Penerapan Pembelajaran Kontekstual Matematika
Penerapan Pembelajaran Kontekstual Matematika
Disusun Oleh
NIM : 857456062
UNIVERSITAS TERBUKA
BANDUNG 2021
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum [Link].
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta inayah
nay karena telah dapat menyelesaikan tugas proposal mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas
( PTK ) ini. Tujuan pembuatan proposal Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk memenuhi
salah satu tugas Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) PGSD IDIK 4008.
Tak lupa penulis ucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada :
1. Ibu Hilda Karli, Dra., [Link]. selaku dosen mata kuliah Tindakan Penelitian Kelas, yang
telah memberikan arahan, dorongan dan motivasi pada penulisan dalam proposal
penyelesaian Penelitian Tindakan Kelas.
2. Ibu Siti Mardiah, [Link]. selaku kepala sekolah SDN Cigugur Tengah Mandiri 2 yang
telah memberikan arahan dan dorongan, serta motivasi pada penulis dalam Penelitian
Tindakan kelas ini.
3. Rekan-rekan guru SDN Cigugur Tengah Mandiri 2 yang telah memberikan dorongan,
bantuan kemudian yang sangat berarti selama penulis melaksanakan perbaikan
pembelajaran materi mata pelajaran Matematika dalam Penelitian Tindakan kelas ini.
4. Keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan lahir dan bathin sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas proposal ini.
5. Siswa siswi kelas I B SDN Cigugur Tengah Mandiri 2.
Penulis memyadari bahwa Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua fihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan Penelitian Tindakan Kelas ini.
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua fihak yang telah ikut berperan
serta dalam penyusunan proposal ini dari awal sampai akhir.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita.
Peneliti
Namun kemampuan siswa untuk dapat mengingat materi yang sudah disampaikan dan
diajarkan sangat rendah, hal ini disebabkan sebagian besar siswa pada saat melakukan
Pembelajaran Jarak Jauh masih terkendala sinyal yang kurang baik pada saat guru
melaksanakan pembelajaran melalui aplikasi zoom, whatsapp group. Sehingga pembelajaran
tidak dapat dilakukan secara maksimal. Disamping itu kurangnya peran aktif dan minat untuk
menjawab pertanyaan guru, sehingga dengan kondisi Pembelajaran Jarak Jauh seperti ini
berdampak pada hasil belajar siswa, seperti halnya di SDN Cigugur Tengah Mandiri 2. Dari
hasil evaluasi yang diberikan kepada 32 siswa Kelas 1 hanya 14 siswa yang memperoleh nilai
ketuntasan dalam belajar, jika dipersentasikan siswa yang mengalami ketuntasan dalam belajar
hanya mencapai 43,75% dan yang belum mencapai ketuntasan dalam belajar 56,25%.
Dalam bahasa Inggris, method adalah cara. Apabila kita kaitkan dengan pelajaran,
metode adalah cara yang digunakan guru dalam pembelajaran, karena metode lebih
menekankan pada cara guru mengajar. Joni (dalam Anitah Sri., dkk., 2014 : 1.24)
mengemukakan bahwa metode adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum untuk
mencapai tujuan tertentu. Dari beberapa metode yang ada salah satunya adalah metode
Pembelajaran Kontekstual (Contexstual Teaching Learning).
1. Identifikasi Masalah
Dari pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru, ditemukan beberapa masalah
dalam pembelajaran Matematika Penjumlahan Bersusun ke Bawah di SDN Cigugur Tengah
Mandiri 2 dengan identifikasi masalah diantaranya:
a. Masih rendahnya kemampuan siswa dalam mata pelajaran Matematika dengan materi
Penjumlahan Bersusun ke Bawah;
b. Siswa masih banyak yang kurang aktif saat pembelajaran berlangsung melalui zoom,
whatsapp group;
c. Kendala signal pada saat pembelajaran berlangsung melalui zoom, whatsapp group;
d. Faktor tingkat pendidikan orang tua yang rata-rata masih rendah sehingga orang tua
kurang dapat berperan membantu saat pembelajaran PJJ.
