JAWABAN DISKUSI KELOMPOK 8
KEBIJAKAN MONETER
1. Ida Ayu Putu Puspa Adnyani_1807531008_Dalam keadaan perekonomian Indonesia
yg tidak stabil sekarang ini, bagaimanakah kebijakan moneter yang dilakukan Bank
Sentral dalam menstabilkan perekonomian akibat covid-19 ini dan menurut kalian apakah
sejauh ini kebijakan tersebut sudah dikatakan efektif?
Jawab: Akibat covid ini berbagai kebijakan dikeluarkan mulai dari pemerintah,
Banksentral, World Bank dan banyak pihak yang membicarakan dampak yang
ditimbulkan dari covid. Selain langkah kebijakan untuk memperkuat sektor kesehatan,
otoritas juga menaruh perhatian terhadap upaya untuk mengatasi dampak keterpurukan
ekonomi dengan meluncurkan berbagai stimulus atau kebijakan. Respons kebijakan
untuk mengatasi dampak COVID-19 secara umum dapat dikelompokkan dalam empat
kategori, yaitu kebijakan fiskal, moneter, makroprudensial, dan emergency liquidity.
Sasaran kebijakan juga sangat luas mulai dari rumah tangga, korporasi, UMKM,
pemerintah daerah, serta menyasar berbagai sektor ekonomi. Salah satu otoritas yang
mengeluarkan kebijakan adalah Bank Sentral (Bank Indonesia). Terkait kebijakan
moneter yang dilakukan Bank Sentral seperti :Kebijakan penurunan suku bunga juga
diiringi dengan instrumen kebijakan lain. Bank sentral melonggarkan giro wajib
minimum dan menempuh kebijakan unconventional (quantitative easing/QE) melalui
pembelian surat berharga pemerintah dan swasta. Batas pembelian surat berharga
ditingkatkan, bahkan the Fed tidak membatasi jumlahnya (unlimited). Bank sentral juga
merilis kebijakan yang memastikan pasar keuangan tetap berjalan, dengan melakukan
transaksi di money market, serta menjamin ketersediaan likuiditas pada sistem perbankan
untuk kelancaran penyaluran kredit. Kondisi yang memburuk juga mendorong otoritas
moneter beberapa negara memberikan dukungan finansial pada korporasi besar antara
lain kepada perusahaan penerbangan, dan juga kepada pemerintah daerah. Terkait efektif
atau tidaknya, menurut kami cukup efektif kebijakan yang dikeluarkan tersebut, sebab
kebijakan moneter akomodatif telah meredakan fluktuasi pasar keuangan dan
membangun confidence pelaku pasar. Indeks harga saham juga mengalami peningkatan
dan aliran modal mulai kembali masuk ke emerging market. Dukungan kepada korporasi
dan UMKM juga diharapkan dapat mencegah kebangkrutan dan menekan pemutusan
hubungan kerja.
2. Ni Putu Nadia Putri Febrianti_1807531023_Pada video presentasi dikatakan bahwa
suatu negara itu lebih sering mengalami devaluasi dibandingkan revaluasi. Faktor-faktor
apa saja yang menyebabkan mengapa devaluasi itu lebih sering terjadi atau lebih sering
dialami oleh suatu negara?
Jawab: Devaluasi sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dalam kegiatan impor.
Semakin banyak masyarakat melakukan impor barang maka akan semakin besar pula
kemungkinan terjadinya devaluasi. Tingginya volume barang dari luar negeri yang tidak
diimbangi dengan ekspor barang menjadikan terjadinya devaluasi. Jika impor barang
terus meningkat, permintaan untuk konversi nilai mata uang lokal juga meningkat.
Permintaan yang semakin tinggi ini pun akan naik dan nilai rupiah akan menurun.
Diputuskannya kebijakan devaluasi oleh pemerintah sebagai bentuk mitigasi
menstabilkan ekonomi negara. Secara singkatnya, penyebab terjadinya devaluasi yaitu
aktivitas impor yang tinggi tanpa diimbangi ekspor yang tinggi pulas seperti bahan dasar,
elektronik maupun kebutuhan yang lainnya. Penyebab selanjutnya yaitu kegiatan ekspor
yang hanya pada biota makanan dan laut saja. Selain kedua penyebab tersebut, ada
penyebab lain yaitu tingkat pengangguran yang tinggi. Semakin tinggi tingkat
pengangguran maka akan semakin cepat terjadinya devaluasi.
3. Ni Kadek Dwi Putri Antari_1807531039_Alat kebijakan moneter salah satunya adalah
kebijakan lain dimana di dalamnya terdapat kebijakan devaluasi yaitu mengurangi nilai
mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Apakah suatu negara boleh
melakukan kebijakan devaluasi sesuai keinginannya sendiri? Dan Syarat atau kriteria-
kriteria apa saja yang diperlukan untuk melakukan devaluasi tersebut?
Jawab: Terkait apakah suatu negara boleh melakukan kebijakan devaluasi sesuai
keinginannya sendiri ? Sudah tentu tidak boleh. Kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan
sudah tentu mempertimbangkan banyak hal termasuk kebijakan devaluasi, baik dari
kondisi ekonominya, memikirkan orang banyak, memikirkan risiko – risiko yang
mungkin akan dilami kelika kebijakan dikeluarkan, dan banyak lainnya karena akan
berpengaruh terhadap perekonomian negara. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan tidak
bisa hanya sesuai keinginan sendiri. Kebijakan devaluasi ini hanya bisa dilakukan oleh
negara yang menganut sistem kurs tetap sehingga di Indonesia saat itu tidak
memungkinkan untuk mengeluarkan kebijakan devaluasi karena Indonesia saat ini
menggunakan sistem kurs mengambang. Kriteria-kriteria apa saja yang diperlukan untuk
melakukan devaluasi. Devaluasi dilakukan ketika
a) Nilai mata uang tidak stabil
b) Melihat nilai impor terlalu tinggi
c) Neraca perdagangan tidak seimbang
d) Permintaan mata uang asing tinggi
Menurut kami kondisi – kondisi tersebut akan mendorong banksentral untuk
mengeluarkan kebijakan devaluasi.
4. Ni Nengah Loriyani_1807531006_Dijelaskan bahwa salah satu alat kebijakan moter
lainnya yang diterapkan oleh bank sentral adalah imbauan moral, pertanyaan saya
seberapa efektifkah penerapan kebijakan imbauan moral ini sebagai alat pengendalian
moneter atau jumlah uang yang beredar di masyarakat?
Jawab: Bank Sentral dapat melakukan himbauan moral terhadap perbankan dengan cara
mengadakan pertemuan langsung antara bank sentral dengan pimpinan-pimpinan bank
umum. Biasanya himbauan moral merupakan pernyataan bank sentral (misalnya oleh
Gubernur Bank Indonesia) yang bersifat mengarahkan atau memberi informasi yang lebih
bersifat makro. Informasi tersebut untuk dijadikan masukan bagi bank-bank umum dalam
pengelolaan aset dan kewajibannya. Pada dasarnya Instrumen ini digunakan untuk
mendukung efektifitas kebijakan moneter lainnya yang dilakukan bank sentral. Dan
sampai saat ini pun masih terdapat hubungan baik antara bank Indonesia dengan manajer
bank dan pelanggan besar, sehingga instrument himbauan moral ini masih bisa efektif
dan dilaksanakan di samping kebijakan – kebijakan moneter yang lain.
5. Anak Agung Sagung Dewi Laksmi_1807531028_Instrumen kebijakan moneter lainnya
salah satunya adalah pergantian uang. Dikatakan bahwa pergantian uang tersebut
diturunkan dengan persentase tertentu tanpa ada penggantian untuk jumlah uang yang
diturunkan. Indonesia juga pernah melakukan kebijakan ini, apakah dalam
pelaksanaannya telah efektif dilakukan untuk mengurangi uang yang beredar di
masyarakat ?
Jawab: Pergantian uang, kebijakan ini adalah mengganti uang lama dengan uang baru.
dengan contoh perbandingan uang lama dengan nilai Rp 1.000 diganti dengan uang baru
dengan nominal satu rupiah. Ini pernah digunakan pada akhir pemerintahan Soekarno
atau awal pemerintahan Suharto. Pada waktu itu masyarakat yang mempunyai uang
kertas pecahan sepuluh ribuan merasa binggung dan bersedia memblanjakan uangnya
seberapapun mendapat barang atau jasa. Kebijakan pergantian uang ini memang akan
membuat masyarakat bingung, nominal uang, tabungan, deposito yang sebelumnya ganjil
harus dikonversikan berapa. Sehingga kebijakan ini harus memberikan informasi yang
benar dan jelas kepada masyarakat agar tidak terjadi kebingungan yang berujung
ketidakpercayaan masyarakat terhadap kebijakan yang dikeluarkan. Akibat dari kebijakan
ini bukannya menekan angka inflasi, melainkan tingkat inflasi semakin tinggi. Sehingga
kebijakan pergantian uang pada masa itu kurang efektif dilakukan.
6. I Gusti Ayu Agung Damayanti_1807531004_ Izin bertanya kepada kelompok 8_Selain
dari 3 cara yang dijelaskan untuk mencegah Capital Flight, apakah terdapat cara lain yang
dapat dilakukan? Serta upaya apa yang dilakukan untuk tetap dapat menciptakan kondisi
sosial politik yang kondusif?
Jawab: Menjaga inflasi agar tetap rendah, dimana inflasi yang tinggi bisa mengurangi
tingkat pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasinya. Sebaliknya jika tingkat
inflasi suatu negara mengalami penurunan, maka hal ini akan merupakan sinyal yang
positif bagi investor seiring dengan turunnya risiko daya beli uang dan resiko penurunan
pendapatan riil. Pemerintah bisa mengatur sistem keuangan agar tidak mudah
disalahgunakan dan tidak mudah dilakukan pelarian modal keluar untuk menghindari
kewajiban pajak karena pemegang uang akan memilih tempat yang lebih tenang dan lebih
safety untuk menyimpan uang mereka. Sementara BI bisa berperan melakukan berbagai
langkah memperkuat kondisi fundamental ekonomi. Seperti kebijakan suku bunga (BI
Rate) hingga pengetatan uang kredit perumahan. BI nggak harus dengan suku bunga. Kita
kombinasikan dengan kebijakan kurs, LDR (pembatasan rasio pinjaman terhadap
simpanan), dan LTV (rasio pinjaman terhadap nilai agunan). Upaya untuk tetap dapat
menciptakan kondisi sosial-politik yang kondusif adalah dengan meningkatkan keamanan
dan ketertiban dalam masyarakat dan juga penegakan hukum yang lebih tegas dan jelas.
7. Putu Dinda Sulistia Putri_1807531055_Capital flight merupakan arus modal keluar
jangka pendek untuk tujuan spekulasi atau yang disebabkan karena ketidakpastian situasi
ekonomi dan politik di dalam negeri, apakah kondisi saat ini sudah dapat dikatakan
mengalami capital flight? Apabila sudah bagaimana cara pemerintah menanggulangi atau
mengurangi hal tersebut?
Jawab: ya, dalam periode Januari-Maret lalu arus modal keluar dari pasar keuangan
Indonesia mencapai Rp 145.28 triliun dimana jumlah ini lebih besar dibandingkan
dengan krisis sebelumnya tahun 2008 yang sebesar Rp 69.9 triliun. Nah, dalam
menangani ini dimana Indonesia merupakan salah satu anggota negara G20 dan dalam
menangani masalah capital flight ini Konferensi Tingkat Tinggi G20 menyepakati sebuah
terobosan kebijakan untuk membantu negara-negara berkembang dan pendapatan rendah
mendapat fasilitas bantuan ketika menghadapi tekanan likuiditas dan nilai tukar akibat
pandemi covid-19. Dimana dalam konferensi tersebut akan dilakukan upaya yang disebut
direct swap line dari IMF ke seluruh negara di dunia yang mengalami capital flight (arus
modal keluar). Terobosan ini dilakukan untuk mencegah negara-negara yang tadinya
tidak menghadapi masalah sekarang akan menghadapi masalah foreign exchange dan
likuiditas. Direct swap line artinya adanya pengaturan antara 2 bank sentral untuk
menjaga agar mata uang tersedia bagi bank di negara lain. Pemerintah Indonesia sendiri
sudah melakukan realokasi APBN 2020 untuk mendukung pencegahan dan penyebaran
virus corona. Selain itu, seluruh negara juga menerapkan social safety net yang diberikan
bukan kepada kelompok miskin tetapi pekerja yang di PHK. Pemerintah Indonesia juga
sudah mengupayakan mekanisme BLT (bantuan langsung tunai), dalam sub sektor
perbankan, pemerintah sudah melakukan relaksasi utang dan juga pajak yang diharapkan
dalam memperbaiki kondisi ekonomi agar kembali stabil. Tetapi saat ini periode 9-12
november BI telah mencatat adanya aliran modal asing masuk sebesar Rp 7,18 triliun.
