Asuhan Keperawatan Acute Abdomen Anak
Asuhan Keperawatan Acute Abdomen Anak
Disusun Oleh:
GERBONG 1 – KELOMPOK C
Disusun Oleh:
1. Ade Saputri 2030003
2. Alya Fatimatus 2030010
3. Ika Tantia 2030051
4. Intan Maulidia 2030054
5. Ivonnerose Nur A. 2030056
6. Narita Memory M. 2030075
7. Nofia Irawati 2030081
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Menyatakan bahwa makalah seminar ini yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada An. K
dengan diagnosa medis Acute Abdomen di Ruang D2 RSPAL Dr. Ramelan Surabaya” telah
disusun sesuai dengan buku panduan evaluasi praktik klinik keperawatan anak yang berlaku di
STIKes Hang Tuah Surabaya.
Mengetahui,
Pembimbing Institusi
iii
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmatnya dan karunianya. Penulis dapat menyelesaikan makalah seminar kasus dengan tepat
waktu. Penulisan makalah seminar kasus ini dibuat sebagai salah satu tugas dari Prodi Profesi di
Stikes Hang Tuah Surabaya. Makalah seminar kasus ini berjudul “Asuhan Keperawatan Pada
An. K Dengan Diagnosa Medis Acute Abdomen Di Ruang D2 RSPAL Dr. Ramelan Surabaya”.
Makalah seminar ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan praktek
klinik keperawatan anak. Makalah seminar ini disusun dengan memanfaatkan berbagai literatur
serta mendapatkan banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak, penulis menyadari
tentang segala keterbatasan kemampuan dan pemanfaatan literatur, sehingga makalah seminar ini
dibuat dengan sangat sederhana baik dari segi sistematika maupun isinya jauh dari sempurna.
Dalam kesempatan ini, perkenankanlah kelompok menyampaikan rasa terima kasih, rasa
hormat dan penghargaan kepada:
1. Ibu Dr. AV Sri Suhardiningsih, S, Kp., M. Kes selaku Ketua STIKES Hang Tuah Surabaya
yang telah memberikan kesempatan untuk praktek dengan memberikan kesempatan bagi
mahasiswa untuk belajar dan memperoleh ilmu.
2. Nuh Huda, [Link].,Ns.,[Link] selaku Kepala Program Pendidikan Profesi Ners
Keperawatan Stikes Hang Tuah Surabaya.
3. Ibu Dwi Ernawati [Link].,Ns.,[Link] selaku pembimbing institusi yang penuh kesabaran dan
perhatian memberikan saran, masukan, dan bimbingan demi penyusunan makalah seminar
kasus ini.
4. Ibu Dwi Kurniawati selaku pembimbing lahan praktik yang memberikan saran, masukan,
dan bimbingan kepada kami
5. Ibu Tri Susanawati selaku pembimbing lahan praktik yang memberikan saran, masukan, dan
bimbingan kepada kami
6. Teman teman Kelompok praktek Ruangan D2 yang telah membantu Support untuk
menyusun makalah seminar ini.
iv
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada laporan kasus ini.
Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat
membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan
makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah seminar ini dapat memberikan manfaat bagi
kita sekalian.
