Pembangunan Pagar Bandar Udara Ngloram
Pembangunan Pagar Bandar Udara Ngloram
LAMPIRAN TEKNIS
PEKERJAAN PAGAR BANDARA VOLUME 1 PAKET
(TENDER TIDAK MENGIKAT)
A. LATAR BELAKANG
Keamanan pada Bandar Udara memang sangat diperlukan. Salah satu keamanan pada
Bandar udara adalah pengamanan perimeter dan batas batas wilayah bandara. Saat ini,
dalam rangka pengamanan, pada Bandar Udara Ngloram belum ada pagar bandara untuk
lahan pengembangan yang saat ini dalam pembebasan lahan yang dilaksanakan oleh
pemerintah daerah, baik pemerintah daerah Kabupaten Blora maupun Propinsi Jawa Tengah.
1. Dasar Hukum
1) Undang-undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan.
2) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2012 tentang Pembangunan dan Pelestarian
Lingkungan Hidup Bandar Udara.
3) Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 2001 tentang keamanan dan Keselamatan
Penerbangan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 9, tambahan lembaran Negara
nomor 4075).
4) Peraturan pemerintah Nomor 70 tahun 2001 tentang Kebandarudaraan (Lembaran
Negara Tahun 2001 Nomor 128, tambahan lembaran Negara nomor 4146).
5) Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.
6) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 69 Tahun 2013 tentang Tatanan
Kebandarudaraan Nasional.
7) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 75 Tahun 2013 tentang Standar Biaya Tahun
2014 di Lingkungan Kementerian Perhubungan.
8) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 47 tahun 2002 tentang spesifikasi Operasi
Bandar Udara.
9) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 48 tahun 2002 tentang Penyelenggaraan
Bandar Udara Umum
10) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 22 tahun 2002, tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil (CASR).
11) Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP 39 Tahun 2015 tentang
Manual Standar Teknis dan Operasional Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil –
Bagian 139 (Manual Of Standard CASR Part 139) Volume I Bandar Udara
(Aerodromes).
12) Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SE 7 Tahun 2014 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) dan Spesifikasi Teknis
Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara Bandar Udara.
13) Keputusan Direktur Jenderal perhubungan Udara Nomor : SKEP/347/XIII/03 tentang
Standar Rancang bangun dan /Rekayasa fasilitas dan peralatan Bandar Udara.
14) Referensi Teknis Nasional
a. Standar Nasional Indonesia;
b. Peraturan dan Standar lain yang relevan;
15) Standar Internasional
a. ICAO Annex 14 beserta manualnya yang terdiri dari :
- Aerodromes Design Manual (Doc 9157)
- Aerodromes Planning Manual (Doc 9184)
- Airport Service Manual (Doc 9137)
b. FAA;
c. American Standard Testing Manual (ASTM);
d. ASHTO;
e. Dan standar lain yang relevan dengan jenis pekerjaan.
2. Gambaran Umum
Ketersediaan prasarana dan sarana transportasi merupakan suatu persyaratan utama
dalam mendukung pengembangan wilayah suatu daerah, terutama bagi daerah yang
mempunyai potensi sumber daya yang besar namun kurang didukung oleh sarana dan
prasarana transportasi yang memadai. Transportasi udara merupakan sarana penting dalam
pencapaian ke berbagai lokasi, terutama wilayah terpencil yang sulit dicapai dengan jalur
darat dan laut.
Keberadaan Bandar Udara diperlukan untuk membuka daerah terisolasi- tertinggal (sesuai
KEPPRES No. 7 Tahun 2004 dan KEPMEN Percepatan Daerah Tertinggal No. 001/KEP/M-
PDT/II/2005). Bandar udara sebagai prasarana penyelenggaraan penerbangan dalam
menunjang aktifitas suatu wilayah perlu ditata secara terpadu guna mewujudkan penyediaan
kebandarudaraan secara nasional yang andal dan berkemampuan tinggi, maka dalam
proses penyusunan penataan bandar udara tetap perlu memperhatikan tata ruang,
pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, keamanan dan keselamatan penerbangan
secara nasional. Hal ini sesuai sebagaimana yang diatur dalam UU No. 26 Tahun 2007
Tentang Penataan Ruang, UU No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan, Peraturan
Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 Tentang Kebandarudaraan serta KM Menteri
Perhubungan No. KM 83 Tahun 1998 Tentang Pedoman Proses Perencanaan di
Lingkungan Kementerian Perhubungan.