8. Gusti Ayu Made Dwi Trisnadewi_1807531037_Tadi dikatakan kebijakan moneter
devaluasi dapat meningkatkan daya saing produk ekspor. Apakah saat ini kebijakan
devaluasi cocok untuk diterapkan di Indonesia mengingat Indonesia masih banyak
melakukan import? Dan bagaimanakah keefektifan kebijakan devaluasi yang pernah
dilakukan di Indonesia sebelumnya?
Jawab: devaluasi itu dilakukan atas kebijaksanaan pemerintah dan pemerintah hanya
menentukan kurs mata uangnya kalau sistem devisa yang dipakainya memperkenankan
campur tangan pemerintah. Sejak oktober 1997, Indonesia sudah menerapkan Rupiah
yang dibiarkan mengambang (free floating) yang mana nilai tukar itu akan ditentukan
oleh mekanisme atau kekuatan pasar dan tidak ada campur tangan pemerintah sehingga
tidak ada peluang lagi untuk mengadakan devaluasi. Di Indonesia, devaluasi pernah
beberapa kali dilakukan, Seperti yang terjadi pada zaman Orde Baru pada September
1986 pemerintah pimpinan Soeharto melalui menteri keuangan Radius Prawiro pernah
mendepresiasi rupiah dari Rp1.134 per dolar AS menjadi Rp1.664 per dolar AS. Hal ini
dilakukan untuk menggenjot ekspor komoditas Indonesia yang kala itu masih tergantung
pada sektor minyak dan gas (migas). Kebijakan ini ternyata sangat efektif menggenjot
ekspor Indonesia yang sebelumnya mengalami penurunan
9. Wayan Mila Cahya Sari_1807531027_Pada video presentasi dijelaskan bahwa salah
satu cara untuk mencegah capital flight adalah mengendalikan fluktuasi rupiah terhadap
mata uang asing. Apa saja faktor yang perlu diperhatikan dalam mengendalikan fluktuasi
rupiah terhadap mata uang asing tersebut? Dan bagaimana bentuk kebijakan pemerintah
dalam menghadapi hal tersebut?
Jawab: faktor yang perlu diperhatikan dalam mengendalikan fluktuasi rupiah terhadap
mata uang asing, antara lain:
a. Inflasi, inflasi yang lebih tinggi dibandingkan negara lainnya menyebabkan kurs mata
uang negara tersebut dapat melemah.
b. Tingkat bunga, kenaikan tingkat suku bunga di suatu negara dapat mendorong
terjadinya pengalihan dana atau instrument keuangan dari mata uang dengan tingkat
bunga rendah ke mata uang dengan tingkat bunga yang lebih tinggi.
c. Independensi bank sentral, negara yang mempunyai bank sentral yang independen
akan cenderung mempunyai mata uang yang lebih kuat dan juga sebaliknya.
d. Pertumbuhan ekonomi, negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi
akan menarik banyak investor dengan begitu akan menyebabkan naiknya permintaan
terhadap mata uang tersebut.
Adapun langkah BI dan pemerintah dalam menstabilkan nilai tukar rupiah:
a. Menyesuaikan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate.
b. BI meningkatkan volume intervensi di pasar valuta asing dengan membeli surat
berharga negara di pasar sekunder.
c. Menjaga inflasi dengan jumlah barang dan jasa harus cukup dengan meningkatkan
produksi dan menjaga permintaan.
10. Ni Kadek Darmiti_1807531019_Dikatakan bahwa pada tahun 2004 dana yang mengalir
ke luar negeri sebesar US$ 758.65 juta. Dalam hal ini penyebabnya adalah adanya
pemilihan presiden secara langsung untuk pertama kalinya yang diprediksi akan
mengalami kerisuhan. Lalu pertanyaannya, apa sebenarnya kaitan antara dana yang
mengalir ke luar negeri dengan kerisuhan tersebut dan apakah hanya hal tersebut yang
menjadi alasan pada tahun 2004 dana mengalir ke luar negeri?
Jawab: Kaitan antara dana yang mengalir ke luar negeri dengan kerisuhan itu dimana
capital flow itu dipengaruhi oleh kondisi sosial-politik yang tidak kondusif, apabila
kondisi politik di Indonesia itu tidak kondusif dapat berpengaruh terhadap iklim investasi
di Indonesia sehingga akan banyak investor asing yang takut atau ragu menanamkan
modalnya di Indonesia karena ketidakstabilan tersebut. Ya, pada tahun 2004 berdasarkan
data statistic ekonomi keuangan Indonesia, adanya pemilihan presiden secara langsung
pertama kali itu yang kemudian muncul kerisuhan menyebabkan terjadinya capital flight
pada kuartal pertama sebesar 758.65 dimana berdasarkan data tersebut untuk kuartal
kedua sampai keempat tahun 2004 tersebut aliran modal asing sudah kembali masuk ke
Indonesia karena kondisi politiknya yang sudah kembali kondusif.
11. Ni Kadek Astri Winanti_1807531001_Salah satu upaya negara Indonesia dalam
mengatasi pelemahan ekonomi akibat pandemic covid-19 adalah dengan melakukan
relaksasi kebijakan moneter. Menurut kelompok kalian apakah hal tersebut sudah tepat?
Lalu adakah dampak negative yang ditimbulkan dengan adanya relaksasi kebijakan
moneter?
Jawaban: Relaksasi kebijakan moneter merupakan salah satu upaya mengatasi pelemahan
ekonomi akibat Pandemi Covid-19. Melalui relaksasi kebijakan moneter ini terdapat
beberapa hal yang diterapkan antara lain:
a. Diterbitkannya Perpu No. 1 Tahun 2020 yang berisi kewenangan yang dilakukan
oleh BI seperti membeli Surat Utang Negara/Surat Berharga Syariah Negara jangka
panjang di pasar perdana untuk membantu pemerintah mengatasi Covid-19
dikarenakan Pasar tidak bisa menyerap seluruh Surat Berharga Negara yg
diterbitkan. Dalam hal ini, BI telah menambah Likuiditas sekitar Rp130 triliun.
Kemudian, BI juga membeli Surat Repo Surat Berharga yang dimiliki Lembaga
Penjamin Simpanan untk penanganan Solvabilitas Bank. Terakhir adalah mengatur
pengelolaan lalu lintas devisa bagi penduduk Indonesia termasuk ketentuan
penyerahan, repatriasi dan konversi devisa dalam rangka kestabilan makro ekonomi
dan sistem keuangan.
b. BI juga melakukan relaksasi ketentuan bagi investor asing terkait lindung nilai dan
posisi devisa neto yg terdiri atas penggunaan rekening rupian dalam negeri bagi
investor asing sebagai underlying transaksi dalam Domestic Non Delivery Forward,
sehingga mendorong lebih banyak lindung nilai atas kepemilikan rupiah di
Indonesia.
c. Menurunkan suku bunga acuan yaitu sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% untuk
memitigasi dampak Covid-19 ke perekonomian tanah air. Sedangkan GWM valuta
asing juga turun dari 8% menjadi 4%.
d. Relaksasi terhadap GWM Rupiah dengan penurunan sebesar 50 bps menjadi 5,5%.
Relaksasi GWM ini menambah Likuiditas perbankan sebesar Rp 651,54 Triliun yang
terdiri dari penurunan GWM sekitar Rp155 Triliun dan ekspansi moneter sekita Rp
480,7 triliun untuk membantu eksportir dan importir dalam pemulihan ekonomi
nasional sejalan untuk percepatan realisasi anggaran dan program restrukturisasi
kredit perbankan.
Langkah yang dilakukan BI ini tentu menjadi langkah yang tepat untuk menjaga
stabilitas ekonomi dan juga agar berada dalam kondisi yang baik serta dapat
meningkatkan investasi di sektor riil. Selain itu diharapkan terdapat peningkatan pada
output perekonomian secara agregat. Langkah ini tentu belum dirasakan keberhasilannya
dikarenakan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang turun sampai minus 5,32% pada
kuartal kedua dan mengalami peningkatan di kuarta ke-3 menjadi minus 3,49% yang
mana menimbulkan resesi akibat lemahnya permintaan masyarakat karena pembatasan
kegiatan perekonomian.
12. Gede Surya Wibawa_1807531021_Salah satu faktor yang mempengaruhi kebijakan
moneter adalah situasi politik. Bagaimana pengaruh situasi politik suatu negara terhadap
kebijakan moneter yang disusun dan apakah terdapat cara dalam mengatasi hal tersebut?
Jawaban: Keadaan politik suatu negara tentu mempengaruhi bagaimana kebijakan yang
diambil oleh pelaku ekonomi, baik dari pemerintah maupun dari bank sentral itu sendiri.
Hal ini terkait dengan kebijakan seorang politisi yang berkuasa pada saat itu dimana dia
akan meyakinkan pemilih bahwa program ekonomi yang dicanangkan akan
menguntungkan masyarakat. Misalnya seperti harga pangan yang murah, adanya
lapangan pekerjaan, sumber daya lain yang dapat ditingkatkan kebermanfaatannya serta
indikator-indikator ekonomi lain. Selain itu, adanya isu-isu yang diangkat untuk
mengkritisi pencapaian pemerintah yang sedang berkuasa menjadikan situasi politik
semakin kurang kondusif dalam pelaksanaannya. Seperti misalnya kita ambil contoh pada
masa orde baru dimana pemerintah mengeluarkan dua kebijakan politik, yaitu kebijakan
politik dalam negeri dan luar negeri. Masing-masing kebijakan ini dikeluarkan
berdasarkan kebutuhan negara Indonesia yang menguntungkan dan mengedepankan
kepentingan orang banyak. Dari sisi kebijakan ekonomi pemerintah mencanangkan
program rehabilitasi ekonomi orde baru yang berlandasakan pada TAP MPRS
[Link]/1966 yang mengharuskan masalah perbaikan ekonomi rakyat diatas segala
soal-soal nasional yang lain termasuk politik. Sehingga pemerintah pada saat itu berusaha
untuk memperbaiki dampak hiperinflasi dan menyusun APBN.
Selain itu pemerintah juga berusaha mengurusi hutang luar negeri dan mencari hutang
lagi dengan bunga rendah agar bisa melakukan rehabilitasi dan juga untuk pembangunan
ekonomi sampai ke periode selanjutnya. alhasil kebijakan ini berhasil yang menunjukkan
hiperinflasi yg semula 650% pada 1966 menjadi 8,88% pada th 1971. Namun terdapat
dampak negative dari kebijakan diatas dimana kepemimpinan yang cenderung otoriter
karena pendekatan keamanan yg dilakukan, adanya partai Golkar yang menjadi alat
utama penstabil perekonomian, sementara partai demokrasi Indonesia dan partai
persatuan pembangunan hanya sebagai pendamping. Beberapa solusi yang diterapkan
dalam menjaga situasi politik agar tetap stabil yaitu dengan mengurangi jumlah partai
politik yang ada, dan juga adanya cabinet pembangunan I pada 6 juni 1968 dengan
program Pancakrida Kabinet Pembangunan yang menciptakan stabilitas ekonomi dan
politik sebagai syarat keberhasilann Repelita dan pemilu saat itu.
13. Ni Kadek Mega Cahya Puspita_1807531026_mengenai alat kebijakan moneter salah
satunya pengaturan kredit atau pembiayaan, bagaimana pengaturan kredit yang dilakukan
oleh bank Indonesia untuk meminumkan kredit macet agar peredaran uang tetap stabil?
Jawaban: Ada beberapa langkah yang dilakukan Bank Indonesia dalam pengaturan kredit
untuk meminimumkan kredit macet antara lain: Untuk mengatasi tingginya inflasi, pada
tanggal 9 April 1974, pemerintah melancarkan program stabilisasi. Di bidang moneter,
program ini tertuang dalam kebijakan moneter secara langsung melalui langkah-langkah
berikut:
1. menetapkan batas tertinggi (pagu) pertambahan pemberian pinjaman dan tagihan-
tagihan serta aktiva lainnya yang pengaruh moneternya sama dengan pemberian
pinjaman;
2. menaikkan suku bunga pinjaman secara selektif dan mempertahankan suku bunga
pinjaman berprioritas tinggi seperti Bimas, Kredit Investasi Kecil (KIK), dan Kredit
Modal Kerja Permanen (KMKP);
3. menaikkan persentase likuiditas minimum untuk deposito berjangka dan tabungan
dalam rupiah, dan menaikkan cadangan wajib valuta asing bank-bank pada BI;
4. menaikkan suku bunga deposito berjangka INPRES dan untuk pertama kalinya
mengadakan deposito berjangka waktu 18 bulan dan 24 bulan;
5. menaikkan suku bunga Tabungan Pembangunan Nasional (TABANAS);
6. melarang bank-bank pemerintah menerima deposito berjangka INPRES yang
dananya berasal dari luar negeri;
7. memperketat pelaksanaan pembatasan pemasukan dana dari luar negeri untuk
perbankan maupun untuk perusahaan-perusahaan pemerintah;
8. mengharuskan wajib lapor dan simpanan wajib tanpa bunga pada BI sebesar 30%
untuk pinjaman luar negeri tertentu bagi perusahaan swasta dan lembaga keuangan
bukan bank.
