BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pembahasan Teori
1. Membaca
a. Pengertian Membaca
Berkaitan dengan membaca banyak pendapat ahli yang
mengemukakan mengenai pengertian membaca. Tarigan (2008:7)
mengungkapkan bahwa membaca adalah suatu proses yang
dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh
pesan, yang hendaknya disampaikan oleh penulis melalui media
kata-kata/bahasa tulisan. Dengan demikian, membaca adalah suatu
usaha yang dilakukan pembaca untuk memperoleh informasi dari
bahan yang dibaca.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:119) membaca
adalah melihat serta memahami isi dari apa yang ditulis (dengan
melisankan atau hanya dalam hati), mengeja atau melafalkan yang
tertulis, mengucapkan, memperhitungkan, dan memahami.
Finochiaro dan Bonono dalam Tarigan (2008:9) menyatakan
bahwa membaca adalah proses memetik serta memahami arti atau
makna yang terkandung didalam bahasa tertulis.
Anderson dalam Tarigan (2008:7) berpendapat bahwa
membaca dari segi linguistik adalah proses penyandian kembali dan
pembacaan sandi yang mengcakup proses menghubungkan kata-kata
7
8
tulis dengan makna bahasa lisan untuk mengubah tulisan atau
cetakan menjadi bunyi yang bermakna.
Berdasarkan pendapat pakar di atas dapat disimpulkan bahwa
membaca adalah suatu kegiatan atau proses yang dilakukan
pembaca untuk memperoleh informasi atau pesan yang hendak
disampaikan penulis melalui media kata-kata dalam bahan bacaan
yang dibaca.
Tujuan Membaca Menurut Paul S. Anderson dalam
Widyamartaya (1992:90) adalah untuk:
1) Memperoleh fakta atau perincian-perincian (reading for detail and
facts) yaitu membaca untuk mengetahui penemuan-penemuan
yang telah dilakukan oleh toko, apa yang terjadi pada tokoh, dan
lain-lain.
2) Memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas) yaitu membaca
untuk mengetahui masalah, apa yang dialami tokoh, dan
merangkum hal-hal yang dilakukan tokoh untuk mencapai
tujuannya.
3) Mengetahui urutan atau organisasi cerita (reading for sequence or
ornganization), yaitu membaca untuk menegtahui setiap bagian
cerita.
4) Menyimpulkan (reading for interference), yaitu membaca untuk
mengetahui mengapa tokoh berbuat demikian, apa yang
9
dimaksudkan pengarang dengan cerita atau bacaan itu, mengapa
terjadi perubahan pada tokoh.
5) Mengelompokkan (reading for classify), yaitu membaca untuk
menemukan dan mengetahui hal-hal yang tidak biasa,apa yang
lucu dalam cerita atau bacaan, apakah cerita itu benar atau tidak.
6) Menilai (reading for evaluate), yaitu membaca untuk mengetahui
apakah tokoh berhasil, apakah baik berbuat seperti toko.
7) Membandingkan atau mepertentangkan (reading for compare or
contest), yaitu membaca untuk mengetahui bagaimana caranya
tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kebiasaan hidup
yang kita kenal, bagimana dua buah cerita mempunyai kesamaan.
Kegiatan membaca dibedakan berdasarkan tujuan, jenis
wacana yang dibaca, cara yang dilakukan kegiatan, dan tempat
kegiatan. Berikut ini dipaparkan beberapa jenis kegiatan yang bisa
dilakukan disekolah atau diluar sekolah.
a) Membaca teknik
Kegiatan ini bertujuan melatih siswa menyuarakan lambang-
lambang tertulis, melalui kegiatan ini siswa dibiasakan membaca
dengan itonasi yang wajar, tekanan yang baik, lafal yang benar.
Disini guru harus melatih siswa mengucapkan kata dengan kalimat
dan lafal yang baku. Dengan demikian guru mulai dengan proses
pengindonesiaan anak-anak indonesia yang sebagian besar lahir
sebagai anak daerah. Dari uraian itu jelaslah bahwa membaca
10
teknik dilakukan dengan suara keras. Di kelas I, II, dan III jenis
kegiatan inilah yang sering dilakukan. Guru harus memberikan
contoh bagaimana mengucapkan kata-kata dan kalimat dalam
bahasa indonesia dengan baik dan benar.
b) Membaca dalam hati
Jenis kegiatan membaca ini perlu segera dilatihkan setelah
siswa menguasai semua huruf. Pada kegiatan membaca ini siswa
dilatih membaca tanpa mengeluarkan suara atau gerak bibir.
Sebelum kegiatan dimulai guru menjelaskan kata-kata atau kalimat
yang diperkirakan belum dikuasai siswa. Kemudian bahan bacaan
diberikan dan siswa mulai membaca. Hal ini dilakukan untuk
membiasakan siswa memahami bacaan dengan membaca satu kali
saja.
Selanjutnya guru memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang
isi bacaan. Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut guru memantau
apakah siswa selesai membaca dan apakah memahami isi bacaan.
Tentu saja pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sesuai dengan
tingkat kognitif siswa.
c) Membaca indah
Pada hakikatnya membaca indah ialah membaca teknik juga.
Tetapi bahan bacaan yang digunakan adalah karya sastra, seperti
puisi dan prosa. Kegiatan ini lebih bertujuan apresiatif. siswa
diharapkan dapat membaca sebagai ungkapan penghayatannya
11
terhadap karya sastra. Jenis pembaca ini dapat dipadukan dengan
pokok bahasan apresiasi terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
d) Membaca bahasa Indonesia
Kegiatan membaca bahasa ditekankan pada sisi kebahasaan,
bukan isinya. Jadi, kegiatan ini berdasarkan bacaan yang diberikan
siswa berlatih mengenal makna dan penggunaan kata ungkapan,
serta kalimat.
e) Membaca cepat
Tujuan kegiatan membaca cepat adalah agar siswa mampu
dengan cepat menangkap isi bacaan. Kemampuan ini sangat penting
karena informasi mengenai ilmu dan teknologi disampaikan melalui
tulisan. Untuk mencapai kecepatan membaca yang memadai, siswa
harus berlatih mempercepat gerakan mata dan memperluas
penglihatannya pada pada waktu menghadapi bacaan. Dalam hal ini
yang harus dihindari membaca kata demi kata. Ini berarti bahwa
sekali melihat siswa dapat membaca beberapa kata. Jenis kegiatan
membaca cepat dimasukkan dalam kegiatan dalam membaca
skimming (sekilas) dan membaca scanning (sepintas).
f) Membaca pustaka
Kegiatan membaca ini dilakukan diluar jam pelajaran. Jadi
dapat bersifat kokurikuler, ekstrakurikuler, bahkan individual. Dalam
hal ini, yang harus diperhatikan ialah bagaimana menumbuhkan
minat baca anak, tidak saja terhadap bacaan hiburan, tetapi bacaan
12
yang bersifat pengetahuan. Untuk itu sekolah perlu menyediakan
buku-buku bacaan yang beraneka ragam, yang disajikan dalam
bahasa yang sesuai dengan lingkungan siswa SD. Kegiatan
membaca pustaka terarah dapat memberikan sumbangan yang
sangat berrti dalam pengembangan minat serta kemampuan
memahami bacaan pada siswa.
g) Membaca permulaan
Membaca permulaan diberikan pada kelas awal dengan tujuan
agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan
tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk membaca
lanjut. Diberbagai Negara pengajaran membaca permulaan ini
merupakan persoalan yang sangat rumit. Di Indonesia pelaksanaan
pengajaran membaca permulaan dewasa ini dilakukan dengan
menggunakan bahan bacaan dalam bahasa Indonesia. Padahal
sebagian besar anak Indonesia lahir dan tumbuh sebagai insan
daerah yang menggunakan bahasa daerah. Penggunaan bahasa
Indonesia dalam bahan bacaan untuk pengajaran baca permulaan itu
dimaksudkan untuk segera kemungkinan mengindonesiakan mereka.
Mungkin ini lebih sulit dilaksanakan terutama pada tahap permulaan
dari pada jika diberikan dalam bahasa daerah. Namun selain
ekonomis, pada masa selanjutnya siswa akan lebih banyak
memperoleh manfaat.
13
Tarigan (2008: 13) berpendapat bahwa kegiatan membaca
dibedakan ke dalam jenis membaca bersuara atau membaca nyaring
(oral reading atau reading aloud) dan membaca dalam hati (silent
reading). Penjenisan ini berdasarkan atas perbedaan tujuan yang
hendak dicapai. Jenis pertama tepat untuk mencapai penguasaan
hal-hal yang bersifat mekanis seperti pengenalan bentuk huruf dan
unsur-unsur linguistik. Jenis kedua sesuai untuk tujuan yang bersifat
pemahaman. Selanjutnya kegiatan membaca dalam hati di bedakan
lagi menjadi kegiatan membaca ekstensif, yang meliputi kegiatan
survey (survey reading), dan kegiatan membaca intensif, meliputi
kegiatan membaca telah isi serta membaca telah bahasa. Kegiatan
membaca yang bersifat telah isi dibedakan menjadi kegiatan
membaca teliti, membaca pemahan, membaca kritis dan membaca
ide-ide, sedangkan kegiatan membaca yang bersifat telah bahasa
meliputi kegiatan membaca bahasa dan membaca sastra.
2. Keterampilan Membaca
Kridalaksana (1984:122) mengemukakan bahwa membaca adalah
menggali informasi dari teks, baik dari yang berupa tulisan maupun
gambar, atau membaca adalah keterampilan mengenal, memahami
bahasa tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis.
Tarigan (1983) mengatakan bahwa mambaca adalah suatu peka
untuk mendorong kita lebih efektif. Tarigan (1979:10) menyebutkan tiga
komponen dalam keterampilan membaca :
14
a. Pengenalan terhadap aksara-aksara serta tanda-tanda baca.
b. Kolerasi aksara-aksara serta tanda-tanda baca unsur-unsur linguistik
yang formal.
c. Hubungan lebih lanjut dari A dan B tentang makna.
Tarigan (1979:10) menyatakan bahwa membaca adalah suatu
proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk
memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui
media kata-kata atau bahasa tulis.
Klienk dkk dalam Farida (2005:5) menyatakan bahwa membaca
mencakup: (1) membaca merupakan suatu proses, (2) membaca
adalah strategis, dan (3) membaca merupakan interaktif.
Harja Sujana dalam Somdaya (2011:5) menyatakan bahwa
membaca adalah suatu kegiatan komunikasi interaksi yang
memberikan kesempatan kepada pembaca dan penulis untuk
membawa latar belakang dan hasrat masing-masing.
Menurut Akhmad (1996:88) kemampuan membaca adalah
kemampuan untuk memahami informasi yang terkandung dalam
materi cetak.
Mulyati (1997:65) menyatakan bahwa membaca adalah
kesanggupan melihat serta memahami isi dari pada yang tertulis
dengan melisankan atau hanya dalam hati. Selain itu, membaca
melibatkan tiga unsur, yaitu makna sebagai unsur bacaan, kata
sebagai unsur yang membawakan makna, dan simbol tertulis sebagai
unsur visual.
15
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta
dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak
disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.
Membaca merupakan suatu keterampilan kompleks yang
melibatkan serangkaian keterampilan yang lebih kecil lainnya. Secara
garis besar aspek-aspek membaca dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1) Keterampilan yang bersifat mekanis mencakup;
a) pengenalan bentuk huruf,
b) pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem, kata, frasa pola
klausa, kalimat, dan lain sebagainya),
c) pengenalan hubungan atau pola ejaan dan bunyi,
d) kecepatan membaca bertaraf lambat,
e) kemampuan berbahasa (kebahasaan),
f) pengetahuan tentang teknik membaca dan mengenali tanda
baca,
g) tujuan membaca.
