Praktikum Aliran Fluida Teknik Kimia
Praktikum Aliran Fluida Teknik Kimia
“FLUID FLOW”
GRUP E
1. Reyna Rahma Nidya S. 17031010059
2. Juli Setiawan 17031010069
Tanggal Percobaan : 27 Februari 2019
LEMBAR PENGESAHAN
“FLUID FLOW”
GRUP E
3. Reyna Rahma Nidya S. 17031010059
4. Juli Setiawan 17031010069
Kepala Laboratorium
Operasi Teknik Kimia I
Dosen Pembimbing
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Resmi Operasi Teknik
Kimia I ini dengan judul “Fluid Flow”.
Laporan Resmi ini merupakan salah satu tugas mata kuliah praktikum
Operasi Teknik Kimia I yang diberikan pada semester [Link] ini disusun
berdasarkan pengamatan hingga perhitungan dan dilengkapi dengan teori dari
literatur serta petunjuk asisten pembimbing yang dilaksanakan pada tanggal 20
Februari 2019 di Laboratorium Operasi Teknik Kimia.
Laporan hasil praktikum ini tidak dapat tersusun sedemikian rupa tanpa
bantuan baik sarana, prasarana, pemikiran, kritik dan saran. Oleh karena itu, tidak
lupa kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Ir. C. Pujiastuti,MT selaku Kepala Laboratorium Operasi Teknik Kimia.
2. Bapak Ir. Mu’tasim Billah, MSselaku dosen pembimbing praktikum.
3. Seluruh asisten dosen yang membantu dalam pelaksanaan praktikum
Penyusun
DAFTAR ISI
INTISARI
BAB I
PENDAHULUAN
I.2 Tujuan
1. Untuk mencari head loss dalam pipa dan fitting dalam ekspansi dan kontraksi.
2. Untuk membandingkan nilai eksperimen dari fanning friction factor dan
koefisien kontraksi dengan hasil perhitungan .
3. Untuk mengetahui hubungan antara kapasitas dan laju alir fluida dengan power
pompa dan efiliena pompa.
I.3 Manfaat
1. Agar praktikan dapat mengetahui macam-macam aliran fluida.
2. Agar praktikan dapat mengetahui cara membuat grafik dan hasil data
percobaan.
3. Agar praktikan dapat mengetahui factor-faktor yang memengaruhi aliran
fluida.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Arah aliran fluida dapat ditentukan dengan persamaan bilangan Reynolds (Nre).
Dv ρ
Nre= .................................................................................(1)
μ
Keterangan:
Nre = bilangan Reynolds
D = diameter pipa (m)
V = kecepatan fluida (m/s)
ρ=¿massa jenis (m/l)
μ=¿viskositas zat (kg/m det)
Apabila Nre < 2100 maka arah aliran fluida laminar, jika Nre > 4200 maka
arah aliran fluida turbulen dan apabila Nre berada diantara keduanya maka arah
aliran fluida transisi.
A2
Kfc = 0,55 [1 - ]...................................................................................
A1
(10)
4) Friction loss karena adanya ekspansi (Ffex)
∆V
Ffex = [ ]...............................................................................................
2∝
(11)
α = 1, jika turbulen
α = 0,5, jika laminer
Alat yang digunakan untuk mengukur aliran disebut flowmeter.
Berdasarkan hasil pengukurannya, alat ukur aliran dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Kecepatan lokal; kecepatan fluida pada posisi tertentu. Misal tabung pitot.
2. Kecepatan total; kecepatan alir rata-rata seluruh penampang luas aliran, misal
orifice, venturi dan rotameter.
(Fitriani,2010)
Perilaku cairan pada mengalirkan fluida sangat bergantung pada ketika fluida
itu dibawah tekanan padatan padat. Pada wilayah dimana tekanan atau pengaruh
dari dinding adalah kecil, maka tegangan gesernya dapat diabaikan dan perilaku
fluida dapat mendekati gas ideal, yang mana gas ideal fluida memiliki tekanan dan
viskositas O. Aliran seperti gas ideal disebut aliran potensial dan telah dijelaskan
dalam prinsip mekanik dan perpindahan massa Newtonian. Teori matematis pada
aliran potensial fluida yaitu sangat mengalami [Link] potensial
memiliki dua karakter penting yaitu sirkulasi maupun edaran tidak bisa terbentuk
di dalam arus, maka aliran yang tidak [Link], gesekan pada aliran
potensial tidak dapat berkembang, maka tidak disipasi pada energy mekanik
berubah menjadi panas.
