Evidence based practice adalah penggunaan bukti untuk mendukung pengambilan keputusan di
pelayanan Kesehatan (Greenberg & Pyle, 2006)
menurut (Bostwick, 2013) evidence based practice adalah starategi untuk memperolah
pengetahuan dan skill untuk bisa meningkatkan tingkah laku yang positif sehingga bisa
menerapakan EBP didalam praktik. evidance based practice merupakan suatu strategi untuk
mendapatkan pengetahuan terbaru berdasarkan bukti yang jelas dan relevan untuk membuat
keputusan klinis yang efektif dan meningkatkan skill dalam praktik klinis untuk meningkatkan
kualitas kesehatan. Komponen utama dalam institusi pendidikan kesehatan yang adalah membuat
keputusan berdasarkan evidence based serta menerapkan EBP.
Namun dilapangan menyatakan bahwa pengetahuan, sikap, dan kemampuan serta kemauan
mahasiswa keperawatan dalam mengaplikasikan evidence based practice masih dalam level
moderate atau menengah. bertolak belakang dengan konsep pendidikan keperawatan yang
tujuannya untuk mempersiapkan lulusan yang mempunyai kompetensi dalam melaksanakan
asuhan keperawatan yang berkualitas. Meskipun mahasiswa keperawatan atau perawat
menunjukkan sikap yang positif dalam mengaplikasikan evidence based namun kemampuan
dalam mencari literatur ilmiah masih sangat kurang. Beberapa literatur menunjukkan bahwa
evidence based practice masih merupakan hal baru bagi perawat. oleh karena itu pengintegrasian
evidence based kedalam kurikulum sangatlah penting (Ashktorab et al., 2015).
evidence based practice dalam kurikulum undergraduate juga dijelaskan didalam (Sin&Bleques,
2017) mengatakan evidence based practice pada undergraduate student merupakan tahap awal
dalam menyiapkan peran mereka sebagai registered nurses (RN).
(Reni Irmayanti, Hema Malini, Dewi Murni, 2019) mengatakan bahwa Evidence-Based Practice
adalah pendekatan sistematis bertujuan meningkatkan kualitas praktik keperawatan dengan
cara mengumpulkan bukti yang terbaik. Penerapan dalam pelayanan keperawatan telah
difokuskan pada tatanan rumah sakit. Konsepnya dapat diterima namun masih sulit dalam
implementasinya.
Tujuan :
1. Meningkatkan kualitas perawatan dan memberikan hasil yang terbaik dari asuhan
keperawatan yang di berikan
2. dimaksimalkannya kualitas perawatan tingkat kesembuhan pasien bisa lebih cepat dan
lama perawatan bisa lebih pendek serta biaya perawatan bisa ditekan (Madarshahian et
al., 2012).
3. mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika memilih atau
membandingkan treatment terbaik yang akan diberikan kepada pasien/klien
4. Pendekatan yang dilakukan berdasarkan pada evidance based bertujuan untuk
menemukan bukti-bukti terbaik sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan klinis yang
muncul dan kemudian mengaplikasikan bukti tersebut ke dalam praktek keperawatan
5. menyiapkan perawat profesional yang mempunyai kemampuan dalam memberikan
pelayanan keperawatan yang berkualitas berdasarkan evidence based (Ashktorab,
2015).
masalah penelitian
masalah penelitian merupakan pertanyaan yang akan menjadi focus penyelidikan dan
menentukan metode yang akan digunakan
karakteristik pertanyaan dalam menentukan masalah penelitian :
1. pertanyaan bersifat feasible, dapat diselidiki sesuai dengan tenggat waktu, energi dan
dana yang terbatas
2. pertanyaan jelas : dapat dipahami oleh orang lain
3. pertanyaan bermakna untuk diteliti karena akan memberikan kontribusi penting secara
keilmuan
4. pertanyaan hendaknya menyelidiki hubungan meskipun tidak selalu seperti itu
7 langkah dalam ebp
1. Langkah ke-0 Menumbuhkan Semangat Menyelidiki
“Budaya ini ditanamkan dalam visi dan misi institusi”
Elemen-elemen dalam membudayakan EBP:
Mengajak semua petugas kesehatan untuk menanyakan kembali praktik kesehatan
yang sedang mereka lakukan.
