0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
112 tayangan23 halaman

Asuhan Keperawatan Pioderma Anak

Pioderma adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Penyakit ini ditandai dengan munculnya benjolan merah di kulit yang membesar dan menjadi bernanah serta nyeri."

Diunggah oleh

Sumeisa Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
112 tayangan23 halaman

Asuhan Keperawatan Pioderma Anak

Pioderma adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Penyakit ini ditandai dengan munculnya benjolan merah di kulit yang membesar dan menjadi bernanah serta nyeri."

Diunggah oleh

Sumeisa Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PIODERMA

KATA PENGANTAR

          Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan rahmatNya lah kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan
tepat waktu. Dalam penyusunan makalah ini kami membahas tentang Asuhan
Keperawatan pada Pasien Pioderma. Pada makalah ini kami memaparkan tentang
konsep dasar penyakit dan konsep asuhan keperawatannya.

            Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan-kekurangan, untuk itu kami mohon kritik dan saran yang membangun
dari teman-teman agar nantinya makalah ini bisa menjadi bermanfaat untuk kita
semua.

Akhirnya kami ucapkan terima kasih.

                                                                                     Denpasar, 26 september 2012

                    

                                                                                        Penyusun

1
PIODERMA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................1
BAB I............................................................................................................................3
PENDAHULUAN........................................................................................................3
A. Latar Belakang........................................................................................................3
B. Rumusan Masalah..................................................................................................4
C. Tujuan.....................................................................................................................4
BAB II...........................................................................................................................5
Pembahasan...................................................................................................................5
A. Definisi...................................................................................................................5
B. Etiologi...................................................................................................................6
C. Tanda dan gejala.....................................................................................................6
D. Faktor predisposisi..................................................................................................6
E. Klasifikasi penyakit................................................................................................7
F. Patofisiologi..........................................................................................................10
G. Gambaran Klinis...................................................................................................12
H. Pemeriksaan Penunjang........................................................................................15
I. Penatalaksanaan....................................................................................................15
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN PIODERMA....................................................16
A. PENGKAJIAN....................................................................................................16
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN..........................................................................17
C. Intervensi..............................................................................................................17
D. EVALUASI KEPERAWATAN...........................................................................20
BAB III.......................................................................................................................21
A. Kesimpulan...........................................................................................................21
Daftar pustaka.............................................................................................................22

2
PIODERMA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui, kulit merupakan organ yang paling luas permukaannya
yang membungkus seluruh bagian luar tubuh sehingga kulit sebagai pelindung tubuh
terhadap bahaya bahan kimia. Cahaya matahari mengandung sinar ultraviolet dan
melindungi terhadap mikroorganisme serta menjaga keseimbangan tubuh terhadap
lingkungan.

Pioderma (bisul) pada umunya terjadi pada anak-anak tapi bisa juga terjadi pada
orang dewasa,yang menjadi penyebabnya adalah kurang bersihnya kulit dan bisa juga
disebabkan karena menderita penyakit infeksi disaluran pernafasan. Gejala klinik
bisul sangat bervariasi. Paling ringan hanya benjolan kecil berwarna merah.
Sedangkan bentuk yang paling parah adalah benjolan ukuran cukup besar, warna
merah mengkilat, kadang-kadang ada 'matanya', yang pada akhirnya akan
mengeluarkan nanah dalam jumlah banyak. Gejala ini biasanya disertai nyeri pada
daerah pembengkakan dan demam seluruh tubuh.

Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa faktor makanan seperti banyak
makan telur, yang menjadi biang pemicu timbulnya bisul. Sebagian lainnya
menganggap bahwa bisul adalah pengeluaran darah kotor dari dalam tubuh.
Anggapan ini tidaklah benar. Mitos seperti itu sebenarnya sangat merugikan. Ini
karena kepercayaan terhadap mitos yang berkembang, membuat masyarakat tidak
mau mencari tahu apa penyebab penyakit yang dideritanya. Bisul merupakan penyakit
ringan, tapi sangat mengganggu. Dalam sebuah penelitian Departemen Kesehatan
(Depkes RI) pada 2001 terungkap dari 326 responden, ternyata 26 persen pernah
bisulan. Angka tersebut dianggap cukup tinggi mengingat bisul bukan penyakit berat,
dan rata-rata bisa sembuh dengan sendirinya. Padahal, bisul jika diabaikan terkadang
bisa menyebabkan demam tinggi, radang yang parah hingga infeksi. Maka dari itu
untuk lebih jelasnya lagi, disini kita akan membahas tentang penyakit pioderma
(bisul) tersebut.
3
PIODERMA

B. Rumusan Masalah

Apakah penyakit pioderma, tanda gejala dari pioderma, dan bagaimana asuhan
keperawatan pada pasien dengan pioderma?

C. Tujuan

Tujuan dari permasalahan tersebut adalah agar kita tahu apa itu penyakit pioderma,
apa penyebab dan bagaimana tanda dan gejala yang muncul serta bagaimana cara
mencegah dan mengobatinya.

4
PIODERMA

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. DEFINISI

Pioderma adalah infeksi bakteri pada kulit primer atau sekunder.


Infeksi kulit primer berawal dari kulit yang sebelumnya tampak normal dan
biasanya infeksi ini disebabkan oleh satu macam mikroorganisme misalnya
staphylococcus aureus, sedangkan infeksi sekunder disebabkan oleh disrupsi
keutuhan kulit karena cedera atau pembedahan. ( buku Keperawatan Medikal
Bedah).

Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus


dan Streptococcus atau oleh keduanya. Furunkel adalah peradangan pada
folikel rambut dan jaringan yang disekitarnya, yang disebabkan oleh
Staphylococcus aureus. Apabila furunkelnya lebih dari satu maka disebut
furunkolosis.

Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan infeksi bakteri pada


folikel (akar) rambut di kulit, yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus.
Nanah dalam pioderma berisi bakteri hidup dan bisa menular.

2. EPIDEMIOLOGI
Pioderma merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat.
Di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, insidennya menduduki tempat ketiga, dan berhubungan erat dengan
keadaan sosial ekonomi. Furunkel lebih sering pada musim panas, karena
banyak berkeringat. Furunkel adalah peradangan pada folikel rambut dan
jaringan yang disekitarnya, yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus.
Apabila furunkelnya lebih dari satu maka disebut furunkolosis. Dari segi umur
onsetnya dapat terjadi pada anak-anak dan juga orang muda. Frekuensinya
lebih banyak pada anak laki-laki.
5
PIODERMA

3. ETIOLOGI

Etiologinya kebanyakan oleh  Staphylococcus aureus, merupakan sel-


sel berbentuk bola atau coccus Gram positif yang berpasangan berempat dan
berkelompok. Staphylococcus aureus merupakan bentuk koagulase positif, ini
yang membedakannya dari spesies lain, dan merupakan patogen utama bagi
manusia. Pada Staphylococcus koagulase negatif merupakan flora normal
manusia. Staphylococcus menghasilkan katalase yang membedakannya
dengan streptococcus.

4. TANDA DAN GEJALA

a. Benjolan merah di kulit yang membesar dan menjadi bernanah setelah


beberapa hari, dan akan pecah dengan sendirinya
b. Nyeri, berdenyut-denyut.

5. FAKTOR PREDISPOSISI

Sebenarnya yang mempengaruhi untuk terjadinya pioderma,


khususnya furunkel atau furunkolosis ada tiga faktor yaitu faktor host, agent,
dan lingkungan.

a. Faktor host :
1) Hyeginis yang jelek
2) Diabetes militus
3) Kegemukan
4) Sindrom hiper Ig E
5) Carier kronik S. aureus (hidung)
6) Gangguan kemotaktik
7) Ada penyakit yang mendasari seperti HIV

6
PIODERMA

8) Sebagai komplikasi dari dermatitis atopi, ekscoriasi, scabies atau


pedikulosis (adanya lesi pada kulit atau kulit tidak utuh bisa juga
karena garukan atau sering bergesekan)

b. Agent : biasanya S. aureus


c. Lingkungan :
1) Lingkungan yang kotor atau kebersihannya jelek
2) Iklim panas

6. KLASIFIKASI

Terdapat beberapa jenis pioderma, yaitu:

a. Impetigo

Impetigo merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh stafilokokus aurea


atau kadang-kadang oleh streptokokus dan hanya terjadi pada lapisan kulit
jangat. Biasanya tak disertai gejala konstitusi (gejala infeksi pada tubuh
manusia seperti demam, nyeri, lesu,dan lainnya). Pada kulit penderita
terlihat lepuh dan gelembung yang berisi cairan. Penyakit ini mudah
menular pada anak lain atau dirinya sendiri.
Impetigo ada 2, yaitu :

1) Impetigo krustosa/kontagiosa (istilah awamnya, cacar madu)


merupakan kelainan yang terjadi di sekitar lubang hidung dan mulut.
Ciri-cirinya, yaitu kemerahan kulit dan lepuh yang cepat memecah
sehingga meninggalkan keropeng tebal warna kuning serupa madu.
Bila keropeng dilepaskan, terlihat luka lecet di bawahnya.
2) Impetigo bulosa/vesiko bulosa (cacar monyet atau cacar api) yang
sering terjadi di ketiak, dada, dan punggung. Ciri-cirinya yaitu
kemerahan di kulit dan gelembung-gelembung (seperti kulit yang
tersundut rokok hingga dikenal dengan cacar api), berisi nanah yang
mudah pecah. Cacar api sangat mudah menular dan berpindah dari satu

7
PIODERMA

bagian kulit ke bagian lain. Jika terjadi pada bayi baru lahir, infeksi
dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Kelainan ini
dapat disertai demam dan menimbulkan infeksi serius.

b. Folikulitis

Infeksi ini mengenai folikel rambut. Ciri-cirinya berupa bintil padat atau
bintil bernanah yang kemerahan dengan rambut di tengahnya. Biasanya
sering ditemukan pada tungkai bawah.

c. Furunkel atau Bisul

Adalah radang pada folikel yang meluas ke jaringan di sekitar folikel


rambut. Ciri-cirinya, yaitu di kulit akan terlihat benjolan kemerahan
dengan mata di bagian tengah yang dapat melunak menjadi abses.
Kelainan terutama terjadi di daerah yang sering mengalami gesekan dan
banyak berkeringat seperti ketiak, bokong, leher, dada, dan paha. Biasanya
terdapat keluhan rasa nyeri, apalagi bila kelainan terjadi di dasar yang
keras misalnya di hidung atau liang telinga luar.

d. Abses Multipel Kelenjar Keringat

Merupakan infeksi di kelenjar keringat. Faktor predisposisinya yaitu daya


tahan tubuh yang menurun dan banyak berkeringat. Kelainan ditandai
benjolan seperti kubah di daerah yang banyak berkeringat seperti dada,
punggung atas, kepala bagian belakang, bokong, dan lainnya.

e. Erisipelas dan Selulitis.

Erispelas adalah infeksi pada kulit yang umumnya didahului oleh luka atau
trauma, baik nyata maupun mikroskopis. Pada bayi umumnya terjadi di
pusar. Ciri-cirinya, yaitu di kulit terlihat kemerahan berbatas tegas, disertai

8
PIODERMA

gejala berupa demam dan kelesuan. Sementara selulitis merupakan


kelanjutan erisipelas. Bedanya, pada selulitis, radang meluas sampai ke
jaringan di bawah kulit.

f. Staphylococcal scalded skin syndrome

Merupakan infeksi kulit oleh staphylococcus aureus galur tertentu


dengan ciri yang khas berupa epidermolisis. Pada umumnya terdapat
demam tinggi disertai infeksi di saluran napas bagian atas. Kelainan kulit
awalnya berupa eritema yang timbul mendadak pada muka, leher, ketiak,
telapak tangan dan kaki serta lipat paha, kemudian menyeluruh dalam
waktu 24-48 jam.

