0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan24 halaman

Memahami Risiko Bunuh Diri dan Penyebabnya

Dokumen tersebut membahas tentang risiko bunuh diri, meliputi definisi bunuh diri, proses terjadinya, tanda-tanda dan gejalanya, jenis-jenis bunuh diri, serta fase-fasenya. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri antara lain gangguan jiwa seperti depresi, lingkungan psikososial yang mendukung, serta riwayat keluarga bunuh diri.

Diunggah oleh

nada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan24 halaman

Memahami Risiko Bunuh Diri dan Penyebabnya

Dokumen tersebut membahas tentang risiko bunuh diri, meliputi definisi bunuh diri, proses terjadinya, tanda-tanda dan gejalanya, jenis-jenis bunuh diri, serta fase-fasenya. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri antara lain gangguan jiwa seperti depresi, lingkungan psikososial yang mendukung, serta riwayat keluarga bunuh diri.

Diunggah oleh

nada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RISIKO BUNUH DIRI

I. KASUS (MASALAH UTAMA)


Risiko Bunuh Diri

II. PROSES TERJADINYA MASALAH


1. Definisi
Bunuh diri secara umum mudah dimengerti sebagai suatu tindakan
aktif seseorang untuk mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara. Bunuh diri
adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk membunuh diri sendiri
(Videbeck, 2008). Bunuh diri adalah segala perbuatan dengan tujuan untuk
membinasakan dirinya sendiri dan yang dengan sengaja dilakukan oleh
seseorang yang tahu akan akibatnya yang mungkin pada waktu yang singkat.
Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terakhir dari individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi (Captain, 2008).
Pikiran bunuh diri biasanya muncul pada individu yang mengalami
gangguan mood, terutama depresi. Bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan
dengan sengaja untuk membunuh diri sendiri. Edwin Shneidman (1963, 1981),
seorang peneliti bunuh diri yang ternama, mendefinisikan dua kategori bunuh
diri yaitu langsung dan tidak langsung. Bunuh diri langsung adalah tindakan
yang disadari dan disengaja untuk mengakhiri hidup seperti pengorbanan diri
(membakar diri), menggantung diri, menembak diri, meracuni diri, melompat
dari tempat yang tinggi, meneggelamkan diri, atau sufokasi. Sedangkan bunuh
diri tidak langsung adalah keinginan tersembunyi yang tidak disadari untuk
mati, yang ditandai dengan perilaku kronis berisiko seperti penyalahgunaan
zat, makan berlebihan, aktivitas seks bebas, ketidakpatuhan terhadap program
medis, dan olahraga atau pekerjaan yang membahayakan.
Upaya bunuh diri adalah suatu tindakan bunuh diri yang gagal
dilakukan atau tidak berhasil dilakukan sampai selesai. Pada jenis terakhir,
invidu tidak menyelesaikan tindakan bunuh diri karena berhasil ditolong orang
lain, atau tindakan bunuh diri selesai dilakukan, tetapi individu berhasil
diselamatkan (Roy, 2000).

2. Etiologi
a. Faktor Predisposisi
Lima factor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku
destruktif-diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut :
1) Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara
bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang
dapat membuat individu berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri
adalah gangguan afektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
2) Sifat Kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko
bunuh diri adalah antipati, impulsif, dan depresi.
3) Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah
pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian
negatif dalam hidup, penyakit krinis, perpisahan, atau bahkan perceraian.
Kekuatan dukungan social sangat penting dalam menciptakan intervensi
yang terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab masalah,
respons seseorang dalam menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
4) Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan factor
penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh
diri.
5) Faktor Biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi
peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak sepeti serotonin,
adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui
ekaman gelombang otak Electro Encephalo Graph (EEG).
b. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang
dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang
memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah perasaan
terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal
melakukan hubungan berarti, kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat
menghadapi stress, perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri ,menrupakn
hukuman pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri keputusan, melihat atau
membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri
ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal
tersebut menjadi sangat rentan.

