0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan11 halaman

Inovasi Tata Kelola Pemerintahan Kota Malang

[RINGKASAN] Penelitian ini membahas inovasi tata kelola pemerintahan kota di Malang melalui transformasi digital untuk meningkatkan pelayanan publik menjadi lebih efisien dan berintegritas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan subjek Dinas Kominfo Kota Malang dan Wali Kota sebagai pemimpin. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk menangani permasalahan perkotaan di Malang sepert

Diunggah oleh

icha ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan11 halaman

Inovasi Tata Kelola Pemerintahan Kota Malang

[RINGKASAN] Penelitian ini membahas inovasi tata kelola pemerintahan kota di Malang melalui transformasi digital untuk meningkatkan pelayanan publik menjadi lebih efisien dan berintegritas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan subjek Dinas Kominfo Kota Malang dan Wali Kota sebagai pemimpin. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk menangani permasalahan perkotaan di Malang sepert

Diunggah oleh

icha ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Proposal Penelitian

Judul : Urban Governance Innovation ; Trensformasi Kelembagaan Pemerintah


Melalui Pengembangan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
(SPBE) di Kota Malang

Oleh :
1. Nurhasanah (201910050311138)
2. Ica Indah Permata Ayu (201910050311154)

Prodi Ilmu Pemerintahan


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Iniversitas Muhammadiyah Malang
2021
RINGKASAN
Permasalahan tata kelola pemerintahan kota dalam hal tata kerja dan pelayanan kepada masyarakat,
serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program pemerintah selalu menjadi isu strategis di
Kota Malang. Penelitian ini hendak melihat inovasi pemerintahan kota dan tata kerja pelayanan
pemerintah yang efisien, efektif, transparan serta berintegritas melalu trasformasi digital di Kota
Malang. Sehingga gagasan Transformasi Digital menuju smart city merupakan cara yang harus
diambil untuk menangani masalah perkotaan yang meningkat secara dramatis baik dari segi
peningkatan kinerja pemerintah maupun pelayanan masyarakat. Adapun metode dalam penelitian ini
akan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif untuk mengekplorasi proses transformasi
digital dalam inovasi tata kelola pemerintahan perkotaan. Subjek dalam penelitian adalah Dinas
Komunikasi dan Informasi sebagai leading sector pelaksana teknis, dan wali kota malang sebagai
leader dan motor penggerak pemerintahan di Kota Malang. Sumber data dari dari primer dan
sekunder. Teknik Pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan
analisis data menggunakan software NVivo 12 Plus.

Kata Kunci: Urban Governance Innovation, Transformasi Digital, Pelayanan Publik, SPBE.

LATAR BELAKANG
Latar belakang dalam penelitian ini berangkat dari kompleksitas masalah pemerintahan kota
lebih kompleks dibandingkan dengan masalah non-perkotaan. Masalah yang dimaksud adalah
masalah saling bergantung, subjektif, buatan dan dinamis.[1] Pengelolaan data yang terintegrasi antar
Organisasi Pemerintah Daerah dalam peningkatan pelayanan publik di Kota Malang selalu menjadi
isu strategis baik. Isu strategis yang dimaksud adalah isu- isu yang terkait dengan efektifitas dan
efisiensi penataan kelembagaan, pelayanan publik, kemiskinan, marginalisasi sector
informal di daerah perkotaan perlu dikelola dengan baik, terukur dan memanfaatkan teknologi
informasi menuju pembangunan kota berkelanjutan. Dalam setiap tata kelola pemerintahan kota
menuju smart city yang sukses berkaitan erat dengan persepsi dan penggunaan teknologi di
seluruh kota pemerintahan kota Meijer, (2016). Gagasannya adalah bahwa kegunaan teknologi
untuk meningkatkan tata kelola kota di ranah kota pintar hanya dapat ditingkatkan dengan
mempelajari interaksi antara inovasi teknologi perkotaan dan proses tata kelola dalam konteks
perkotaan tertentu. [2]

