0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan24 halaman

Penerapan Pembelajaran Kontekstual Matematika

Proposal penelitian tindakan kelas ini membahas penerapan metode pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas 1B SDN Cigugur Tengah Mandiri 2 dalam penjumlahan bersusun ke bawah. Masalah utama adalah rendahnya capaian belajar siswa pada materi tersebut. Peneliti berencana menggunakan metode kontekstual untuk meningkatkan partisipasi siswa dan menghubungkan pelajaran dengan kon

Diunggah oleh

Bety Citra S
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan24 halaman

Penerapan Pembelajaran Kontekstual Matematika

Proposal penelitian tindakan kelas ini membahas penerapan metode pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas 1B SDN Cigugur Tengah Mandiri 2 dalam penjumlahan bersusun ke bawah. Masalah utama adalah rendahnya capaian belajar siswa pada materi tersebut. Peneliti berencana menggunakan metode kontekstual untuk meningkatkan partisipasi siswa dan menghubungkan pelajaran dengan kon

Diunggah oleh

Bety Citra S
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL ( CONTEXSTUAL


TEACHING LEARNING ) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA
TENTANG PENJUMLAHAN BERSUSUN KE BAWAH PADA SISWA KELAS I B SDN
CIGUGUR TENGAH MANDIRI 2

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) – PGSD IDIK 4008

Pada Program [Link]

Disusun Oleh

Nama : Bety Citra Sarasti

NIM : 857456062

Program Studi : S1-PGSD

Pokjar : Kota Bandung

Masa Registrasi : 2021.1

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH

UNIVERSITAS TERBUKA

BANDUNG 2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum [Link].

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta inayah
nay karena telah dapat menyelesaikan tugas proposal mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas
( PTK ) ini. Tujuan pembuatan proposal Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk memenuhi
salah satu tugas Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) PGSD IDIK 4008.

Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) yang berjudul “PENERAPAN METODE


PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL ( CONTEXSTUAL TEACHING LEARNING )
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA TENTANG PENJUMLAHAN
BERSUSUN KE BAWAH PADA SISWA KELAS I B SDN CIGUGUR TENGAH
MANDIRI 2” yang penulis harapkan dapat memberikan informasi kepada para pembaca
tentang Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ).

Tak lupa penulis ucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada :

1. Ibu Hilda Karli, Dra., [Link]. selaku dosen mata kuliah Tindakan Penelitian Kelas, yang
telah memberikan arahan, dorongan dan motivasi pada penulisan dalam proposal
penyelesaian Penelitian Tindakan Kelas.
2. Ibu Siti Mardiah, [Link]. selaku kepala sekolah SDN Cigugur Tengah Mandiri 2 yang
telah memberikan arahan dan dorongan, serta motivasi pada penulis dalam Penelitian
Tindakan kelas ini.
3. Rekan-rekan guru SDN Cigugur Tengah Mandiri 2 yang telah memberikan dorongan,
bantuan kemudian yang sangat berarti selama penulis melaksanakan perbaikan
pembelajaran materi mata pelajaran Matematika dalam Penelitian Tindakan kelas ini.
4. Keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan lahir dan bathin sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas proposal ini.
5. Siswa siswi kelas I B SDN Cigugur Tengah Mandiri 2.

Penulis memyadari bahwa Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua fihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan Penelitian Tindakan Kelas ini.
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua fihak yang telah ikut berperan
serta dalam penyusunan proposal ini dari awal sampai akhir.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita.

Cimahi, Mei 2021

Peneliti

Bety Citra Sarasti


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada hakikatnya pembelajaran ilmu Matematika di SD merupakan sarana untuk


mengembangkan wawasan dan pola pikir siswa. Adanya era globalisasi yang semakin membuat
siswa harus meningkatkan kemampuan intelektualnya, agar mampu bersaing menghadapi era
globalisasi dan dapat bertahan hidup di dalam kehidupannya kelak. Untuk itu siswa dalam
menyikapi cakupan materi Matematika perlu terus mengasah pengetahuan dan keterampilannya
dalam berhitung.

Namun kemampuan siswa untuk dapat mengingat materi yang sudah disampaikan dan
diajarkan sangat rendah, hal ini disebabkan sebagian besar siswa pada saat melakukan
Pembelajaran Jarak Jauh masih terkendala sinyal yang kurang baik pada saat guru
melaksanakan pembelajaran melalui aplikasi zoom, whatsapp group. Sehingga pembelajaran
tidak dapat dilakukan secara maksimal. Disamping itu kurangnya peran aktif dan minat untuk
menjawab pertanyaan guru, sehingga dengan kondisi Pembelajaran Jarak Jauh seperti ini
berdampak pada hasil belajar siswa, seperti halnya di SDN Cigugur Tengah Mandiri 2. Dari
hasil evaluasi yang diberikan kepada 32 siswa Kelas 1 hanya 14 siswa yang memperoleh nilai
ketuntasan dalam belajar, jika dipersentasikan siswa yang mengalami ketuntasan dalam belajar
hanya mencapai 43,75% dan yang belum mencapai ketuntasan dalam belajar 56,25%.

Berdasarkan data diatas, guru beranggapan perlu meningkatkan kemampuan siswa


tentang Penjumlahan Bersusun ke Bawah dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) yang dianggap penting untuk meningkatkan kinerja guru dan meningkatkan hasil belajar
siswa dalam penguasaan salah satu materi Matematika melalui metode Pembelajaran
Kontekstual (Contexstual Teaching Learning).

Dalam bahasa Inggris, method adalah cara. Apabila kita kaitkan dengan pelajaran,
metode adalah cara yang digunakan guru dalam pembelajaran, karena metode lebih
menekankan pada cara guru mengajar. Joni (dalam Anitah Sri., dkk., 2014 : 1.24)
mengemukakan bahwa metode adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum untuk
mencapai tujuan tertentu. Dari beberapa metode yang ada salah satunya adalah metode
Pembelajaran Kontekstual (Contexstual Teaching Learning).

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)  merupakan satu konsepsi


pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan subjek yang dipelajari
dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasikan pembelajar untuk membuat kaitan antara
pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan harian mereka sebagai ahli keluarga, warga
masyarakat, dan pekerja. [Link]
model-pembelajaran/

Guru tertarik menggunakan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching


Learning) sebagai solusi atas permasalahan guru yang dihadapi pada masa Pembelajaran Jarak
Jauh, mengingat masih lemahnya keterampilan siswa terhadap pembelajaran Matematika pada
materi Penjumlahan Bersusun ke Bawah.
Dari hasil penelitian dan pengamatan guru terhadap materi dan pada kondisi PJJ, untuk
dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam materi pembelajaran Matematika Penjumlahan
Bersusun ke Bawah. Guru juga perlu menjadi fasilitator bagi siswa saat membimbing materi
tersebut.

1. Identifikasi Masalah

Dari pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru, ditemukan beberapa masalah
dalam pembelajaran Matematika Penjumlahan Bersusun ke Bawah di SDN Cigugur Tengah
Mandiri 2 dengan identifikasi masalah diantaranya:

a. Masih rendahnya kemampuan siswa dalam mata pelajaran Matematika dengan materi
Penjumlahan Bersusun ke Bawah;
b. Siswa masih banyak yang kurang aktif saat pembelajaran berlangsung melalui zoom,
whatsapp group;
c. Kendala signal pada saat pembelajaran berlangsung melalui zoom, whatsapp group;
d. Faktor tingkat pendidikan orang tua yang rata-rata masih rendah sehingga orang tua
kurang dapat berperan membantu saat pembelajaran PJJ.

Dari masalah diatas, sebagai data perolehan pra siklus mata pelajaran Matematika Kelas 1B
dengan materi Penjumlahan Bersusun ke Bawah dapat dituangkan dalam tabel berikut:

REKAP HASIL PEMBELAJARAN MATEMATIKA PRA SIKLUS KELAS 1B SDN


CIGUGUR TENGAH MANDIRI 2

No Nilai Jumlah Presentase (%) Keterangan


1. 100 - - -
2. 90 2 6,25% Tuntas
3. 80 5 15,625% Tuntas
4. 70 7 21,875% Tuntas
5. 60 5 15,625% Belum Tuntas
6. 50 8 25,00% Belum Tuntas
7. 40 - - -
8. 30 3 9,375% Belum Tuntas
9. 20 2 6,25% Belum Tuntas
10. 10 - - -
Jumla 32 100% KKM= 70
h

2. Analisis Masalah

Berdasarkan fakta yang telah diuraikan dan dikemukakan diatas dapat ditentukan
beberapa faktor penyebab siswa kurang dapat meningkatkan kemampuannya tentang materi
yang telah diajarkan adalah sebagai berikut:

a. Guru kurang mengajak siswa untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran
yang berlangsung secara PJJ;
b. Guru kurang menggunakan metode secara bervariasi pada pembelajaran yang
berlangsung PJJ;
c. Guru kurang menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang
disampaikan;
d. Guru terkendala signal yang kurang baik pada saat pembelajaran berlangsung sehingga
penjelasan materi pembelajaran kurang dapat tersampaikan dengan maksimal saat PJJ
berlangsung;
e. Guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang
belum jelas saat PJJ belangsung;
f. Guru kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang
diajukan saat PJJ berlangsung.

3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah

Berdasarkan analisis diatas, selanjutnya guru akan memprioritaskan masalah dalam


penelitian perbaikan dalam metode pembelajaran, yaitu merancang metode Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching Learning).

B. Rumusan Masalah
1) Rumusan masalah umum
Bagaimana penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching
Learning) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika
tentang Penjumlahan Bersusun ke Bawah di Kelas 1B SDN Cigugur Tengah Mandiri
2?
2) Rumusan masalah khusus
Adapun rumusan masalah khusus dalam penelitian ini yaitu:
a. Bagaimana kemampuan siswa tentang Penjumlahan Bersusun ke Bawah sebelum
penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) ?
b. Bagaimana proses penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching Learning) dalam meningkatkan kemampuan siswa tentang mata pelajaran
Matematika tentang Penjumlahan Bersusun ke Bawah ?
c. Bagaimana dampak dari penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching Learning) tentang Penjumlahan Bersusun ke Bawah terhadap hasil belajar
siswa ?

C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Penelitian terhadap masalah yang akan dibahas ini bertujuan untuk mendapatkan
jawaban terhadap masalah yang dirumuskan. Menurut Bohar Soeharto ( 1970 : 72 ) dalam
skripsi S, Taufik (2012 : 14) bahwa tujuan penelitian adalah untuk memberi jawaban,
pembuktian dari makna yang terkandung dalam permasalahan.

Adapun tujuan penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah:


1) Tujuan penelitian perbaikan pembelajaran umum
Mendeskripsikan penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching Learning) untuk meningkatkan kemampuan siswa tentang Penjumlahan
Bersusun ke Bawah Kelas 1 di SDN Cigugur Tengah Mandiri 2;
2) Tujuan penelitian perbaikan pembelajaran khusus
a) Mendeskripsikan penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching Learning) untuk meningkatkan kemampuan siswa tentang
Penjumlahan Bersusun ke Bawah;
b) Mendeskripsikan prosedur penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual
(Contextual Teaching Learning) untuk meningkatkan kemampuan siswa tentang
Penjumlahan Bersusun ke Bawah;
c) Menganalisis dampak penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual
(Contextual Teaching Learning) untuk meningkatkan kemampuan siswa
Penjumlahan Bersusun ke Bawah.

D. Manfaat Penelitian
Secara teori dan praktek penelitian ini dapat bermanfaat:
a) Bagi siswa
 Menciptakan rasa senang belajar Matematika selama pembelajaran PJJ
berlangsung dengan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching
Learning);
 Meningkatkan kemampuan pemahaman belajar siswa dalam materi Penjumlahan
Bersusun ke Bawah.
b) Bagi guru
 Mengembangkan kualitas guru dalam mengajarkan mata pelajaran Matematika
di sekolah dasar;
 Termotivasi untuk terus berupaya menjadi guru yang profesional.
c) Bagi sekolah
 Menjadi tolak ukur guna meningkatkan kualitas siswa di setiap proses
pembelajaran.
KAJIAN PUSTAKA

A. Metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)

1. Pengertian Metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)

Sebagai landasan dalam merencanakan dan melaksanakan PTK ini, akan


diuraikan beberapa sumber dan kajian mengenai penggunaan Metode Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching Learning) sebagai solusi atas permasalahan yang
dihadapi guru terhadap pelajaran matematika tentang penjumlahan bersusun ke bawah
yang dilaksanakan secara PJJ.

Sebelum kita membahas tentang Metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual


Teaching Learning), terlebih dahulu kita membahas tentang pengertian metode. Metode
berasal dari bahasa latin “methodos” yang berarti jalan yang harus dilalui. Menurut
Nana Sudjana (2002 : 260 ) “ Metode adalah cara yang digunakan guru dalam
mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pelajaran, Oleh karena
itu peranan metode pengajaran sebagai alat untuk menciptakan proses belajar
mengajar”. Sedangkan menurut Sukartiaso (dalam Moedjiono dan Dimyati 1995 : 45)
Metode adalah cara untuk melakukan sesuatu atau cara untuk mencapai sesuatu tujuan.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode adalah suatu
cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan
pembelajaran, metode sangat diperlukan oleh guru untuk mencapai tujuan yang ingin
dicapai. Setiap penggunaan metode, guru akan memilih metode yang sesuai dengan
materi yang akan disampaikan.
Model pembelajaran kontekstual merupakan model yang mengusahakan untuk
membuat siswa aktif dalam menggali kemampuan diri siswa dengan mempelajari
konsep-konsep sekaligus menerapkannya dan mengaitkannya dengan dunia nyata di
sekitar lingkungan siswa. Sejalan dengan itu, Elaine B. Jhonson (dalam Rusman,
2012:187) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang
merangsang otak untuk menyususn pola-pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut
lagi, Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem
pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan
menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa
berada.

Hal inilah yang mendasari bahwa model kontekstual (Contextual Teaching And
Learning) baik untuk diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. seperti yang kita
ketahui, sejauh ini pembelajaran yang biasa guru lakukan masih bersifat konvensional,
monoton, dan masih terpusat kepada guru saja. sehingga siswa tidak memperoleh
pengalaman belajar yang bermakna, dan tidak diikut sertakan terlibat secara langsung
dalam pemecahan masalah yang diberikan guru pada proses pembelajaran. dengan
demikian, siswa sekolah dasar khususnya cenderung diam, terkadang terlihat
mengantuk, kurang semangat dalam mengikuti pelajaran atau jenuh.

Model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning) pada


intinya adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan
nyata. artinya siswa dihadapkan pada suatu persoalan yang biasa dihadapi di
lingkungan, sehingga pada masanya nanti siswa dapat mampu mengatasi persoalan-
persoalan yang nyata yang dihadapi di lingkungannya. Oleh sebab itu, melalui
pembelajaran kontekstual, pembelajaran bukan suatu transformasi pengetahuan yang
diberikan guru kepada siswa dengan cara menghafal beberapa konsep-konsep yang
sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya
memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skiil) dari apa
yang dipelajarinya. Hal ini sangat erat kaitanya dengan tujuan pendidikan nasional
yang ditetapkan pemerintah.

Penjumlahan

Penjumlahan bilangan asli matematika kelas satu sesuai kurikulum pada


semester pertama adalah bilangan 1 samapai 20 dengan pemantapan. Penjumlahan
yang dilakukan di kelas satu dapat menggunakan benda-benda di sekitar atau
menggunakan media yang sengaja dimanipulasi untuk berhitung matematika.
Penjumlahan adalah menggabungkan dua atau lebih bilangan menjadi satu.
Penjumlahan sederhana merupakan penjumlahan yang langsung mendapatkan hasil
penjumlahan. Pada penjumlahan juga terdapat penjumlahan menyimpan, yakni
ketika angka satuan. Mengembangkan Pembelajaran berjumlah lebih dari atau
sama dengan sepuluh maka dilakukan penjumlahan menyimpan puluhan.

Aktivitas Matematika

Keberhasilan suatu proses pembelajaran ditunjukkan oleh hasil belajar siswa.

Ada tiga aspek yang dapat terukur pada hasil belajar yaitu aspek kognitif, afektif dan

psikomotor. Aspek kognitif berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman siswa

terhadap materi yang diajarkan, aspek afektif dan psikomotor ditunjukkan oleh siswa

melalui sikap dan kontribusinya baik selama proses pembelajaran maupun diluar

pelajaran yang merupakan implementasi dari materi yang sedang/telah


diajarkan.