7. PATOFISIOLOGI

Banyak hal yang mempengaruhi seseorang sampai terjadinya pioderma


antara lain faktor host, agent, dan lingkungan seperti yang telah dipaparkan
diatas dimana adanya ketidakseimbangan antara ketiga faktor tersebut.
Staphylococcus mengandung polisakarida dan protein yang bersifat antigen
yang merupakan substansi penting di dalam struktur dinding sel.
Peptidoglikan, suatu polimer polisakarida yang mengandung subunit-subunit
yang terangkai, merupakan eksoskeleton kaku pada dinding sel. Peptidoglikan
dihancurkan oleh asam kuat atau lisozim. Hal ini merupakan penting dalam
potogenitas infeksi : zat ini menyebabkan monosit membuat interleukin-1
(pirogen endogen) dan antibodi opsonik, dan zat ini juga menjadi zat kimia
penarik (kemotraktan) untuk leukosit polimorfonuklear, mempunyai aktifitas
mirip endotoksin, mengaktifkan komplement.

Patologi prototipe lesi staphylococcus adalah furunkel atau abses


setempat lainnya. Kelompok-kelompok S. aureus yang tinggal dalam folikel
rambut menimbulkan nekrosis jaringan. Koagulase dihasilkan dan

9
PIODERMA

mengkoagulasi fibrin disekitar lesi dan didalam saluran getah bening,


mengakibatkan pembentukan dinding yang membatasi proses dan diperkuat
oleh penumpukan sel radang dan kemudian jaringan fibrosis. Di tengah-tengah
lesi, terjadi pencairan jaringan nekrotik (dibantu oleh hipersensitivitas tipe
lambat) dan abses mengarah pada daerah yang daya tahannya paling kecil,
setelah jaringan nekrotik mengalir keluar, rongga secara perlahan-lahan diisi
dengan jaringan granulasi dan akhirnya sembuh

PATHWAY

10
PIODERMA

Ketidak seimbangan host,


agent, lingkungan

Furunkel oleh staphylococcus dan


streptococcus

PIODERMA

S. aureus tinggal dalam Kelainan pada kulit


Bakteri masuk folikel

Abses pecah
Folikulitis dan Nekrosis jaringan
perifolikulitis

Koagulasi fibrin ulkus


sekitar kesi dan
saluran getah
bening
nyeri

Penumpukan sel
radang Gangguan citra
diri
Proses
inflamasi

Kerusakan
integritas kulit

Hipertermi

8. GAMBARAN KLINIS

Bakteri masuk ke dalam folikel rambut sehingga menimbulkan


folikulitis dan perifolikulitis, tampak sebagai nodus kemerahan dan sangat
11
PIODERMA

nyeri. Pada keadaan yang berat dapat disertai gejala demam, malaise, dll.
Setelah 2-4 hari terjadi proses supurasi dan terbentuk abses ini dapat diketahui
dengan adanya fluktuasi. Pada bagian tengah lesi terdapat bintik kekuningan
yang merupakan jaringan nekrotik, dan disebut mata bisul (core). Bila abses
pecah inti jaringan nekrotik tersebut akan keluar. Perawatan khusus ialah pada
furunkel maligna yaitu furunkel yang timbul pada daerah segitiga yang
dibatasi oleh bibir atas dan pinggir lateral kedua mata, oleh karena dapat
meluas ke dalam intra kranial. Masalah lain yaitu bisa terjadi penyebaran
bakteri yang lebih dalam atau lebih luas sehingga bisa juga terjadi selulitis
atau bakterimia. Dan apabila higinis penderita jelek atau menderita diebetes
militus, furunkel menjadi sering kambuh. Predileksi penyakit ini biasanya
pada daerah yang berambut misalnya pada wajah, punggung, kepala, ketiak,
bokong dan ekstrimitas, dan terutama pada daerah yang banyak bergesekan.

Efloresensi, lesi awal berupa infiltrat kecil, membesar membentuk


nodul eritematosa berbentuk kerucut, nyeri, terdapat core (mata bisul),
kemudian melunak menjadi abses, pecah, terbentuk ulkus.

9. KOMPLIKASI

Berikut adalah beberapa komplikasi furunkel:

a. Furunkel malignan : yaitu furunkel yang timbul pada daerah segitiga yang
dibatasi oleh bibir atas dan pinggir lateral kedua mata, oleh karena dapat
meluas ke dalam intra kranial melalui vena facialis dan anguular emissary
dan juga pada vena tersebut tidak mempunyai katup sehingga menyebar ke
sinus cavernosus yang nantinya bisa menjadi meningitis.
b. Selulitis bisa terjadi apabila furunkel menjadi lebih dalam dan meluas.
c. Bakterimia dan hematogen : bakteri berada di dalam darah dapat mengenai
katup jantung, sendi, spine, tulang panjang, organ viseral khususnya ginjal
d. Furunkel yang berulang, hal ini disebabkan oleh hygiene yang buruk

10. PENATALAKSANAAN MEDIS

12
PIODERMA

Adapun penatalaksanaan untuk furunkelatau furunkolosisi adalah sebagai


berikut:

a. Topikal

Topical diberikan salep yang mengandung basitrasin dan neomisin, asam


fusidat , natrium fusidat atau yang mengandung mupirosin. Bila terjadi
ulkus atau lesi masih eksudatif dilakukan kompres terbuka dengan larutan
permanganas kalikus 1/ 5000, larutan rivanol 0,1% atau povidin iodine
5%-10%. Bermacam-macam obat topikal dapat digunakan untuk
pengboatan pioderma. Obat topical anti mikrobial hendaknya yang tidak
dipakai secara sistemik agar kelak tidak terjadi resistensi dan
hipersensitivitas, contohnya ialah basitrasin, neomisin, dan mupirosin.
Neomisin juga berkhasiat untuk kuman [Link], yang di
negeri barat dikatakan sering menyebabkan sensitisasi, jarang ditemukan.
Teramisin dan kloramfenikol tidak begitu efektif, banyak digunakan
karena harganya murah. Obat-obat tersebut digunakan sebagai salap atau
krim. Sebagai obat topical juga kompres terbuka, contohnya: larutan
permangas kalikus 1/5000, larutan rivanol 1% dan yodium povidon 7,5 %
yangndilarutkan 10 x. yang terakhir ini lebih efektif, hanya pada sebagian
kecil mengalami sensitisasi karena yodium. Rivanol mempunyai
kekurangan karena mengotori sprei dan mengiritasi kulit.

b. Sistemik

Berbagai obat dapat digunakan sebagai pengobatan pioderma.


1) Penisilin G prokain dan semisintetiknya
a) Penisilin G prokain,
Dosisnya 1,2 juta/ hari, I.M. Dosis anak 10000 unit/kgBB/hari.
Penisilin merupakan obat pilihan (drug of choice), walaupun di
rumah sakit kota-kota besar perlu dipertimbangkan kemungkinan
adanya resistensi. Obat ini tidak dipakai lagi karena tidak praktis,
diberikan IM dengan dosis tinggi, dan semakin sering terjadi syok
anafilaktik.
b) Ampisilin
13
PIODERMA

Dosisnya 4x500 mg, diberikan 1 jam sebelum makan. Dosis anak


50-100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
c) Amoksisilin
Dosisnya sama dengan ampsilin, dosis anak 25-50 mg/kgBB/hari
dibagi dalam 3 dosis. Kelebihannya lebih praktis karena dapat
diberikan setelah makan. Juga cepat absorbsi dibandingkan dengan
ampisilin sehingga konsentrasi dalam plasma lebih tinggi.
d) Golongan obat penisilin resisten-penisilinase
Yang termasuk golongan obat ini, contohnya: oksasilin,
dikloksasilin, flukloksasilin. Dosis kloksasilin 3 x 250 mg/hari
sebelum makan. Dosis flukloksasilin untuk anak-anak adalah 6,25-
11,25 mg/kgBB/hari dibagidalam 4 dosis.