Dalam konteks kota malang, setidaknya ada empat permasalahan perkotaan yang mulai
terjadi di Kota Malang. Pertama, Kepadatan bangunan, kerapatan bangunan berpotensi dan
berkontribusi atas penyempitan, penyumbatan serta tidak maksimalnya saluran air/drainase.
Serta makin berkurangnya lahan dan penyemenan (pengerasan) tanah karena bangunan. Kedua,
Peningkatan penduduk, di Kota Malang setiap tahunnya terjadi peningkatan penduduk sebesar
1,58%. Tercatat pada akhir desember 2019 penduduk Kota Malang berjumlah 881.794 jiwa.
Sementara hingga akhir April 2020 penduduk Kota Malang sebanyak 887.443 jiwa. Ketiga,
Malang merupakan kota Pendidikan, terdapat 2 perguruan tinggi negeri di Kota Malang yakni
Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang dan beberapa Universitas swasta seperti
Universitas Muhamadiyah Malang dan Institut Teknologi Nasioal, serta beberapa universitas lain
di Kota Malang yang secara keseluruhan berjumlah 86 perguruan tinggi. Keempat, Kemacetan
sejatinya merupakan salah satu implikasi dari meningkatnya jumlah penduduk di Kota Malang
yang berdampak pada meningkatnya volume kendaraan di Kota Malang. Mengacu pada
permasalahan diatas, maka perlu inovasi pemerintah untuk menata kondisi kota secara efektif
dan efisien melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Berkaitan dengan permasalahan diatas, maka penelitian ini akan membahas Urban
Government Innovation sebagai cara dan metode dalam penyelesaian masalah Integrasi inovasi
teknologi perkotaan ke dalam tata kelola perkotaan dalam ranah smart city di Kota Malang.
Inovasi tersebut berkaitan dengan Ide dan cara dalam menjalankan roda pemerintahan dengan
menggunakan Teknologi Informasi dalam mewujudkan smart city dan mencapai sustainable city
development. [3] Adapun tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui upaya pemerintah Kota
Malang dalam mencapai Sustainable City Development melalui berbagai macam inovasi dan
penggunaan teknologi perkotaan ke dalam tata kelola perkotaan dalam mewujudkan smart city.
Urgensi penelitian mengacu pada keadaan atau situasi yang membentuk pengaturan
tatakelola perkotaan dan interaksi sosioteknik antara inovasi teknologi perkotaan dan proses tata
kelola kota, dan dalam hal yang dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya. Selain itu penelitian ini
akan melihat dari faktor kontekstual dalam mempengaruhi tata kelola pemerintahan kota melalui
transformasi kelembagaan menuju smart city, serta ingin menekankan peran tersembunyi dari
potensi pengetahuan kelembagaan local dan Nature of problem domain dalam membentuk
interaksi teknologi dengan aktor perkotaan, termasuk faktor politik atau demografi, budaya
administratif, dan faktor teknologi pada struktur tata kelola perkotaan di Kota Malang.

TINJAUAN PUSTAKA
Pendekatan berbasis teknologi untuk meningkatkan tata kelola perkotaan, sebagian besar,
hanyalah upaya untuk menciptakan citra modernis kota dan agal menempatkan kepentingan
masyarakat lokal sebagai pusat pelayanan. Pemanfaatan Teknologi sebagai inovasi tata kelola
perkotaan memiliki karakter anti perkotaan, karena teknologi yang diterapkan untuk mendorong
perkembangan kota belum cukup di area urban. Jika masalah ini tidak bisa dipecahkan, teknologi
bisa segera menjadi "disensor," yang akan diubah untuk memerintahkan dan mengontrol aktor
perkotaan. Untuk menghindari hal ini, diperlukan pemahaman empiris yang lebih kuat tentang
hubungan antara inovasi teknologi perkotaan dan proses tata kelola.[5] Penerapan teknologi di
kota harus dikontekstualisasikan dengan mempertimbangkan pentingnya kekhususan lokal dan
pengaturan tertentu, karena kontekslah yang memungkinkan teknologi bekerja Dengan demikian,
fungsi untuk meningkatkan tata kelola perkotaan harus terkait erat dengan kebutuhan nyata dari
berbagai pelaku perkotaan dan praktik tata kelola yang ada. Pandangan ini membantu mengubah
kesadaran kita dari fokus pada pendekatan berbasis teknologi, ke proses sosioteknikal dari
inovasi teknologi perkotaan.

Inovasi teknologi perkotaan bersifat institusional dalam arti bahwa teknologi dan tatanan
kelembagaan berkembang dalam proses saling membentuk secara spesifik. konteks perkotaan. Ini
melibatkan adopsi dan pemanfaatan teknologi baru dan juga "perubahan dalam rutinitas,
kolaborasi, dan peran aktor" dalam tata kelola kota pintar. [6] Untuk menyoroti nilai-nilai yang
dipersepsikan berbeda dari teknologi dalam proses inovasi, keempat perspektif inovasi teknologi
perkotaan — perspektif teknologi, instrumental, dan kolaboratif.

Gambar 1. Roadmap Penelitian

Dalam Penelitian Kamil & Kusumaningrum (2019) mengeksplorasi tentang upaya


pemerintah sidoarjo untuk mencapai sustainable city development dalam penanganan terhadap
lingkungan yang ada di Kota Sidoarjo bukan hanya tentang pengelolaan sampah tetapi juga perlu
dilakukan upaya penanganan terhadap banyaknya limbah industri yang menyebabkan pencemaran
lingkungan terutama pencemaran air. Penanggulangan pencemaran limbah industri yang dilakukan
dengan melakukan audit lingkungan melalui pengawasan pengelolaan limbah pada industri tidak
dapat berjalan dengan baik dan masih banyak industri yang melakukan pencemaran. Hal ini
dikarenakan oleh penegakan hukum lingkungan yang masih belum tegas, sehingga tidak ada efek
terhadap industri yang melakukan pencemaran. Pengelolaan limbah Industri dan Pengelolaan
Sampah Berbasis Sistem Sanitary Landfill (SLF) dengan model jejaring dan kerjasama antar
stakehorders adalah upaya pemulihan terhadap lingkungan yang tercemar belum dapat
dilaksanakan dengan maksimal. Hal ini dikarenakan oleh kurangnya lahan hijau yang ada di
Sidoarjo sehingga penyerapan udara yang kotor menjadi kurang maksimal. [7]

Penelitian Kamil (2020) tentang transformasi birokrasi dalam inovasi pelayanan publik di
Kota Malang menegaskan bahwa penerapan demokrasi di level praksis dan pemenuhan basic
needs bagi warga negara adalah esensinya. Untuk memaknai dimensi relasi warga negara dengan
Negara, transformasi birokrasi dan inovasi pelayanan merupakan wujud konkrit danmenjadi
tolok ukur untuk menentukan seberapa jauh negara mengintervensi persoalan pemenuhan
kebutuhan masyarakatnya. Secara garis besar, hadirnya transformasi birokrasi dan inovasi
pelayanan oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah merupakan
bentuk respons atas gagalnya pelaksanaan pemerintahan sebelumnya. Hal ini adalah tantangan
tersendiri dalam mendemokratiskan pelayanan publik berbasis kewargaan inklusif dan
eksklusifitas pelayanan publik di Kota Malang.[8]

Lebih jauh, pemerintah kota Surabaya juga berupaya mengintegrasikan TIK untuk
pelayanan publik. Dinas Kominfo Pemkot Surabaya mencoba memfasilitasi segala kebutuhan IT
warganya agar dapat melek IT sekaligus diharapkan mampu memproduksi konten informasi,
sehingga dapat berkontribusi dalam pembangunan kota. Instansi tersebut menyediakan fasilitas
internet gratis di 42 titik taman kota di Surabaya yang bisa diakses warga selama 24 jam.
Tujuannya agar masyarakat kota Surabaya lebih mudah untuk memperoleh beragam informasi
secara online.[9] Untuk menguji peran kontekstual Untuk menguji peran potensial dari faktor
kontekstual dalam mempengaruhi pengaturan tata kelola pemerintahan kota mengembangkan
model baru yang mencakup dua dimensi utama: konteks perkotaan dan interaksi teknologi
dengan aktor perkotaan. Model ini dapat digunakan untuk menyelidiki dampak konteks
perkotaan pada interaksi teknologi dengan aktor perkotaan dan memeriksa makna yang
dihasilkan dari pengaturan tata kelola yang cerdas. Faktanya, model ini membantu dalam
memahami bagaimana inovasi teknologi perkotaan yaitu, nilai yang dirasakan dari teknologi
berinteraksi dengan tata kelola perkotaan yaitu, hubungan aktor dalam konteks perkotaan tertentu
dan bagaimana interaksi ini menghasilkan tata kelola Smart City.

