usia 2-7 tahun :


21

9. Tanda Pemeriksaan Fisik Pada berbagai gambaran Gawat Abdomen

Keadaan Tanda Klinis Penting


Awal perforasi saluran cerna Perut tampak cekung
atau saluran lain (awal) tegang bunyi usus
kurang aktif (lanjut) pekak
hati hilang nyeri tekan
defans muskuler
Peritonitis Penderita tidak bergerak
bunyi usus hilang (lanjut)
nyeri batuk nyeri gerak
nyeri lepas
defans muskuler tanda
infeksi umum keadaan
umum merosot
Massa, infeksi atau Massa nyeri (abdomen
abses pelvis rektal) nyeri tinju
uji lokal (psoas) tanda
umum radang
Obstruksi Usus Distensi perut;peristalsis
hebat (kolik usus) yang
tampak di dinding perut
terdengar (borborigmi)
ileus paralitik Perdarahan
dan terasa (oleh penderita
yang bergerak); tidak ada
rangsangan peritoneum
Ileus paralitik Distensi bunyi peristalsis
kurang atau hilang tidak
ada nyeri tekan lokal. Pada
iskemia strangulasi
distensi tidak jelas (lama)
22

bunyi usus mungkin ada


nyeri hebat sekali nyeri
tekan kurang jelas jika
kena usus mungkin keluar
darah dari rektum tanda
toksis
Perdarahan Pucat syok mungkin
distensi berdenyut jika
aneurisma aorta nyeri
tekan lokal pada
kehamilan ektopik cairan
bebas (pekak geser)
23

a. Inspeksi abdomen

Inspeksi abdomen dilakukan dengan teliti. Posisi tidur pasien dan apakah pasien

tetap merasakan nyeri pada posisi supine dan berusaha untuk berada pada posisi tertentu

untuk menghindari nyeri merupakan hal penting untuk menentukan penyebab dari akut

abdomen tersebut. Pasien dengan peritonitis cenderung untuk imobilitas dan terus merasa

kesakitan perubahan posisi akan merangsang peritoneumnya dan meningkatkan nyeri

abdomennya

b. Palpasi abdomen

Dilakukan dengan hati-hati untuk menentukan lokasi nyeri jika nyeri tersebut

terlokalisir. Melalui palpasi dapat ditentukan adanya nyeri tekan nyeri lepas dan adanya

massa. Adanya nyeri lepas lebih mengarah kepada suatu peritonitis. Lokasi nyeri

abdomen ber"ubungan dengan penyebab dari nyeri tersebut. 'eberapa tanda sering

digunakan sebagai patokan adanya etiologi dari nyeri abdomen tersebut. Tanda Murphy

berupa nyeri tekan pada perut kanan atas pada saat inspirasi sensitif untuk kolesistitis

akut tetapi pemeriksaan ini tidak spesifik. Nyeri tekan dan nyeri lepas disertai rigiditas

pada daerah Mc Burney yaitu pada perut kanan bawa" sensiti+e untuk suatu apendisitis

akut.

c. Auskultasi abdomen

Auskultasi bising usus yang didengar cukup bervariasi tergantung penyebab dari

akut abdomen tersebut. Pada ileus paralitik atau peritonitis umum bising usus tidak

terdengar sedang pada obstruksi usus bising usus akan meningkat dan kadang kala kita

mendengar Metallic’s sound. Adanya suara bruit pada saat auskultasi menunjukkan
24

kelainan vaskuler tetapi pada pasien yang kurus kita bias mendengar bruit pada daerah

epigastrium yang berasal dari aorta abdominalis

Pemeriksaan Fisik (B1-B6):

1. Breathing (pernapasan): Biasanya ditandai dengan napas pendek dispnea, ditandai

dengan takipne dan frekuensi napas menurun.

2. Blood (Sirkulasi/kardio): Terdapat takikardi, perubahan perfusi ditandai dengan

turgor buruk, kulit pucat.

3. Brain (persarafan): Kesadaran composmentis–coma refleks menurun

4. Blader (perkemihan): Oliguria, inkontenensia, penurunan jumlah urin akibat

kurangnya intake cairan, dehidrasi.

5. Bowel (pencernaan): Ditandai dengan anoreksia, mual, muntah, penurunan BB, tidak

toleran terhadap diet, kehilangan nafsu makan, feses bervariasi dari bentuk lunak

sampai keras, diare, feses berdarah, menurunnya bising usus.