2) Linkomisin dan Klindamisin


Dosis linkomisin 3 x 500 mg sehari. Klindamisin diabsorbsi lebih baik
karena itu dosisnya lebih kecil, yakni 4 x 300-450 mg sehari. Dosis
linkomisin untuk anak yaitu 30-60 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4
dosis, sedangkan klindamisin 8-16 mg/kgBB/hari atau sapai 20
mg/kgBB/hari pada infeksi berat, dibagi dalam 3-4 dosis. Obat ini
efektif untuk pioderma disamping golongan obat penisilin resisten-
penisilinase. Efek samping yang disebut di kepustakaan berupa colitis
pseudomembranosa, belum pernah ditemukan. Linkomisin gar tidak
dipakai lagi dan diganti dengan klindamisin karena potensi
antibakterialnya lebih besar, efek sampingnya lebih sedikit, pada
pemberian pe oral tidak terlalu dihambat oleh adanya makanan dalam
lambung.

3) Eritromisin
Dosisnya 4x 500 mg sehari per os. Efektivitasnya kurang dibandingkan
dengan linkomisin/klindamisin dan obat golongan resisten-
penisilinase. Sering member rasa tak enak dilambung. Dosis
linkomisin untuk anak yaitu 30-5mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis.

14
PIODERMA

4) Sefalosporin
Pada pioderma yang berat atau yang tidak member respon dengan
obat-obatan tersebut diatas, dapat dipakai sefalosporin. Ada 4 generasi
yang berkhasiat untuk kuman positif-gram ialah generasi I, juga
generasi IV. Contohya sefadroksil dari generasi I dengan dosis untuk
orang dewasa2 x 500 m sehari atau 2 x 1000 mg sehari (per oral),
sedangkan dosis untuk anak 25-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.

11. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN


Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada bisul adalah :
[Link] hangat selama 15 menit satu/dua kali sehari
b. Setelah bisul pecah, jaga bagian tersebut selalu bersih sampai kulit sembuh
[Link] tangan sebelum menyiapkan makanan untuk mencegah penularan
infeksi
d. Periksa dokter bila gejala tidak berkurang.

12. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada pemeriksaan laboratorik (darah tepi) terdapat leukositosis. Pada


kasus yang kronis dan sukar sembuh dilakukan kultur dan tes resistensi. Ada
kemungkinan penyebabnya bukan stafilokokus melainkan kuman negative-
Gram. Hasil tes resistensi hanya bersifat menyokong, invivo tidak selalu
sesuai dengan in vitro.

13. PROGNOSIS

Umumnya baik, salkan mendapatkan penanganan yang adekuat dan


faktor penyebab dapat dihilangkan, dan prognosis menjadi kurang baik bila
terjadi komplikasi.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
15
PIODERMA

a. Identitas klien yang meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin, dann
status.
b. Riwayat kesehatan: Pada umumnya pasien mengeluh Pasien mengeluh
nyeri, badan terasa panas, gatal-gatal pada kulit, terdapat luka pada kulit.
c. Riwayat penyakit saat ini : Pada pasien dengan penyakit Addison gejala
yang sering muncul ialah pada gejala awal : mengeluh nyeri, badan terasa
panas, mual muntah, gatal-gatal pada kulit, terdapat luka pada kulit, tidak
bisa tidur/kurang tidur, malu dengan kondisi sakitnya, dan mengatakan
tidak mengetahui tentang penyakitnya.
d. Riwayat penyakit dahulu : Perlu dikaji apakah klien pernah menderita
infeksi pada kulit, dermatitis, tumor kulit.
e. Riwayat penyakit keluarga : Perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang
pernah mengalami penyakit yang sama / penyakit kulit yang lain.
f. Pola Nutrisi
Kebiasaan pola makan yang kurang bersih (misalnya : makanan yang
kurang higinies). Anoreksia, mual/muntah. Perubahan pada
kelembapan/turgor kulit, edema.
g. Pola eliminasi
Perubahan pola defikasi, BAB dan BAK dilakukan sendiri.
h. Pola aktivitas
Px nampak gelisah, cemas, malu dengan kondisi penyakitnya
sehinggamengakibatkan gangguan pada pola aktivitasnya, tingkat stress
tinggi.
i. Pola istirahat
Perubahan pada pola tidur dan waktu tidur pada malam hari, adanya
faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti : nyeri, ansietas, dan gagal-
gatal.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri yang berhubungan dengan nekrosis jaringan.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penumpukan sel radang.
c. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan ulkus.

