LAPORAN PRAKTIKUM
FISIOTERAPI KARDIOPULMONAL
ATRIAL SEPTAL DEFECT (ASD
OLEH
Rosa Rahma Septiani
201810490311072
Kelompok 5
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2021
BAB I
PENDAHULUAN
A. Definisi
Atrial Septal Defeft (ASD) adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang
(defek)pada septum inter atrial yang terjadi karena kegagalan fusi septum interatrial
semasa janin. Berdasarkanlokasi lubang, diklasifikasikan dalam 3 tipe. Yaitu (1)
ASD sekundum, bila lubang terletak pada daerah fosa ovalis, (2) ASD primum, bila
lubang terletak di daerah ostium primum, yang mana ini termasuk salah satu bentuk
Atrio Ventricular Septal Defeck (AVSD), dan (3) Sinus Venosus Defect (SVD)bila
lubang terletak di daerah sinus venosus dekat muara vena kaya superioratau
inferior. Pada hampir semua pasien yang lahir dengan ASD < 3 mm, akan menutup
spontan dalam 18 bulan setelah lahir, namun pada pasien dengan defek 3-8 mm,
hanya 80% yang menutup spontan.
B. Etiologi
Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang
diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD.
Faktor-faktor tersebut diantaranya :
1. Faktor prenatal
a. Ibu menderita infeksi Rubella
b. Ibu alkoholisme
c. Umur ibu lebih dari 40 tahun.
d. Ibu menderita IDDM (insulin depent diabetes miletus)
e. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu
2. Faktor Genetik
a. Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
b. Ayah atau ibu menderita PJB
c. Kelainan kromosom misalnya sindroma down
d. Lahir dengan kelainan bawaan lainnya.
ASD merupakan suatu kelainan jantung bawaan. Dalam keadaan normal,
pada peredaran darah janin terdapat suatu lubang diantara atrium kiri dan kanan
sehingga darah tidak perlu melewati paru-paru. Pada saat bayi lahir, lubang ini
biasanya menutup. Jika lubang ini tetap terbuka, darah terus mengalir dari atrium
kiri ke atrium kanan (shunt), Penyebab dari tidak menutupnya lubang pada septum
atrium ini tidak diketahui.
C. Patofisiologi
Apabila lubang ASD besar, aliran pirau dari kiri ke kanan yang terjadi secara
terus menerus dan berlangsung lama dapat menyebabkan beban volume pada jantung
kanan, mengakibatkan terjadinya dilatasi atrium dan ventrikel kanan. Anulus katup
trikuspid dan arteri pulmoner beserta annulus katupnya akan melebar,
mengakibatkan regurgitasi trikuspid dan pulmunonal, kadang disertai penebalan
ringan daun katup.
Dilatasi yang terjadi pada ventrikel kanan akan mendorong septum ventrikel
kearah ventrikel kiri dan menyebabkan fungsinya terganggu. Deformitas ventrikel
kiri juga dapat mengakibatkan prolaps katup mitral yang terkadang disertai
regurgitasi.
Kelebihan volume yang berlangsung lama ke sirkulasi pulmoner akan berakibat
dilatasi jaringan vaskular pulmoner. Secara mikroskopis akan terlihat penebalan pada
bagian medial muskular dari arteri dan vena pulmoner, terjadi juga muskulerisasi
dari arteriol. Pada beberapa kasus, ASD akan berkembang menjadi hipertensi
pulmoner berat dan penyakit vaskular pulmoner yang irreversibel.
D. Epidemiologi
Regurgitasi katup mitral yang signifikan memiliki prevalensi sekitar 2% dari
populasi, mempengaruhi pria dan wanita secara merata. Ini adalah salah satu dari
dua penyakit jantung katup yang paling umum pada orang tua dan jenis penyakit
jantung katup yang paling umum di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
ASD terjadi pada 5 sampai 6 bayi dari 1000 kelahiran hidup, pada sumber lain
menyebutkan 1.6 per 1000 kelahiran hidup (Menillo et al, 2019). ASD yang paling
umum, mewakili sekitar 80% ASD, adalah ASD secusecundu.
