ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN
DIAGNOSA MEDIS RABIES
OLEH:
MAURA ANGELINA O.
VIENDYA FIRSTIYANTI
EVI MERDEKAWATI
MARIA NONA ARISCA ANDRIYANI
YULIANA LEPO
Fakultas Keperawatan
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit rabies biasanya dikenal dengan istilah awam penyakit anjing gila. Penyakit
inidapat menyerang beberapa mamalia seperti anjing, kucing, termasuk manusia. Virus
rabies berbentuk peluru dengan komposisi RNA, lipid, karbohidrat dan protein. Virus rabies
tergolongunik karena dapat berkembang pada berbagai macam spesies mamalia dan bersifat
neurofilik (saraf).Rabies dapat menular dari hewan ke hewan, dari manusia ke manusia dan
dari hewan kemanusia. Penularan dapat melalui gigitan dan non-gigitan (transplantasi,
kontak dengan bahanmengandung virus rabies pada kulit lecet atau mukosa). Binatang dan
manusia yang terinfeksirabies akan memberikan gejala yang cukup khas walaupun tetap
harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang dan dengan teliti menggali riwayat
gigitan atau kontak [Link] Indonesia rabies pada hewan sudah ditemukan sejak tahun
1884, dan kasus rabies pada manusia pertama kali ditemukan pada tahun 1894 di Jawa Barat.
Angka kematian yangtinggi ini disebabkan karena tidak adanya obat untuk rabies,
terlambatnya intervensi medismenyebabkan angka kematian yang tinggi, dan jarang
dilaksanakannya penanganan pertama lukagigitan anjing dengan mencuci luka dengan sabun
dan air mengalir. Selain itu rabies pada duasampai dua belas minggu pertama, bahkan bisa
sampai bertahun-tahun, hanya menunjukkangejala tidak khas seperti influenza biasa sehingga
pasien yang dibawa ke rumah sakit sudah jatuhke tahap penyakit yang lebih parah.. Pasien
biasanya meninggal dua sampai sepuluh hari setelahmenunjukkan gejala [Link]
saat ini tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit rabies. WHOmerekomendasikan
prosedur profilaksis pasca-terpapar (P.E.P., post-exposure prophylaxis)(setelah kontak
melalui gigitan maupun non-gigitan). Prosedur ini terdiri dari pembersihan dan perawatan
luka dan imunisasi aktif dengan vaksin (VAR). Rabies adalah penyakit yang dapat
sepenuhnya dicegah. Gejala pada hewan reservoir cukup khas sehingga hewan yang
terinfeksidapat dimusnahkan dan hewan yang beresiko pun dapat dicegah menjadi sakit
melalui vaksinasisecara rutin.
1.2 Rumusan Masalah
2. Apa yang dimaksud dengan penyakit rabies?
3. Apa saja klasifikasi dari penyakit rabies?
4. Apa etiologi dari penyakit rabies?
5. Bagaimana patofisiologi dari penyakit rabies?
6. Apa saja manifestasi klinis dari penyakit rabies?
7. Bagaimana epidemiologi dari penyakit rabies?
8. Bagaimana cara penanganan penyakit rabies?
9. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada peyakit rabies?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Untuk menjadikan salah-satu literatur bagi mahasiswa keperawatan dalam pembuatan
Asuhan Keperawatan pada pasien dengan rabies.
1.3.2 Tujuan khusus
2. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan penyakit rabies.
3. Untuk mengetahui klasifikasi penyakit rabies
4. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit rabies.
5. Untuk mengetahui patofisiologi dari penyakit rabies.
6. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari penyakit rabies.
7. Untuk mengetahui epidemiologi dari penyakit rabies.
8. Untuk mengetahui penanganan penyakit rabies.
9. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan dari peyakit rabies.
1.4 Manfaat
Sebagai bahan acuan dan pemahaman konsep mengenai konsep dasar teori dan konsep dasar
asuhan keperawatan pada pasien dengan rabies.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Rabies atau lebih sering dikenal dengan nama anjing gila merupakan suatu penyakit infeksi akut yang
menyerang susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies dan ditularkan dari gigitan hewan penular
rabies. Hewan yang rentan dengan virus rabies ini adalah hewan berdarah panas. Penyakit rabies secara almi
terdapat pada bangsa kucing, anjing, kelelawar, kera dan karnivora liar lainnya. Pada hewan yang menderita
rabies, virus ditemukan dengan jumlah yang banyak pada air liurnya. Virus ini ditularkan ke hewan lain atau
ke manusia terutama melalui luka gigitan. Oleh karena itu bangsa karnivora adalah hewan yang paling utama
sebagai penyebar rabies. Penyakit rabies merupakan penyakit Zoonosa yang sangat berbahaya dan ditakuti
karena bila telah menyerang manusia atau hewan akan selau berakhir dengan kematian.
2.2 Etiologi
Adapun penyebab dari rabies adalah :
a. Virus rabies
b. Gigitan hewan atau manusia yang terkena rabies.
c. Penyakit rabies terutama ditularkan melalui gigitan binatang. Kuman yang terdapat dalam air liur binatang
ini akan masuk ke aliran darah dan menginfeksi tubuh manusia.
d. Air liur hewan atau manusia yang terkena rabies. Walaupun jarang ditemukan, virus rabies ini dapat
ditularkan ketika air liur hewan yang terinfeksi mengenai selaput lendir seseorang seperti kelopak mata
atau mulut atau kontak melalui kulit yang terbuka.
2.3 Patofisiologi
Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies yang terdapat pada air liur hewan yang terinfeksi. Hewan ini
menularkan infeksi kepada hewan lainnya atau manusia melaui gigitan dan kadang melalui jilatan. Secara
patogenesis, setelah virus rabies masuk lewat gigitan, selama 2 minggu virus akan tetap tinggal pada tempat
masuk dan disekitrnya. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus rabies akan menghindari penghancuran oleh
sistem imunitas tubuh melalui pengikatannya pada sistem saraf. Setelah inokulasi, virus ini memasuki saraf
perifer. Masa inkubasi yang panjang menunjukkan jarak virus pada saraf perifer tersebut dengan sistem saraf
pusat. Amplifikasi terjadi hingga nukleokapsid yang kosong masuk ke myoneural junction
dan memasuki akson motorik dan sensorik. Pada tahap ini, terapi pencegahan sudah tidak berguna lagi dan
perjalanan penyakit menjadi fatal dengan mortalitas 100 %. Jika virus telah mencapai otak, maka ia akan
memperbanyak diri dan menyebar ke dalam semua bagian neuron, terutama mempunyai predileksi khusus
terhadap sel-sel sistem limbik, hipotalamus, dan batang otak. Setelah memperbanyak diri dalam neuron–
neuronsentral, virus kemudian bergerak ke perifer dalam serabut saraf eferen dan pada serabut saraf volunter
maupun otonom.
Dengan demikian, virus dapat menyerang hampir seluruh jaringan dan organ tubuh dan berkembang
biak dalam jaringan seperti kelenjar ludah. Khusus mengenai infeksi sistem limbik, sebagaimana diketahui
bahwa sistem limbik sangat berhubungan erat dengan fungsi pengontrolan sikap emosional. Akibat pengaruh
infeksi sel-sel dalam sistem limbik ini, pasien akan menggigit mangsanya tanpa adanya provokasi dari luar.
Infeksi rabies pada manusia boleh dikatakan hampir semuanya akibat gigitan hewan yang mengandung
virus dalam salivanya. Kulit yang utuh tidak dapat terinfeksi oleh rabies akan tetapi jilatan hewan yang
terinfeksi dapat berbahaya jika kulit tidak utuh atau terluka. Virus juga dapat masuk melalui selaput mukosa
yang utuh, misalnya selaput konjungtiva mata, mulut, anus, alat genitalia eksterna. Penularan melalui
makanan belum pernah dikonfirmasi sedangkan infeksi melalui inhalasi jarang ditemukan pada manusia.
Hanya ditemukan 3 kasus yang infeksi terjadi melalui inhalasi ini.
2.4 Manifestasi Klinis
Gejala penyakit pada hewan dikenal dalam 3 bentuk :
a. Bentuk ganas (Furious Rabies).
Masa eksitasi panjang, kebanyakan akan mati dalam 2-5 hari setelah tanda-tanda terlihat. Tanda-tanda
yang sering terlihat :
Hewan menjadi penakut atau menjadi galak.
Senang bersembunyi di tempat-tempat yang dingin, gelap dan menyendiri tetapi dapat menjadi
agresif.
Tidak menurut perintah majikannya.
Nafsu makan hilang.
Air liur meleleh tak terkendali.
Hewan akan menyerang benda yang ada disekitarnya dan memakan barang,benda-benda asing
seperti batu, kayu dan sebagainya.
Menyerang dan menggigit barabg bergerak apa saja yang dijumpai.
Kejang-kejang disusul dengan kelumpuhan.
Ekor diantara 2 (dua) paha.
b. Bentuk diam (Dumb Rabies)
Masa eksitasi pendek, paralisa cepat terjadi. Tanda-tanda yang sering terlihat :
Bersembunyi di tempat yang gelap dan sejuk.
Kejang-kejang berlangsung sangat singkat, bahkan sering tidak terlihat.
Lumpuh, tidak dapat menelan, mulut terbuka.
Air liur keluar terus menerus (berlebihan).
Mati.
c. Bentuk Asystomatis
Hewan tidak menunjukan gejala sakit.
Hewan tiba-tiba mati.
Pada Manusia
Ketika seseorang pertama kali digigit oleh hewan yang terinfeksi rabies, gejalanya dapat terlihat pada otot
rangka. Masa inkubasi rata-rata pada manusia sekitar 3–8 minggu, lebih lama daripada masa inkubasi
pada hewan. Sangat jarang tapi pernah ditemukan masa inkubasi selama 19 tahun. Pada 90 % kasus,
masa inkubasinya kurang dari 1 tahun. Ada pula yang menyebutkan bahwa masa inkubasinya adalah 60
hari untuk gigitan yang terdapat di kaki. Gigitan pada wajah hanya membutuhkan waktu sekitar 30 hari.
Hal ini disebabkan karena lokasi inokulasi yang makin dekat dengan otak, makin pendek masa latennya.
Pada masa inkubasi ini, virus rabies menghindari sistem imun dan tidak ditemukan adanya respon
antibodi. Saat ini,pasien dapat tidak menunjukkan gejala apa–apa (asimptomatik). Pada stadium
prodromal, virus mulai memasuki sistem saraf pusat. Stadium prodromal berlangsung 2–10 hari dan
gejala tak spesifik mulai muncul berupa sakit kepala, lemah, anoreksia, demam, rasa takut, cemas, nyeri
otot, insomnia, mual, muntah, dan nyeri perut. Parestesia atau nyeri pada lokasi inokulasi merupakan
tanda patognomonik pada rabies dan terjadi pada 50 % kasus pada stadium ini, dan tanda ini mungkin
menjadi satu-satunya tanda awal. Setelah melewati stadium prodromal, maka dimulailah stadium
kelainan neurologi yang berlangsung sekitar 2–7 hari. Pada stadium ini, sudah terjadi
perkembanganpenyakit pada otak dan gejalanya dapat berupa :
a. Bentuk spastik (furious rabies): peka terhadap rangsangan ringan, kontraksi otot farings dan esofagus,
kejang, aerofobia, kaku kuduk, delirium, semikoma, danhidrofobia. Yang sangat terkenal adalah
hidrofobia di mana bila pasien diberikan segelas air minum, pasien akan menerimanya karena ia sangat
haus, dan mencoba meminumnya. Akan tetapi kehendak ini dihalangi oleh spasme hebat otot-otot faring.
Dengan demikian, ia menjadi takut dengan air sehingga mendengar suara percikan air kran atau bahkan
mendengar perkataan air saja,sudah menyebabkan kontraksi hebat otot-otot tenggorok. Spasme otot-otot
faring maupun pernapasan dapat pula ditimbulkan oleh rangsangan sensorik seperti meniupkan udara ke
wajah pasien atau menyinari matanya. Pasien akan meninggal dalam 3–5 hari setelah mengalami gejala-
gejala ini.
b. Bentuk demensia. Kepekaan terhadap rangsangan bertambah, gila mendadak, dapat melakukan
tindakan kekerasan, koma, mati.
c. Bentuk paralitik (dumb rabies): Pada bentuk ini pasien tampak lebih diam daripada tipe furious. Gejala
yang dapat muncul pada bentuk ini adalah demam dan rigiditas. Paralisis yang terjadi bersifat simetrik
dan mungkin menyeluruh atau bersifat ascending sehingga dapat dikelirukan dengan Guillain-Barre
Syndrome. Sistem sensoris biasanya masih normal.
Gejala Rabies Pada Manusia:
a. Diawali dengan demam ringan atau sedang, sakit kepala, nafsu makan menurun, badan terasa lemah,
mual, muntah dan perasaan yang abnormal pada daerah sekitar gigitan (rasa panas, nyeri berdenyut)
b. Rasa takut yang sangat pada air, dan peka terhadap cahaya, udara, dan suara
c. Air liur dan air mata keluar berlebihan
d. Pupil mata membesar
e. Bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak kesakitanf. Selanjutnya ditandai dengan kejang-
kejang lalu lumpuh dan akhirnya meninggaldunia.
2.5 Pemeriksaan Penunjang
a. Elektroensefalogram (EEG) : dipakai unutk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.
b. CT Scan: menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dari biasanya untuk mendeteksi perbedaan
kerapatan jaringan.
c. Magneti resonance imaging ( MRI ) : menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapangan magnetik
dan gelombang radio, berguna untuk memperlihatkan daerah–daerah otak yang tidak jelas terlihat bila
menggunakan pemindaian CT
d. Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan
membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolic atau aliran darah dalam otak.
Uji laboratorium:
1) Pungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler
2) Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit
3) Panel elektrolit
4) Skrining toksik dari serum dan urin
5) GDA
a) Glukosa Darah: Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200mq/dl)
b) BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro toksik akibat dari
pemberian obat.
c) Elektrolit : K, Na
d) Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang
e) Kalium ( N 3,80–5,00 meq/dl )
f) Natrium ( N 135–144 meq/dl
2.6 Penatalaksanaan
Prinsip penanganan rabies adalah dengan menghilangkan virus bebas dari tubuh dengan pembersihan dan
netralisasi, yang diikuti dengan penginduksian sistem imun spesifik terhadap virus rabies pada orang yang
terpajan sebelum virusnya bereplikasi disusunan saraf pusat. Hal ini membutuhkan vaksinasi aktif maupun
pasif. Pada vaksinasipasif, imunoglobulin rabies dari orang yang telah divaksinasi sebelumnya (Human
Rabies Immune Globulin), diberikan kepada pasien yang belum memiliki imunitas samasekali. Sehingga
dalam hal ini vaksinasi pasif disebut pula serum anti [Link] vaksinasi aktif rabies atau vaksin anti
rabies terbagi atas:
a. Nerve Tissue derived Vaccines (NTV) yang diproduksi dari jaringan otak hewan yang terinfeksi. NTV
dapat menyebabkan reaksi neurologi berat karena adanya jaringan bermyelin pada vaksin. Akan
tetapi, NTV , masih tetap banyak digunakan sebagai pencegahan rabies.
b. Human Diploid Cell Vaccine (HDCV) yang dikultur dalam fibroblast manusia. Merupakan jenis vaksin
rabies yang paling optimal saat ini. Di Amerika Serikat, pencegahan setelah terkena gigitan adalah sebagai
berikut :
1 dosis Human Rabies Immune Globulin (HRIG) dan 5 dosis vaksin anti rabies dalam periode 28 hari.
HRIG harus diberikan segera setelah tergigit/terpajan dalam 24 jampertama. HRIG hendaknya tidak
diinjeksikan pada tempat yang sama dengan vaksin. Setelah itu, 5 dosis vaksin anti rabies harus diberikan
pada hari 0, 3, 7, 14, dan 28dengan dosis 1 ml tiap [Link] di Indonesia sendiri, penanganan penderita
yang tergigit anjing atau hewan tersangka dan positif rabies adalah sebagai berikut :
a. Luka gigitan1. Dicuci dengan air sabun (detergen) 5–10 menit kemudian dibilas dengan air bersih.
a) Alkohol 40-70 %
b) Berikan yodium atau senyawa amonium kuartener 0,1 %
c) Penyuntikan SAR secara infiltrasi di sekitar luka. Menunda penjahitan luka, jika penjahitan
diperlukan gunakan anti serum lokal.
d) Dapat diberikan Toxoid Tetanus, antibiotik, anti inflamasi, dan analgesik.
b. Kontak, tetapi tanpa lesi, kontak tak langsung, tak ada kontak
c. Menjilat kulit, garukan atau abrasi kulit, gigitan kecil (daerah tertutup), lengan,badan, & tungkai. Beri
VAR1) Hari 0 : 2 x suntikan IM2) Hari 7 : 1 x suntikan IM3) Hari 21 : 1 x suntikan IM Imovax / Verorab 0,5
ml deltoid kiri dan 0,5 ml dikanan
d. Menjilat mukosa, luka gigitan besar/dalam, luka di kepala, leher, jari tangan, dankaki. Serum Anti Rabies
(SAR)
1) ½ dosis disuntikkan infiltrasi di sekitar luka
2) ½ dosis sisa disuntikkan IM regio glutea.
3) Vaksin Anti Rabies (VAR)
4) sesuai poin 3 Imovag rabies
5) 20 IU/kgBB
6) Imovax atau Verorab
7) Hari 90 : 0,5 ml IM di deltoid kanan/kiri
e. Kasus gigitan ulang1) < 1 tahun2) > 1 tahun Berikan VAR hari 0
a) Beri SAR + VAR secara lengkap Imovax, Verorab
b) Imovax, Verorab, Imogan Rabies - 0,5 ml IM deltoid. Umur < 3 tahun 0,1ml IC flexor lengan bawah
c) Umur > 3 tahun 0,25 ml IC flexor lengan bawah.
d) Sesuai poin 1,3,4
f. Bila ada reaksi penyuntikan : lokal, kemerahan, gatal, & bengkak Beriantihistamin sistemik atau lokal.
Jangan beri kortikosteroid.
g. Bila timbul efek samping pemberian VAR berupa meningoensefalitis, berikankortikosteroid dosis tinggi.
2.7 Komplikasi
Berbagai komplikasi dapat terjadi pada penderita rabies dan biasanya timbul pada fase koma. Komplikasi
Neurologik dapat berupa peningkatan tekanan intra cranial:kelainan pada hypothalamus berupa diabetes
insipidus, sindrom abnormalitas hormoneanti diuretic (SAHAD); disfungsi otonomik yang menyebabkan
hipertensi, hipotensi, hipertermia, hipotermia, aritmia dan henti jantung. Kejang dapat local maupun
generalisata, dan sering bersamaan dengan aritmia dan gangguan respirasi. Pada stadium pradromal sering
terjadi komplikasi hiperventilasi dan depresi pernapasan terjadi pada fase neurolgik. Hipotensi terjadi karena
gagal jantung kongestif, dehidrasidan gangguan saraf otonomik.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Status Pernafasan
- Peningkatan tingkat pernapasan
- Takikardi
- Suhu umumnya meningkat (37,9º C)
- Menggigil
b. Status Nutrisi
- kesulitan dalam menelan makanan
- berapa berat badan pasien
- mual dan muntah
- porsi makanan dihabiskan
- status gizi
d. Status Neurosensori
Adanya tanda-tanda inflamasi
e. Keamanan
- Kejang
- Kelemahane. Integritas Ego
- Klien merasa cemas
- Klien kurang paham tentang penyakitnyaf.
Pengkajian Fisik Neurologik :
1. Tanda-tanda vital
- Suhu
- Pernapasan
- Denyut jantung
- Tekanan darah
- Tekanan nadi
2. Hasil pemeriksaan kepala
- Fontanel : menonjol, rata, cekung
- Bentuk Umum Kepala
3. Reaksi pupil
- Ukuran
- Reaksi terhadap cahaya
- Kesamaan respon
4. Tingkat kesadaran
- Kewaspadaan : respon terhadap panggilan
- Iritabilitas
- Letargi dan rasa mengantuk
- Orientasi terhadap diri sendiri dan orang lain
5. Aktivitas kejang
- Jenis
- Lamanya
6. Fungsi sensoris
- Reaksi terhadap nyeri
- Reaksi terhadap suhu
7. Refleks
- Refleks tendo superficial
- Reflek patologi
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pola nafas berhubungan dengan afiksia
b. Gangguan pola nutrisi berhubungan dengan penurunan refleks menelan
c. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolism
d. Cemas (keluarga) berhubungan kurang terpajan informasi
e. Resiko cedera berhubungan dengan kejang dan kelemahan
f. Resiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka