LAPORAN PROPOSAL TERAPI BERMAIN LEGO PADA ANAK USIA
6 TAHUN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan tugas pada mata kuliah Klinik Keperawatan
Anak
Dosen Pengampu: Maulina Handayani, [Link]., [Link]
Disusun Oleh :
Aprilia Nur Aini (11181040000026)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
JANUARI/2021
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Bermain biasanya melekat pada anak-anak usia pra sekolah. Menurut Trinova sendiri
bermain merupakan kegiatan yang serius tetapi mengasikkan, bermain juga aktivitas yang
dipilih sendiri oleh anak bukan untuk hadiah atau pujian (Trinova, 2012). Masa
prasekolah adalah masa dimana kognitif anak mulai menunjukkan perkembangan dan
anak telah mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah. Pengalaman belajar yang
diperlukan usia prasekolah diantaranya mengenal warna, mengerti kata sifat, mengenal
huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana, dan mengenal bentuk
suatu obyek. Perkembangan kognitif anak prasekolah dapat dilihat dari kemampuan
secara simbol maupun abstrak seperti berbicara, bermain, berhitung, membaca, dan lain-
lain. Metode yang dapat menstimulasi perkembangan kognitif anak sangat bervariatif,
salah satunya dengan lego. Lego merupakan permainan konstruktif berupa kepingan
plastik yang dapat disusun dan dirangkai menjadi aneka bentuk. Anak yang terbiasa
memainkan permainan bongkar pasang ini dapat memenuhi ketiga aspek perkembangan
yaitu perkembangan motorik kasar, halus, dan kognitif sekaligus. Menurut LeGoff
bermain “lego” dapat menunjukkan adanya keterampilan sosial yang lebih baik pada
anak-anak yang mengalami autism dan gangguan komunikasi sosial lainnya. Terapi
bermain ini juga meningkatkan kemampuan anak untuk merubah perilakunya, lebih
memahami dan berbicara tentang perasaan mereka, menyelesaikan masalah dan belajar
tentang dunia dimana mereka hidup, lebih baik daripada metode terapi bermain lainnya.
Bermain “lego” dapat meningkatkan pola pikir dan kreativitas anak dengan metode
bermain sambil belajar.
(Ningtyas, 2014)
B. Tujuan :
Tujuan dari permainan lego sendiri yaitu untuk meningkatkan perkembangan kognitif
berpikir simbolik anak usia 0-6 tahun serta dapat meningkatkan kreatifitas anak.
BAB II
DESKRIPSI KASUS
A. Karakteristik sasaran:
An S jenis kelamin perempuan, umur 6 tahun lahir di Bekasi tanggal 23
Desember 2014.
B. Prinsip bermain:
Prinsip bermain lego dalam kasus ini adalah menggunakan metode solitary play
yaitu anak bermain sendiri dengan alat yang sudah disediakan yaitu permainan
lego dengan demikian anak mencari kesibukannya sendiri tanpa perduli dengan
orang lain yang ada disekitarnya.
C. Karakteristik Permainan
Anak melakukan permainan lego dengan menyusun balok plastik atau lego yang
sudah disediakan lalu mereka disuruh untuk membuat apapun sesuai imajinasi
mereka dari balok-balok lego yang mereka susun. Hal ini dapat meningkatkan
kreatifitas serta imajinasi mereka dalam permainan lego.
BAB III
METODELOGI BERMAIN
A. Deskripsi bermain
Lego merupakan sejenis mainan bongkar pasang yang biasanya terbuat
dari plastik kecil, yang biasanya cukup terkenal di kalangan anak-anak.
Kepingan-kepingan lego bisa disusun menjadi model apa saja, seperti
rumah, mobil, kreta api, kota patung, kapal, pesawat, robot dan lain-lain.
Perminan ini hampir sama seperti building block biasanya sangat
mengkhususkan namun lebih varian. Kalau building block, biasanya hanya
mengkhusukan pada satu bangunan berupa rumah saja, namun untuk lego
banyak objek yang ditirukan.
(Agus, 2011)
Lego adalah alat permainan edukatif yang terbuat dari plastik. Alat
permainan ini berupa potongan-potongan persegi maupun persegi panjang,
yang masing-masing dapat ditancapkan dan susun sesuai dengan keinginan.
(Rani, 2010)
Lego merupakan alat permainan edukatif modern yang terbuat dari bahan
plastik.
(Fadillah, 2012)
B. Tujuan permainan
Permainan balok atau lego dapat dimainkan dengan berbagai cara dan
bentuk untuk melatih tidak hanya aspek motorik halus tetapi juga dapat
mengenal konsep warna, ukuran dan bentuk pada anak sehingga muncul
kreativitas anak. Selain itu manfaat permainan lego adalah mengembangkan
kemampuan anak untuk berdaya cipta (kreatif), melatih ketrampilan motorik
halus, melatih konsentrasi, ketekunan, dan daya tahan.
(Fadillah, 2012)
C. Ketrampilan yang diperlukan:
Kogitif, motoric halus, kreatifitas.
D. Jenis permainan:
Lego
E. Alat bermain
Lego.
F. Proses bermain:
Anak diberikan lego lalu disusun sesuai dengan imajinasi mereka.
G. Waktu pelaksanaan:
Selasa 2 Februari 2021 Pukul 20.00 WIB di rumah.
H. Hal-hal yang perlu diwaspadai
Jika anak mulai merasa bosan mak hentikan permainan.
I. Antisipasi meminimalkan hambatan:
Main lego selama 15 menit agar tidak terlalu lama untuk mencegah rasa
bosan.
J. System evaluasi:
Anak dapat menyelesaiakan/ mengikuti permainan hingga akhir dengan
baik. Anak bisa menyusun lego menjadi bentuk sebuah ruangan rumah yang
di dalamnya ada kolam renang, garasi, ruang makan, ruang keluarga dan
juga dapur. Imajinasi anak sudah sangat bagus serta mampu menyusun
bentuk lego sesuai dengan kemampuan serta imajinasinya.
K. Susunan pelaksanaan
Setting tempat:
Di rumah anak, anak duduk dengan diberi sebuah mainan lego lalu anak
bebas menyusun lego tersebut sesuai dengan kemampuan dan imajinasi
mereka.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan :
Anak dapat mengikuti permainan hingga selesai. Anak dapat mengenal warna dan
juga membuat sebuah hasil karya sesuai dengan imajinasi mereka. Anak memiliki
kreativitas yang sangat cemerlang dapat dibuktikan dengan ia mampu membuat
denah ruangan rumah sesuai dengan imajinasi mereka dan real atau nyata dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan pola terapi permainan lego diharapkan anak dapat
memperluas imajinasi serta kreativitas mereka dalam membuat suatu bangunan
atau objek dari bahan lego. Hal ini dapat pula meningkatkan kognitif atau
pengetahuan mereka dalam menyusun lego.
DAFTAR PUSTAKA
Agus N. Cahyo. 2011. Gudang Permainan Kreatif Khusus Asah Otak Kiri Anak.
Jogjakarta : Flashbooks.
Fadillah, Muhammad. 2012. Desain Pembelajaran PAUD : Tinjauan Teoritik dan
Praktik. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.
Kartini, Indria Susilawati. 2018. Pengaruh Media Pembelajaran Lego Untuk
Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini. Diambil dari
[Link] Diakses tanggal 2
Februari 2021.
Ningtyas. 2014. Metode Bermain Lego dalam Upaya Menumbuhkan Kecerdasan
Kinestetik Pada Anak. Diambil dari [Link] Diakses
tanggal 2 Februari 2021 Pukul 21.00 WIB.
Yulianti, Rani. 2010. Permainan Yang Meningkatkan Kecerdasan Anak. Jakarta:
Laskar Aksara.
Zulvia Trinova. 2012. Hakikat Belajar dan bermain Menyenangkan Bagi Peserta
Didik. Diambil dari [Link] . Diakses tanggal 2 februari
2021 Pukul 23.02 WIB.
HASIL DOKUMENTASI