Rencana Fisioterapi Upper Crossed Syndrome
Rencana Fisioterapi Upper Crossed Syndrome
Oleh:
I Gede Rama Wahyu Prayoga
NIM: 17121001043
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-
Nya penulis dapat sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan yang membahas
mengenai “Upper Crossed Syndrome”
Laporan Praktik Kerja Lapangan merupakan salah satu laporan yang wajib
dibuat oleh mahasiswa setelah melaksankan praktik kerja lapangan. Adapun isi dari
laporan ini mencakup BAB I, BAB II, BAB III dan BAB IV. BAB I berisi latar
belakang, maksud dan tujuan, serta profil lahan klinik. Pada BAB II berisi tentang
kajian teori yang membahas mengenai upper crossed syndrome. Pada BAB III berisi
tentang hasil kegiatan yang mencakup keterangan umum pasien, data medis lahan
praktik klinik, dan penanganan dari segi fisioterapi. Pada BAB IV berisi kesimpulan
dan saran.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam
makalah ini, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua
pihak sangat diharapkan.
Penulis
ii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................iv
DAFTAR TABEL...................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................1
1.2 Maksud dan Tujuan......................................................................................3
1.3 Profil Lahan Klinik.......................................................................................3
BAB II KAJIAN TEORI.......................................................................................5
2.1 Anatomi dan Biomekanik.............................................................................5
2.1.1 Otot Trapezius.....................................................................................5
2.1.2 Otot Levator Scapula..........................................................................6
2.1.3 Biomekanik.........................................................................................6
2.2 Definisi Upper Crossed Syndrome...............................................................9
2.3 Etiologi Upper Crossed Syndrome.............................................................11
2.4 Patofisiologi Upper Crossed Syndrome.....................................................12
2.5 Tanda dan Gejala Upper Crossed Syndrome.............................................13
2.6 Pemeriksaan dan Tes Spesifik....................................................................13
2.7 Intervensi....................................................................................................15
BAB III HASIL KEGIATAN..............................................................................17
3.1 Keterangan Umum Pasien..........................................................................17
3.2 Data Medis Lahan Praktik Fisioterapi........................................................17
3.3 Segi Fisioterapi...........................................................................................17
3.3.1 Pemeriksaan Subjektif......................................................................17
3.3.2 Pemeriksaan Objektif........................................................................20
3.3.3 Clinical Reasoning............................................................................22
3.3.4 Algoritma..........................................................................................23
3.3.5 Underlying Proccess.........................................................................24
3.3.6 Diagnosa Fisioterapi.........................................................................25
3.3.7 Rencana Program Fisioterapi............................................................25
3.3.8 Rancangan Intervensi Fisioterapi......................................................25
3.3.9 Hasil Terapi Akhir............................................................................27
BAB IV PENUTUP..............................................................................................28
4.1 Kesimpulan.................................................................................................28
4.2 Saran...........................................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA
iii
DAFTAR GAMBAR
iv
DAFTAR TABEL
v
vi
BAB I
PENDAULUAN
1
2
Salah satu tempat PKL yang disetujui adalah Klinik Mandiri I Komang
Suciptha Gago, [Link], Ftr,. Mahasiswa yang mendapat tempat di Klinik Mandiri I
Komang Suciptha Gago, [Link], Ftr, mendapat banyak pengarahan dan bimbingan
mengenai kasus yang sering ditangani seperti Hernia Nucleus Pulposus, Upper
Crossed Syndrome, pasca stroke, program penambahan tinggi badan dan kasus
fisioterapi lainnya. Selain itu setiap hari jumat malam akan dilaksanakan night report
untuk membahas tentang kasus-kasus yang ditangani di klinik dan membahas
beberapa materi lainnya. Dalam PKL ini mahasiswa diwajibkan membuat laporan
minat sebagai upaya pemahaman ilmu yang didapat selama PKL. Dari berbagai kasus
yang ada dalam laporan minat ini saya memilih kasus Upper Crossed Syndrome.
Upper Crossed Syndrome adalah ketegangan pada otot levator scapula,
pectoralis major dan upper trapezius sedangkan kelemahan pada otot serratus
anterior, deep neck fleksor, middle trapezius, lower trapezius dan rhomboid. Sindrom
ini terutama muncul sebagai akibat dari ketidakseimbangan otot yang biasanya
berkembang antara otot tonik dan otot fasik, otot tonik adalah otot yang sebagian
besar waktu menjadi tegang yaitu terlalu difasilitasi sedangkan otot fasik adalah otot
dengan aktivasi yang lebih rendah yaitu mereka lebih mengarah pada pengembangan
penghambatan.
Pada kesempatan ini, mahasiswa berminat untuk mengetahui lebih lanjut
penanganan yang diberikan kepada penderita Upper Crossed Syndrome yang datang
ke Klinik Mandiri I Komang Suciptha Gago, [Link], Ftr,. Dengan metode awal yang
dapat dilakukan yaitu teknik wawancara dengan Nordic Body Map Questionare,
melakukan pemeriksaan kondisi umum, melakukan pemeriksaan fisik untuk
mendapatkan informasi yang berkaitan dengan penyebab terjadinya Upper Crossed
Syndrome agar dapat menentukan diagnosis fisioterapi pada penderita, selanjutnya
menentukan perancangan program terapi dan intervensi fisioterapi dengan modalitas
fisoterapi yang terdapat di klinik yaitu berupa Transcutaneus Electrical Nerve
Simulation (TENS), Infrared (IR), dan traksi yang bertujuan untuk mengurangi
3
spasme otot yang dirasakan penderita, serta manual terapi berupa Massage Release
untuk mengurangi spasme otot.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL)
adalah:
1.2.1 Maksud dan Tujuan Umum
1. Memberi kesempatan bagi mahasiswa Program Studi Fisioterapi
Universitas Dhyana Pura untuk menerapkan ilmu dan keterampilan secara
langsung yang sudah didapat selama perkuliahan di tempat PKL.
2. Memberikan pengalaman dan gambaran tentang dunia kerja fisioterapi
dari tempat PKL agar mahasiswa mampu memahami tugas dan kewajiban
sebagai seorang fisioterapis.
3. Dapat berbagai pengalaman antar teman mahasiswa tentang bagaimana
sistem kerja dari tempat PKL masing-masing.
1.2.2 Maksud dan Tujuan Khusus
Mahasiswa secara langsung dapat merencanakan proses fisioterapi mulai
dari assesment, pemeriksaan, diagnosis fisioterapi, planning, intervensi yang
diberikan kepada penderita Upper Crossed Syndrome.
1.3 Profil Lahan Praktik
Klinik Mandiri I Komang Sucipta Gago,[Link].,Ftr. bertempat di Jalan Antasura,
Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali. Terdapat dua
klinik yaitu klinik fisioterapis adalah klinik yang menangani masalah anggota gerak
tubuh mulai dari dewasa hingga lanjut usia, kemudian terdapat klinik pediatri atau
terapis tumbuh kembang anak, dua klinik tersebut berada pada satu tempat yang sama
hanya saja klinik pediatri berada di lantai dua. Pada klinik fisioterapis terdapat satu
ruangan yang digunakan untuk menangani pasien yang datang, dan juga terdapat
berbagai modalitas fisioterapi diantaranya traksi, TENS (Transcutaneus Electrical
Nerve Stimulation), IR (Infrared), US (Ultrasound), dan Diathermy. Jadwal praktek
pada klinik fisioterapi pada hari senin sampai jumat dimulai dari pukul 16.00 – 21.00
4
WITA, pada hari sabtu dan minggu pasien yang datang untuk membuat janji terlebih
dahulu kepada terapis yang bersangkutan. Pada klinik pediatri atau terapis tumbuh
kembang anak ditangani oleh Ibu Indah Pramita, SST,Ft.,[Link], terdapat dua ruangan
yang biasa digunakan untuk menangani pasien anak-anak, terdapat juga berbagai
macam mainan anak yang biasa digunakan anak untuk bermain di ruangan pada saat
proses terapi. Jadwal praktek pada klinik pediatri pada hari senin sampai jumat
dimulai dari pukul 09.00 – 21.00 WITA, pada hari sabtu dimulai pada pukul 09.00 –