6. Bone (muskuloskeletal): Penurunan kekuatan otot, kelemahan, dan malaise.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen pencedera Fisiologis (SDKI D.0077

Kategori Psikologis Subkategori Nyeri dan Keamanan)

2. Defisit Nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan (SDKI

D.0019 Kategori Fisiologis Subkategori Nutrisi dan Cairan)

3. Risiko Infeksi berhubungan dengan Efek prosedur invasive (SDKI D.0142 Kategori

lingkungan Subkategori Keamanan dan Proteksi)

4. Risiko Hipovolemia berhubungan dengan Kekurangan intake cairan (SDKI D.0034

Kategori Fisiologis Subkategori Nutrisi dan Cairan)


25

5. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan Kurang Kontrol Tidur (SDKI D.0055
Kategori Fisiologis Subkategori Aktivitas/Istirahat)
26

2.2.3 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi


1 Nyeri Akut b/d Agen Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
keperawatan selama 3x24jam maka frekuensi, kualitas, skala, dan intensitas
Pencedera Fisiologis
tingkat nyeri menurun nyeri
Kriteria Hasil : 2. Kontrol lingkungan yang memperberat
a. Keluhan nyeri menurun rasa nyeri (mis. suhu ruangan,
b. Kemampuan menggunakan pencahayaan, kebisingan)
teknik non-farmakologis 3. Anjurkan memonitor nyeri secara
meningkat mandiri
c. Penggunaan analgesik menurun 4. Ajarkan teknik nonfarmakologis (mis.
d. Melaporkan tingkat nyeri tarik nafas dalam, terapi musik)
meningkat 5. Kolaborasi pemberian analgesik
6. Monitor efek samping penggunaan
(SLKI 2018, L.08066, Hal 145) analgesik
7. Fasilitasi istirahat dan tidur

(Manajemen Nyeri, SIKI 2018, I.08238)

2 Defisit Nutrisi b/d Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi status nutrisi


keperawatan selama 3x24jam maka 2. Identifikasi alergi dan intoleransi
ketidakmampuan
status nutrisi membaik makanan
mencerna makanan Kriteria Hasil : 3. Monitor asupan makanan
a. Porsi makanan yang dihabiskan 4. Berikan makanan tinggi kalori dan
meningkat tinggi protein
b. Perasaan cepat kenyang 5. Ajarkan diet yang diprogramkan
meningkat 6. Kolaborasi dengan ahli gizi
c. Nyeri abdomen menurun
d. Berat badan meningkat (Manajemen Nutrisi, SIKI 2018, I.03119,
e. Indeks Masa Tubuh (IMT) Hal. 200)
meningkat.

(SLKI 2018, L.030030, Hal 121)


27

3 Resiko Infeksi b/d Efek Setelah dilakukan intervensi 1. Monitor tanda dan gejala infeksi lokal
keperawatan selama 3x24 jam, maka dan sistemik
prosedur invasif
resiko infeksi menurun 2. Berikan perawatan kulit pada area
Kriteria Hasil : oedem
a. Demam menurun 3. Pertahankan teknik antiseptik pada
b. Kemerahan menurun pasien yang berisiko tinggi
c. Nyeri menurun 4. Jelaskan tanda dan gejalan infeksi
d. Oedem menurun 5. Ajarkan mencuci tangan dengan benar
e.
(Pencegahan Infeksi, SIKI 2018, I.14539,
(SLKI 2018, L.14137) Hal.278)

4 Resiko Hipovolemia b/d Setelah dilakukan intervensi 1. Periksa tanda dan gejala hipovolemia
keperawatan selama 3x24 jam, maka 2. Monitor intake dan ouput cairan
Kekurangan Intake Cairan
termoregulasi membaik 3. Hitung kebutuhan cairan
Kriteria Hasil : 4. Anjurkan memperbanyak asupan cairan
a. Kekuatan nadi meningkat oral
b. Turgor kulit membaik 5. Kolaborasi pemberian cairan IV
c. Output urine membaik isotonis (mis. NaCl, RL)
d. Frekuensi nadi meningkat
e. Membran mukosa membaik (Manajemen Hipotermia, SIKI 2018,
I.14507, Hal.183)
(SLKI 2018, L.03028, Hal.107)

5 Gangguan Pola Tidur b/d Setelah dilakukan intervensi 1. Identifikasi pola aktivitas tidur
keperawatan selama 3x24 jam, maka 2. Identifikasi faktor pengganggu tidur
Kurang Kontrol Tidur
pola tidur membaik 3. Modifikasi lingkungan
Kriteria Hasil : 4. Fasilitasi menghilangkan stress dalam
a. Kesulitan tidur menurun tidur
b. Keluhan sering terjaga menurun 5. Anjurkan menepati jadwal tidur
c. Keluhan tidak puas tidur
menurun (Dukungan Tidur, SIKI 2018, I.05174,
d. Keluhan pola tidur berubah Hal. 48)
menurun
28

(SLKI 2018, L.05045, Hal.96)


29

2.2.2 Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan adalah tindakan keperawatan yang penulis lakukan

kepada pasien sesuai dengan intervensi, sehingga kebutuhan pasien dapat terpenuhi

(Günthardt et al., 2018)

2.2.3 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan adalah tindakan intelektual untuk memperbaiki proses

keperawatan yang menandakannseberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan

dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi perawat untuk memonitor

kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan

tindakan keperawatan (Nursalam, 2010) dalam (Günthardt et al., 2018)


30

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK/BAYI

Ruangan : D2
Diagnosamedis : Acute Abdomen
No register : [Link]
Tgl/jam MRS :14 april 2021, pukul 18.16 WIB
Tgl/jam pengkajian : 15 April, pukul 10.20 WIB

