108
BAB V
PEMBAHASAN
Setelah penulisan paparan data dan data temuan yang dihasilkan oleh
peneliti dari wawancara, observasi dan dokumentasi, maka selanjutnya
peneliti akan menganalisis data yang telah terkumpul.
Dari paparan data dan hasil sub bab hasil temuan penelitian yang
dijabarkan pada sub bab sebelumnya, maka perlu adanya analisi hasil
penelitian. Hal ini dilakukan agar data yang dihasilkan tersebut dapat
dilakukan interprestasi sehingga dapat mengambil kesimpulan penelitian
sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Dalam hal ini Nasution
seperti yang dikutip oleh Sugiyono menyatakan analisis telah mulai sejak
merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan
berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Namun dalam
penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses di
lapangan bersama dengan pengumpulan data.1
Penelitian disini menggunakan analisis deskriptif kualitatif
(pemaparan) dari data yang didapatkan baik memalui observasi,
dokumentasi, dan wawancara dari pihak-pihak yang mengetahui tentang
data yang dibutuhkan. Selanjutnya dari hasil tersebut dikaitkan dengan teori
yang ada diantaranya sebagai berikut :
1
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: C.V Alfabeta 2005) hal 89-90
108
109
1. Perencanaan Pembelajaran yang dilakukan Guru dalam Strategi
Peningkatan Mutu Pembelajaran Akidah Akhlak di MTs Al-Ghozali
Panjerejo, [Link] Tahun 2015-2016.
Mengenai perencanaan pembelajaran dalam strategi peningkatan
mutu pembelajaran telah dijelaskan dalam kajian teori Bab II, bahwa
perencanaan pembelajaran adalah sebuah persiapan yang harus disusun
sebaik mungkin oleh guru, karena perencanaan ini sangatlah menentukan
kemana arah kegiatan pembelajaran akan berlangsung. Dalam sebuah
perencanaan pembelajaran tentunya diperlukan pengetahuan yang
mendalam oleh guru, tentang hakekat perencanaan pembelajaran, prinsip
perencanaan pembelajaran, tujuan perencanaan pembelajaran dan juga
prinsip pembuatan perencanaan pembelajaran. Karena dengan
pengetahuan yang mendalam tentang perencanaan pembelajaran, maka
seorang guru akan lebih profesional atau lebih bermutu dalam
merencanakan kegiatan pembelajaran. perencanaan pengajaran
memainkan peran penting dalam memandu guru untuk melaksanakan
tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar siswanya.
Perencanaan pengajaran juga dimaksudkan sebagai langkah awal
sebelum proses pembelajaran berlangsung
Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam
perencanaan menggunakan media pengajaran untuk mempertinggi
kualitas pengajaran. Pertama, guru perlu memiliki pemahaman media
pengajaran antara lain jenis dan manfaat media pengajaran, kriteria
110
pemilihan dan menggunakan media pengajaran, menggunakan media
sebagai alat bantu mengajar dan tindak lanjut penggunaan media dalam
proses belajar siswa. Kedua, guru terampil membuat media pengajaran
sederhana untuk keperluan mengajar, terutama media dua dimensi atau
media visual. Ketiga, pengetahuan dan ketrampilan dalam menilai
keefektifan penggunaan media dalam proses pengajaran.2
Hasil temuan peneliti sesuai dengan yang telah dijadikan kajian
pustaka terutamanya dalam hal perencanaan yang dilakukan guru dalam
strategi peningkatan mutu pembelajaran akidah akhlak yang dilaksanakan
di MTs Al-ghozali, yaitu pertama. Seorang guru harus bisa membuat
perencanaan pembelajaran sebaik mungkin agar dapat mendongkrak
semangat siswa dalam pembelajaran. kedua, profesionalisme seorang
guru dan kreatifitas guru sangat dibutuhkan dalam menyesuaikan media,
strategi dan metode pembelajaran dengan bahan ajar. Ketiga kesadaran
seorang guru akan tujuan pembelajaran menjadi alasan utama dalam
profesionalisme dan keterampilan guru dalam membuat perencanaan
pembelajaran. keempat, guru menganjurkan siswa untuk mempunyai
sumber belajar lain selain LKS, dengan memberi fasilitas perpustakaan,
bahkan guru sendiri memiliki buku pegangan sejumlah 3-5 sumber atau
buku yang menjadi pendukung dari materi ajar yang disampaikan dalam
kegiatan pembelajaran.
2
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bamdung : Sinar Baru Algesindo
Offset, 2010), hlm 4
111
Mengenai perencanaan pembelajaran yang menjadi suatu pedoman
dalam kegiatan pembelajaran, dari kajian teori yang dilanjutkan dengan
penelitian yang memuat wawancara, observasi dan dokumentasi,
menunjukkan bahwa perencanaan yang telah dibuat dan dilaksanakan
oleh guru akidah akhlak, sudah sesuai dengan apa yang peneliti tuliskan
dalam kajian teori, seorang guru memang harusnya merencanakan
kegiatan pembelajaran dengan sebaik mungkin, agar dapat membuat
suasana pembelajaran yang disuakai oleh siswa. dan mampu
menyalurkan pengetahuan yang dimiliki oleh guru kepada siswa dengan
maksimal.
Profesionalisme seorang guru dan kretifitas seorang guru, bisa
dikatan sebagai hal yang sangat berpengaruh besar dalam perencanan dan
kegiatan pembelajaran, karena dalam sebuah perencanaan diperlukan
sebuah kemampuan guru untuk merencanakan kegiatan pembelajaran
yang sesuai dengan kurikulum dan juga mampu menyesuaikan antara
materi dengan metode dan strategi yang akan dicapai. Sedangkan
membuat perencanaan pembelajaran juga tak akan lepas dari kreatifitas
seorang guru, karena dari kreatifitas seorang guru akan menimbulkan
ide-ide yang unik yang bisa membuat strategi pembelajaran, metode dan
juga media pembelajaran yang akan disukai oleh siswanya. Seperti
halnya peta konsep kartu soal dan jawaban ataupun gambar-gambar yang
berkaitan dengan materi pembelajaran. tentunya dalam pemilihan dan
pembuatannya memerlukan sebuah bakat yang disebut dengan kreatifitas,
112
dan itu adalah sebuah hal yang tentunya juga harus dimiliki oleh seorang
guru. Seperti yang peneliti kutip dari sumber berikut ini:
Keberhasilan pendidikan sebagian besar ditentukan oleh mutu
profesionalisme seorang guru. Guru yang profesional bukanlah guru yang
hanya dapat mengajar dengan baik, tetapi juga guru yang dapat
mendidik. Untuk ini, selain harus menguasai ilmu yang diajarkan dan
cara mengajarkanya dengan baik, seorang guru juga harus memiliki
akhlak yang mulia. Guru juga harus mampu meningkatkan
pengetahuannya dari waktu ke waktu, sesuai dengan perkembangan
zaman. Berbagai perubahan yang diakibatkan oleh kemajuan adalah
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi juga harus diantisipasi oleh guru.
Dengan demikian seorang guru tidak hanya menjadi sumber informasi, ia
juga dapat menjadi motivator, inspirator, dinamisator, fasilitator,
katalisator, evaluator dan sebagainya.3
Selanjtnya mengenai tujuan pembelajaran, adalah hal yang sangat
utama dalam kegiatan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran akan
menentukan hasil akir dalam sebuah pembelajaran, juga akan menjadi
suatu tolok ukur untuk mengetahui sejauh manakah pembelajaran yang
telah dihasilkan, sudah mencapai tujuannya ataukah belum. Maka dari
itu, memang dapat dikatakan bahwa sebuah kewajiban bagi seorang guru
untuk selalu mengingat tujuan pembelajaran. karena secara tidak
langsung dengan mengingat tujuan pembelajaran maka seorang guru
3
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, (Jakarta Timur : Prenada Media, 2003), hal.147
113
akan membangun semangat dari dalam dirinya sediri, terutamanya dalam
hal perencanaan pembelajaran dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
apa bila seorang guru mempunya semangat tinggi dalam mencapai tujuan
pembelajaran, maka seorang guru tentunya akan semaksimal mungkin
membuat perencanaan pembelajaran yang sebaik dan semenarik
mungkin, agar dalam pelaksanaan pembelajarannya, siswa dapat
mengikuti pembelajaran dengan semangat dan mampu menangkap materi
yang diajarkan oleh seorang guru. Dan hasilnya, apa yang menjadi tujuan
dari kegiatan pembelajaran akan tercapai dengan hasil maksimal.
Berikutnya tentang sumber belajar yang dipakai pegangan oleh
guru dan juga siswa. Memang sebuah kewajaran dari seorang guru untuk
mempunyai buku pegangan yang tidak sedikit untuk menambah wawasan
siswa dalam memahami sebuah materi pembelajaran. dari hasil observasi
dan wawancara, peneliti menemukan sebuah temuan yang menyatakan
bahwa guru akidah akhlak di MTs Al-Ghozali memakai kurang lebih 3-5
sumber belajar untuk menunjang materi ajar yang disampaikan. Tidak
hanya demikian guru juga menganjurkan siswa untuk menambah buku
pelajarannya melalui perpustakaan yang telah disediakan lembaga
sekolah. Dan suatu kebetulan pula pengelola perpustakaan yang ada di
sekolah ialah ibu guru mata pelajaran akidah akhlak yang peneliti
wawancarai guna mendapatkan informasi. Hal tersebut memang sudah
wajar terjadi di sebuah lembaga sekolah, tetapi secara tidak langsung itu
juga merupakan faktor yang menjadi pendukung dari kualitas atau mutu
114
pembelajaran, yang mana semakin banyak sumber yang mendukung,
maka semakin luas pula pengetahuan yang diterima oleh siswa.
2. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang dilakukan Guru dalam
Strategi Peningkatan Mutu Pembelajaran Akidah Akhlak di MTs
Al-Ghozali Panjerejo, [Link] Tahun 2015-2016.
Selanjutnya berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran yang telah
peneliti kajian teorinya di dalam Bab II yang menyatakan Proses belajar-
mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan
dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Peristiwa belajar-
mengajar banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh
krena itu, perwujudan proses belajar-mengajar dapat terjadi dalam
berbagai model.
Melalui tahap wawancara observasi dan dokumentasi, peneliti
berhasil menemukan data temuan yang diantaranya adalah : pertama,
guru mebuka pembelajaran dengan salam dan Do’a bertujuan untuk
memberikan suri tauladan yang baik pada siswa, dan memberi waktu
siswa sebentar untuk membaca materi yang akan diajarkan secara
individu. kedua, guru berperan sesuai materi dan tidak selalu menjadi
pemimpin kegiatan pembelajaran, supaya siswa dapat aktif, kreatif, dan
mandiri dalam kegiatan pembelajaran. ketiga, dalam kegiatan
pembelajaran siswa selalu menunjukkan karakteristik pribadi mereka
masing-masing, dan tentunya menjadi tugas seorang guru harus mampu
115
menghadapi dan mendisiplinkan mereka dengan kasih sayang. keempat,
guru berperan sebai motivator, selalu memberikan reward walaupun tidak
selalu dalam bentuk barang dan hanya ucapan selamat, dan tidak bosan-
bosannya memberi semangat belajar kepada siswa.
Tentunya dari hasil temuan yang telah ditemukan peneliti,
menggambarkan kesinambungan antara kajian teori yang peneliti rangkai
dalam Bab II, mulai dari peran guru sebagai suri tauladan dalam kegiatan
pembelajaran, dan memberi waktu siswa sebentar untuk membaca materi
yang akan diajarkan secara individu, secara tidak langsung sesuai dengan
konsep peningkatan mutu pembelajaran, yaitu memulai pembelajaran
dengan santay dan bermanfaat, yaitu guna membangkitkan nafsu belajar
siswa.
Selanjutnya membahas tentang peran guru dalam kegiatan
pembelajaran,yang mana dalam kajian teori dalam peningkatan mutu
pembelajaran dibutuhkan kreatifitas guru dalam mendidik siswa agar
kreatif, dan dari data yang diperoleh peniliti guru sudah melakukan apa
yang ada dalam teori, yaitu guru berperan sesuai materi dan tidak selalu
menjadi pemimpin kegiatan pembelajaran, supaya siswa dapat aktif,
kreatif, dan mandiri dalam kegiatan pembelajaran. dan dari observasi,
peneliti menyaksikan secara langsung adegan drama yang dirancang oleh
siswa sendiri, dengan tema yang diambil dari pengaplikasian
pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru beserta siswa. seperti
116
beberapa pendapat yang telah diambil oleh peneliti menyangkut peran
guru dalam pembelajaran, yaitu diantaranya :
Dalam hal pembelajaran guru mempunyai banyak peran yang harus
bisa diperankan oleh seorang guru, seperti yang peneliti kutip dibawah
ini :
1) Guru sebagai fasilitator
Menurut Ramayulis, peran guru sebagai fasilitator adalah
“menyediakan situasi dan kondisi yang dibutuhkan individu yang
belajar”.4 Oleh karena itu guru harus mampu menyediakan fasilitas sumber
belajar guna menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.
2) Guru sebagai pembimbing
Peran guru sebagai pembimbing adalah “Memberikan bimbingan
terhadap siswa dalam interaksi belajar mengajar”.5 Dalam memberikan
bimbingan hendaknya mengetahui dan mengerti berbagai potensi diri anak
didik untuk dapat lebih dikembangkan.
3) Guru sebagai motivator
Guru sebagai motivator adalah “Memberikan dorongan dan
semangat agar siswa mau dan giat belajar”.6 Dalam upaya memberi
motivasi anak didik guru harus mampu menciptakan kondisi sedemikian
4
Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), hal.26
5
Ibid, hal.5
6
Ibid, hal. 26
117
rupa sehingga anak mau melakukan apa yang dapat dilakukannya. 7 Guru
sebagai motivator harus paham dan mengerti kondisi siswa untuk dapat
mengantarkan peserta didik pada pengalaman-pengalaman yang
memungkinkan mereka dapat belajar.
4) Guru sebagai pengelola kelas
Sejalan dengan tujuan pengelolaan kelas menurut Djamarah, “Agar
anak didik betah tinggal di kelas dan memiliki motivasi belajar yang tinggi
untuk senantiasa belajar di dalamnya”.8 Sebagai pengelola kelas guru
mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dan mengarahkan kegiatan
belajar mengajar, baik pengelolaan tempat duduk siswa maupun
pengelolaan siswa itu sendiri.
5) Guru sebagai mediator
Menurut Usman sebagai mediator “Guru menjadi perantara dalam
hubungan antara manusia. Dalam hal ini tentunya guru harus mempunyai
ketrampilan berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik”.9
Dengan demikian peran guru sebagai mediator tidak hanya sebagai
penghubung antara siswa dengan guru, akan tetapi lebih dari itu harus
memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan media
pembelajaran.
7
Zakiyah Daradjat dkk., Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001),
hal.140
8
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta,
2000), hal.47
9
M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hal.11
118
6) Guru sebagai evaluator
Guru sebagai evaluator harus dapat melaksanakan penilaian dengan
baik dan jujur. Dalam hal ini guru harus menilai segi-segi yang seharusnya
dinilai, yaitu kemampuan intelektual, sikap dan tingkah laku anak didik,
karena dengan penilaian guru dapat mengetahui sejauh mana kreativitas
pembelajaran yang dilakukan. 10
Brikutnya menyangkut pendisiplinan siswa dengan kasih sayang,
sesuai dengan konsep peningkatan mutu pembelajaran yang tercantum
pada kajian teori. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa dalam
kegiatan pembelajaran siswa selalu menunjukkan karakteristik pribadi
mereka masing-masing, dan tentunya menjadi tugas seorang guru harus
mampu menghadapi dan mendisiplinkan mereka dengan kasih sayang.
