MAKALAH INFERTILITAS DAN FERTILITAS
“ BIOTEKNOLOGI TERNAK”
OLEH :
KELOMPOK 3
AJI GUSMAREXA (11880110501)
ALWI ALAFID (11880110180)
KHAIRUN NISSA (11880120351)
RIZMA SAFIRA ()
RENI RAHAYU (11880121271)
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini guna memenuhi tugas untuk mata kuliah ini. Penulis menyadari
sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya
pengalaman dan pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun
dari berbagai pihak. Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi penulis maupun para pembaca.
Penulis
DAFTAR ISI
2
LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................i
KATA PENGANTAR.......................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN
I.1. Latar belakang....................................................................................4
I.2. Tujuan ................................................................................................5
I.3. Tujuan Penulisan ...............................................................................5
BAB II. ISI MAKALAH
2.1 Teknologi Inseminasi Buatan.........................................................6
2.2 Teknologi Transfer Embrio...........................................................7
2.3 Teknologi Processing Semen........................................................9
2.4 Fertilisasi Invitro...........................................................................9
2.5 Teknologi Krioopservasi Gamet....................................................10
2.6 Pembentukan Ternak Transgenik..................................................10
2.7 Cloning...................................................................................................11
2.8 Pembentukan Ternak Chimera...............................................................11
2.9 Dampak Posistif dan Negatif Bioteknologi Peternakan.........................11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .........................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................13
3
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dari tahun ke tahun bertambah maju
dan berkembang sangat pesat yang ditandai dengan berbagai penemuan.
Kemajuan IPTEK tersebut, juga berpengaruh terhadap kemajuan teknologi di
subsektor peternakan. Perkembangan IPTEK di bidang reproduksi ternak telah
memberikan dampak kemajuan di subsektor peternakanterutama dalam
meningkatkan produktivitas ternak. Penemuan-penemuan teknologi di
bidangreproduksi ternak tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah-
masalah dan tantanganyang dihadapi terutama dalam meningkatkan populasi,
produksi dan produktivitas ternak baik secara kualitas maupun kuantitas. Secara
produksi, teknologi reproduksi memang mampumempercepat peningkatan
populasi ternak. Namun demikian, pesatnya bioteknologi yang semakin tumbuh
secara cepat jauh lebih cepatdari kemampuan kita membuat tata laksana dan
evaluasi keamanannya memang membuatkekhawatiran tersendiri.
Kita semua hanya bisa berharap agar sebelum produk-produk ternak hasil
bioteknologi dipasarkan bebas, sudah ada evaluasi terlebih dahulu baik dari segi
keamanan,sosial/etika dan agama agar tidak terjadi kontradiksi terutama di
negara-negara yang agamaseperti Indonesia. Bioteknologi berasal dari 2 kata yaitu
Bio dan Teknologi. Bio berarti hidup atau mahluk hidup atau semua yang
berhubungan dengan mahluk hidup. Sedangkan pengertian Teknologisebenarnya
berasal dari kata Bahasa Perancis yaitu “La Teknique“ yang dapat diartikan
dengan”Semua proses yang dilaksanakan dalam upaya untuk mewujudkan sesuatu
secara rasional”.Bioteknologi adalah ilmu biologi molekuler berikut teknik dan
aplikasinya yang digunakanuntuk memodifikasi, memanipulasi atau merubah
proses kehidupan normal dari organisme-organisme dan jaringan-jaringan guna
meningkatkan kinerjanya bagi keperluan [Link] juga dapat
diartikan sebagai penggunaan organisme atau sistem hidup untuk memecahkan
suatu masalah atau untuk menghasilkan produk yang berguna. Bioteknologi
terdiridari 2 kelompok teknologi utama.
Kelompok pertama adalah rekayasa genetika (geneticengineering). Teknologi
ini melakukan semacam proses gunting tempel bagian-bagian tubuhmakhluk
hidup, termasuk gen untuk menciptakan makhluk yang unggul. Kelompok kedua
adalahkultur jaringan (tissue culture), penanaman sel-sel yang telah diisolasi dari
jaringan atau potongan kecil jaringan secara in vitro dalam medium biakan. Di
Bidang peternakan khususnya sapi, bioteknologi reproduksi mulai berkembang
pesat padatahun1970-an. Teknologi Inseminasi Buatan berperan penting dalam
rangka peningkatan mutugenetik dari segi pejantan. Sperma beku dapat
diproduksi dan digunakan dalam jumlah banyak cukup dengan memelihara
pejantan berkualitas baik dipusat IB. Perkembangan IPTEK di bidangreproduksi
ternak dapat diaplikasikan di subsektor peternakan untuk meningkatkan populasi,
4
produksi dan produktivitas ternak baik secara kualitas maupun kuantitas, antara
lain teknologi
[Link] buatan (IB)
[Link] embrio (TE),
[Link] semen (pemisahan permatozoa X dan Y),
[Link] in vitro,
[Link] criopreservasi gamet spermatozoa dan ova)
[Link] ternak transgenik, cloning dan chimera.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana teknologi inseminasi buatan ?
2. Bagaimana teknologi transfer embio ?
3. Bagaimana teknologi processing semen ?
4. Bagaimana fertilisasi in vitro ?
5. Bagaimana teknologi criopreservasi gamet ?
6. Bagaimana pembentukan ternak transgenik ?
7. Apa yang dimaksud dengan cloning ?
8. Bagaimana pembentukan ternak chimera ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui teknologi inseminasi buatan.
2. Untuk mengetahui teknologi transfer embrio.
3. Untuk mengetahui teknologi processing semen.
4. Untuk mengetahui fertilisasi in vitro
5. Untuk mengetahui teknologi criopreservasi gamet.
6. Untuk mengetahui pembentukan ternak transgenik
7. Untuk mengetahui pengertian cloning
8. Untuk mengetahui pembentukan ternak chimera
5
II. PEMBAHASAN
II.1.................................................................................................................Tek
nologi Inseminasi Buatan
Inseminasi Buatan (IB) adalah proses pemasukan semen (mani) ke dalam
saluran reproduksi(kelamin) betina dengan menggunakan alat buatan manusia.
Tujuan penerapan teknologi IBadalah untuk introduksi/ penyebaran pejantan
unggul di suatu daerah yang tidak memungkinkanuntuk kawin alam serta
pelestarian plasma nutfah ternak jantan yang diinginkan. Prosedur inseminasi
buatan tersebut meliputi :
Penampungan Semen
Penampungan semen dapat dilakukan dengan cara menggunakan vagina
buatan,elektroejakulator, dan massage (pengurutan). Penampungan semen
yang umum dan rutindilakukan dalam kegiatan IB adalah menggunakan
vagina buatan. Vagina buatan adalahselongsong karet yang keras dan kuat
kemudian dilapisi dengan karet yang lembut dan diberi pelicin (vaselin), salah
satu ujungnya dilengkapi dengan tabung untuk menampung semen.
Evaluasi Semen
Sesudah penampungan semen, dilakukan evaluasi semen berupa penilaian
keadaan umum(volume, warna, dan konsistensi), motilitas (gerakan massa dan
gerakan individual), konsentrasidan penilaian morfologik (kelainan primer dan
sekunder).Pengenceran SemenPengenceran semen dapat dilakukan dengan
menggunakan bahan seperti buffer isotonik yang berisi karbohidrat sebagai
sumber energi, protein pelindung, antibiotik, dan semen yangakan dibekukan
ditambah dengan crioprotectan (glycerol atau dimethylsulphoxide). Semen
sapidapat diencerkan 10 – 75 kali, semen domba 5 – 10 kali, dan semen
kambing 10 – 25 kali, tetapisemen babi dan kuda hanya 2 – 4 kali saja. Satu
kali inseminasi diperlukan 10 – 15 jutaspermatozoa motil pada sapi, 200 juta
pada domba dan kambing, 500 juta pada babi, dan 1.500 juta pada kuda.
