0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan109 halaman

Asuhan Kebidanan Nyeri Punggung 28 Tahun

Usulan laporan tugas akhir ini membahas asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. L usia 28 tahun dengan keluhan nyeri punggung bagian bawah. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat tugas akhir program DIII Kebidanan Poltekkes Tanjungpinang. Laporan ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan tinjauan pustaka mengenai asuhan kebidanan komp

Diunggah oleh

Suzita Putri hakiki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan109 halaman

Asuhan Kebidanan Nyeri Punggung 28 Tahun

Usulan laporan tugas akhir ini membahas asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. L usia 28 tahun dengan keluhan nyeri punggung bagian bawah. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat tugas akhir program DIII Kebidanan Poltekkes Tanjungpinang. Laporan ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan tinjauan pustaka mengenai asuhan kebidanan komp

Diunggah oleh

Suzita Putri hakiki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HALAMAN JUDUL

LAPORAN KASUS ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF


PADA NY.L UMUR 28 TAHUN DENGAN KELUHAN NYERI
PUNGGUNG BAGIAN BAWAH DI PRAKTIK
MANDIRI BIDAN FITRIANI,SST
TANJUNGPINANG
TAHUN 2021

Usulan Laporan Tugas Akhir


Untuk memenuhi salah satu syarat tugas akhir dalam menyelesaikan
Pendidikan pada Program Studi DIII Kebidanan
Politeknik Kesehatan Tanjungpinang

Disusun Oleh :
SUZITA PUTRI HAKIKI
NIM. PO7224218 1857

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGPINANG
PRODI DIII KEBIDANAN
2021
HALAMAN PERSETUJUAN

Usulan Laporan Tugas Akhir

LAPORAN KASUS ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF


PADA NY.L UMUR 28 TAHUN DENGAN KELUHAN NYERI
PUNGGUNG BAGIAN BAWAH DI PRAKTIK
MANDIRI BIDAN FITRIANI,SST
TANJUNGPINANG
TAHUN 2021

Oleh :
SUZITA PUTRI HAKIKI
NIM. PO7224218 1857

Telah disetujui untuk diperiksa dan dipertahankan dihadapan Dewan Pembimbing


Laporan Usulan Tugas Akhir Prodi DIII Kebidanan Poltekkes Kemenkes
Tanjungpinang
Tanggal, 26 Maret 2021

SUSUNAN DEWAN PEMBIMBING

Pembimbing Utama,
Rahmadona, SST, [Link]
NIP. 19810710 200604 2 002 (…………………….)

Pembimbing Pendamping,
Mardiah, SKM, [Link]
NIP.19800301 200111 2 00 (…………………….)
Tanjung Pinang

i
RIWAYAT HIDUP

Nama : Suzita Putri Hakiki


NIM : P07224217 1857
Tempat, Tanggal Lahir : Sebong pereh, 02 juni 2000
Agama : Islam
Alamat : Seri kuala lobam,perum Taman
Surya Indah Blok G-21
Jumlah Saudara : 2 (Dua)
Nama Orang Tua : Ayah : Suraji
Ibu : Tengku ita masita
Alamat rumah : [Link] surya Blok G-21
Riwayat pendidikan : 1. SD NEGERI 006 SERI KUALA
LOBAM
2. SMP NEGERI 011 TANJUNG
UBAN
3. SMA YKPP TANJUNG UBAN
4. POLTEKKES KEMENKES
TANJUNGPINANG PRODI D III
KEBIDANAN

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah


memberikan berbagai kemudahan, petunjuk serta karunia yang tak
terhingga sehingga penulis dapat menyelesaikan Usulan Tugas Akhir
yang berjudul “Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny.L usia 28
tahun Dengan Keluhan Nyeri punggung Bagian Bawah di BPM
Fitriani,SST Tahun 2021 dengan baik dan tepat waktu.
Usulan Laporan tugas Akhir ini penulis susun untuk
memenuhi salah satu persyaratan memperoleh derajat Ahli Madya
Kebidanan pada program studi D III Kebidanan Politeknik
Kesehatan Tanjungpinang.
Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini penulis telah mendapatkan banyak
bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak , untuk itu pada kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Iwan Iskandar, SKM., MKM selaku Direktur Poltekkes Kemenkes
Tanjungpinang
2. Ibu Rahmadona, SST, [Link], selaku Ketua Program Studi D-III Kebidanan
Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang.
3. Ibu Rahmadona, [Link] selaku Pembimbing utama sekaligus ketua sidang
yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi kepada penulis,
sehingga Usulan Laporan Tugas Akhir ini dapat terwujud.
4. Ibu Mardiah, SKM, [Link] selaku Pembimbing pendamping dan penguji
kedua yang juga telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi kepada
penulis dalam penulisan Usulan Laporan Tugas Akhir ini.
5. Ibu Rita Ridayani, M. Keb selaku Penguji pertama yang telah memberikan
bimbingan, arahan serta motivasi kepada penulis dalam penulisan Usulan
Laporan Tugas Akhir ini.
6. Ibu jeni cesi centiani, SST selaku pembimbing akademik dan pembimbing
Komprehensif yang telah memberikan bimbingan, dukungan, arahan dan
motivasi kepada penulis ketika di lapangan sehingga penulis dapat
menyelesaikan Usulan Laporan Tugas Akhir ini.

iii
7. Bidan Fitriani,SST selaku CI Pembimbing yang telah banyak memberikan
bimbingan, dukungan, arahan dan motivasi kepada penulis ketika di
lapangan sehingga penulis dapat menyelesaikan Usulan Laporan Tugas
Akhir ini.
8. Ibu yang telah bersedia menjadi pasien dalam penulisan ini.
9. Kepada Seluruh Keluarga besar Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang Prodi
DIII Kebidanan yang telah memberikan ilmu kepada penulis.
10. Kepada Orang tuaku tercinta, Bapak Suraji dan Ibu Tengku ita masita ,serta
adikku Adwa Adjie eka putra yang telah memberikan dukungan doa,
semangat dan dukungan baik moril maupun materiil, serta kasih sayang
yang tiada terkira dalam setiap langkah kaki penulis.
11. Kerabat saya Angga Dinata yang telah memberi semangat dan motivasi
belajar, serta selalu menemani suka duka penulis dalam menyelesaikan
Usulan Laporan Tugas Akhir ini.
12. Seluruh teman-temanku tercinta serta seluruh teman-teman seperjuangan,
Yansana Gumay, Nurdiati putriazari,Amriyani,Ayu syafira, Shella
gending,Uray ami , Sarlina maya,Syarifah erina,intira atdhuha,rizka
ramdhaniaritie,Ayu syafira, Riswina utari , Siti rahmah, dan Lia septia,
Rendi apek mahasiswa jurusan Kebidanan, Keperawatan dan Sanitasi
Politeknik Kesehatan Tanjungpinang yang telah memberikan dukungan
baik berupa motivasi maupun kompetensi dalam penyusunan Laporan
Tugas Akhir ini.
13. Kepada seluruh keluarga besar bude sari,bude sus,bude cus,pakde
pakde,mbak ewi,mbak mira dan seluruh keluarga besar kasidjan
terimakasih telah memberikan dukungan secara langsung dan semua pihak
yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah andil dalam
terwujudnya laporan tugas akhir ini.
Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin, namun kesempurnaan
itu hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa, oleh karena itu segala kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan
Usulan Laporan Tugas Akhir ini
Tanjungpinang, 26 Februari 2021

iv
Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i

HALAMAN PERSETUJUAN...............................................................................i

KATA PENGANTAR..........................................................................................iii

DAFTAR ISI...........................................................................................................v

DAFTAR TABEL...............................................................................................viii

DAFTAR GAMBAR.............................................................................................ix

DAFTAR BAGAN..................................................................................................x

DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................................xi

BAB I PENDAHULAN..........................................................................................1

A. Latar Belakang......................................................................................................1

B. Rumusan Masalah.................................................................................................4

C. Tujuan Penulisan...................................................................................................4

D. Manfaat Penulisan.................................................................................................5

1. Secara Teoritis..................................................................................................5

2. Secara Praktis...................................................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................6

A. Landasan Teori............................................................................................................6

1) Asuhan Kebidanan Komprehensif....................................................................6

a. Definisi........................................................................................................6

b. Tujuan.........................................................................................................6

2) Asuhan Kebidanan Kehamilan.........................................................................6

a. Definisi........................................................................................................6

v
b. Tujuan.........................................................................................................7

c. Standart Asuhan Kehamilan........................................................................7

d. Kebutuhan Dasar Pada Ibu Hamil................................................................8

e. Perubahan Fisiologi Ibu Hamil Trimester III.................................................9

f. Psikologis Ibu Hamil Trimester III............................................................11

g. Tanda bahaya kehamilan Trimester III......................................................13

h. Asuhan Antenatal Care..............................................................................14

i. Kunjungan Antenatal Care........................................................................15

j. Pemeriksaan kehamilan.............................................................................15

k. Ketidaknyamanan Ibu Hamil Trimester III................................................22

i. Panduan pelayanan ANC pada masa pandemic covid-19..........................25

3) Asuhan Kebidanan Persalinan........................................................................26

a. Pengertian..................................................................................................26

c. Prinsip asuhan Persalinan..........................................................................27

d. Tanda-tanda Persalinan..............................................................................28

e. Tahap persalinan........................................................................................29

f. kebutuhan Dasar ibu dalam Proses Persalinan...........................................31

g. Langkah-langkah Persalinan Normal ( Midwifery Update, 2016).............43

h. Partograf....................................................................................................48

i. Panduan Pertolongan Persalinan pada Masa Pandemi Covid-19...............49

4) Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas.................................................................50

a. Pengertian..................................................................................................50

b. Tujuan.......................................................................................................50

c. Tahapan Masa Nifas..................................................................................51

d. Perubahan Fisiologis Pada Ibu Nifas.........................................................52

e. Kunjungan Masa Nifas..............................................................................57

f. Kebutuhan Dasar Ibu Masa Nifas..............................................................58

vi
g. Panduan pelayanan Nifas pada Masa Pandemi Covid-19..........................60

5) Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir...............................................................61

a. Pengertian..................................................................................................61

b. Tujuan.......................................................................................................61

c. Standar Asuhan Bayi Baru Lahir...............................................................61

d. Kunjungan Bayi Baru Lahir.......................................................................62

e. Kebutuhan Dasar Bayi Baru Lahir.............................................................63

f. Panduan pelayanan Bayi baru lahir pada MasaPandemi Covid-19............63

6) Nyeri Punggung pada Kehamilan...................................................................63

a. Jenis nyeri punggung.................................................................................64

b. Penyebab...................................................................................................65

c. Faktor penyebab........................................................................................65

d. Faktor resiko..............................................................................................67

e. Manajemen Nyeri Punggung pada Kehamilan...........................................67

f. Langkah Gerakan Latihan untuk mengatasi nyeri punggung.....................68

g. Kontraindikasi...........................................................................................69

B. KERANGKA TEORI................................................................................................71

BAB III PELAKSANAAN TINJAUAN KASUS.............................................72

A. Tempat dan Waktu.....................................................................................................72

1. Tempat...........................................................................................................72

2. Waktu.............................................................................................................72

B. Subjek Studi Kasus....................................................................................................72

C. Definisi Operasional..................................................................................................72

D. Teknik Pengumpulan Data.........................................................................................74

E. Alat dan Bahan..........................................................................................................75

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................

LAMPIRAN

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Test Laboratorium


Tabel 2. Tinggi Fundus Uteri
Tabel 3. Definisi Operasional

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pembesaran uterus menurut umur kehamilan


Gambar 2. Pemeriksaan Leopold I
Gambar 3. Pemeriksaan Leopold II
Gambar 4. Pemeriksaan Leopold III
Gambar 5. Pemeriksaan Leopold IV
Gambar 6. Posisi Persalinan

ix
x
DAFTAR BAGAN

Bagan 1. Kerangka Teori

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Permohonan Menjadi Klien


Lampiran 2 : Surat Pernyataan Persetujuam (Informed concent)
Lampiran 3 : Format Pengkajian ANC Kunjungan I
Lampiran 13 : Lembar Konsultasi Pembimbing Utama
Lampiran 14 : Lembar Konsultasi Pembimbing Pendamping
Lampiran 17 : Dokumentasi Kegiatan Pelaksanaan Proposal

xii
1

BAB I
PENDAHULAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih
merupakan masalah krusial di indonesia karena masalah tersebut merupakan
salah satu indikator kesejahteraan bangsa. Berdasarkan data dari World Health
Organization (WHO) tahun 2017, AKI di seluruh dunia di perkirakan sebesar
295/100.000 kelahiran hidup. Sebanyak 94% kematian ibu akibat masalah
persalinan atau kelahiran yang terjadi di negara berkembang. Sekitar 81% AKI
akibat komplikasi selama hamil dan bersalin. Angka Kematian Bayi turun
47% yaitu dari 36/1000 kelahiran hidup menjadi 19/1000 kelahiran hidup pada
tahun 2017 (WHO, 2017).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih merupakan merupakan
yang tertinggi di asia tenggara serta masih jauh dari target global SDG’s untuk
menurunkan AKI menjadi 183 per 100.000 KH pada Tahun 2024 dan kurang
dari 70 per 100.000 KH pada tahun 2030. Kondisi ini mengisyaratkan
perlunya upaya yang lebih strategis dan komprehensif, karena untuk mencapai
target AKI turun menjadi 183 per 100.000 per KH tahun 2024 diperlukan
paling tidak penurunan kematian ibu sebesar 5,5% per tahun. Pada tahun 2019
AKI di Indonesia sebesar 205 per 100.000 KH. Sementara itu, Angka
Kematian Bayi (AKB) tercatat 16.156 kematian terjadi pada periode tahun
2024, dimana angka kematian bayi menjadi 16 per 1.000 KH (Kemenkes
RI,2020).
Indonesia terdiri dari beberapa provinsi, salah satunya Provinsi
Kepulauan Riau (Kepri). Jumlah AKI di Provinsi Kepri pada tahun 2018 telah
mengalami penurunan 119,56/ 100.000 kelahiran hidup tapi kemudian kembali
turun lagi pada tahun 2019 menjadi 98,30/ 100.000 kelahiran hidup. Penyebab
kematian ibu di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2019 ialah komplikasi
pada saat kehamilan/persalinan seperti perdarahan dan hipertensi dalam
kehamilan.
1
2

Sedangkan AKB di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2018 sebesar 7,01/
1000 kelahiran hidup juga mengalami peningkatan dari tahun 2019 sebesar
6,52/ 1000 kelahiran hidup. Penyebab utama AKB di Provinsi Kepulauan Riau
ialah BBLR dan Asfiksia (Profil Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, 2019).
Kota Tanjungpinang adalah ibukota Provinsi Kepri. Lebih tinggi
dibandingkan AKI di Provinsi Kepri, AKI di Kota Tanjungpinang pada tahun
2020 AKI di Kota Tanjungpinang mengalami penurunan dari 130,86/100.000
KH pada tahun 2019 menjadi 107,47/100.000 KH, dengan jumlah kematian ibu
sebanyak 4 orang, sedangkan AKB di Kota Tanjungpinang pada tahun 2019
mengalami peningkatan dari 5.96/1.000 KH pada tahun 2018 menjadi
6,02/1.000 KH. Penyebab AKI yaitu disebabkan Emboli air Ketuban, Syok
HPP , Eklamsia, Oedema paru dan kelaian jantung. Sedangkan Kematian bayi
di sebabkan karena BBLR, asfiksia, dan sepsis (Dinkes Kota Tanjungpinang,
2021).
Bidan adalah sumber daya manusia dibidang kesehatan sebagai salah
satu ujung tombak atau orang yang berhubungan langsung dengan wanita
sebagai sasaran program. Peran yang cukup besar ini, membuat bidan
senantiasa harus meningkatkan asuhan kebidanan komprehensif, Asuhan
kebidanan komprehensif adalah manajemen asuhan kebidanan mulai dari ibu
hamil, bersalin, sampai bayi baru lahir sehingga persalinan dapat berlangsung
dengan aman dan bayi yang dilahirkan selamat dan sehat sampai masa nifas
(Lapau, 2015). Salah satu keluhan pada ibu hamil yaitu nyeri punggung. Nyeri
punggung merupakan salah satu ketidaknyamanan yang sering dialami ibu
hamil. Nyeri punggung bawah terjadi pada area lumbosakral, nyeri meningkat
intensitasnya seiring pertambahan usia kehamilan karena nyeri ini akibat
adanya pergeseran pusat gravitasi wanita beserta postur tubuhnya. Perubahan
ini disebabkan oleh berat uterus yang membesar, kemudian jika ibu hamil tidak
memperhatikan postur tubuhnya maka ibu hamil akan berjalan dengan ayunan
tubuh kebelakang akibat peningkatan lordosis. Lengkung ini akan
meregangkan otot punggung dan menimbulkan nyeri (Medforth et al., 2010).
Asuhan kebidanan komprehensif sangat penting dilakukan untuk
mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi pada seseorang wanita sejak
3

hamil,bersalin, nifas sampai dengan bayi yang di lahirkan. Asuhan dilakukan


agar dapat menegakkan diagnosis secara tepat serta melakukan evaluasi
terhadap tindakan yang dilakukan (Hani U,2011).
Tujuan dilakukan asuhan kebidanan dengan menggunakan pendekatan
manajemen kebidanan secara kompehensif untuk menghasilkan pelayanan
yang berkualitas untuk peningkatan pembangunan kesehatan di Indonesia dan
meningkatkan kesejahteraan serta kesehatan di Indonesia dan meningkatkan
kesejahteraan ibu dan bayi, sangat penting di lakukannya asuhan kebidanan
secara komprehensif dari ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir. (jurnal
komunikasi kesehatan [Link] No2 Tahun 2017).
Dampak dari terlaksananya asuhan komprehensif, apabila terdapat
komplikasi dalam kehamilan,bersalin,nifas, dan bayi baru lahir akan
mengakibatkan kondisi 3 terlambat yaitu terlambat mengambil keputusan,
terlambat sampai ditempat pelayanan, da terlambat mendapat pertolongan yang
akan menyumbang AKI dan AKB di Indonesia.(Kemenkes RI, 2016)
BPM Fitriani,SST merupakan salah satu tempat pelayanan kesehatan
yang kompeten. Penulis melakukan asuhan komprehensif di BPM Fitriani,SST
karena telah melakukan asuhan komprehensif sesuai standar pelayanan
kebidanan, baik dari pengetahuan, keterampilan menerapkan 60 langkah APN,
sarana dan prasarana yang memadai dan sikap dalam melayani pasien serta
telah bekerjasama dengan BPJS untuk meringankan pembiayaan
[Link] data dari PMB Fitriani, SST tahun 2020 Jumlah
Kunjungan ANC, INC, dan BBL Meningkat dibandingkan tahun 2019, dan
tidak terjadi AKI dan AKB. Terdapat hasil ANC kunjungan 1 sebanyak 352
dan kunjungan 4 sebanyak 368, INC 348, BBL 348. AKI dan AKB di PMB
Fitriani, SST ini dapat dicegah dikarenakan bidan yang aktif dan focus
menjalankan program pemerintah yaitu P4K. Dengan P4K, bidan bisa
memberikan pelayanan secara komprehensif serta mendeteksi sejak dini pasien
beresiko tinggi sehingga dapat mengarahkan pasien ke fasilitas kesehatan yang
lebih memadai sebelum waktu persalinan atau sebelum terjadi
kegawatdaruratan. Hal ini bertujuan supaya pasien dapat mendapatkan
4

pelayanan sesuai sesuai kondisi kesehatannya dan pelayanan yang aman untuk
mengurangi kemungkinan penambahan jumlah AKI (BPM Fitriani,SST,2020).
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik ingin melakukan
asuhan kebidanan komprehensif kepada ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi
baru lahir di BPM Fitriani, SST dengan judul “Laporan Kasus Asuhan
Kebidanan Komprehensif Pada Ny. “L” Usia 28 Tahun Dengan Keluhan
Nyeri Punggung Bagian Bawah Di BPM Fitriani,SST Tahun 2021”.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. “L” Usia 28
Tahun Dengan Keluhan Nyeri Punggung Bagian bawah Di PMB Fitriani,SST
2021 ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan Komprehensif dari masa
kehamilan, persalinan, nifas, dan asuhan bayi baru lahir sesuai standar
kebidanan Ny. “L” Usia 28 Dengan Keluhan Nyeri Punggung Bagian
bawah Tahun Di PMB Fitriani,SST Tahun 2021”.
2. Tujuan khusus
a. Mampu melaksanakan asuhan kebidanan kehamilan pada Ny. “L” Usia
28 Tahun Dengan Keluhan Nyeri Punggung Bagian bawah Di PMB
Fitriani,SST Tahun 2021”.
b. Mampu melaksanakan asuhan kebidanan persalinan pada Ny. “L” Usia
28 Tahun Dengan Keluhan Nyeri Punggung Bagian bawah Di PMB
Fitriani,SST Tahun 2021”.
c. Mampu melaksanakan asuhan kebidanan nifas pada Ny. “L” Usia 28
Tahun Dengan Keluhan Nyeri Punggung Bagian bawah Dengan
Keluhan Nyeri Punggung Bagian bawah Di PMB Fitriani,SST Tahun
2021”.
5

d. Mampu melaksanakan asuhan kebidanan Bayi Baru Lahir pada By.