Kelompok C Gerbong 1
v
DAFTAR ISI
COVER ........................................................................................................................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................................................................ iv
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... vi
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................................................... 7
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................................. 7
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 8
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 8
1.3.1 Tujuan Umum ........................................................................................................................... 8
1.3.2 Tujuan Khusus .......................................................................................................................... 9
1.4 Manfaat ......................................................................................................................................... 9
BAB 2 TINJAUAN TEORI ...................................................................................................................... 10
2.1 Konsep Acute Abdomen ............................................................................................................. 10
2.1.1 Definisi Acute Abdomen ........................................................................................................ 10
2.1.2 Etiologi .................................................................................................................................... 10
2.1.3 Klasifikasi ............................................................................................................................... 12
2.1.4 Manifestasi Klinis ................................................................................................................... 13
2.1.5 Patofisiologi ............................................................................................................................ 13
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang .......................................................................................................... 14
2.1.7 Komplikasi .............................................................................................................................. 14
2.1.8 Penatalaksanaan ...................................................................................................................... 15
2.1.9 Pathway ................................................................................................................................... 16
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan ..................................................................................................... 17
2.2.1 Pengkajian ............................................................................................................................... 17
2.2.2 Diagnosa Keperawatan ........................................................................................................... 24
2.2.3 Intervensi Keperawatan........................................................................................................... 26
ASUHAN KEPERAWATAN ................................................................................................................... 30
vi
BAB 1
PENDAHULUAN
Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendix vermicularis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering pada anak-anak maupun dewasa. Appendicitis akut
merupakan kasus bedah emergensi yang paling sering ditemukan pada anak-anak dan remaja.
Terdapat sekitar 250.000 kasus appendicitis yang terjadi di Amerika Serikat setiap tahunnya dan
Appendicitis dapat mengenai semua kelompok usia, meskipun tidak umum pada anak
sebelum usia sekolah. Hampir 1/3 anak dengan appendicitis akut mengalami perforasi setelah
dilakukan operasi. Meskipun telah dilakukan peningkatan pemberian resusitasi cairan dan
antibiotik yang lebih baik, appendicitis pada anak-anak, terutama pada anak usia prasekolah
masih tetap memiliki angka morbiditas yang signifikan. Diagnosis appendicitis akut pada anak
kadang-kadang sulit. Diagnosis yang tepat dibuat hanya pada 50-70% pasien-pasien pada saat
penilaian awal. Angka appendectomy negatif pada pediatrik berkisar 10-50%. Riwayat
perjalanan penyakit pasien dan pemeriksaan fisik merupakan hal yang paling penting dalam
mendiagnosis appendicitis.
terinflamasi, baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy. Apabila tidak dilakukan
tindakan pengobatan, maka angka kematian akan tinggi, terutama disebabkan karena peritonitis
7
8
dan shock. Reginald Fitz pada tahun 1886 adalah orang pertama yang menjelaskan bahwa
Appendicitis acuta merupakan salah satu penyebab utama terjadinya akut abdomen .
sesegera mungkin dilakukan guna menurunkan resiko perforasi. Appendiktomi dapat dilakukan
dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau laparoskopi (Muttaqin,
2009). Pada klien dengan post operasi appendiktomi mengalami masalah body image nyeri
akut, resiko infeksi, gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, intoleransi aktivitas dan
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka rumusan masalah ini
adalah bagaimana pencegahan perawatan dan penanganan terjadinya Acute Abdomen.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menyusun Pencegahan Perawatan dan Penanganan pada pasien Acute Abdomen
berdasarkan faktor risiko yang diperoleh yang mempengaruhi terjadinya Acute Abdomen
9
1.4 Manfaat
1. Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat mengenai Pencegahan Perawatan dan
Penanganan pada pasien Acute Abdomen
2. Penulis
Memahami tentang penatalaksanaan pencegahan perawatan dan penanganan klien
Acute Abdomen
BAB 2
TINJAUAN TEORI
Pada laporan ini akan dibahas mengenai konsep teori yang memuat: Konsep
Akut Abdomen merupakan istilah yang digunakan untuk gejala-gejala dan tanda- tanda
dari nyeri perut dan nyeri tekan yang tidak spesifik tetapi sering terdapat pada penderita dengan
keadaan intraabdominal akut yang berbahaya. Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan
terhadap struktur yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul
atau luka tusuk 2 Terdapat dua mekanisme trauma pada abdomen yaitu trauma tajam (penetrans)
dan trauma tumpul (non penetrans) sehingga terdapat pendekatan diagnostik dari tatalaksana
Akut abdomen atau nyeri akut abdomen adalah suatu kasus kegawatdaruratan abdo-men
yang dapat terjadi karena masalah bedah dan non bedah, ditandai dengan keluhan nyeri abdomen
yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 24 jam (Mananna et al., 2021)
2.1.2 Etiologi
Penyebab akut abdomen dapat dibagi menjadi penyebab non bedah dan bedah. Penyebab