Aspek kognitif biasanya diukur dengan menggunakan tes hasil belajar baik kuis, ujian

tengah semester, ulangan harian, tes akhir atau juga ujian nasional. Sedangkan afektif

dan psikomotor dapat terukur melalui instrumen non tes, misalnya angket,
lembar wawancara, lembar observasi dan lain sebagainya.

Guru sebagai fasilitator dalam proses pembalajaran, hendaknya berusaha untuk


menimbulkan dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Banyak hasil penelitian

yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara motivasi dan pencapaian
hasil belajar, Ramadianti (2013) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan motivasi
belajar

matematika yang pembelajarannya menggunakan teknik make a match, Kadir


(2011)

menunjukkan bahwa dengan pendekatan multiple intelligences dapat meningkatkan

aktivitas belajar matematika siswa, Dwirahayu (2015) dengan kegiatan


participatory

action research, membantu guru memahami cara mengajar matematika dan membantu

siswa memahami matematika dengan pembelajaran yang menyenangkan, selain itu

mengubah pemikiran siswa yang semula tidak menyukai matematika sekarang menjadi

lebih suka karena cara mengajarnya yang menyenangkan, namun menurut siswa mereka

tetap banyak yang kurang mengerti dengan matematika, karena selama ini
mereka belajar matematika hanya menghafal rumus dan menyelesaikan soal-soal
latihan saja. Selain

aspek sikap dan kognitif, siswa juga menunjukkan peningkatan pada aspek

psikomotornya, siswa yang semula malas untuk menulis di buku masing-masing, maka

dengan menggunakan media dan alat peraga pembelajaran yang disertai dengan Lembar

Kerja Siswa, mereka berlomba-lomba untuk menyelesaikannya lebih cepat dari teman-

teman lainnya.

Selanjutnya, ada 4 hal menurut Slameto (2013) yang dapat dilakukan oleh guru

dalam membangkitkan motivasi siswa, yaitu:

1. Membangkitkan semangat siswa untuk belajar

2. Menggunakan benda konkret dalam mengajarkan konsep

3. Memberikan reward untuk merangsang pencapaian prestasi

4. Membentuk kebiasaan belajar yang baik

Dari keempat hal tersebut, nampak bahwa pembelajaran akan lebih bermakna

jika dilakukan dengan melibatkan siswa pada berbagai aktivitas pembelajaran.

Selanjutnya Anitah (2007) mengatakan bahwa belajar itu merupakan aktivitas baik

aktivitas mental maupun aktivitas emosional. Proses pembelajaran di dalam kelas,

sekalipun guru menggunakan metode ceramah akan terjadi aktivitas mental pada diri
siswa, akan tetapi jika aktivitas emosionalnya tidak ada maka siswa belum dikatakan

sedang belajar. Kaitannya dengan pembelajaran matematika, aktivitas matematika dapat

ditunjukkan siswa dalam proses pembelajaran yang merupakan minat siswa dalam

matematika. Aktivitas matematika merupakan interpretasi dari minat siswa terhadap

matematika itu sendiri. Untuk menumbuhkan minat tersebut maka pembelajaran

matematika harus disajikan semenarik mungkin, misalnya (Ruseffendi, 2006) dengan

menggunakan alat peraga, menggunakan permainan, teka-teki, kegiatan lapangan,

kegiatan laboratorium matematika, dan lain sebagainya.

2. Prosedur Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan Metode Pembelajaran


Kontekstual (Contextual Teaching Learning)

Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan guru pada penerapan model


pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning) dalam proses kegiatan
belajar mengajar adalah sebagai berikut di bawah ini.

1.    Guru mengarahkan siswa untuk sedemikian rupa dapat mengembangkan


pemikirannya untuk melakukan kegiatan belajar yang bermakna, berkesan, baik
dengan cara meminta siswa untuk bekerja sendiri dan mencari serta menemukan
sendiri jawabannya, kemudian memfasilitasi siswa untuk mengkonstruksi sendiri
pengetahuannya dan keterampilannya yang baru saja ditemuinya.

2.    Dengan bimbingan guru, siswa di ajak untuk menemukan suatu fakta dari
permasalahan yang disajikan guru/dari materi yang diberikan guru.

3.    Memancing reaksi siswa untuk melakukan pertanyaan-pertanyaan dengan tujuan


untuk mengembangkan rasa ingin tahu siswa.

4.    Guru membentuk kelas menjadi beberapa kelompok umtuk melakukan diskusi, dan
tanya jawab.

5.    Guru mendemonstrasikan ilustrasi/gambaran materi dengan model atau media yang


sebenarnya.

6.    Guru bersama siswa melakukan refleksi atas kegiatan yang telah dilakukan.

7.    Guru melakukan evaluasi, yaitu menilai kemampuan siswa yang sebenarnya.

Dari ke-7 langkah tersebut di atas, guru dapat memodivikasi lebih sesuai dengan
kebutuhan siswa namun diharap jangan menghilangkan beberapa langkah yang sudah
ada dengan urut-urutan yang terpadu.
3. Keunggulan Metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)
Menurut Anisa (2009) ada beberapa kelebihan dalam pembelajaran Kontekstual
(Contextual Teaching Learning), yaitu :
1. Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan
yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat
memahaminya sendiri.
2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep
kepada siswa karena pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching
Learning) menuntut siswa menemukan sendiri bukan menghafalkan.
3. Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukan pendapat tentang
materi yang dipelajari.
4. Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan
bertanya kepada guru.
5. Menumbuhkan kemampuan dalam bekerjasama dengan teman yang lain
untuk memecahkan masalah yang ada.
6. Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.
4. Kelemahan dalam Metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching
Learning)
Menurut Dzaki (2009) kelemahan dalam Metode Pembelajaran Kontekstual
(Contextual Teaching Learning) yaitu :
1. Bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran, tidak mendapatkan
pengetahuan, dan pengalaman yang sama dengan teman lainnya karena siswa
tidak mengalami sendiri.
2. Perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik
siswa karena harus menyesuaikan dengan kelompoknya.
3. Banyak siswa yang tidak senang apabila dikondisikan bekerjasama dengan
yang lainnya karena siswa yang tekun harus lebih daripada siswa yang
lainnya.

