100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
156 tayangan22 halaman

Resensi Novel Dilan oleh Alya Anggraeni

Novel ini menceritakan kisah percintaan antara Dilan dan Milea, dimana Dilan berusaha mendekati Milea dengan cara-cara unik untuk membuat Milea jatuh cinta padanya. Dilan akhirnya berhasil meyakinkan Milea untuk resmi menjadi pacarnya dengan membuat surat proklamasi cinta yang ditandatangani dengan materai.

Diunggah oleh

Ayrus Firman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
156 tayangan22 halaman

Resensi Novel Dilan oleh Alya Anggraeni

Novel ini menceritakan kisah percintaan antara Dilan dan Milea, dimana Dilan berusaha mendekati Milea dengan cara-cara unik untuk membuat Milea jatuh cinta padanya. Dilan akhirnya berhasil meyakinkan Milea untuk resmi menjadi pacarnya dengan membuat surat proklamasi cinta yang ditandatangani dengan materai.

Diunggah oleh

Ayrus Firman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RESENSI NOVEL

DILAN, DIA ADALAH DILANKU, TAHUN 1990

DILAN KARYA PIDI BAIQ

DISUSUN OLEH :

NAMA : ALYA ANGGRAENI

KELAS : XI AKUNTANSI 1

[Link] : 05

SMKN 2 BUDURAN

[Link] 2A SIWALANPANJI BUDURAN SIDOARJO

TELP/FAX: (031) 8964034


RESENSI NOVEL
DILAN, DIA ADALAH DILANKU, TAHUN 1990

DILAN KARYA PIDI BAIQ

DISUSUN OLEH :

NAMA : ALYA ANGGRAENI

KELAS : XI AKUNTANSI 1

[Link] : 05

SMKN 2 BUDURAN

[Link] 2A SIWALANPANJI BUDURAN SIDOARJO

TELP/FAX: (031) 8964034


KATA PENGANTAR
Segala puji syukur bagi Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat serta
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Resensi Novel “Dilan, Dia
adalah Dilanku, Tahun 1990” dengan tepat waktu.

Resensi Novel “Dilan, Dia adalah Dilanku, Tahun 1990” ini dibuat untuk
memenuhi tugas Bahasa Indonesia kelas XII semester genap.

Dengan segala upaya yang kami lakukan dan do'a yang selalu kami haturkan
serta dukungan dari orang-orang yang senantiasa mendampingi kami, laporan
ini dapat terselesaikan. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :

1. Semua guru mata pelajaran Bahasa Indonesia terutama Ibu Kasma Budi
Rahayu selaku pembimbing yang telah membantu saya dalam
penyelesaian tugas ini,
2. Orang tua yang senantiasa mendukung dan mendo’akan saya,
3. Teman – teman yang telah membantu dan mendukung saya dalam
penyelesian tugas ini.

Saya berharap resensi ini dapat memberi manfaat dan wawasan bagi saya ,
teman teman saya dan pembaca. Saya mohon maklum jika resensi ini masih
jauh dari sempurna oleh karna itu saya mengharap kritik dan saran yang dapat
membangun dari pembaca.

Sidoarjo, 1 Maret 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

RESENSI NOVEL......................................................................................................................................i
RESENSI NOVEL.....................................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR...............................................................................................................................iii
RESENSI NOVEL.....................................................................................................................................1
A. IDENTITAS BUKU............................................................................................................................1
[Link]........................................................................................................................................1
[Link] INTRINSIK..........................................................................................................................1
[Link]...........................................................................................................................................1
[Link] (plot)...................................................................................................................................1
3Tokoh dan Penokohan................................................................................................................2
A)Tokoh Utama dan Perwatakan...............................................................................................2
B)Tokoh Protagonis dan perwatakan.........................................................................................4
C)Tokoh Antagonis dan Perwatakan........................................................................................10
[Link].........................................................................................................................................12
A)Latar Tempat........................................................................................................................12
B)Latar Waktu..........................................................................................................................15
C)Latar Suasana.......................................................................................................................16
[Link] bahasa / majas................................................................................................................17
[Link]/pesan.........................................................................................................................17
[Link] NOVEL.......................................................................................................................18
[Link] NOVEL.....................................................................................................................18
[Link]....................................................................................................................................18
[Link]...............................................................................................................................18
RESENSI NOVEL
DILAN, DIA ADALAH DILANKU, TAHUN 1990

KARYA: PIDI BAIQ


IDENTITAS BUKU
1. Judul Buku : Dilan, Dia adalah Dilanku, Tahun 1990
2. Pengarang : Pidi Baiq
3. Penerbit : PT Mizan Pustaka
4. Tahun Terbit : 2014
5. Jumlah Halaman : 330 halaman
6. Cover :

1
SINOPSIS
Novel Dilan ini menceritakan sebuah kisah seorang perempuan yang bernama Milea. Milea
merupakan seorang murid yang baru saja pindah dari Jakarta. Ketika Milea pergi menuju
sekolahnya, dia bertemu dengan teman yang kebetulan satu sekolahan dengannya. temannya
itu adalah seorang yang suka [Link]-laki yang suka meramal itu berkata bahwa nanti
mereka berdua akan bertemu di kantin sekolah. Pada awalnya Melia acuh dengan lelaku itu, tapi
dia merasa terganggu karena setiap hari laki-laki itu selalu saja menghampirinya. Milea pun mau
tidak mau mencari tahu laki-laki itu. Ternyata laki-laki itu bernama Dilan.

