0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan7 halaman

Pertemuan Rahasia Rosikrucean

Paragraf pertama menjelaskan tentang organisasi rahasia Rosikrucean yang dipimpin Raja Rudolph. Paragraf berikutnya memperkenalkan Alaan, anggota organisasi tersebut. Ia memasuki ruang rahasia untuk rapat dengan anggota lain untuk membahas kasus penyihir yang belum terungkap.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan7 halaman

Pertemuan Rahasia Rosikrucean

Paragraf pertama menjelaskan tentang organisasi rahasia Rosikrucean yang dipimpin Raja Rudolph. Paragraf berikutnya memperkenalkan Alaan, anggota organisasi tersebut. Ia memasuki ruang rahasia untuk rapat dengan anggota lain untuk membahas kasus penyihir yang belum terungkap.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 4

Abigailts Si Pengusaha Terkenal

Organisasi rahasia merupakan organisasi yang dibuat oleh raja terdahulu untuk membuat
wilayah kekuasaannya menjadi lebih baik. Hanya orang terpilih yang dapat menjadi anggota
terpercaya dari organisasi ini. Nama-nama organisasi sering berubah-rubah sesuai dengan
siapa yang memimpinnya. Raja saat ini, yakni Rudolph menamakan oranisasi rahasia
sekarang dengan sebutan Rosikrucean yang bergerak di bidang spiritualisme.
Di suatu tempat dimana tidak ada orang yang tahu keberadaanya, Alaan memasuki sebuah
bar khusus bangsawan di wilayah Arches. Di dalam seperti biasa, semua orang yang tadinya
tertawa akan terdiam ketika melihatnya muncul. Dia mengangguk kepada pria tua yang
sedang merapikan botol minuman di rak kesayangannya, lalu langsung pergi ke lantai bawah.
Tangga ini menuntunnya ke tempat dimana sebuah ruangan penyimpanan anggur yang
disekelilinginya hanya ditemani dinding batu bata. Orang-orang tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi di balik ruangan ini.
Alaan menyentuh dinding batu-bata tepat di tengah-tengah dengan tangannya yang lebar.
Kemudian dinding terbuka, menampakan orang-orang yang sedang duduk mengelilingi meja
bundar. Hanya anggota Rosikrucean saja yang bisa mengakses ruangan ini.
“Kami sudah lama menunggumu, Alaan,” ucap Marquies Golfengini dengan wajah lega.
“Bagaimana dengan perkambangannya? Ini sudah seminggu berlalu,” tanya Count Poe.
“Ada kendala sedikit, tapi aku sudah memastikannya dengan sihirku.”
“Kenapa kamu begitu ceroboh!” protes Pangeran Kriston, lalu dia mengecilkan suaranya,
“Bagaimana jika ada orang lain yang tahu tetang kekuatanmu?”
“Orang yang terlibat sudah kusingkirkan. Jika Aku terbunuh,” Alaan sedikit tersenyuman
melirik Kriston yang ada diseberang meja, lalu berkata, “Maka ada penghianat di ruangan
ini.”
Alaan tahu Kriston tidak suka padanya, dan memiliki hasrat membunuh yang besar terlihat
dari matanya yang membara. Tapi dia pintar menyembunyikan niat terselubungnya sehingga
Alaan harus selalu waspada setiap kali berada didekatnya. Alaan tidak tahu apa yang
membuatnya begitu, tapi yang pasti mereka tidak memiliki hubungan yang baik sebagai
teman ataupun kolega.
Count Poe angkat bicara, “Ini tidak sepertimu Alaan. Tapi apa ada pengaruh dengan
menggunakan sihirmu?”
“Sekarang dapat kita yakini bahwa dia bukanlah penyihir yang kita takuti. Sepertinya dia
dijebak. Karena jika Charlotte adalah seorang penyihir berbahaya, dia tidak akan pingsan
berhari-hari setelah aku melemparkan sihir padanya.”
“Untunglah dia bukan. Tapi putriku baik-baik sajakan? Aku belum pernah mendengar
kabarnya sejak seminggu ini.”
Count Poe yang merupakan ayah Charlotte sebelumnya terkejut saat semua bukti
mengarah ke anaknya. Alaan yang merupakan penyihir terpercaya ditugaskan Raja untuk
menikahi Charlotte agar pekerjaan dalam menyelidikinya berjalan dengan aman. Sebab
sesama penyihir tidak dapat saling membunuh, tapi dapat saling menyakiti.
“Tenang saja, dia baik-baik saja dan aman. Aku yakin dia bukan penyihir melihat dari
keadaan lemahnya. Tapi aku akan tetap waspada dan mencari kebenaran yang sebenarnya.“
“Kerja bagus Alaan. Besar kemungkinan dia adalah kaki tangan penyihir, atau mungkin ia
hanya dimanfaatkan.”
“Ya, aku setuju. Ini harus diselesaikan dengan cepat dan rapi, tidak seperti seseorang yang
ketahuan mengkhianati kerajaan dan kemudian melarikan diri meninggalkan tugasnya,”
sindir Kriston dengan senyuman matannya ke arah Alaan.
Di bawah meja, kepalan tangan Alaan sudah siap melayang ke wajah Kriston. Tapi dia
berusaha menahannya. Walaupan dia membenci ayahnya, tetap saja menyakitkan mendengar
orang terdekat dan tersayangnya dulu telah mengkhianati ibunya dan juga kerajaan.
Kemudian Golfengini berbicara mengganti topik agar situasi tidak makin memanas,
“Baiklah, kita semua harus belajar dari kejadian itu. Dan kita harus berkerja sama dan fokus
dalam pengejaran kali ini agar kerajaan tetap berjalan damai.”
“Ya, pasti. Kita akan menangkapnya. Pasti.”
Pertemuan dihabiskan dengan membicarakan langkah selanjutnya untuk menangkap
penyihir yang belum diketahui identitasnya. Kepala Alaan terasa sakit karena banyaknya hal
yang harus dilakukan. Belum lagi dengan urusan wilayah ibu kota Volshebnny yang
ditinggalkan oleh ayahnya yang melarikan diri. Malahan dia berharap ayahnya telah mati
mengenaskan dan jasadnya tidak akan pernah ditemukan. Tapi jauh di lubuk hati terdalamnya
mengatakan bahwa dia berharap semua skenario tentang ayahnya yang dicap pengkhianat
adalah bohong.
Alaan melihat keluar jendela kereta untuk meluruskan pikirannya. Di luar banyak
pedagang yang berusaha menjual dagangannya ke sana ke sini, orang-orang lewat terhibur
oeh para penari dan penyanyi sebagai hiburan manis, dan anak-anak berlarian mengejar
laying-layang yang terlepas. Dia mendecakkan lidahnya melihat orang-orang di kota ini tidak
tahu bahaya apa yang mungkin menanti mereka.

***

Saat matahari mulai menghilangkan diri, teman-teman Charlotte pergi setelah mereka
berbincang-bincang seru. Calaste adalah orang yang anggun dan bijak terlihat dari cara
bicaranya. Sedangkan Elliana memiliki sifat yang blak-blakan dan sedikit suka mengambil
resiko. Kombinasi yang menarik untuk ditonton bagi Charlotte.
Suara kertas yang dibolak-balik, tinta-tinta berceceran di atas meja, hingga matanya yang
terus berkedip-kedip menahan kantuk. Itulah Charlotte yang sedang mengambar desain gaun
pesta kerajaan. Walaupun dari luar dia terlihat cantik, tapi ternyata ia tidak memiliki
kebiasaan rapi. Roknya telah berkerut karena sudah lama berkabung di meja kerja Duchess.
Matanya perih dan uapan akan terdengar jika berada tak jauh darinya. Sudah sekitar satu jam
dia seperti itu.
“Akhirnya selesai!”
Dia meregangkan tubuhnya sambil menguap puas. Dia tersenyum puas dan berbangga hati
karena telah menciptakan gaun modis yang dia contek sedikit dari ingatannya waktu
berselancar melihat gaun-gaun bermerek yang tentu saja dia tidak bisa beli. Dia merindukan
ponsel pintar yang semuanya bisa ditemukan disana.
Kemudian dia akhirnya tersadar bahwa dia harus mencari buku itu, bukan bermain-main
memikirkan gaun pesta yang belum tentu bisa dibuat disini.
“Bagaimana caranya aku menemukan buku itu?”
“Buku apa, Nyonya?”
“Ah. Bukan apa-apa.”
Lily bergerak dengan lihai meletakkan cangkir dan kue-kue lezat satu persatu di atas meja
kayu krem yang dipoles dengan hati-hati. Berbangga dalam hati bahwa dia telah membuat
maha karya susunan meja yang cantik.
“Silahkan dinikmati, Nyonya.”
Tak peduli berapakali Charlotte membasahi lidahnya dengan teh di rumah ini, rasanya
selalu hambar.
“Tidakkah mereka (siapapun yang membuat teh ini) menambahkan gula ke dalam sini?”
“Maaf, Nyonya. Kita tidak lagi memasok gula ke sini. Tapi sebagai gantinya saya akan
membawa susu.”
“Tidak usah. Tapi kenapa bisa begitu?”
“Itu…”
Di ruangan kerja lain, terdapat Dorres yang sedang bekerja keras di atas meja.
Disekelilingnya dipenuhi banyak dokumen kertas.
“Dorres. Kenapa kamu bekerja begitu keras?” kata Charlotte ketika memasuki ruangan.
“Nyonya!” Dorres langsung berdiri menghadap Duchess.
“Aku akan mengatasi sisanya.”
“Tapi Nyonya... Anda masih dalam masa pemulihan.”
“Tidak, saya sudah sangat sehat. Aku yakin aku bisa memukul musang sekarang dengan
kekuatanku. Serahkan saja padaku.”
Dorres menganggapnya lucu karena tidak mungkin tangan mulus dan selembut itu akan
menyentuh musang, apalagi memukulnya.
“Jadi, apa saja tugas seorang Duchess?”
“Ya, ampun. Aku lupa memberitahu Nyonya. Maafkan saya ini yang sudah mulai pikun.”
Dorres baru ingat jika Charlotte kehilangan ingatannya. Jadi pelatihannya waktu persiapan
menjadi Duchess telah hilang juga. Padahal sebanarnya dia memang belum pernah diajari.
“Tugas utama seorang Duchess adalah mengelola semua koordinasi di rumah ini.
Pekerjaan paling utama adalah; membuat pesta 1 tahun sekali, mengadakan acara pertemuan
minum teh 3 bulan sekali, memilih bisnis yang paling menguntungkan untuk diinvestasi,
sampai yang paling sederhana, menetapkan gaji para pelayan.”
Charlotte tidak menyangka tugas seorang istri Duke sebanyak ini, dia yakin setiap hari
akan ada jadwal yang padat menunggunya. Haruskah dia mundur sekarang dengan alasan
masih sakit, lalu mengembalikan semua tugas ini kepada Dorres? Oh, tidak. Walaupun
mencari buku itu prioritas utama, tapi dia tidak bisa membebani Dorres yang sudah tua ini.
Lembar dari tumpukan pertama yang dilihat Charlotte terpampang jelas nama-nama orang
yang ingin menawarkan bermacam jenis bisnis yang berbeda-beda. Sangking banyaknya itu
memiliki 5 lembar dengan tulisan yang berdempet. Charlotte akhirnya tersadar seberapa kaya
keluarga ini sampai memiliki banyak pengusaha yang ingin bekerja sama.
“Huh! Anak ini ternyata mau main-main dengan keluarga Duke.”
“Siapa yang kamu bicarakan?”
“Baron Abigaitls, si pengusaha yang sebelumnya miskin menjadi kaya itu. Dia sudah
mengirim proposal permohonan investasi, tapi barusan datang surat yang mengatakan bahwa
dia membatalkannya tiba-tiba secara sepihak.”
“Kenapa? Apakah dia sudah menemukan investor baru?”
“Nyonya, semua orang berlomba-lomba ingin mendapatkan investasi dari keluarga ini,
karena uang yang diberikan sangatlah besar. Saya yakin dia hanya mengolok-olok kita bahwa
dia tidak membutuhkan investor paling berpengaruh sekalipun. Dia itu memiliki sifat paling
kurang ajar. Pernah waktu itu dia melemparkan segelas wine ke wajah Count Herradati dari
negeri sebelah. Semenjak hari itu, Earl tidak pernah mengunjungi Kerajaan Archess lagi.”
“Tunggu, aku tidak mengerti. Kenapa Earl takut padanya? Bukankah Count lebih berkuasa
daripada seorang Baron.”
Dari buku di dunia ini Charlotte mengingat tentang hal itu.
“Itulah kenapa semua orang menghindarinya. Banyak orang bilang dia memiliki kekuatan
yang mengerikan sampai bangsawan yang tinggi pun akan kabur darinya. Adipati Alaan saja
sampai terkena getahnya. Dia merelakan setengah ladang tebu milik turun-menurun keluarga
Duke kepada Baron Abigaitls.”
“Kenapa dia melakukan itu?”
“Itu taruhan bapak Abigailts dengan ayah Alaan yang merupakan Duke sebelumnya. Dua
tahun lalu mereka membuat taruhan saat bermain kartu bersama. Jika keluarga Abigailts bisa
menjadi kaya, setidaknya kekayaannya bisa setara dengan para bangsawan. Maka Duke akan
memberikannya setengah ladang tebu milik keluarga Duke. Tentu saja itu taruhan yang tidak
masuk akal karena keluarganya merupakan kalangan bawah. Tapi siapa sangka, setelah
ayahnya meninggal dunia, anaknya yang ambisius segera menggantikan posisi ayahnya dan
menjadi pedagang paling kaya nomor 2 di kerajaan Arches.”
Charlotte merasa kagum dengan Abigailts. Kisahnya mirip dengan ayahnya yang mencoba
membuktikan bahwa orang miskin bisa sukses juga. Charlotte ingin merasakan berkerja sama
dengannya yang merintis karir dari nol.
“Nyonya, jika tidak ada lagi yang Anda butuhkan. Saya mau pergi keluar sebentar untuk
memesan gaun para pelayan dan beberapa perabotan baru. Saya terharu ketika Lily bercerita
bahwa Nyonya sudah muak dengan warna pink.”
“Siapa juga yang hanya memakai satu warna? Aku tidak ingin lagi menjadi Charlotte yang
dulu. Itu masa-masa jahiliyah.”
“Ya, ampun Nyonya. Ternyata Anda akhirnya tersadar juga.”
Mereka tertawa kecil walaupun Charlotte merasa itu adalah tamparan untuknya. Kemudian
Dorres memakai mantel dan topinya dan mengambil tas hitamnya.
“Bawa juga beberapa pelayan dan ksatria bersamamu. Jika ada sesuatu yang tidak
mengenakkan terjadi, aku bisa mempercayakan keselamatanmu pada mereka.”
“Terimakasih, Nyonya atas perhatiannya. Anda adalah anak yang manis.”
Dorres bangga melihat perempuan yang ia asuh dari kecil kini telah tumbuh dewasa dan
penyayang. Walaupun ada beberapa keribadiannya yang berubah, Dorres tetap senang selama
itu hal positif.
“Hati-hati dijalan!”
“Sampai jumpa Nyonya.”
Charlotte kembali fokus menyortir perkerjaanya. Jadwal pesta berburu masih lama,
pertemuan teh bisa ditunda, semua kebutuhan rumah untuk bulan ini sudah diatur dengan rapi
oleh Dorres. Tinggal masalah meletakkan investasi yang cocok.
Di sisi lain, Alaan baru saja sampai di kediaman Duke. Di depan pintu ada Taklon
menunggunya, kemudian berkata, “Tuan, Baron Abilgaits telah menunggu Anda di ruang
kerja.”
Alaan mengingat siapa Abilgailts sambil berjalan menuju ruang kerja dengan Taklon yang
mendampinginya dibelakang. Dia hampir lupa bahwa Abilgaits yang merupakan pedagang
akan berkunjung hari ini. Ini akan menjadi hari yang panjang keluh dalam hatinya.
“Apa saja yang dilakukan Charlotte hari ini?”
“Tadi pagi dia mengobrol dengan teman-temannya, Marquiess Caleste Streanpy dan Putri
Viscount, Elliana Cabbage. Saya sudah memeriksa latar belakang mereka, dan tidak ada
masalah. Sekarang dia sedang beristirahat di kamarnya.”
“Kerja bagus. Dan sampaikan padanya bahwa mulai besok dia harus mulai makan di meja
makan keluarga.”
“Baik, Tuan.”
Ketika Taklon membukakan pintu ruang kerja, Alaan langsung disambut oleh orang yang
menyebalkan. Abigailts sedang duduk di atas sofa dengan kakinya berada di atas meja. Dia
dengan santai meniup kopi yang mengeluarkan uap lalu meminumnya.
Taklon ingin menegurnya atas ketidaksopanannya di dalam ruang kerja Duke, tapi Alaan
menahannya. Saat itu juga Abilgailts menyadari akan keberadaan mereka.
“Yang Mulia Alaan, Saya sudah menunggu Anda sangat lama,” Abilgailts sadar mereka
memperhatikan kakinya, lalu berkata sambil menurunkan kakinya perlahan, “Oh, maaf atas
ketidakseponan saya. Kaki ini pegal karena sibuk berjalan.”
Gaya bicaranya masih cukup sopan, tapi perilakunya harus diajari selama sedekade di kuil
suci. Abilgailts adalah salah satu orang yang memusuhi Alaan setelah Pangeran Kriston.
Dia sedikit mengeryit setelah menyesap kopi, “Anda harus membeli lebih banyak pasokan
gula. Bagaimana jika Anda membelinya di pabrikku?”
Alaan duduk di seberangnya lalu menyilangkan kakinya dengan ujung siku kanan
menyentuh tangan kursi untuk menyangga kepalanya. Alaan menatapnya dengan bola mata
merendah, ini menunjukkan kalau dia sedang meremehkannya.
“Anda terlihat sangat lelah. Sepertinya istri Anda tidak menyenangkanmu.”
“Tidak usah mencapuri urusanku. Lakukan saja pekerjaanmu.”
Abilgailts tersenyum lalu mengeluarkan setumpuk kertas serta pena dari balik jasnya dan
meletakkan mereka di atas meja. Alaan membacanya dengan sekilas sementara dia berdiri
untuk melihat ruangan sekitar.
“Anda mempunyai banyak barang berkilauan disini. Saya penasaran berapa banyak emas
yang akan dihasilkan jika saya melelang ini semua.”
“Rumah kecilmu tidak akan dapat menampungnya,” dia meletakkan pena dan
menjauhkannya darinya. “Ini dokumenmu, aku sudah menandatanginya. Jadi silahkan pergi.”
“Apakah begini cara Anda menangani tamu? Sungguh mengecewakan.”
“Aku tidak punya urusan lagi denganmu dan aku lelah.”
Alaan tidak mau memperpanjangkan masalah tentang aset. Masalah menangkap penyihir
lebih penting karena ini menyangkut nasib kerajaan abad ini.
Sedangkan di tempat lain ada orang yang juga sama lelahnya, Charlotte. Dia sedang
membaca banyak dokumen yang bertumpuk satu menjadi gunung, kemudian membuang
beberapa proposal yang menurutnya tidak menguntungkan ataupun menarik. Tinggal
menyisakan 5 proposal yang akan dipanggil besok untuk diwawancara.
Charlotte menulis surat yang berisi panggilan kepada calon pengusaha yang akan
diinvestasi, dan satu juga untuk Abigailts. Kemudian memberikannya kepada pelayan,
“Tolong kirimkan surat ini.”
“Baik, Nyonya.”
Charlotte merenggakan tubuhnya setelah kerja keras yang panjang, ini kembali
membosankan pikirnya. Dunia ini masih jauh dari kata modern, jadi tidak ada drama yang
bisa ditonton ataupun game VCR. Tidak ada Dorres dan teman-teman selain dirinya untuk
diajak bergurau, hanya menyisakan para penjaga di luar pintu. Dia pun menyampari kedua
ksatria itu.
“Bagimana hari kalian?”
Tidak ada jawaban dari para ksatria, wajah mereka tegang karena Charlotte menanyakan
kabar mereka saat ini. Seumur hidup mereka berkerja, belum pernah ada yang mengajak
mereka berbicara, bahkan para pelayan acuh tak acuh layaknya mereka hanyalah pajangan.
“Ya, sudah. Jalankan hari kalian dengan menyenangkan. Selamat berkerja.”
Charlotte berpikir bahwa ksatria-ksatria itu sedang fokus berkerja, hingga tidak bisa
mengobrol santai selain menjaga pintu. Maka dari itu Charlotte menyemangati mereka.
Padahal kedua ksatria itu menangis dalam hatinya karena ada seorang wanita cantik yang
memperdulikan mereka.
Charlotte menuruni tangga yang panjang, setiap dia melangkahkan kakinya terdengar
suara dentingan sepatu yang menyenangkan untuk didengar. Di pilar tangga terdapat ukiran
naga, Charlotte mengusapnya sambil mengagumi.
Di lantai bawah memiliki dekorasi dinding yang lebih luar biasa. Setiap lapisan
dindingnya menggunakan emas putih dan lantainya bermarmer biru mengkilap, sampai-
sampai siapapun bisa melihat bayangannya sendiri dengan jelas. Bahkan langit-langit
dihujani oleh banyak Kristal cantik. Semua ini lebih dari cukup untuk hidup bebas sejahtera
tanpa melakukan apapun.
Semakin Charlotte berjalan tak tentu arah, semakin dia tersesat dalam keindahan. Di lantai
ini memiliki banyak pintu yang sama, kecuali pintu besar yang menarik perhatian ini. Di
tengah pintu bagian atas terdapat ukiran berbentuk kepala naga mirip seperti di pilar tadi.
Charlotte penasaran ruangan apa ini yang kemungkinan ada sesuatu yang spesial di
dalamnya.
Charlotte menempelkan sebelah daun telinganya dengan posisi kedua telapak tangan
menyentuh badan pintu. Dia tahu ini konyol, tapi ia hanya ingin memeriksa keadaan di dalam
sana melalui suaranya. Tapi tidak terdengar apapun. Dia memasang telinganya lebih dekat
dan memusatkan perhatiannya ke dalam. Pada saat itulah pintu tiba-tiba terbuka dan dia
melihat Alaan dengan ekspresi biasanya.
Charlotte hanya tersenyum pasrah karena ketahuan.

Anda mungkin juga menyukai