Memasukkan EBP dalam visi, misi, dan promosi yang dilakukan oleh institusi
kesehatan
Adanya mentor serta kadernya yang mempunyai kemampuan dalam EBP dan
kemampuan untuk mengatasi hambatan terkait dengan perubahan dalam individu dan
institusi
Adanya infrastuktur yang menyediakan alat-alat untuk pengembangan EBP
Dukungan administrasi dan adanya leadership yang menilai, menentukan EBP model,
serta menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk mempertahankan budaya EBP
Secara teratur mengenali/mengidentifikasi individu atau kelompok-kelompok yang
secara consisten melakukan EBP
2. Langkah ke-1 Pertanyaan Klinik dengan PICO/PICOT Format P
p : Populasi pasien atau disease of interest
I : Intervensi atau Issues of Interest
C : Intervensi pembanding/ kelompok
pembanding
O : Outcomes/hasil-hasil yang diharapkan
T : Time frame (batas waktu)
JENIS-JENIS PERTANYAAN KLINIS (Melnyk & Fineout-Overholt, 2011)
a. Intervention question :Meneliti mengenai keefektifan dari suatu
treatment/intervensi
Contoh :
Bagaimanakah pencegahan terhadap kejadian pressure ulcers dengan teknik “X” jika
dibandingkan dengan pelayanan standar yaitu diganti posisi setiap 2 jam terhadap
munculnya gejala munculnya pressure ulcers pada pasien yang dirawat diruang
perawatan dalam jangka panjang dimana pasien mempunyai resiko untuk pressure
ulcers?
b. Diagnostic question :Meneliti mengenai manfaat, keakuratan, seleksi, atau
interpretasi dari suatu alat/instrumen
Contoh :
Apakah d-dimer assay lebih akurat dalam mendiagnosa deep vein thrombosis jika
dibandingkan dengan ultrasound pada pasien suspected deep vein thrombosis?
c. Prognostic question :Meneliti mengenai keadaan pasien terkait kondisi tertentu
atau mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin mengubah prognosis pasien
Contoh :
Apakah diet karbohidrat mampu memprediksi pemeliharaan berat badan yang sehat
(BMI< 25) selama lebih dari 6 bulan pada pasien yang mempunyai riwayat keluarga
obesitas (BMI> 30)?
d. Etiology question :Meneliti mengenai hubungan sebab akibat dan sesuatu yang
mungkin merugikan
Contoh :
Apakah wanita kulit putih yang terpapar sinar UV ray berkepanjangan dan tidak
menggunakan protection (>1 jam) meningkatkan resiko terkena melanoma jika
dibandingkan wanita kulit hitam yang tidak terpapar UV ray?
e. Meaning question : Meneliti mengenai makna dari sesuatu hal
Contoh :
Bagaimanakah wanita paruh baya dengan fibromialgia mempersepsikan kehilangan
motor functions?
3. Langkah ke-2 Mencari dan Mengumpulkan Bukti-bukti
Kata kunci untuk mencari bukti-bukti = kata-kata yang ada dalam PICO/PICOT
Cari kata-kata lain yang mempunyai makna sama seperti kata-kata yang ada di
PICO/PICOT
Setiap jenis pertanyaan mempunyai hierarchy of evidence yang berbeda
Database:
Pubmed
CINAHL
Ovid-medline
National Guideline Clearing house
Chochrane Databases
4. Langkah ke-3 Melakukan Critical Appraisal Terhadap Bukti-bukti
Critical Appraisal menyesuaikan dari jenis/level artikel
Pertanyaan utama dalam Critical Appraisal adalah VIA
Apakah hasil dari penelitian tersebut valid?
Apakah penelitian tersebut menggunakan metodologi penelitian yang
baik?
Apakah hasil dari penelitian tersebut reliable?