Dan dalam kenyataanya dari hasil wawancara dengan beberapa siswa dan
hasil obserfasi, menyatakan bahwa memang guru akidah akhlak dalam
penelitian ini telah berhasil menunjukkan pendisiplinan dengan kasih
sayang. Informasi dari siswa mengatakan bahwa ibu guru adalah sosok
yang sabar dan disukai oleh para siswanya, karena beliau tidak penah
menunjukkan sikap yang ditakuti oleh siswa, beliau selalu menunjukkan
wajah yang penuh senyum dan penyayang kepada setiap siswa. Dan dari
hasil observasi peneliti juga melihat secara langsung, beliau hanya
mendekati siswa yang ramai sendiri dalam kegiatan pembelajaran, dan
10
Djamarah, Guru dan Anak Didik, hal.47
119
berusa menegur dengan kata-kata halus untuk membawa siswa yang
ramai sendiri kedalam materi pembelajaran.
Selanjutnya mengenai peran guru sebagai motivator, yang mana
bertujuan untuk penyemangat siswa dalam mmembangkitkan nafsu
belajar, yang sesuai dengan kajian teori pada Bab II yang digunakan
untuk meningkatkan mutu pembelajaran. usaha guru yang dilakukan
dalam hal ini tentu tidaklah mudah, tetapi pada kenyataannya peneliti
juga menemukan temuan yang menyatakan bahwa guru berperan sebagai
motivator dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru di MTs Al-
Ghozali Panjerejo, upaya yang dilakukan guru dalam hal ini ialah selalu
memberikan reward walaupun tidak selalu dalam bentuk barang dan
hanya ucapan selamat, dan tidak bosan-bosannya memberi semangat
belajar kepada siswa.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pembelajaran yang dilakukan
Guru dalam Strategi Peningkatan Mutu Pembelajaran Akidah
Akhlak di MTs Al-Ghozali Panjerejo, [Link] Tahun 2015-
2016
Secara garis besar, proses belajar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor internal meliputi faktor
fisiologis, yaitu jasmani peserta didik dan faktor psikologis, yaitu
kecerdasan atau intelegensia peserta didik, motivasi, minat, sikap, bakat.
Faktor-faktor eksternal meliputi lingkungan alamiah dan lingkungan sosial
120
budaya, sedangkan lingkungan nonsosial atau instrumental, yaitu
kurikulum, program, fasilitas belajar, guru. Hasil belajar yang dicapai
peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri
peserta didik itu dan faktor yang datang dari luar diri peserta didik atau
faktor lingkungan.11
Jadi dari uraian temuan diatas, peneliti menemukan beberapa temuan
yang meliputi : pertama, faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan
mutu pembelajaran, yaitu faktor yang berpengaruh mendukung yang
meliputi : kemampuan siswa menerima materi pembelajaran yang
disampaikan oleh guru secara individu, fasilitas, sarana prasarana dan
sumber belajar yang disediakan oleh lemabaga sekolah dan kegiatan
ekstrakulikuler yang bernuasna keagamaan. Kedua, faktor yang berpengaruh
sebagai penghambat meliputi : kemampuan siswa yang lemah dalam
menerima penyampaian pembelajaran dari guru, kerusakan ataupun proses
pembenahan yang terkait fasilitas, sarana prasarana dan sumber belajar, dan
strategis sekolah yang dekat dengan pabrik gula.
Seperti yang peneliti temukan dalam wawancara dan observasi dalam
strategi peningkatan mutu pembelajaran yang peneliti lakukan di MTs Al-
Ghozali Panjerejo. Menurut informasi dari wawancara yang dilakukan
peneliti dengan ibu guru, menyatakan bahwa faktor yang berpengaruh
terhadap pembelajaran ada dua, yaitu faktor internal atau faktor yang timbul
11
Kompri, Motivasi Pembelajaran Perspektif guru dan siswa, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2015), hlm 227
121
dari siswa, dan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari lembaga
sekolah sendiri. Membahas tentang faktor internal, yaitu faktor yang timbul
dari diri siswa secara individu, guru mengungkapkan bahwa siswa dalam
kegiatan pembelajarannya selalu menunjukkan karakteristik mereka masing-
masing. Yang berikutnya itu dapat dikatakan sebagai faktor yang
mempengaruhi dalam kegiatan pembelajaran. secara tidak langsung dari
beragamnya karakteristik siswa, maka akan menimbulkan keaktifan atau
bahkan gangguan dalam kegiatan pembelajaran. Dari alasan tersebut maka
seorang guru harus mengenal masing-masing kepribadian dari siswa yang
diajarnya, guna bisa menemukan cara-cara yang jitu untuk mengatasi faktor
yang timbul dari siswa terutamanya yang berwujud gangguan dalam
kegiatan pembelajaran. demikian pula dalam fokus yang kedua juga telah
dibahas, bahwa guru yang menjadi objek dari penelitian ini, telah mampu
mengenal dan juga menghafal karakteristik dari masing-masing siwa yang
diajarnya.
Berlanjut pembahasan tentang faktor eksternal yang menyangkut
fasilitas, sarana dan prasarana serta sumber belajar, yang guru ungkapakan
menunjukkan bahwa faktor yang berasal dari lembaga memang belum
maksismal, tetapi secara bertahap guru selalu berusaha meningkatkan
fasilitas, sarana dan prasarana serta sumber belajar yang sudah ada didalam
lembaga sekolah tersebut. sepertihalnya dalam hal proyektor yg terbatas,
guru biasanya menggunakan laptop milik pribadi untuk memutarkan vidio
yang digunakan dalam media pembelajaran. selanjutnya menyangkut
122
sumber belajar yang mana guru yang menjadi narasumber adalah pengelola
perpustakaan sekolah, dan menyatakan akan terus berusaha meningkatkan
kualitas perpustakaan, berikut menambah buku-buku yang dapat menjadi
sumber belajar pendukung bagi kegiatan pembelajaran.
Faktor yang menjadi penghambatnya berasal dari lingkungan sekolah
yang letak strategisnya memang dekat dengan pabrik gula, dan suara mesin
ketika aktif akan menimbulkan kebisingan dan menjadi faktor penghambat
atau penganggu dalam kegiatan pembelajaran. pendukung dari peningkatan
mutu pembelajaran akidah akhlak yang peneliti temukan juga di dalam
kegiatan ekstra sekolah, yaitu dalam rutinan YASINTA, siraman rahani, dan
kegiatan keagamaan yang dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran
berlangsung, dan itu dilakukan atau dipimpin oleh ustadz yang berasal dari
desa Panjerejo sendiri. Dari keterangan tersebut setara dan
berkesinambungan dengan kajian teori yang mana menjadi konsep
peningkatan mutu pembelajaran, yaitu melibatkan masyarakat luar dalam
kegiatan pembelajaran. dengan demikian selain secara formalitas siswa
memperoleh ilmu dari guru, siswa juga mendapatkan pengetahuan non
formal yang bersumber dari masyarakat sekitar lembaga sekolah. Secara
tidak langsung, pengetahuan non formal yang diterima siswa ini juga akan
menjadi faktor pendukung dalam strategi peningkatan mutu pembelajaran,
karena dari pengetahuan non formal siswa akan memperoleh pengetahuan
tentang keagaaman, yang akan memperkuat akidah mereka dan membangun
akhlakhulkarimah atau kepribadian yang baik.
123
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai akir dari pembahasan yang telah dilakukan dalam bab
sebelumnya, maka peneliti disini menyajikan hasil dari penelitian atau yang
disebut dengan kesimpulan, yang diperloleh dari penelitian yang berjudul
“strategi Peningkatan Mutu Pembelajaran di MTs Al-Ghozali Panjerejo
Tahun 2015/2016” sebagai berikut :
1. Dalam perencanaan pembelajaran yang di lakukan guru dalam
meningkatkan mutu pembelajaran aqidah akhlak di MTs Al-Ghozali
Desa Panjerejo [Link] dapat disimpulkan bahwa menjadi
seorang guru harusla bisa membuat perencanaan pembelajaran sebaik
mungkin agar dapat mendongkrak semangat siswa dalam pembelajaran,
profesionalisme seorang guru dan kreatifitas guru sangat dibutuhkan
dalam menyesuaikan media, strategi dan metode pembelajaran dengan
bahan ajar. Selanjutnya kesadaran seorang guru akan tujuan
pembelajaran menjadi alasan utama dalam profesionalisme dan
keterampilan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran. dan yang
terakhir guru harus mempunyai sumber belajar yang mencukupi untuk
memperluas pengetahuan siswa dan tentunya menganjurkan siswa juga
memiliki sumber belajar yang mendukung.
123
124
2. Dalam Kegiatan pembelajaran yang di lakukan guru dalam strategi
meningkatkan mutu pembelajaran aqidah akhlak di MTs Al-Ghozali
Panjerejo [Link] Tahun 2015-2016. Seorang guru harus bisa
menjadi menjadi contoh atau suri tauladan bagi siswanya, guru harus
mampu membuat kegiatan pembelajaran yang membangkitkan kreatifitas
siswa. Selanjutnya kemampuan guru dalam mengenali masing-masing
karakteristik siswa supaya dapat mengontrol kegiatan pembelajaran yang
sedang berlangsung, dan motivasi yang selalu di berikan oleh guru
kepada siswa supaya semangat belajar mereka meningkat.
3. Faktor yang berpengaruh dalam pembelajaran yang di lakukan guru
dalam strategi meningkatkan mutu pembelajaran aqidah akhlak di MTs
Al-Ghozali Panjerejo [Link] Tahun 2015-2016. Ada dua faktor,
yaitu faktor internal yang berasal dari siswa sendiri yang perannya
sebagai penghambat atau pendukung, kembali pada kemampuan individu
siswa, dan yang eksternal berasal dari lembaga seperti fasilitas, sarana
prasarana dan sumber belajar yang tentunya menjadi pendukung dari
kegiatan pembelajaran. selanjutnya faktor lingkungan akan menjadi
penghambat apabila letak strategis sekolah dekat dengan keramaian atau
kebisingan, dan kegiatan ekstra kulikuler yang bersifat keagamaan
mampu mendukung kegiatan pembelajaran terutamanya dalam hal
pembelajaran akidah akhlak.
125
B. Saran
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, disini peneliti
menuliskan saran atau masukan yang mungkin akan berguna bagi
lembaga, guru dan juga siswa. tentunya dalam hal strategi peningkatan
mutu pembelajaran akidah akhlak di Mts Al-Ghozali Panjerejo, yang
diantaranya sebagai berikut :
a. Bagi Kepala Sekolah
Supaya dapat meningkatkan kualitas sarana dan prasana yang
sudah ada dan juga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran
secara terus menerus dan lebih baik lagi. Apabila out put atau
lulusan yang dihasilkan oleh sekolah itu bernilai kualitas yang
bagus, maka akan bisa dipastikan akan mendapatkan pandangan
yang positif dari sudut pandang mayarakat.
b. Bagi Guru
Supaya dapat menjadikan semangat seorang guru dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran yang akan membawa
pembelajaran mencapai tujuan dengan hasil yang maksimal.
Profesionalisme seorang guru dan kreatifitasnya sangat
menentukan sekali dalam perencanaan dan juga pelaksanaan
pembelajaran, maka selanjutnya guru harus selalu meningkatkan
kemampuanya dan juga kreatifitasnya dalam dunia pendidikan,
supaya seorang guru memang benar-benar berperan sebagai
126
pahlawan. Dan menjadi tokoh yang bisa dijadikan suri tauladan
untuk para siswanya.
c. Bagi para Siswa
Dengan diadakan penelitian ini, maka hasil yang diperoleh
diharapkan dapat berguna untuk dijadikan pemahaman yang
mendalam, bahwasanya menjadi seorang guru itu tidaklah mudah,
dan semua pengorbanan yang dilakukan oleh guru dalam
pembelajaran, tidak lain adalah untuk mendidik para siswa agar
mempunyai masa depan yang cerah dan terarah.
d. Bagi para orang tua siswa.
Supaya dapat dimanfaatkan untuk bahan pertimbangan dalam
pendidikan pola asuh anak di rumah, supaya keluarga dapat
mendukung terkait pendidikan akhlak anak yang telah dilakukan
oleh guru, supaya mampu menghasilkan anak didik yang benar-
benar mempunyai akhlak yang berbudi luhur.
e. Bagi peneliti yang akan datang
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai
acuan dalam penyusunan desain penelitian selanjutnya yang
relevan dengan pendekatan yang variatif.