Pada satu dimensi aliran, kecepatan adalah vektor, dan pada umumnya
kecepatan memiliki 3 komponen yaitu pada setiap ruang koordinat. Pada beberapa
situasi seluruh kecepatan vektor terjadi pada bentuk paralel, dan hanya satu
komponen kecepatan yang dapat diambil sebagai skalar, diisyaratkan maka situasi
ini lebih sederhana daripada vektor pada umumnya. Hal ini dikenal sebagai one-
dimensional [Link] yaitu aliran yang steady pada pipa lurus.
(Mc Cabe, 1987)
II.1.3. Persamaan-persamaan dasar yang terjadi pada mekanika fluida
Persamaan Bernouilli untuk suatu penampang dengan penampang lain
sebagai berikut :
Z1 + V12/2g + P1/W = Z2 + V22/2g + P2/W.........................................................(2)
(Kehilangan energy diabaikan)
Untuk alat ukur yang horizontal maka Z1=Z2, jadi
∆V2 ∆ P
= .................................................................................................................
2g W
(3)
Keterangan :
Z =Energi potensial tiap satuan berat
V2/2g =Energi kinetik tiap satuan berat
P/W =Energi tekanan setiap satuan berat
g =Gravitasi (m/s2)
V =Kecepatan fluida (m/s)
Sedangkan hukum kesenantiasaan menghasilkan persamaan :
a1x V1=a2 x V2 maka
V2=(a1/a2) x V1..............................................................................................(4)
dandebit aliran dalam pipa adalah
Q= a1x V1........................................................................................................(5)
Keterangan :
Q =Debit aliran (m3/s)
a1 =Luas penampang fluida (m2)
V1 =Kecepatan fluida (m/s)
(Soedrajat, 1983)
Pada persamaan Bernoulli, terdapat energy yang diabaikan, energy
II.1.4. Faktor yang mempengaruhi pengukuran aliran fluida
Pada pengukuran aliran fluida ada hal yang perlu diketahui yakni terdapat
empat factor-faktor penting dalam pengukuran aliran fluida dalam suatu pipa
yaitu
[Link] fluida, semakin cepat suatu fluida mengalir maka semakin besar pula
debit yang dihasilkan
[Link]/gesekan fluida dengan pipa, semakin besar gesekan fluida maka semakin
lambat kecepatan aliran fluida
[Link]/kekentalan fluida, semakin besar viskositas maka akan memperbesar
gesekan sehingga aliran makin lambat
4. Densitas/kerapatan fluida, semakin besar densitas suatu fluida maka akan
semakin lambat aliran fluida
(Rifta, 2017)
II.1.5. Persamaan Bernoulli untuk fluid flow
Pada fluida yang mengalir dalam ppipa dari neraca massa dapat diperoleh
persamaan continuitas yang intinya kapasitas massa atau debit tetap, sedang dari
neraca tenaga diperoleh persamaan tenaga yang sering disebut sebagai persamaan
Bernoulli, yaitu :
∆P g ∆v
+∆ z + +hf =−℘.......................................................................(12)
ρ gc 2 αgc
g
Dengan :∆ z = beda energi potensial (J/Kg)
gc
∆v
= beda energi kinetic (J/Kg)
2 αgc
∆P
= perbedaan tekanan (J/Kg)
ρ
hf = jumlah kehilangan energi akibat friksi yang terjadi (J/Kg)
−℘= energi yang didapatkan
Kehilangan tenaga akibat friksi, baik pipa lurus maupun fiting bias
dihitung dari kehilangan tekanan (pressure drop) yang dihitung dari penunjukan
alat ukur yang digunakan, missal manometer.
