0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan7 halaman

Perencanaan Pembumian Grid-Rod Gardu Induk

Artikel ini membahas perencanaan sistem pembumian grid-rod pada Gardu Induk 150 kV New Sanur. Beberapa metode sistem pembumian dianalisis untuk mendapatkan desain dengan nilai tahanan pembumian terendah, yaitu sistem pelat, mesh, dan grid-rod. Hasil analisis menunjukkan sistem grid-rod dengan panjang 100 m, lebar 60 m, jarak antar konduktor 10 m dan 32 buah rod memiliki nilai tahanan terendah 0,3324 Ohm. Artik

Diunggah oleh

Hengky Feni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan7 halaman

Perencanaan Pembumian Grid-Rod Gardu Induk

Artikel ini membahas perencanaan sistem pembumian grid-rod pada Gardu Induk 150 kV New Sanur. Beberapa metode sistem pembumian dianalisis untuk mendapatkan desain dengan nilai tahanan pembumian terendah, yaitu sistem pelat, mesh, dan grid-rod. Hasil analisis menunjukkan sistem grid-rod dengan panjang 100 m, lebar 60 m, jarak antar konduktor 10 m dan 32 buah rod memiliki nilai tahanan terendah 0,3324 Ohm. Artik

Diunggah oleh

Hengky Feni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal SPEKTRUM Vol. 7, No.

1 Maret 2020

PERENCANAAN SISTEM PEMBUMIAN GRID-ROD


PADA GARDU INDUK 150 KV NEW SANUR
Dewa Made Rian Sanjaya1, Cok Gede Indra Partha2, I Gede Dyana Arjana3
Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Udayana
Email: ryansanjaya4@gmail.com1, cokindra@[Link].id2, dyanaarjana@[Link].id3

Abstrak

Pada Gardu Induk terdapat berbagai peralatan listrik diantaranya transformator daya,
pemutus tenaga, alat pengubah fasa, serta alat pelindung, untuk menjaga semua peralatan
pada Gardu Induk dibutuhkan sistem pembumian. Untuk menperoleh sistem pembumian yang
baik dalam perencanaan pembangunan Gardu Induk harus memperhatikan jenis tanahnya.
Dalam penelitian ini ada beberapa metode sistem pembumian yang dianalisis, antara lain :
sistem pembumian pelat, sistem pembumian mesh dan sistem pembumian grid-rod. Analisa ini
bertujuan untuk mendapatkan desain sistem pembumian yang baik dengan nilai tahanan
pembumian yang rendah. Dari hasil analisis dan perhitungan sistem pembumian pelat diperoleh
nilai tahanan pembumian dengan menggunakan 34 lembar pelat sebesar 0,3555 Ohm. Sistem
pembumian mesh diperoleh nilai tahanan pembumian sebesar 0,3447 Ohm dengan jarak D = 10
meter maka untuk perencanaan sistem pembumian pembangunan Gardu Induk New Sanur
yang akan dipergunakan sebagai acuan adalah sistem pembumian grid-rod, dengan panjang
grid = 100 meter, dan lebar grid = 60 meter, maka desain optimalisasi yang diperoleh dari hasil
analisis dan perhitungan adalah 0,3324 dengan menggunakan jarak antar konduktor grid = 10
meter dan jumlah rod = 32 Rod.

Kata Kunci : Pembumian Gardu Induk, Optimalisasi Pembumian, Mesh, Grid-Rod.

Abstract

At the substation there are several electrical equipment including power transformers, power
breakers, phase change devices, and protective equipment, to keep all equipment in the
substation a grounding system is needed. To obtain a good earth system in the planning of the
substation must pay attention to the type of soil. In this study there are several methods of
earthing system analyzed, including: plate earthing system, mesh earthing system and grid-rod
earthing system. This analysis aims to obtain a good earthing system design with a low earth
resistance value. From the results of analysis and calculation of the earth grounding system, the
earth resistance value is obtained using 34 plates of 0.3555 Ohm. The Earth Mesh system
obtained the value of the ground resistance of 0.3447 Ohm with a distance of D is 10 meters
then for the planning of the ground-up systems construction of the New Sanur subsite that will be
used as a reference is a grid-rod ground system, with The length of the grid is 100 meters, and
the width of the grid is 60 meters, then the optimization design obtained from the results of
analysis and calculation is 0,3324 useing the distance between the conductor of the grid is 10
meters and the number of rod is 32 Rod.
Keywords : Substation Grounding, Grounding optimization, Mesh, Grid-Rod.

Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 69
Untuk menghitung besarnya nilai tahanan pada
1. PENDAHULUAN
sistem pembumian Grid dan Rod dapat dihitung dengan
Energi listrik merupakan energi yang sangat
bermanfaat untuk kehidupan manusia. Energi listrik menggunakan rumus (1)
menjadi salah satu kebutuhan manusia yang terus 𝑅1 𝑅2 −𝑅𝑚2
meningkat sejalan dengan tingkat kehidupan. 𝑅𝑔 = (1)
𝑅1 +𝑅2 −2𝑅𝑚
Salah satu upaya PT. PLN (Persero) untuk menjaga
Tahanan pembumian grid (R 1 ) menggunakan rumus :
kontinyuitas suplai tenaga listrik dan pelayanan kepada
konsumen adalah dengan mendirikan Gardu Induk baru 𝜌 2𝐿𝐶 𝐾1 𝑥𝐿𝐶
𝑅1 = �𝐼𝑛 � �+ − 𝐾2 � (2)
150 kV New Sanur. Gardu Induk tersebut direncanakan 𝜋𝐿𝐶 𝑎′ √𝐴
berkapasitas sebesar 2 × 60 MVA. Tahanan pembumian rod (R 2 ) menggunakan rumus :
Untuk menperoleh sistem pembumian yang baik
𝜌 4𝐿𝑅 2𝐾1 𝑥𝐿𝑟 2
dalam perencanaan pembangunan Gardu Induk harus 𝑅2 = �𝐼𝑛 � �−1+ (√𝑛𝑟 − 1) � (3)
2𝜋𝑛RLR 𝑏 √𝐴
memperhatikan jenis tanahnya. Tahanan pembumian
yang umum digunakan pada peralatan Gardu Induk Dan untuk menghitung nilai dari (R m ) menggunakan
adalah sistem pembumian yang memiliki nilai tahanan rumus :
yang lebih rendah dari standard < 1 Ohm [1]. Sistem
𝜌 2𝐿𝐶 𝐾1 𝑥𝐿𝐶
pembumian pada gardu induk berfungsi untuk 𝑅𝑚 = �𝐼𝑛 � �+ − 𝐾2 + 1� (4)
𝜋𝐿𝐶 𝐿𝑟 √𝐴
mengamankan personil dan peralatan-peralatan listrik.
Pada gardu induk dengan desain yang Dengan :
umumnya digunakan adalah desain sistem pembumian 𝑅𝐺 : Tahanan Grid-Rod (Ω)
Grid-Rod yang menggunakan konduktor grid yang 𝜌 : Tahanan jenis tanahnya (Ω-m)
ditanam sejajar dengan permukaan tanah pada 𝐴 : Luas area sistem pembumian (m2)
kedalaman tertentu dan ditambahkan penanaman ℎ : Kedalaman penanaman konduktor (m)
batang-batang pembumian secara vertical [2]. Maka 𝐿𝐶 : Panjang total konduktor Mesh (m)
dalam perencanaan sistem pembumian Grid-Rod pada 𝐿𝑟 : Panjang batang konduktor Rod (m)
gardu induk 150 kV New Sanur sistem pembumian yang 𝑛𝑟 : Jumlah konduktor batang Rod
akan dianalisis adalah Pelat, Mesh dan Grid-Rod 𝐿𝑅 : Panjang total konduktor Rod (m)
dengan jenis tanah adalah tanah liat dan tanah ladang 𝑎′ : √𝑎 𝑥 2ℎ, untuk konduktor yang ditanam pada
[3]. kedalaman h
Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk 𝑎 : Diameter pembumian Mesh (m)
mengetahui optimalisasi sistem pembumian Grid-Rod 𝑏 : Diameter konduktor pembumian Rod (m)
pada Gardu Induk 150 kV New Sanur. 𝐾1 : 0,10 dan 𝐾 2 = 4,5 dengan nilai c maksimal,
koefisien yang tergantung dari perbandingan
panjang dan lebar
2. KAJIAN PUSTAKA
𝐿𝑝 : Panjang perifer konduktor Mesh pada tepi
sistem pembumian (Meter)
2.1 Sistem Pembumian Grid Rod
𝐿𝑥 : Panjang maksimal konduktor Mesh pada
Sistem pembumian Grid-Rod merupakan
sumbu x (Meter)
gabungan dari sistem pembumian Mesh yang
𝐿𝑦 : Panjang maksimal konduktor Mesh pada
diperpadukan dengan menambahkan jumlah batang rod
sumbu y (Meter)
pada titik-titik tertentu untuk menperoleh nilai tahanan
pembumian yang lebih rendah. Gambar 2.1 adalah
sistem pembumian Grid-Rod [1].

Gambar 2.2 Grafik hubungan antara koefisien K1 dan K2 dengan


perbandingan panjang dan lebar
Gambar 2.1 Pembumian Sistem Grid-Rod

2.2 Tahanan Jenis Tanah

Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 70
Jurnal SPEKTRUM Vol. 7, No. 1 Maret 2020

Tahanan jenis tanah sangat menentukan harga tahanan jenis tanah makin tinggi dengan
tahanan pembumian dipengaruhi oleh komposisi tanah, kedalaman.
temperatur, kandungan air (kelembaban), dan
kandungan kimia dalam tanah. Untuk menurunkan nilai
tahanan dan tahanan jenis tanah yang lebih kecil
dilakukan dengan perlakuan kimia tanah (soil treatment)
berupa penambahan zat aditif dan penambahan
kedalaman penanaman elektroda. Oleh karena itu,
tahanan jenis tanah bisa berbeda-beda dari satu tempat
dengan tempat yang lain tergantung dari sifat-sifat yang
dimilikinya. Sebagai pedoman dasar, tabel berikut ini
berisikan tahanan jenis tanah yang ada di Indonesia [4].
Tabel 2.1 Tahanan Jenis Tanah
Jenis Tanah Tahanan Jenis (Ohm-meter)
Rawa 30
Tanah liat 100
Gambar 2.3 Jenis Elektroda Pita
Pasir basah 200
Batu kerikil basah 500
2.3.2 Elektroda Pelat
Pasir dan batu kerikil kering 1000 Bentuk elektroda pelat biasanya empat persegi
Batu 3000 panjang yang terbuat dari tembaga, timah atau pelat
baja yang ditanam didalam tanah. Elektroda ini terbuat
Sebelum ketahap selanjutnya, yang pertama
dari bahat pelat logam atau dari kawat kasa, elektroda
dilakukan adalah mengetahui karakteristik sifat-sifat
ini dipasang vertikal pada kedalaman minimal 0,5 meter
tanah dimana elektroda akan dipasang. Perlu diketahui
dari dasar tanah. Pada sistem grounding pelat tembaga
bahwa sifat tanah ini bisa terjadi perubahan setiap
digunakan sebagai elektroda yang dihubungkan dengan
musim. Apabila terjadi perubahan sifat tanah maka hal
kabel bak control.
yang bisa dilakukan adalah menggunakan patokan
kapan kondisi tahanan jenis pembumian tersebut pada
kondisi yang tinggi. Hal ini betujuan untuk
mengantisipasi agar tahanan pembumian tetap
memenuhi syarat pada musim kapan tahanan jenis
pembumian tinggi.

2.3 Elektroda Pembumian


Elektroda berfungsi sebagai penghantar yang
sengaja ditanam didalam tanah. Elektroda pembumian
terdiri dari tiga macam, bentuk umum yang digunakan
yaitu:
1. Elektroda pita
2. Elektroda pelat
3. Elektroda batang Gambar 2.4 Jenis Elektroda Pelat
Elektroda-elektroda ini digunakan secara
tunggal atau multiple dan juga dapat digabungkan dari 2.3.3 Elektroda Batang
ketiga jenis elektroda tersebut. Elektroda Batang (ground rood) atau pasak
ialah elektroda yang terbuat menggunakan besi baja
2.3.1 Elektroda Pita atau pipa logam yang ditanam secara vertikal di dalam
Elektroda jenis ini terbuat dari bahan metal tanah. Pemasangan elektroda dilakukan dengan cara
berbentuk pita atau juga kawat BBC yang di tanam di dimasukkan vertical kedalam tanah dan panjangnya
dalam tanah secara horisontal sedalam ± 2 feet. disesuaikan dengan tahanan pembumian yang
Elektroda pita ini bisa dipasang p ada struktur tanah diperlukan.
yang mempunyai tahanan jenis rendah pada permukaan
dan pada daerah yang tidak mengalami kekeringan. Hal
ini cocok untuk daerah-daerah pegunungan dimana

Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 71
𝑍 (0) = Impedansi nol (Ohm)

2.5 Ukuran Konduktor


Ukuran konduktor yang akan dipergunakan
sebagai konduktor pada sistem pembumian haruslah
lebih besar dari hasil perhitungan yang telah didapatkan,
sehingga digunakan sebagai penghantar tembaga dan
alumunium, hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi
terjadinya arus gangguan yang lebih besar. Maka luas
penampang konduktor minimum pembumian dapat
dihitung dengan rumus berikut :

Gambar 2.5 Jenis Elektroda Batang 2 𝐼𝑓


A mm = TCAP.10−4 K +T
(8)
� x ln o m
[Link] Ko + Ta
2.4 Arus Gangguan Ketanah
Pada sistem-sistem yang diketanahkan tanpa Dengan :
impedansi, apabila bila terjadi gangguan hubung tanah A = Penampang konduktor (mm2 )
dapat mengakibatkan terganggunya saluran. Cara yang TCAP = Faktor kapasitansi panas konduktor (J/cm3 /℃)
digunakan untuk mengatasi gangguan pada sistem ini ts = Lama gangguan (detik)
adalah dengan cara membuka pemutus tenaga guna Tm = Suhu maksimum konduktorm (℃)
mengisolasi gangguan yang terjadi. Bila tegangan Ta = Suhu tanah sekitar ( ℃)
seimbang dan kapasitansi fasa ketanah seimbang, Ko = Konstanta (1/ar). Tr (℃)
maka arus kapasitansi ketanah juga seimbang dan Ig = Arus gangguan maksimum (A)
berbeda 1200 satu sama lain. ar = Koefisien panas resistivitas (℃)
Bila terjadi gangguan, baik gangguan pada fasa pr = Resistivitas konduktor pentanahan (Ω/cm)
maka tegangan fasa yang mengalami gangguan akan
mendekati nol sedangkan pada fasa yang tidak 2.6 Tegangan Sentuh
terganggu, besar tegangan akan lebih kecil dari pada Tegangan sentuh adalah tegangan yang terjadi
saat fasa tersebut dalam keadaan normal. antara dua permukaan konduksi, yang dapat dipicu oleh
sentuhan manusia. Tegangan sentuh yang tinngi dapat
1. Gangguan satu fasa ketanah disebabkan adanya kegagalan bagian peralatan. [5].
Rumus arus gangguan 1 fasa ketanah sebagai
berikut :
𝑉𝑓
𝐼𝑓1∅ − 𝐺 = [ (0) (1) (2) ] (5)
𝑍 +𝑍 +𝑍

2. Gangguan dua fasa ketanah


Rumus arus gangguan 2 fasa ketanah sebagai
berikut :
𝑉𝑓
𝐼𝑓2∅ − 𝐺 = [ 𝑍(2) 𝑍(0)
] (6)
𝑍 (1) + (2) (0)
𝑍 +𝑍

3. Gangguan tiga fasa ketanah


Rumus gangguan 3 fasa ketanah sebagai berikut :
𝑉𝑓
𝐼𝑓3∅ = 𝐼𝑎 = 𝐼𝑏 = 𝐼𝑐 = [ ] (7)
𝑍 (1)

Dengan :
If = Arus gangguan (Ampere)
Vf = Tegangan rms ketanah (Volt) Gambar 2.6 Tegangan Sentuh Yang Terjadi Apabila Seseorang
I a I b I c = Arus pada fasa a, b dan c (Ampere) Menyentuh Peralatan Yang Ditanahkan
𝑍 (1) = Impedansi positif (Ohm)
𝑍 (2) = Impedansi negatif (Ohm) Dengan :

Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 72
Jurnal SPEKTRUM Vol. 7, No. 1 Maret 2020

A1 = Kontak kaki yang pertama dari seseorang pad area Dengan :


pentanahan A1 = Kontak kaki yang pertama dari seseorang pada
A2 = Kontak kaki yang kedua dari seseorang pada area areal pentanahan
pentanahan A2 = Kontak kaki yang kedua dari seseorang pada areal
B = Kontak tangan seseorang dengan peralatan yang pentanahan
ditanahkan Veq = Tegangan ekivalen yang timbul pada tubuh
Veq = Tegangan ekivalen yang timbuk pada tubuh manusia
manusia req = Tahanan pengganti antara A1, A2 dengan
req = Tahanan pengganti antar A1, A2 dengan ground ground.

Besarnya tegangan sentuh dapat dirumuskan Besarnya tegangan langkah antar dua titik
dapat dirumuskan sebagai berikut :
menjadi (Hutauruk, 1986) : 0,157
Eℓ = [ 1000 + 6 Cs (hs, K) ρs ] (10)
0,157 √ts
ES = [ 1000 + 1,5 CS (hs , k) ρs ] (9) Dengan :
√ts
Eℓ = Tegangan langkah yang diijinkan (volt)
Besarnya nilai dari faktor reduksi (CS ) tergantung
1000 = Tahanan badan orang (1000 ohm)
dari nilai K dan ketinggian dari referensi ketebalan Cs (hs, K)= Bernilai 1 jika berada pada permukaan tanah.
ρs = Tahanan jenis tanah pada permukaan kerikil
permukaan tanah (hs).
(Ohm-meter)
Dengan : ts = Lamanya gangguan (second)
Es = Tegangan sentuh yang diijinkan (Volt) 0,157 = Konstanta tubuh manusia pada berat badan
1000 = Tahanan badan orang (1000 Ohm) 70 kg
CS (hs, k) = Bernilai 1 jika berada pada permukaan tanah 6 = Tahanan seri dari dua kaki
ρs = Tahanan jenis tanah pada permukaan krikil
(Ohm-meter) 3. METODELOGI PENELITIAN
ts = Lamanya gangguan (second) Penelitian terkait penulisan usulan skripsi ini
0,157 = Konstanta tubuh manusia pada berat badan dilakukan di Padang Galak yang dimulai pada bulan
70 kg Agustus 2017. Data yang dipergunakan dalam
1,5 = Tahanan paralel dari dua kaki. penelitian ini berupa data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh dengan cara melakukan
2.7 Tegangan Langkah pengukuran secara langsung dilokasi rencana
Tegangan langkah ialah tegangan yang terjadi pembangunan Gardu Induk 150 kV New Sanur.
akibat adanya beda potensial antara permukaan tanah Sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber berikut
pada dua titik yang berjarak satu meter yang dialami :
pada seseorang yang menghubungkan kedua titik 1. SKDIR No. 0520-2.K, 2014 (Buku Pedoman
tersebut dengan kedua kakinya [5]. Pemeliharaan Serandang Dan Pentanahan Gardu
Induk).
2. IEEE, Standard 80-2000 Guide for Safety in AC
Subtation Grounding.
A1 A2
3. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2011.
4. Data Impedansi Penghantar Sistem Bali.
Data hasil pengukuran dianalisis secara
deskriptif dan dihitung berdasarkan rumus yang ada.
(a) Dari hasil perhitungan akan dapat direncanakan sistem
pembumian yang sesuai dengan Gardu Induk yang
akan dibangun sebagai berikut :
1. Mengumpulkan dan menghitung data pengukuran
(b) A1 A2 tahanan jenis tanah dilokasi rencana pembangunan
Veq
Req
GI 150 kV New Sanur sesuai dengan katalog alat
ukur (Elohmi Z (42/35-86-2XP) 𝜌 = 2 𝜋.𝑎.𝑅.
2. Optimalisasi mengunakan metode Excel untuk
Gambar 2.7 Besarnya Tegangan Langkah Yang Terjadi Apabila menghitung jenis sistem pembumian sebagai
Seseorang Melangkah Pada Area Grid Yang Ditanahkan.
berikut :

Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 73
a. Sistem pembumian Pelat
b. Sistem pembumian Mesh
c. Sistem pembumian Grid-Rod

3. Menghitung arus gangguan ketanah


4. Menghitung luas penampang konduktor pembumian
5. Perhitungan Tegangan Sentuh.
6. Perhitungan Tegangan Langkah.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengukuran Tahanan Jenis Tanah


Hasil pengukuran dilapangan pada hari Kamis, 30 Dari hasil analisis dan perhitungan diatas,
Agustus 2018 sampai hari Senin, 5 September 2018 diperoleh nilai tahanan pembumian grid-rod adalah
pada lokasi rencana pembangunan Gardu Induk New sebesar 0,3324 Ohm (dengan D = 10 meter, nr = 32) dan
Sanur, dilakukan beberapa kali pengukuran dan sudah memenuhi standar < 1 Ohm.
diperoleh data-data dari hasil pengukuran seperti Tabel
1. Berikut : 4.3 Arus Gangguan Ketanah
Tabel 1 Hasil Pengukuran Tahanan Jenis Tanah di Lokasi
Gardu Induk New Sanur Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis arus
Pukul Tahanan
Tahanan gangguan hubung singkat diatas dengan menggunakan
No Hari/Tanggal JenisTanah data-data yang sudah didapatkan dari [Link] (Persero)
(WITA) Tanah (R)
(Ohm-m)
TJBTB APP Bali dapat diketahui besarnya nilai arus
1. Kamis, 30-8-2018 09.00 0,39 48,984
2. Kamis, 30-8-2018 16.00 0,29 36,424 hubung singkat yang terhitung sudah sesuai dengan
3. Jumat, 31-8-2018 09.00 0,40 50,24 ditunjukkannya arus hubung singkat paling besar adalah
4. Jumat, 31-8-2018 16.00 0,31 38,936 arus hubung singkat 3 fasa ketanah. Dalam
5. Sabtu, 1-9-2018 09.00 0,32 40,192 perencanaan sistem pembumian peralatan di GI 150 kV
6. Sabtu, 1-9-2018 16.00 0,30 37,68 New Sanur menurut [1] besarnya nilai arus hubung
7. Minggu, 2-9-2018 09.00 0,36 45,216
8. Minggu, 2-9-2018 16.00 0,33 41,448
singkat yang digunakan sebagai acuan untuk
9. Senin, 3-9-2018 09.00 0,37 46,472 merencanakan sistem pembumian adalah arus hubung
10. Senin, 3-9-2018 16.00 0,30 37,68 singkat 3 fasa ketanah sebesar 30.101,68241 Ampere
Pada perencanaan sistem pembumian di Gardu atau sebesar 30,1016 kA.
Induk 150 kV New jarak lebar trafo dengan lightning
arrester adalah 10 meter, jarak areal kosong 10 meter 4.4 Perhitungan Luas Penampang Konduktor
dan jarak antara peralatan yang lain disesuaikan Pembumian
dengan jarak dilapangan. Panjang dan lebar total area Ukuran diameter konduktor yang akan
yang dibutuhkan untuk perencanaan sistem pembumian dipergunakan harus lebih besar dari yang didapatkan,
adalah 100 meter dan 60 meter, untuk itu akan agar dapat mengantisipasi terjadinya arus gangguan
direncanakan jarak antar konduktor paralel (𝐷) dalam yang lebih besar. Pada perencanaan sistem pembumian
rencana sistem pembumian dengan jarak 7 m, 9 m, 10 ini menggunakan konduktor jenis (BC) Bare Copper
m, 11 m, dan 13 m, agar dapat menyesuaikan jarak Conductor Soft
antar peralatan yang ada di Gardu Induk 150 kV [3]. 2 30,1016
A mm =
3,42.10−4 234+ 1083
4.2 Hasil Perhitungan Tahanan Pembumian � x ln
1,0.0,00393.1,72 234+34
Sistem Grid-Rod
Untuk menperoleh nilai tahanan pembumian 30,1016
A mm 2 =
dengan jarak antar konduktor yang berbeda-beda dan 0,2835
dengan jumlah rod yang berbeda pula dapat dihitung
hasilnya pada Tabel 2. Berikut : A mm 2
= 106,1784 mm2

Tabel 2 Nilai Tahanan Pembumian Sistem Grid-Rod


Untuk memudahkan perencanaan sistem
pembumian, ukuran diameter konduktor disesuaikan
dengan yang ada dipasaran, hasil perhitungan luas
penampang konduktor yang didapatkan adalah (Ak) 120
mm2 dan ukuran diameter konduktor (d) sebesar 14,00
mm.

Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 74
Jurnal SPEKTRUM Vol. 7, No. 1 Maret 2020

perencanaan sistem pembumian pembangunan Gardu


Induk New Sanur yang akan digunakan sebagai acuan
4.5 Perhitungan Tegangan Sentuh Yang adalah sistem pembumian grid-rod, dengan panjang grid
Diijinkan = 100 meter, dan lebar grid = 60 meter, optimalisasi
Untuk data perhitungan tegangan sentuh yang yang diperoleh dari hasil analisis dan perhitungan
diperbolehkan pada permukaan tanah dengan mengacu adalah dengan menggunakan jarak antar konduktor grid
pada Tabel 3. Berikut : = 10 meter dan jumlah rod = 32, untuk ukuran diameter
2
Tabel 3 Hasil Perhitungan Tegangan Sentuh Yang Diijinkan konduktor yang digunakan 120mm dengan tipe
Lamanya Tegangan Tegangan Sentuh konduktor (BC) Bare Copper Conductor Soft (BC-1/2H),
Gangguan Sentuh Yang Hasil kedalaman penanaman konduktor 3 meter dari atas
t (detik) Dijinkan (Volt) Perhitungan (Volt) permukaan tanah, diameter elektroda rod sebesar 0,012
0,1 1.980 495,63 meter, panjang elektroda rod sebesar 3 meter dan total
0,2 1.400 350,38 panjang konduktor sebesar 660 meter, maka diperoleh
0,3 1.140 286,32 nilai tahanan pembumian 0,3324 Ohm dan sudah
0,4 990 247,81
memenuhi standard yang diijinkan < 1 Ohm. Nilai
0,5 890 221,52
tegangan sentuh maksimum diperoleh 156,62 Volt
1 626 156,62
2 443 110,76
(untuk t = 1 s) dan sudah memenuhi standard yang
3 362 90,42 diijinkan < 626 Volt. Nilai tegangan langkah maksimum
Besar nilai tegangan sentuh maksimum yang diperoleh 100,88 Volt (untuk t = 1 s) dan sudah
diperoleh sebesar 156,62 Volt (untuk t = 1 s) dan lebih memenuhi standard yang diijinkan < 2.216 Volt.
rendah dari standard yang diijinkan sebesar 626 Volt. REFERENSI

4.6 Perhitungan Tegangan Langkah Yang [1] IEEE Standard. “IEEE Guide for Safety in AC
Diijinkan Substation Grounding.” New York : 80-2000.
Untuk data perhitungan tegangan langkah yang [2] AndiSyofian, Dkk. “Sistem Pentanahan Grid
diperbolehkan pada permukaan tanah dengan mengacu Pada Gardu Induk PLTU Teluk Sirih.” Jurnal
pada Tabel 4. Berikut : Momentum Vol. 14 No. ISSN : 1693-752X,
Tabel 4 Hasil Perhitungan Besar Tegangan Langkah Yang 2013.
Diijinkan
Tegangan [3] Kusuma MA, “Studi Analisis Perencanaan
Lamanya Tegangan Langkah Hasil Sistem Pentanahan Gardu Induk (GI) Bandara
Langkah
Gangguan Yang diijinkan Perhitungan Untuk GI New Ngurah Rai.” Tugas Akhir. 2013.
t (detik) (Volt) Sanur Yang Diijinkan (Volt) [4] “Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000).”
Jakarta. 2000.
0,1 7.000 319,24
[5] Hutauruk, T, S. “Pengetanahan Netral dengan
0,2 4.950 225,68 Sistem Tenaga dari Pengetanahan Peralatan”
0,3 4.040 184,42 Jakarta : Erlangga. 1987.
0,4 3.500 159,62
0,5 3.140 142,68
1 2.216 100,88
2 1.560 71,34
3 1.280 58,24
Besar nilai tegangan langkah yang maksimum
diperoleh sebesar 100,88 Volt (untuk t = 1 s) dan lebih rendah
dari standard yang diijinkan sebesar 2.216 Volt.

5. KESIMPULAN
Berdasarkan lokasi perencanaan pembangunan
Gardu Induk New Sanur berada pada jenis tanah liat,
dimana untuk jenis tanah liat memiliki nilai tahanan
pembumian yang sudah cukup baik. Untuk memperoleh
nilai tahanan pembumian yang sesuai dengan standard
keamanan untuk Gardu Induk adalah < 1 Ohm. Pada

Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 75

Anda mungkin juga menyukai