0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
295 tayangan11 halaman

Jenis dan Struktur Film Radiografi

Makalah ini membahas tentang film radiografi yang digunakan dalam pemeriksaan radiologi. Film radiografi merupakan tempat terbentuknya gambar radiografi dan terbuat dari bahan khusus yang sensitif terhadap sinar X. Makalah ini menjelaskan pengertian, struktur, jenis, proses pembuatan, dan penyimpanan film radiografi.

Diunggah oleh

Yuniarti Alfrida
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
295 tayangan11 halaman

Jenis dan Struktur Film Radiografi

Makalah ini membahas tentang film radiografi yang digunakan dalam pemeriksaan radiologi. Film radiografi merupakan tempat terbentuknya gambar radiografi dan terbuat dari bahan khusus yang sensitif terhadap sinar X. Makalah ini menjelaskan pengertian, struktur, jenis, proses pembuatan, dan penyimpanan film radiografi.

Diunggah oleh

Yuniarti Alfrida
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH RADIOFOTOGRAFI 1

(FILM RADIOGRAFI)

Di Susun Oleh :
YUNIARTI ALFRIDA
NPM : P120040
KELAS A TINGKAT 1 RADIOLOGI

POLTEKKES MUHAMMADIYAH MAKASSAR


PRODI RADIOLOGI 2020/2021
KATA PENGANTAR 

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan
makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan
kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan
syafa’atnya di akhirat.
Tidak lupa, kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan
nikmat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga kami
mampu untuk menyelesaikan tugas makalah tentang FILM RADIOGRAFI
Kami tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
kami mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini, kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya.

 Makassar, September 2020

PENULIS
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………..
DAFTAR ISI.............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………………………...
B. Rumusan Masalah...................................................................................
C. Tujuan Penulisan.....................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Film Radiografi…………………………………………………..
B. Struktur Film Radiografi……………………………………………………...
C. Jenis-Jenis Film Radiografi………………………………………………….
D. Processing Film Radiografi…………………………………………………..
E. Penyimpanan Film Radiografi……………………………………………….
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………………………….
B.
Saran........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada zaman yang semakin modern ini kemajuan teknologi telah


menunjang pada bidang kedokteran khususnya pada praktek kedokteran
radiografi. Dalam hal ini, sangat membutuhkan diagnosis yang akurat dalam
bentuk gambar pada pemeriksaannya.
Sebagai tenaga para medis, seorang radiographer harus bias menyajikan
gambar radiografi yang berkualitas, terutama pada saat pelayanan pasien
dirumah sakit atau laboratorium swasta yang sudah banyak tersebar
dimasyarakat.
Dalam menjaga kualitas kerja, seorang radiografer harus dapat
memahami suatu bayangan tersebut dapat terbentuk dalam film radiografi.
Dikarenakan hal ini dapat mempengaruhi kualitas dari hasil gambar yang
terbentuk. Faktor alat dan bahan serta processing film radiografi juga dapat
mempengaruhi suatu bayangan pada film radiografi tersebut terbentuk.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penjelasan tentang Film Radiografi?


2. Bagaimana struktur dari Film Radiografi?
3. Apa saja jenis-jenis pada Film Radografi?
4. Bagaimana proses dalam Film Radiografi?
5. Bagaimana cara menyimpan Film Radiografi?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui penjelasan tentang Film Radiografi


2. Untuk mengetahui struktur pada Film Radiografi
3. Untuk mengetahui jenis-jenis Film Radiografi
4. Untuk mengetahui proses dalam Film Radiografi
5. Untuk mengetahui cara menyimpan Film Radografi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Film Radiografi


Film radiografi adalah film yang digunakan sebagai tempat
terciptanya gambar radiograf dalam ilmu radiologi. Pada pemeriksaan
radiodiagnostik konvensionalsangat memerlukan film radiografi, film ini
merupakan alat yang dapat digunakanuntuk mencatat gambaran secara
permanen yang terbuat dari bahan – bahankhusus. Pembuatan film
radiografi dilakukan dengan ketepatan dan prosedur kualitas yang tinggi,
peralatan produksi yang digunakan harus bersih karena pengotoran atau
kontaminasi walaupun hanya sedikit dapat mengurangi danmembatasi
film sinar X yang menembus objek.

B. Struktur Film Radiografi


Bagian struktur film sinar x adalah :

1. Supercoat
Supercoat adalah lapisan dasar yang melindungi film yang umumnya
disebut dengan lapisan anti gores. Supercoat terbuat dari gelatin yang
dikeraskan. Fungsi dari supercoat untuk melindungi emulsi film terhadap
gesekan dalam pemrosesan film.
2. Lapisan emulsi
Emulsi merupakan bahan yang sensitif terhadap cahaya. Emulsi
tersusun atas perak halida yaitu AgBr/AgCl. Butiran perak halide
terikat dalam gelatin. Lapisan ini memiliki ketebalan 5-10 μm. Pada
lapisan inilah terjadi pencatatan gambar.
3. Substratum (Lapisan Perekat)
Substratum merupakan lapisan perekat antara lapisan pelindung dan
lapisan emulsi. Lapisan ini berfungsi mencegah terjadinya perubahan
bentuk film dalam pemrosesan film.
4. Film Base (Dasar Film)
Film Base merupakan dasar dari sebuah film. Lapisan terdiri dari
polyester. Lapisan ini memiliki ketebalan 150-250 μm. Lapisan ini
berfungsi sebagai penyangga emulsi film dengan lapisan-lapisan
lainnya dan bersifat fleksibel,kuat,serta tidak mudah terbakar.

C. Jenis-Jenis Film Radiografi


1. Berdasarkan Lapisannya :
1) Single side
Single side adalah film yang mempunyai satu lapisan emulsi
dimana lapisan perekat dan lapisan emulsi dioleskan hanya
pada satu sisi film base saja.
Ciri-ciri dari single side adalah, memiliki kandungan perak
yang lebih sedikit dan tidak bias digunakan bolak-balik.
Contohnya : Film MCF, Film Mammografi, Film Gigi, dll.
2) Double Side
Double side adalah film yang mempunyai dua lapisan emulsi,
dimana lapisan perekat dan lapisan emulsinya dioleskan pada
kedua sisi film base.
Ciri-ciri Double side adalah, memiliki kandungan perekat lebih
banyak, dan dapat digunakan bolak-balik.
Contohnya : Film untuk pemeriksaan radiografi secara umum
(kepala,abdomen,dll).

2. Berdasarkan Butir Emulsi


1) Butir Emuksi ukuran besar
Kandungan emulsinya yaitu perak halida yang berukuran
besar. Akibatnya cahaya banyak yang diteruskan,
sehingga mempunyai kontras yang lebih rendah tetapi
memiliki kecepatan yang cepat.
2) Butir Emulsi ukuran sedang
Kandungan emulsinya yaitu yang berukuran sedang.
Akibatnya cahaya tidak banyak yang diteruskan, sehingga
mempunyai kontras yang cukup tetapi kecepatannya
sedang.
3) Butir Emulsi ukuran kecil
Kandungan emulsinya yaitu perak halida berukuran kecil.
Akhirnya cahaya sedikit yang diteruskan, sehingga
mempunyai kontras yang lebih tinggi tapi kecepatannya
lambat.

3. Berdasarkan Kepekaan Terhadap Cahaya


1) High Speed
Ciri-ciri : Ukuran perak halida besar dan kontrasnya rendah.
2) Medium Speed
Ciri-ciri : Ukuran perak halida sedang dan kontrasnya sedang.
3) Low Speed
Ciri-ciri : Ukuran perak halida kecil dan kontrasnya tinggi.

4. Berdasarkan Sensitifitasnya
1) Green sensitive
Green sensitive adalah jenis film yang sensitive terhadap
cahaya hijau. Kualitas yang dihasilkan bagus. Pemakaian
faktor eksposinya memperpanjang usia dari X-ray tube.
2) Blue sensitive
Blue sensitive adalah jenis film yang sensitive terhadap
cahaya biru. Kualitas yang dihasilkan juga kurang bagus.
Pemakaian factor eksposinya bertambah sehingga pasien
menerima dosis lebih tinggi serta memperpendek usia X-ray
tube. Ukuran-ukuran film : 15x30cm, 18x24cm, 24x30cm,
35x35cm, dan 35x43cm.
D. Processing Film Radiografi (proses pencucian film)

Processing film adalah preses pembentukan bayangan laten menjadi


bayangan tampak dan permanen. Processing film dibagi menjadi 2 :
~ Manual : developing, rinsing, fixing, dan washing.
~ Otomatis : develophing, fixing, dan washung.

1. Developing (Pembangkitan)
Pada tahap ini perubahan terjadi sebagai hasil dari
penyinaran, maksudnya perubahan butir-butir perak halida
menjadi perak metalik/ perubahan dari bayangan laten
menjadi bayangan tampak. Lamanya developing tergantung
dari kualitas cairan developer. Pada umumnya pada waktu
developing adalah 4 menit. Bahan dasar dari cairan
developing adalah benzena.
2. Rinsing (Pembilasan)
Cairan rinsing akan memberikan film dari larutan pembangkit
agar tidak terbawa kedalam proses selanjutnya (fixing).
Apabila larutan pembangkit masih ada pada proses fixing,
maka akan terbentuk kabut diorik pada film sehingga hasilnya
tidak bagus.
3. Fixing (penetapan)
Penetapan diperlukan untuk membuat gambar menjadi
permanen dengan menghilangkan perak halida yang tidak
terkena sinar X tanpa mengubah gambaran perak metalik.
Tujuannya adalah untuk menghentikan lanjutan dari
developing, hasil akhirnya terbentuknya perak komplek dan
garam dari perak halida.
4. Washing (pencucian)
Tujuan : Menghilangkan bahan-bahan (perak komplek dan
garam) didalam air.
Waktu : ± 5 menit.
E. Penyimpanan Film Radiografi
Dalam penyimpanan film radiografi tentu memiliki persyaratan dan teknik,
karena akan mempengaruhi kualitas dari film radiografi. Berikut syarat
dan teknik penyimpanan film radiografi :
1. Suhu ruangan kurang lebih 13 derajat celcius
2. Kelembaban maksimum 50% dalam keadaan dingin
3. Terlindung dari radiasi pengion
4. Terlindung dari sinar X dan sinar gamma
5. Jauh dari bahan kimia
6. Tidak terjadi tekanan mekanik diantara kotak-kotak itu sendiri
Jika syarat-syarat diatas tidak dipenuhi maka akan terjadi :
~fog level akan meninggi
~sensitifitas film akan menurun/ kepekaan film akan menurun
~kontras film akan menurun

Teknik Penyimpanan Film Digudang :


 Udara dingin dan kering
 Sirkulasi udara cukup
 Film harus disamping menurut “Expire Date” nya
 Tempertatur 20 derajat celcius.
Teknik Penyimpanan Film Dikamar Gelap :
 Disimpan dimeja yang kering
 Dibuka pada keadaan yang gelap
 Disimpan dalam keadaan tegak
 Box film harus selalu ditutup.
Teknik Penyimpanan Film Dikamar Pemeriksaan :
 Didalam kaset
 Jauh dari sumber radiasi
 Terpisah antara film yang sudah di expose dengan film
yang belum di expose.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Terbentuknya bayangan pada film radiografi berawal dari


kumpulan sensitivity speek berisi atom Ag yang akan membentuk pola
pada film radiografi menjadi bayangan laten. Kemudian setelah itu
bayangan laten akan melalui beberapa proses lagi diantaranya
developing, rinsing, fixing, washing, dan drying.
Dari proses tersebut terbentuklah bayangan tampak pada film
radiografi yang digunakan untuk membantu mendiagnosa penyakit pada
pasien melalui media dua dimensi atau disebut juga dengan foto rontgen.

B. Saran
Demikianlah makalah ini saya susun. Semoga makalah ini berguna
sebagaimana mestinya, saya juga mengharapkan kritik dan saran yang
membangun sehingga dapat memperbaiki kesalahan yang ada dari
makalah ini. Terima Kasih.
DAFTAR PUSTAKA

1. [Link]

2. [Link]

3. [Link]

4. [Link]

5. [Link]
[Link]

6. [Link]
[Link]

7. [Link]
[Link]

Common questions

Didukung oleh AI

The choice between single-sided and double-sided radiographic films depends on the imaging needs. Single-sided films, which have emulsion on one side, are used where high detail is necessary, such as in mammography or dental imaging, due to their higher resolution and lower silver content. Double-sided films, with emulsions on both sides, are generally used for general radiography where speed and sensitivity are prioritized over detail resolution. They can be used in dual-exposure setups, increasing versatility at the cost of higher silver usage .

Film sensitivity to different colors of light, such as green or blue, affects the image quality and the type of diagnostic imaging it can support. Green-sensitive films offer good image quality and prolong the X-ray tube's life due to lower exposure requirements, making them suitable for many general applications. Blue-sensitive films, often of lesser quality, require higher exposure which increases the patient's radiation dose and reduces the life span of the X-ray tube. Choosing the right light sensitivity based on diagnostic needs helps optimize image quality and equipment longevity .

Fog on radiographic films elevates the background density, reducing image contrast and potentially obscuring diagnostic details. Causes include exposure to light, improper film processing, chemical contamination, or excessive ambient temperature and humidity during storage. Managing these conditions is crucial to minimize fogging, ensuring clear, contrast-rich images that support accurate diagnosis .

Choosing low-speed films over high-speed films affects image resolution and patient exposure. Low-speed films have smaller grain sizes, offering higher resolution and finer image details, beneficial for detailed diagnostics but require higher radiation exposure and longer processing times. High-speed films, conversely, enable quicker exposure durations and lower patient doses, ideal for less detailed imaging. The decision impacts diagnostic accuracy, patient safety, and workflow efficiency, tailoring the choice to specific diagnostic scenarios is crucial .

The performance of radiographic films is influenced by the size of the emulsion grains. Films with large emulsion grains tend to have lower contrast and faster processing speeds, making them suitable for less detailed imaging but quicker results. Medium-sized grains provide a balance of contrast and speed, offering a versatile option for various applications. Small grains result in high contrast but slower processing, ideal for detailed imaging where fine resolution is needed. The grain size thus determines both the sensitivity and resolution, impacting the choice depending on diagnostic requirements .

The main structural components of an X-ray film are the supercoat, emulsion layer, substratum, and film base. The supercoat is a hardened gelatin layer that protects the film from scratches. The emulsion layer contains silver halide crystals suspended in gelatin, which are sensitive to light and where the image is captured. The substratum, or adhesive layer, prevents deformation of the film during processing. The film base, made usually of polyester, serves as a flexible and strong support for the other layers .

Film radiology remains integral in modern diagnostics, providing baseline imaging capabilities especially in settings lacking digital resources. It allows for a permanent, physical record of a patient's condition, crucial in legal and longitudinal health assessments. While digital imaging offers rapid processing and image enhancements, film radiology's consistent quality makes it a reliable reference, offering diagnostics based on physical properties unchanged by digital artifacts. Its role complements digital systems, ensuring comprehensive healthcare diagnostics .

Maintaining film integrity during chemical processing involves precise control of chemical concentrations, temperatures, and timing. Deviation can result in incomplete image development or unwanted artifacts. Over- or under-development, chemical contamination, or improperly maintained equipment can compromise film quality. Ensuring the correct chemical mixing, equipment calibration, and process monitoring is essential to address these challenges, producing clear, diagnostic-quality films .

Improper storage of radiographic films can lead to several quality issues. Elevated fog levels can occur, increasing the film's base density and obscuring image details. Sensitivity to light can decrease, reducing image contrast and diagnostic value. Moreover, exposure to ionizing radiation and chemical vapors can cause artifact formation and degrade film integrity. Maintaining appropriate temperature (around 13°C) and humidity (below 50%) while protecting from radiation and chemicals is crucial to preserve film effectiveness and ensure accurate diagnostics .

Manual processing involves developing, rinsing, fixing, and washing steps which require careful timing and temperature control, allowing for greater flexibility in handling films but more labor-intensive and time-consuming. Automated processing streamlines this by developing, fixing, and washing films in a controlled environment, reducing the risk of human error and increasing processing speed. The automated method is more efficient and consistent, making it suitable for high-volume settings, whereas manual processing can be preferable in specialized circumstances where specific adjustments are needed .

Anda mungkin juga menyukai