Terapi Benson untuk Nyeri Apendiksitis
Terapi Benson untuk Nyeri Apendiksitis
OLEH:
Diajukan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali untuk
Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Profesi Ners.
OLEH:
Karya Ilmiah Akhir Ners ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber
baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.
NIM : 20.901.2432
Tanda Tangan :
Tanggal : 27 -05-2021
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Dosen Pembimbing
NIK [Link]
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Drs. I Dewa Agung Ketut Sudarsana.,MM Ns. Ni Wayan Trisnadewi, [Link]., [Link].
NIK. [Link] NIK. [Link]
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir Ners yang
berjudul “Terapi Relaksasi Benson Untuk Mengurangi Nyeri Akut Pada Pasien
Dengan Pre Operasi Apendiksitis Di Ruang IGD RSAD TK II Udayana” tepat
pada waktunya.
Karya Ilmiah Akhir Ners ini disusun dalam rangka memenuhi sebagaian
persyaratan untuk memperoleh gelar Ners pada Program Studi Profesi Ners,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali.
Dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir Ners ini, saya banyak mendapat
bantuan sejak awal sampai terselesaikannya Karya Ilmiah Akhir Ners ini, untuk
itu dengan segala hormat dan kerendahan hati, peneliti menyampaikan
penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Drs. I Dewa Agung Ketut Sudarsana., M.M, selaku Ketua STIKes Wira
Medika Bali.
2. Ns. Ni Wayan Trisnadewi, [Link]., [Link], selaku ketua Program Studi Profesi
Ners STIKes Wira Medika Bali.
3. Ns. Ni Kadek Yuni Lestari,[Link].,[Link] selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan dalam penyelesaian Karya Ilmiah Akhir Ners ini serta
dengan penuh kesabaran memberikan pertimbangan-pertimbangan guna
terselesaikannya Karya Ilmiah Akhir Ners ini.
4. Orang tua serta saudara/i atas segala doa, cinta dan kasih sayang serta
dukungan baik moral maupun material dalam menyelesaikan Karya Ilmiah
Akhir Ners ini.
5. Sahabat dan Teman teman mahasiswa profesi Ners STIKes Wira Medika Bali
Angkatan A10 yang ikut serta memberi dukungan semangat dan membantu
dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir Ners ini.
6. Pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam
menyelesaikan dan telah mendoakan demi suksesnya penyusunan Karya
Ilmiah Akhir ini.
v
Saya menyadari masih banyak keterbatasan dalam penyusunan Karya
Ilmiah Akhir Ners ini. Saya telah berusaha dengan segenap kemampuan dalam
menuangkan pemikiran ke dalam Karya Ilmiah Akhir Ners ini, tentunya akan
masih banyak ditemukan hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Saya sangat
mengharapkan kritik dan saran guna menyempurnakan Karya Ilmiah Akhir Ners
ini.
vi
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS
Sebagai civitas akademik STIKes Wira Medika Bali saya yang bertanda tangan di
bawah ini:
Nama : Sang Ayu Kompyang Ardiyani, [Link]
NIM : 20.901.2432
Program Studi : Profesi Ners
Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir Ners
vii
STIKES WIRA MEDIKA BALI
PROGRAM STUDI PROFESI (NERS)
Mei, 2021
ABSTRAK
viii
WIRA MEDIKA BALI HEALTH SCIENCE COLLEGE
NERS PROGRAM
May, 2021
Acute Pain Nursing Care In Ny. S Who Experienced Pre Of Appendixitis With
Benson Relaxation Therapy Treatment in the IGD RSAD TK II Udayana
ABSTRACT
DAFTAR ISI
ix
HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS............................................. ii
LEMBAR PERSETUJUAN.............................................................................. iii
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................... iv
KATA PENGANTAR........................................................................................ v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ..................... vii
ABSTRAK.......................................................................................................... viii
ABSTRACT......................................................................................................... ix
DAFTAR ISI....................................................................................................... x
DAFTAR TABEL.............................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 5
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................... 5
1.3.1 Tujuan Umum ....................................................................... 5
1.3.2 Tujuan Khusus ...................................................................... 6
1.4 Manfaat Karya Ilmiah Akhir.............................................................. 6
1.4.1 Manfaat Teoritis..................................................................... 6
1.4.2 Manfaat Praktis...................................................................... 6
x
2.3.5 Prosedur Terapi Relaksasi Benson......................................... 23
2.3.6 Langkah-langkah Terapi Relaksasi Benson........................... 23
2.4 Masalah pada Pasien dengan Appendicitis........................................ 25
2.5 Asuhan Keperawatan pada Penderita Appendicitis ...................... 26
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Profil Lahan Praktif............................................................................ 48
4.1.1 Sejarah Rumah Sakit Angkatan Darat Tk II Udayana
Denpasar................................................................................ 48
4.1.2 Gambaran Umum IGD RSAD Tk II Udayana ..................... 49
4.2 Analisis Masalah Keperawatan Dengan Konsep Evidence Based
Practice dan Konsep Kasus Terkait................................................... 50
4.3 Salah Satu Intervensi Dengan Konsep Evidence Based Practice...... 54
4.4 Konsep dan Penelitian Terkait .......................................................... 58
4.5 Alternatif Pemecahan Masalah Yang Dapat Dilakukan.................... 59
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan ........................................................................................... 62
5.2 Saran ................................................................................................ 62
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
xi
Tabel 2.1 : Asuhan Keperawatan pada Penderita Appendicitis........................
26
Tabel 3.1 : Diagnosa Medis: Apendisitis Akut.................................................
32
Tabel 3.2 : Pola Aktivitas..................................................................................
34
Tabel 3.3 : Kekuatan Otot.................................................................................
39
Tabel 3.4 : Pemeriksaan Hematologi................................................................
40.....................................................................................................
Tabel 3.5 : Pemeriksaan Urinalisa....................................................................
40
Tabel 3.6 : Analisa Data....................................................................................
41
Tabel 3.7 : Daftar Masalah Kolaboratif Berdasarkan Prioritas.........................
42
Tabel 3.8 : Rencana Tindakan Keperawatan.....................................................
43
Tabel 3.9 : Implementasi Keperawatan.............................................................
45
Tabel 3.10 : Evaluasi Keperawatan.....................................................................
47
xii
DAFTAR GAMBAR
18
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
xiv
xv
BAB I
PENDAHULUAN
tidak ditangani dengan segera di mana terjadi infeksi berat yang bisa
menyebabkan pecahnya lumen usu (Williams & Wilkins, 2011 dalam Indri. dkk,
dilaporkan pada rentang usia 20-30 tahun. Sedangkan pada anak kurang dari satu
Kejadian apendiksitis mencapai 321 juta kasus tiap tahun di dunia. Data
sekitar 16% prevalensi apendisitis lebih tinggi di Eropa dan Amerika disbanding
dilansir oleh penelitian akibat pola diet yang mengikuti pola masyarakat Amerika
dan Eropa. Merurut Lubis (2010) dalam (Indri, dkk, 2017) setiap tahun
angka apendiksitis di Indonesia mencapai 95 per 1000 penduduk dan angka ini
Nation (ASEAN).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali kasus apendiksitis
termasuk ke dalam sepuluh besar penyakit yang di rawat inap di RSUD provinsi
Bali pada tahun 2014, terdapat sebanyak 1.590 kasus, (Dinas Kesehatan Provinsi
Bali, 2014), tahun 2015 terdapat 1.590 kasus pada tahun 2017 terdapat 1.617
kasus apendiksitis. Penyebab obstuksi lumen apendik paling sering adalah oleh
batu feses, Faktor lain yang dapat menyebabkan abstuksi lumen apendik antara
lain hyperplasia jaringan limfoid, tumor, benda asing dan sumbatan oleh cacing
mengeluhkan nyeri pada perut kuadran kanan bawah (KumarV dalam Frasisca
dkk, 2019).
2
Gejala klinis apendisitis samar –samar dan tumpul yang merupakan
disertai oleh demam ringan, mual muntah dan hilangnya nafsu makan, dan
2014). Orang yang sudah terkena penyakit ini bisa disembuhkan dengan cara
lambung, pengggantian cairan dan elektrolit dengan cara dengan cara parental,
kuadran kanan bawah dari rongga abdomen dan penyebab paling umum untuk
bedah abdomen darurat (Smeltzer & Bare, 2013). Penanganan yang dilakukan
melalui prosedur tindakan operasi hanya untuk penyakit apendisitis atau usus
menurunkan risiko perforasi lebih lanjut seperti peritonitis atau abses (bisul)
(Pristahayuningtyas, 2015).
infasif dengan metode terbaru yang sangat efektif (Berman & Kozier, 2012).
3
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri dengan terapi non
farmakologi meliputi pendekatan secara fisik dan perilaku kognitif. Tujuan dari
untuk mengubah persepsi dan perilaku pasien terhadap nyeri, serta mengajarkan
pasien untuk mengontrol nyeri lebih baik seperti menggunakan distraksi dengan
kesehatan dan kesejahteraan lebih tinggi (Benson & Prector, 2000). Relaksasi
digunakan di rumah sakit pada pasien yang sedang mengalami nyeri atau
dalam bentuk kata-kata yang merupakan rasa cemas yang sedang pasien alami.
Kelebihan dari latihan teknik relaksasi dibandingkan teknik lainnnya adalah lebih
mudah dilakukan dan tidak ada efek samping apapun (Solehati & Kosasih, 2015).
Relaksasi Benson adalah suatu teknik yang dapat membuat pikiran dan
tubuh menjadi rileks melalui sebuah proses yang secara progresif akan
melepaskan ketegangan otot di setiap tubuh. Melakukan relaksasi seperti ini dapat
menurunkan rasa lelah yang berlebihan dan menurunkan stres, serta berbagai
4
gejala yang berhubungan dengan kecemasan, seperti sakit kepala, migren,
insomnia, dan depresi (Potter & Perry, 2015). Kelebihan latihan tehnik relaksasi
dari pada latihan yang lain adalah latihan relaksasi lebih mudah dilakukan bahkan
dalam kondisi apapun serta tidak memiliki efek samping apapun (Solehati &
Kosasih, 2015).
rumah sakit, karena selain untuk menurunkan inensitas nyeri juga dapat
menurunkan tingkat stress dan cemas dibuktikan dari banyaknya jurnal penelitian
serta study kasus yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan terutama perawat
akhir ners tentang Asuhan Keperawatan Nyeri Akut Pada Ny. S Yang Mengalami
Berdasarkan latar rumusan masalah pada karya ilmiah akhir ners ini ialah
Bagaimana Asuhan keperawatan nyeri akut pada Ny. S yang mengalami Pre
dalam pemberian Asuhan keperawatan nyeri akut pada Ny. S yang mengalami Pre
5
1.3.2 Tujuan Khusus
apendiksitis
1. Pendidikan keperawatan
Karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan sebagai acuan penulisan selanjutnya
yang berhubungan dengan manajemen nyeri atau penanganan pada pasien pre
2. Pelayanan keperawatan
1. Bagi pelayanan
Diharapkan Karya Ilmiah Akhir ini dapat menjadi bahan masukan bagi
6
caregiver guna meningkatkan kualitas asuhan keperawatan sehingga dapat
memaksimalkan penanganan.
2. Bagi keilmuan
Karya Ilmiah Akhir ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi bagi
3. Bagi penelitian
Karya Ilmiah Akhir ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
penyebab yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh feses atau akibat
asing batu feses kemudian terjadi proses infeksi dan disusul oleh peradangan dari
1. Anatomi
sekitar 10-12 cm dan berpangkal pada sekum. Apendiks pertama kali muncul pada
saat perkembangan embriologi minggu kedelapan yaitu pada bagian ujung dari
protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum
yang berlebih bisa menjadi apendiks yang akan berpindah dari medial menuju
katup ileocaecal.
2. Fisiologi
secara normal akan dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya akan mengalir
kesekum. Hambatan dari aliran pada lendir di muara apendiks akan berperan pada
8
Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat pada sepanjang saluran cerna,
proliferasi bakteri, netralisasi virus, dan mencegah penetrasi dari enterotoksin dan
1 Appendicitis akut, yaitu suatu radang yang mendadak di umbai cacing yang
peritoneumlokal.
3 Appendicitis kronis memiliki segala gejala riwayat nyeri pada bagian perut
jaringan parut dan ulkus lama di mukosa, dan keluhan akan segera menghilang
oleh beberapa faktor seperti hyperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks,
batu feses, tumor apendiks, dan cacing askaris dapat juga menyebabkan sumbatan.
9
Penyebab lain yang diduga menimbulkan appedicitis yaitu erosi mukosa apendiks
Appedicitis dimulai oleh obstruksi lumen yang disebabkan oleh feses yang
asupan makanan rendah serat. Pada stadium awal, terlebih dahulu terjadi inflamasi
dalam lumen yang menjadi distensi dengan pus. Arteri yang menyuplai apendiks
akan menjadi bertrombosit dan apendiks yang kurang suplai darah menjadi
nekrosis. Jika perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum, abses local akan
1. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan,
3. Nyeri tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan dilepaskan)
mungkin dijumpai.
7. Nyeri kemih, jika ujung apendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter
10
8. Pemeriksaan rektal positif jika ujung apendiks berada di ujung pelvis.
9. Tanda Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri
apendiks telah ruptur, nyeri menjadi lebih menyebar; distensi abdomen terjadi
10. Pada pasien lansia, tanda dan gejala appendicitis sangat bervariasi. Pasien
keterlambatan dapat terjadi dari pasien ataupun tenaga medis. Faktor penderita
dapat berasal dari pengetahuan dan biaya. Faktor tenaga medis dapat berupa
keterlambatan dalam merujuk ke rumah sakit dan penangggulangan. Hal ini dapat
Proporsi yang sering adalah terjadi pada anak kecil dan orang tua.
Komplikasi 93% lebih sering terjadi pada anak kecil dibawah usia 2 tahun dan
40%-75% terjadi pada orang tua. Pada anak-anak dinding apendiks masih sangat
tips, omentum lebh pendek, dan belum berkembang secara sempurna sehingga
mudah terjadi appedicitis. Sedangkan pada orang tua, terjadi gangguan pada
1. Abses
lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa
11
flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi
2. Perforasi
menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak
awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui
praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam
sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan
3. Peritonitis
berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi
gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang
2010)
portal.
12
2. Perforasi biasanya terjadi setelah 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala yang
muncul antara lain: Demam 37,70C, nyeri tekan atau nyeri abdomen.
1. Laboratorium.
kemudian neutrophil juga meningkat antara 75%, dan WBC juga akan meningkat
sampai 20.000.
1. Medis.
13
1) Sebelum operasi / preop
(1) Observasi
observasi dengan ketat karena tanda dan gejala appedicitis belum jelas. Pasien
akan diminta untuk meakukan tirah baring dan dipuasakan terlebih dahulu.
yang ditegakkan dengan lokasi nyeri pada kuadran kanan bawah setelah
(2) Antibiotik
antibiotik.
(3) Operasi
Suddarth, 2010).
Baringkan klien dalam posisi semi fowler. Klien dikatakan baik apabila dalam 12
14
jam tidak terjadi gangguan, dan selama itu klien dipuasakan. Satu hari setelah
operasi, klien di anjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2 x 30 menit.
Hari kedua pasien dapat dianjurkan duduk di luar kamar. Hari ke tiga dapat di
2. Non Farmakologi.
meditasi, makan, dan membuat klien merasa nyaman yaitu mengajarkan teknik
yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial. Nyeri akut
dengan onset mendadak dan berintensitas ringan hingga berat dan berlangsung
kurang dari tiga bulan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016).
Klasifikasi nyeri secara umum dapat di bagi menjadi dua, yaitu nyeri akut
1. Nyeri akut
Nyeri akut ialah nyeri yang terjadi dalam waktu yang singkat, biasanya
kurang dari 6 bulan. Nyeri akut tidak di atasi secara cepat mempunyai efek yang
15
kardiovaskuler, sistem gastrointestinal, sistem, serta sistem imonulogik (Potter &
Perry, 2010).
2. Nyeri kronik
bulan. Nyeri kronik ini dapat berlangsung di luar waktu penyembuhan yang
1. Nyeri nosiseptif
merusak jaringan. Nyeri nosiseptif bersifat tajam, dan berdenyut (Potter & Perry,
2010).
2. Nyeri neuropatik
Nyeri neuropatik akan mengarah kepada disfungsi di luar sel saraf. Nyeri
neuropatik akan membuat nyeri terasa seperti terbakar dan kesemutan serta akan
invansif atau menampilkan beberapa bagian dari tubuh yang akan operasi.
16
2.4 Manifestasi Klinis Nyeri
nyeri akut yaitu, nyeri, meringis, dan bersikap protektif, (seperti, waspada, posisi
menghindari nyeri), gelisah, cemas, frekuensi nadi akan meningkat, sulit tidur dan
makan berubah, proses berpikir terganggu, berfokus pada diri sendiri, diaforesis.
seseorang.
2. Tahap perkembangan
Usia dan tahap dari perkembangan seseorang adalah sesuatu yang amat
dapat memperberat persepsi nyeri. Lain hal nya pada individu yang yakin bahwa
17
dia mampu mengatasi nyeri yang mereka rasakan.
individu, pengukuran dari intensitas nyeri amat subjektif dan individual, serta
kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua
orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dapat dilakukan dengan cara pendekatan
objektif, yang paling sering ialah dengan menggunakan respons fisiologis badan
objektif. Skala pendeskripsi verbal (verbal descriptor scale - VDS) adalah suatu
garis yang terdiri dari 3-5 kata pendeskripsi yang disusun dengan jarak yang sama
setiap garis. Pendeskripsi ini di urutkan dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri
Gambar 2.1
Skala Intensitas Nyeri
Keterangan :
0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik dan
18
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti
posisi nafas panjang dan distraksi. Memiliki karateristik muka klien pucat,
memukul.
1. Farmakologi
1) Analgesik narkotik
Obat ini terdiri dari derifat opium seperti morfin dan kodein. Narkotik bisa
obat ini akan membuat ikatan pada reseptor opiate serta mengaktifkan penekanan
19
2. Nonfarmakologi
1) Relaksasi progresif
Teknik relaksasi ini ialah suatu kebebasan mental dan fisik dari
ketegangan stress. Teknik relaksasi ini dapat memberikan kontrol diri saat terjadi
perasaan tidak nyaman atau nyeri, stres fisik, dan emosi pada nyeri.
kenal pasien untuk obat seperti kapsul, cairan injeksi, dan lain-lain.
3) Teknik distraksi
bisa menolong klien dalam mencapai kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang
memelihara pertukaran gas dan mencegah atelektasi paru, serta bisa meningkatkan
efesiensi batuk, menurnkan tingkat stress, baik stress secara fisik maupun stress
20
Proses pernafasan pada relaksasi Benson adalah proses masuknya oksigen
via saluran nafas lalu masuk ke paru-paru dan di proses ke dalam tubuh, lalu
kemudian akan di proses dalam paru-paru tepatnya di cabang bronkus dan akan di
edarkan ke setiap bagian tubuh via pembuluh darah vena dan nadi agar dapat
memenuhi kebutuhan oksigen. Jika oksigen terpenuhi, maka manusia akan tetap
dalam kodisi yang netral. Kondisi ini akan menimbulkan keadaan rileks secara
parasimpatis, agar terjadi penurunan heart rate serta tekanan perifer yang
kondisi seperti marah, cemas, disritmia jantung, nyeri kronis, depresi, hipertensi
dan insomnia dan menimbulkan perasaan menjadi lebih tenang. (Benson &
Proctor, 2010).
21
5. Tidur lelap kesehatan mental menjadi lebih baik.
8. Meningkatkan kreativitas.
9. Meningkatkan keyakinan.
1. Perangkat Mental
Agar dapat memindahkan fikiran yang berada di luar diri, harus ada respon
yang konstan. Respon tersebut dapat berupa kata-kata atau frasa yang singkat dan
dapat di ulang dalam hati sesuai dengan keyakinan. Kata atau frasa yang singkat
merupakan fokus dalam melakukan teknik relaksasi benson. Fokus pada kata atau
frasa tertentu bisa meningkatkan kekuatan dasar dari respon teknik relaksasi
2. Suasana tenang
mengganggu.
22
3. Sikap pasif
pikiran yang mengganggu, sehingga bisa lebih berfokus pada pengulangan kata
atau frasa.
Menurut Benson & Proctor (2010), prosedur teknik terapi relaksasi benson
terdiri dari :
2. Pilih satu kata singkat yang mencerminkan keyakinan pasien. Lebih baik kata
3. Tutup mata, kemudian jauhi menutup mata terlalu kuat. Bernafas pelan dan
wajar sembari melemaskan otot-otot, mulai dari otot kaki, otot betis, otot
paha, otot perut dan pinggang. Kemudian disusul dengan melemaskan kepala,
diyakini. Tarik nafas perlahan-lahan dari hidung dan pusatkan kesadaran pada
sebagai berikut:
23
1. Anjurkan duduk dalam keadaan tenang dan pada posisi yang enak.
2. Tutuplah mata
3. Regangkan semua otot-otot mulai dari kaki terus menuju ke raut muka,
anda, sewaktu menghembuskan nafas keluar, katakan pada diri anda “satu”
sewajarnya.
mata untuk mengecek waktu atau jam, tetapi jangan menggunakan alarm. Bila
anda telah selesai, duduklah dahulu dengan tenang beberapa menit, mula-mula
dengan mata masih tertutup dan kemudian barulah membuka mata, jangan
6. Janganlah kuatir apakah anda berhasil atau tidak mencapai relaksasi yang
katakan pada diri anda “oh, ya ...” dan kembali sadar akan pernafasan dengan
Berlatihlah sekali atau dua kali sehari, tetapi jangan melakukan dalam waktu
24
relaksasi selama rata- rata 5 kali dalam [Link] untuk penurunan skala
primer.
25
5 Asuhan Keperawatan pada Penderita Appendicitis
Tabel 2.1
Asuhan Keperawatan pada Penderita Appendicitis
3. Edukasi:
Ajarkan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi
nyeri (teknik relaksasi Benson)
4. Kolaborasi :
Kolaborasi dalam pemberian analgetik
3. Edukasi:
1) Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang
mungkin di alami
2) Informasikan secara factual mengenai
diagnosis, pengobatan, dan prognosis
3) Anjurkan keluarga untuk tetap bersama
pasien
4) Anjurkan untuk mengungkapkan perasaan
dan persepsi
5) Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi
kontrol ketegangan
6) Latih teknik relaksasi
27
No. Diagnosa Luaran Intervensi
4. Kolaborasi:
Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
2. Terapeutik:
1) Sediakan lingkungan yang dingin
2) Longgarkan pakaian
3) Basahi permukaan tubuh
4) Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
5) Berikan oksigen jika perlu
3. Edukasi:
Anjurkan tirah baring
4. Kolaborasi:
Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit
intravena, jika perlu
28
No. Diagnosa Luaran Intervensi
3. Kemampuan melakukan strategi kontrol risiko dengan klien
meningkat 4) Pertahankan teknik aseptik
4. Kemampuan menghindari faktor resiko
meningkat 3. Edukasi:
1) Anjarkan cara mencuci tangan dengan benar
2) Jelaskan tanda infeksi
3) Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
4) Anjurkan meningkatkan asupan cairan
4. Kolaborasi:
Kolaborasi dalam pemberian antibiotic
29
BAB III
3.1 Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama : Ny. S
Umur : 27 Tahun
Agama : Hindu
Status : Kawin
Pendidikan : Kawin
Pekerjaan : IRT
Nama : Ny. W
Umur : 30 tahun
Pekerjaan : swasta
30
Alamat :Jl. Raya Sesetan Gg. Udang 1 No.3
1. Keluhan Utama
Nyeri perut bagian kanan bawah, lalu setelah lama – kelamaan nyeri
Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 04 Mei 2021 pada pukul
13.30 Wita, pasien datang dengan keluhan nyeri di perut kanan bawah sejak
kemarin malam sebelum masuk rumah sakit. Pada awalnya nyeri di rasakan di
perut bagian kanan kemudian menjalar keseluruh perut. Nyeri di rasakan terus-
mnerus. Nyeri dirasakan memberat saat perut ditekan dan pasien bergerak,
sehingga klien susah beraktivitas. Klien mengeluh nyeri pada perut kanan bawah
semakin memberat hebat sejak kemarin malam. Klien juga mengeluh susah tidur
,tidak nafsu makan, mual dan muntah 2x. dari hasil pemeriksaan didapatkan skala
120/80 mmhg, nadi : 93x/menit, suhu : 37,8c, Respirasi 20x/ menit PQRST nyeri
: P : Nyeri perut kanan bawah Q : Nyeri timbul saat beraktivitas R : Daerah perut
31
2. Status Kesehatan Masa Lalu
2) Pernah dirawat
3) Alergi
Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi baik pada makanan, minum
4. Riwayat psikososial
Tabel 3.1
Diagnosa Medis: Apendisitis Akut
2. Pola Nutrisi-Metabolik
1) Sebelum sakit:
Klien mengatakan sebelum sakit makan 3x sehari klien biasanya makan nasi,
dengan lauk tempe, tahu, ikan, sayur, nafsu makan klien baik, dan jarang
minum air putih dan klien suka makan makanan pedas. Klien mengatakan
makan habis satu porsi. Klien juga mengatakan tidak ada makanan yang tidak
2) Saat sakit:
Klien mengeluh tidak nafsu makan sejak kemarin malam , mual, muntah 2x
3. Pola Eliminasi
1) BAB
Klien mengatakan sebelum sakit BAB biasa satu kali per hari, feses berwarna
Klien mengatakan saat sakit klien belum BAB sejak kemarin malam
33
2) BAK
Klien mengatakan sebelum sakit BAK ± tiga sampai lima kali sehari, warna
Klien mengatakan saat sakit klien tidak mengalami gangguan BAK klien BAK
1) Aktivitas
Tabel 3.2
Pola Aktivitas
tergantung total
2) Latihan
Klien biasa melakukan pekerjaannya sehari hari, dan tidak merasakan nyeri
Klien tidak bisa melakukan pekerjaannya seperti biasa karena nyeri yang
dirasakan makin berat terutama saat beraktifitas, dan nyeri dirasakan hilang
34
5. Pola kognitif dan Persepsi
dan pasien mengatakan tidak bisa beraktivitas bebas karena merasakan nyeri
setiap beraktivitas.
1) Gambaran diri
Klien mengatakan tidak ada bagian tubuh yang paling disukai maupun yang
berarti
2) Identitas diri
3) Peran
Pasien merasa sedih karena tidak bisa bekerja dan tidak dapat melakukan
4) Ideal diri
Pasien berharap dapat sembuh dari sakitnya dan bisa kembali sehat seperti
dulu sehingga klien dapat kembali melakukan aktivitas dan bekerja seperti
(kondisinya) saat ini, dapat memberi dukungan mental, semangat agar pasien
cepat sembuh, pasien juga berharap setelah sembuh pasien dapat melakukan
35
5) Harga diri
Pasien merasa harga diri rendah, karena setelah sakit klien merasa
1) Sebelum sakit:
Klien biasa tidur malam pada jam 20.00 wita dan biasa terbangun pada jam
06.00 wita, untuk memsak saat bangun tidur pasien merasa nyaman dan
Klien tidak memiliki gangguan tidur, pasien memiliki kualitas tidur yang baik
2) Saat sakit:
Klien mengatakan tidak dapat tidur dari kemarin malam karena nyeri perut
yang di rasakan
8. Pola Peran-Hubungan
9. Pola Seksual-Reproduksi
1) Sebelum sakit:
2) Saat sakit:
36
10. Pola Toleransi Stress-Koping
Klien mengatakn jika dirinya mengalami stress atau banyak pikiran biasanya
(berdoa) setiap harinya, dan ketika sakit klien tetap sembahyang (berdoa)
seperti biasanya walau dari tempat tidur, klien yakin dan percaya akan
keajaiban tuhan,
1. Keadaan umum :
2. Tanda-tanda Vital :
Nadi = 93x/menit
Suhu = 37,8 0c
TD =120/80 mmgh
RR = 20x/menit
3. Keadaan fisik
Tampak kepala pasien simestris tidak ada nyeri tekan pada kepala ,tidak ada
pembesaran kelenjar limfe dan tiroid pada leher pasien, JPV (-)
37
2) Mata :
Pupil normal berbentuk bulat, kongjungtiva anemis, sklera ikterik (-), mata
3) Hidung :
Tidak ada perdarahaan ,tidak ada nyeri dan tidak ada penyumbatan
penciuman
4) Telinga :
5) Mulut :
6) Dada :
(1) Paru
Inspeksi : Tampak dada pasien simestris kiri dan kanan, tidak ada
7) Abdomen :
Palpasi : Dinding perut simetris, Massa (-), Nyeri tekan (+) kuadran kanan
38
Obturator sign (+), Rovsing sign (+), defans muskular (+) di
8) Ekstremitas:
5 5
5 5
Tabel 3.3
Kekuatan Otot
Skala Ciri-ciri
0 Paralisis total
1 Tidak ada gerakan, teraba/terlihat adanya kontraksi otot
2 Ada gerakan pada sendi tetapi tidak bisa melawan gravitasi (hanya geseran )
3 Bisa melawan gravitasi tetapi tidak dapat menahan/tahanan pemeriksa
4 Bisa bergerak melawan tahanan pemeriksa tetapi tahanannya berkurang
5 Dapat melawan tahanan pemeriksa dengan kekuatan maksimal
9) Genetalia :
Tidak ada infeksi pada sekitar kulit,tidak ada nanah,dan tidak ada peradangan
dan perdarahan.
10) Anus :
39
3.1.3 Pemeriksaan Penunjang
1. Data laboratorium
Tabel 3.4
Pemeriksaan Hematologi
2. Pemeriksaan Urinalisa
Tabel 3.5
Pemeriksaan Urinalisa
40
Urinalisa Hasil Satuan Nilai Rujukan
Darah samar Negatif Negatif
Sedimen
Eritrosit 1-2 /lpb 0-2
Lekosit 1-2 /lpb 0-5
Silinder Negatif
Sel Epitel 3-5 /lpk 0-2
Kristal Negatif
Bakteri Positif Negatif
Lain –lain Negatif
T. kehamilan Negatif Negatif
Tabel 3.6
Analisa Data
Do: Edema
Klien tampak gelisah dan meringis
kesakitan Appendik Meradang
TTV
TD : 120/80 mmhg Appendiksitis
41
Data Etiologi Masalah
Suhu : 37,8 0c
Nadi : 93 x/menit
RR : 20x/menit Keletihan dan kelemahan
Pucat,dan gelisah
Ansietas
Prioritas
Tabel 3.7
Daftar Masalah Kolaboratif Berdasarkan Prioritas
42
3.4 Rencana Tindakan Keperawatan
Tabel 3.8
Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa
No SLKI SIKI
Keperawatan
1 Nyeri akut berhubungan dengan Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
agen pencedera fisiologis, di Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 5 Observasi :
tandai dengan adanya infeksi jam diharapkan nyeri akut menurun dengan 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
Kriteria Hasil: kualitas, intensits nyeri
1. Keluhan nyeri menurun 2. Identifikais skala nyeri
2. Meringis menurun 3. Identifikasi nyeri non verbal
3. Gelisah menurun 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan
4. Kesulitan tidur menurun memperingan nyeri
5. Frekuensi nadi membaik 5. Identifikasi pengaruh nyeri terhadapkualitas hidup
6. Pola nafas membaik
7. Tekanan darah membaik Teraupetik :
8. Nafsu makan membaik 1. Berikan teknin nonfarmakologi untuk mengurangi
9. Pola tidur membaik nyeri (berikan terapi relaksasi benson)
2. kontrol lingkungan yang memperberat nyeri (suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Ajarkan teknik norfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri
Kolaborasi
1. Kolaborasikan pemberian analgesic, jika perlu
43
Diagnosa
No SLKI SIKI
Keperawatan
2 Ansietas b.d klien tampak Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 5 Reduksi Ansietas
gelisah d.d kekhawatiran jam diharapkan nyeri akut menurun dengan Observasi
mengalami kegagalan Kriteria Hasil: 1. Identifikais saat tingkat ansietas berubah
Tingkat Ansietas ([Link], waktu, stressor)
1. Menyingkirkan tanda kecemasan 2. Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
2. Tidak terdapat perilaku gelisah 3. Monitor tanda ansientas
3. Frekuensi nafas menurun
4. Frekuensi nadi menurun Teraputik
5. Menurunkan stimulasi lingkungan ketika 1. Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan
cemas rasa percaya
6. Menggunakan teknik relaksasi untuk 2. Temani pasien untuk mengurangi rasa kecemasan ,
menurunkan kecemasan jika memungkinkan
7. Konsentrasi membaik 3. Pahami situasi yang membuat ansietas
8. Pola tidur membaik 4. Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu
kecemasan
Edukasi
1. Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin
dialami
2. Anjurkan keluarga untuk tetap menemani pasien
3. Anjurkan melakukan kegiatan yang kompetitip,
sesuai kebutuhna
4. Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
5. Latih kegiatan pengalihan, untuk mengurangi
ketegangan
6. Latih teknik Terapi Benson
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas , jika perlu
44
3.5 Implementasi
Tabel 3.9
Implementasi Keperawatan
No Nama
Hari/ tgl/jam Tindakan Keperawatan Evaluasi
Diagnosa dan ttd
04 Mei 2021 1 Mengobservasi tanda- Ds : Pasien mengatakan nyeri pada perut kanan bawah
13.30 tandavital dan P : Nyeri perut kanan bawah
mengidentifikasi lokasi, Q : Nyeri timbul saat beraktivitas
durasi dan frekuensi nyeri R : Daerah perut kuadran kanan bawah
dan skala nyeri S : skla nyeri 7 seperti di tusuk- tusuk
T ; nyeri yang di rasakan hilang timbul
15.00 1 Mengajarkan teknik Ds : Pasien mengatakan merasa lebih tenang dan nyaman
normarmakologi (Teknik Do : Pasien mampumengikuti instruksi yang diberikan perawat dengan baik
Relakssai Benson)
16.00 1 Kolaborasikan dengan Ds : Pasien mengatakan merasa lebih tenang dan nyaman
pemberian obat analgesic Do : obat masuk lewat intravena dan tidak ada tanda – tanda alergi
(Katarolac 1 ml )
16.30 1 Mengobservasi tanda- Ds : pasien mengatakan masih meerasa sakit di perut bagian kanan bawah
tandavital dan seperti di tusuk –tusuk dengan skala nyeri 7 , nyeri di rasakan saat
mengidentifikasi lokasi, digerakan
durasi dan frekuensi nyeri Do : Pasien tampak meringis
dan skala nyeri TD : 120/80 mmhg
45
No Nama
Hari/ tgl/jam Tindakan Keperawatan Evaluasi
Diagnosa dan ttd
S : 37,8 0C
N : 93 x/menit
RR : 20x/menit
46
3.6 Evaluasi
Tabel 3.10
Evaluasi Keperawatan
No Nama
No Hari/tgl Evaluasi
Diagnosa dan ttd
1 04 Mei 2021 1 S: Ayu
Pasien mengatakan nyeri yang di rasakan sudah berkurang
Pasien mengatakan nyeri skala 6
O : Pasien tampak rileks
TD : 12/80 mmhg
S : 37,8 0c
N : 93x/menit
R : 20x/menit
P : Nyeri perut kanan bawah
Q : Nyeri timbul saat beraktivitas
R : Daerah perut kuadran kanan bawah
S : skla nyeri 7 seperti di tusuk- tusuk
T ; nyeri yang di rasakan hilang timbul
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
2 04 Mei 2021 1 S : Pasien mengatakn cemas dan gelisah karena akan melakukan operasi apendiksitis Ayu
O : Pasien tampak melakukan teknik relaksasi benson untuk mengurangi kecemasan
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
47
BAB IV
PEMBAHASAN
merupakan Rumah Sakit rujukan dari personel TNI-AU/ TNI-AL/ PNS dan
maupun nama dan status Rumah Sakit. Rumah Sakit ini memulai perjalanan
sejarahnya pada tahun 1950 dimana terjadi serah terima pemerintahan dari Hindia
Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia yang pada saat ini diserahkan
kepada Tentara Nasional Indonesia sehingga terjadi pergantian nama Rumah Sakit
dari Palang Merah KNIL menjadi Jawatan Kesehatan Tentara ynag disingkat
DKT yang beralamat di jalan Melati Denpasar (sekarang menjadi Rumah Dinas
Kakesdam IX/ Udayana dan Kantor Koramil Denpasar Timur), sedangkan yang
Gotra) yang dulu dipakai sebagai Bangsal Bersalin dan Bangsal Anak.
Selama kurun waktu perjalanan sejarah dari tahun 1950 sampai dengan
sekarang Rumah Sakit Tk. II Udayana mengalami pergantian nama Rumah Sakit
48
dan pergantian Pejabat-pejabat Kepala Rumah Sakit maupun dilakukan perbaikan/
Angkatan Darat, dimana pergantian dimulai tahun 1950 sampai dengan sekarang,
sebagai berikut :
1. Tahun 1950 – 1957 dengan nama Palang Merah KNIL menjadi Dinas
XVI/Udayana.
IGD RSAD merupakan salah unit gawat darurat yang berada pada RSAD
macam kasus penyakit dalam. Klasifikasi pasien yang dirawat di IGD yaitu pasien
49
kelas 2 dan kelas 3 dengan BPJS dan Umum. IGD berkapasitas 10 tempat tidur,
yang terdiri dari ruang observasi sebanyak 4 bed , medic 2 bed, potek 1 bed,
ruang spoel hock, 1 alat ekg , 1 ruang jaga perawat dan administrasi. Di ruang
IGD terdapat masing-masing memiliki kapasitas yang sama yaitu, AC, kipas,
kamar mandi dalam, meja, kursi dan wastafel. IGD dilengkapi 8 TT dan 2
Ambulance 24 Jam, serta ditangani oleh tenaga medis, paramedis terampil yang
2021 yang meliputi lima langkah proses keperawatan dimulai dari pengkajian
hasil studi kasus dan teori yang dijadikan acuan, serta argumentasi penulis itu
RSAD Tk II Udayana Denpasar pada 04 Mei 2021 . Bagian ini akan menguraikan
tentang temuan studi kasus dan keterkaitannya dengan teori. Studi kasus ini
Pre operasi pendiksitis didapatkan dua masalah keperawatan yaitu nyeri akut dan
50
ansietas dengan prioritas masalah nyeri akut karena dari hasil pengkajian
didapatkan pasien mengatakan nyeri diperut kanan bawah skala 7, nyeri terasa
seperti tertusuk-tusuk, tekanan darah 120/80 mmhg dan pasien tampak meringis
tidak ditangani dengan segera di mana terjadi infeksi berat yang bisa
menyebabkan pecahnya lumen usu (Williams & Wilkins,2011 dalam Indri ,Dkk
dilaporkan pada rentang usia 20-30 [Link] pada anak kurang dari satu
Gejala klinis apendisitis samar –samar dan tumpul yang merupakan nyeri
oleh demam ringan, mual muntah dan hilangnya nafsu makan, dan beberapa jam
Apendiktomy merupakan satu- satunya terapi yang efektif Orang yang sudah
terkena penyakit ini bisa disembuhkan dengan cara operasi untuk apendisitis. Jika
dan elektrolit dengan cara dengan cara parental, dan pemberian antibiotic
inflamasi akut pada kuadran kanan bawah dari rongga abdomen dan penyebab
paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer & Bare, 2013).
Appendicitis akut terjadi karena proses radang bakteri yang disebabkan oleh
51
beberapa faktor seperti hyperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan
feses, tumor apendiks, dan cacing askaris dapat juga menyebabkan sumbatan.
Penyebab lain yang diduga menimbulkan appedicitis yaitu erosi mukosa apendiks
Appedikitis dimulai oleh obstruksi lumen yang disebabkan oleh feses yang
asupan makanan rendah serat. Pada stadium awal, terlebih dahulu terjadi inflamasi
dalam lumen yang menjadi distensi dengan pus. Arteri yang menyuplai apendiks
akan menjadi bertrombosit dan apendiks yang kurang suplai darah menjadi
nekrosis. Jika perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum, abses local akan
infasif dengan metode terbaru yang sangat efektif (Berman & Kozier, 2012).
52
dirasakan oleh klien. Ada dua cara penatalaksanaan nyeri yaitu terapi
nyeri selain mengubah posisi, meditasi, makan, dan membuat klien merasa
individual, sehingga tidak ada dua individu yang mengalami nyeri yang sama dan
tidak ada dua kejadian nyeri yang sama menghasilkan respon atau perasaan yang
identik pada individu. Hal tersebut yang menjadi dasar bagi perawat untuk
Nyeri dapat terjadi melalui empat proses tersendiri yaitu transduksi, transmisi,
nyeri terdiri dari tiga bagian, pada bagian pertama nyeri merambat dari serabut
saraf perifer ke medulla spinalis. Dua jenis serabut nosisseptor yang terlibat dalam
terlokalisasi. Bagian kedua adalah transmisi nyeri dari medulla spinalis menuju
batang otak dan talamus melalui jaras spinotalamikus (spinothalamic) tract atau
mengenai sifat dan lokasi stimulus ke talamus. Selanjutnya, pada bagian ketiga,
53
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan
oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual, serta
kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua
orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling
mungkin adalah dengan menggunakan respons fisiologis tubuh terhadap nyeri itu
bahwa masalah prioritas yang ada pada pasien Apendiksitis adalah Nyeri Akut.
Nyeri Akut disebabkan oleh kondisi sakit dan tidak nyaman yang biasanya
muncul tiba-tiba dan hanya terjadi sebentar. Kondisi nyeri akut umumnya terjadi
akibat ada cedera di jaringan tubuh seperti tulang, otot, maupun organ dalam.
Keparahan nyeri akut dapat terasa ringan hingga parah, dan biasanya paling lama
hanya terjadi dalam beberapa hari. Namun, ada juga nyeri akut yang bisa menjadi
berkepanjangan.
medis Apedisitis Akut maka salah satu intervensi yang diberikan untuk mengatasi
nyeri akut pada pasien adalah dengan cara pemberian terapi relaksasi benson yang
benson. Pasien kelolaan dengan masalah nyeri akut dengan keluhan nyeri perut
kanan bawah, meringis kesakitan dengan sekala nyeri 7 dari 1-10. Dilakukan
tindakann pemberian terapi relaksasi benson oleh perawat, proses terapi relaksasi
54
benson diberikan dalam keadaan yang tenang, bernafas melalui hidung, secara
keluar, mengatakan pada diri “satu” jadi menggunakan kata“satu”, nafas masuk
keluar, “satu”, masuk keluar, “satu” dan seterusnya. Bernafas dengan tenang.
Terapi relaksasi benson ini di lakukan selama 10-20 menit. Saat pasien dating ke
IGD dilakukan pengkajian skala nyeri didapat skala nyeri 7 dari 1-10 dilakukan
menidengan hasil setelah dilakukan terapi relaksasi benson selama perawatan dari
kesehatan dan kesejahteraan lebih tinggi (Benson & Prector, 2010). Relaksasi
digunakan di rumah sakit pada pasien yang sedang mengalami nyeri atau
dalam bentuk kata-kata yang merupakan rasa cemas yang sedang pasien alami.
Kelebihan dari latihan teknik relaksasi dibandingkan teknik lainnnya adalah lebih
mudah dilakukan dan tidak ada efek samping apapun (Solehati & Kosasih, 2015)
via saluran nafas lalu masuk ke paru-paru dan di proses ke dalam tubuh, lalu
kemudian akan di proses dalam paru-paru tepatnya di cabang bronkus dan akan di
edarkan ke setiap bagian tubuh via pembuluh darah vena dan nadi agar dapat
55
memenuhi kebutuhan oksigen. Jika oksigen terpenuhi, maka manusia akan tetap
dalam kodisi yang netral. Kondisi ini akan menimbulkan keadaan rileks secara
menghirup nafas panjang mendapatkan oksigen (O2) yang sangat diperlukan tubuh
kekurangan oksigen (hipoksia). Pada waktu tarik nafas panjang otot–otot dinding
menekan iga bagian bawah ke arah belakang serta mendorong sekat diafragma ke
merangsang aliran darah baik pada vena cava inferior maupun aorta abdominalis,
tubuh terutama organ – organ vital seperti otak Pemberian latihan teknik relaksasi
benson sangat bernafaat pada semua pasien karna terapi rilaksasi benson tidak
hanya membatu menurunkan intensitas nyeri tapi juga akan menjadikan pasien
lebih rileks. Pemberian latihan secara teratur dan dibawah bimbingan seseorang
belajar untuk rileks dan menurunkan reaksinya terhadap stres (Ahmed et al, 2017)
bisa menolong klien dalam mencapai kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang
lebih baik (Purwanto, 2010). Tujuannya melakukan terapi relaksasi benson yaitu
56
gas dan mencegah atelektasi paru, serta bisa meningkatkan efesiensi batuk,
menurnkan tingkat stress, baik stress secara fisik maupun stress secara emosional
parasimpatis, agar terjadi penurunan heart rate serta tekanan perifer yang
terhadap nyeri, dan sebagai salah satu tindakan komplementer yang dapat
dilakukan secara mandiri oleh perawat. Karena hal itulah kegiatan relaksasi
benson menjadi salah satu tindakan yang mudah dan praktis untuk diajarkan.
Tidak hanya kepada pasien, keluarga pasienpun diikut sertakan saat mengajarkan
menjadi support system yang dapat meningkatkan pasien untuk melakukan tehnik
bahwa terapi relaksasi benson pada Ny. S dengan masalah keperawatan nyeri akut
apendisitis.
57
4.4 Konsep dan Penelitian Terkait
kesehatan dan kesejahteraan lebih tinggi (Benson & Prector, 2010 ). Cara kerja
teknik relaksasi benson ini adalah berfokus pada kata atau kalimat tertentu yang
diucapkan berulang kali dengan ritme teratur. Pernafasan yang panjang dapat
relaksasi menurunkan intensitas nyeri pada pasien pre operasi. Beberapa tehnik
relaksasi yang sudah ada antara lain relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera,
Upaya untuk mengatasi nyeri pada pasien pre operasi dapat dilakukan
melalui dua cara yaitu dengan terapi farmakologis dan terapi non farmakologis.
Salah satu jenis terapi non farmakologis yang bisa digunakan yaitu teknik
latihan relaksasi benson adalah latihan relaksasi lebih mudah dilakukan bahkan
dalam kondisi apapun serta tidak memiliki efek samping apapun (Datak 2017).
terhadap nyeri, dan sebagai salah satu tindakan komplementer yang dapat
dilakukan secara mandiri oleh perawat. Karena hal itulah kegiatan relaksasi
benson menjadi salah satu tindakan yang mudah dan praktis untuk diajarkan.
58
Tidak hanya kepada pasien, keluarga pasienpun diikut sertakan saat mengajarkan
menjadi support system yang dapat meningkatkan pasien untuk melakukan tehnik
pemberian terapi relaksasi sebanyak 1x sehari dalam waktu 20 menit efektif untuk
dalam dengan melibatkan faktor keyakinan pasien yang dapat menciptakan suatu
kesehatan dan kesejahteraan lebih tinggi. Relaksasi benson bekerja dengan cara
psikologis pasien.
untuk mengatasi masalah nyeri akut pada pasien dengan pemberian terapi musik
klasik mozart. Pemberian terapi musik klasik mozart dapat mengurangi nyeri.
Terapi musik klasik mental, fisik dan kesehatan emosi. Terapi musik merupakan
59
suatu bentuk terapi mozart penggunaan musik sebagai alat terapis untuk
dalam aspek baik, fisik, psikologis, kognitif dan kebutuhan sosial individu.
sejenis morfin yang disuplai tubuh yang dapat mengurangi rasa sakit/nyeri) yang
dapat menghambat transmisi impuls nyeri disistem saraf pusat, sehingga sensasi
nyeri dapat berkurang, musik juga bekerja pada sistem limbik yang akan
sehingga dapat mengurangi kontraksi otot (Potter & Perry, 2011). Musik terbukti
Music klasik Mozart memiliki tempo 60-80 ketukan per menit, tanpa lirik,
mengalun, dapat menstimulasi gelombang alpha dan tetha pada otak yang
persepsi nyeri.
60
BAB V
PENUTUP
6 Simpulan
berikut:
dan gelisah
benson
61
7 Saran
Karya ilmiah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai literatur bagi institusi
Hasil karya ilmiah ini diharapkan dapat berguna sebagai pedoman dan
dijadikan sebagai referensi dalam membuat karya ilmiah akhir Ners untuk penulis
selanjutnya.
62
DAFTAR PUSTAKA
Adhar, Lusia & Andi, (2018). Metode Penelitian Kesehatan Jakarta: Rineka Cipta
Datak Efektifitas Relaksasi Benson Terhadap Nyeri Pasca Bedah pada Pasien
Transurethral Resection of The Prostate di Rumah Sakit Umum Pusat
Fatmawati. Jakarta (tesis). Jakarta: Universitas Indonesia. Tidak
dipublikasikan
Perry & Potter, (2010). Fundametal Njurzing Fundametal Keperawatan Vol. II.
Jakarta: Salemba Medika
PPNI, Tim Pokja DPP, 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta
Selatan: DPP PPNI
PPNI, Tim Pokja SDKI DPP, 2016. Standar Diagnosis Keperawata Indonesia.
Jakarta Selatan: DPP PPNI
PPNI, Tim Pokja SLKI DPP, 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan: DPP PPNI
Samsuhidajat, (2010). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakart. EGC
Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G. (2014). Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta : EGC.