Analisis Biaya dalam Farmakoekonomi
Analisis Biaya dalam Farmakoekonomi
Nim : 3351201462
Kelas : B
Review Farmakoekonomi
Memperhitungkan biaya obat dalam upaya mengendalikan biaya kesehatan merupakan hal
penting dalam pembangunan kesehatan. Untuk menganalisa biaya obat dalam dekade terakhir ini
ilmu farmakoekonomi telah semakin berkembang, termasuk di negara – negara Asia-Pasifik. Data
farmakoekonomi semakin dibutuhkan di banyak negara, seperti Thailand, Korea Selatan, Filipina
dan Taiwan, terutama sebagai bukti pendukung dalam pengambilan keputusan obat apa saja yang
akan dimasukkan dalam daftar obat yang digunakan dalam jaminan kesehatan masyarakat, daftar
obat esensial atau untuk persetujuan obat baru. Sedangkan di Indonesia, ilmu ini masih baru
penggunaan obat.
Dalam penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional pada tahun 2014, termasuk untuk
jaminan kesehatan, dengan terbatasnya anggaran yang tersedia, maka aspek pengendalian mutu
sekaligus biaya obat, menjadi salah satu hal penting yang mendapatkan perhatian. Sehingga
penerapan hasil kajian farmakoekonomi dalam pemilihan dan penggunaan obat secara efektif dan
efisien sangat dibutuhkan, bukan hanya oleh Pemerintah, namun juga bagi industri, pendidikan,
dan lain-lain.
Farmakoekonomi telah tumbuh menjadi salah satu metode yang senantiasa diperhatikan
pihak ketiga (misalnya asuransi, jaminan kesehatan masyarakat, dan lainlain). Metode ini
memungkinkan pengambil kebijakan Kesehatan membuat keputusan terkait obat dan juga untuk
berbagai intervensi kesehatan lainnya- yang memiliki nilai efektivitas sebanding dengan biayanya,
memungkinkan penggunaan dana pelayanan kesehatan dengan lebih rasional, sehingga kualitas
Manfaat farmakoekonomi yaitu membandingkan obat yang berbeda untuk terapi pada
kondisi klinik yang sama, membandingkan terapi/intervensi yang berbeda untuk kondisi yang
berbeda (menentukan pengalokasian terbaik terhadap sumber daya yang tersedia), memilih obat
yang akan dimasukkan kedalam formularium, memilih obat yang akan digunakan sebagai lini
pertama suatu terapi, menjustifikasi pelayanan kefarmasian (membandingkan biaya dan manfaat)
Obat yang telah melalui proses tahap pertama dan tahap kedua secara berskala lab sudah
bisa didaftarkan untuk mendapatkan registrasi resmi. Obat yang sudah jadi secara skala lab perlu
diuji “Kedigdayaan”-nya sebelum masuk tahap ketiga: Business Analysis and Marketing Decision
Dua keunggulan yang harus diuji yaitu: Unggul kemanjuran dan bersaing dalam harga.
Obat baru dibandingkan terhadap obat yang sudah ada dipasar dari sisi
kemanjuran/efektivitas pada wilayahh terapi sama. Ada tiga kemungkinan hasilnya yaitu: lebih
Obat baru yang lebih manjur atau sama manjur dilakukan seleksi atas dasar harga. Prioritas
yang didahulukan adalag bagi obat baru yang lebih manjur (effectiness). Harga obat baru yang
lebih manjur kemungkinan lebih mahal atau sama atau justru lebih murah
1. Pilihan pertama pada obat yang lebih manjur tetapi lebih murah (I), sedangkan pilihan
kedua adalah obat yang lebih manjur dengan harga yang sama (I).
2. Bagi obat yang lebih manjur tetapi lebih mahal dilakukan uji farmakoekonomi CEA (Cost
kenaikkan harga. Pilihan ketiga adalah obat yang lebih besar dibandingkan dengan
kenaikan harganya (II) langkah berikut obat baru dengan kemanjuran sama
(effectiveness), kemungkinan harganya lebih mahal atau sama atau lebih murah. Pilihan
keempat adalah obat dengan kemanjuran sama tetapi harga lebih murah (II).
Dalam kajian farmakoekonomi, biaya selalu menjadi pertimbangan penting karena adanya
keterbatasan sumberdaya, terutama dana. Dalam kajian yang terkait dengan ilmu ekonomi, biaya
(atau biaya peluang, opportunity cost) didefinisikan sebagai nilai dari peluang yang hilang sebagai
akibat dari penggunaan sumberdaya dalam sebuah kegiatan. Patut dicatat bahwa biaya tidak selalu
melibatkan pertukaran uang. Dalam pandangan para ahli farmakoekonomi, biaya kesehatan
melingkupi lebih dari sekadar biaya pelayanan kesehatan, tetapi termasuk pula, misalnya, biaya
pelayanan lain dan biaya yang diperlukan oleh pasien sendiri (Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2013: 12). Secara umum, biaya yang terkait dengan perawatan
a. Biaya langsung
Biaya langsung adalah biaya yang terkait langsung dengan perawatan kesehatan, termasuk
biaya obat (dan perbekalan kesehatan), biaya konsultasi dokter, biaya jasa perawat,
penggunaan fasilitas rumah sakit (kamar rawat inap, peralatan), uji laboratorium, biaya
pelayanan informal dan biaya kesehatan lainnya. Dalam biaya langsung, selain biaya medis,
seringkali diperhitungkan pula biaya non-medis seperti biaya ambulan dan biaya transportasi
pasien lainnya.
b. Biaya tidak langsung
Biaya tidak langsung (Bootman et al., 2005) adalah sejumlah biaya yang terkait dengan
hilangnya produktivitas akibat menderita suatu penyakit, termasuk biaya transportasi, biaya
Biaya nirwujud adalah biaya-biaya yang sulit diukur dalam unit moneter, namun sering
kali terlihat dalam pengukuran kualitas hidup, misalnya rasa sakit dan rasa cemas yang diderita
Biaya terhindarkan adalah potensi pengeluaran yang dapat dihindarkan karena penggunaan
suatu intervensi kesehatan (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2013:
14).
Metodologi Farmakoekonomi
Pada kajian farmakoekonomi dikenal empat metode analisis, Empat metode analisis ini
bukan hanya mempertimbangkan efektivitas, keamanan, dan kualitas obat yang dibandingkan,
tetapi juga aspek ekonominya. Karena aspek ekonomi atau unit moneter menjadi prinsip dasar
kajian farmakoekonomi, hasil kajian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan masukan
untuk menetapkan penggunaan yang paling efisien dari sumber daya Kesehatan yang terbatas
jumlahnya Di antara empat metode tersebut, analisis minimalisasi-biaya (AMiB) adalah yang
paling sederhana. AMiB digunakan untuk membandingkan dua intervensi kesehatan yang telah
dibuktikan memiliki efek yang sama, serupa, atau setara. Jika dua terapi atau dua (jenis, merek)
obat setara secara klinis, yang perlu dibandingkan hanya biaya untuk melakukan intervensi. Sesuai
prinsip efisiensi ekonomi, jenis atau merek obat yang menjanjikan nilai terbaik adalah yang
membutuhkan biaya paling kecil per periode terapi yang harus dikeluarkan untuk mencapai efek
yang diharapkan. Untuk membandingkan dua atau lebih intervensi kesehatan yang memberikan
besaran efek berbeda, dapat digunakan analisis efektivitasbiaya (AEB). Pada AEB, hasil
pengobatan tidak diukur dalam unit moneter, melainkan didefinisikan dan diukur dalam unit
alamiah, baik yang secara langsung menunjukkan efek suatu terapi atau obat (misalnya, penurunan
kadar LDL darah dalam mg/dL, penurunan tekanan darah diastolik dalam mm Hg) maupun hasil
selanjutnya dari efek terapi tersebut (misalnya, jumlah kematian atau serangan jantung yang dapat
dicegah, radang tukak lambung yang tersembuhkan). Metode lain yang juga banyak digunakan
adalah analisis utilitasbiaya (AUB). Seperti AEB, biaya pada AUB juga diukur dalam unit moneter
(jumlah rupiah yang harus dikeluarkan), tetapi hasil pengobatan dinyatakan dalam unit utilitas,
misalnya JTKD. Karena hasil pengobatannya tidak bergantung secara langsung pada keadaan
penyakit (disease state), secara teoretis AUB dapat digunakan untuk membandingkan dua area
pengobatan yang berbeda, misalnya biaya per JTKD operasi jantung koroner versus biaya per
pengobatan ini tidak mudah, karena JTKD diperoleh pada waktu dan dengan cara berbeda
sehingga tak dapat begitu saja diperbandingkan. Untuk membandingkan dua atau lebih intervensi
kesehatan yang memiliki tujuan berbeda atau dua program yang memberikan hasil pengobatan
dengan unit berbeda, dapat digunakan analisis manfaatbiaya (AMB). Pembandingan intervensi
kesehatan dengan tujuan dan/atau unit hasil pengobatan berbeda ini dimungkinkan karena, pada
metode AMB, manfaat (benefit) diukur sebagai manfaat ekonomi yang terkait (associated
economic benefit) dan dinyatakan dengan unit yang sama, yaitu unit moneter. Namun demikian,
karena alasan etika serta sulitnya mengkuantifikasi nilai kesehatan dan hidup manusia, AMB
sering menuai kontroversi. Sebab itu, AMB juga agak jarang digunakan dalam kajian
farmakoekonomi, bahkan dalam kajian ekonomi kesehatan yang lebih luas pun masih jarang sekali
dilakukan. Sebagai edisi awal, Pedoman Penerapan Kajian Farmakoekonomi ini memfokuskan
bahasan pada metode analisis yang sederhana, yaitu analisis minimalisasi-biaya (AMiB) dan
Sedangkan menurut Yachien Tina Shih yang merupakan seorang Profesor pada
Departemen Biostatistics and Applied Mathematics dari Anderson Cancer Center, yang
ilmu farmakoekonomi memiliki banyak metodologi analisis, terapi yang utama ada empat,
yaitu Analisis biaya termurah atau Cost-Minimization Analysis (CMA), Analisis biaya dan
kemanjuran atau Cost-Effectiveness Analysis (CEA), Analisis biaya dan kenyamanan atau Cost-
Utility Analysis (CUA), serta Analisis biaya dan perolehan atau Cost-Benefit Analysis (CBA).
Selain dari keempat metoda analisis utama tersebut, terdapat metoda analisis lainnya, yaitu
Analisis pada anggaran atau Budget Impact Analysis (BIA), Analisis biaya sakit atau Cost-of-
Illness Analysis (COI), dan Analisis manfaat biaya atau Cost-Offset Analysis (COA).
(AMiB) hanya dapat digunakan untuk membandingkan dua atau lebih intervensi kesehatan,
termasuk obat, yang memberikan hasil yang sama, serupa, atau setara atau dapat diasumsikan
setara. Karena hasil pengobatan dari intervensi (diasumsikan) sama, yang perlu dibandingkan
hanya satu sisi, yaitu biaya. Dengan demikian, langkah terpenting yang harus dilakukan sebelum
menggunakan AMiB adalah menentukan kesetaraan (equivalence) dari intervensi (misalnya obat)
yang akan dikaji. Tetapi, karena jarang ditemukan dua terapi, termasuk obat, yang setara atau dapat
dengan mudah dibuktikan setara, penggunaan AMiB agak terbatas, misalnya untuk:
1. Membandingkan obat generik berlogo (OGB) dengan obat generik bermerek dengan bahan
kimia obat sejenis dan telah dibuktikan kesetaraannya melalui uji bioavailabilitas
bioekuivalen (BA/BE). Jika tidak ada hasil uji BA/BE yang membuktikan kesetaraan hasil
2. Membandingkan obat standar dengan obat baru yang memiliki efek setara.
Terdapat banyak jenis biaya dan jenis biaya yang harus dimasukkan berbeda untuk setiap
perspektif analisis. Untuk menggunakan metode AMiB secara baik tetap diperlukan keahlian dan
ketelitian.
Analisis biaya terendah (CMA) dapat dilakukan pada tiga situasi, yaitu sebagai berikut.
1. Pasar obat yang memiliki hak paten yang sudah habis terdapat 3 jenis obat yang beredar
yaitu originator, obat generic bermerek dan obat generik. Dari ketiga jenis obat tersebut
memiliki kandungan zat berkhasiat yang sama dengan jumlah kandungan yang sama serta
cara pemakaian yang sama. Ketiga obat tersebut dibandingkan harganya dan dipilih yang
murah.
2. Membandingkan harga dari obat yang sama yang harus di bayar dengan pemakaian obat
tunggal atau jamak. Salah satu contohnya dengan membandingkan biaya yang paling
murah antara alloputinol 00 mg sehari tiga kali atau 300 mg sehari sekali.
3. Membandingkan harga obat yang harus di baya dari obat yang sama, tetapi cara pakai yang
berbeda. Salah satu contoh adalah tablet voltadex atau voltaren dengan voltadex atau
voltaren cream.
2. Analisis efektivitas biaya (AEB) atau cost effectiveness analysis (CEA) adalah teknik analisis
ekonomi untuk membandingkan biaya dan hasil (outcomes) relatif dari dua atau lebih
intervensi Kesehatan.
Untuk melakukan CEA perlu adanya data mengenai biaya pengobatan dan parameter
efektivitas dari pengobatan atau outcome pengobatan, Efektivitas mengacu pada kemampuan
indikator yang menyatakan efektivitas suatu pengobatan seperti lama perawatan dan waktu
yang dibutuhkan untuk menghilangkan gejala (contoh: demam), Lama perawatan yang
dimaksud merupakan lama rawat inap pasien mulai dari pasien masuk rumah sakit dan jumlah
menghitung rasio antara biaya intervensi kesehatan dan manfaat (benefit) yang diperoleh,
CBA dapat dilakukan dengan membandingkan dua atau lebih suatu produk farmasi
atau jasa farmasi yang tidak saling berhubungan dan memiliki outcome berbeda
4. Analisis utilitas biaya (AUB) cost utility analysis (CUA) adalah teknik analisis ekonomi
untuk menilai “utilitas (daya guna)” atau kepuasan atas kualitas hidup yang diperoleh dari
Cost-utility analysis (CUA) Analisis jenis ini mencakup biaya dan pengukuran
memungkinkan doctors dan manajer untuk membandingkan pilihan investasi bagi berbagai
CUA berbeda dari CEA dalam hal outcome yang diukur yaitu dalam bentuk quality-
adjusted life-years (QALY). Selain pertambahan umur dan mutu penambahan umur,
penurunan insidens morbidity dan mortality, juga penting menilai penggunaan teknologi
kesehatan itu pada penderita kronis. Pada cost-utility analysis pertambahan umur dikaitkan
merupakan inti dari penghitungan quality of life (QoL). Karena quality of life sulit dinilai,
metode ini jarang dilakukan kecuali pada penelitian khusus pasien kanker. Dengan
penekanan pada persepsi dan perasaan individu, studi seperti ini dapat digunakan untuk
kasus-kasus yang membutuhkan outcome yang lebih konkrit seperti kanker dan AIDS
stadium lanjut. CUA lebih merupakan pendekatan komprehensif karena perbandingan nilai
ekonomisnya adalah outcome yang dinilai pada suatu populasi atau cohort hipotetis, diukur
sejak awal program sampai akhir periode observasi. Seperti halnya dengan CEA, CUA
relevan dilakukan jika tujuan adalah membandingkan pelayanan kesehatan yang terkait
dengan biaya berbeda dan outcome yang berbeda pula; inilah sebabnya sering juga
dianggap sebagai suatu bentuk CEA. Hal yang membedakan adalah bahwa CUA lebih
mengukur utilitas pada berbagai program. Secara umum utility berarti kegunaan
(usefulness).
1. Utilitas (utility)
Analisis utilitas-biaya (CUA) menyatakan hasil dari intervensi sebagai utilitas atau
Unit utilitas yang digunakan dalam Kajian Farmakoekonomi biasanya adalah quality-
Kualitas hidup dalam CUA diukur dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan kuantitas
(duration of life) dan pendekatan kualitas (quality of life). (Bootman et al., 1996).
Kualitas hidup merupakan sebuah konsep umum yang mencerminkan keadaan yang
terkait dengan modifikasi dan peningkatan aspek-aspek kehidupan, yaitu fisik, politik,
Quality-adjusted life years (QALY) adalah suatu hasil yang diharapkan dari suatu
intervensi kesehatan yang terkait erat dengan besaran kualitas hidup. Pada QALY,
pertambahan usia (dalam tahun) sebagai hasil intervensi disesuaikan nilainya dengan
kualitas hidup yang diperoleh (Bootman et al., 1996). Unit utilitas, termasuk QALY,
merupakan sintesis dari berbagai hasil (outcome) fisik yang dibobot menurut
hidup). Pada penghitungan besaran utilitas yang paling banyak dipakai ini, dilakukan
Kategori Biaya
1. Biaya medis langsung (direct medical cost) adalah biaya yang harus dibayarkan untuk
pelayanan kesehatan. Biaya ini meliputi biaya pengobatan, tenaga medis, biaya tes
2. Biaya medis tidak langsung (direct non medical cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan
secara langsung yang tidak terkait langsung dengan pembelian produk atau jasa pelayanan
kesehatan. Biaya yang termasuk didalamnya adalah biaya transportasi dari dan ke rumah
3. Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang dapat mengurangi produktivitas
pasien maupun keluarga, kehilangan pendapatan karena tidak biasa bekerja akibat sakit,
kehilangan waktu
4. Biaya tidak teraba (intangible cost) adalah biaya yang berhubungan dengan rasa sakit
pasien dan penderitaannya, khawatir tertekan, efek nya pada kualitas hidup. Kategori ini
tidak bisa diukur dalam mata uang, namun sangat penting bagi pasien maupun dokter
Analisis Cost-Utility adalah tipe analisis yang mengukur manfaat dalam utility-beban lama
hidup; menghitung biaya per utility; mengukur ratio untuk membandingkan diantara beberapa
program. Analisis cost-utility mengukur nilai spesifik kesehatan dalam bentuk pilihan setiap
biaya terhadap program kesehatan yang diterima dihubungkan dengan peningkatan kesehatan yang
dalam bentuk penyesuaian kualitas hidup (quality adjusted life years, QALYs) dan hasilnya
ditunjukan dengan biaya per penyesuaian kualitas hidup. Data kualitas dan kuantitas hidup dapat
dikonversi kedalam nilai QALYs, sebagai contoh jika pasien dinyatakan benar-benar sehat, nilai
QALYs dinyatakan dengan angka 1 (satu). Keuntungan dari analisis ini dapat ditujukan untuk
mengetahui kualitas hidup. Kekurangan analisis ini bergantung pada penentuan QALYs pada
status tingkat kesehatan pasien Cost utility adalah bentuk dari analisa ekonomi yang digunakan
untuk membimbing keputusan sebelum tindakan penyembuhan. Cost utility ini diperkirakan antara
rasio dari harga yang menyangkut intervensi kesehatan dan keuntungan yang dihasilkan dalam
bagian itu yang dihitung dari jumlah orang yang hidup dengan kesehatan penuh sebagai hasil dari
penyembuhannya. Hal ini menyebabkan cost utility dan cost effectiveness saling berhubungan dan
timbal balik. Metode ini dianggap sebagai subkelompok Cost-effektiviness karena Cost-utility
analisis juga menggunakan rasio Cost-effektiveness, tetapi menyesuaikannya dengan skor kualitas
hidup. Biasanya diperlukan wawancara dan meminta pasien untuk memberi skor tentang kualitas
hidup mereka. Hal ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang sudah dibakukan, sebagai
Dalam skala kecil dapat menentukan terapi terhadap pasien dalam suatu pengobatan yang
dipilih sehingga dengan biaya yang minimal berdampak manfaat yang maksimal. Dalam skala
besar pemerintah dapat menentukan kebijakan dalam hal pemberian subsidi terhadap obat atau
program kesehatan.
antara suatu biaya intervensi yang berhubungan dengan kesehatan dan menghasilkan keuntungan
dalam hal kualitas hidup dalam setahun oleh para penerima manfaat kesehatan.
Prinsip Cost Utility Analysis Analisa biaya dilakukan untuk menentukan biaya yang
dikeluarkan dalam kurun waktu satu tahun anggaran pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk
meningkatkan tercapainya hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat terwujud kesehatan
Keuntungan:
program dengan baik hasil yang sama atau tidak terkait (antikoagulan dan diabetes klinik), Dapat
menggunakan biaya ambang batas atau cutoff per QALY (seperti $ 50,000) dan memutuskan agak
Tidak ada konsensus tentang menghitung bobot utilitas, Bobot utilitas yang merupakan
CUA lebih signifikan dan relevan bagi para pengambil keputusan dibandingkan CEA
karena output CEA selalu tunggal spesifik dalam program dan tidak dinilai. CUA bisa tunggal bisa
jamak, suatu yang generic, bukan spesifik dalam program dan terpenting memiliki nilai output
CEA mempunyai keterbatasan tidak mampu secara simultan memasukkan keluaran ganda dari
intervensi yang sama atau membandingkan pelbagai intervensi dengan keluaran yang berbeda.
CEA walau outputnya natural unit CEA tidak untuk menilai konsekuensi atau keluaran berbentuk
kualitas, Dibanding CMA punya masalah karena sulit menerjemahkan semua biaya dan
konsekuensinya dalam terminology moneter, CMA berpotensi diskriminatif, krn condong pada
pengobatan untuk mereka yang kaya, sedang CUA mencakup kualitas keluaran Kesehatan
1. Epidemiologi penyakit
4. Bukti ilmiah baru terkait safety dan efficacy obat dan alat kesehatan dalam upaya revisi formula
(ICD10)
2. Jenis intervensi kesehatan, dalam hal item obat dikelompokkan berdasaran ATC (Anatomical
Therapeutic Chemical)
3. Identifikasi biaya.
c. AnalisisVEN(Vital-Esensial-Non Esensial)
d. Analisis ATC/DDD
bahan agar dapat menjamin persediaan dan pelayanannya kepada pasien. Analisis ABC ini
menekankan pada persediaan yang mempunyai nilai penggunaan yang relatif tinggi atau
mahal. Dengan analisis ABC, jenis-jenis perbekalan farmasi ini dapat diindentifikasi untuk
kemuadian dilakukan evaluasi lebih lanjut. Analisis ini berguana pada setiap sistem suplai
untuk menganalisa pola penggunaan dan nilai penggunaan total semua item obat. Hal itu
dan C) sesuai dengan nilai penggunaannya. Pembagian 3 kategori tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Kumpulkan kebutuhan perbekalan farmasi yang diperoleh dari salah satu metode
perencanaan, daftar harga perbekalan farmasi, dan biaya yang diperlukan untuk tiap nama
3) Urutkan kembali perbekalan farmasi diatas dimulai dari yang memakan prosentase paling
banyak.
Dengan pengelompokan tersebut maka cara pengelolaan masing- masing akan lebih mudah
sehingga peramalan, pengendalian fisik, kehandalan pemasok dan pengurangan besar stock
2. Analisis VEN
Klasifikasi barang persediaan menjadi golongan VEN (Vital, Esensial, dan Non
Esensial) ditentukan oleh faktor makro (misalnya peraturan pemerinatah atau data
epidemiologi wilayah) dan faktor mikro (misalnya jenis pelayanan kesehatan yang
1) V (Vital) adalah obat-obatan yang termasuk dalam potensial life- saving drugs.
demikian, sangat signifikan untuk bermacam- macam obat, tetapi tidak vital untuk
tertentu yang efikasinya masih diragukan, termasuk terhitung mempunyai biaya yang
➢ Nilai DDD→mencerminkan dosis penggunaan rata-rata perhari suatu obat untuk indikasi
➢ Nilai DDD hanya dapat diketahui u/ obat yang memiliki identitas di ATC
Komponen penting dalam studi PE adalah data biaya dan data hasil pengobatan. Studi PE
➢ Real world data, menggunakan data yang berdasar dari pengamatan langsung suatu
intervensi kesehatan, pengambilan data stuid PE tsb bersamaan dengan studi klini (piggy-
back trial)
➢ Ia, fakta dari meta analysis atau telaah sistemik thd uji klinik acak
➢ Ib, fakta diperoleh dari sekurang-kurangnya I uji klinik acak dan control
➢ II, fakta diperoleh dari sekurang-kurangnya I studi dengan control tanpa acak yang
dirancang baik
➢ IIb, fakta diperoleh dari sekurang-kurangnya I quasi eksperimental jenis lain yang
dirancang baik.
➢ III, fakta diperoleh dari study observasional yang dirancang dengan baik seperti studi
➢ IV, fakta diperoleh dari laporan kasus dan opini komite ahli atau pengalaman klinik dari
VAS (visual analog scale), TTO(Time Trade Off) dan standar gamble. Atau pun dengan
pengukuran tidak langsung seperti EQ-5D, SF-36,QWB dan HUI. Yang paling umum EQ-
5D.
Pengukuran biaya
1. Restropektif
2. Modelling
3. Prospektif
1. Aspek dalam pengukuran biaya adalah jumlah kebutuhan x biaya per intervensi
➢ Pengukuran biaya mulai awal perawatan pasien sampai selesai periode sakitnya
→pasien akut
3. Pengukuran biaya sebaiknya memperhatikan semua biaya dari awal sampai mendapatkan
layanan Kesehatan
4. Pengukuran biaya langsung medis : mencakup seluruh biaya langsung yang dibutuhkan
➢ Biaya transportasi
➢ Biaya makan
➢ Biaya akomodasi
➢ Pengukuran biaya bersumber dari data tahun yang berbeda dengan waktu dilakukan
➢ Model analisis terdiri dari serangkaian kondisi kesehatan yang mencerminkan konsekuensi
intervensi kesheatan
➢ Setiap intervensi kesehatan memberikan konsekuens yang memiliki nilai biaya dan hasil
pengobatan
Model Keputusan yang paling sering digunakan :
1. Decision tree
outcome – terminal end). Probability atas setiap kesempatan dengan total 1, dan outcome
2. Markov Model
Sehingga perlu untuk menyimpan nilai dari variabel keadaan pada tiap-tiap waktu tertentu
itu