Perencanaan Pembumian Grid-Rod Gardu Induk
Perencanaan Pembumian Grid-Rod Gardu Induk
1 Maret 2020
Abstrak
Pada Gardu Induk terdapat berbagai peralatan listrik diantaranya transformator daya,
pemutus tenaga, alat pengubah fasa, serta alat pelindung, untuk menjaga semua peralatan
pada Gardu Induk dibutuhkan sistem pembumian. Untuk menperoleh sistem pembumian yang
baik dalam perencanaan pembangunan Gardu Induk harus memperhatikan jenis tanahnya.
Dalam penelitian ini ada beberapa metode sistem pembumian yang dianalisis, antara lain :
sistem pembumian pelat, sistem pembumian mesh dan sistem pembumian grid-rod. Analisa ini
bertujuan untuk mendapatkan desain sistem pembumian yang baik dengan nilai tahanan
pembumian yang rendah. Dari hasil analisis dan perhitungan sistem pembumian pelat diperoleh
nilai tahanan pembumian dengan menggunakan 34 lembar pelat sebesar 0,3555 Ohm. Sistem
pembumian mesh diperoleh nilai tahanan pembumian sebesar 0,3447 Ohm dengan jarak D = 10
meter maka untuk perencanaan sistem pembumian pembangunan Gardu Induk New Sanur
yang akan dipergunakan sebagai acuan adalah sistem pembumian grid-rod, dengan panjang
grid = 100 meter, dan lebar grid = 60 meter, maka desain optimalisasi yang diperoleh dari hasil
analisis dan perhitungan adalah 0,3324 dengan menggunakan jarak antar konduktor grid = 10
meter dan jumlah rod = 32 Rod.
Abstract
At the substation there are several electrical equipment including power transformers, power
breakers, phase change devices, and protective equipment, to keep all equipment in the
substation a grounding system is needed. To obtain a good earth system in the planning of the
substation must pay attention to the type of soil. In this study there are several methods of
earthing system analyzed, including: plate earthing system, mesh earthing system and grid-rod
earthing system. This analysis aims to obtain a good earthing system design with a low earth
resistance value. From the results of analysis and calculation of the earth grounding system, the
earth resistance value is obtained using 34 plates of 0.3555 Ohm. The Earth Mesh system
obtained the value of the ground resistance of 0.3447 Ohm with a distance of D is 10 meters
then for the planning of the ground-up systems construction of the New Sanur subsite that will be
used as a reference is a grid-rod ground system, with The length of the grid is 100 meters, and
the width of the grid is 60 meters, then the optimization design obtained from the results of
analysis and calculation is 0,3324 useing the distance between the conductor of the grid is 10
meters and the number of rod is 32 Rod.
Keywords : Substation Grounding, Grounding optimization, Mesh, Grid-Rod.
Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 69
Untuk menghitung besarnya nilai tahanan pada
1. PENDAHULUAN
sistem pembumian Grid dan Rod dapat dihitung dengan
Energi listrik merupakan energi yang sangat
bermanfaat untuk kehidupan manusia. Energi listrik menggunakan rumus (1)
menjadi salah satu kebutuhan manusia yang terus 𝑅1 𝑅2 −𝑅𝑚2
meningkat sejalan dengan tingkat kehidupan. 𝑅𝑔 = (1)
𝑅1 +𝑅2 −2𝑅𝑚
Salah satu upaya PT. PLN (Persero) untuk menjaga
Tahanan pembumian grid (R 1 ) menggunakan rumus :
kontinyuitas suplai tenaga listrik dan pelayanan kepada
konsumen adalah dengan mendirikan Gardu Induk baru 𝜌 2𝐿𝐶 𝐾1 𝑥𝐿𝐶
𝑅1 = �𝐼𝑛 � �+ − 𝐾2 � (2)
150 kV New Sanur. Gardu Induk tersebut direncanakan 𝜋𝐿𝐶 𝑎′ √𝐴
berkapasitas sebesar 2 × 60 MVA. Tahanan pembumian rod (R 2 ) menggunakan rumus :
Untuk menperoleh sistem pembumian yang baik
𝜌 4𝐿𝑅 2𝐾1 𝑥𝐿𝑟 2
dalam perencanaan pembangunan Gardu Induk harus 𝑅2 = �𝐼𝑛 � �−1+ (√𝑛𝑟 − 1) � (3)
2𝜋𝑛RLR 𝑏 √𝐴
memperhatikan jenis tanahnya. Tahanan pembumian
yang umum digunakan pada peralatan Gardu Induk Dan untuk menghitung nilai dari (R m ) menggunakan
adalah sistem pembumian yang memiliki nilai tahanan rumus :
yang lebih rendah dari standard < 1 Ohm [1]. Sistem
𝜌 2𝐿𝐶 𝐾1 𝑥𝐿𝐶
pembumian pada gardu induk berfungsi untuk 𝑅𝑚 = �𝐼𝑛 � �+ − 𝐾2 + 1� (4)
𝜋𝐿𝐶 𝐿𝑟 √𝐴
mengamankan personil dan peralatan-peralatan listrik.
