0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan121 halaman

Sistem Kendali Panel ATS AMF PLC SCADA

Tugas akhir ini membahas rancang bangun sistem kendali panel ATS AMF berbasis PLC dan SCADA untuk mengontrol transfer sumber daya listrik secara otomatis antara PLN dan genset. Sistem ini dapat dikendalikan secara manual maupun otomatis melalui jaringan Ethernet dari master room menggunakan SCADA. Komponen utama sistem ini adalah genset, PLC, dan SCADA beserta komponen pendukungnya seperti box panel, MCB, power supply DC

Diunggah oleh

Luthfi Sekar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan121 halaman

Sistem Kendali Panel ATS AMF PLC SCADA

Tugas akhir ini membahas rancang bangun sistem kendali panel ATS AMF berbasis PLC dan SCADA untuk mengontrol transfer sumber daya listrik secara otomatis antara PLN dan genset. Sistem ini dapat dikendalikan secara manual maupun otomatis melalui jaringan Ethernet dari master room menggunakan SCADA. Komponen utama sistem ini adalah genset, PLC, dan SCADA beserta komponen pendukungnya seperti box panel, MCB, power supply DC

Diunggah oleh

Luthfi Sekar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI

PANEL ATS AMF BERBASIS PLC DAN SCADA

Disusun oleh :
DESI AJI PRASASTI NIM. [Link].10

HARUM KARIM AM RULLAH NIM. [Link].12

[Link] CAHYA PRATAMA NIM. [Link].15

RIFQI FAKHRURROZY ANWAR NIM. [Link].22

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK LISTRIK

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

2020
RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI
PANEL ATS AMF BERBASIS PLC DAN SCADA

Tugas akhir ini disusun untuk melengkapi sebagian persyaratan


menjadi Ahli Madya

Disusun oleh :
DESI AJI PRASASTI NIM. [Link].10

HARUM KARIM AM RULLAH NIM. [Link].12

[Link] CAHYA PRATAMA NIM. [Link].15

RIFQI FAKHRURROZY ANWAR NIM. [Link].22

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK LISTRIK

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

2020

i
HALAMAN PERSETUJUAN

Tugas Akhir dengan judul “Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF
Berbasis PLC dan Scada” dibuat untuk melengkapi sebagian persyaratan
menjadi Ahli Madya pada Program Studi D3 Teknik Listrik, Jurusan Teknik
Elektro Politeknik Negeri Semarang dan disetujui untuk diajukan dlam siding
tugas akhir.

Semarang, 12 April 2020

Pembimbing I Pembimbing II

Lilik Eko Nuryanto, B. Eng., [Link] Drs. Hery Purnomo,


[Link]
NIP. 196204061991031002 NIP. 195705141986031012

Mengetahui,
Ketua Program Studi

Adi Wasono, [Link], [Link]


NIP 196401221991031002

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Tugas Akhir dengan judul “Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF
Berbasis PLC dan Scada”. Telah dipertahankan dalam ujian wawancara dan
diterima sebagai syarat untuk menjadi Ahli Madya pada Program Studi D3 Teknik
Listrik, Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Semarang pada tanggal …..

Tim Penguji
Penguji I, Penguji II, Penguji III,

Nama Nama Nama


NIP NIP NIP

Ketua Penguji, Sekretaris Penguji,

Nama Nama
NIP NIP

Mengesahkan
Ketua Jurusan Teknik Elektro

Yusnan Badruzzaman, S.T., [Link].


NIP. 197503132006041001

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang
berjudul “Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC
dan Scada”. Terselesaikannya laporan ini sebagai bukti telah menyelesaikan
Tugas Akhir di Politeknik Negeri Semarang.

Laporan Tugas Akhir ini dapat tersusun dengan baik berkat bimbingan dan
kerjasama dari pihak-pihak yang telah membantu dan memberi pengarahan untuk
menyelesaikan laporan ini.

Pada kesempatan ini penulis berterimakasih kepada :


1. Bapak [Link] selaku Direktur Politeknik Negeri Semarang.
2. Bapak Yusnan Badruzzaman, S.T, [Link] selaku Kepala Jurusan Teknik
Elektro Politeknik Negeri Semarang.
3. Bapak Adi Wasono, [Link]., [Link] selaku Kepala Program Studi Teknik Listrik
Politeknik Negeri Semarang.
4. Bapak Lilik Eko Nuryano, [Link]., [Link] selaku dosen pembimbing utama
yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan
Tugas Akhir.
5. Bapak Drs. Hery Purnomo, [Link] selaku dosen pembimbing pendamping yang
telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan Tugas
Akhir.
6. Bapak Lilik Eko Nuryano, [Link]., [Link] selaku dosen wali penulis.
7. Seluruh dosen dan staff pegawai Jurusan Teknik Elektro, khususnya Program
Studi Teknik Listrik Politeknik Negeri Semarang.
8. Orang Tua penulis yang telah mendorong dan memberi semangat, serta
dukungan moril maupun materiil.
9. Segenap teman-teman mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, khususnya kelas
LT- 3A yang selama kurang lebih 3 tahun telah saling memberi semangat dan

iv
saling membantu selama menuntut ilmu bersama di Politeknik Negeri
Semarang.
10. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu karena telah
membantu sehingga laporan ini dapat selesai sebaik-baiknya.

Semarang, 12 April 2020

Penulis

v
ABSTRAK

Sistem kerja panel ATS dan AMF yang sering kita temukan adalah kombinasi
untuk pertukaran sumber baik dari genset ke PLN maupun sebaliknya, bilamana
suatu saat sumber listrik dari PLN tiba-tiba padam. Tugas akhir ini yang berjudul
“Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada”
dapat dikendalikan secara menual maupun otomatis. Dalam pengoperasiannya,
kendali dapat dikontrol melalui master room dengan menggunakan Ethernet.
Omron CPIW – CIF41 Ethernet Option Board akan mengirimkan ataupun
menerima data dari maupun ke master room sesuai perintah yang diberikan. Dan
kendali tersebut dioperasikan melalui Scada yang terdapat pada komputer pada
master room.

Kata Kunci: ATS AMF, PLC, Scada, Ethernet.

vi
ABSTRACT

The ATS and AMF panel work systems that we often find are a combination for
exchanging sources from both the generator to the PLN and vice versa, if one day
the electricity source from PLN suddenly goes out. This final project entitled
"Design and Build a PLC and Scada ATS AMF Panel Control System" can be
controlled manually or automatically. In operation, control can be controlled
through the master room using Ethernet. Omron CPIW - CIF41 Ethernet Option
Board will send or receive data from or to the master room according to the
instructions given. And the control is operated via Scada which is on the
computer in the master room.

Keywords: ATS AMF, PLC, Scada, Ethernet.

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN..............................................................................ii
ABSTRAK..............................................................................................................vi
ABSTRACT.............................................................................................................vii
DAFTAR ISI........................................................................................................viii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................xi
DAFTAR TABEL..................................................................................................xv
DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................................xvi
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................2
1.3 Pembatasan Masalah..........................................................................2
1.4 Tujuan Penulisan................................................................................2
1.5 Metode Penulisan...............................................................................3
1.6 Sistematika Penulisan........................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................5
2.1 Automatic Transfer Swicth dan Automatic Main Failure..................5
2.2 Prinsip Kerja Sistem ATS AMF........................................................5
2.3 Sistem Catu Daya ATS AMF.............................................................6
2.4 Komponen Utama Sistem ATS AMF................................................6
2.4.1 Genset.................................................................................................6
[Link] Pengertian Genset..............................................................................6
[Link] Bagian – Bagaian pada Genset...........................................................7
2.4.2 PLC (Programmable Logic Controller)..........................................13
2.4.3 SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition).....................17
2.4 Komponen Tambahan Sistem ATS AMF........................................23
2.4.1 Box Panel.........................................................................................23
2.4.2 MCB (Miniature Circuit Breaker)...................................................24
2.4.3 Power Supply DC.............................................................................29
2.4.4 Kabel................................................................................................29
2.4.5 Rel Omega........................................................................................33

viii
2.4.6 Kabel Duct.......................................................................................33
2.4.7 Skun Kabel.......................................................................................34
2.4.8 Relay dan Socket..............................................................................36
2.4.9 Sensor...............................................................................................36
2.4.10 UPS (Uninterruptible Power Supply ).............................................37
2.5 Bagian Utama Panel ATS AMF.......................................................37
2.6 Kelebihan Panel ATS AMF.............................................................38
BAB III PERANCANGAN SISTEM ATS AMF..................................................40
3.1 Cara Kerja Sistem ATS AMF Berbasis PLC dan Scada..................40
3.2 Diagram Blok Sistem ATS AMF.....................................................41
3.3 Data beban yang akan Dipakai.........................................................41
3.4 Pemilihan Komponen dan Alat........................................................42
3.4.1 Box Panel.........................................................................................42
3.4.2 PLC Omron CP1E-NA20DR-A.......................................................44
3.4.3 Relai OMRON MY2........................................................................45
3.4.4 MCB LS 2A 1P................................................................................46
3.4.5 MCB LS 20A 1P..............................................................................47
3.4.6 MCB Broco 16A 1P.........................................................................47
3.4.7 Power supply 3 A 24 V DC.............................................................48
3.4.8 Rangkaian Pengukuran Tegangan....................................................49
3.4.9 Rangkaian Pengukuran Arus............................................................50
3.4.10 NTC 20K OHM...............................................................................50
3.4.11 Arduino Uno Atmega328.................................................................51
3.4.12 Sensor SCT-013-000........................................................................52
3.4.13 Adaptor DC 9V 1A..........................................................................53
3.4.14 Relai 5V...........................................................................................54
3.4.15 UPS Ersys 600VA............................................................................54
3.4.16 Trafo 500 mA...................................................................................55
3.4.17 Kipas DC 24V..................................................................................56
3.4.18 Omron CP1W – CIF41 Ethernet Option Board...............................57
3.4.19 Kabel Ethernet Cat 5e......................................................................58
3.4.20 Stopkontak EWIG Modular Socket AC30-5 16A............................59

ix
3.4.21 TP-Link TL-SF1005D 5 Port Dekstop Switch [10/100Mbps].........60
3.5 Perancangan Program dan Sistem Kontrol Listrik...........................61
3.5.1 Perancangan Pengawatan.................................................................61
3.5.2 Perancangan Sistem Pengukuran.....................................................61
3.5.3 Perancangan Konstruksi...................................................................64
3.5.4 Pemrograman PLC...........................................................................69
3.5.5 Perancangan Scada............................................................................78
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN........................................................96
4.1 Pengoperasin Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada................96
4.1.1 Pengoperasian Secara Manual.........................................................96
4.1.2 Pengoperasian Secara Otomatis.......................................................96
4.2 Diagram Alir....................................................................................96
4.3 Pengujian..........................................................................................96
4.3.1 Langkah Pengujian Sistem...............................................................96
4.3.2 Hasil Pengujian Sistem....................................................................96
4.3.3 Hasil Pengukuran.............................................................................96
BAB V PENUTUP.................................................................................................97
5.1 Penutup.............................................................................................97
5.2 Saran.................................................................................................97
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................98
LAMPIRAN...........................................................................................................99

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Genset


Gambar 2.2 Sistem Pelumasan Genset
Gambar 2.3 Sistem Bahan Bakar
Gambar 2.4 Sistem Pendinginan
Gambar 2.5 Sistem Konstruksi Generator Set
Gambar 2.6 PLC
Gambar 2.7 Jalur Koordinasi PLC
Gambar 2.8 Input dan output device PLC
Gambar 2.9 Contoh Sistem SCADA
Gambar 2.10 Konfigurasi elemen penting dalam sistem SCADA
Gambar 2.11 Box Panel
Gambar 2.12 MCB
Gambar 2.13 Bagian – bagian MCB
Gambar 2.14 Power supply DC
Gambar 2.15 Kabel NYA
Gambar 2.16 Kabel NYAF
Gambar 2.17 Rel Omega
Gambar 2.18 Kabel Duct
Gambar 2.19 Skun Kabel
Gambar 2.20 Relay dan Socket
Gambar 2.21 UPS
Gambar 3.1 Diagram Blok
Gambar 3.2 Panel Daya PLN
Gambar 3.3 Panel Daya Genset
Gambar 3.4 Panel Kontrol
Gambar 3.5 PLC Omron CP1E-NA20DR-A
Gambar 3.6 Relay Omron MY2
Gambar 3.7 MCB LS 2A 1P
Gambar 3.8 MCB LS 20A 1P

xi
Gambar 3.9 MCB Broco 16A 1P
Gambar 3.10 Power supply 3A 24 V DC
Gambar 3.11 Rangkaian Pengukuran Tegangan
Gambar 3.12 Rangkaian Pengukuran Arus
Gambar 3.13 NTC 20K ohm
Gambar 3.14 Arduino Uno Atmega328
Gambar 3.15 Sensor SCT 013-000
Gambar 3.16 Adaptor DC 9V 1A
Gambar 3.17 Relai 5A
Gambar 3.18 UPS Ersys 600VA
Gambar 3.19 Trafo 500Ma
Gambar 3.20 Kipas DC 24V
Gambar 3.21 Omron CP1W – CIF41 Ethernet Option Board
Gambar 3.22 Kabel Ethernet Cat 5e
Gambar 3.23 Stop kontak EWIG modular socket AC30-5 16 A
Gambar 3.24 TP-Link TL-SF1005D 5 Port Dekstop Switch [10/100Mbps]
Gambar 3.25 Rangkaian Pengukur Tegangan
Gambar 3.26 Rangkaian SCT-013-000
Gambar 3.27 PWM Low Pass Filter
Gambar 3.28 Rangkaian Pengaman Suhu
Gambar 3.29 Panel Pandangan Depan Bagian Luar
Gambar 3.30 Panel Pandangan Atas/Bawah
Gambar 3.31 Panel Pandangan Depan Bagian Dalam
Gambar 3.32 Panel Pandangan Samping Bagian Dalam
Gambar 3.33 Panel Pandangan Samping
Gambar 3.34 Bagian-Bagian Panel Kontrol
Gambar 3.35 Desain Tata Letak Box Panel dan Genset
Gambar 3.36 Ikon CX Programmer
Gambar 3.37 Memuat CX Programmer
Gambar 3.38 New Project CX Programmer
Gambar 3.39 Pengaturan PLC
Gambar 3.40 Selesai mengatur PLC

xii
Gambar 3.41 Kontak dan instruksi CX Programmer
Gambar 3.42 Pembuatan section baru
Gambar 3.43 Section baru
Gambar 3.44 Pengaturan RS232
Gambar 3.45 Pengaturan Analog I/O
Gambar 3.46 Compile bar
Gambar 3.47 Simulasi online program
Gambar 3.48 Work online program
Gambar 3.49 Mode work online
Gambar 3.50 Transfer to PLC
Gambar 3.51 Download Option
Gambar 3.52 Ikon CX Supervisor
Gambar 3.53 New Project CX Supervisor
Gambar 3.54 New Device CX Supervisor
Gambar 3.55 Penambahan device
Gambar 3.56 Pengaturan PLC
Gambar 3.57 Pengaturan Ethernet
Gambar 3.58 Pengaturan Network Ethernet
Gambar 3.59 Pengaturan Driver Ethernet
Gambar 3.60 Selesai menambahkan device
Gambar 3.61 Pengaturan background
Gambar 3.62 Pembuatan gambar
Gambar 3.63 Selesai mendesain gambar
Gambar 3.64 Pemberian alamat
Gambar 3.65 Penambahan point baru
Gambar 3.66 Pengaturan point baru
Gambar 3.67 Pengaturan PLC
Gambar 3.68 Pembuatan halaman baru
Gambar 3.69 Menyimpan halaman baru
Gambar 3.70 Pengaturan halaman baru
Gambar 3.71 Mendesain halaman baru
Gambar 3.72 Pembuatan tombol login

xiii
Gambar 3.73 Pembuatan animasi
Gambar 3.74 Pengaturan animasi
Gambar 3.75 Penambahan grafis
Gambar 3.76 Penambahan New Library
Gambar 3.77 Menambahkan gambar
Gambar 3.78 Memilih gambar
Gambar 3.79 Selesai memilih gambar
Gambar 3.80 Toolbar CX Supervisor
Gambar 3.81 Build project
Gambar 3.82 Proses build project selesai
Gambar 3.83 Pemilihan opsi Change Adapter Options
Gambar 3.84 Pemilihan Network Connection
Gambar 3.85 Pemilihan Opsi Properties
Gambar 3.86 Pemilihan internet protocol version 4 (TCP/IP4)
Gambar 3.87 Pengaturan alamat IP
Gambar 3.88 Etnernet telah terhubung

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Spesifikasi PLC Omron CP1E-NA20DR-A


Tabel 3.2 Spesifikasi Relai Omron MY2
Tabel 3.3 Spesifikasi MCB LS 2A 1P
Tabel 3.4 Spesifikasi MCB LS 20A 1P
Tabel 3.5 Spesifikasi MCB Broco 16A 1P
Tabel 3.6 Spesifikasi Power supply 3A 24V DC
Tabel 3.7 Daftar Komponen Rangkaian Pengukuran Tegangan
Tabel 3.8 Daftar Komponen Rangkaian Pengukuran Arus
Tabel 3.9 Spesifikasi NTC 20k ohm
Tabel 3.10 Spesifikasi Arduino Uno
Tabel 3.11 Spesifikasi Sensor SCT 013-000
Tabel 3.12 Spesifikasi Adaptor DC 9V 1A
Tabel 3.13 Spesifikasi Relai 5V
Tabel 3.14 Spesifikasi UPS Ersys 600VA
Tabel 3.15 Spesifikasi Trafo 500Ma
Tabel 3.16 Spesifikasi Kipas DC 24V
Tabel 3.17 Spesifikasi Omron CP1W – CIF41 Ethernet Option Board
Tabel 3.18 Spesifikasi Kabel Ethernet Cat 5e
Tabel 3.19 Spesifikasi Stopkontak EWIG modular socket AC30-5 16A
Tabel 3.20 Spesifikasi TP-Link TL-SF1005D 5 Port Dekstop Switch
Tabel 3.21 Alamat I/O PLC

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Rangkaian Kontrol Sistem Panel ATS AMF


Lampiran 2 Program PLC Sistem ATS AMF
Lampiran 3 Manual Book CP1E – NA20DR-A
Lampiran 4 Datasheet CP1W – CIF41 Ethernet Option Board
Lampiran 5 Program Arduino Sistem Pengukuran
Lampiran 6 Katalog - Katalog

xvi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan kemajuan teknologi dibidang ketenagalistrikan, maka


kesinambungan suplai daya listrik sangatlah di [Link] daya utama
yang berasal dari PLN tidak selamanya kontinu, suatu saat pasti terjadi
pemadaman yang dapat disebabkan oleh gangguan pada sistem pembangkit,
sistem transmisi dan sistem distribusi.

Pemadaman listrik dapat mengakibatkan terganggunya kontinuitas pelayanan terutama


pada aktifitas pelayanan pada sektor-sektor perdagangan, perhotelan, perbankan, rumah
sakit, pusat pendidikan, maupun industri dalam menjalankan produksinya bahkan sampai
pada rumah tinggal.

Di bengkel prodi teknik listrik Politeknik Negeri Semarang, dimana memiliki banyak
peralatan penting yang rentan terjadi kerusakan dan agar tidak terganggunya saat
penelitian maupun praktikum [Link] sangat membutuhkan suplai listrik
yang [Link] terputusnya layanan daya listrik, maka dibutuhkan pembangkit
listrik darurat (emergency) seperti genset sebagai back-up suplai atau sumber energi
terbarukan lainnya ketika suplai dari PLN tidak tersedia, dengan tujuan untuk melayani
kebutuhan daya listrik secara kontinu pada sisi beban. Akan tetapi suplai daya listrik dari
genset membutuhkan waktu yang cukup lama karena memerlukan operator dalam
pengoperasiannya. Sedangkan kebutuhan daya listrik pada beberapa tempat harus terus
berkesinambungan terutama objek-objek ruang pengontrolan, terutama pada saat
pengujian alat di Lab yang dimana back-up daya diharuskan tersedia secepatnya ketika
suplai dari PLN tidak tersedia/mengalami gangguan.

Berdasarkan uraian diatas, agar tidak terjadi pemadaman yang cukup lama dan
suplai daya listrik dari generator set (genset) atau photovoltaic (PV) tersedia
secara cepat maka dibutuhkan suatu sistem kontrol yang dapat bekerja secara
otomatis mengoperasikan genset dan mengambil alih suplai daya listrik ke beban
saat terjadi pemadaman dari PLN. Kontrol otomatis tersebut yaitu Automatic
Transfer Switch (ATS) / Automatic Main Failure (AMF) atau sistem interlock
PLN – Genset/PV.

1
Karena alasan tersebut, maka tugas akhir ini mengambil judul “RANCANG
BANGUN SISTEM KEDALI PANEL ATS AMF BERBASIS PLC DAN
SCADA”.
1.2 Rumusan Masalah

Dalam pembuatan tugas akhir ini untuk menjaga agar topik masalah tidak keluar
dari permasalahan, kami hanya membatasi hal-hal sebagai berikut :

1. Bagaimana merancang sistem kendali untuk panel ATS


AMF berbasis PLC ?
2. Bagaimana cara memprogram PLC untuk sistem kendali
panel ATS AMF ?
3. Bagaimana cara menentukan komponen yang tepat dalam
perakitan sistem kendali panel ATS AMF berbasis PLC?

1.3 Pembatasan Masalah

Dalam laporan ini, penulis memberikan batasan masalah supaya tujuan yang
diharapkan dapat memberikan hasil yang maksimal, diantaranya :

1. Membahas mengenai Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan
Scada.
2. Membahas prinsip kerja dan komponen yang digunakan pada Sistem Kendali
Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada.
3. Membahas mengenai perancangan Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis
PLC dan Scada.
4. Membahas mengenai cara pengoperasian Sistem Kendali Panel ATS AMF
Berbasis PLC dan Scada.

1.4 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan laporan Tugas Akhir adalah sebagai berikut:

1. Memenuhi salah satu syarat kelulusan DIII Politeknik Negeri Semarang


Jurusan Teknik Elektro, Program Studi Teknik Listrik
2. Mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari dan diperoleh selama menempuh
pendidikan pada Program Studi Teknik Listrik Jurusan Teknik Elektro

2
Politeknik Negeri Semarang
3. Dapat merancang sistem kendali panel ATS AMF berbasis PLC.
4. Dapat memprogram PLC untuk sistem kendali panel ATS AMF.
5. Mampu menentukan komponen – komponen yang tepat dalam perakitan
sistem kendali panel ATS AMF berbasis PLC.

1.5 Metode Penulisan


Dalam menyusun Tugas Akhir dipergunakan metode, antara lain :
1. Metode Observasi
Metode observasi adalah pengamatan langsung menggunakan alat indera
atau alat bantu untuk penginderaan suatu objek atau subjek. Observasi yang
dilakukan bertujuan untuk memahami prinsip kerja Panel AT AMF.
2. Metode Studi Pustaka
Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data yang diarahkan kepada
pencarian data dan informasi, yang didapat melalui laporan-laporan Tugas
Akhir Politeknik Negeri Semarang tahun-tahun sebelumnya yang
berhubungan dengan Panel ATS AMF di perpustakaan pusat Politeknik
Negeri Semarang.
3. Metode Wawancara
Metode ini digunakan untuk memperoleh data dan informasi yang jelas,
lengkap dan akurat dari dosen pembimbing dan owner PT.

1.6 Sistematika Penulisan


Penulisan laporan ini terbagi dalam lima bab yang disusun sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Berisi latar belakang, rumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan, manfaat,


metode penulisan, dan sistematika penulisan Tugas Akhir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Menguraikan konsep dan prinsip dasar yang diperlukan untuk memecahkan


masalah dalam Tugas Akhir berkaitan dengan sistem kerja Panel ATS AMF dan
penggunaan komponen penunjangnya.

3
BAB III PERANCANGAN PANEL ATS AMF

Menguraikan tahapan penyelesaian permasalahan Tugas Akhir yang dimulai dari


tahapan perancangan fisik dan pemilihan komponen, pembuatan alat secara fisik
maupun non-fisik dan pengukuran alat serta hasil unjuk kerja dari alat yang
dibuat.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Membahas hasil dari penelitian atau hasil unjuk kerja rancang bangun Panel ATS
AMF, dengan analisis dan pembahasanya yang berupa data secara kualitatif
maupun kuantitatif.

BAB V KESIMPULAN

Membahas tentang pernyataan tepat dan singkat mengenai hasil analisis dan
pembahasan rancang bangun Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Automatic Transfer Swicth dan Automatic Main Failure


ATS adalah singkatan dari Automatic Transfer Switch, yaitu proses pemindahan
penyulang dari penyulang/sumber listrik yang satu ke sumber listrik yang lain
secara bergantian sesuai perintah pemrograman, ATS adalah pengembangan dari
COS (Change Over Switch), beda keduanya adalah terletak pada sistem kerjanya,
untuk ATS kendali kerja dilakukan secara otomatis, sedangkan COS dikendalikan
atau dioperasikan secara manual.
AMF adalah singkatan dalam dari Automatic Main Failure yang maksudnya
menjelaskan cara kerja otomatisasi terhadap sistem terhadap sistem kelistrikan
cadangan apabila terjadi gangguan pada sumber/penyulang listrik utama (Main),
istilah ini secara umum sering dijabarkan sebagai sistem kendali start dan stop
genset, baik itu diesel generator, genset gas maupun turbin.

2.2 Prinsip Kerja Sistem ATS AMF

Sistem kerja panel ATS dan AMF yang sering kita temukan adalah kombinasi
untuk pertukaran sumber baik dari genset ke PLN maupun sebaliknya, bilamana
suatu saat sumber listrik dari PLN tiba-tiba padam, maka AMF bertugas untuk
menjalankan diesel genset sekaligus memberikan proteksi terhadap sistem genset,
baik proteksi terhadap unit mesin/engine yang berupa pengamanan terhadap

5
gangguan rendahnya tekanan minyak pelumas (Low Oil Pressure) maupun
kondisi temperatur mesin serta media pendinginannya, dan juga memberikan
perlindungan terhadap unit generatornya baik berupa pengamanan terhadap beban
pemakaian yang berlebih maupun perlindungan terhadap karakter listrik lain
seperti tegangan maupun frekuensi genset, apabila parameter yang diamankan
melebihi batasan normal/setting maka tugas ATS adalah melepas hubungan arus
listrik ke beban sedangkan AMF bertugas untuk memberhentikan kerja mesin.
Apabila generator yang dijalankan beroperasi dengan baik, berikutnya ATS
bertugas memindahkan sambungan dari sebelumnya yang tersambung dengan
PLN dipindahkan secara otomatis ke sisi generator sehingga aliran listrik bisa
tersambung ke sisi pengguna.

Apabila kemudian PLN kembali normal, selanjutnya ATS bertugas untuk


mengembalikan jalurnya dengan memindahkan switch kembali ke sisi utama dan
untuk kemudian disusul dengan tugas AMF untuk memberhentikan kerja mesin
diesel tersebut, demikian seterusnya semua sistem kontrol dikendalikan secara
otomatis berjalan dengan sendirinya.

2.3 Sistem Catu Daya ATS AMF


Dalam perancangan Sistem ATS AMF ini menggunakan 2 catu daya, yaitu
1. PLN sebagai catu daya utama
2. Genset sebagai catu daya cadangan ketika kehilangan suplai dari PLN.

2.4 Komponen Utama Sistem ATS AMF


Dalam pembuatan Panel ATS AMF, terdapat komponen utama yang
digunakan sebagai berikut :
2.4.1 Genset
[Link] Pengertian Genset
Genset atau kepanjangan dari generator set adalah sebuah perangkat yang
berfungsi menghasilkan daya listrik. Disebut sebagai generator set dengan
pengertian adalah satu set peralatan gabungan dari dua perangkat berbeda yaitu
engine dan generator atau alternator.
Genset atau sistem generator penyaluran juga dapat dikatakan suatu generator

6
listrik yang terdiri dari panel, berdaya solar dan terdapat kincir angin yang
ditempatkan pada suatu [Link] dapat digunakan pada penggunaannya
biasanya sebagai sistem cadangan listrik atau "off-grid" (sumber daya yang
tergantung atas kebutuhan pemakai). Genset biasanya digunakan oleh sebuah
perusahan, rumah sakit, pertokoan dan industri yang mempercayakannya sebagai
sumber daya cadangan yang mampu memenuhi daya sementara saat terjadi
pemadaman listrik PLN, serta genset juga dapat membantu dalam pensuplaian
daya listrik pada beban yang tidak terjangkau oleh PLN seperti halnya area
pedesaan yang tidak ada akses komersial menghasilkan listrik.

Gambar 2.1 Genset

[Link] Bagian – Bagaian pada Genset

Dalam pengoperasiannya, suatu instalasi genset memerlukan sistem pendukung


agar dapat bekerja dengan baik dan tanpa mengalami gangguan. Secara umum,
sistem – sistem pendukung tersebut dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
1. Sistem Pelumasan

Untuk mengurangi getaran antara bagian – bagian yang bergerak dan untuk
membuang panas, maka semua bearing dan dinding dalam dari tabung – tabung
silinder diberi minyak pelumas.
 Cara Kerja Sistem Pelumasan

Minyak tersebut dihisap dari bak minyak 1 oleh pompa minyak 2 dan disalurkan
dengan tekanan ke saluran – saluran pembagi setelah terlebih dahulu melewati
sistem pendingin dan saringan minyak pelumas. Dari saluran – saluran pembagi

7
ini, minyak pelumas tersebut disalurkan sampai pada tempat kedudukan bearing –
bearing dari poros engkol, poros jungkat dan ayunan – ayunan. Saluran yang lain
memberi minyak pelumas kepada sprayer atau nozzle penyemprot yang
menyemprotkannya ke dinding dalam dari piston sebagai pendingin.

Minyak pelumas yang memercik dari bearing utama dan bearing ujung besar
(bearing putar) melumasi dinding dalam dari tabung – tabung silinder. Minyak
pelumas yang mengalir dari tempat – tempat pelumasan kemudian kembali ke
dalam bak minyak lagi melalui saluran kembali dan kemudian dihisap oleh
pompa minyak untuk disalurkan kembali dan begitu seterusnya.

Gambar 2.2 Sistem Pelumasan Genset


( Sumber : [Link], Sistem Pelumasan Genset )

Bagian – bagian Sistem Pelumasan Genset :


1. Bak minyak
2. Pompa pelumas
3. Pompa minyak pendingin
4. Pipa hisap
5. Pendingin minyak pelumas
6. Bypass-untuk pendingin
7. Saringan minyak pelumas
8. Katup by-pass untuk saringan
9. Pipa pembagi
10. Bearing poros engkol (lager duduk)
11. Bearing ujung besar (lager putar)
12. Bearing poros – bubungan

8
13. Sprayer atau nozzle penyemprot untuk pendinginan piston
14. Piston
15. Pengetuk tangkai
16. Tangkai penolak
17. Ayunan
18. Pemadat udara ( sistem turbin gas )
19. Pipa ke pipa penyemprot
20. Saluran pengembalian

2. Sistem Bahan Bakar

Mesin dapat berputar karena sekali tiap dua putaran disemprotkan bahan bakar ke
dalam ruang silinder, sesaat sebelum piston mencapai titik mati atasnya. Untuk itu
oleh pompa penyemprot bahan bakar 1 ditekankan sejumlah bahan bakar yang
sebelumnya telah dibersihkan oleh saringan bahan bakar 5 pada alat pemasok
bahan bakar atau injektor 7 yang terpasang di kepala silinder. Karena melewati
injektor tersebut maka bahan bakar masuk ke dalam ruang silinder dalam keadaan
terbagi dengan bagian – bagian yang sangat kecil (biasa juga disebut dengan
proses pengkabutan). Di dalam udara yang panas akibat pemadatan itu bahan
bakar yang sudah dalam keadaan bintik – bintik halus (kabut) tersebut segera
terbakar. Pompa bahan bakar 2 mengantar bahan bakar dari tangki garian 8 ke
pompa penyemprot bahan bakar. Bahan bakar yang kelebihan yang keluar dari
injektor dan pompa penyemprot dikembalikan kepada tangki garian melalui pipa
pengembalian bahan bakar.

9
Gambar 2.3 Sistem Bahan Bakar
( Sumber : [Link], Sistem Bahan Bakar)

Bagian – bagian Sistem Bahan Bakar :


1. Pompa penyemperot bahan bakar
2. Pompa bahan bakar
3. Pompa tangan untuk bahan bakar
4. Saringan bahar/bakar penyarinnan pendahuluan
5. Saringan bahan bakar/penyaringan akhir
6. Penutup bahan bakar otomatis
7. Injektor
8. Tanki
9. Pipa pengembalian bahan bakar
10. Pipa bahan bakar tekanan tinggi
11. Pipa peluap

3. Sistem Pendinginan

Hanya sebagian dari energi yang terkandung dalam bahan bakar yang diberikan
pada mesin dapat diubah menjadi tenaga mekanik sedang sebagian lagi tersisa
sebagai panas. Panas yang tersisa tersebut akan diserap oleh bahan pendingin
yang ada pada dinding – dinding bagian tabung silinder yang membentuk ruang
pembakaran, demikian pula bagian – bagian dari kepala silinder didinginkan
dengan air. Sedangkan untuk piston didinginkan dengan minyak pelumas dan
panas yang diserap oleh minyak pendingin itu kemudia disalurkan melewati alat
pendingin minyak, dimana panas tersebut diserap oleh bahan pendingin. Pada
mesin diesel dengan pemadat udara tekanan tinggi, udara yang telah dipadatkan
oleh turbo charger tersebut kemudian didinginkan oleh air di dalam pendingin
udara (intercooler). Pendinginan sirkulasi dengan radiator bersirip dan kipas
(pendinginan dengan sirkulasi).
 Cara Kerja Sistem Pendingin

10
Pompa – pompa air 1 dan 2 memompa air ke bagian – bagian mesin yang
memerlukan pendinginan dan ke alat pendingin udara (intercooler) 3. Dari situ air
pendingin kemudian melewati radiator dan kembali kepada pompa – pompa 1 dan
2. Di dalam radiator terjadi pemindahan panas dari air pendingin ke udara yang
melewati celah – celah radiator oleh dorongan kipas angin. Pada saat genset baru
dijalankan dan suhu dari bahan pendingin masih terlalu rendah, maka oleh
thermostat 5, air pendingin tersebut dipaksa melalui jalan potong atau by-pass 6
kembali ke pompa. Dengan demikian maka air akan lebih cepat mencapai suhu
yang diperlukan untuk oeprasi. Bila suhu tersebut telah tercapai maka air
pendingin akan melalui jalan sirkulasi yang sebenarnya secara otomatis.

Gambar 2.4 Sistem pendinginan


( Sumber : [Link], Sistem Pelumasan Genset )

Bagian – bagian Sistem pendinginan :


1. Pompa air untuk pendingin mesin
2. Pompa air untuk pendinginan intercooler
3. Inter cooler (Alat pendingin udara yang telah dipanaskan)
4. Radiator
5. Thermostat
6. Bypass (jalan potong)
7. Saluran pengembalian lewat radiator
8. Kipas.

11
Susunan Konstruksi Pada Generator

Gambar 2.5 Sistem Konstruksi Generator Set


( Sumber : [Link], Sistem Konstruksi Generator Set)

Bagian – bagian Sistem Konstruksi Generator Set :


1. Stator
2. Rotor
3. Exciter Rotor
4. Exciter Stator
5. N.D.E. Bracket

12
6. Cover N.D.E
7. Bearing ‘O’ Ring N.D.E
8. Bearing N.D.E
9. Bearing Circlip N.D.E
10. [Link] Engine Adaptor
11. [Link]
12. Coupling Disc
13. Coupling Bolt
14. Foot
15. Frame Cover Bottom
16. Frame Cover Top
17. Air Inlert Cover
18. Terminal Box Lid
19. Endpanel D.E
20. Endpanel N.D.E
21. AVR
22. Side Panel
23. AVR Mounting Bracket
24. Main Rectifier Assembly – Forward
25. Main Rectifier Assembly – Reverse
26. Varistor
27. Dioda Forward Polarity
28. Dioda Reverse Polarity
29. Lifting Lug D.E
30. Lifting Lug N.D.E
31. Frame to Endbracket Adaptor Ring
32. Main Terminal Panel
33. Terminal Link
34. Edging Strip
35. Fan
36. Foot Mounting Spacer
37. Cap Screw

13
38. AVR Access Cover
39. AVR Anti Vibration Mounting Assembly
40. Auxiliary Terminal Assembly

2.4.2 PLC (Programmable Logic Controller)

Defenisi PLC sesuai oleh National Electrical Manufactural Association (NEMA)


pada tahun 1979 adalah “Peralatan elektronika yang beroperasi secara digital,
yang menggunakan programable memori untuk menyimpan internal bagi intruksi-
intruksi fungsi spesifik seperti logika, sekuenting, timing, counting dan aritmatika
untuk mengendalikan secara digital atau analog input atau output, berbagai tipe
mesin dan proses’’.

PLC adalah kependekan dari Programmable Logic Controller yang merupakan


hasil dari tuntutan kebutuhan akan kontroler yang murah, yang dapat digunakan
untuk segala kondisi dan mudah dalam pengoperasiannya. PLC ini merupakan
sistem kontrol yang berdasarkan Central Processing Unit (CPU) yang
menggunakan perangkat keras dan memori untuk mengendalikan proses. Kontrol
jenis ini didesain untuk menggantikan hardware relay dan timer logic. PLC
menyediakan kemudahan pengendalian berdasarkan pemrograman dan
pelaksanaan instruksi logic yang [Link] mempunyai fungsi internal
seperti timer, counter dan shift register sehingga kontrol yang rumit dapat
diwujudkan dengan sesederhana mungkin.

Gambar 2.6 PLC

14
 Sistem Koordinasi PLC

Gambar 2.7 Jalur Koordinasi PLC


CPU mengeksekusi pengkodean intruksi dari memori, menghasilkan sinyal/data
kendali yang diteransfer ke I/O (input-output) atau ke memori. Programing
Device (PD) adalah perangkat untuk membuat, mengedit, atau debuging program
PLC, menggunakan PC dengan adapter communication PLC. Programing
Memori (PM) berfungsi menyimpan intruksi, program dan data program PLC,
berupa RAM , EPROM ataupun EEPROM. Modul input/output (I/O) adalah
parameter input dan output dari peralatan yang dikontrol. Modul ini berupa I/O
discrete dan special I/O.

 PLC Input/Output Devices

Gambar 2.8 Input dan output device PLC

PLC memiliki input device yang disebut sensor, output device serta controller.

15
Peralatan yang dihubungkan pada PLC yang berfungsi mengirim sebuah sinyal ke
PLC disebut input device. Sinyal input masuk pada PLC disebut input poin. Input
poin ini ditempatkan dalam lokasi memori sesuai dengan statusnya on atau off.
Secara umum, cara kerja sistem yang dikendalikan PLC cukup sederhana.
1. PLC mendapatkan sinyal dari input device
2. Akibatnya PLC mengerjakan logika program yang ada di dalamnya PLC
memberikan sinyal output device.

Dari penjelasan di atas, didapatkan definisi sebagai berikut:


 PLC Input device: benda fisik yang memicu eksekusi logika/program pada
PLC.
Contoh: saklar (switch/toggle switch, push button) dan sensor.

 PLC Output device: benda fisik yang diaktifkan oleh PLC sebagai hasil
eksekusi program. Contoh ialah motor DC, motor AC, solenoid, relay dan
lain-lain.
Pada input device yang menjadi sensor adalah push button dengan masukan arus.
Sinyal yang diterima atau dihasilkan oleh peralatan berupa sinyal “discrete”
ataupun “analog”. Discrete input device menghasilkan sinyal 0 dan 1, sedang
analog input device menghasilkan sinyal dengan range tertentu (0, 1, 2, 3, 4,…..).
demikian juga discreteoutput device diaktifkan sinya 0 dan 1, sedang analog
output device dapat diaktifkan oleh sinyal dengan range tertentu (0, 1, 2, 3, 4,….).

 Model Pemrograman

Menurut Setiawan (2006), berkaitan dengan pemrograman PLC, ada lima model
atau metode yang distandarnisasi penggunaannya oleh IEC (International
Electrical Commission) 61131-3, yaitu:
1. Instruction List (Daftar Instruksi)

Pemrograman dengan menggunakan instruksiinstruksibahasa level rendah


(mnemonic), seperti LD/STR, NOT, AND, dan sebagainya.
2. Ladder Digram (Diagram Tangga)

16
Pemrograman berbasis logika relay, cocok digunakan untuk persolan-
persoalan kontrol diskrit yang kondisi input outputnya hanya memiliki dua
kondisi yaitu ON dan OFF, seperti pada sistem control konveyor, lift, dan
motor-motor industri.
3. Function Block Diagram (Diagram Blok Fungsional)

Pemrograman berbasis aliran data secara grafis. Banyak digunakan untuk


tujuan kontrol proses yang melibatkan perhitungan-perhitungan kompleks dan
akuisisi data analog.
4. Sequential Function Charts (Diagram Fungsi Sekuensial)

Metode grafis untuk pemrograman terstruktur yang banyak melibatkan


langkah-langkah rumit, seperti pada bidang robotika, perakitan kendaraan,
batch control, dan sebagainya.
5. Structured Text (Teks Terstruktur) – Pemrograman ini menggunakan
statemenstatemen yang umum dijumpai pada bahasa level tinggi (high level
programming) seperti If/Then, Do/While, Case, For/Next, dan sebagainya.
Dalam aplikasinya, model ini cocok digunakan untuk perhitungan-perhitungan
matematis yang kompleks, pemrosesan tabel dan data, serta fungsi-fungsi
kontrol yang memerlukan algoritma khusus.

Walaupun hampir semua vendor PLC telah mendukung kelima model


pemrograman tersebut, tetapi secara de facto sampai saat ini yang sangat luas
penggunaannya terutama di industri adalah Ladder Diagram. Alasan utamanya
adalah karena diagram ini mirip dengan diagram kontrol elektromekanis yang
sebelumnya sudah banyak digunakan di industri.

2.4.3 SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition)


Sistem SCADA adalah sistem yang dapat melakukan pengawasan,
pengendalian, dan akuisisi data terhadap sebuah plant. Semua aplikasi yang
mendapatkan data- data suatu sistem di lapangan dengan tujuan untuk
pengendalian sistem merupakan sebuah aplikasi SCADA. Sistem SCADA
mempunyai empat buah tingkatan, sebagai berikut :

17
1. Instrumen dan perangkat kendali, berupa sensor atau aktuator yang
langsungberhubungan dengan berbagai macam alat pada sistem yang
dikendalikan.
2. Remote Terminal Unit (RTU), sebuah unit yang dilengkapi dengan
sistemmandiri seperti sebuah komputer, yang ditempatkan pada lokasi dan
tempat-tempat tertentu di lapangan. RTU bertindak sebagai pengumpul data
lokal yang mendapatkan datanya dari sensor-sensor dan mengirimkan perintah
langsung ke peralatan di lapangan.
3. Sistem komunikasi, merupakan medium yang menghubungkan unit master
SCADA dengan RTU di lapangan.
4. Master station, merupakan komputer yang digunakan sebagai pengolah
pusatdari sistem SCADA. Unit master ini menyediakan HMI (Human
Machine Iterface) bagi pengguna, dan secara otomatis mengatur sistem sesuai
dengan masukan-masukan (dari sensor) yang diterima.

Fungsi khusus dari Sistem SCADA adalah :


a. Telecontrol
Berfungsi melakukan perintah Remote Control (Open / Close) terhadap
peralatan yang berada dilapangan.
b. Telesignaling
Berfungsi mengumpulkan data status dan alarm (Open, Close, power
Supplyfault, indikasi relay atau parameter lainnya) yang dianggap perlu, yang
dapat membantu operator dalam memonitor peralatan yang berada di
lapangan. Dengan ini diharapkan gangguan pada bagian tertentu dapat
dideteksi lebih cepat karena pemantauan dari pusat kontrol dan diketahui
dalam waktu yang real time.
c. Telemetering
Berfungsi mengukur beban yang terpasang pada alat ukur tenaga listrik (Arus,
Tegangan, Daya Aktif, Frekuensi dll) dan semua peralatan yang berada di
lapangan. Hasil pemantauan ini, selain digunakan sebagai pencatat data
pengoperasian alat juga dapat digunakan dalam kaitannya untuk melakukan

18
Remote Control.

Dalam kenyataannya SCADA banyak digunakan untuk mengendalikan :


a. Transmisi dan distribusi listrik
SCADA yang digunakan untuk mendeteksi besaranya arus dan tegangan,
pemantauan operasi circuit breaker, dan untuk mematikan menghidupkan the
power grid.
b. Penampungan dan distribusi air
SCADA digunakan untuk pemantauan dan pengaturan laju aliran air, tinggi
reservoir, tekanan pipa dan berbagai macam faktor lainnya.
c. Bangunan, fasilitas dan lingkungan
Manajer fasilitas menggunakan SCADA untuk mengendalikan HVAC, unit-
unit pendingin, penerangan, dan sistem keamanan.
d. Produksi
Sistem SCADA mengatur inventory komponen-komponen, mengatur otomasi
alat atau robot, memantau proses dan kendali kualitas.
e. Transportasi KA listrik
SCADA digunakan untuk pemantauan dan pengendalian distribusi listrik,
automasi sinyal traffic KA, melacak dan menemukan lokasi KA,
mengendalikan palang KA dan lain sebagainya.
f. Lampu lalu-lintas
SCADA digunakan untuk memantau lampu lalu-lintas, mengendalikan laju
trafik, dan mendeteksi sinyal-sinyal yang salah. Sistem SCADA
mengumpulkan informasi, misalnya posisi terjadinya kebocoran pipa,
mengirimkan informasi ke kantor pusat, menampilkan analisa dan
pengontrolan yang diperlukan pada suatu kejadian, dan menampilkan
informasi dalam bentuk logical dan tampilan yang teratur.
Proses, sistem, mesin yang akan dipantau dan dikendalikan melalui sebuah
jaringan peralatan ‘cerdas’ dengan antar muka ke sistem melalui sensor dan
luaran kontrol. Dengan jaringan ini, sistem SCADA membolehkan kita
untuk melakukan pemantauan dan pengontrolan komponen-komponen
sistem tersebut. Pemantauan dan pengendalian secara real-time

19
menggunakan SCADA meningkatkan efisiensi dan memaksimalkan
keuntungan. Contoh sistem SCADA ditunjukkan oleh Gambar berikut.

Gambar 2.9 Contoh Sistem SCADA

 Prinsip Kerja SCADA


SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) atau Master Terminal
Unit (MTU) adalah kendali yang dilakukan di atas kendali lokal atau
Remote Terminal Unit (RTU). Sistem SCADA digunakan sebagai alat
pengatur pada kerja peralatan-peralatan dalam suatu sistem secara langsung
(real time) dari jarak jauh. SCADA mengumpulkan data yang diperoleh dari
RTU (remote terminal unit) pada MTU (master terminal unit) dan
mengeksekusi perintah terhadap sistem yang sedang berjalan tersebut.
Dilihat dari karakteristik sistem kontrolnya, sistem SCADA terbagi menjadi
dua, yaitu open loop (komunikasi jarak jauh) dan closed loop (komunikasi
jarak dekat). Perbedaan diantara keduanya hanyalah alat komunikasi yang
digunakan, dimana pada sistem kontrol open loop, sistem SCADA
menggunakan jaringan WAN (wireless area network) dengan dilengkapi
sistem radio (pengirim dan penerima sinyal) untuk ribuan I/O dan
pengontrolan bisa dilakukan dengan jarak ribuan kilometer. Untuk closed
loop, sistemnya mirip dengan DCS (Distributed Control System), dimana
sistem ini merupakan sistem atau unit pengumpul dan kontrol data yang
biasanya ditempatkan pada area terbatas dan sistem komunikasi yang
digunakan oleh DCS berupa LAN (Local Area Network).
Sistem SCADA sangat bergantung dari jumlah RTU dalam hal

20
mengumpulkan data dan mengirimkan data tersebut kembali ke pusat
menggunakan sistem komunikasi pada pusat utama. Ketepatan dan efisiensi
waktu dapat memungkinkan proses dan pengoperasian di industri menjadi
optimal. hal lainnya yang dapat diperoleh adalah efisiensi pekerjaan data
yang realible dan yang paling penting adalah pengoperasiannya dapat
dilakukan dengan aman. RTU menyediakan informasi secara otomatis
dengan menggunakan sensor analog atau digital pada setiap jaringan
pengontrolan.

 Komponen SCADA
Sebuah sistem SCADA memiliki 4 (empat) fungsi, yaitu : akuisisi data,
komunikasi data jaringan, penyajian data, kontrol (proses). Fungsi-fungsi
tersebut didukung sepenuhnya melalui 4 (empat) komponen SCADA, yaitu
:
1. Sensor (baik yang analog maupun digital) dan relay kontrol yang langsung
berhubungan dengan berbagai macam aktuator pada sistem yang dikontrol.
2. RTU (Remote Telemetry Units). Merupakan unit-unit komputer kecil (mini),
maksudnya sebuah unit yang dilengkapi dengan sistem mandiri seperti sebuah
komputer, yang ditempatkan pada lokasi dan tempat-tempat tertentu di
lapangan. RTU bertindak sebagai pengumpul data lokal yang mendapatkan
datanya dari sensor dan mengirimkan perintah langsung ke peralatan di
lapangan.
3. Unit master SCADA (Master Terminal Unit - MTU). Merupakan komputer
yang digunakan sebagai pengolah pusat dari sistem [Link] master ini
menyediakan HMI (Human Machine Iterface) bagi pengguna, dan secara
otomatis mengatur sistem sesuai dengan masukan-masukan (dari sensor) yang
diterima.
4. Jaringan komunikasi, merupakan medium yang menghubungkan unit master
SCADA dengan RTU-RTU di lapangan. Jaringan komunikasi dalam SCADA
ditunjukkan oleh gambar berikut.

21
Gambar 2.10 Konfigurasi elemen penting dalam sistem SCADA

 Fungsi SCADA
Sistem SCADA mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :
1. Akuisisi Data
Pada kenyataannya, kita membutuhkan pemantauan yang jauh lebih banyak
dan kompleks untuk pengukuran terhadap masukan dan beberapa sensor
digunakan untuk pengukuran terhadap keluaran (tekanan, massa jenis,
idensitas dan lain sebagainya). Beberapa sensor bisa melakukan pengukuran
kejadian secara sederhana yang bisa dideteksi menggunakan saklar
ON/OFF, masukan seperti ini disebut sebagai masukan diskrit atau
masukan digital. Misalnya untuk mengetahui apakah sebuah alat sudah
bekerja (ON) atau belum (OFF), konveyornya sudah jalan (ON) atau belum
(OFF), mesinnya sudah mengaduk (ON) atau belum (OFF), dan lain
sebagainya.
Beberapa sensor yang lain bisa melakukan pengukuran secara kompleks,
dimana angka atau nilai tertentu itu sangat penting, masukan seperti ini
disebut masukan analog, biasa digunakan untuk mendeteksi perubahan
secara continue, misalnya : tegangan, arus, idensitas cairan, suhu, dan lain
sebagainya. Untuk kebanyakan nilai-nilai analog, ada batasan tertentu yang
didefinisikan sebelumnya, baik batas atas maupun batas bawah. Misalnya,
Anda ingin mempertahankan suhu antara 30 dan 35 derajat Celcius, jika
suhu ada di bawah atau diatas batasan tersebut, maka akan memicu alarm

22
(baik lampu dan/atau bunyinya).

2. Komunikasi Data
Pada awalnya, SCADA melakukan komunikasi data melalui radio, modem
atau jalur kabel serial khusus. Saat ini data-data SCADA dapat disalurkan
melalui jaringan Ethernet atau TCP/IP. Untuk alasan keamanan, jaringan
komputer untuk SCADA adalah jaringan komputer lokal (LAN – Local
Area Network) tanpa harus mengekspos data-data penting di internet.
Komunikasi SCADA diatur melalui suatu protokol, jika zaman dahulu
digunakan protokol khusus yang sesuai dengan produsen SCADA-nya,
sekarang sudah ada beberapa standar protokol yang ditetapkan, sehingga
tidak perlu khawatir masalah ketidak cocokan komunikasi lagi.
Karena kebanyakan sensor dan relay kontrol hanyalah peralatan listrik
yang sederhana, alat-alat tersebut tidak bisa menghasilkan atau
menerjemahkan protokol komunikasi. Dengan demikian dibutuhkan RTU
yang menjembatani antara sensor dan jaringan SCADA. RTU mengubah
masukan-masukan sensor ke format protokol yang bersangkutan dan
mengirimkan ke master SCADA, selain itu RTU juga menerima perintah
dalam format protokol dan memberikan sinyal listrik yang sesuai ke relai
kontrol yang bersangkutan.

3. Penyajian Data Sistem

SCADA melakukan pelaporan status berbagai macam sensor (baik analog


maupun digital) melalui sebuah komputer khusus yang sudah dibuatkan
HMI-nya (Human Machine Interface) atau HCI-nya (Human Computer
Interface). Akses ke kontrol panel ini bisa dilakukan secara lokal maupun
melalui website. Bahkan saat ini sudah tersedia panel-panel kontrol yang
touch screen.

 Sistem Pemograman SCADA


Proses pemrograman SCADA adalah dengan menggunakan software dan
salah satu software SCADA yang terdapat dipasaran adalah CX Designer.

23
Software ini dapat melakukan pemantauan alamat bit-bit pada PLC, selain
itu CX Designer dapat digunakan sebagai simulator yang dikombinasikan
dengan CX Programmer untuk menguji kerja program PLC sebelum
ditransfer ke dalam PLC.

2.4 Komponen Tambahan Sistem ATS AMF


Berikut adalah komponen tambahan atau komponen pendukung dalam
Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada.
2.4.1 Box Panel
Box panel digunakan untuk penempatkan semua peralatan listrik yang akan
digunakan, Ada beberapa box panel sudah tercantumkan proteksi
terterhadap debu dan air (IP) yang terdapat dalam tulisan kami sebelumnya
yang berjudul KODE IP (International Protection), proteksi kekuatan
mekanik (IK) dan sertifikasinya.
 Jenis – Jenis Box Panel Berdasarkan Kegunaannya

1.  Penghubung

Panel berfungsi untuk menghubungkan antara satu rangkaian listrik dengan


rangkaian listrik lainnya pada suatu operasi kerja. Panel menghubungkan
suplay tenaga listrik dari panel utama sampai ke beban-beban baik instalasi
penerangan maupun instalasi tenaga.
2. PengamanSuatu panel akan bekerja secara otomatis melepas sumber atau
suplay tenaga listrik apabila terjadi gangguan pada rangkaian. Komponen
yang berfungsi sebagai pengaman pada panel listrik ini adalah MCCB dan
MCB.
3. Pembagi
Panel membagi kelompok beban baik pada instalasi penerangan maupun pada
instalasi tenaga. Panel dapat memisahkan atau membagi suplay tenaga listrik
berdasarkan jumlah beban dan banyak ruangan yang merupakan  pusat
beban.  Pembagian  tersebut  dibagi   menjadi   beberapa.
4. Penyuplai
Panel menyuplai tenaga listrik dari sumber ke beban. Panel sebagai penyuplai,
dan mendistribusikan tenaga listrik dari panel utama, panel cabang sampai ke

24
pusat beban baik untuk instalasi penerangan maupun instalasi tenaga.
5. Pengontrol
Fungsi panel sebagai pengontrol merupakan fungsi paling utama, karena dari
panel tersebut masing-masing rangkaian beban dapat dikontrol. Seluruh beban
pada bangunan baik instalasi penerangan maupun instalasi tenaga dapat
dikontrol dari satu tempat.

Gambar 2.11 Box Panel

2.4.2 MCB (Miniature Circuit Breaker)

MCB (Miniature Circuit Breaker) adalah komponen dalam instalasi listrik rumah
yang mempunyai peran sangat penting. Komponen ini berfungsi sebagai sistem
proteksi dalam instalasi listrik bila terjadi beban lebih dan hubung singkat arus
listrik (short circuit atau korsleting). Kegagalan fungsi dari MCB ini berpotensi
menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti timbulnya percikan api karena
hubung singkat yang akhirnya bisa menimbulkan kebakaran.

Pada instalasi listrik rumah, MCB terpasang di kWh meter listrik PLN dan juga di
MCB Box. Jadi sebenarnya kita “kenal baik” dengan komponen ini, setidaknya
tahulah bentuk dan dimana lokasinya. Tentunya karena setiap terjadi listrik di
rumah “anjlok” disebabkan kelebihan pemakaian daya listrik atau korsleting,
maka yang pasti dicari untuk menyalakan listrik PLN adalah MCB yang ada di
kWh meter atau MCB Box.

25
Gambar 2.12 MCB

 Fungsi MCB

Dari simbol tersebut, terlihat MCB mempunyai tiga macam fungsi yaitu :
a. Pemutus Arus

MCB ini mempunyai fungsi sebagai pemutus arus listrik ke arah beban. Dan
fasilitas pemutus arus ini bisa dilakukan dengan cara manual ataupun otomatis.

Cara manual adalah dengan merubah toggle switch yang ada didepan MCB


(biasanya berwarna biru atau hitam) dari posisi “ON” ke posisi “OFF” dan bagian
mekanis dalam MCB akan memutus arus listrik. Hal ini dilakukan bila kita ingin
mematikan sumber listrik di rumah karena adanya keperluan perbaikan instalasi
listrik rumah. Istilah yang biasa dipakai adalah MCB Switch Off.

Sedangkan MCB akan otomatis “OFF” bila dideteksi terjadi arus lebih,
disebabkan karena beban pemakaian listrik yang lebih, atau terjadi gangguan
hubung singkat, oleh bagian didalam MCB dan memerintahkan MCB untuk
“OFF” agar aliran listrik terputus. Istilah yang biasa dipakai adalah MCB Trip.

b. Proteksi Beban Lebih (overload)

26
Fungsi ini akan bekerja bila MCB mendeteksi arus listrik yang melebihi rating-
nya. Misalnya, suatu MCB mempunyai rating arus listrik 6A tetapi arus listrik
aktual yang mengalir melalui MCB tersebut ternyata 7A, maka MCB
akan trip dengan delay waktu yang cukup lama sejak MCB ini mendeteksi arus
lebih tersebut.

Bagian di dalam MCB yang menjalankan tugas ini adalah sebuah strip bimetal.
Arus listrik yang melewati bimetal ini akan membuat bagian ini menjadi panas
dan memuai atau mungkin melengkung. Semakin besar arus listrik
maka bimetal akan semakin panas dan memuai dimana pada akhirnya akan
memerintahkan switch mekanis MCB memutus arus listrik dan toggle switch akan
pindah ke posisi “OFF”.

Lamanya waktu pemutusan arus ini tergantung dari besarnya arus listrik. Semakin
besar tentu akan semakin cepat. Fungsi strip bimetal ini disebut dengan Thermal
Trip. Saat arus listriknya sudah putus, maka bimetal akan mendingin dan kembali
normal. MCB bisa kembali mengalirkan arus listrik dengan mengembalikan ke
posisi “ON”.

 
c. Proteksi Hubung Singkat (Short Circuit)

Fungsi proteksi ini akan bekerja bila terjadi korsleting atau hubung singkat arus
listrik. Terjadinya korsleting akan menimbulkan arus listrik yang sangat besar dan
mengalir dalam sistem instalasi listrik rumah.

Bagian MCB yang mendeteksi adalah bagian magnetic trip  yang


berupa solenoid (bentuknya seperti coil/lilitan), dimana besarnya arus listrik yang
mengalir akan menimbulkan gaya tarik magnet di solenoid yang
menarik switch pemutus aliran listrik. Sistem kerjanya cepat, karena bertujuan
menghindari kerusakan pada peralatan listrik. Bayangkan bila bagian ini gagal
bekerja.

Bagian bimetal strip  sebenarnya juga merasakan arus hubung singkat ini, hanya
saja reaksinya lambat sehingga kalah cepat dari solenoid ini.

27
 Bagian – Bagian MCB

Gambar 2.13 Bagian – bagian MCB

Bagian dalam MCB sebenarnya lebih dominan bersifat mekanis dengan


fungsi switch mekanis dan kontak penghubung/pemutus arus listrik.

Penjelasannya dari nomor-nomor dalam gambar adalah sebagai berikut :

1. Actuator Lever atau toggle switch, digunakan sebagai Switch On-Off dari


MCB. Juga menunjukkan status dari MCB, apakah ON atau OFF.

2. Switch mekanis yang membuat kontak arus listrik bekerja.

3. Kontak arus listrik sebagai penyambung dan pemutus arus listrik.

4. Terminal tempat koneksi kabel listrik dengan MCB.

5. Bimetal yang berfungsi sebagai thermal trip

6. Baut untuk kalibrasi yang memungkinkan pabrikan untuk mengatur secara


presisi arus trip dari MCB setelah pabrikasi (MCB yang dijual dipasaran tidak
memiliki fasilitas ini, karena tujuannya bukan untuk umum)

7. Solenoid coil atau lilitan yang berfungsi sebagai magnetic trip dan bekerja


bila terjadi hubung singkat arus listrik.

8. Pemadam busur api jika terjadi percikan api saat terjadi pemutusan atau
pengaliran kembali arus listrik.

28
 Cara Kerja MCB
Pada dasarnya MCB memang dapat dioperasikan secara manual dengan menekan
toggle switch kebawah untuk mematikan dan keatas untuk menghidupkan. Selain
itu MCB menggunakan dua prinsip kerja untuk keamanan otomatisnya, yakni
dengan Thermal Tripping (pemutusan arus karena reaksi panas) dan Magnetic
Tripping (pemutusan arus karena efek gaya magnet).
Masing – masing prinsip kerja dilakukan berdasarkan gangguan yang terjadi.
Ketika overload atau beban berlebih maka MCB menggunakan prinsip kerja
Thermal Tripping sedangkan ketika hubung singkat atau konsleting listrik maka
MCB menerapkan prinsip kerja Magnetic Tripping.

 Tipe – Tipe MCB

Jika dibedakan menurut ketahanan arusnya terdapat banyak jenis MCB mulai dari
6A, 10A, 13A, 16A, 20A, 25A, 32A, 40A, 50A, 63A, 80A, 100A dan paling
tinggi 125A. Sedangkan menurut karakteristik pemutusan arusnya komponen
MCB terbagi menjadi 3 jenis yakni MCB tipe B, tipe C dan tipe D. Untuk
penjelasannya adalah sebagai berikut :

1. MCB tipe B memiliki ketahanan listrik lebih besar antara 3 hingga 5 kali dari
arus maksimum yang tertulis. Contohnya apabila tertulis 6A maka
ketahanannya tidak lebih dari 18A, berlaku untuk perhitungan tipe lainnya.
MCB jenis ini biasanya ditemui di area rumah ataupun industry ringan.

2. MCB tipe C akan memutus arus ketika beban lebih besar 5 hingga 10 kali dari
arus maksimum yang ditulis. Jenis ini biasanya ditemui pada penerangan
gedung yang memakan banyak titik serta pada motor listrik dengan arus
sedang.

3. MCB tipe D adalah yang paling besar ketahanannya, yakni ketika arus lebih
besar 10 hingga 25 kali dari batas maksimum yang ditulis. MCB tipe ini
ditemui pada rangkaian yang memiliki lonjakan listrik besar ketika awal
pemakaian, seperti pada motor listrik yang berdaya besar, mesin produksi
pabrik, mesin sinar X-Ray dan lain – lain.

29
2.4.3 Power Supply DC

DC Power Supply adalah pencatu daya yang menyediakan tegangan maupun arus
listrik dalam bentuk DC (Direct Current) dan memiliki polaritas yang tetap yaitu
positif dan negatif untuk bebannya. Terdapat 2 jenis DC Supply yaitu :

A. AC to DC Power Supply

AC to DC Power Supply, yaitu DC Power Supply yang mengubah sumber


tegangan listrik AC menjadi tegangan DC yang dibutuhkan oleh peralatan
elektronika. AC to DC Power Supply pada umumnya memiliki sebuah
transformator yang menurunkan tegangan, dioda sebagai penyearah dan kapasitor
sebagai penyaring (filter).

B. Linear Regulator

Linear Regulator berfungsi untuk mengubah tegangan DC yang berfluktuasi


menjadi konstan (stabil) dan biasanya menurunkan tegangan DC Input.

Dalam tugas akhir ini, power supply DC yang digunakan sebesar 24Volt.

Gambar 2.14 Power supply DC

30
2.4.4 Kabel

Kabel Listrik yang dalam bahasa Inggris disebut dengan electrical cable  adalah
media untuk menghantarkan arus listrik yang terdiri dari konduktor dan isolator.
Konduktor atau bahan penghantar listrik yang biasanya digunakan oleh kabel
listrik adalah bahan tembaga dan juga yang berbahan aluminium meskipun ada
juga yang menggunakan silver (perak) dan emas sebagai bahan konduktornya
namun bahan-bahan tersebut jarang digunakan karena harganya yang sangat
mahal. Sedangkan isolator atau bahan yang tidak/sulit menghantarkan arus listrik
yang digunakan oleh Kabel listrik adalah bahan thermoplastik dan thermosetting
yaitu polymer (plastik dan rubber/karet) yang dibentuk dengan satu kali atau
beberapa kali pemanasan dan pendinginan.

Kabel listrik pada dasarnya merupakan sejumlah wire (kawat) terisolator yang
diikat bersama dan membentuk jalur transmisi multikonduktor. Dalam pemilihan
kabel listrik, kita perlu memperhatikan beberapa faktor penting yaitu warna kabel
listrik, label informasi dan aplikasinya. Informasi yang tercetak di kabel listrik
merupakan informasi-informasi penting tentang kabel listrik yang bersangkutan
sehingga kita dapat menyesuaikan kabel listrik tersebut dengan penggunaan kita.
Informasi-informasi penting yang tercetak di kabel listrik tersebut diantaranya
adalah sebagai berikut :

 Ukuran Kabel (Cable Size), yaitu ukuran pada setiap individu wire yang
terikat bersama pada kabel yang bersangkutan. Berdasarkan ukuran American
Wire Gauge (AWG), Ukuran yang tercetak tersebut diantaranya seperti 8, 10,
12, 14, 16 dan lain-lainnya yang masing-masing angka tersebut mewakilkan
diameter wire pada kabelnya. Makin besar angka tersebut makin kecil ukuran
wire kabelnya. Sedangkan di Indonesia, kita biasanya menggunakan satuan
mm2 seperti 1.5mm², 2.5mm², 4mm², 6 mm² dan seterusnya.

 Tegangan nominal, yaitu tegangan operasional wire kabel yang bersangkutan


seperti 450/750V yang artinya tegangan nominalnya adalah sekitar 450V
hingga 750V.

 Kode Bahan dan Jumlah Wire dalam Kabel, beberapa kode kabel yang sering
kita jumpai diantaranya seperti NYA, NYAF, NGA, NYM, NYMHY, NYY,

31
NYYHY dan lain-lainnya. Dari kode tersebut kita dapat mengetahui Bahan
Konduktor dan Bahan Isolator yang digunakan serta jumlah wire
konduktornya tunggal atau serabut (lebih dari satu).

 Jenis – Jenis Kabel


A. Berdasarkan bentuknya, kabel listrik ini dapat dibagi menjadi beberapa jenis.
Berikut ini adalah jenis-jenis kabel listrik yang sering digunakan untuk
menghantarkan arus listrik ataupun kabel-kabel listrik yang berfungsi untuk
transmisi data.
1. Kabel Berpasangan (Paired Cable), yaitu kabel yang terbuat dari dua
konduktor yang diisolasi secara individual. Kabel berpasangan atau paired
cable ini sering digunakan untuk arus listrik DC dan arus listrik AC yang
berfrekuensi rendah.

2. Kabel twin lead, yaitu kabel yang terdiri dari dua konduktor dengan bentuk
yang mirip dengan pita. Kabel twin lead ini biasanya digunakan sebagai media
transmisi yang menghubungkan antena dengan receiver (perangkat penerima
sinyal) seperti radio ataupun televisi. Kabel twin lead ini sering disebut juga
dengan kabel 300Ω karena impedansinya adalah 300Ω.

3. Kabel shielded twin lead, kabel jenis ini mirip dengan kabel berpasangan atau
paired cable, namun pada bagian dalam kabel dikelilingi oleh lapisan logam
tipis yang terhubung ke wire konduktor ground. Lapisan logam tipis ini
berfungsi untuk melindungi kabel dari medan magnet atau untuk menghindari
gangguan lainnya yang berpotensi menyebabkan sinyal noise pada kabel yang
bersangkutan.

4. Kabel multi konduktor (multiple conductor cable), yaitu kabel yang terdiri
dari sejumlah konduktor dengan bungkusan isolator secara individual yang
warna-warni. Kabel jenis ini biasanya digunakan di perangkat listrik rumah
tangga ataupun instalasi listrik rumah.

5. Kabel koaksial (coaxial cable), yaitu kabel yang digunakan untuk


menghantarkan sinyal frekuensi tinggi. Kabel koaksial memiliki dua
konduktor yang mana satu konduktor berada di rongga luar mengelilingi satu

32
konduktor tunggal yang dipisahkan oleh bahan isolator. Kabel jenis ini
memiliki impedansi transmisi yang konstan serta tidak menghasilkan medan
magnet sehingga cocok untuk mentransmisikan sinyal frekuensi tinggi.

6. Kabel pita (ribbon), kabel jenis ini sering disebut juga dengan kabel pelangi
dan biasanya digunakan pada aplikasi atau rangkaian elektronik yang
memerlukan banyak kawat konduktor sebagai penghubung. Kabel pita atau
ribbon yang memiliki fleksibilitas tinggi ini umumnya digunakan pada
rangkaian yang memerlukan tegangan rendah terutama pada rangkaian sistem
digital.

7. Kabel serat optik (fiber optic cable), yaitu kabel yang terbuat dari serat kaca
atau plastik halus yang dapat mentransmisikan sinyal cahaya dari satu tempat
ke tempat lainnya. Sumber cahayanya dapat berupa sinar laser ataupun sinar
LED. Diameter kabel serat optik sekitar 120 mikrometer.

8. Kabel pasangan berpilin (twisted pair cable), twisted pair cable pada dasarnya
merupakan sepasang kabel tembaga yang diputar bersama-sama berbentuk
spiral dan dibungkus dengan lapisan plastik. Twisted pair cable ini pada
dasarnya dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kabel UTP (unshielded
twisted pair) dan STP (shielded twisted pair). Diameter twisted pair sekitar
0,4mm hingga 0,8mm.

B. Jenis-jenis kabel listrik yang akan digunakan dalam Tugas Akhir ini adalah :

1. Kabel NYA. Kabel listrik hanya memiliki satu inti kabel yang terdiri dari
kabel tembaga tunggal ini berdiameter 1.5 – 2.5 mm dan memiliki isolator
berbahan PVC. Biasa digunakan di dalam instalasi listrik rumah tinggal.
Isolator pembungkus kabel NYA diberi warna merah, kuning, biru dan hitam
untuk memudahkan pemasangan jalur jaringan instalasi listrik. Karena
pembungkus ini hanya satu lapisan tipis, maka kabel ini mudah rusak karena
faktor cuaca maupun karena digerogoti oleh tikus. Untuk menghindari
kerusakan tersebut sebaiknya jalur jaringan listrik dilindungi dengan pipa
PVC. Tegangan nominalnya sekitar 400 - 690 (600) V.

33
Gambar 2.15 Kabel NYA

2. Kabel NYAF. Kabel ini secara awam mirip dengan kabel NYA, hanya
memiliki satu inti kabel, tetapi berupa serabut bukan tunggal. Isolasinya
tipis dan juga diberi warna berbeda. Kabel NYAF ini lebih fleksibel
dibandingkan kabel NYA, sehingga cocok digunakan pada belokan-
belokan jaringan listrik. Seperti kabel NYA, kabel NYAF ini perlu diberi
pelindung pipa. Tegangan nominal 300 – 500 V.

Gambar 2.16 Kabel NYAF

2.4.5 Rel Omega

Rel omega adalah alat yang digunakan sebagai dudukan pada pemasanan panel
listrik, seperti MCB, MCCB, terminal block, socket relay, dan komponeen listrik
lainnya.

34
Gambar 2.17 Rel Omega

2.4.6 Kabel Duct

Kabel duct adalah semua jenis kabel yang konstruksinya dirancang khusus untuk
dipasang di bawah permukaan tanah dan pemasangannya harus diletakkan dalam
pipa-pipa di bawah permukaan tanah (sesuai STEL-K-008 dan STEL-K-009).
Kabel duct sendiri harus dipasang dibawah permukaan tanah. Banyak sekali
keuntungan-keuntungan pemasangan kabel duct sebagai sistem kabel pendukung
untuk proyek pembangunan industri. Karena itu industri dan proyek pembangunan
membutuhkan jenis kabel sistem pendukung ini dan sangat memperhatikan harga
kabel duct untuk penggunaannya.
Berikut adalah fungsi-fungsi kabel duct :
1. Berfungsi untuk mengkoordinasi antar pemilik jaringan kabel di bawah tanah.
Karena memiliki fungsi untuk mengkoordinasi antar pemiliki jaringan kabel
dibawah tanah,  kabel duct umumnya terbuat dari besi untuk tahan
penyimpanan dibawah tanah.
2. Merapikan kabel, tertib dan bersih

Sepanjang jalan pemasangan kabel duct akan membantu jaringan kabel


menjadi lebih tertata dan merapikan kabel sehingga terlihat tertib dan bersih
disepanjang jalan. Fungsi ini sangat digunakan untuk proyek pembangunan.
3. Memberikan kemudahan dalam pemeliharaan kabel
4. Dapat saling memberi informasi bila terlihat kerusakan pada masing-masing
jaringan

Gambar 2.18 Kabel Duct

35
2.4.7 Skun Kabel

Skun kabel sering juga disebut sepatu kabel atau cable lug. Skun kabel adalah
salah satu aksesoris kabel yang berfungsi untuk penyambungan kabel ke terminal
atau panel dengan dibautkan pada bussbar atau panel. Kabel skun ring (ring kabel)
adalah kepala kabel, kabel terminating atau lebih dikenal dengan sepatu kabel
(cable shoes) terbuat dari tembaga Skun kabel atau cable schoes atau kabel lug
adalah sama-sama sepatu kabel, yang  berfungsi untuk penyambungan kabel ke
terminal atau dengan dibautkan pada  bussbar atau panel. Ada berbagai jenis skun
alumunium, tembaga, maupun almunium-tembaga, serta berbagai ukuran 35mm,
50mm, 70mm, 95mm, 120mm, 150mm, 240mm, 300mm, 400mm, 500mm,
630mm. Tergantung jenis kabel dan ukuran.

Gambar 2.19 Skun Kabel

Untuk kebutuhan penyambungan kabel jaringan listrik (terminasi), Skun kabel


terdiri dari beberapa jenis, yaitu :

 Kabel skun AL (aluminium).

 Kabel skun CU (tembaga).

 Kabel skun AL-CU (bimetal).

Ada beberapa jenis skun yang sering dipakai, yaitu:


1. Skun Garpu

Adalah jenis skun yang digunakan sebagai penyambung dan koneksi antara
kabel dengan alat listrik dan instrumen. Kabel skun terbuat dari tembaga,
sehingga memiliki daya hantar listrik yang baik. Kebanyakan skun bentuk

36
garpu telah melalui proses krom sehingga tidak mudah oksidasi dan berkarat.
Skun garpu biasanya digunakan untuk menghubungkan kabel dengan
instrument pada berbagai instalasi listrik, panel listrik, electronic dan otomotif.
Bentuk kepala seperti garpu sengaja dibuat sehingga mudah untuk dipasang
dan dilepas. Skun garpu biasanya juga sering di press menggunakan tang
crimping.
2. Skun Ring (ring kabel)

Sambungan bulatan mata itik sebenarnya bukanlah sambungan untuk


menghubungkan kabel satu degan kabel lainnya. Sambungan ini adalah
penghubung kabel berinti tunggal (NYA) yang tidak dilengkapi skun (kaki
kabel) pada suatu komponen kelistrikan yang sambunganya menggunakan
baud atau skrup. Biasanya pada piting lampu. Cara membuat bulatan mata
ititk bisa menggunakan tang pembulat atau tang lancip. Nantinya ketika
pemasangan, usahakan posisi penyimpanan sambungan ini searah dengan
jarum jam. Karena pada posisi seperti itu, ketika baud diputarkan maka
sambungan bulatan mata itik akan ikut mengencangkan. Contoh pengunaan
skun ring pada mata Itik Pengupasan kabel yaitu melepaskan sebagian isolasi,
sehingga terlihat urat tembaganya, panjang kupasan disesuaikan dengan
kebutuhan. Penekuk kabel yaitu pembentukan kabel sesuai dengan bentuk
yang diinginkan. Sedang sambung mata itik yaitu sambungan yang
menggunakan media mm bow, maka diameter mata itik disesuaikan dengan
diameter bow.

2.4.8 Relay dan Socket

Relai adalah suatu peranti yang menggunakan elektromagnet untuk


mengoperasikan seperangkat kontak sakelar. Susunan paling sederhana terdiri dari
kumparan kawat penghantar yang dililit pada inti besi. Bila kumparan ini
dienergikan, medan magnet yang terbentuk menarik armatur berporos yang
digunakan sebagai pengungkit mekanisme sakelar magnet. Selain menggunakan
elektromagnet, relai telah dikembangkan sebagai relai solid state dan relai
numeric. Penyetelan pada relai solid state dan relai numeric dapat dilakukan

37
dengan lebih mudah jika dibandingkan dengan penyetelah pada relai
elektromagnet.

Sedangkan, socket adalah dudukan dari relai itu sendiri.

Gambar 2.20 Relay dan Socket

2.4.9 Sensor

Dalam tugas akhir ini, sensor yang digunakan adalah sensor arus dan sensor
tegangan yang digunakan untuk mendeteksi arus maupun tegangan yang ada pada
PLN dan genset sebelum masuk PLC.

2.4.10 UPS (Uninterruptible Power Supply )

Uninterruptible Power Supply atau sering disebut dengan UPS adalah Power
Supply yang memiliki 2 sumber listrik yaitu arus listrik yang langsung berasal dari
tegangan input AC dan Baterai yang terdapat didalamnya. Saat listrik normal,
tegangan Input akan secara simultan mengisi Baterai dan menyediakan arus listrik
untuk beban (peralatan listrik). Tetapi jika terjadi kegagalan pada sumber
tegangan AC seperti matinya listrik, maka Baterai akan mengambil alih untuk
menyediakan Tegangan untuk peralatan listrik/elektronika yang bersangkutan.

38
Gambar 2.21 UPS

2.5 Bagian Utama Panel ATS AMF

Panel ATS AMF memiliki bagian – bagian utama sebagai berikut :


a. Change Over adalah sistem yang berfungsi sebagai media tukar sumber, jenis
dari media change over ini bisa MCCB yang dilengkapi dengan motorized,
bisa menggunakan kontaktor magnetik, bisa juga menggunakan Change Over
Switch yang dilengkapi dengan sistem motorized atau solenoid.
b. Metering yang berfungsi sebagai media indikator kondisi kelistrikan.
c. Battery Charger yang berfungsi sebagai charging battery genset.
d. Modul Controller yang berfungsi sebagai media start-stop genset dan change
over.
e. Sensor yang berfungsi sebagai pendeteksi ada tidaknya tegangan.

2.6 Kelebihan Panel ATS AMF


Panel ATS AMF berfungsi memindahkan atau mentransfer daya listrik secara
otomatis dari genset ke pemakaian pada saat listrik PLN padam dan juga
memindahkan daya listrik tersebut kembali pada saat listrik PLN hidup atau
menyala kembali.
Berikut adalah kelebihan dari penggunaan panel ATS AMF yaitu sebagai berikut :
1. Operasi otomatis, tidak dibutuhkan operator untuk memindahkan daya listrik
dari PLN ke genset ataupun sebaliknya, menghidupkan dan mematikan genset
secara otomatis sesuai dengan keadaan listrik PLN saat normal atau padam.

39
2. Sistem perpindahan dari PLN ke genset dan sebaliknya hanya perlu waktu
yang sangat singkat, hanya dengan hitungan detik saja setelah PLN padam,
genset langsung start dan listrik segera dapat di 'nikmati' kembali oleh
pengguna.
3. Memberi perlindungan terhadap alat kantor seperti komputer, AC, peralatan
pabrik maupun laboratorium, seringkali terjadi tegangan listrik PLN maupun
genset tiba-tiba shutdown atau bahkan tiba-tiba naik sampai jauh diluar batas
toleransi normal untuk keamanan alat-alat elektronik, bahkan sering pula ada
salah satu fasa listrik yang hilang (untuk sistem 3 fasa), turun dan naiknya
tegangan, maupun hilangnya tegangan ini kadang tak terdeteksi dengan kasat
mata.
4. Efisiensi pemakaian BBM genset, karena otomatis menghentikan genset
ketika listrik PLN kembali menyala normal. Ada situasi dimana ketika terjadi
pemadaman listrik dimalam hari, ketika pemilik menyalakan genset dan
tertidur. Tengah malam pada saat listrik PLN sudah menyala kembali, tanpa
disadari genset menyala terus menrus sampai pagi.
5. Mengurangi biaya operasional teknisi atau operator. Terutama sangat
berpengaruh kepada operator telekomunikasi BTS2 yang ada di remote area
(daerah terpencil) yang biasanya ketika terjadi pemadaman listrik, maka
operator tersebut akan mengirim teknisi setempat untuk menyalakan genset.
6. Mencegah kehilangan pendapatan atau revenue karena pemadaman listrik.

7. Membantu pemeliharaan baterai genset.


8. Dengan adanya battery charger ini, pemanasan genset dapat dilakukan
sebulan sekali sehingga dapat mengurangi bbm dan menghemat daya.
9. Membantu menjaga peralatan listrik akibat fluktuasi listrik dari PLN.

40
BAB III
PERANCANGAN SISTEM ATS AMF

3.1 Cara Kerja Sistem ATS AMF Berbasis PLC dan Scada

Sistem Kendali Panel ATS AMF berbasis PLC dan Scada dirancang untuk
mengatur cadangan eneri dari beberapa sumber untuk mensuplai beban. Sistem ini
bekerja dengan melibatkan beberapa sumber listrik, yaitu PLN dan Genset. Sistem

41
ini dikendalikan oleh PLC dan Scada. Untuk pengoperasiannya, Panel ATS AMF
berbasis PLC dan Scada menggunakan dua metode yaitu secara manual dan
otomatis. Pengoperasian secara manual, kontrol dilaksanakan secara
konvensional. Sedangkan untuk pengoperasian secara otomatis, kontrol
dilaksanakan secara otomatis melalui program PLC dan Scada.

Sistem Kontrol ATS AMF berbasis PLC dan Scada akan mengatur sumber untuk
mensuplai beban. Sumber PLN sebagai sumber energi utama dan Genset sebagai
sumber energi cadangan. Apabila sumber utama mengalami gangguan, maka
sistem akan mengalihkan suplai beban ke sumber energi cadangan sehingga
kenadalan terjaga. Saat suplai energi dialihkan ke sumber cadangan, genset akan
starting menggunakan sistem AMF selama 3 kali percobaan.

Perancangan Sistem Kontrol ATS AMF Berbasis PLC dan Scada menggunakan
PLC untuk memprogram rangkaian dan Scada sebagai interface antara pengguna
PLC. Sistem ATS digunakan untuk mengontrol perpindahan antar sumber energi
listrik dari sumber energy utama ke sumber energi cadangan, ataupun sebaliknya.
Sedangkan sistem AMF digunakan untuk mengatur starting genset pada saat
perpindahan sumber energi utama ke sumber energi cadangan. Sumber energi
cadangan menggunakan genset kapasitas 5 KVA.

42
3.2 Diagram Blok Sistem ATS AMF

Gambar 3.1 Diagram Blok Sistem ATS AMF

3.3 Data beban yang akan Dipakai

Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC


dan Scada ini digunakan untuk mengontrol dua buah sumber listrik yaitu
PLN dan Genset. PLN digunakan sebagai sumber energi listrik yang utama,
sedangkan genset sebagai sumber energi listrik cadangan. Dua sumber
listrik ini digunakan untuk menyuplai beban listrik. Arus pada beban yang

43
dapat digunakan pada genset secara maksimal tidak lebih dari 22,72 A
(resistan murni) dikarenakan genset hanya memiliki kapasitas 5000 W.

3.4 Pemilihan Komponen dan Alat


3.4.1 Box Panel
Pada perencanaan tugas akhir ini box panel yang dipasang ada dua yaitu panel
daya dan kontrol genset. Serta panel kontrol otomatis, dengan spesifikasi sebagai
berikut:
A. Panel Daya PLN
Panjang : 240 cm
Lebar : 60 cm
Tinggi : 180 cm

Gambar 3.2 Panel Daya PLN

44
B. Panel Daya Genset
Panjang : 30 cm
Lebar : 20 cm
Tinggi : 40 cm
Merk : POLOS

Gambar 3.3 Panel Daya Genset

C. Panel Kontrol
Panjang : 50 cm
Lebar : 20 cm
Tinggi : 70 cm
Merk : ASAHI

45
Gambar 3.4 Panel Kontrol

3.4.2 PLC Omron CP1E-NA20DR-A

Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada
ini menggunakan PLC dengan model Omron CP1E – NA20DR-A. PLC Omron
CP1E NA20DR-A memiliki 12 digital inputs dan 8 digital outputs. PLC
gigunakan sebagai kendali utama yang mengatur sistem kontrol pada Rancang
Bangun Sistem Kendali ATS AMF Berbasis PLC dan Scada.

Gambar 3.5 PLC Omron CP1E-NA20DR-A

46
(Sumber : PLC Omron CP1E-NA20DR-A Katalog)

Tabel 3.1 Spesifikasi PLC Omron CP1E-NA20DR-A

Model Omron CP1E-NA20DR-A

Supply voltage 100 to 240 VAC 50/60 Hz


Operationg voltage range 85 to 264 VAC
Power consumption 50 VA/100 VAC max.
70 VA/240 VAC max.
Number of digital inputs 12
Number of digital outputs 8
Number of analog input 2
Number of analog outputs 1
Communication ports Serial RS-232C, USB
Frequency 50/60 Hz
Dimension (mm) 90 x 130 x 85

3.4.3 Relai OMRON MY2

Relai merupakan komponen elektromekanikal yang menggunakan prinsip


elektromagnetik untuk menggerakkan kontak saklar sehingga dengan arus kecil
dapat menghantarkan listrik yang bertegangan lebih tinggi. Pada Rancang Bangun
Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada ini, relai juga
digunakan untuk mengontak kontaktor suplai ke beban maupun mengontrol on
genset, serta starting-nya. Relai yang digunakan yaitu tipe Omron MY2 dengan
tegangan koil 24 VDC dan tegangan kontak maksimum sebesar 250 VAC, 125
VDC.

Gambar 3.6 Relai Omron MY2

47
(Sumber : Tokopedia, Itechnical JKT, Relai OMRON MY2)

Tabel 3.2 Spesifikasi Relai Omron MY2

Model Relai Omron MY2


Tegangan Koil 24 VDC
Arus Koil 36,3 Ma
Tegangan Kontak Maksimum 250 VAC, 125 VDC

Arus Kontak Maksimum 4A

3.4.4 MCB LS 2A 1P

MCB merupakan komponen listrik yang digunakan untuk pemutus dan


penghubung aliran listrik. MCB juga digunakan sebagai proteksi arus lebih dan
hubung singkat. Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis
PLC dan Scada ini menggunakan MCB LS 2A 1P sebagai proteksi untuk sistem
kontrol, MCB ini memiliki tegangan kerja 220 – 240 VAC 50 Hz.

Gambar 3.7 MCB MCB LS 2A 1P


(Sumber : Tokopedia, KD Elektrik, MCB LS 2A 1P)

Tabel 3.3 Spesifikasi MCB LS 2A 1P

Model MCB LS 2A 1P
Pole 1 pole
Rating arus (In) 2A
Rating Tegangan kerja 220~240 VAC 50 Hz

48
3.4.5 MCB LS 20A 1P

MCB merupakan komponen listrik yang digunakan untuk pemutus dan


penghubung aliran listrik. MCB juga digunakan sebagai proteksi arus lebih dan
hubung singkat. Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis
PLC dan Scada ini menggunakan MCB LS 20A 1P sebagai proteksi untuk suplai
PLN, MCB ini memiliki tegangan kerja 220 – 240 VAC 50 Hz.

Gambar 3.8 MCB LS 20A 1P


(Sumber : Shopee, powerelektrik, MCB LS 20A 1P)

Tabel 3.4 Spesifikasi MCB LS 20A 1P

Model MCB LS 20A 1P


Pole 1 pole
Rating arus (In) 20 A
Rating Tegangan kerja 220~240 VAC 50 Hz

3.4.6 MCB Broco 16A 1P

MCB merupakan komponen listrik yang digunakan untuk pemutus dan


penghubung aliran listrik. MCB juga digunakan sebagai proteksi arus lebih dan
hubung singkat. Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis
PLC dan Scada ini menggunakan MCB Broco 16A 1P sebagai proteksi untuk
beban, MCB ini memiliki tegangan kerja 220 – 240 VAC 50 Hz.

49
Gambar 3.9 MCB Broco 16A 1P
(Sumber : Lazada, Kopo Elektrik, MCB Broco 16A 1P)

Tabel 3.5 Spesifikasi MCB Broco 16A 1P

Model MCB Broco 16A 1P


Pole 1 pole
Rating arus (In) 16 A
Rating Tegangan kerja 220~240 VAC 50 Hz

3.4.7 Power supply 3 A 24 V DC

Power Supply merupakan komponen listrik yang digunakan sebagai sumber


energi listrik. Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis
PLC dan Scada ini digunakan sebagai sumber energi listrik untuk output PLC
dengan tegangan output sebesar 24 VDC dan arus output maksimal sebesar 3
ampere.

Gambar 3.10 Power supply 3 A 24 V DC

50
(Sumber : Jayso Electronics, Power supply 3 A 24 V DC)

Tabel 3.6 Spesifikasi Power supply 3 A 24 V DC

Model Power Supply 3A 24 VDC


Tegangan input 220~240V
Tegangan Output 24V
Arus Output Maksimal 3A
Jenis Arus DC

3.4.8 Rangkaian Pengukuran Tegangan

Rangkaian pengukuran tegangan merupakan rangkaian yang digunakan untuk


pengukuran tegangan ke input analog PLC. Pada Rancang Bangun Sistem Kendali
Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada ini, rangkaian pengukuran tegangan
menurunkan tegangan melalui transformator dari 220 VAC menjadi 12 VAC
untuk diteruskan ke rectifier kemudian dari tegangan AC ke DC.

Gambar 3.11 Rangkaian Pengukuran Tegangan

Tabel 3.7 Daftar Komponen Rangkaian Pengukuran Tegangan

No Komponen Jumlah
1 Resistor 10k ohm ½ W 1
2 Resistor 20k ohm ½ W 3
3 Kapasitor 470 Uf 1
4 Kapasitor 1000 Uf 1
5 Potensiometer 100k 1

51
ohm
6 Bridge diode 600V 6A 1
7 LED Merah 1
3.4.9 Rangkaian Pengukuran Arus

Rangkaian pengukur arus merupakan rangkaian yang digunakan untuk mengukur


arus. Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan
Scada ini, rangkaian ini mengukur arus yang mengalir pada beban menggunakan
SCT sebagai sensor kemudian alirkan ke jack 2,5 mm yang dinaikkan
tegangannya kemudian ke pin digital arduino dan selanjutnya dikeluarkan dari
arduino dalam bentuk PWM, lalu disalurkan ke PLC dengan diberi lowpass filter
kemudian ditampilkan di Scada.

Gambar 3.12 Rangkaian Pengukuran Arus

Tabel 3.8 Daftar Komponen Rangkaian Pengukuran Arus

Jumla
No Komponen No Komponen Jumlah
h
1 Resistor 68 ohm 2 4 Kapasitor 0,1 uF 1
2 Resistor 15k ohm 2 5 Jack 2,5 mm2 1
3 Resistor 3,9k ohm 1 6 Terminal PCB 2 pin 1

3.4.10 NTC 20K OHM

NTC merupakan komponen elektronika yang digunakan untuk mengukur suhu.


Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada
ini, NTC digunakan sebagai sensor suhu sekaligus proteksi untuk genset apabila
genset mengalami overheat. Jika mesin genset semakin panas maka resistansi
NTC akan turun hingga arduino akan mendeteksi terjadinya kesalahan dan

52
menyalakan relai yang terhubung ke PLC. NTC yang digunakan sebesar 20K
ohm.

Gambar 3.13 NTC 20k ohm


(Sumber: ABRA Electronics, NTC 20k ohm)

Tabel 3.9 Spesifikasi NTC 20k ohm

Model NTC 20k ohm


Resistance 20k ohm
Temperature range -40°C - +125°C
Maximum power rating 450mW (@ 25°C)
Dissipation factor 4,5mW/°C (@ 25°C)

3.4.11 Arduino Uno Atmega328

Arduino Uno merupakan board mikrokontroller. Arduino Uno dapat berinteraksi


dengan berbagai macam sensor dan pengendali. Pada Rancang Bangun Sistem
Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada ini, Arduino Uno digunakan
sebagai media input/output untuk mengukur arus, proteksi frekuensi, dan proteksi
overheat yang kemudian dihubungkan dengan PLC. Dan Arduino Uno yang
digunakan yaitu tipe Arduino Uno Atmega328.

53
Gambar 3.14 Arduino Uno Atmega328
(Sumber: Tokopedia, Mulia Karunia, Arduino Uno Atmega328)
Tabel 3.10 Spesifikasi Arduino Uno

Model Arduino Uno


Mikrokontroler Atmega328
Tegangan Operasi 5V
Tegangan Input (recommended) 7 – 12 V
Tegangan Input (limit) 6-20 V
Pin digital I/O 14 (6 di antaranya pin PWM)
Pin Analog input 6
Arus DC per pin I/O 40 Ma
Arus DC untuk pin 3.3 V 150 Ma
Flash Memory 32 KB dengan 0.5 KB digunakan
untuk bootloader

3.4.12 Sensor SCT-013-000

Sensor SCT-013-000 merupakan sensor yang digunakan untuk mengukur arus


AC. Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan
Scada ini, SCT-013-000 digunakan sebagai sensor arus untuk dapat mengetahui
jumlah arus yang mengalir pada beban yang kemudian di tampilkan pada layar
HMI sehingga dapat dimonitor dengan mudah. Sensor ini ditujukan khusus untuk
mengukur arus bolak-balik (AC) yang mengalir pada beban dengan prinsip
induksi.

54
Gambar 3.15 Sensor SCT 013-000
(Sumber: Open Hardware, Sensor SCT 013-000)

Tabel 3.11 Spesifikasi Sensor SCT 013-000

Model Sensor SCT 013-000


Input Current 0 ~ 100A AC
Output Mode 0 ~ 50Ma
Rasio 100A : 50Ma
Non-linearitas 3%
Temperatur Kerja -25 C ~ + 70 C
Panjang kabel 1m

3.4.13 Adaptor DC 9V 1A

Adaptor merupakan komponen kelistrikan yang digunakan untuk mengubah arus


AC ke arus DC. Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis
PLC dan Scada ini, adaptor digunakan untuk menyuplai energi listrik bagi arduino
dengan tegangan sebesar 9V dan arus 1A.

55
Gambar 3.16 Adaptor DC 9V 1A
(Sumber : Tokopedia, Oya Online Computer, Adaptor DC 9V 1A)

Tabel 3.12 Spesifikasi Adaptor DC 9V 1A

Model Adaptor DC 9V 1A
Tegangan input AC 100-240V (50/60 Hz)
Tegangan output DC 9 V
Arus output maksimum 1A
Output port DC Male 2,5mm jack
Polaritas Dalam +, Luar -

3.4.14 Relai 5V

Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada
ini, relai digunakan sebagai proteksi untuk frekuensi, suhu, serta proteksi oli
genset habis. Dan relai ini memiliki working voltage sebesar 5A.

Gambar 3.17 Relai 5A


(Sumber : Tokopedia, Warung Erni, Relai 5A)

Tabel 3.13 Spesifikasi Relai 5V

Model Relai 5V
Working voltage 5V, active LOW
Weight 60 g
3.4.15 UPS Ersys 600VA
Indication LEDs for Relay output status
UPS Maximum load AC 250V/10A, DC 30V/10A

merupakan suplai daya bebas gangguan pada perangkat elektronik yang terpasang.

56
Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada
ini, UPS digunakan sebagai backup power agar rangkaian kontrol tidak mati pada
pergantian suplai beban. UPS yang digunakan memiliki output capacity sebesar
600VA. Kapasitas tersebut cukup untuk menyuplai PLC, HMI, Deepsea, Power
Supply, Relai, serta berbagai komponen lainnya yang ada pada panel kontrol.

Gambar 3.18 UPS Ersys 600VA


(Sumber : Carousell, UPS Ersys 600VA)

Tabel 3.14 Spesifikasi UPS Ersys 600VA

Model UPS Ersys 600VA


Ouput Power Capacity 480 Watt / 600VA
Output Power Voltage 195 ~ 255 Volt sine wave
Input Power Voltage 165 ~ 255 Volt, 50Hz, 4.0A Max
Back-Up Time 3 ~ 8 Minutes
Power Factor 0.8
Weight 4.16 Kg
Dimension (WHD) 315 x 130 x 210 mm.
Output interface 2x universal receptacle
Input interface standard AC outlet plug.
Protection availability surge protection, automatic test, cpu
control, baterai replacement indicator.

57
3.4.16 Trafo 500 mA

Trafo merupakan komponen kelistrikan yang berfungsi untuk menaikkan


tegangan, menurunkan tegangan dan mentransfer tegangan. Pada Rancang
Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada ini, trafo
digunakan untuk menurunkan tegangan 220VAC menjadi 12VAC.

Gambar 3.19 Trafo 500mA


(Sumber : Digiware Store, Trafo 500mA)

Tabel 3.15 Spesifikasi Trafo 500mA

Model Trafo 500 mA


Tegangan Input 110 – 220 V
Tegangan Output (V) 0, 3, 4.5, 6, 7.5, 9, 12
Arus Output 500mA

3.4.17 Kipas DC 24V

Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada
ini, kipas digunakan sebagai pendingin komponen agar tidak terjadi panas pada
komponen panel. Kipas yang digunakan memiliki suplai tegangan sebesar 24
VDC.

58
Gambar 3.20 Kipas DC 24V
(Sumber : Shopee, Bravo Listrik, Kipas DC 24V)

Tabel 3.16 Spesifikasi Kipas DC 24V

Model DC Fan 24V


Working voltage 24 VDC
Arus 120 mA
Weight 60 g

3.4.18 Omron CP1W – CIF41 Ethernet Option Board

Ethernet merupakan teknologi yang digunakan untuk menghubungkan kabel ke


jaringan computer. Ethernet memanfaatkan jenis kabel tertentu untuk terhubung,
mengirim dan menerima data dengan perangkat jaringan lainnya, serta untuk
mendapatkan akses ke jaringan yang lebih luas seperti internet. Pada Rancang
Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada ini, Ethernet
digunakan untuk menghubungkan jaringan, menerima maupun mengirim data ke
master room. Dan tipe Ethernet yang digunakan yaitu Omron CP1W – CIF41
Ethernet Option Board dengan suplai tegangan DC.

59
Gambar 3.21 Omron CP1W – CIF41 Ethernet Option Board
(Sumber : ebay, Omron CP1W – CIF41 Ethernet Option Board)

Tabel 3.17 Spesifikasi Omron CP1W – CIF41 Ethernet Option Board

Communication Interface (Transmission


Ethernet
Standard)
Omron CP1W-CIF41 Ethernet
Model
Option Board
Connection Terminal Connector
Number of ports 1
Representative Standard CE/UL/CUL/CSA
Power Supply DC

3.4.19 Kabel Ethernet Cat 5e

Kabel Ethernet Cat 5e adalah kabel dengan standar yang diciptakan tahun 2001.
Kabel ini dapat melakukan transmisi data hingga sebesar 100 Mbit/s yang sama
dengan kapasitas kemampuan ethernet dalam melakukan pengiriman sinyal. Pada
Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada ini,

60
Kabel Ethernet Cat5e digunakan untuk menghubungkan jaringan, menerima
maupun mengirim data dari Omron CP1W – CIF41 Ethernet Option Board ke
master room.

Gambar 3.22 Kabel Ethernet Cat 5e


(Sumber : Banggood, Kabel Ethernet Cat 5e)

Tabel 3.18 Spesifikasi Kabel Ethernet Ca 5e

Model Ethernet Cat 5e


Type UTP
Spectral R/W 100 MHz
Lan applications 100Base-T
Characteristics impedance 100 ohms ± 15%

3.4.20 Stopkontak EWIG Modular Socket AC30-5 16A

Stopkontak merupakan komponen kelistrikan yang berguna untuk mensuplai arus


listrik ke suatu perangkat yang dikehendaki. Pada Rancang Bangun Sistem
Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada ini, stopkontak digunakan
untuk mensuplai arus listrik ke arduino uno. Stopkontak yang digunakan yaitu
stopkontak EWIG modular socket AC30-5 sebesar 16A.

61
Gambar 3.23 Stopkontak EWIG modular socket AC30-5 16A
(Sumber : Tokopedia, Sinar bintang sinergi, Stopkontak EWIG modular socket
AC30-5 16A)

Tabel 3.19 Spesifikasi Stopkontak EWIG modular socket AC30-5 16A

Stopkontak EWIG modular socket


Model
AC30-5
Tegangan 220VAC
Rating arus 16A
Pole 1 Pole
3.4.21 TP-Link TL-SF1005D 5 Port Dekstop Switch [10/100Mbps]

Dekstop Switch adalah sebuah alat jaringan yang melakukan penjembatan tak
tampak. Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC
dan Scada ini, desktop switch digunakan untuk menghubungkan komputer dari
master room ke ruang genset.

Gambar 3.24 TP-Link TL-SF1005D 5 Port Dekstop Switch [10/100Mbps]

62
(Sumber : [Link], TP-Link TL-SF1005D 5 Port Dekstop Switch
[10/100Mbps])

Tabel 3.20 Spesifikasi TP-Link TL-SF1005D 5 Port Dekstop Switch


[10/100Mbps])
TP-Link TL-SF1005D 5 Port Dekstop Switch
Model
[10/100Mbps])
5 10/100Mbps RJ45 Ports
Interface Provided
AUTO Negotiation/AUTO MDI/MDIX
Software Support Microsoft Windows 8/7/Vista/XP , MAC OS,
NetWare, UNIX or Linux.
External Power Supply : External Power
Power Supply Adapter(Output: 5.0VDC / 0.6A)
Power Consumption : Maximum: 2.2W (220V/50Hz)
Dimension 4.1 x 2.8 x 0.9 in. (103.5 x 70 x 22 mm)

3.5 Perancangan Program dan Sistem Kontrol Listrik


3.5.1 Perancangan Pengawatan

Dalam perancangan Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis
PLC dan Scada terdapat diagram pengawatan yang terdiri dari diagram kontrol
dan diagram tenaga, dan terlampir pada lampiran.

Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada dapat
dikendalikan secara menual maupun otomatis menggunakan selector switch
ataupun tombol virtual yang terdapat pada Scada. Untuk pengendalian secara
manual dengan menggunakan push button yang terdapat pada panel dan tombol
virtual pada Scada. Sedangkan untuk penggunaan secara otomatis, sistem akan
mendeteksi ketersediaan sumber listrik, kemudian mengalihkan ke salah satu
sumber listrik yang tersedia. Pada pengoperasian otomatis rangkaian dikontrol
sepenuhnya oleh PLC.

Dalam pengoperasiannya, kendali dapat dikontrol melalui master room dengan


menggunakan Ethernet. Omron CPIW – CIF41 Ethernet Option Board akan

63
mengirimkan ataupun menerima data dari maupun ke master room sesuai perintah
yang diberikan. Dan kendali tersebut dioperasikan melalui Scada yang terdapat
pada komputer pada master room.

3.5.2 Perancangan Sistem Pengukuran

Dalam Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan
Scada terdapat 4 rangkaian pengukuran, yaitu rangkaian pengukuran tegangan,
rangkaian pengukuran arus, rangkaian pengukuran frekuensi dan rangkaian
pengukuran suhu. Dan berikut adalah penjelasannya :
a. Pengukuran Tegangan

Pengukuran tegangan ini dilakukan dengan cara menghubungkan langsung


rangkaian dengan analog PLC ke-0 (AD-0). Hal ini dikarenakan penggunaan arus
tidak terlalu besar dengan penggunaan Trafo sebesar 500mA. Trafo tersebut
menurunkan tegangan 220 VAC ke 10 VAC, kemudian disearahkan
menggunakan Bridge Diode. Pengukuran tegangan juga menggunakan indikator
LED yang diseri dengan resistor 50K Ohm yang terhubung seri, masing-masing
bernilai 20K Ohm 2 buah dan 10K Ohm 1 buah.

Setelah itu, diberi filter dengan kapasitor 470uF dan 1000uF yang terhubung
paralel untuk menyempurnakan arus DC. Tegangan keluaran dari kapasitor
diturunkan kembali oleh rangkaian Voltage Divider (Potensiometer 100K Ohm
dan Resistor 20K Ohm) untuk kemudian disambungkan ke PLC dengan tegangan
DC yang sesuai dengan kemampuan analog PLC. Penggunaan Potensiometer pada
rangkaian ini diperuntukkan untuk mempermudah dalam melakukan kalibrasi
terhadap alat ukur konvensional.

Gambar 3.25 Rangkaian Pengukur Tegangan

64
b. Pengukuran Arus

Pengukuran arus dilakukan dengan cara menghubungkan rangkaian dengan


analog PLC ke-1 (AD-1). Pembacaan arus diproses terlebih dahulu oleh arduino
melalui masukan analog ke-0 (A0) sebelum diproses PLC, dan kemudian
dikeluarkan dalam bentuk PWM melalui keluaran digital.

Agar mendapat gelombang positif, SCT-013-000 yang merupakan trafo arus


berbentuk clamp di mana output-nya dialirkan ke resistor 34 Ohm (Paralel 68
Ohm) kemudian tegangan dinaikkan 2,5 VDC sebelum masuk ke A0 arduino.
Dari tegangan tengah rangkaian voltage divider 15K Ohm dan 15K Ohm serta
kapasitor didapatkan tegangan sebesar 2,5 VDC untuk mem-bypass arus AC
untuk melewati resistor.

Gambar 3.26 Rangkaian SCT-013-000

Setelah masuk pin A0 arduino, data akan diproses dan dikirimkan ke pin D6
dalam bentuk PWM. Agar dapat terbaca tanpa jeda pada daerah stop bit,
gelombang PWM akan difilter dengan rangkaian low pass filter untuk
menghaluskan keluaran. Rangkaian hanya diseri oleh resistor 3,9K Ohm dan
diparalel dengan 10uF.

Gambar 3.27 PWM Low Pass Filter

65
c. Pengukuran Suhu

Pengukuran suhu dilakukan dengan cara menghubungkan rangkaian dengan PLC


0.05 sebagai pengaman suhu mesin genset. Sebelum diproses PLC, pembacaan
suhu diproses terlebih dahulu oleh arduino melalui masukan analog 1 (A1) yang
kemudian dikeluarkan output 1 (high) melalui keluaran digital D7 apabila
terdeteksi suhu mesin melebihi 95°C.

Pengukuran suhu menggunakan komponen terdiri dari NTC 20K Ohm dan
resistor 20K Ohm yang digunakan sebagai pembagi tegangan (voltage divider).
Tegangan tengah yang didapat apabila keduanya memiliki resistansi sama adalah
2,5 VDC. Rangkaian bekerja apabila suhu mesin memanas, apabila hal tersebut
terjadi maka resistansi dari NTC 20K Ohm akan terus menurun dan tegangan
yang mengalir pada A1 arduino akan mendapat tegangan mendekati tegangan
suplai kemudian arduino akan mengirim pulsa 1 pada D7 dan PLC dengan alamat
0.05 akan menerima trigger dan menghentikan kerja genset.

Gambar 3.28 Rangkaian Pengaman Suhu

3.5.3 Perancangan Konstruksi

Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada
memiliki konstruksi sebagai berikut :
A. Desain Box Panel Kontrol

66
Gambar 3.29 Panel Pandangan Depan Bagian Luar

Gambar 3.30 Panel Pandangan Atas/Bawah

67
Gambar 3.31 Panel Pandangan Depan Bagian Dalam

Gambar 3.32 Panel Pandangan Samping Bagian Dalam

68
Gambar 3.33 Panel Pandangan Samping

69
B. Bagian-Bagian Panel Kontrol
5

112783
96 412
13
11
1504
16
17
Gambar 3.34 Bagian-Bagian Panel Kontrol
Keterangan
1. Lampu Indikator PLN ON
2. Lampu Indikator PLN OFF
3. Lampu Indikator Emergency
4. Lampu Indikator Genset ON
5. Lampu Indikator Genset OFF
6. Deepsea
7. HMI
8. Display Pengukuran
9. Push Button ON PLN
10. Push Button OFF PLN
11. Push Button Starter
12. Push Button ON Genset
13. Push Button OFF Genset

70
14. Selector Switch Auto Manual
15. Selector Switch Pemanasan
16. Selector Switch Starter
17. Emergency Switch

C. Desain Tata Letak Box Panel dan Genset

Box panel kontrol diletakkan 1,5 meter di atas tanah dan UPS diletekkan 1 meter
di atas permukaan tanah. Genset diletakkan sebelah kiri panel seperti pada gambar
berikut.
1.5 M
1M

Gambar 3.35 Desain Tata Letak Box Panel dan Genset

71
3.5.4 Pemrograman PLC

Perancangan program PLC dilakukan menggunakan Diagram Ladder dari


software CX Programmer V9.6. Berikut adalah tahapan dalam pembuatan
program menggunakan software CX Programmer V9.6.

1. Klik dua kali ikon software CX Programmer pada desktop seperti pada
gambar untuk menggunakan software CX Programmer V9.6.

Gambar 3.36 Ikon CX Programmer

2. Menunggu hingga program terbuka dengan tampilan awal seperti gambar


berikut.

Gambar 3.37 Memuat CX Programmer

3. Setelah program terbuka, klik File > New atau klik ikon seperti gambar
berikut.

72
Gambar 3.38 New Project CX Programmer

4. Kemudian akan muncul pop-up “Change PLC”, lalu tulislah nama project di
“Device Name” dan tentukan tipe PLC di “Device Type” dalam rancang
bangun ini PLC yang digunakan adalah CP1E-NA20DR-A, maka dari itu
pilih tipe CP1E kemudian klik “Setting...” di bagian kanannya. Pada bagian
ini, atur bagian “CPU Type” ke NA sesuai tipe CPU PLC.

Gambar 3.39 Pengaturan PLC

5. Klik “oke” untuk menutup semua pop-up windows. Bagian “Network Type”
diabaikan karena komunikasi menggunakan kabel USB tipe B atau
Peripheral Cable.

73
Gambar 3.40 Selesai mengatur PLC

6. Setelah selesai mengatur tipe PLC maka program akan langsung membuka
jendela untuk membuat ladder diagram seperti gambar 3.41. Sebelum
memulai membuat ladder, sebaiknya pahami terlebih dahulu instruksi-
instruksi yang ada. Kemudian buat program ladder diagram menggunakan
kontak dan instruksi yang tersedia pada aplikasi sesuai dengan rancangan
yang akan dibuat.

Gambar 3.41 Kontak dan instruksi CX Programmer

7. Untuk membuat program ladder secara terpisah antara program utama dan
lainnya. Buat section baru dengan klik kanan pada Nama Program lalu pilih
“Insert Section”.

74
Gambar 3.42 Pembuatan section baru

8. Lalu akan muncul pop-up jendela “Section Properties”, kemudian berilah


nama section tersebut (opsional). Dan section baru akan muncul di bawah
section pertama. Setelah itu, klik pada section yang ingin dibuat programnya
untuk memulai.

Gambar 3.43 Section baru

75
9. Setelah pengaturan section selesai, ladder diagram dapat dibuat. Untuk
ladder diagram dapat dilihat pada lampiran. Dengan alamat I/O sebagai
berikut :

Tabel 3.21 Alamat I/O PLC

No Addres No Addres
Comment Comment
. s . s
1 0.00 PLN ON 33 T003 T DEL OFF

2 0.01 PLN 1 34 T004 ST2

3 0.02 GEN 1 35 T005 ST3

4 0.03 S_Gen 36 T007 J1

5 0.04 OIL IND 37 T008 J2

6 0.05 Overheat Relay 38 T009 ON Starter

7 0.06 O/U Relay 39 T010 DEL

8 0.07 Fq Relay 40 T011 timer mati

9 10.00 Counter Couple 41 T012 Overheat alarm

10 10.01 CMC1 42 W0.00 SS OTO/MAN

11 10.02 CMC2 43 W0.01 OFF PLN

12 10.03 CMC3 44 W0.02 ON PLN

13 10.04 CS Genset 45 W0.03 GENON

14 10.05 PTIM ST 46 W0.04 OFF GEN

15 100.00 PLN2 47 W0.05 STARTER

16 100.01 Starter 48 W0.06 Suplai

17 100.02 Genset ON 49 W0.07 Reset Count

18 100.03 ON Genset 50 W10.01 OFF Genset

19 C6 Counter Starter 51 W10.02 Error

76
20 D0 Voltage 52 W10.03 ONGEN

21 D10 Current 53 W10.04 DELLOFF

22 D20 Power 54 W10.05 OIL

23 D100 ADC Voltage 55 W10.06 PLN <> GEN

24 D200 ADC Current 56 W10.07 Start yok

25 D300 Power Multiplied 57 W10.08 DELP

26 D301 BAGI POWER 58 W10.09 Voltage Relay

27 D310 BAGI DAYA 59 W10.10 Current Relay

28 H0.00 SS OTOMAN 60 W10.11 Error Relay

29 H10.00 AUTO 61 W10.12 Hold Overheat

30 T000 T S PLN 62 W10.13 Overheat

31 T001 ST1 63 W10.14 GOF

32 T002 T S Genset 63 W10.15 Freq error

10. Kemudian pengaturan serial untuk build-in pada RJ - 45 port dan juga Analog
I/O pada PLC. Klik dua kali pada bagian “Setting” lalu akan muncul pop-up
windows ” PLC Settings”
a. Untuk pengaturan serial option port
Klik pada tab “Serial Option Port” dan tidak perlu melakukan
pengaturan. Kemudian gunakan mode standar yaitu Host Link.

77
Gambar 3.44 Pengaturan serial option port
b. Untuk pengaturan Analog I/O
Untuk pengaturan analog I/O, klik pada panah arah kanan hingga
terdapat tab “Built-in AD/DA” kemudian centanglah kotak “Use” analog
input channel 0 (AD 0CH) dan analog input channel 1 (AD 1CH) dan
atur range keduanya sesuai dengan batas tegangan atau arus yang diukur.
Dalam rancang bangun ini pengukuran menggunakan tegangan
maksimum 5V maka dari itu atur range ke “0 to 5V”. Jika proses telah
selesai, tutup jendela dengan cara klik logo bertanda silang di pojok kiri
atas jendela pop-up.

Gambar 3.45 Pengaturan Analog I/O

11. Jika ladder diagram pada setiap section yang ada telah selesai dibuat,
selanjtunya yaitu proses transfer program dari PC ke PLC. Langkah-
langkanya adalah sebagai berikut.
a. Memeriksa kembali program yang telah dibuat dengan cara meng-
compile project yaitu dengan cara menekan “CTRL + F7” atau klik pada
Program > Compile. Kemudian cek tab “Compile” di bagian bawah
program untuk mengecek bagian yang eror maupun yang diperingatkan.

78
Gambar 3.46 Compile bar

b. Apabila masih ragu, lakukanlah simulasi dengan cara klik pada


Simulation > Work Online Simulator.

Gambar 3.47 Simulasi online program

c. Apabila program sudah diyakini benar, sambungkan PC ke PLC


menggunakan kabel komunikasi peripheral di mana USB tipe A ke PC
dan USB tipe B ke PLC.

d. Pada program CX Programmer, klik PLC > Work Online atau dapat
menggunakan hotkey “CTRL + W”.

Gambar 3.48 Work online program

e. Tunggu hingga latar belakang program ladder diagram menjadi abu-abu


dan seperti gambar di bawah.

79
Gambar 3.49 Mode work online

f. Setelah itu lakukan transfer dengan cara klik Program > Transfer > To
PLC atau dengan cara menekan hotkey “CTRL + T”

Gambar 3.50 Transfer to PLC

g. Setelah transfer selesai maka akan muncul pop-up jendela “Download


Option”. Centang semua lalu klik “OK” atau langsung saja tekan
“Transfer All” kemudian tunggu hingga transfer selesai, lalu tekan “OK”
hingga semua peringatan tertutup.

80
Gambar 3.51 Download Option

h. PLC sudah dalam keadaan run.

3.5.5 Perancangan Scada

Pada Rancang Bangun Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada,
perancangan Scada pada sistem menggunakan aplikasi CX - Supervisor. CX -
supervisor merupakan Scada buatan dari Omron, yang penggunaannya
diselaraskan dengan tipe PLC. Aplikasi sederhana dapat dibuat dengan cepat
dengan bantuan sejumlah besar fungsi dan pustaka yang telah ditentukan
sebelumnya, dan bahkan aplikasi yang sangat kompleks dapat dibuat dengan
bahasa pemrograman yang kuat. CX-Supervisor memiliki penanganan yang
sangat sederhana, intuitif, dan keramahan pengguna yang tinggi. Mengimpor
komponen memungkinkan untuk membuat aplikasi yang fleksibel dan
memperluas fungsionalitas. CX-Supervisor didedikasikan untuk desain dan
pengoperasian visualisasi PC dan kontrol alat berat. Ini tidak hanya mudah
digunakan untuk tugas pengawasan dan kontrol kecil, tetapi juga menawarkan
banyak kekuatan untuk desain aplikasi yang paling canggih.

[Link] Pembuatan Program CX – Supervisor

1. Pembuatan New Project


a. Klik dua kali icon CX – Supervisor

81
Gambar 3.52 Ikon CX - Supervisor
b. Masuk Ke window CX- Supervisor klik file > New Project

Gambar 3.53 New Project CX – Supervisor

2. Menambah Device yang digunakan


a. Klik kanan pada Device Setup

Gambar 3.54 New Device CX – Supervisor

b. Kemudian klik Add

82
Gambar 3.55 Penambahan device

c. Kemudian isi nama device > pilih tipe PLC yang digunakan ( CP1E ) > Pilih
Network type yang digunakan ( Ethernet )

Gambar 3.56 Pengaturan PLC

d. Kemudian atur Alamat IP dengan klik Settings pada Network Type

Gambar 3.57 Pengaturan Ethernet

83
e. Ganti node menjadi 50

Gambar 3.58 Pengaturan Network Ethernet

f. Kemudian klik driver > Setting IP ke IP PLC yaitu [Link] dan isi port
number dengan 9600

Gambar 3.59 Pengaturan Driver Ethernet

84
g. Pastikan Device yang ditambahkan telah berada pada device list

Gambar 3.60 Selesai menambahkan device

3. Pembuatan Desain Tampilan SCADA


a. Mengubah warna Background sesuai dengan yang kita inginkan.

Gambar 3.61 Pengaturan background

85
b. Memulai menggambar dengan menggunakan fungsi dari toolbar yang telah
disediakan

Gambar 3.62 Pembuatan gambar

c. Tampilan hasil desain

Gambar 3.63 Selesai mendesain gambar

4. Pemberian alamat pada bagian desain

Pemberian alamat ini menjadi penting dikarenakan sebuah tombol , lampu


maupun desain lain yang berkaitan dengan PLC yang diprogram pada CX –
programmer. Sehingga setiap pergerakan yang dilakukan di scada akan
tersambung dengan program PLC yang dibuat sehingga dapat melaksanakan kerja
yang telah direncanakan. Berikut ini cara dari pemberian alamat pada setiap
komponen SCADA :

86
a. Klik dua kali pada button yang ingin di beri alamat kemudian klik browse.

Gambar 3.64 Pemberian alamat

b. Kemudian klik pada add Point. Pada bagian ini bertujuan menambahkan
point baru yang belum pernah dibuat sebelumnya.

Gambar 3.65 Penambahan point baru

87
c. Kemudian beri nama pada point name > pilih point typenya pada tipe boolean
> I/O dipilih pada input/output > klik setup di I/O Attributes

Gambar 3.66 Pengaturan point baru

d. Selanjutnya isi data location dengan alamat yang sesuai dengan yang telah
kita buat di CX – Programmer > klik ok

88
Gambar 3.67 Pengaturan PLC

e. Kemudian berikan alamat pada setiap tombol, lampu atau segala hal yang
berkaitan dengan plc dan berikan alamat sesuai dengan dari CX Programmer.

5. Pembuatan Welcome Page dengan Security Password yang bertujuan sebagai


halaman awal serta memberikan keamanan sehingga hanya orang tertentu
yang dapat mengakses scada sesuai dengan jabatan yang dipunyai. Cara
pembuatannya sebagai berikut :
a. Tambahkan halaman baru untuk menjadi welcome page. Dengan klik kanan
pada pages kemudian klik new page.

89
3.68 Pembuatan halaman baru

b. Kemudian berikan judul pada halaman yang akan kita buat dengan
menyimpan halaman tersebut selanjutnya memberi nama pada halaman
tersebut. Misal menggunakan nama welcome.

Gambar 3.69 Menyimpan halaman baru

c. Setelah itu kita atur background sesuai dengan yang kita inginkan. Berikan
judul halaman kemudian ganti warna kemudian selanjutnya klik OK.

Gambar 3.70 Pengaturan halaman baru

90
d. Selanjutnya Desain sesuai dengan yang diinginkan menggunakan fungsi
toolbar yang ada dibagian atas.

Gambar 3.71 Mendesain halaman baru

e. Kemudian berikan tombol Login untuk memberikan kendali ketika ingin


login.

Gambar 3.72 Pembuatan tombol login

91
f. Selanjutnya klik kanan pada tombol tersebut dan pilih animation editor

Gambar 3.73 Pembuatan animasi


g. Selanjutnya dengan mengatur tujuan halaman yang akan kita tampilkan
(display page ) kemudian atur halaman yang akan tertutup setelah tombol
tersebut ditekan (Close Page). Dan berikan coding pada Execute Script sesuai
dengan kebutuhan dari fungsi login tersebut.

92
Gambar 3.74 Pengaturan animasi

6. Menambahkan logo pada halaman yang kita inginkan. Penambahan logo ini
bertujuan untuk memberikan identitas dari instansi ataupun perusahaan yang
menggukan SCADA ini. Berikut ini merupakan cara dari penambahan logo :
a. Klik graphic library editor yang berada pada toolbar atas.

Gambar 3.75 Penambahan grafis

b. Kemudian tambahkan library baru pada bagian tersebut. Dengan nama yang
sesuai dengan fungsi kita inginkan. Misal dengan nama logo. Selanjutnya klik
ok.

Gambar 3.76 Penambahan New Library

c. Selanjutnya klik Import Picture untuk menambahkan logo maupun gambar


yang ingin ditambahakan pada CX – Supervisor.

93
Gambar 3.77 Menambahkan gambar

d. Kemudian pilih gambar yang ingin dimasukkan dengan format yang


didukung oleh CX – supervisor seperti yang tertera pada gambar 3.x dibawah.
Setelah semua foto dipilih kemudian klik OK.

Gambar 3.78 Memilih gambar

94
e. Untuk menambahkan gambar yang telah ditambah dengan cara menarik ke

arah bagian background yang ingin ditambahkan logo atau gambar.


Gambar 3.79 Selesai memilih gambar

7. Setelah semua desain dari SCADA yang dibuat telah selesai langkah
selanjutnya adalah membangun semua halaman halaman yang dibuat menjadi
satu kesatuan. Proses ini dinamakan Build. Proses Build dilakukan dengan
cara sebagai berikut :
a. Klik Project pada bagian atas dari CX – Supervisor

Gambar 3.80 Toolbar CX – Supervisor

95
b. Selanjutnya klik Build

Gambar 3.81 Build project

c. Pastikan semua project kita dapat di built dengan sukses. Apabila terdapat
kesalahan pada SCADA maka proses ini tidak akan sukses. Aplikasi akan
meberikan petunjuk dimana saja letak eror atau kesalahan yang telah terjadi.
Benarkan error tersebut baru kemudian di build ulang sampai benar-benar ter-
build dengan sukses.

96
Gambar 3.82 Proses build project selesai

[Link] Penyettingan Alamat IP

Dalam penyettingan alamat IP, terdapat beberapa langkah sebagai berikut :

1. Buka settings kemudian pilih network & internet selanjutnya pilih ethernet
dan pilih opsi Change Adapter Options.

Gambar 3.83 Pemilihan opsi Change Adapter Options

2. Kemudian klik kanan pada ethernet yang tersambung

Gambar 3.84 Pemilihan Network Connection

3. Kemudian pilih Properties

Gambar 3.85 Pemilihan Opsi Properties

97
4. Kemudian pilih internet protocol version 4 ( TCP/IP4)

Gambar 3.86 Pemilihan internet protocol version 4 (TCP/IP4)

5. Kemudian mengatur alamat IP sesuai dengan alamat IP dari PLC. Setelah


selesai, klik OK.

98
Gambar 3.87 Pengaturan alamat IP

6. Pastikan Ethernet terhubung dengan sempurna dengan tanda telah berada


di connection.

Gambar 3.88 Etnernet telah terhubung

99
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengoperasin Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada

Terdapat dua macam pengoperasian pada Sistem Kendali Panel ATS AMF
Berbasis PLC dan Scada yaitu sebagai berikut:
4.1.1 Pengoperasian Secara Manual

Pengoperasian Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada secara
Manual terdapat beberapa langkah sebagai berikut:
1.

4.1.2 Pengoperasian Secara Otomatis

Pengoperasian Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada secara
otomatis terdapat beberapa langkah sebagai berikut:

4.2 Diagram Alir

4.3 Pengujian

Pada pengujian Tugas Akhir ini, terdapat langkah pengujian, Hasil pengujian
sistem dan hasil pengujian sistem dan hasil pengukuran sebagai berikut :
4.3.1 Langkah Pengujian Sistem

4.3.2 Hasil Pengujian Sistem

4.3.3 Hasil Pengukuran

100
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah dilakukan, dapat diperoleh kesimpulan sebagai


berikut:
2. Sistem Kendali Panel ATS AMF sangatlah efisien dalam pergantian suplai
energi listrik. Bila terjadi pemadaman pada sumber energi PLN, suplai energi
dialihkan dari PLN ke genset.
3. Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada memiliki dua jenis pengoperasian
yaitu manual dan otomatis.
4. Dalam pengoperasian secara manual, sistem dikendalikan melalui push
button yang terdapat pada panel. Sedangkan dalam pengoperasian secara
otomatis, sistem dikendalikan melalui Scada.
5. Sistem Kendali Panel ATS AMF Berbasis PLC dan Scada juga dilengkapi
dengan Ethernet. Penggunaan CP1W-CIF41 Ethernet Option Board dapat
mengirimkan maupun menerima data dan perintah sesuai dengan instruksi
dari maupun ke master room.

5.2 Saran
Berikut ini beberapa saran yang dapat disampaikan sebagai berikut :

101
DAFTAR PUSTAKA

Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000), 2000.

Budiyanto,M. Wijaya, A. 2006. Pengenalan dasar – dasar PLC. Yogyakarta :


Gava Media.

Eko, Agfianto. 2004. PLC Konsep Pemograman dan Aplikasi. Yogyakarta: Gava
Media.

Robandi, Imam. 2009. Modern Power System Control. Yogyakarta : CV. Andi
Offset.

Wibisono, Gunawan. Ganda, Agus. Kurniawan, Uke. 2018. Jaringan


Telekomunikasi dan Teknologi Informasi. Bandung : Informatika Bandung.

Setiawan, Rachmad. 2008. Teknik Akuisisi Data. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Kadir, Abdul. 2015. From Zero to A Pro Arduino. Yogyakarta : CV. Andi Offset.

Budi, Arif. Indrayana, Arya. Prasetyo,Eko. 2010. Rancang Bangun Aplikasi ATS
pada Otomasi Generator Set 5 KVA. Semarang : Jurusan Teknik Elektro
Polines.

102
LAMPIRAN

103
Lampiran 1

104

Anda mungkin juga menyukai