0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan19 halaman

Asbid KB

Dokumen tersebut membahas konsep dasar keluarga berencana dan asuhan kebidanan keluarga berencana. Secara ringkas, dibahas pengertian keluarga berencana yang meliputi upaya peningkatan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera, serta metode kontrasepsi pascasalin dan rasional yang dapat digunakan. Selanjutnya dibahas asuhan kebidanan keluarga berencana yang meliputi pengkajian,

Diunggah oleh

juhrani 45
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan19 halaman

Asbid KB

Dokumen tersebut membahas konsep dasar keluarga berencana dan asuhan kebidanan keluarga berencana. Secara ringkas, dibahas pengertian keluarga berencana yang meliputi upaya peningkatan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera, serta metode kontrasepsi pascasalin dan rasional yang dapat digunakan. Selanjutnya dibahas asuhan kebidanan keluarga berencana yang meliputi pengkajian,

Diunggah oleh

juhrani 45
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA BERENCANA

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MARTAPURA TIMUR

TAHUN 2021

Disusun untuk memenuhi tugas Praktik Klinik Kebidanan III

Dosen Pembimbing : Rafidah, [Link].T., [Link]

OLEH

NAMA : RIZKA AULIA

NIM : P07124118235

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN

JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM

DIPLOMA TIGA KEBIDANAN

TAHUN 2021

i
LEMBAR PENGESAHAN

Telah disetujui dan diterima pengambilan kasus Dokumentasi Asuhan Kebidanan


Keluarga Berencana Pada Ny.N di Wilayah Puskesmas Martapura Timur Tahun
2021
Nama : Ny.N

Umur : 34 tahun

Alamat : Jalan Kenanga RT.01 Indrasari

Lembar persetujuan ini dibuat untuk memenuhi tugas pembuatan Dokumentasi


Asuhan Mata Kuliah Praktik Klinik Kebidanan III bagi mahasiswa Poltekkes
Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kebidanan Diploma III Jalur Umum Semester VI

Banjarbaru, Mei 2021

Menyetujui,

Pembimbing Praktik Kebidanan III Mahasiswa,

Rafidah, [Link].T., [Link] Rizka Aulia


NIP. 197403041993022001 NIM. P07124228235

KATA PENGANTAR

ii
Alhamdulillahirabbil ‘alamin puji syukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas limpahan rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan “Asuhan Kebidanan Keluarga
Berencana di Wilayah Puskesmas Martapura Timur Tahun 2021”.

Dalam proses menyelesaikan tugas ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
banyak pihak yang telah memberikan bantuan berupa ilmu, saran, waktu dan
tenaga. Penulis menyadari bahwa tugas Asuhan Kebidanan ini masih jauh dari
sempurna, maka penulis mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif untuk
menunjang penyempurnaan selanjutnya.

Akhirnya hanya kepada Allah Subhanahuwata’ala kita kembalikan semua urusan


dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi
penulis.

Banjarbaru, Mei 2021

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN.....................................................................................ii

iii
KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. LATAR BELAKANG…………………………………………………..….1

B. BATASAN MASALAH...……………… ……………………………..….2

C. TUJUAN..…………………………………………………………………..2

D. MANFAAT...................................................................................................2
BAB II KONSEP DASAR.......................................................................................3
A. Konsep Dasar Keluarga Berencana.................................................................3
1. Pengertian……………..………………………………………………...3

2. Tujuan…………………………………………………………………..3

3. Metode Kontrasepsi Pascasalin…………………………………………4

4. Metode Kontrasepsi Rasional…………………………………………..8

BAB III ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA BERENCANA........................11


1. Pengkajian……………………………………………………………..11

2. Prolog………………………………………………………………….11

3. Data Subjektif………………………………………………………….11

4. Data Objektif…………………………………………………………..12

5. Analisa…………………………………………………………………12

6. Penatalaksanaan……………………………………………………….12

BAB IV PENUTUP...............................................................................................14
A. KESIMPULAN...........................................................................................14
B. SARAN.......................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................15

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan menerima
Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS ) yang berorientasi
pada catur warga. Pemerintah meluncurkan gagasan baru, yaitu keluarga
berencana mandiri artinya masyarakat memilih metode KB dengan biaya
sendiri melalui KB lingkaran biru dan lingkaran emas dan mengarahkan pada
pelayanan Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih (MKET) yang meliputi
AKDR, susuk KB, dan Kontap (Manuaba, 2009).
Usia subur seorang wanita biasanya antara 15-49 tahun, oleh karena itu
untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran,
wanita/pasangan ini lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat/metode KB.
Cakupan peserta KB Baru dan KB Aktif pada profil kesehatan 2013, jumlah
PUS di seluruh Indonesia mencapai 44.738.378 orang dengan jumlah peserta
KB Baru 8.647.024 orang (19,33%), dan jumlah peserta KB Aktif 33.713.115
orang (75,36%). Persentase peserta KB Aktif menurut metode kontrasepsi di
Indonesia IUD 11,03%, Medis Operatif Wanita (MOW) 3,53%,Medis
Operatif Pria (MOP) 0,68%, Implan 8,26%, Kondom 2,50%, Suntik 47,19%,
Pil 26,81% (Depkes RI, 2013).
Hasil survey peserta KB aktif di Indonesia Tahun 2015 menunjukan
kontrasepsi suntik masih menjadi pilihan utama pada Pasangan Usia Subur
(PUS) dengan presentase sebanyak (53,80%), di susul oleh kontrasepsi pil
(28,30%),2 implant (21,99%), IUD ( 6,79%), MOW (5,59 %), kondom
(3,69%), dan MOP (0,49%) (BKKBN,2015). Sasaran pembangunan
Millenium Development Goals (MDG) 2015 yakni mengurangi Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi ( AKB ) dengan salah satu
program untuk menurunkan AKI dan menekan angka pertumbuhan penduduk
dalam mewujudkan suatu program Keluarga Berencana (KB).
Salah satu program Keluarga Berencana untuk menurunkan AKI yaitu
dengan KB Pasca Persalinan (Riskesdas, 2013). KB Pasca Persalinan adalah
penggunaan metode kontrasepsi pada masa nifas sampai dengan 6 minggu
atau 42 hari setelah melahirkan (Kemenkes, 2014a). KB Pasca Persalinan
merupakan langkah untuk mencegah kehilangan kesempatan menggunakan
KB setelah melahirkan (Riskesdas, 2013).

1
Penerapan KB Pasca Persalinansangat penting karena kembalinya
kesuburan pada ibu setelah melahirkan tidak dapat diketahui secara pasti dan
dapat terjadi sebelum datangnya siklus haid bahkan pada wanita menyusui.
Hal ini menyebabkan pada masa menyusui,wanitamengalami kehamilan yang
tidak diinginkan (KTD) atau unwanted pregnancy. Kontrasepsi sebaiknya
sudah digunakan sebelum kembali beraktivitas seksual. Oleh karena itu
sangat penting untuk menggunakan kontrasepsi seawal mungkin setelah
persalinan(Mujiati, 2013).
Studi yang dilakukan di negara-negara dengan tingkat kelahiran yang
tinggi, menunjukkan bahwa Keluarga Berencana memberi dampak positif
untuk meningkatkan tingkat kesehatan ibu dan bayi, diperkirakan dapat
menurunkan 32% kematian ibu dengan mencegah kehamilan yang tidak
diinginkan dan dapat menurunkan 10% kematian anak, dengan mengurangi
jarak persalinan kurang dari 2 tahun (Clelandet al, 2006).

B. BATASAN MASALAH
Batasan masalah Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana ini adalah asuhan
kebidanan pada ibu nifas yang ingin menjadi akseptor KB pascasalin .

C. TUJUAN
Asuhan Kebidanan ini dibuat untuk memberikan asuhan kepada akseptor KB
dalam memilih kontrasepsi yang tepat dan menambah pengetahuan bagi
penulis.

D. MANFAAT
1. Manfaat Teoritis
Mengaplikasikan teori Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana dalam
praktik pelayanan kebidanan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis
Dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan dari
institusi secara langsung di lapangan dalam memberikan asuhan
kebidanan pada neonatus.
b. Bagi Klien
Klien mendapatkan asuhan kebidanan Keluarga Berencana yang
sesuai dengan standar pelayanan kebidanan

2
BAB II

KONSEP DASAR

A. Konsep Dasar Keluarga Berencana


1. Pengertian
UU No. 10 tahun 1992 (tentang perkembangan kependudukan dan
pembangunan keluarga sejahtera) menyatakan bahwa program keluarga
berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta
masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan
kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan
keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (Handayani.S, 2010, hal. 28).
Menurut Sulistyawati (2014, hal. 13) ada beberapa definisi tentang
keluarga berencana (KB) yaitu :
a. Upaya peningkatan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan
keluarga kecil yang bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).
b. Keluarga berencana (family planning/planned parenthood) merupakan
suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak
kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi.
c. Menurut WHO (Expert Commite, 1970), tindakan yang membantu
individu/pasutri utnuk mendapatkan objektif-objektif terentu,
menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran
yang diinginkan, mengatur inteval di antara kehamilan, dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.

2. Tujuan Program KB
Menurut Sulistyawaty (2014, hal 13) ada 2 macam tujuan dari
program KB, yakni :
a. Tujuan umum : Membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan
sosial ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan kelahiran
anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya.

3
b. Tujuan khusus : Pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan,
peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

3. Metode Kontrasepsi Pascasalin


Ada beberapa metode yang bisa digunakan ibu pasca persalinan yaitu:
a. Kontrasepsi Non Hormonal
1) Metode Amenore Laktasi (MAL)
Metode Amenore Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi
yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) tanpa
tambahan makanan atau minuman apapun hingga 6 bulan.
Bellago (Kennedy, et al., 1989) menyatakan bahwa laktasi
dapat dipertimbangkan sebagai metode keluarga berencana jika
digunakan. Metode ini bekerja dengan menghambat ovulasi
jika ibu menyusui penuh (full breast feeding) ; pemberian ≥ 8
kali sehari, belum menstruasi, dan umur bayi kurang dari 6
bulan (Yuhedi dan Kurniawati, 2014, hal. 48).
2) Metode kontrasepsi alamiah
Menurut Yuhedi dan Kurniawati (2014, hal 49-50)
Metode kontrasepsi alamiah merupakan metode untuk
mengatur kehamilan secara alamiah, tanpa menggunakan alat
apapun. Ada berbagai jenis kontrasepsi dalam metode ini,
antara lain natural family planning, fertility awareness
method, rythm method, pantang berkala dan periodik abstinens.
KB alamiah terdiri dari metode kalender, metode suhu
basal (temal), metode lendir serviks (billings), metode
simptotermal, dan koitus interuptus.
3) Kondom
Kondom adalah selubung atau sarung karet yang
dapat terbuat dari berbagai bahan yang diantaranya lateks
(karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani)
yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual. Kondom
menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan

4
cara mengemas sperma diujung selubung karet yang dipasang
pada penis dan mencegah penularan mikroorganisme (IMS dan
HIV/AIDS) dari satu pasangan kepada pasangan yang lain.
Efek samping dari kondom adalah kondom bisa rusak atau
diperkirakan bocor, adanya reaksi alergi dan mengurangi
kenikmatan seksual (Ulfah, 2013, hal. 174).
4) AKDR
Menurut Handayani (2010, hal 139) AKDR ialah suatu
alat atau benda yang dimasukan kedalam rahim yang sangat
fektif, reversible, dan berjangka panjang, dapat dipakai semua
perempuan usia reproduktif.
Cara kerja dari AKDR adalah mencegah terjadinya
fertilisasi,tembaga pada AKDR menyebabkan terjadinya reaksi
inflamasi steril, toksik buat sperma sehingga tidak mampu
untuk fertilisasi. Keuntungan dari kontrasepsi ini adalah efektif
sangat tinggi (0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1
tahun pertama) efektif segera setelah pemasangan, proteksi
jangka panjang, tidak mempengaruhi hungungan seksual, dan
tidak memengaruhi ASI. Sedangkan kerugian dari pemakain
kontrasepsi ini adalah perubahan siklus haid, haid lebih lama
dan banyak. Waktu yang tepat untuk pemasangan kontrasepsi
ini adalah kapan saja dalam siklus haid slama yakin tidak
hamil, boleh dipasang dalam waktu 48 jam setelah persalinan,
dapat juga dipasang setelah 4 minggu pasca persalinan dengan
dipastikan tidak hamil. Efek samping dari penggunaan adalah
perdarahan. Jika terjadi perdarahan yang banyak dan tidak
dapat di atasi sebaiknya AKDR dikeluarkan dan diganti
dengan AKDR yang berukuran kecil. Jika perdarahan sedikit,
dapat diusahakan mengatasi dengan pengobatan konservatif.

5
5) Kontrasepsi mantap
(a) Tubektomi (MOW)
Tubektomi adalah metode keluarga berencana dengan
metode keluarga berencana (MOW) dengan mengoklusi
tuba fallopi (mengikat dan memotong/memasang cincin),
sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum.
Vasektomi (MOP) (Ulfah, 2013, hal. 197).
(b) Vasektomi
Vasektomi adalah metode keluarga berencana yang
dilakukan dengan metode operasi pri (MOP). Mekanisme
kerjanya dapat menghentikan kapasitas reproduksi pria
dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia alur
transportasi sperma terhambat dan proses fertilitas tidak
terjadi (Ulfah, 2013, hal. 199).
b. Kontrasepsi hormonal
a) Pil KB
Pil KB atau oral contraceptives pill merupakan alat
kontrasepsi hormonal yang berupa obat dalam bentuk pil yang
dimasukkan melalui mulu (diminimun), berisi hormon estrogen
atau progesteron, yang bertujuan untuk mengendalikan kelahiran
atau mencegah kehamilan dengan menghambat pelepasan sel
telur dari ovarium seriap bulannya. Pil KB atau oral
contraseptives pill secara umum tidak sepenuhnya melindungi
wanita dari infeksi menular seksual dan akan efektif serta aman
apabila digunakan secara benar dan konsisten (Marmi, 2015,
hal. 190).
b) Injeksi/suntikan
(a) Suntik kombinasi
Suntik kombinasi merupakan kontrasepsi suntik
yang berisi hormon sintetis estrogen dan progesteron.
Mekanisme kerja : Menekan ovulasi, menghambat
transportasi gamet oleh tuba, mempertebal mukus serviks

6
(mencega penetrasi sperma) dan mengganggu pertumbuhan
endometrium, sehingga menyulitkan proses implantasi.
Keuntungan : Tidak berpengaruh pada hubungan suami
isteri, tidak memerlukan pemeriksaaan dalam, klien tidak
perlu menyimpan obat, resiko terhadap kesehatan kecil, efek
samping sangat kecil dan bisa digunakan dalam jangka
panjang.
Kekurangan : Perubahan pola haid, pada awal pemakaian
terasa mual, pusing, nyeri payudara dan keluhan ini tidak
menghilang setelah suntikan kedua atau ketiga,
ketergantungan klien pada pelayanan kesehatan, efektivitas
turun jika interaksi dengan obat, dapat terjadi efek samping
yan serius, terlambatnya pemulihan kesuburansetelah
berhenti, tidak menjamin perlindungan terhadap penularan
infeksi menular seksual, dan penambahan berat badan
(Handayani, 2010 hal 106).

(b) Suntikan progestin


Suntik kombinasi merupakan kontrasepsi suntikan
yang berisi hormon progesteron.
Mekanisme kerja : Menekan ovulasi, lendir serviks menjadi
kental dan sedikit, membuat endometrium menjadi kurang
baik, dan kemungkinan mempengaruhi kecepatan transpor
ovum di dalam tuba fallopi.
Keuntungan : Sangat efektif (0,3 kehmilan per 100 wanita
selama tahun pertama penggunaan), cepat efektif (<24 jam)
jika dimulai pada hari ke 7 dari siklus haid, pemeriksaan
panggul tidak diperlukan untuk memulai pemakaian, tidak
mengganggu hubungans seks, tidak mempengaruhi
pemberian ASI, efek smaping sedikit, klien tidak
memerlukan suplai (pasokan) bahan, bisa diberikan oleh
petugas non-medis yang sudah terlatih dan tidak
mengandung estrogen.

7
Kerugian : Perubahan dalam pola perdarahan haid,
penambahan berat badan, pasokan ulang harus tersedia,
harus kembali lagi untuk ulangan injeksi setiap 3 bulan
(DMPA) atau 2 bulan (NET-EN) dan pemulihan
kesuburuan bisa tertunda selama 7-9 bulan (secara rata-rata)
setelah penghentian (Handayani, 2010, hal. 111).
c) Implan
Implan adalah alat kontrasepsi yang berupa susuk
yang terbuat dari sejenis karet silastik yang berisi hormone
dipasang dilengan atas.
Cara kerja : Menghambat ovulasi, perubahan lendir servik
menjadi kental dan sedikit, menghambat perkembangan
siklus dari endometrium.

Keuntungan : Cocok untuk wanita yang tidak boleh


menggunakan obat yang mengandung estrogen, dapat
digunnakan untuk jangka waktu panjang (5 tahun), resiko
terjadinya kehamilan ektopik lebih kecil jika dibandingkan
dengan pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim.
Kekurangan : Harus dipasang dan diangkat oleh petugas
kesehatan yang terlatih, lebih mahal, sering timbul
perubahan pola haid, akseptor tidak dapat menghentikan
implan sendiri (Handayani , 2010 hal 116).
4. Metode Kontrasepsi Rasional
Handayani (2010, hal. 92) menyatakan KB rasional dibuat untuk
menyelamatkan ibu dan anak akibat ibu melahirkan pada usia muda, jarak
kelahiran yang terlalu dekat dan ibu melahirkan pada usia tua, perlu
dibuat perencanaan keluarga menuju keluarga kecil, bahagia, dan
sejahtera yang sifat-sifatnya sesuai dengan ciri-ciri setiap periode
perencanan keluarga tersebut yaitu sebagai berikut:

8
a. Masa Menunda Kehamilan
Pasangan usia subur dengan istri berusia kurang dari 20
tahun kembalinya kesuburan lebih tinggi. Artinya kembalinya
kesuburan dapat dijamin 100%. Hal ini penting karena dalam
periode ini, akseptor belum mempunyai anak. Efektifitas tinggi.
Hal ini penting karena kegagalan akan menyebabkan terjadinya
kehamilan dengan risiko tinggi. Kontrasepsi yang sesuai: pil, cara
sederhana, AKDR, kondom.
b. Masa Mengatur Kesuburan
Menjarangkan kehamilan, usia istri antara 20-30 tahun
merupakan periode yang paling baik untuk melahirkan dengan
jumlah anak dua orang dan jarak kelahiran anak kesatu dan kedua
sesuai dengan jarak kelahiran yang aman untuk kesehatan ibu dan
anak. Tidak menghambat produksi ASI di mana penggunaan ASI
mempengaruhi angka kematian bayi dan kesakitan bayi.
Kontrasepsi yang disarankan: AKDR, suntikan, pil, implant, cara
sederhana, kontap (bila umur sekitar 30 tahun).
c. Masa Mengakhiri Kesuburan (Tidak Hamil Lagi)
Pasangan usia subur dengan periode usia istri lebih dari 30
tahun sebaiknya mengakhiri kesuburan setelah mempunyai anak.
Efektivitas sangat tinggi, kegagalan menyebabkan terjadinya
kehamilan dengan risiko tinggi. Selain itu akseptor sudah tidak
ingin mempunyai anak lagi, dapat dipakai untuk jangka panjang
serta tidak menimbulkan munculnya penyakit lain. Kontrasepsi
yang disarankan: kontrasepsi mantap (kontap), implant, AKDR,
pil, suntikan, cara sederhana.

9
Tabel 2.1 Metode Kontrasepsi Rasional
Umur
Jumlah 20-24
20 tahun 25-29 tahun 30-34 tahun 35 tahun
anak tahun

Pil Pil Tanpa Tanpa Risiko tinggi,


AKDR AKDR kontrasepsi kontrasepsi perlu
Cara Cara bimbingan,
0
sederhana sederhana bantuan dan
pengawasan
ahli
AKDR AKDR AKDR AKDR Risiko tinggi,
Pil Pil Suntik Suntik perlu
Suntik Suntik Implant Implant bimbingan,
1
Cara Cara Pil Pil bantuan dan
sederhana sederhana Cara Cara pengawasan
sederhana sederhana ahli
AKDR AKDR Kontap Kontap Kontap
Suntik Suntik Implant Implant AKDR
Implan Implan AKDR AKDR Implan
2
Pil Pil Suntik Suntik Cara
Cara Cara Pil Pil sederhana
sederhana sederhana
Kontap Kontap Kontap Kontap Kontap
Implant Implant AKDR AKDR AKDR
AKDR AKDR Implan Implan Implan
3 atau
Suntik Suntik Suntik Suntik Suntik
lebih
Pil Pil Cara Cara Cara
Cara Cara sederhana sederhana sederhana
sederhana sederhana Pil Pil Pil
Sumber: Sulistyawati (2014, hal. 138)

10
BAB III

ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA BERENCANA

A. ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA BERENCANA


1. Pengkajian
Hari / Tanggal : Minggu, 28 Februari 2021
Pukul : 20.00 WITA

Tabel 3.1 Identitas Responden

Isteri Suami
Nama Ny N Tn T
Umur 34 th 45 th
Suku/Bangsa Banjar/Indonesia Banjar/Indonesia
Agama Islam Islam
Pendidikan SMP Perguruan Tinggi
Pekerjaan IRT Sopir
Alamat Jl Kenanga RT.01 Indrasari

2. Prolog
Ibu datang ke PMB ingin menggunakan kontrasepsi pasca salin.
Ibu dalam masa nifas 6 minggu dan telah diberikan konseling tentang
kontrasepsi yang dapat digunakan pasca salin. Ibu sedang menyusui dan
pengeluaran ASI lancar. Sebelum hamil ibu menggunakan kontrasepsi
suntik 1 bulan. Ibu tidak mempunyai riwayat penyakit keturunan seperti
hipertensi, diabetes mellitus, jantung, asma, dan kanker payudara.

3. Data Subjektif
Ibu mengatakan ingin menjadi kontrasepsi suntik 3 bulan.

4. Data Objektif

11
Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, TD 120/80
mmHg, N 77x/menit, R 20 x/menit, T 36,6 ºC konjungtiva tidak pucat,
sklera tidak ikterik, tidak ada pembengkakan tiroid dan pembesaran vena
jugularis, payudara tidak bengkak, ASI keluar lancar, tidak ada benjolan
pada payudara, tidak ada benjolan pada abdomen, tidak ada varises dan
oedem pada ekstremitas. Ibu mengerti.

5. Analisa
P3A1 akseptor KB suntik 3 bulan

6. Penatalaksanaan
a. Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada Ibu bahwa keadaan ibu
baik dan dalam keadaan normal. Ibu mengerti.
b. Memberitahukan kepada ibu bahwa KB suntik 3 bulan memiliki efek
samping seperti :
1) Gangguan siklus haid yang bisa memanjang atau memendek.
2) Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian
pemakaian.
3) Permasalahan berat badan merupakan efek samping yang paling
sering dialami
4) Terjadi perubahan pada lipid serum atau kolestrol pada
penggunaan jaka panjang
5) Menimbulkan rasa sakit akibat di suntik
c. Memberikan informed consent bahwa ibu bersedia menggunakan KB
suntik 3 bulan.
d. Mempersiapkan alat dan bahan yaitu : spuit 3 cc, needle, kapas
alcohol, bengkok, obat depo progrestin (obat suntik 3 bulan)
e. Menganjurkan ibu untuk memposisikan badannya senyaman
mungkin yaitu berbaring tengkurap.
f. Melakukan tindakan yaitu menentukan daerah penyuntikan 1/3
bagian luar antara SIAS-Os Coccyges.
g. Menganjurkan ibu untuk kontrol ulang apabila ada keluhan selama
pemakaian kontrasepsi tersebut. Ibu mengerti.

12
h. Memberitahu ibu untuk melakukan suntik ulang pada tanggal 23 Mei
2021. Ibu mengerti.
i. Mendokumentasikan hasil tindakan

13
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Asuhan keluarga berencana pada Ny. N diberikan pada 2 minggu
masa nifas untuk dilakukan konseling dan pada 6 minggu masa nifas
menggunakan kontrasepsi suntik depo progestin. Ny.N dianjurkan untuk
melakukan suntik ulang tanggal 23 Mei 2021.

B. SARAN
Kepada klien dan masyarakat agar menemui petugas kesehatan
untuk mengikuti konseling KB sebelum memilih kontrasepsi apa yang
cocok untuk kondisi kesehatan klien sehingga KB dapat digunakan secara
efektif.

14
DAFTAR PUSTAKA

Handayani. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta.


Pustaka Rihama.

Sulistyawati,Ari. 2014. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta. Salemba


Medika.

Ulfah, MKD. 2013. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana
untuk Mahasiswa Bidan. Jakarta. TIM.

15

Anda mungkin juga menyukai