3. Tanda dan Gejala


Menurut Carpenito, 1998 dan Keliat, 1993 tanda dan gejalanya adalah:
1) Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan
terhadap penyakit. Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak
setelah mendapat terapi sinar pada kanker
2) Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi jika
saya segera ke rumah sakit, menyalahkan/ mengejek dan mengkritik diri
sendiri
3) Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu,
saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa
4) Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin
bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri
5) Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang
memilih alternatif tindakan
6) Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang
suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan
Tanda dan gejala dari resiko bunuh diri lainnya yaitu :
1) Pernah melakukan atau mengkhayal bunuh diri
2) Cemas
3) Depresi
4) Ungkapan keinginan bunuh diri
5) Riwayat keluarga bunuh diri
6) Perasaan tidak berdaya dan tidak berguna
Tanda dan Gejala Resiko Bunuh Diri Pada Remaja
1) Remaja mengancam akan bunuh diri misalnya “Aku harap aku mati
saja”: “Aku tidak punya apa-apa yang membuat aku tetap hidup,”
2) Sudah pernah ada percobaan bunuh diri sebelumnya, sekecil apapun.
Empat dari lima orang yang melakukan bunuh diri sebelumnya telah
melakukan sedikitnya satu percobaan bunuh diri.
3) Tersirat unsur-unsur kematian dalam music, seni, dan tulisan-tulisan
pribadinya
4) Kehilangan anggota keluarga, binatang peliharaan, atau pacar akibat
kematian, diabaikan, atau putusnya suatu hubungan.
5) Gangguan dalam keluarga, seperti tidak memiliki pekerjaan, penyakit
serius, pindah, perceraian.
6) Gangguan tidur dan kebiasaan makan, serta dalam kebersihan diri.
7) Menurunnya nilai-nilai di sekolah dan hilangnya minat terhadap sekolah
atau kegiatan yang sebelumnya dianggap penting.
8) Perubahan pola tingkah laku yang dramatis, misalnya remaja yang
senang sekali berteman dan berkumpul dengan banyak orang berubah
menjadi pemalu dan menarik diri.
9) Perasaan murung, tidak berdaya, dan putus asa yang mendalam.
10) Menarik diri dari anggota keluarga dan teman, merasa disingkirkan oleh
orang yang bearti baginya.
11) Membuang atau memberikan semua hadiah-hadiah miliknya dan
sebaliknya mulai menata rapi.
12) Serangkaian kecelakaan atau tingkah laku beresiko yang tidak terencana;
penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan; mengabaikan keselamatan
diri; menerima tantangan yang berbahaya. (Dalam hubungan dengan
penyalahgunaan obat-obatan dan alcohol, telah terjadi peningkatan yang
dramatis selama beberapa tahun belakangan ini sehubungan dengan
jumlah remaja yang melakukan bunuh diri pada saat sedang di abawah
pengaruh alkohol atau obat-obatan terlarang)

4. Macam
Menurut Durkheim, bunuh diri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1) Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini disebabkan oleh
kondisi kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadikan individu itu
seolah-olah tidak berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat
menerangkan mengapa mereka tidak menikah lebih rentan untuk
melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan mereka yang menikah.
2) Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)
Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk
bunuh diri karena identifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia
merasa kelompok tersebut sangat mengharapkannya.
3) Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)
Hal ini terjadi bila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara
individu dan masyarakat, sehingga individu tersebut meninggalkan norma-
norma kelakuan yang biasa. Individu kehilangan pegangan dan tujuan.
Masyarakat atau kelompoknya tidak memberikan kepuasan padanya karena
tidak ada pengaturan atau pengawasan terhadap kebutuhan-kebutuhannya.

5. Fase
Menurut Stuart, 2006, tahapannya adalah sebagai berikut :
1) Suicidal ideation
Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah
metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi atau tindakan, bahkan klien
pada tahap ini tidak akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan.
Walaupun demikian, perawat perlu menyadari bahwa klien pada tahap ini
memiliki pikiran tentang keinginan untuk mati.
2) Suicidal intent
Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan
yang konkrit untuk melakukan bunuh diri.
3) Suicidal threat
Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yang
dalam bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya.
4) Suicidal gesture
Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada
diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi
sudah pada percobaan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang
dilakukan pada fase ini pada umumnya tidak mematikan, misalnya
meminum beberapa pil atau menyayat pembuluh darah pada lengannya.
Hal ini terjadi karena individu memahami ambivalen antara mati dan
hidup dan tidak berencana untuk mati. Individu ini masih memiliki
kemauan untuk hidup, ingin diselamatkan, dan individu ini sedang
mengalami konflik mental. Tahap ini sering dinamakan “Crying for help”
sebab individu ini sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu
diselesaikan.
5) Suicidal attempt
Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu
ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang
mematikan. Walaupun demikian banyak individu masih mengalami
ambivalen akan kehidupannya.