Apakah intervensinya bekerja dengan baik?
Sebesar apa efek dari intervensi tersebut?
Apakah hasil penelitian tersebut akan membantu dalam melakukan
perawatan untuk pasien saya?
Apakah sample penelitiannya mirip dengan pasien saya?
Apakah keuntungannya lebih besar dari pada resikonya?
Apakah intervensi tersebut mudah untuk di implementasikan
5. Langkah ke-4 Mengintegrasikan Bukti-bukti
Clinical expertise (CE)
Ini merupakan bagian yang paling penting dalam proses EBP decision making.
Contoh: saat follow up untuk evaluasi hasil, CE mencatat bahwa saat treatment
kasus acute otitis media first-line antibiotik tidak effective. Artikel terbaru
menyatakan Antibiotik A mempunyai manfaat yang lebih baik dari pada
Antibiotik B sebagai second-line antibiotik pada anak-anak.
Pasien
Jika kualitas evidence bagus dan intervensi sangat memberikan manfaat, akan
tetapi jika hasil diskusi dengan pasien menghasilkan suatu alasan yang membuat
pasien menolak treatment, maka intervensi tersebut tidak bisa diaplikasikan.
6. Langkah ke-5 Mengevaluasi Outcome
Langkah ini penting, untuk menilai dan mendokumentasikan dampak dari perubahan
pelayanan berdasarkan EBP dalam kualitas pelayanan kesehatan/ manfaatnya bagi
pasien.
Menilai apakah perubahan yang terjadi saat mengimplementasikan hasil EBP di klinik
sesuai dengan apa yang tertulis dalam artikel.
Jika hasil tidak sesuai dengan artikel-artikel yang ada Apakah treatment
dilaksanakan sesuai dengan SOP di artikel; apakah pasien kita mirip dengan sample
penelitian dalam artikel tersebut?
7. Langkah ke-6 Menyebarluaskan Hasil dari EBP
Dessiminasi dilakukan untuk meng-share hasil EBP sehingga perawat dan tenaga
kesehatan yang lain mau melakukan perubahan bersama dan atau menerima perubahan
tersebut untuk memberikan pelayanan perawatan yang lebih baik.
Bentuk-bentuk dessiminasi:
Melalui oral presentasi
Melalui panel presentasi
Melalui roundtable presentasi
Melalui poster presentasi
Melalui small-group presentasi
Melalui podcast/vodcast presentasi
Melalui community meetings
Melalui hospital/organization-based & professional committee meetings.
Melalui journal clubs
Melalui publishing
8. Langkah ke-7 Menyebarluaskan hasil dari EBP.
Dessiminasi dilakukan untuk meng-share hasil EBP sehingga perawat dan tenaga kesehatan
yang lain mau melakukan perubahan bersama dan atau menerima perubahan tersebut untuk
memberikan pelayanan perawatan yang lebih baik. Adapun desseminasi dapat dilakukan
melalui oral presentasi, melalui panel presentasi, melalui roundtable presentasi, melalui
poster presentasi, melalui small-group presentasi, melalui podcast/vodcast presentasi, melalui
community meetings, melalui hospital/organization-based & professional committee
meetings, melalui journal clubs, dan melalui publishing.
9.
Daftar pustaka
[Link]
-ISSN - 2477-6521
Vol 4(3) Oktober 2019 (516-529)
Jurnal Endurance : Kajian Ilmiah Problema Kesehatan
Avalilable Online [Link]
LLDIKTI Wilayah X 516
[Link]
ed_Nursing_Practice_EBNP_di_Rumah_Sakit (Persepsi Perawat Tentang Evidence Based
Nursing Practice (EBNP) di Rumah Sakit Reni Irmayanti, Hema Malini, Dewi Murni
Program Studi Magister Keperawatan Fakultas Keperawatan,Universitas Andalas
Email Korepondensi : reniirmayanti211079@[Link]
Submitted :02-10-2019, Reviewed:18-10-2019, Accepted:21-10-2019)
[Link]
NCE_BASED_PRACTICE
[Link]