1. Gangguan metabolik dan endokrin : uremia, krisis diabetic, krisis penyakit Addison.
2. Gangguan hematologi : krisis anemia sel sabit, leukemia akut, dan penyakit darah lainnya.
3. Gangguan hematologi : krisis anemia sel sabit, leukemia akut, dan penyakit darah lainnya.
10
11
perforasi diverticulum.
Keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan akut abdomen dapat dibagi menjadi 6 bagian besar
kategori, yaitu:
1. Inflamasi
Kategori inflamasi ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu yang disebabkan
bakteri dan kimiawi. Inflamasi akibat bakterial seperti appendisitis akut divertikulitis, dan
beberapa kasus Pelvic Inflammatory Disease. Inflamasi akibat kimiawi antara lain
2. Mekanik
stenosis usus. Penyebab tersering obstruksi mekanik usus besar adalah Ca kolon.
12
3. Vaskular
menyebabkan aliran darah terhenti sehingga timbul nekrosis jaringan, dengan ganggren
usus.
4. Defek Kongenital
5. Trauma
Penyebab traumatik dari akut abdomen bervariasi dari luka tusuk dan tembak
sampai luka tumpul abdominal yang menyebabkan keadaan rusaknya organ visera
Penyebab nyeri perut terkadang dapat diprediksi berdasarkan lokasi dan jenis rasa sakit
sehingga membantu dalam menegakkan diagnosis. Perkiraan penyebab berdasarkan fakta bahwa
patologi struktur yang mendasari di setiap regio cenderung memberikan nyeri perut maksimal di
regio tersebut.
2.1.3 Klasifikasi
1. Nyeri Viseral
Nyeri viseral terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga
perut misalnya karena cedera atau radang. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut
dipersarafi oleh sistem saraf otonom dan tidak peka terhadap perabaan atau pemotongan.
dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa terasa oleh pasien.
Akan tetapi bila dilakukan tarikan regangan atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot
13
yang menyebabkan iskemia seperti pada kolik atau radang akan timbul nyeri. Pasien yang
mengalami nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjukkan secara tepat letak nyeri sehingga
biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menunjuk daerah yang nyeri.
2. Nyeri Somatik
Nyeri somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi saraf tepi misalnya
regangan pada peritoneum parietalis dan luka pada dinding perut. Nyeri dirasakan seperti
ditusuk atau disayat dan pasien dapat menunjuk letak nyeri dengan jarinya secara tepat.
&angsang yang menimbulkan nyeri ini dapat berupa rabaan? Tekanan rangsang kimiawi atau
proses radang
Nyeri tekan diatas daerah abdomen, demam, anorexia, mual dan muntah, takikardi,
peningkatan suhu tubuh, nyeri spontan. Pada trauma non penetrasi (tumpul) pada trauma non
penetrasi biasanya terdapat adanya jejas atau ruptur di bagian dalam abdomen: terjadi perdarahan
intra abdominal. Apabila trauma terkena usus, mortilisasi usus terganggu sehingga fungsi usus
tidak normal dan biasanya akan mengakibatkan peritonitis dengan gejala mual, muntah, dan
2.1.5 Patofisiologi
Bila suatu organ visceral mengalami perforasi, maka tanda-tanda perforasi, tanda-tanda
iritasi peritoneum cepat tampak. Tanda-tanda dalam nyeri abdomen tersebut meliputi nyeri
tekan, nyeri spontan, nyeri lepas dan distensi abdomen tanpa bising usus bila telah terjadi
peritonitis umum. Bila syok telah lanjut pasien akan mengalami takikardi dan peningkatan suhu
tubuh, juga terdapat leukositosis. Biasanya tanda- tanda peritonitis mungkin belum tampak. Pada
14
fase awal perforasi kecil hanya tanda- tanda tidak khas yang muncul. Bila terdapat kecurigaan