14. Sang Ayu Kompiang Intan Sri Rahayu_1807531029_Pada masa orba, campur tangan
pemerintah dikurangi dalam pengambilan kebijakan. Kesempatan diberikan pada sektor-
sektor lain dan kekuatan pasar. Sektor manakah pada era tersebut yg akhirnya berperan
besar dalam perekonomian masa itu? Apakah ada kegagalan dari keputusan pemerintah
orba tersebut?
Jawaban: Pada masa orde baru, terdapat beberapa sektor yang memiliki peranan besar
dalam perkembangan perekonomian negara antara lain sebagai berikut
a. Sektor pertanian yang tumbuh cepat yang didukung dengan peningkatan produktivitas
[Link] awal orde baru, Indonesia masih menjadi pengimpor beras terbesar didunia
yang mana produksi beras hanya mencapai 12 juta ton pada tahun 1969. Kemudian
pada tahun 1970-1979 mengalami peningkatan sebesar 7,5 ton. Namun pada tahun
1980-1989 mengalami peningkatan menjadi 28 juta ton dan menjadikan sebagai
negara swasembada beras. Rata-rata produksi beras mengalami peningkatan sebesar
4% per tahun pada masa orde baru ini.
b. Berhasil menyediakan kebutuhan papan. Selama periode 1978-1983 melalui Perum
Perumnas pemerintah telah membangun 209.872 unit perumahan dan selama
pemerintahan Presiden Soeharto secara keseluruhan telah terbangun 441.923 unit
rumah. Selama periode 1978-1983 Perum Perumnas telah menjadi perintis munculnya
kawasan pemukiman bagi penduduk kalangan menengan ke bawah. Melalui kebijakan
KPR (Kredit Kepemilikan Rumah), masyarakat juga dipermudah dalam penyediaan
rumah tempat tinggal.
c. Adanya pengembangan industri-industri strategis berbasis high tech. Melalui Kepres
No.59 Tahun 1983, ia menetapkan 10 BUMN strategis dan dalam perkembangannya
bertambah dengan sejumlah industri strategis lainnya. Beberapa BUMN strategis pada
era reformasi telah dijual (privatisasi) dengan alasan efisensi. BUMN-BUMN strategis
berbasis high tech yang dibangun atau dikembangkan pada era pemerintahan Presiden
Soeharto antara lain PT IPTN, PT PAL, PT PINDAD, PT DAHANA, PT INKA, PT
INTI, PT KRAKATU STEEL, PT TELKOM DAN PT INDOSAT.
Disamping perkembangan sektor dalam perekonomian, terdapat kegagalan keputusan
pemerintah pada masa orde baru tersebut, yaitu ditandainya dengan kebijakan pemerintah
yang dikenal dengan Paket Oktober 1988 (Pakto 1988) yang mendorong ekspansi besar-
besaran bisnis perbankan, namun tidak diimbangi dengan sistem pengawasan yang
memadai. Rapuhnya sistem dalam perbankan itu berimbas pada tatanan dunia bisnis
sebagaimana krisis yang yang terjadi pada 1997 macetnya dana mikro diperusahaan akibat
goncangan disektor perbankan mengakibatkan pihak swasta kesulitan memenuhi
kewajiban jangka pendek untuk membayar cicilan utang.
15. I Gede Yoga Surya Utama_1807531035_Indonesia tentunya dalam beberapa tahun ke
belakang pernah melewati tahun-tahun krisis, salah satunya adalah krisis moneter
subprime mortgage yang terjadi pada tahun 2008. Lalu bagaimana langkah pemerintah
Indonesia melalui kebijakan moneter yang ditetapkan pada saat itu dan apakah
pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?
Jawaban: Subprime mortgage merupakan istilah untuk kredit perumahan (mortgage)
yang diberikan kepada debitor dengan sejarah kredit yang buruk atau belum memiliki
sejarah kredit sama sekali, sehingga digolongkan sebagai kredit yang berisiko tinggi.
Krisis ini disebabkan oleh fenomena bubble pasar sub-prime mortgage di Amerika
Serikat. Sektor yang terkena dampak paling besar yaitu sektor industri keuangan,
khususnya Bank/Investment. Pusat krisis yang terjadi di US lalu menyebar ke seluruh
dunia, terutama ke Jepang dan Eropa. Krisis ini berdampak ke beberapa sektor di
Indonesia antara lain
A. Dampak terhadap harga saham dan obligasi
Pengaruh krisis sub-prime dapat dilihat dari melemahnya harga saham perbankan di
seluruh dunia. Aksi jual saham-saham perbankan di dunia juga berimbas ke
Indonesia. Meskipun perbankan Indonesia tidak ada yang memiliki surat hutang sub-
prime mortgage tersebut (Bank Indonesia melarang pembelian surat hutang
berperingkat rendah), dan karena harga saham perbankan di negara-negara tetangga
jatuh, banyak investor asing menjual saham perbankan dan nonperbankan di
Indonesia. Aksi ini juga banyak diikuti investor lokal yang didukung oleh fakta
bahwa harga saham dan obligasi di Indonesia sudah naik cukup tinggi, sehingga
investor melakukan aksi ambil untung. Akibatnya, harga saham dan obligasi pun
turun. Kepemilikan asing pada Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) menurun tajam pada bulan Juli dan Agustus 2007. Mereka
mengalihkan dana mereka pada equity atau risk free treasury bill. Pada bulan Agustus
2007, harga-harga saham di BEJ (Bursa Efek Jakarta) mengalami koreksi, akibat
masih berlanjutnya tekanan di bursa Wall Street dan regional, menyusul meluasnya
dampak krisis sub-prime mortgage di dunia. anyaknya koreksi mengakibatkan IHSG
turun 89,112 poin atau 4,11 % pada satu jam pertama perdagangan tanggal 15
Agustus 2007. Hitungan suku bunga bagi surat berharga utang yang membayar
pendapatan tetap (fixed income securities) akan naik. Penurunan harga sekuritas-
sekuritas dapat mengakibatkan kerugian (capital loss) yang dapat menggerus modal
perusahaan, dan bagi bank hal ini akan menurunkan modal dan Capital Adequacy
Ratio (CAR) yang merupakan sebuah indikator sehat atau tidaknya sebuah bank. Bagi
individu, kekayaan yang mereka simpan dalam bentuk sekuritas akan terkikis habis.
B. Dampak terhadap nilai tukar Rupiah
Dampak krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat masuk terutama melalui
mekanisme nilai tukar Rupiah. Adanya penarikan dana besar-besaran dalam valas
(khususnya USD) oleh lembaga keuangan kreditor dan investor di Amerika Serikat
menyebabkan kenaikan yang cukup besar terhadap permintaan valas (khususnya
USD). Rupiah pun mengalami depresiasi yang sangat tajam terhadap USD. Bahkan,
nilai tukar Rupiah sempat mencapai Rp. 12.900/USD pada November
[Link] nilai tukar Rupiah terhadap USD tentu saja sangat memberatkan
aktivitas impor Indonesia, terutama impor barang elektronik, komoditas pertanian,
ataupun barang otomotif yang harganya menjadi lebih mahal. Sektor produksi juga
terpengaruh dikarenakan pembelian alat-alat produksi impor yang semakin mahal dan
juga pembayaran dari hutang-hutang yang jatuh tempo.
Adapun langkah yang diambil pemerintah Indonesia antara lain:
a. Pemerintah membentuk sebuah tim yang terdiri dari Boediono (Gubernur Bank BI),
Sri Mulyani (Menko Perekonomian), serta Miranda S. Goeltoem (Deputi Gubernur
Senior BI) untuk menanggulangi krisis global tersebut. Dalam merumuskan langkah-
langkah, tiga ekonom tersebut menilai bahwa sector moneter adalah sector paling
urgent untuk diselamatkan. Maka dari itu, BI pun secara bertahap mulai menaikkan
tingkat suku bunganya sejak bulan Mei 2008 sebesar 8,25%. Dengan tingkat suku
bunga yang tinggi, BI berhasil menarik masyarakat untuk menyimpan dana mereka di
bank. Mulai pertengahan tahun 2009, nilai tukar Rupiah cenderung semakin menguat
terhadap Dollar secara konsisten.
b. Pemerintah juga memutuskan untuk menaikkan jaminan atas deposito hingga senilai
dua milyar dan juga menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM). Hal ini terutama untuk
menyerap dana dari masyarakat dan meningkatkan likuiditas perbankan.