I. IDENTITAS ANAK
Nama :An. K
Umur/ :8 tahun
Jenis kelamin :Laki-laki
Agama : Islam
Anak ke :2
Jumlah saudara :2
Alamat :Surabaya

II. IDENTITAS ORANG TUA

Nama ayah : Tn. D Nama ibu : Ny. M


Umur : 35 tahun Umur : 33 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa Suku/bangsa : Jawa
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Surabaya Alamat : Surabaya
31

III. KELUHAN UTAMA


Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya sering mengeluh nyeri pada bagian perut seperti
ditusuk-tusuk

IV. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pada tanggal 1 April 2021, pasien mengeluh nyeri perut dan ibu pasien mengatakan bahwa
pada saat itu mata anaknya berwarna kuning yang berbeda dengan warna mata pada
umumnya. Keluarga segera membawakan pasien ke puskesmas terdekat dan pada saat di
puskesmas, dokter yang memeriksa pasien menyarankan kepada keluarga untuk dirujuk ke
RS Haji Surabaya dan pasien dirawat selama 5 hari di rumah sakit tersebut. Setelah 5 hari,
pasien sudah diperbolehkan untuk KRS dan melakukan kontrol rutin. Namun, pada tanggal
14 April 2021 sekitar siang hari, pasien mengatakan bahwa perutnya nyeri seperti ditusuk-
tusuk dan mengalami muntah lalu keluarga membawa pasien ke IGD RSPAL Dr. Ramelan
Surabaya. Pada saat di IGD RSPAL Dr. Ramelan, pasien dilakukan anamnesa dan
observasi TTV dan didapatkan GCS E4V5M5, suhu tubuh 36,7oC , nadi 110x/menit, RR
24x/menit. Setelah itu pasien dipindahkan ke ruang rawat inap D2 dan dilakukan anamnesa
serta observasi TTV oleh perawat ruangan dan didapatkan GCS E4V5M6, suhu 36,3oC ,
nadi 112x/menit, RR 24x/menit, dan SPO2 98%.

V. RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN


A. Prenatal Care:
Riwayat kehamilan dan persalinan, ibu pasien mengatakan bahwa semasa hamil ia rutin
memeriksakan kehamilannya di klinik dekat rumahnya setiap bulan sesuai dengan
jadwalnya. Ny. M dengan G2P2A0, anak pertama berjenis kelamin perempuan dan
anak kedua yaitu An. K berjenis kelamin laki-laki. Ny. M mengatakan bahwa kedua
anaknya dilahirkan secara normal.

B. Natal Care:
Ny. M melahirkan anak keduanya di salah satu rumah sakit di kota Surabayadengan
berat badan lahir 3,2 kg.
32

C. Post Natal Care:


Ny. M mengatakan bahwa pada saat post-natal, bayinya tampak sehat dan menangis
dengan kencang.

VI. RIWAYAT MASA LAMPAU


A. Penyakit-Penyakit Waktu Kecil
Ny. M mengatakan bahwa anaknya tidak mempunyai riwayat penyakit waktu kecil.

B. Pernah Dirawat Di Rumah Sakit


Ny. M mengatakan bahwa anaknya pernah dirawat di rumah sakitnamun pada saat
dirawat di rumah sakit tersebut tidak menunjukkan perbaikan sehingga dirujuk ke
RSPAL Dr. Ramelan.

C. Penggunaan Obat-Obatan
Selama di rumah sakit, pasien mendapatkan terapi infus D5 ½ 1000cc/24jam, injeksi
cinam 4x500mg, injeksi ondan 3x3mg, PO flumucil 3x100mg, PO curcuma tab 3x1,
dan PO Urdafak 3x1 (200mg).

D. Tindakan (Operasi Atau Tindakan Lain)


Ny. M mengatakan bahwa anaknya tidak pernah mendapatkan tindakan operasi
E. Alergi
Ny. M mengatakan bahwa anaknya tidak ada alergi terhadap obat, makanan maupun
yang lainnya.
F. Kecelakaan
Ny. M mengatakan bahwa tidak pernah mengalami kecelakaan
G. Imunsasi
Ny. M mengatakan bahwa anaknya telah melakukan imunisasi dasar secara lengkap.
33

VII. PENGKAJIAN KELUARGA


A. Genogram (sesuai dengan penyait)

Keterangan:

: Meninggal

: Perempuan
: Laki – laki
: Pasien / klien
: Menikah

: Tinggaldalamserumah

B. Psikososial keluarga :
Ny. M mengatakan bahwa ia sedih dan khawatir dengan kondisi yang dialami oleh
anaknya namun Ny. M selalu berusaha untuk menyembunyikan perasaannya dari
anaknya agar anaknya cepat sembuh dan semangat dalam menghadapinya.