1. Uji laboratorium
leukosit dapat menunjukkan adanya proses peradangan. Hitung trombosit dan faktor
koagulasi selain diperlukan untuk persiapan bedah juga dapat membantu menegakkan
2. Pemeriksaan ultrasonografi
2.1.7 Komplikasi
3. Pneumonia
4. Tekanan ulserasi
5. Atelektasis
6. Sepsis.
15
2.1.8 Penatalaksanaan
akut abdomen
2. Tindakan penanggulangan
peritoneum.
Tindakan untuk mencapai tujuan ini berupa laparotomi yaitu operasi dengan membuka
rongga abdomen, sehingga harus segera dirujuk ke pelayanan kesehatan yang memiliki
2.1.9 Pathway
Obstruksi Lumen
Mukosa terkikis
Perforasi
Abses
Peradangan Pada Appendiks Distensi Abdomen
Peritonitis
Nyeri Akut
Mual, muntah
Nyeri Akut
Resiko
Resiko Infeksi
Hipovolemia
2.2.1 Pengkajian
Menurut (Tugas Mandiri Stase Praktek Keperawatan Anak, 2019) dan (HIDAYAT,
2020), (Sidiq et al., 2016) Pengkajian yang dilakukan pada anak dengan nyeri abdomen adalah
sebagai berikut:
1. Identitas klien
2. Keluhan Utama
Apakah keluarga pernah mengalami penyakit yang sama atau penyakit lainnya.
Pada proses tumbuh kembang anak setiap individu akan mengalami siklus yang berbeda-
pada anak menurut (Hidayat, 2012) dalam (Egziabher & Edwards, 2013) diantaranya :
a. Faktor Herediter
Faktor herediter adalah faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar untuk
mencapai tumbuh kembang anak jika dibandingkan dengan faktor lain. Faktor ini
terdiri dari bawaan atau kelainan genetik dan kromosom dari ayah dan ibu, jenis
kelamin, ras, dan suku bangsa. Kelainan genetik dan kromosom pada ayah dan ibu
akan menjadi pengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan bayi. Faktor herediter
ditentukan dengan intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel telur, tingkat
18
pertumbuhan tulang.
b. Faktor Lingkungan
potensi yang sudah dimilki anak. Adapun yang termasuk faktor lingkungan yaitu
1) Lingkungan pranatal
Lingkungan pada saat dalam kandungan, mulai dari konsepsi hingga lahir
yang meliputi gizi sewaktu ibu hamil, lingkungan mekanis seperti posisi janin
dalam uterus, zat-zat kimia atau toxin seperti pengguna obat-obatan atau
alkohol, kebiasaan ibu yang mungkin merokok saat hamil, hormonal seperti
beberapa organ tubuh janin dan pemberian radiasi juga dapat menyebabkan
kelainan bawaan.
2) Lingkungan postnatal
kesehatan.
c. Faktor Hormonal
Faktor hormonal yang berperan penting dalam tumbuh kembang anak antara
perempuan.
Pendidikan orang tua juga merupakan salah satu faktor yang pening dalam
tumbuhbkembang anak. Karena dengan pendidikan yang baik, maka orang tua dapat
menerima segalabinformasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang
baik dan bagaimana menjaga kesehatan anaknya
6. Riwayat Imunisasi
Kaji riwayat imunisasi apakah lengkap atau tidak
0,5 Intramuskular.
DPT 3 kali 4 minggu 2-11 bulan
cc
2tetes Di teteskan ke
Polio 4 kali 4 minggu 0-11 bulan
mulut.
0,5 Subkutan,
Campak 1 kali cc 4 minggu 9-11 bulan biasanya di lengan
kiri atas.
