0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
90 tayangan14 halaman

Gangguan Belajar: Definisi dan Penyebab

Makalah ini membahas tentang gangguan belajar (learning disorder) yang meliputi sejarah, pengertian, prevalensi, penyebab, dan karakteristik psikologis serta perilaku gangguan belajar. Secara ringkas, makalah ini menjelaskan tentang gangguan belajar seperti disleksia, disgrafia dan diskalkulia serta faktor-faktor penyebab dan gejala gangguan belajar tersebut.

Diunggah oleh

susu putih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
90 tayangan14 halaman

Gangguan Belajar: Definisi dan Penyebab

Makalah ini membahas tentang gangguan belajar (learning disorder) yang meliputi sejarah, pengertian, prevalensi, penyebab, dan karakteristik psikologis serta perilaku gangguan belajar. Secara ringkas, makalah ini menjelaskan tentang gangguan belajar seperti disleksia, disgrafia dan diskalkulia serta faktor-faktor penyebab dan gejala gangguan belajar tersebut.

Diunggah oleh

susu putih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PSIKOLOGI INDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUS


“Gangguan Belajar (Learning Disorder)”

KELAS D– 2018
KELOMPOK 6

Nadhyfarah Salsabila (201810230311252)


Bagus Fajar Wibisono (201810230311260)
Muhammad Ramdan Fajrandi (201810230311263)
Rizal Cahya Ningrat (201810230311264)
Fani Rizki Darmawan (201810230311267)

DOSEN PENGAMPU : Putri Saraswati, [Link].

Asisten Dosen : Dinda Ayu Sasmi

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2021
A. SEJARAH DAN PENGERTIAN
1. Sejarah
Pada tahun 1963, istilah dari Gangguan Belajar pertama kali
diperkenalkan oleh sekelompok orang tua dan pendidik yang bertemu di
Palmer House, Chicago. Istilah tersebut dikemukakan oleh Dr. Samuel A.
Kirk yang juga dikenal sebagai Bapak Learning Disabilities. Dari hasil
pertemuan tersebut, maka terbentuklah sebuah asosiasi untuk anak-anak
dengan gangguan belajar, dan hingga hari ini dikenal dengan sebutan
Learning Disabilities Association of America (LDA).

2. Pengertian
Gangguan belajar dikutip dari bahasa Inggris, yakni Learning
Disorder. Gangguan belajar pada siswa bisa berupa keterlambatan mereka
dalam menerjemah berbagai informasi yang berasal dari jaringan otak, seperti
kesulitan dalam menuliskan sesuatu, berbicara, pengendalian diri, perhatian
ataupun berkoordinasi. Keadaan ini sangat berpengaruh pada rutinitas
seharihari.
Menurut Djamarah (2002) bahwa gangguan yang menyebabkan
seseorang mengalami kesulitan belajar dapat berupa sindrom psikologis yang
dapat berupa ketidakmampuan belajar (learning disability). Sindrom berarti
gejala yang muncul sebagai indikator adanya ketidaknormalan psikis yang
menimbulkan kesulitan belajar anak. Kesulitan belajar merupakan kekurangan
yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidak mampuan dalam belajar tidak
dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak
mengalami masalah kesulitan belajar.
Menurut klasifikasi dari DSM-IV Revisied (APA, 2002) Gangguan
belajar merupakan defisiensi pada kemampuan belajar yang spesifik
(membaca, menulis, matematika) dalam konteks mereka memiliki intelegensi
rata-rata dan tidak ada hambatan dalam kesempatan belajar. Dengan kata lain,
anak-anak yang mengalami gangguan belajar bukan karena memiliki
intelegensi rendah ataupun kurangnya kesempatan belajar. Gangguan belajar
terdiri dari tiga kategori yaitu Gangguan membaca (disleksia), gangguan
menulis (disgrafia) dan gangguan matematika (diskalkulia).

B. PREVALENSI
1. Disleksia
Menurut Asosiasi Disleksia Indonesia, 10 hingga 15 persen anak sekolah
di seluruh dunia menyandang disleksia. Dari 50 juta anak sekolah di
Indonesia, 5 juta di antaranya Disleksia. Disleksia bisa diderita siapa saja,
baik anak-anak maupun orang dewasa. Kebanyakan orang yang kemampuan
membacanya buru, 70 – 80% adalah disleksia.
2. Disgrafia
Hallahan (1985) (dalam Abdurrahman, 2012) prevalensi anak berkesulitan
belajar meningkat secara drastis dari tahun ke tahun. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dari 3.215 siswa kelas I hingga kelas VI SD di DKI
Jakarta, terdapat 16,52% yang oleh guru dinyatakan sebagai murid
berkesulitan belajar Nafsiah Ibrahim (1994) (dalam Abdurrahman, 2012).
Hasil penelitian berikutnya menunjukkan bahwa dari 510 siswa kelas IV
hingga kelas VI SD di Surabaya , terdapat 19,8% yang teridentifikasi
mengalami kesulitan belajar dalam bentuk kesulitan belajar membaca
(disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia), atau kesulitan belajar
berhitung (diskalkulia) Fardana, et al, (2008) (dalam Abdurrahman, 2012: 1).

C. PENYEBAB
1. Disleksia
Menurut Sidiarto (2007) menunjuk- kan bahwa penyebab anak mengalami
keterlambatan atau kesulitan perkem-
bangan membaca adalah:
1. Anak yang lahir prematur dengan berat lahir rendah dapat mengalami
kerusakan otak sehingga mengalami kesulitan belajar atau gangguan
pemusatan perhatian.
2. Anak dengan kelainan fisik seperti gangguan penglihatan, gangguan
pendengaran atau anak dengan cerebral palsy (c.p.) akan mengalami
kesulitan belajar membaca.
3. Anak kurang memahami perintah karena lingkungan yang mengguna-
kan beberapa bahasa (bi- ataumultilingual).
4. Anak yang sering pindah sekolah.
5. Anak yang sering absen karena sakit atau ada masalah dalam keluarga.
6. Anak yang pandai dan berbakat yang tidak tertarik dengan pem-
belajaran bahasa sehingga kurang konsentrasi dan banyak membuat
kesalahan.

2. Disgrafia
Lerner (2000) yang menyatakan bahwa ada beberapa faktor
menyebabkan disgrafia, yaitu:
a) gangguan motorik anak,
b) gangguan perilaku yang dialami anak,
c) gangguan persepsi pada anak,
d) gangguan memori,
e) gangguan tangan pada anak,
f) gangguan anak pada saat memahami intruksi, dan
g) gangguan kemampuan melaksanakan cross modal.
Di samping kemungkinan ada faktor keturunan, bisa juga disgrafia
disebabkan oleh kesalahan pada pembelajaran menulis permulaan, yaitu
ketika pembelajaran menulis dengan tangan (handwriting), yaituterkait
dengan cara anak dalam memegang pensil atau alat tulis
(Abdurrahman,1998). Sunardi dan Sugiarmin (2001), menjelaskan bahwa
kesulitan belajar menulis dengan tangan (handwriting), disebabkan oleh
faktor
(a) motorik,
(b) perilaku ketika menulis,
(c) persepsi,
(d) memori atau ingatan,
(e) kemampuan cross modal,
(f) penggunaan tangan (kidal), dan
(g) kelemahan dalam memahami instruksi.
Dan mungkin juga karena gangguan neorologis, yaitu berupa
kurangnya kecakapan koordinasi mata dan tangan untuk menulis huruf balok,
menulis indah dan menulis besambung, dan membuat gambar.
3. Diskalkulia
Sudarmadji membagi beberapa penyebab diskalkulia sebagai berikut:
1. Lemah dalam proses penglihatan atau visual
Siswa yang mempunyai kelemahan dalam proses penglihatan akan
berpeluang besar mengalami diskalkulia. Ia juga berpotensi mengalami
masalah dalam mengeja serta menulis.
2. Bermasalah mengurutkan informasi
Siswa yang mengalami kelemahan mengurutkan dan mengelompokkan
informasi secara lengkap, pada dasarnya akan sulit mengingat suatu fakta,
konsep bahkan rumus untuk menyelesaikan perhitungan matematika. Jika
masalah ini merupakan penyebabnya, maka siswa akan mengalami hambatan
pada aspek bidang lainnya, misal membaca kode-kode dan mengeja, atau
bahkan hal apapun yang memerlukan kemampuan pada hal mengingat secara
detail.
3. Phobia terhadap pelajaran matematika
Siswa yang pernah mengalami trauma terhadap pelajaran matematika dapat
kehilangan kepercayaan dirinya. Trauma juga dapat dikarenakan oleh
beberapa masalah, seperti: guru yang sering marah, galak atau guru yang
mempunyai wajah serta karakter yang seram. Hal tersebut membuat beberapa
siswa menjadi takut bahkan mengakibatkan siswa tersebut susah memahami
pelajaran matematika.
Selain masalah di atas, hal lain yang mengakibatkan siswa mengalami
phobia terhadap pelajaran matematika disebabkan ketakutan siswa jika hasil
yang diperoleh salah. Mereka merasa hasil dari jawaban yang salah
merupakan kegagalan sehingga siswa dipaksa untuk bisa memberikan
jawaban yang tepat. Padahal jawaban yang salah bukan semata suatu
kegagalan saja, namun justru dapat menjadi umpan agar siswa lebih
memahami konsep matematika dan dapat menganalisis pola pikirnya.
Sebaiknya guru yang mengajar juga tidak langsung menghardik siswa jika
jawaban yang diberikan salah, sebab tidak semua siswa dapat membangun
motivasi mereka setelah mereka dihardik. Justru beberapa siswa akan semakin
tertekan bahkan bisa menjadi benci terhadap pelajaran matematika.

D. KARAKTERISTIK PSIKOLOGIS DAN PERILAKU


Menurut Sudrajat(dalam Idris, 2017) kesulitan belajar dapat
dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif
maupun afektif. Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala
kesulitan belajar, antara lain:
1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang
dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang
diperolehnya selalu rendah
3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu
tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh,
menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang
terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam
atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam
kegiatan belajar, dan sebagainya.
6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung,
mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam meng-
hadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak
menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Sementara itu, Burton (dalam Abin, 2003)mengidentifikasi siswa yang
diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan
siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa
dikatakan gagal dalam belajar apabila:
1. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran
tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery
level)minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru
(criterion reference).
2. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat
berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang
dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
3. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlu-
kan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya.
Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang
(immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater).
E. IDENTIFIKASI DAN ASESMEN
Identifikasi pada anak atau siswa yang mengalami gangguan belajar
biasanya akan mengalami hambatan-hambatan dalam proses belajarnya
seperti mudahnya hilang konsentrasi, gangguan daya ingat, membaca,
menulis, berhitung dan lain-lain. Berkaitan dengan gangguan belajar pada
siswa ada dikenal beberapa gangguan atau ketidakmampuan dalam belajar,
seperti gangguan belajar atau ketidakmampuan membaca (dyslecsia),
gangunan atau ketidakmampuan menulis (dysgrafisia) dan gangguan belajar
matematika (dyscalculia).
Untuk dapat mengdiagnosa seorang anak mempunyai gangguan
belajar diperlukan keahlian khusus bagi para pendidik. Identifikasi awal
kesulitan belajar biasanya dilakukan oleh guru kelas, selanjutnya guru harus
meminta bantuan guru atau tim yang ahli dalam mendiagnosa kesulitan atau
gangguan belajar siswa, agar sesegera mungkin kesulitan siswa dapat diatasi.
Cara mengidentifikasinya juga dapat dilakukan berdasarkan gejala-
gejala seperti :
1. Gejala fisik. Contoh : ganguan penglihatan, pendengaran, bicara,
kekurangan fisik dan lain-lain.
2. Gejala perilaku. Contoh : emosi yang labil, perilaku sosial yang
negative seperti suka membolos, berkelahi dan lain-lain.
3. Gejala hasil belajar. Contoh : prestasi belajar yang rendah, yang
mengakibatkan tidak naik kelas.
4. Salah satu cara juga yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi
adalah mengumpulkan data peserta didik dengan beberapa teknik
pengumpulan data. Observasi sikap dan prilaku. Dapat dilakukan
dengan mengisi daftar cek yang memuat prilaku yang akan
diamatisesuai dengan perilaku yang diduga menuimpang.

Terdapat empat jenis asesmen bagi anak dalam kesulitan belajar


diantara lain :
1. Asesmen perkembangan. Suatu proses pengumpulan informasi
tentang aspek-aspek perkembangan anak yang diduga secara
signifikan berpengaruh terhadap prestasi akademiknya, asesmen ini
dilakukan dengan mengadakan program pembelajaran akademik
yang berjalan dengan baik jika anak telah memiliki kesiapan
ataukematangan sesuai dengan irama perkembangan anak. Aspek-
aspek asesmen perkembangan meliputi gangguan motorik,
gangguan persepsi, gangguan atensi/ perhatian, gangguan memori,
hambatan dalam orientasi ruang, arah/spatial, hambatan bahasa,
hambatan pembentukan konsep dan mengalami masalah perilaku.
2. Asesmen akademik. Suatu proses asesmen yang dilakukan untuk
emngetahui kondisi actual kemampuan akademik anak. Cangkupan
asesmen : asesmen keterampilan membaca, keterampilan menulis,
dan asesmen keterampilan berhitung.
3. Asesmen non akademik (kekhususan. Proses pengumpulan
informasi tentang kondisi ABK yang meliputi kondisi kelainan,
kemampuan yang telah dikuasai dan kesulitan atau hambatan yang
dialami untuk mempertimbangkan keputusan tentang kebutuhan
yag diperlukan untuk potensi anak dan mengurangi dampak kondisi
kelainannya.
4. Asesmen formal. Dengan melakukan tes standar yang telah
dilakukan. Asesmen ini biasanya dilengkapi dengan sebuah
manual yang berisi petunjuk tentang pelaksanaan asesmen,
penyekoran, dan penafsiran terhadap hasil tes. Contoh tes
prestasi anak : Peabody individual achievement (PIA), Monroe
Sherman dan lain-lain. Contoh tes motorik anak : The purdue
perceptual motor survey (PPMS). Kemampuan visual: visual
motor integration, Bender Gestalt. Kemampuan auditors:
Wepman auditory discrimination test. Kemampuan konsep
dasar: Boehm test of basic concept.

5. Asesmen Informal: asesmen yang dibuat oleh guru sesuai


dengan konteks pembelajaran di kelas. Asesmen ini dilakukan
guru setelah selesai pembelajaran.

F. PERTIMBANGAN PENDIDIKAN
Untuk memberikan layanan pendidikan pada anak-anak berkesulitan
belajar, tentunya hatuslah terlebih dahulu diketahui jenis atau bentuk kesulitan
yang dihadapi seorang anak. Informasi mengenai hal ini dapat di ketahui
melalui indentifikasi dan asesmen, untuk selanjutnya dapatdibuatkan rencana
pembelajaran atau pelayanan pendidikan lebih lanjut.
1. Strategi pendidikan untuk anak kesulitan membaca
Dengan meningkatkan kemampuan mengenal dan memahami
seriap bunyi bahasa, kaya-kata dan kalimat, kelancaran ucapan,
dan pemaghaman bacaa. Aktivitas pembelajaran dilakukan secara
khusus, terutama dengan program pembelajaran individual (IEP)
atapun dengan program-program remidi di sekolah.
2. Kesulitan menulis
Dengan memperhatikan tahapan perkembangan gagasan atau pola
pikir siswa, dan mengorganisir kemampuan awal siswa tersebut.
dengan dengan kondisi awal yang telah di ketahui, selanjutnya
guru dapat megembangkan program pebelajaran yang sesuai untuk
masing-masing individu siswa: khususnya mengenai kesulitan
menulis tangan. Aktivitas untuk mendukung strategi pembelajaran
seperti ; latihan-latihan membuat lingkaran, garis. Geometris, atau
angka-angka, menulis atau melukis dengan jari dll.
3. Kesulitan matematik
a. Pembelajaran matematika secara langsung
Strategi ini dapat membantu siswa mencapai penguasaan
kecakapan matematika melalui pembelajaran yang eksplisit,
struktur dan perencanaan.
b. Mengontrol kemampuan belajar siswa
Dengan memberikan penjelasan secara rinci, model belajar
berbasis proses, memberikan arahan strategis, menjalin dialog
guru-siswa, dan menyiapkan proses belajar.

G. INTERVENSI
Berdasarkan adanya kesukaran belajar khusus yang berkaitan dengan
cacat fisik tertentu dan kesukaran belajar pada umumnya berkaitan dengan
cacat fisik tertentu dan kesukaran belajar pada umumnya berkaitan dengan
masalah kemampuan belajar atau masalah akademik; maka ada dua klasifikasi
untuk penanganannya yaitu berasal dari persepsi medis dan persepsi
psikoedukasional. Dua pendekatan tersebut mengemukakan hal-hal sebagai
berikut (Sa’adati, 2015) :
A. Ahli medis yang menganggap bahwa kesukaran belajar khusus
disebabkan oleh kerusakan, menitikberatkan penanganan atau perawatan
melalui obat untuk mengurangi tingkat kesulitan belajar dan gangguan
yang diakibatkannya.
B. Psikolog dan ahli-ahli pendidikan yang menganggap bahwa penyebab
kesukaran belajar adalah karena adanya defisit dalam keterampilan
perseptual motorik, akan mencari bentuk-bentuk bantuan yang dapat
meningkatkan fungsi perseptual motorik. Bila penyebabnya diduga karena
kekurangan di bidang akademik; akan meningkatkan kemampuan dalam
bidang yang dianggap kurang, dengan kata lain setelah menentukan
diagnosa dari hambatan yang terjadi pada seorang anak, maka bentuk
penanggulangan /bantuan/ intervensi yang dapat diberikan adalah:
a. Remedial Merupakan usaha perbaikan yang dilakukan pada fungsi belajar
yang terhambat. Perbaikan pengajaran sebaiknya dilakukan secara
individual dan mengandung makna timbal balik, untuk siswa dan guru.
Dalam program remedial (perbaikan belajar mengajar) sebaiknya
mengikuti prosedur sebagai berikut:
a) Analisis diagnosis.
b) Menentukan bidang yang perlu mendapatkan perbaikan.
c) Menyusun program perbaikan.
d) Melaksanakan program perbaikan.
e) Menilai perbaikan belajar-mengajar.
Biasanya program remedial dapat diberi sedini mungkin pada anak
usia prasekolah, yang dalam hal ini sedang mengalami proses perkembangan
motorik dan perseptual.
b. Tutoring Merupakan bantuan yang diberikan langsung pada bidang studi
yang terhambat dari siswa yang sudah duduk dibangku sekolah. Cara ini
lebih cepat karena tanpa melalui perbaikan proses dasarnya terlebih
dahulu, dengan tujuan mengejar ketinggalan di kelas. Tapi sebaiknya
intervensi yang paling ideal dan menyeluruh akan mencakup kedua
program (remedial dan tutoring).
c. Kompensasi Diberikan bila hambatan yang dimiliki anak berdampak
negatif dalam proses pembentukan konsep dirinya. Dalam arti, mengingat
usia, kegiatan yang dilakukan dan derajat kesulitan yang dialami
sedemikian rupa, sehingga diperlukan sesuatu kompensasi untuk
mengatasi kekurangannya dibidang/area tertentu.
H. TRANSISI MENUJU TAHAP DEWASA
Berdasarkan konsep keterlambatan kematangan diri ditinjau dari aspek
perkembangan neurologis, seorang anak mempunyai tingkat perkembangan
yang berbeda-beda, termasuk di dalamnya adalah fungsi kognitif. Seorang
anak yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian di antara berbagai
kemampuan tidak semata-mata disebabkan oleh adanya ketidakberfungsian
sistem saraf pusat atau adanya cedera pada otak. Agaknya ketidasesuian itu
dapat juga menunjukkan adanya berbagai kemampuan yang mengacu pada
kematangan pada tingkat yang berbeda.
Pada masa remaja seseorang yang mengalami kesulitan belajar, pada
umumnya akan mengalami keterlambatan 2 tahun atau lebih disekolahnya
jika dibandingkan dari anak-anak seusianya. Keterlambatan tersebut
diakibitkan oleh beberapa faktor terutama faktor perilaku-perilaku masyarakat
disekitarnya. Dalam penelitian di Amerika, terdapat 177 siswa-siswa dengan
seseorang kesulitan belajar (learning disability) dalam kelas-kelas khusus.
Hasilnya menunjukkan bahwa mereka secara signifikan menunjukkan adanya
”perkembangan yang lambat” dalam pencapaian prestasi kademiknya
(Ghufron, M & Rinawati, R. 2015)
Pada anak-anak dengan tingkat kesulitan belajar di usia taman kanak-
kanak diprediksi mempunyai kelemahan dalam membaca, dan mengeja huruf.
Selanjutnya, penelitian dari deHirsch, Jansky dan Langford telah
membuktikan bahwa teori tentang keterlamabatan kematangan diri anak
merupakan faktor yang sangat penting saat memperkirakan tingkat
pencapaian kemampuan membaca. Pada anak remaja dengan tingkat kesulitan
belajar usia 17 hingga 24 tahun tidak menunjukkan adanya hambatan dalam
orientasi terhadap simbol-simbol, membedakan berdasarkan pendengaran,
atau membedakan antara sisi kiri dan kanan. Beberapa anak dengan hendaya
kesulitan belajar tersebut, tidak mempunyai hambatan belajar lagi setelah
melalui suatu proses perkembangan dirinya (Ghufron, M & Rinawati, R.
2015).
DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, M. (1998). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar .Jakarta:


Proyek pendidikan Tenaga Guru, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi,
Departemen Pendidikan Nasional.
Azhari, B. (2017). Identifikasi Gangguan Belajar Dyscalculia Pada Siswa Madrasah
Ibtidaiyah. Al Khawarizmi: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Matematika, 1(1), 60-74.
Ghufron, M & Rinawati, R. (2015). Kesulitan Belajar Pada Anak: Identifikasi
Faktor yang Berperan. Elementary. Vol 3 No 2 Hal 297-311.
Idris, R. (2017). Mengatasi kesulitan belajar dengan pendekatan psikologi kognitif.
Lentera pendidikan: jurnal ilmu tarbiyah dan keguruan, 12(2), 152-172.
Lerner, Janet.W, (2000). Learning Disabilities. Edisi 9, Boston: Houghton Mifflin
Company.
Nduru, M. P. (2015). Identifikasi dan Asesmen Kesulitan Belajar Anak.
Sa’adati, T. (2015). Intervensi Psikologis Pada Siswa dengan Kesulitan Belajar
(Disleksia, Disgrafia dan Diskalkulia). Intervensi Psikologi pada siswa,
No. 20 VOL. 1.
Sidiarto, Lily Djokosetio. (2007). Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar pada
Anak. Jakarta: UI Press.
Sudarmadji. (2002). Mengatasi Gangguan Belajar pada Anak. (Jakarta: Prestasi
Putra).
Suparno, S. (2006). Model Layanan Pendidikan untuk Anak Berkesulitan
Belajar. JPK (Jurnal Pendidikan Khusus), 2(2).
Syamsuddin, Abin.(2003). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosda
Karya.
Suryaningrum, C., Ingarianti, T. M., & Anwar, Z. A. (2016). Pengembangan Model
Deteksi Dini Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Pada Tingkat
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Di Kota Malang. Jurnal Ilmiah
Psikologi Terapan, 4(1), 62-74.
Ghufron, M. Nur (2015). Kesulitan Belajar Pada Anak: Identifikasi Faktor Yang
Berperan. Elementary, 3 (2).
Bintoro, F.A. (2016). Prevalensi Anak Kesulitan Berhitung Di SD : Asesmen
Matematika Berbasis Kurikulum. Jurnal Pendidikan Khusus. Surabaya.

Anda mungkin juga menyukai