Sedangkan Pengembangan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) secara umum


dapat diartikan sebagai proses kegiatan program pemerintah yang menggunakan media teknologi
informasi serta dilakukan oleh suatu organisasi pemerintah yang memiliki kapabilitas untuk
mengubah hubungan pemerintah dengan warga Negara, bisnis dan lainnya, perpanjangan tangan
pemerintah memiliki potensi untuk mengarah pada partisipasi dan keterlibatan masyarakat yang
lebih baik. [10] SPBE adalah salah satu cara bagi pemerintah dalam memanfaatkan teknologi baru
untuk memberikan publik akses yang lebih mudah ke informasi dan layanan pemerintah, serta
meningkatkan kualitas layanan dan memberikan peluang yang lebih besar untuk berpartisipasi
dalam suatu lembaga dan juga berpartisipasi dalam proses demokrasi.[11]

Tata kelola Teknologi Informasi (IT Governance) adalah sebuah konsep yang mulai
dikembangkan tahun 1998 yang menyatakan bahwa seperangkat hubungan atau proses yang
dirancang untuk memastikan suatu TI mendukung dan memperluas strategi dan tujuan organisasi,
memberikan manfaat dan menjaga risiko pada tingkat yang dapat diterima. IT Governance
merupakan keputusan-keputusan yang diambil, yang memastikan adanya alokasi penggunaan TI
dalam strategi-strategi organisasi yang bersangkutan. Definisi lainnya menyatakan bahwa IT
Governance merupakan suatu prosedur arahan penerapan pengaturan organisasi untuk mendukung
pengelolaan TI secara integral dan menindak lanjuti sasaran dan strategi organisasi yang memiliki
tanggung jawab.

METODE
Untuk melihat Inovasi Pemerintahan kota melalui transformasi kelembagaan atau
pemanfaatan teknologi informasi untuk menjelaskan inovasi teknologi perkotaan dan proses tata
kelola perkotaan melalui pengembangan system pemerintahan berbasis elektrinik di Kota Malang.
Sumber data beraal dari data primer dan data sekunder. Data primer akan dicari melalui informan
kunci, pemimpin pemerintahan sebagai leaders dan Dinas Komunikasi dan Informasi sebagai
pelaksana teknis transformasi kelembagaan secara digital. Sedangkan data sekunder yang
digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil studi kepustakaan buku dan jurnal yang
berkaitan dengan inovasi pemerintahan kota dan smart city, Dokumen pemerintah terkait
kebijakan baik peraturan pemerintah kota malang, RPJD maupun renstra, serta data-data
pendukung dalam proses integrasi system.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga tahap, (1) observasi,
peneliti mengamati secara langsung tentang kondisi tata kelola pemerintahan kota dan pelayanan
masyarakat serta dinamika pengembangan system informasi teknologi, (2) Wawancara, peneliti
melakukan wawancara dengan actor kunci sebagai subjek untuk menggali inovasi kelembagaan
dan upaya mencapai smart city, (3) Dokumentasi, peneliti kan menggali data-data dokumen yang
dapat mendukung tujuan penelitian ini terkait kebijakan baik peraturan pemerintah kota malang,
RPJD maupun renstra, serta data-data pendukung dalam proses integrasi system.
Sedangkan Teknik analisis data dalam penelitian ini, dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan software NVIVO 12 yang digunakan untuk menganalisis transkrip wawancara dan
document dengan beberapa menu yang disediakan dalam software tersebut. Adapun dalam analisis
software nvivo ada beberapa tahap yang dilakukan. (a) Membaca keseluruhan data yang telah
diperoleh kemudian membuat catatan atau gagasan penting dari data yang telah diperoleh tersebut.
(b) Mulai mengcoding data dengan menganalisis lebih detail data yang diperoleh, coding diartikan
sebagai proses mengolah materi atau informasi sesuai dengan fenomena dan pertanyaan yang akan
dijawab dalam penelitian. (c) Setelah mulai mengcoding data, selanjutnya peneliti akan menerapkan
proses coding untuk mendeskripsikan kategori dan tema yang akan dianalisis melalui
query. (d) Setelah mendeskripsikan kategori dan tema yang dianalisis maka selanjutnya adalah
melalukan analisis dengan cross tab analysis. Dan (e) Menggambarkan dan menarasikan bentuk
luaran seperti gambar, tabel, atau bentuk lain untuk memperkuat narasi yang dijelaskan dalam
penelitian.