Dari masalah diatas, sebagai data perolehan pra siklus mata pelajaran Matematika Kelas 1B
dengan materi Penjumlahan Bersusun ke Bawah dapat dituangkan dalam tabel berikut:
2. Analisis Masalah
Berdasarkan fakta yang telah diuraikan dan dikemukakan diatas dapat ditentukan
beberapa faktor penyebab siswa kurang dapat meningkatkan kemampuannya tentang materi
yang telah diajarkan adalah sebagai berikut:
a. Guru kurang mengajak siswa untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran
yang berlangsung secara PJJ;
b. Guru kurang menggunakan metode secara bervariasi pada pembelajaran yang
berlangsung PJJ;
c. Guru kurang menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang
disampaikan;
d. Guru terkendala signal yang kurang baik pada saat pembelajaran berlangsung sehingga
penjelasan materi pembelajaran kurang dapat tersampaikan dengan maksimal saat PJJ
berlangsung;
e. Guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang
belum jelas saat PJJ belangsung;
f. Guru kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang
diajukan saat PJJ berlangsung.
B. Rumusan Masalah
1) Rumusan masalah umum
Bagaimana penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching
Learning) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika
tentang Penjumlahan Bersusun ke Bawah di Kelas 1B SDN Cigugur Tengah Mandiri
2?
2) Rumusan masalah khusus
Adapun rumusan masalah khusus dalam penelitian ini yaitu:
a. Bagaimana kemampuan siswa tentang Penjumlahan Bersusun ke Bawah sebelum
penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) ?
b. Bagaimana proses penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching Learning) dalam meningkatkan kemampuan siswa tentang mata pelajaran
Matematika tentang Penjumlahan Bersusun ke Bawah ?
c. Bagaimana dampak dari penggunaan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching Learning) tentang Penjumlahan Bersusun ke Bawah terhadap hasil belajar
siswa ?
D. Manfaat Penelitian
Secara teori dan praktek penelitian ini dapat bermanfaat:
a) Bagi siswa
Menciptakan rasa senang belajar Matematika selama pembelajaran PJJ
berlangsung dengan metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching
Learning);
Meningkatkan kemampuan pemahaman belajar siswa dalam materi Penjumlahan
Bersusun ke Bawah.
b) Bagi guru
Mengembangkan kualitas guru dalam mengajarkan mata pelajaran Matematika
di sekolah dasar;
Termotivasi untuk terus berupaya menjadi guru yang profesional.
c) Bagi sekolah
Menjadi tolak ukur guna meningkatkan kualitas siswa di setiap proses
pembelajaran.
KAJIAN PUSTAKA
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode adalah suatu
cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan
pembelajaran, metode sangat diperlukan oleh guru untuk mencapai tujuan yang ingin
dicapai. Setiap penggunaan metode, guru akan memilih metode yang sesuai dengan
materi yang akan disampaikan.
Model pembelajaran kontekstual merupakan model yang mengusahakan untuk
membuat siswa aktif dalam menggali kemampuan diri siswa dengan mempelajari
konsep-konsep sekaligus menerapkannya dan mengaitkannya dengan dunia nyata di
sekitar lingkungan siswa. Sejalan dengan itu, Elaine B. Jhonson (dalam Rusman,
2012:187) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang
merangsang otak untuk menyususn pola-pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut
lagi, Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem
pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan
menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa
berada.
Hal inilah yang mendasari bahwa model kontekstual (Contextual Teaching And
Learning) baik untuk diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. seperti yang kita
ketahui, sejauh ini pembelajaran yang biasa guru lakukan masih bersifat konvensional,
monoton, dan masih terpusat kepada guru saja. sehingga siswa tidak memperoleh
pengalaman belajar yang bermakna, dan tidak diikut sertakan terlibat secara langsung
dalam pemecahan masalah yang diberikan guru pada proses pembelajaran. dengan
demikian, siswa sekolah dasar khususnya cenderung diam, terkadang terlihat
mengantuk, kurang semangat dalam mengikuti pelajaran atau jenuh.
Penjumlahan
Aktivitas Matematika
Ada tiga aspek yang dapat terukur pada hasil belajar yaitu aspek kognitif, afektif dan
terhadap materi yang diajarkan, aspek afektif dan psikomotor ditunjukkan oleh siswa
melalui sikap dan kontribusinya baik selama proses pembelajaran maupun diluar
Aspek kognitif biasanya diukur dengan menggunakan tes hasil belajar baik kuis, ujian
tengah semester, ulangan harian, tes akhir atau juga ujian nasional. Sedangkan afektif
dan psikomotor dapat terukur melalui instrumen non tes, misalnya angket,
lembar wawancara, lembar observasi dan lain sebagainya.
yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara motivasi dan pencapaian
hasil belajar, Ramadianti (2013) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan motivasi
belajar
action research, membantu guru memahami cara mengajar matematika dan membantu
mengubah pemikiran siswa yang semula tidak menyukai matematika sekarang menjadi
lebih suka karena cara mengajarnya yang menyenangkan, namun menurut siswa mereka
tetap banyak yang kurang mengerti dengan matematika, karena selama ini
mereka belajar matematika hanya menghafal rumus dan menyelesaikan soal-soal
latihan saja. Selain
aspek sikap dan kognitif, siswa juga menunjukkan peningkatan pada aspek
psikomotornya, siswa yang semula malas untuk menulis di buku masing-masing, maka
dengan menggunakan media dan alat peraga pembelajaran yang disertai dengan Lembar
Kerja Siswa, mereka berlomba-lomba untuk menyelesaikannya lebih cepat dari teman-
teman lainnya.
Selanjutnya, ada 4 hal menurut Slameto (2013) yang dapat dilakukan oleh guru
Dari keempat hal tersebut, nampak bahwa pembelajaran akan lebih bermakna
Selanjutnya Anitah (2007) mengatakan bahwa belajar itu merupakan aktivitas baik
sekalipun guru menggunakan metode ceramah akan terjadi aktivitas mental pada diri
siswa, akan tetapi jika aktivitas emosionalnya tidak ada maka siswa belum dikatakan
ditunjukkan siswa dalam proses pembelajaran yang merupakan minat siswa dalam
2. Dengan bimbingan guru, siswa di ajak untuk menemukan suatu fakta dari
permasalahan yang disajikan guru/dari materi yang diberikan guru.
4. Guru membentuk kelas menjadi beberapa kelompok umtuk melakukan diskusi, dan
tanya jawab.
6. Guru bersama siswa melakukan refleksi atas kegiatan yang telah dilakukan.
Dari ke-7 langkah tersebut di atas, guru dapat memodivikasi lebih sesuai dengan
kebutuhan siswa namun diharap jangan menghilangkan beberapa langkah yang sudah
ada dengan urut-urutan yang terpadu.
3. Keunggulan Metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)
Menurut Anisa (2009) ada beberapa kelebihan dalam pembelajaran Kontekstual
(Contextual Teaching Learning), yaitu :
1. Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan
yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat
memahaminya sendiri.
2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep
kepada siswa karena pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching
Learning) menuntut siswa menemukan sendiri bukan menghafalkan.
3. Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukan pendapat tentang
materi yang dipelajari.
4. Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan
bertanya kepada guru.
5. Menumbuhkan kemampuan dalam bekerjasama dengan teman yang lain
untuk memecahkan masalah yang ada.
6. Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.
4. Kelemahan dalam Metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching
Learning)
Menurut Dzaki (2009) kelemahan dalam Metode Pembelajaran Kontekstual
(Contextual Teaching Learning) yaitu :
1. Bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran, tidak mendapatkan
pengetahuan, dan pengalaman yang sama dengan teman lainnya karena siswa
tidak mengalami sendiri.
2. Perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik
siswa karena harus menyesuaikan dengan kelompoknya.
3. Banyak siswa yang tidak senang apabila dikondisikan bekerjasama dengan
yang lainnya karena siswa yang tekun harus lebih daripada siswa yang
lainnya.
Empat aspek pokok dalam penelitian tindakan kelas yaitu sebagai berikut :
a. Penyusunan Rencana
Rencana penelitian tindakan kelas merupakan tindakan yang tersusun, yaitu
memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta hasil belajar siswa.