6. Rentang Respon

Respon adaptif Respon maladaptif


Peningkatan diri Destruktif diri tidak langsung Pencederaan diri
Beresiko destruktif Bunuh diri

Menurut (YoseP, 2009) :


1) Peningkatan diri. Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan
diri secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri.
Sebagai contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang
berbeda mengenai loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerjanya.
2) Beresiko destruktif. Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko
mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap
situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang
merasa patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap
pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
3) Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap yang
kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk
mempertahankan diri. Misalnya, karena pandangan pimpinan terhadap
kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi tidak masuk
kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.
4) Pencederaan diri. Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau
pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
5) Bunuh diri. Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang.

7. Mekanisme Koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping yang
berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization,
regression, dan magical thinking. Mekanisme pertahanan diri yang ada
seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping alternatif. Perilaku
bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping. Ancaman bunuh diri
mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar
dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan
koping dan mekanisme adaptif pada diri seseorang.

8. Akibat
Klien dengan resiko bunuh diri dapat melakukan tindakan-tindakan berbahaya
atau mencederai dirinya, orang lain maupun lingkungannya, seperti
menyerang orang lain, memecahkan perabot, membakar rumah, dan lain-lain

9. Masalah yang Akan Muncul


Masalah yang timbul, yaitu:
a. Harga diri rendah
Salah satu penyebab dari risiko bunuh diri adalah harga diri rendah. Harga
diri rendah adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri (carpenito, 1998).

III. A. Pohon Masalah

(EFEK) : Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

(CP) : Risiko Bunuh Diri

(CAUSA) : Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah

B. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji

Masalah Keperawatan Data yang Perlu Dikaji


Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Subyektif:
Rendah 1. Mengungkapkan ingin diakui jati
dirinya
2. Mengungapkan tidak ada lagi yang
peduli
3. Mengungkapan tidak bisa apa-apa
4. Mengungkapkan dirinya tidak
berguna
5. Mengkritik diri sendiri
Obyektif:
1. Merusak diri sendiri
2. Merusak orang lain
3. Menarik diri dari hubungan sosial
4. Tampak mudah tersinggung
5. Tidak mau makan dan tidak tidur
Risiko Bunuh Diri Subyektif:
Klien menyatakan ingin bunuh diri/ ingin
mati saja, taka da gunanya hidup
Obyektif:
Ada isyarat bunuh diri, ada ide bunuh diri,
pernah mencoba bunuh diri
Resiko mencederai diri sendiri, orang Subyektif:
lain dan lingkungan Klien marah dan jengkel kepada orang lain,
ingin membunuh, ingin membakar, atau
mengacak-acak lingkungan
Obyektif:
Klien mengamuk, merusak, dan melempar
barang-barang, melakukan tindakan
kekerasan pada orang-orang disekitarnya

IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Risiko Bunuh Diri

V. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Tujuan Umum: Klien tidak mencederai diri sendiri
Tujuan Khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
2. Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
3. Klien dapat mengekspresikan perasaannya
4. Klien dapat meningkatkan harga diri
5. Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
6. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
7. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat

VI. IMPLEMENTASI

KLIEN KELUARGA
SP 1 SP 1
1. Mengidentifikasi benda-benda yang 1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan
dapat membahayakan klien keluarga dalam merawat klien
2. Mengamankan benda-benda yang 2. Menjelaskan pengertian, tanda gejala
dapat membahayakan klien resiko bunuh diri dan jenis prilaku
3. Melakukan kontrak treatment bunuh diri yang dialami klien beserta
4. Mengajarkan cara mengendalikan proses terjadinya menjelaskan cara-cara
dorongan bunuh diri merawat klien resiko bunuh diri
5. Melatih cara mengendalikan dorongan 3. Menjelaskan cara-cara merawat klien
bunuh diri resiko bunuh diri
SP 2 SP 2
1. Mengidentifikasi aspek positif klien 1. Melatih keluarga mempraktikkan cara
2. Mendorong apsien untuk berpikir merawat klien dengan resiko bunuh diri
positif terhadap diri 2. Melatih keluarga melakukan cara
3. Mendorong klien untuk menghargai merawat langsung kepada klien resiko
diri sebagai individu yang berharga dunuh diri

SP 3 SP 3
1. Mengidentivikasi pola koping yang 1. Membantu keliarga membuat jadwal
biasa diterapkan klien aktivitas dirumah termasuk minum obat
2. Menilai pola koping yang biasa 2. Mendiskusikan sumber rujukan yang
dilakukan biasa dijangkau oleh keluarga
3. Mengidentifikasi pola koping yang
konstruktif
4. Mendorong klien memilih pola koping
yang konstruktif
5. Menganjurkan klien menerapkan pola
koping konstruktif dalam kegiatan
harian
SP 4
1. Membuat rencana masa depan yang
realistis bersama klien
2. Mengidentifikasi cara mencapai
rencana masa depan yang realistis
3. Memberi dorongan klien melakukan
kegiatan dalam rangka meraih masa
depan yang realistis
STRATEGI PELAKSANAAN KE 1 PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN
RESIKO BUNUH DIRI

Masalah Utama : Resiko Bunuh Diri


Hari / Tanggal :
Pertemuan Ke :1
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Klien mengatakan lebih baik mati saja, sudah bosan hidup, ekspresi murung,
tak bergairah, ada bekas percobaan bunuh diri, menyendiri
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko bunuh diri
3. Tujuan Keperawatan
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
b. Klien dapat mengidentifikassi beratnya masalah resiko bunuh diri.
c. Klien dapat mengidentifikasi benda benda berbahaya dan
mengamankannya.
d. Klien dapat melatih cara mengendalikan dari dorongan bunuh diri :
menyebutkan daftar aspek positif dan berlatih berpikir aspek positif.
4. Tindakan keperawatan
a. Mengidentifikasi beratnya masalah resiko bunuh diri
b. Mengidentifikassi benda-benda yang dapat membahayakan pasien dan
mengamankannya
c. Mengajarkan cara mengendalikan dorongan bunuh diri
d. Melatih cara mengendalikan bunuh diri
e. Membantu pasien memasukkan kegiatan dalam jadwal kegiatannya.
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Assalamualaikum..!!! Selamat pagi… perkenalkan nama saya Perawat
Ardila Novita Sariningsih, Bisa dipanggil Suster Ardila. Saya yang akan
merawat Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… selama 1-2 minggu. Nama
Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… siapa? Senangnya dipanggil siapa?”
b. Validasi
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… hari ini ? Apa ada
masalah sampai Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… begini ?”
c. Kontrak
“Baiklah, bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang masalah
Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… ? Tujuananya agar saya dapat membantu
mengatasi masalah tersebut. Mau dimana kita berbincang – bincang ?
Bagaimana kalau di sini saja ? Berapa lama mau berbincang-bincang?
Bagaimana kalau 20 menit ?”
2. Fase Kerja
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu/Mas/Mbak……setelah bencana ini terjadi ?
Apakah dengan bencana ini merasa paling menderita di dunia ini ? Apakah
kehilangan kepercayaan diri ? Apakah merasa tak berharga atau bahkan lebih
rendah daripada orang lain ? Apakah merasa bersalah atau mempersalahkan
diri sendiri ? Apakah sering mengalami kesulitan berkonsentrasi ? Apakah
berniat untuk menyakiti diri sendiri, ingin bunuh diri atau berharap bahwa
mati? Apakah pernah mencoba untuk bunuh diri ? Apa sebabnya, bagaimana
caranya? Apa yang Bapak/Ibu/Mas/Mbak……rasakan ?”
“Baiklah, tampaknya Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… membutuhkan pertolongan
segera karena ada keinginan untuk mengakhiri hidup. Saya tidak akan
membiarkan Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… sendiri. Saya akan memeriksa seluruh
isi kamar Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… ini untuk memastikan tidak ada benda –
benda yang membahayakan.”
“Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… apakah tahu benda-benda yang dapat
membahayakan diri Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… ? Coba sebutkan apa saja
benda-benda tersebut. Bagus sekali , Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… tahu benda-
benda yang dapat membahayakan diri Bapak/Ibu/Mas/Mbak……. Apakah
salah satu benda tersebut ada dikamar Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… ? Kalau ada
benda tersebut jangan Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… dekati atau pegang ya ”
“Apa yang Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… lakukan kalau keinginan bunuh diri
muncul ? Kalau keinginan itu muncul, maka untuk mengatasinya harus
langsung minta bantuan kepada perawat di ruangan ini dan juga keluarga atau
teman yang sedang besuk. Jadi jangan sendirian ya, katakan pada perawat,
keluarga atau teman jika ada dorongan untuk mengakhiri kehidupan. Paham ?
Saya percaya Bapak/Ibu/Mas/Mbak……dapat mengatasi masalah ini”
3. Terminasi
a. Evaluasi Subjektif dan Objektif
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… setelah apa yang kita
bicarakan tadi ? Coba jelaskan lagi bagaimana jika
Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… mulai mempunyai keinginan untuk mengakhiri
hidup. Bagus, Bapak minta perawat atau orang lain untuk minta bantuan
yaa”
b. RTL
“Bapak/Ibu/Mas/Mbak……, selama kita tidak bertemu, bila
Bapak/Ibu/Mas/Mbak……melihat benda-benda yang dapat membahayakan
, segera jauhi, dan segera minta bantuan pada orang orang disekitar jika
keinginan untuk mengakhiri hidup mulai muncul lagi”
c. Kontrak yang akan datang
“Baiklah sekarang Bapak/Ibu/Mas/Mbak……saya tinggal dulu. Bagaimana
kalau besok bertemu lagi untuk bercakap cakap tentang berpikir positif
pada diri sendiri ? Tempatnya mau dimana ? Bagaimana kalau di taman?
Jam berapa? Bagaimana kalau jam 09.00? Baiklah selamat beristirahat”
STRATEGI PELAKSANAAN KE 2 PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN
RESIKO BUNUH DIRI

Masalah Utama : Resiko Bunuh Diri


Hari / Tanggal :
Pertemuan Ke :2

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Klien mengatakan lebih baik mati saja, sudah bosan hidup, ekspresi murung,
tak bergairah, ada bekas percobaan bunuh diri, menyendiri
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko bunuh diri
3. Tujuan Keperawatan
a. Klien dapat berlatih mengendalikan diri dengan berpikir positif terhadap
diri sendiri.
b. Klien dapat memasukkan kegiatannya dalam jadwal hariannya.
4. Tindakan Keperawatan
a. Mengevaluasi kegiatan sebelumnya
b. Melatih cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri dengan berpikir
positif terhadap diri sendiri.
c. Membantu klien memasukkan kegiatannya dalam jadwal harian.

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Assalamualaikum..!!! Selamat pagi… masih ingat dengan saya ? Ya
benar saya Ardila”
b. Validasi
“Bagaimana perasaan hari ini ? Apa kemarin atau hari ini ada keinginan
bnuh diri lagi ? Bagus. Masih ingat apa yang harus
Bapak/Ibu/Mas/Mbak……lakukan jika ada keinginan bunuh diri ? Iya
bagus sekali segera minta bantuan pada orang lain”
c. Kontrak
“Baiklah, sesuai kontrak kita kemarin, sekarang kita akan bercakap
tentang pikiran positif Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… terhadap diri sendiri.
Berapa lama mau bercakap ? Bagaimana kalau 20 menit ? Dimana mau
bercakap ? Bagaimana kalau disini ?”

2. Fase Kerja
“Apa yang Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… tidak sukai dari anggota tubuh ?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………………………………Semua bagian
yang diciptakan oleh Tuhan itu semuanya bermanfaat dan harus kita syukuri.
Jadi sebaiknya kalau Bapak merasa anggota tubuh tersebut tidak
Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… sukai, cobalah dari sekarang
Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… mulai mencoba menyukainya dengan
menggunakannya untuk hal hal yang sukai. Saya dengar
Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… pandai ………………………………….. ? Bagus ,
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
……………………………………………………………

3. Fase Terminasi
a. Evaluasi subjektif dan objektif
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… setelah apa yang kita
bicarakan tadi ? Saya senang jika Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… mulai
sekarang mencoba menyukai anggota tubuhBapak/Ibu/Mas/Mbak……
yang anggap tidak suka. Coba jelaskan lagi apa yang harus lakukan jika
ada waktu luang ? Iya bagus”

b. RTL
“Bapak/Ibu/Mas/Mbak……………, bagaimana kalau jadwal
………………………………………………. kita masukkan dalam jadwal
kegiatan harian Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… ? Mau dilakukan sehari berapa
kali ? Sehari sekali ya”
c. Kontrak yang akan datang
“Baiklah sekarang Bapak/Ibu/Mas/Mbak……saya tinggal dulu, kapan
kita bisa bertemu lagi ? Bagaimana kalau besok ?Baiklah besok kita
akan membahas tentang cara melakukan hal yang baik ketika sedang
mengalami masalah. Mau dimana kita berbicara ? Bagaimana kalau di
sini lagi ?Mau jam berapa ? Bagaimana kalau jam 10.00 ? Baik besok
kita bertemu lagi di taman jam 10.00 ya? Apakah Bapak setuju ?
Baiklah selamat beristirahat. Wassalamualaikum”
STRATEGI PELAKSANAAN KE 3 PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN
RESIKO BUNUH DIRI

Masalah Utama : Resiko Bunuh Diri


Hari / Tanggal :
Pertemuan Ke :3

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Klien mengatakan lebih baik mati saja, sudah bosan hidup, ekspresi murung,
tak bergairah, ada bekas percobaan bunuh diri, menyendiri
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko bunuh diri
3. Tujuan
Pasien dapat menggunakan pola kopingnya ketika ada massalah
4. Tindakan Keperawatan
a. Mengidentifikasi pola koping yang bisa diterapkan pasien
b. Menilai pola koping yang bisa dilakukan
c. Mengidentifikasi pola koping yang konstruktif
d. Menganjurkan pasien menerapkan pola koping konstruktif dalam kegiatan
harian

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Assalamualaikum..!!! Selamat pagi… masih ingat dengan saya
Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… ? Ya benar saya Ardila”
b. Validasi
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… hari ini ? Apa kemarin
atau hari ini ada keinginan bunuh diri lagi ? Bagus. Masih ingat apa yang
harus Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… lakukan jika ada keinginan bunuh diri ?
Iya bagus sekali segera minta bantuan pada orang lain”
c. Kontrak
“Baiklah sesuai kontrak kita kemarin, sekarang kita akan bercakap tentang
apa yang harus Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… lakukan jika ada masalah.
Berapa lama mau bercakap ? Bagaimana kalau 20 menit ? Dimana mau
bercakap? Bagaimana kalau disini ?”

2. Fase Kerja
“Ketika Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… sedang mangalami masalah, apa yang
Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… lakukan ? Apalagi ? Bagus sekali ini. Jadi kalau
Bapak/Ibu/Mas/Mbak……sedang mengalami masalah seperti itu, Bapak bisa
melakukan hal-hal yang membuat sibuk, tapi sibuk dengan hal-hal yang
positif, seperti apa yang bapak katakan tadi, misalnya : melukis, main bola,
menyapu halaman dan shalat. Sekarang coba Bapak/Ibu/Mas/Mbak……
sebutkan lagi kegiatan-kegiatannya ! Iya bagus . Bagaimana kalau kita melukis
lagi? Wah …………………… Bapak bagus sekali ya, kapan kapan saya bisa
diajari ya ?”