0,5 Intramuskulus
TT 3 kali
cc
20
7. Kebutuhan Dasar:
a. Pola nutrisi: Pola nutrisi klien mengalami anorexia ditandai dengan porsi makantidak
dihabiskan. Kaji frekwensi pola jenis diit dan gangguan pola eliminasi dihabiskan
b. Pola eliminasi: Mengalami gangguan BAB karena massa keras feses dan rasa nyeri
c. Kebersihan diri: Perawat dan keluarga bayi harus menjaga kebersihan terutama saat
8. Pemeriksaan Fisik:
1. Pada pemeriksaan fisik perlu diperhatikan keadaan umum wajah, denyut nadi,
2. Kaji Nyeri
Menurut (Günthardt et al., 2018) pada masalah nyeri (gangguan rasa nyaman)
yang dapat dilakukan adalah adanya riwayat nyeri; keluhan nyeri seperti lokasi nyeri,
intensitas nyeri, kualitas dan waktu serangan. Pengkajian dapat dilakukan dengan
cara PQRST :
b. Q (quality) dari nyeri, seperti apakah rasa tajam, tumpul, atau tersayat.
a. Inspeksi abdomen
Inspeksi abdomen dilakukan dengan teliti. Posisi tidur pasien dan apakah pasien
tetap merasakan nyeri pada posisi supine dan berusaha untuk berada pada posisi tertentu
untuk menghindari nyeri merupakan hal penting untuk menentukan penyebab dari akut
abdomen tersebut. Pasien dengan peritonitis cenderung untuk imobilitas dan terus merasa
abdomennya
b. Palpasi abdomen
Dilakukan dengan hati-hati untuk menentukan lokasi nyeri jika nyeri tersebut
terlokalisir. Melalui palpasi dapat ditentukan adanya nyeri tekan nyeri lepas dan adanya
massa. Adanya nyeri lepas lebih mengarah kepada suatu peritonitis. Lokasi nyeri
abdomen ber"ubungan dengan penyebab dari nyeri tersebut. 'eberapa tanda sering
digunakan sebagai patokan adanya etiologi dari nyeri abdomen tersebut. Tanda Murphy
berupa nyeri tekan pada perut kanan atas pada saat inspirasi sensitif untuk kolesistitis
akut tetapi pemeriksaan ini tidak spesifik. Nyeri tekan dan nyeri lepas disertai rigiditas
pada daerah Mc Burney yaitu pada perut kanan bawa" sensiti+e untuk suatu apendisitis
akut.
c. Auskultasi abdomen
Auskultasi bising usus yang didengar cukup bervariasi tergantung penyebab dari
akut abdomen tersebut. Pada ileus paralitik atau peritonitis umum bising usus tidak
terdengar sedang pada obstruksi usus bising usus akan meningkat dan kadang kala kita
mendengar Metallic’s sound. Adanya suara bruit pada saat auskultasi menunjukkan
24
kelainan vaskuler tetapi pada pasien yang kurus kita bias mendengar bruit pada daerah
5. Bowel (pencernaan): Ditandai dengan anoreksia, mual, muntah, penurunan BB, tidak
toleran terhadap diet, kehilangan nafsu makan, feses bervariasi dari bentuk lunak
3. Risiko Infeksi berhubungan dengan Efek prosedur invasive (SDKI D.0142 Kategori
5. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan Kurang Kontrol Tidur (SDKI D.0055
Kategori Fisiologis Subkategori Aktivitas/Istirahat)
26
3 Resiko Infeksi b/d Efek Setelah dilakukan intervensi 1. Monitor tanda dan gejala infeksi lokal
keperawatan selama 3x24 jam, maka dan sistemik
prosedur invasif
resiko infeksi menurun 2. Berikan perawatan kulit pada area
Kriteria Hasil : oedem
a. Demam menurun 3. Pertahankan teknik antiseptik pada
b. Kemerahan menurun pasien yang berisiko tinggi
c. Nyeri menurun 4. Jelaskan tanda dan gejalan infeksi
d. Oedem menurun 5. Ajarkan mencuci tangan dengan benar
e.