Penyimpanan/ Pembekuan Semen
Semen yang telah diencerkan yang tidak dapat langsung digunakan, dapat
disimpan ataudibekukan. Semen dimasukkan ke dalam straw plastik volume
0,5 cc atau 0,25 cc (mini straw)kemudian dibekukan dalam nitrogen cair pada
suhu –196oC di dalam kontainer.
Trawing/ Pencairan Semen
Semen yang telah dibekukan dapat dicairkan kembali (thawing) pada
temperaturetertentu, kemudian langsung diinseminasikan ke dalam cervix atau
6
corpus uteri. Semen yang sudah dicairkan tidak boleh dikembalikan lagi/
dibekukan tetapi harus segera dideposisikan padasaluran reproduksi betina.
Pelaksanaan Inseminasi Buatan
Pelaksanaan inseminasi buatan meliputi : deteksi berahi, waktu optimum
untuk inseminasi,tempat deposisi semen, dan metode inseminasi buatan.
• Deteksi berahi, dapat dilakukan oleh peternak dengan melakukan
pengawasan secaraintensif kepada ternak. Sinkronisasi berahi dapat dilakukan
untuk mendapatkan kelahirananak dalam waktu yang bersamaan, terutama
untuk memperhitungkan musim saat kelahiran anak.
• Waktu optimum untuk inseminasi, perlu diketahui agar diperoleh angka
konsepsiyang tinggi.
• Tempat deposisi semen, yang paling baik untuk memperoleh angka
konsepsi palingtinggi dilakukan pada posisi 4 yaitu pada pangkal corpus uteri
di belakang cervix.
• Cara pelaksanaan IB, ada dua metode yaitu metode rektovaginal dan
metodespekulum. Metode rektovaginal digunakan pada ternak besar sedang
metodespekulum pada ternak kecil (domba dan kambing).
II.2 Teknologi Transfer Embrio
Transfer Embrio (TE) merupakan generasi kedua teknologi reproduksi
setelah inseminasi buatan (IB). Teknologi IB hanya dapat menyebarkan bibit
unggul ternak jantan, sedang padateknologi TE dapat menyebarkan bibit
unggul ternak jantan dan betina. Walaupun demikian,keuntungan utama yang
dapat diperoleh adalah meningkatkan kemampuan reproduksi ternak betina
unggul. Aplikasi TE memerlukan waktu dan biaya yang relatif lebih singkat
dan murahdalam pembentukan mutu genetika yang dikehendaki, sehingga
teknologi ini dapat mempercepat perbaikan mutu ternak dalam rangka
meningkatkan produktivitas ternak.
Metodologi Transfer Embrio
Pelaksanaan transfer embrio merupakan suatu rangkaian kegiatan yang
terdiri dari :seleksi donor dan resipien, penyerentakan berahi donor dan
resipien, superovulasi donor, inseminasi buatan, panen embrio, penilaian
dan penyimpanan embrio, dan transfer embrio ke resipien.
Seleksi Donor dan Resipien
Ada dua kriteria yang digunakan untuk seleksi donor pada program TE,
yaitu :
7
(1) mempunyai nilai genetik yang baik (meneruskan sifat-sifat yang (2)
mempunyai sifat yang dapat memproduksi embrio yang dapat ditransfer
kemampuan reproduksinya, nilai jual anak yangtinggi, dan kondisi
kesehatan yang baik.
Penyerentakan Berahi Donor dan Resipien
Keberhasilan TE sangat tergantung pada sinkronisasi berahi sapi donor
dan [Link] berahi umumnya menggunakan Prostaglandin
F2 (PGF2).
Superovulasi Donor
Sapi adalah ternak uniparous (ternak yang hanya menghasilkan satu
keturunan dalam satu masakebuntingan), sehingga biasanya hanya sebuah
sel telur terovulasi setiap siklus [Link] (menghasilkan banyak
sel telur yang diovulasikan) pada donor dapat dilakukandengan pemberian
obat penyubur yakni hormone gonadotropin berupa PMSG atau FSH.
Standar obat yang sering digunakan untuk superovulasi adalah Pregnant
Mare’s Serum Gonadotropin(PMSG). Penyuntikan dengan Follicle
Stimulating Hormone (FSH) menghasilkan CL dan dayahidup embrio
yang lebih baik daripada perlakuan PMSG.
Inseminasi Buatan
Donor yang telah dirangsang dengan superovulasi, dikawinkan umumnya
dengan carainseminasi buatan (IB) dengan memakai semen pejantan
unggul. Dosis semen ditingkatkan agar jumlah sel telur yang dibuahi lebih
banyak. Umumnya IB dilakukan dua kali dengan tenggangwaktu 12 jam.
Panen/ Koleksi Embrio
Panen embrio dapat dilakukan dengan dengan pembedahan atau tanpa
Pemanenan embrio melalui pembedahan dilakukan pada ternak ternak
kecil seperti kambing dan domba,sedangkan untuk ternak besar seperti
sapi, kerbau dan kuda kedua cara tersebut dapat dipakai.
Cara memanen embrio tanpa pembedahan dilakukan dengan membilas uterus
dengancairan phosphate buffer saline (PBS) steril yang dimasukkan dengan
menggunakankateter Foley yang dilengkapi dengan balon penyumbat melalui
cervix (transcervical).Infusi cairan ini dilakukan dengan gerak gravitasi, dan bila
uterus telah penuh, infusdihentikan dan cairan pembilas dikumpul melalui kateter
yang sama ke dalam gelas penampung. Pembilasan dilakukan beberapa kali pada
kedua tanduk uterus (uterinehorn).Dengan mendiamkan cairan pembilas maka,
embrio akan mengendap, dan denganmengurangi volume cairan embrio dapat
diambil dengan pipet [Link] Embrio Ke Resipien Transfer embrio dapat
dilakukan dengan pembedahan dantanpa pembedahan. Metode pembedahan
cenderung lebih tinggi dan lebih konsistentingkat kebuntingannya, tetapi lebih
membutuhkan tenaga yang terampil. Cara tanpa pembedahan sekarang banyak
8
dipakai, karena lebih cepat dan sederhana, sedangkanangka kebuntingan yang
dicapai sudah sama dengan tanpa pembedahan.
2.3 Teknologi Prosessing Semen (Pemisahan Spermatozoa X Dan Y)
Seiring dimulai dengan pengkondisian saluran reproduksi ternak betina agar
lingkungan itumenjadi lebih baik bagi spermatozoa X daripada spermatozoa Y
atau sebaliknya. Selanjutnya pemisahan spermatozoa X dan spermatozoa Y
sebelum dilakukan IB atau IVF (In VitroFertilization).
Pembentukan Jenis Kelamin
Keberadaan spermatozoa dalam proses pembentukan jenis kelamin pada
kebanyakan makhluk hidup khususnya mamalia, mempunyai arti penting,
karena spermatozoa menentukan jeniskelamin seekor ternak. Proses ini
melibatkan penggabungan antara kromosom seks yang dibawaoleh
spermatozoa dan kromosom seks yang dibawa oleh ovum (sel telur).
Berdasarkankromosom seks yang dibawanya, spermatozoa pada mamalia
dapat dibedakan atas spermatozoa pembawa kromosom X /Jantan
(spermatozoa X) dan spermatozoa pembawa kromosom Y / betina
(spermatozoa Y).
Pemisahan Spermatozoa
Beberapa metode pemisahan spermatozoa dapat dilakukan adalah
menggunakan kolom albumin,kecepatan sedimentasi, sentrifugasi dengan
gradient densitas percoll, motilitas dan pemisahanelektroforesis, isoelectric
focusing, teknik manipulasi hormonal, H-Y antigen, flow sorting,
danmetode penyaringan menggunakan kolom Sephadex. Metode yang
dianggap paling validdiantara beberapa metode tersebut adalah metode
kolom albumin dan metode penyaringanmenggunakan kolom Shepadex .
2.4 Fertilisasi In Vitro
Penelitian akhir-akhir ini dikonsentrasikan terhadap satu paket baru. Sel telur
belum matang(oosit) diambil dari ternak hidup atau ovarium berasal dari ternak
betina yang baru [Link] tersebut kemudian dimatangkan dan dibuahi di
laboratorium, dan dikultur sampai padatahap tertentu dan selanjutnya ditransfer ke
ternak resipien atau dibekukan untuk ditansfer kemudian. Proses ini dikenal
sebagai pematangan in vitro atau fertilisasi buatan atau dikenalsebagai IVM / IVF
(In Vitro Maturation/ In Vitro Fertilization). Proses pengambilan oosit
padamulanya dikonsentrasi pada penggunaan ovarium dari rumah potong hewan.
Sekarang proses inidiganti dengan suatu metode menghisap oosit belum matang
(ovum pick up) dari ovarium betina hidup.
9
2.5 Teknologi Criopreservasi Gamet (Spermatozoa Dan Ova)
Criopreservasi adalah suatu penyimpanan gamet dalam waktu lama yang
dilakukan dalam bentuk beku pada suhu -196 oC (dalam nitrogen cair) dalam
media dengan penambahancrioprotectan. Pada saat tersebut sel dalam keadaan
“ditidurkan”, sehingga metabolisme sel terhenti, tetapi masih mempunyai
kemampuan hidup setelah sel tersebut “dibangunkan” kembalidengan mencairkan
dan mengkultur pada kondisi tertentu secara [Link] terpenting dari
criopreservasi adalah pengeluaran sebagian besar air intraselluler dari sel-sel
sebelum membeku. Cryoprotectan digunakan untuk menghindari terbentuknya
kristal-kristales besar yang dapat merusak sel dan mencegah keluarnya air terlalu
banyak yang sehingga dapatmerusak sel (sel-sel retak karena kekeringan).
Crioprotectan intraselluler seperti gliserol,dimethylsulfoxide (DMSO), etilen
glikol, dan 1,2 propanadiol, sedangkan crioprotectanekstraselluler yaitu polivinil
pirolidon (PVP), gula dengan molekul besar sukrosa dan raffinosa, protein dan
lipoprotein, kuning telur, serum darah dan susu.
2.6 Pembentukan Ternak Transgenik
Transfer materi genetik dengan teknologi rekombinan DNA merupakan suatu
metode penemuan baru untuk menghasilkan ternak transgenik. Ternak transgenic
memperlihatkan bermacam-macam fenotipe baru melalui ekspresi molekul DNA
eksogen. Ternak transgenik dihasilkan dengan injeksimikro gen ke dalam
pronukleus sesaat setelah fertilisasi dan sebelumterjadi pembelahan pertama zigot,
selanjutnya ditanam di dalam rahim induk [Link] gen (transgenik)
artinya penyatuan stabil dari suatu gen dari spesies lain atau bangsaternak lain
dalam satu spesies, sehingga gen itu berfungsi pada ternak penerima dan
diwariskandari satu generasi ke generasi berikutnya. Ternak transgenic adalah
seekor ternak DNAketurunannya telah ditingkatkan melalui penambahan atau
penggantian DNA dari sumber lainmelalui rekombinan DNA.
2.7 Cloning
Pada Embrio Awal Manipulasi mikro embrio (micromanipulation) merupakan
cloning dalam pembentukan kembar identik pada saat ini tidak hanya terbatas
pada hewan laboratorium, tetapi juga telah berhasil pada ternak pelihara. Kembar
buatan identik telah berhasil dilakukan dengan pembelahan embrio (splitting
embrio). Pembelahan embrio ini dilakukan dengan menggunakansuatu pisau
pembelah mikroskopis untuk menembus zona pelucida (selaput pelidung
10
embrio).Embrio yang berumur 7 hari dibelah menjadi dua bagian yang terdiri atas
kira-kira 64 [Link] dari hasil belahan itu kemudian dibungkus kembali
dengan pembungkus alam yangterpisah (suatu zona pelucida dari embrio yang
kurang baik atau yang tidak dibuahi).Pembungkus yang kuat namun lentur (zona
pelucida) yang menyelimuti bola sel, memungkinkan penempatan embrio di
dalam uterus induk lain untuk dititipkan selama jangka waktu bunting.