Pada suatu hari, ketika Dilan membuntuti Milea ketika pulang menggunakan angkot Dilan
berkata, ” Milea, kamu itu cantik, akan tetapi aku belum cinta kepadamu. Tak tahu jika sore.
Tunggu saja”. Kata yang diucapkan Melia menjadikan jantungnya berdetak dengan kencang,
mungkin saja dia kaget dengan apa yang diucapkan oleh Dilan. Dengan diam Milea mendengar
ucapan Dilan, saat itu juga Melia teringat dengan pacarnya bernama Beni yang tinggal di Jakarta.

Dilan mendekati Milea memakai cara yang unik dan tak biasa, mungkin karena hal itu Milea
terus memikirkannya. Dilan meberikan hadiah kepada Melia sebuah cokelat melalui POS, Dilan
pun membawa seorang tukang pijat ketika Milea jatuh sakit, Dilan memberik sebuah TTS ( teka
teki silang ) kepada Milea untuk hadiah ualng tahunnya, yang lucunya TTSnya itu ada tulisan
“Selamat Hari Lahir Milea, Ini aku persembahkan hadiah untuk kamu, Hanya sebuah TTS, tapi
semuanya sudah aku isi, aku cinta kamu, aku tidak ingin kamu jadi pusing karena mengisi TTS
ini”.

Waktu pun terus bergulir, Dilan dan Milea pun semakin akrab. Milea tahu tentang Dilan
beberaa hal dari temannya yang bernama Wati, sepupu Dilan sekelas dengan Milea. Sekolah
Milea mendapatkan kesempatan untuk mengikuti acara cerdas cermat yang diselenggarakan
oleh TVRI, para siswa yang tidak mengikuti lomba boleh untuk memberikan semangat kepada
teman-temannya yang mengikti lomba.

Milea pun ikut, dia pun sudah memiliki rencana untuk bertemu pacarnya Beni. Milea lama
menunggu Beni yang janji akan bertemu di TVRI, akan tetapi Beni tidak datang-datang. Pada
akhirnya, Milea pergi untuk makan bersama temannya Wati dan Wanda. Ketika itu Beni datang
dengan penuh emosi dan marah melihat Milea makan dengan laki-laki selain dirinya. Hubungan
mereka kandas ketika itu juga. Jelang beberapa hari Beni mengajak Milea untuk kembali menjadi
pacarnya, tapi Milea menolak penawaran Beni.

Suatu ketika Milea Bertemu dengan bundanya Dilan. Ternyata, ibunya Dilan asiknya sama
seperti Dilan. Ibunya Dilan pun senang dengan Milea, jadi ibunya Dilan memberikan
dukungannya agar mereka [Link] mereka berdua pun resmi pacaran. Sampai-sampai,
Dilan membuat surat resmi dilengkapi materai yang isinya seperti teks proklamasi.

2
UNSUR INTRINSIK
Tema
Tema Kutipan Pendukung
Percintaan Setelah itu, Dilan nulis di halaman belakangnya:
Proklamasi
Hari ini, di Bandung, tanggal 22 Desember 1990, Dilan dan
Milea, dengan penuh perasaan, telah resmi berpacaran.
Hal-hal mengenai penyempurnaan dan kemesraan akan
diselenggarakan dalam tempo yang selama-lamanya.
Aku ketawa setelah membacanya.
“Kamu tanda tangan pake materai itu,” kata Dilan.

Alur (plot)

Alur Kutipan Pendukung


Sekarang jalan itu sudah berubah, sudah jadi jalan raya
yang dipadati oleh banyak kendaraan. Dulu, motor juga
belum banyak. Hanya beberapa orang saja yang pake.
Sebagian besar bepergian dengan angkot atau bemo.
Mundur
Rasanya, waktu itu, Bandung masih sepi, belum begitu
banyak orang. Setiap pagi masih suka ada kabut dan
hawanya cukup dingin, seperti menyuruh orang untuk
memakai sweater atau jaket kalau punya.

Tokoh dan Penokohan


Tokoh Utama dan Perwatakan
No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
1 Milea Berani Sesaat setelah itu, aku maju dan
langsung merenggut kerah baju si
Anhar.
Anhar berdiri.
“Sekarang, kau mau apa?!” kataku
dengan mata melotot.
Perhatian Selimut itu bukan untukku, tapi untuk
Dilan. Aku duduk lagi setelah adailan
kupasangi selimut.
“Kirain buat Kakak,” kata Disa.
“Kasian Abang. Kedinginan.”
2 Dilan Berani “Bapak harus tahu, Si Suripto juga

3
No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
melakukan pelecehan. Ada siswa
perempuan yang ngadu ke kami.”
Kata Dilan.
“Iya, iya, kan, ini baru sepihak,” jawab
kepala sekolah.”nanti kita
pertemukan.”
“Aku ingin bertemu dia,”kata
Dilan.”kalau tidak, aku datangi
rumahnya.”

Jahil dan lucu “Si Dilan bikin surat buat guru. Surat
izin gitu. Kalau gak salah isi suratnya:
Hari ini, Teguh tidak bisa masuk
sekolah karena lupa.”
Si Teguh itu anaknya Bu Juang.
“Hah? Ha ha ha. Iya, gitu?” tanya Revi
seperti tak percaya.
Romantis Serta merta aku senyum,tapi bukan
ke kang Adi namun mengingat TTS
yang dikasih oleh Dilan ketika aku
ulang tahun
Perhatian “Disuruh ke sini,” jawab Bi Asih
dengan canggung. “Katanya ada yang
mau dipijit?”
“Mijit?” aku langsung heran.
“Mijit siapa?” tanya Wati.
“Siapa namanya?” Bi Asih berusaha
mengngat nama. “Mila... apa?”
“Iya. Saya Milea.”
“Disuruh siapa, Mak?” tanya Nandan.
Kawan-kawan di luar, sebagian pada
masuk ingin tahu ada apa gerangan.
“De Dilan,” jawab Bi Asih. “ Tadi
nganterin ke sini.”
Romantis Setelah itu, Dilan nulis di halaman
belakangnya:
Proklamasi
Hari ini, di Bandung, tanggal 22
Desember 1990, Dilan dan Milea,
dengan penuh perasaan, telah resmi
berpacaran.
Hal-hal mengenai penyempurnaan
dan kemesraan akan
diselenggarakan dalam tempo yang
selama-lamanya.

4
No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
Aku ketawa setelah membacanya.
“Kamu tanda tangan pake materai
itu,” kata Dilan.
Pintar Maksudku, meski keduanya anak
berandal, tapi Dilan pintar dan selalu
mendapat ranking pertama di
kelasnya. Sedangkan Anhar tidak
pernah naik kelas.
Penyayang “Jangan Jauh”
Dik, jangan pergi jauh-jauh
Kan ada darahku di tubuhmu
Dilan, Bandung 1990

Tokoh Protagonis dan perwatakan


No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
1 Ibu Ramah “Ibu?” tiba-tiba Dilan nanya.
Milea “Ya, Dilan?” tanya Ibu.
“Kenapa anak Ibu cantik-cantik?”
“Iya, dong. Kan, ibunya juga cantik, he he,”
Ibu menjawab Dilan.
2 Bunda Humoris “Bunda lahir di Aceh,”jawabnya. “Ikut suami ke
Indonesia.”
“Aceh, kan, Indonesia, Bunda?” tanyaku.
“He he he bercanda, laah.”
Pengertian Sambil makan, Ibu Dilan bilang: Ya, kita tidak
pada bisa mengkritik tanpa lebih dulu memahami
anaknya apa yang kita kritik itu. termasuk kita tidak bisa
menghakimi anak remaja tanpa kita
memahami kehidupannya.
Ramah “Pulangnya ke mana, Nak?” dia nanya.
“Ke daerah Jalan Banteng,” kujawab.
“Naik apa?” dia nanya.
“Angkot,” jawabku. “Bareng temen.”
“Hari ini, ikut Ibu saja, oke?” tawar ibunya
Dilan. “Wati juga ikut, ya?”
“Wati ada janji ...,” jawab Wati.
“Ah, sudahlah. Ikut makan dulu,” katanya.
“Milea juga. Oke?”
3 Wati Sopan Tak lama kemudian, ibunya Dilan keluar,
Wati menyambutnya dengan mencium
tangannya dan aku pun begitu.
Berani pada Tapi sebelum itu, sebelum dia berlalu, Susi
siapa pun bilang ke aku:

5
No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
“Awas lu!”
“Naon ngancam-ngancam?” Wati berdiri
bagai mau menerkam.
Artinya: “Apa ngancam-ngancam?”
“Gandeng!” jawab Susi. Dia sudah jalan
beberapa meter.
Artinya: “Berisik.”
“Maneh nu gandeng mah!” Wati berusaha
ngomong ke Susi yang sudah jauh.
Artinya: “Kamu yang justru berisik.”
4 Piyan Baik hati “Piyan....”
dan suka “Ya?”
membantu “Bilang ke Dilan ....,” kataku sambil duduk di
teman sampingnya. “Tadi aku ke sini ....”
“Oke, Lia.”
“Makasih, Piyan.”
Setia kawan “SD, SMP, saya mah bareng sama Dilan
terus,” kata Piyan.
“Oh, ya?”
“Dilan pernah pacaran gak?” kutanya.
“ Waktu SMP, pernah sama Hemi,”
jawabnya.
5 Bi Asih Baik hati “Nek, cerita tentang kejelekan Dilan ,dong,”
kataku ke Bi Asih tanpa memandang Dilan
yang sudah duduk di sofa lain di dekatku.
Aku juga jadi manggil “nenek”.
“Enggak boleh ngejelekin orang,” kata Bi
Asih.
Lugu “Emak pernah dianterin, gak tahunya mampir
dulu ke warung.”
“Ngapain?” tanyaku.
“Itu, diajak ngopi. Kan, ada temen-temen De
Dilan di situ,” jawab Bi Asih.
“Emak ikut ngopi di situ?” tanyaku lagi sambil
senyum.
“Iya.”
6 Bi Eem Baik hati “Kenapa, Dilan?” tanya Bi Eem mendekat dan
dan duduk di samping sebelah kanan Dilan.
Perhatian “Anak muda Bi Eem,” jawab Dilan senyum.
“Lukanya kasih obat merah atuh ...,” kata Bi
Eem.
“Ada, Bi Eem?” Tanyaku ke Bi Eem.
“Ada...,” jawab Bi Eem sambil berdiri dari
duduknya.
7 Bu Rini Pengertian “Aku bukan melawan guru, Bu. Aku melawan

6
No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
Suripto,” kata Dilan.
Aku Diam, tidak tahu harus apa.
“Iya. Ibu ngerti,” kata Bu Rini.
“Ibuku juga guru, kakakku juga guru,” kata
Dilan.
“Iya. Dilan harus maklum, dia memang begitu,
kan?” kata Bu Rini.
Baik hati Bahkan pada waktu selesai acara pemilihan
peserta cerdas cermat, Ibu Rini malah
memeluk Dilan, di saat mana aku justru malah
kesal kepadanya. Kata Bu Rini ke Dilan:
“Kamu pintar, Dilan. Kamu juga menghibur.
Tadi, ibu ketawa sampai keluar air mata.”
8 Pak Bijaksana “Ya sudah, kalau begitu nanti kita selesaikan,"
Hamid kata kepala sekolah.
“Bapak harus tahu, Si Suripto juga melakukan
pelecehan. Ada siswa perempuan yang ngadu
ke kami.” Kata Dilan.
“Iya, iya, kan, ini baru sepihak,” jawab kepala
sekolah.”nanti kita pertemukan.”
“Aku ingin bertemu dia,”kata Dilan.”kalau
tidak, aku datangi rumahnya.”
“Iya. Pasti diusahakan bisa ketemu. Bisa
damai.”
9 Disa Humoris “Tahu gak nama panjangku?” Disa nanya ke
aku.
“Apa nama panjangnya?” kutanya.
“Disaaaaaaaaaaaaaa!!”
“He he he,” aku ketawa.
“Panjang, kan?” katanya. “Mau lebih panjang
lagi?”
“He he he. Iya.”
“Disaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”
“He he he,” aku ketawa.
Penyayang “Disa sayang sama Dilan?”
“Bang Dilan?”
“Oh, iya. Bang Dilan.”
“Sayang,” kata Disa sambil meletakkan album
foto di atas meja.
Itu adalah album foto yang dari tadi kami
bahas. Rame dan sedih karena Disa rindu
ayahnya yang sedang bertugas di Dili, Timor
Timur.
“Ayah Disa lagi berjuang,” kataku kepadanya.
“Dia pahlawan.”

7
No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
“Disa takut ayah ditembak musuh.”
10 Pak Baik hati Untunglah gurunya Pak Rahmat dan Dilan juga
Rahmat tahu Pak Rahmat itu baik, sehingga itulah
maka dia berani. Atau, itu cuma kebetulan.
Tapi kukira, dia pasti akan berani meski siapa
pun gurunya.
“Iya. Silakan,” jawab Pak Rahmat.
11 Ibu Sri Tegas Di saat bersamaan, ada Ibu Sri lewat, dia mau
masuk ke kelasku. Dilan menyapanya dan
nanya ke dia:
“Bu, boleh ikut belajar di kelas Ibu?”
“Kamu, kan, punya jadwal sendiri,”jawab Ibu
Sri.”Ayo, pada masuk! Sudah bel!”
12 Mas Ato Bijaksana “Yaah, kejadian kemaren, mudah-mudahan
bisa diambil hikmahnya. Dijadikan pelajaran
biat Beni untuk jadi lebih dewasa,” kata Mas
Ato sambil menepuk paha Beni.
Pengertian “Bagaimana menurutmu?” tanya Mas Ato.
“Boleh aku pikirin semalam?”
“untuk?”
“Ini bukan masalah sepele, Mas Ato”
“Mas Ato ngerti.”
“Besok, nanti kutelepon kamu,” kataku ke
Beni.
“kenapa harus dipikirin?” tanya Beni.
“Iya, Beni. Biar Lia mikir dulu,” timpal Mas Ato.
13 Nandan Romantis “Selamat ulang tahun, Milea, panjang umur,
ya,” katanya. “Kadonya boneka, biar apa
coba?”
“Biar apa?” kutanya balik.
Aku senyum. Nandan senyum.
“Biar kalau tidur, kamu bisa memeluknya.”
“He he he.”
Mudah “Si Dilan bikin surat buat guru. Surat izin gitu.
cemburu Kalau gak salah isi suratnya: Hari ini, Teguh
pada Dilan tidak bisa masuk sekolah karena lupa.”
Si Teguh itu anaknya Bu Juang.
“Hah? Ha ha ha. Iya, gitu?” tanya Revi seperti
tak percaya.
“Iya. Kan, Bu Juangnya marah.”
“Kayak cari perhatian gitu,” tiba-tiba Nandan
ikut bicara.

14 Bang Baik dan Setelah permisi ke aku dan Bang Fariz, Dilan
Fariz selalu hati- Pergi.

8
No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
hati “Pacarmu?” Bang Fariz nanya saat aku
sedang membuka sepatu.
“Teman,” jawabku.
Ah, kenapa harus bilang kepadanya bahwa
Dilan cuma teman? Perasaanku jadi mentah
lagi, deh, padahal tadi aku merasa romantis
dengannya.
“Awas, dia nakal,” kata Bang Fariz.
“Dia baik.”
15 Bang Ramah “Kenalin, Bang. Lia,” kata Dilan ke abangnya.
Banar “Oh? Banar!” katanya sambil dia jabat
tanganku.
“Lia.”
“Mana minumnya?” tanya Bang Banar.
“Udah, Bang, di dapur,” jawab Dilan.
“Oke,” katanya sambil masuk ke dalam.
Penurut Lalu datang Disa menarik tangan Bang Banar.
“Udah makan, tadi di kampus,” kata Bang
Banar.
“Ayo, laaah!” kata Bunda. “Biar rame.”
Bang Banar duduk di samping kanan Bunda.
Disa di sebelah kiri Bunda.
“Sedikit aja,” katanya.
16 Airin Sopan “Dan, ini?” Bunda bertanya ke Airin sambil
menyodorkan tangannya untuk bersalaman
dengannya.
“Airin,” jawab Airin keheranan karena belum
tahu siapa Bunda, lalu diciumnya tangan
Bunda.
17 Ibu Ramah “Udah besar, ya?” kata ibunya Kang Adi
Kang entah kepada siapa.
Adi “Siapa?” tanya ibu-ibu di sampingnya.
“Itu anak Pak Adnan,” jawab ibunya Kang
Adi.
Oh, itu pertanyaan ke aku.
“Iya, Mih?” tanyaku ingin jelas tadi itu dia
ngomong apa.
“Kamu, sudah besar,” kata ibunya Kang Adi.
“Kelas berapa?”
“Kelas 2, Mih,” jawabku.
18 Tante Ramah dan “Kenal Adi di mana?” tanya tantenya yang
Kang baik lagi duduk sambil ngelapin buah-buahan,
Adi memandangku.
“Adi yang ngebimbing dia belajar,” jawab
Kang Adi.

9
No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
“Oooh, kirain pacarnya,” kata tantenya
sambil terus memilah-milah lagi makanan itu.
19 Teman- Ramah dan “Wey, enak, nih!” kata temannya memandangi
teman Baik kue yang sudah ada di atas meja itu.
Kang “Enak aja,” kata Kang Adi. “Ini buat Lia.”
Adi “Makasih,” kataku sambil bingung harus
gimana.
“Bagi, ya, Lia?” pinta temen Kang Adi yang
satunya lagi.
“Bareng-bareng aja,” jawabku.
“Lia yang bagiin, dong,” kata Lang Adi.
“Aku yang banyak, ya, Lia,” kata salah satu
teman Kang Adi. “Belum makan, nih, dari SD.”

Tokoh Antagonis dan Perwatakan


No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
1 Susi Mudah marah Matanya itu, menyiratkan perasaan dia
yang tak suka kepadaku.
“Jangan marah, lah, Wat,” kata teman
Susi ke Wati.
“Apa!!!?” tanya Wati sambil dia
dongakkan lagi kepalanya kepada
temannya Susi.
“Udah, udah. Selesai,” kata Piyan. “Gak
boleh berantem.”
“Sabar, Wat,” kataku sambil kupegang
tangannya.
“Siapa lu! Ikut campur?” tanya Susi tiba-
tiba kepadaku, membuat aku jadi kaget.
2 Anhar Mudah marah Susi dan kawan-kawannya sudah mulai
dan kasar berdiri. Anhar berusaha menyingkirkan
tanganku yang memegang kerah bajunya.
Tapi cengkeramanku sungguh kuat. Kulihat
mata Anhar sudah mulai marah, dia
mendoongku membuat aku nyaris jatuh,
untung bisa kutahan dengan cara
memegang kuat kerah bajunya.
“Neng, udah. Jangan berantem,” kata Bi
Eem berdiri dari memasak bala-bala.
Sesaat kemudian, tiba-tiba Anhar
menampar pipiku. Sangat keras dan sakit
rasanya. Aku berusaha membaklas tetapi
mengenai bahu Piyan.

10
No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
Suka menghina “Bareng terus, laaaah, sampai memble,
orang he he he,” kata Anhar sambil duduk dan
makan kue.
“Eh. Bentar!” kataku, “Maumu apa, sih?”
tanyaku ke Anhar.
3 Beni Perhatian dan Tepat pukul 00:00, Beni mengucapkan
romantis selamat ulang tahun dan memberiku seikat
rangkaian bunga yang indah.
Overprotect “Cuma berdua?”
“Banyakan,” kujawab dengan wajah
berusaha memelas. “Tadi, disuruh...”
Jawabanku belum selesai kukatakan, Beni
sudah memotong :
“Disuruh apa? Disuruh berpasang-
pasangan?”
Mudah marah “Kita putus!!!” kataku kepadanya dengan
dan memaki nada cukup tinggi.
orang “Dasar pelacur!”
Kudengar Beni memakiku selagi aku sudah
berjalan pergi meninggalkannya.
4 Pak Suka bertindak Benar saja, tepat pada waktu kepala
Suripto kasar sekolah sedang pidato, Pak Suripto datang
menegurnya. Tanpa kata-kata, Pak Suripto
langsung narik kerah belakang baju Dilan.
Dia bermaksud narik Dilan untuk keluar
dari barisan kelasku.
Suka bertindak “Bapak harus tahu, Si Suripto juga
semaunya di melakukan pelecehan. Ada siswa
luar batas perempuan yang ngadu ke kami,” kata
Dilan.
5 Kang Suka menghina “Tadi, lihat ibu itu riweuhpisan, ya?”
Adi orang lain katanya.
Riweuh pisan itu bahasa sunda, kira-kira
artinya “repot sekali” dalam konotasi yang
buruk.
“Aku gak suka Kang Adi bilang gitu ke
dia ...,” kataku memandangnya.
Suka “Ya, mungkin mereka nganggap Kang Adi
membanggakan bisa menciptakan kondisi aja kali, jadi lebih
diri sendiri kerasa hidup, he he he. Atau, ya, gak
taulah.”
“Kirain, he he he.”
“Pernah pas ada meeting, Kang Adi, kan,
gak datang, eh, mereka nelepon coba,
maksa minta Kang Adi datang.”

11
No. Nama Perwatakan Kutipan Pendukung
Tokoh
“segitunya.”
Perhatian “Sudah makan belum?” tanya Kang Adi.
“Nanti aja,” jawabku.
“Jangan lupa makan.”
“Iya, Kang. Makasih.”

Latar
Latar Tempat
No. Latar Tempat Kutipan Pendukung
1 Sekolah Ruang kelas Milea Aku masih ingat hari itu kami
(kelas 2 Biologi 3) sedang praktek menggambar
anatomi tubuh katak, yang
dikerjakan secara berkelompok,
sehinggan situasi di dalam kelas
sedang tisak terlalu formal.
Tiba-tiba terdengar pintu kelas
ada yang ngetuk. Aku terkejut
ketika tahu orang itu adalah
Dilan.
“Permisi, Pak?”
“Iya?” jawab Pak Rahmat yang
sedang duduk di kursi guru.
“Maaf. Ada titipan penting buat
Milea,” kata Dilan.
Kantin Di kantin, pada waktu istirahat,
aku duduk satu meja dengan
Nandan, Dito, Jenar, dan Rani.
Lapangan upacara Suasana jadi ribut. Barisan jadi
berantakan, terutama barisan
kelasku karena masing-masing
menghindar untuk tidak terkena
pukulan yang nyasar. Semua
orang ingin lihat. Upacara
bendera secara otomatis jadi
kacau.
Aku melihat Pak Suripto lari
menuju tengah lapangan
upacara.
Ruang guru Orang-orang yang berada di
dalam ruang guru memandang
semuanya kepadaku, termasuk
Dilan.
Aula Acara itu diselenggarakan di aula

12
No. Latar Tempat Kutipan Pendukung
sekolah. Pesertanya diambil dari
tiap kelas, sebanyak tiga orang,
yaitu mereka yang tercatat
sebagai siswa yang selalu
mendapat ranking 1,2, dan 3.
2 Rumah Kamar Milea Aku baca surat undangan
Milea darinya sambil selonjoran di atas
kasur.
Teras Tak lama kemuadian bunda
pamit pulang karena ada urusan
yang harus diselesaikan.
Berat rasanya membiarkan
bunda pulang,apalgi setelah itu
aku harus menghadapi kang Adi

3 Rumah Ruang tamu “Tahu gak nama panjangku?”


Dilan Disa nanya ke aku.
“Apa nama panjangnya?”
kutanya.
“Disaaaaaaaaaaaaaa!!”
“He he he,” aku ketawa.
Dapur Ketika Milea memberikan
sayuran kepada bunda
Kamar Dilan Ketika bunda memberitahukan
buku yang berisi tentang cerita
Dilan tentang Milea
Ruang makan Ketika Milea dan Dilan beserta
keluarga Dilan makan bersama
4 Jalan menuju sekolah Setelah turun dari angkot, aku
jalan menuju sekolahku
sebagaimana yang lainnya yang
juga sama begitu.
5 Jalan Buah Batu Jalan buah batu adalah tempat
bersejarah bagi Milea dan Dilan
karena Di jalan itu mereka
banyak melakukan hal bersama
6 Pasar Terus, belok ke arah Gang
Warta dan berhenti di salah satu
pasar tradisional, entah sekarang
masih ada atau tidak.
“Kita Belanja,” kata Dilan.
7 Angkot Di angkot, dia duduk di
sampingku. Aku benar-benar jadi
kikuk dan mati gaya.
“Ini hari pertama aku duduk

13
No. Latar Tempat Kutipan Pendukung
denganmu,” bisiknya.
8 Warung Bi Eem Mereka pergi meninggalkan kami
yang masuk ke warung Bi Eem.
Dilan langsung duduk.
“Kenapa?” tanya Bi Eem demi
melihat Dilan pakaiannya
nampak kusut dan ada beberapa
bercak darah di baju dan sedikit
di wajahnya.
9 Halaman perkantoran Aku bingung, gak tau apa
tujuan Dilan masuk ke halaman
kantor itu? Dilan menyuruh aku
turun, lalu duduk di teras
halaman kantor itu.
“Istirahat dulu,” kata Dilan.
“Ih! Ngapain?” kutanya sambil
mulai akan duduk.
10 Jalan Kebayoran Lama, Jakarta Bus terus melaju menyusuri
jalan kebayoran lama, tapi
pikiranku melayang ke Bandung,
ke Jalan Buah Batu:
“Dilan, kamu lagi apa?”

Latar Waktu
No. Latar Waktu Kutipan Pendukung
1 Pagi hari “Selamat pagi.”
“Pagi,” kujawab, sambil menoleh
kepadanya sebentar.
“Kamu Milea, ya?”
“Eh?” kutoleh lagi dirinya, memastikan
barangkali aku kenal.
Malam hari Setelah usai shalat Isya, aku dapat
telepon dari Beni. Dia bicara lama sekali.
Atau sebentar? Tapi, aku merasa itu
sangat lama sekali.
September 1990 Pagi itu, di Bandung, pada bulan
September 1990, setelah turun dari
angkot, aku jalan menuju sekolahku
sebagaimana yang lainnya yang juga
sama begitu.
Hari Minggu Di hari Minggu, waktu sedang nyuci
sepatu, aku mendengar bel rumah

14
No. Latar Waktu Kutipan Pendukung
berbunyi, karena dipijit oleh tamu. Aku
teriak manggil Si Bibi untuk meladeni
tamu itu.
Hari Senin Hari Senin, di tengah-tengah barisan
siswa yang ikut upacara, aku berharap
tidak ada satu pun orang yang tahu
bahwa diam-diam mataku mencari
dirinya, meskipun aku sendiri tidak tahu
untuk apa juga kucari.
Hari Selasa Itu hari Selasa, aku dapat surat dari
Dilan. Entah bagaimana sia bisa nitip
suratnya ke Rani.
Hari Sabtu Hari itu adalah hari Sabtu, belajar di
kelas ditiadakan, karena ada acara
seleksi pemilihan siswa terbaik yang
akan mewakili sekolah menjadi peserta
Cerdas Cermat di TVRI.

Latar Suasana
No. Latar Suasana Kutipan Pendukung
1 Suasana hati Bingung Aku bingung harus gimana dan
berusaha memastikan bahwa kawan-
kawanku di angkot, tidak mendengar
apa yang dia katakan.
Cemas dan Aku jadi cemas. Aku jadi gelisah. Kamu
gelisah di mana, Dilan?
2 Suasana Mendung Bubar dari sekolah, cuaca sedang
lingkungan mendung, aku pulang bersama kawan-
kawan.
Hujan Suara hujan itu suara hujan yang
deras. Suara hujan itu seperti mewakili
perasaan. Perasaanku yang tak karuan
saat itu. Mengguyur.
“Dilan ... kamu di mana? Ini hujan.”
Ribut Sekonyong-konyong kami mendengar
raungan motor dari luar pagar sekolah.
Raungan motor yang banyak dan ribut
sekali disambut oleh siswa dan guru
yang pada keluar dari tempatnya,
termasuk aku, aku ingin tahu ada
apakah gerangan.

15
Gaya bahasa / majas
Dalam novel ini mengggunaka bahasa yang tidak baku juga diselipkan beberapa
bahasa daerah yaitu Bahasa Sunda, namun, juga diberikan keterangan penjelas dalam
Bahasa Indonesia agar pembaca yang tidak bisa Bahasa Sunda tidak bingung.

Saat Milea mulai menuliskan catatanya tentang Dilan, dia bilang kalau gaya
penulisannya akan dibuat menyerupai tulisan Dilan. Gaya bahasa Indonesia yang nyaris
baku, susunan kalimatnya kadang tak lazim, diputar-putar dan terdapat kesan filosofis
dalam kesederhanaan diksinya.

Majas Pembuktian
Majas Ironi “Ketika motor itu sudah mulai sejajar denganku,
jalannya melambat. Seperti sengaja ingin menyamai
kecepatanku berjalan.”
Majas Personifikasi “Tiap pagi masih suka ada kabut dan hawanya cukup
dingin, seperti menyuruh orang memakai sweater atau
jaket kalau punya.”

Amanat/pesan
a. Jangan selalu menilai orang dari luarnya saja, bisa saja yang berpenampilan
buruk justru hatinya baik, belum tentu juga yang bernampilan seperti
malaikat, hatinya seperti malaikat juga.
b. Bisa dijadikan pelajaran tentang apa yang diperbuat sosok Dilan di dalam
novel ini, contohnya lebih menghargai orang lain terutama untuk orang yang
lebih tua daripada kita, saling menghargai sesama teman
c. Peliharalah suatu hubungan hanya dengan satu kunci, yaitu kepercayaan.

KELEBIHAN NOVEL
1. Dapat membuat cerita lebih hidup hanya dengan dialog, karena setting tempatnya hanya
sediki dan itu tidak dijelaskan secara detail
2. Dialog yang digunakan adalah kalimat langsung, tanpa ada embel-embel “kataku", dan
bertanya dan sebagainya sehinggap bisa membuat percakapan lebih hidup dan menarik
3. Bahasa yang digunakan begitu sederhana, tidak norak, namun dapat terasa nuansa
romantisme nya.
4. Mesk bukunya lumayan tebal, tulisannya cukup besar sehingga lebih mudah untuk dibaca

KELEMAHAN NOVEL
5. Deskripsi mengenai tokoh kurang detail, sepeti tinggi, rupa wajah warna kulit
6. Tidak konsisnten di dalam penggunaan gaya bahasa seperti gak, engga

16
7. Akhir dari buku ini yang menggantung (meski bukan benar-benar yang terkahir,
mengingat adanya buku yang kedua tahun 1991), tapi tetap membuat penasaran.
8. Beberapa humor terasa garing dan terkesan seperti dipaksakan

PENILAIAN
9. Dari Segi Fisik Novel
Novel Dilan 1990 ini memiliki cover yang menarik dan membuat si pembaca
tertarik untuk membacanya.
10. Dari Segi Isi Novel
Meskipun isi dari novel ini lumayan banyak,namun kita tidak akan bosan
membacanya karena isi novel yang sangat menarik dan kisah yang bercerita
tentang percintaan anak SMA yang membuatnya banyak dibaca oleh para
masyarakat. Lalu percakapan antara Milea dan Dilan yang sangat
menarik,dan kata-kata dilan yang jika kita menjadi Milea pasti akan luluh.

KESIMPULAN
Novel Dilan,Dia adalah Dilanku tahun 1990 menarik untuk dibaca karena
menceritakan kisah anak SMA pada tahun 1990. Banyak kisah percintaan yang
digambarkan dalam novel [Link] bagi para remaja yang sedang mengalami
kasmaran atau remaja yang ingin mencari pasangan yang karakternya seperdi Dilan dan
[Link] dalam novel ini juga menceritakan bagaimana cara mendapatkan pasangan
yang baik,menjaga hubungan agar langgeng,saling terbuka sesama pasangan. Novel ini
sebaiknya dibaca pada waktu senggang,sedang [Link] tidak mengganggu
aktivitas belajar siswa.

[Link]
Ilustrasi gambar pada novel tidak banyakdan juga gambarnya tidak
[Link] itu novelnya kadang membosankan dibeberapa bagian

[Link]
Sebaiknya ilustrasi gambar pada novel Dilan tahun 1990 diberi warna supaya
pembaca tertarik membaca novel tersebut dan kertas yang digunakan pada novel
tersebut seharusnya tidak terlalu tipis.

17

Anda mungkin juga menyukai