VIII. RIWAYAT SOSIAL


A. Yang Mengasuh Anak
An. K diasuh oleh orang tuanya sendiri (Ny. M dan Tn. D)

IX. KEBUTUHAN DASAR


A. Pola Nutrisi
(makanan yang disukai / tidak, selera, alat makan, jam makan, dsb)
An. K mendapatkan asupan nutrisi dari ahli gizi sesuai dengan kondisinya.
B. Pola Tidur
34

(kebiasaan sebelum tidur, perlu dibacakan cerita, benda-benda yang dibawa tidur)
Pola tidur An. K cukup baik akan tetapi jika perutnya terasa nyeri maka An. K
terbangun dari tidurnya.
C. Pola Aktivitas/Bermain
An. K aktif dalam bergerak dan biasanya pada pagi hari, An. K selalu berjemur di
pinggir jendela dekat kamarnya
D. Pola Eliminasi
Pola eliminasi urin An. K selama rawat inap di rumah sakit sebanyak 1500cc dengan
warna urine kuning pekat dan berbau khas. Untuk eliminasi feses, An. K belum bisa
BAB sehingga dokter menyarankan kepada keluarga dan An. K untuk melakukan jalan-
jalan ringan agar dapat BAB.

X. KEADAAN UMUM (PENAMPILAN UMUM)


A. Cara Masuk
An. K datang ke IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya pada tanggal 14 April 2021
dengan keluhan bahwa perutnya nyeri seperti ditusuk-tusuk dan mengalami muntah lalu
pasien dilakukan anamnesa dan observasi TTV dan didapatkan GCS E4V5M5, suhu
tubuh 36,7oC , nadi 110x/menit, RR 24x/menit, dan SPO2 98%. Lalu setelah itu pasien
dipindahkan ke ruang rawat inap D2 dan dilakukan anamnesa serta observasi TTV oleh
perawat ruangan dan didapatkan GCS E4V5M6, suhu 36,3oC , nadi 112x/menit, RR
24x/menit, dan SPO2 98%.

B. Keadaan Umum
Keadaan umum An. K pada saat datang ke IGD terlihat lemah, pucat dan seringkali
terlihat memegangi perutnya.

XI TANDA-TANDA VITAL
.
Suhu/nadi
: 36,3oC / 112x/menit
RR
: 24x/menit
BB
: 20 kg
35

XII. PEMERIKSAAN FISIK (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi)


a. Pemeriksaan Kepala Dan Rambut
Kepala berbentuk bulat, rambut hitam, dan bersih.
b. Mata
Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik
c. Hidung
Bentuk hidung normal, tidak terdapat polip, dan tidak terjadi perdarahan pada hidung
(epistaksis).
d. Telinga
Telinga tampak bersih, tidak ada serumen, dan tidak ada perdarahan pada telinga
e. Mulut Dan Tenggorokan
Pada mulut dan tenggorokan An. K didapatkan mukosa bibir lembabdan tidak ada
pembesaran kelenjar thyroid.
f. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan kelenjar tiroid.
g. Pemeriksaan Thorax/Dada
Paru-Paru
Inspeksi: Normal
Palpasi: 24x/menit
Perkusi: Sonor
Auskultasi: Vesikuler

Jantung
Inspeksi : tidak tampak ictus cordi
Palpasi : tidak ada pembesaran jantung
Perkusi : Pekak
Auskultasi : Bunyi jantung S1 S2 reguler

i. Pemeriksaan Kelamin Dan Daerah Sekitarnya (Genetalia Dan Anus)


An. K berjenis kelamin laki-laki dan daerah sekitar alat kelaminnya terlihat bersih.
36

j. Pemeriksaan Muskuloskeletal
Pada pemeriksaan muskuloskeletal atas dan bawah tidak terdapat oedem, tidak ada tanda-
tanda phlebitis.
k. Pemeriksaan Integumen
Kulit An. K berwarna sawo matang, akral hangat, kering dan merah (HKM), turgor kulit
baik, tidak terdapat sianosis dan tidak ada oedem.

XIII. TINGKAT PERKEMBANGAN


A. Adaptasi sosial
An. K dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan baik di lingkungan yang baru.
B. Bahasa
Setiap hari An. K memakai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
C. Motorik halus
An. K dapat menyelesaikan tugas tumbuh kembangnya terutama motorik halus dengan baik
seperti menulis, menggambar, mewarnai, memotong, menyusun puzzle dan lainnya.
D. Motorik kasar
An. K dapat menyelesaikan tugas tumbuh kembangnya terutama motorik kasar dengan baik
seperti berdiri, duduk, berjalan, menendang dan naik turun tangga.

XIV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. Laboratorium
Tanggal pemeriksaan 15 April 2021/09.30 WIB
Parameter Result Unit Ref Ranges

HEMATOLOGI
WBC 11.2 10^3/µL 4.0-10.0
RBC 3.6 10^6/µL 3.5-5.5
PCT 0.452 % 0.108-0.5
HB 14 g/dL 14-18
BLR 3.0 mg/dL 0,3-1,0
37

B. Rontgent
Hasil foto Thoraks 16 April 2021
Cor : tak tampak kelainan
Pulmo : tak tampak kelinan
Kesimpulan :
Cor dan Pulmo tak tampak kelainan
BOT tak tampak kelainan

C. Teraphy
Terapi Dosis Cara Pemakaian
Ds ½ Ns 1000 u/24 jam Infus
Cinam 4x500mg Injeksi
Ondan 3x3mg Injeksi
Ranitidine 2x20mg Injeksi
Curcuma tab 3x1 Oral
Urdafak 3x1 (200mg) Injeksi
38