Ny. “L” Usia 28 Tahun Dengan Keluhan Nyeri Punggung Bagian
bawah Di PMB Fitriani,SST Tahun 2021”.
e. Mampu melaksanakan pendokumentasian asuhan kebidanan dalam
bentuk SOAP asuhan kebidanan yang diberikan pada ibu dalam masa
kehamilan,persalinan, nifas dan bayi baru lahir.

D. Manfaat Penulisan
1. Secara Teoritis
Asuhan komprehensif dijadikan sebagai standar asuhan kebidanan,
persalinan, nifas dan bayi baru lahir, serta menerapkan ilmu yang didapat
dan menambah pengetahuan bagi penulis, serta menambah referensi dan
masukan untuk pengembangan materi yang telah diberikan bagi institusi
pendidikan.

2. Secara Praktis
1. Bagi Mahasiswa
Dapat menambah wawasan dan pengalaman yang nyata dalam
melakukan pemberian asuhan kebidanan pada masa
kehamilan,persalinan, nifas dan bayi baru lahir kepada pasien.
2. Bagi Institusi pendidikan
Dapat digunakan untuk menilai dan mengevaluasi sejauh mana
pemahaman mahasiswa dalam memahami ilmu yang telah di berikan
khususnya dalam melaksanakan asuhan kebidanan.\
3. Bagi lahan prakrik
Diharapkan dapat menjadi bahan masukan atau referensi terbaru bagi
lahan praktik. Teori-teori terbaru yang di lampirkan di dalam LTA ini
dapat menambah wawasan bagi lahan praktek dalam meningkatkan
kualitas pelayanan kebidanan, khsusunya dalam pemberian asuhan
kebidanan kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir.
4. Bagi pasien
6

Dapat membantu klien dengan asuhan yang diberikan untuk


memperoleh kemudahan saat menjalani proses kehamilan, persalinan,
nifas dan BBL.
5.
7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1) Asuhan Kebidanan Komprehensif
a. Definisi
Asuhan kebidanan komprehensif adalah merupakan suatu
upaya untuk pelayanan kebidanan yang diberikan kepada ibu
hamil,bersalin, bayi baru lahir, masa nifas dan keluarga berencana
untuk upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui
pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan yang dibutuhkan dan
melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi pelayanan kebidanan. Maka diperlukan pelayanan
kebidanan secara promotif, kuratif, rehabilitatif secara menyeluruh
(saifuddin,2013).
b. Tujuan
Melaksanakan pendekatan manajemen Melaksanakan
pendekatan manajemen kebidanan pada kasus kehamilan dan
persalinan, sehimngga dapat menurunkan angka kesakitan ibu dan
anak (Saifuddin, 2013).
a) Menjamin kepuasan dan keselamatan ibu dan bayinya sepanjang
siklus reproduksinya.
b) Mewujudkan keluarga bahagia dan berkualitas melalui
pemberdayaan perempuan dan keluarganya dengan menunjukan
rasa percaya diri (sofyan,2009).

2) Asuhan Kebidanan Kehamilan


a. Definisi
Asuhan Kehamilan adalah pelayanan kesehatan yang diberikan
tenaga professional (dokter spesialis kebidanan,dokter umum, bidan,
perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilan sesuai dengan

6
8

standar pelayanan antenatal yang diterapkan dalam Standar Pelayanan


Kebidanan (SKP) (Sakinah,2015).
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari
sepermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi
(prawiroherdjo,2016).
b. Tujuan
Tujuan asuhan kehamilan yang harus di upayakan oleh bidan
melalui asuhan antenatal yang efektif; adalah mempromosikan dan
menjaga kesehatan fisik mental sosial ibu dan bayi dengan
pendidikan kesehatan, gizi, kebersihan diri, dan proses kelahiran
bayi. Di dalamnya juga harus dilakukan deteksi abnormalitas atau
komplikasi dan penatalaksanaan komplikasi medis, bedah, atau
obstetri selama kehamilan. Pada asuhan kehamilan juga
dikembangkan persiapan persalinan serta kesiapan menghadapi
komplikasi, membantu menyiapkan ibu untuk menyusui dengan
sukses, menjalankan nifas normaldan merawat anak secara fisik,
psikologis dan sosial dan mempersiapkan rujukan apabila diperlukan
(Tyastuti,2016).
c. Standart Asuhan Kehamilan
Standart 1 : Identifikasi ibu [Link] kunjungan
rumah dan berinteraksi dengan masyarakat
secara berkala untuk penyuluhan dan motivasi
untuk pemeriksaan dini dan teratur.
Standart 2 : Pemeriksaan dan pemantauan [Link]
4 kali pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan
meliputi: anamnesis dan pemantauan ibu dan
janin, mengenal kehamilan risiko tinggi,
imunisasi, nasehat dan penyuluhan, mencatat data
yang tepat setiap kunjungan, tindakan tepat untuk
merujuk.
Standart 3 : Palpasi abdominal.
Standart 4 : Pengelolaan anemia pada kehamilan.
9

Standart 5 : Pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan


Standart 6 : Persiapan persalinan.
Memberi saran pada ibu hamil, suami dan keluarga untuk
memastikan persiapan persalinan bersih dan aman, persiapan
transportasi, biaya. Bidan sebaiknya melakukan kunjungan rumah.
Dalam memberikan asuhan/pelayanan maka bidan harus memenuhi
standar minimal 7 T (timbang BB), ukur tekanan darah, ukur tinggi
fundus uteri, TT, tablet besiminimal 90 tablet selama hamil, tes PMS,
temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (Tyastuti,2016.
d. Kebutuhan Dasar Pada Ibu Hamil
(a) Oksigen
Untuk memenuhi kebutuhan oksigen ibu hamil perlu melakukan
hal tersebut :
(1) Latihan napas melalui senam hamil
(2) Tidur dengan bantal yang lebih tinggi
(3) Makan tidak terlalu banyak (Walyani,2015).
(b) Nutrisi
Gizi pada waktu hamil harus ditingkatkan hingga 300 kalori per
hari, ibu hamil harus mengkonsumsi yang mengandung protein,zat
besi dan cukup cairan (menu seimbang) (Walyani, 2015)
(c) Personal hygine
Dapat mengurangi kemungkinan infeksi (Tyastuti,2016).
(d) Pakaian
Pakaian yang dianjurkan untuk ibu hamil adalah pakaian yang
longgar, nyaman dipakai,tanpa sabuk atau pita yang menekan
bagian perut atau pergelangan tangan karena akan mengganggu
sirkulasi darah (Tyastuti,2016)
(e) Eliminasi
Pada ibu hamil sering terjadi obstipasi. Hal tersebut dapat
dikurangi dengan banyak minum air putih, gerak badan
cukupmakan-makanan yang berserat dan buah-buahan
(Tyastuti,2016).
10

(f) seksual
(1) posisi di atur untuk menyesuaikan dengan pembesaran perut
(2) pada trimester III hubungan seksual dilakukan dengan hati-
hati karena dapat menimbulkan kontraksi
(3) hindari hubungan seksual yang menyebabkan kerusakan janin
(4) pada pasangan yang beresiko dapat menggunakan kondom
untuk mencegah penularan (Tyastuti,2016).
e. Perubahan Fisiologi Ibu Hamil Trimester III
1) Perubahan Pada Sistem Produksi
a) Uterus
Ibu hamil uterusnya tumbuh membesar akibat pertumbuhan
isi konsepsi intrauterin. Hormon Estrogen menyebabkan
hiperplasi jaringan, hormon progesteron berperan untuk
elastisitas/kelenturan [Link] kasar pembesaran uterus
pada perabaan tinggi fundus:

a. Tidak hamil/normal : sebesar telur ayam (+ 30 g)


b. Kehamilan 8 minggu : telur bebek
c. Kehamilan 12 minggu : telur angsa
d. Kehamilan 16 minggu : pertengahan simfisis-pusat
e. Kehamilan 20 minggu : pinggir bawah pusat
f. Kehamilan 24 minggu : pinggir atas pusat
g. Kehamilan 28 minggu : sepertiga pusat-xyphoid
h. Kehamilan 32 minggu : pertengahan pusat-xyphoid
i. minggu : 3 sampai 1 jari bawah xyphoid
Ismus uteri, bagian dari serviks, batas anatomik menjadi sulit
ditentukan pada kehamilan trimester I memanjang dan lebih
kuat. Pada kehamilan 16 minggu menjadi satu bagian dengan
korpus, dan pada kehamilan akhir, di atas 32 minggu menjadi
segmen bawah uterus.

Serviks uteri mengalami hipervaskularisasi akibat stimulasi


estrogen dan perlunakan akibat progesteron (tanda
Goodell).Sekresi lendir serviks meningkat pada kehamilan
11

memberikan gejala keputihan. Ismus uteri mengalami


hipertropi kemudian memanjang dan melunak yang disebut
tanda [Link] uterus perempuan tidak hamil adalah 30
gram, pada saat mulai hamil maka uterus mengalami
peningkatan sampai pada akhir kehamilan (40 minggu)
mencapai 1000 gram (1 kg).

Gambar 1. Pembesaran uterus menurut umur


kehamilan.
(Obstetri Fisiologi UNPAD)

b) Vagina/Vulva
Pada ibu hamil vagina terjadi hipervaskularisasi
menimbulkan warna merah ungu kebiruan yang disebut tanda
Chadwick. Vagina ibu hamil berubah menjadi lebih asam,
keasaman (pH) berubah dari 4 menjadi 6.5 sehingga
menyebabkan wanita hamil lebih rentan terhadap infeksi
vagina terutama infeksi jamur. Hypervaskularisasi pada
vagina dapat menyebabkan hypersensitivitas sehingga dapat
meningkatkan libido atau keinginan atau bangkitan seksual
terutama pada kehamilan trimester dua.
c) Ovarium
Sejak kehamilan 16 minggu, fungsi diambil alih oleh
plasenta, terutama fungsi produksi progesteron dan estrogen.
Selama kehamilan ovarium tenang/ beristirahat. Tidak terjadi
12

pembentukan dan pematangan folikel baru, tidak terjadi


ovulasi, tidak terjadi siklus hormonal menstruasi.
2) Perubahan Pada Payudara
Akibat pengaruh hormon estrogen maka dapat memacu
perkembangan duktus (saluran) air susu pada payudara.
sedangkan hormon progesterone menambah sel-sel asinus
pada payudara. Hormon laktogenik plasenta (diantaranya
somatomammotropin) menyebabkan hipertrofi dan
pertambahan sel-sel asinus payudara, serta meningkatkan
produksi zat-zat kasein, laktoalbumin, laktoglobulin, sel-sel
lemak, kolostrum. Pada ibu hamil payudara membesar dan
tegang, terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofi kelenjar
Montgomery, terutama daerah areola dan papilla akibat
pengaruh melanofor, puting susu membesar dan menonjol.
Hypertropi kelenjar sabasea (lemak) muncul pada aeola
mamae disebut tuberkel Montgomery yang kelihatan di
sekitar puting susu. Kelenjar sebasea ini berfungsi sebagai
pelumas puting susu, kelembutan puting susu terganggu
apabila lemak pelindung ini dicuci dengan sabun. Puting susu
akan mengeluarkan kholostrum yaitu cairan sebelum menjadi
susu yang berwarna putih kekuningan pada trimester ketiga.
f. Psikologis Ibu Hamil Trimester III
Trimester ketiga seringkali disebut periode menunggu dan
waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu
kelahiran bayinya. Gerakan bayi dan membesarnya perut merupakan
dua hal yang mengingatkan ibu akan bayinya. Kadang – kadang ibu
merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu – waktu. Ini
menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya akan timbulnya
tanda dan gejala akan terjadinya persalinan. Ibu seringkali merasa
khawatir atau takut kalau–kalau bayi yang akan dilahirkannya tidak
normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi bayinya
dan akan menghindari orang atau benda apa saja yang dianggapnya
13

membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin mulai merasa takut


akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu
melahirkan. Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali
pada trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan
jelek. Disamping itu, ibu mulai merasa sedih karena akan berpisah
dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama
hamil. Pada trimester inilah ibu sangat memerlukan keterangan dan
dukungan dari suami, keluarga dan [Link] ketiga adalah
saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi dan menjadi orang tua.
Periode ini juga disebut periode menunggu dan waspada sebab
merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Gerakan bayi dan
membesarnya perut merupakan 2 hal yang mengingatkan ibu pada
bayi yang akan dilahirkan nanti. Disamping hal tersebut ibu sering
mempunyai perasaan :
a. Kadang – kadang merasa kuatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu
– waktu
b. Meningkatnya kewaspadaan akan timbulnya tanda dan gejala
persalinan
c. Khawatir bayinya lahir dalam keadaan tidak normal
d. Takut akan rasa sakit yang timbul pada saat persalinan
e. Rasa tidak nyaman
f. Kehilangan perhatian khusus yang diterima selama kehamilan
sehingga memerlukan dukungan baik dari suami, keluarga
maupun tenaga kesehatan
g. Persiapan aktif untuk bayi dan menjadi orang tua
Keluarga mulai menduga – duga tentang jenis kelamin
bayinya ( apakah laki – laki atau perempuan ) dan akan mirip
siapa. Bahkan mereka mungkin juga sudah memilih sebuah nama
untuk bayinya. ( PusDikNaKes, 2003 : 28 )
Berat badan ibu meningkat, adanya tekanan pada organ
dalam, adanya perasaan tidak nyaman karena janinnya semakin
besar, adanya perubahan gambaran diri ( konsep diri, tidak
14

mantap, merasa terasing, tidak dicintai, merasa tidak pasti, takut,


juga senang karena kelahiran sang bayi ). ( Tri Rusmi Widayatun,
1999 : 154 )
Adanya kegembiraan emosi karena kelahiran bayi. Sekitar
bulan ke-8 mungkin terdapat periode tidak semangat dan depresi,
ketika bayi membesar dan ketidaknyamanan bertambah. Calon
ibu mudah lelah dan menunggu dampaknya terlalau lama. Sekitar
2 minggu sebelum melahirkan, sebagian besar wanita mulai
mengalami perasaan senang. Mereka mungkin mengatakan pada
perawat “saya merasa lebih baikan saat ini ketimbang sebulan
yang lalu”. Kecuali bila berkembang masalah fisik,
kegembiraan ini terbawa sampai proses persalinan, suatu
periode dengan stress yang tinggi. Reaksi calon ibu terhadap
persalinan ini secara umum tergantung pada persiapan dan
persepsinya terhadap kejadian ini. Perasaan sangat gembira yang
dialami ibu seminggu sebelum persalinan mencapai klimaksnya
sekitar 24 jam sebelum persalinan.
g. Tanda bahaya kehamilan Trimester III

Pelayanan antenatal terintegrasi merupakan pelayanan


kesehatan komprehensif dan berkualitas yang dilakukan melalui :
a. Deteksi dini masalah, penyakit dan penyulit/komplikasi kehamilan
Menanyakan tanda-tanda penting yang terkait dengan masalah
kehamilan dan penyakit yang kemungkinan diderita ibu hamil:
1) Pusing
Pusing biasa muncul pada kehamilan muda. Apabila pusing
sampai mengganggu aktivitas sehari-hari maka perlu
diwaspadai.
2) Sakit kepala
Sakit kepala yang hebat atau yang menetap timbul pada ibu
hamil mungkin dapat membahayakan kesehatan ibu dan janin.
3) Perdarahan
Perdarahan waktu hamil, walaupun hanya sedikit sudah
15

merupakan tanda bahaya sehingga ibu hamil harus waspada.


4) Sakit perut hebat
Nyeri perut yang hebat dapat membahayakan kesehatan ibu
dan janinnya.
5) Demam
Demam tinggi lebih dari 2 hari atau keluarnya cairan
berlebihan dari bang rahim dan kadang-kadang berbau
merupakan salah satu tanda bahaya pada kehamilan.
6) Batuk lama
Batuk lama lebih dari 2 minggu, perlu ada pemeriksaan lanjut
dan dapat dicurigai ibu hamil menderita TB.
7) Berdebar-debar
Jantung berdebar-debar pada ibu hamil merupakan salah satu
masalah pada kehamilan yang harus diwaspadai.
8) Cepat lelah
Dalam dua atau tiga bulan pertama kehamilan, biasanya timbul
rasa lelah, mengantuk yang berlebihan dan pusing, yang
biasanya terjadi pada sore hari. Kemungkinan ibu menderita
kurang darah.
9) Sesak nafas atau sukar bernafas
Pada akhir bulan ke delapan ibu hamil sering merasa sedikit
sesak bila bernafas karena bayi menekan paru-paru ibu.
Namun apabila hal ini terjadi berlebihan maka perlu
diwaspadai.
10) Keputihan yang berbau
Keputihan yang berbau merupakan salah satu tanda bahaya
pada ibu hamil
11) Gerakan janin
Gerakan bayi mulai dirasakan ibu pada kehamilan akhir bulan
keempat. Apabila gerakan janin belum muncul pada usia
kehamilan ini, gerakan yang semakin berkurang atau tidak ada
gerakan maka ibu hamil harus waspada (Fatimah,2017).
16

h. Asuhan Antenatal Care


Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi anemnesis,
pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan laboratorium
rutin dan khusus, serta intervensi umum dan khusus (sesuai resiko
yang ditemukan dalam pemeriksaan). Kunjungan antenatal sebaiknya
dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan (Rukiyah dkk.,
2015).
a. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum minggu ke
14).
b. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-28).
c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36
dan sesudah minggu ke 36)
Jadwal kunjungan ulang sebaiknya dilakukan setiap 4 minggu
pada usia kehamilan 28-36 minggu, setiap minggu pada usia
kehamilan antara 38 sampai kelahiran (Rukiyah A, Y, dkk, 2015).
i. Kunjungan Antenatal Care
Periksa kehamilan minimal 6 kali selama kehamilan dan minimal
kali pemeriksaan oleh doctor pada pada trimester 1 dan 3 (Buku KIA
revisi,2020).
1) 2 Kali pada trimester pertama (kehamilan hingga 12 minggu)
2) 1 kali pada trimester kedua (kehamilan diatas 12 minggu sampai
24 minggu)
3) 3 kali pada trimester ketiga (kehamilan diatas 24 minggu sampai
40 minggu).

j. Pemeriksaan kehamilan
a) Anamnesa
Anamnesa identitas dari suami: nama, umur, agama, pekerjaan,
alamat dan sebagainya (indrayani, 2011)
1) Anamnesa umum
a. Tentang keluhan-keluhan, nafsu makan, tidur, miksi,
defeksi perkawinan dan sebagainya.
17

b. Tentang haid. Dari HPHT dapat dihitung usia kehamilan


penting untuk menetukan kapan taksiran persalinan.
(1) Menggunakan rumus naegle. Untuk menghitung
taksiran persalinan yaitu menambahkan HPHT dengan
tujuan dan bulannya ditambahkan Sembilan.
(2) Perkiraan tinggi fundus uteri.
(3) Penentuan kehamilan dengan ultrasonografi, bila ragu
dapat berkomunikasi dengan dokter untuk mentapkan
perkiraan persalinan.
(Indrayani, 2011).
c. Tentang riwayat kesehatan, pemenuhan kebutuhan rutin,
riwayat sosial ekonomi, kehamilan, persalinan, keguguran
dan kehamilan ektopik, atau kehamilan mola sebelumnya.
b) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan seluruh tubuh secara head to toe, pemeriksaan TTV,
dan sebagainya
c) Perkusi menggunakan alat untuk mengetahui refleksi patella.
d) Palpasi
Palpasi perut bertujuan untuk menentukan besar dan konsistensi
rahim, bagian-bagian janin, letak dan presentasi, gerakan janin dan
penurunan persentasi ke panggul dan kontraksi rahim braxton
hicks dan his (Indrayani, 2011).
e) Palpasi Abdomen :

a. Leopold I
Tujuan: untuk menentukan inggi fundus uteri (tusia
kehamilan) dan bagian janin yang terdapat di fundus uteri
(bagian atas perut ibu).
Teknik:
- Memposisikan ibu dengan lutut fleksi (kaki ditekuk 450
atau lutut bagian dalam diganjal bantal) dan pemeriksa
menghadap ke arah ibu
- Menengahkan uterus dengan menggunakan kedua tangan
18

dari arah samping umbilical


- Kedua tangan meraba fundus kemudian menentukan TFU

- Meraba bagian Fundus dengan menggunakan ujung kedua


tangan, tentukan bagian janin.
Hasil

- Apabila kepala janin teraba di bagian fundus, yang akan


teraba adalah keras,bundar dan melenting (seperti mudah
digerakkan)
- Apabila bokong janin teraba di bagian fundus, yang akan
terasa adalah lunak, kurang bundar, dan kurang melenting

- Apabila posisi janin melintang pada rahim, maka pada


Fundus teraba kosong.

Gambar 2
Leopold I
(Fatimah,2017)

b. Leopold II

Tujuan : Untuk menentukan dimana punggung anak dan


dimana letak bagian-bagian kecil.
Teknik:
- Posisi ibu masih dengan lutut fleksi (kaki ditekuk) dan
pemeriksa menghadap ibu
- Meletakkan telapak tangan kiri pada dinding perut lateral
kanan dan telapak tangan kanan pada dinding perut lateral
kiri ibu secara sejajar dan pada ketinggian yang sama
- Mulai dari bagian atas tekan secara bergantian atau
bersamaan (simultan) telapak tangan tangan kiri dan kanan
19

kemudian geser ke arah bawah dan rasakan adanya bagian


yang rata dan memanjang (punggung) atau bagian-bagian
kecil (ekstremitas).
Hasil:
Bagian punggung: akan teraba jelas, rata, cembung,
kaku/tidak dapat digerakkan
Bagian-bagian kecil (tangan dan kaki): akan teraba kecil,
bentuk/posisi tidak jelas dan menonjol, kemungkinan teraba
gerakan kaki janin secara aktif maupun pasif.

Gambar 3
Leopold II
(Fatimah,2017)

c. Leopold III (Fatimah,2017)

Tujuan: untuk menentukan bagian janin apa (kepala atau


bokong) yang terdapat di bagian bawah perut ibu, serta apakah
bagian janin tersebut sudah memasuki pintu atas panggul
(PAP).
Teknik:
- Posisi ibu masih dengan lutut fleksi (kaki ditekuk) dan
pemeriksa menghadap ibu
- Meletakkan ujung telapak tangan kiri pada dinding lateral
kiri bawah, telapak tangan kanan bawah perut ibu
- Menekan secara lembut dan bersamaan/bergantian untuk
20

mentukan bagian terbawah bayi


- Gunakan tangan kanan dengan ibu jari dan keempat jari
lainnya kemudian goyang bagian terbawah janin.
Hasil:
Bagian keras,bulat dan hampir homogen adalah
kepala sedangkan tonjolan yang lunak dan kurang simetris
adalah bokong,Apabila bagian terbawah janin sudah
memasuki PAP, maka saat bagian bawah digoyang, sudah
tidak bias (seperti ada tahanan).

Gambar 4
Leopold III
(Fatimah,2017)

d. Leopold IV

Tujuan: untuk mengkonfirmasi ulang bagian janin apa yang


terdapat di bagian bawah perut ibu, serta untuk mengetahui
seberapa jauh bagian bawah janin telah memasuki pintu atas
panggul.
Teknik:
-Pemeriksa menghadap ke arah kaki ibu, dengan posisi kaki ibu
lurus
-Meletakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada lateral
kiri dan kanan uterus bawah, ujung-ujung jari tangan kiri dan
kanan berada pada tepi atas simfisis
-Menemukan kedua ibu jari kiri dan kanan kemudian rapatkan
semua jari- jari tangan yang meraba dinding bawah uterus.
-Perhatikan sudut yang terbentuk oleh jari-jari: bertemu
(konvergen) atau tidak bertemu (divergen)
21

-Setelah itu memindahkan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pada
bagian terbawah bayi (bila presentasi kepala upayakan
memegang bagian kepala di dekat leher dan bila presentasi
bokong upayakan untuk memegang pinggang bayi).

-Memfiksasi bagian tersebut ke arah pintu atas panggul


kemudian meletakkan jari-jari tangan kanan diantara tangan
kiri dan simfisis untuk menilai seberapa jauh bagian
terbawah telah memasuki pintu atas panggul.

Hasil:
- Apabila kedua jari-jari tangan pemeriksa bertemu
(konvergen) berarti bagian terendah janin belum memasuki
pintu atas panggul, sedangkan apabila kedua tangan
pemeriksa membentuk jarak atau tidak bertemu (divergen)
mka bagian terendah janin sudah memasuki Pintu Atas
Panggul (PAP)
- Penurunan kepala dinilai dengan: 5/5 (seluruh bagian jari
masih meraba kepala, kepala belum masuk PAP), 1/5
(teraba kepala 1 jari dari lima jari, bagian kepala yang
sudah masuk 4 bagian), dan seterusnya sampai 0/5 (seluruh
kepala sudah masuk PAP).

Gambar 5
Leopold IV
(Fatimah,2017)
22

1. Genital luar ( externa )


[Link]
[Link]
c. Luka
d. Cairan yang keluar
e. Pengeluaran dari uretra dan Skene
f. Kelenjar Bartholin : bengkak ( massa ), cairan yang keluar

2. Genital dalam ( interna )


a. Servik meliputi : cairan yang keluar , luka (lesi ),
kelunakan, posisi, mobilitas, tertutup atau membuka.
b. Vagina meliputi cairan yang keluar , luka , darah.

c. Ukuran Adneksa, bentuk , posisi, nyeri,kelunakan,massa (


pada trimester pertama )
d. Uterus meliputi : ukuran, bentuk,posisi,mobilitas,kelunakan,
massa (pada trimester pertama). (Fatimah,2017).

3. Tes Laboratorium
Pada setting/tempat yang berbeda pemeriksaan
laboratorium yang dilakukan pada wanita hamil
[Link] tempat di Indonesia wanita didperiksa
urinnya untuk mengetahui kadar protein dan
glukosanya,diperiksa darahnya untuk mengetahui faktor rhesus ,
golongan darah,Hb dan [Link] tes dalam daftar berikut
yang dicetak tebal adalah tes yang paling penting yang dapat
dipakai untuk menilai adanya masalah pada ibu [Link] jika
tertangani maka akan mencegah kematian dan kesakitan pada
ibu dan anak. Tes yang lain berguna hanya jika ada indikasi
perlunya tes tersebut. (Fatimah,2017).
Tabel 1
Test Laboratorium
23

Diagnosis
Nilai /
Nilai
Tes Lab Tidak Masalah
Normal
Normal Yang
terkait
[Link] 10,5 – 14,0 < 10,5 Anemia
Protein Terlacak / >atau = 2+ Protein urin
urin negatif Keruh ( (mungkin ada
Dipstick Bening / positif) infeksi
Merebus negative (PIH)HPHT

Glukosa dalam Diabetes


urin
Benedict’s
VDRL/RPR Negatif Positif Syphilis
Test
Pemeriksaan
Syphilis pertama

Faktor Rhesus RH+ RH- RH sensitization

Ketidakcocokan
[Link] A B O AB -
ABO

HIV + AIDS

Rubela Positif Negatif Anomali pada


janin jika ibu
mengalami
Infeksi

Tinja untuk Negatif Positif Anemia Akibat


(Ova/Telur cacing 0 Cacing (Cacing
dan parasite) Tambang)

Sumber : (Fatimah,2017)

k. Ketidaknyamanan Ibu Hamil Trimester III


a. Edema dependen
24

Peningkatan kadar sodium dikarenakan pengaruh hormonal,


kongesti sirkulasi pada ekstremitas bawah, peningkatan
permiabilitas kapiler, tekanan dari pembesaran uterus pada vena
pelvik ketika duduk atau pada vena kava inferior ketika berbaring.
Hindari posisi berbaring, hindari posisi berdiri pada waktu
yang lama, tinggikan kaki, sering melatih kaki untuk ditekuk ketika
duduk atau berdiri, angkat kaki ketika duduk atau istirahat, hindari
kaos kaki yang ketat, lakukan senam secara teratur.

b. Keputihan
Hyperplasia mukosa vagina, peningkatan produksi lendir dan
kelenjar endoservikal.
Tingkatkan kebersihan dengan mandi setiap hari, memakai
pakaian dalam dari bahan katun dan mudah menyerap, tingkatkan
daya tahan tubuh dengan makan buah dan sayur.
c. Kram pada kaki
Tidak jelas dasarnya, tetapi mungkin karena ketidak
seimbangan rasio kalsium/fosfor.
Kurangi konsumsi susu yang kandungan fosfornya tinggi,
latihan dorsofleksi pada kaki dan meregangkan otot yang terkena,
gunakan penghangat otot.
d. Napas sesak
Hiperventilasi, peningkatan kadar progesterone berpengaruh
langsung pada pusat pernafasan untuk menurunkan kadar CO2 serta
meningkatkan kadar O2.
Dorong agar secara sengaja mengatur laju dan dalamnya
pernafasan pada kecepatan normal yang terjadi, merentangkan
tangan diatas kepala serta menarik nafas panjang, mendorong
postur tubuh yang baik, melakukan pernafasan intercostal.
e. Nyeri ligamentum rotondum
Hipertropi dan peregangan ligament selama kehamilan,
tekanan dari uterus pada ligamentum.
25

Tekuk lutut kearah abdomen, mandi air hangat, gunakan bantalan


pemanas pada area yang terasa sakit hanya jika tidak terdapat
kontraindikasi, gunakan sebuah bantal untuk menopang uterus dan
bantal lainnya letakkan di antara lutut sewaktu dalam posisi
berbaring miring.
f. Heartburn
Aliran balik asam gastrik kedalam esophagus bagian bawah
karena produksi progesterone yang meningkat, relaksasi spingter
esophagus bagian bawah, pergeseran lambung.
Makan sedikit tapi sering, hindari makanan berlemak dan
berbumbu tajam, hindari rokok, asap rokok, alcohol, dan coklat,
hindari berbaring setelah makan, hindari minum air putih saat
makan, kunyah permen karet, tidur dengan kaki ditinggikan.
g. Perut kembung
Penekanan dari uterus yang membesar, pemotilasi
gastrointestinal menurun yang menyebabkan terjadinya
perlambatan waktu pengosongan.
Hindari makanan yang mengandung gas, mengunyah makanan
secara sempurna, lakukan senam secara teratur, pertahankan saat
BAB yang teratur.
h. Sakit punggung atas dan bawah
Spasme otot karena tekanan terhadap akar saraf, penambahan
ukuran payudara, kadar hormone yang berlebihan, kelelahan.
Gunakan bodi mekanik yang baik untuk mengangkat benda – 1.
berjongkok, dan bukan membungkuk, untuk mengangkat setiap
benda supaya kaki (paha) dan bukan punggung yang menahan
beban dan tegangan – 2. Lebarkan kaki dan letakkan satu kaki
sedikit ke depan kaki yang lain pada waktu membungkuk agar
terdapat dasar yang luas untuk keseimbangan pada waktu bangkit
dari jongkok; gunakan BH yang menopang dan ukuran yang tepat;
gunakan kasur yang keras untuk tidur; gunakan bantal waktu tidur
untuk meluruskan punggung.
26

i. Pusing
Hipertensi postural yang berhubungan dengan perubahan
hemodinamis, penggumpalan darah dalam pembuluh tungkai yang
mengurangi aliran balik vena dan menurunkan output kardiak
serta tekanan darah dengan tegangan orthostatis yang meningkat.
Bangun secara perlahan dari posisi istirahat, hindari berdiri terlalu
lama dalam lingkungan yang hangat dan sesak.

j. Pigmentasi bertambah, jerawat, kulit berminyak


Hormon MSH dari hipofise anterior. Biasanya sembuh
sendiri selama laktasi atau puerperium.
k. Sembelit
Gerakan saluran pencernaan melambat, oleh progesteron,
mengakibatkan peningkatan absorsi air, usus tertekan oleh uterus,
juga seringkali akibat minum suplemen zat besi. Minum air 6 gelas
sehari, latihan fisik ringan.
l. Varises, tungkai nyeri bisa sampai vulva dan hemoroid
Disebabkan predisposisi herediter, dinding otot polos vena
melebar, akibat hormonal.
Hindari kegemukan, berdiri/duduk lama, baju ketet, latihan
fisik ringan, istirahat dengan kaki lebih tinggi, mandi dengan air
hangat.
m. Sering pingsan (biasanya selama kehamilan)
Disebabkan gangguan vasomotor/hormonal. Latihan fisik
ringan, nafas dalam, bangun dari tidur perlahan, suhu kamar diatur
sejuk (Sulistyawati, 2013).
i. Panduan pelayanan ANC pada masa pandemic covid-19
1. Ibu membuat janji melalui telepon/whattsap. ANC pada Trimester
pertama 1x kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan kesehatan.
27

2. Jika tidak ada ksluhan ibu hamil diminta menerapkan isi buku KIA
dirumah. Segera ke fasilitas pelayanan kesehatan jika ada
keluhan/tanda Bahaya.
3. Lakukan pengkajian komprehensif sesuai standar dengan
kewaspadaan Covid-19. Dapat berkoordinasi dengan RT/RW Kades
tentang status ibu (ODP/ODO,Covid+)
4. ANC dilakukan sesuait standar (10T) dengan APD Leve; 1.
Lakukan skrining factor resiko. Jika ditemukan factor resiko rujuk
sesuai standar.
5. Ibu hamil, pendamping dan tim kesehatan yang bertugas
menggunakan masker dan menerapkan protocol pencegahan Covid-
19.
6. Tunda kelas ibu hamil/dilakukan secara online.
7. Konsultasi kehamilan, KIE dan konseling dapat dilakukan secara
online (panduan pengisian P4K) (Nurjasmi, 2020).

3) Asuhan Kebidanan Persalinan


a. Pengertian
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dan
janin turun ke jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan
ketuban didorong keluar melalui jalan lahir. Dengan demikian bisa
dikatakan bahwa persalinan (labor) adalah rangkaian peristiwa mulai
dari kenceng-kenceng teratur sampai dikeluarkannya produk konsepsi
(janin, plasenta, ketuban, dan cairan ketuban) dari uterus ke dunia luar
melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau dengan
kekuatan sendiri (Utami,2019).
Persalinan buatan adalah peroses persalinan yang dibantu dengan
tenaga dari luar atau selain dari ibu yang akan melahirkan. Tenaga yang
di maksud, misalnya ekstraksi foreceps, atau ketika dilakukan operasi
caesaria. Berbeda dengan persalinan anjuran, yaitu proses persalinan
yang tidak dimulai dengan proses yang seperti biasanya, akan tetapi baru
28

berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian Pitocin, atau


prostaglandin. (Yuni Fitriana,2018).
b. Tujuan

Adalah mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat


kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya melalui berbagai upaya yang
terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal dengan asuhan
kebidanan persalinan yang ade kuat sesuai dengan tahapan persalinan
sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada
tingkat yang optimal (Kurniarum,2016).
Seorang bidan harus mampu menggunakan pengetahuan,
keterampilan dan pengambil keputusan yang tepat terhadap kliennya
untuk Memberikan dukungan baik secara fisik maupun emosional
kepada ibu dan keluarganya selama persalinan dan kelahiran, melakukan
pengkajian, membuat diagnose, mencegah, dan menangani komplikasi-
komplikasi dengan cara pemantauan ketat dan deteksi dini selama
persalinan dan kelahiran, melakukan rujukan pada kasus-kasus yang
tidak biasa ditangani sendiri untuk mendapatkan asuhan spesialis jika
perlu, memberikan asuhan yang adekuat kepada ibu dengan intervensi
minimal, sesuai dengan tahap persalinannya, memperkecilresiko infeksi
dengan melaksanakan pencegahan infek yang aman, selalu
memberitahukan kepada ibu dan keluarganya mengenai kemajuan,
adanya penyulit maupun intervensi yang akan dilakukan dalam
persalinan, memberikan asuhan yang tepat untuk bayi segera setelah
lahir dan membantu ibudengan pemberian ASI (Fitriana,Y.,&
Nurwiandani,2018).
c. Prinsip asuhan Persalinan
Prinsip umum dari asuhan sayang ibu yang harus diikuti oleh bidan,
sebagai berikut :
1) Rawat ibu dengan penuh hormat
2) Mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dilakukan ibu.
3) Menghargai hak-hak ibu dan memberikan asuhan yang bermutu serta
sopan.
29

4) Memberikan asuhan dengan memperhatikan privasi.


5) Selalu menjelaskan apa yang akan dikerjakan sebelum anda
melakukannya serta meminta izin dahulu.
6) Selalu mendiskusikan temuan-temuan pada ibu serta kepada siapa
saja yang ia inginkan untuk berbagi informasi ini.
7) Selalu mendiskusikan rencana dan intervensi serta pilihan yang
sesuai dan tersedia bersama ibu.
8) Mengizinkan ibu untuk memilih siapa yang akan menemaninya
selama persalinan dan kelahiran, kelahiran dan pascasalin.
9) Mengizinkan ibu menggunakan posisi apa saja yang diinginkan
selama persalinan dan kelahiran
10) Menghindari penggunaan suatu tindakan medis yang tidak perlu
(episiotomy, pencukuran, dan enema)
11) Memfasilitasi hubungan dini antara ibu dan bayi baru lahir
(bounding and attachment).
d. Tanda-tanda Persalinan
Yang merupakan tanda pasti dari persalinan adalah :
Timbulnya kontraksi uterus Biasa juga disebut dengan his persalinan
yaitu his pembukaan yang mempunyai sifat sebagai berikut :
1. Nyeri melingkar dari punggung memancar ke perut bagian depan.
2. Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan
3. Sifatnya teratur, inerval makin lama makin pendek dan kekuatannya
makin besar.
4. Mempunyai pengaruh pada pendataran dan atau pembukaan cervix.
5. Makin beraktifitas ibu akan menambah kekuatan kontraksi.
Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada servix
(frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit). Kontraksi yang terjadi
dapat menyebabkan pendataran, penipisan dan pembukaan
serviks.
2. Penipisan dan pembukaan servix
Penipisan dan pembukaan servix ditandai dengan adanya
pengeluaran lendir dan darah sebagai tanda pemula.
30

3. Bloody Show (lendir disertai darah dari jalan lahir)


Dengan pendataran dan pembukaan, lendir dari canalis cervicalis
keluar disertai dengan sedikit darah. Perdarahan yang sedikit ini
disebabkan karena lepasnya selaput janin pada bagian bawah
segmen bawah rahim hingga beberapa capillair darah terputus.
4. Premature Rupture of Membrane
Adalah keluarnya cairan banyak dengan sekonyong-
konyong dari jalan lahir. Hal ini terjadi akibat ketuban pecah atau
selaput janin robek. Ketuban biasanya pecah kalau pembukaan
lengkap atau hampir lengkap dan dalam hal ini keluarnya cairan
merupakan tanda yang lambat sekali. Tetapi kadang-kadang
ketuban pecah pada pembukaan kecil, malahan kadang-kadang
selaput janin robek sebelum persalinan. Walaupun demikian
persalinan diharapkan akan mulai dalam 24 jam setelah air
ketuban keluar (Kurniarum,2016).
e. Tahap persalinan
1. Kala I
Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi
uterus dan pembukaan servix hingga mencapai pembukaan
lengkap (10 cm). Persalinan kala I berlangsung 18 – 24 jam dan
terbagi menjadi dua fase yaitu fase laten dan fase aktif.
a. Fase laten persalinan
1. Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan
penipisan dan pembukaan servix secara bertahap
2. Pembukaan servix kurang dari 4 cm, Biasanya berlangsung di
bawah hingga 8 jam
b. Fase aktif persalinan
Fase ini terbagi menjadi 3 fase yaitu akselerasi, dilatasi
maximal, dan deselerasi
1. Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat
(kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi 3 kali
atau lebih dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama
31

40 detik atau lebih


2. Servix membuka dari 4 ke 10 cm biasanya dengan
kecepatan 1 cm atau lebih perjam hingga permbukaan
lengkap (10 cm)
3. Terjadi penurunan bagian terendah janin.
2. Kala II
Persalinan kala II dimulai dengan pembukaan lengkap dari
serviks dan berakhir dengan lahirnya bayi. Proses ini berlangsung 2 jam
pada primi dan 1 jam pada multi.

a. Tanda dan gejala kala II


Tanda-tanda bahwa kala II persalinan sudah dekat adalah:
1. Ibu ingin meneran
2. Perineum menonjol
3. Vulva vagina dan sphincter anus membuka
4. Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat
5. His lebih kuat dan lebih cepat 2-3 menit sekali.
6. Pembukaan lengkap (10 cm )
7. Pada Primigravida berlangsung rata-rata 1.5 jam dan
multipara rata-rata 0.5 jam
8. Pemantauan
a) Tenaga atau usaha mengedan dan kontraksi uterus
b) Janin yaitu penurunan presentasi janin dan kembali.
3. Kala III
a. Pengertian

1) Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan


berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban
2) Berlangsung tidak lebih dari 30 menit
3) Disebut dengan kala uri atau kala pengeluaran plasenta
4) Peregangan Tali pusat Terkendali (PTT) dilanjutkan
pemberian oksitosin untuk kontraksi uterus dan mengurangi
32

perdarahan
b. Tanda-tanda pelepasan plasenta :
1) Perubahan ukuran dan bentuk uterus
2) Uterus menjadi bundar dan uterus terdorong ke atas
karena plasenta sudah terlepas dari Segmen Bawah Rahim
3) Tali pusat memanjang
4) Semburan darah tiba tiba.
4. KALA IV

a. Pengertian
1. Dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam
setelah itu
2. Paling kritis karena proses perdarahan yang berlangsung
3. Masa 1 jam setelah plasenta lahir
4. Pemantauan 15 menit pada jam pertama setelah kelahiran
plasenta, 30 menit pada jam kedua setelah persalinan, jika
kondisi ibu tidak stabil, perlu dipantau lebih sering
5. Observasi intensif karena perdarahan yang terjadi pada masa
ini
6. Observasi yang dilakukan :
a) Tingkat kesadaran penderita.
b) Pemeriksaan tanda vital.
c) Kontraksi uterus.
d) Perdarahan, dianggap masih normal bila jumlahnya
tidak melebihi 400- 500cc (kurnirum,2016).

f. kebutuhan Dasar ibu dalam Proses Persalinan


Menurut Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia adalah
suatu kebutuhan manusia yang paling dasar/pokok/utama yang
apabila tidak terpenuhi akan terjadi ketidakseimbangan di dalam diri
manusia. Kebutuhan dasar manusia terdiri dari kebutuhan fisiologis
(tingkatan yang paling rendah/dasar), kebutuhan rasa aman dan
perlindungan, kebutuhan akan dicintai dan mencintai, kebutuhan
33

harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis


diantaranyaadalah kebutuhan akan oksigen, cairan (minuman), nutrisi
(makanan), keseimbangan suhu tubuh, eliminasi, tempat tinggal,
personal hygiene, istirahat dan tidur, serta kebutuhan seksual.
Kebutuhan fisiologis ibu bersalin merupakan suatu kebutuhan
dasar pada ibu bersalin yang harus dipenuhi agar proses persalinan
dapat berjalan dengan lancar. Kebutuhan dasar ibu bersalin yang harus
diperhatikan bidan untuk dipenuhi yaitu kebutuhan oksigen, cairan
dan nutrisi, eliminasi, hygiene (kebersihan personal), istirahat, posisi
dan ambulasi, pengurangan rasa nyeri, penjahitan perineum (jika
diperlukan), serta kebutuhan akan pertolongan persalinan yang
terstandar. Pemenuhan kebutuhan dasar ini berbeda-beda, tergantung
pada tahapan persalinan, kala I, II, III atau IV. Adapun kebutuhan
fisiologis ibu bersalin adalah sebagai berikut:
a. Kebutuhan Oksigen
Pemenuhan kebutuhan oksigen selama proses persalinan
perlu diperhatikan oleh bidan, terutama pada kala I dan kala II,
dimana oksigen yang ibu hirup sangat penting artinya untuk
oksigenasi janin melalui plasenta. Suplai oksigen yang tidak
adekuat, dapat menghambat kemajuan persalinan dan dapat
mengganggu kesejahteraan janin. Oksigen yang adekuat dapat
diupayakan dengan pengaturan sirkulasi udara yang baik selama
persalinan. Ventilasi udara perlu diperhatikan, apabila ruangan
tertutup karena menggunakan AC, maka pastikan bahwa dalam
ruangan tersebut tidak terdapat banyak orang. Hindari
menggunakan pakaian yang ketat, sebaiknya penopang
payudara/BH dapat dilepas/dikurangi kekencangannya. Indikasi
pemenuhan kebutuhan oksigen adekuat adalah Denyut Jantung
Janin (DJJ) baik dan stabil (kurniarum,2016).
b. Kebutuhan Cairan dan Nutrisi
Kebutuhan cairan dan nutrisi (makan dan minum) merupakan
kebutuhan yang harus dipenuhi dengan baik oleh ibu selama proses
34

persalinan. Pastikan bahwa pada setiap tahapan persalinan (kala I, II,


III, maupun IV), ibu mendapatkan asupan makan dan minum yang
cukup. Asupan makanan yang cukup (makanan utama maupun
makanan ringan), merupakan sumber dari glukosa darah, yang
merupakan sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Kadar gula
darah yang rendah akan mengakibatkan hipoglikemia. Sedangkan
asupan cairan yang kurang, akan mengakibatkan dehidrasi pada ibu
bersalin.
Pada ibu bersalin, hipoglikemia dapat mengakibatkan komplikasi
persalinan baik ibu maupun janin. Pada ibu, akan mempengaruhi
kontraksi/his, sehingga akan menghambat kemajuan persalinan dan
meningkatkan insiden persalinan dengan tindakan, serta dapat
meningkatkan risiko perdarahan postpartum. Pada janin, akan
mempengaruhi kesejahteraan janin, sehingga dapat mengakibatkan
komplikasi persalinan seperti asfiksia.
Dehidrasi pada ibu bersalin dapat mengakibatkan
melambatnya kontraksi/his, dan mengakibatkan kontraksi menjadi
tidak teratur. Ibu yang mengalami dehidrasi dapat diamati dari
bibir yang kering, peningkatan suhu tubuh, dan eliminasi yang
sedikit.
Dalam memberikan asuhan, bidan dapat dibantu oleh
anggota keluarga yang mendampingi ibu. Selama kala I, anjurkan
ibu untuk cukup makan dan minum, untuk mendukung kemajuan
persalinan. Pada kala II, ibu bersalin mudah sekali mengalami
dehidrasi, karena terjadi peningkatan suhu tubuh dan terjadinya
kelelahan karena proses mengejan. Untuk itu disela-sela kontraksi,
pastikan ibu mencukupi kebutuhan cairannya (minum). Pada kala
III dan IV, setelah ibu berjuang melahirkan bayi, maka bidan juga
harus memastikan bahwa ibu mencukupi kebutuhan nutrisi dan
cairannya, untuk mencegah hilangnya energi setelah mengeluarkan
banyak tenaga selama kelahiran bayi (pada kala II).
(kurniarum,2016).
35

c. Kebutuhan Eliminasi
Pemenuhan kebutuhan eliminasi selama persalinan perlu
difasilitasi oleh bidan, untuk membantu kemajuan persalinan dan
meningkatkan kenyamanan pasien. Anjurkan ibu untuk berkemih
secara spontan sesering mungkin atau minimal setiap 2
jam sekali selama persalinan.
Kandung kemih yang penuh, dapat mengakibatkan:
1. Menghambat proses penurunan bagian terendah janin ke dalam
rongga panggul, terutama apabila berada di atas spina isciadika
2. Menurunkan efisiensi kontraksi uterus/his
3. Mengingkatkan rasa tidak nyaman yang tidak dikenali ibu
karena bersama dengan munculnya kontraksi uterus
4. Meneteskan urin selama kontraksi yang kuat pada kala II
5. Memperlambat kelahiran plasenta
6. Mencetuskan perdarahan pasca persalinan, karena kandung
kemih yang penuh menghambat kontraksi uterus.
Apabila masih memungkinkan, anjurkan ibu untuk
berkemih di kamar mandi, namun apabila sudah tidak
memungkinkan, bidan dapat membantu ibu untuk berkemih dengan
wadah penampung urin. Bidan tidak dianjurkan untuk melakukan
kateterisasi kandung kemih secara rutin sebelum ataupun setelah
kelahiran bayi dan placenta. Kateterisasi kandung kemih hanya
dilakukan apabila terjadi retensi urin, dan ibu tidak mampu
untuk berkemih secara mandiri. Kateterisasi akan meningkatkan
resiko infeksi dan trauma atau perlukaan pada saluran kemih ibu.
Sebelum memasuki proses persalinan, sebaiknya pastikan
bahwa ibu sudah BAB. Rektum yang penuh dapat mengganggu
dalam proses kelahiran janin. Namun apabila pada kala I fase aktif
ibu mengatakan ingin BAB, bidan harus memastikan kemungkinan
adanya tanda dan gejala kala II. Apabila diperlukan sesuai indikasi,
dapat dilakukan lavement pada saat ibu masih berada pada kala I
fase latent(kurniarum,2016).
36

d. Kebutuhan Hygiene
Kebutuhan hygiene (kebersihan) ibu bersalin perlu
diperhatikan bidan dalam memberikan asuhan pada ibu bersalin,
karena personal hygiene yang baik dapat membuat ibu merasa
aman dan relax, mengurangi kelelahan, mencegah infeksi,
mencegah gangguan sirkulasi darah, mempertahankan integritas
pada jaringan dan memelihara kesejahteraan fisik dan psikis.
Tindakan personal hygiene pada ibu bersalin yang dapat dilakukan
bidan diantaranya: membersihkan daerah genetalia (vulva-vagina,
anus), dan memfasilitasi ibu untuk menjaga kebersihan badan
dengan mandi. Mandi pada saat persalinan tidak dilarang. Pada
sebagian budaya, mandi sebelum proses kelahiran bayi merupakan
suatu hal yang harus dilakukan untuk mensucikan badan, karena
proses kelahiran bayi merupakan suatu proses yang suci dan
mengandung makna spiritual yang dalam. Secara ilmiah, selain
dapat membersihkan seluruh bagian tubuh, mandi juga dapat
meningkatkan sirkulasi darah, sehingga meningkatkan kenyamanan
pada ibu, dan dapat mengurangi rasa sakit. Selama proses
persalinan apabila memungkinkan ibu dapat diijinkan mandi di
kamar mandi dengan pengawasan dari bidan.
Pada kala I fase aktif, dimana terjadi peningkatan
bloodyshow dan ibu sudah tidak mampu untuk mobilisasi, maka
bidan harus membantu ibu untuk menjaga kebersihan genetalianya
untuk menghindari terjadinya infeksi intrapartum dan untuk
meningkatkan kenyamanan ibu bersalin. Membersihkan daerah
genetalia dapat dilakukan dengan melakukan vulva hygiene
menggunakan kapas bersih yang telah dibasahi dengan air
Disinfeksi Tingkat Tinggi (DTT), hindari penggunaan air yang
bercampur antiseptik maupun lisol. Bersihkan dari atas
(vestibulum), ke bawah (arah anus). Tindakan ini dilakukan apabila
diperlukan, misalnya setelah ibu BAK, setelah ibu BAB, maupun
setelah ketuban pecah spontan.
37

Pada kala II dan kala III, untuk membantu menjaga


kebersihan diri ibu bersalin, maka ibu dapat diberikan alas
bersalin (under pad) yang dapat menyerap cairan tubuh (lendir
darah, darah, air ketuban) dengan baik. Apabila saat mengejan
diikuti dengan faeses, maka bidan harus segera membersihkannya,
dan meletakkannya di wadah yang seharusnya. Sebaiknya hindari
menutupi bagian tinja dengan tisyu atau kapas ataupun melipat
undarpad. Pada kala IV setelah janin dan placenta dilahirkan,
selama 2 jam observasi, maka pastikan keadaan ibu sudah
bersih. Ibu dapat dimandikan atau dibersihkan di atas tempat
tidur. Pastikan bahwa ibu sudah mengenakan pakaian bersih dan
penampung darah (pembalut bersalin, underpad) dengan baik.
Hindari menggunakan pot kala, karena hal ini mengakibatkan
ketidaknyamanan pada ibu bersalin. Untuk memudahkan bidan
dalam melakukan observasi, maka celana dalam sebaiknya tidak
digunakan terlebih dahulu, pembalut ataupun underpad dapat
dilipat disela-sela paha (kurniarum,2016).
e. Kebutuhan Istirahat
Selama proses persalinan berlangsung, kebutuhan istirahat
pada ibu bersalin tetap harus dipenuhi. Istirahat selama proses
persalinan (kala I, II, III maupun IV) yang dimaksud adalah bidan
memberikan kesempatan pada ibu untuk mencoba relaks tanpa
adanya tekanan emosional dan fisik. Hal ini dilakukan selama tidak
ada his (disela-sela his). Ibu bisa berhenti sejenak untuk melepas
rasa sakit akibat his, makan atau minum, atau melakukan hal
menyenangkan yang lain untuk melepas lelah, atau apabila
memungkinkan ibu dapat tidur. Namun pada kala II, sebaiknya ibu
diusahakan untuk tidak mengantuk.
Setelah proses persalinan selesai (pada kala IV), sambil
melakukan observasi, bidan dapat mengizinkan ibu untuk tidur
apabila sangat kelelahan. Namun sebagai bidan, memotivasi ibu
untuk memberikan ASI dini harus tetap dilakukan. Istirahat yang
38

cukup setelah proses persalinan dapat membantu ibu untuk


memulihkan fungsi alat-alat reproduksi dan meminimalisasi
trauma pada saat persalinan (kurniarum,2016).
f. Posisi dan Ambulasi
Posisi persalinan yang akan dibahas adalah posisi persalinan
pada kala I dan posisi meneran pada kala II. Ambulasi yang
dimaksud adalah mobilisasi ibu yang dilakukan pada kala I.
Persalinan merupakan suatu peristiwa fisiologis tanpa
disadari dan terus berlangsung/progresif. Bidan dapat membantu
ibu agar tetap tenang dan rileks, maka bidan sebaiknya tidak
mengatur posisi persalinan dan posisi meneran ibu. Bidan harus
memfasilitasi ibu dalam memilih sendiri posisi persalinan dan
posisi meneran, serta menjelaskan alternatif-alternatif posisi
persalinan dan posisi meneran bila posisi yang dipilih ibu tidak
efektif.
Bidan harus memahami posisi-posisi melahirkan,
bertujuan untuk menjaga agar proses kelahiran bayi dapat berjalan
senormal mungkin. Dengan memahami posisi persalinan yang
tepat, maka diharapkan dapat menghindari intervensi yang tidak
perlu, sehingga meningkatkan persalinan normal. Semakin normal
proses kelahiran, semakin aman kelahiran bayi itu sendiri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan posisi melahirkan:
1. Klien/ibu bebas memilih, hal ini dapat meningkatkan kepuasan,
menimbulkan perasaan sejahtera secara emosional, dan ibu dapat
mengendalikan persalinannya secara alamiah.
2. Peran bidan adalah membantu/memfasilitasi ibu agar merasa
nyaman.
3. Secara umum, pilihan posisi melahirkan secara alami/naluri
bukanlah posisi berbaring. Menurut sejarah, posisi berbaring
diciptakan agar penolong lebih nyaman dalam bekerja.
Sedangkan posisi tegak, merupakan cara yang umum
digunakan dari sejarah penciptaan manusia sampai abad ke-18.
39

Pada awal persalinan, sambil menunggu pembukaan


lengkap, ibu masih diperbolehkan untuk melakukan
mobilisasi/aktivitas. Hal ini tentunya disesuaikan dengan
kesanggupan ibu. Mobilisasi yang tepat dapat membantu dalam
meningkatkan kemajuan persalinan, dapat juga mengurangi rasa
jenuh dan kecemasan yang dihadapi ibu menjelang kelahiran
janin.
Pada kala I, posisi persalinan dimaksudkan untuk
membantu mengurangi rasa sakit akibat his dan membantu
dalam meningkatkan kemajuan persalinan (penipisan cerviks,
pembukaan cerviks dan penurunan bagian terendah). Ibu dapat
mencoba berbagai posisi yang nyaman dan aman. Peran
suami/anggota keluarga sangat bermakna, karena perubahan
posisi yang aman dan nyaman selama persalinan dan kelahiran
tidak bisa dilakukan sendiri olah bidan. Pada kala I ini, ibu
diperbolehkan untuk berjalan, berdiri, posisi berdansa, duduk,
berbaring miring ataupun merangkak. Hindari posisi jongkok,
ataupun dorsal recumbent maupun lithotomi, hal ini akan
merangsang kekuatan meneran. Posisi terlentang selama
persalinan (kala I dan II) juga sebaiknya dihindari, sebab saat ibu
berbaring telentang maka berat uterus, janin, cairan ketuban, dan
placenta akan menekan vena cava inferior. Penekanan ini akan
menyebabkan turunnya suplai oksigen utero-placenta. Hal ini
akan menyebabkan hipoksia. Posisi telentang juga dapat
menghambat kemajuan persalinan (kurniarum,2016).
Macam-macam posisi meneran diantaranya:
1. Duduk atau setengah duduk, posisi ini memudahkan bidan
dalam membantu kelahiran kepala janin dan memperhatikan
keadaan perineum.
2. Merangkak, posisi merangkak sangat cocok untuk persalinan
dengan rasa sakit pada punggung, mempermudah janin
dalam melakukan rotasi serta peregangan pada perineum
40

berkurang.
3. Jongkok atau berdiri, posisi jongkok atau berdiri
memudahkan penurunan kepala janin, memperluas panggul
sebesar 28% lebih besar pada pintu bawah panggul, dan
memperkuat dorongan meneran. Namun posisi ini beresiko
memperbesar terjadinya laserasi (perlukaan) jalan lahir.
4. Berbaring miring, posisi berbaring miring dapat mengurangi
penekanan pada vena cava inverior, sehingga dapat
mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia janin karena
suplai oksigen tidak terganggu, dapat memberi suasana rileks
bagi ibu yang mengalami kecapekan, dan dapat mencegah
terjadinya robekan jalan lahir.
Hindari posisi telentang (dorsal recumbent), posisi ini
dapat mengakibatkan: hipotensi (beresiko terjadinya syok dan
berkurangnya suplai oksigen dalam sirkulasi uteroplacenter,
sehingga mengakibatkan hipoksia bagi janin), rasa nyeri yang
bertambah, kemajuan persalinan bertambah lama, ibu
mengalami gangguan untuk bernafas, buang air kecil
terganggu, mobilisasi ibu kurang bebas, ibu kurang semangat,
dan dapat mengakibatkan kerusakan pada syaraf kaki dan
punggung.
Berdasarkan posisi meneran di atas, maka secara umum
posisi melahirkan dibagi menjadi 2, yaitu posisi tegak lurus
dan posisi berbaring. Secara anatomi, posisi tegak lurus
(berdiri, jongkok, duduk) merupakan posisi yang paling sesuai
untuk melahirkan, kerena sumbu panggul dan posisi janin
berada pada arah gravitasi. Adapun keuntungan dari posisi
tegak lurus adalah:
1. Kekuatan daya tarik, meningkatkan efektivitas kontraksi
dan tekanan pada leher rahim dan mengurangi lamanya
proses persalinan.
a. Pada Kala 1
41

1. Kontraksi, dengan berdiri uterus terangkat berdiri


pada sumbu aksis pintu masuk panggul dan kepala
mendorong cerviks, sehingga intensitas kontraksi
meningkat.
2. Pada posisi tegak tidak ada hambatan dari gerakan
uterus.
3. Sedangkan pada posisi berbaring, otot uterus lebih
banyak bekerja dan proses persalinan berlangsung
lebih lama.
b. Pada Kala 2

1. Posisi tegak lurus mengakibatkan kepala menekan


dengan kekuatan yang lebih besar, sehingga
keinginan untuk mendorong lebih kuat dan
mempersingkat kala 2.
2. Posisi tegak lurus dengan berjongkok,
mengakibatkan lebih banyak ruang di sekitar otot
dasar panggul untuk menarik syaraf penerima dasar
panggul yang ditekan, sehingga kadar oksitosin
meningkat.
3. Posisi tegak lurus pada kala 2 dapat mendorong janin
sesuai dengan anatomi dasar panggul, sehingga
mengurangi hambatan dalam meneran.
4. Sedangkan pada posisi berbaring, leher rahim
menekuk ke atas, sehingga meningkatkan hambatan
dalam meneran.
2. Meningkatkan dimensi panggul
a. Perubahan hormone kehamilan, menjadikan struktur
panggul dinamis/fleksibel.
b. Pergantian posisi, meningkatkan derajat mobilitas
panggul.
c. Posisi jongkok, sudut arkus pubis melebar
mengakibatkan pintu atas panggul sedikit melebar,
42

sehingga memudahkan rotasi kepala janin.


d. Sendi sakroiliaka, meningkatkan fleksibilitas sacrum
(bergerak ke belakang).
e. Pintu bawah panggul menjadi lentur maksimum.
f. Pada posisi tegak, sacrum bergerak ke dapan
mangakibatkan tulang ekor tertarik ke belakang.
g. Sedangkan pada posisi berbaring, tulang ekor tidak
bergerak ke belakang tetapi ke depan (tekanan yang
berlawanan).
3. Gambaran jantung janin abnormal lebih sedikit dengan
kecilnya tekanan pada pembuluh vena cava inferior
a. Pada posisi berbaring, berat uterus/cairan
amnion/janin mengakibatkan adanya tekanan pada
vena cava inferior, dan dapat menurunkan tekanan
darah ibu. Serta perbaikan aliran darah berkurang
setelah adanya kontraksi.
b. Pada posisi tegak, aliran darah tidak terganggu,
sehingga aliran oksigen ke janin lebih baik.

4. Kesejahteraan secara psikologis


a. Pada posisi berbaring, ibu/klien menjadi lebih pasif
dan menjadi kurang kooperatif, ibu lebih banyak
mengeluarkan tenaga pada posisi ini.
b. Pada posisi tegak, ibu/klien secara fisik menjadi lebih
aktif, meneran lebih alami, menjadi lebih fleksibel
untuk segera dilakukan ‘bounding’ (setelah bayi lahir
dapat langsung dilihat, dipegang ibu, dan disusui).
Ada beberapa keuntungan pada persalinan dengan
posisi tegak lurus. Namun ada beberapa kerugian
yang mungkin ditimbulkan dari persalinan dengan
posisi tegak, diantaranya adalah:
1. Meningkatkan kehilangan darah
43

a. Gaya gravitasi mengakibatkan keluarnya darah


sekaligus dari jalan lahir setelah kelahiran
janin, dan kontraksi meningkat sehingga
placenta segera lahir.
b. Meningkatkan terjadinya odema vulva, dapat
dicegah dengan mengganti-ganti posisi.
2. Meningkatkan terjadinya perlukaan/laserasi pada
jalan lahir
a. Odema vulva, dapat dicegah dengan
mengganti posisi (darah mengalir ke bagian
tubuh yang lebih rendah).
b. Luka kecil pada labia meningkat, tetapi luka
akan cepat sembuh.
c. Berat janin mendorong ke arah simfisis,
mengakibatkan tekanan pada perineum
meningkat, sehingga resiko rupture perineum
meningkat.
3. Untuk memudahkan proses kelahiran bayi pada
kala II, maka ibu dianjurkan untuk meneran
dengan benar, yaitu:
[Link] ibu untuk meneran sesuai
dorongan alamiah selama kontraksi
berlangsung.
b. Hindari menahan nafas pada saat meneran.
Menahan nafas saat meneran mengakibatkan
suplai oksigen berkurang.
c. Menganjurkan ibu untuk berhenti meneran
dan istirahat saat tidak ada
kontraksi/hisApabila ibu memilih meneran
dengan posisi berbaring miring atau setengah
duduk, maka menarik lutut ke arah dada dan
menempelkan dagu ke dada akan
44

memudahkan proses meneran


d. Menganjurkan ibu untuk tidak menggerakkan
anggota badannya (terutama pantat) saat
meneran. Hal ini bertujuan agar ibu fokus
pada proses ekspulsi janin.
e. Bidan sangat tidak dianjurkan untuk
melakukan dorongan pada fundus untuk
membantu kelahiran janin, karena dorongan
pada fundus dapat meningkatkan distosia
bahu dan ruptur uteri.
A B C

A
B

D E E

F G

I
H I

J L K
J K
L

Gambar 6
Posisi Persalinan
Sumber: (kurniarum,2016).

Keterangan:
A. Posisi duduk pada meja persalinan yang dirancang khusus
B. Posisi duduk pada kursi berlubang
45

C. Posisi duduk dengan bersandar pada pasangan


D. Posisi telentang/dorsal recumbent
(posisi ini tidak disarankan untuk meneran/selama persalinan)
E. Posisi setengah duduk kombinasi litothomi
F. Posisi setengah duduk dengan bersandar pada pasangan
G. Posisi setengah duduk dengan bersandar pada bantal
H. Posisi merangkak
I. Posisi jongkok
J. Posisi miring
K. Posisi miring dengan satu kaki diangkat
L. Posisi berdiri dengan bersandar pada meja khusus

g. Langkah-langkah Persalinan Normal ( Midwifery Update, 2016)


1) Mendengar & melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.
2) Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk
mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai
21/2 ml ke dalam wadah partus set.
3) Memakai celemek plastic.
4) Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dengan
sabun air mengalir.
5) Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yang akan
digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6) Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi
dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.
7) Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah yang telah
dibasahi oleh air matang (DTT), engan gerakan vulva ke perineum.
8) Melakukan pemeriksaan dalam pastikan pembukaan sudah lengkap ]
dan selaput ketuban sudah pecah.
9) Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan
klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
46

10) Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai


pastikan DJJ dalam batas normal (120-160 x/menit).
11) Mengimformasikan ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah
merasa ingin meneran.
12) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk
meneran (pada saat his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan
pastikan ia merasa nyaman.
13) Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang
kuat untuk meneran.
14) Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi
nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam
60 menit.
15) Meletakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu,
jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.
16) Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu.
17) Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan
alat dan bahan.
18) Memakai sarun tangan DTT pada kedua tangan.
19) Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5-6 cm,
memasang handuk bersih pada perut ibu untuk mengeringkan bayi
jika telah lahir dan kain kering dan bersih yang dilipat 1/3 bagian
dibawah bokong ibu. Setelah itu kita melakukan perasat stand hand
(perasat untuk melindungi perineum dengan satu tangan, di bawah
kain bersih dan kering, ibu jari pada salah satu sisi perineum dan 4
jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang
kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala fleksi
pada saat keluar secara bertahap melewati introitus dan perineum).
20) Setelah kepala keluar menyeka mulut dan hidung bayi dengan kasa
seteril kemudian memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin.
21) Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar
secara spontan.
47

22) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparietal
menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan
lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan
muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan
distal untuk melahirkan bahu belakang.
23) Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk
menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan
atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas.
24) Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung
kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai
bawah (selipkan jari telunjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin).
25) Melakukan penlaian sepintas :
(a) Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?
(b) Apakah bayi bergerak aktif ?
26) Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh
lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks ganti
handuk basah dengan handuk/kain yang kering membiarkan bayi atas
perut ibu.
27) Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi
dalam uterus.
28) Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi baik.
29) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit
IM (intramuskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan
aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30) Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-
kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat kea rah distal (ibu)
dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31) Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (dilindungi
perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem
tersebut.
48

32) Letakan bayi pada dada ibu dengan posisi tengkurap untuk kontak ibu
dan bayi
33) Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau seteril pada satu sisi
kemudian melingkarlah kembali benang tersebut dengan mengikatnya
dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
34) Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi
dikepala bayi.
35) Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm ari vilva.
36) Meletakkan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas
simpisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
37) Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan
kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah
dorsokranial. Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan
penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi
berikutnya dan mengulangi prosedur.
38) Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta
terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat
dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros
jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorsokranial).
39) Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta
dengan hati-hati. Bila perlu (teasa ada tahanan), pegang plasenta
dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu
pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.
40) Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri
dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian
palmar 4 jari kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)
41) Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan
kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput
ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastic
yang tersedia.
42) Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan
penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
49

43) Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi


perdarahan pervaginam.
44) Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu
paling sedikit 1 jam.
45) Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes
mata antibiotic profilaksis, dan vit K1 1 mg intramuskuler di paha kiri
anterolateral.
46) Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi
Hepatitis B di paha kanan anteriolateral.
47) Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan
pervaginam.
48) Mengajarkan ibu atau keluarga cara melakukan masase uterus dan
menilai kontraksi.
49) Evaluasi dan estiminasi jumlah kehilangan darah.
50) Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit
selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 m3nit selama
jam kedua pasca persalinan.
51) Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas
dengan baik.
52) Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di
dekontaminasi.
53) Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
54) Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Membersihkan
sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian
bersih dan kering.
55) Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk
membantu apabila ibu ingin minum.
56) Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
50

57) Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5%.


Melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya
dalam larutan klorin 0,5%.
58) Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5%.
Melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya
dalam larutan klorin 0,5%.
59) Mencuci tangan dengan sabun air mengalir.
60) Melengkapi partograf.
h. Partograf
Partograf merupakan alat bahan bantu bidan mengenali apakah ibu
masih dalam kondisi normal atau mulai pada penyulit dengan selalu
menggunakan partoraf, bidan dapat mengambil keputusan klinik
dengan cepat dan tepat sehingga dapat terhindar dari keterlambatan
dalam pengelolaan ibu bersalin. Parograf dilengkapi proses persalinan
kala I sampai kala IV (Midwifery Update,2016)
1) Penggunaan partograf (Midwifery Update, 2016)
2) Untuk semua ibu dalam fase aktif kala I persalinan sehingga
bagian penting asuhan persalinan. Partograf harus digunakan, baik
tanpa apapun adanya penyulit.
3) Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan
asuhan kepada ibu ibu selama persalinan dan kelahiran(special
obgyn, bidan, dokter umum, residen dan mahasiswa kedokteran)
4) Partograf membantu penolong persalinan dalam memantau,
mengevaluasi dan membuat keputusan klinik baik persalinan
normal maupun yang disertai dengan penyulit. Pencatatan pada
partograf dimulai pada saat proses persalinan masuk dalam ”fase
aktif" untuk menyatakan sudah masuk dalam fase aktif harus di
tandai dengan:
(a) Kontraksi yang teratur minimal 3 kali selama 10 menit.
(b) Lamanya kontraksi minimal 40 detik.
(c) Pembukaan 4 cm disertai dengan penipisan.
(d) Bagian terendah sudah masuk pintu atas panggul.
51

Bila pembukaan sudah mencapai > 4 cm tetapi kualitas kontraksi


masih kurang 3 kali dalam 10 menit lamanyakurang dari 40
detik, pikirkan diagnose inertia uteri.
Komponen yang harus di observasi:
(1) Denyut jantung janin setiap ½ jam
(2) Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus setiap 1/2jam.
(3) Nadi setiap 1/2 jam.
(4) Pembukaan serviks setiap 4 jam.
(5) Penurunan setiap 4 jam.
(6) Tekanan darah dan temperature tubuh setiap 4 jam.
(7) Produksi urin, aseton dan protein setiap 2 sampai 4 jam.
i. Panduan Pertolongan Persalinan pada Masa Pandemi Covid-19
a. Jika ada tanda-tanda bersalin, segera hubungi bidan melalui
telepon/Whattsap. Bidan melakukan skrining faktor resiko termasuk
resiko infeksi Covid-19. Apabila ada faktor resiko, segera rujuk ke
PKM/RS sesuai standar.
b. Lakukan pengkajian komprehensif sesuai standar dengan
kewaspadaan Covid-19. Bidan dapat berkoordinasi dengan
RT/RW/Kades tentang status ibu apakah sedang isolasi mandiri
(ODP/PDP/Covid +)
c. Pertolongan persalinan dilakukan sesuai standar APN, lakukan IMD
& pemasangan IUD paska persalinan dengan APD level 2 dan
menerapkan protokol pencegahan penularan Covid-19 pada ibu
bukan PDP, Covid +. (Pasien dan pendamping maksimal 1 orang
menggunakan masker).
d. Jika tidak dapat melakukan pertolongan persalinan, segera
berkolaborasi dan rujuk ke PKM/RS sesuai standar.
e. Keluarga/pendamping dan semua tim yang bertugas menerapkan
protokol pencegahan penularan Covid-19.
f. Melaksanakan rujukan persalinan terencana untuk ibu bersalin
dengan risiko, termasuk risiko ODP/PDP/Covid + sesuai standar
(Nurjasmi, 2020).
52

4) Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas


a. Pengertian
Masa nifas (puerperium) adalah masa pemulihan kembali, mulai dari
persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra
hamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu. Masa nifas (puerperium)
dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas
berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Sukma,2017).
b. Tujuan
1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis
2. Melaksanakan skrining yang komprehinsif, mendeteksi masalah,
mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun
bayinya.
3. Mendukung dan memperkuat keyakinan diri ibu dan
memungkinkan ia melakukan peran ibu dalam situasi keluarga
dan budaya yang khusus.
4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan
diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi,
kepala bayinya dan perawatan bayi sehat.
5. Memberikan pelayanan keluarga berencana
6. Mempercepat involusi da kandungan
7. Melancarkan fungsi gastrointestinal atau perkemihan.
8. Melancarkan pengeluaran lochea
Meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat
fungsi hati dan pengeluaran sisa metabolism. (Risa Pitriani,2015).
c. Tahapan Masa Nifas
1) Periode Taking In (hari ke-12 setelah melahirkan)
(a) Ibu masih pasif dan tergantung dengan orang lain
(b) Perhatian ibu tertuju pada kekhawatiran perubahan tubuhnya
(c) Ibu akan mengulangi pengalaman-pengalaman waktu
melahirkan
53

(d) Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk memgembalikan


keadaan tubuh kekondisi normal
(e) Nafsu makan ibu biasanya bertambah sehingga
membutuhkan peningkatan nutrisi. Kurangnya nafsu makan
menandakan proses pengembalian kondisi tubuh tidak
berlangsung normal.
2) Periode Takin On/Taking Hold (hari ke 2-4 setelah
melahirkan)
(a) Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orang tua dan
meningkatkan tanggung jawab akan bayinya.
(b) Ibu menfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh,
BAK,BAB, dan daya tahan tubuh
(c) Ibu berusaha untuk menguasai keterampilan merawat bayi
seperti menggendong, menyusui, memandikan bayi dan
mengganti popok.
(d) Ibu cenderung terbuka menerima nasehat bidan dan kritikan
pribadi.
(e) Kemungkinan ibu mengalami depresi postpartum karena
merasa tidak mampu membesarkan bayinya.
3) Periode Letting Go
(a) Terjadi setelah ibu pulang kerumah dan dipengaruhi oleh
dukungan serta perhatian keluarga
(b) Ibu sudah mengambil tanggung jawab dalam merawat bayi
dan memahami kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi
hak ibu dalam kebebasan dan hubungan socialDepresi
postpartum sering terjadi pada masa ini (Risa Pitriani,2015).
d. Perubahan Fisiologis Pada Ibu Nifas
1. Uterus
Uterus adalah organ yang mengalami banyak perubahan
besar karena telah mengalami perubahan besar selama masa
kehamilan dan persalinan. Pembesaran uterus tidak akan terjadi
secara terus menerus, sehingga adanya janin dalam uterus tidak
54

akan terlalu lama. Bila adanya janin tersebut melebihi waktu yang
seharusnya, maka akan terjadi kerusakan serabut otot jika tidak
dikehendaki. Proses katabolisme akan bermanfaat untuk mencegah
terjadinya masalah tersebut. Proses katabolisme sebagian besar
disebabkan oleh dua faktor, yaitu:
a. Ischemia Myometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus-menerus dari
uterus setelah pengeluaran plasenta, membuat uterus relatif
anemi dan menyebabkan serat otot atropi.
b. Autolysis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di
dalam otot uterus. Enzim proteolitik dan makrofag akan
memendekan jaringan otot yang sempat mengendur hingga 10
kali panjangnya dari semula dan 5 kali lebar dari semula selama
kehamilan.
Akhir 6 minggu pertama persalinan:
1) Berat uterus berubah dari 1000 gram menjadi 60 gram
2) Ukuran uterus berubah dari 15 x 12 x 8 cm menjadi 8 x 6 x
4cm.
3) Uterus secara berangsur-angsur akan menjadi kecil (involusi)
sehingga akhirnya kembali pada keadaan seperti sebelum
hamil.
Tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi
terlihat pada tabel berikut:

Tabel 2
Tinggi Fundus Uteri
(Khasanah.2017)
55

No. Waktu Tinggi Fundus Berat Diameter Palpasi


Involusi Uteri Uterus Uterus Serviks
1. Bayi Lahir Setinggi pusat 1000 gram 12,5 cm Lunak

2. Uri/ Plasenta Dua jari bawah 750 gram 12,5 cm Lunak


Lahir Pusat

3. 1 Minggu Pertengahan 500 gram. 7,5 cm 2 cm


pusat-simfisis

4. 2 Minggu Tidak teraba di 300 gram 5 cm 1 cm


atas simfisis

5. 6 Minggu Bertambah kecil 60 gram 2,5 cm Menyem-


Pit

2. Afterpains
Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus
pada umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang
periodik sering dialami multipara dan biasa menimbulkan nyeri
yang bertahan sepanjang masa awal puerperium. Rasa nyeri
setelah melahirkan ini lebih nyata setelah ibu melahirkan, di
tempat uterus terlalu teregang (misalnya, pada bayi besar dan
kembar). Menyusui dan oksitosin tambahan biasanya
meningkatkan nyeri ini karena keduanya merangsang kontraksi
uterus.
3. Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas
mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme
berkembang lebih cepat. Lochea mempunyai bau amis (anyir),
meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda
pada setiap wanita. Lochea juga mengalami perubahan karena
proses involusi. Perubahan lochea tersebut adalah:
a. Lochea rubra (Cruenta)
Muncul pada hari pertama sampai hari kedua post partum,
warnanya merah mengandung darah dari luka pada
56

plasenta dan serabut dari decidua dan chorion.


b. Lochea Sanguilenta
Berwarna merah kuning, berisi darah lendir, hari ke 3-7
pascapersalinan.
c. Lochea Serosa
Muncul pada hari ke 714, berwarna kecokelatan
mengandung lebih banyak serum, lebih sedikit darah juga
leukosit dan laserasi plasenta.
d. Lochea Alba
Sejak 26 minggu setelah persalinan, warnanya putih
kekuningan mengandung leukosit, selaput lendir serviks
dan serabut jaringan yang mati.
4. Tempat tertanamnya plasenta

Saat plasenta keluar normalnya uterus berkontraksi dan


relaksasi/retraksi sehingga volume/ruang tempat plasenta
berkurang atau berubah cepat dan 1 hari setelah persalinan
berkerut sampai diameter 7,5 cm. Kira-kira 10 hari setelah
persalinan, diameter tempat plasenta ± 2,5 cm. Segera setelah
akhir minggu ke 5-6 epithelial menutup dan meregenerasi
sempurna akibat dari ketidakseimbangan volume darah, plasma,
dan sel darah merah.
5. Perinium,vagina,vulva,dan anus

Berkurangnya sirkulasi progesteron membantu pemulihan


otot panggul, perineum, vagina, dan vulva ke arah elastisitas dari
ligamentum otot rahim. Merupakan proses yang bertahap akan
berguna jika ibu melakukan ambulasi dini, dan senam nifas.
Involusi serviks terjadi bersamaan dengan uterus kira- kira 23
minggu, servik menjadi seperti celah. Ostium eksternum dapat
dilalui oleh 2 jari, pingirannya tidak rata, tetapi retak-retak karena
robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama dilalui oleh
satu jari. Karena hyperplasia dan retraksi dari serviks, robekan
serviks menjadi sembuh.
57

Pada awal masa nifas, vagina dan muara vagina


membentuk suatu lorong luas berdinding licin yang berangsur-
angsur mengecil ukurannya tapi jarang kembali ke bentuk
nulipara. Rugae mulai tampak pada minggu ketiga. Himen
muncul kembali sebagai kepingan-kepingan kecil jaringan, yang
setelah mengalami sikatrisasi akan berubah menjadi caruncule
mirtiformis. Estrogen pascapartum yang munurun berperan dalam
penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Mukosa vagina
tetap atrofi pada wanita yang menyusui sekurang-kurangnya
sampai menstruasi dimulai kembali. Penebalan mukosa vagina
terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium. Kekurangan estrogen
menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagina dan penipisan
mukosa vagina.. Kekeringan lokal dan rasa tidak nyaman saat
koitus (dispareunia) menetap sampai fungsi ovarium kembali
normal dan menstruasi dimulai lagi. Mukosa vagina memakan
waktu 23 minggu untuk sembuh tetapi pemulihan luka sub-
mukosa lebih lama yaitu 46 minggu. Beberapa laserasi
superficial yang dapat terjadi akan sembuh relatif lebih cepat.
Laserasi perineum sembuh pada hari ke-7 dan otot perineum akan
pulih pada hari ke 56.
Pada anus umumnya terlihat hemoroid (varises anus),
dengan ditambah gejala seperti rasa gatal, tidak nyaman, dan
perdarahan berwarna merah terang pada waktu defekasi. Ukuran
hemoroid biasanya mengecil beberapa minggu postpartum
6. Sistem pencernaan
Ibu menjadi lapar dan siap untuk makan pada 12 jam
setelah bersalin. Konstipasi dapat menjadi masalah pada awal
puerperium akibat dari kurangnya makanan dan pengendalian diri
terhadap BAB. Ibu dapat melakukan pengendalian terhadap BAB
karena kurang pengetahuan dan kekhawatiran lukanya akan
terbuka bila BAB.
7. Sistem peredaran darah
58

Setelah janin lahir, hubungan sirkulasi darah akan


terputus sehingga volume peredaran ibu akan meninggal.
8. Sistem perkemihan
Terjadi diuresis yang sangat banyak dalam hari-hari
pertama puerperium. Diuresis yang banyak mulai segera setelah
persalinan sampai 5 hari postpartum. Empat puluh persen ibu
postpartum tidak mempunyai proteinuri yang patologi dari segera
setelah lahir sampai hari kedua postpartum, kecuali ada gejala
infeksi dan preeklamsi.
Dinding saluran kencing memperlihatkan oedema dan
hyperaemia. Kadang-kadang oedema dari trigonum, menimbulkan
obstruksi dari uretra sehingga terjadi retensio urine. Kandung
kencing dalam puerperium kurang sensitif dan kapasitasnya
bertambah, sehingga kandung kencing penuh atau sesudah
kencing masih tinggal urine residual.
Sisa urine ini dan trauma pada kandung kencing waktu persalinan
memudahkan terjadinya infeksi. Dilatasi ureter dan pyelum,
normal kembali dalam waktu 2 minggu
9. Sistem muskuloskeletal
Adaptasi sistem muskuluskeletal ibu yang terjadi
mencakup hal-hal yang dapat membantu relaksasi dan
hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat
pembesaran uterus. Stabilisasi sendi lengkap akan terjadi pada
minggu ke-6 sampai ke-8 setelah wanita melahirkan.
Striae pada abdomen tidak dapat menghilang sempurna
tapi berubah menjadi halus/samar, garis putih keperakan. Dinding
abdomen menjadi lembek setelah persalinan karena teregang
selama kehamilan. Semau ibu puerperium mempunyai tingkatan
diastasis yang mana terjadi pemisahan muskulus rektus abdominus.
Beratnya diastasis tergantung pada faktor-faktor penting
termasuk keadaan umum ibu, tonus otot, aktivitas/pergerakan yang
tepat,paritas,jarak kehamilan,kejadian/kehamilan dengan
59

overdistensi. Faktor-faktor tersebut menentukan lama waktu


yangdiperlukan untuk mendapatkan kembali tonus otot.
10. Sistem endokrin
1. Sistem kardiovaskuler Oksitosin
Oksitosin dikeluarkan oleh glandula pituitari posterior dan
bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Oksitosin
di dalam sirkulasi darah menyebabkan kontraksi otot uterus dan
pada waktu yang sama membantu proses involusi uterus.
2. Prolaktin
Penurunan estrogen menjadikan prolaktin yang dikeluarkan oleh
glandula pituitari anterior bereaksi terhadap alveoli dari
payudara sehingga menstimulasi produksi ASI. Pada ibu yang
menyusui kadar prolaktin tetap tinggi dan merupakan
permulaan stimulasi folikel di dalam ovarium ditekan.
3. HCG, HPL, Estrogen, dan Progesterone
Ketika plasenta lepas dari dinding uterus dan lahir, tingkat
hormone HCG, HPL, estrogen, dan progesterone di dalam darah
ibu menurun dengan cepat, normalnya setelah 7 hari.
4. Pemulihan Ovulasi dan Menstruasi
Pada ibu yang menyusui bayinya, ovulasi jarang sekali terjadi
sebelum 20 minggu, dan tidak terjadi di atas 28 minggu pada
ibu yang melanjutkan menyusui untuk 6 bulan. Pada ibu yang
tidak menyusui ovulasi dan menstruasi biasanya mulai antara
710 minggu. (Khasanah.2017).
e. Kunjungan Masa Nifas
1. Kunjungan Pertama, waktu: 6 jam – 2 hari setelah persalinan.
Tujuannya antara lain adalah mencegah perdarahan masa nifas
karena persalinan atonia uteri, mendeteksi dan merawat
penyebab lain perdarahan seperti rujuk bila perdarahan berlanjut,
memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
bagaimana mencegah perdarahan pada masa nifas karena atonia
uteri, pemberian ASI awal, memberi supervisi kepada ibu
bagaimana teknik melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru
60

lahir, dan menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah
hipotermi. Bila ada bidan atau petugas lain yang membantu
melahirkan, maka petugas atau bidan itu harus tinggal dengan
ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama.
2. Kunjungan Kedua, periode 3 (tiga) hari sampai dengan 7 hari
pasca
persalinan.
Tujuannya antara lain adalah memastikan involusi uteri berjalan
dengan normal, evaluasi adanya tanda-tanda demam, infeksi atau
perdarahan abdominal, memastikan ibu cukup makan, minum,
dan istirahat, memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak
ada tanda-tanda adanya penyulit, dan memberikan konseling pada
ibu mengenai hal-hal berkaitan dengan asuhan sayang bayi.
3. Kunjungan Ketiga, periode 8 hari sampai dengan 28 setelah
persalinan.
4. Kunjungan Keempat, periode 29 sampai 42 setelah persalinan.
Tujuannya antara lain adalah menanyakan penyulit (Buku KIA
revisi, 2020)
f. Kebutuhan Dasar Ibu Masa Nifas
1) Nutrisi dan cairan
Kualitas dan jumlah makanan yang akan dikonsumsi akan
sangat memengaruhi produksi ASI. Selama menyusui, ibu dengan
status gizi baik rata-rata memproduksi ASI sekitar 800cc yang
mengandung 600 kkal, sedangkan ibu yang status gizinya kurang
biasanya akan sedikit menghasilkan ASI. Pemberian ASI
sangatlah penting, karena bayi akan tumbuh sempurna sebagai
manusia yang sehat dan pintar, sebab ASI mengandung DHA.
2) Ambulasi

Ambulasi dini adalah kebijaksanaan untuk selekas mungkin


membimbing pasien keluar dari tempat tidurnya dan
membimbingnya untuk berjalan. Ambulasi dini ini tidak
dibenarkan pada pasien dengan penyakit anemia, jantung, paru-
61

paru, demam, dan keadaan lain yang membutuhkan istirahat.


Keuntungannya yaitu:
a. Penderita merasa lebih sehat dan lebih kuat
b. Faal usus dan kandung kemih menjadi lebih baik.
c. Memungkinkan bidan untuk memberikan bimbingan kepada ibu
mengenai cara merawat bayinya.

d. Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia.


Ambulasi dini dilakukan secara perlahan namun meningkat
secara berangsur-angsur, mulai dari jalan-jalan ringan dari jam
ke jam sampai hitungan hari hingga pasien dapat melakukannya
sendiri tanpa pendamping sehingga tujuan memandirikan pasien
dapat terpenuhi
3) Eliminasi : BAB/BAK
Biasanya dalam 6 jam pertama post partum, pasien sudah
dapat buang air kecil. Semakin lama urine ditahan, maka dapat
mengakibatkan infeksi. Maka dari itu bidan harus dapat
meyakinkan ibu supaya segera buang air kecil, karena biasanya
ibu malas buang air kecil karena takut akan merasa sakit. Segera
buang air kecil setelah melahirkan dapat mengurangi
kemungkinan terjadinya komplikasi post partum.
Dalam 24 jam pertama, pasien juga sudah harus dapat buang air
besar. Buang air besar tidak akan memperparah luka jalan lahir,
maka dari itu buang air besar tidak boleh ditahan-tahan. Untuk
memperlancar buang air besar, anjurkan ibu untuk mengkonsumsi
makanan tinggi serat dan minum air putih.
4) Kebersihan diri
Bidan harus bijaksana dalam memberikan motivasi ibu
untuk melakukan personal hygiene secara mandiri dan bantuan
dari keluarga. Ada beberapa langkah dalam perawatan diri ibu
post partum, antara lain:
a. Jaga kebersihan seluruh tubuh ibu untuk mencegah infeksi
dan alergi kulit pada bayi.
62

b. Membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air, yaitu


dari daerah depan ke belakang, baru setelah itu anus.
c. Mengganti pembalut minimal 2 kali dalam sehari.
d. Mencuci tangan dengan sabun dan air setiap kali selesai
membersihkan daerah kemaluan.
e. Jika mempunyai luka episiotomi, hindari untuk menyentuh
daerah luka agar terhindar dari infeksi sekunder.
5) Istirahat
Ibu post partum sangat membutuhkan istirahat yang cukup
untuk memulihkan kembali keadaan fisik. Kurang istirahat pada
ibu post partum akan mengakibatkan beberapa kerugian, misalnya:
a. MengASSurangi jumlah ASI yang diproduksi.
b. Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
perdarahan.
c. Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat
bayi dan diri sendiri.
d. Bidan harus menyampaikan kepada pasien dan keluarga agar
ibu kembali melakukan kegiatan-kegiatan rumah tangga secara
perlahan dan bertahap. Namun harus tetap melakukan istirahat
minimal 8 jam sehari siang dan malam.
6) Seksual
Secara fisik, aman untuk melakukan hubungan seksual
begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukan satu atau
dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Tetapi banyak
budaya dan agama yang melarang sampai masa waktu tertentu
misalnya 40 hari atau 6 minggu setelah melahirkan. Namun
keputusan itu tergantung pada pasangan yang bersangkutan
Khasanah.2017).
g. Panduan pelayanan Nifas pada Masa Pandemi Covid-19
1. Pelayanan nifas dengan membuat janji melalui telepon/Whattsap
63

2. Tidak ada keluhan agar menerapkan isi buku KIA, lakukan


pemantauan mandiri, jika ada keluhan/tanda bahaya pada ibu
segera ke fasilitas pelayanan kesehatan
3. Lakukan pengkajian komprehensif sesuai standar dengan
kewaspadaan Covid-19. Bidan dapat berkoordinasi dengan
RT/RW/Kades tentang status ibu apakah sedang isolasi mandiri
(ODP/PDP/Covid+)
4. Pelayanan nifas dilakukan sesuai standar menggunakan APD
level 1 dan menerapkan protokol pencegahan Covid-19.
5. Jika tidak dapat memberikan pelayanan, bidan segera
berkolaborasi dan rujuk ke Puskesmas/Rumah Sakit.
6. Konsultasi nifas KIE, & konsling laktasi, dilaksanakan secara
online.
7. Ibu nifas, pendamping dan semua tim yang bertugas
menggunakan masker dan menerapkan protokol pencegahan
Covid-19 (Nurjasmi, 2020).

5) Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir


a. Pengertian
Bayi Baru lahir adalah bayi yang lahir dalam presentasi
belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia
kehamilan genap 37 minggu sampai 42 minggu, dengan berat badan
lahir 2500 - 4000 gram, dengan nilai apgar > 7 dan tanpa cacat
bawaan (Nurhasiyahjami;,2017).
b. Tujuan
Memberikan perawatan komprehensif kepada bayi baru lahir
pada saat ia dalam ruang rawat, untuk mengajarkan orang tua
bagaimana merawat bayi mereka, dan untuk memberi motivasi
terhadap upaya pasangan menjadi orang tua, sehingga orang tua
percaya diri dan mantap. (Ni Wayan,2017)
64

c. Standar Asuhan Bayi Baru Lahir


1. Standar 13 : perawatan bayi baru lahir , bidan memastikan
pernafasan spontan, mencegah hiposia sekunder dan
hipotermia,menemukan kelainan, melakukan tindakan, atau
merujuk sesuai kebutuhan.
2. Standar 14 : penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan ,
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya
komplikasi dalam 2 jam setelah persalinan, serta melakukan
tindakan yang di perlukan.
3. Standar 15 : pelayanan bagi ibu dan bayi pada masa nifas , untuk
membantu ibu di proses pemulihan, melalui penanganan atau
rujukan komplikasi yang mungkin terjadi, penjelasan kesehatan,
kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru
lahir, ASI, imunisasi, dan KB (Sriyanti,2016).
d. Kunjungan Bayi Baru Lahir
a. Kunjungan pertama (0-6 jam setelah lahir)
Asuhan yang diberikan adalah : mempertahankan suhu tubuh bayi,
melakukan pemeriksaan fisik, mengenali tanda-tanda bahaya
(pemberian ASI sulit, sulit mengisap atau lemah hisapan, kesulitan
bernafas yaitu pernafasan >60 kali/menit, letargi (bayi terus
menerus tidur tanpa bangun), warna kulit abnormal kulit biru
(sianosis/kuning), suhu terlalu panas (febris) atau terlalu dingin
(hipotermi), tanda dan prilaku abnormal atau tidak seperti biasa
seperti gangguan gastrointestinal misalnya tidak bertinja selama 3
hari, muntah terus menerus, perut membengkak, mata bengkak,
atau mengeluarkan cairan), melakukan perawatan tali pusat dan
memberikan imunisasi Hb0.
b. Kunjungan kedua (hari ke-3-hari ke-7 setelah lahir)
Asuhan yang diberikan adalah : menjaga suhu tubuh bayi, menjaga
tali pusat dalam keadaan bersih dan kering konseling terhadap ibu
dan keluarga untuk memberikan ASI ekslusif pencegahan
hipotermi dan melaksanakan perawatan bayi baru lahir dirumah
65

dengan menggunkan buku KIA, melakukan penanganan dan


rujukan khusus bila di perlukan.
c. Kunjungan ketiga (hari ke-8-hari ke-28 setelah lahir)
Asuhan yang diberikan adalah :menjaga suhu tubuh bayi, menjaga
tali pusat dalam keadaan kering dan bersih, konseling tehadap ibu
dan keluarga untuk memberikan ASI ekslusif pencegahan
hipotermi dan melaksanakan perawatan bayi baru lahir dirumah
dengan menggunakan buku KIA, melakukan penanganan dan
rujukan khusus bila diperlukan memberitahukan ibu tentang
imunisasi BCG (Buku KIA revisi,2020).
e. Kebutuhan Dasar Bayi Baru Lahir
Kebutuhan nutrisi yaitu pemberian ASI ekslusif berlangsung
hingga enam bulan tanpa adanya tambahan makanan pendamping
lain. Kebutuhan cairan, dan kebutuhan personal hygine dengan
memandikan setelah 6 jam bayi di lahirkan (Noordiati,2018).
f. Panduan pelayanan Bayi baru lahir pada MasaPandemi Covid-19
a. Pelayanan pada bayi baru lahir dengan membuat janji pada orang
tua nya melalui telepon/Whattsap
b. Tidak ada keluhan agar menerapkan isi buku KIA, lakukan
pemantauan mandiri, jika ada tanda bahaya pada BBL segera ke
fasilitas pelayanan kesehatan
c. Lakukan pengkajian komprehensif sesuai standar dengan dengan
kewaspadaan Covid-19. Bidan dapat berkoordinasi dengan
RT/RW/Kades tentang status ibu apakah sedang isolasi mandiri
(ODP/PDP/Covid+)
d. Pelayanan BBL dilakukan sesuai standar menggunakan APD level
1 dan menerapkan protokol pencegahan Covid-19.
e. Jika tidak dapat memberikan pelayanan, bidan segera berkolaborasi
dan rujuk ke Puskesmas/Rumah Sakit.
f. Lakukan Asuhan esensial Bayi Baru Lahir. Imunisasi tetap
diberikan sesuai rekomendasi PP IDAI.
66

g. Konsultasi BBL pemantauan tumbuh kembang dilaksanakan secara


online (Nurjasmi, 2020.

6) Nyeri Punggung pada Kehamilan


Nyeri punggung pada saat hamil merupakan suatu hal yang sering
dirasakan dan dikeluhkan setiap ibu. Diperkirakan sekitar 50% ibu hamil
akan mengalaminya dari beberapa macam nyeri punggung bagian bawah
pada beberapa titik selama masa kehamilan atau selama masa pasca
melahirkan (Katonis et al., 2011).
a. Jenis nyeri punggung
1. Menurut perkins et al mengatakan bahwa ada dua tipe nyeri
punggung bawah yang terjadi selama masa kehamilan, yaitu :
1. Lumbar Pain (Nyeri bagian tulang lumbal)
Lumbar Pain selama kehamilan adalah sangat serupa
dengan pengalaman nyeri bagian tulang lumbal oleh ibu yang
tidak hamil dan ini muncul menjadi sakit dan sekitar tulang
belakang lumbal serta atas sakrum. Lumbar Pain bisa atau tidak
bisa menyebar ke kaki, berbeda dengan Pelvic Girdle Pain.
Lumbar Pain memperburuk pada masa pasca persalinan dan
biasanya memperburuk aktivitas tertentu dan postur tapi tidak
seburuk Pelvic Girdle Pain. Dan hasil tes provokasi nyeri
posterior (PPPT) adalah negatif (Katonis et al., 2011).
2. Pelvic Girdle Pain (Nyeri panggul)
Pelvic Girdle Pain umum terjadi selama kehamilan dan
masa pasca persalinan, prevalensinya sekitar 4 kali nyeri lumbal.
Ini digambarkan nyeri yang dalam, menusuk, unilateral atau
bilateral, dapat berulang dan nyeri berkelanjutan, menunjukkan
antara puncak iliaka posterior dan lipatan gluteal, kemungkinan
menyebar ke paha posterolateral, ke lutut dan betis, tapi tidak ke
kaki. Pelvic Girdle Pain lebih terjadi pada masa kehamilan
dibandingkan masa pasca persalinan dan mengubah
ketidaknyamanan fisiologi selama kehamilan menjadi kondisi
patofisiologi, yang mengurangi aktivitas fisik dan menyebabkan
67

penarikan dari interaksi sosial. Tes provokasi nyeri adalah tes


terbaik yang ada untuk membedakan Pelvic Girdle Pain dari
berbagai kondisi. Tes provokasi nyeri posterior (PPPT) adalah
positif, dalam hal Pelvic Girdle Pain (Katonis et al., 2011).
b. Penyebab
Menurut kemenkes RI tahun 2010 menyatakan bahwa ibu hamil
mengalami nyeri punggung diakibatkan oleh perubahan bentuk tubuh
yang dialami oleh ibu mulai dari perubahan pada sistem
muskuloskeletal, membesarnya rahim berpengaruh pada pusat
gravitasi, membentang keluar dan melemahkan otot-otot abdomen
sehingga mengubah postur tubuh serta memberikan tekanan pada
punggung, serta kelebihan berat badan tentunya akan mempengaruhi
otot untuk lebih banyak bekerja sehingga mengakibatkan stress pada
sendi.
Nyeri punggung bawah terjadi pada area lumbosakral, nyeri
meningkat intensitasnya seiring pertambahan usia kehamilan karena
nyeri ini akibat adanya pergeseran pusat gravitasi wanita beserta postur
tubuhnya. Perubahan ini disebabkan oleh berat uterus yang membesar,
kemudian jika ibu hamil tidak memperhatikan postur tubuhnya maka
ibu hamil akan berjalan dengan ayunan tubuh kebelakang akibat
peningkatan lordosis. Lengkung ini akan meregangkan otot punggung
dan menimbulkan nyeri (Medforth et al., 2010).
c. Faktor penyebab
Faktor penyebab nyeri punggung) yaitu :
1) Pertumbuhan uterus menyebabkan teregangnya ligamen penopang
tubuh ibu
2) Berat badan yang meningkat selama hamil secara bertahap. Berat
badan ibu meningkat sekitar 15 - 25%, beban lebih besar untuk otot,
ligamen dan sendi.
3) Riwayat nyeri punggung terdahulu, paritas dan aktivitas.
Para wanita grand multipara umumnya memiliki otot abdomen yang
mengendur, sehingga gagal menopang uterus yang membesar,
68

dengan demikian keparahan nyeri punggung bagian bawah


meningkat seiring paritas (Medforth et al., 2010).
4) Pengaruh hormon relaksin terhadap ligamen. Selama masa
kehamilan, hormon relaksin meningkat hingga 10 kali konsentrasi
normal dalam tubuh wanita. Relaksin seperti namanya, ini
mengendurkan sendi di panggul sehingga bayi memiliki ruang untuk
masuk melewati jalan lahir. Sayangnya, hormon relaksin juga
menyebabkan gerakan sendi berlebih dalam tubuh. Menyebabkan
peradangan dan nyeri. Meningkatnya lordosis pada kehamilan
digabungkan dengan efek dari relaksin pada sendi panggul dan berat
rahim yang semakin membesar menghasilkan pergeseran kedepan
pusat gravitasi tubuh, semua hal tersebut berkontribusi pada keluhan
nyeri punggung bagian bawah selama kehamilan (RNV, P and VPR,
2016).
5) Faktor paritas dan aktivitas. Wanita grandemultipara yang tidak
pernah melakukan latihan dan memperoleh kembali tonus otot
abdomennya tiap kali selesai melahirkan cenderung mengalami
kelemahan otot abdomen. Sedangkan wanita primigravida biasanya
memiliki otot abdomen yang sangat baik karena otot tersebut belum
pernah mengalami peregangan sebelumnya. Dengan demikian,
keparahan nyeri punggung bagian bawah biasanya meningkat seiring
paritas (Medforth et al., 2010).
6) Nyeri punggung juga dapat merupakan akibat membungkuk yang
berlebihan, berjalan tanpa istirahat dan angkat beban, terutama bila
salah satu atau semua kegiatan ini dilakukan saat wanita tersebut
sedang lelah. Jika nyeri punggung tidak segera diatasi, ini bisa
mengakibatkan nyeri punggung jangka panjang, meningkatkan
kecenderungan nyeri punggung pascapartum dan nyeri punggung
kronis yang akan lebih sulit untuk diobati atau disembuhkan. Pada
kondisi ini, sebaiknya ibu dirujuk pada seorang ahli fisioterapi
kesehatan wanita untuk mendapatkan pengkajian individu, yang
mungkin perlu dilakukannya rehabilitasi yang tepat untuk melatih
69

otot postural dan mengembalikan kemantapan panggul (Eileen,


2007). Upaya yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah
memberikan pendidikan kesehatan tentang pencegahan atau
penanganan nyeri punggung pada ibu (Lichayati and Kartikasari,
2013).
7) Postur tubuh; posisi tidur; meningkatnya hormon; kehamilan
kembar; riwayat nyeri pada kehamilan yang lalu juga merupakan
faktor predisposisi nyeri punggung ibu hamil (Lichayati and
Kartikasari, 2013).
8) Faktor stres dan emosional juga dapat menyebabkan tegangan otot
yang ada dipunggung semakin meregang. Karena tegangan inilah
yang menyebabkan nyeri punggung semakin parah (Lichayati and
Kartikasari, 2013).
d. Faktor resiko
Nyeri punggung memiliki banyak faktor resiko. Berdasarkan
penelitian sebelumnya, faktor resiko terbanyak ada pada riwayat nyeri
sebelumnya, usia, jumlah kehamilan dan pekerjaan. Usia memiliki
prevalensi 48%, usia terlalu tua dan paritas mencapai 89%, usia <20
tahun dan >35 tahun disebut usia beresiko untuk kehamilan (Ansari et
al., 2010).
Jumlah kehamilan sebagai resiko dilihat dari graviditas ibu
termasuk dalam primigravida atau grandemultipara. Primigravida
adalah wanita yang pertama kali hamil, multigravida adalah wanita
yang hamil kedua sampai hamil keempat, dan grandemulti adalah
wanita yang melahirkan 5 anak atau lebih (Varney, 2007; Manuaba,
2008). Semakin banyak jumlah paritas, maka nyeri punggung akan
semakin meningkat (Ansari et al., 2010). Peneliti lain mengatakan
setiap peningkatan 1 skor jumlah kehamilan (paritas) akan
meningkatkan resiko kejadian nyeri punggung (Ummah, 2012).
e. Manajemen Nyeri Punggung pada Kehamilan
Penatalaknaan nyeri dapat dijadikan pedoman dan dapat
diadaptasi untuk penatalaksanaan nyeri lainnya. Pain ladder for cancer
70

dari WHO tahun 2014 secara umum digunakan sebagai pedoman


penatalaksanaan nyeri. Pain ladder membagi nyeri menjadi tiga
tingkatan nyeri yaitu nyeri ringan, sedang dan berat.
1) Penatalaksanaan farmakologis
Secara farmakologis penanganan nyeri punggung masih
belum ditetapkan secara jelas (Sinclair et al., 2014). Pemberian
paracetamol dan analgesik lainnya yang aman digunakan bagi ibu
hamil mampu mengurangi keluhan nyeri punggung. Meski
paracetamol dan analgesik ini diberikan dengan tujuan meredakan
nyeri punggung tapi tidak selalu efektif untuk digunakan mengatasi
nyeri punggung (Vermani et al, 2009). Ada juga pemberian obat non
steroid anti inflamation drug’s (NSAID), yang digunakan untuk
mengatasi nyeri pada umumnya, akan tetapi pemberian obat-obatan
ini tidak diizinkan untuk diberikan pada ibu hamil saat usia
kehamilannya dibawah 30 minggu karena berisiko untuk
menyebabkan malformasi janin (Sinclair et al., 2014).
2) Penatalaksanaan non farmakologis
Penatalaksanaan non farmakologis dapat dilakukan dengan
berbagai cara, misalnya dengan memberikan pendidikan kesehatan
yang penting dilakukan untuk mengatasi masalah nyeri punggung
yang dialami ibu hamil (Vermani et al, 2009). Pendidikan kesehatan
yang dapat diberikan yaitu tentang posisi anatomi, postur tubuh yang
benar, cara mengatasi dan teknik relaksasi, hal tersebut perlu
disosialisasikan pada ibu yang mengalami nyeri punggung selama
kehamilan. Pola hidup yang baik saat hamil juga perlu diberikan pada
ibu hamil seperti menghindari kelelahan dan mengangkat beban
terlalu berat, ibu harus beristirahat cukup serta posisi ibu saat turun
dari tempat tidur seharusnya kedua kaki dalam keadaan fleksi
(Lichayati and Kartikasari, 2013).
f. Langkah Gerakan Latihan untuk mengatasi nyeri punggung
a. Pelvic Rocking Exercise
71

Persiapan gerakan pelvic rocking menurut Jamieson (2004) dan


Calais (2012) adalah :
Persiapan : dimulai posisi berdiri dengan punggung tegak lurus
Langkah gerakan pelvic rocking yaitu :
1) Ibu berdiri dengan posisi kaki melebar serta lutut ditekuk dan
telapak tangan menempel pada bagian-bagian pahabagian atas
2) Melakukan teknik relaksasi seperti tarik nafas lewat hidung dan
mengeluarkan gas CO2 melewati mulut sebanyak 3 kali
3) Memutar panggul ke arah kanan sebanyak 2 x 8 hitungan
4) Beristirahat dengan posisi rileks
5) Memutar panggul ke arah kiri sebanyak 2 x 8 hitungan
6) Memutar panggul dengan bentuk angka delapan sebanyak 2 x 8
hitungan
7) Mengulangi langkah-langkah tersebut hingga 10 menit dalam
sehari.
b. Posisi berlutut asimetris dengan goyangan
1) Satu kaki dibawa kesamping sejajar dengan lutut kaki lainnya
2) Jari-jari kaki mengarah keluar
3) Lebarkan tangan dengan sejajar serta pinggul diputar
g. Kontraindikasi
American college of Obstetrician and Gynecologist dalam
penelitian sebelumnya (Sejati, 2017). Memberikan rekomendasi
berikut tentang olah raga dan kehamilan untuk menghentikan olahraga
ini apabila dalam situasi berikut :
a. Faktor resiko untuk persalinan premature (kurang bulan)
b. Perdarahan pervaginam
c. Ketuban pecah dini
d. Serviks incompetent
e. Janin tumbuh lambat, sedangkan bagi ibu hamil dengan kondisi
berikut ini diharapkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan
dokter atau bidan yang merawat
f. Hipertensi
72

g. Diabetes gestasional
h. Riwayat penyakit jantung atau kondisi pernafasan (asma)
i. Riwayat persalinan premature (kurang bulan)
j. Plasenta previa
k. Preeklampsia
73

B. KERANGKA TEORI

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF

ASUHAN
ASUHAN
PERSALINAN
KEHAMILAN
Asuhan persalinan normal 60
Asuhan kebidanan kehamilan dengan
langkah APN dengan prinsip
standa 10 T yaitu BB & TB, TD,
sayang ibu dan sayang bayi
LILA, TFU, DJJ, Tablet Fe,
meliputi :
Imunisasi TT, Test Laboratorium,
- Kala I
temu wicara dan tata laksana kasus
- Kala II
minimal 6 kali selama kehamilan :
- Kala III
- 2 kali trimester I
- Kala IV
- 1 kali trimester II
- 3 kali trimester III

ASUHAN NIFAS DAN BAYI BARU LAHIR

ASUHAN NIFAS
Asuhan masa nifas terdiri dari 4 kali
kunjungan : ASUHAN BBL
- KF I ( Usia 6 jam-2 Hari ) Asuhan Neonatus terdiri dari 3
- KF II ( hari ke 3-7 Hari ) kali kunjungan yaitu :
- KN I ( usia 0 – 6 jam)
- KF III ( Hari ke 8-28 Hari)
- KN II (usia 3 – 7 hari)
- KF IV (Hari 29-42 Hari)
- KN III (usia 8 - 28hari)
Bagan l. Kerangka Teori
Sumber : (pengurus pusat ikatan
bidan Indonesia (2016),Kemenkes (2016),
(subyatin,2017))
74

BAB III
PELAKSANAAN TINJAUAN KASUS

Dalam penulisan laporan tugas akhir ini penulisan sudah melakukan studi
kasus dimana studi kasus merupakan suatu metode untuk memahami individu
yang dilakukan sendiri oleh penulis secara integratif dan komprehensif agar
diperoleh pemahaman yang mendalam tentang individu tersebut beserta masalah
yang dihadapnya dengan tujuan masalahnya dapat terselesaikan dan memperoleh
perkembangan diri yang baik.
Pada laporan tugas akhir kasus ini subjek yang meliputi pengkajian, analisa
masalah, rencana tindakan, pelaksanaan evaluasi dan pendokumentasian dengan
berdasarkan SOAP, berikut ini rincian pelaksanaan laporan kasus.
A. Tempat dan Waktu
1. Tempat
Asuhan komprehensif yang akan di rencanakan dan di lakukan di BPM
Fitriani,STT Tahun 2021.
2. Waktu
Asuhan komprehensif yang akan di rencanakan dan di lakukan
pada bulan maret sampai dengan April 2021.
B. Subjek Studi Kasus
Subjek pada laporan tugas akhir ini adalah Ny. “L Usia 28 Tahun
Dengan Keluhan Nyeri punggung Di BPM Fitriani,STT Tahun 2021”.
C. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah uraian tentang batasan variable yang di
maksud, atau tentang apa yang diukur oleh variable yang bersangkutan
definisi operasional ini penting dan diperlukan agar pengukuran variable atau
pengumpulan data (variable) itu konsisten antara data (responden) yang satu
dengan responden yang lain (Albi,dkk 2018)
Definisi operasional merupakan suaty definisi yang didasarkan pada
karakteristik yang dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan atau

73
mengubah konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang
menggambarkan perilaku atau yang dapat diamati dan yang dapat diuji dan
ditentukan kebenarannya oleh orang lain (Albi,dkk 2018)
Tabel 3
Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur
1. Asuhan Asuhan yang diberikan penulis Format Anamnesa,
Kebidanan kepada Ny.L dengan melakukan pengkajian pemeriksaan fisik,
Kehamilan pemeriksaan dan pelayanan sesuai asuhan pemeriksaan,
dengan standart kebidanan 10 T 2 kebidanan penunjang
kali kunjungan TM III di BPM kehamilan
Fitriani,SST

2. Asuhan Asuhan yang diberikan penulis Format Anamnesa,


Kebidanan kepada Ny.L sesuai dengan 60 pengkajian pemeriksaan fisik
Persalinan langkah Asuhan Persalinan asuhan
Normal (APN) yang dilakukan pada kebidanan
ibu bersalin Kala I, Kala II, Kala III persalinan dan
dan Kala IV di BPM Fitriani,SST. partograf

3. Asuhan Asuhan nifas yang diberikan pada Format Anamnesa,


Kebidanan Ny.L Sebanyak 2 kali dimulai dari pengkajian pemeriksaan fisik
Masa Nifas yaitu 6 jam setelah persalinan di asuhan
BPM kunjungan II hari ke 7 kebidanan masa
postpartum. nifas

4. Asuhan Asuhan yang diberikan pada By. Format Anamnesa,


Kebidanan Ny.L Sebanyak 2 kali dimulai dari pengkajian pemeriksaan fisik
Bayi Baru KN I 6 jam setelah persalinan di asuhan
Lahir PMB Fitriani,SST dan kunjungan kebidanan bayi
BBL kedua pada usia 7 hari. baru lahir

D. Teknik Pengumpulan Data


Dalam pengumpulan laporan kasus ini digunakan berbagai pengumpulan
data yang dikumpul oleh penulis sendiri dengan mengamati secara langsung
pada pasien atau menggunakan teknik.
1. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk
pengumpulan data, dimana penulis mendapatkan keterangan secara lisan
dari seorang subyek (responden), atau bercakap-cakap, berhadapan muka
dengan orang tersebut (face to face). Dalam kasus ini pengumpulan data
dengan cara interview dilakukan penyajian yaitu dengan cara anamnesa
Ny. “L” dengan kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir, seperti
data subjektif yaitu biodata pasien, keluhan, riwayat kehamilan, persalinan
nifas yang lalu, riwayat penyakit, pemenuhan kebutuhan rutin dari Ny. “L”
dan bayi Ny. “ L”.
2. Observasi (pengamatan)
Observasi adalah suatu prosedur yang terencana yang meliputi
melihat dan mencatat fenomena tertentu yang berhubungan dengan
masalah yang dihadapi. Dalam pengamatan ini penyaji melakukan
observasi yaitu dengan cara mengamati atau melakukan pemeriksaan fisik
dari rambut sampai ekstremitas bawah pada Ny. “L” dan bayi Ny. “L” ,
pengamatan ini juga dilakukan dengan mengumpulkan data secara objektif
seperti pemeriksaan umum, pemeriksaan fisik berupa inspeksi, palpasi,
auskultasi, perkusi, pemeriksaan penunjang serta melakukan perencanaan,
pelaksanaan serta mengevalusi asuhan kebidanan secara komprehensif dari
kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir.
3. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi adalah dokumentasi yang dilakukan secara
sistematis dari pengumpulan hingga pengelolaan data yang menghasilkan
kumpulan dokumentasiyang menggunakan bukti akurat dari pencatatan
sumber-sumber informasi. Penyaji melakukan pengumpulan pengumpulan
data studi dokumentasi untuk tinjauan teori pada asuhan kehamilan,
persalinan, nifas, dan bayi baru lahir pada Ny. “L” dan bayi Ny. “L”
berupa data sekunder yang diperoleh dari buku-buku yang disediakan dari
institusi pendidikan, Profil Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Profil Dinas
Kesehatan Kota Tanjungpinang serta pengumpulan data riwayat
kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu diperoleh dari kohort dan buku
KIA milik ibu.

E. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam studi kasus ini adalah:Alat dan
bahan yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang :
1) Alat yang digunakan pada pemeriksaan antenatal Care (ANC) yaitu
bak instrument berisi sepasang sarung tangan, kom tertutup berisi
kapas DTT (6 buah), senter, metlin/pita meter, leanec/doppler,
stetoskop, termometer axilla, pengukur lila, tisu, gelas bersih berisi
klorin, baskom berisi air klorin untuk rendam sarung tangan,
timbangan BB dan pengukur tinggi badan serta alat untuk pemeriksaan
penunjang (Hb sahli set, Protein urine set, dan Reduksi urine set).
2) Alat yang digunakan dalam melakukan tindakan Intranatal Care
(INC) yaitu alat untuk TTV (tensimeter, stetoskop, termometer).
Persiapan APD, partus set, infus set, handscoon steril, duk steril, ½
khocher, perlengkapan asfiksia, klem tali pusat, 2 buah gunting tali
pusat, benang tali pusat, kasa steril, gunting episiotomy, delee, kom
tertutup berisi kapas DTT yang berjumlah 8 buah, kom berisi betadine,
spuit 3cc sebanyak 2 buah, obat-obatan seperti oksitosin/metergin,
leanec/doppler, jam tangan, baskom berisi air DTT dan larutan klorin,
nierbekken 2 buah, piring plasenta, perlengkapan bayi dan ibu,
underpads, lampu sorot, tabung oksigen, tiang infus, tempat sampah
medis, non medis, dan tajam.
3) Alat yang bisa digunakan dalam pemeriksaan postnatal care (PNC)
adalah bak instrument berisi sepasang sarung tangan, kom tertutup
berisi kapas DTT (6 buah), senter, jam tangan, perlak dan pengalas,
bengkok, tensimeter, stetoskop, thermometer axilla, tissue, gelas berisi
air klorin, bersih, baskom berisi air klorin untuk rendam sarung tangan,
dan Timbangan BB.
4) Pemeriksaan Bayi Baru Lahir (BBL) yang dipakai yaitu timbangan
bayi, thermometer, pria meter, com berisi kapas, spuit 3cc, obat-obatan
vit K, Hb0, salap mata.
1. Alat dan bahan yang digunakan untuk wawancara yaitu format asuhan
kebidanan pada ibu hamil, bersalin dan nifas, serta bayi baru lahir.
2. Alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan studi dokumentasi
adalah catatan medic atau status pasien dan buku KIA.
DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, S. 2014. Pelayanan Kesehatandan Kebidanan. Sidoarjo:ZifatmaJawara.

Armini, N. 2017. Asuhan Kebidanan Neonatus,Bayi, Balita & Anak Prasekolah.


Yogyakarta: ANDI.

Damyanti,dkk. 2014. Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ibu bersalin dan


Bayi Baru Lahir. Yogyakarta:Deepublish

Dinkes Provinsi Kepri. 2019. Profil Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau Tahun
[Link]: Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau.

Dinkes Kota Tanjungpinang. 2020. Profil Kesehatan Kota Kepulauan Riau Tahun
2019. Tanjungpinang: Dinas Kesehatan KotaKepulauan Riau.

Direktorat Kesehatan Anak. 2010. Panduan Pelayanan Kesehatan Bayi


BaruLahir Berbasis Perlindungan [Link] RI: Bakti Husada.

Enny, dan Utami. 2017. Asuhan Persalinan Managemen Nyeri Persalinan.


Yogyakarta:Universitas ‘Aisyisiyah Yogyakarta.

Fatimah, dan Nuryaningsih. 2017. Asuhan Kebidanan Kehamilan.


Jakarta:Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Jakarta.

Fitriahadi, Enny, 2017. Asuhan Kehamilan disertai dengan Tilik. Yogyakarta:


Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Fitriana, Y., dan Nurwiandani. 2018. Asuhan Persalinan. Yogyakarta:Pustaka
Baru Press.

Fitriani. 2020, Laporan Tahunan. Tanjungpinang : PMB Fitriani

Hatini E E. 2018. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Malang: Wineka Midea.

Hani U,Kusbundiyah J, Marjati, Yulifah R. 2014. Asuhan Kebidanan Kehamilan


Fisiologis. Jakarta: Salemba Medika

IBI. 2016. Midwifery Update. Jakarta: PP IBI.

Indrayani. 2011. Buku Ajar Asuhan Kehamilan. TIM: Trans Info Media.

Kemenkes RI. 2020. Buku Revisi Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Kementrian
Kesehatan dan JICA.

Khasanah, dan Sulistiyawati. 2017. Buku Ajar Nifas dan Menyusui. Surakarta: CV
Kekata Group

Kurniarum,Ari. 2016. Asuhan Kebidanan Persalinan dan BBL Komprehensif.


Jakarta:Kementrian Kesehatan Republik Indoesia.

Lapau, Buchari. 2015. Metodologi Penelitian Kebidanan. Jakarta: Yayasan


Pustaka Obor Indonesia

Manuaba, I. 2012. Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta:
EGC.
Noordiati. 2018. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak
PraSekolah. Malang: Wineka Midea.

Prawirohardjo, S. 2016. Ilmu Kebidanan. 2014. Jakarta: PT Bina Pustaka

PitrianiR., dan Andriyani R. 2017. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Normal (Askeb
III).Yogyakarta: Deepublish.

Rakerkesnas. [Link] Maternal dan Neonatal di Indonesia. Tangerang,


Banten: ICE BSD.

Rini, S., dan Kumala, F. 2017. Panduan Asuhan Nifas dan Evidance Based
Practice. Yogyakarta: Deepublish.

Rukiyah, AY., Yulianti, L., Maemunah., danSusilawati, L.2014. Asuhan


Kebidanan II (Persalinan). Jakarta: Trans Info Media.

Saifuddin, AB. 2013. [Link]:


BinaPustaka.

Sejati, I. F. (2017) Pengaruh Pelvic Rocking terhadap Lama Kala I Fase Aktif
pada Ibu Bersalin Primipara di Klinik Nur Hikmah. Poltekkes Kemenkes
Semarang.

Tyastuti,Siti,2016. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta: Kementrian Kesehatan


Republik Indonesia.

Yulifah R. 2013. Konsep Kebidanan untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta:


Salemba Medika
LAMPIRAN
Lampiran 1

PERMOHONAN MENJADI KLIEN

Kepada,-
Yth. Ny. L
Di Tempat
Dengan hormat

Saya yang bertandatangan dibawah ini Mahasiswa Poltekkes Kemenkes


Tanjungpinang prodi D-III Kebidanan:

Nama : Suzita Putri Hakiki


NIM : P07224218 1857
Akan mengadakan kegiatan Usulan Laporan Tugas Akhir dengan
judul ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. L USIA 28
TAHUN DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAGIAN BAWAH DI
PMB FITRIANI,SST TAHUN 2021
Kegiatan ini bertujuan untuk membantu ibu dalam proses kehamilan, persalinan,
nifas, BBL dan KB, tidak menimbulkan akibat yang merugikan bagi ibu sebagai
klien, kerahasiaan semua informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya
digunakan untuk kepentingan kegiatan. Jika ibu tidak bersedia menjadi klien,
maka tidak ada ancaman bagi ibu dan keluarga.
Apabila ibu setuju untuk menjadi klien saya, maka dengan ini saya mohon untuk
kesediannya menandatangani lembar persetujuan dan menjawab pertanyaan saya
dengan wawancara. Atas perhatian dan kesediaan ibu, saya ucapkan terimakasih.

Pemohon,

SUZITA PUTRI HAKIKI


NIM. P07224218 1857
ASUHAN KEBIDANAN ANTENTAL CARE (ANC)
KUNJUNGAN I PADA NY.L USIA 28 TAHUN
KEHAMILAN 35-36 MINGGU
DI PMB FITRIANI ,SST
TAHUN 2021
Nama Pengkaji :Suzita Putri H. Tanggal : 04-04-2021
NIM : PO7224218 1857 Pukul : 15.00 Wib

A. SUBJEKTIF
1. Identitas Pasien
Nama Ibu : Ny.L Nama Suami : Tn.M
Umur : 28 Tahun Umur : 22 Tahun
Suku/Bangsa :Jawa Suku/Bangsa : Melayu
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMU Pendidikan : SMU
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Guru
Alamat : Kawal
2. Alasan Kunjungan : Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya
3. Keluhan Utama : Ibu mengatakan nyeri punggung bagian bawah
4. Menarche : 13 Tahun Disminore : Tidak Ada
Siklus : 28 hari Banyaknya : 4x Ganti pembalut
Bau : Amis HPHT : 30-07-2020
Lama Haid : 7 hari TP : 06-04-2021
Warna : Merah
5. Riwayat kehamilan Sekarang
a. Kehamilan
1) Trimester I
a) Jumlah periksa hamil : 1x
b) Keluhan atau masalah : Tidak ada
2) Trimester II
a) Jumlah periksa hamil : 1x
b) Keluhan atau masalah : Tidak ada
3) Trimester III
a) Jumlah periksa hamil : 1x
b) Keluhan atau masalah : Tidak ada
4) Pergerakan janin pertama kali dirasakan ibu : 17 minggu
5) Berapa kali pergerakan janin dalam 24 jam terakhir : ± 15 kali
6) Keluhan yang dirasakan saat ini
a) Rasa 5L (Letih, lelah, lemah, lesu, lunglai) : Tidak ada
b) Mual muntah yang lama : Tidak ada
c) Nyeri perut : Tidak ada
d) Panas menggigil : Tidak ada
e) Sakit kepala berat terus menerus : Tidak ada
f) Penglihatan kabur : Tidak ada
g) Rasa nyeri panas waktu BAK : Tidak ada
h) Rasa gatal vulva vagina dan sekitarnya : Tidak ada
i) Pengeluaran cairan pervaginam : Tidak ada
j) Nyeri, kemerahan, tegang pada tungkai : Tidak ada
k) Oedema : Tidak ada
l) Obat-obatan yang digunakan : Tidak ada
6. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu

Hami Tahu Persalinan Komplikas Bayi Nifas Ket


l n i
Jenis Tempat Penolon Ibu bayi J BB/PB Keadaan involus ASI
Ke
g K i
Ini
7. Imunisasi
Imunisasi TT :
a) Bayi
b) Bayi
c) Bayi
d) SD
e) SD
8. Screening/Laboratorium
Tanggal : 17-02-2021
Hb : 12,0 gr/dL Glukosa Urin : Negatif
HbsAg : Non Reaktif Protein Urin : Negatif
HIV/AIDS : Non Reaktif
9. Kebiasaan Sehari-hari
Obat/jamu : Tidak ada
Merokok : Tidak ada
Alkohol : Tidak ada
10. Riwayat Penyakit yang Menyertai Kehamilan ini
Hipertensi : Tidak ada TB : Tidak ada
Diabetes Melitus : Tidak ada PMS : Tidak ada
Jantung : Tidak ada Asma : Tidak ada
Ginjal : Tidak ada Hepatitis : Tidak ada
Gang. Sel darah : Tidak ada Lain-lain : Tidak ada
11. Riwayat Penyakit Keluarg
Jantung : Tidak ada DM : Ada
Ginjal : Tidak ada Hipertensi : Tidak ada
Asma : Tidak ada Hepatitis : Tidak ada
TBC : Tidak ada PMS : Tidak ada
Lain-lain : Tidak ada
12. Riwayat Operasi Yang Berhubungan Dengan Kandungan
Ovarektomi : Tidak ada Lain-lain : Tidak ada
Miomektomi : Tidak ada
13. Riwayat Operasi yang Tidak Berhubungan dengan Kandungan
Tidak ada
14. Riwayat Alergi
Makanan : Tidak ada
Obat-obatan : Tidak ada
15. Riwayat Perkawinan
Perkawinan ke : Satu
Status perkawinan : Sah
Umur waktu kawin : 21 Tahun
Berapa lama kawin baru hamil : 1 Bulan
16. Riwayat Kontrasepsi
Rencana pakai KB : Ada
Jenis KB yang pernah dipakai : Tidak ada
Jenis KB yang akan digunakan : Tidak Ada
Masalah dalam penggunakan KB : Tidak Ada
Kapan berhenti menjadi akseptor : Tidak Ada
Alasan berhenti menjadi akseptor : Tidak Ada
17. Riwayat Psikologis
Keadaan emosional : Ibu dan suami senang
terhadap kehamilanya
Pengambil keputusan dalam keluarga : Suami
Jenis kelamin anak yang diinginkan : Laki-laki
18. Perencanaan Persiapan Persalinan
Tempat akan bersalin : PMB
Penolong persalinan : Bidan
Transportasi : Motor
Nama calon donor darah : ibu kandung
Pendamping persalinan : Suami
19. Pemenuhan Kebutuhan Rutin Nutrisi
a. Makanan
Jenis makanan : Nasi, lauk pauk, sayur, ikan
Frekuensi : 2 kali perhari
Porsi : Porsi sedang
Masalah : Tidak ada
b. Minuman
Jenis : Air putih
Frekuensi : ±7-8 Gelas perhari
Masalah : Tidak ada
c. Eliminasi :
1) BAB
Frekuensi : 1 kali perhari
Warna : Kecoklatan
Konsistensi : Lunak
Masalah : Tidak ada
2) BAK
Frekuensi : 6-7 kali perhari
Warna : Kuning Jernih
Masalah : Tidak ada
3) Personal Hygine
Ganti pakaian dalam : ± 2 kali perhari
Gosok gigi : 2 kali perhari
Mandi : 2 kali perhari
Keramas : 3 hari sekali
4) Istirahat
Tidur malam : ± 7 -8 jam
Tidur siang : ± 2 jam
Masalah : Tidak ada
c. Aktivitas
Seksualitas : 2 kali/minggu
Pekerjaan : Pekerjaan rumah tangga (mencuci piring
dan mencuci pakain,menyetrika
pakaian,masak,membersihkan rumah,
mempersiapkan kebutuhan suami sebelum
berangkat kerja)
B. OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah : 110/80 mmHg Pernapasan : 20 kali/menit
BB sebelum hamil : 60 kg TB : 158 cm
BB sekarang hamil : 68,2 kg LILA : 29 cm
Suhu : 36,4oC Nadi : 80 kali/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
Rambut : Lurus, hitam
Kebersihan : Bersih, tidak ada ketombe
b. Mata
Sclera : Putih
Konjungtiva : Merah muda
c. Muka
Oedema : Tidak ada
Pucat/tidak : Tidak ada
Cloasmagravidarum : Tidak ada
d. Hidung
Polip : Tidak ada
Pengeluaran : Tidak ada
e. Telinga
Bentuk : Simetris
Pengeluaran : Tidak ada
Kebersihan : Bersih
f. Mulut
Stomatitis : Tidak ada
Gigi berlubang : Tidak ada
Carries : Tidak ada
g. Leher
Kelenjar tiroid : Tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid
Vena jugularis : Tidak ada pembesaran vena jugularis
h. Dada
1) Payudara
Pembesaran mamae : Simetris
Areola mamae : Menghitam
Putting susu : Menonjol
Kebersihan : Bersih
Benjolan : Tidak ada
Pengeluaran : Ada
2) Jantung
Suara : Terdengar lupdup
Teratur/tidak : Teratur
3) Paru-paru
Bunyi Nafas : Terdengar vesikuler
i. Abdomen
1) Inspeksi
Luka bekas operasi : Tidak ada
Pembesaran : Sesuai usia kehamilan
Linea : Nigra
2) Palpasi
TFU : 29 cm
Leopold I : Pertengahan px – pusat. Bagian atas perut
ibu teraba bulat,lunak,
tidak melenting kemungkinan bokong
janin. berada pada pertengahan px
Leopold II : Bagian kiri perut ibu teraba, keras
memanjang, yaitu punggung janin
dan bagian kanan teraba tonjolan-tonjolan
kecil yaitu ekstremitas janin.
Leopold III : Bagian bawah perut ibu teraba bulat,
keras melenting emungkinan kepala janin.
kepala bisa di goyangkan.
Leopold IV : Konvergen (belum masuk pap)
TBJ : 29 - 13 x 155 = 2.480 gram
3) Auskultasi
DJJ : Ada
Irama : Teratur
Frekuensi : 138 kali permenit
Punctum max : Dibawah pusat sebelah kiri perut ibu
j. Genitalia
Haemoroid : Tidak ada
Varises : Tidak ada
Odema : Tidak ada
k. Ekstremitas
1) Atas 2) Bawah
Oedema : Tidak ada Oedema : Tidak ada
Kebersihan : Bersih Kebersihan : Bersih
Sianosis : Tidak ada Sianosis : Tidak ada
Reflex Patella: +/+
3) Pemeriksaan panggul luar
Distantia spinarum : Tidak lakukan
Distantia cristarum : Tidak lakukan
Conjugata eksterna : Tidak lakukan
Lingkar panggul : Tidak lakukan
C. Assesment
Diagnosa :Ny.L G3P2A0 usia kehamilan 35-36 minggu
dengan Keluhan nyeri punggung bawah.
Masalah : Ketidaknyamanan ibu karena nyeri punggung
Bawah.
Kebutuhan : Penkes ketidaknyamanan TM III, persiapan
persalinan
Diagnosa Potensial : Tidak ada
Tindakan Segera :Tidak ada

D. Planning
1. Memberitahukan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan dengan keadaan umum ibu baik yaitu TD : 110/80 mmHg, BB
sekarang 68,1 kg, usia kehamilan 35-38 minggu, tafsiran berat janin 2.480
gr, dengan keadaan janin DJJ 138 kali/menit, letak janin dengan posisi
kepala janin belum masuk PAP (Ibu mengerti dengan hasil pemeriksaan).
2. Memberitahu ibu tanda bahaya trimester III seperti sakit kepala yang
berlebihan, pandangan mata kabur, pembengkakan pada wajah dan jari-
jari tangan, gerakan janin berkurang (ibu mengerti).
3. Memberitahu ibu ketidaknyamanan trimester III seperti: sering buang air
kecil, keputihan, sembelit, perut kembung, tegang pada bagian bawah
perut, nyeri punggung dan varises pada kaki.(ibu mengerti).
4. Menjelaskan kepada ibu tentang keluhan yang ibu rasakan yaitu nyeri
punggung bagian bawah bahwa hal tersebut normal yang disebabkan
semakin membesarnya uterus sehingga terjadi perubahan padapostur
tubuh ibu. Memberitahu ibu cara penanganannya yaitu ibu bisa tidur
dengan posisi menyamping, tidak melakukan aktifitas yang terlalu berat,
melakukan senam hamil atau yoga dan mengatur postur tubuh ibu ketika
duduk atau berbaring senyaman mungkin (ibu mengerti)
5. Mengajarkan ibu posisi tidur yang nyaman dengan mengunakan bantal
penopang dan posisi miring secara bergantian untuk memberikan rasa
nyaman dan menghindari rasa nyeri. kompres hangat atau dingin pada
bagian nyeri (ibu mengerti)
6. Memberitahu kepada ibu persiapan persalinan seperti, kendaraan,
pendonor darah, biaya, pakaian ibu dan bayi, penolong, tempat persalinan,
dan pendamping persalinan (Ibu mengerti dan bersedia melakukannya).
7. Menganjurkan ibu untuk tetap mengkonsumsi Kalk 1x1 dan tablet Fe 1 x
1 diminum pada malam hari sebelum tidur agar ibu tidak mual dan
sebaiknya tidak diminum secara bersamaan dengan kopi, teh,atau susu
karena dapat mengganggu proses penyerapan obat tersebut. Menjelaskan
juga tentang manfaat obat-obatan yang dikonsumsi yaitu tablet Fe sebagai
tablet penambah darah dan Kalsium Laktat yaitu untuk membantu
pertumbuhan tulang pada janin (ibu mengerti dan bersedia mengkonsumsi
obat yang diberikan bidan). Memberitahu ibu untuk kunjungan ulaang 2
minggu lagi (ibu mengerti dan bersedia melakukannya).
Menganjurkan kepada ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2
minggu kemudian yaitu pada tanggal 24 Maret 2021 atau jika ibu ada
keluhan (Ibu mengerti dan bersedia datang untuk kunjungan ulang.
LEMBAR KONSULTASI PROPOSAL LAPORAN TUGAS AKHIR

Nama : Suzita Putri Hakiki


Judul Usulan LTA : Laporan Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. L
Umur 28 Tahun Denagn Nyeri Punggung Bagian Bawah
di Praktik Bidan Fitriani,SST.
Pembimbing Utama : Rahmadona, [Link]
HARI/ INTERPRETASI/ SOLUSI DOKUMENTAS
NO KEGIATAN
TANGGAL TINDAK LANJUT I

1
Revisi Latar Belakang
Rabu, Konsul BAB 1
mengikuti outline
3 Maret 2021

Revisi BAB 1 Latar


Belakang, perbaikan BAB 2
2 Konsul BAB pada definisi
Jumat,
1,2,3 operasional,BAB 3
5 Maret 2021
perbaikan agar dinarasikan
saja.

3 Selasa,
16 Maret Perbaikan penulisan,
Konsul BAB
2021 Revisi definisi operasional
2,3

Senin, Melengkapi
4 ACC PROPOSAL
29 Maret lampiran,
2021 perbaikan
halaman

LEMBAR KONSULTASI PROPOSAL LAPORAN TUGAS AKHIR


Nama : Suzita Putri Hakiki
Judul Usulan LTA : Laporan Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. L
Umur 28 Tahun Denagn Nyeri Punggung Bagian Bawah
di Praktik Bidan Fitriani,SST.
Pembimbing Utama : Mardiah, SKM, [Link]
HARI/ INTERPRETASI/ SOLUSI
NO KEGIATAN DOKUMENTASI
TANGGAL TINDAK LANJUT

Jumat,,
Revisi Latar Belakang sistem
5 Maret 2021 Konsul BAB 1
1 piramida

Revisi cover dan tujuan ,


Senin, Konsul BAB 1
2 Revisi BAB 2 Lengkapi
15 Maret 2021 dan BAB 2
pembahasan

Konsul BAB 1, Revisi BAB 1 Tujuan khusus,


Kamis,
dan BAB 2 Perbaikan penulisan,
3 18 Maret 2021
penambahan materi.

Senin, Konsul BAB 1, Revisi BAB 1 merincikan


4 29 Maret 2021 Dan BAB 2 manfaat praktis, penambahan
materi BAB 2

Revisi
Selasa,
5 penambahan ACC PROPOSAL
20 Maret 2021
materi
DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai