Klasifikasi dan Struktur Jalan Raya
Klasifikasi dan Struktur Jalan Raya
TINJAUAN PUSTAKA
5
2.3 BAGIAN-BAGIAN JALAN
Jalan memiliki bagian-bagian yang sangat penting, bagian-bagian tersebut
dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu bagian yang berguna untuk lalu lintas, bagian
yang berguna untuk drainase jalan, bagian pelengkap jalan, dan bagian konstruksi
jalan.
6
masing arah, menyediakan ruang untuk kanalisasi pertemuan pada jalan,
menambah rasa kelegaan, kenyamanan, dan keindahan bagi pengguna jalan.
Bagian yang berguna untuk drainase jalan antara lain:
1. Saluran samping
2. Kemiringan melintang
3. Kemiringan melintang bahu
4. Kemiringan lereng
7
Dalam rangka menunjang pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan serta
pengamanan konstruksi jalan badan jalan dilengkapi dengan ruang bebas. Ruang
bebas dibatasi oleh lebar, tinggi, dan kedalaman tertentu. Lebar ruang bebas sesuai
dengan lebar badan jalan. Tinggi dan kedalaman ruang ditetapkan lebih lanjut oleh
penyelenggara jalan yang bersangkutan berdasarkan pedoman yang ditetapkan
dengan Peraturan Menteri. Tinggi ruang bebas bagi jalan arteri dan jalan kolektor
paling rendah 5 (lima) meter. Kedalaman ruang bagi jalan arteri dan jalan kolektor
paling rendah 1,5 (satu koma lima) meter dari permukaan jala
8
Dalam hal ruang milik jalan tidak cukup luas, lebar ruang pengawasan jalan
ditentukan dari tepi badan jalan paling sedikit dengan ukuran sebagai berikut:
9
2. Jalan Khusus
Jalan khusus adalah jalan yang di bangun oleh instasi, badan usaha, perseorangan,
atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri
2.4.2 Klasifikasi Jalan Menurut Fungsi Jalan
1. Jalan Arteri
Jalan arteri adalah jalan umum yang melayani angkutan utama dengan ciri ciri
perjalanan jarak jauh, kecepatan rerata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi
secara efisien.
2. Jalan Kolektor
Jalan kolektor adalah jalan umum yang melayani angkutan pengumpul / pembagi
dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rerata sedang dan jumlah jalan
masuk dibatasi.
3. Jalan Lokal
Merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri
perjalanan jarak dekat, kecepatan rerata rendah dan jumlah jalan masuk tidak
dibatasi.
4. Jalan Lingkungan
Merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri
perjalanan jarak dekat dan kecepatan rerata
10
b. Jalan kolektor primer adalah ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang
kedua dengan kota jenjang kedua yang lainnya atau ruas jalan yang
menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang ketiga yang berada
di bawah pengaruhnya.
c. Jalan lokal primer adalah jalan yang menghubungkan kota jenjang ketiga
dengan kota jenjang ketiga lainnya, kota jenjang kesatu dengan persil, kota
jenjang kedua dengan persil, serta ruas jalan yang menghubungkan kota
jenjang ketiga dengan kota yang berada di bawah pengaruhnya sampai
persil.
11
Tabel 2.1 Klasifikasi Jalan Menurut Kelas Jalan
Fungsi Kelas Muatan Sumbu Terberat (MST) Ton
Arteri I >10
II 10
IIIA 8
Kolektor IIIA 8
IIIB 8
Sumber: TPGJAK No. 038/ T/ BM/ 1997
12
Jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antar permukiman di dalam
desa, serta jalan lingkungan
13
c. Pengaruhnya terhadap repetisi beban adalah timbulnya retak-retak pada
permukaan jalan.
d. Pengaruhnya terhadap penurunan tanah dasar yaitu, bersifat sebagai balok di atas
permukaan.
