0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
159 tayangan20 halaman

Analisis Biaya dalam Farmakoekonomi

Dokumen tersebut membahas tentang pentingnya ilmu farmakoekonomi dalam pengambilan keputusan penggunaan obat, terutama untuk mengendalikan biaya kesehatan. Dokumen tersebut juga menjelaskan beberapa metode analisis yang digunakan dalam ilmu farmakoekonomi seperti analisis efektivitas biaya dan analisis manfaat biaya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
159 tayangan20 halaman

Analisis Biaya dalam Farmakoekonomi

Dokumen tersebut membahas tentang pentingnya ilmu farmakoekonomi dalam pengambilan keputusan penggunaan obat, terutama untuk mengendalikan biaya kesehatan. Dokumen tersebut juga menjelaskan beberapa metode analisis yang digunakan dalam ilmu farmakoekonomi seperti analisis efektivitas biaya dan analisis manfaat biaya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Muhamad Ardiansyah

Nim : 3351201462

Kelas : B

Review Farmakoekonomi

Memperhitungkan biaya obat dalam upaya mengendalikan biaya kesehatan merupakan hal

penting dalam pembangunan kesehatan. Untuk menganalisa biaya obat dalam dekade terakhir ini

ilmu farmakoekonomi telah semakin berkembang, termasuk di negara – negara Asia-Pasifik. Data

farmakoekonomi semakin dibutuhkan di banyak negara, seperti Thailand, Korea Selatan, Filipina

dan Taiwan, terutama sebagai bukti pendukung dalam pengambilan keputusan obat apa saja yang

akan dimasukkan dalam daftar obat yang digunakan dalam jaminan kesehatan masyarakat, daftar

obat esensial atau untuk persetujuan obat baru. Sedangkan di Indonesia, ilmu ini masih baru

berkembang, sehingga penerapannya belum banyak dilakukan dalam pengambilan keputusan

penggunaan obat.

Dalam penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional pada tahun 2014, termasuk untuk

jaminan kesehatan, dengan terbatasnya anggaran yang tersedia, maka aspek pengendalian mutu

sekaligus biaya obat, menjadi salah satu hal penting yang mendapatkan perhatian. Sehingga

penerapan hasil kajian farmakoekonomi dalam pemilihan dan penggunaan obat secara efektif dan

efisien sangat dibutuhkan, bukan hanya oleh Pemerintah, namun juga bagi industri, pendidikan,

dan lain-lain.

Farmakoekonomi telah tumbuh menjadi salah satu metode yang senantiasa diperhatikan

dalam penyusunan standar-standar pengobatan, terutama bila menggunakan pembiayaan dari

pihak ketiga (misalnya asuransi, jaminan kesehatan masyarakat, dan lainlain). Metode ini

memungkinkan pengambil kebijakan Kesehatan membuat keputusan terkait obat dan juga untuk
berbagai intervensi kesehatan lainnya- yang memiliki nilai efektivitas sebanding dengan biayanya,

terutama dalam perspektif kesehatan masyarakat. Pemilihan obat yang cost-effective

memungkinkan penggunaan dana pelayanan kesehatan dengan lebih rasional, sehingga kualitas

maupun cakupan pelayanan dapat semakin ditingkatkan.

Manfaat farmakoekonomi yaitu membandingkan obat yang berbeda untuk terapi pada

kondisi klinik yang sama, membandingkan terapi/intervensi yang berbeda untuk kondisi yang

berbeda (menentukan pengalokasian terbaik terhadap sumber daya yang tersedia), memilih obat

yang akan dimasukkan kedalam formularium, memilih obat yang akan digunakan sebagai lini

pertama suatu terapi, menjustifikasi pelayanan kefarmasian (membandingkan biaya dan manfaat)

Obat yang telah melalui proses tahap pertama dan tahap kedua secara berskala lab sudah

bisa didaftarkan untuk mendapatkan registrasi resmi. Obat yang sudah jadi secara skala lab perlu

diuji “Kedigdayaan”-nya sebelum masuk tahap ketiga: Business Analysis and Marketing Decision

Dua keunggulan yang harus diuji yaitu: Unggul kemanjuran dan bersaing dalam harga.

1. Seleksi Kemanjuran (Effectiviness Analysis)

Obat baru dibandingkan terhadap obat yang sudah ada dipasar dari sisi

kemanjuran/efektivitas pada wilayahh terapi sama. Ada tiga kemungkinan hasilnya yaitu: lebih

efektif, sama efektif atau kurang efektif.

2. Seleksi Harga (Cost Analysis)

Obat baru yang lebih manjur atau sama manjur dilakukan seleksi atas dasar harga. Prioritas

yang didahulukan adalag bagi obat baru yang lebih manjur (effectiness). Harga obat baru yang

lebih manjur kemungkinan lebih mahal atau sama atau justru lebih murah

1. Pilihan pertama pada obat yang lebih manjur tetapi lebih murah (I), sedangkan pilihan

kedua adalah obat yang lebih manjur dengan harga yang sama (I).
2. Bagi obat yang lebih manjur tetapi lebih mahal dilakukan uji farmakoekonomi CEA (Cost

Effectiveness Analysis), membandingkan kenaikkan kemanjuran (effectiveness) dengan

kenaikkan harga. Pilihan ketiga adalah obat yang lebih besar dibandingkan dengan

kenaikan harganya (II) langkah berikut obat baru dengan kemanjuran sama

(effectiveness), kemungkinan harganya lebih mahal atau sama atau lebih murah. Pilihan

keempat adalah obat dengan kemanjuran sama tetapi harga lebih murah (II).

Dalam kajian farmakoekonomi, biaya selalu menjadi pertimbangan penting karena adanya

keterbatasan sumberdaya, terutama dana. Dalam kajian yang terkait dengan ilmu ekonomi, biaya

(atau biaya peluang, opportunity cost) didefinisikan sebagai nilai dari peluang yang hilang sebagai

akibat dari penggunaan sumberdaya dalam sebuah kegiatan. Patut dicatat bahwa biaya tidak selalu

melibatkan pertukaran uang. Dalam pandangan para ahli farmakoekonomi, biaya kesehatan

melingkupi lebih dari sekadar biaya pelayanan kesehatan, tetapi termasuk pula, misalnya, biaya

pelayanan lain dan biaya yang diperlukan oleh pasien sendiri (Direktorat Jenderal Bina

Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2013: 12). Secara umum, biaya yang terkait dengan perawatan

kesehatan dapat dibedakan sebagai berikut:

a. Biaya langsung

Biaya langsung adalah biaya yang terkait langsung dengan perawatan kesehatan, termasuk

biaya obat (dan perbekalan kesehatan), biaya konsultasi dokter, biaya jasa perawat,

penggunaan fasilitas rumah sakit (kamar rawat inap, peralatan), uji laboratorium, biaya

pelayanan informal dan biaya kesehatan lainnya. Dalam biaya langsung, selain biaya medis,

seringkali diperhitungkan pula biaya non-medis seperti biaya ambulan dan biaya transportasi

pasien lainnya.
b. Biaya tidak langsung

Biaya tidak langsung (Bootman et al., 2005) adalah sejumlah biaya yang terkait dengan

hilangnya produktivitas akibat menderita suatu penyakit, termasuk biaya transportasi, biaya

hilangnya produktivitas, biaya pendamping (anggota keluarga yang menemani pasien). 15

c. Biaya nirwujud (intangible cost)

Biaya nirwujud adalah biaya-biaya yang sulit diukur dalam unit moneter, namun sering

kali terlihat dalam pengukuran kualitas hidup, misalnya rasa sakit dan rasa cemas yang diderita

pasien dan/atau keluarganya.

d. Biaya terhindarkan (averted cost, avoided cost)

Biaya terhindarkan adalah potensi pengeluaran yang dapat dihindarkan karena penggunaan

suatu intervensi kesehatan (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2013:

14).

Metodologi Farmakoekonomi

Pada kajian farmakoekonomi dikenal empat metode analisis, Empat metode analisis ini

bukan hanya mempertimbangkan efektivitas, keamanan, dan kualitas obat yang dibandingkan,

tetapi juga aspek ekonominya. Karena aspek ekonomi atau unit moneter menjadi prinsip dasar

kajian farmakoekonomi, hasil kajian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan masukan

untuk menetapkan penggunaan yang paling efisien dari sumber daya Kesehatan yang terbatas

jumlahnya Di antara empat metode tersebut, analisis minimalisasi-biaya (AMiB) adalah yang

paling sederhana. AMiB digunakan untuk membandingkan dua intervensi kesehatan yang telah

dibuktikan memiliki efek yang sama, serupa, atau setara. Jika dua terapi atau dua (jenis, merek)

obat setara secara klinis, yang perlu dibandingkan hanya biaya untuk melakukan intervensi. Sesuai

prinsip efisiensi ekonomi, jenis atau merek obat yang menjanjikan nilai terbaik adalah yang
membutuhkan biaya paling kecil per periode terapi yang harus dikeluarkan untuk mencapai efek

yang diharapkan. Untuk membandingkan dua atau lebih intervensi kesehatan yang memberikan

besaran efek berbeda, dapat digunakan analisis efektivitasbiaya (AEB). Pada AEB, hasil

pengobatan tidak diukur dalam unit moneter, melainkan didefinisikan dan diukur dalam unit

alamiah, baik yang secara langsung menunjukkan efek suatu terapi atau obat (misalnya, penurunan

kadar LDL darah dalam mg/dL, penurunan tekanan darah diastolik dalam mm Hg) maupun hasil

selanjutnya dari efek terapi tersebut (misalnya, jumlah kematian atau serangan jantung yang dapat

dicegah, radang tukak lambung yang tersembuhkan). Metode lain yang juga banyak digunakan

adalah analisis utilitasbiaya (AUB). Seperti AEB, biaya pada AUB juga diukur dalam unit moneter

(jumlah rupiah yang harus dikeluarkan), tetapi hasil pengobatan dinyatakan dalam unit utilitas,

misalnya JTKD. Karena hasil pengobatannya tidak bergantung secara langsung pada keadaan

penyakit (disease state), secara teoretis AUB dapat digunakan untuk membandingkan dua area

pengobatan yang berbeda, misalnya biaya per JTKD operasi jantung koroner versus biaya per

JTKD erythropoietin pada penyakit ginjal. Namun demikian, pembandingan antar-area

pengobatan ini tidak mudah, karena JTKD diperoleh pada waktu dan dengan cara berbeda

sehingga tak dapat begitu saja diperbandingkan. Untuk membandingkan dua atau lebih intervensi

kesehatan yang memiliki tujuan berbeda atau dua program yang memberikan hasil pengobatan

dengan unit berbeda, dapat digunakan analisis manfaatbiaya (AMB). Pembandingan intervensi

kesehatan dengan tujuan dan/atau unit hasil pengobatan berbeda ini dimungkinkan karena, pada

metode AMB, manfaat (benefit) diukur sebagai manfaat ekonomi yang terkait (associated

economic benefit) dan dinyatakan dengan unit yang sama, yaitu unit moneter. Namun demikian,

karena alasan etika serta sulitnya mengkuantifikasi nilai kesehatan dan hidup manusia, AMB

sering menuai kontroversi. Sebab itu, AMB juga agak jarang digunakan dalam kajian
farmakoekonomi, bahkan dalam kajian ekonomi kesehatan yang lebih luas pun masih jarang sekali

dilakukan. Sebagai edisi awal, Pedoman Penerapan Kajian Farmakoekonomi ini memfokuskan

bahasan pada metode analisis yang sederhana, yaitu analisis minimalisasi-biaya (AMiB) dan

analisis efektivitas-biaya (AEB).

Menurut Lynn A. Uber sebagai Outcomes Managemenet Coordinator dari Medical

University of South Carolina menyatakan metoda farmakoekonomi memiliki 5 metoda, yaitu :

1. Cost-Minimization Analysis (CMA)

2. Cost-Effectiveness Analysis (CEA)

3. Cost-Benefit Analysis (CBA)

4. Cost-Utility Analysis (CUA)

5. Cost-Offset Analysis (COA)

Sedangkan menurut Yachien Tina Shih yang merupakan seorang Profesor pada

Departemen Biostatistics and Applied Mathematics dari Anderson Cancer Center, yang

menyatakan metoda farmakoekonomi memiliki 6 metoda, yaitu

1. Cost-Minimization Analysis (CMA)

2. Cost-Benefit Analysis (CBA)

3. Cost-Effectiveness Analysis (CEA)

4. Cost-Utility Analysis (CUA)

5. Cost-of-Illness Analysis (COI)

6. Budget Impact Analysis (BIA)

ilmu farmakoekonomi memiliki banyak metodologi analisis, terapi yang utama ada empat,

yaitu Analisis biaya termurah atau Cost-Minimization Analysis (CMA), Analisis biaya dan

kemanjuran atau Cost-Effectiveness Analysis (CEA), Analisis biaya dan kenyamanan atau Cost-
Utility Analysis (CUA), serta Analisis biaya dan perolehan atau Cost-Benefit Analysis (CBA).

Selain dari keempat metoda analisis utama tersebut, terdapat metoda analisis lainnya, yaitu

Analisis pada anggaran atau Budget Impact Analysis (BIA), Analisis biaya sakit atau Cost-of-

Illness Analysis (COI), dan Analisis manfaat biaya atau Cost-Offset Analysis (COA).

1. Cost-Minimization Analysis (CMA)/ Analisis Minimalisasi-Biaya (AMiB)

Merupakan metode kajian farmakoekonomi paling sederhana, analisis minimalisasi-biaya

(AMiB) hanya dapat digunakan untuk membandingkan dua atau lebih intervensi kesehatan,

termasuk obat, yang memberikan hasil yang sama, serupa, atau setara atau dapat diasumsikan

setara. Karena hasil pengobatan dari intervensi (diasumsikan) sama, yang perlu dibandingkan

hanya satu sisi, yaitu biaya. Dengan demikian, langkah terpenting yang harus dilakukan sebelum

menggunakan AMiB adalah menentukan kesetaraan (equivalence) dari intervensi (misalnya obat)

yang akan dikaji. Tetapi, karena jarang ditemukan dua terapi, termasuk obat, yang setara atau dapat

dengan mudah dibuktikan setara, penggunaan AMiB agak terbatas, misalnya untuk:

1. Membandingkan obat generik berlogo (OGB) dengan obat generik bermerek dengan bahan

kimia obat sejenis dan telah dibuktikan kesetaraannya melalui uji bioavailabilitas

bioekuivalen (BA/BE). Jika tidak ada hasil uji BA/BE yang membuktikan kesetaraan hasil

pengobatan, AMiB tidak layak untuk digunakan.

2. Membandingkan obat standar dengan obat baru yang memiliki efek setara.

Terdapat banyak jenis biaya dan jenis biaya yang harus dimasukkan berbeda untuk setiap

perspektif analisis. Untuk menggunakan metode AMiB secara baik tetap diperlukan keahlian dan

ketelitian.

Analisis biaya terendah (CMA) dapat dilakukan pada tiga situasi, yaitu sebagai berikut.
1. Pasar obat yang memiliki hak paten yang sudah habis terdapat 3 jenis obat yang beredar

yaitu originator, obat generic bermerek dan obat generik. Dari ketiga jenis obat tersebut

memiliki kandungan zat berkhasiat yang sama dengan jumlah kandungan yang sama serta

cara pemakaian yang sama. Ketiga obat tersebut dibandingkan harganya dan dipilih yang

murah.

2. Membandingkan harga dari obat yang sama yang harus di bayar dengan pemakaian obat

tunggal atau jamak. Salah satu contohnya dengan membandingkan biaya yang paling

murah antara alloputinol 00 mg sehari tiga kali atau 300 mg sehari sekali.

3. Membandingkan harga obat yang harus di baya dari obat yang sama, tetapi cara pakai yang

berbeda. Salah satu contoh adalah tablet voltadex atau voltaren dengan voltadex atau

voltaren cream.

2. Analisis efektivitas biaya (AEB) atau cost effectiveness analysis (CEA) adalah teknik analisis

ekonomi untuk membandingkan biaya dan hasil (outcomes) relatif dari dua atau lebih

intervensi Kesehatan.

Untuk melakukan CEA perlu adanya data mengenai biaya pengobatan dan parameter

efektivitas dari pengobatan atau outcome pengobatan, Efektivitas mengacu pada kemampuan

suatu pengobatan atau program kesehatan memberikan peningkatan Kesehatan, banyak

indikator yang menyatakan efektivitas suatu pengobatan seperti lama perawatan dan waktu

yang dibutuhkan untuk menghilangkan gejala (contoh: demam), Lama perawatan yang

dimaksud merupakan lama rawat inap pasien mulai dari pasien masuk rumah sakit dan jumlah

malam yang dihabiskan untuk perawatan di rumah sakit


3. Analisis manfaat biaya (AMB) cost benefit analysis (CBA) adalah teknik untuk

menghitung rasio antara biaya intervensi kesehatan dan manfaat (benefit) yang diperoleh,

dimana outcome (manfaat) diukur dengan unit moneter (rupiah)

CBA dapat dilakukan dengan membandingkan dua atau lebih suatu produk farmasi

atau jasa farmasi yang tidak saling berhubungan dan memiliki outcome berbeda

4. Analisis utilitas biaya (AUB) cost utility analysis (CUA) adalah teknik analisis ekonomi

untuk menilai “utilitas (daya guna)” atau kepuasan atas kualitas hidup yang diperoleh dari

suatu intervensi Kesehatan

Cost-utility analysis (CUA) Analisis jenis ini mencakup biaya dan pengukuran

quality of life sebagai outcome pengukuran. Sebagai hasil, cost-utility analysis

memungkinkan doctors dan manajer untuk membandingkan pilihan investasi bagi berbagai

upaya penyembuhan dengan berpatokan kepada skala "Quality-Adjusted Life" (Edbrooke).

CUA berbeda dari CEA dalam hal outcome yang diukur yaitu dalam bentuk quality-

adjusted life-years (QALY). Selain pertambahan umur dan mutu penambahan umur,

penurunan insidens morbidity dan mortality, juga penting menilai penggunaan teknologi

kesehatan itu pada penderita kronis. Pada cost-utility analysis pertambahan umur dikaitkan

dengan mutu tahun-tahun sehat kehidupan (Poulsen).

CUA adalah kategori analisa pharmacoeconomic yang paling kontroversial, karena

merupakan inti dari penghitungan quality of life (QoL). Karena quality of life sulit dinilai,

metode ini jarang dilakukan kecuali pada penelitian khusus pasien kanker. Dengan

penekanan pada persepsi dan perasaan individu, studi seperti ini dapat digunakan untuk

kasus-kasus yang membutuhkan outcome yang lebih konkrit seperti kanker dan AIDS

stadium lanjut. CUA lebih merupakan pendekatan komprehensif karena perbandingan nilai
ekonomisnya adalah outcome yang dinilai pada suatu populasi atau cohort hipotetis, diukur

sejak awal program sampai akhir periode observasi. Seperti halnya dengan CEA, CUA

relevan dilakukan jika tujuan adalah membandingkan pelayanan kesehatan yang terkait

dengan biaya berbeda dan outcome yang berbeda pula; inilah sebabnya sering juga

dianggap sebagai suatu bentuk CEA. Hal yang membedakan adalah bahwa CUA lebih

mengukur utilitas pada berbagai program. Secara umum utility berarti kegunaan

(usefulness).

Beberapa istilah yang lazim digunakan dalam CUA, termasuk:

1. Utilitas (utility)

Analisis utilitas-biaya (CUA) menyatakan hasil dari intervensi sebagai utilitas atau

tingkat kepuasan yang diperoleh pasien setelah mengkonsumsi suatu pelayanan

kesehatan, misalnya setelah mendapatkan pengobatan kanker atau penyakit jantung.

Unit utilitas yang digunakan dalam Kajian Farmakoekonomi biasanya adalah quality-

adjusted life years (QALY).

2. Kualitas hidup (quality of life, QOL)

Kualitas hidup dalam CUA diukur dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan kuantitas

(duration of life) dan pendekatan kualitas (quality of life). (Bootman et al., 1996).

Kualitas hidup merupakan sebuah konsep umum yang mencerminkan keadaan yang

terkait dengan modifikasi dan peningkatan aspek-aspek kehidupan, yaitu fisik, politik,

moral dan lingkungan sosial.

3. QALY (quality-adjusted life years)

Quality-adjusted life years (QALY) adalah suatu hasil yang diharapkan dari suatu

intervensi kesehatan yang terkait erat dengan besaran kualitas hidup. Pada QALY,
pertambahan usia (dalam tahun) sebagai hasil intervensi disesuaikan nilainya dengan

kualitas hidup yang diperoleh (Bootman et al., 1996). Unit utilitas, termasuk QALY,

merupakan sintesis dari berbagai hasil (outcome) fisik yang dibobot menurut

preference terhadap masing-masing hasil pengobatan tersebut.

QALY didasarkan pada keyakinan bahwa intervensi kesehatan dapat meningkatkan

survival (kuantitas hidup) ataupun kemampuan untuk menikmati hidup (kualitas

hidup). Pada penghitungan besaran utilitas yang paling banyak dipakai ini, dilakukan

pembobotan kualitas terhadap setiap tahun pertambahan kuantitas hidup yang

dihasilkan suatu intervensi kesehatan. Dengan demikian, QALY merupakan

penggabungan dari kedua elemen tersebut.

Kategori Biaya

1. Biaya medis langsung (direct medical cost) adalah biaya yang harus dibayarkan untuk

pelayanan kesehatan. Biaya ini meliputi biaya pengobatan, tenaga medis, biaya tes

laboraturium, dan biaya pemantauan efektivitas dan efek samping

2. Biaya medis tidak langsung (direct non medical cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan

secara langsung yang tidak terkait langsung dengan pembelian produk atau jasa pelayanan

kesehatan. Biaya yang termasuk didalamnya adalah biaya transportasi dari dan ke rumah

sakit, makanan untuk keluarga pasien

3. Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang dapat mengurangi produktivitas

pasien maupun keluarga, kehilangan pendapatan karena tidak biasa bekerja akibat sakit,

kehilangan waktu
4. Biaya tidak teraba (intangible cost) adalah biaya yang berhubungan dengan rasa sakit

pasien dan penderitaannya, khawatir tertekan, efek nya pada kualitas hidup. Kategori ini

tidak bisa diukur dalam mata uang, namun sangat penting bagi pasien maupun dokter

Cost Utility Analysis

Analisis Cost-Utility adalah tipe analisis yang mengukur manfaat dalam utility-beban lama

hidup; menghitung biaya per utility; mengukur ratio untuk membandingkan diantara beberapa

program. Analisis cost-utility mengukur nilai spesifik kesehatan dalam bentuk pilihan setiap

individu atau masyarakat. Seperti analisis cost-effectiveness, cost-utility analysis membandingkan

biaya terhadap program kesehatan yang diterima dihubungkan dengan peningkatan kesehatan yang

diakibatkan perawatan kesehatan. Dalam cost-utility analysis, peningkatan kesehatan diukur

dalam bentuk penyesuaian kualitas hidup (quality adjusted life years, QALYs) dan hasilnya

ditunjukan dengan biaya per penyesuaian kualitas hidup. Data kualitas dan kuantitas hidup dapat

dikonversi kedalam nilai QALYs, sebagai contoh jika pasien dinyatakan benar-benar sehat, nilai

QALYs dinyatakan dengan angka 1 (satu). Keuntungan dari analisis ini dapat ditujukan untuk

mengetahui kualitas hidup. Kekurangan analisis ini bergantung pada penentuan QALYs pada

status tingkat kesehatan pasien Cost utility adalah bentuk dari analisa ekonomi yang digunakan

untuk membimbing keputusan sebelum tindakan penyembuhan. Cost utility ini diperkirakan antara

rasio dari harga yang menyangkut intervensi kesehatan dan keuntungan yang dihasilkan dalam

bagian itu yang dihitung dari jumlah orang yang hidup dengan kesehatan penuh sebagai hasil dari

penyembuhannya. Hal ini menyebabkan cost utility dan cost effectiveness saling berhubungan dan

timbal balik. Metode ini dianggap sebagai subkelompok Cost-effektiviness karena Cost-utility

analisis juga menggunakan rasio Cost-effektiveness, tetapi menyesuaikannya dengan skor kualitas

hidup. Biasanya diperlukan wawancara dan meminta pasien untuk memberi skor tentang kualitas
hidup mereka. Hal ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang sudah dibakukan, sebagai

contoh digunakan skala penilaian (0=kematian, 10=kesehatan sempurna ). Quality-adjusted life

years (QALYs) merupakan pengukuran yang paling banyak digunakan

Manfaat Cost Utility Analysis

Dalam skala kecil dapat menentukan terapi terhadap pasien dalam suatu pengobatan yang

dipilih sehingga dengan biaya yang minimal berdampak manfaat yang maksimal. Dalam skala

besar pemerintah dapat menentukan kebijakan dalam hal pemberian subsidi terhadap obat atau

program kesehatan.

Tujuan Penggunaan Cost Utility Analysis Adalah untuk memperkirakan perbandingan

antara suatu biaya intervensi yang berhubungan dengan kesehatan dan menghasilkan keuntungan

dalam hal kualitas hidup dalam setahun oleh para penerima manfaat kesehatan.

Prinsip Cost Utility Analysis Analisa biaya dilakukan untuk menentukan biaya yang

dikeluarkan dalam kurun waktu satu tahun anggaran pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk

meningkatkan tercapainya hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat terwujud kesehatan

masyarakat yang optimal

Keuntungan dan kerugian (Rascati, 2013)

Keuntungan:

Dapat menggabungkan kedua morbiditas dan mortalitas, Dapat membandingkan beberapa

program dengan baik hasil yang sama atau tidak terkait (antikoagulan dan diabetes klinik), Dapat

menggunakan biaya ambang batas atau cutoff per QALY (seperti $ 50,000) dan memutuskan agak

obyektif jika intervensi adalah biaya yang efektif


Kelemahan utama:

Tidak ada konsensus tentang menghitung bobot utilitas, Bobot utilitas yang merupakan

"perkiraan kasar“, Banyak dokter tidak akrab dengan QALYs

CUA lebih signifikan dan relevan bagi para pengambil keputusan dibandingkan CEA

karena output CEA selalu tunggal spesifik dalam program dan tidak dinilai. CUA bisa tunggal bisa

jamak, suatu yang generic, bukan spesifik dalam program dan terpenting memiliki nilai output

CEA mempunyai keterbatasan tidak mampu secara simultan memasukkan keluaran ganda dari

intervensi yang sama atau membandingkan pelbagai intervensi dengan keluaran yang berbeda.

CEA walau outputnya natural unit CEA tidak untuk menilai konsekuensi atau keluaran berbentuk

kualitas, Dibanding CMA punya masalah karena sulit menerjemahkan semua biaya dan

konsekuensinya dalam terminology moneter, CMA berpotensi diskriminatif, krn condong pada

pengobatan untuk mereka yang kaya, sedang CUA mencakup kualitas keluaran Kesehatan

Teknis Analisis Farmakoekonomi

Pertimbangan identifikasi masalah, prioritas penting PE :

1. Epidemiologi penyakit

2. Masalah kesehatan yang dominan menghabiskan anggaran kesehatan

3. Adanya alternatif terapi baru

4. Bukti ilmiah baru terkait safety dan efficacy obat dan alat kesehatan dalam upaya revisi formula

Identifikasi masalah dilakukan dengan mengumpulkan data:

1. Epidemiologi penyakit, dikelompokkan berdasarkan international classification of diseases

(ICD10)

2. Jenis intervensi kesehatan, dalam hal item obat dikelompokkan berdasaran ATC (Anatomical

Therapeutic Chemical)
3. Identifikasi biaya.

a. Analisis ABC (Always,Better,Control)

b. Analisis kategori terapi

c. AnalisisVEN(Vital-Esensial-Non Esensial)

d. Analisis ATC/DDD

1. Model ABC (Always Better Control)

Pengendalian perusahaan berhubungan dengan aktivitas pengaturan persediaan

bahan agar dapat menjamin persediaan dan pelayanannya kepada pasien. Analisis ABC ini

menekankan pada persediaan yang mempunyai nilai penggunaan yang relatif tinggi atau

mahal. Dengan analisis ABC, jenis-jenis perbekalan farmasi ini dapat diindentifikasi untuk

kemuadian dilakukan evaluasi lebih lanjut. Analisis ini berguana pada setiap sistem suplai

untuk menganalisa pola penggunaan dan nilai penggunaan total semua item obat. Hal itu

memungkinkan untuk mengklasifikasikan item-item persediaan menjadi 3 kategori (A,B,

dan C) sesuai dengan nilai penggunaannya. Pembagian 3 kategori tersebut adalah sebagai

berikut:

A. merupakan 10-20% jumlah item menggunakan 75-80% dana

B. merupakan 10-20% jumlah item menggunakan 15-20% dana

C. merupakan 60-80% jumlah item menggunakan 5-10% dana

Langkah-langkah dalam melakukan Analisis ABC adalah sebagai berikut:

1) Kumpulkan kebutuhan perbekalan farmasi yang diperoleh dari salah satu metode

perencanaan, daftar harga perbekalan farmasi, dan biaya yang diperlukan untuk tiap nama

dagang. Kelompokan ke dalam jenis-jenis/kategori, dan jumlahkan biaya per

jenis/kategori perbekalan farmasi.


2) Jumlahkan anggran total, hitung masingmasing prosentase jenis perbekalan farmasi

terhadap anggaran total.

3) Urutkan kembali perbekalan farmasi diatas dimulai dari yang memakan prosentase paling

banyak.

4) Hitung prosentase komulatif, dimulai dengan urutan 1 dan seterusnya.

5) Identifikasi perbekalan farmasi yang menyerap ±70% anggaran perbekalan total.

6) Perbekalan farmasi kategori A menyerap anggaran 70%

7) Perbekalan farmasi kategori A menyerap anggaran 20%

8) Perbekalan farmasi kategori A menyerap anggaran 10%

Dengan pengelompokan tersebut maka cara pengelolaan masing- masing akan lebih mudah

sehingga peramalan, pengendalian fisik, kehandalan pemasok dan pengurangan besar stock

pengaman dapat menjadi lebih baik

2. Analisis VEN

Klasifikasi barang persediaan menjadi golongan VEN (Vital, Esensial, dan Non

Esensial) ditentukan oleh faktor makro (misalnya peraturan pemerinatah atau data

epidemiologi wilayah) dan faktor mikro (misalnya jenis pelayanan kesehatan yang

tersediadi RS yang bersangkutan). Kategori obat-obat dalam sistem VEN, yaitu :

1) V (Vital) adalah obat-obatan yang termasuk dalam potensial life- saving drugs.

2) E (Esensial) adalah obat-obatyang efektif untuk mengurangi kesakitan meskipun

demikian, sangat signifikan untuk bermacam- macam obat, tetapi tidak vital untuk

penyediaan sistem kesehatan dasar.


3) N (Non Esensial) adalah obat-obat yang digunakan untuk penyakit minor atau penyakit

tertentu yang efikasinya masih diragukan, termasuk terhitung mempunyai biaya yang

tinggi untuk memperoleh keuntungan terapeutik.

Analisis ATC (Anatomical Therapeutic Chemical/DDD (Defined Daily Dose)

➢ Nilai DDD→mencerminkan dosis penggunaan rata-rata perhari suatu obat untuk indikasi

utama yang digunakan pada populasi dewasa

➢ Nilai DDD hanya dapat diketahui u/ obat yang memiliki identitas di ATC

➢ Rumus= kekuatan sediaan x jumlah obat.

(DDD yang direkomendasikan WHO)

Metode pengukuran dan instrument pengolahan data

Komponen penting dalam studi PE adalah data biaya dan data hasil pengobatan. Studi PE

dapat dilakukan melalui 2 pendekatan :

➢ Real world data, menggunakan data yang berdasar dari pengamatan langsung suatu

intervensi kesehatan, pengambilan data stuid PE tsb bersamaan dengan studi klini (piggy-

back trial)

➢ Modelling menggunakan data yang berasal dari sumber data sekunder

Metode pengukurab pengobatan :

a) Metode Pengukuran Hasil Pengobatan Klinik

Berdasarkan bukti ilmiah yang akurat dan dapat dipercaya

➢ Ia, fakta dari meta analysis atau telaah sistemik thd uji klinik acak

➢ Ib, fakta diperoleh dari sekurang-kurangnya I uji klinik acak dan control

➢ II, fakta diperoleh dari sekurang-kurangnya I studi dengan control tanpa acak yang

dirancang baik
➢ IIb, fakta diperoleh dari sekurang-kurangnya I quasi eksperimental jenis lain yang

dirancang baik.

➢ III, fakta diperoleh dari study observasional yang dirancang dengan baik seperti studi

kohort, kasus control dan potong lintang

➢ IV, fakta diperoleh dari laporan kasus dan opini komite ahli atau pengalaman klinik dari

pakar yang disegani.

b) Metode pengukuran hasil pengobatan humanistic

VAS (visual analog scale), TTO(Time Trade Off) dan standar gamble. Atau pun dengan

pengukuran tidak langsung seperti EQ-5D, SF-36,QWB dan HUI. Yang paling umum EQ-

5D.

EQ 5D ada 5 dimensi : Mobility, Self care, Usual activities, Pain, anxiety

Pengukuran biaya

Data biaya yang dibutuhkan PE :

➢ Biaya total akibat sakit (cost of illness)

➢ Biaya intervensi (cost of program)

Cara memperoleh data biaya dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan :

1. Restropektif

2. Modelling

3. Prospektif

4. Perhitungan menggunakan referensi harga tarif RS, spt DRG/CBG,reimburstmen list,

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran biaya :

1. Aspek dalam pengukuran biaya adalah jumlah kebutuhan x biaya per intervensi

2. Pengukuran biaya akibat sakit dapat menggunakan pendekatan sbb


➢ Incidence-based

➢ Pengukuran biaya mulai awal perawatan pasien sampai selesai periode sakitnya

→pasien akut

3. Pengukuran biaya sebaiknya memperhatikan semua biaya dari awal sampai mendapatkan

layanan Kesehatan

4. Pengukuran biaya langsung medis : mencakup seluruh biaya langsung yang dibutuhkan

untuk perawatan pasien di fasilitas Kesehatan

5. Pengukuran biaya langsung non-medis dihitung berdasarkan unsur-unsur

➢ Biaya transportasi

➢ Biaya makan

➢ Biaya akomodasi

➢ Pengukuran biaya tidak langsung dihitung

➢ Pengukuran biaya bersumber dari data tahun yang berbeda dengan waktu dilakukan

studi memerlukan factor koreksi berdasarkan nilai indeks harga

konsumen/IHK(consumer price index/CPI)

Analisis Data Dan Pengambilan Keputusan

➢ Studi PE sebagian besar modelling. Model analisis diperlukan untuk membantu

pengambilan keputusan terkait intervensi Kesehatan

➢ Model analisis terdiri dari serangkaian kondisi kesehatan yang mencerminkan konsekuensi

intervensi kesheatan

➢ Setiap intervensi kesehatan memberikan konsekuens yang memiliki nilai biaya dan hasil

pengobatan
Model Keputusan yang paling sering digunakan :

1. Decision tree

Decision tree memiliki beberapa komponen: nodes (decision choice, chance,

outcome – terminal end). Probability atas setiap kesempatan dengan total 1, dan outcome

values. Tahapan dalam mengembangakan analisis decision tree: identifikasi keputusan,

struktur keputusan, menentukan konsekuensi probabilitas, menentukan nilai dari outcome

baik biaya maupun QALY, Memilih outcome yang lebih baik.

2. Markov Model

Sebuah teknik perhitungan yang umumnya digunakan dalam melakukan

pemodelan bermacam-macam kondisi. Teknik ini digunakan untuk membantu dalam

memperkirakan perubahan yang mungkin terjadi di masa mendatang. Perubahan-

perubahan tersebut diwakili dalam variabel-variabel dinamis di waktu-waktu tertentu.

Sehingga perlu untuk menyimpan nilai dari variabel keadaan pada tiap-tiap waktu tertentu

itu

Anda mungkin juga menyukai