II.1.6 Macam-macam fitting
v2
h=k ...............................................................................................................(14)
2g
Dengan :
h =head loss minor
k =Koefisien resistensi valve
v =kecepatan rata rata aliran dalam pipa (m/s)
g =percepatan gravitasi (m/s2)
(Rohmah, 2017)
II.1.8. Aplikasi aliran fluida dalam industri
1. Aerospace
Padaindustri ini dipakai oleh para produsen atau manufaktur pesawat militer,
penumpang dan pesawat luar angkasa untuk menganalisis external aerodynamics,
avionics cooling, fire sion, the icing, engine performance, life support,
climate control, dll.
2. Automotive
Pada bidang otomotif dipakai oleh banyak perusahaan otomotif terkemuka di
dunia. Guna melihat fenomena external aerodynamics, cooling, heating, engine
performance dan pada dunia balap. Pada hal yang laindigunakan untuk
mengetahui performa padakomponen-komponen penunjang otomotif, seperti
pompa, rem,compressor, manifold, ban, headlamp dll.
3. Biomedical
Pada bidang ini dipakai pada alat-alat medis dan anatomi tubuh manusia
. Aplikasi dalam bidang ini dipakai pada proses pembedahanmata, aliran darah
pada nadi, masuknya udara pada hidung, pengembangan pompajantung,
penyaluran obat internal, spinal needle, dll.
(Rohmah, 2017)
3. Daya penggerak (driver) adalah daya poros dibagi dengan effisiensi mekanis
(effisiensi transmisi). Dapat dihitung dengan rumus :
( Efendi , 2011 )
II. 1. 10 Tabel Koefisien Gesek
( Geankoplis, 1978 )
c. PH =7
[Link] =produk stabil
e. korosifitas =tidak korosif
(MSDS, 2012, “Water”)
C. Fungsi bahan
a. sebagai fluida pada proses fluid flow
II.3Diagram Alir
A. Kalibrasi
II.4 Hipotesa
Pada percobaan fluid flow semakinbesar bukaan air maka akan semakin
besar pula volume air dan tekanan yang diperoleh. Bukaan jua dipengaruhi
perbedaan tekanan power pompa. Semakin besar bukaan keran maka perbedaan
tekanan dengan power pompa semakin besar.
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1 Gelas Ukur
2 Stopwatch
3 Ember
4 Meteran
5 Penggaris
6 Corong Kaca
III. 5 Variabel
1. Bukaan = 1/8, 2/8, 4/8, 5/8, 7/8
2. Waktu (t) = 5 detik
3. Pipa = B dan E
4. Satuan = British
A. Kalibrasi
1. Membuka vakve pada pipa yang akan dilalui fluida (E), menutup vakve lainnya
(D, F, G, H) air dari tangki utama dialirkan secara continue ke dalam tangki C
B. Prosedur pelaksanaan
3. Pipa yang ditentukan dan Kran dibuka sesuai dengan variabel yang telah
ditentukan, bersamaan dengan ditutupnya Kran F
5. Tampung air yang keluar adalah waktu 5 detik, setelah itu ukur volume yang
keluar pada pipa dengan menggunakan gelas ukur. Ulangi langkah 3-5 untuk
pipa yang berikutnya.
BAB IV
A. Pipa B
Pelaksanaan
Manometer (lbf/ft2)
Bukaan kran waktu (sekon) Volume (ft3) Hijau Hitam debit (ft3/s)
5 0,0164
0,0476 0,1016
5 0,0164
0,0469 0,0984
1/8 5 0,0164
0,0474 0,1181
5 0,0164
0,0462 0,1115
5 0,0164
0,0459 0,1115
Rata-rata 8 0,0468 0,0164 0,1082 0,00936
2/8 5 0,01062
0,0512 0,0656 0,2624
5 0,0540 0,0164 0,2460
5
0,0517 0,0656 0,2952
5
0,0535 0,0492 0,2788
5
0,0554 0,0328 0,2624
Rata-rata 5 0,0531 0,0492 1,3448
5
0,0653 0,0164 0,3280
5
0,0649 0,0820 0,3444
5
0,0642 0,0656 0,3280
5
0,0653 0,0656 0,3116
4/8 5
0,0656 0,0492 0,3280
Rata-rata 5 0,013
0,0650 0,0557 0,328
5
0,0713 0,0656 0,3772
5
0,0723 0,0164 0,3116
5
0,0709 0,0492 0,3608
5
0,0723 0,0328 0,0328
5/8 5
0,0731 0,0492 0,3444
Rata-rata 5 0,0426 0,2853 0,01438
0,0719
5
0,0822 0,0820 0,3608
5
0,0829 0,0492 0,3608
5
0,0794 0,0820 0,3608
5
0,0791 0,0656 0,3772
7/8 5
0,0812 0,0656 0,3444
Rata-rata 5 0,0688 0,3608 0,01618
0,0809
Kalibrasi
Bukaan Kran Waktu (s) Volume 1 (ft3) Volume 2 (ft3) Volume 3 (ft3) volume rata-rata (ft3)
B. Pipa E
Pelaksanaan
Kalibrasi
Waktu
Bukaan Kran Volume 1 (ft3) Volume 2 (ft3) Volume 3 (ft3) volume rata-rata (ft3)
(s)
1/9 3 0.024754 0.024465 0.024465 0.024561
Bukaan ΔP
ρ ΔP/ρ
kran (lbf/ft²) (lbm/ft³) ([Link]/lbm)
1/9 0.19192914 62.3031 0.0030806
1/3 0.58645015 62.3031 0.0094129
5/9 0.64960632 62.3031 0.0104265
7/9 0.65698821 62.3031 0.010545
1 0.6643701 62.3031 0.0106635
gc ΔV²/2αgc
Debit diameter ρ µ ([Link]/lbf.s² ([Link]/lbm ΔV²
Bukaan (ft³/s) (ft) luas (ft²) ΔV (lbm/ft³) (lbm/ft.s) Nre α ) ) (ft²/s²)
0.001363
1/9 0.00542433 0.041666 5 3.9782573 62.3031 0.0006 17212.1 1 32.174 254.601 15.8265
0.001363
3/9 0.00823114 0.041666 5 6.0367982 62.3031 0.0006 26118.4 1 32.174 586.257 36.4429
0.001363
5/9 0.008484 0.041666 5 6.222243 62.3031 0.0006 26920.8 1 32.174 622.829 38.7163
0.001363
7/9 0.00892896 0.041666 5 6.5485845 62.3031 0.0006 28332.7 1 32.174 689.874 42.884
0.001363
9/9 0.00977086 0.041666 5 7.1660431 62.3031 0.0006 31004.1 1 32.174 826.102 51.3522
g/gc ΔZ g/gc
(lbf.s/lbm ([Link].s/lbm
Bukaan z1 (ft) z2 (ft) ΔZ (ft) ) )
1 0 4.26509 4.26509 1 4.26509
3 0 4.26509 4.26509 1 4.26509
5 0 4.26509 4.26509 1 4.26509
7 0 4.26509 4.26509 1 4.26509
9 0 4.26509 4.26509 1 4.26509
Rata-rata
Bukaan Gesekan K f L (ft) V Gc α D (ft) S Hf ƩHf Hf teori Hf
pipa lurus 0.0001 3.9782 0.166778 0.1667 0.0416
1/2'' sch 40 5 0.00093 9.4488 6 32.174 1 0.051813 1 4 8 9 0.104236
3.9782 190.9510 1145.7 47.737
elbow 90 0.75 6 32.174 1 6 5 1 8 119.3444
pipa lurus 0.0001 3.9782 0.019057 0.0190 0.0047
1'' sch 40 5 0.00093 18.209 6 32.174 1 0.873817 1 1 6 6 0.011911
Bukaa ΔP
ρ ΔP/ρ
n kran (lbf/ft²) (lbm/ft³) ([Link]/lbm)
0.053313 0.00085571
1/9 7 62.3031 4
0.053231 0.00085439
1/3 6 62.3031 8
0.069471 0.00111506
5/9 8 62.3031 1
0.063156 0.00101369
7/9 2 62.3031 2
0.057004 0.00091495
1 6 62.3031 6
ρ µ gc ΔV²/2αgc
Bukaa Debit diamete (lbm/ft³ (lbm/ft.s ([Link]/lbf.s ([Link]/lbm ΔV²
n (ft³/s) r (ft) luas (ft²) ΔV ) ) Nre α ²) ) (ft²/s²)
0.006052 0.04166 0.00136280 4.44153 19216.4
1 9 6 4 1 62.3031 0.0006 4 1 32.174 317.3514 19.7272
0.007654 0.04166 0.00136280 5.61695 24301.9 31.5501
3 8 6 4 6 62.3031 0.0006 6 1 32.174 507.548 9
0.008046 0.04166 0.00136280 5.90407 25544.1
5 1 6 4 5 62.3031 0.0006 9 1 32.174 560.7622 34.8581
0.008410 0.04166 0.00136280 26701.2 38.0874
7 5 6 4 6.1715 62.3031 0.0006 1 1 32.174 612.7121 1
9 0.008421 0.04166 0.00136280 6.17979 62.3031 0.0006 26737.0 1 32.174 614.3597 38.1898
g/gc
(lbf.s/lbm ΔZ g/gc
Bukaan z1 (ft) z2 (ft) ΔZ (ft) ) ([Link].s/lbm)
1 0 4.26509 4.26509 1 4.26509
3 0 4.26509 4.26509 1 4.26509
5 0 4.26509 4.26509 1 4.26509
7 0 4.26509 4.26509 1 4.26509
9 0 4.26509 4.26509 1 4.26509
Bukaa Rata-
n Gesekan K f L (ft) V gc α D (ft) S Hf ƩHf Hf teori rata Hf
Pipa
0.0001 2.66
Lurus 1" 0.0008326 4.44153 32.17 1 0.87381 1 0.00272001 0.0027200
5 4
sch 40 2 1 4 7 7 2 0.00068 0.0017
Pipa
Lurus 0.0001
1.58 1 1
0,5" sch 5 0.0008326 4.44153 32.17 0.05181 0.00161322 0.0016132 0.00040
40 2 1 4 3 3 2 3 0.001008
Elbow
90° 0.75 - 4.44153 32.17 1 5 0.22992786 0.05748
( 1" ) 1 4 1 1.1496393 2 0.143705
Elbow 0.75 - 4.44153 32.17 1 7 0.22992786 1.6094950 0.05748 0.143705
90° 1 4 1 2 2
( 0,5" )
IV.3 Grafik
1. Pipa C
Debit vs Bukaan
0.01
0.01
0.01
D
E0.01
B
I
T 0
0
0
1/9 3/9 5/9 7/9 9/9
BUKAAN
Hf vs Bukaan
3500
3000
2500
2000 Hf Percobaan
Hf
1500 Hf Teori
1000
500
0
1/9 3/9 5/9 7/9 9/9
Bukaan
Hf vs Debit
3,500.00
3,000.00
2,500.00
2,000.00 Hf Percobaan
Hf
1,500.00 Hf Teori
1,000.00
500.00
0.00
0.01 0.01 0.01 0.01 0.01
Debit
[Link] E
Debit vs Bukaan
0.01
0.01
0.01
0.01
0.01
debit
0
0
0
0
0
1/9 1/3 5/9 7/9 1
Bukaan
Hf vs Bukaan
900
800
700
600
500 Hf teori
Hf
400 Hf percobaan
300
200
100
0
1/9 1/3 5/9 7/9 1
Bukaan
400 Hf percobaan
300
200
100
0
0.01 0.01 0.01 0.01 0.01
Debit
IV.4 Pembahasan
tekanan yang ditunjukan oleh manometer raksa dan jumlah volume air yang
keluar dari pipa setelah 5 detik, dengan 5 kali percobaan untuk masing-masing
bukaan pipa. Sedangkan pada percobaan untuk pengecekan atau disebut juga
kalibrasi dilakukan interval waktu 2, 4, 5, 7, dan [Link] perulangan percobaan
hanya dilakukan samapi dengan 3 kali percobaan kalibrasi untuk masing-masing
bukaan kran pada pipa.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
1. Bukaan kran (valve) mempengaruhi volume air yang tertampung pada bak
penampung air selama 5 detik, semakin besar bukaan maka volume air
yang tertampung semakin besar pula.
2. Semakin besar bukaan valve maka debit aliran fluida semakin cepat,
karena debit aliran suatu fluida dapat dipengaruhi oleh luas penampang
pipa dan bukaannya.
3. Semakin besar bukaan gate valve maka semakin besar nilai head loss yang
diperoleh.
V.2 Saran
1. Praktikan harus lebih teliti untuk menghitung tinggi manometer agar tidak
terjadi kesalahan dalam perhitungan dan pembuatan grafik.
2. Sebaiknya praktikan memperhatikan dengan seksama pada saat valve akan
dibuka dan ditutup, usahakan menutup dan membuka valve dilakukan
secara bersama-sama.
3. Praktikan harus lebih teliti dalam membuka valve pada bukaan tertentu,
serta lebih teliti dalam menghitung volume fluidanya.
Fitriani, Lisa Yulian. 2011. "Analisa aliran fluida pengaruh elbow, fitting, valve,
dan perubahan luas permukaan dalam sistem perpipaan". Jurnal aliran
fluida.1.2-3
Perry, Robbert H. dkk. 1997. "Perry's chemical engineers book seventh edition".
New York : Mc Graw Hill
Tim dosen. 2019. "Fluid flow". Surabaya : UPN Veteran Jawa Timur
1. Konversi Pipa C
a. Konversi Volume (ml) ke (ft³)
Volume pada bukaan 1/9= 780 ml
Konversi volume pada bukaan 3/9 (ft³) = 780ml x 0.00003531467 ft³/ml
= 0.027545443 ft³
ft
Konversi tinggi (ft) =2.25 cm×0,0328084 =¿ 0.0738189 ft
cm
Waktu = 5 detik
volume
Debit =
waktu
0.027121667 f t 3 f t3
Debit = =0.005424
5s s
2. Perhitungan Pipa C
∆P
1. Menghitung
ρ
Pada bukaan 1/9
lbm
Diketahui ρair =62.303144
ft 3
∆ P 0.19192914 lbf / ft ²
= =¿0.0030806 ft /lbm
ρ 62.3031lbm/ ft 3
2. Menghitung ∆V2/2αgc
D= 0.0416667 ft
A= 0.0013635 ft²
Q 0.0054243 ft 3 /s
V linier = = =¿ 3.9782573 ft/s
A 0.0013635 ft ²
DVρ 0.0416667(3.9782573)(62.3031)
Nre= = = 17212.1 > 4000
μ 0.0006
Jadi α =1
gc (dari literature) = 32.174 [Link]/lbf.s²
2
( 3.97825732 ) ft2
∆v2 s
= =¿254.601 [Link]/lbm
2 αgc lbm . ft
2(1)(32.174) 2
lbf . s
3. Menghitung ∆Z.g/gc
Z1= 0 ft
Z2= 4,26509 ft
∆ z=4.265509 ft −0 ft=4.265509 ft
1. Menghitung hf
a. pipa lurus 1'' sch 40
16 16
f= = =¿ 0.00092958
Nre 17212.1
L = 9.44882 ft
V linier = 3.97825729ft /s
D = 0.0518126 ft
2 ft 2
0.00092958 ( 9,4488 ) ft (3.97825729 ft )
fL(V ²) s2
Hf =4 =4 =0.16678(ft lbf/lbm)
2 gcD ft . lbm
( 2 ) ( 32.174 ) ( 0.0518126 ) ft
lbf . s 2
4. Menghitung Hf Percobaan
a. Power percobaan
( HP ) Hp
Power pompa =650.0205933 %=1083.367 Hp
efisiensi 60
b. -wf percobaan
c. Hf percobaan
∆ P ∆V 2 g ft lbf
(−wf ) −( + +∆ Z )= Ʃhf hf =¿3205.6776– ¿0.00308 +¿
ρ 2 αgc gc lbm