(Pencegahan Infeksi, SIKI 2018, I.14539,
(SLKI 2018, L.14137) Hal.278)
4 Resiko Hipovolemia b/d Setelah dilakukan intervensi 1. Periksa tanda dan gejala hipovolemia
keperawatan selama 3x24 jam, maka 2. Monitor intake dan ouput cairan
Kekurangan Intake Cairan
termoregulasi membaik 3. Hitung kebutuhan cairan
Kriteria Hasil : 4. Anjurkan memperbanyak asupan cairan
a. Kekuatan nadi meningkat oral
b. Turgor kulit membaik 5. Kolaborasi pemberian cairan IV
c. Output urine membaik isotonis (mis. NaCl, RL)
d. Frekuensi nadi meningkat
e. Membran mukosa membaik (Manajemen Hipotermia, SIKI 2018,
I.14507, Hal.183)
(SLKI 2018, L.03028, Hal.107)
5 Gangguan Pola Tidur b/d Setelah dilakukan intervensi 1. Identifikasi pola aktivitas tidur
keperawatan selama 3x24 jam, maka 2. Identifikasi faktor pengganggu tidur
Kurang Kontrol Tidur
pola tidur membaik 3. Modifikasi lingkungan
Kriteria Hasil : 4. Fasilitasi menghilangkan stress dalam
a. Kesulitan tidur menurun tidur
b. Keluhan sering terjaga menurun 5. Anjurkan menepati jadwal tidur
c. Keluhan tidak puas tidur
menurun (Dukungan Tidur, SIKI 2018, I.05174,
d. Keluhan pola tidur berubah Hal. 48)
menurun
28
kepada pasien sesuai dengan intervensi, sehingga kebutuhan pasien dapat terpenuhi
dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi perawat untuk memonitor
kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK/BAYI
Ruangan : D2
Diagnosamedis : Acute Abdomen
No register : [Link]
Tgl/jam MRS :14 april 2021, pukul 18.16 WIB
Tgl/jam pengkajian : 15 April, pukul 10.20 WIB
I. IDENTITAS ANAK
Nama :An. K
Umur/ :8 tahun
Jenis kelamin :Laki-laki
Agama : Islam
Anak ke :2
Jumlah saudara :2
Alamat :Surabaya
B. Natal Care:
Ny. M melahirkan anak keduanya di salah satu rumah sakit di kota Surabayadengan
berat badan lahir 3,2 kg.
32
C. Penggunaan Obat-Obatan
Selama di rumah sakit, pasien mendapatkan terapi infus D5 ½ 1000cc/24jam, injeksi
cinam 4x500mg, injeksi ondan 3x3mg, PO flumucil 3x100mg, PO curcuma tab 3x1,
dan PO Urdafak 3x1 (200mg).
Keterangan:
: Meninggal
: Perempuan
: Laki – laki
: Pasien / klien
: Menikah
: Tinggaldalamserumah
B. Psikososial keluarga :
Ny. M mengatakan bahwa ia sedih dan khawatir dengan kondisi yang dialami oleh
anaknya namun Ny. M selalu berusaha untuk menyembunyikan perasaannya dari
anaknya agar anaknya cepat sembuh dan semangat dalam menghadapinya.
(kebiasaan sebelum tidur, perlu dibacakan cerita, benda-benda yang dibawa tidur)
Pola tidur An. K cukup baik akan tetapi jika perutnya terasa nyeri maka An. K
terbangun dari tidurnya.
C. Pola Aktivitas/Bermain
An. K aktif dalam bergerak dan biasanya pada pagi hari, An. K selalu berjemur di
pinggir jendela dekat kamarnya
D. Pola Eliminasi
Pola eliminasi urin An. K selama rawat inap di rumah sakit sebanyak 1500cc dengan
warna urine kuning pekat dan berbau khas. Untuk eliminasi feses, An. K belum bisa
BAB sehingga dokter menyarankan kepada keluarga dan An. K untuk melakukan jalan-
jalan ringan agar dapat BAB.
