0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan12 halaman

Pengukuran Waktu Kerja dengan Jam Henti

Dokumen tersebut membahas tentang pengukuran waktu kerja, termasuk pengukuran dengan jam henti, langkah-langkah sebelum dan saat melakukan pengukuran, serta metode penyesuaian dan kelonggaran dalam menentukan waktu baku.

Diunggah oleh

Asep Saepuloh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan12 halaman

Pengukuran Waktu Kerja dengan Jam Henti

Dokumen tersebut membahas tentang pengukuran waktu kerja, termasuk pengukuran dengan jam henti, langkah-langkah sebelum dan saat melakukan pengukuran, serta metode penyesuaian dan kelonggaran dalam menentukan waktu baku.

Diunggah oleh

Asep Saepuloh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

2.1 pengukuran waktu kerja

Pengukuran kerja adalah suatu aktivitas untuk menentukan


lamanya sebuah pekerjaan bisa [Link] kerja berkaitan
dengan penentuan waktu [Link] standar adalah waktu yang
diperlukan oleh seorangpekerja terlatih untuk menyelesaikan suatu tugas
tertentu,bekerja pada tingkat kecepatan yang berlanjut, sertamenggunakan
metode, mesin dan peralatan, material, dan pengaturan tempat kerja tertentu.

2.1.1 pengukuran waktu kerja dengan jam henti

Studi waktu dilaksanakan dengan menggunakan alat jam henti (


stop watch ) untuk mengamati waktu tugas. Waktu standar dihitung
berdasarkan pengamatan terhadap seorang pekerja yang melaksanakan siklus
tugasnya berulang-ulang. Setelah ditetapkan, waktu standar itu diberlakukan
bagi seluruh pekerja lain yang melaksanakan pekerjaan serupa. Pekerja yang
dipilih adalah pekerja yang mengerti benar ( terlatih ) tentang tugas yang
sedang diamati dan bekerja dengan menggunakan metode yang sesuai.

2.1.2 langkah-langkah sebelum melakukan pengukuran

Langkah–langkah yang perlu diikuti dalam pengukuran kerja dengan


menggunakan jam henti adalah sebagai berikut (Sutalaksana dkk, 1979):
1. Penetapan tujuan pengukuran. Hal–hal penting yang harus diketahui dan
ditetapkan adalah untuk apa hasil pengukuran tersebut digunakan, berapa
tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil
pengukuran tersebut.
2. Melakukan penelitian pendahuluan Penelitian pendahuluan berguna untuk
melihat bagaimana kondisi kerja dan cara kerja yang ada. Pengukuran
7

waktu sebaiknya dilakukan bila kondisi kerja dan cara kerja dari
pekerjaan yang diukur sudah baik. Jika belum baik maka harus diperbaiki
terlebih dahulu. Satu hal lain yang harus dilakukan yaitu membakukan
secara tertulis sistem kerja yang dianggap baik.
3. Memilih operator. Operator yang akan melakukan pekerjaan yang diukur
bukanlah orang yang begitu saja diambil dari pabrik. Orang ini harus
mempunyai persyaratan tertentu agar pengukuran dapat berjalan dengan
baik, dan dapat diandalkan [Link] yang diamati memahami
dan dapat melaksanakan prosedur dan pelaksanaan pekerjaan dengan baik
(memiliki kemampuan dan keterampilan standar).
4. Melatih operator. Walaupun operator yang baik telah didapat, kadang–
kadang masih diperlukan pelatihan untuk operator tersebut terutama jika
kondisi dan cara kerja yang dipakai tidak sama dengan yang biasa
dijalankan oleh operator. Hal ini tejadi jika pada saat penelitian
pendahuluan kondisi kerja atau cara kerja mengalami perubahan. Dalam
keadaan ini operator harus dilatih terlebih dahulu karena sebelum diukur,
operator harus terbiasa dengan kondisi kerja dan cara kerja yang telah
ditetapkan.
5. Menguraikan pekerjaan atas elemen pekerjaan Disini pekerjaan dipecah
menjadi elemen pekerjaan, yang merupakan gerakan bagian dari
pekerjaan yang bersangkutan. Penguraian elemen-elemen ini dilakukan
agar mudah dalam mengukur waktunya, dimana jumlah dari waktu setiap
elemen ini merupakan waktu siklus dari suatu pekerjaan. Ada beberapa
alasan yang menyebabkan pentingnya melakukan penguraikan pekerjaan
atas elemen elemen pekerjaan). Pertama untuk menjelaskan catatan
tentang tata cara kerja yang dibakukan, yang terdiri dari cara kerja dan
kondisi kerja yang baik. Kedua adalah untuk memungkinkan melakukan
penyesuaian bagi setiap elemen, karena tingkat dari keterampilan
operatornya belum tentu sama untuk semua bagian dari gerakan-gerakan
kerjanya. Yang ketiga adalah untuk memudahkan mengamati terjadinya
elemen yang.
8
9

2.1.3 langkah-langkah pelaksanaan pengukuran dengan jam henti

Berikut adalah langkah pelaksanan yang harus dilakukan dalam


pengukuran jam henti:
1. Mengukur dan mencatat waktu pengamatan setiap elemen kegiatan
dengan cara kontinu atau terputus-putus, dengan jumlah pengulangan
tertentu.
2. Melakukan pengujian keseragaman data
3. Melakukan pengujian kecukupan data Pengujian kecukupan data sangat
dipengaruhi oleh besarnya tingkat ketelitian dan tingkat kepercayaan.
Tingkat ketelitian menunjukkan penyimpangan maksimum hasil
pengukuran dari waktu penyelesaian sebenarnya. Hal ini biasanya
dinyatakan dalam persen (dari waktu penyelesaian sebenarnya, yang harus
dicari). Sedangkan tingkat kepercayaan menunjukkan besarnya
kepercayaan pengukur bahwa hasil yang diperoleh memenuhi msyarat
ketelitian [Link] dinyatakan dalam persen. Jika tingkat ketelitian 10%
dan tingkat kepercayaan 95% memberi arti bahwa pengukur
membolehkan rata-rata hasil pengukurannyam menyimpang sejauh 10%
dari rata-rata sebenarnya, dankemungkinan berhasil mendapatkan hal ini
adalah 95%. Dengan lain perkataan jika pengukur sampai memperoleh
rata-rata pengukuran yang menyimpang lebih dari 10% seharusnya, hal
ini dibolehkan terjadi hanya dengan kemungkinan 5% (=100%-95%)
(Sutalaksana dkk, 1979).

Jika data yang diperoleh tidak cukup maka dapat dilakukan


pengambilan data kembali hingga data tersebut cukup. Kecukupan suatu data
dapat dilihat dengan pengujian kecukupan data, yaitu dengan beberapa
metode berikut ini:
a. Metode Analitik
Metode ini adalah metode yang sering digunakan dalam pengujian
kecukupan data. Metode ini menggunakan rumus:
10

N∑(ln X lnY) - ∑ln X ∑ ln Y


N∑(ln X2) - ∑(ln X)2

b. Metode Maytag
Untuk membuat estimasi mengenai jumlah pengamatan yang seharusnya
dilakukan, maka The Maytag Company telah mencoba memperkenalkan
prosedur sebagai berikut (Wignjosoebroto, 2000):
1. Laksanakan pengamatan awal dari elemen kegiatan yang ingin diukur
waktunya dengan ketentuan; 10 kali pengamatanuntuk kegiatan yang
berlangsung dalam siklus sekitar 2 menit atau kurang, dan 5 kali
pengamatan untuk kegiatan yang berlangsung dalam siklus waktu
yang lebih besar dari 2 menit.
2. Tentukan nilai range (R), yaitu perbedaan nilai terbesar (H) dan nilai
terkecil (L) dari hasil pengamatan yang diperoleh
R=H–L
3. Tentukan harga rata-rata (X) yang merupakan jumlah hasil waktu
pengamatan yang diperoleh dibagi dengan banyaknya pengamatan
(N) yang telah dilaksanakan.

4. Tentukan nilai range dibagi dengan harga rata-rata. Dengan


persamaan:

5. Tentukan jumlah pengamatan yang diperlukan. Cari nilai range


dibagi dengan harga rata-rata yang sesuai dan kemudian dari kolom
untuk sample size yang diambil (5 atau 10) akan diketahui berapa
jumlah pengamatan yang diperlukan.
11

6. Apabila harga range dibagi dengan harga rata-rata tidak ditemui pada
tabel yang ada, maka dalam hal ini bisa diambil harga yang paling
mendekati.
c. Metode Alignment Chart
12

2.2 metode penyesuaian dan kelonggaran dalam menentukan waktu

baku

Waktu baku merupakan waktu yang dibutuhkan oleh seorang


pekerja yang memiliki tingkat kemampuan rata-rata untuk menyelesaikan
suatu pekerjaan (Wignjosoebroto, 2000). Pada waktu baku terdapat
kelonggaran waktu yang diberikan dengan memperhatikan situasi dan kondisi
pekerjaan yang harus diselesaikan Waktu baku dapat dijadikan sebagai alat
untuk membuat rencana penjadwalan kerja yang menyatakan berapa lama
kegiatan harusberlangsung dan berapa output yang akan dihasilkan, serta
berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan
tersebut (Freivalds dan Niebel, 2009).
2.2.1 Waktu Siklus
Waktu siklus adalah waktu pekerja menyelesaikan pekerjaannya saat
diamati pada waktu itu juga. Waktu ini merupakan waktu dasar pekerja
menyelesaikan pekerjaannya dalam kondisi yang ia terima di lapangan dan
dalam situasi yang wajar. Artinya, pekerja tersebut tidak sedang dalam
kondisi termotivasi (sehingga waktunya dipercepat) atau dalam kondisi
terdemotivasi (sehingga waktunya melambat). Penentuan waktu siklus yang
baik dapat dilakukan beberapa kali sehingga dapat dibandingkan antara hasil
pengukuran satu dengan yang lainnya. Waktu siklus dapat juga ditentukan
dengan rumus 7.1 berikut:

2.2.2 Performance Rating dengan Metode Westing House dan Waktu Normal

1. Westing House

Perfomance rating menurut Westing House mencakup antara


lain kecakapan (skill) dan usaha (effort) yang dinyatakan oleh
Bedeaux sebagai faktor yang mempengaruhi perfomansi manusia, lalu
Westing House menambahkan faktor kondisi kerja (working
condition) dan konsistensi (concistency) dari operator dalam
melakukan kerja. Untuk mendukung ini Westing House membuat
13

suatu tabel performance rating yang berisi nilai berdasarkan tingkatan


yang ada untuk masing- masing faktor tersebut.

Skill Effort
+0,15 A1 Superskill +0,13 A1 Superskill
+0,13 A2 +0,12 A2
+0,11 B1 Excellent +0,10 B1 Excellent
+0,08 B2 +0,08 B2
+0,06 C1 Good +0,05 C1 Good
+0,03 C2 +0,02 C2
0,00 D Average 0,00 D Average
-0,05 E1 Fair -0,04 E1 Fair
-0,10 E2 -0,08 E2
-0,16 F1 Poor -0,12 F1 Poor
-0,22 F2 -0,17 F2
Condition Concistency
+0,06 A Ideal +0,04 A Ideal
+0,04 B Excellent +0,03 B Excellent
+0,02 C Good +0,01 C Good
0,00 D Average 0,00 D Average
-0,03 E Fair -0,02 E Fair
-0,07 F Poor -0,04 F Poor

2. Waktu Normal
Waktu Normal merupakan waktu yang diperlukan oleh pekerja /
operator untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam keadaan wajar
dengan kemampuan rata-rata. Waktu Normal dapat dirumuskan sebagai
berikut:

WN = Waktu Pengamatan x

2.2.3 Metode Schumard


14

Metode Schumard memberikan patokan-patokan penilaian melalui


kelas-kelas kinerja dan setiap kelas memiliki nilai sendiri sendiri.

Kelas Penyesuaian

superfast 100

fast + 95

Fast - 85
Excellent 80

Good + 75

Good 70

Good- 65

Normal 60

Fair+ 55

Fair 50

Fair- 45

poor 40
15

B. Kerangka Berfikir

Permasalahan

Belum diketahuinya jenis pemborosan di lini


proses produksi. Belum diketahuinya
hubungan yang menjelaskan tentang sebab
dan fakta yang terukur dalam variabel.
Belum diketahuinya waktu baku didalam
sebuah proses produksi. Belum diketahuinya
faktor pemborosan waktu dalam suatu proses
[Link] diketahuinya hasil
pengukuran waktu kerja agar dapat
meningkatnya produktifitas perusahaan.
Data

Data diambil dari peta tangan kanan


dan tangan kiri
Mengolah Data
Melakukan uji pengumpulan data
Melakukan pengamatan proses kerja serta
waktu yang dibutuhkan. Melakukan
penelitian kuantitatif dengan melihat
hubungan variabel sebab dan fakta yang
terukur dalam variabel. Melakukan
rancangan penelitian dengan mengukur
waktu beku. Menetapkan lokasi penelitian
Melakukan fokus penelitian dengan analisa
factor pemborosan waktu dalam suatu
proses produksi.
Analisis