Rencana harus bersifat fleksibel yang dapat diadaptasikan dengan pengaruh yang
tidak reduga, tidak terlihat, tidak teramati dan tidak terfikirkan sebelumnya.
Menurut Asriri, M., (2009 : 52) bahwa tindakan yang sudah direncanakan harus
disampaikan dalam du pengertian, yaitu : (1) Tindakan mempertimbangkan
resiko yang ada dalam perubahan sosial dan mengakui adanya kendala nyata
baik yang bersifat material, interaksi, sosial, maupun psikologis dalam situasi
terkait dengan pembelajaran yang ada; (2) Tindakan yang dilaksanakan
hendaknya dipilih karena memungkinkan guru untuk bertindaksecara lebih
efektif dalam berbagai keadaan, serta lebih bijaksana dan hati-hati.
b. Tindakan
Pengertian tindakan dalam penelitian tindakan kelas menurut Asrori M., (2009 :
53) adalah tindakan guru sebagai peneliti yang dilakukan secara sadar dan
terkendali dan merupakan variasai praktik yang cermat dan bijaksana. Dalam hal
ini tindakan merupakan kebijakan guru untuk mengembangkan tindakan-
tindakan berikutnya dalam memperbaiki proses pembelajaran.
Tindakan guru sebelumnya sudah membuat perencanaan yang telah dilakukan
sebelumnya yang akan dijadikan acuan dalam tindakan, tetapi perencanaan harus
lebih fleksibel dan dinamis yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam proses
perbaikan pembelajaran selama masa PJJ.
c. Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan oleh guru sebagai peneliti untuk
memperoleh sebuah gambaran tentang tindakan yang sedang dilakukan dan
mendokumentasikan pengaruh atau dampak dari tindakan tersebut.
Observasi pada dasarnya berorientasi untuk masa yang akan datang, dan
memberikan pedoman untuk kegiatan refleksi pada saat sekarang, terlebih ketika
putaran atau siklus tindakan itu sedang berjalan. Observasi sangat diperlukan
oleh guru, karena guru yang selalu dihadapkan kepada berbagai kendala dalam
realita pembelajaran di masa pembelajaran PJJ.
d. Refleksi
Refleksi adalah meranungkan atau menganalisis kembali suatu kegiatan atau
tindakan yang telah dilakukan sebagaimana yang telah dicatat dalam observasi.
Refleksi dalam penelitian tindakan kelas berusaha memahami proses, masalah,
dan kendala selama proses pembelajaran. Agar refleksi dapat dilakukan secara
optimal, guru sebagai peneliti sebaiknya selain melakukannya sendiri, sebaiknya
guru selalu berdiskusi dengan teman sejawat atau tenaga ahli di bidang
pendidikan. Melalui diskusi itulah refleksi akan dapat dilakukan sampai pada
rekonstruksi pemaknaan tindakan yang telah dilakukan serta pembelajaran yang
ada sehingga dapat memberikan pedoman bagi perbaikan rencana tindakan
selanjutnya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan
proses dinamis yang didalamnya terdapat empat langkah pokok yang harus
difahamii bukan sebagai langkah ststis yang bersifst lengkap, melainkan sebagai
langkah yang bersiklus dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
Peningkatan pemahaman pada tahap sebelumnya akan muncul sebagai pedoman
pemikiran pada praktik berikutnya. Dengan proses pemikiran yang bersiklus
itulah, perbaikan dan peningkatan pembelajaran diharapkan dapat berjalansecara
dinamis dan berkesinambungan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa
yang diharapkan.
2. Dengan bimbingan guru, siswa di ajak untuk menemukan suatu fakta dari
permasalahan yang disajikan guru/dari materi penjumlahan bersusun kebawah yang
diberikan guru.
4. Guru membentuk kelas pada kondisi zoom meet/ video call dengan siswa beberapa
kelompok umtuk melakukan diskusi, dan tanya jawab.