B. Keadaan Umum
Keadaan umum An. K pada saat datang ke IGD terlihat lemah, pucat dan seringkali
terlihat memegangi perutnya.
XI TANDA-TANDA VITAL
.
Suhu/nadi
: 36,3oC / 112x/menit
RR
: 24x/menit
BB
: 20 kg
35
Jantung
Inspeksi : tidak tampak ictus cordi
Palpasi : tidak ada pembesaran jantung
Perkusi : Pekak
Auskultasi : Bunyi jantung S1 S2 reguler
j. Pemeriksaan Muskuloskeletal
Pada pemeriksaan muskuloskeletal atas dan bawah tidak terdapat oedem, tidak ada tanda-
tanda phlebitis.
k. Pemeriksaan Integumen
Kulit An. K berwarna sawo matang, akral hangat, kering dan merah (HKM), turgor kulit
baik, tidak terdapat sianosis dan tidak ada oedem.
HEMATOLOGI
WBC 11.2 10^3/µL 4.0-10.0
RBC 3.6 10^6/µL 3.5-5.5
PCT 0.452 % 0.108-0.5
HB 14 g/dL 14-18
BLR 3.0 mg/dL 0,3-1,0
37
B. Rontgent
Hasil foto Thoraks 16 April 2021
Cor : tak tampak kelainan
Pulmo : tak tampak kelinan
Kesimpulan :
Cor dan Pulmo tak tampak kelainan
BOT tak tampak kelainan
C. Teraphy
Terapi Dosis Cara Pemakaian
Ds ½ Ns 1000 u/24 jam Infus
Cinam 4x500mg Injeksi
Ondan 3x3mg Injeksi
Ranitidine 2x20mg Injeksi
Curcuma tab 3x1 Oral
Urdafak 3x1 (200mg) Injeksi
38
A. ANALISA DATA
Do :
- Pasien tampak gelisah
- Pasien tampak menahan nyeri
saat bergerak
- Suhu : 36,4oC
RR : 22x/menit
Nadi : 112x/menit
2. Ds : Distensi Lambung Nausea
- Ibu pasien mengatakan
anaknya tidak mau makan SDKI, 2016
D.0076
karena sering mengalami mual
Kategori : Psikologis
- Ibu mengatakan anaknya Subkategori : Nyeri
dan Kenyamanan
mengalami mual 2x dalam
Hal. 170
sehari
Do :
39
Do :
- Suhu : 36,3oC
RR : 22x/menit
BB : 20kg
- Pasien tampak lemah
- Pasien tampak pucat
4 Ds : Kurang Kontrol Tidur Gangguan Pola Tidur
- Ibu pasien mengatakan
anaknya sulit tidur nyenyak SDKI, 2016
D.0055
- Ibu pasien mengatakan
Kategori : Fisiologis
kebiasaan tidur anaknya Subkategori : Aktivitas
dan Istirahat
berubah tidak seperti biasanya
Hal. 126
Do :
- Pasien tampak gelisah
- Mata pasien tampak menahan
kantuk
- Nadi : [Link]
40
RR : 22x/menit
TTD : 110/70mmHg
41
PRIORITAS MASALAH
Tanggal
No Masalah Keperawatan Paraf
Ditemukan teratasi
1 Nyeri Akut b/d Agen 14-04-2021 1C
Pencedera Fisik
INTERVENSI KEPERAWATAN
1,2,4 11.30 Mengajarkan teknik non farmakologi I.N 14.00 Dx 3 S : Ibu pasien mengatakan tidak N.M
untuk mengurangi nyeri nafsu makan
Tarik nafas dalam dan rileks dapat O:
mengurangi nyeri mengurangi mual dan - TD : 110/70 mmHg
dapat mempercepat pola tidur pada N.I - Bibir pasien pucat
pasien - BB : 20 Kg
1 13.00 Memberikan obat hasil kolaborasi - RR : 22x/menit
pemberian analgetik N.M A : Masalah belum teratasi
Cinam IV 1x500 mg P : intervensi dilanjutkan
2 13.00 Memberikan obat hasil kolaborasi meningkatkan nafsu makan pada