A. ANALISA DATA

No Data Penyebab Masalah


1. Ds : Agen Pencedera Fisiologis Nyeri Akut
- Ibu pasien mengatakan bahwa
SDKI, 2016
anaknya seringkali merasakan D.0077
nyeri pada perutnya Kategori : Psikologis
Subkategori : Nyeri
P : Pasien mengatakan dan Kenyamanan
perutnya seperti ditusuk-tusuk Hal. 172
Q : Pasien mengatakan
perutnya seperti tertusuk
benda tajam
R : Perut
S : Skala 7
T : Pasien mengatakan nyeri
hilang timbul

Do :
- Pasien tampak gelisah
- Pasien tampak menahan nyeri
saat bergerak
- Suhu : 36,4oC
RR : 22x/menit
Nadi : 112x/menit
2. Ds : Distensi Lambung Nausea
- Ibu pasien mengatakan
anaknya tidak mau makan SDKI, 2016
D.0076
karena sering mengalami mual
Kategori : Psikologis
- Ibu mengatakan anaknya Subkategori : Nyeri
dan Kenyamanan
mengalami mual 2x dalam
Hal. 170
sehari

Do :
39

- Pasien tampak lemah


- Pasien tampak mual
- Bibir pasien terlihat pucat
- Akral teraba hangat
- BB : 20kg
RR : 22x/menit
Suhu : 36,4oC
3. Ds : Faktor Psikologis (Mis. Defisit Nutrisi
- Ibu pasien mengatakan bahwa Keengganan untuk makan)
SDKI, 2016
nafsu makan anak menurun D.0019
Kategori : Fisiologis
- Ibu pasien mengatakan perut
Subkategori : Nutrisi
anaknya terasa nyeri dan Cairan
Hal.56
- Ibu pasien mengatakan
anaknya sering merasa cepat
kenyang

Do :
- Suhu : 36,3oC
RR : 22x/menit
BB : 20kg
- Pasien tampak lemah
- Pasien tampak pucat
4 Ds : Kurang Kontrol Tidur Gangguan Pola Tidur
- Ibu pasien mengatakan
anaknya sulit tidur nyenyak SDKI, 2016
D.0055
- Ibu pasien mengatakan
Kategori : Fisiologis
kebiasaan tidur anaknya Subkategori : Aktivitas
dan Istirahat
berubah tidak seperti biasanya
Hal. 126

Do :
- Pasien tampak gelisah
- Mata pasien tampak menahan
kantuk
- Nadi : [Link]
40

RR : 22x/menit
TTD : 110/70mmHg
41

PRIORITAS MASALAH

Nama Klien : An. K Ruangan/Kamar : D2 / 3A


Umur : 8 tahun No. RM : [Link]

Tanggal
No Masalah Keperawatan Paraf
Ditemukan teratasi
1 Nyeri Akut b/d Agen 14-04-2021 1C
Pencedera Fisik

2 Nausea b/d Distensi Lambung 14-04-2021 1C

3 Defisit Nutrisi b/d Faktor 14-04-2021 1C


Psikologis

4 Gangguan Pola Tidur b/d 14-04-2021 1C


Kurang Kontrol Tidur
42

INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi


1 Nyeri Akut Setelah dilakukan intervensi 1. Identifikasi lokasi, karakteristik,
b/d Agen keperawatan selama 3x24 jam, durasi, frekuensi, kualitas, skala,
Pencedera maka tingkat nyeri menurun dan intensitas nyeri
Fisiologis Kriteria Hasil : 2. Kontrol lingkungan yang
a. Keluhan nyeri menurun memperberat rasa nyeri (mis. suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
(SDKI 2016, b. Frekuensi nadi membaik
3. Anjurkan memonitor nyeri secara
D.0077, Hal. c. Nafsu makan membaik mandiri
172) d. Pola tidur membaik 4. Ajarkan teknik nonfarmakologis
(mis. tarik nafas dalam, terapi
(Tingkat Nyeri, SLKI 2018, musik)
L.08066, Hal 145) 5. Kolaborasi pemberian analgesik
6. Monitor efek samping penggunaan
analgesik
7. Fasilitasi istirahat dan tidur

(Manajemen Nyeri, SIKI 2018,


I.08238)

2 Nausea b/d Setelah dilakukan intervensi1. Identifikasi pengalaman mual


Distensi keperawatan selama 3x24 jam,2. Identifikasi dampak mual (mis.
Lambung maka tingkat nausea menurun nafsu makan, aktivitas, dan
Kriteria Hasil : tidur)
(SDKI 2016, a. Keluhan mual menurun 3. Identifikasi faktor penyebab
D.0076, Hal. b. Perasaan ingin muntah mual (mis. pengobatan dan
170) menurun prosedur)
c. Nafsu makan meningkat 4. Monitor mual (mis. frekuensi,
d. Pucat membaik durasi, dan tingkat keparahan)
5. Berikan makanan dalam jumlah
(Tingkat Nausea, SLKI 2018, kecil dan menarik
L.08065, Hal.144) 6. Ajarkan teknik
nonfarmakologis (is. Relaksasi,
terapi musik)
7. Kolaborasi pemberian
antiemetik, jika perlu

(Manajemen Mual, SIKI 2018,


I.03117, Hal.197)
43

3 Defisit Nutrisi Setelah dilakukan intervensi 1. Identifikasi status nutrisi


b/d Faktor keperawatan selama 3x24 jam, 2. Identifikasi alergi dan intoleransi
Psikologis maka status nutrisi membaik makanan
Kriteria Hasil : 3. Monitor asupan makanan
(SDKI 2016, a. Indeks Massa Tubuh 4. Berikan makanan tinggi kalori dan
D.0019, Hal.56) tinggi protein
membaik
5. Ajarkan diet yang diprogramkan
b. Frekuensi makan membaik 6. Kolaborasi dengan ahli gizi
c. Nafsu makan membaik
d. Perasaan cepat kenyang (Manajemen Nutrisi, SIKI 2018,
menurun I.03119, Hal. 200)
e. Porsi makanan yang
dihabiskan meningkat

(Status Nutrisi, SLKI 2018,


L.03030, Hal.121)

4 Gangguan Pola Setelah dilakukan intervensi 1. Identifikasi pola aktivitas tidur


2. Identifikasi faktor pengganggu
Tidur b/d keperawatan selama 2x24 jam,
maka pola tidur membaik tidur
Kurang Kontrol Kriteria Hasil : 3. Modifikasi lingkungan
a. Kesulitan tidur menurun 4. Fasilitasi menghilangkan stress
Tidur
b. Keluhan sering terjaga dalam tidur
menurun 5. Anjurkan menepati jadwal tidur
(SDKI 2016, c. Keluhan tidak puas tidur
D.0055, Hal. menurun (Dukungan Tidur, SIKI 2018,
126) d. Keluhan pola tidur berubah I.05174, Hal. 48)
menurun

(Pola Tidur SLKI 2018,


L.05045, Hal. 96)
44

TINDAKAN KEPERAWATAN DAN CATATAN PERKEMBANGAN

NAMA KLIEN : An. K Ruangan / kamar : D2 / 3B

UMUR : 8 Tahun No. Register : 00-00-XX-XX-XX

No Tgl Tindakan TT Tgl Catatan Perkembangan TT


Dx Jam Perawat Jam Perawat
15 15
April April
2021 2021
1 10.20 Memonitor lokasi dan skala nyeri N.I 14.00 Dx 1 S : Pasien mengatakan masih nyeri N.I
P : Saat di buat bergerak dan ditekan pada perutnya
Q : Seperti tertusuk benda tajam P : Saat di buat bergerak dan
R : Perut ditekan
S : Skala 7 Q : Seperti tertusuk benda tajam
T : Hilang timbul R : Perut
Tensi : 110/70 mmHg S : Skala 7
o
Suhu/nadi : 112 x/menit, S : 36,4 C T : Hilang timbul
RR : RR : 22x/menit O:
TB/BB : 100 Cm / 20 Kg - TD : 110/70 mmHg
3 10.25 Memonitor asupan makan - Pasien tampak menahan nyeri
Pasien nafsu makan menurun dan mudah saat di buat bergerak
45

kenyang - Pasien gelisah terhadap nyeri


3 10.35 Memberikan makanan tinggi kalori A.F A : Masalah belum teratasi
dan protein P : Intervensi dilanjutkan
Pasien mendapatkan menu diit khusus mengontrol rasa nyeri pada pasien
yang memiliki tinggi kalori dan protein
2 10.45 Mengidentifikasi saat tingkat ansietas I.W
berubah 14.00 Dx 2 S : Ibu pasien mengatakan tidak I.R
Pasien memiliki ansietas yang cukup nafsu makan karena sering mual
karena takut terhadap penyakit yang di O:
deritanya - TD : 110/70 mmHg
2 10.50 Memotivasi mengidentifikasi situasi A.S - Bibir pasien pucat
yang memicu kecemasan - Pasien tampak mual
Pasien tampak sedikit tenang ketika - BB : 20 Kg
diberikan motivasi - RR : 22x/menit
3 10.55 Menganjurkan posisi duduk yang I.M A : Masalah belum teratasi
nyaman P : intervensi dilanjutkan untuk
Pasien saat makan selalu duduk mengurangi rasa mual pada pasien
1,4 11.00 Memfasilitasi istirahat dan tidur N.M
Ketika tidur pasien tidak merasakan
nyeri yang hebat dan gangguan tidur
akibat nyeri pasien
46