6. Guru bersama siswa melakukan refleksi atas kegiatan yang telah dilakukan.
MERENCANAKAN
MELAKUKAN
REFLEKSI
TINDAKAN
MENGAMATI
Dari kedua gambar diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa sebuah
penelitian tindakan kelas merupakan suatu rangkaian atau siklus atau
rangkaian yang berulang dari perencanaan, pelaksanaan, mengamati
dan refleksi hingga hasil belajar siswa dapat tercapai sesuai tujuan
yang telah ditetapkan.
No Kompetensi
3. Menjelaskan dan melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan yang melibatkan bilangan
4 cacah sampai dengan 99 dalam keidupan sehari-hari serta mengaitkan penjunlahan dan
pengurangan
4. Menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan penjumlahan dan
4 pengurangan bilangan yang melibatkan bilangan cacah sampai dengan 99
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Dengan menggunakan latihan soal yang ada pada buku, siswa dapat menjelaskan cara
penjumlahan dua bilangan cacah dengan hasil maksimal 100 menggunakan benda
konkret dengan benar.
2. Dengan menggunakan latihan soal yang ada pada buku, siswa dapat menentukan hasil
penjumlahan dua bilangan cacah dengan hasil maksimal 100 dengan bantuan benda
konkret dengan benar.
KEGIATAN PEMBELAJARAN
PRA PEMBELAJARAN
Guru mengirimkan bahan ajar yang akan dipelajari peserta didik di grup WAG/ Google
classroom sebelum kegiatan pembelajaran, kemudian meminta peserta didik untuk membaca
bahan ajar tersebut.
Model : Daring Methode
1. Pendahuluan (10 Menit)
- Guru, peserta didik dan orangtua menyiapkan media pembelajaran daring. (melalui
WAG/ Zoom Meeting/ Classroom).
- Guru mengajak peserta didik untuk berdo’a sebelum belajar.
- Guru mengingatkan peserta didik untuk melakukan pembiasaan berkarakter
menyanyikan lagu nasional.
- Guru mengingatkan peserta didik untuk selalu mengikuti protokol kesehatan Covid
– 19 yaitu dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak).
- Guru mengabsen kehadiran peserta didik
Semua dilakukan melalui Whatsapp group (WAG)/Zoom Meeting/ google classroom
2. Kegiatan Inti (20 menit)
- Guru menceritakan pengamalam Edo, Udin dan Beni bermain kelereng
- Peserta didik mengumpulkan 21-40 benda yang ada di rumah (boleh mainan atau
yang lainnya).
- Peserta didik menghitung jumlah benda yang berhasil dikumpulkan dan
menuliskan jumlahnya (benda yang dikumpulkan siswa beserta jumlahnya di
foto dan dikumpulkan fotonya melalui wa).
- Peserta didik berlatih menghitung banyak benda.
3. Penutup (5 menit)
- Guru bersama peserta didik membuat kesimpulan.
- Guru mengingatkan kembali peserta didik untuk selalu mengikuti protokol
kesehatan Covid – 19 yaitu dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan
menjaga jarak).
- Berdoa setelah selesai pembelajaran
PASCA PEMBELAJARAN
- Peserta didik melalui Wa orangtua mengirimkan tugas per hari melalui WA pribadi
guru.
- Guru melakukan asessment
- Guru memberikan reward/ penghargaan kepada peserta didik yang dapat menyelesaikan
penilaian dengan baik
ASSESMENT
a. Penilaian Sikap
Sikap Percaya Diri
Teknik: observasi
No Nama Peserta Berani Tampil (Laporan Video)
Didik Baik Sekali Baik Cukup Baik Perlu Bimbingan
1
2
Dst
b. Penilaian Pengetahuan
Tes : Tertulis
Matematika
1. Penilaian Keterampilan
a. Menjumlahkan Penjumlahan Bersusun ke Bawah
Tes : Unjuk Kerja
No Nama Peserta Mampu mengerjakan latihan Mampu mengerjakan latihan soal yang ada
Didik soal yang ada pada buku, pada buku, siswa dapat menentukan hasil
siswa dapat menjelaskan cara penjumlahan dua bilangan cacah dengan
penjumlahan dua bilangan hasil maksimal 100 dengan bantuan benda
cacah dengan hasil maksimal konkret dengan benar
100 menggunakan benda
konkret dengan benar
2 1
1
2
dst