Bandar Udara Ngloram merupakan satu-satunya bandar udara yang berada di kawasan
pengeboran minyak yang sedang berkembang di wilayah Indonesia, tepatnya di Kecamatan
Cepu Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah, mempunyai peran strategis dalam
mendukung upaya peningkatan peran angkutan udara dalam kaitan pembangunan daerah
khususnya dibidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya.
Akses menuju Kecamatan Cepu bisa menggunakan transportasi darat dari Kota Blora
selama 1 jam dan ibu kota Propinsi Semarang selama 5 jam karena kondisi geografis Kota
Cepu yang jauh dan berada di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan
kondisi tersebut maka tentunya transportasi udara sebagai penghubung wilayah memiliki
peran yang sangat strategis dalam membuka daerah guna menunjang kegiatan sosial,
ekonomi, serta pertahanan dan keamanan sehingga dapat memenuhi kebutuhan angkutan
orang dan barang/jasa antar daerah di Propinsi Jawa Tengah.
- Pintu gerbang kegiatan perekonomian yaitu lokasi dan wilayah di sekitar bandar udara
dijadikan sebagai pintu gerbang kegiatan perekonomian dalam upaya pemerataan
pembangunan, pertumbuhandan stabilitas ekonomi serta keselarasan pembangunan
nasional dan pembangunan daerah.
- Tempat kegiatan alih moda transportasi yaitu sebagai tempat perpindahan moda
transportasi udara ke moda transportasi lain atau sebaliknya dalam bentuk interkoneksi
antar moda pada simpul transportasi guna memenuhi tuntutan peningkatan kualitas
pelayanan yang terpadu dan berkesinambungan.
Dalam perencanaan saat ini pengembangan Bandar Udara Ngloram Cepu diharapkan mampu
menampung pesawat sejenis ATR-72.
Kegiatan Pembangunan Prasarana Bandar Udara Ngloram sangat perlu dilaksanakan untuk
meningkatkan prasarana bandara dan memberikan pelayanan keselamatan penerbangan yang
optimal, dikarenakan prasarana di Bandar Udara Ngloram Cepu saat ini belum tersedia.
Pembangunan Prasarana Bandar Udara Ngloram sekaligus dapat meningkatkan ekonomi,
pengguna bandara lebih aman dan nyaman serta mendukung aktifitas operasional penerbangan,
dapat menambah kepercayaan pengguna jasa transportasi udara bahwa pengelola Bandar
Udara Ngloram Cepu tetap mengedepankan keselamatan penerbangan sebagai hal utama.
Maksud dari kegiatan ini adalah dalam rangka penyediaan prasarana penunjang keamanan di
bandar udara Ngloram. Adapun tujuannya adalah membbuat pagar bandara untuk perimeter dan
batas wilayah/lahan.
C. PENERIMA MANFAAT
Manfaat pembangunan Bandar Udara Ngloram Cepu adalah untuk meningkatkan perekonomian
wilayah, menyediakan prasarana yang kondusif untuk berinvestasi dibidang ekonomi, serta
menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan nasional melalui pelayanan transportasi udara.