pemberian antiemetik pasien
Ondancentron IV 1x3 mg
14.00 Dx 4 S : Ibu pasien mengatakan bahwa I.M
anaknya sulit untuk tidur dengan
nyenyak, karena nyeri yang
dirasakan pada pasien
O:
- TD : 110/70 mmHg
- Pasien tampak gelisah
- N : 112x/menit
- RR : 22x/menit
- Pasien tampak kesulitan tidur
47
dapat mempercepat pola tidur pada N.I 15.00 Dx 3 S : Ibu pasien mengatakan nafsu A.S
pasien makan pasien bertambah
1 14.00 Memberikan obat hasil kolaborasi O:
pemberian analgetik N.M - TD : 110/70 mmHg
Cinam IV 1x500 mg - Bibir lembab
2 14.00 Memberikan obat hasil kolaborasi - BB : 20 Kg
pemberian antiemetik - RR : 22x/menit
Ondancentron IV 1x3 mg A : Masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
meningkatkan nafsu makan pada
pasien
dapat mempercepat pola tidur pada N.I 13.00 Dx 3 S : Ibu pasien mengatakan nafsu I.M
pasien makan pasien bertambah habis
1 12.00 Memberikan obat hasil kolaborasi dalam 1 piring
pemberian analgetik N.M O:
Cinam IV 1x500 mg - TD : 110/70 mmHg
2 12.00 Memberikan obat hasil kolaborasi - Bibir lembab
pemberian antiemetik - BB : 20 Kg
Ondancentron IV 1x3 mg - RR : 22x/menit
A : Masalah teratasi
P : intervensi dihentikan
BAB 4
PENUTUP
Kesimpulan
Akut abdomen atau nyeri akut abdomen adalah suatu kasus kegawatdaruratan
abdo- men yang dapat terjadi karena masalah bedah dan non bedah, ditandai dengan
keluhan nyeri abdomen yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 24
jam. Penyebab dari nyeri abdomen akut juga beraneka ragam bisa dari trauma
,mekanik,serta penyakit penyerta lainya.
Untuk pentalaksanaan dalam menangani penyakit tersebut dapat diberikan
tindakan resusitasi untuk memperbaiki sistem pernafasan dan kardiovaskuler yang
merupakan tindakan penyelamatan jiwa penderita, Pencegahan infeksi dengan
pemberian antibiotika dan Pemberian analgetik harus dipertimbangkan karena dapat
menghilangkan gejala akut abdomen.
55
Daftar Pustaka
Mananna, A., Tangel, S. J. C., & Prasetyo, E. (2021). Diagnosis Akut Abdomen akibat
Peritonitis. E-CliniC, 9(1), 33–39. [Link]
Sidiq, A., Aditya, I., & Sahrial, S. (2016). Asuhan Keperawatan Kolik Abdomen Dosen
Pembimbing : Nama Kelompok : Program S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Abdi Nusantara Jakarta TP 2015 / 2016.
Taufik, T. F., Darmawan, F., Kedokteran, F., Lampung, U., Bedah, B., Moeloek, R. H. A.,
Kedokteran, F., & Lampung, U. (2020). Laporan Kasus : Trauma Tusuk Abdomen Dengan
Eviserasi Usus Pada Anak Laki-laki Usia 16 Tahun Case Report : Abdomen Stab Wound
with Intestinal Eviseration in a 16 Year Old Boy. 9, 68–72.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (T. P. S. D. PPNI
(Ed.)). Persatuan Perawat Nasional Indonesia.