14
3. Cacat permukaan (disintegration)
4. Pengausan (polished aggregat)
5. Kegemukan (bleeding of flushing)
6. Penurunan pada bekas penanaman utilitas (utility cut depression)
2.6.1 Retak (Cracks)
Kerusakan retak yang terjadi di permukaan jalan memiliki beberapa tipe yang
dapat dibedakan menjadi :
1. Retak Rambut (Hair Cracks)
Retak rambut dapat terjadi pada alur roda atau pada permukaan lain dari
permukaaan jalan. Tampak retakan tidak beraturan dan terpisah. Lebar celah lebih
kecil dari atau sama dengan 3 mm. Penyebabnya adalah konstuksi perkerasan tidak
kuat mendukung beban lalu lintas yang ada, lapis permukaan terlalu tipis,
pemilihan campuran yang terlalu kaku untuk lapis permukaan yang tipis, kelelahan
lapis permukaan akibat beban lalu lintas dan umur jalan, bahan perkerasan yang
kurang baik, tanah dasar atau bagian perkerasan di bawah lapis perkerasan kurang
stabil dan stabilitas atau pemadatan lapis permukaan tidak memadai. Retak rambut
ini dapat meresapkan air ke dalam lapis permukaan. Retak rambut yang tidak
segera ditangani dapat berkembang menjadi retak kulit buaya (alligator crack)
15
Retak kulit buaya berkembang dari retak rambut yang telah mengalami kerusakan
parah akibat tidak segera dilakukannya perbaikan. Retak kulit buaya dapat terjadi
pada alur roda atau pada permukaan lain dari permukaaan jalan. Tampak retakan
tidak beraturan dan saling berpotongan. Lebar celah lebih besar dari atau sama
dengan 3 mm. Retak kulit buaya terlihat seperti retak yang saling merangkai dan
membentuk kotak-kotak yang menyerupai kulit buaya. Retak ini disebabkan oleh
bahan perkerasan yang kurang kurang baik, pelapukan perkerasan, tanah dasar
atau bagian perkerasan di bawah lapis perkerasan kurang stabil atau lapis pondasi
dalam keadaan jenuh air (air tanah baik). Retak kulit buaya yang luas dan sudah
parah dapat berkembang menjadi lubang atau amblas
16
Gambar 2.7 Retak Pinggir
17
Gambar 2.8 Retak Sambungan Jalan
5. Retak Sambungan Pelebaran Jalan (Widening Cracks)
Retak sambungan pelebaran jalan adalah retak memanjang yang terjadi pada
sambungan antara perkerasan lama dengan pekerasan berakibat pelebaran jalan,
dapat juga disebabkan oleh ikatan antara sambungan yang tidak baik. Jika tidak
segera diperbaiki, air dapat masuk ke dalam lapisan perkerasan yang akan
mengkibatkan lepasnya butir - butir perkerasan dan retak semakin besar.
18
banyaknya pasir dalam campuran lapis permukaan atau kurang baiknya pemadatan
lapis perkerasan.
19
lintasan roda. Campuran aspal dengan stabilitas rendah juga dapat menimbulkan
deformasi plastis.
Alur juga dapat disebabkan oleh:
a. Pengaruh lalu lintas (jumlah kendaraan, beban gandar dan kecepatan
kendaraan).
b. Pengaruh cuaca. Material terlepas pada musim kering dan tercampur lumpur
dan lembek pada musim hujan.
c. Gradasi bahan tidak memenuhi persyaratan (terlalu banyak pasir atau terlalu
banyak lempung).
2. Bergelombang (Coguration)
Bergelombang adalah alur yang terjadi melintang jalan. Timbulnya permukaan jalan yang
bergelombang ini, menyebabkan pengemudi menjadi tidak nyaman dalam berkendara.
Penyebab kerusakan ini adalah rendahya stabilitas campuran yang disebabkan oleh terlalu
tingginya kadar aspal, terlalu banyak menggunakan agregat halus, agregat berbentuk bulat
dan berpermukaan penetrasi yang tinggi. 22 Bergelombang dapat juga terjadi jika lalu
lintas dibuka sebelum perkerasan mantap (untuk perkerasan yang mempergunakan aspal
cair).
20
Gambar 2.12 Bergelombang (Coguration)
3. Sungkur (Shoving)
Sungkur terjadi akibat deformasi plastis setempat, biasanya terjadi di tempat
kendaraan sering berhenti, kelandaian curam dan tikungan tajam. Kerusakan dapat
terjadi dengan/ tanpa retak. Penyebab kerusakan sama dengan kerusakan
bergelombang.