Adapun penerima manfaatnya adalah seluruh warga masyarakat Ngloram Cepu dan sekitarnya
serta seluruh elemen warga Indonesia, mengingat tujuan pembangunan Bandar Udara di Cepu
Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah sebagai berikut :
a. Proses pelelangan
Setelah proses usulan rencana kegiatan disetujui dan telah keluar DIPA, maka
Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa dapat memulai proses
pelelangan sampai dengan penandatangan kontrak. Pelaksanaan Proses Pelelangan
mengacu pada Perpres No. 16 Tahun 2018. Kegiatan ini diperkirakan membutuhkan
waktu 1 (satu) bulan kalender. Pokok-pokok kegiatan pada tahap ini meliputi :
Pengumuman lelang
Pendaftaran dan pengambilan dokumen
Pengambilan dokumen lelang
Penjelasan Rencana Kerja dan Syarat-syarat
Pemasukan dokumen penawaran
Pembukaan dokumen penawaran
Evaluasi kualifikasi dan pembuktian kualifikasi
Usulan pemenang lelang
Pengumuman pemenang lelang
Masa sanggah
Surat keputusan pemberian pekerjaan
Surat perintah mulai kerja (SPMK)
Penandatanganan kontrak
b. Pelaksanaan Pekerjaan
- Tahapan Pekerjaan Persiapan
Pada awal pelaksanaan pekerjaan, kontraktor dapat memulai pekerjaan setelah
menerima Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dengan kegiatan persiapan
pekerjaan meliputi :
- Tahapan pemeliharaan
Tahapan pemeliharaan ini adalah tahapan dimana terdapat mutu pelaksanaan
pekerjaan kurang baik yang tidak sesuai dengan rencana kerja dan spesifikasi
untuk dilakukan perbaikan dan di tahapan ini merupakan tahapan perawatan hasil
pekerjaan dengan jangka waktu yang telah ditetapkan dalam kontrak.
a. Project Manager Ahli Teknik Bangunan Gedung, jumlah 1 (satu) orang, kualifikasi
minimal S1 Teknik Sipil, pengalaman minimal minimal 7 (tujuh) tahun dibuktikan
minimal dengan melampirkan referensi dari pengguna sebelumnya untuk pekerjaan
sejenis BANGUNAN GEDUNG minimal 5 (lima) tahun, memiliki kualifikasi SKA ahli
Teknik Bangunan Gedung (KODE 201), mempunyai tugas/tanggung jawab untuk:
Bertanggung jawab untuk keseluruhan terhadap manajemen proyek;
Bertanggung jawab kepada pemberi tugas, dan semua wewenang mengenai hal-
hal yang berhubungan dengan Pekerjaan Pelaksanaan, serta melaporkan
kemajuan pekerjaan yang dilaksanakan;
Bertanggung jawab untuk pengumpulan data dan informasi yang diperlukan,
penentuan kebutuhanpekerjaan pelaksanaan, organisasi personil, dan
penyampaian serta pembahasan laporan untukmendapatkan persetujuan
pemberi tugas dan Konsultan Pengawas;
Bertanggung jawab dalam penyusunan semua laporan pekerjaan pelaksanaan;
Bertanggung jawab penuh atas penyelesaian pekerjaan.
b. Site Manager Ahli Teknik Sipil, jumlah 1 (satu) orang, kualifikasi minimal S1 Teknik
Sipil, pengalaman minimal 7 (tujuh) tahun dibuktikan minimal dengan melampirkan
referensi dari pengguna sebelumnya untuk pekerjaan sejenis BANGUNAN GEDUNG
minimal 5 (lima) tahun, memiliki kualifikasi SKA ahli Sipil (KODE 201 ), mempunyai
tugas/tanggung jawab untuk :
Melaksanakan pekerjaan secara umum, terutama dilapangan dalam bidang
arsitektur/struktur, koordinasidan inspeksi kegiatan pembangunan agar
pelaksanaan teknis maupun administrasi teknis yang dilakukandapat secara
terus menerus sampai dengan penyerahan pekerjaan kedua;
Memperhatikan kebenaran ukuran, kualitas dan kuantitas bahan atau komponen
bangunan, peralatan danperlengkapan selama pelaksanaan pekerjaan di
lapangan
Menjaga dan bertanggung jawab terhadap kemajuan pekerjaan dan mengambil
tindakan yang tepat dancepat agar batas waktu seperti yang tercantum dalam
dokumen kontrak dipenuhi;
Melaporkan setiap perubahan apabilah terjadi perubahan terhadap dokumen
pelaksanaan, berupa pengurangan dan penambahan biaya akibat perubahan
pekerjaan apabila dipandang perlu untukdilakukannya perubahan dan harus
disampaikan kepada Konsultan Pengawas dan disampaikan kepada Pejabat
Pembuat Komitmen untuk mendapat persetujuan Kuasa Pengguna Anggaran.
Tenaga Pendukung
Pada dasarnya jadwal pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dimulai dari periode persiapan proyek
sampai dengan akhir masa kontrak pekerjaan konstruksi sebagaimana tercantum dalam
dokumen kontrak. Pelaksanaan pekerjaan ini dikerjakan selama 4 (empat) bulan atau 120
(Seratus dua puluh) hari kalender dengan masa pemeliharaan selama 6 (enam) bulan atau 180
hari kalender.
F. PERSYARATAN PESERTA
1. Persyaratan Adminstrasi;
syarat-syarat substansial yang diminta berdasarkan Dokumen Pemilihan terpenuhi, yaitu
dengan dilampirkannya
a. Surat Penawaran (sebagaimana tercantum dalam SPSE) Surat Penawaran memenuhi
ketentuan yaitu jangka waktu berlakunya Penawaran tidak kurang dari waktu
sebagaimana tercantum dalam LDP;
b. Jaminan Penawaran Asli (apabila disyaratkan) memenuhi ketentuan sebagai berikut :
1) Jaminan Penawaran diterbitkan oleh :
a) Bank Umum;
b) Perusahaan Penjaminan;
c) Perusahaan Asuransi;
d) Lembaga khusus yang menjalankan usaha di bidang pembiayaan, penjaminan,
dan asuransi untuk mendorong ekspor Indonesia sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang- undangan di bidang Lembaga pembiayaan ekspor
Indonesia; atau
e) Konsorsium perusahaan asuransi umum/ konsorsium Lembaga penjaminan/
konsorsium perusahaan penjaminan yang mempunyai program asuransi
kerugian (suretyship)
huruf 1.a) sampai dengan 1.e) telah ditetapkan/mendapatkan rekomendasi dari
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
2) Masa berlaku tidak kurang dari waktu sebagimana tercantum dalam LDP
3) Masa berlaku dicantumkan dalam angka dan huruf, dengan ketentuan:
a) apabila ada perbedaan penulisan antara angka dan huruf maka masa berlaku
yang diakui adalah tulisan huruf;
b) apabila yang tertulis dalam angka jelas sedangkan dalam huruf tidak jelas/tidak
bermakna/salah, maka yang diakui adalah masa berlaku yang tertulis dalam
angka; atau
c) apabila yang tertulis dalam angka dan dalam huruf tidak jelas/tidak
bermakna/salah, maka dinyatakan gugur.
4) Nama yang tercantum dalam surat Jaminan Penawaran sama dengan nama peserta;
5) Besaran nilai Jaminan Penawaran sebagaimana yang tercantum dalam LDP;
6) Besaran nilai Jaminan Penawaran dicantumkan dalam angka dan huruf, dengan
ketentuan:
a) apabila ada perbedaan penulisan antara angka dan huruf maka nilai
yang diakui adalah tulisan huruf;
b) apabila yang tertulis dalam angka jelas sedangkan dalam huruf tidak
jelas/tidak bermakna/salah, maka yang diakui adalah nilai yang tertulis
dalam angka; atau
c) apabila yang tertulis dalam angka dan dalam huruf tidak jelas/tidak
bermakna/salah, maka penawaran dinyatakan gugur.
7) Nama Pokja Pemilihan yang menerima Jaminan Penawaran sama dengan
nama Pokja Pemilihan yang mengadakan Tender;
8) Paket pekerjaan yang dijamin sama dengan paket pekerjaan yang ditenderkan;
9) Jaminan Penawaran harus dapat dicairkan tanpa syarat (unconditional) sebesar
nilai Jaminan dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja, setelah surat
pernyataan wanprestasi dari Pokja Pemilihan diterima oleh Penerbit Jaminan;
10) Jaminan Penawaran atas nama KSO harus ditulis atas nama KSO; dan
11) Substansi dan keabsahan/keaslian Jaminan Penawaran telah dikonfirmasi dan
diklarifikasi secara tertulis oleh Pokja Pemilihan kepada penerbit jaminan apabila
kurang jelas dan meragukan.
c. Surat Perjanjian Kerja Sama Operasi (apabila ada) memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
1) mencantumkan nama KSO sesuai dengan dokumen isian kualifikasi;
2) mencantumkan nama perusahaan leadfirm KSO dan anggota KSO;
3) mencantumkan pembagian modal (sharing) dari setiap perusahaan;
4) mencantumkan nama individu pihak yang mewakili KSO; dan
5) ditandatangani para calon peserta KSO.
d. Pokja Pemilihan dapat melakukan klarifikasi/konfirmasi secara tertulis
terhadap hal-hal yang kurang jelas dan meragukan namun tidak boleh mengubah
substansi;
e. Ketentuan subkontrak dalam Perpres 16 Tahun 2018 adalah Penyedia Barang/Jasa
dilarang mengalihkan pelaksanaan pekerjaan utama berdasarkan Kontrak, dengan
melakukan subkontrak kepada pihak lain, kecuali sebagian pekerjaan utama kepada
penyedia Barang/Jasa spesialis.
2. Persyaratan Teknis;
Evaluasi teknis dilakukan dengan sistem gugur dengan ketentuan:
a. Metode Pelaksanaan memenuhi persyaratan substantif yang ditetapkan dalam
Dokumen Pemilihan dan diyakini menggambarkan penguasaan dalam
menyelesaikan pekerjaan, meliputi :
1) Tahapan/urutan pekerjaan dari awal sampai akhir secara garis besar dan
uraian/cara kerja dari masing-masing jenis pekerjaan utama;
2) Kesesuaian antara metode kerja dengan peralatan utama yang
ditawarkan/diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan
Penilaian metode pelaksanaan tidak mengevaluasi
jobmix/rincian/campuran/komposisi material dari jenis pekerjaan. Dalam
melakukan evaluasi terhadap metode pelaksanaan pekerjaan, Pokja Pemilihan
membandingkan antara metode kerja yang ditawarkan oleh peserta dengan
metode kerja yang menjadi bagian persyaratan teknis yang telah ditetapkan
oleh PPK dengan cara menilai kesesuaian metode tersebut. Apabila tidak
sesuai, Pokja melakukan evaluasi berdasarkan kesesuaian metode kerja yang
ditawarkan dengan peralatan utama, serta personel berdasarkan keahlian yang
dapat dipertanggungjawabkan
b. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yang ditawarkan tidak melampaui batas
waktu sebagaimana tercantum dalam LDP
c. Peralatan utama yang ditawarkan sesuai dengan yang ditetapkan dalam
Dokumen Pemilihan, dengan ketentuan:
1) Yang dimaksud dengan peralatan utama adalah peralatan yang mendukung
langsung dan sesuai kebutuhan untuk melaksanakan pekerjaan pekerjaan
utama (major item);
2) Jenis, kapasitas, dan jumlah yang disediakan untuk pelaksanaan
pekerjaan;
3) Kepemilikan peralatan utama adalah milik sendiri, sewa beli, dan/atau milik
pihak lain dengan perjanjian Sewa bersyarat (bukan surat dukungan).
4) Evaluasi terhadap peralatan utama yang bersumber dari:
a) Milik sendiri, dilakukan terhadap bukti kepemilikan peralatan (untuk
dump truck melampirkan STNK, utk peralatan lainnya melampirkan
invoice);
(b) Sewa Beli, dilakukan terhadap bukti pembayaran Sewa Beli
(melampirkan invoice/gross akta);
(c) Sewa dilakukan terhadap kebenaran surat perjanjian sewa.
5) Dalam hal jenis, kapasitas, komposisi dan jumlah peralatan minimal yang
ditawarkan berbeda dengan yang tercantum dalam Dokumen Pemilihan,
maka Pokja Pemilihan akan membandingkan produktivitas alat tersebut
berdasarkan metode pelaksanaan pekerjaan yang ditawarkan. Apabila
perbedaan peralatan menyebabkan metode tidak dapat dilaksanakan atau
produktivitas yang diinginkan tidak tercapai sesuai dengan target serta waktu
yang dibutuhkan, maka dinyatakan tidak memenuhi persyaratan dan dapat
digugurkan pada tahap evaluasi teknis
d. Personel manajerial yang ditawarkan sesuai dengan yang diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan, dengan ketentuan:
e.
1) Personel manajerial yang disyaratkan meliputi jabatan
SESUAI URAIAN ….
PEKERJAAN
…..
….. …..
GA ADA RABNYA
h. Apabila dalam evaluasi teknis terdapat hal- hal yang tidak jelas atau meragukan,
Pokja Pemilihan melakukan klarifikasi dengan peserta. Dalam klarifikasi, peserta
tidak diperkenankan mengubah substansi penawaran. Hasil verifikasi lapangan
dan/atau klarifikasi dapat menggugurkan penawaran;
3. Persyaratan Harga;
a. unsur-unsur yang perlu dievaluasi adalah hal-hal yang pokok atau penting,
dengan ketentuan:
1) Total harga penawaran terkoreksi dibandingkan dengan nilai total HPS:
a) apabil total harga penawaran terkoreksi melebihi nilai total HPS,
dinyatakan gugur; dan
b) apabila semua harga penawaran terkoreksi di atas nilai total HPS,
tender dinyatakan gagal.
2) Apabila tidak menyampaikan perkiraan biaya penyelenggaraan keamanan
dan kesehatan kerja serta Keselamatan Konstruksi maka dinyatakan gugur.
3) Dalam hal bagian pekerjaan harga satuan maka harga satuan penawaran
yang nilainya lebih besar dari 110% (seratus sepuluh persen) dari harga
satuan yang tercantum dalam HPS, dilakukan klarifikasi dengan ketentuan:
a) apabila setelah dilakukan klarifikasi, ternyata harga satuan tersebut
dinyatakan timpang maka harga satuan timpang hanya berlaku untuk
volume sesuai dengan Daftar Kuantitas dan Harga. Jika terjadi
penambahan volume terhadap pekerjaan yang harga satuannya
dinyatakan timpang, maka pembayaran terhadap volume tersebut
berdasarkan harga satuan hasil negosiasi;
b) apabila setelah dilakukan klarifikasi, ternyata harga satuan tersebut dapat
dipertanggungjawabkan/ sesuai dengan harga pasar maka harga satuan
tersebut dinyatakan tidak timpang.
4) Apabila terdapat mata pembayaran yang harganya nol atau tidak ditulis
maka dilakukan klarifikasi, kegiatan tersebut harus tetap dilaksanakan.
Harganya dianggap termasuk dalam harga pekerjaan lainnya.
b. Dilakukan evaluasi kewajaran harga dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Evaluasi kewajaran harga dilakukan terhadap bagian pekerjaan lumsum
dan bagian pekerjaan harga satuan;
2) Klarifikasi terhadap hasil koreksi aritmatik, apabila ada koreksi/
perubahan;
3) Klarifikasi dalam hal penawaran Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)
berbeda dibandingkan dengan perkiraan Pokja Pemilihan (apabila
mensyaratkan TKDN);
4) Klarifikasi/evaluasi kewajaran harga apabila harga penawaran dibawah 80%
(delapan puluh persen) HPS dengan ketentuan:
a) Peserta menyampaikan Rincian Keluaran dan Harga (untuk bagian
pekerjaan lumsum) dan Analisa Harga Satuan Pekerjaan (untuk bagian
pekerjaan harga satuan)
b) Rincian Keluaran dan Harga (untuk bagian pekerjaan lumsum) dan
Analisa Harga Satuan Pekerjaan (untuk bagian pekerjaan harga satuan)
hanya digunakan untuk evaluasi kewajaran harga penawaran dan tidak
dapat digunakan sebagai dasar pengukuran dan pembayaran
pekerjaan;
c) Meneliti dan menilai kewajaran harga satuan dasar meliputi harga
upah, bahan, dan peralatan dari harga satuan penawaran sekurang-
kurangnya pada setiap mata pembayaran utama;
d) Meneliti dan menilai kewajaran kuantitas/koefisien dari unsur upah,
bahan, dan peralatan dalam Analisa Harga Satuan sekurang-kurangnya
pada setiap pekerjaan utama;
e) Hasil penelitian butir c) dan butir d) digunakan untuk menghitung
kewajaran harga tanpa memperhitungkan keuntungan yang ditawarkan;
f) Harga dalam Analisa Harga Satuan Pekerjaan dan Rincian Keluaran
dan Harga yang dinilai wajar dan dapat dipertanggungjawabkan
digunakan untuk menghitung total harga penawaran;
g) Total harga sebagaimana dimaksud pada huruf f) dihitung berdasarkan:
(1) volume yang ada dalam Daftar Kuantitas dan Harga; serta
(2) keluaran (output) yang ada dalam Daftar Keluaran dan Harga.
h) Apabila total harga lebih kecil dari hasil evaluasi sebagaimana huruf g)
tersebut, maka harga penawaran dinyatakan tidak wajar dan gugur harga;
i) Apabila total harga penawaran lebih besar dari hasil evaluasi
sebagaimana huruf g) tersebut, maka harga penawaran dinyatakan wajar;
j) Apabila peserta tersebut ditunjuk sebagai pemenang tender, harus
bersedia untuk menaikkan Jaminan Pelaksanaan menjadi 5% (lima
persen) dari nilai total HPS; dan
k) Apabila peserta yang bersangkutan tidak bersedia menaikkan nilai
Jaminan Pelaksanaan menjadi sebesar 5% (lima persen) HPS,
penawarannya digugurkan serta dikenakan sanksi Daftar Hitam.
c. Memperhitungkan preferensi harga atas penggunaan produksi dalam negeri
(apabila memenuhi persyaratan diberlakukannya preferensi harga) dengan
ketentuan perhitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang
disampaikan oleh peserta berdasarkan penilaian sendiri (self assessment),
dengan ketentuan:
1) Preferensi Harga untuk Barang/Jasa dalam negeri diberlakukan pada Pengadaan
Barang/Jasa yang dibiayai rupiah murni tetapi hanya berlaku untuk Pengadaan
Barang/Jasa bernilai diatas Rp. [Link],00 (satu miliar rupiah);
2) Preferensi Harga hanya diberikan kepada Barang/Jasa dalam negeri
dengan TKDN lebih besar atau sama dengan 25% (dua puluh lima persen).
Apabila peserta tidak menyampaikan formulir perhitungan TKDN maka peserta
dianggap tidak menginginkan diberlakukan preferensi harga bagi penawarannya
dan tidak menggugurkan.
Ketentuan dan tata cara penghitungan TKDN merujuk pada ketentuan yang ditetapkan
oleh Menteri yang membidangi urusan perindustrian dengan tetap berpedoman pada
tata nilai Pengadaan Barang/Jasa;
3) Rumus penghitungan sebagai berikut:
HEA = (1 − 𝐾P)𝑥 𝐻𝑃
4) dalam hal terdapat 2 (dua) atau lebih penawaran dengan HEA yang sama, penawar
dengan TKDN terbesar adalah sebagai pemenang;
5) pemberian Preferensi Harga tidak mengubah Harga Penawaran dan hanya
digunakan oleh Pokja Pemilihan untuk keperluan perhitungan HEA guna menetapkan
peringkat pemenang tender.
4. Persyaratan Kualifikasi.
a. Peserta yang melakukan Kerja Sama Operasi (KSO)
1) formulir kualifikasi dan Pakta Integritas ditandatangani oleh seluruh anggota KSO,
kecuali leadfirm KSO mengisi data kualifikasi melalui SPSE;
2) Jumlah anggota KSO dapat dilakukan dengan batasan paling banyak 3 (tiga),
perusahaan dalam 1 (satu) kerjasama operasi;
3) Leadfirm KSO harus memiliki kualifikasi setingkat atau lebih tinggi dari badan
usaha anggota KSO dengan porsi modal paling banyak 70% (tujuh puluh persen).
b. Peserta yang berbadan usaha harus memiliki Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK)
c. Evaluasi terhadap Sertifikat Badan Usaha (SBU) memperhatikan ketentuan sebagai
berikut:
1) Memiliki SBU dengan kualifikasi Usaha Menengah serta disyaratkan
a) Bidang Usaha Bangunan Sipil
b) Sub Bidang Usaha SI003 Jasa Pelaksana Untuk Konstruksi Jalan Raya (Kecuali
Jalan Layang), Jalan Rel Kereta Api dan Landas Pacu Bandara.
2) Masa berlaku Sertifikat Badan Usaha (SBU) berdasarkan masa berlaku yang
tertera/tertulis pada sertifikat tersebut dengan tidak memperhatikan ketentuan
registrasi tahunan.
3) Sertifikat Badan Usaha (SBU) yang habis masa berlakunya sebelum batas akhir
pemasukan Dokumen Penawaran tidak dapat diterima dan penyedia dinyatakan
gugur.
4) Dalam hal masa berlaku Sertifikat Badan Usaha (SBU) habis setelah batas akhir
pemasukan Dokumen Penawaran, maka Peserta harus menyampaikan Sertifikat
Badan Usaha (SBU) yang sudah diperpanjang kepada Pejabat Pembuat Komitmen
pada saat rapat persiapan penunjukan penyedia.
d. Untuk pekerjaan yang diperuntukkan bagi Kualifikasi Usaha Menengah dan Besar,
memiliki Kemampuan Dasar (KD) dengan nilai KD sama dengan 3 x NPt (Nilai
pengalaman tertinggi):
1) Untuk kualifikasi Usaha Menengah, pengalaman pekerjaan sesuai subklasifikasi
SBU yang disyaratkan, atau
2) Untuk kualifikasi Usaha Besar, pengalaman pekerjaan pada subklasifikasi SBU yang
disyaratkan dan jenis pekerjaan SI003, yang sesuai dengan persyaratan dalam
kurun waktu 10 tahun terakhir, Nilai KD paling kurang sama dengan HPS;
e. Memiliki NPWP dan telah memenuhi kewajiban perpajakan (SPT Tahunan) tahun pajak
2018;
f. Memiliki akta pendirian perusahaan dan akta perubahan perusahaan (apabila ada
perubahan);
g. Tidak masuk dalam daftar Hitam, keikutsertaannya tidak menimbulkan pertentangan
kepentingan pihak yang terkait, tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan
usahanya tidak sedang dihentikan dan/atau yang bertindak untuk dan atas nama Badan
Usaha tidak sedang dalam menjalani sanksi pidana, dan pengurus/pegawai tidak berstatus
Aparatur Sipil Negara, kecuali yang bersangkutan mengambil cuti diluar tanggungan
Negara;
h. Pengalaman paling kurang 1 (satu) pekerjaan dalam kurun waktu 4 (empat) tahun
terakhir, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta termasuk pengalaman subkontrak,
kecuali bagi pelaku usaha yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun;
i. Memiliki paling kurang 1 (satu) tenaga tetap bersertifikat ahli (SKA) Muda yang sesuai
dengan Subklasifikasi SBU yang disyaratkan (untuk Usaha Menengah); dan
j. Memiliki Sisa Kemampuan Nyata (SKN) dengan nilai paling kurang sama dengan 10%
(sepuluh perseratus) dari nilai total HPS, yang disertai dengan laporan keuangan (untuk
pekerjaan yang diperuntukkan bagi Usaha Menengah dan Besar. Khusus untuk Usaha
Besar, laporan keuangan wajib telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik);
k. Dalam hal peserta akan melakukan KSO:
1) Wajib mempunyai perjanjian KSO yang memuat persentase KSO dan
perusahaan yang mewakili/ leadfirm KSO tersebut;
2) Evaluasi persyaratan pada angka 2, 6, 7, 8, 9, 10, dan 11 dilakukan untuk
setiap perusahaan yang tergabung dalam KSO;
3) Evaluasi pada angka 3, setiap anggota KSO harus memiliki salah satu dari SBU
yang disyaratkan;
4) Evaluasi pada angka 5, dilakukan secara saling melengkapi oleh seluruh anggota
KSO;
5) Evaluasi pada angka 12, dilakukan dengan menggabungkan SKN anggota KSO;
6) Evaluasi pada angka 4, hanya dilakukan kepada leadfirm KSO
l. Ketentuan subkontrak dalam Perpres 16 Tahun 2018 adalah Penyedia Barang/Jasa
dilarang mengalihkan pelaksanaan pekerjaan utama berdasarkan Kontrak, dengan
melakukan subkontrak kepada pihak lain, kecuali sebagian pekerjaan utama kepada
penyedia Barang/Jasa spesialis.
Demikian kerangka acuan kegiatan ini dibuat sebagai bahan pertimbangan program kerja di Bandar
Udara Ngloram Cepu.