1,2,4 11.30 Mengajarkan teknik non farmakologi I.N 14.00 Dx 3 S : Ibu pasien mengatakan tidak N.M
untuk mengurangi nyeri nafsu makan
Tarik nafas dalam dan rileks dapat O:
mengurangi nyeri mengurangi mual dan - TD : 110/70 mmHg
dapat mempercepat pola tidur pada N.I - Bibir pasien pucat
pasien - BB : 20 Kg
1 13.00 Memberikan obat hasil kolaborasi - RR : 22x/menit
pemberian analgetik N.M A : Masalah belum teratasi
Cinam IV 1x500 mg P : intervensi dilanjutkan
2 13.00 Memberikan obat hasil kolaborasi meningkatkan nafsu makan pada
pemberian antiemetik pasien
Ondancentron IV 1x3 mg
14.00 Dx 4 S : Ibu pasien mengatakan bahwa I.M
anaknya sulit untuk tidur dengan
nyenyak, karena nyeri yang
dirasakan pada pasien
O:
- TD : 110/70 mmHg
- Pasien tampak gelisah
- N : 112x/menit
- RR : 22x/menit
- Pasien tampak kesulitan tidur
47

A : Masalah belum teratasi


P : intervensi dilanjutkan
meningkatkan pola tidur pada pasien
16 16
April April
2021 2021
1 11.20 Memonitor lokasi dan skala nyeri N.I 15.00 Dx 1 S : Pasien mengatakan masih nyeri A.F
P : Saat di buat bergerak dan ditekan pada perutnya
Q : Seperti tertusuk benda tajam P : Saat di buat bergerak dan
R : Perut ditekan
S : Skala 5 Q : Seperti tertusuk benda tajam
T : Hilang timbul R : Perut
Tensi : 110/70 mmHg S : Skala 5
o
Suhu/nadi : 100 x/menit, S : 36,2 C T : Hilang timbul
RR : RR : 22x/menit O:
TB/BB : 100 Cm / 20 Kg - TD : 110/70 mmHg
3 11.25 Memonitor asupan makan - Pasien tampak mengontrol nyeri
Pasien nafsu makan sedikit menngkat saat di buat bergerak
dan awalnya hanya ¼ piring sekarang - Pasien dapat mengontrol
menjadi ½ piring habis A.F kegelisahan terhadap nyeri
3 11.35 Memberikan makanan tinggi kalori A : Masalah teratasi sebagian
dan protein
48

Pasien mendapatkan menu diit khusus P : Intervensi dilanjutkan


yang memiliki tinggi kalori dan protein I.W mengontrol rasa nyeri pada pasien
2 11.45 Mengidentifikasi saat tingkat ansietas
berubah
Pasien memiliki sedikit ansietas yang 15.00 Dx 2 S : Ibu pasien mengatakan mual I.W
cukup karena takut terhadap penyakit pada pasien sudah bisa terkontrol
yang di deritanya A.S sehingga makan pasien sedikit
2 11.50 Memotivasi mengidentifikasi situasi bertambah
yang memicu kecemasan O:
Pasien tampak lebih tenang ketika - TD : 110/70 mmHg
diberikan motivasi I.M - Bibir lembab
3 11.55 Menganjurkan posisi duduk yang - Pasien dapat mengontrol rasa
nyaman mual
Pasien saat makan selalu duduk N.M - BB : 20 Kg
1,4 12.00 Memfasilitasi istirahat dan tidur - RR : 22x/menit
Ketika tidur pasien tidak merasakan A : Masalah teratasi sebagian
nyeri yang hebat dan gangguan tidur P : intervensi dilanjutkan untuk
akibat nyeri pasien mengurangi rasa mual pada pasien
1,2,4 12.30 Mengajarkan teknik non farmakologi I.N
untuk mengurangi nyeri
Tarik nafas dalam dan rileks dapat
mengurangi nyeri mengurangi mual dan
49

dapat mempercepat pola tidur pada N.I 15.00 Dx 3 S : Ibu pasien mengatakan nafsu A.S
pasien makan pasien bertambah
1 14.00 Memberikan obat hasil kolaborasi O:
pemberian analgetik N.M - TD : 110/70 mmHg
Cinam IV 1x500 mg - Bibir lembab
2 14.00 Memberikan obat hasil kolaborasi - BB : 20 Kg
pemberian antiemetik - RR : 22x/menit
Ondancentron IV 1x3 mg A : Masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
meningkatkan nafsu makan pada
pasien

15.00 Dx 4 S : Ibu pasien mengatakan bahwa N.I


anaknya sulit untuk tidur dengan
nyenyak, karena nyeri yang
dirasakan pada pasien
O:
- TD : 110/70 mmHg
- Pasien tampak gelisah
- N : 100x/menit
- RR : 22x/menit
- Pasien tampak kesulitan tidur
50

A : Masalah belum teratasi


P : intervensi dilanjutkan
meningkatkan pola tidur pada pasien
17 17
April April
2021 2021
1 09.20 Memonitor lokasi dan skala nyeri N.I 13.00 Dx 1 S : Pasien mengatakan masih nyeri A.F
P : Saat di buat bergerak dan ditekan pada perutnya
Q : Seperti tertusuk benda tajam P : Saat di buat bergerak dan
R : Perut ditekan
S : Skala 3 Q : Seperti tertusuk benda tajam
T : Hilang timbul R : Perut
Tensi : 110/70 mmHg S : Skala 3
o
Suhu/nadi : 80 x/menit, S : 36 C T : Hilang timbul
RR : RR : 22x/menit O:
TB/BB : 100 Cm / 20 Kg - TD : 110/70 mmHg
3 09.25 Memonitor asupan makan - Pasien tampak mengontrol nyeri
Pasien nafsu makan sedikit menngkat saat di buat bergerak
dan awalnya hanya ¼ piring kemudian ½ - Pasien dapat mengontrol
piring dan sekarang 1 piring habis A.F kegelisahan terhadap nyeri
3 09.35 Memberikan makanan tinggi kalori A : Masalah teratasi sebagian
dan protein
51