2.8 Pembentukan Ternak Chimera
Ternak chimera dibentuk dengan cara meramu blastomer berbagai jenis
ternak. Sel-sel dari beberapa embrio dapat digabungkan dalam suatu zona
pelucida untuk menghasilkan seekor hewan yang merupakan kombinasi dari
beberapa hewan yang telah digabung. Misalnya anak sapi chimera dihasilkan
dengan menggabungkan blastomer dari Bos taurus (sapi Eropah) dan Bos indicus
(sapi India), kemudian dialihkan keresipien untuk dikandung sampai lahir.
Demikian pula antara domba dankambing, dengan prosedur yang sama telah
dilahirkan turunan berbadan domba berwajahkambing. Komposisi tubuh maupun
fenotipe ternak chimera ditentukan oleh jumlah blastomer dari masing-masing
jenis yang telah diramu.
2.9 Dampak Positif dan Negatif Bioteknologi Peternakan
Dampak Positifnya yakni Dapat dihasilkannya Hewan Transgenik seperti:
domba transgenic yang dapat menghasilkansusu untuk menolong penderita
hemophilia karena mengandung protein pembeku darah.- Dihasilkannya Hormon
BGH (Bovine Growth Hormone) atau hormone pemacu pertumbuhanhewan
ternak. Penyuntikan hormone BGH pada sapi perah ternyata dapat meningkatkan
produksi susu selain meningkatkan produksi daging. Dampak Negatifnya yakni
Susu sapi yang disuntik hormon BGH (bovine growth hormone) atau hormon
pertumbuhansapi, disinyalir mengandung bahan kimia baru yang punya potensi
berbahaya bagi kesehatanmanusia. Potensi pergeseran gen hewan sehingga gen
menjadi lemah dan mudah terserang penyakit.
11
III. PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Perkembangan IPTEK di bidang reproduksi ternak dapat diaplikasikan di
subsektor peternakan untuk meningkatkan populasi, produksi dan
produktivitas ternak baik secara kualitasmaupun kuantitas, antara lain
teknologi inseminasi buatan (IB), transfer embrio (TE), prosessingsemen
(pemisahan spermatozoa X dan Y), fertilisasi in vitro, teknologi criopreservasi
gamet(spermatozoa dan ova), pembentukan ternak transgenik, cloning dan
chimera.
Pemanfaatan teknologi reproduksi ternak tersebut memerlukan dukungan
peralatan yangmemadai dan dana yang cukup serta tenaga ahli yang terampil,
sehingga menjadi kendalanegara-negara berkembang seperti Indonesia.
Aplikasi kemajuan mutakhir di bidang biologireproduksi yang banyak
dilaksanakan oleh petani peternak di Indonesia baru sampai pada
tahapinseminasi buatan (IB) dan transfer embrio (TE).
12
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2004. Staphylococcus aureus,
[Link]/pathogens/[Link]. diaksestanggal 5 April 2020.
Anonim. 2004. Buah Liberalisme: Jakarta dalam Kepungan Daging
[Link]://[Link]/[Link]?.id=co_16_1. Diakses tanggal 5 April
2020.
Anonim. 2004. Awas Daging Sapi Campur Daging
[Link]://[Link]/[Link]?.id=co_16_1. Diakses tanggal 5 April
2020.
Badan Standardisasi Nasional. 1999. Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-6159-
1999,tentangRumah Pemotongan Hewan, Jakarta: BSN. Djati, M.S. 1998.
Pengaruh Suplementasi PMSG dan hCG pada Proses Fertilisasi InVitro dan
Kultur Klon Embrio Sapi dengan IGF-1. Disertasi. Bogor. IPB. Direktur Jenderal
Bina Produksi Peternakan Departemen Pertanian. 2003.
Buku Statitik Lewis, J. 2004. Cloning cattle reverses ageing. [Link]
mag/beef_improving_genetic_reproduction. Tanggal 5 April 2020.
Linawati, 1998. Marine Bioteknology. Opportunities and Challengers for
Sustainable Development of Coastal and Marine Resources. Paper in Workshop
on Marine Bioteknology. 16 – 20 February 1998. Center for Coastal and Marine
ResourcesStudies. Bogor. Merck. Biotechnology Institute. 2005.
13