Pengumpulan data. Pengolahan waktu


mencari waktu siklus dan kurpa belajar
waktu normal dan waktu baku melakukan
penyesuaian dan kelonggaran

Hasil yang diharapkan

Untuk mengetahui jenis pemborosan di


lini proses produksi. Untuk mengetahui
hubungan yang menjelaskan tentang sebab
dan fakta yang terukur dalam variabel.
Untuk mengetahui waktu baku didalam
sebuah proses produksi. Untuk
mengetahui faktor pemborosan waktu
dalam suatu proses produksi. Untuk
mengetahui pengukuran waktu kerja agar
dapat meningkatnya produktifitas
16

C. Penelitian Relevan

1. Tutus Rully, Noni Tri Rahmawati perencanaan pengukuran kerja dalam


menentukan waktu standar dengan metode time study guna meningkatkan
produktivitas kerja pada divisi pompa minyak pt bukaka teknik utama tbk
Volume 1 No. 1 Tahun 2015, Hal. 12-18. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengukuran kinerja para pekerja, untuk mengetahui produktivitas
kerja para pekerja, dan untuk mengetahui pengukuran kinerja dalam
meningkatkan produktivitas para pekerja. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode studi kasus dan menggunakan salah satu metode pengukuran
kinerja yaitu metode time study. Hasil dan pembahasan penelitian yaitu terjadi
ketidaksesuaian antara teori dengan fenomena yang terjadi di perusahaan, yaitu
ada beberapa pekerja yang menggunakan waktu menganggur dan waktu pribadi
lebih dari 20% dari total waktu kerja. Pengawasan yang kurang baik pada
kedisiplinan waktu kerja dan waktu standar sangat berpengaruh terhadap tingkat
produktivitas kerja para pekerja. Dengan penggunaan waktu standar yang baik,
produktivitas kerja meningkat yang ditunjukkan dengan jumlah unit yang
semula menghasilkan 2500 perbulan pada setiap produk. Produk Roller Step
dibagian pemotongan/cutting meningkat jumlah produknya sebesar 83 unit, dan
dibagian finishing meningkat sebesar 1.609 unit. Produk Roller Chain dibagian
pemotongan/cutting meningkat jumlah produknya sebesar 53 unit, dan dibagian
finishing meningkat sebesar 1.219 unit. Produk Roda Fork Lift dibagian
pemotongan/cutting meningkat jumlah produknya sebesar 63, dan dibagian
finishing meningkat sebesar 532 unit.
2. M. Wildan Ghozali, M. Hermansyah pengukuran waktu baku proses finishing
line volpak produksi lannate sp 25 gram philipina guna meningkatkan
produktivitas (pt. dupont agricultural products indonesia) P-ISSN: 2460-0113 I
E-ISSN: 2541-4461 Waktu baku merupakan waktu yang di butuhkan secara
wajar oleh seorang pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang di
jalankan dalam system kerja terbaik. Waktu baku ini adalah waktu normal yang
di tambah dengan kelonggaran untuk pekerja, dimana kelonggaran di fungsikan
17

untuk menghilangkan kelelahan, memenuhi kebutuhan pribadi, serta hambatan-


hambatan yang tidak bisa terhindarkan. adanya pemborosan pada salah satu
stasiun kerja di line volpak. Pemborosan ini terjadi karena belum ada standart
waktu dalam proses tiap stasiun kerja yang berpengaruh pada efisiensi waktu
dan sumberdaya manusianya. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk
mengetahui berapa waktu baku proses finishing line volpak dan menganalisa
sumber pemborosan yang paling dominan. Menggunakan waktu hitung
langsung, di harapkan bisa langsung mengetahui kondisi di lapangan. Sedangkan
sampel di ambil tiap 30 kali pengukuran tiap stasiun kerja proses finishing di
line volpak. Setelah selesai melakukan pengukuran tiap stasiun kerja, maka
dengan demikian bisa langsung di hitug waktu siklus, waktu normal dan waktu
baku tiap stasiun kerja. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa waktu standart
proses finishing seblelum penelitian adalah 22.4384 detik dengan jumlah
operator 7 orang. Setelah ada penelitian waktu standart proses finishing menjadi
21.3844 detik dengan jumlah operator 6 orang. Jadi waktu baku proses finishing
turun sebesar 1.054 detik atau efisiensimya meningkat sebesar 4.6973 %.

Anda mungkin juga menyukai