Pasien mendapatkan menu diit khusus P : Intervensi dilanjutkan


yang memiliki tinggi kalori dan protein I.W mengontrol rasa nyeri pada pasien
2 09.45 Mengidentifikasi saat tingkat ansietas
berubah
Pasien memiliki sedikit ansietas yang 13.00 Dx 2 S : Ibu pasien mengatakan mual I.W
cukup karena takut terhadap penyakit pada pasien sudah bisa terkontrol
yang di deritanya A.S sehingga makan pasien sedikit
2 09.50 Memotivasi mengidentifikasi situasi bertambah
yang memicu kecemasan O:
Pasien tampak lebih tenang ketika - TD : 110/70 mmHg
diberikan motivasi I.M - Bibir lembab
3 09.55 Menganjurkan posisi duduk yang - Pasien dapat mengontrol rasa
nyaman mual
Pasien saat makan selalu duduk N.M - BB : 20 Kg
1,4 10.00 Memfasilitasi istirahat dan tidur - RR : 22x/menit
Ketika tidur pasien tidak merasakan A : Masalah teratasi sebagian
nyeri yang hebat dan gangguan tidur P : intervensi dilanjutkan untuk
akibat nyeri pasien mengurangi rasa mual pada pasien
1,2,4 10.30 Mengajarkan teknik non farmakologi I.N
untuk mengurangi nyeri
Tarik nafas dalam dan rileks dapat
mengurangi nyeri mengurangi mual dan
52

dapat mempercepat pola tidur pada N.I 13.00 Dx 3 S : Ibu pasien mengatakan nafsu I.M
pasien makan pasien bertambah habis
1 12.00 Memberikan obat hasil kolaborasi dalam 1 piring
pemberian analgetik N.M O:
Cinam IV 1x500 mg - TD : 110/70 mmHg
2 12.00 Memberikan obat hasil kolaborasi - Bibir lembab
pemberian antiemetik - BB : 20 Kg
Ondancentron IV 1x3 mg - RR : 22x/menit
A : Masalah teratasi
P : intervensi dihentikan

13.00 Dx 4 S : Ibu pasien mengatakan bahwa N.I


anaknya sudah bisa untuk tidur
dengan nyenyak, karena nyeri yang
dirasakan pada pasien sudah mulai
berkurang terkadang saja terbangun
karena nyeri sedikit saja
O:
- TD : 110/70 mmHg
- Pasien tampak gelisah
- N : 80x/menit
- RR : 22x/menit
53

- Pasien tidak tampak kesulitan


tidur
A : Masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
meningkatkan pola tidur pada pasien
54

BAB 4
PENUTUP
Kesimpulan
Akut abdomen atau nyeri akut abdomen adalah suatu kasus kegawatdaruratan
abdo- men yang dapat terjadi karena masalah bedah dan non bedah, ditandai dengan
keluhan nyeri abdomen yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 24
jam. Penyebab dari nyeri abdomen akut juga beraneka ragam bisa dari trauma
,mekanik,serta penyakit penyerta lainya.
Untuk pentalaksanaan dalam menangani penyakit tersebut dapat diberikan
tindakan resusitasi untuk memperbaiki sistem pernafasan dan kardiovaskuler yang
merupakan tindakan penyelamatan jiwa penderita, Pencegahan infeksi dengan
pemberian antibiotika dan Pemberian analgetik harus dipertimbangkan karena dapat
menghilangkan gejala akut abdomen.
55

Daftar Pustaka

HIDAYAT, E. (2020). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Appendicitis Yang Di


Rawat Di Rumah Sakit. In Jurnal Ilmiah Kesehatan. [Link]
[Link]/id/eprint/1066

Mananna, A., Tangel, S. J. C., & Prasetyo, E. (2021). Diagnosis Akut Abdomen akibat
Peritonitis. E-CliniC, 9(1), 33–39. [Link]

Sidiq, A., Aditya, I., & Sahrial, S. (2016). Asuhan Keperawatan Kolik Abdomen Dosen
Pembimbing : Nama Kelompok : Program S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Abdi Nusantara Jakarta TP 2015 / 2016.

Taufik, T. F., Darmawan, F., Kedokteran, F., Lampung, U., Bedah, B., Moeloek, R. H. A.,
Kedokteran, F., & Lampung, U. (2020). Laporan Kasus : Trauma Tusuk Abdomen Dengan
Eviserasi Usus Pada Anak Laki-laki Usia 16 Tahun Case Report : Abdomen Stab Wound
with Intestinal Eviseration in a 16 Year Old Boy. 9, 68–72.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (T. P. S. D. PPNI
(Ed.)). Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai