Metode ABC (Activity Based Costing)
dalam biaya produksi
Posted by Denny Bagus
Bahan Kuliah Manajemen Keuangan. Metode ABC (Activity Based Costing)merupakan
alternatif lain terhadap metode pembiayaan tradisional atas biaya overhead. Konsep ini
muncul karena dianggap metode tradisional tidak tepat dalam mengalokasikan biaya
overhead ke produksi hanya dengan mengandalkan dasar bahan langsung, upah langsung
ataupun unit produksi saja. Menurut konsep ini pembebanan seperti itu tidak adil dan akan
dapat memberikan informasi keliru dalam pemberian informasi mengenai biaya produksi,
oleh karena itu ABC menawarkan agar pembebanan overhead ini juga didasarkan pada
presentase proporsional kepada biaya lain atau kepada produk. Tetapi kepada kegiatan yang
dilaksanakan untuk memproduksi barang itu, yang diperhatikan adalah unsur yang men
“drive” biaya itu (cost driver) bukan produknya. Kalau konsep ini diterapkan maka keputusan
yang diambil akan lebih tepat dan perusahaan tidak mengalami kerugian hanya karena
kesalahan unit cost.
Pengertian Metode ABC (Activity-Based Costing)
Definisi activity-based costing menurut Maher adalah “a cost method that first assigns costs
to activities and then asigns them to product based on the product consumption of activities.”
(Maher 1997:236).
Definisi lainnya adalah “ABC is method of product costing that focused on the activities
performed to produce product. It then asigns tha cost of activities to product by using cost
drivers that measure the activities performed.” (Weygandt et. Al. 1996:940)
Jadi ABC (Activity-Based Costing) adalah sistem akumulasi biaya dan pembebanan biaya ke
produk dengan menggunakan berbagai cost driver, dilakukan dengan menelusuri biaya dari
aktivitas dan setelah itu menelusuri biaya dari aktivitas ke produk.
Manfaat dan Keterbatasan Metode ABC
Manfaat ABC adalah:
1. Menentukan harga pokok produk secara lebih akurat, terutama untuk menghilangkan
adanya subsidi silang sehingga tidak ada lagi pembebanan harga pokok jenis tertentu terlalu
tinggi (over costing) dan harga pokok jenis produk lain terlalu rendah (under costing).
2. Memperbaiki pembuatan keputusan.
Dengan menggunakan ABC tidak hanya menyajikan informasi yang lebih akurat mengenai
biaya produk, tetapi juga memberikan informasi bagi manajer tentang aktivitas-aktivitas yang
menyebabkan timbulnya biaya khususnya biaya tidak langsung, yang merupakan hal penting
bagi manajemen dalam pengambilan keputusan baik mengenai produk maupun dalam
mengelola aktivitas-aktivitas sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha.
3. Mempertinggi pengendalian terhadap biaya overhead.
Biaya overhead di sebabkan oleh aktivitas-aktivitas yang terjadi di perusahaan. Sistem ABC
memudahkan manajer dalam mengendalikan aktivitas-aktivitas yang menimbulkan biaya
overhead tersebut.
Keterbatasan ABC adalah:
1. Sistem ABC menghendaki data-data yang tidak biasa dikumpulkan oleh suatu perusahaan,
seperti jumlah set-up, jumlah inspeksi, jumlah order yang diterima.
2. Pada ABC pengalokasian biaya overhead pabrik, seperti biaya asuransi dan biaya
penyusutan pabrik ke pusat-pusat aktivitas lebih sulit dilakukan secara akurat karena makin
banyaknya jumlah pusat-pusataktivitas.
Tahap-tahap ABC
Tahap-tahap dalam penerapan ABC adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasikan aktivitas-aktivitas
Pengindentifikasian aktivitas-aktivitas menghendaki adanya daftar jenis-jenis pekerjaan yang
terdapat dalam perusahaan yang berkaitan dengan proses produksi.
b. Membebankan biaya ke aktivitas-aktivitas
Setiap kali suatu aktivitas ditetapkan, maka biaya pelaksanaan aktivitas tersebut ditentukan.
c. Menentukan activity driver
Langkah berikutnya adalah menentukan activity driver untuk masing-masing aktivitas yang
merupakan faktor penyebab pengendali dari aktivitas-aktivitas tersebut.
d. Menentukan tarif
Dalam menentukan tarif ini, total biaya dari setiap aktivitas dibagi dengan total activity driver
yang digunakan untuk aktivitas tersebut.
e. Membebankan biaya ke produk
Langkah selanjutnya adalah mengkalikan tarif yang diperoleh untuk setiap aktivitas tersebut
dengan aktivitas driver yang dikonsumsi oleh tiap-tiap jenis produk yang diproduksi
kemudian membaginya dengan jumlah unit yang diproduksi untuk tiap produk.