16
PIODERMA

d. Hipertermi berhubungan dengan proses infalamasi.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO NO PERENCANAAN
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
DX
1 1 setelah diberikan 1. Kaji skala nyeri 1. Perubahan karakter, lokasi,
askep selama ... x 24 2. Dorong ekspresi, perasaan intensitas nyeri dapt
jam nyeri terkontrol tentang nyeri mengindikasikan

dengan 3. Ajarkan teknik relaksasi, komplikasi

kriteria hasil : distraksi, massage, guiding 2. Pernyataan memungkinkan


imajenery pengungkapan emosi dan
- Pasien tidak
4. Berikan aktivitas terapeutik apat meningkatkan
tampak meringis
tepat sesuai dengan kondisi mekanisme koping
- Skala nyeri 0
dan usia pasien 3. Memfokuskan kembali
( tidak nyeri)
5. Kolaborasi pemberian pehatian, meningkatkan
- Pasien tampak
analgesik sesuai indikasi relaksasi dan meningkatkan
lebih rileks
rasa control yang dapat
- Ukuran
menurunkan
pioderma ketergantungan
mengecil farmakologis
4. Membantu mengurangi
konsentrasi nyeri yang
dialami dan memfokuskan
kembali perhatian
5. Perubahan metode untuk
penghilangan nyeri
2 2 Setelah dilakukan 1. Kaji/catat ukuran atau warna, 1. Memberikan informasi dasar
tindakan kedalaman luka dan kondisi tentang kebutuhan dan

keperawatan sekitar luka. petunjuk tentang sirkulasi

selama….. kerusakan 2. Menjaga kebersihan kulit


dan mencegah komplikasi
integritas kulit pasien 2. Anjurkan pasien untuk
menjaga kebersihan kulit 3. Maserasi pada kulit yang
teratasi dengan
dengan cara mandi sehari 2 sehat dapat menyebabkan
kriteria hasil:
kali pecahnya kulit dan

17
PIODERMA

- Integritas kulit 3. Lindungi kulit yang sehat perluasan kelainan primer


yang baik bisa terhadap kemungkinan 4. Pioderma memerlukan air
dipertahankan maserasi agar fleksibelitas kulit tetap

(sensasi, 4. Beri nasehat kepada pasien terjaga. Pengolesan cream

elastisitas, untuk menjaga agar kulit tetap atau lotion untuk mencegah
lembab dan fleksibel dengan agar kulit tidak menjadi
temperatur,
pengolesan cream atau lotion kasar, retak dan bersisik
hidrasi,
5. Kolaborasi dalam pemberian obat 5. Mencegah atau mengontrol
pigmentasi)
topical infeksi
- Tidak ada
luka/lesi pada kulit
- Perfusi
jaringan baik
- Mampu
melindungi kulit
dan
mempertahankan
kelembaban kulit
dan perawatan
alami
- Menunjukkan
terjadinya proses
penyembuhan
luka

3 3 setelah diberikan 1. Kaji adanya gangguan pada 1. Gangguan citra diri akan
askep selama ... x 24 citra diri pasien menyertai setiap penyakit

jam gangguan citra 2. Berikan kesempatan untuk atau keadaan yang tampak

diri teratasi dengan pengungkapan, dengarkan nyata bagi pasien. Kesan

dengan cara terbuka dan tidak seseorang terhadap dirinya


kriteria hasil :
menghakimi untuk sendiri akan berpengaruh
- Menge
pada konsep diri
mbangkan
18
PIODERMA

peningkatan mengekspresikan perasaan. 2. Pasien membutuhkan


kemauan untuk 3. Bantu pasien yang cemas pengalaman didengarkan
menerima dalam mengembangkan dan dipahami

keadaan diri kemampuan untuk menilai diri 3. Menetralkan kecemasan

- Mengik dan mengenali diri serta yang tidak perlu terjadi dan
mengatasi masalah memulihkan realitas situasi
uti dan turut
4. Dorong pasien untuk 4. Membantu dalam
berpartisipasi
bersosialisasi dengan orang lain meningkatkan sosialisasi
dalam tindakan
dan Bantu pasien kea rah dan penerimaan diri
perawatan
penerimaan diri
mandiri
- Melapo
rkan perasaan
dalam
pengendalian
situasi
- Mengu
atkan kembali
dukungan positif
dari diri sendiri
- mengu
tarakan perhatian
terhadap diri
sendiri yang lebih
sehat
- Tampa
k tidak begitu
memprihatinkan
kondisi
- Mengg
unakan tekhnik
menyembunyikan

19
PIODERMA

kekurangan dan
menekankan
tekhnik untuk
meningkatkan
penampilan
4 4 setelah diberikan 1. Pantau suhu pasien ( derajat 1. Suhu 38,9-41derajat C
dan pola) menunjukkan proses
askep selama ... x 24 infeksius
jam gangguan citra 2. Berikan kompres hangat
2. Kompres akan membantu
diri teratasi dengan vaskularisasi menjadi
kriteria hasil : 3. Anjurkan pasien untuk banyak lancer.
minum
- Suhu 3. Mencegah dehidrasi yang
mungkin terjadi karena
36 – 37C proses peradangan.
- Nadi
dan RR dalam
rentang normal
- Merasa
nyaman

4. EVALUASI

Diagnosa 1
 Pasien tidak tampak meringis
 Skala nyeri 0 ( tidak nyeri)
 Pasien tampak lebih rileks
 Ukuran pioderma mengecil

Diagnosa 2
 Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas,
temperatur, hidrasi, pigmentasi)
 Tidak ada luka/lesi pada kulit
 Perfusi jaringan baik
20
PIODERMA

 Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan


perawatan alami
 Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka

Diagnosa 3
 Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri
 Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan mandiri
 Melaporkan perasaan dalam pengendalian situasi
 Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri
 mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang lebih sehat
 Tampak tidak begitu memprihatinkan kondisi
 Menggunakan tekhnik menyembunyikan kekurangan dan menekankan
tekhnik untuk meningkatkan penampilan

Diagnosa 4
 Suhu 36 – 37C
 Nadi dan RR dalam rentang normal
 Merasa nyaman

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Pioderma adalah infeksi bakteri pada kulit primer atau sekunder. Infeksi kulit
primer berawal dari kulit yang sebelumnya tampak normal dan biasanya infeksi ini
disebabkan oleh satu macam mikroorganisme misalnya staphylococcus aureus,
sedangkan infeksi sekunder disebabkan oleh disrupsi keutuhan kulit karena cedera
atau pembedahan. ( buku Keperawatan Medikal Bedah).

Penyebab pioderma adalah infeksi bakteri pada folikel (akar) rambut di kulit, yang
disebabkan oleh bakteri misalnya staphylococcus aureus yang merupakan sel-sel
berbentuk bola atau coccus.

21
PIODERMA

Klasifikasi penyakit pioderma : Impetigo, Folikulitis, Furunkel atau bisul, Abses


Multipel kelenjar keringat, Erisipelas dan selulitis, Staphylococcal scalded skin
sindrome

Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC

Duarsa, W., Pindha, S., Bratiartha, Adiguna, S., Wardhana, Darmada, Wiraguna,
Nusantara, A. 2007. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Kulit
dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Denpasar, Fakultas
Kedokteran Udayana, Denpasar.

[Link]. Adhi Djuanda, dr Mochtar Hamzah. dr Siti [Link] Penyakit


Kulit dan [Link]:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

22
PIODERMA

23

Anda mungkin juga menyukai