2) Keterampilan yang bersifat pemahaman yaitu, keterampilan
memahami makna tersurat;
a) Keterampilan memahami makna kata,
b) Keterampilan memahami makna frase,
c) Keterampilan memahami makna kalimat,
d) Keterampilan memahami makna paragraf,
e) Keterampilan memahami makna subbab,
f) Keterampilan memahami makna bab,
16
g) Memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, dan
retorikal),
h) Memahami signifikasi atau makna.
3. Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman juga dapat diartikan sebagai suatu
proses mengolah bacaan secara kritis, kreatif yang dilakukan dengan
tujuan untuk memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh dan
mendalam tentang isi bacaan yang dibacanya.
Hal yang perlu diperhatikan dalam membaca bahan bacaan.
Bahan bacaan yang memiliki tingkat kesukaran tinggi akan menjadi
kendala bagi pembaca dalam memahami bahan bacaan. Sebaliknya
siswa akan dapat memahami secara baik bahan bacaan yang
tergolong mudah. Oleh sebab itu bahan bacaan yang akan disajikan
hendaklah dipilih yang memilih tingkat keterbacaan tinggi, bentuk
kalimatnya efektif, tidak ada unsur asing yang tidak perlu, dan
memiliki pola penalaran yang runtut.
Aspek lain yang juga berpengaruh dalam membaca
pemahaman adalah kondisi umum jasmani dan tonus (tegang otot)
yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-
sendinya. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi bila disertai
pusing-pusing kepala dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif)
sehingga materi yang dibaca kurang atau tidak berbekas. Kondisi
organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indra
17
penglihatan juga sangat mempengaruhi kemampuan menyerap
informasi dan pengetahuan.
Aspek lain yang tidak dapat diabaikan adalah aspek keluasan
wawasan, tingkat kecerdasan, sikap, bakat, minat, dan motivasi.
Aspek-aspek ini dapat memberikan kontribusi yang baik terhadap
tingkat keterampilan membaca pemahaman.
1) Prinsip-prinsip membaca pemahaman
Pemahaman membaca adalah proses kompleks yang
melibatkan pemanfataan berbagai kemampuan yang berhasil
maupun yang gagal. Setelah membaca, khususnya kita mampu
mengingat informasi dalam bacaan tersebut.
Menurut Mc Laughlin dan Allen dalam Farida (2011:3-4)
prinsip-prinsip membaca pemahaman yang didasarkan pada
penelitian yang paling mempengaruhi pemahaman membaca ialah
seperti yang dilakukan berikut:
a) Pemahaman merupakan proses konstruktivis sosial.
b) Keseimbangan kemahiraksaraan.
c) Guru pembaca professional (unggul) mempengaruhi belajar siswa.
d) Pembaca yang baik memegang peranan yang strategis dan
berperan aktif dalam proses membaca.
e) Membaca hendaknya terjadi dalam konteks yang bermakna.
f) Siswa menemukan manfaat membaca yang berasal dari berbagai
bahan bacaan pada berbagai tingkat kelas.
18
g) Perkembangan kosa kata dan pembelajaran memengaruhi
pemahaman membaca.
h) Pengikut sertaan adalah suatu faktor kunci pada proses
pemahaman.
i) Asesmen yang dinamis yang menginformasikan pembelajaran
membaca pemahaman.
4. Metode Scramble
Istilah scramble berasal dari bahasa Inggris yang dapat
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “perebutan, pertarungan,
perjuangan’’. Metode scramble biasanya dipakai oleh anak-anak
sebagai permainan yang pada dasarnya merupakan latihan
pengembangan dan peningkatan wawasan pemilikan kosakata-
kosakata dan huruf-huruf yang tersedia.
Menurut Robert B. Taylor (2001:303), scramble merupakan
salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan
konsentrasi dan kecepatan berpikir siswa. Metode ini mengharuskan
siswa untuk menggabungkan otak kanan dan otak kiri. Dalam
metode ini, mereka tidak hanya diminta untuk menjawab soal, tetapi
juga menerka cepat jawaban soal yang sudah tersedia namun
masih dalam kondisi acak. Ketetapan dan kecepatan berpikir dalam
menjawab soal menjadi salah satu kunci permainan metode
pembelajaran scramble.
Menurut Suparno dalam Mulidin (2010:22), scramble adalah
salah satu permainan bahasa. Pada hakikatnya permainan bahasa
19
merupakan suatu aktivitas untuk memperoleh keterampilan tertentu
dengan cara mengembirakan.
Teknik permainan ini pada prinsipnya menghendaki siswa
supaya melakukan penyusunan atau pengurutan suatu struktur
bahasa yang sebelumnya dengan sengaja telah dikacaukan
susunannya.
Berdasarkan sifat jawabannya, scramble terdiri atas bermacam-
macam bentuk. Salah satunya adalah scramble wacana, merupakan
permainan menyusun wacana logis berdasarkan kalimat atau
paragraf acak. Hasil susunan wacana dalam permainan scramble
hendaknya logis dan bermakna ( Budinuryanto, dkk 1997:11).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan scramble wacana.
Jadi scramble bacaan adalah permainan yang dilakukan oleh anak-
anak untuk latihan mengembangkan dan meningkatkan wawasan
tentang bacanaan dan mencari jawaban atas bacanaan yang telah
diacak paragrafnya menjadi sebuah bacaan yang logis.
Model pembelajaran scramble dapat dilakukan seorang guru
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Guru menyiapkan sebuah wacana, kemudian keluarkan kalimat-
kalimat yang terdapat dalam wacana tersebut kedalam kartu-
kartu kalimat,
2) Guru membuat kartu soal beserta kartu jawaban yang diacak
nomornya sesuai metari bahan ajar teks yang telah dibagikan
sebelumnya dan membagikan kartu soal tersebut,
20
3) Siswa dalam kelompok masing-masing mengerjakan soal dan
mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok, sebelumnya
jawaban telah di acak sedemikian sedemikian rupa.
4) Siswa diharuskan dapat menyusun kata jawaban yang telah
tersedia dalam waktu yang telah ditentukan. Setelah selesai
mengerjakan soal, hasil pekerjaan siswa dikumpulkan dan
dilakukan pemeriksaan.
5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Scramble
Dengan bermain, siswa akan memperoleh kegembiraan atau
kesenangan. Selain itu, keterampilan tertentu akan diperolehnya
dengan tidak sengaja. Dalam setiap permainan terdapat unsur
rintangan dan tantangan yang harus dihadapi dan dipecahkan.
Secara tidak langsung permainan juga dapat memupuk berbagai
sifat yang positif misalnya: solidaritas, sportivitas, kreativitas, dan
rasa percaya diri.
Selain kelebihan di atas ada kelemahan dalam permainan,
yaitu tidak baik untuk evaluasi hasil belajar siswa sebab
mengandung unsur spekulasi yang besar. Siswa yang menang
belum tentu siswa yang pandai. Secara rinci kelebihan dan
kekurangan permainan bahasa yang diungkapkan Suparno dalam
Mulidin (2010:24) adalah sebagai berikut:
a. Kelebihan
1) Permainan bahasa merupakan media pengajaran bahasa yang
cocok untuk penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan
21
(KTSP). Aktivitas yang dilakukan siswa dalam permainan
bahasa ini bukan saja aktivitas fisik, tetapi juga aktivitas
mental.
2) Permainan bahasa dapat dipakai untuk membangkitkan kembali
kegairahan belajar siswa yang sudah mulai lesu.
3) Sifat kompetitif yang ada dalam permainan dapat mendorong
siswa berlomba-lomba maju.
4) Selain untuk menimbulkan kegembiraan dan melatih
keterampilan tertentu permainan bahasa juga dapat memupuk
rasa solidaritas (terutama untuk permainan beregu).
5) Materi yang dikomunikasikan lewat permainan bahasa biasanya
mengesan sehingga sukar dilupakan.
b. Kekurangan
1) Pada umumnya jumlah siswa dalam satu kelas terlalu besar.
Hal tersebut akan menimbulkan kesulitan untuk melibatkan
seluruh siswa dalam permainan. Siswa yang tdak terlibat itu
justru mengganggu permainan yang sedang berlangsung.
2) Tidak semua materi pelajaran dapat dikomunikasikan lewat
media permainan.
3) Permainan bahasa biasanya menimbulkan suara gaduh. Hal
tersebut jelas akan mengganggu kelas yang berdekatan.
4) Banyak yang memperlakukan permainan bahasa sebagai
kegiatan untuk mengisi waktu kosong saja.
22
5) Permainan bahasa banyak mengandung unsur spekulasi.
Siswa yang menang dalam suatu permainan belum dapat
dijadikan ukuran bahwa siswa tersebut lebih pandai dari pada
siswa lain.
Berdasarkan kelebihan dan kekurangan dalam permainan
bahasa diatas, metode scramble dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan membaca pemahaman. Dalam pengajaran membaca
pemahaman anak diajak untuk berlatih menyusun suatu organisasi
tulisan yang secara sengaja sebelumnya dikacaukan, anak diminta
menata ulang susunan tulisan yang kacau menjadi suatu organisasi
tulisan yang utuh dan bermakna.
6. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Metode Scramble
Model pembelajaran metode scramble, memiliki kesamaan dengan
model pembelajaran kooperatif lainnya, yaitu siswa dikelompokkan secara
acak berdasarkan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, atau jika
memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis
kelamin yang berbeda-beda. model pembelajaran scramble dapat
dilakukan seorang guru dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Guru menyiapkan sebuah wacana, kemudian keluarkan kalimat-kalimat
yang terdapat dalam wacana tersebut ke dalam kartu-kartu kalimat
2. Guru membuat kartu soal beserta kartu jawaban yang di acak
nomornya sesuai materi bahan ajar teks yang telah dibagikan
sebelumnya dan membagikan kartu soal tersebut.
23
3. Siswa dalam kelompok masing-masing mengerjakan soal dan mencari
kartu soal untuk jawaban yang cocok, sebelumnya jawaban telah di
acak sedemikian rupa.
4. Siswa diharuskan dapat menyusun kata jawaban yang telah tersedia
dalam waktu yang telah ditentukan. Setelah selesai mengerjakan soal,
hasil pekerjaan siswa dikumpulkan dan dilakukan pemeriksaan.
a) Persiapan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam persiapan ini
yakni:
(1) Menyiapkan teks bacaan, kemudian keluarkan paragraf ke dalam
kartu paragraf. Idealnya guru menyiapkan kartu-kartu paragraf
sebanyak kelompok siswa yang ada. Bila hal ini tidak
memungkinkan, guru cukup menyiapkan kartu-kartu satu set,
selanjutnya setiap kelompok siswa membuat kartu-kartu paragraf
sejenis sendiri.
(2) Setiap kartu hanya mengandung satu paragraf.
(3) Kartu paragraf diberi nomor urut yang susunan pengurutannya
sengaja dikacaukan.
(4) Membagi siswa kedalam kelompok-kelompok yang beranggota 3
sampai 4 orang siswa dalam satu kelompok.
(5) Mengatur posisi tempat duduk agar kelompok yang satu dengan
kelompok yang lain tidak saling mengganggu dan tidak
terganggu. Bila kemungkinan kegiatan ini dilakukan dalam diluar
kelas. Hal ini akan memberikan dampak yang lebih baik karena
24
anak-anak akan berada dalam suasana bermain yang
sebenarnya.
(6) Merencanakan langkah-langkah kegiatan serta menentukan jatah
waktu yang dibutuhkan untuk setiap fase kegiatan yang akan
dilalui dalam kegiatan inti.
b) Kegiatan inti
Beberapa kegiatan yang harus dilalui anak dalam kegiatan
inti:
(1) Setiap kelompok siswa siap dengan perangkat kartu paragraf
yang telah dibagikan guru (atau diproduksi sendiri oleh kelompok
tersebut) untuk didiskusikan dalam kelompok masing-masing.
(2) Setiap kelompok siswa melakukan diskusi kecil dalam
kelompoknya untuk mencari susunan kartu-kartu paragraf yang
dianggap baik dan logis oleh kelompok yang bersangkutan. Alas
an-alasan pemilihan susunan kartu-kartu paragraph harus
dibicarakan dalam kelompok kecil.
(3) Guru memimpin diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan
menganalisis dan mendengar pertanggung jawab setiap kelompok
atas hasil kerja masing-masing kelompok yang telah disepakati
dalam kelompok.
(4) Setelah seluruh kelompok tampil, dialnjutkan perbincangan
tentang pendapatan dan komentar perseorangan dipimpin guru.
25
(5) Setelah diskusi kelompok besar menghasilkan kesepakatan
bersama tentang susunan teks yang dianggap paling logis,
kemudian guru menunjukkan teks aslinya.
(6) Satu orang diminta untuk membacakan teks asli tersebut secara
bergantian. Selanjutnya, melalui kegiatan diskusi kelompok besar
siswa membandingkan, mengkaji, menilai, dan memutuskan
susunan teks mana yang paling baik dan logis.
(7) Pada akhir kegiatan inti, satu dua orang siswa diminta untuk
menceritakan kembali isi teks dengan kata-kata sendiri.
c) Tindak lanjut
Kegiatan tindak lanjut tergantung hasil belajar siswa.
Contoh kegiatan tindak lanjut yang dapat dilakukan antara lain:
(1) Kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas serupa dengan
bahan yang berbeda.
(2) Kegiatan yang menyempurnakan susunan teks asli, jika terdapat
susunan teks asli yang tidak memperlihatkan kelogisan.
(3) Membetulkan kesalahan-kesalahan tata bahasa yang mungkin
ditemukan dalam teks wacana latihan. Satu hal yang penting
dalam metode ini, siswa tidak sekedar berlatih memahami dan
menemukan susunan teks yang baik dan logis, melainkan juga
dilatih untuk berpikir kritis-analitis. Hal-hal yang berkenaan
dengan aspek kebahasaan, kebenaran, ketetapan, struktur
26
kalimat, tanda baca, diksi dapat menjadi perhatian dan
pembincangan siswa.
B. Kerangka pikir
KTSP adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang
disusun oleh dan dilaksanakan masing-masing satuan pendidikan di
Indonesia. KTSP dianggap sebagai kurikulum yang dapat
meningkatkan efektivitas dan efesiensi setiap mata pelajaran dalam
dunia pendidikan. Salah satunya adalah mata pelajaran bahasa
Indonesia yang pada hakikatnya terdiri atas empat aspek
pembelajaran. Keempat aspek tersebut yakni meyimak, menulis,
membaca dan berbicara. Di antara keempat aspek tersebut, penulis
hanya memfokuskan pada aspek membaca yakni membaca
pemahaman. Pembelajaran membaca di sekolah dasar perlu
diberikan tindakan untuk mengatasi masalah yang ada dalam kelas.
Dalam hal ini penulis akan menggunakan metode scramble dalam
tindakan kelas.
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah
siswa kelas IV SD Negeri Nusa Harapan Permai Kota Makassar.
Pembelajaran siswa dilakukan dalam bentuk siklus yang terdiri dari
beberapa tahap yaitu, perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Dari tahap tersebut akan diperoleh data proses dan data hasil. Data
proses berupa unjuk kinerja pada saat proses pembelajaran
27
berlangsung dan penampilan guru saat pembelajaran berlangsung.
Sedangkan data hasil berupa skor atau nilai yang diperoleh siswa
setelah dilakukan tes. Data tersebut kemudian dianalisis untuk
mengetahui bagaimana proses dan hasil setelah memberikan
tindakan pada pembelajaran.
Secara sederhana kerangka pikir dalam penelitian ini
digambarkan dalam bagan berikut:
Pengajaran Bahasa Indenesia KTSP
Menyimak Berbicara Membaca Menulis
a
Membaca Pemahaman
Metode Scramble
Data
Analisis
Temuan
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
C. Hipotesis tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: “ Jika penerapan
metode pembelajaran scramble dilaksanakan dengan benar, hasil
28
belajar membaca pemahaman siswa kelas IV SD Negeri Nusa
Harapan Permai dapat meningkat.’’