Adapun hasil penelitian ini yaitu tentang Urban Governance Innovation dalam pengembangan
system pemerintahan berbaasis elektronik (SPBE) di Kota Malang akan diterbitkan di Journal of
Government and Politics Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sinta 2.

Tugas Peneliti
Tabel 1. Uraian Tugas dan Alokasi Waktu Peneliti
Alokasi
Instansi Bidang
No Nama Waktu Uraian Tugas
Asal Ilmu
(jam/minggu)
1 Muhammad UMM Urban 20 Pengambilan data,
Kamil, MA Governance pengolah data, analisis,
pembuat proposal dan
laporan akhir
2 Syasya Yunia M, UMM Strategy 15 Pengolahan data, analisis
M. StratSt data, pembuat proposal dan
laporan akhir

Gambar 2. Diagram Alir Penelitian

JADWAL

Bulan
No Nama Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Persiapan Penelitian √ √
1
Penelusuran data penelitian √ √ √
2
Pengkategorian data
3
√ √
Analisa data
4
√ √
Pembuatan laporan
5

Seminar hasil
6

Laporan akhir
7

DAFTAR PUSTAKA
1. Harvey,D.(2014).From managerialism to entrepreneurialism:The transformation in urban
governance in late capitalism. Geografiska Annaler. Series B, Human
Geography,71(1),3– [Link].1080/0435368 4.1989.11879583
2. Meijer, A., & Bolívar,M. (2013, September). Governing the smart city: Scaling-up these
archforsocio-techno synergy. Proceedings 2013 EGPA Conference. Academic Press.
3. Evans, D., & Yen, D. C. (2006). E-Government : Evolving relationship of citizens and
government , domestic , and international development. 23, 207–235.
[Link]
4. Janowski, T. (2015). Digital government evolution: From transformation to contextualiza
tion. Government Information Quarterly,32( 3),221–[Link].1016/[Link].2015.07.001
5. Meijer, A., & Thaens, M. (2018). Urban technological innovation: Developing and testin
g a sociotechnical frame workf or studying smart city projects. Urban Affairs Review, 54
(2),363–[Link].1177/1078087416670274
6. Kamil & Kusumaningrum. (2019). Dealing with SDGSs Commitment on Sustainable
City Development: The Problem of Municipal Waste of Sidoarjo. Proceeding ICOGISS
7. Kurniawati, D. E., Kusumaningrum, D. N., & Haffsari, P. P. (2017). Revitalization of
Green Open Space (GOS) in Kota Malang as the Government Response to Urban Social
Sustainability. Journal of Sciences and Humanities Research, 2(5), 1–11. Retrieved from
[Link]
8. Kamil, R. (2015). Smart City Bandung. Retrieved from
[Link]
9. Ulfa, E. M. (2016). Pelaksanaan Program Broadband Learning Center (BLC) Oleh Dinas
Kominfo Pemkot Surabaya Untuk Mewujudkan Surabaya Cyber City. Sospol: Jurnal
Sosial Politik, 2(1), 29–55. Retrieved from
[Link]
10. Evans, D., & Yen, D. C. (2006). E-Government : Evolving relationship of citizens and
government , domestic , and international development. 23, 207–235.
[Link]
11. Li, L., & Dai, H. (2011). Building a Change Management Model for E-Government
Services Evolution. 2011 Fifth International Conference on Management of E-Commerce
and e-Government, 87–92. [Link]
12. dst.

Anda mungkin juga menyukai