14.00 WITA dan hari minggu libur.
5
BAB II
KAJIAN TEORI
6
7
b. Axial Rotasi
Rotasi kepala dan leher pada bidang horizontal gerakan penting, integral
untuk penglihatan dan pendengaran. Daerah kranioserviks berputar sekitar 90
O
ke setiap sisi, memungkinkan hampir 180O gerakan rotasi. Dengan tambahan
150O hingga 160O gerakan bidang horizontal total mata, bidang visual
semakin mendekat 360O tanpa memindahkan trunk. Sendi atlanto-aksial
bertanggung jawab atas sekitar setengah dari rotasi yang terjadi di daerah
kranioserviks. Vertikal dens dan aspek superior hampir horizontal dari sumbu
(C2) biarkan atlas berbentuk cincin (C1) berputar bebas dan aman sekitar 45 O
di kedua arah. Catatan bahwa kepala tidak berputar secara independen dari
bentuk cincin atlas. Sambungan atlanto-oksipital yang dalam sangat menolak
rotasi; rotasi kepala oleh karena itu adalah hasil atlas dan kranium yang
terpasang berputar sebagai unit tetap relatif terhadap sumbu.
Rotasi C2-C7 terutama dipandu oleh orientasi miring dari sendi facet.
Gerakan gabungan ini sambungan memungkinkan sekitar 45 derajat rotasi di
kedua arah dan secara mekanis digabungkan dengan jumlah yang sangat
sedikit fleksi lateral sekunder dari orientasi faset sendi.
c. Lateral Fleksi
Daerah kranioserviks memungkinkan sekitar 40O lateral fleksi ke setiap
sisi. Meski minimal, atlanto-oksipital sendi memberikan kontribusi sekitar 5O
fleksi lateral. Sebagian besar gerakan terjadi antara C2 dan C7. Gerakan ini
dipandu oleh kemiringan 45O dari sendi facet. Karena orientasi permukaan
segi, rotasi bidang horizontal penglihatan secara mekanis digabungkan dengan
fleksi lateral.
Sindroma miofasial otot upper trapezius adalah suatu gangguan lokal pada otot
upper trapezius yang didapatkan adanya trigger point yang timbul dari taut band
yang membentuk seperti jalinan tali dan lunak ketika disentuh atau dipalpasi, yang
menimbulkan refleks ketegangan pada otot tersebut dan dirasakan nyeri yang
menjalar dengan pola yang spesifik. Nyeri miofasial otot trapezius menjalar di
sepanjang punggung atas dan leher, dibelakang telinga dan di pelipis, (Sugijanto,
2015).
Efek jangka panjang UCS menyebabkan nyeri punggung bawah karena beban
berlebih struktural yang konstan dan juga mendatarnya lordosis lumbal dan
menyebabkan pelvic tilt posterior. Hal ini menyebabkan kelemahan multifidus, perut,
erektor spine, dan gluteus. Pada penderita Upper Crossed Syndrome ketegangan yang
terlihat pada otot-otot sekunder inspirasi membuatnya menjadi terlalu aktif selama
pernapasan normal. Aktivasi diafragma dan interkostalis yang buruk juga
menyebabkan aktivasi berlebihan pada otot-otot sekunder. Ini mengarah pada pola
pernapasan yang tidak normal (Kirthika, et al., 2018).
2.3 Etiologi Upper Crossed Syndrome
Penyebab terjadinya upper crossed syndrome disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain (Sugijanto, 2015):
1. Trauma pada jaringan myofasial
Trauma adalah suatu cidera pada otot atau fasia. Ketika jaringan miofasial
mengalami cidera maka akan terjadi proses inflamasi, diikuti dengan adanya
produksi berlebih serabut kolagen. Adanya ketegangan serabut kolagen akan
menurunkan mobilitas dari jaringan miofasial sehingga mudah terjadi
pemendekan serabut kolagen. Ketika serabut kolagen memendek akan
mengakibatkan tekanan dalam jaringan miofasial meningkat. Peningkatan
tekanan pada jaringan miofasial akan menekan arteri, vena, dan pembuluh
darah limfe yang akan menyebabkan iskemik dan timbul miofasial trigger
point, sehingga jaringan akan mudah mengalami kontraktur. Selain itu, adanya
beban tegangan yang berlebih yang diterima jaringan miofasial secara terus
13
sirkulasi menurun, sehingga kekurangan nutrisi dan oksigen serta penumpukan sisa
metabolisme menghasilkan proses radang. Proses radang dapat juga menimbulkan
respon neuromuskular berupa ketegangan otot di sekitar area yang mengalami
kerusakan otot tersebut, sehingga timbul viscous circle. Suatu peradangan kronis
menghasilkan zat algogen berupa prostaglandin, bradikinin dan serotonin yang dapat
menimbulkan sensori nyeri (Makmuriyah, 2013).
2.5 Tanda dan Gejala Upper Crossed Syndrome
Terdapat beberapa tanda dan gejala dari upper crosssed syndrome, yaitu sebagai
berikut: (Sugijanto, 2015)
1. Nyeri lokal pada otot dan dirujuk pada daerah sekitar otot atau ketempat
lain dengan innervasi somatik atau vegetatif yang sama.
2. Tightness otot dan spasme otot-otot sekitarnya sebagai akibat sekunder dari
nyeri.
3. Ketika dipalpasi terdapat tautband pada otot dan fasia serta jaringan ikat
longgar. Tautband merupakan cross brige beberapa motor unit miofibril
atau sekelompok serabut otot yang menegang yang berbentuk serabut tali.
Ketegangan otot ini akan berkembang menjadi pemendekan jaringan otot
dan fascia.
4. Terdapat trigger point pada tautband tersebut. Trigger point merupakan
area yang sangat sensitif akan nyeri. Ketika diberi penekanan pada area
trigger point akan menimbulkan reffered pain. Semakin sensitif trigger
point maka akan menimbulkan reffered area yang semakin luas, nyeri ini
akan lebih dirasakan ketika beraktivitas.
2.6 Pemeriksaan dan Tes Spesifik
1. Spurling Test
a. Tujuan: Tes dilakukan untuk mengetahui adanya Cervical Root
Syndrome.
b. Prosedur: Posisi pasien duduk. Posisi pemeriksa berdiri di belakang
pasien. Di lakukan dengan cara posisi leher diekstensikan dan leher
15
dengan ujung kiri diberi tanda yang berarti “tidak nyeri” sedangkan ujung
kanan diberi tanda yang berarti “nyeri tak tertahankan”.
2.7 Intervensi
1. Infrared
Infra red merupakan terapi superficial heating dengan panjang
gelombang 750-400.000A. Terdapat 2 jenis generator yaitu luminous dan
non luminous. Infra red yaitu pancaran gelombang elektro magnetik
dengan panjang gelombang 7.700 – 4 juta Å menurut gelombangnya, daya
penetrasi gelombang panjang hanya sampai superficial epidermis (0,005
mm), sedang daya penetrasi pendek sampai jaringan subcutan yang dapat
mempengaruhi secara langsung terhadap pembuluh darah kapiler,
pembuluh limfe , ujung – ujung saraf, dan jaringan lain di bawah kulit.
Penggunaan infra red melalui efek fisiologis yaitu terserapnya panas pada
kulit akan meningkatkan temperatur yang berpengaruh dalam peningkatan
metabolisme dan vasodilatasi pada pembuluh darah (Amin, dkk., 2018).
Infrared merupakan salah satu terapi panas yang diberikan sebelum
melakukan manual terapi. Efek panas dari infrared akan menyebabkan
peningkatan suhu di area superfisial. Hal ini dapat menstimulasi reseptor
saraf pada kulit dan impulsnya akan diteruskan ke hipothalamus, sehingga
menyebabkan terjadinya peningkatan aliran darah di area terapi dan
jaringan dibawahnya. Peningkatan sirkulasi menyebabkan metabolisme
meningkat pada jaringan, sehingga zat-zat yang menyebabkan nyeri dapat
dikeluarkan dari jaringan (Kharismawan, 2016).
2. Myofascial Release
Myofascial release merupakan teknik massage yang berfungsi untuk
peregangan pada fasia untuk melepaskan perlengketan antara fasia dan
integumen, otot, tulang, dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri dan
meningkatkan lingkup gerak sendi (Sugijanto, 2015).
3. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS)
17
19
20
Keterangan:
A = Putih (Tidak Sakit)
B = Hijau (Sedikit Sakit)
C = Kuning (Sakit)
D = Merah (Sangat Sakit)
21
2. Keluhan Utama
Nyeri pada leher atas dan bawah
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh nyeri pada leher atas dan bawah, terkadang pasien juga
merasakan seperti rasa pegal sampai ke punggung.
4. Riwayat Keluarga dan Status Sosial
Tidak ada riwayat keluarga yang sama seperti pasien dan status sosial
pasien baik.
5. Riwayat Penyakit Dahulu dan Penyerta
Pasien pernah mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
3.3.2 Pemeriksaan Objektif
1. Pemeriksaan Tanda Vital
a. Tekanan Darah : 120/80 mmHg
b. Denyut Nadi : 76 x/menit
c. Pernapasan : 16 x/menit
d. Temperatur : 36,80 C
e. Tinggi Badan : -
f. Berat Badan : -
2. Inspeksi/Observasi
Saat posisi diam pasien cenderung duduk dengan posisi sedikit
membungkuk dan saat bergerak pasien berjalan dengan posisi tubuh
sedikit membungkuk. Pasien tidak memakai bantuan dan datang ke klinik
fisioterapi secara mandiri.
3. Palpasi
Adanya nyeri gerak saat ekstensi servikal, lateral fleksi servikal dan
elevasi shuolder, spasme otot pada upper trapezius dan levator scapula.
4. Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar
a. Gerak Aktif: Adanya nyeri dan keterbatasan pada saat lateral fleksi
servikal, ekstensi servikal dan elevasi shoulder.
23
3.3.4 Algoritma
26
27
traksi secara berjeda dan lembut dapat membantu mengurangi spasme otot dan
daya kompresi spinal akibat dari spasme otot.
4.1 Kesimpulan
Upper Crossed Syndrome didefinisikan sebagai pola ketidakseimbangan otot.
Upper Crossed Syndrome mengacu pada aktivasi otot tertentu yang diubah dan pola
gerakan bersama dengan beberapa penyimpangan postural. Perubahan dalam aktivasi
otot termasuk aktivitas berlebihan dari upper trapezius, levator scapula dan
pectoralis dan kurangnya aktivitas dari otot flexsor cervical, middle dan lower
trapezius dan seratus anterior. Ada pola gerakan skapula yang berubah dan
perubahan postur tertentu, termasuk postur kepala dan bahu ke depan dan
peningkatan kifosis thoraks. Perubahan ini dapat menyebabkan penurunan stabilitas
sendi glenohumeral dan berbagai gejala muskuloskeletal di kepala, leher, dan bahu.
Pada laporan ini dengan pasien laki-laki inisial IMW berusia 52 tahun
mengalami keluhan nyeri pada leher atas dan bawah dan terdapat spasme pada otot
upper trapezius dan levator scapula. Intervensi fioioterapi yang diberikan adalah
berupa IR, Myofascial Release, TENS dan Traksi Serta dilakukan evaluasi yang
mendapatkan hasil terjadi penurunan nyeri dan spasme otot dan pasien sudah nyaman
melakukan aktivitas sehari-hari.
4.2 Saran
Saran ini disampaikan penulis agar tercapainya tujuan secara optimal terutama
kepada fisioterapis dan pasien
Fisioterapis merupakan orang yang bertugas pada bidang kesehatan yang
berperan penting dalam kesembuhan pasien. Sebagai fisioterapi dalam memberikan
pelayanan harus memiliki jiwa kemanusiaan dan penuh tanggung jawab. Pasien yang
datang memiliki keinginan dan keyakinan untuk sembuh, maka dari itu dalam
memberikan tindakan harus sistematis dari anamnesis, pemeriksaan diagnosa,
intervensi, dan evaluasi harus dikerjakan dengan teliti dan hati-hati. Pemberian
32
33
penjelasan dan pengertian dalam memberikan tindakan dan dosis yang tepat agar
tercapai tujuan yang maksimal dalam memberikan pelayanan terhadap pasien.
Kesembuhan pasien merupak tujuan utama dalam memberikan pelayanan
kesehatan. Kesembuhan pasien tergantung kerjasama antar petugas kesehatan dengan
pasien. Maka dari itu pasien diharapkan memiliki keyakinan untuk sembuh dan pulih.
Semua program-program yang telah diberikan oleh fisioterapi akan lebih maksimal
jika pasien juga melaksanakannya dengan rutin.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, A dkk. 2018. Pengaruh Infrared, TENS dan Low Back Core Stabilization
Exercise Pada Kondisi Myalgia. Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 2 No
1. ISSN: 2548-8716.
Boyattork, M et al. 2020. The effectiveness of a comprehensive corrective exercises
program and subsequent detraining on alignment, muscle activation, and
movement pattern in men with upper crossed syndrome: protocol for a
parallel-group randomized controlled trial. Trials 21:225.
Dewangga, Mahendra. 2020. Efektifitas Penggunaan Traksi Cervical Untuk
Menurunkan Derajat Nyeri Pada Penderita Nyeri Leher. Jurnal Ilmiah Umum
dan Kesehatan Aisyiyah Vol 5(2).
Haryatno, Pajar dan Heru Purbo. 2016. Pengaruh Pemberian TENS dan Myofascial
Release Terhadap Penurunan Nyeri Leher Mekanik. Jurnal Terpadu Ilmu
Kesehatan Vol 5(2).
Hayes, Karen W. 2017. Agen Modalitas Untuk Praktik Fisioterapi, Ed.6. EGC:
Jakarta. ISBN: 0136072151.
Kharismawan, dkk. 2016. Perbedaan Intervensi Muscle Energy Technique dan
Infrared Dengan Positional Release Technique dan Infrared Terhadap
Penurunan Nyeri Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius. Majalah
Ilmiah Fisioterapi Indonesia Volume 2 (1): 1-6.
Makmuriyah dan Sugijanto. 2013. Iontophoresis Diclofenac Lebih Efektif
Dibandingkan Ultrasound Terhadap Pengurangan Nyeri Pada Myofascial
Syndrome Musculus Upper Trapezius. Jurnal Fisioterapi Vol 3 No 1.
Mubeen, I et al. 2016. Prevalence Of Upper Cross Syndrome Among The Medical
Students Of University Of Lahore. Int J Physiother Vol 3(3): 381-384.
Neuman, D dan Paul Jackson. 2014. Essentials of Kinesiology For The Physical
Therapist Assistant. Elsevier: St. Louis. ISBN: 978-0-323-08944-9.
Rizqi, Amalia. 2018. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS)
Mempengaruhi Ambang Nyeri. Jurnal LINK 14(2): 79-82. ISSN: 2461-1077.
Roshani, S et al. 2019. The Effect of a Corrective Exercise Program on Upper
Crossed
Syndrome in a Blind Person. Journal of Rehabilitation Sciences and Research
6(3): 148-152. doi:10.30476/jrsr.2019.83417.1044.
Sugijanto dan Hifzillah Army. 2015. Efektifitas Latihan Koreksi Postur Terhadap
Disabilitas Dan Nyeri Leher Kasus Sindroma Miofasial Otot Upper Trapezius
Mahasiswa Wanita Universitas Esa Unggul. Jurnal Fisioterapi Vol 5 No 2.