Pada gardu induk dengan desain yang Dengan :
umumnya digunakan adalah desain sistem pembumian 𝑅𝐺 : Tahanan Grid-Rod (Ω)
Grid-Rod yang menggunakan konduktor grid yang 𝜌 : Tahanan jenis tanahnya (Ω-m)
ditanam sejajar dengan permukaan tanah pada 𝐴 : Luas area sistem pembumian (m2)
kedalaman tertentu dan ditambahkan penanaman ℎ : Kedalaman penanaman konduktor (m)
batang-batang pembumian secara vertical [2]. Maka 𝐿𝐶 : Panjang total konduktor Mesh (m)
dalam perencanaan sistem pembumian Grid-Rod pada 𝐿𝑟 : Panjang batang konduktor Rod (m)
gardu induk 150 kV New Sanur sistem pembumian yang 𝑛𝑟 : Jumlah konduktor batang Rod
akan dianalisis adalah Pelat, Mesh dan Grid-Rod 𝐿𝑅 : Panjang total konduktor Rod (m)
dengan jenis tanah adalah tanah liat dan tanah ladang 𝑎′ : √𝑎 𝑥 2ℎ, untuk konduktor yang ditanam pada
[3]. kedalaman h
Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk 𝑎 : Diameter pembumian Mesh (m)
mengetahui optimalisasi sistem pembumian Grid-Rod 𝑏 : Diameter konduktor pembumian Rod (m)
pada Gardu Induk 150 kV New Sanur. 𝐾1 : 0,10 dan 𝐾 2 = 4,5 dengan nilai c maksimal,
koefisien yang tergantung dari perbandingan
panjang dan lebar
2. KAJIAN PUSTAKA
𝐿𝑝 : Panjang perifer konduktor Mesh pada tepi
sistem pembumian (Meter)
2.1 Sistem Pembumian Grid Rod
𝐿𝑥 : Panjang maksimal konduktor Mesh pada
Sistem pembumian Grid-Rod merupakan
sumbu x (Meter)
gabungan dari sistem pembumian Mesh yang
𝐿𝑦 : Panjang maksimal konduktor Mesh pada
diperpadukan dengan menambahkan jumlah batang rod
sumbu y (Meter)
pada titik-titik tertentu untuk menperoleh nilai tahanan
pembumian yang lebih rendah. Gambar 2.1 adalah
sistem pembumian Grid-Rod [1].
Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 70
Jurnal SPEKTRUM Vol. 7, No. 1 Maret 2020
Tahanan jenis tanah sangat menentukan harga tahanan jenis tanah makin tinggi dengan
tahanan pembumian dipengaruhi oleh komposisi tanah, kedalaman.
temperatur, kandungan air (kelembaban), dan
kandungan kimia dalam tanah. Untuk menurunkan nilai
tahanan dan tahanan jenis tanah yang lebih kecil
dilakukan dengan perlakuan kimia tanah (soil treatment)
berupa penambahan zat aditif dan penambahan
kedalaman penanaman elektroda. Oleh karena itu,
tahanan jenis tanah bisa berbeda-beda dari satu tempat
dengan tempat yang lain tergantung dari sifat-sifat yang
dimilikinya. Sebagai pedoman dasar, tabel berikut ini
berisikan tahanan jenis tanah yang ada di Indonesia [4].
Tabel 2.1 Tahanan Jenis Tanah
Jenis Tanah Tahanan Jenis (Ohm-meter)
Rawa 30
Tanah liat 100
Gambar 2.3 Jenis Elektroda Pita
Pasir basah 200
Batu kerikil basah 500
2.3.2 Elektroda Pelat
Pasir dan batu kerikil kering 1000 Bentuk elektroda pelat biasanya empat persegi
Batu 3000 panjang yang terbuat dari tembaga, timah atau pelat
baja yang ditanam didalam tanah. Elektroda ini terbuat
Sebelum ketahap selanjutnya, yang pertama
dari bahat pelat logam atau dari kawat kasa, elektroda
dilakukan adalah mengetahui karakteristik sifat-sifat
ini dipasang vertikal pada kedalaman minimal 0,5 meter
tanah dimana elektroda akan dipasang. Perlu diketahui
dari dasar tanah. Pada sistem grounding pelat tembaga
bahwa sifat tanah ini bisa terjadi perubahan setiap
digunakan sebagai elektroda yang dihubungkan dengan
musim. Apabila terjadi perubahan sifat tanah maka hal
kabel bak control.
yang bisa dilakukan adalah menggunakan patokan
kapan kondisi tahanan jenis pembumian tersebut pada
kondisi yang tinggi. Hal ini betujuan untuk
mengantisipasi agar tahanan pembumian tetap
memenuhi syarat pada musim kapan tahanan jenis
pembumian tinggi.
Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 71
𝑍 (0) = Impedansi nol (Ohm)
Dengan :
If = Arus gangguan (Ampere)
Vf = Tegangan rms ketanah (Volt) Gambar 2.6 Tegangan Sentuh Yang Terjadi Apabila Seseorang
I a I b I c = Arus pada fasa a, b dan c (Ampere) Menyentuh Peralatan Yang Ditanahkan
𝑍 (1) = Impedansi positif (Ohm)
𝑍 (2) = Impedansi negatif (Ohm) Dengan :
Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 72
Jurnal SPEKTRUM Vol. 7, No. 1 Maret 2020
Besarnya tegangan sentuh dapat dirumuskan Besarnya tegangan langkah antar dua titik
dapat dirumuskan sebagai berikut :
menjadi (Hutauruk, 1986) : 0,157
Eℓ = [ 1000 + 6 Cs (hs, K) ρs ] (10)
0,157 √ts
ES = [ 1000 + 1,5 CS (hs , k) ρs ] (9) Dengan :
√ts
Eℓ = Tegangan langkah yang diijinkan (volt)
Besarnya nilai dari faktor reduksi (CS ) tergantung
1000 = Tahanan badan orang (1000 ohm)
dari nilai K dan ketinggian dari referensi ketebalan Cs (hs, K)= Bernilai 1 jika berada pada permukaan tanah.
ρs = Tahanan jenis tanah pada permukaan kerikil
permukaan tanah (hs).
(Ohm-meter)
Dengan : ts = Lamanya gangguan (second)
Es = Tegangan sentuh yang diijinkan (Volt) 0,157 = Konstanta tubuh manusia pada berat badan
1000 = Tahanan badan orang (1000 Ohm) 70 kg
CS (hs, k) = Bernilai 1 jika berada pada permukaan tanah 6 = Tahanan seri dari dua kaki
ρs = Tahanan jenis tanah pada permukaan krikil
(Ohm-meter) 3. METODELOGI PENELITIAN
ts = Lamanya gangguan (second) Penelitian terkait penulisan usulan skripsi ini
0,157 = Konstanta tubuh manusia pada berat badan dilakukan di Padang Galak yang dimulai pada bulan
70 kg Agustus 2017. Data yang dipergunakan dalam
1,5 = Tahanan paralel dari dua kaki. penelitian ini berupa data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh dengan cara melakukan
2.7 Tegangan Langkah pengukuran secara langsung dilokasi rencana
Tegangan langkah ialah tegangan yang terjadi pembangunan Gardu Induk 150 kV New Sanur.
akibat adanya beda potensial antara permukaan tanah Sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber berikut
pada dua titik yang berjarak satu meter yang dialami :
pada seseorang yang menghubungkan kedua titik 1. SKDIR No. 0520-2.K, 2014 (Buku Pedoman
tersebut dengan kedua kakinya [5]. Pemeliharaan Serandang Dan Pentanahan Gardu
Induk).