21
kurang baik, atau penurunan bagian perkerasan dikarenakan tanah dasar
mengalami settlement.
5. Jembul (Upheaval)
Jembul biasanya terjadi setempat, dimana kendaraan sering berhenti, dengan atau
tanpa retak. Lapis permukaan tampak menyembul ke atas permukaan
dibanding9kan dengan permukaan sekitarnya. Hal ini terjadi akibat adanya
pengembangan tanah dasar pada tanah dasar ekspansif dan juga dipengaruhi oleh
beban kendaraan yang melebihi standar
22
Cacat permukaan mengarah pada kerusakan secara kimiawi dan mekanis dari
lapisan perkerasan.
Beberapa yang termasuk dalam cacat permukaan antara lain sebagai berikut :
1. Lubang (Pothole)
Lubang pada permukaan dapat berupa mangkuk dengan ukuran yang bervariasi,
dari kecil hingga besar. Lubang - lubang ini menampung air dan meresapkannya
ke dalam lapis permukaan yang menyebabkan semakin parahnya kerusakan jalan.
Lubang dapat diakibatkan oleh beberapa sebab, yaitu :
a. campuran material aspal yang jelek, seperti:
1. Kadar aspal rendah sehingga film aspal tipis dan mudah lepas.
2. Agregat kotor sehingga ikatan antara aspal dan agregat tidak baik.
3. Temperature campuran tidak memenuhi syarat.
b. lapis permukaan tipis sehingga ikatan aspal dan agregat mudah lepas akibat
pengaruh cuaca,
c. sistem drainase jelek sehingga air banyak yang meresap dan mengumpul dalam
lapisan perkerasan,
d. retak - retak yang tidak ditangani sehingga air meresap dan mengakibatkan
terjadinya lubang - lubang kecil.
23
2. Pelepasan Butir (Ravelling)
Pelepasan butir adalah pelepasan partikel agregat dan permukaan perkerasan yang
apabila tidak diperbaiki dalam waktu yang lama, akan makin dalam. Pelepasan
butir dapat terjadi secara meluas dan mempunyai efek yang buruk serta
ditimbulkan oleh hal yang sama dengan lubang. Biasanya agregat halus (fine
aggregate) terlepas terlebih dahulu dan akibat erosi yang terus menerus, maka
partikel - partikel yang lebih besar akan ikut terlepas dan menyebabkan permukaan
menjadi kasar (rough).
24
pemadatan kembali ssehingga interlock antar agregat menjadi berkurang yang
menyebabkan lepasnya agregat.
25
Gambar 2.19 Pengausan (Polished Aggregate)
26
Gambar 2.21 Penurunan pada Bekas Utilitas (Utility Cut Depression)
27
masing-masing beratnya diperhitungkan dengan nilai koefisien distribusi arah
kendaraan (c).
28
Tabel 2.3 Angka Ekivalen Beban Sumbu Kendaraaan
4. Jalur Rencana
Jalur Rencana adalah salah satu jalur lalu lintas dari suatu sistem jalan raya, yang
menampung lalu lintas terbesar. Umumnya jalur rencana adalah salah satu jalur
dari jalan raya dua jalur tepi luar dari jalan raya berjalur banyak. Jika jalan tidak
memiliki tanda batas jalur.
29
pelayanan bagi lalu lintas yang lewat. Adapun beberapa nilai IP beserta artinya
adalah seperti yang tersebut di bawah ini :
a. IP = 1,0 menyatakan permukaan jalan dalam keadaan rusak berat sehingga dapat
mengganggu lalu lintas kendaraan
b. IP = 1,5 adalah tingkat pelayanan yang masih mungkin ( jalan tidak terputus )
c. IP = 2,0 adalah tingkat pelayanan terendah bagi jalan yang masih mantap
d. IP = 2,5 menyatakan permukaan jalan masih cukup stabil dan baik. Dalam
menentukan indeks permukaan pada akhir umur rencana ( IPt ) perlu
dipertimbangkan factor-faktor klasifikasi fungsional jalan dan jumlah lalu
lintas Ekivalen rencana ( LER ).
Nilai indeks permukaan awal (IPo) ditentukan dari jenis lapis permukaan dan nilai
indeks permukaan akhir (IPt) ditentukan dari nilai LER. Adapun nilai IPo dari
masing-masing jenis lapis permukaan.
≥4 ≤ 1.000
LASTON
3,9 - 3,5 > 1.000
3,9 - 3,5 ≤ 2.000
LASBUTAG
3,4 - 3,0 > 2.000
3,9 - 3,5 ≤ 2.000
HRA
3,4 - 3,0 > 2.000
BURDA 3,9 - 3,5 < 2.000
BURTU 3,4 - 3,0 < 2.000
3,4 - 3,0 ≤ 3.000
LAPEN
2,9 - 2,5 > 3.000
LATASBUM 2,9 - 2,5
BURAS 2,9 - 2,5
30
Lokal Kolektor Arteri Tol
< 10 1,0 - 1,5 1,5 1,5 - 2,0 -
10 - 100 1,5 1,5 - 2,0 2,0 -
100 - 1000 1,5 - 2,0 2,0 2,0 - 2,5 -
> 1000 - 2,0 - 2,5 2,5 2,5
7. Lalu Lintas
a. Lalu Lintas Harian Rata-Rata ( LHR )
Lalu lintas harian rata-rata adalah jumlah rata-rata dari lalu lintas berjenis-jenis
kendaraan bermotor dari beroda empat atau lebih yang dicatat selama 24 jam
untuk kedua jurusan.
LEP = Σ LHRj x Cj x Ej
Dimana :
Cj = koefisien distribusi arah
j = masing-masing jenis kendaraan
31
Dimana :
i = tingkat pertumbuhan lalu lintas
j = masing-masing jenis kendaraan
UR = umur rencana
LEP+ LEA
LET =
2
LER = LET X FP
Dimana :
FP = faktor Penyesuaian
UR
FP =
10
f. Faktor Regional
Faktor Regional adalah factor setempat sehubungan dengan iklim, curah hujan
dan kondisi lapangan secara umum akan berpengaruh terhadap daya dukung
32
tanah dasar dan perkerasan. Faktor regional adalah keadaan lapangan yang
mencakup permeabilitas tanah, perlengkapan drainase, bentuk alinyemen,
prosentase kendaraan berat dengan MST ≥ 13 ton dan kendaraan yang berhenti,
serta iklim. Peraturan Pelaksanaan Pembangunan Jalan Raya menentukan
bahwa faktor yang menyangkut permeabilitas tanah hanya dipengaruhi oleh
alinyemen, prosentase kendaraan berat dan kendaraan yang berhenti, serta
alinyemen. Untuk kondisi tanah pada daerah rawa-rawa ataupun daerah
terendam, nilai FR yang diperoleh dari table.
g. Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) dan California Bearing Ratio (CBR)
Daya dukung tanah dapat diperoleh dari korelasi antara nilai CBR tanah dasar
dengan nilai DDT itu sendiri. Nilai CBR dapat diperoleh dengan uji CBR tanah.
Harga CBR disini adalah harga CBR lapangan.
CBR merupakan perbandingan beban penetrasi pada suatu bahan dengan beban
standar pada penetrasi dan kecepatan pembebanan yang sama. Berdasarkan cara
mendapatkan contoh tanahnya,CBR dapat dibagi atas:
CBR lapangan, disebut juga CBR atau field CBR.
inplace
Gunanya untuk mendapatkan nilai CBR asli di lapangan sesuai dengan kondisi
tanah saat itu dimana tanah dasarnya sudah tidak akan dipadatkan lagi. Pemeriksaan
33
dilakukan saat kadar air tanah tinggi atau dalam kondisi terburuk yang mungkin
terjadi.
CBR lapangan rendaman / Undisturb saoked CBR
Gunanya untuk mendapatkan besarnya nilai CBR asli di lapngan pada keadaan
jenuh air, dan tanah mengalami pengembangan mak-simum. Pemeriksanaan
dilaksanakan pada kondisi tanah dasar tidak dalam keadaan jenuh air. Hal ini sering
digunakan untuk menentukan daya dukung tanah di daerah yang lapisan tanah
dasarnya sudah tidak akan dipadatkan lagi, terletak di daerah yang badan jalanya
sering terendam air pada musim hujan dan kering pada musim kemarau. se-dangkan
pemeriksaan dilakukan di musim kemarau.
CBR rencana titik / CBR laboratorium / design CBR
Tanah dasar (subgrade) pada konstruksi jalan baru merupakan tanah asli, tanah
timbunan, atau tanah galian yang sudah dipadatakan sampai kepadatan 95%
kepadatan maksimum. Dengan demikian daya dukung tanah dasar tersebut
merupakan nilai kemampuan lapisan tanah memikul beban setelah tanah tersebut di
padatkan. CBR laboratorium dibedakan atas 2 macam yaitu soaked design CBR dan
unsoaked design CBR.
34
Gambar 2.22 Korelasi DDT dan CBR
Nilai ITP ditentukan dengan nomogram ITP yang dikorelasikan dengan nilai daya
dukung tanah, lintas ekivalen rencana, faktor regional dan indek permukaan.
Persamaan nilai ITP adalah sebagai berikut :
Dimana :
a1, a2, a3 = Koefisien kekuatan relatif bahan perkerasan.
D1, D2, D3 = tebal masing-masing lapis perkerasan (cm)
35
Angka 1,2,3, masing-masing lapis permukaan, lapisan pondasi dan lapisan pondasi
bawah. Perkiraan tebal masing-masing lapis perkerasan tergantung dari ketebalan
minimum yang ditentukan oleh Bina Marga dan disajikan pada Tabel berikut ini.
36
batu pecah. Satbilisasi tanah dengan
semen, stabilisasi tanah dengan kapur,
10.00 - 12.14 20
pondasi makadam, LAPEN, LASTON
ATAS
batu pecah. Satbilisasi tanah dengan
semen, stabilisasi tanah dengan kapur,
≥ 12.25 25
pondasi makadam, LAPEN, LASTON
ATAS
Sumber : SKBI-2.3.26.1987 – SNI. NO : 1732-1989
*) batas 20cm tersebut dapat diturunkan menjadi 15cm bila untuk pondasi bawah digunakan
material berbutir kasar.
Nilai indeks tebal perkerasan diperoleh dari nomogram dengan mem-pergunakan
nilai-nilai yang telah diketahui sebelumnya, yaitu : LER selama umur rencana,
nilai DDT, dan FR yang diperoleh. Berikut ini adalah gambar grafik nomogram
untuk masing-masing nilai IPt dan IPo.
37
Gambar 2.23 Nomogram 1 untuk IPt = 2,5 dan Ipo = 4.
Gambar 2.24 Nomogram 2 untuk IPt = 2,5 dan Ipo = 3,9 – 3,5
38
39
Gambar 2.26 Nomogram 4 untuk IPt = 2 dan Ipo = 3,9 – 3,5
Gambar 2.27 Nomogram 5 untuk IPt = 1,5 dan Ipo = 3,9 – 3,5
40
Gambar 2.28 Nomogram 6 untuk ITp = 1,5 dan Ipo = 3,4 – 3,0
Gambar 2.29 Nomogram 7 untuk IPt = 1,5 dan Ipo = 2,9 – 2,5
41
Gambar 2.30 Nomogram 8 untuk IPt = 1 dan Ipo = 2,9 – 2,5
42
2.7.2. Perhitungan Perkerasan Lentur Metode Analisa Komponen 1987
Adapun ketentuan dan perhitungan tebal perkerasan lentur menggunakan metode Bina
Marga 2017 yaitu sebagai berikut :
1. Umur Rencana (UR)
Umur rencana jalan adalah jumlah waktu dalam tahun yang dihitung dari dibukanya
sebuah jalan (digunakan) sampai jalan perlu dilakukan perbaikan (overlay) atau telah
dianggap perlu untuk memberikan lapis permukaan yang baru agar jalan tersebut tetap
berfungsi dengan baik sebagai yang direncanakan. Berikut adalah tabel umur rencana
perkerasan jalan berdasarkan metode Bina marga 2017 :
43
Sumber : Kementrian Pekerjan Umum Dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal
Bina Marga 2017.
Pertumbuhan lalu lintas selama umur rencana dihitung dengan faktor pertumbuhan
kumulatif (Cumulative Growth Factor)
R=¿ ¿
Dimana :
R = Faktor pengali lalu lintas kumulatif
I = Laju pertumbuhan lalu luntas tahunan (%)
UR = Umur rencana (Tahun)
Apabila diperkirakan akan terjadi perbedaan laju pertumbuhan tahunan sepanjang total
umur rencana (UR), dengan i1 % selama periode awal (UR1 tahun) dan i2 % selama sisa
periode berikutnya (UR – UR1), faktor pengali pertumbuhan lalu lintas kumulatif dapat
dihitung dari formula berikut:
R=¿ ¿
44
Dimana :
R = Faktor pengali pertumbuhan lalu lintas kumulatif
i1 = Laju pertumbuhan tahunan lalu lintas periode1 %
i2 = Laju pertumbuhan tahunan lalu lintas periode 2
UR = Total umur rencana (tahun)
UR1= Umur rencana periode 1 (tahun)
Catatan : Formula di atas digunakan untuk periode rasio volume kapasitas (RVK) yang
belum mencapai tingkat kejenuhan (RVK ≤ 0.85)
Apabila kapasitas lalu lintas diperkirakan tercapai pada tahun ke (Q) dari umur rencana
(UR), faktor pengali pertumbuhan lalu lintas kumulatif dihitung sebagai berikut:
R=¿ ¿
Analisa volume lalu lintas didasarkan pada survei yang diperoleh dari :
45
a. Survei lalu lintas, dengan durasi minimal 7 x 24 jam. Durasi survei dapat dilakukan
secara manual mengacu pada pedoman survei pencacahan lalu lintas (Pd T-19-2004-B)
atau menggunakan peralatan dengan pendekatan yang sama.
b. Hasil – hasil survei lalu lintas sebelumnya.
Dalam analisa lalu lintas, penentuan volume lalu lintas pada jam sibuk dan lalu lintas
harian rata – rata tahunan (LHRT) mengacu pada manual kapasitas jalan indonesia
(MKJI).
Penentuan nilai LHRT didasarkan pada data survei volume lalu lintas dengan
mempertimbangkan faktor kendaraan. Perkiraan volume lalu lintas harus dilaksanakan
secara realistis.
Rekayasa data lalu lintas untuk meningkatkan justifikasi ekonomi tidak boleh dilakukan
untuk kepentingan apapun. Jika terdapat keraguan terhadap data lalu lintas maka
perencana harus membuat survai cepat secara independen untuk memverifikasi data
tersebut.
Faktor distribusi lajur (DL) untuk kendaraan niaga ditetapkan dalam tabel dibawah
ini :
46
Jumlah Lajur Kendaraan niaga pada lajur desain
Setiap Arah (% terhadap populasi kendaraan niaga)
1 100
2 80
3 60
50
Sumber : Kementrian Pekerjan Umum Dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Bina Marga
2017
47
Dimana :
ESA = Kumulatif lintasan sumbu standar ekivalen (equivalent standard axle)
pada tahun pertama.
LHR = Lintas harian rata – rata tiap jenis kendaraan niaga (satuan kendaraan
per hari).
VDF = Faktor Ekivalen Beban (Vehicle Damage Factor) tiap jenis kendaraan
niaga.
DD = Faktor distribusi arah.
DL = Faktor distribusi lajur.
R = Faktor pengali pertumbuhan lalu lintas kumulatif.
48
Kumulatif beban
sumbu 20 tahun <2 ≥2-4 >4-7 >7-10 >10-20 >20-30 >30-50 >50- >100-
pada lajur rencana 100 200
(106 ESA5)
KETEBALAN LAPIS PERKERASAN (mm)
AC WC 40 40 40 40 40 40 40 40 40
AC BC 60 60 60 60 60 60 60 60 60
AC Base 0 70 80 105 145 160 180 210 245
LPA Kelas A 400 300 300 300 300 300 300 300 300
Catatan 1 2 3
Sumber : Kementrian Pekerjan Umum Dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Bina Marga 2017
AC-WC
AC-BC
AC-BASE
Lapisan pondasi atas
49
pada struktur perkerasan jalan jika dilintasi oleh jenis dan beban sumbu tertentu
atau jenis dan beban kendaraan tertentu.
Sebagai contoh Angka ekivalen E, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti :
a. Kofigurasi dan beban sumbu
b. Nilai struktural perkerasan jalan yang dinyatakan dengan strukctural number
(SN).
c. Terminal Serviceability Index (Pt)
P ( Kg )
SumbuTunggal : E= ( 1860 ( kg ) )
P ( Kg )
SumbuTunggal : E=0,086 ( 1860 ( kg ) )
Dimana :
W18 = Perkiraan penggunaan jumlah lalu lintas yang akan digunakan pada
lajur rencana
ZR = Standar normal deviasi
S0 = Standar deviasi
keseluruhan
SN = Struktural number
∆PSI = Serviceabiliti
MR = Modulus resilent
Dimana :
50
18 = Lintas ekivalen kumulatif pada lajur rencana
LHR = Jumlah harian rata-rata kendaraan
E = Angka ekivalen beban sumbu untuk jenis kendaraan.
I = Faktor pertumbuhan lalu lintas tahunan dari perhitungan volume
lalu lintas.
n = Jumlah tahun dari saat diadakan perhitungan volume lalu lintas
sampai jalan tersebut dibuka.
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung lalu lintas pada lajur rencana.
Ẃ =DL x DD x ( ∑ w´18) x
Dimana :
DL = faktor distribusi lajur
DD = faktor distribusi arah
51
4. Menentukan Koefisien Kekuatan Relatif (a)
Koefisien kekuatan relatif (a) dari setiap jenis lapisan perkerasan yang dipilih.
Besarnya koefisien kekuatan relatif dapat dilihat pada tabel koefisien kekuatan
relatif sebagai berikut :
Koefisien
Kekuatan Relatif Kekuatan Bahan
Jenis Bahan
KT CBR
A1 A2 A3 Ms (Kg)
(Kg/cm) (%)
0.40 744 LASTON
0.35 590
0.32 454
0.30 340
0.35 744
0.31 590
ASBOTON
0.28 454
0.26 340
HOT ROLLED
0.30
ASPHAL
0.26 ASPAL MAKADAM
0.25 LAPEN (mekanis)
0.20 LAPEN (manual)
0.28 590
LASTON ATAS
0.26 454
5. Reliability (R)
Reliability adalah probabilitas bahwa perkerasan yang direncanakan akan tetap
memuaskan selama masa layanannya. Penetapan angka Reliability dari 50%
sampai 99,99% menurut AASHTO merupakan tingkat kehandalan desain untuk
mengatasi, mengakomodasi kemungkinan melesetnya besaran-besaran desain yang
52
dipakai. Semakin tinggi reliability yang dipakai semakin tinggi tingkat mengatasi
kemungkinan terjadinya selisih (deviasi) desain.
Kinerja struktur perkerasan jalan sangat ditentukan oleh 4 faktor utama yaitu:
a. Struktur perkerasan seperti tebal dan mutu setiap lapis perkerasan
b. Kondisi lingkungan seperti temperatur, curah hujan, kondisi tanah dasar
c. Perkiraan repetisi beban lalu lintas dan proyeksi selama umur rencana
d. Perkiraan daya dukung tanah dasar.
Dimana :
53
MR = Kekuatan Tanah Dasar
CBR = California Bearing Ratio
8. Serviceability
Terminal serviceability index (Pt) mengacu pada tabel 2.13, Initial serviceability
untuk perkerasan lentur berdasarkan metode AASHTO 1993 sebesar Po = 4,2.
54
96 -1.751
97 -1.881
98 -2.054
99 -2.327
99.9 -3.09
99.99 -3.75
Sumber : AASTHO 1993
Catatan :
Untuk menggunakan besaran-besaran dalam standar AASHTO ini sebenarnya
dibutuhkan suatu rekaman data, evaluasi desain / kenyataan beserta biaya konstruksi
dan pemeliharaan dalam kurun waktu yang cukup. Dengan demikian besaran
parameter yang dipakai tidak selalu menggunakan “angka tengah” sebagai kompromi
besaran yang diterapkan.
55
56