0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
421 tayangan82 halaman

Terapi Benson untuk Nyeri Apendiksitis

Karya ilmiah ini membahas tentang penggunaan terapi relaksasi Benson untuk mengurangi nyeri akut pada pasien dengan pre-operasi apendiksitis. Terapi relaksasi Benson diberikan selama satu hari untuk menurunkan skala nyeri dari 7 menjadi 6.

Diunggah oleh

yoi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
421 tayangan82 halaman

Terapi Benson untuk Nyeri Apendiksitis

Karya ilmiah ini membahas tentang penggunaan terapi relaksasi Benson untuk mengurangi nyeri akut pada pasien dengan pre-operasi apendiksitis. Terapi relaksasi Benson diberikan selama satu hari untuk menurunkan skala nyeri dari 7 menjadi 6.

Diunggah oleh

yoi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

TERAPI RELAKSASI BENSON UNTUK MENGURANGI


NYERI AKUT PADA PASIEN DENGAN PRE
OPERASI APENDIKSITIS DI RUANG IGD
RSAD TK II UDAYANA DENPASAR

OLEH:

SANG AYU KOMPYANG ARDIYANI, [Link]


NIM. 20.901.2432

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI (NERS)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI
DENPASAR
2021
KARYA ILMIAH AKHIR NERS

TERAPI RELAKSASI BENSON UNTUK MENGURANGI


NYERI AKUT PADA PASIEN DENGAN PRE
OPERASI APENDIKSITIS DI RUANG IGD
RSAD TK II UDAYANA DENPASAR

Diajukan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali untuk
Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Profesi Ners.

OLEH:

SANG AYU KOMPYANG ARDIYANI, [Link]


NIM. 20.901.2432

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI (NERS)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI
DENPASAR
2021
i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya Ilmiah Akhir Ners ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber
baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Sang Ayu Kompyang Ardiyani, [Link]

NIM : 20.901.2432

Tanda Tangan :

Tanggal : 27 -05-2021

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Ilmiah Akhir Ners

Nama : Sang Ayu Kompyang Ardiyani, [Link]


NIM : 20.901.2423
Judul : Terapi Relaksasi Benson Untuk Mengurangi Nyeri Akut Pada
Pasien Dengan Pre Operasi Apendiksitis Di Ruang IGD RSAD
TK II Udayana
Program Studi : Pendidikan Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira
Medika Bali
Telah diperiksa dan disetujui untuk mengikuti ujian Karya Ilmiah Akhir Ners.

Denpasar, 25 Mei 2021

Dosen Pembimbing

Ns. Ni Kadek Yuni Lestari, [Link]., [Link]

NIK [Link]

iii
LEMBAR PENGESAHAN

Karya Ilmiah Akhir Ners

Nama : Sang Ayu Kompyang Ardiyani, [Link]


NIM : 20.901.2423
Judul : Terapi Relaksasi Benson Untuk Mengurangi Nyeri Akut Pada
Pasien Dengan Pre Operasi Apendiksitis Di Ruang IGD RSAD
TK II Udayana
Program Studi : Pendidikan Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira
Medika Bali
Telah dipertahankan di depan dewan penguji sebagai persyaratan untuk
memperoleh gelar Ners STIKes Wira Medika Bali

Nama Tanda Tangan


Penguji I : Ns. Ni Wayan Trisnadewi, [Link]., [Link] …………..

Penguji II : Ns. Ni Kadek Yuni Lestari, [Link]., [Link] …………..

Mengesahkan Denpasar, Mei 2021


STIKes Wira Medika Bali Mengetahui
Ketua Program Studi Keperawatan
Ketua,

Drs. I Dewa Agung Ketut Sudarsana.,MM Ns. Ni Wayan Trisnadewi, [Link]., [Link].
NIK. [Link] NIK. [Link]

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir Ners yang
berjudul “Terapi Relaksasi Benson Untuk Mengurangi Nyeri Akut Pada Pasien
Dengan Pre Operasi Apendiksitis Di Ruang IGD RSAD TK II Udayana” tepat
pada waktunya.
Karya Ilmiah Akhir Ners ini disusun dalam rangka memenuhi sebagaian
persyaratan untuk memperoleh gelar Ners pada Program Studi Profesi Ners,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali.
Dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir Ners ini, saya banyak mendapat
bantuan sejak awal sampai terselesaikannya Karya Ilmiah Akhir Ners ini, untuk
itu dengan segala hormat dan kerendahan hati, peneliti menyampaikan
penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Drs. I Dewa Agung Ketut Sudarsana., M.M, selaku Ketua STIKes Wira
Medika Bali.
2. Ns. Ni Wayan Trisnadewi, [Link]., [Link], selaku ketua Program Studi Profesi
Ners STIKes Wira Medika Bali.
3. Ns. Ni Kadek Yuni Lestari,[Link].,[Link] selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan dalam penyelesaian Karya Ilmiah Akhir Ners ini serta
dengan penuh kesabaran memberikan pertimbangan-pertimbangan guna
terselesaikannya Karya Ilmiah Akhir Ners ini.
4. Orang tua serta saudara/i atas segala doa, cinta dan kasih sayang serta
dukungan baik moral maupun material dalam menyelesaikan Karya Ilmiah
Akhir Ners ini.
5. Sahabat dan Teman teman mahasiswa profesi Ners STIKes Wira Medika Bali
Angkatan A10 yang ikut serta memberi dukungan semangat dan membantu
dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir Ners ini.
6. Pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam
menyelesaikan dan telah mendoakan demi suksesnya penyusunan Karya
Ilmiah Akhir ini.

v
Saya menyadari masih banyak keterbatasan dalam penyusunan Karya
Ilmiah Akhir Ners ini. Saya telah berusaha dengan segenap kemampuan dalam
menuangkan pemikiran ke dalam Karya Ilmiah Akhir Ners ini, tentunya akan
masih banyak ditemukan hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Saya sangat
mengharapkan kritik dan saran guna menyempurnakan Karya Ilmiah Akhir Ners
ini.

Denpasar, 25 Mei 2021


Penulis,

(Sang Ayu Kompyang Ardiyani, [Link])

vi
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik STIKes Wira Medika Bali saya yang bertanda tangan di
bawah ini:
Nama : Sang Ayu Kompyang Ardiyani, [Link]
NIM : 20.901.2432
Program Studi : Profesi Ners
Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir Ners

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan


kepada STIKes Wira Medika Bali Hak Bebas Royalti Noneklusif (Non-
exclusive Royalty Free Right) atas Karya Ilmiah Akhir Ners saya yang berjudul:
“Terapi Relaksasi Benson Untuk Mengurangi Nyeri Akut Pada Pasien Dengan Pre
Operasi Apendiksitis Di Ruang IGD RSAD TK II Udayana “ Beserta perangkat
yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneklusif ini STIKes
Wira Medika Bali berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola
dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas
akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan
sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan
sebenarnya.

Denpasar, 25 Mei 2021

(Sang Ayu Kompyang Ardiyani, [Link])

vii
STIKES WIRA MEDIKA BALI
PROGRAM STUDI PROFESI (NERS)
Mei, 2021

Sang Ayu Kompyang Ardiyani, [Link]

Asuhan keperawatan Nyeri Akut Pada Ny. S Yang Mengalami Pre Of


Apendiksitis Dengan Pengobatan Terapi Relakssi Benson di IGD RSAD TK II
Udayana

ABSTRAK

Apendiksitis merupakan peradangan pada apendisitis yang berbahaya jika


tidak ditangani dengan segera di mana terjadi infeksi berat yang bisa
menyebabkan pecahnya lumen [Link] adalah untuk melakukan
perawatan pada pasien Apendiksitis dengan memberikan terapi relaksasi benson
di IGD RSAD TK II Udayana. Metode dalam penulisan Karya Ilmiah Akhir Ners
ini berupa studi kasus yang di ambil saat praktik di IGD RSAD TK II Udayana
dengan melakukan asuhan keperawatan selama 1 hari. Hasil pengkajian
didapatkan masalah nyeri akut sebagai masalah keperawatan utama karena pasien
mengeluh nyeri di perut kanan bawah dengan skala 7 nyeri akut disebabkan oleh
infeksi bakteria ,sumbatan lumen apendiksyang menjadi faktor pencetus
disamping hyperplasia jaringan limfe, batu feses, tumor apendiks, dan cacing
askaris. Disimpilkan bahwa diagnose prioritas pada Ny. S yang mengakami
Apendiksitis adalah nyeri aku. Intervensi dan implementasi untuk mengatasi
masalah nyeri akut adalah dengan terapi relaksasi benson 1x sehari dalam waktu
20 menit. Terapi relaksasi benson dipilih untuk mengatasi nyeri akut karena
relaksasi benson dapat mengurangi nyeri,mengendalikan dan mengembalikan
emosi yang akan membuat tubuh menjadi rileks. Setelah dilakukan terapi relaksasi
benson, di lakukan evaluasi dengan kriteria hasil nyeri pasien berkurang menjadi
6

Kata kunci : Apendiksitis, Nyeri, Terapi Relaksasi Benson

viii
WIRA MEDIKA BALI HEALTH SCIENCE COLLEGE
NERS PROGRAM
May, 2021

Sang Ayu Kompyang Ardiyani, [Link]

Acute Pain Nursing Care In Ny. S Who Experienced Pre Of Appendixitis With
Benson Relaxation Therapy Treatment in the IGD RSAD TK II Udayana

ABSTRACT

Appendicitis is an inflammation of appendicitis which is dangerous if it is


not treated promptly where severe infection occurs which can cause rupture of
the intestinal lumen. The goal is to treat patients with appendicitis by providing
benson relaxation therapy at the IGD RSAD TK II Udayana. The method in
writing this Nurse's Final Scientific Paper is in the form of a case study taken
during practice at the IGD RSAD TK II Udayana by providing nursing care for 1
day. The results of the study found that acute pain problems were the main
nursing problem because the patient complained of pain in the lower right
abdomen with a scale of 7, acute pain caused by bacterial infection, obstruction
of the appendix lumen which is a triggering factor in addition to lymph tissue
hyperplasia, faecal stones, appendix tumors, and ascaris worms. It concluded that
the priority diagnosis at Mrs. S which causes Appendixitis is pain I. Intervention
and implementation to overcome acute pain problems is by using benson
relaxation therapy once a day for 20 minutes. Benson relaxation therapy is
chosen to treat acute pain because Benson relaxation can reduce pain, control
and restore emotions that will make the body relax. After the Benson relaxation
therapy was carried out, it was evaluated with the criteria that the patient's pain
results were reduced to 6

Keywords: Appendixitis, Pain, Benson Relaxation Therapy

DAFTAR ISI
ix
HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS............................................. ii
LEMBAR PERSETUJUAN.............................................................................. iii
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................... iv
KATA PENGANTAR........................................................................................ v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ..................... vii
ABSTRAK.......................................................................................................... viii
ABSTRACT......................................................................................................... ix
DAFTAR ISI....................................................................................................... x
DAFTAR TABEL.............................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 5
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................... 5
1.3.1 Tujuan Umum ....................................................................... 5
1.3.2 Tujuan Khusus ...................................................................... 6
1.4 Manfaat Karya Ilmiah Akhir.............................................................. 6
1.4.1 Manfaat Teoritis..................................................................... 6
1.4.2 Manfaat Praktis...................................................................... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Dasar Appendicitis................................................................ 8
2.1.1 Definisi Appendicitis............................................................. 8
2.1.2 Anatomi dan Fisiologi Appendicitis...................................... 8
2.1.3 Klasifikasi Appendicitis......................................................... 9
2.1.4 Etiologi Appendicitis............................................................. 9
2.1.5 Patofisiologi Appendicitis...................................................... 10
2.1.6 Manifestasi Klinis Appendicitis............................................. 10
2.1.7 Komplikasi Appendicitis....................................................... 11
2.1.8 Pemeriksaan Penunjang Appedicitis...................................... 13
2.1.9 Penatalaksanaan Appendicitis................................................ 13
2.2 Konsep Dasar Nyeri........................................................................... 15
2.2.1 Definisi Nyeri Akut................................................................ 15
2.2.2 Klasifikasi Nyeri ................................................................... 15
2.2.3 Patofisiologis Nyeri .............................................................. 16
2.2.4 Manifestasi Klinis Nyeri........................................................ 16
2.2.5 Faktor yang Mempengaruhi Nyeri......................................... 17
2.2.6 Cara Mengukur Intensitas Nyeri............................................ 18
2.2.7 Penatalaksanaan Nyeri........................................................... 19
2.3 Konsep Dasar Terapi Relaksasi Benson............................................ 20
2.3.1 Definisi Terapi Relaksasi Benson.......................................... 20
2.3.2 Tujuan Terapi Relaksasi Benson........................................... 20
2.3.3 Manfaat Terapi Relaksasi Benson......................................... 21
2.3.4 Pendukung Terapi Relaksasi Benson..................................... 22

x
2.3.5 Prosedur Terapi Relaksasi Benson......................................... 23
2.3.6 Langkah-langkah Terapi Relaksasi Benson........................... 23
2.4 Masalah pada Pasien dengan Appendicitis........................................ 25
2.5 Asuhan Keperawatan pada Penderita Appendicitis ...................... 26

BAB III PEMBAHASAN


3.1 Pengkajian.......................................................................................... 30
3.1.1 Identitas Klien ....................................................................... 30
3.1.2 Status Kesehatan.................................................................... 31
3.1.3 Pola Kebutuhan Dasar (Data Bio-psiko-sosio-kultural-
spiritual)................................................................................. 33
3.1.4 Pengkajian Fisik..................................................................... 37
3.1.5 Pemeriksaan Penunjang......................................................... 40
3.2 Analisa Data ...................................................................................... 41
3.3 Tabel Daftar Diagnosa Keperawatan /Masalah Kolaboratif
Berdasarkan Prioritas......................................................................... 42
3.4 Rencana Tindakan Keperawatan....................................................... 43
3.5 Implementasi...................................................................................... 45
3.6 Evaluasi.............................................................................................. 47

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Profil Lahan Praktif............................................................................ 48
4.1.1 Sejarah Rumah Sakit Angkatan Darat Tk II Udayana
Denpasar................................................................................ 48
4.1.2 Gambaran Umum IGD RSAD Tk II Udayana ..................... 49
4.2 Analisis Masalah Keperawatan Dengan Konsep Evidence Based
Practice dan Konsep Kasus Terkait................................................... 50
4.3 Salah Satu Intervensi Dengan Konsep Evidence Based Practice...... 54
4.4 Konsep dan Penelitian Terkait .......................................................... 58
4.5 Alternatif Pemecahan Masalah Yang Dapat Dilakukan.................... 59

BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan ........................................................................................... 62
5.2 Saran ................................................................................................ 62

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

xi
Tabel 2.1 : Asuhan Keperawatan pada Penderita Appendicitis........................
26
Tabel 3.1 : Diagnosa Medis: Apendisitis Akut.................................................
32
Tabel 3.2 : Pola Aktivitas..................................................................................
34
Tabel 3.3 : Kekuatan Otot.................................................................................
39
Tabel 3.4 : Pemeriksaan Hematologi................................................................
40.....................................................................................................
Tabel 3.5 : Pemeriksaan Urinalisa....................................................................
40
Tabel 3.6 : Analisa Data....................................................................................
41
Tabel 3.7 : Daftar Masalah Kolaboratif Berdasarkan Prioritas.........................
42
Tabel 3.8 : Rencana Tindakan Keperawatan.....................................................
43
Tabel 3.9 : Implementasi Keperawatan.............................................................
45
Tabel 3.10 : Evaluasi Keperawatan.....................................................................
47

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Skala Intensitas Nyeri..................................................................

18

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Konsultasi

xiv
xv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Apendiksitis merupakan peradangan pada apendisitis yang berbahaya jika

tidak ditangani dengan segera di mana terjadi infeksi berat yang bisa

menyebabkan pecahnya lumen usu (Williams & Wilkins, 2011 dalam Indri. dkk,

2014). Apendisitis dapat ditemukan pada laki-laki maupun perempaun dengan

resiko penderita apendisitis selama hidupnya mencapai 7-8%. Insiden tertinggi

dilaporkan pada rentang usia 20-30 tahun. Sedangkan pada anak kurang dari satu

tahun kasus apendisitis jarang ditemukan (Samsuhidajat, 2010).

Kejadian apendiksitis mencapai 321 juta kasus tiap tahun di dunia. Data

mencatat terdapat 20-35 juta kasus apendisitis di Amerika tiap tahun. 7%

masyarakat Amerika menjalani pengangkatan apndik vermiformis dengan insiden

1,1/1000 masyarakat pertahun. Sedangakn di Eropa, Prevalensinya mencapai

sekitar 16% prevalensi apendisitis lebih tinggi di Eropa dan Amerika disbanding

Afrika, akan tetapi 5 tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan yang

dilansir oleh penelitian akibat pola diet yang mengikuti pola masyarakat Amerika

dan Eropa. Merurut Lubis (2010) dalam (Indri, dkk, 2017) setiap tahun

apendiksitis menyerang 10 juta penduduk Indonesia dan saat ini morbiditas

angka apendiksitis di Indonesia mencapai 95 per 1000 penduduk dan angka ini

merupakan tertinggi di antara Negara- Negara di Association of South East Asia

Nation (ASEAN).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali kasus apendiksitis

termasuk ke dalam sepuluh besar penyakit yang di rawat inap di RSUD provinsi

Bali pada tahun 2014, terdapat sebanyak 1.590 kasus, (Dinas Kesehatan Provinsi

Bali, 2014), tahun 2015 terdapat 1.590 kasus pada tahun 2017 terdapat 1.617

kasus apendiksitis. Penyebab obstuksi lumen apendik paling sering adalah oleh

batu feses, Faktor lain yang dapat menyebabkan abstuksi lumen apendik antara

lain hyperplasia jaringan limfoid, tumor, benda asing dan sumbatan oleh cacing

.studi epidemologi lainnya menyebutkan bahwa ada peranan dari kebiasaan

mengkonsumsi makanan rendah serat yang mempengaruhi terjadinya konsipasi,

sehingga terjadi apendisitis. Pasien yang menderita apendisitis umunya akan

mengeluhkan nyeri pada perut kuadran kanan bawah (KumarV dalam Frasisca

dkk, 2019).

Apendiksitis merupakan infeksi bakteria yang dapat disebabkan oleh

berbagai faktor pencetusnya, namun sumbatan Lumen apendiks merupakan faktor

yang diajukan sebagai pencetus disamping Hyperplasia jaringan limfoid, tumor

Apendiks, dan cacing askaris dapat menyebabkan sumbatan. Apendisitis adalah

erosi mukosa apendisitis karena parasit seperti [Link]. Penelitian

epidemiologi menunjukan peran kebiasaan makan makanan rendah serat

mempengaruhi terjadinya konstipasi yang mengakibatkan timbulnya apendisitis.

Konstipasi akan menaikan tekanan Intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan

fungsional apendiksitis dan meningkatnya pertumbuhan kuman Flora kolon biasa

(Adhar, Lusia & Andi, 2018).

2
Gejala klinis apendisitis samar –samar dan tumpul yang merupakan

nyeri visceral di daerah epigastrium di sekitar umbilicus. Keluhan ini hanya

disertai oleh demam ringan, mual muntah dan hilangnya nafsu makan, dan

beberapa jam nyeri berpindah ke kanan bawah ketitik McBurney. (Sinuhaji,

2014). Orang yang sudah terkena penyakit ini bisa disembuhkan dengan cara

operasi apendiktomy. Apendiktomy merupakan satu- satunya terapi yang efektif

untuk apendisitis. Jika timbul peritonitis, terapi dilakukan dengan intubasi

lambung, pengggantian cairan dan elektrolit dengan cara dengan cara parental,

dan pemberian antibiotic parentera (Novita, 2019).

Apendiksitis merupakan penyebab paling umum inflamasi akut pada

kuadran kanan bawah dari rongga abdomen dan penyebab paling umum untuk

bedah abdomen darurat (Smeltzer & Bare, 2013). Penanganan yang dilakukan

pada kasus appendiksitis adalah dengan pembedahan yang disebut dengan

appendiktomi (Berman & Kozier, 2012). Apendiktomi merupakan pengobatan

melalui prosedur tindakan operasi hanya untuk penyakit apendisitis atau usus

buntu yang terinfeksi. Apendiktomi dilakukan sesegera mungkin untuk

menurunkan risiko perforasi lebih lanjut seperti peritonitis atau abses (bisul)

(Pristahayuningtyas, 2015).

Apendiktomi dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode

pembedahan, yaitu secara tehnik terbuka/pembedahan konvensional (laparatomi)

atau dengan tehnik laparaskopi yang merupakan tehnik pembedahan minimal

infasif dengan metode terbaru yang sangat efektif (Berman & Kozier, 2012).

3
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri dengan terapi non

farmakologi meliputi pendekatan secara fisik dan perilaku kognitif. Tujuan dari

pendekatan secara fisik adalah nyeri berkurang, memperbaiki disfungsi fisik,

mengubah respon fisiologis, serta mengurangi ketakutan yang berhubungan

dengan imobilitas terkait nyeri. Sedangkan perilaku kognitif memiliki tujuan

untuk mengubah persepsi dan perilaku pasien terhadap nyeri, serta mengajarkan

pasien untuk mengontrol nyeri lebih baik seperti menggunakan distraksi dengan

tepat, berdoa, mendengarkan musik, pemberian relaksasi nafas dalam serta

pemberian relaksasi imajinasi terbimbing (Perry & Potter, 2010).

Relaksasi benson merupakan pengembangan metode respon relaksasi

pernafasan dengan melibatkan faktor keyakinan pasien yang dapat menciptakan

suatu lingkungan internal sehingga dapat membantu pasien mencapai kondisi

kesehatan dan kesejahteraan lebih tinggi (Benson & Prector, 2000). Relaksasi

Benson merupakan relaksasi menggunakan teknik pernapasan yang biasa

digunakan di rumah sakit pada pasien yang sedang mengalami nyeri atau

mengalami kecemasan. Pada relaksasi Benson ada penambahan unsur keyakinan

dalam bentuk kata-kata yang merupakan rasa cemas yang sedang pasien alami.

Kelebihan dari latihan teknik relaksasi dibandingkan teknik lainnnya adalah lebih

mudah dilakukan dan tidak ada efek samping apapun (Solehati & Kosasih, 2015).

Relaksasi Benson adalah suatu teknik yang dapat membuat pikiran dan

tubuh menjadi rileks melalui sebuah proses yang secara progresif akan

melepaskan ketegangan otot di setiap tubuh. Melakukan relaksasi seperti ini dapat

menurunkan rasa lelah yang berlebihan dan menurunkan stres, serta berbagai

4
gejala yang berhubungan dengan kecemasan, seperti sakit kepala, migren,

insomnia, dan depresi (Potter & Perry, 2015). Kelebihan latihan tehnik relaksasi

dari pada latihan yang lain adalah latihan relaksasi lebih mudah dilakukan bahkan

dalam kondisi apapun serta tidak memiliki efek samping apapun (Solehati &

Kosasih, 2015).

Terapi relaksasi Benson sendiri sudah banyak dilakukan pada pasien di

rumah sakit, karena selain untuk menurunkan inensitas nyeri juga dapat

menurunkan tingkat stress dan cemas dibuktikan dari banyaknya jurnal penelitian

serta study kasus yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan terutama perawat

dalam melaksanakan intervensi keperawatan.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan karya ilmiah

akhir ners tentang Asuhan Keperawatan Nyeri Akut Pada Ny. S Yang Mengalami

Pre Of Apendiksitis Dengan Pengobatan Terapi Relaksasi Benson.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar rumusan masalah pada karya ilmiah akhir ners ini ialah

Bagaimana Asuhan keperawatan nyeri akut pada Ny. S yang mengalami Pre

Operasi Apendiksitis dengan intervensi terapi relaksasi benson ?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Menganalisis laporan hasil kegiatan praktik keperawatan medikal bedah

dalam pemberian Asuhan keperawatan nyeri akut pada Ny. S yang mengalami Pre

Operasi Apendiksitis dengan intervensi terapi relaksasi benson

5
1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari karya ilmiah akhir Ners adalah :

Menggambarkan hasi pengkajian pre operasi apendisitis

Menggambarkan intervensi yang diberikan pada pre operasi apendisitis

Menggambarkan implmentasi terapi benson pada pasien pre operasi

apendiksitis

Menggambarkan hasil evaluasi pasien pre operasi apendisitis

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Pendidikan keperawatan

Karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan sebagai acuan penulisan selanjutnya

yang berhubungan dengan manajemen nyeri atau penanganan pada pasien pre

apendiksitis dan dapat digunakan sebagai pengembangan ilmu bagi profesi

keperawatan dalam memberikan acuan dalam intervensi keperawatan.

2. Pelayanan keperawatan

Karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan refrensi terkait intervensi

keperawatan medikal bedah khususnya dalam melakukan manajemen nyeri secara

non farmakologis pada pasien pre apendiksitis.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi pelayanan

Diharapkan Karya Ilmiah Akhir ini dapat menjadi bahan masukan bagi

tenaga kesehatan khususnya perawat dalam melaksanakan perannya sebagai

6
caregiver guna meningkatkan kualitas asuhan keperawatan sehingga dapat

memaksimalkan penanganan.

2. Bagi keilmuan

Karya Ilmiah Akhir ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi bagi

mahasiswa dalam menyusun tugas profesi ners.

3. Bagi penelitian

Karya Ilmiah Akhir ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan

data awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1 Konsep Dasar Appendicitis

1.1 Definisi Appendicitis

Appendicitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapata terjadi tanpa

penyebab yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh feses atau akibat

terpuntirnnya apendiks atau pembuluh darahnya (Corwin, 2009).

Appendicitis adalah suatu proses obstruksi yang disebabkan oleh benda

asing batu feses kemudian terjadi proses infeksi dan disusul oleh peradangan dari

apendiks verivormis (Nugroho, 2011).

1.2 Anatomi dan Fisiologi Appendicitis

1. Anatomi

Apendiks adalah suatu organ yang berbentuk tabung dengan panjang

sekitar 10-12 cm dan berpangkal pada sekum. Apendiks pertama kali muncul pada

saat perkembangan embriologi minggu kedelapan yaitu pada bagian ujung dari

protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum

yang berlebih bisa menjadi apendiks yang akan berpindah dari medial menuju

katup ileocaecal.

2. Fisiologi

Apendiks akan menghasilkan sekitar lendir 1-2 ml perhari. Lendir itu

secara normal akan dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya akan mengalir

kesekum. Hambatan dari aliran pada lendir di muara apendiks akan berperan pada

proses pathogenesis pada Appendicitis. Imunoglobulin sekretoar dihasilkan Gut

8
Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat pada sepanjang saluran cerna,

termasuk apendiks adalah Imunoglobulin A (Ig-A). Imunoglobulin ini sangat

efektif bila digunakan sebagai pelindung terhadap infeksi yaitu, mengontrol

proliferasi bakteri, netralisasi virus, dan mencegah penetrasi dari enterotoksin dan

antigen intestinal lainnya.

1.3 Klasifikasi Appendicitis

Klasifikasi appendicitis terbagi menjadi 3 yaitu:

1 Appendicitis akut, yaitu suatu radang yang mendadak di umbai cacing yang

memberikan tanda, dan disertai maupun tidak disertai rangsangan pada

peritoneumlokal.

2 Appendicitis rekurens yaitu riwayat nyeri berulang yang terjadi di perut

bagian kanan bawah yang mendorong dilakukannya apendiktomi.

3 Appendicitis kronis memiliki segala gejala riwayat nyeri pada bagian perut

kanan bawah lebih dari dua minggu/sumbatan di lumen apendiks, adanya

jaringan parut dan ulkus lama di mukosa, dan keluhan akan segera menghilang

setelah apendiktomi (Nurafif dan Kusuma, 2013)

1.4 Etiologi Appendicitis

Appendicitis akut terjadi karena proses radang bakteri yang disebabkan

oleh beberapa faktor seperti hyperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks,

dan cacing askaris yang menyumbat (Haryono, 2012). Appedicitis akut

merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal menjadi faktor penyebabnya. Sumbatan

lumen apendiks merupakan faktor pencetus disamping hyperplasia jaringan limfe,

batu feses, tumor apendiks, dan cacing askaris dapat juga menyebabkan sumbatan.

9
Penyebab lain yang diduga menimbulkan appedicitis yaitu erosi mukosa apendiks

karena parasit seperti [Link] (Sjamsuhidajat, 2010).

1.5 Patofisiologi Appendicitis

Appedicitis dimulai oleh obstruksi lumen yang disebabkan oleh feses yang

fekalit. Sesuai dengan pengamatan epidemiologi, appedicitis berhubungan dengan

asupan makanan rendah serat. Pada stadium awal, terlebih dahulu terjadi inflamasi

mukosa. Inflamasi kemudian berlanjut ke submukosa dan melibatkan peritoneal.

Cairan eksudat fibrinopurulenta terbentuk beberapa permukaan peritoneal yang

bersebelahan. Dalam stadium ini mukosa glandular yang nekrosis terkelupas ke

dalam lumen yang menjadi distensi dengan pus. Arteri yang menyuplai apendiks

akan menjadi bertrombosit dan apendiks yang kurang suplai darah menjadi

nekrosis. Jika perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum, abses local akan

terjadi (Burkit, Quick & Reed, 2010).

1.6 Manifestasi Klinis Appendicitis

1. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan,

mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.

2. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan

3. Nyeri tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan dilepaskan)

mungkin dijumpai.

4. Terdapat konstipasi atau diare.

5. Nyeri lumbal, bila apendiks melingkar di belakang sekum.

6. Nyeri defekasi, bila apendiks berada dekat rektum.

7. Nyeri kemih, jika ujung apendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter

10
8. Pemeriksaan rektal positif jika ujung apendiks berada di ujung pelvis.

9. Tanda Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri

yang secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan bawah. Apabila

apendiks telah ruptur, nyeri menjadi lebih menyebar; distensi abdomen terjadi

akibat ileus paralitik dan kondisi pasien memburuk

10. Pada pasien lansia, tanda dan gejala appendicitis sangat bervariasi. Pasien

mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur apendiks

1.7 Komplikasi Appendicitis

Komplikasi dapat terjadi apabila terjadi keterlambatan penanganan. Faktor

keterlambatan dapat terjadi dari pasien ataupun tenaga medis. Faktor penderita

dapat berasal dari pengetahuan dan biaya. Faktor tenaga medis dapat berupa

kesalahan dalam mendiagnosa, keterlambatan mengangani masalah dan

keterlambatan dalam merujuk ke rumah sakit dan penangggulangan. Hal ini dapat

memacu meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas.

Proporsi yang sering adalah terjadi pada anak kecil dan orang tua.

Komplikasi 93% lebih sering terjadi pada anak kecil dibawah usia 2 tahun dan

40%-75% terjadi pada orang tua. Pada anak-anak dinding apendiks masih sangat

tips, omentum lebh pendek, dan belum berkembang secara sempurna sehingga

mudah terjadi appedicitis. Sedangkan pada orang tua, terjadi gangguan pada

pembuluh darah. Adapun jenis komplikasi diantaranya:

1. Abses

Abses merupakan peradangan apendiks yang berisi pus. Teraba massa

lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa

11
flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi

bila appedicitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum

2. Perforasi

Perforasi adalah pecahnya apendiks yang berisi pus sehingga bakteri

menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak

awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui

praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam

sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan

leukositosis terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi

bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.

3. Peritonitis

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi

berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi

tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis

umum. Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus

meregang, dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok,

gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang

semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis. (Mansjoer,

2010)

Komplikasi menurut (Brunner & Suddarth, 2014):

1. Komplikasi utama adalah perforasi apendiks yang dapat menyebabkan

peritonitis pembentukan abses (tertampungnya materi purulen), atau flebilitis

portal.

12
2. Perforasi biasanya terjadi setelah 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala yang

muncul antara lain: Demam 37,70C, nyeri tekan atau nyeri abdomen.

Berdasarkan penjelasan diatas, hal yang bisa mengakibatkan

keparahan/komplikasi penyakit appedicitis dikarenakan dua hal yaitu faktor

ketidaktahuan masyarakat dan keterlambatan tenaga medis dalam menentukan

tindakan sehingga dapat menyebabkan abses, perforasi dan peritonitis

1.8 Pemeriksaan Penunjang Appedicitis

Pemeriksaan penunjang pada pasien dengan post operasi appendiktomi

menurut Wijaya dan Putri tahun (2013), yaitu:

1. Laboratorium.

Pemeriksaan leukosit meningkat antara rentang 10.000-18.000/mm 3,

kemudian neutrophil juga meningkat antara 75%, dan WBC juga akan meningkat

sampai 20.000.

2. Data Pemeriksaan Diagnostik.

Radiologi, yaitu pada pemeriksaan ini foto colon akan menunjukkan

adanya batu feses pada katup. Kemudian pemeriksaan barium enema

menunjukkan apendiks yang terisi barium hanya sebagian.

1.9 Penatalaksanaan Appendicitis

1. Medis.

Penatalaksanaan pada post operasi apendiktomi di bagi menjadi tiga

bagian menurut (Brunner & Suddarth, 2010), yaitu :

13
1) Sebelum operasi / preop

(1) Observasi

Dalam kurun waktu 8-12 jam setelah munculnya keluhan, perlu di

observasi dengan ketat karena tanda dan gejala appedicitis belum jelas. Pasien

akan diminta untuk meakukan tirah baring dan dipuasakan terlebih dahulu.

Laksatif tidak boleh di berikan apabila di curigai adanya appedicitis. Diagnosis

yang ditegakkan dengan lokasi nyeri pada kuadran kanan bawah setelah

timbulnya keluhan nyeri.

(2) Antibiotik

Appedicitis ganggrenosa atau apenditis perforasi akan memerlukan obat

jenis antibiotik, kecuali apendiksitis tanpa komplikasi yang tidak memerlukan

antibiotik.

(3) Operasi

Operasi atau pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat apendiks

yaitu apendiktomi. Apendiktomi dilakukan dibawah anestesi umum dengan

pembedahan abdomen bawah atau dengan laparoskopi (Brunner & Suddarth,

2010). Apendiktomi dilakukan dengan dua metode pembedahan, yaitu secara

teknik terbuka (pembedahan konvensional laparatomi) atau dengan teknik

laparoskopi yang merupakan teknik pembedahan minimal invasive (Brunner &

Suddarth, 2010).

2) Setelah operasi/Post operasi

Kaji tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam.

Baringkan klien dalam posisi semi fowler. Klien dikatakan baik apabila dalam 12

14
jam tidak terjadi gangguan, dan selama itu klien dipuasakan. Satu hari setelah

operasi, klien di anjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2 x 30 menit.

Hari kedua pasien dapat dianjurkan duduk di luar kamar. Hari ke tiga dapat di

angkat dan di bolehkan untuk pulang (Mansjoer, 2010).

2. Non Farmakologi.

Tindakan yang dapat dilakukan perawat adalah selain mengubah posisi,

meditasi, makan, dan membuat klien merasa nyaman yaitu mengajarkan teknik

relaksasi nafas dalam (Potters & Perry, 2010).

2 Konsep Dasar Nyeri

2.1 Definisi Nyeri Akut

International Association for the Study of Pain mendefinisikan nyeri

merupakan suatu sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional

yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial. Nyeri akut

merupakan pengalaman sensorik yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual

dengan onset mendadak dan berintensitas ringan hingga berat dan berlangsung

kurang dari tiga bulan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016).

2.2 Klasifikasi Nyeri

Klasifikasi nyeri secara umum dapat di bagi menjadi dua, yaitu nyeri akut

dan nyeri kronis.

1. Nyeri akut

Nyeri akut ialah nyeri yang terjadi dalam waktu yang singkat, biasanya

kurang dari 6 bulan. Nyeri akut tidak di atasi secara cepat mempunyai efek yang

dapat membahayakan karena dapat mempengaruhi system dari pulmonary, sistem

15
kardiovaskuler, sistem gastrointestinal, sistem, serta sistem imonulogik (Potter &

Perry, 2010).

2. Nyeri kronik

Nyeri kronik merupakan nyeri yang berlangsung dalam kurun waku 6

bulan. Nyeri kronik ini dapat berlangsung di luar waktu penyembuhan yang

diperkirakan. Nyeri ini biasanya sering di kaitkan dengan kerusakan jaringan

(Guyton & Hall, 2011).

Berdasarkan sumbernya, nyeri dapat dibedakan menjadi nyeri nosiseptif

dan neuropatik (Potter & Perry, 2010).

1. Nyeri nosiseptif

Nosiseptif berasal dari kata “noxsious/harmful nature”, dalam hal ini

ujung saraf nosiseptif, menerima informasi tentang stimulus yang mampu

merusak jaringan. Nyeri nosiseptif bersifat tajam, dan berdenyut (Potter & Perry,

2010).

2. Nyeri neuropatik

Nyeri neuropatik akan mengarah kepada disfungsi di luar sel saraf. Nyeri

neuropatik akan membuat nyeri terasa seperti terbakar dan kesemutan serta akan

hipersensitif terhadap sentuhan. (Guyton & Hall, 2011).

2.3 Patofisiologis Nyeri

Apendiktomi merupakan suatu pembedahan yang dilakukan untuk

mengangkat apendiks. Pembedahan adalah pengobatan dengan menggunakan cara

invansif atau menampilkan beberapa bagian dari tubuh yang akan operasi.

16
2.4 Manifestasi Klinis Nyeri

PPNI tahun (2016), merancang manifestasi klinis untuk pasien dengan

nyeri akut yaitu, nyeri, meringis, dan bersikap protektif, (seperti, waspada, posisi

menghindari nyeri), gelisah, cemas, frekuensi nadi akan meningkat, sulit tidur dan

mempertahankan tidur, tekanan darah meningkat, pola napas berubah, nafsu

makan berubah, proses berpikir terganggu, berfokus pada diri sendiri, diaforesis.

2.5 Faktor yang Mempengaruhi Nyeri

Faktor yang mempengaruhi nyeri antara lain:

1. Etnik dan nilai budaya

Kebudayaan yang ada yakin bahwa memperlihatkan nyeri adalah sesuatu

yang alamiah. Kebudayaan cenderung untuk melatih perilaku yang tertutup

(intovert). Sosialisasi budaya akan sangat menentukan perilaku psikologis

seseorang.

2. Tahap perkembangan

Usia dan tahap dari perkembangan seseorang adalah sesuatu yang amat

penting yang akan mempengaruhi reaksi dan ekspresi terhadap nyeri.

3. Lingkungan dan individupendukung

Lingkungan asing, tingkat kebisingan yang tinggi, pencahayaan, dan

aktivitas yang tinggi di lingkungan tersebut akan dapat memperberat nyeri.

4. Ansietas dan stress

Ansietas sering kali menyertai kejadian nyeri yang terjadi.

Ketidakmampuan seorang untuk mengatasi nyeri atau kejadian di sekelilingnya

dapat memperberat persepsi nyeri. Lain hal nya pada individu yang yakin bahwa

17
dia mampu mengatasi nyeri yang mereka rasakan.

2.6 Cara Mengukur Intensitas Nyeri

Intensitas nyeri merupakan gambaran dari parahnya nyeri dirasakan oleh

individu, pengukuran dari intensitas nyeri amat subjektif dan individual, serta

kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua

orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dapat dilakukan dengan cara pendekatan

objektif, yang paling sering ialah dengan menggunakan respons fisiologis badan

terhadap nyeri (Mubarak et al., 2015).

1. Skala Intensitas Nyeri Deskriptif

Skala deskriptif merupakan pengukuran dari tingkat nyeri yang lebih

objektif. Skala pendeskripsi verbal (verbal descriptor scale - VDS) adalah suatu

garis yang terdiri dari 3-5 kata pendeskripsi yang disusun dengan jarak yang sama

setiap garis. Pendeskripsi ini di urutkan dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri

yang tidak tertahankan”

Gambar 2.1
Skala Intensitas Nyeri

Keterangan :

0 : Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik dan

memiliki gejala yang tidak dapat terdeteksi.

18
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat

menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti

perintah dengan baik. Memiliki karateristik adanya peningkatan frekuensi

pernafasan , tekanan darah, kekuatan otot, dan dilatasi pupil.

7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti

perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi

nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih

posisi nafas panjang dan distraksi. Memiliki karateristik muka klien pucat,

kekakuan otot, kelelahan dan keletihan

10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi,

memukul.

2.7 Penatalaksanaan Nyeri

1. Farmakologi

1) Analgesik narkotik

Obat ini terdiri dari derifat opium seperti morfin dan kodein. Narkotik bisa

membuat efek seperti menurunkan nyeri dan meningkatkan kegembiraan, sebab

obat ini akan membuat ikatan pada reseptor opiate serta mengaktifkan penekanan

nyeri endogen susunan sistem saraf pusat.

2) Analgesik non narkotik

Analgesik non narkotik semisal aspirin, asetaminofen, serta ibuprofen

dapat mempunyai efek anti nyeri dan antiinflamasi.

19
2. Nonfarmakologi

1) Relaksasi progresif

Teknik relaksasi ini ialah suatu kebebasan mental dan fisik dari

ketegangan stress. Teknik relaksasi ini dapat memberikan kontrol diri saat terjadi

perasaan tidak nyaman atau nyeri, stres fisik, dan emosi pada nyeri.

2) Stimulasi kutaneus placebo

Placebo adalah zat tanpa kegiatan farmakologis dalam wujud yang di

kenal pasien untuk obat seperti kapsul, cairan injeksi, dan lain-lain.

3) Teknik distraksi

Distraksi adalah cara menghilangkan nyeri dengan mengalihkan perhatian

klien supaya klien mau lupa terhadap nyeri yangdirasakan.

3 Konsep Dasar Terapi Relaksasi Benson

3.1 Definisi Terapi Relaksasi Benson

Terapi relaksasi benson adalah suatu pengembangan cara relaksasi yang

melibatkan keyakinan pasien dan bisa menciptakan lingkungan internal sehingga

bisa menolong klien dalam mencapai kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang

lebih baik (Purwanto, 2010).

3.2 Tujuan Terapi Relaksasi Benson

Tujuannya yaitu untuk memperbaiki ventilasi pada alveoli didalam paru,

memelihara pertukaran gas dan mencegah atelektasi paru, serta bisa meningkatkan

efesiensi batuk, menurnkan tingkat stress, baik stress secara fisik maupun stress

secara emosional dan menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan

serta menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolic (Soeharto, 2011).

20
Proses pernafasan pada relaksasi Benson adalah proses masuknya oksigen

via saluran nafas lalu masuk ke paru-paru dan di proses ke dalam tubuh, lalu

kemudian akan di proses dalam paru-paru tepatnya di cabang bronkus dan akan di

edarkan ke setiap bagian tubuh via pembuluh darah vena dan nadi agar dapat

memenuhi kebutuhan oksigen. Jika oksigen terpenuhi, maka manusia akan tetap

dalam kodisi yang netral. Kondisi ini akan menimbulkan keadaan rileks secara

umum pada manusia.

Rileks bisa menurunkan kegiatan saraf simpatis dan menghidupkan saraf

parasimpatis, agar terjadi penurunan heart rate serta tekanan perifer yang

dikarenakan oleh pelebaran oleh pembuluh darah dan membuat konsentrasi O 2 di

dalam darah meningkat sehingga kebutuhan O2 di jaringan bisa tercukupi,

sehingga bisa menurunkan tekanan darah (Hikmaharidha, 2011).

3.3 Manfaat Terapi Relaksasi Benson

Manfaat terapi relaksasi Benson teruji dapat memodulasi stress terkait

kondisi seperti marah, cemas, disritmia jantung, nyeri kronis, depresi, hipertensi

dan insomnia dan menimbulkan perasaan menjadi lebih tenang. (Benson &

Proctor, 2010).

Menurut Kusnandar tahun (2009), manfaat dari teknik relaksasi benson

adalah sebagai berikut:

1. Ketentraman hati, berkurangnya rasa cemas, khawatir dangelisah.

2. Tekanan dan ketegangan jiwa menjadi rendah.

3. Detak jantung lebih rendah, mengurangi tekanan darah.

4. Ketahanan yang lebih besar terhadap penyakit.

21
5. Tidur lelap kesehatan mental menjadi lebih baik.

6. Daya ingat lebih baik.

7. Meningkatkan daya berpikir logis.

8. Meningkatkan kreativitas.

9. Meningkatkan keyakinan.

10. Meningkatkan daya kemauan.

11. Meningkatkan kemampuan berhubungan dengan orang lain.

3.4 Pendukung Terapi Relaksasi Benson

Pendukung dalam pelaksanaan terapi Benson:

1. Perangkat Mental

Agar dapat memindahkan fikiran yang berada di luar diri, harus ada respon

yang konstan. Respon tersebut dapat berupa kata-kata atau frasa yang singkat dan

dapat di ulang dalam hati sesuai dengan keyakinan. Kata atau frasa yang singkat

merupakan fokus dalam melakukan teknik relaksasi benson. Fokus pada kata atau

frasa tertentu bisa meningkatkan kekuatan dasar dari respon teknik relaksasi

dengan memberikan kesempatan faktor keyakinan untuk memengaruhi

penurunan kegiatan saraf simpatik.

2. Suasana tenang

Suasana yang tenang dapat meningkatkan efektifitas pengulangan kata

atau frasa, sehingga dapat dengan mudah menghilangkan pikiran-pikiran yang

mengganggu.

22
3. Sikap pasif

Sikap ini cukup bagus karena berfungsi dalam mengabaikan pikiran-

pikiran yang mengganggu, sehingga bisa lebih berfokus pada pengulangan kata

atau frasa.

3.5 Prosedur Terapi Relaksasi Benson

Menurut Benson & Proctor (2010), prosedur teknik terapi relaksasi benson

terdiri dari :

1. Usahakan situasi di ruangan atau lingkungan yang relatif tenang , kemudian

atur posisi nyaman.

2. Pilih satu kata singkat yang mencerminkan keyakinan pasien. Lebih baik kata

yang memiliki arti khusus.

3. Tutup mata, kemudian jauhi menutup mata terlalu kuat. Bernafas pelan dan

wajar sembari melemaskan otot-otot, mulai dari otot kaki, otot betis, otot

paha, otot perut dan pinggang. Kemudian disusul dengan melemaskan kepala,

4. Mulai mengatur nafas, kemudian mulailah menggunakan fokus yang telah

diyakini. Tarik nafas perlahan-lahan dari hidung dan pusatkan kesadaran pada

pengembangan perut, kemudian hembuskan nafas melalui mulut secara

perlahan-lahan sambil mengucapkan kata yang telah dipilih sebelumnya.

5. Pertahankan sikap pasif.

3.6 Langkah-langkah Terapi Relaksasi Benson

Cara melakukan teknik relaksasi benson sudah dipaparkan oleh Dokter

Benson kedalam bukunya yang berjudul :“The Relaxation Respons” adalah

sebagai berikut:

23
1. Anjurkan duduk dalam keadaan tenang dan pada posisi yang enak.

2. Tutuplah mata

3. Regangkan semua otot-otot mulai dari kaki terus menuju ke raut muka,

usahakan semuanya rileks.

4. Bernafaslah melalui hidung, sadar dan waspadalah terhadap jalan pernafasan

anda, sewaktu menghembuskan nafas keluar, katakan pada diri anda “satu”

jadi menggunakan kata“satu”, misalnya nafas masuk.... keluar, “satu”,

masuk................keluar, “satu” dan seterusnya. Bernafaslah dengan tenang dan

sewajarnya.

5. Lanjutkan terus menerus selama 10 sampai 20 menit, anda boleh membuka

mata untuk mengecek waktu atau jam, tetapi jangan menggunakan alarm. Bila

anda telah selesai, duduklah dahulu dengan tenang beberapa menit, mula-mula

dengan mata masih tertutup dan kemudian barulah membuka mata, jangan

segera berdiri tetapi tunggulah beberapa saat.

6. Janganlah kuatir apakah anda berhasil atau tidak mencapai relaksasi yang

mendalam. Jagalah sikap pasif dan biarkan terjadinya rileks dengan

sendirinya. Jika pikiran melayang, jangan bersikap menyalahkan tetapi

katakan pada diri anda “oh, ya ...” dan kembali sadar akan pernafasan dengan

mengulang kata “satu”. Dalam latihan jangan bersikap terburu-buru.

Berlatihlah sekali atau dua kali sehari, tetapi jangan melakukan dalam waktu

dua jam setelah makan, karena proses pencernaan mengganggu timbulnya

relaksasi. Menurut Aryana dan Novitasari (2013) tentang pengaruh relakasi

benson terhadap penurunan stress merekomendasikan adanya latihan benson

24
relaksasi selama rata- rata 5 kali dalam [Link] untuk penurunan skala

nyeri diberikan teknik relaksasi benson 3 kali dalam sehari.

4 Masalah pada Pasien dengan Appendicitis

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik ditandai dengan

mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah.

2. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri ditandai dengan

merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi.

3. Hipertermia berhubungan dengan suhu tubuh diatas nilai normal ditandai

dengan kulit terasa hangat.

4. Risiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan tubuh

primer.

25
5 Asuhan Keperawatan pada Penderita Appendicitis

Tabel 2.1
Asuhan Keperawatan pada Penderita Appendicitis

No. Diagnosa Luaran Intervensi


1. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 5 1. Observasi:
dengan agen pencedera fisik jam diharapkan tingkat nyeri menurun. 1) Identifikasi lokasi, durasi, dan frekuensi nyeri
ditandai dengan mengeluh Dengan kriteria hasil : 2) Identifikasi skala nyeri
nyeri, tampak meringis, 1. Keluhan nyeri menurun 3) Identifikasi faktor yang memperberat nyeri
gelisah. 2. Meringis menurun
2. Terapeutik :
3. Tanda vital membaik 1) Berikan teknik nonfarmakologi untuk
4. Kesulitan tidur menurun mengurangi nyeri (teknik relaksasi Benson)
2) Kontrol lingkungan yang memperberat nyeri
3) Fasilitasi istirahat dan tidur

3. Edukasi:
Ajarkan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi
nyeri (teknik relaksasi Benson)

4. Kolaborasi :
Kolaborasi dalam pemberian analgetik

2. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1 x 5 jam 1. Observasi :


dengan ancaman terhadap diharapkan kondisi emosi dan pengalaman subjektif 1) Monitor tanda dan gejala infeksi Identifikasi
26
No. Diagnosa Luaran Intervensi
konsep diri ditandai dengan terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat saat tingkat ansietas berubah
merasa khawatir dengan antisipasi bahaya yang memungkinkan individu 2) Identifikasi kemampuan mengambil
akibat dari kondisi yang melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman keputusan
dihadapi. dengan criteria hasil : 3) Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan non
1. Verbalisasi khawatir akibat kondisi yan di verbal)
hadapi menurun
2. Perilaku gelisah menurun 2. Terapeutik :
3. Perilaku tegang menurun 1) Ciptakan suasana terupetik untuk
4. Keluhan pusing menurun menumbuhkan kepercayaan
5. Konsentrasi membaik 2) Temani pasien untuk mengurangi kecemasan,
6. Pola tidur membaik jika memungkinkan
7. Kontak mata membaik 3) Pahami situasi yang membuat ansietas
8. Pola berkemih membaik 4) Dengarkan dengan penuh perhatian
9. Orientasi membaik 5) Gunakan pendekatan yang tenang dan
meyakinkan
6) Motivasi mengidentifikasi situsi yang
memicu kecemasan
7) Diskusikan perencanaan realistis tentang
peristiwa yang akan datang

3. Edukasi:
1) Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang
mungkin di alami
2) Informasikan secara factual mengenai
diagnosis, pengobatan, dan prognosis
3) Anjurkan keluarga untuk tetap bersama
pasien
4) Anjurkan untuk mengungkapkan perasaan
dan persepsi
5) Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi
kontrol ketegangan
6) Latih teknik relaksasi

27
No. Diagnosa Luaran Intervensi

4. Kolaborasi:
Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu

3. Hipertermia berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 5 jam 1. Observasi:


dengan suhu tubuh diatas diharapkan pengaturan suhu tubuh agar tetap 1) Identifikasi penyebab hipertemia
nilai normal ditandai dengan berada padarentang normal dengan Kriteria Hasil: 2) Monitor suhu tubuh
kulit terasa hangat. 1. Suhu tubuh membaik 3) Monitor kadar eliktrolit
2. Tekanan darah membaik 4) Monitor haluaran urine
3. Pucat menurun 5) Monitor komplikasi akibat hipertermi

2. Terapeutik:
1) Sediakan lingkungan yang dingin
2) Longgarkan pakaian
3) Basahi permukaan tubuh
4) Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
5) Berikan oksigen jika perlu

3. Edukasi:
Anjurkan tirah baring

4. Kolaborasi:
Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit
intravena, jika perlu

4. Risiko infeksi berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 5 1. Observasi :


dengan ketidakadekuatan jam diharapkan kontrol resiko infeksi meningkat Monitor tanda dan gejala infeksi
pertahanan tubuh primer. dengan kriteria hasil :
1. Pemantauan perubahan status kesehatan 2. Terapeutik :
meningkat 1) Batasi jumlah pengunjung
2. Kemampuan mengenal tanda infeksi 2) Berikan perawatan luka dan ganti perban
meningkat 3) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak

28
No. Diagnosa Luaran Intervensi
3. Kemampuan melakukan strategi kontrol risiko dengan klien
meningkat 4) Pertahankan teknik aseptik
4. Kemampuan menghindari faktor resiko
meningkat 3. Edukasi:
1) Anjarkan cara mencuci tangan dengan benar
2) Jelaskan tanda infeksi
3) Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
4) Anjurkan meningkatkan asupan cairan

4. Kolaborasi:
Kolaborasi dalam pemberian antibiotic

29
BAB III

LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

3.1 Pengkajian

3.1.1 Identitas Klien

1. Identitas Pasien

Nama : Ny. S

Umur : 27 Tahun

Agama : Hindu

Jenis Kelamin : Perempuan

Status : Kawin

Pendidikan : Kawin

Pekerjaan : IRT

Suku Bangsa : Indonesia

Alamat : Jl. Raya Sesetan Gg. Udang 1 No.3

Tanggal Masuk : 04 Mei 2021

Tanggal Pengkajian : 04 Mei 2021

No. Register : 200337

Diagnosa Medis : Apendikcitis

2. Identitas Penanggung Jawab

Nama : Ny. W

Umur : 30 tahun

Hub. Dengan Pasien : suami

Pekerjaan : swasta
30
Alamat :Jl. Raya Sesetan Gg. Udang 1 No.3

3.1.2 Status Kesehatan

1. Keluhan Utama

Nyeri perut bagian kanan bawah, lalu setelah lama – kelamaan nyeri

menyebar keseluruh perut di sertai mual dan muntah

2. Riwayat Penyakit Saat Ini

Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 04 Mei 2021 pada pukul

13.30 Wita, pasien datang dengan keluhan nyeri di perut kanan bawah sejak

kemarin malam sebelum masuk rumah sakit. Pada awalnya nyeri di rasakan di

perut bagian kanan kemudian menjalar keseluruh perut. Nyeri di rasakan terus-

mnerus. Nyeri dirasakan memberat saat perut ditekan dan pasien bergerak,

sehingga klien susah beraktivitas. Klien mengeluh nyeri pada perut kanan bawah

semakin memberat hebat sejak kemarin malam. Klien juga mengeluh susah tidur

,tidak nafsu makan, mual dan muntah 2x. dari hasil pemeriksaan didapatkan skala

nyeri 7, tingkat kesadaran Composmetis . Tanda vital yaitu Tekanan darah :

120/80 mmhg, nadi : 93x/menit, suhu : 37,8c, Respirasi 20x/ menit PQRST nyeri

: P : Nyeri perut kanan bawah Q : Nyeri timbul saat beraktivitas R : Daerah perut

kuadran kanna bawah S: skala nyeri 7 , seperti ditusuk-tusuk T : Nyeri yang di

rasakan hilang timbul

3. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya

Pasien mengatakan berobat ke dokter umum namun keluhan yang dirasa

tidak juga hilang.

31
2. Status Kesehatan Masa Lalu

1) Penyakit yang pernah dialami

Pasien mengatakan merasa tidak enak dan pegal-pegal di pinggang kirinya

sejak 1 tahun yang lalu

2) Pernah dirawat

Klien mengatakan belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya

3) Alergi

Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi baik pada makanan, minum

(teh, kopi, susu), dan obat-obatan

4) Kebiasaan (merokok/kopi/alkohol dll)

Pasien mengatakan tidak memiliki kebiasaan merokok maupun

mengkonsumsi minuman yang beralkohol

3. Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit keluarga seperti :

tekanan darah tinggi, kencing manis, asma, maupun jantung.

4. Riwayat psikososial

Klien mengatakan dirinya kurang mengetahui penyakit yang dideritanya

5. Diagnosa Medis dan therapy

Tabel 3.1
Diagnosa Medis: Apendisitis Akut

No Tanggal di berikan Nama Dosis Rute Indikasi


1 04 Mei 2021 Pct 500 mg Oral Meredakan nyeri dan demam
2 04 Mei 2021 Netronidazol 500 mg Oral Obat antibiotik untuk mmengobati
infeksi
3 04 Mei 2021 RL 0,9 % 20 tpm IV Mengembalikan cairan yang hilang
4 04 Mei 2021 Keterolac 30 mg IV Meredakan nyeri dan peradangn
5 04 Mei 2021 Ranitidine 50 mg IV Menangani gejala /penyakit asam
lambung
32
3.1.1 Pola Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)

1. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan

Klien dan keluarga mengatakan kurang mengetahui mengenai penyakit

apendiksitis dan klien belum tahu cara mengaatasi nyerinya.

2. Pola Nutrisi-Metabolik

1) Sebelum sakit:

Klien mengatakan sebelum sakit makan 3x sehari klien biasanya makan nasi,

dengan lauk tempe, tahu, ikan, sayur, nafsu makan klien baik, dan jarang

minum air putih dan klien suka makan makanan pedas. Klien mengatakan

makan habis satu porsi. Klien juga mengatakan tidak ada makanan yang tidak

disukai dan membuat alergi.

2) Saat sakit:

Klien mengeluh tidak nafsu makan sejak kemarin malam , mual, muntah 2x

dan minum air putih setelah makan 4-5 gelas.

3. Pola Eliminasi

1) BAB

(1) Sebelum sakit:

Klien mengatakan sebelum sakit BAB biasa satu kali per hari, feses berwarna

kuning kecoklatan dengan konsistensi lembek

(2) Saat sakit:

Klien mengatakan saat sakit klien belum BAB sejak kemarin malam

33
2) BAK

(1) Sebelum sakit:

Klien mengatakan sebelum sakit BAK ± tiga sampai lima kali sehari, warna

urine kuning jernih,

(2) Saat sakit:

Klien mengatakan saat sakit klien tidak mengalami gangguan BAK klien BAK

4-5x sehari warna kuning bau khas

4. Pola aktivitas dan latihan

1) Aktivitas

Tabel 3.2
Pola Aktivitas

Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4


Makan dan minum √
Mandi √
Toileting √
Berpakaian √
Berpindah √
0: mandiri, 1: Alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain dan alat, 4:

tergantung total

2) Latihan

(1) Sebelum sakit:

Klien biasa melakukan pekerjaannya sehari hari, dan tidak merasakan nyeri

atau sakit pada bagian perut

(2) Saat sakit:

Klien tidak bisa melakukan pekerjaannya seperti biasa karena nyeri yang

dirasakan makin berat terutama saat beraktifitas, dan nyeri dirasakan hilang

timbul dan menjalar ke seluruh perut

34
5. Pola kognitif dan Persepsi

Pasien mengatakan merasa kurang nyaman karena nyeri yang ia rasakan,

dan pasien mengatakan tidak bisa beraktivitas bebas karena merasakan nyeri

setiap beraktivitas.

6. Pola Persepsi-Konsep diri

1) Gambaran diri

Klien mengatakan tidak ada bagian tubuh yang paling disukai maupun yang

tidak disukai, karena klien mengatakan semua anggota tubuhnya sangat

berarti

2) Identitas diri

Status klien dalam rumah sebagai ibu rumah tangga

3) Peran

Pasien merasa sedih karena tidak bisa bekerja dan tidak dapat melakukan

aktivitas seperti biasanya

4) Ideal diri

Pasien berharap dapat sembuh dari sakitnya dan bisa kembali sehat seperti

dulu sehingga klien dapat kembali melakukan aktivitas dan bekerja seperti

biasanya, pasien berharap keluarganya dapat menerima keadaannya

(kondisinya) saat ini, dapat memberi dukungan mental, semangat agar pasien

cepat sembuh, pasien juga berharap setelah sembuh pasien dapat melakukan

pekerjan seperti biasanya

35
5) Harga diri

Pasien merasa harga diri rendah, karena setelah sakit klien merasa

membebankan suami untuk menjaga dan merawat dirinya

7. Pola Tidur dan Istirahat

1) Sebelum sakit:

Klien biasa tidur malam pada jam 20.00 wita dan biasa terbangun pada jam

06.00 wita, untuk memsak saat bangun tidur pasien merasa nyaman dan

segar, kadang-kadang pasien juga melakukan tidur siang di jam istirahat .

Klien tidak memiliki gangguan tidur, pasien memiliki kualitas tidur yang baik

2) Saat sakit:

Klien mengatakan tidak dapat tidur dari kemarin malam karena nyeri perut

yang di rasakan

8. Pola Peran-Hubungan

Klien mengatakan memiliki hubungan yang baik dengan keluarga maupun

tetangganya, klien juga sering bercerita dengan keluarga maupun tetangganya

saat berkumpul bersama

9. Pola Seksual-Reproduksi

1) Sebelum sakit:

Klien tidak mengalami gangguan pada reproduksinya dan klien juga

mengatakan saat kencing tidak ada rasa sakit

2) Saat sakit:

Klien tidak mengalami gangguan pada reproduksinya dan klien juga

mengatakan saat kencing tidak ada nyeri

36
10. Pola Toleransi Stress-Koping

Klien mengatakn jika dirinya mengalami stress atau banyak pikiran biasanya

klien mengatasinya dengan cara berdoa, dan bercerita dengan suami

11. Pola Nilai-Kepercayaan

Klien mengatakan sebelum sakit dirinya rajin melakukan persembahyangan

(berdoa) setiap harinya, dan ketika sakit klien tetap sembahyang (berdoa)

seperti biasanya walau dari tempat tidur, klien yakin dan percaya akan

keajaiban tuhan,

3.1.2 Pengkajian Fisik

1. Keadaan umum :

Klien tampak lemah

Tingkat kesadaran : Composmentis

GCS : Eye :4 Motorik: 6 Verbal :5.

2. Tanda-tanda Vital :

Nadi = 93x/menit

Suhu = 37,8 0c

TD =120/80 mmgh

RR = 20x/menit

3. Keadaan fisik

1) Kepala dan leher :

Tampak kepala pasien simestris tidak ada nyeri tekan pada kepala ,tidak ada

pembesaran kelenjar limfe dan tiroid pada leher pasien, JPV (-)

37
2) Mata :

Pupil normal berbentuk bulat, kongjungtiva anemis, sklera ikterik (-), mata

cowong (-), edema palpebral (-).

3) Hidung :

Tidak ada perdarahaan ,tidak ada nyeri dan tidak ada penyumbatan

penciuman

4) Telinga :

Tidak adanya nyeri, tidak ada penurunan atau hilangnya pendengaran

5) Mulut :

Tidak ada radang mucosa

6) Dada :

(1) Paru

Inspeksi : Tampak dada pasien simestris kiri dan kanan, tidak ada

retraksi dinding dada, Tidak ada penggunaan otot bantu nafas.

Palpasi : Frimitus seimbang kiri dan kanan

Perkusi : Sonor seluruh lapang dada

Auskultasi : Suara nafas vesikuler dan tidak ada suara tambahan

7) Abdomen :

Inspeksi : Bentuk abdomen simetris

Auskultasi : Bising usus (+) menurun

Palpasi : Dinding perut simetris, Massa (-), Nyeri tekan (+) kuadran kanan

bawah ([Link] sign). Nyeri lepas (+) Psoas sign (+).

38
Obturator sign (+), Rovsing sign (+), defans muskular (+) di

kuadran kanan bawah.

Perkusi : Terdengar thympani

8) Ekstremitas:

(1) Akral hangat, edema (-), CRT<2

(2) Kekuatan Otot

5 5

5 5

Tabel 3.3
Kekuatan Otot

Skala Ciri-ciri
0 Paralisis total
1 Tidak ada gerakan, teraba/terlihat adanya kontraksi otot
2 Ada gerakan pada sendi tetapi tidak bisa melawan gravitasi (hanya geseran )
3 Bisa melawan gravitasi tetapi tidak dapat menahan/tahanan pemeriksa
4 Bisa bergerak melawan tahanan pemeriksa tetapi tahanannya berkurang
5 Dapat melawan tahanan pemeriksa dengan kekuatan maksimal

9) Genetalia :

Tidak ada infeksi pada sekitar kulit,tidak ada nanah,dan tidak ada peradangan

dan perdarahan.

10) Anus :

Tonus sphinter ani baik, nyeri tekan (+), massa(-).darah(-)

39
3.1.3 Pemeriksaan Penunjang

1. Data laboratorium

Tabel 3.4
Pemeriksaan Hematologi

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai rujukan


Hematologi lengkap
Hemoglobin 13.5 g/dl 11.7 -15.5
Wbc H 18.45 10^3/ul 3.80 -10.60
Basophil 0.1 % 0.0-1.0
Fosinofil L 0.1 % 2.0-4.0
Neutrophil H 84.8 % 37.0-72.0
Limfosit L 9.9 % 25.0-40.0
Monosit 5.1 % 2.0-8.0
Immature granulosit 0.1 % 0.0-72.0
RBC 4.74 10 ^6/ul 4.40-5.90
Hematokrit 41.8 % 35.0-47.0
MCV 88.2 f/L 80-0-100.0
MCH 28.5 Pg 26.0-34.0
MCHC 32.3 g/L 32.0-36.0
PLT 278 10 ^3/ul 150-440
RDW-SD 41.5 fL 37-54
RDW-CV 12.6 % 115-14.5
PDW 9.6 fL 9.0-13.0
MPV 9.1 fL 13.0-43.0
PLCR 17.4 % 0.17-0.35
PCT 0.25 % <3.13
NLR H 8.6

2. Pemeriksaan Urinalisa

Tabel 3.5
Pemeriksaan Urinalisa

Urinalisa Hasil Satuan Nilai Rujukan


Urine Lengkap
Makroskopis
Warna Kuning Kuning
Kejernihan Agak keruh Jernih
Berat jenis 1.020 1.005-1.030
Ph 6.0 4.5-8.0
Lekosit esterase Negatif Negatif
Nitrit Negatif Negatif
Protein Negatif Negatif
Glukosa Negatif Normal
Keton Negatif Negatif
Urobilinogogen Normal Mg/dl Normal (<1.0)
Bilirubin Negatif Negatif

40
Urinalisa Hasil Satuan Nilai Rujukan
Darah samar Negatif Negatif
Sedimen
Eritrosit 1-2 /lpb 0-2
Lekosit 1-2 /lpb 0-5
Silinder Negatif
Sel Epitel 3-5 /lpk 0-2
Kristal Negatif
Bakteri Positif Negatif
Lain –lain Negatif
T. kehamilan Negatif Negatif

3.2 Analisa Data

Tabel 3.6
Analisa Data

Data Etiologi Masalah


DS : Nyeri Akut
- Klien mengatakan merasa nyeri perut obtruksi
kanan bawah sejak dua hari
- nyeri dirasakan di perut kanan bawah. Mucus terbendung
Nyeri dirasakan terus-menerus dan
menjalar ke seluruh perut, nyeri Menekan dinding appendik
dirasakan seperti tertusuk-tusuk dan di
rasakan makin lama makin memberat. Aliran limfe terganggu
Nyeri dirasakan memberat saat perut
ditekan dan pasien bergerak, Edema
- Skala nyeri 7
Appendik Meradang
Do:
Klien tampak meringis kesakitan Nyeri pada daerah kuadran
P : Nyeri perut kanan bawah kanan bawah McBurney: -
Q : Nyeri timbul saat beraktivitas Tanda Rovsing & Tanda
R : Daerah perut kuadran kanan bawah Blumberg
S : skla nyeri 7 seperti di tusuk- tusuk
T ; nyeri yang di rasakan hilang timbul Nyeri Akut
TTV
TD : 120/80 mmhg
Suhu : 37,8 0c
Nadi : 93 x/menit
RR : 20x/menit

Ds: Menekan dinding appendik Ansietas


Klien mengatakan ia khawatir dengan
penyakitnya Aliran limfe terganggu

Do: Edema
Klien tampak gelisah dan meringis
kesakitan Appendik Meradang
TTV
TD : 120/80 mmhg Appendiksitis

41
Data Etiologi Masalah
Suhu : 37,8 0c
Nadi : 93 x/menit
RR : 20x/menit Keletihan dan kelemahan

Pucat,dan gelisah

Ansietas

3.3 Tabel Daftar Diagnosa Keperawatan /Masalah Kolaboratif Berdasarkan

Prioritas

Tabel 3.7
Daftar Masalah Kolaboratif Berdasarkan Prioritas

No Tgl / Jam Diagnosa Keperawatan Tanggal Ttd


Ditemukan Teratasi
1 04 Mei 2021 Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis, d.d ayu
adanya infeksi

2 04 Mei 2021 Ansietas b.d klien tampak gelisah d.d ayu


kekhawatiran mengalami kegagalan

42
3.4 Rencana Tindakan Keperawatan

Tabel 3.8
Rencana Tindakan Keperawatan

Diagnosa
No SLKI SIKI
Keperawatan
1 Nyeri akut berhubungan dengan Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
agen pencedera fisiologis, di Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 5 Observasi :
tandai dengan adanya infeksi jam diharapkan nyeri akut menurun dengan 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
Kriteria Hasil: kualitas, intensits nyeri
1. Keluhan nyeri menurun 2. Identifikais skala nyeri
2. Meringis menurun 3. Identifikasi nyeri non verbal
3. Gelisah menurun 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan
4. Kesulitan tidur menurun memperingan nyeri
5. Frekuensi nadi membaik 5. Identifikasi pengaruh nyeri terhadapkualitas hidup
6. Pola nafas membaik
7. Tekanan darah membaik Teraupetik :
8. Nafsu makan membaik 1. Berikan teknin nonfarmakologi untuk mengurangi
9. Pola tidur membaik nyeri (berikan terapi relaksasi benson)
2. kontrol lingkungan yang memperberat nyeri (suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)

Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Ajarkan teknik norfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri

Kolaborasi
1. Kolaborasikan pemberian analgesic, jika perlu

43
Diagnosa
No SLKI SIKI
Keperawatan
2 Ansietas b.d klien tampak Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 5 Reduksi Ansietas
gelisah d.d kekhawatiran jam diharapkan nyeri akut menurun dengan Observasi
mengalami kegagalan Kriteria Hasil: 1. Identifikais saat tingkat ansietas berubah
Tingkat Ansietas ([Link], waktu, stressor)
1. Menyingkirkan tanda kecemasan 2. Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
2. Tidak terdapat perilaku gelisah 3. Monitor tanda ansientas
3. Frekuensi nafas menurun
4. Frekuensi nadi menurun Teraputik
5. Menurunkan stimulasi lingkungan ketika 1. Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan
cemas rasa percaya
6. Menggunakan teknik relaksasi untuk 2. Temani pasien untuk mengurangi rasa kecemasan ,
menurunkan kecemasan jika memungkinkan
7. Konsentrasi membaik 3. Pahami situasi yang membuat ansietas
8. Pola tidur membaik 4. Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu
kecemasan

Edukasi
1. Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin
dialami
2. Anjurkan keluarga untuk tetap menemani pasien
3. Anjurkan melakukan kegiatan yang kompetitip,
sesuai kebutuhna
4. Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
5. Latih kegiatan pengalihan, untuk mengurangi
ketegangan
6. Latih teknik Terapi Benson

Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas , jika perlu

44
3.5 Implementasi

Tabel 3.9
Implementasi Keperawatan

No Nama
Hari/ tgl/jam Tindakan Keperawatan Evaluasi
Diagnosa dan ttd
04 Mei 2021 1 Mengobservasi tanda- Ds : Pasien mengatakan nyeri pada perut kanan bawah
13.30 tandavital dan P : Nyeri perut kanan bawah
mengidentifikasi lokasi, Q : Nyeri timbul saat beraktivitas
durasi dan frekuensi nyeri R : Daerah perut kuadran kanan bawah
dan skala nyeri S : skla nyeri 7 seperti di tusuk- tusuk
T ; nyeri yang di rasakan hilang timbul

Do : Pasien tampak lemas


S : 37,8 0c
RR : 20 x /menit
TD : 120/80 mmhg
N : 93x/menit

15.00 1 Mengajarkan teknik Ds : Pasien mengatakan merasa lebih tenang dan nyaman
normarmakologi (Teknik Do : Pasien mampumengikuti instruksi yang diberikan perawat dengan baik
Relakssai Benson)

16.00 1 Kolaborasikan dengan Ds : Pasien mengatakan merasa lebih tenang dan nyaman
pemberian obat analgesic Do : obat masuk lewat intravena dan tidak ada tanda – tanda alergi
(Katarolac 1 ml )

16.30 1 Mengobservasi tanda- Ds : pasien mengatakan masih meerasa sakit di perut bagian kanan bawah
tandavital dan seperti di tusuk –tusuk dengan skala nyeri 7 , nyeri di rasakan saat
mengidentifikasi lokasi, digerakan
durasi dan frekuensi nyeri Do : Pasien tampak meringis
dan skala nyeri TD : 120/80 mmhg

45
No Nama
Hari/ tgl/jam Tindakan Keperawatan Evaluasi
Diagnosa dan ttd
S : 37,8 0C
N : 93 x/menit
RR : 20x/menit

Ds : Pasien mengatakan lebih nyaman dan rileks setelah melakukan teknik


17.00 1 Mengajarkan Teknik relaksasi benson
nonfarmakologi (Teknik Do : Pasien mampu mengikuti instruksi yang diberikan perawat dengan baik
relaksasi benson)
Ds : Pasien mengatakan masih meerasa sakit di perut bagian kanan bawah
17. 30 1 Mengkaji tanda – tanda vital seperti di tusuk –tusuk nyeri brkurang dengan skala 6 , nyeri di rasakan
dan skala nyeri saat digerakan
Do : Pasien tampak meringis
TD : 120/80 mmhg
S : 37,8 0C
N : 93 x/menit
RR : 20x/menit

Ds : Pasien mengatakan lingkungan di igd sudah cukup tenang , pasien sudah


18.00 1 Mengontrol lingkungan yang mulai bisa istirahat
memperberat nyeri Do : Pasien tampak lebih tenang

Ds : pasien mengatakan rileks dengan posisinya


19.00 1 Berikan posisi yang nyaman Do : Pasien tampak lebih tenang

46
3.6 Evaluasi

Tabel 3.10
Evaluasi Keperawatan

No Nama
No Hari/tgl Evaluasi
Diagnosa dan ttd
1 04 Mei 2021 1 S: Ayu
Pasien mengatakan nyeri yang di rasakan sudah berkurang
Pasien mengatakan nyeri skala 6
O : Pasien tampak rileks
TD : 12/80 mmhg
S : 37,8 0c
N : 93x/menit
R : 20x/menit
P : Nyeri perut kanan bawah
Q : Nyeri timbul saat beraktivitas
R : Daerah perut kuadran kanan bawah
S : skla nyeri 7 seperti di tusuk- tusuk
T ; nyeri yang di rasakan hilang timbul
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi

2 04 Mei 2021 1 S : Pasien mengatakn cemas dan gelisah karena akan melakukan operasi apendiksitis Ayu
O : Pasien tampak melakukan teknik relaksasi benson untuk mengurangi kecemasan
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi

47
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Profil Lahan Praktif

4.1.1 Sejarah Rumah Sakit Angkatan Darat Tk II Udayana Denpasar

Rumah Sakit Tk. II Udayana merupakan Rumah Sakit Militer yang

menjadi Rumah Sakit rujukan tertinggi di lingkungan Kodam IX/Udayana yang

mempunyai tugas pokok yaitu memberikan pelayanan Kesehatan bagi personel

TNI – AD, PNS beserta keluarganya di jajaran Kodam IX/Udayana dan

merupakan Rumah Sakit rujukan dari personel TNI-AU/ TNI-AL/ PNS dan

keluarganya ( Rumah Sakit integrasi).

Dalam perjalanannya, Rumah Sakit Tk. II Udayana mengalami

perkembangan dan perubahan baik secara fisik bangunan, fasilitas kesehatan

maupun nama dan status Rumah Sakit. Rumah Sakit ini memulai perjalanan

sejarahnya pada tahun 1950 dimana terjadi serah terima pemerintahan dari Hindia

Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia yang pada saat ini diserahkan

kepada Tentara Nasional Indonesia sehingga terjadi pergantian nama Rumah Sakit

dari Palang Merah KNIL menjadi Jawatan Kesehatan Tentara ynag disingkat

DKT yang beralamat di jalan Melati Denpasar (sekarang menjadi Rumah Dinas

Kakesdam IX/ Udayana dan Kantor Koramil Denpasar Timur), sedangkan yang

berlokasi di Jalan Thamrin Denpasar (sekarang merupakan bangunan CV. Gajah

Gotra) yang dulu dipakai sebagai Bangsal Bersalin dan Bangsal Anak.

Selama kurun waktu perjalanan sejarah dari tahun 1950 sampai dengan

sekarang Rumah Sakit Tk. II Udayana mengalami pergantian nama Rumah Sakit
48
dan pergantian Pejabat-pejabat Kepala Rumah Sakit maupun dilakukan perbaikan/

penambahan bangunan baik bangunan utama/perkantoran, sarana penunjang

maupun bangsal perawatan.

Dari perjalanan waktu ke waktu sampai dengan sekarang, Rumah Sakit

Tk. II Udayana mengalami pergantian nama berdasarkan keputusan pimpinan

Angkatan Darat, dimana pergantian dimulai tahun 1950 sampai dengan sekarang,

sebagai berikut :

1. Tahun 1950 – 1957 dengan nama Palang Merah KNIL menjadi Dinas

Kesehatan Tentara (DKT).

2. Tahun 1958 – 1963 Perubahan nama dari DKT menjadi Jawatan

Kesehatan Teritorial Tujuh.

3. Tahun 1964 – 1976 Perubahan nama dari Jawatan Kesehatan

Teritorial Tujuh menjadi Rumah Sakit Tentara (RST).

4. Tahun 1977 – 1985 Perubahan nama dari RST menjadi Rumkitdam

XVI/Udayana.

5. Tahun 1985 – 2012 Perubahan nama dari Rumkitdam XVI/Udayana

menjadi Rumah Sakit Tk. III Denpasar.

6. Tahun 2012 sampai dengan sekarang Perubahan nama dari Rumah

Sakit Tk. III Denpasar menjadi Rumah Sakit Tk. II Udayana.

4.1.2 Gambaran Umum IGD RSAD Tk II Udayana

IGD RSAD merupakan salah unit gawat darurat yang berada pada RSAD

Tk II Udayana dimana IGD digunakan untuk merawat pasien dengan berbagai

macam kasus penyakit dalam. Klasifikasi pasien yang dirawat di IGD yaitu pasien

49
kelas 2 dan kelas 3 dengan BPJS dan Umum. IGD berkapasitas 10 tempat tidur,

yang terdiri dari ruang observasi sebanyak 4 bed , medic 2 bed, potek 1 bed,

isolasi 1 bed ,resusitasi 1,bedah 1, terdapat 1 ruang karu, 1 ruang tindakan, 1

ruang spoel hock, 1 alat ekg , 1 ruang jaga perawat dan administrasi. Di ruang

IGD terdapat masing-masing memiliki kapasitas yang sama yaitu, AC, kipas,

kamar mandi dalam, meja, kursi dan wastafel.  IGD dilengkapi 8 TT dan 2

Ambulance  24 Jam, serta ditangani oleh tenaga medis, paramedis terampil yang

telah mendapat pelatihan ATLS, ACLS, BTLS, BCLS.

4.2 Analisis Masalah Keperawatan Dengan Konsep Evidence Based Practice

dan Konsep Kasus Terkait

Hasil studi kasus menguraikan tentang asuhan keperawatan yang diteliti

pada pasien Apendiksitis di RSAD Tk II Udaya Denpasar pada tanggal 04 Mei

2021 yang meliputi lima langkah proses keperawatan dimulai dari pengkajian

sampai dengan evaluasi.

Pembahasan pada studi kasus menguraikan tentang perbandingan antara

hasil studi kasus dan teori yang dijadikan acuan, serta argumentasi penulis itu

sendiri terhadap asuhan keperawatan yang dianalisa pada pasien Apendiksitis di

RSAD Tk II Udayana Denpasar pada 04 Mei 2021 . Bagian ini akan menguraikan

tentang temuan studi kasus dan keterkaitannya dengan teori. Studi kasus ini

membandingkan asuhan keperawatan pasien penyakit Apendiksitis pada Ny . S di

IGD RSAD Tk II Udayana Denpasar dengan proses keperawatan.

Berdasarkan hasil pengamatan pada pasien Ny. S dengan diagnosa medis

Pre operasi pendiksitis didapatkan dua masalah keperawatan yaitu nyeri akut dan
50
ansietas dengan prioritas masalah nyeri akut karena dari hasil pengkajian

didapatkan pasien mengatakan nyeri diperut kanan bawah skala 7, nyeri terasa

seperti tertusuk-tusuk, tekanan darah 120/80 mmhg dan pasien tampak meringis

kesakitan dan gelisah.

Apendiksitis merupakan peradangan pada apendisitis yang berbahaya jika

tidak ditangani dengan segera di mana terjadi infeksi berat yang bisa

menyebabkan pecahnya lumen usu (Williams & Wilkins,2011 dalam Indri ,Dkk

2014). Apendisitis dapat ditemukan pada laki-laki maupun perempaun dengan

resiko penderita apendisitis selama hidupnya mencapai 7-8 %. Insiden tertinggi

dilaporkan pada rentang usia 20-30 [Link] pada anak kurang dari satu

tahun kasus apendisitis jarang ditemukan (Samsuhidajat, 2010).

Gejala klinis apendisitis samar –samar dan tumpul yang merupakan nyeri

visceral di daerah epigastrium di sekitar umbilicus. Keluhan ini hanya disertai

oleh demam ringan, mual muntah dan hilangnya nafsu makan, dan beberapa jam

nyeri berpindah ke kanan bawah ketitik McBurney.(Sinuhaji,2014). apendiktomy.

Apendiktomy merupakan satu- satunya terapi yang efektif Orang yang sudah

terkena penyakit ini bisa disembuhkan dengan cara operasi untuk apendisitis. Jika

timbul peritonitis, terapi dilakukan dengan intubasi lambung, pengggantian cairan

dan elektrolit dengan cara dengan cara parental, dan pemberian antibiotic

parentera (Novita, 2019). Apendiksitis merupakan penyebab paling umum

inflamasi akut pada kuadran kanan bawah dari rongga abdomen dan penyebab

paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer & Bare, 2013).

Appendicitis akut terjadi karena proses radang bakteri yang disebabkan oleh

51
beberapa faktor seperti hyperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan

cacing askaris yang menyumbat (Haryono, 2012). Appedicitis akut merupakan

infeksi bakteria. Berbagai hal menjadi faktor penyebabnya. Sumbatan lumen

apendiks merupakan faktor pencetus disamping hyperplasia jaringan limfe, batu

feses, tumor apendiks, dan cacing askaris dapat juga menyebabkan sumbatan.

Penyebab lain yang diduga menimbulkan appedicitis yaitu erosi mukosa apendiks

karena parasit seperti [Link] (Sjamsuhidajat, 2010).

Appedikitis dimulai oleh obstruksi lumen yang disebabkan oleh feses yang

fekalit. Sesuai dengan pengamatan epidemiologi, appedicitis berhubungan dengan

asupan makanan rendah serat. Pada stadium awal, terlebih dahulu terjadi inflamasi

mukosa. Inflamasi kemudian berlanjut ke submukosa dan melibatkan peritoneal.

Cairan eksudat fibrinopurulenta terbentuk beberapa permukaan peritoneal yang

bersebelahan. Dalam stadium ini mukosa glandular yang nekrosis terkelupas ke

dalam lumen yang menjadi distensi dengan pus. Arteri yang menyuplai apendiks

akan menjadi bertrombosit dan apendiks yang kurang suplai darah menjadi

nekrosis. Jika perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum, abses local akan

terjadi (Burkit, Quick & Reed, 2010).

Apendiktomi dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode

pembedahan, yaitu secara tehnik terbuka/pembedahan konvensional (laparatomi)

atau dengan tehnik laparaskopi yang merupakan tehnik pembedahan minimal

infasif dengan metode terbaru yang sangat efektif (Berman & Kozier, 2012).

Nyeri dapat diatasi dengan penatalaksanaan nyeri yang bertujuan untuk

meringankan atau mengurangi rasa nyeri sampai tingkat kenyamanan yang

52
dirasakan oleh klien. Ada dua cara penatalaksanaan nyeri yaitu terapi

farmakologis dan non-farmakologis. Tindakan perawat untuk menghilangkan

nyeri selain mengubah posisi, meditasi, makan, dan membuat klien merasa

nyaman yaitu mengajarkan teknik relaksasi (Potter & Perry, 2010).

Nyeri merupakan sensasi yang rumit, unik, universal dan bersifat

individual, sehingga tidak ada dua individu yang mengalami nyeri yang sama dan

tidak ada dua kejadian nyeri yang sama menghasilkan respon atau perasaan yang

identik pada individu. Hal tersebut yang menjadi dasar bagi perawat untuk

memberikan intervensi keperawatan dalam mengatasi nyeri (Asmadi, 2013).

Nyeri dapat terjadi melalui empat proses tersendiri yaitu transduksi, transmisi,

modulasi, dan persepsi. Transduksi nyeri adalah proses rangsangan yang

menggangu sehingga menimbulkan aktivitas listrik di reseptor nyeri. Transmisi

nyeri terdiri dari tiga bagian, pada bagian pertama nyeri merambat dari serabut

saraf perifer ke medulla spinalis. Dua jenis serabut nosisseptor yang terlibat dalam

proses tersebut adalah serabut C, yang mentransmisikan nyeri tumpul dan

menyakitkan, serabut A-Delta yang menstransmisikan nyeri yang tajam dan

terlokalisasi. Bagian kedua adalah transmisi nyeri dari medulla spinalis menuju

batang otak dan talamus melalui jaras spinotalamikus (spinothalamic) tract atau

STT). STT merupakan suatu sistem deskriminatif yang membawa informasi

mengenai sifat dan lokasi stimulus ke talamus. Selanjutnya, pada bagian ketiga,

sinyal tersebut diteruskan ke korteks sensori somatik (tempat nyeri dipersepsikan)

(Mubarak, Indrawati, & Susanto, 2015).

53
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan

oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual, serta

kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua

orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling

mungkin adalah dengan menggunakan respons fisiologis tubuh terhadap nyeri itu

sendiri (Mubarak et al., 2015)

Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan penulis dapat disimpulkan

bahwa masalah prioritas yang ada pada pasien Apendiksitis adalah Nyeri Akut.

Nyeri Akut disebabkan oleh kondisi sakit dan tidak nyaman yang  biasanya

muncul tiba-tiba dan hanya terjadi sebentar. Kondisi nyeri akut umumnya terjadi

akibat ada cedera di jaringan tubuh seperti tulang, otot, maupun organ dalam.

Keparahan nyeri akut dapat terasa ringan hingga parah, dan biasanya paling lama

hanya terjadi dalam beberapa hari. Namun, ada juga nyeri akut yang bisa menjadi

berkepanjangan.

4.3 Salah Satu Intervensi Dengan Konsep Evidence Based Practice

Berdasarkan hasil pengamatan penulis pada Ny. S dengan diagnosa

medis Apedisitis Akut maka salah satu intervensi yang diberikan untuk mengatasi

nyeri akut pada pasien adalah dengan cara pemberian terapi relaksasi benson yang

diharapkan masalah nyeri akut dapat terkontrol dan teratasi.

Intervensi yang dilakukan pada Ny. S dengan pemberian terapi relaksasi

benson. Pasien kelolaan dengan masalah nyeri akut dengan keluhan nyeri perut

kanan bawah, meringis kesakitan dengan sekala nyeri 7 dari 1-10. Dilakukan

tindakann pemberian terapi relaksasi benson oleh perawat, proses terapi relaksasi
54
benson diberikan dalam keadaan yang tenang, bernafas melalui hidung, secara

sadar dan waspadalah terhadap jalan pernafasan, sewaktu menghembuskan nafas

keluar, mengatakan pada diri “satu” jadi menggunakan kata“satu”, nafas masuk

keluar, “satu”, masuk keluar, “satu” dan seterusnya. Bernafas dengan tenang.

Terapi relaksasi benson ini di lakukan selama 10-20 menit. Saat pasien dating ke

IGD dilakukan pengkajian skala nyeri didapat skala nyeri 7 dari 1-10 dilakukan

tindakan terapi relaksasi benson selama perawatan pasien selama 10-20

menidengan hasil setelah dilakukan terapi relaksasi benson selama perawatan dari

Skala nyeri 7 menjadi skala nyeri 6.

Relaksasi benson merupakan pengembangan metode respon relaksasi

pernafasan dengan melibatkan faktor keyakinan pasien yang dapat menciptakan

suatu lingkungan internal sehingga dapat membantu pasien mencapai kondisi

kesehatan dan kesejahteraan lebih tinggi (Benson & Prector, 2010). Relaksasi

Benson merupakan relaksasi menggunakan teknik pernapasan yang biasa

digunakan di rumah sakit pada pasien yang sedang mengalami nyeri atau

mengalami kecemasan. Pada relaksasi Benson ada penambahan unsur keyakinan

dalam bentuk kata-kata yang merupakan rasa cemas yang sedang pasien alami.

Kelebihan dari latihan teknik relaksasi dibandingkan teknik lainnnya adalah lebih

mudah dilakukan dan tidak ada efek samping apapun (Solehati & Kosasih, 2015)

Proses pernafasan pada relaksasi Benson adalah proses masuknya oksigen

via saluran nafas lalu masuk ke paru-paru dan di proses ke dalam tubuh, lalu

kemudian akan di proses dalam paru-paru tepatnya di cabang bronkus dan akan di

edarkan ke setiap bagian tubuh via pembuluh darah vena dan nadi agar dapat

55
memenuhi kebutuhan oksigen. Jika oksigen terpenuhi, maka manusia akan tetap

dalam kodisi yang netral. Kondisi ini akan menimbulkan keadaan rileks secara

umum pada manusia.

Pernafasan yang panjang dapat memberikan energi yang cukup, karena

pada waktu menghembuskan nafas mengeluarkan karbondioksida (CO2) dan saat

menghirup nafas panjang mendapatkan oksigen (O2) yang sangat diperlukan tubuh

untuk membersihkan darah dan mencegah kerusakan jaringan otak akibat

kekurangan oksigen (hipoksia). Pada waktu tarik nafas panjang otot–otot dinding

perut (rektus abdominalis, transversus abdominalis, internal dan eksternal oblique)

menekan iga bagian bawah ke arah belakang serta mendorong sekat diafragma ke

atas dapat berakibat meninggikan tekanan intra abdominal, sehingga dapat

merangsang aliran darah baik pada vena cava inferior maupun aorta abdominalis,

mengakibatkan aliran darah (vaskularisasi) menjadi meningkat ke seluruh jaringan

tubuh terutama organ – organ vital seperti otak Pemberian latihan teknik relaksasi

benson sangat bernafaat pada semua pasien karna terapi rilaksasi benson tidak

hanya membatu menurunkan intensitas nyeri tapi juga akan menjadikan pasien

lebih rileks. Pemberian latihan secara teratur dan dibawah bimbingan seseorang

belajar untuk rileks dan menurunkan reaksinya terhadap stres (Ahmed et al, 2017)

Terapi relaksasi benson adalah suatu pengembangan cara relaksasi yang

melibatkan keyakinan pasien dan bisa menciptakan lingkungan internal sehingga

bisa menolong klien dalam mencapai kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang

lebih baik (Purwanto, 2010). Tujuannya melakukan terapi relaksasi benson yaitu

untuk memperbaiki ventilasi pada alveoli didalam paru, memelihara pertukaran

56
gas dan mencegah atelektasi paru, serta bisa meningkatkan efesiensi batuk,

menurnkan tingkat stress, baik stress secara fisik maupun stress secara emosional

dan menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan serta menurunkan

tekanan darah sistolik dan diastolic (Soeharto, 2011).

Rileks bisa menurunkan kegiatan saraf simpatis dan menghidupkan saraf

parasimpatis, agar terjadi penurunan heart rate serta tekanan perifer yang

dikarenakan oleh pelebaran oleh pembuluh darah dan membuat konsentrasi O 2 di

dalam darah meningkat sehingga kebutuhan O2 di jaringan bisa tercukupi,

sehingga bisa menurunkan tekanan darah (Hikmaharidha, 2011).

Tehnik relaksasi benson ini diharapkan dapat mengalihkan perhatian

terhadap nyeri, dan sebagai salah satu tindakan komplementer yang dapat

dilakukan secara mandiri oleh perawat. Karena hal itulah kegiatan relaksasi

benson menjadi salah satu tindakan yang mudah dan praktis untuk diajarkan.

Tidak hanya kepada pasien, keluarga pasienpun diikut sertakan saat mengajarkan

relaksasi benson. Diharapkan keluarga dapat menjadi sumber dukungan dan

menjadi support system yang dapat meningkatkan pasien untuk melakukan tehnik

relaksasi benson ketika nyeri muncul.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan penulis dapat disimpulkan

bahwa terapi relaksasi benson pada Ny. S dengan masalah keperawatan nyeri akut

dapat dijadikan sebagai kombinasi dalam mengurang nyeri pada pasien

apendisitis.

57
4.4 Konsep dan Penelitian Terkait

Relaksasi benson merupakan pengembangan metode respon relaksasi

pernafasan dengan melibatkan faktor keyakinan pasien yang dapat menciptakan

suatu lingkungan internal sehingga dapat membantu pasien mencapai kondisi

kesehatan dan kesejahteraan lebih tinggi (Benson & Prector, 2010 ). Cara kerja

teknik relaksasi benson ini adalah berfokus pada kata atau kalimat tertentu yang

diucapkan berulang kali dengan ritme teratur. Pernafasan yang panjang dapat

relaksasi menurunkan intensitas nyeri pada pasien pre operasi. Beberapa tehnik

relaksasi yang sudah ada antara lain relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera,

relaksasi meditasi, yoga dan relaksasi hipnosa (Utami, 2013)

Upaya untuk mengatasi nyeri pada pasien pre operasi dapat dilakukan

melalui dua cara yaitu dengan terapi farmakologis dan terapi non farmakologis.

Salah satu jenis terapi non farmakologis yang bisa digunakan yaitu teknik

relaksasi benson. Relaksasi Benson merupakan pengembangan metode respon

relaksasi pernafasan dengan melibatkan faktor keyakinan pasien, yang dapat

menciptakan suatu lingkungan internal sehingga dapat membantu pasien

mencapai kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang lebih tinggi. Kelebihan

latihan relaksasi benson adalah latihan relaksasi lebih mudah dilakukan bahkan

dalam kondisi apapun serta tidak memiliki efek samping apapun (Datak 2017).

Tehnik relaksasi benson ini diharapkan dapat mengalihkan perhatian

terhadap nyeri, dan sebagai salah satu tindakan komplementer yang dapat

dilakukan secara mandiri oleh perawat. Karena hal itulah kegiatan relaksasi

benson menjadi salah satu tindakan yang mudah dan praktis untuk diajarkan.

58
Tidak hanya kepada pasien, keluarga pasienpun diikut sertakan saat mengajarkan

relaksasi benson. Diharapkan keluarga dapat menjadi sumber dukungan dan

menjadi support system yang dapat meningkatkan pasien untuk melakukan tehnik

relaksasi benson ketika nyeri muncul.

Menurut analisa Tumpal Panurung (2019) yang berjudul “pengaruh

terapi relaksasi benson terhadap penurunan skala nyeri post of apendiktsitis.

pemberian terapi relaksasi sebanyak 1x sehari dalam waktu 20 menit efektif untuk

mengurangi intensitas nyeri

Relaksasi Benson merupakan pengembangan dari metode relaksasi nafas

dalam dengan melibatkan faktor keyakinan pasien yang dapat menciptakan suatu

lingkungan yang tenang sehingga dapat membantu pasien mencapai kondisi

kesehatan dan kesejahteraan lebih tinggi. Relaksasi benson bekerja dengan cara

mengalihkan fokus seseorang terhadap nyeri dan dengan menciptakan suasana

nyaman serta tubuh yang rileks.

4.5 Alternatif Pemecahan Masalah Yang Dapat Dilakukan

Berdasarkan dari hasil pelaksanaan asuhan keperawatan dengan

menggunakkan intervensi relaksasi benson dimana penulis mengharapakan

perawat selain mengobati biologis pasien perawat juga harus memperhatikan

psikologis pasien.

Adapun tindakan alternative pemecahan masalah yang biasa dilakukan

untuk mengatasi masalah nyeri akut pada pasien dengan pemberian terapi musik

klasik mozart. Pemberian terapi musik klasik mozart dapat mengurangi nyeri.

Terapi musik klasik mental, fisik dan kesehatan emosi. Terapi musik merupakan
59
suatu bentuk terapi mozart penggunaan musik sebagai alat terapis untuk

memperbaiki, memelihara, mengembangkan dibidang kesehatan yang

menggunakan musik dan aktivitas musik untuk mengatasi berbagai masalah

dalam aspek baik, fisik, psikologis, kognitif dan kebutuhan sosial individu.

Mendengarkan musik dapat memproduksi zat endorphins (substansi

sejenis morfin yang disuplai tubuh yang dapat mengurangi rasa sakit/nyeri) yang

dapat menghambat transmisi impuls nyeri disistem saraf pusat, sehingga sensasi

nyeri dapat berkurang, musik juga bekerja pada sistem limbik yang akan

dihantarkan kepada sistem saraf yang mengatur kontraksi otot-otot tubuh,

sehingga dapat mengurangi kontraksi otot (Potter & Perry, 2011). Musik terbukti

menunjukkan efek yaitu dapat mengurangi nyeri.

Music klasik Mozart memiliki tempo 60-80 ketukan per menit, tanpa lirik,

mengalun, dapat menstimulasi gelombang alpha dan tetha pada otak yang

mengaktifkan sistem limbik sehingga mmembuat tubuh rileks, menimbulkan efek

neuroendokrin dan merangsang pelepasan zat endorphin yang dapat mengurangi

persepsi nyeri.

60
BAB V

PENUTUP

6 Simpulan

Berdasarkan tujuan khusus didapatkan kesimpulan beberapa hal sebagai

berikut:

1. Berdasarkan pengkajian keperawatan pada Ny . S dengan Pre Operasi

Apendisitis ditemukan keluhan yang muncul pada pasien adalah nyeri

dengan skala 7, tekanan darah 120 /80mmHg, pasien tampak meringis

dan gelisah

2. Intervensi yang diberikan pada pasien pre operasi apendisitis akut

dengan masalah nyeri akut ialah dengan memberikan terapi relaksasi

benson

3. Implementasi yang dengan pemberian terapi relaksasi benson pada

pasien Pre Operasi Apendiksitis dengan nyeri akut diberikan sebanyak

1x sehari dalam waktu 20 menit

4. Hasil evaluasi yang dilakukan sebelum dilakukan pemberian terapi

relaksasi benson mengatakan nyeri dengan skala 7, nyeri terasa seperti

tertusuk-tusuk setelah dilakukan pemberian terapi relaksasi benson

sebanyak 1x sehari dalam waktu 20 menit pasien mengatakan nyerinya

sudah mulai berkurang.

61
7 Saran

7.1 Bagi Profesi Keperawatan

7.2 Bagi Institusi Pendidikan

Karya ilmiah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai literatur bagi institusi

dan menjadi referensi bagi mahasisiwa.

7.3 Bagi Rumah Sakit

Karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap

pelayanan kesehatan dengan memberikan gambaran dan menjadikan acuan dalam

melakukan asuhan keperawatan pada kasus klien pre of apendiksitis melakukan

asuhan keperawatan dengan pemantau lebih intensif.

7.4 Bagi Penulis Selanjutnya

Hasil karya ilmiah ini diharapkan dapat berguna sebagai pedoman dan

dijadikan sebagai referensi dalam membuat karya ilmiah akhir Ners untuk penulis

selanjutnya.

62
DAFTAR PUSTAKA

Adhar, Lusia & Andi, (2018). Metode Penelitian Kesehatan Jakarta: Rineka Cipta

Asmadi (2013). Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan


dasar Klien. Jakarta : Salemba medika.

Benson, H., & Prector, W. (2010). Dasar-Dasar Respon Relaksasi. Bandung:


Kaifa

Berman & Kozier (2015). Buku Ajar PraktikKeperawatan Klinik [Link]:


EGC

Brunner &Suddart (2014). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Datak Efektifitas Relaksasi Benson Terhadap Nyeri Pasca Bedah pada Pasien
Transurethral Resection of The Prostate di Rumah Sakit Umum Pusat
Fatmawati. Jakarta (tesis). Jakarta: Universitas Indonesia. Tidak
dipublikasikan

Depkes RI. (2018). Kasus Appendicitis Di Indonesia. Di Akses Dari :


Http://[Link]/Arsip/Kasus-Apendisitis-Di-
Indonesia

Franciska. Dkk (2019). Karakteristik Pasien Dengan Gambaran Apendiksitis Di


RSUP Sanglah Denpasar th 2015-2017

Kemenkes. (2015). Masalah Kesehatan Masyarkat Indonesia tahun 2015.

Novita (2019). Apendik [Link] Seharusnya Dokter Dan Perawat Dalam


Mengenalii Tanda Dan Gejala Apendiksitis . Jurnal Keperawatan

Perry & Potter, (2010). Fundametal Njurzing Fundametal Keperawatan Vol. II.
Jakarta: Salemba Medika

PPNI, Tim Pokja DPP, 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta
Selatan: DPP PPNI

PPNI, Tim Pokja SDKI DPP, 2016. Standar Diagnosis Keperawata Indonesia.
Jakarta Selatan: DPP PPNI

PPNI, Tim Pokja SLKI DPP, 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan: DPP PPNI

Samsuhidajat, (2010). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakart. EGC
Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G. (2014). Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta : EGC.

Solehati & Kosasih, (2015). Konsep dan Aplikasi Relaksasi

William Wilkins. (2014). Kapita Selekta [Link] : EGC.


LEMBAR KONSULTASI KARYA ILMIAH AKHIR NERS
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM PROFESI
STIKES WIRA MEDIKA BALI

Nama : Sang Ayu Kompyang Ardiyani


NIM : 20.901.2432
Pembimbing : Ns. Ni Kadek Yuni Lestari, [Link]., [Link]
Judul KIA-N : Terapi Relaksasi Benson Untuk Mengurangi Nyeri Akut Pada
Pasien Dengan Pre Operasi Apendiksitis Di Ruang IGD RSAD
TK II Udayana

No Tanggal Materi Konsultasi Masukan Pembimbing Paraf


1 05-04- Penjelasan - Tentukan judul KIAN
2021 penyusunan KIAN - Pencarian subjek penelitian
- Penetuan terapi yang akan di berikan

2 13-05- Bimbingan bab - Revisi judul KIAN


2021 1,2,3,4,5 - Revisi rumusan masalah sesuai dengan
judul
- Revisi tujuan umum sesuai dengan judul
- Revisi tujuan khusus sesuai dengan
judul, pengkajian – evaluasi
- Revisi pada analisa data ( DO )
- Revisi pada analisis salah satu intervensi
dengan konsep Evidence Based Practice
- Perbaikin penulisan pada konsep
penelitian terkait
- Revisi pada alternative pemecahan
massalah yang di lakukan
3 18-05- Bimbingan bab - Revisi judul KIAN
2021 1,2,3,4,5 - Revisi pada analisata data ( Ds & Do )
- Revisi pada analisis salah satu intervensi
dengan konsep Evidence Based Practice
( menelaskan prosedur terapi benson )
- Revisi alternative pemecahan masalah
yang di lakukan ( alternative yang
dilakukan selain terapi benson )
- Revisi kesimpulan ( menjawwab tujuan
khusus )

4 22-05- Bimbingan bab ACC Ujian


2021 1-5
Program Studi Pendidikan Profesi Ners Denpasar,25 Mei 2021
Ketua, Ketua Kegiatan,

Ns. Ni Wayan Trisnadewi, [Link].,[Link]. Ns. I Nyoman Asdiwinata, [Link].,[Link].


NIK. [Link] NIK. [Link]

Anda mungkin juga menyukai