2. IEEE, Standard 80-2000 Guide for Safety in AC
Subtation Grounding.
A1 A2
3. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2011.
4. Data Impedansi Penghantar Sistem Bali.
Data hasil pengukuran dianalisis secara
deskriptif dan dihitung berdasarkan rumus yang ada.
(a) Dari hasil perhitungan akan dapat direncanakan sistem
pembumian yang sesuai dengan Gardu Induk yang
akan dibangun sebagai berikut :
1. Mengumpulkan dan menghitung data pengukuran
(b) A1 A2 tahanan jenis tanah dilokasi rencana pembangunan
Veq
Req
GI 150 kV New Sanur sesuai dengan katalog alat
ukur (Elohmi Z (42/35-86-2XP) 𝜌 = 2 𝜋.𝑎.𝑅.
2. Optimalisasi mengunakan metode Excel untuk
Gambar 2.7 Besarnya Tegangan Langkah Yang Terjadi Apabila menghitung jenis sistem pembumian sebagai
Seseorang Melangkah Pada Area Grid Yang Ditanahkan.
berikut :
Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 73
a. Sistem pembumian Pelat
b. Sistem pembumian Mesh
c. Sistem pembumian Grid-Rod
Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 74
Jurnal SPEKTRUM Vol. 7, No. 1 Maret 2020
4.6 Perhitungan Tegangan Langkah Yang [1] IEEE Standard. “IEEE Guide for Safety in AC
Diijinkan Substation Grounding.” New York : 80-2000.
Untuk data perhitungan tegangan langkah yang [2] AndiSyofian, Dkk. “Sistem Pentanahan Grid
diperbolehkan pada permukaan tanah dengan mengacu Pada Gardu Induk PLTU Teluk Sirih.” Jurnal
pada Tabel 4. Berikut : Momentum Vol. 14 No. ISSN : 1693-752X,
Tabel 4 Hasil Perhitungan Besar Tegangan Langkah Yang 2013.
Diijinkan
Tegangan [3] Kusuma MA, “Studi Analisis Perencanaan
Lamanya Tegangan Langkah Hasil Sistem Pentanahan Gardu Induk (GI) Bandara
Langkah
Gangguan Yang diijinkan Perhitungan Untuk GI New Ngurah Rai.” Tugas Akhir. 2013.
t (detik) (Volt) Sanur Yang Diijinkan (Volt) [4] “Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000).”
Jakarta. 2000.
0,1 7.000 319,24
[5] Hutauruk, T, S. “Pengetanahan Netral dengan
0,2 4.950 225,68 Sistem Tenaga dari Pengetanahan Peralatan”
0,3 4.040 184,42 Jakarta : Erlangga. 1987.
0,4 3.500 159,62
0,5 3.140 142,68
1 2.216 100,88
2 1.560 71,34
3 1.280 58,24
Besar nilai tegangan langkah yang maksimum
diperoleh sebesar 100,88 Volt (untuk t = 1 s) dan lebih rendah
dari standard yang diijinkan sebesar 2.216 Volt.
5. KESIMPULAN
Berdasarkan lokasi perencanaan pembangunan
Gardu Induk New Sanur berada pada jenis tanah liat,
dimana untuk jenis tanah liat memiliki nilai tahanan
pembumian yang sudah cukup baik. Untuk memperoleh
nilai tahanan pembumian yang sesuai dengan standard
keamanan untuk Gardu Induk adalah < 1 Ohm. Pada
Dewa Made Rian Sanjaya, Cok Gede Indra Partha, I Gede Dyana Arjana 75