E. Tanda dan Gejala
Banyak anak-anak atau remaja dengan ASD tidak menunjukkan gejala apa-apa
(asimptomatik). Pada pemeriksaan fisik menisfestasi klinis pada Atrial Septal
Defect (ASD): Habituskurus,Dispnea, Kecenderungan infeksi saluran nafas
berulang, Kardiomegali, Palpitasi
BAB II
STATUS KLINIS
A. Skenario Kasus
Tuan X dengan keluhan sesak napas, pusing, mudah lelah, dan nyeri di dada kiri.
Saat ini masih di ruang CVCU rumah sakit dengan diagnosa medis insufisiensi
katup mitral. Pasien sudah dirawat sejak seminggu yang lalu. Riwayatnya pada saat
di kantor, pasien tiba-tiba merasa pusing, sesak, kemudian pingsan. Langsung
dibawa ke RS siang itu juga. Saat masuk IGD, TD 150/90, DN 100, RR 35, Suhu
36,5oC, SpO2 96%. Setelah diberi tindakan medis, besoknya langsung dipindahkan
ke CVCU. Hari ini pasien dirujuk untuk diberi tindakan fisioterapi dengan TD
135/90, RR 30, Suhu 37oC, dan SpO2 96%.
I. KETERANGAN UMUM PENDERITA
Nama : Tn. X
Umur : 39 tahun (1982)
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Pengusaha
Alamat : Malang
II. DATA-DATA MEDIS RUMAH SAKIT
A. Diagnosis Medis
Insufisiensi Katup Mitral
B. Catatan Klinis
(Medika mentosa, hasil lab, foto rontgen, MRI, CT-Scan, dll)
Tidak ada catatan klinis
C. Rujukan dari Dokter
Rujukan dari dokter spesialis jantung
III. SEGI FISIOTERAPI
A. Pemeriksaan Subyektif
B. Anamnesis (Auto)
1. Keluhan Utama
Pasien mengeluhkan sesak napas, pusing, mudah lelah, dan nyeri di
dada kiri.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
(Sejarah keluarga dan genetic, kehamilan, kelahiran dan perinatal, tahap
perkembangan, gambaran perkembangan, dll)
Pasien mengeluhkan sesak napas, pusing, mudah lelah, dan nyeri di
dada kiri. Pasien sudah dirawat sejak seminggu yang lalu. Riwayatnya
pada saat di kantor, pasien tiba-tiba merasa pusing, sesak, kemudian
pingsan dan langsung dibawa ke RS siang itu juga.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat Penyakit Penyerta
Tidak ada riwayat penyakit penyerta
5. Anamnesis Sistem
Kepala dan Leher : (-) Tidak ada keluhan
Respirasi : (+) Adanya sesak napas
Kardiovaskular : (+) Adanya rasa nyeri pada dada kiri
Musculoskeletal : (+) Adanya spasme pada otot
Neuromuscular : (-) Tidak ada keluhan
Urogenital : (-) Tidak ada keluhan
Gastrointestinal : (-) Tidak ada keluhan
C. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Fisik
a) Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : 150/90 mmHg (Hipertensi)
Denyut Nadi : 100 kali/menit (Normal)
Pernapasan : 35 kali/menit (Takipnea)
Temperatur : 36,5 ºC (Normal)
Tinggi Badan : 170 cm
Berat badan : 70 kg
b) Inspeksi (Statis & Dinamis)
(Postur, fungsi motoric, tonus, refleks, gait, dll)
Statis : Ekspresi wajah pasien nampak seperti menahan nyeri,
postur pasien tampak sedikit bungkuk ke depan.
Dinamis : Pola napas pasien tampak cenderung cepat akibat sesak
napas yang dialaminya dan kesulitan untuk bernapas
normal.
c) Palpasi
(Nyeri, spasme, suhu lokal, tonus, bengkak, dll)
a. Adanya nyeri tekan pada area dada sinistra
b. Adanya spasme pada otot-otot bantu pernapasan (abdominal
muscle) pasien
d) Perkusi
Terdengar suara pekak pada area ICS 5
e) Auskultasi
Terdengar murmur pada ICS 4 kiri
f) Gerak Dasar
1) Gerak Aktif : Pada ekstremitas atas dan bawah pasien mampu
menggerakkan ekstremitasnya
ROM Nyeri Kemampuan
Regio
Dekstra Sinistra Dekstra Sinistra Dekstra Sinistra
SHOULDER
Ekstensi 15º 15º - - Mampu Mampu
Fleksi 170º 170º - - Mampu Mampu
Abduksi 170º 170º - - Mampu Mampu
Adduksi 75º 75º - - Mampu Mampu
Horizontal Abduksi 30º 30º - - Mampu Mampu
Horizontal Adduksi 135º 135º - - Mampu Mampu
Eksternal Rotasi 90º 90º - - Mampu Mampu
Internal Rotasi 80º 80º - - Mampu Mampu
ELBOW
Ekstensi 0º 0º - - Mampu Mampu
Fleksi 150º 150º - - Mampu Mampu
Supinasi 90º 90º - - Mampu Mampu
Pronasi 80º 80º - - Mampu Mampu
WRIST
Ekstensi 50º 50º - - Mampu Mampu
Fleksi 60º 60º - - Mampu Mampu
Radial Deviasi 20º 20º - - Mampu Mampu
Ulnar Deviasi 30º 30º - - Mampu Mampu
HIP
Fleksi hip 125˚ 125˚ - - Mampu Mampu
Ekstensi hip 15˚ 15˚ - - Mampu Mampu
Abduksi hip 45˚ 45˚ - - Mampu Mampu
Adduksi hip 15˚ 15˚ - - Mampu Mampu
Internal rotasi hip 45˚ 45˚ - - Mampu Mampu
Eksternal rotasi hip 45˚ 45˚ - - Mampu Mampu
KNEE
Knee ekstensi 0˚ 0˚ - - Mampu Mampu
Knee fleksi 135˚ 135˚ - - Mampu Mampu
ANKLE
Dorso fleksi 35˚ 35 ˚ - - Mampu Mampu
Plantar fleksi 20˚ 20˚ - - Mampu Mampu
Inversi 20˚ 20˚ - - Mampu Mampu
Eversi 30˚ 30˚ - - Mampu Mampu
2) Gerak Pasif : Pada ekstremitas atas dan bawah pasien mampu
menggerakkan ekstremitasnya dengan bantuan terapis.
ROM Nyeri End Feel
Regio
Dekstra Sinistra Dekstra Sinistra Dekstra Sinistra
SHOULDER
Ekstensi 15º 15º - - Firm Firm
Fleksi 170º 170º - - Soft Soft
Abduksi 170º 170º - - Firm Firm
Adduksi 75º 75º - - Soft Soft
Horizontal Abduksi 30º 30º - - Firm Firm
Horizontal Adduksi 135º 135º - - Soft Soft
Eksternal Rotasi 90º 90º - - Firm Firm
Internal Rotasi 80º 80º - - Firm Firm
ELBOW
Ekstensi 0º 0º - - Hard Hard
Fleksi 150º 150º - - Soft Soft
Supinasi 90º 90º - - Firm Firm
Pronasi 80º 80º - - Firm Firm
WRIST
Ekstensi 50º 50º - - Hard Hard
Fleksi 60º 60º - - Soft Soft
Radial Deviasi 20º 20º - - Firm Firm
Ulnar Deviasi 30º 30º - - Firm Firm
HIP
Fleksi hip 125˚ 125˚ - - Soft Soft
Ekstensi hip 15˚ 15˚ - - Soft Soft
Abduksi hip 45˚ 45˚ - - Firm Firm
Adduksi hip 15˚ 15˚ - - Firm Firm
Internal rotasi hip 45˚ 45˚ - - Firm Firm
Eksternal rotasi hip 45˚ 45˚ - - Firm Firm
KNEE
Knee ekstensi 0˚ 0˚ - - Hard Hard
Knee fleksi 135˚ 135˚ - - Soft Soft
ANKLE
Dorso fleksi 35˚ 35 ˚ - - Soft Soft
Plantar fleksi 20˚ 20˚ - - Soft Soft
Inversi 20˚ 20˚ - - Firm Firm
Eversi 30˚ 30˚ - - Firm Firm
3) Gerak isometrik : Pada ekstremitas atas dan bawah pasien
mampu melawan tahanan minimal.
Nyeri Kemampuan
Regio
Dekstra Sinistra Dekstra Sinistra
SHOULDER
Ekstensi - - Mampu Mampu
Fleksi - - Mampu Mampu
Abduksi - - Mampu Mampu
Adduksi - - Mampu Mampu
Horizontal Abduksi - - Mampu Mampu
Horizontal Adduksi - - Mampu Mampu
Eksternal Rotasi - - Mampu Mampu
Internal Rotasi - - Mampu Mampu
ELBOW
Ekstensi - - Mampu Mampu
Fleksi - - Mampu Mampu
Supinasi - - Mampu Mampu
Pronasi - - Mampu Mampu
WRIST
Ekstensi - - Mampu Mampu
Fleksi - - Mampu Mampu
Radial Deviasi - - Mampu Mampu
Ulnar Deviasi - - Mampu Mampu
HIP
Fleksi hip - - Mampu Mampu
Ekstensi hip - - Mampu Mampu
Abduksi hip - - Mampu Mampu
Adduksi hip - - Mampu Mampu
Internal rotasi hip - - Mampu Mampu
Eksternal rotasi hip - - Mampu Mampu
Knee ekstensi - - Mampu Mampu
Knee fleksi - - Mampu Mampu
Dorso fleksi - - Mampu Mampu
Plantar fleksi - - Mampu Mampu
Inversi - - Mampu Mampu
Eversi - - Mampu Mampu
KNEE
Ekstensi - - Mampu Mampu
Fleksi - - Mampu Mampu
Eksternal Rotasi - - Mampu Mampu
Internal Rotasi - - Mampu Mampu
ANKLE
Dorso Fleksi - - Mampu Mampu
Plantar Fleksi - - Mampu Mampu
Eversi - - Mampu Mampu
Inversi - - Mampu Mampu
g) Kognitif, Intra-Personal, Inter-Personal
Kognitif : Pasien mampu memahami penjelasan dengan
baik.
Intra-Personal : Pasien memiliki keinginan dan semangat yang
kuat untuk sembuh.
Inter-Personal : Pasien selalu didampingi dan didukung oleh
pihak keluarganya.
h) Kemampuan Fungsional Dasar, Aktivitas Fungsional, &
Lingkungan Aktivitas
KFD : Pasien tidak dapat bernapas dengan normal.
AF : Pasien terganggu dalam melakukan aktivitas sehari-hari
terutama aktivitas yang berat.
LA : Pasien terganggu dalam bersosialisasi di lingkungannya
dan bekerja.
2. Pemeriksaan Spesifik
a) NRS
Nyeri diam : 2 (nyeri ringan)
Nyeri tekan : 4 (nyeri sedang)
Nyeri gerak : 8 (nyeri berat)
b) RPE Borg Scale
Didapatkan hasil 5 (nyeri berat), pada NYHA masuk ke dalam
NYHA II dimana sesak napas berkurang saat pasien berbaring dan
akan bertambah bila beraktivitas.
D. Underlying Process
Faktor Risiko
Kerusakan Jantung
Pembengkakan daun katup dan
erosi pinggir katup
Insufisiensi katup jantung
Pada fase sistolik katup bikuspidalis tidak
menutup dengan sempurna
Penurunan suplai darah dari ventrikel kiri
kembali ke atrium kiri aorta
Volume meningkat pada atrium kiri
Menghambat aliran darah dari paru
melalui vena pulmonalis
Impairment Functional Limitation Disability
1. Penurunan aktivitas 1. Terganggu dalam
fungsional aktivitas bekerja
2. Sesak saat 2. Terganggu dalam
beraktivitas kegiatan
bersosialisasi
3. Pasien terganggu
dalam melakukan
hobinya
Pulmo Dyspnea Breathing exercise
Positioning, Kompres hangat,
Spasme otot
Muskulo Pain stretching, aerobic low impact,
pernapasan
mobilisasi sangkar thorax
E. Diagnose Fisioterapi
Pain, Dyspnea, Spasme et causa Insufisiensi Katup Mitral
Impairment
Pain
Dyspnea
Spasme otot pernapasan
Functional Limitation
Penurunan aktivitas fungsional
Sesak saat beraktivitas
Disability
Terganggu dalam aktivitas bekerja
Terganggu dalam kegiatan bersosialisasi
Pasien terganggu dalam melakukan hobinya
F. Program/Rencana Fisioterapi
1. Tujuan Treatment
a) Jangka Pendek
- Mengurangi nyeri dada
- Mengurangi spasme otot
- Mengurangi sesak napas
- Meningkatkan toleransi aktivitas pasien
b) Jangka Panjang
- Menghilangkan nyeri dada
- Menghilangkan sesak napas
- Menghilangkan spasme otot
- Mengembalikan kemampuan fungsional pasien
2. Rencana Tindakan
a) Positioning
Untuk mencegah terjadinya decubitus.
b) Breathing Exercise
Bertujuan untuk mengurangi nyeri dada, sesak napas dan memperbaiki pola
pernapasan pasien.
c) Mobilisasi Sangkar Thorax
Bertujuan untuk mengurangi nyeri dada, sesak napas dan memperbaiki pola
pernapasan pasien.
d) Kompres Hangat
Bertujuan untuk merelaksasikan otot dan mengurangi nyeri.
e) Stretching
Bertujuan untuk megurangi nyeri serta meningkatkan fleksibilitas dan
elastisitas otot bantu pernapasan (abdominal muscle).
f) Latihan Aerobik Low Impact
Bertujuan untuk megontrol aliran darah dan meningkatkan kualitas
pernapasan pasien.
G. Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad sanam : Bonam
Quo ad fungsionam : Dubia Bonam
Quo ad cosmeticam : Bonam
H. Pelaksanaan Fisioterapi
a) Positioning
Frekuensi : Setiap hari
Intensitas : 2-3 jam sekali
Time : 5-10 menit
Teknik : Miring kanan, miring kiri
b) Breathing Exercise
Frekuensi : 1-2 kali sehari
Intensitas : Toleransi pasien
Time : 10-15 menit
Teknik : Deep breathing
c) Mobilisasi Sangkar Thorax
Frekuensi : 1-2 kali seminggu
Intensitas : Toleransi pasien
Time : 10-15 menit
Teknik : Chest breathing
d) Kompres Hangat
Frekuensi : 2 kali sehari
Intensitas : 40-43 ºC
Time : 15-20 menit
Teknik : Relaksasi otot
e) Stretching
Frekuensi : 2 kali seminggu
Intensitas : 5-10 repetisi/ toleransi pasien
Time : 10-15 menit
Teknik : Gentle active dan passive stretching
f) Latihan Aerobik Low Impact
Frekuensi : 3-5 kali seminggu
Intensitas : Rendah
Time : 30-60 menit
Teknik : Latihan jalan, bersepeda, treadmill
I. Hasil Evaluasi Terakhir
a) NRS
Nyeri T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6
Diam 2 2 2 1 1 1 0
Tekan 4 4 4 3 3 2 1
Gerak 8 7 6 5 4 3 2
b) RPE Borg Scale
Treatment ke- Skala
T0 5
T1 5
T2 4
T3 3
T4 3
T5 2
T6 2
J. Edukasi dan Komunikasi
- Pasien diharapkan tidak melakukan aktivitas berat
- Pasien diharapkan menjaga pola makan
- Pasien diharapkan memiliki keinginan yang kuat untuk sembuh
- Keluarga pasien diharapkan selalu mendampingi dan memberikan dukungan
kepada pasien
K. Catatan Pembimbing Praktik
-
L. Catatan Tambahan
-
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Defek septum Atrial atau Atrial Septal Defect (ASD) adalah penyakit jantung kongenital
asianotik. Kelainan penyakit jantung bawaan dimana terdapat defek pada sekat atrium yang
menyebabkan pirau dari atrium kiri ke kanan. Paling sering ditemukan pada bayi dan anak.
Pada hampir semua pasien yang lahir dengan ASD < 3 mm, akan menutup spontan dalam 18
bulan setelah lahir, namun pada pasien dengan defek 3-8 mm, hanya 80% yang menutup
spontan. Banyak anak-anak atau remaja dengan ASD tidak menunjukkan gejala apa-apa
(asimptomatik). Pada pemeriksaan fisik menisfestasi klinis pada Atrial Septal Defect (ASD):
Habituskurus, Dispnea, Kecenderungan infeksi saluran nafas berulang, Kardiomegali,
Palpitasi.
DAFTAR PUSTAKA
Wardhana dan Boom (2017) “Penanganan Perioperatif Pasien Penyakit Jantung Kongenital
Dewasa dengan ASD, Suspek Hipertensi Pulmonal, LV Smallis” Jurnal Anestesiologi Indonesia
Vol. 09 No. 2 (72)
Menillo et al (2019) “Atrial Septal Defect (ASD)” The National Center for Biotechnology