INTERPROFESIONAL EDUCATION
DAN INTERPROFESIONAL COLLABORATION
I. Interprofessional educat
A. Pengertian Ipe
Interprofessional education (IPE) menurut WHO (2010), IPE merupakan
suatu proses yang dilakukan dengan melibatkan sekelompok mahasiswa
atau profesi kesehatan yang memiliki Perbedaan latar belakang profesi dan
melakukan pembelajaran bersama dalam periode tertentu, adanya interaksi
sebagai tujuan utama IPE untuk berkolaborasi dengan jenis pelayanan
meliputi formatif. Preventif, kuratif. Rehabilitatif.
Pengertian IPE (Kusumaningrum dkk, 2018) :
1. Mendudukan secara bersama mahasiswa dari berbagai profesi
kesehatan dalam satu kelas yang sama.
2. Mendatangkan pengajar dari berbagai profesi kesehatan untuk
mengajar pada kelas yang sama.
3. Memaparkan mahasiswa dari berbagai profesi pada pasien yang sama.
Pengembangan IPE di institusi pendidikan kesehatan tidak terlepas dari
konsep berubah. Perubahan merupakan suatu proses Dimana terjadinya
peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status bersifat
dinamis. Perubahan dapat mencapai keseimbangan personal, sosial
maupun organisasi untuk dapat menerapkan ide atau konsep terbaru dalam
mencapai tujuan tertentu.
Centre for the Advancement of Interprofessional Education (CAIPE,2002)
menyebutkan, IPE terjadi ketika dua atau lebih profesi kesehatan belajar
bersama, belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari peran
masing-masing profesi kesehatan untuk meningkatkan kemampuan
kolaborasi dan kualitas pelayanan kesehatan. IPE adalah suatu
pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh dua atau lebih profesi yang
berbeda untuk meningkatkan kolaborasi dan kualitas pelayanan dan
pelakasanaanya dapat dilakukan dalam semua pembelajaran, baik itu tahap
sarjana maupun tahap pendidikan klinik untuk menciptakan tenaga
kesehatan yang profesional (Krisdianto dkk, 2020). IPE adalah metode
pembelajaran yang interaktif, berbasis kelompok, yang dilakukan dengan
menciptakan suasana belajar berkolaborasi untuk mewujudkan praktik
yang berkolaborasi, dan juga untuk menyampaikan pemahaman mengenai
interpersonal, kelompok, organisasi dan hubungan antar organisasi sebagai
proses profesionalisasi (Wahyuni, 2019). Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Triana dkk (2017) praktek kolaborasi antar profesi
didefinisikan sebagai beragam profesi yang bekerja bersama sebagai suatu
tim yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesehatan pasien/klien
dengan saling mengerti 7 batasan yang ada pada masing-masing profesi
kesehatan. Interprofessional Collaboration (IPC) adalah proses dalam
mengembangkan dan mempertahankan hubungan kerja yang efektif antara
pelajar, praktisi,pasien/ klien/ keluarga serta masyarakat untuk
mengoptimalkan pelayanankesehatan.
B. Tujuan interprofessional education
Tujuan IPE adalah praktik kolaborasi antar profesi, dimana melibatkan
berbagai profesi dalam pembelajaran tentang bagaimana bekerjasama
dengan memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan
untuk berkolaborasi secara efektif. Implementasi IPE di bidang kesehatan
dilaksanakan kepada mahasiswa dengan tujuan untuk menanamkan
kompetensi-kompetensi IPE sejak dini dengan retensi bertahap, sehingga
ketika mahasiswa berada di lapangan diharapkan dapat mengutamakan
keselamatan pasien dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
bersama profesi kesehatan yang lain (Tarnoto, 2018).
C. Manfaat interprofessional education
World Health Organization (2010) menyajikan hasil penelitian di 42
negara tentang dampak dari penerapan praktek kolaborasi dalam dunia
kesehatan menunjukkan hasil bahwa praktek kolaborasi dapat
meningkatkan keterjangkauan serta koordinasi layanan kesehatan,
penggunaan sumber daya klinis spesifik yang sesuai, outcome kesehatan
bagi penyakit kronis, dan pelayanan serta keselamatan pasien. WHO
(2010) juga menjelaskan praktek kolaborasi dapat menurunkan komplikasi
yang dialami pasien, jangka waktu rawat inap, ketegangan dan konflik di
antara pemberi layanan (caregivers), biaya rumah sakit, rata-rata clinical
error,dan rata-rata jumlah kematian pasien.
Framework for Action on Interprofessional Education & Collaborative
Practice, WHO (2010) menjelaskan IPE berpotensi menghasilkan berbagai
manfaat dalam beberapa aspek yaitu kerjasama tim meliputi mampu untuk
menjadi pemimpin tim dan anggota tim, mengetahui hambatan untuk
kerjasama tim; peran dan tanggung jawab meliputi pemahaman peran
sendiri, tanggung jawab dan keahlian, dan orang-orang dari jenis petugas
kesehatan lain; komunikasi meliputi pengekspresikan pendapat seseorang
kompeten untuk rekan, mendengarkan anggota tim; belajar dan refleksi
kritis meliputi cermin kritis pada hubungan sendiri dalam tim, mentransfer
IPE untuk pengaturan kerja; hubungan dengan pasien, dan mengakui
kebutuhan pasien meliputi bekerja sama dalam kepentingan terbaik dari
pasien, terlibat dengan pasien, keluarga mereka, penjaga dan masyarakat
sebagai mitra dalam manajemen perawatan; praktek etis meliputi
pemahaman pandangan stereotip dari petugas kesehatan lain yang dimiliki
oleh diri dan orang lain, mengakui bahwa setiap tenaga kesehatan
memiliki pandangan yang samasama sah dan penting. Proses IPE
membentuk proses komunikasi, tukar pikiran, proses belajar, sampai
kemudian menemukan sesuatu yang bermanfaat antar para pekerja profesi
kesehatan yang berbeda dalam rangka penyelesaian suatu masalah atau
untuk peningkatan kualitas kesehatan (Wahyuni, 2019).
II. Interprofessional collaboration (IPC)
A. Definisi interprofesional collaboration
The Canadian interprofessional health collaborative menyebutkan
interprofessional collaborative adalah kemitraan antara tim penyedia
layanan kesehatan dan klien dalam pendekatan kolaboratif dan
terkoordinasi partisipatif untuk pengambilan keputusan bersama seputar
masalah kesehatan dan sosial. Praktik interprofessional collaboration telah
didefinisikan sebagai proses yang mencakup komunikasi dan pengambilan
keputusan memungkinkan pengaruh sinergis dari pengetahuan dan
keterampilan yang dikelompokkan (Schot dkk, 2020).
Elemen praktik kolaboratif termasuk tanggung jawab, akuntabilitas,
koordinasi, komunikasi, kerjasama, otonomi, saling percaya dan saling
menghormati. Kemitraan inilah yang menciptakan tim interprofesional
yang dirancang untuk bekerja pada tujuan bersama untuk meningkatkan
hasil pasien. interaksi kolaboratif menunjukkan perpaduan budaya
profesional Dan tercapai meskipun berbagai keterampilan dan
pengetahuan untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien ada
karakteristik penting yang menentukan efektivitas tim, termasuk anggota
yang melihat peran mereka sebagai penting bagi tim komunikasi terbuka
keberadaan otonomi, dan kesetaraan sumber daya. penting untuk dicatat
bahwa kolaboratif interprofessional yang buruk dapat berdampak negatif
pada kualitas perawatan pasien. dengan demikian keterampilan dalam
bekerja sebagai tim interprofessional diperoleh melalui pendidikan
interprofessional, penting untuk perawatan berkualitas tinggi (Mukhtar
dkk, 2021).
Guna membentuk suatu team work atau kerjasama tim yang ideal
dibutuhkan kooperasi dan kolaborasi. Kooperasi (kerjasama) berarti
bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama (tetapi
bukan tujuan yang semestinya) Contoh kerjasama yaitu misalnya Anda
berkeluarga lalu cara bekerja sama dengan istri Anda dengan meletakkan
pakaian kotor di mesin cuci turut membantu mencuci piring dan
sebagainya.
Lalu apa makna kolaborasi? Kolaborasi dalam bahasa inggris
collaboration, berasal dari kata collaborate yang berarti bekerja antara satu
dengan yang lain, berkooperasi satu sama lain. Menurut kamus besar
bahasa indonesia online, kolaborasi adalah suatu perbuatan berupa
kerjasama dengan musuh, teman dan sebagainya. Menurut Arthur T.
Himmelman, kolaborasi berupa pertukaran informasi, berbagai segala
sumber pengetahuan untuk meningkatkan kapasitas satu dengan yang lain
demi tercapainya tujuan bersama.
Kolaborasi adalah kerjasama yang lebih terfokus pada tugas atau misi
biasa terjadi dalam bisnis, perusahaan atau organisasi lainnya. Misalnya,
untuk menampilkan suatu pentas seni yang luar biasa perlu kolaborasi
antara penari, penyanyi, pemusik, dsb. Kolaborasi adalah proses yang
membutuhkan hubungan dan interaksi antara profesional kesehatan
terlepas dari apakah atau tidak mereka menganggap diri mereka sebagai
bagian dari tim. (Kolaborasi kesehatan)
B. Tujuan IPC
Adapun tujuan Interprofessional collaboration (IPC) sebagai wadah dalam
upaya mewujudkan praktik kolaborasi yang efektif antar profesi sehingga
dengan adanya kolaborasi antar profesi di RS dapat mendukung kesehatan
dan keselamatan pasien (Schot dkk, 2020).
C. Manfaat Interprofessional Collaboration
World Health Organization (2010) menyajikan hasil penelitian di 42
negara tentang dampak dari penerapan praktek kolaborasi dalam dunia
kesehatan menunjukkan hasil bahwa praktek kolaborasi dapat
meningkatkan keterjangkauan serta koordinasi layanan kesehatan,
penggunaan sumber daya klinis spesifik yang sesuai, outcome kesehatan
bagi penyakit kronis, dan pelayanan serta keselamatan pasien. WHO
(2010) juga menjelaskan praktek kolaborasi dapat menurunkan komplikasi
yang 8 dialami pasien, jangka waktu rawat inap, ketegangan dan konflik di
antara pemberi layanan (caregivers), biaya rumah sakit, rata-rata clinical
error, dan rata-rata jumlah kematian pasien.
D. Kompetensi Interprofessional Collaboration
Wibowo (2020) menjabarkan kompetensi kolaborasi, yaitu:
1. Memahami peran, tanggung jawab dan kompetensi profesi lain
dengan jelas,
2. Bekerja dengan profesi lain untuk memecahkan konflik dalam
memutuskan perawatan dan pengobatan pasien,
3. Bekerja dengan profesi lain untuk mengkaji, merencanakan, dan
memantau perawatan pasien,
4. Menoleransi perbedaan, kesalahpahaman dan kekurangan profesi
lain.
5. Memfasilitasi pertemuan interprofessional, dan
6. Memasuki hubungan saling tergantung dengan profesi kesehatan
lain.
American College of Clinical Pharmacy (ACCP) (2009) membagi
kompetensi untuk IPE terdiri atas empat bagian yaitu pengetahuan,
keterampilan, orientasi tim, dan kemampuan tim. Pengaruh persepsi pada
interprofessional education Buku Acuan Umum CFHC-IPE (Tim CFHC-
IPE, 2014) menyatakan keefektifan komunikasi antar profesi dipengaruhi
oleh persepsi, lingkungan, dan pengetahuan. Persepsi yaitu suatu
pandangan pribadi atas hal- hal yang telah terjadi. Persepsi terbentuk
melalui apa yang diharapkan dan pengalaman. Perbedaan persepsi antar
profesi yang berinteraksi akan menimbulkan kendala dalam komunikasi
(Kurniasih, 2021).
E. Kolaborasi Dalam Tim Kesehatan
Prinsip Kolaborasi dalam Tim Kesehatan Yaitu (Wibowo, 2020):
1. Tujuan bersama
2. Pengakuan dan penghormatan terhadap kekuatan masing-masing
dan perbedaan
3. Pengambilan keputusan yang adil dan efektif
4. Fokus pada pasien
5. Komunikasi yang jelas dan teratur
Prinsip di atas dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Patien-centered Care
Mengutamakan kepentingan dan kebutuhan pasien
Pasien dan keluarga sebagai pemberian keputusan dalam
masalah kesehatannya
2. Mutual respect and trust
Saling percaya dengan memahami pembagian tugas dan
kompetensinya masing-masing.
Saling menghormati dan menghargai masing-masing profesi
3. Clear communication
Komunikasi efektif antara tenaga kesehatan
Rekam medis atau catatan lain yang ditulis dengan lengkap
4. Clarification of roles and scopes of practice
Memahami lingkup kerja dan tanggung jawab masing-
masing sebagai tenaga kesehatan
Lingkup pekerjaan dalam kolaborasi kesehatan dijelaskan
dalam job description dan kontrak pegawai
Psien juga dilibatkan untuk memahami peranannya dalam
mewujudkan kesehatan
5. Clarification of accountability and responsibility
Bertanggung jawab dengan perawatan terhadap pasien
yang ditanganinya
6. Liability protection for all member of the team
Setiap anggota tim kesehatan memiliki perlindungan atau
jaminan formal untuk mengakomodasi tugasnya
7. Sufficient human resources and infrastructure
Mengefektif kerja dari tim kolaborasi kesehatan. Untuk itu,
pemerintah membantu menambah jumlah tenaga
kesehatan
Mengaplikasikan teknologi untuk membantu kolaborasi
kesehatan
8. Sufficient payment and payment arragement
Tim kolaborasi tidak mendasari pekerjaannya sebatas upah
yang diterimanya
Pemerintah membantu secara finansial dan teknis dalam
mengembangkan kolaborasi
9. Supportive education system
Pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan efektivitas
kolaborasi kesehatan.
10. Research and evaluation
Evaluasi dengan melihat kenyatan lapangan dari kolaborasi
kesehatan memperbaiki standar kualitas yang ada
DAFTAR PUSTAKA
Kusumaningrum dkk, (2018). Interprofesional Education (IPE) Sebagai Upaya
Membangun Kemampuan Perawat Dalam Berkolaborasi Dengan
Tenaga Kesehatan Lain. JKMK Vol.1 No.1.
Krisdianto dkk, (2020). Analisa Manfaat Interprofesional Education Pada Pendidikan
Dan Praktek Keperawatan Jiwa. Nursing Science Journal Vol.1 No.2.
Wahyuni, (2019). Gambaran Persepsi Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Terhadap
Pelaksanaan Interprofesional Education (IPE) Di Komunitas. Skripsi.
Triana dkk, (2017). Penerapan Model Interprofesional Education (IPE) Pada Asuhan
Keperawatan Anak Dengan Malnutrisi Di Stikes Karya Husada Kediri
Dan Praktik Klinik Di Rs Amelia Pare Kediri. Article.
Tarnoto, (2018). Literatur Review : E-Learning Dan Aplikasinya Dalam Bidang
Pendidikan Keperawatan. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 2.
Schot dkk, (2020). Working On Working Together. A Systematic Review On How
Healthcare Profesionals Contribute To Interprofesional Collaboration.
Journal Of Interprofesional Care Vol.34 No.8.
Muhktar dkk, (2021). Literatur Review : Aplikasi Model Healt Care System Dalam
Interprofesional Collaboration. Pada Penanganan Gizi Buruk. Jurnal
Kesehatan Vol.2
Kurniasih Dkk, (2021). Interprofesional Collaboration Amd Burnout Nurses In
Hospital. Media Keperawatan Indonisia Vol.4 No.1.
Wibowo, (2020). High-Fidelity Simulation Dan Debbriefing Sebagai Model
Peningkatan Interprofesional Collaboration Dalam Pendidikan
Keperawatan. Journal Of Nursing Invention Vol.1 No.2