0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan12 halaman

Pengertian dan Tujuan Skrining Kesehatan

Bab ini membahas skrining masalah kesehatan masyarakat, termasuk pengertian, tujuan, jenis, cara melakukan skrining dan uji diagnostik. Skrining bertujuan mendeteksi penyakit dini untuk mendapatkan pengobatan lebih awal agar dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Jenis skrining meliputi skrining masal, terpilih, dan satu penyakit. Uji diagnostik penting untuk mengetahui validitas tes skr

Diunggah oleh

Reza Dewi Lestarii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan12 halaman

Pengertian dan Tujuan Skrining Kesehatan

Bab ini membahas skrining masalah kesehatan masyarakat, termasuk pengertian, tujuan, jenis, cara melakukan skrining dan uji diagnostik. Skrining bertujuan mendeteksi penyakit dini untuk mendapatkan pengobatan lebih awal agar dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Jenis skrining meliputi skrining masal, terpilih, dan satu penyakit. Uji diagnostik penting untuk mengetahui validitas tes skr

Diunggah oleh

Reza Dewi Lestarii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

SKRINING MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT

Deskripsi
Pada bab ini dibahas mengenai pengertian, tujuan, jenis, cara melakukan skrining dan uji
diagnostik.
Tujuan Intruksional Umum
Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami skrining masalah kesehatan masyarakat
Tujuan Intruksional Khusus
1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian skrining;
2. Mahasiswa dapat menjelaskan tujuan skrining;
3. Mahasiswa dapat mengetahui jenis skrining
4. Mahasiswa dapat menjelaskan cara melakukan skrining;
5. Mahasiswa dapat menjelaskan uji diagnostik;

A. Pengertian
Skrining merupakan suatu penerapan tes terhadap orang yang tidak menunjukkan gejala
dengan tujuan mengelompokkan mereka ke dalam kelompok yang mungkin menderita penyakit
tertentu. Skrining adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui suatu
tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang
mungkin menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita.
US Comission on chronic Illnes (1951) telah mendefinisikan skrining sebagai suatu
upaya dalam menduga ciri-ciri suatu penyakit atau kelainan yang belum diketahui dengan cara
menguji, memeriksa atau prosedur lain yang dapat dilakukan dengan cepat.
Definisi lain tentang skrining (screening) untuk pengendalian penyakit adalah
pemeriksaan orang–orang asimptomatik untuk mengklasifikasikan mereka ke dalam kategori
yang diperkirakan mengidap atau diperkirakan tidak mengidap penyakit (as likely or unlikely to
have the disease) yang menjadi obyek skrining.
Skrining bukan alat untuk mendiagnosis, subjek yang ditemukan positif atau
kemungkinan mengidap suatu penyakit tertentu dalam skrining masih perlu dirujuk kembali
untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakan diagnosa. Biasanya kegiatan
skrining bukan berasal dari kemauan penderita tetapi berasal dari petugas kesehatan atau pihak
lain yang ingin mengetahui besarnya kejadian penyakit tertentu.
Skrining merupakan suatu penerapan tes terhadap orang yang tidak menunjukkan gejala
dengan tujuan mengelompokkan mereka ke dalam kelompok yang mungkin menderita penyakit
tertentu. Skrining adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui suatu
tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang
mungkin menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita.
Menurut WHO, skrining merupakan upaya pengenalan penyakit/kelainan yang belum
diketahui dengan menggunakan tes, pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat secara cepat
membedakan orang yang tampak sehat benar-benar sehat dengan tampak sehat tapi
sesungguhnya menderita sakit. (WHO-Regional committeee for Europe 1957).
Sifat dari skrining yaitu :
a. Merupakan deteksi dini penyakit
b. Bukan merupakan alat diagnostik
c. Bagi yang mendapatkan hasil positif dari suatu tes skrining, harus dilakukan pemeriksaan
lebih intensif untuk menentukan apakah benar-benar sakit atau tidak.
d. Bagi yang mendapatkan hasil test positif akan mengikuti tes diagnostik atau prosedur untuk
memastikan adanya penyakit
e. Bagi yang terdiagnosa positif diobati secara intensif agar tidak membahayakan diri ataupun
lingkungannya.

B. Tujuan Skrining
Tujuan skrining adalah untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit
dengan pengobatan dini terhadap kasus–kasus yang ditemukan. Program diagnosis dan
pengobatan dini hampir selalu diarahkan kepada penyakit tidak menular, seperti kanker, diabetes
mellitus, glaukoma, dan lain-lain. Dalam skala tingkatan prevalensi penyakit, deteksi dan
pengobatan dini ini termasuk dalam tingkat prevensi sekunder.
Tujuan skrining adalah mendapatkan keadaan penyakit dalam keadaan dini untuk
memperbaiki prognosis, karena pengobatan dilakukan sebelum penyakit mempunyai
manisfestasi klinik. Selain itu skrining bertujuan untuk mengidentifikasi Infeksi bakteri seperti :
lepra, TBC, dan lain-lain, Infeksi virus seperti hepatitis, Identifikasi Non infeksi seperti :
hipertensi, diabetes, jantung, karsinoma serviks, prostat, glaucoma, Identifikasi Aquired Immuno
Deficiency Syndrome (AIDS), dan lainnya.
Tes atau uji skrining dilakukan untuk menemukan kasus agar mendapatkan perawatan
dan pengobatan, maka dengan tes sensitivitas yang lebih tepat digunakan tanpa memperhatikan
nilai spesifisitas dari tes atau uji skrining tersebut (Solikhah, dkk, 2009)
Semua skrining dengan sasaran pengobatan dini ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi
orang–orang asimtomatik yang berisiko mengindap gangguan serius. Dalam kontek ini, penyakit
adalah setiap karakteristik anatomi (misalnya kanker atau arteiosklerosis), fisiologi (misalnya
kebiasaan merokok) yang berkaitan dengan peningkatan gangguan kesehatan yang serius atau
kematian.

C. Jenis Skrining
a. Skrining Masal (Mass Screening)
Skrining Masal adalah penayringan yang dilakukan pada seluruh penduduk. Misalnya
survey X-ray untuk seluruh penduduk di suatu wilayah
b. Skrining terpilih (Selective screening)
Skrining terpilih adalah penyaringan yang dilakukan terhadap kelompok penduduk
tertentu. Misalnya penyaringan terhadap ibu hamil untuk mengetahui gejala yang klinis yang
mendukung diagnosis pasti Bakteri Vaginosis sehingga dapat dilakukan pengobatan sedini
mungkin
c. Skrining satu penyakit (Single disease screening)
Skrining satu penyakit adalah penyaringan yang hanya ditujukan pada satu jenis penyakit.
Misalnya penyaringan untuk mengetahui karsinoma sevisis uteri dan hipertensi.

D. Cara Melakukan
Syarat-syarat melakukan skrining :
a. Penyakit harus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting
1) Merupakan penyakit yang serius
2) Pengobatan sebelum gejala muncul harus lebih untuk dari setelah muncul gejala
3) Prevalensi penyakit pre-klinik harus tinggi pada populasi
b. Harus ada cara pengobatan yang efektif dan ketersediaan obat
c. Tersedia fasilitas pengobatan dan diagnosa
d. Diketahui stadium simptomatik dini dan masa laten
e. Test harus cocok; nilai sensitivitas dan spesifisitas tinggi dan reliabel
f. Dapat diterima oleh masyarakat
g. Telah dimengerti riwayat alamiah penyakitnya, skrining tidak dilakukan pada penyakit yang
memiliki prognosis baik
h. Harus ada kebijakan yang jelas
i. Biaya harus seimbang atau tidak mahal
j. Penemuan kasus harus terus-menerus
k. Dengan cepat dapat memilih sasaran untuk pemeriksaan lebih lanjut
l. Mudah dilakukan oleh petugas kesehatan
m. Tidak membahayakan yang diperiksa dan pemeriksa
Proses Skrining melipuiti dua tahap, yaitu tahap pertama, dilakukan pemeriksaan
terhadap penduduk risiko tinggi, kemudian bila positif dilanjutkan ke tahap kedua, yaitu
pemeriksaan diagnostik, kemudian bila positif diberi pengobatan (intervensi), dapat digambarkan
sebagai berikut :

Skrining
TAHAP 1 :
Negatif Positif

prosedur
TAHAP 2 :

Faktor Risiko (-) Faktor Risiko (+)

Intervensi

Gambar 1. Diagram Flow untuk tes skrining


Contoh penyakit yang baik untuk diskrining
Hipertensi:
– Masalah Serius, karena mortalitas tinggi dan terdokumentasi
– Pengobatan dini , dapat dilakukan untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas
– Prevalensinya tinggi di populasi, yaitu sekitar 20%

E. Uji Diagnostik
Kriteria uji skrining meliputi, Validitas, Reliabilitas, dan Yield
a. Validitas
Validitas merupakan keakuratan alat ukur atau kemampuan untuk membedakan yang
sakit dan sehat, dan mempunyai 2 komponen:
- Sensitivitas yaitu kemampuan suatu tes mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil
positif dan benar sakit atau kemampuan untuk menentukan orang sakit
- Spesifitas yaitu kemampuan suatu tes mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil
negatif dan benar tidak sakit atau kemampuan untuk menentukan orang tak sakit
Kualitas suatu uji diagnostik dinilai dengan dua parameter, yaitu sensitivitas dan
spesifisitasnya. Kedua parameter ini memiliki nilai yang konstan yaitu (diharapkan) bernilai
sama dimanapun uji dilakukan. Selain itu ada pula kuantitas yang dinamakan nilai prediksi
positif dan nilai prediksi negatif, kedua nilai ini memiliki nilai yang berbeda jika uji dilakukan di
tempat-tempat dengan prevalensi penyakit yang tidak sama.
Pemeriksaan skrining (penapisan) direncanakan agar bisa diterapkan pada kelompok
populasi yang besar, maka pemeriksaan tersebut harus sederhana, cepat dan tidak mahal. Banyak
pertimbangan untuk menilai apakah suatu cara uji dapat dipakai sebagai prosedur pada suatu uji
skrining. Diantarannya yang paling penting adalah uji validitas. Suatu cara uji dikatakan valid
tergantung seberapa jauh mampu membedakan antara yang kemungkinan sakit diantara yang
sehat.
Dari banyak karakteristik umum uji penapisan yang meliputi nilai kepastian, yang sering
dipakai adalah nilai sensitivitas dan spesifisitas. Sensitivitas adalah kemampuan suatu tes untuk
membuktikan yang benar–benar sakit. Spesifisitas adalah kemampuan suatu alat tes untuk
membuktikan yang benar–benar tidak sakit. Bila nilai sensitivitas suatu test meningkat maka
spesifisitasnya akan menurun demikian sebaliknya.
Seperti skining pada penyakit hipertensi esensial bersifat as;mtomatis atau tidak
menimbulkan gejala yang spesifik seperti penyakit lainnya, tetapi penderita hipertensi sering
merasakan keluhan. Penegakan uji diagnosis pada skrining ini adalah berdasarkan gejala klinis
hipertensi seperti :
a. Pusing-pusing
b. Sakit kepala
c. Susah tidur
d. Mudah marah
e. Merasa lelah
f. Epistaksis
g. Nokturia
h. Palpitasi
i. Pusing+sakit kepala+susah tidur+lelah
j. Pusing+sakit kepala+susah tidur
k. Sakit kepala+susah tidur+lelah
l. Pusing+sakit kepala
m. Sakit kepala+susah tidur
n. Pusing + susah tidur
Sebagai contoh baku emas dalam pelaksanaan skrining hipertensi didasarkan pada
pengukuran tekanan darah sistolik (TDS) dan tekanan darah diastolik (TDD) dengan alat ukur
Sphygmomanometer air raksa (mmHg). Kriteria yang digunakan digunakan dalam menegakkan
penyakit hipertensi adalah klasifikasi WHO (1999). Dinyatakan hipertensi bila hasil pengukuran
menunjukkkan tekanan darah sistoliknya sama atau diatas 140 mmHg dan atau tekanan darah
diastolik sama atau diatas 90 mmHg.
Hasil analisis validitas dengan menggunakan tabel 2x2 bertujuan untuk melihat
sensitivitas dan spesifisitas uji skrining gejala klinis malaria yaitu demam periodik, nyeri pada
persendian dan mual yang dibandingkan dengan baku emas yaitu pemeriksaan sediaan darah tepi
secara mikroskopik (Solikhah, dkk, 2009).
Banyak pertimbangan untuk menilai apakah suatu cara uji dapat dipakai secara prosedur
pada suatu uji penapisan. Diantaranya yang paling penting adalah validitas dengan demikian
suatu cara untuk uji dikatakan valid, tergantung seberapa mampu membedakan antara yang
kemungkinan sakit dari yang sehat. Ada banyak ukuran uji validitas yangdiperolehdari tabel 2 x
2 (tabel uji validitas).
Tabel 15 Tabel Uji validitas
Baku Emas
Penyakit Tidak Berpenyakit
Positif Berpenyakit, hasil uji Tidak berpenyakit, tapi ahsil a+b
poistif=positif sebenarnya positif=positif palsu
(a) (b)
Uji
Negatif Berpenyakit, tapi hasil uji Tidak berpenyakit dan hasil uji c+d
negatif=negatif palsu negative=negative sebenarnya
(c) (d)
a+c b+d a+b+c+d

Ukuran–ukuran tersebut adalah:


a. Sensitivitas yaitu persentase hasil positif apabila suatu cara uji dilakukan terhadap penderita
yang berpenyakit (dalam tabel 2 x 2 sebagai a/a+c x 100 %).
b. Spesifisitas yaitu persentase hasil negatif, apabila cara uji tersebut dilakukan terhadap orang
yang tidak sakit (dalam tabel 2 x 2 sebagai d/b+d x 100 %).
c. Nilai duga positif atau Nilai kecermatan positif adalah proporsi yang sakit diantara yang
hasil tes positif atau Positive Predictive Value (PPV) yaitu persentase yang benar–benar
menderita suatu penyakit dari semua hasil uji tapis positif (dalam tabel 2 x 2 sebagai
y=a/a+b x 100 %).
d. Nilai duga negatif Nilai kecermatan negatif adalah proporsi yang tidak sakit diantara hasil
tes negative atau Negative predictive value (NPV) yaitu persentase yang benar–benar tidak
menderita suatu penyakit dari semua hasil uji tapis negatif (dalam tabel 2 x 2 sebagai
z=d/c+d x 100 %)
e. True positive: mereka yang sakit dan dinyatakan positif berdasarkan hasil test
f. False positive: mereka yang sakit tetapi dinyatakan positif berdasarkan hasil test
g. False negative: mereka yang sakit tetapi dinyatakan negatif berdasarkan hasil test
h. True negative:mereka yang tidak sakit dan dinyatakan negatif berdasarkan hasil test
i. False positif rate adalah jumlah hasil tes positif semu dibagi jumlah seluruh hasil tes positif
= (1 – y)
j. False negatif rate adalah jumlah hasil tes negatif semu dibagi jumlah seluruh hasil tes
negatif = (1 - z)
k. Prevalensi yaitu presentase antara positif gold standar dari semua yang di uji (dalam tabel 2
x 2 sebagai a+c/a+b+c+d x 100%)
( )
l. Rasio Likelihood positif yaitu sensitivitas dibanding 1 – spesifisitas atau
( )

( )
m. Rasio Likelihood negatif yaitu 1 – sensitivitas dibanding spesifisitas atau
( )

Contoh :
Misalkan dilakukan tes screening terhadap 150 orang dicurigai menderita penyakit dan
45 orang positif benar, 10 orang positif semu, 5 orang negatif semu, dan 90 orang negatif benar.

Keadaan Penderita
Jumlah
Sakit Tidak sakit

Positif 45 10 55
Hasil tes
Negatif 5 90 95

Jumlah 50 100 150

Maka hasil validitas alat sebagai berikut :


a. Sensitivitas hasil tes = 45/50 = 90%
b. Spesivisitas hasil tes = 90/100 = 90%
c. Nilai kecermatan positif = 45/55 = 82%
d. Nilai kecermatan negatif = 90/95 = 95%
e. False positif rate = 100-82% = 18%
f. False negatif rate = 100-95% = 5%
g. Prevalensi =50/150=33,3%
h. Rasio Likelihood positif yaitu 8,2
i. Rasio Likelihood negatif yaitu 0,1
b. Reliabilitas
Reliabilitas merupakan kemampuan test menghasilkan nilai sama pada individu dengan
kondisi yang sama atau bila tes dilakukan berulang-ulang dan hasilnya konsisten maka disebut
reliabel, hal ini dipengaruhi oleh :
1) Variabilitas alat dan metode yang digunakan dipengaruhi oleh : stabilitas reagen dan
stabilitas alat ukur yang digunakan
2) Variabilitas orang yang diperiksa kondisi fisik, psikis, stadium penyakit, atau penyakit
dalam masa tunas, umumnya variasi ini sulit diukur teutama faktor psikis. Contoh :
pengukuran suhu pada pagi hari akan memberikan hasil yang berbeda dengan siang hari atau
malam hari.
3) Variabilitas pemeriksa : variasi observer/peneliti tergantung pada internal observer yaitu
perbedaan dalam membaca hasil tes pada waktu yang berbeda oleh seorang peneliti.
Kemudian intra observer, yaitu dua orang peneliti akan mempunyai intepretasi berbeda dari
hasil tes.
Upaya mengurangi variasi dapat dilakukan dengan cara :
1) Standardisasi reagen dan alat ukur serta prosedur skrining
2) Pelatihan intensif pemeriksa/observer
3) Penentuan kriteria yang jelas
4) Penerangan kepada orang yang diperiksa
5) Pemeriksaan dilakukan dengan cepat
6) Pengecekan secara periodik
7) Tempat pemeriksaan terpisah
b. Yield
Yield adalah jumlah kasus yang dahulu tidak diketahui dan sekarang diketahui melalui
tes skrining, kemudian di diagnosis dan diobati sebagai hasil. Besarnya yield dipengaruhi oleh
beberapa faktor :
1) Sensitivitas alat uji :
Semakin besar sensitivitas tes, maka semakin besar yield
2) Prevalensi penyakit
Semakin besar prevalensi penyakit, semakin ebsar pula yield
3) Skrining yang dilakukan sebelumnya/penemuan kasus terdahulu
Apabila banyak penemuan kasus terhdahulu, mak semakin besar kemungkinan yield
karena risiko penyakit semakin besar
4) Kesadaran masyarakat
Semakin tinggi kesadaran masyarakat diharapkan semakin tinggi yield
5) Adanya Multiphase Skrining, diharapakan akan semakin besar yield.
Bila alat yg digunakan sensitivitas rendah maka disebut screening tes dengan Yield
rendah.
Penerapan yield terlihat pada hasil skrining hipertensi di Puskesmas Sleman Yogyakarta
menunjukan hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Yield Alat Skrining di Puskesmas Sleman Tahun 2013
Validitas (%)
Gejala
Sensitifitas Spesifisitas NPV PPV
Pusing-pusing 95 26 57 83
Sakit Kepala 80 31 55,1 60
Susah tidur 65 68 68,1 65
Cepat marah 30 73,1 54 50,1
Merasa lelah 50 47 45 53
Pusing-pusing+sakit kepala 80 31 55,1 60
Pusing+susah tidur 65 68 68,1 65
Pusing+sakit kepala+susah tidur 50 47 45 53
Pusing+sakit kepala+susah tidur+cepat 30 73,1 54 50,1
marah+merasa lelah
Heriana C, Murtiningsih B, Prasudi A (2012)
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa pusing-pusing merupakan alat skrining yang
mempunyai nilai sensitivitas tertinggi sebesar 95% sedangkan nilai sensitivitas terendah
ditunjukkan oleh gejala cepat marah dan pusing+sakit kepala+susah tidur+cepat marah+merasa
lelah 30%. Alat skrining dengan nilai spesifisitas 73,1% adalah cepat marah dan pusing+sakit
kepala+susah tidur+cepat marah+merasa lelah serta alat skrining dengan spesifitas terendah
adalah Pusing-pusing sebesar 26% .
Alat skrining yang mempunyai nilai Positif Predictive Value tertinggi adalah pusing-
pusing adalah 83% dan terendah adalah Cepat marah dan pusing+sakit kepala+susah tidur+cepat
marah+merasa 50,1%. Alat skrining yang mempunyai nilai Negatif Predictive Value (NPV)
tertinggi adalah gejala susah tidur dan pusing+susah tidur 68,1% dan terendah adalah dengan
gejala merasa lelah sebesar 45%.
Dari gejala tunggal tersebut setelah dikombinasikan dengan gejala lain ternyata
memberikan nilai sensitivitas dan spesivisitas yang cukup tinggi. Kombinasi antara gejala
Pusing+sakit kepala+susah tidur+cepat marah+merasa lelah merupakan alat skrining dengan
nilai sensitivitas yang tinggi dibandingkan dengan kombinasi gejala lainnya. Kombinasi gejala
pusing+sakit kepala mempunyai nilai sensitivitas 80%, dan nilai spesivisitas 31 % dengan PPV
55% dan NPV 60%. Hal ini menunjukkan masih ada 45% yang sakit dinyatakan tidak sakit dan
40% yang semestinya tidak sakit dinyatakan sakit.
Dengan kata lain yield alat skrining ini mempunyai kemampuan mengidentifikasi
penyakit hipertensi dengan cukup baik. Alat ini diharapkan dapat dipertimbangkan sebagai alat
skrining. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nyoman (2005).
Nyoman melaporkan gejala klinis yang mempunyai validitas tinggi dalam menegakkan diagnosa
hipertensi di masyarakat adalah sakit kepala, pusing-pusing, dan susah tidur dengan nilai
sensitivitas dan spesivisitas masing-masing 98,1 % dan 2,1 % untuk sakit kepala, 96,3% dan 15,6
% untuk susah tidur serta 85,2 % dan 33,4 % untuk pusing-pusing gejala, sedangkan PPV dan
NPV nya berturut-turut 36,1% dan 66,7% sakit kepala, 39,1% dan 88,2 % susah tidur dan 41,8%
dan 80 % untuk gejala pusing-pusing.

F. Latihan Skrining
Sebanyak 64.810 wanita usia 40-60 tahun mengikuti program skrining untuk mendeteksi
Ca mamae melalui mamografi dengan pemeriksaan fisik. Setelah 5 tahun, dari 1.115 hasil tes
skrining yang positif, dikonfirmasi sebanyak 132 terdiagnosis pasti Ca mamae. Sementara pada
63.695 peserta yang hasil tes skriningnya negatif ternyata hanya 45 orang nyata menderita Ca
mamae, Maka berapa:

a. Sensitivitas hasil tes


b. Spesivisitas hasil tes
c. Nilai kecermatan positif
d. Nilai kecermatan negatif
e. False positif rate
f. False negatif rate
g. Prevalensi
h. Rasio Likelihood positif
i. Rasio Likelihood negatif

G. Latihan
1. Jelaskan pengertian skrining dalam epidemiologi?
2. Jelaskan tujuan skrining dalam epidemiologi?
3. Jelaskan jenis skrining dalam epidemiologi?
4. Jelaskan syarat skrining dalam epidemiologi?
5. Jelaskan proses pelaksanaan skrining?

Kepustakaan ;
Heriana C, Murtiningsih B, Prasudi A (2012), Skrining Hipertensi di Kab. Sleman tahun 2012.
Laporan Penelitian tahun 2013 UGM Yogyakarta.
Gordis, L. 1996. Epidemiologi. W.B., Saunders Co., Philadelphia.
Nugrahaeni, D.K. 2012. Konsep Dasar Epidemiologi. Jakarta : EGC.
Rajab, W. 2009. Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta : EGC.
Solikhah, Amani, M. N. & Kadar, A. (2009) Skrining Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas
Banyuasin Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo Propinsi Jawa Tengah. Jurnal
Kesehatan Masyarakat (Journal Of Public Health), (Vol 3, No 3 (2009): Jurnal Kes
Mas Fkm Uad September 2009): 222-232.

Anda mungkin juga menyukai