Dari penjelasan diatas, seorang guru dalam menerapkan pembelajaran


Kontekstual (Contextual Teaching Learning) harus dapat memperhatikan
keadaan siswa. Selain itu seorang guru juga harus dapat membagi kelompok
secara heterogen, agar siswa yang pandai dapat membantu siswa yang kurang
pandai.

B. Penerapan PTK Pada Perbaikan Pembelajaran Matematika


1. Pengertian PTK
Dalam istilah aslinya, Penelitian Tindakan Kelas disebut juga dengan Classroom
Action Research. Faktor penyebabnya adalah karena jenis penelitian ini mampu
menawarkan peningkatan profesional guru dalam proses pembelajaran di kelas,
dengan melihat berbagai indikator keberhasilan proses dan hasilbelajar yang terjadi
pada siswa.
Seorang ahli penelitian bernama [Link] (1992 : 1) dalam buku Wardhani, I., dkk,
(2014 : 1.3) mengenai pengertian Penelitian Tindakan Kelas dengan tegas
menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian reflektif yang
dilakukan oleh guru sendiri yang yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat
untuk pengembangan dan perbaikan pembelajaran.
Dalam tataran ilmiah, penelitian tindakan kelas dapat menjembatani kesenjangan
antara teori dan praktik pembelajaran. Hal ini dapat terjadi karena setelah meneliti
kejadian sendiri, di kelas sendiri dengan melibatkan siswa nya sendiri, melalui
sebuah tindakan-tindakan yang direncanakan, dilaksanakan, dan di evaluasi sendiri,
guru dapat memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai kegiatan yang
selama ini selalu dilakukan dalam proses pembelajaran.
Dengan menggunakan penelitian tindakan kelas, guru secara perlahan dapat
membuktikan dan mengevaluasi apakah suatu teori pembelajaran yang secara
teoritis dikatakan bagus juga dapat diterapkan dengan baik juga di kelas dan apakah
dapat meningkatkan efektifitas hasil belajar siswa. Jika suatu teori pembelajaran
atau metode pembelajaran ternyata tidak cocok dengan kondisi kelasnya, maka
melalui penelitian tindakan kelas ini guru dapat mengadaptasi teori tersebut sesuai
dengan kondisi kelas dan materi yang dikelolanya dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian kepentingan proses dan atau produk pembelajaran yang lebih
efektif, optimal dan fungsional akan semakin dapat diciptakan dan dicapai.

2. Proses pada Penelitian Tindakan Kelas


Penelitian tindakan kelas pada dasarnya dapat bersifat kolaboratif, karena
penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan karena adanya
kepedulian terhadap keadaan yang perlu ditingkatkan pada proses pembelajaran
guna meningkatkan hasil belajar siswa.
Dalam hal ini guru juga akan mendeskripsikan kepeduliannya terhadap kegiatan
pembelajaran yang selama ini dilakukan, menjajaki yang difikirkan oleh orang lain
dan mencari apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kualitas
pembelajarannya. Guru dapat berdiskusi dengan teman sejawat atau orang yang
dianggap kompeten untuk bersama-sama menyusun rencana tindakan bersama-sama,
bertindak dan mengamati, serta dampakya, dan melakukan refleksi terhadap
[Link] dilanjutkan kembali rencana tindakan baru yang telah diperbaiki
berdasarkan informasi yang lebih lengkap.

Empat aspek pokok dalam penelitian tindakan kelas yaitu sebagai berikut :

a. Penyusunan Rencana
Rencana penelitian tindakan kelas merupakan tindakan yang tersusun, yaitu
memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta hasil belajar siswa.
Rencana harus bersifat fleksibel yang dapat diadaptasikan dengan pengaruh yang
tidak reduga, tidak terlihat, tidak teramati dan tidak terfikirkan sebelumnya.
Menurut Asriri, M., (2009 : 52) bahwa tindakan yang sudah direncanakan harus
disampaikan dalam du pengertian, yaitu : (1) Tindakan mempertimbangkan
resiko yang ada dalam perubahan sosial dan mengakui adanya kendala nyata
baik yang bersifat material, interaksi, sosial, maupun psikologis dalam situasi
terkait dengan pembelajaran yang ada; (2) Tindakan yang dilaksanakan
hendaknya dipilih karena memungkinkan guru untuk bertindaksecara lebih
efektif dalam berbagai keadaan, serta lebih bijaksana dan hati-hati.

b. Tindakan
Pengertian tindakan dalam penelitian tindakan kelas menurut Asrori M., (2009 :
53) adalah tindakan guru sebagai peneliti yang dilakukan secara sadar dan
terkendali dan merupakan variasai praktik yang cermat dan bijaksana. Dalam hal
ini tindakan merupakan kebijakan guru untuk mengembangkan tindakan-
tindakan berikutnya dalam memperbaiki proses pembelajaran.
Tindakan guru sebelumnya sudah membuat perencanaan yang telah dilakukan
sebelumnya yang akan dijadikan acuan dalam tindakan, tetapi perencanaan harus
lebih fleksibel dan dinamis yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam proses
perbaikan pembelajaran selama masa PJJ.

c. Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan oleh guru sebagai peneliti untuk
memperoleh sebuah gambaran tentang tindakan yang sedang dilakukan dan
mendokumentasikan pengaruh atau dampak dari tindakan tersebut.
Observasi pada dasarnya berorientasi untuk masa yang akan datang, dan
memberikan pedoman untuk kegiatan refleksi pada saat sekarang, terlebih ketika
putaran atau siklus tindakan itu sedang berjalan. Observasi sangat diperlukan
oleh guru, karena guru yang selalu dihadapkan kepada berbagai kendala dalam
realita pembelajaran di masa pembelajaran PJJ.

d. Refleksi
Refleksi adalah meranungkan atau menganalisis kembali suatu kegiatan atau
tindakan yang telah dilakukan sebagaimana yang telah dicatat dalam observasi.
Refleksi dalam penelitian tindakan kelas berusaha memahami proses, masalah,
dan kendala selama proses pembelajaran. Agar refleksi dapat dilakukan secara
optimal, guru sebagai peneliti sebaiknya selain melakukannya sendiri, sebaiknya
guru selalu berdiskusi dengan teman sejawat atau tenaga ahli di bidang
pendidikan. Melalui diskusi itulah refleksi akan dapat dilakukan sampai pada
rekonstruksi pemaknaan tindakan yang telah dilakukan serta pembelajaran yang
ada sehingga dapat memberikan pedoman bagi perbaikan rencana tindakan
selanjutnya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan
proses dinamis yang didalamnya terdapat empat langkah pokok yang harus
difahamii bukan sebagai langkah ststis yang bersifst lengkap, melainkan sebagai
langkah yang bersiklus dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
Peningkatan pemahaman pada tahap sebelumnya akan muncul sebagai pedoman
pemikiran pada praktik berikutnya. Dengan proses pemikiran yang bersiklus
itulah, perbaikan dan peningkatan pembelajaran diharapkan dapat berjalansecara
dinamis dan berkesinambungan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa
yang diharapkan.

3. Penerapan Penelitian tindakan kelas pada perbaikan pembelajaran


matematika tentang penjumlahan bersusun kebawah.
Dalam pelaksanaan metode menerapkan pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching Learning) agar hasilnya baik dan juga efektif, maka beberapa langkah
yang harus dilakukan dan difahami oleh gurru yaitu mulai dari perencanaan, uji coba
dan pelaksanaan oleh guru yang selanjutnya diikuti siswa yang akan diakhiri oleh
evaluasi.
Langkah-langkah diatas dapat diuraikan sebagai berikut :

1.    Guru mengarahkan siswa untuk sedemikian rupa dapat mengembangkan


pemikirannya untuk melakukan kegiatan belajar yang bermakna, berkesan, baik
dengan cara meminta siswa untuk bekerja sendiri dan mencari serta menemukan
sendiri jawabannya, kemudian memfasilitasi siswa untuk mengkonstruksi sendiri
pengetahuannya dan keterampilannya yang baru saja ditemuinya mengenai materi
metematika tentang penjumlahan bersusun kebawah

2.    Dengan bimbingan guru, siswa di ajak untuk menemukan suatu fakta dari
permasalahan yang disajikan guru/dari materi penjumlahan bersusun kebawah yang
diberikan guru.

3.    Memancing reaksi siswa untuk melakukan pertanyaan-pertanyaan dengan tujuan


untuk mengembangkan rasa ingin tahu siswa.

4.    Guru membentuk kelas pada kondisi zoom meet/ video call dengan siswa beberapa
kelompok umtuk melakukan diskusi, dan tanya jawab.

5.    Guru mendemonstrasikan ilustrasi/gambaran materi konsep penjumlahan dengan


model atau media yang sebenarnya.

6.    Guru bersama siswa melakukan refleksi atas kegiatan yang telah dilakukan.

7.    Guru melakukan evaluasi, yaitu menilai kemampuan siswa yang sebenarnya.


BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek, Tempat, dan waktu penelitian, serta fihak yang membantu


1. Subjek Penelitian
Adapun penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru yaitu di Sekolah
Dasar Negeri Cigugur Tengah Mandiri 2. Pada kelas ini siswa berjumlah 32 orang
yang terdiri dari 20 orang siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan, dengan latar
belakang pekerjaan orang tua dan tingkat ekonomi yang beragam dari mulai
pedagang, karyawan swasta, ASN dan ABRI. Begitupun dengan latar belakang
pendidikan orang tua siswa yang beragam pula mulai dari lulusan SMP sampai
dengan S-2.
Dengan jumlah antara siswa laki-laki dan siswa perempuan yang tidak berimbang
ini dan dengan karakteristik siswa yang berbeda, akan menimbulkan suasana yang
aktif dalam proses pembelajaran secara PJJ. Sehingga guru harus pandai membuat
situasi Saat pembelajaran dalam zoom meet berlangsung secara kondusif.

2. Tempat dan waktu penelitian


Guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas menentukan dikelas I B dari 5
kelas yang ada. Adapun waktu pelaksanaan penelitian yaitu prasiklus pada hari
Senin, 07 Juni 2021, siklus 1 dilaksanakan pada hari Senin, 14 Juni 2021, dan siklus
II pada hari Senin, 21 Juni 2021.
Berdasarkan uraian diatas, untuk jadwal pelaksanaan penelitian tindakan kelas
dalam pembelajaran pjj melalui zoom meet tertuang dalam tabel berikut ini.

JADWAL PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN


MATEMATIKA
DI KELAS I B SDN CIGUGUR TENGAH MANDIRI 2

No Hari/Tanggal Waktu Topik Keterangan


1. Senin, 08.00 – 08.35 Pra Siklus
07 Juni 2021
2. Senin, 08.00 – 08.35 Siklus I
14 Juni 2021
3. Senin, 08.00 – 08.35 Siklus II
21 Juni 2021
3. Pihak yang membantu dalam penelitian
Pada penelitian tindakan kelas ini, guru dibantu oleh berbagai fihak dan
sangat berterimakasih kepada pengelola / pokjar Kota Bandung, Ibu Siti
Mardiah, [Link]. selaku Kepala sekolah SDN Cigugur Tengah Mandiri 2,
Ibu Hilda Karli, Dra., [Link]. selaku dosen mata kuliah Tindakan Penelitian Kelas,
teman-teman sejawat dalam hal ini guru-guru SDN Cigugur Tengah Mandiri 2, serta
siswa siswi kelas I B sebagai subjek penelitian.

B. Desain prosedur perbaikan pembelajaran


1. Desain perbaikan pembelajaran
Menurut Asrori, M. (2014 : 33) dalam buku Penelitian Tindakan Kelas,
terdapat beberapa prinsip yang harus digunakan dalam perbaikan
pembelajaran yaitu :
a. Tugas utama guru/pendidik dan tenaga kependidikan adalah
menyelenggarakn kegiatan pembelajaran yang berkualitas. Oleh
sebab itu guru sebagai pendidik arus memiliki komitmen dalam
mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran
secara berkelanjutan. Artinya jika guru dalam menerapkan suatu
tindakan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas
pembelajarannya masih tidak atau kurang berhasil, maka harus
berusaha keras mencari alternatif tindakan lain yang lebih baik.
b. Guru/pendidik harus menggunakan pertimbangan dan tanggung
jawab profesionalnya untuk senantiasa mengupayakan perbaikan-
perbaikan terhadap permasalahan pembelajaran yang dihadapinya.
Ini mengisyaratkan bahwa penelitian tindakan kelas pada dasarnys
merupakan suatu cara yang dilakukan berkelanjutan dan bersiklus
untuk mengupayakan terjadinya perbaikan dan peningkatan kualitas
proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.
c. Kegiatan penelitian tindakan kelas bagi guru merupakan kegiatan
integral atau kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan
pembelajaran dan tidak menuntut waktu secara khusus spesifikasi
penarikan sampel, maupun validasi secara ketat teknik pengumpulan
datanya.
d. Tahapan penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru
sesungguhnya selaras dengan tahapan pelaksanaan
pembelajaran itu sendiri, yaitu : (1) pembuatan rencana atau
persiapan program (planing); (2) pelaksanaan pembelajaran
atau pelaksanaan tindakan (action); (3) pengamatan kegiatan
pembelajaran (observation); (4) evaluasi terhadap kegiatan
pembelajaran (evaluation); dan mencermati merenungkan dan
menganalisis proses dan hasil pembelajaran (reflection).
e. Guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas, meskipun
terintegrasidan selaras dengan kegiatan pembelajaran, harus tetap
mendasarkan kegiatan penelitiannya pada alur dan kaidah-kaidah
ilmiah. Alur penelitian secara ilmiah dimaksudkan dari :
1. Identifikasi dan perumusan masalah;
2. Perumusan tindakan yang sesuai dengan permasalahan dan faktor
penyebabnya;
3. Perumusan hipotesis tindakan secara tepat;
4. Penetapan skenario tindakan
5. Penetapan prosedur pengumpulan data
6. Analisis data dan refleksi
7. Penyimpulan hasil penlitian
f. Masalah yang diteliti adalah masalah-masalah pembelajaran nyata
yang ditemui dikelas dan merisaukan tanggung jawab profesional
guru terhadap kualitas pembelajaran tersebut. Jadi diagnosis masalah
penelitian harus berdasarkan pada kejadian nyata yang berlangsung
dalam pembelajaran yang sesungguhnya.
g. Guru harus memiliki konsistensi sikap kepedulian yang kuat
untukberusaha keras memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses
pembelajaran dan hasil belajar siswa. Ini penting karena upaya
peningkatan kualitas peningkatan guru, proses pembelajaran dan
hasil belajar siswa ini bukan pekerjaan mudah melainkan
memerlukan keseriusan dan berkelanjutan.
Alur Penalaran Penelitian Tindakan Kelas
Sumber : Asrori, M. (2014) : Rumpun Pembelajaran Efektif
Adapun tahapan penelitian kelas menurut Wardhani, IGAK, dkk.
(2011 : 2.4) dalam buku penelitian tindakan kelas adalah sebagai
berikut.

MERENCANAKAN

MELAKUKAN
REFLEKSI
TINDAKAN

MENGAMATI

Gambar. Tahap-tahap dalam PTK

Dari kedua gambar diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa sebuah
penelitian tindakan kelas merupakan suatu rangkaian atau siklus atau
rangkaian yang berulang dari perencanaan, pelaksanaan, mengamati
dan refleksi hingga hasil belajar siswa dapat tercapai sesuai tujuan
yang telah ditetapkan.

2. Prosedur Perbaikan Pembelajaran


Penelitian tindakan kels merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru
dengan tujuan ingin meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Guru
dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas ini dapat meminta
bantuan kepada teman sejawat atau peneliti dari perguruan tinggi
kependudukan dalam menyusun rencana tindakan bersama-sama,
bertindak dan mengamati, kegiatan tindakan serta dampaknya, sehingga
guru pada akhirnya melakukan refleksi terhadap hasilnya. Kemudian
dilanjutkan dengan merumuskan kembali rencana tindakan baru yang
telah diperbaiki berdasarkan informasi yang lebih lengkap lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Anitah, W., dkk. (2014). Strategi Pembelajaran di SD. Tangerang :
Universitas Terbuka.

Asrori, M. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Rumpun Pembelajaran


Efektif. Bandung : CV Wacana Prima.

Elizar. (1996). Pengertian Metode. Diunduh 03 Mei 2021 dari : http


://[Link]/2021/03/[Link].

Nana Sudjana (2002) Pengertian Metode. Diunduh 03 Mei 2021 dari :


http ://[Link]/2021/03/[Link].
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan : SDN CIGUGUR TENGAH MANDIRI 2
Kelas / Semester : I/ II (Genap)
Tema : 7 Benda, Hewan dan Tanaman di Sekitarku
Sub Tema : 3 Tumbuhan di Sekitarku
Pembelajaran Ke : 5
Materi Pokok : Matematika (Penjumlahan Bersusun ke Bawah),
Alokasi Waktu : 1 hari

No Kompetensi
3. Menjelaskan dan melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan yang melibatkan bilangan
4 cacah sampai dengan 99 dalam keidupan sehari-hari serta mengaitkan penjunlahan dan
pengurangan
4. Menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan penjumlahan dan
4 pengurangan bilangan yang melibatkan bilangan cacah sampai dengan 99

TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Dengan menggunakan latihan soal yang ada pada buku, siswa dapat menjelaskan cara
penjumlahan dua bilangan cacah dengan hasil maksimal 100 menggunakan benda
konkret dengan benar.
2. Dengan menggunakan latihan soal yang ada pada buku, siswa dapat menentukan hasil
penjumlahan dua bilangan cacah dengan hasil maksimal 100 dengan bantuan benda
konkret dengan benar.
KEGIATAN PEMBELAJARAN
PRA PEMBELAJARAN
Guru mengirimkan bahan ajar yang akan dipelajari peserta didik di grup WAG/ Google
classroom sebelum kegiatan pembelajaran, kemudian meminta peserta didik untuk membaca
bahan ajar tersebut.
Model : Daring Methode
1. Pendahuluan (10 Menit)
- Guru, peserta didik dan orangtua menyiapkan media pembelajaran daring. (melalui
WAG/ Zoom Meeting/ Classroom).
- Guru mengajak peserta didik untuk berdo’a sebelum belajar.
- Guru mengingatkan peserta didik untuk melakukan pembiasaan berkarakter
menyanyikan lagu nasional.
- Guru mengingatkan peserta didik untuk selalu mengikuti protokol kesehatan Covid
– 19 yaitu dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak).
- Guru mengabsen kehadiran peserta didik
Semua dilakukan melalui Whatsapp group (WAG)/Zoom Meeting/ google classroom
2. Kegiatan Inti (20 menit)
- Guru menceritakan pengamalam Edo, Udin dan Beni bermain kelereng
- Peserta didik mengumpulkan 21-40 benda yang ada di rumah (boleh mainan atau
yang lainnya).
- Peserta didik menghitung jumlah benda yang berhasil dikumpulkan dan
menuliskan jumlahnya (benda yang dikumpulkan siswa beserta jumlahnya di
foto dan dikumpulkan fotonya melalui wa).
- Peserta didik berlatih menghitung banyak benda.
3. Penutup (5 menit)
- Guru bersama peserta didik membuat kesimpulan.
- Guru mengingatkan kembali peserta didik untuk selalu mengikuti protokol
kesehatan Covid – 19 yaitu dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan
menjaga jarak).
- Berdoa setelah selesai pembelajaran
PASCA PEMBELAJARAN
- Peserta didik melalui Wa orangtua mengirimkan tugas per hari melalui WA pribadi
guru.
- Guru melakukan asessment
- Guru memberikan reward/ penghargaan kepada peserta didik yang dapat menyelesaikan
penilaian dengan baik

ASSESMENT
a. Penilaian Sikap
Sikap Percaya Diri
Teknik: observasi
No Nama Peserta Berani Tampil (Laporan Video)
Didik Baik Sekali Baik Cukup Baik Perlu Bimbingan
1
2
Dst
b. Penilaian Pengetahuan
Tes : Tertulis
Matematika

Kunci dan penskoran


Mapel No Kunci Skor
soal
Matematik 1 34 + 24 = 58 20
a 2 27 + 30 = 57 20
3 18 + 41 = 59 20
4 33 + 34 = 67 20
5 53 + 44 = 97 20
Skor ideal 100

1. Penilaian Keterampilan
a. Menjumlahkan Penjumlahan Bersusun ke Bawah
Tes : Unjuk Kerja
No Nama Peserta Mampu mengerjakan latihan Mampu mengerjakan latihan soal yang ada
Didik soal yang ada pada buku, pada buku, siswa dapat menentukan hasil
siswa dapat menjelaskan cara penjumlahan dua bilangan cacah dengan
penjumlahan dua bilangan hasil maksimal 100 dengan bantuan benda
cacah dengan hasil maksimal konkret dengan benar
100 menggunakan benda
konkret dengan benar
2 1
1
2
dst

Mengetahui Kepala Sekolah, Cimahi, 2021


Guru Kelas 1

Siti Mardiah, [Link] Bety Citra Sarast, [Link]


NIP. NIP.

Anda mungkin juga menyukai