3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subjektif dan objektif
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu/Mas/Mbak…… setelah apa yang kita
bicarakan tadi ? Saya senang jika melakukan kegiatan-kegiatan yang tadi
kita bicarakan. Sekarang coba sebutkan kembali apa yang sudah kita
bicarakan tadi. Bagus”
b. RTL
“Bapak/Ibu/Mas/Mbak……, selama kita tidak bertemu, bisa melakukan
kegiatan-kegiatan tadi, seperti main melukis, bola, menyapu, dan shalat.
Kemudian mari kita masukan kedalam jadwal kegiatan harian ya”

c. Kontrak yang akan datang


“Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi untuk membahas tentang
membuat rencana untuk masa depan. Dimana kita akan berbicara ?
Bagaimana kalau di taman lagi? Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam
10 lagi ? selamat beristirahat. Wassalamualaikum”
STRATEGI PELAKSANAAN KE 4 PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN
RESIKO BUNUH DIRI

Masalah Utama : Resiko Bunuh Diri


Hari / Tanggal :
Pertemuan Ke :4

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Klien mengatakan lebih baik mati saja, sudah bosan hidup, ekspresi murung,
tak bergairah, ada bekas percobaan bunuh diri, menyendiri
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko bunuh diri
3. Tujuan
Pasien dapat membuat rencana masa depan yang realistis
4. Tindakan Keperawatan
a. Membuat rencana masa depan yang realistis bersama pasien
b. Mngidentifikasi cara mencapai masa depan yang realistis
c. Memberi dorongan pasien melakukan kegiatan dalam rangka meraih masa
depan yang realistis

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Assalamualaikum..!!! Selamat pagi… masih ingat dengan saya? Ya benar
saya suster Ardila.”
b. Validasi
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu/Mas/Mba……. hari ini ? Apa kemarin
atau hari ini ada keinginan bunuh diri lagi? Bagus. Masih ingat apa yang
harus Bapak/Ibu/Mas/Mba……. lakukan jika ada keinginan bunuh diri ?
Iya bagus sekali segera minta bantuan pada orang lain dan menyibukkan
diri”
c. Kontrak
“Baiklah Pak sesuai kontrak kita kemarin, sekarang kita akan bercakap
tentang cara mencapai keinginan Bapak/Ibu/Mas/Mba…….. Berapa lama
mau bercakap ? Bagaimana kalau 20 menit ? Dimana mau bercakap Pak ?
Bagaimana kalau disini ?”

2. Fase Kerja
“Apa keinginan Bapak/Ibu/Mas/Mba……. dari dulu sampai sekarang?
Apalagi? Apakah masih ada ? Sampai saat ini sudah ada keinginan
Bapak/Ibu/Mas/Mba…….yang sudah tercapai ? Wah hebat…..yang belum
tercapai apa? Harapan Bapak/Ibu/Mas/Mba……. sangat bagus sekali, Bapak
bisa berusaha semampu Bapak/Ibu/Mas/Mba……. dengan cara yang sabar,
lebih giat, ikhtiar dan berdoa. Kegagalan bukan akhir dari sebuah harapan,
namun cobaan yang nantinya akan membawa Bapak/Ibu/Mas/Mba……. ke
arah yang Bapak/Ibu/Mas/Mba……. harapkan selama ini. Jadi, selalu
berusaha menjadi yang terbaik ya Pak, kejar cita-cita
Bapak/Ibu/Mas/Mba……. sampai dapat dan ingat, kejar harapan itu sesuai
kemampuan”.

3. Fase terminasi
a. Evaluasi Subjektif dan Objektif
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu/Mas/Mba……. setelah bercakap cakap ?
Saya senang jika Bapak/Ibu/Mas/Mba……. melakukan apa yang sudah
tadi kita bicarakan. Coba Bapak/Ibu/Mas/Mba……. sebutkan kembali apa
yang seharusnya kita lakukan ketika kita menginginkan sesuatu! Pintar
sekali ini”

b. RTL
“Bapak/Ibu/Mas/Mba……., selama kita tidak bertemu,
Bapak/Ibu/Mas/Mba……. bisa melakukan hal seperti tadi untuk mencapai
keinginan yang nyata, Bapak/Ibu/Mas/Mba……. mesti lebih sabar, lebih
giat, ikhtiar dan berdoa. Jangan sampai menyerah ya.”
c. Kontrak Yang Akan Datang
“Bagaimana kalau kita besok bertemu lagi untuk melihat semua manfaat
dari yang sudah kita pelajari bersama?. Jam berapa? Bagaimana kalau jam
9? Dimana ? Bagaimana kalau disini lagi ? Baiklah, sampai jumpa”
STRATEGI PELAKSANAAN KE 5 PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN
RESIKO BUNUH DIRI

Masalah Utama : Resiko Bunuh Diri


Hari / Tanggal :
Pertemuan Ke :5

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Klien mengatakan lebih baik mati saja, sudah bosan hidup, ekspresi murung,
tak bergairah, ada bekas percobaan bunuh diri, menyendiri
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko bunuh diri
3. Tujuan khusus
Mengevaluasi kegiatan yang telah dibicarakan bersama
4. Tindakan keperawatan
a. Mengevaluasi kegiatan sebelumnya
b. Menilai kemampuan yang telah mandiri
c. Menilai apakah frekuensi munculnya bunuh diri berkurang, apakah koping
terkontrol atau tidak.

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Assalamualaikum..!!! Selamat pagi… masih ingat dengan saya? Ya benar
saya Ardila”
b. Validasi
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu/Mas/Mba……. hari ini ? Apa kemarin
atau hari ini ada keinginan bunuh diri lagi? Bagus. Masih ingat apa yang
harus Bapak/Ibu/Mas/Mba……. lakukan jika ada keinginan bunuh diri ?
Iya bagus sekali segera minta bantuan pada orang lain dan menyibukkan
diri”
c. Kontrak
“Baiklah, sesuai kontrak kita kemarin, sekarang kita akan bercakap tentang
cara mencapai keinginan Bapak/Ibu/Mas/Mba…….. Berapa lama mau
bercakap ? Bagaimana kalau 20 menit ? Dimana mau bercakap ?
Bagaimana kalau disini ?”

2. Fase Kerja
“Bapak/Ibu/Mas/Mba……. apakah keinginan untuk mengakhiri hidup masih
ada ? Wah bagus sekali. Apa yang Bapak/Ibu/Mas/Mba……. lakukan
sehingga tidak muncul lagi ? Iya benar sekali, Bapak/Ibu/Mas/Mba…….
segera meminta bantuan pada orang lain dan melakukan hal hal yang
Bapak/Ibu/Mas/Mba……. inginkan yaa...”
“Bagaimana dengan kegiatannya Pak ? Sudah melakukan kegiatan apa saja
selain ……………………. ? Oh Bapak/Ibu/Mas/Mba……. habis
……………………………………………. dengan teman ya, wah bagus
sekali. Bapak/Ibu/Mas/Mba……. sudah banyak melakukan kegiatan yah.
Senang bisa bermain dengan teman teman ? Bagus”
“Oh ya bagaimana dengan semalam dan tadi pagi, sudah minum obat kan ?
Bagus, segera minta obat ke perawat kalau sudah waktunya minum obat”

3. Terminasi
a. Evaluasi Objektif dan Subjektif
“Bagaimana setelah kita bercakap cakap hari ini ? Bagus,
Bapak/Ibu/Mas/Mba…….juga sudah menambah jadwal kegiatannya yaa.
Bagaimana dengan perasaan ingin bunuh diri terhadap orang lain ?
Bagus.”
b. RTL
“Bapak/Ibu/Mas/Mba……. jangan lupa obatnya harus diminum tepat
waktu ya supaya cepat sembuh. Nanti jadwal kegiatannya tetap dilanjutkan
ya”
c. Kontrak Yang Akan Datang
“Bapak/Ibu/Mas/Mba……. karena praktek saya disini sudah selesai, jadi
mulai nanti siang yang akan merawat Bapak/Ibu/Mas/Mba……. adalah
perawat yang ada di sini, Bapak/Ibu/Mas/Mba……. sudah kenal kan ? Bagus.
Terimakasih yah, sampai bertemu lain waktu. Permisi”
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna dkk.2014. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta :
EGC
Kusumawati dan Hartono . 2010 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta : Salemba
Medika
Nita Fitria. 2014. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan untuk 7 Diagnosis Keperawatan
Jiwa Berat. Jakarta: Salemba Medika.
Rasmun. 2012. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan
Keluarga. Konsep, Teori, Asuhan Keperawatan dan Analisa Proses Interaksi
(API). Jakarta : fajar Interpratama.
Stuart dan Sundeen . 2012 . Buku Keperawatan Jiwa . Jakarta : EGC .

Anda mungkin juga menyukai